Mutual Feelings – Part II [Final/Epilogue]

Part II [FINAL]

Rating: PG-15

Word count: 9.362 words

______________________________________

Chan Yeol

“Akhirnya panasmu turun.” Ibu menghela napas lega setelah mengecek termometer yang baru terlepas dari ketiakku. Aku hanya menguap lebar sebagai pertanda tidurku masih belum cukup.

“Baiklah lanjutkan tidurmu, katakan kalau kau mau makan.”

Aku hanya mengangguk, mulut terasa pahit berbicara pun rasanya malas. Tepat setelah pintu kamar tertutup aku kembali menyandarkan badanku pada bantal tiga tingkat yang sengaja kususun agar kepalaku tetap dapat memandang luar jendela.

Ini sudah hari ketiga aku melihat Baek Hyun mengantar So Hee pulang. Sebenarnya apa yang Baek Hyun pikirkan? Rumahnya jauh dan rumah So Hee dekat, So Hee sudah besar, ia tidak perlu diantar jemput seperti itu. Hal ini benar-benar menggangguku, aku merasa tugasku diambil alih oleh Baek Hyun. Aku merasa semua hal yang harusnya hanya bisa dilakukan antara aku dan So Hee seenaknya diambil oleh Baek Hyun.

Dan sore ini adalah sore terburuk dari semua pemandangan yang kulihat setiap hari, Baek Hyun memegang tangan So Hee. Dan yang membuatku makin benci melihatnya, So Hee tidak melarang Baek Hyun melakukan hal itu. Laki-laki ini benar-benar, apakah dia memang sahabatku?

 “Tok.”

Terdengar ketukan pelan, bukan dari pintu tapi dari jendela. Kupikir ada tetangga kecilku yang iseng melempari jendela dengan kerikil hal yang selalu mereka lakukan setiap ingin mengajakku bermain, tapi begitu melongokkan kepala justru sosok So Hee yang kutemukan.

“So Hee!” Tanpa pikir panjang aku segera menggeser jendela, angin dingin langsung menerpa masuk dan melihat So Hee benar-benar membuatku lupa kalau aku sama sekali tidak memakai jaket.

So Hee yang berdiri di bawah sana memandangku dengan mata sinis yang entah kenapa aku malah menyukai tatapannya, percaya atau tidak dalam sehari jumlah So Hee menatapku ketika berbicara masih terhitung dengan jari.

“So Hee?” Aku bertanya sendiri, sosoknya tiba-tiba hilang, benar-benar membuatku merasa So Hee yang tadi hanya sebuah ilusi.

“Bruk!” Tiba-tiba sebuah tangga sudah tersandar pada kusen jendela, mataku otomatis membulat kaget, tidak mungkin kan So Hee menaiki tangga untuk ke kamarku lewat jendela? Tidak, tidak mungkin.

“Hei sakitmu masih lama?”

Tahu-tahu So Hee muncul di depanku. Refleks, aku segera mundur sementara So Hee hanya balas menatapku dengan tanda tanya pada wajahnya “Aku bilang, apa sakitmu masih lama?”

Mata So Hee masih memandangku, aku tidak bisa menduga apa yang dipikirkannya, ini benar-benar tatapan kosong. Mataku jatuh pada bibirnya yang pucat dan terus bergetar, bukannya menjawab aku segera menggeser jendelaku lebih lebar “Masuklah, di luar dingin.”

So Hee langsung menghela napas, baik, aku tahu dia pasti akan menolakku. Tentu saja, aku ini Park Chan Yeol yang dia benci. Tentu saja dia memilih kedinginan di luar daripada harus sekamar denganku.

“Baiklah.”

So Hee masuk dan duduk di atas kasurku. Aku menggelengkan kepala memastikan perempuan yang sedang duduk tepat di depanku ini memang Ahn So Hee. Ini bukan mimpi? So Hee mau masuk kamarku? So Hee menatapku lebih dari lima detik?

So Hee terus menatapku dan itu benar-benar membuat mulutku terkunci. Keberadaannya terasa begitu asing membuatku mati kutu. So Hee dan aku berada di kasur yang sama, kupikir dia akan berjalan turun dari kasur dan berdiri di tempat yang paling jauh dariku, dan kenyataannya sekarang dia masih duduk tepat di depanku. So Hee harus pergi atau aku bisa memeluknya.

“Apa sakit membuatmu lupa bagaimana cara menjawab pertanyaan?”

Sebuah sindiran keluar dari mulut So Hee setelah tepat beberada detik keheningan yang terasa. Aku menelan ludah dan saat itu juga angin kembali berdesir, aku kembali menutup jendela sementara So Hee menghela napas. “Besok aku masuk.” Akhirnya aku berhasil menyusun kata.

