PASTEL #015

Tao semakin merasa ia harus segera  membeli kacamata. Sambil memincingkan kedua mata tajamnya Tao berusaha mereka-reka  memastikan siapa perempuan yang sedang berbicara tepat di depan pintu minimarket itu. Apa benar itu Sina?  Tao bertanya dalam hati, sebenarnya bisa saja ia percaya itu Sina, masalahnya, laki-laki yang sedang berbicara dengan perempuan yang mirip Sina itu adalah Kai, Kim Jongin. Kai dan Sina, itu kombinasi yang aneh, itu yang Tao pikir.

Akhirnya daripada terus menduga-duga Tao pun memutuskan melihatnya secara langsung, dan tepat saat ia mendorong pintu, kedua orang yang sebenarnya menghalangi jalan keluar masuk minimarket itu sama-sama menengok pada Tao. Tao tidak bisa berbuat banyak selain membulatkan matanya merasa kaget. Ia mendengar pertanyaan “Kau kenal Tao?” dari kedua temannya; Sina dan Kai. Mereka berdua terlihat sama-sama terkejut, sebenarnya Tao juga sama terkejutnya, sejujurnya ia ingin bertanya “Kalian saling kenal?” tapi situasi ini sudah menjadi jawaban bagi Tao, tentu saja Sina dan Kai saling mengenal. Tao pun memilih diam, berusaha terlihat tidak terkejut.

“Hei Tao hari ini kita akan pergi kan?” Sina memecah keheningan yang sempat mencekam beberapa detik.

Tao bingung, benar-benar bingung.

“Tao, bukankah hari ini kita akan bertanding basket?” Sekarang giliran Kai yang bertanya.

Sina menatap Tao dengan tajam, mengintimidasinya untuk segera memberi jawaban. Dan hal itu benar-benar membuat pria China ini kehabisan ide. Tatapan Sina membuat Tao merasa bahwa hidup matinya Sina berada pada jawabannya dan yang jelas, kalau Tao jawab ‘tidak’ berarti Sina tamat. Sementara Tao merapatkan bibirnya berpikir keras, Kai juga terus menatapnya dengan kedua alis terangkat, mereka berdua sama-sama menantikan jawaban Tao.

“Ha-hari ini..” Tao menelan ludah, ia terus memutar otaknya. Kedua mata Tao berganti-gantian memandang Sina dan Kai hingga akhirnya pandangannya jatuh pada Kai, Sina terlalu menyeramkan. “Aku mengajak Sina ikut bermain basket bersama kita!”

Saat itu juga terjadi perubahan ekspresi pada Sina dan Kai, yang ironisnya satu sama lain saling berlawanan. Sina segera membuka mulutnya, menganga tidak percaya sementara Kai langsung menggigit bibirnya berusaha menahan teriakan senang.

“Baiklah Sina–”  

“Aku harus ke rumah dulu.” Sina langsung memotong kalimat Kai.

“Baiklah, kita akan menemanimu! Ayo Luhan! Habiskan ramyunmu!” Kai segera membuka pintu minimarket dan ikut menarik Tao kembali keluar, Tao ingin protes ia juga ingin sarapan tapi melihat Kai sangat semangat Tao memilih diam. Sementara Luhan hanya mendengus dan ikut berjalan dengan tangan masih memegang cup ramyun.

Hara yang sedang melompat dengan tali skippingnya mengerjapkan kedua matanya saat melihat Sina datang menuju lapangan dengan jalan berdampingan di sebelah Tao. Ingatan Hara soal wajah memang bagus, ia benar-benar yakin pernah melihat Sina sebelumnya, yang sayangnya ia lupa kapan dimana ia melihat.

“Aku hanya akan menonton.” Sina berkata pendek dan menjatuhkan dirinya di bangku taman pinggir lapangan. Tao hanya menyeringai merasa telah membuat keputusan bagus, dengan begini ia memenuhi janjinya dengan Kai tapi tetap menyelamatkan Sina.

“Salam kenal namaku Yoon Hara.” Hara menghampiri Sina dan ikut duduk di sampingnya. Sina menengok dan mendapati seorang gadis kecil  sudah duduk di dekatnya. Ia memiringkan kepalanya merasa begitu familiar dengan perempuan kecil ini, tapi sebagai Sina yang terlalu malas berpikir ia memilih mengabaikan rasa penasarannya itu. “Namaku Ahn Sina.” Sina pun menjawab dan kembali bersandar pada kursi.

“Aku benar-benar merasa pernah melihatmu unnie, apa kau familiar denganku?” Hara langsung bertanya, ia tidak akan membiarkan rasa penasaran terus menghantuinya.

Sina kembali menengok dan memandang Hara dari ujung kaki sampai kepala, Sina juga sama, perempuan dengan kuncir dua ini tidak asing lagi untuk Sina “Sebenarnya iya, tapi kurasa mungkin kau hanya mirip dengan dongsaeng yang kukenal.”

Sina pun kembali menatap lapangan tidak begitu peduli soal Hara yang sama sekali tidak puas atas jawabannya.

“Aku pernah melihatmu! Dan aku harus tahu bagaimana aku pernah bertemu denganmu!”

“Kalau begitu selamat berusaha.” Sina berkata datar dan menopang dagu di atas tangannya. Matanya menyusuri sosok Tao yang tidak berhenti berlari dari ujung ke ujung lapangan. Tao memang belum mencetak banyak skor tapi bagaimanapun juga seringai dari wajahnya menunjukkan bahwa menang atau tidak bukan tujuan Tao, sekali-kali ia mengumpat begitu Kai berhasil merebut bola dari tangannya tapi tetap umpatan itu dilanjutkan dengan tawa ringan Tao,  ia hanya menikmati permainannya dan itu berhasil membuat Sina mengulum senyum, Sina senang melihat orang yang begitu menikmati apa yang sedang dilakukannya.

#

Sehun tidak sadar dahinya berkerut saat melihat Kai mengupload foto baru di SNSnya. Pilihannya untuk memberi nomor Sina pada Kai ternyata memang salah, laki-laki ini pasti memaksa Sina habis-habisan untuk bertemunya dengannya. Dengan malas Sehun menggeser jarinya pada layar ponsel untuk melihat foto selanjutnya. Sina-Kai-Sina-Kai kenapa semua mereka? Sehun bertanya.

“Silahkan.”