“Benarkah? Kelihatannya kau masih pucat.” So Hee meletakkan tangannya tepat di keningku. Seketika itu juga jantungku terasa berhenti berdetak, terlalu banyak kejutan dari So Hee, rasanya benar-benar bisa gila jika dia terus melakukan hal tak terduga seperti ini.

Aku menundukkan kepalaku dan menepis pelan tangan So Hee dari dahiku, jika lebih lama lagi So Hee menyentuhku entah apa yang terjadi dengan jantungku. “Besok aku akan masuk, te-terima kasih telah mengkhawatirkanku..” Bahkan untuk kalimat sesederhana ini aku masih terbata-bata.

“Ini ada surat.” Tiba-tiba sebuah surat terjulur tepat di depan mataku, aku segera menatap So Hee dengan sebelah alis dinaikkan.

“Dari Baek Hyun, materi ujian besok lusa.”

Baek Hyun lagi

“Aah—iya baiklah, aku mengerti.” Aku hanya mengangguk-ngangguk dan memasukkan surat itu pada laci di sebelah kasurku. Sekarang urusan So Hee sudah selesai, tapi kenapa ia masih duduk di depanku?

Tanpa sadar aku menutup wajahku dengan telapak tangan berusaha menyembunyikan rona merah yang terus menyebar di kedua pipiku, ini benar-benar konyol. Aku benar-benar pria menyedihkan, bahkan hanya kehadirannya saja sudah membuatku seperti ini.

“Kenapa kau menutup wajahmu?” So Hee bertanya dan itu hanya membuat semuanya makin parah. “Aku tidak tahu kesalahanku apa, tapi apa kau telah memaafkanku?” Akhirnya aku berani mengeluarkan pertanyaan itu.

Beberapa detik tidak ada jawaban, aku mengangkat tanganku dan kembali menatap So Hee dan ternyata terus menatapku “Jangan memandangku seperti itu So Hee.”

Selanjutnya yang terdengar hanya suara tawa kecil So Hee.

So Hee

Chan Yeol merapatkan kedua bibirnya tidak bisa berkata apa-apa, matanya tidak memandangmu, ia terus melirik kanan-kiri tapi sekalipun tidak berhenti untuk melihatmu, kedua pipinya memerah entah karena sakit atau malu, sesuatu yang salah terjadi, dan itu pada dirimu.

flashback

Begitu masuk kamar kamu langsung menjatuhkan diri di atas kasur, sambil menutup mata kamu menghela napas, tiba-tiba merasa pusing, besok lusa ada ujian penting tapi otakmu masih belum berhenti menyusun kalimat yang tepat untuk menolak perasaan Baek Hyun. Semua sudah pasti, dari awal kamu tidak akan menerima Baek Hyun, dan terus terang itu membuatmu frustasi, kenapa kamu tidak menyukai Baek Hyun sehingga semuanya akan lebih mudah?

Dengan malas kamu menyeret ransel yang tergeletak asal di lantai dengan kaki, meskipun lelah bagaimanapun ujian yang harus diutamakan, dan lagi kamu bisa berbicara pada Baek Hyun selesai ujian, dia bilang dia akan menunggu jawabanmu sampai seseorang yang menyukaimu juga menyatakan perasaannya padamu.

Setelah mengeluarkan semua buku dari ransel, kamu mencari-cari sebuah amplop yang Baek Hyun titipkan, ini memang untuk Chan Yeol, tapi apa salahnya ikut melihat catatan materi untuk ujian besok lusa? Siapa tahu itu berguna untukmu mengingat materi ujiannya memang kelemahanmu.

Berusaha menjaga matamu tidak tertutup karena mulai mengantuk kamu memelototi amplop yang sedang kamu pegang, dan yang terjadi selanjutnya memang berhasil membuat dirimu terjaga sepenuhnya.

Yeol pertama kau harus membaca surat ini sampai selesai, siapkan dirimu karena sepertinya surat ini seperti sebuah bom untukmu.

Pertama aku hanya ingin memberitahumu kalau aku tahu kenapa So Hee membencimu.

Kedua aku ingin bilang aku baru saja menyatakan perasaanku pada So Hee.

Dan ketiga aku bilang padanya seseorang menyukai dirinya tapi tidak berani menyatakannya  (Dan itu Park Chan Yeol) tapi tenang saja aku tidak menyebutkan namamu.

Apa kau masih membaca surat ini? Bagus.

Karena bagaimanapun juga hal selanjutnya sangat penting untuk kita bertiga.