Sehun segera menengok ke kiri dan melihat seorang pramugari tersenyum menawarkan permen untuknya. Ini sudah kesekian kalinya ia ditawarkan permen, awalnya Sehun senang tapi lama-lama jengkel juga. “Terima kasih.” Ia langsung mengambil seraup permen, menghabiskan setengah dari mangkok yang dijulurkan padanya. Pramugari itu tampak terkejut tapi tetap saja senang, penumpang tampannya sekali lagi kembali melirik padanya.

Sehun segera memasukkan permen-permen itu pada kantong ranselnya yang sudah hampir penuh oleh permen. Sambil menghela napas ia pun kembali membuka beberapa bungkus permen dan memasukkannya dalam mulut sekaligus. Moodnya saat ini kurang baik, rencana ibunya memulangkannya kembali ke Seoul tanpa sepengetahuan dirinyanya benar-benar membuat Sehun jengkel. Apalagi dengan tambahan kelas musim panas yang harus diikutinya.

flashback

Pagi itu begitu membuka mata yang ia lihat adalah ibunya yang sedang memasukkan baju-bajunya pada koper. Sehun yakin liburan gratis di Jeju ini  lebih dari satu minggu, tapi kenapa ibunya sudah mulai membereskan barangnya?

“Untuk apa bajuku dimasukkan?” Sehun bertanya masih dengan suara paraunya, ia masih setengah tidur.

“Oh! Kau sudah bangun! Lebih baik kau mandi sekarang Sehun, penerbanganmu beberapa jam lagi.”

Sementara ibu Oh mengatakan kalimat itu dengan ringan Sehun langsung mengerjapkan matanya seketika itu juga. “Penerbanganku? Hanya aku yang pulang? Kenapa secepat itu?” Sehun segera turun dari kasur dan menghampiri ibunya yang melipat semua baju-bajunya yang berserakan.

Ibu Oh memandang anaknya sambil tersenyum “Kenapa kau yang pulang? Karena aku dan ayahmu masih ingin liburan. Kenapa secepat itu? Karena ibu sudah mendaftarkanmu untuk ikut kelas musim panas. “

Sehun menganga, ini memang bukan pertama kalinya ibunya sendiri selalu berbuat sesuka hati, tapi kalau sampai merusak waktu liburannya Sehun tidak terima. “Sejak kapan ibu peduli soal kelas musim panas? Dari dulu aku tidak pernah ikut.”

Ibu Oh terkekeh dan itu membuat Sehun makin cemas, semakin ibunya terlihat santai maka semakin kuat keputusannya “Justru karena tidak pernah ikut, ibu ingin kali ini kau ikut, ayolah apa salahnya ikut kelas musim panas?”

“Apa salahnya aku tidak ikut kelas musim panas?” Sehun memilih membalik pertanyaan ibunya.

Ibu Oh terdiam, dan mengalihkan pandangan dari tumpukan baju yang sedang dilipatnya pada Sehun “Nilaimu turun Oh Sehun, dan bukankah kau bilang ingin mengambil kuliah di K-Arts? “

Sehun hanya mendecak dan berdiri, ia mengambil handuk yang tersampir di atas sofa dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan ibunya yang langsung berseri anaknya sudah menyerah. Sehun diam bukan bukan berarti ia merasa kata-kata ibunya benar, ia tahu ibunya bukan seorang ibu yang peduli nilai anaknya, memeriksa rapor pun tidak akan dilakukannya kalau Sehun tidak mengingatkan, tapi melihat ibunya sampai berpura-pura tegas untuk hal seperti ini, Sehun memilih mengikuti skenarionya.

#

“Halo?” Sambil mengelap pelipisnya yang berkeringat Tao menempelkan ponsel pada telinganya. Di tengah pertandingan ponselnya berbunyi, sejujurnya Tao terganggu tapi dia bukan tipe yang bisa mengabaikan sebuah panggilan ponsel.

“Apakah ini Tao?” Terdengar suara wanita, terasa asing dan familiar di saat yang bersamaan. Tao hanya menjawab ‘iya’ dengan gelagapan.

“Aku Song Qian, maaf aku seenaknya meminta nomormu dari Minseok.”

Tao masih diam, berusaha mengingat secepat yang ia bisa, siapa itu Song Qian, sampai beberapa detik lalu ia masih berfokus bagaimana cara merebut bola dari Luhan dan mendapat panggilan mendadak, otaknya masih belum terlalu bisa diajak kerja sama.

“Song Qian—Ah! Song Qian! Ya ada apa?” detik Tao langsung membayangkan wanita berkuncir kuda yang menjadi teman kerja sambilannya di cafe, Tao langsung berlari dan duduk di kursi pinggir lapangan basket. Sina langsung menggeser posisi duduknya tidak begitu suka berdekatan dengan pria yang sedang berkeringat.

“Apakah kau ada waktu? Aku butuh bantuanmu, ada sesuatu yang salah dengan motorku, kudengar rumahmu di sekitar ini.”

Belum sempat Tao menjawab tiba-tiba Song Qian kembali berkata “Aku tahu dari Minseok kau tinggal di sekitar ini, dan kau satu-satunya pria yang menjawab panggilanku, maaf kalau merepotkan!”

Tao langsung menggelengkan kepalanya sekalipun Song Qian tidak mungkin menyadarinya “Tidak apa-apa, aku masih di Buam-dong mungkin agak lama, sekarang kau persis berdiri di mana?”

Sina melirik pada Tao yang masih berbicara sambil menempelkan ponsel diantara telinga dan bahunya dengan kedua tangan sibuk membereskan barang-barangnya memasukkannya ke dalam tas. Sina berbohong kalau ia tidak penasaran, bagaimanapun juga Huang Zitao berbicara dengan seorang perempuan (yang bukan ahjumma dan dirinya) masih terdengar aneh, meskipun Sina yakin itu mungkin karena ia tidak terlalu mengenal Tao, Tao yang ia tahu hanya Tao si anak kecil yang masih bermanja pada bibinya bukan Tao sekarang yang terdengar begitu tenang meyakinkan perempuan yang sedang menelponnya, Sina bukan menguping, telinganya saja yang terlalu tajam, Sina berusaha membela diri.

“Sina!” Tao langsung memanggil Sina setelah mematikan ponselnya, seketika Sina kembali memandang ke depan berpura-pura bukan Tao yang sedari tadi ia perhatikan.

“Maaf aku harus pulang lebih cepat, ini di luar dugaan, Sina bisa pulang sendiri kan?”

Sambil memutar bola matanya ia kembali menengok pada Tao dan mendengus, dalam hati bertanya sejak kapan masalah kepulangan dirinya menjadi perhatian Tao. “Tentu saja bisa, bagaimana bisa aku tidak hafal jalan pulangku?”