Pasti sekarang kau bertanya kenapa So Hee membencimu? Aku akan memberitahumu tapi selanjutnya aku yakin gantian kau yang akan makin membenciku.

Kejadian beberapa tahun lalu, tepat sehari sebelum aku pergi ke London aku datang ke rumahmu kau ingat? Malam sebelumnya aku menelponmu kalau aku menyukai So Hee, ingat kan? Ayolah kau harus ingat.

Saat itu kita berdua sama-sama bodoh. Aku berpura-pura tidak tahu, dan kau berpura-pura tahu segalanya. Aku tahu kau menyukai So Hee, itu terlihat jelas bodoh. Dan bodohnya aku, aku malah berpura-pura tidak menyadarinya, dan saat aku sadar So Hee sedang menguping kita, aku hanya diam dan membiarkanmu terus mengeluarkan kebohongan.  So Hee mendengarmu Park Chan Yeol, dan karena itulah dia membencimu.

Kalau kau bertanya kenapa aku tidak memberitahumu saat itu, jawabannya karena aku bajingan, kau sahabatku tapi aku malah membiarkanmu sengsara, waktu itu aku benar-benar egois memanfaatkan ketidaktahuanmu untuk membuatku mendapatkan So Hee. Dan pindah ke London saat itu benar-benar kumanfaatkan sebagai kesempatan untuk kabur dari segalanya.

Begitu aku kembali ke Korea aku tidak tahu keadaannya akan separah ini, aku pikir masalah kalian sudah selesai, dan hal ini membuatku merasa takut, aku sudah merusak hubungan dua orang selama dua tahun lebih dan baru saat ini aku berani mengutarakan segalanya, maaf, terlebih ini lewat surat (Begitu kita bertemu nanti kau boleh memukulku).

Aku tidak akan memohon padamu untuk memaafkanku, karena jika aku jadi kamu aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan memiliki sahabat seperti ini.

Saat ini aku memohon padamu untuk menyatakan perasaanmu pada So Hee, biar aku yang menjelaskan semua ini pada So Hee. Aku tidak peduli siapa yang So Hee terima, dan kalaupun itu aku (hahaha mungkin saja kan?) aku juga tidak tahu, katakan saja Yeol setidaknya itu akan membuat rasa bersalahku berkurang sekalipun aku tahu, tidak mungkin hilang sepenuhnya.

Baek Hyun

Bodoh.

Saat itu juga kamu langsung turun dari kamar dan keluar menuju rumah keluarga Park. Sesuatu harus dipastikan.

____

 “So Hee? Sampai kapan kau mau di sini?”

Chan Yeol membuyarkan konsentrasimu, kamu segera menggeleng-gelengkan kepala dan kembali menatapnya.

Pasti ada yang salah, ada sesuatu yang kurang. Bukan seperti ini yang harus terjadi.

“So Hee? Apa ada sesuatu yang salah dengan wajahku?” Saat ini Chan Yeol kelihatan mulai panik. Tidak peduli dengan tanda tanya pada wajahnya kamu segera meraih tangan Chan Yeol dan menggenggamnya erat-erat. Chan Yeol tercengang dan menatap tangannya dan wajahmu bergantian, ia terdiam kehabisan kata-kata.

Kamu menggigit bibirmu, ternyata memang hilang. Semua perasaan itu, pada Chan Yeol menghilang.

“Tanganmu beku, mau minum sesuatu yang hangat dulu?” Chan Yeol mulai bisa membaca keadaan, seperti ia tahu berbicara dengan So Hee yang seperti ini tidak ada gunanya. Kamu mengangguk dan membiarkannya turun dari kasur. Sementara kamu segera menidurkan dirimu di atas kasurnya Chan Yeol memandangmu dengan aneh tepat sebelum dia menutup pintu kamarnya.

Kamu meraih selimutnya dan menutupi seluruh tubuhmu dengan selimut yang memiliki wangi yang persis sama dengan parfumnya. Sambil memejamkan mata kamu berusaha mengingat ulang semua hal yang pernah membuat Chan Yeol terlihat begitu memikat di matamu.

Tidak ada yang kurang, tidak ada yang salah. Dia masih Chan Yeol yang itu. Tatapannya yang teduh masih sama, suaranya memang sudah berubah, dia kan laki-laki. Tubuhnya sudah jauh meninggi, wajahnya yang bulat sudah melalui pubertas membuatnya tumbuh menjadi laki-laki tampan, semua persis seperti semua yang wanita idamkan tentang Park Chan Yeol. Tapi sesuatu yang salah terjadi, kenapa semua itu tidak berlaku padamu lagi? Bukankah Park Chan Yeol cinta pertamamu? Setelah mengetahui apa yang terjadi selama ini hanya kesalahpahaman bukankah harusnya kamu kembali menyukai pria ini? Tapi kenapa perasaan berdebar itu tidak kembali lagi?