Tao hanya tersenyum dan meraih botol minumnya

“Sampaikan permintaan maafku pada Kai dan Luhan, aku pergi!”  Ia pun berlari meninggalkan Sina yang tidak merespon apa-apa hanya menghela napas memperhatikan Tao yang terus berlari menjauh. Sina tidak mengerti tapi entah kenapa ia jadi bertanya apa yang akan Tao lakukan kalau ia menjawab ia tidak bisa pulang sendiri.

#

“Sina!” Kai menepuk bahu perempuan yang sedang memainkan ponselnya itu, Sina sama sekali tidak menonton jalannya pertandingan, hal itu membuat Kim Jongin sedikit jengkel padahal sudah susah payah ia menang dari Luhan.

Sina langsung mengangkat kepalanya dan memandang Kai “Sudah selesai?”

Kai langsung mengangguk dan mengambil botol minumnya lalu duduk di sebelah Sina, sekali lagi Sina menggeser posisinya, Kai memang lebih wangi dari Tao tapi tetap saja bercampur keringat, Sina tidak suka.

“Kai! Ayo makan siang!” Luhan berlari menghampiri mereka, ia ikut ambil posisi di sebelah Sina dan itu membuat Sina merengut, ia segera berdiri dan mengangkat ranselnya “Sepertinya aku tidak bisa ikut makan siang, ada sesuatu yang harus kubeli.”

Luhan hanya mengangguk terlihat tidak bermasalah dengan keputusan Sina, berlawanan dengan Kai yang langsung beranjak “Mau beli apa? Sebenarnya setelah makan siang aku juga berencana membeli sesuatu.”

Sina menghela napas sebelum memberi jawabannya pada Kai, dari awal ia ingin mengajak Kai ikut tapi tidak tahu cara yang tepat untuk mengajaknya “Ada baju yang ingin kubeli.”

Kai membulatkan matanya kaget, skenario kencan langsung terbayang di otaknya “Boleh aku ikut?”

“Boleh.” Sina menjawab singkat dan saat itu juga Luhan langsung terbatuk “Kim Jongin, kau berjanji akan mentraktirku makan siang.”

#

Perempuan yang sedang duduk di kursi pemberhentian bus tidak berhenti mengipas-ngipas wajah dengan koran yang dibelinya tadi. Nasibnya hari ini sial, motor bekas yang susah payah ia beli dengan gajinya yang pas-pasan tiba-tiba mogok tidak bisa dinyalakan. Semua temannya tidak bisa dihubungi, bahkan Yifan kekasihnya pun tidak mengangkat panggilan darinya.

“Song Qian?”

“Tao!” Song Qian segera berdiri dan menghampiri laki-laki yang terlihat sama lega dengan dirinya.

“Hei! Kenapa kau juga terlihat begitu senang? Harusnya aku yang senang!” Ia tertawa geli melihat Tao yang menyeringai “Seseorang meminta bantuanku di Korea, aku merasa berguna.”

Ucapan Tao makin membuat Song Qian yakin kalau pilihannya mengandalkan Tao memang tidak salah. Rasa bersalahnya mulai terangkat, ia pun menunjuk motor yang terparkir di pinggir jalan. “Saat lampu merah motornya tiba-tiba mati, berapa kali aku berusaha menggas, tetap tidak mau menyala.”

Tao pun menghampiri motor yang ditunjuk temannya, modelnya sama dengan motor kakeknya “Motor ini tua sekali, kau suka mengkoleksi barang tua ya?” Ia bertanya tanpa maksud menyindir sedikitpun, hal itu membuat Song Qian tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya “Uangku hanya cukup membeli motor bekas.”

Tao mengangguk-ngangguk, padahal ia kira perempuan ini memiliki hobi yang sama dengan kakeknya; mengoleksi barang-barang antik. “Aku tahu bengkel di dekat sini.” Ia pun menggiring motor itu diikuti dengan Song Qian.

Sambil keduanya berjalan Tao menyenandungkan rap lagu penyanyi favoritnya. Meskipun cuaca panas Tao tetap menikmatinya, ia lupa memakai lotion tapi tidak peduli, entah kenapa suasana hatinya hari ini begitu sangat baik.

“Kau suka Geeks?” Song Qian bertanya mendengar Tao menggumamkan lagu favoritnya.

Tao langsung menengok pada Song Qian dan mengangguk “Penggemarnya juga?”

“Lumayan.” Jawaban Song Qian membuat Tao tersenyum.

Sementara Song Qian menyanyikan beberapa bait lagu, Tao melanjutkan dengan rap korea yang ia latih susah payah, keduanya sama-sama senang memiliki kesukaan yang sama.

“Besok lusa mereka ada konser di Hongdae, mau nonton?”

Tao memang tidak mengenal baik Song Qian, percakapan mereka masih terhitung jari, itupun seputar tugas mereka di cafe, tapi Song Qian membuat Tao merasa dekat atau tidak ia dengan perempuan ini hanya tunggu waktu, sesuatu membuat Tao sama sekali tidak sungkan pada tawaran Song Qian.

“Jam berapa?” Tao bertanya.

#

Sina mulai menyesal meminta bantuan Kai untuk memilihkan baju hadiah ulang tahun ayahnya. Ini sudah setengah jam sejak ia dan Kai masuk ke sebuah toko untuk sekian kalinya tapi belum satupun Kai terlihat puas pada baju-baju yang diamatinya, Sina ikut menyarankan tapi Kai hanya mendecak dan mengatakan selera Sina kurang bagus. Sekarang Sina bertanya sebenarnya ayahnya siapa yang akan menerima hadiah ini?

“Kai, ini sudah setengah jam dan aku benar-benar bosan.”

Kai langsung menengok pada Sina, sekarang ia benar-benar menikmati suasana kencan yang mungkin hanya ia sendiri yang menyadari. “Aku menemukan beberapa baju, tapi belum bisa memilih yang mana.”

“Tunjukkan padaku.” Sina berkata dengan malas dan menghampiri Kai.

“Lebih baik yang mana?” Kai menunjukkan dua t-shirt, satu berwarna pink dan satunya lagi hijau muda. Benar-benar nyentrik, Sina juga tidak mengerti di mana letak kerennya baju itu jika dikenakan orang yang sudah berumur tapi bagaimanapun juga memang seperti itu gaya ayahnya yang anehnya Kai langsung mengerti begitu mendengar penjelasan Sina tentang selera ayahnya.

Sambil memegang dagunya Sina berusaha mengesampingkan seleranya sendiri dan memutuskan mana yang lebih pantas untuk ayahnya “Dua-duanya sama-sama norak, aku tidak tahu.” Sina pun menyerah, selama ini memang tugas Miyoung yang membeli hadiah tapi kali ini kakaknya yang masih sibuk dengan kegiatan kuliah dan Oh Sehun di Jeju tidak bisa diganggu.

Kai hanya mengangguk-angguk dan mulai mengitari ruangan mencari pakaian lain.

Sementara Kai berpindah rak dan kembali sibuk mencari warna lain Sina berjalan menuju etalase yang memajang couple t-shirt. Miyoung selalu menariknya ke bagian couple t-shirt setiap mereka berbelanja bersama dan meminta Sina memilihkan baju mana yang terlihat paling manis. Kali ini tanpa kakaknya ia pun terbiasa untuk mengamati  corak-corak kaos itu.

“Membeli untuk siapa?” Kai tahu-tahu sudah berada di sebelahnya, Sina menggeser langkahnya kaget dengan Kai yang tahu-tahu berada persis di sampingnya “Aku  hanya memikirkan kenapa kakakku menyukai hal-hal semacam ini.”

Kai memiringkan kepalanya, berusaha mengingat nama perempuan yang sering menjadi topik pembicaraannya dengan Sehun “Ahh Miyoung-noona?”

Sina langsung menengok, sedikit kaget Kai mengetahui nama kakaknya “Darimana tahu nama kakakku?”

Sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga Kai menyeringai “Aku ini tempat Sehun bercerita.”

Sina mendengus tapi tetap melanjutkan pembicaraan, sedikit penasaran bagaimana rasanya mengetahui cerita dari sudut pandang laki-laki, selama ini ia selalu mendengar cerita Miyoung dan entah kenapa pengalaman dari Miyoung dan Seukri perempuan suka mendramatisir setiap ceritanya. “Kau tahu bagaimana Sehun dan Miyoung bisa bertemu?”

Kai mengangguk-angguk “Tentu saja, sebenarnya kakakmu juga kenal denganku.”

“Hah?” Kedua mata Sina membulat kaget, ia merasa dunianya begitu kecil, seluruh teman-temannya saling mengenal satu sama lain, belum lagi Kai juga ternyata berteman dengan Tao.  

“Aku dan Sehun berteman dengan Chanyeol-hyung yang memiliki studio musik, kami berdua suka meminjam tempatnya untuk latihan menari, dan secara kebetulan ternyata hyung dan Miyoung-noona berada pada satu universitas, kami sering bertemu karena noona juga sering datang ke studio.”

Sina mengernyit, semuanya menjadi begitu jelas, tapi satu hal membuatnya bertanya “Tahu dari mana aku adiknya Miyoung?”

Kai membuang napas “Kan kubilang aku ini tempat Sehun bercerita! Sehun memberitahu padaku. Dia juga bilang kalau dia pura-pura tidak tahu kalau kau adiknya Miyoung-noona.”

“Ohh..” Sina mengangguk paham. Masih banyak pertanyaan, yang Sina ragu bagaimana menanyakannya, mulai dari bagaimana Sehun dan Miyoung berteman, siapa yang menyatakan perasaannya, dan hal lainnya, pertanyaan kecil yang sebenarnya bisa saja ditanyakan pada kakaknya sendiri tapi Sina tidak yakin kakaknya akan menjawab seperti yang Sina inginkan, ia suka mendramatisir dan Sina malas mendengarnya

“Sina! bagaimana kalau ini?” Tiba-tiba Kai menunjukkan t-shirt lainnya, warnanya masih pink dengan print karakter kartun yang Sina lupa judulnya apa, tapi karena itu pastel Sina menyukainya, “Bagus, aku juga bisa memakainya.”

Kai tertawa dan segera menunjukkan satu baju yang dipegang dengan tangan kirinya “Untukmu ini saja, kita pakai yang sama.”

Sina memutar bola mata, Kai baru saja menunjukkan couple t-shirt yang jauh dalam hati, Sina menyukai pilihan Kai.

#

Sambil mengaduk milk shake strawberrynya Tao menunggu Song Qian menutup ponselnya. Mereka berdua memutuskan memesan minuman di cafe terdekat sambil menunggu motor tua Song Qian selesai direparasi. Masing-masing mereka bercerita tentang tujuannya pindah ke Korea, dan Tao menikmati hal itu, selain sudah lama ia tidak berbicara dengan bahasa ibunya, cerita Song Qian soal alasannya pergi ke Korea cukup menarik untuk didengar. Ia mendengar tentang Wu Yifan, kekasih perempuan ini pindah ke Korea untuk kuliah yang ternyata kuliah dan jurusannya sama dengan Tao. Baru saja Song Qian ingin menunjukkan fotonya, tiba-tiba ponselnya berdering dan lewat ekspresi dan kata-kata yang keluar Tao yakin Yifan lah yang sedang menelpon perempuan itu.

“Tao!!” Tiba-tiba seseorang berteriak menyahut namanya. Itu suara pria dan Tao yakin seorang Kai lah yang baru saja memanggilnya. Ia menolehkan kepalanya kanan-kiri bahkan berdiri tapi batang hidung pria ini benar-benar tidak terlihat.

“Hei aku disini!” Kai berjalan keluar dari dalam cafe menghampiri meja Tao yang berada di luar. Setelah meminta izin pada Song Qian untuk pergi, Kai dan Tao pun berjalan dan berpindah meja.

“Siapa perempuan itu?”

“Kenapa bisa ada di sini?”

Kai dan Tao saling bertanya di saat yang bersamaan. Keduanya sama-sama terlihat penasaran tapi Tao memutuskan mengalah dan menjawab pertanyaan Kai “Namanya Song Qian, teman kerjaku, aku menghilang dari permainan karena membantu dia.”

Kai mengangguk-ngangguk dan menyeringai, moodnya benar-benar baik. “Aku baru saja selesai kencan dengan Sina.”

“Ken—can?” Tao menaikkan sebelah alisnya, tidak yakin apa yang didengarnya benar.

Menyadari Tao yang terlihat begitu bingung, Kai menutup mulutnya sebentar berusaha menahan tawa “Kenapa? Terlihat mustahil ya?”

Tao langsung mengangguk. Mendengar kata kencan, yang menjadi bayangannya seorang pria-wanita berjalan berdampingan dengan tangan bertaut, curi lirik satu sama lain dan menikmati kehadiran masing-masing persis seperti drama yang selalu ditonton bibinya. “Bagaimana bisa? Memang kalian—“ Tao diam, memikirkan kata yang tepat “Saling menyukai?”