“So Hee?” Chan Yeol membuka pintu kamarnya. Kamu masih berdiam di atas kasurnya sekalipun si pemilik sudah datang.

“Kenapa jadi kau yang sakit?” Chan Yeol bertanya dan terdengar suara gelas yang ia letakkan di atas laci. Kamu menurunkan selimutmu dan memandang langit-langit kamarnya. Perasaan bersalah memenuhimu. Dalam sebuah film harusnya kesalahpahaman seperti ini berakhir dengan manis. Harusnya si wanita langsung menyesal telah membenci cinta pertamanya hanya karena hal sepele lalu kembali menyukainya dan mereka berdua pun hidup bahagia. Tapi tidak peduli seberapa dalam kamu memandang Chan Yeol berusaha mencari debaran ketika memandangnya, rasa yang dicari itu sama sekali tidak keluar. Perasaan hangat dan geli menyentuh keningnya, memegang tangannya hal yang dulu membuatmu selalu melompat-lompat di atas kasur bahkan hilang sama sekali. Semua menjadi datar, dan kalau boleh jujur, membosankan.

Kamu segera bangkit, dan sekali lagi menatap Chan Yeol. Masih berpikir kalau sebenarnya kamu menyukainya hanya saja karena terlalu bersalah rasa suka itu tertutupi. Bahkan kamu sudah mengarang teori aneh.

“Ayo minum ini cokelat kesukaanmu.” Chan Yeol menjulurkan gelasnya dan kamu segera menggelengkan kepalamu. Tidak ada, aku benar-benar berhenti menyukai pria ini ucapmu dalam hati.

“Tidak mau minum?” Chan Yeol menaikkan alisnya dan kamu segera mengambil gelas itu dari tangannya “Aku minum!”  

Sambil meneguk coklat panas perlahan-lahan kamu menatap Chan Yeol yang masih memandangmu dengan aneh seolah perempuan yang sedang duduk di kasurnya ini alien yang baru jatuh di kamarnya.

Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan, kalau begini jadinya lebih baik kau membenci Park Chan Yeol seumur hidup. Kalau ternyata kesalahpahaman ini berakhir hanya dengan acara minta maaf biasa, sungguh ini benar-benar tidak pantas dikatakan sebuah cerita.

“Kau tidak mau membaca surat Baek Hyun?” Kamu bertanya.

Chan Yeol diam menimbang jawabannya hingga akhirnya dia tersenyum “Nanti saja.”

Kamu mengangguk, kalau dipikir-pikir ini semua salah Baek Hyun, bukan soal karena selama ini dia diam saja, oke itu salah tapi entah kenapa kamu bisa memakluminya. Ini soal kenapa Baek Hyun harus menyerahkan surat sepenting itu dengan amplop yang sama sekali tidak di tempel? Kenapa dia menyerahkannya padamu terlebih dahulu? Apa ia sengaja ingin kamu membacanya terlebih dahulu? Padahal kalau Chan Yeol mengetahui ini lebih cepat darimu bisa saja hal yang terjadi akan berbeda.

Siapa tahu semua menjadi lebih dramatis dan berakhir dengan akhir yang manis sekaligus mengharukan. Chan Yeol akan terengah-engah menghampirimu dan menjelaskan semuanya, lalu kamu akan merasa bersalah padanya, saat itu juga Chan Yeol akan menyatakan perasaannya lalu kamu yang selama ini menyiakan-nyiakan waktu untuk membenci cinta pertamamu juga akan melakukan hal yang sama. Akhirnya kalian pun bersatu. Harusnya seperti itu kan? Si pemeran wanita tidak boleh mengetahui dengan sendirinya! Si pria lah yang harus memberitahunya!

“So Hee? Sepertinya minummu sudah habis?” Chan Yeol membuyarkan khayalanmu. Kamu segera menurunkan gelas dan memberikannya pada Chan Yeol. “Terima kasih, aku pulang dulu.” Kamu pun membuka jendelanya dan kembali menuruni tangga. Bukan ini yang seharusnya terjadi di antara kalian berdua.

____

 “So Hee? Minggu depan sekolah mu sudah libur kan?”

Sambil menguap dan membuka kulkas dengan setengah tertidur kamu memasang loud speaker pada ponselmu dan meletakkannya di atas meja makan. “Iya, dan aku tidak bisa ikut kalian berjalan-jalan, ibu ingat kan tahun depan aku akan masuk kuliah?”