Kai membuka mulutnya, menganga sebentar lalu tertawa, Tao benar-benar polos dan menarik “Apa harus saling menyukai? Kami hanya ingin mengenal satu sama lain.” Kai merekayasa kenyataan, tapi ia berfirasat Tao akan 100% percaya pada ceritanya, dan tentu saja itu membuat Kai merasa bersalah, menipu Tao seperti menipu anak kecil. “Sebenarnya aku hanya menemani Sina membeli hadiah untuk ayahnya, itu saja.”

Tao mengangguk, tapi tetap saja imajinasi kencan masih terbayang di otaknya “Tapi tetap saja kalian jalan berdua kan? Tidak bersama Luhan? “

 “Luhan? Hahaha dari awal rencanaku memang berjalan berdua dengan Sina, jadi dia tahu diri dan tidak mau ikut” Kai tidak memperhatikan Tao yang terlihat masih penasaran, sebaliknya Kai lebih penasaran pada perempuan yang dari tadi terus melirik mereka berdua. “Noona itu…dari jauh kulihat kukira kalian pacaran.”

Tao membulatkan matanya, ia menggeleng singkat ingin mengatakan laki-laki ini salah tapi satu hal membuatnya harus menunda melakukan hal itu “Kau suka Sina?”

Kai tersenyum dan melambaikan tangan tidak menjawab pertanyaan Tao, rupanya Song Qian baru saja melambaikan tangannya pada Kai. “Kai! Aku tanya kau suka Sina?”

Kai pun kembali menoleh pada Tao dan mengangguk “Iya aku suka.” Baru saja Tao ingin menanyakan hal lain Kai menyenggol sikutnya “Ah sudahlah, daripada mengurusiku coba lihat perempuan itu sudah menunggumu. Aku tidak mau menganggu kencan kalian, sudah ya aku pergi!” Kai langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh, sama sekali tidak menyadari pengakuannya soal Sina tadi benar-benar menjadi pikiran Tao. Tao ingin berteriak kalau ia dan Song Qian tidak berkencan, tapi entah kenapa kalimat ‘iya aku suka’ dari Kai masih terngiang-ngiang di telinganya.

#

Satu hal membuat Sina iri pada Miyoung. Ia tidak menyalahkan Miyoung sama sekali soal itu, justru yang bermasalah dirinya sendiri.

“Sina! Kau belum menyentuh sarapanmu!” Nenek Sina membuyarkan lamunan perempuan itu. Sina segera membalik layar ponselnya agar bisa berfokus untuk menghabiskan roti lapis yang belum disentuhnya. Sambil mengunyah pelan, Sina memperhatikan foto-foto yang terpajang di ruang makan rumah neneknya.

“Kenapa pagi ini terlihat lesu?” Bisa membaca ekspresi Sina yang biasanya datar, nenek Sina segera merasakan kejanggalan.

“Apa kakek suka sekali memancing?” Sina bertanya, memilih mengabaikan pertanyaan neneknya. Memperhatikan banyak sekali foto kakeknya mengangkat ikan yang dipancingnya di tengah laut, Sina yakin hobi memancing itu bukan sekedar hobi biasa. Nenek Sina tersenyum sambil mengingat mendiang suaminya “Suka sekali, itu hal yang paling ditekuninya sejak ia pensiun.”

Sina menelan makanannya dan memperhatikan satu persatu sertifikat penghargaan memancing yang terpajang di sepanjang satu sisi ruang makan “Banyak sekali penghargaannya, apa kakek benar-benar hanya memancing sepanjang hidupnya?”

Pertanyaan cucunya yang terkenal cuek itu membuat nenek Sina terkekeh dan menggelengkan kepalanya “Ketika kita menyukai suatu hal, bukankah akan kita lakukan sepenuh hati sebisa yang kita bisa? Kakekmu hanya mencintai memancing, sertifikat hanya penghargaan untuk kecintaannya itu.”

Sina mengangguk sekali, pembicaraan ini membuat suasana hatinya semakin buruk.

“Bagaimana kabar Miyoung di Jeju?” Neneknya kembali membuka topik pembicaraan.

Tanpa melirik mata neneknya yang terlihat antusias Sina kembali membalik layar ponselnya dan menunjukkannya “Konsernya kemarin sukses.”

Mata nenek itu membulat melihat cucunya terlihat tertawa ditengah-tengah penonton dengan permainan pianonya. “Aigo, sejak kapan dia menjadi secantik itu?”

Sina menghela napas “Dari dulu sudah cantik, makin cantik karena memakai make up.

Jawaban acuh dari Sina membuat neneknya mendengus “Sekali lagi aku tanya, kenapa pagi ini lesu sekali?”

Sina segera bangkit dari kursi, ia meraih ranselnya dan menegak susunya sambil berdiri “Bukankah aku selalu seperti? Sudah ya aku berangkat.”

Sina tidak memberi perhatian lebih lanjut soal omelan neneknya, ia benar-benar tidak bersemangat pagi ini.

Begitu membuka pintu rumahnya cahaya matahari langsung menerpa matanya, biasanya Sina menikmati hal itu, cahaya seperti ini membuat ia lebih bersemangat menandakan awal harinya akan bermula dengan hal yang menyenangkan. Sayangnya untuk pagi ini tidak berlaku, Sina kurang suka, ia merasa matahari sedang menyindirnya, Sina tidak bercahaya, tidak seperti Miyoung atau siapapun itu.

#

Matahari musim panas membuat Sehun sudah berkeringat di pagi hari, tapi tetap tidak membuat Sehun menghentikkan larinya. Hari ini ia harus sampai di sekolah lebih pagi dari yang lain, dari awal ia tidak berniat untuk mengikuti kelas musim panas sepenuhnya, jam pertama akan dipakai untuk latihan menari, Kai yang suka mendominasi ruangan itu tidak akan ada, ia bisa memakai sesukanya, sekarang masalahnya murid lain tidak boleh tahu kalau Sehun sengaja melewatkan jam pertama.

“Berhasil!” Sehun menghentikkan langkahnya, masih terengah-engah ia menengok kanan kiri memastikan tidak ada murid atau guru lain yang melihatnya. Setelah nafasnya mulai teratur ia pun berjalan menuju ruangan favoritnya.

Sina memandang halaman sekolah yang kosong, lega ia murid pertama yang datang. Sambil bersenandung ia pun kembali berjalan dan mendorong pintu masuk sekolah. Kali ini langkahnya dipelankan, bersiaga kalau ternyata beberapa guru sudah ada di sekolah. Dengan mengendap-endap ia berjalan menuju ruang kelasnya.

“Tidak ada!” Ia melihat kelasnya yang kosong, meja guru juga kosong, rencananya berhasil.

Sina pun langsung berlari ke lantai selanjutnya menuju ruangan yang selama ini selalu dipakainya diam-diam.

Dengan kepala mengintip dari balik pintu ia melihat sekeliling studio tari sekolah mereka, ia lupa menanyakan Jongin apakah laki-laki itu ikut kelas musim panas. Menyadari AC di ruangan itu sudah menyala Sina sama sekali tidak berpikir bahwa seseorang sudah masuk terlebih dahulu.

Sina langsung duduk dan membongkar ranselnya, mencari CD yang ia bawa dari rumah. Selama ini menjadi perempuan pemalas Sina menjadikan menari menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan dirinya tetap rajin bergerak. Ia kurang suka olahraga, dan buruknya sekalipun ia tahu ia butuh ia tetap enggan melakukannya. Menari merupakan opsi terakhir Sina.

Baru saja tangannya berhasil menemukan CD yang dimaksud ponselnya berdering. Sina segera menerima tanpa melihat siapa pemanggilnya.

“Sina!!”

Sambil mengernyit ia menjauhkan ponsel dari telinganya “Tidak perlu berteriak seperti itu aku mendengar unnie.”

Di ujung sana terdengar Miyoung hanya terkekeh “Ma-maaf aku terlalu senang, ayah ibu tidak menjawab panggilanku, makanya kau orang pertama yang tahu ini.”

Sina segera menyandarkan dirinya pada dinding, sebelum menjawab Miyoung “Aku yang pertama tahu? Apakah sepenting itu?”

Miyoung diam, tapi Sina yakin kakaknya itu sedang tersenyum tidak sanggup berkata-kata. “Ayolah unnie katakan, soal Sehun?”

“Astaga Sehun! Aku belum memberitahunya! Bagaimana ini? Apa lebih baik aku memberitahu pada Sehun dulu?”

Sina menghela nafas, sekarang ia telanjur dibuat penasaran oleh kakaknya “Katakan padaku, aku harus menjadi orang pertama yang mendengarnya, bagaimanapun juga kau harus mengutamakan keluarga.”

Miyoung tertawa kecil “Baiklah baiklah, tapi siap-siap mendengarnya, kau tahu aku sendiri hampir pingsan mendengar hal ini.”

“Sudah cukup pengantarnya, cepat katakan padaku! Ini kabar baik kan?” Sina makin gemas.

“BAIK.” Miyoung berteriak dan Sina sudah mulai terbiasa dan memilih bersabar tidak protes soal teriakan kakaknya. “Katakan cepat unnie, sebentar lagi kelasku akan dimulai!” Ia berbohong.

“Aku. Mendapat. Rekomendasi. Belajar. Di Wina!”

Sina memiringkan kepalanya, kata terakhir membuat pemberitahuan Miyoung sulit dicerna otaknya. Di Wina? Miyoung belajar di luar negeri?

“Wina? Austria?” Sina berkata tidak yakin pada pernyataannya sendiri.

Yep! Tempat kelahiran Beethoven! Ayolah kau tahu kan? Aku sering menceritakannya padamu!” Kali ini giliran Miyoung yang terdengar gemas.

Sina otomatis mengangguk-ngangguk “Iya aku tahu. Apa maksudnya unnie akan belajar di sana? Apakah akan melanjutkan kuliahmu di sana?”

“Itu yang kuharapkan! Aku sudah mendapat rekomendasi dari dosen semuanya menjadi lebih mudah! Soal biaya mereka akan membantu, sekarang aku tinggal butuh izin kalian!”

Sina tahu apa yang harus dikatakannya, harusnya ia memberi selamat, sudah pasti ia akan mendukung kakaknya, itu memang cita-cita Miyoung dari dulu, masalahnya mulut Sina terus terkatup rapat.

“Halo Sina? Kelasmu sudah dimulai ya? Baiklah kumatikan nanti kutelpon lagi!” Miyoung langsung memutuskan panggilan, Sina baru ingin mengucapkan selamat.

Kepala Sina sekali lagi kembali terasa berat, moodnya untuk menari hilang sama sekali. Perasaan yang ia benci keluar lagi. Ia iri pada Miyoung.

“Sina! Beritahu kakakmu untuk belajar!”

“Kenapa kamu lebih pintar daripada aku sih?”

“Aku tidak suka Matematika! Sina saja yang mengerjakan!”

Kalimat-kalimat yang sering terdengar dari dulu tiba-tiba kembali terputar di otak Sina. Dari dulu ia dan kakaknya berbeda. Perbedaan itu sama sekali tidak merusak hubungan mereka, Miyoung tidak bermasalah nilainya dengan Sina sering dibandingkan, Sina juga biasa saja sering dipuji lebih pintar. Masalah mereka bukan lebih pintar siapa, Miyoung dan Sina sama-sama tidak peduli. Dari dulu Sina selalu bingung, mengapa orang-orang sering memuji nilainya yang tinggi, kenapa tidak memuji Miyoung yang sudah susah payah lulus dari ujian akhir sekolahnya? Kenapa semua orang penasaran kenapa Miyoung ingin menjadi pianis tapi  tidak satu pun bertanya untuk apa nilai tinggi Sina kalau bahkan Sina sendiri tidak tahu tujuan belajarnya untuk apa.

Sina menghela nafas, semua terasa menjadi berat dengan helaan nafasnya, kenapa Sina harus menghela nafas, apa dia tidak bisa menjalani semuanya lebih bersemangat? Tangan Sina mengambil earphone yang tergeletak di sampingnya lalu memasangkannya pada ponsel. Sambil memejamkan mata ia mendengarkan musik tapi sekali lagi, suara itu yang kembali terdengar.

 “Hei Sina bukankah dia cantik sekali? Aku juga ingin bisa bermain piano seperti itu.”

“Cita-citaku menjadi pianis kelas dunia.”

“Aku tidak peduli, yang penting aku bisa main piano.”