Terdengar tawa ibumu, selanjutnya bisik-bisik percakapan dengan ayahmu terdengar “Tapi apa kau bisa datang ke Jeju sebentar? Salju di sini indah sekali, kupikir bagus untuk foto keluarga.”

Sambil menghela napas kamu membuka kotak susu satu liter dan meminumnya langsung dari mulut kotak, terlalu sering tinggal sendiri membuatmu tidak peduli tentang tata cara minum, toh tidak akan ada yang minum susu selain dirimu “Aku tidak bisa ibu, ayolah kalian harus pulang bagaimanapun tidak mungkin aku menghabiskan malam tahun baru sendirian di sini.”

“Tapi ibu tidak bohong di sini indah sekali, datang ke Jeju lalu kita pulang bersama, bagaimana?” Nada suaranya masih memelas.

“Aku tidak bilang ibu bohong, ayolah aku capek beberapa minggu terakhir selalu ada ujian.” Masih tanpa berpikir panjang kamu masih menolak, musim dingin benar-benar membuatmu malas melakukan kegiatan. “Ibu yang pulang ke sini.”

Ibumu menghela napas “Baiklah, besok lusa ibu akan pulang, jadi anak baik dan rapihkan rumah, banyak cerita menyenangkan yang akan ibu ceritakan.”

“Aku mengerti, kumatikan ya? Aku harus sekolah.” Kamu mematikan loud speaker dan kembali menempelkannya pada telingamu.

“Ya, jaga dirimu So Hee, aku tidak mau melihat anakku sakit.”

“Iya ibu juga jaga diri.”

Kalimat terakhirpun menutup perbincangan. Sambil meraih ransel kamu mengambil mengambil satu pisang dan memakannya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Chan Yeol

Sudah beberapa minggu sejak hubunganku dan So Hee berjalan normal, kami tidak lagi canggung tapi tidak bisa kukatakan kalau hubungan ini sedekat yang dulu, sesuatu membuatku merasa hubunganku dengan So Hee akan terus berjalan statis, untuk sekarang aku masih menerimanya tapi kedepannya aku akan mencoba membuat perkembangan.

Ngomong-ngomong hubunganku dan Baekhyun baik-baik saja, setelah membaca suratnya yang baru saja membalik duniaku itu aku segera memanggilnya. Kukira begitu melihat tampang anak itu tanganku akan langsung menonjoknya dan melampiaskan semua emosiku, tapi nyatanya yang kulakukan hanya menepuk bahunya berterima kasih pada apa yang dia lakukan, yang entah kenapa justru itu membuat Baekhyun makin merasa bersalah.

“So Hee!” Aku memanggilnya tepat ketika perempuan itu keluar dari rumahnya. Ia segera mengangkat kepalanya, wajahnya menggemaskan dengan mulutnyayang masih penuh mengunyah pisang yang dipegangnya.

Sekarang aku dan Sohee selalu berangkat sekolah bersama, aku juga tidak tahu bagaimana bisa, hal ini hanya berjalan begitu saja, seperti tidak pernah ada masalah diantara kami berdua sebelumnya.

“Apa tahun baru nanti kau di rumah?”

So Hee yang baru menyelesaikan pisangnya mengangguk dan membuang sampahnya pada kotak sampah pinggir jalan. “Ya, aku berhasil membujuk orangtuaku menghabiskan waktu di rumah.”

Aku menyeringai dan mengepal tanganku senang “Kalau begitu kita bisa menghabiskan waktu bersama! Ibuku mengajak keluargamu datang untuk makan malam.”

So Hee menengok padaku dan tersenyum “Benarkah? Aku suka Tom Yang buatan ibumu, bisa katakan ibumu untuk membuatkannya nanti?”

“Tentu saja!” Aku mengangguk semangat. So Hee hanya balas tersenyum dan kembali memandang ke depan. Pandangannya terlihat kosong sesuatu seperti menghilang dari dirinya aku ingin bertanya tapi bagaimanapun juga So Hee sudah memaafkanku sudah lebih dari cukup, kurasa ini bukan urusanku.

____

 “Hoi Park Chan Yeol.”

Baekhyun langsung memanggilku begitu aku membuka pintu kelas. Ia sudah duduk di tempat biasa dan dengan tatapan wajahnya itu aku sudah menebak apa yang akan dikatakannya.

“Aku tahu, ayolah Baek ini tidak semudah yang kau pikirkan, aku dan So Hee sudah kembali semula saja sudah lebih dari cukup.”

Baek Hyun menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Ia melorot dari kursinya dan menatapku dengan malas “Janji padaku kau akan mengatakan padanya tepat sebelum aku pergi.”