Miyoung selalu menjadi perempuan yang menjalani hidupnya dengan cara yang ia inginkan. Tidak ada yang bisa menghentikkannya, Miyoung memberontak tapi membuktikkan kalau ia bisa. Sementara Miyoung mati-matian membujuk orang tua mereka membolehkannya mengambil sekolah musik, Sina hanya diam. Ketika Miyoung berjam-jam berada di depan piano, Sina sekali lagi hanya diam. Miyoung selalu bergerak, Sina diam bertahan di zonanya. Ketika Sina mendapat posisi tiga besar di sekolahnya, semua memuji tanpa tahu Sina bahkan tidak mengerti apa bagusnya tiga besar kalau menikmati hidup seperti Miyoung saja tidak bisa. Sebenarnya siapa yang harus disalahkan? Dunia tidak terlalu membosankan, Sina tahu itu. Semua orang sudah menemukan kesenangannya, bahkan Seukri yang terlihat paling acuh soal sekolah sudah menetapkan mimpinya menjadi sutradara. Sina dikelilingi orang-orang yang penuh kehidupan mereka semua sibuk sehingga tidak ada yang mengerti atau setidaknya ingin tahu apa sebenarnya yang ingin perempuan ini lakukan, bahkan Sina sendiri tidak mengenal dirinya.

Annyeong.”

Seseorang mengambil sebelah earphonenya, refleks Sina menengok dan yang ia temukan Oh Sehun duduk bersandar tepat di sampingnya, satu telinganya sudah terpasang earphone Sina.

“Kau kembali? Kupikir di Jeju.” Sejujurnya Sina kaget, tapi ia benar-benar jenuh sekaligus malas mengekspresikan perasaannya.

Sehun menoleh pada Sina dan mengendikkan bahunya “Kupikir juga begitu, kau bisa bertanya pada ibuku.”

Sina menganggukkan kepalanya, ia benar-benar malas bicara apapun itu topiknya. Sehun memang paham seorang Ahn Sina tidak akan membuka mulut sampai kau mengajaknya bicara hal yang penting , ia juga tahu sejak tadi Sina memang terlihat tidak bersemangat, dan anehnya sekalipun ia tahu ia tetap ingin mengajak Sina bicara.

“Mau membolos jam pertama?”

“Hmm” Sina mengangguk sekali.

“Dipaksa orang tuamu ikut?”

“Ya.”

“Aneh, bukankah nilaimu bagus?”

“Ya, ini aneh.”

Sehun kembali menengokkan kepalanya menghadap pada Sina. Kedua mata gadis itu terpejam, apa suara Sehun mengganggu musik yang sedang didengarnya?

Ia menghela napas, dan menyandarkan kepalanya ikut memejamkan mata, tangannya mengetuk pelan lantai menikmati musik yang didengarnya “Kalau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku.” Itu benar-benar kalimat sok pahlawan yang membosankan,  Sehun bahkan tidak percaya ia malah mengatakannya.

“Apa hanya masalah yang bisa kuceritakan padamu?”

Kedua mata Sina terbuka, ia langsung memandang Sehun. “Apa kalau aku tidak punya masalah aku tidak bisa menceritakan apapun padamu?”

Sementara Sina terus menatapnya Sehun hanya menatap balik, sekarang ia benar-benar merasa perempuan ini memang bermasalah. “Tentu saja bisa, kalau ada hal yang menyenangkan kau bisa menceritakannya padaku.”

“Tidak ada yang menyenangkan dalam hidupku.” Sina kembali memandang ke depan, matanya menatap cermin yang memantulkan dirinya dan Sehun. Sehun memiringkan kepalanya, begitu ia ingin membuka mulut Sina kembali berkata “Tidak ada yang menyenangkan, dan tidak ada masalah, apa artinya aku tidak bisa berbicara apapun padamu?”

“Hei maksudku—“

“Kenapa semua harus terbagi dengan hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan? Apa aku tidak bisa memilih hal yang berada di tengahnya? Aku ini datar, tidak ada masalah, tapi tidak menyenangkan, tidak ada yang menarik.”

Keduanya diam, Sehun tidak lagi menolehkan kepalanya pada Sina, ia ikut menatap cermin memandang pantulan Sina.

“Kau ingin berbicara padaku?” Akhirnya Sehun bisa bicara, setelah yakin Sina tidak akan memotong kalimatnya.

Sina kembali menengokkan kepalanya pada Sehun. “Aku ingin, tapi tidak tahu apa yang bisa kubicarakan, aku ini membosan—“

“Mau menari?” Sehun menjulurkan tangannya pada Sina. Penjelasan Sina sejak tadi sudah cukup untuk Sehun mengerti kalau perempuan ini tidak akan berhenti membahas hal yang sama berulang kali.

Tangan Sehun terjulur tepat di depannya, Sina masih diam begitu juga dengan Sehun. Beberapa detik dengan posisi yang sama membuat Sehun merasa canggung, ia menarik tangannya dan saat itu juga sebuah jemari terasa menyentuh telapak tangannya.

Sina memegang tangan Sehun, bukan, dia menggenggam tangan Sehun, sesuatu membuat Sina makin menguatkan genggamannya “Kuperingatkan, ceritaku ini membosankan.”

Sehun menyungginggkan bibirnya, meskipun hanya sedikit tapi hal itu cukup membuat Sina mengerti kalau Sehun bersedia “Iya aku tahu, kita akan menari dan bercerita, kau membuka mulut, aku akan mendengarkan.”

Sina mengangguk, bukan anggukan biasa karena saat itu ia sadar benar ia baru saja tersenyum pada Oh Sehun.

___________________________________________________

Author’s note:

Fiuh, ga terasa udah chapter 15 dikit lagi menyentuh angka 50.000 kata! 

pastel makin bergerak! Kita perlahan-lahan tapi nikmati aja ya? 

Sampe chapter ini aku masih ga bisa prediksi kita bakal selesai di chapter berapa, beberapa plot udah siap (beberapa?) yep karena agaknya author-nim yg satu ini agak labil. 

Oleh karena itu setiap komen readers yg berisi tanggapan chapter bakal ambil bagian dalam mempengaruhi berkembangnya cerita ini. Tapi beberapa di antara kalian pada kesel kenapa sina masih abu2 hahahah beberapa chapter lagi kita temukan jawabannya, aku juga deg2an ngetiknya o.o

Makasih buat pembaca2 yang sering komen di chapter2 sebelumnya, sukaaaa banget sama tanggapan kalian❤

until the next chapter, bye!