Aku hanya mengendikkan bahuku malas, Baek Hyun kembali mengingatkan fakta tentang kepergiannya kembali ke London. Kali ini jauh lebih baik karena dia memberitahuku sebulan sebelum keberangkatannya tapi tetap saja dia akan pergi, pergi untuk waktu yang lama dan buruknya kepulangannya kali ini tidak bisa dipastikan. Bicara soal Baekhyun, minggu lalu So Hee sudah menolak perasaannya, alasannya tipikal karena dia menganggap Baek Hyun sebagai sahabat, dan dalam hati entah kenapa aku yakin So Hee akan mengatakan hal yang sama padaku nanti.

Baek Hyun langsung mendengus dan tertawa kecil “Aku hanya ingin melihat akhirnya, ayolah menjadi penonton cerita drama kalian berdua itu benar-benar membosankan, tidak ada perkembangan! Beri aku sesuatu yang menarik!”

Aku tertawa dan meninju lengannya pelan “Ya, kau juga pemainnya kan? Hanya saja kau pihak ketiga yang sudah tersisih.” Ucapanku setengah bercanda setengah serius, tapi seorang Baek Hyun tidak akan memasukkannya dalam hati.

Baekhyun menyunggingkan bibirnya “Kau tahu? Aku berharap kita punya pihak ketiga baru untuk membuat semuanya lebih seru.”

So Hee

Akhir-akhir ini kamu dan Min Seok menjadi dekat. Sejak kamu berhenti membenci Chan Yeol dia menjadi orang nomor satu yang selalu mengekorimu menuntut sebuah penjelasan bagaimana bisa kamu berubah. Awalnya kamu terganggu, tapi kalau diingat-ingat laki-laki ini memang teman baik Chan Yeol jadi wajar saja dia penasaran karena dia tahu betapa buruknya hubunganmu dan Chan Yeol dulu.

“So Hee!” kamu mengangkat kepalamu dan melihatnya berlari menghampirimu. Kedua telinganya memerah karena kedinginan. Kamu menjulurkan kopi panas yang baru dibeli di kantin tadi “Minumlah.”

Min Seok langsung menyeringai dan tanpa sungkan segera menerimanya, padahal kamu pikir dia akan menolak dan mengatakan kau sepertinya lebih butuh (karena jujur kamu juga kedinginan). “Buku yang kau mau, sudah kubawa.” Kamu berkata.

Aish! Panasnya!” Min Seok menjulurkan lidahnya dan mengipasinya dengan tangan, kamu memutar bola mata siapapun tahu meminum kopi panas tanpa menunggunya beberapa detik adalah tindakan bodoh. “Tadi kau bilang apa So Hee?”

“Aku membawa buku yang kau mau.”

Min Seok membulatkan matanya segera melupakan lidahnya yang terbakar “Benarkah!?”

Kamu mengerutkan keningmu dan menutup telingamu merasa kaget mendengarnya berteriak tepat di sampingmu “Jangan berteriak seperti itu Min Seok, waktu kucari lagi ternyata masih ada.”

“Astaga kukira seorang Ahn So Hee tidak mau repot-repot mencarikannya untukku!” Ucapannya begitu antusias membuatmu tersenyum. Kim Min Seok secara kebetulan adalah penggemar novel buatan ayah dan ibumu, ia baru tahu soal itu saat Chan Yeol memberitahunya buku yang dibacanya saat itu tulisan ibumu. Itu juga salah satu alasan kenapa kamu dan Min Seok menjadi begitu dekat.

“Kapan kedua orang tuamu pulang So Hee?”

“Besok lusa.” Dengan jawaban singkat itu Min Seok langsung menyunggingkan bibirnya lebar. “Boleh aku ke rumahmu? Aku ingin mendapatkan tanda tangan orang tuamu!”

Kamu mengangguk dan tersenyum “Pakai pakaian yang bagus karena aku yakin mereka akan mengajakmu foto bersama.”

Minseok tertawa dan mengangguk-ngangguk, biasanya kalian akan berjalan menuju kelas bersama karena kelasnya dan kelasmu bersebelahan tapi teman lainnya berteriak memanggil Min Seok membuat ia harus berjalan pergi meninggalkanmu. Sebelum ia menghampiri temannya ia menengok padamu sekilas “Wangi shampomu sama dengan wangi shampo ibuku!”

Ia pun berlari menghampiri temannya, membuatmu sedikit terpaku rasanya aneh melihat laki-laki mengomentari wangi shampomu.

Chan Yeol

“Bukankah sudah kubilang? Pihak ketiga akan membuat semuanya lebih seru!” Baekhyun terdengar terlalu bahagia untuk seorang sahabat yang baru saja mendengar kekhawatiranku soal kedekatan Min Seok dan So Hee.