25 thoughts on “PASTEL #015

  1. Yeee… Aku yg komen pertama.
    Mungkin cuman (ada beberapa juga sih) FF- ini yang bikin aku penasaran sama endingnya.
    Sina akan berakhir dengan siapa? Tao? Sehun? (Kalo aku pengennya sih sama Tao ^^) tapi, kalo baca momen SinaSehun rasanya gimana gitu.. 😍

    Jangan lama-lama post part selanjutnya ya, thor ^^
    Penasaran soalnya ^^

    Fighting thor ^^9

    • jawaban sina akan berakhir dengan siapa udah ada di kepala kok, tapi belum saatnya diekspos^^ /cough/ Update cepet ga jamin tp diusahakan setiap chapter selalu memuaskan❤

  2. hey hey~ ijin ninggalin jejak ya😀
    aku suka banget sama karakter cewe cool😄
    ini kira2 sina akan berakhir sama Tao / Sehun? @.@ pas Tao sama vic, aku ngerasa ga suka deh (?) tapi pas sehun sama miyoung, malah lebih ga suka *nahlo
    pengennya dua2nya sama sina😀 bisa ga ya kira2 ? hehe

  3. Yeeaayy updatee😄,..
    yahyah sinasehun mw curhat sambil nari udh kaya india aja hehe
    waktu scene tao ama vic, aku langsung ‘yaaahh jangan baby panda’
    Endnya gimana ya penasaraann

    Thorpikrachu FIGHT!!

    • maaaf babypanda kita harus dikorbankan untuk membuat cerita makin seru ;A; haha endnya tao sama vic, sehun sm miyoung, sina forever alone. Fix PASTEL menjadi fanfic terburuk😄

  4. iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh Tao sama tante-tanteeeeee😦 aku gak suka pas bagian ituuuh *ngambek* masa tao ninggalin sina gitu ajah. aku gemeeeeeeeeeeeeees sama mereka :3
    tapi mau terimakasih sama author untuk bagian tao main basket, eh engga, dari paragraf awal malah taonya udah bikin klepek-klepek. ditambah pas sina meratiin tao. aku berasa meratiin tao beneran lewat mata sina :3 kenapa dia begitu polos u,u
    apalagi tao di exo showtime ep 2, author udah nonton beloooom? doh aku suka banget geng hongdae disitu. tao, sehun,chanyeol, baekhyun, sama kris jalan2 malem. trus aku baru nyadar di geng hongdae itu rata2 main cast di ff author semua ya? kecuali kris :’)

    setuju sama komennya Dheart diatas, aku gak suka pas tao sama vic, kalo taosina udah pastilah suka banget. sehun sama fany juga kurang suka, malah lebih suka sehunsina ._. tapi gak mungkin kan sina poliandri –” yaudah lah aku milih taosehun aja *loh xDD engga ding, aku tetep taosina taosina yoooooo *pasang banner*
    curhat sambil nari itu sweet banget looooooh, aku sukaaa tapi cemburu masa gak rela sina romatisan sama sehun ._. adooh thor dilema kalo begini maaaah u,u
    cepatan lanjooooooottt, jangan abu-abu mulu thor geregeran nihh *-*

    oke, sampai ketemu lagi di komen detour wehehhe xD

    • Waktu baca kalimat pertama aku langsung googling vic lahir tahun berapa, dan ternyata 1987 ._. pls meskipun author penyuka hubungan noona-dongsaeng tapi untuk tao enggak deh, jadi kita anggap dia sama vic seumuran.. (agak maksa tp yaudahlahya)
      iya geng hongdaenya lucu banget, kerasa bgt mereka kalau jadi orang normal gimana c:
      kok vic dibencii dia kan belum ngapa2in, (dan dia udah punya kris ;)) tp semakin kalian ga suka maka chapter berikutnya bakal jadi neraka wahahahaa.
      kedepannya author bakal makin sering mempermainkan perasaan kalian mianhae❤
      okok! detour masih otw!

  5. Wah kykny ak telat ni komennya mian ya author tpi ffny daebak loh, dan ak gk sempet komen di chapter sebelumnya soalny bcany ngebut #gaje aku suka Tao di ff ini emng dy bias aku kayaknya Thor bkin endny sma Tao ya pleasee

  6. haha~ komen paling telat :p
    Feeling dramanya baru kerasa^^ Dan moment Sina Taonya kurang greget nggak kayak Sina Sehun. Gara2 ada Victoria kali ya?

    Aku ngerasa bersalah jadi liburan ini aku update juga^^
    dan ngomong2 ini komen terpanjang yang pernah kuketik

    • ah itu mah emang kamu aja yg udah suka sehun xD
      alhamdulillah ya diupdate juga ;u;
      oke bin selamat ya aku harap chapter selanjutnya komennya dua kali lipat dr yang ini -_-

  7. OH MY… Really Love it
    Pantes aku kurang ngerasa kelucuannya. Ternyata, mulai ada konflik anara Sina dan dirinya sendiri.

    Apalagi Sehun datang di saat yang tepat, mungkin ibunya Sehun sengaja pengen Sehun sama Sina ya?? Ga tau deh.. Mengejutkan aku baru tau kalo Sina itu suka menari.

    Sehun dan Sina nari bareng. Itu romantis
    Tapi aku ga bisa ngebayangin kalo tiba2 kepergok Jongin
    Oke, makin dibuat penasaran jadinya.. Cuss ke #16

    Pikrachu.. Kamu keren🙂

    • seluruh komen maratonmu berbobot aku seneng ^__^ ga cuma ‘ahh sweet’ ‘lanjut thor!’
      Btw dibilang keren tuh rasanya ketinggian… -__-;; aku malu bacanya ._.
      Selamat baca Pastel! Cerita itu udah ada 22 chapter atau 21? aku juga lupa yang jelas semangat bacanya, karena baca fanfic juga susah kan? Apalagi sampai nyadar ada typo segala😄
      Dongahe’s Angel Chanyeol’s Wife..kamu juga keren..tapi namamu kepanjangan ada nickname yang bisa dipake untuk manggil kamu?🙂

  8. Waaaaaaa sina mau nari bareng sehuun?? Yang bener? Yaampun seorang sinaaaaaaaaaa /rusuh/

    Hahahaha ga ngerti deh jalan pikiran ibunya sehun. Buat apa beliau tiba tiba mulangin sehun cuma buat ikut kelas tambahan? Ampuuun x_x

    Itu song qian naksir tao apa? Hahaha victoria kan ya? Hahaha cie tao ada yg naksiir cieee haahahaha xD

  9. Nah kejutannya adalah sebentar lg sehun akan di tinggal pacarnya dan sina masih menganggur hahaha lupakan dulu masalah tao dan aku cukup menikmati sina-sehun momen di bagian akhir chapter ini🙂

  10. Cerita hidup sina itu menarik banget masa ada tiga cowok sekaligus yang ngerasa agak gimana sama dia😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s