Aku memejamkan mataku dan menyetel loud speaker pada ponsel, sambil berbaring di kasur aku meletakkannya tepat di samping bantalku. “Pertanyaannya sekarang, sebenarnya siapa yang pihak ketiga? Aku atau Min Seok?”

Baek Hyun terdiam tidak menjawab apa-apa “Halo Baek? Jangan bilang kau mendukung Min Seok?”

“Sejujurnya iya—hahaha mereka berdua terlihat manis ketika berdua, memang kau tidak merasa wajah mereka sama-sama mirip?”

Aku mendecak dan mengerang “ Byun Baek Hyun aku serius, apa menurutmu Min Seok menyukai So Hee?”

“Kenapa kau tidak bertanya apa So Hee menyukai Min Seok?”

Aku terdiam menggigit bibirku, sejujurnya pertanyaan itu yang lebih sering keluar dari otakku tapi aku selalu menghindari memikirkannya lebih jauh, membayangkan So Hee menyukai Min Seok saja aku sama sekali tidak siap. “Aku yakin tidak mungkin, jadi menurutmu—“

“Kyaaa!” Itu jeritan ibu.

Aku segera bangkit dari tidur dan berjalan keluar dari kamar “Baek aku akan menelponmu lagi!”

Begitu aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa yang kulihat ibu yang berdiri mematung, gelas yang dipegangnya jatuh dan terpecah kemana-mana, susu coklat yang ia buat bahkan mengotori seluruh roknya. Aku tahu ibu bukan wanita yang cuek soal hal seperti ini, biasanya ia akan mengumpat dan segera membereskannya, tapi kali ini ia tetap terdiam, gelas yang terjatuh tidak lagi terlihat seperti sebuah masalah .

“Ibu sebenarnya apa yang terjadi?” Aku bertanya jengkel, karena teriakannya sukses mengganggu percakapanku tadi, dengan hati-hati aku melangkah menghindari pecahan-pecahan kaca dan menghampirinya yang terus memandang layar TV.

“Apa ibu—“

Mulutku berhenti berkata ketika mataku menangkap berita yang terpampang besar-besar di layar. “Ka-kapan orangtua So Hee pulang?” Mulutku berkata terbata-bata mataku masih terpaku memandang TV takut melihat ekspresi ibuku sekarang.

Hening beberapa detik membuatku akhirnya menengok dan menemukan ibuku yang kedua pipinya sudah dibasahi air mata “Siang ini..pagi ini mereka memberitahuku mereka akan..astaga Chan—“ Ibuku pingsan, refleks tanganku menangkap pinggangnya. Dengan susah payah aku mempong ibuku menuju kamarnya, tenagaku serasa terhisap, berkali-kali aku menginjak beling, itu memang sakit air mataku keluar tapi aku yakin bukan soal beling yang membuatku menangis. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada So Hee.

____

Hari itu menjadi hari terakhirku melihat So Hee. Hari di mana aku mendobrak pintu rumahnya aku segera tahu ceritaku dan So Hee berakhir. Cerita kami yang kupikir  baru akan dimulai ternyata terpotong begitu saja dengan aku yang sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa selain terus bertanya.

Baek Hyun

Setahun sejak kepergianku dari Korea tidak jauh berbeda dengan kepergianku dari Korea dua tahun yang lalu. Masih membawa perasaan gelisah, meninggalkan dua sahabatku dengan akhir yang menggantung. Kepergian So Hee membuatku hampir gila, perempuan ini benar-benar membuatku kehabisan kata-kata, aku tidak peduli lagi ia menolak Chan Yeol atau tidak, tapi bukankah ia harusnya tahu? Kalau aku dan Chan Yeol masih sahabatnya?  So Hee tidak boleh pergi begitu saja tanpa memberitahu kami.

____

Chan Yeol

Tanggal kematian kedua orang tua So Hee selalu mendapat ruang di kalender keluarga kami. Hampir setiap bulan kami selalu mengunjungi makam keluarga Ahn tanpa sekalipun berhasil menemukan So Hee. Paman So Hee tidak bisa kami hubungi, keberadaan So Hee tidak terlacak. Kurasa aku dan So Hee benar-benar selesai.

So Hee

“Ahn So Hee!”

Kamu menengok dan mengernyit pada orang yang memanggilmu. Padahal kamu sedang tergesa-gesa ia seenaknya memanggilmu tapi yang ia lakukan sekarang hanya menyeringai dan melambaikan tangannya. Kamu meniup ponimu dan memilih menghiraukannya sekalipun ia kembali berteriak memanggilmu.

“So Hee! Aku memanggilmu!” Ia sudah berlari menyamaimu, sekarang kalian berlari beriringan membuatmu jengkel karena dengan mudahnya ia menyamaimu padahal kamu sudah bersusah payah berlari menghindarinya.

“Lu Han tolong hentikan, kalau hanya ingin berlari kau bisa melakukannya di luar.”

Lu Han tertawa dan menggelengkan kepalanya, ia tersenyum menatapmu “Aku ingin berlari bersamamu, lagipula menyenangkan bukan berlari bersama? Kalau dimarahi kita juga dimarahi bersama.”

Kamu menengok pada Luhan dan tersenyum “Terimakasih Lulu.”

“Hei!” Luhan langsung membulatkan matanya tidak terima Lulu menjadi nama panggilannya, hal itu membuat konsentrasi Luhan buyar dan kamu berhasil meninggalkannya, baru saja kamu menghadapkan kepalamu kembali ke depan kamu baru menyadari seseorang datang dari arah berlawanan, dengan cepat tanpa tanda ia akan berhenti “A-astag—“

“BRUK”

“Min Seok?” Sekarang kamu ingin menggali lubang sedalamnya dan mengumpat di dalamnya.

Chan Yeol

“Chan Yeol!”

Aku menutup majalah yang kubaca dan memandang wanita yang memanggilku, Rang Bi tersenyum padaku, aku ingin membalas senyumannya tapi sedikitpun sebuah sunggingan tidak muncul bibirku bersikeras membentuk garis lurus tetap terkatup rapat.

Sebuah cerita sekali lagi membuat duniaku terbalik.

Flashback

“Chan Yeol! Aku menemukan So Hee!”

“Min Seok—ini tanggal..” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku mengingat ia pernah mengatakan hal yang sama saat April Mop lalu Min Seok mendecak kesal “Aku serius! Ternyata aku dan So Hee berada pada jurusan yang sama! Kami bertabrakan tadi!”

Aku segera memperbaiki posisi kacamataku yang melorot dan membetulkan posisi ponsel yang daritadi hampir terjatuh karena hanya terjepit diantara bahu dan telinga “So Hee..berada di Beijing!?”

“Iya! Dia tinggal bersama pamannya sekarang, sejak kematian orang tuanya ia langsung pindah, aku tidak akan menceritakan panjang lebar karena minggu depan So Hee akan kembali ke Korea, kau bisa bertanya sendiri padanya.”

“Benarkah? So Hee akan pulang? Hei tapi apa dia mau menemuiku? Kalau dia mau menemuiku harusnya dari dulu ia mengabariku—“

Min Seok menghela napas membuat tanda tanya besar dalam otakku mengingat detik sebelumnya ia masih terdengar begitu antusias “Oh ya, Yeol aku lupa bilang..”

“Apa itu?”

“So Hee sudah memiliki kekasih.”

So Hee

Setahun sebelumnya.

Dari dulu kamu tidak pernah menyukai berita. Bahkan kalau di dunia ini satu-satunya yang tersisa dalam dunia televisi adalah berita, kamu memilih tidak akan membeli TV. Tapi siang ini ibumu bersikeras menyuruhmu menyalakan TV dan menonton berita yang dia tahu kamu juga benci menontonnya. Dia bilang pameran bukunya akan ditayangkan di TV dan sebagai anaknya kamu harus melihat sendiri acara itu.

Tapi Tuhan sepertinya menghukummu hari ini.

Sebuah pesawat menuju Seoul dari Jeju jatuh, seluruh penumpang tewas.

Matamu tidak bisa berkedip, berusaha sekuat mungkin tetap tenang kamu mencoba mengecek jadwal penerbangan orang tuamu, sejam lalu ibumu menghubungimu ia baru saja bersiap boarding. Masih berusaha naif kamu bersikeras pesawat yang terjatuh itu bukan pesawat yang dinaiki orang tuamu, sayang beberapa detik kemudian nama penumpang segera terpampang. Mau tidak mau matamu menyusuri satu persatu nama yang tertulis. Dua buah nama yang kamu kenali tertera. Saat itu kamu tahu Tuhan tidak berpihak padamu.

“So Hee!” Min Seok mengetuk pintumu, suaranya masih terdengar ceria jelas ia tidak tahu berita ini. Kamu menggelengkan kepala, sambil menggigit bibir berusaha tidak membuat isakan tangis kamu memejamkan mata. Di saat seperti ini seluruh memori yang selalu membuatmu memikirkan kata ‘kalau’ berkali-kali keluar, kalau saja, seandainya, coba kalau, jika saja, sekarang semuanya masuk dalam daftar kalimat yang paling kau benci. Dengan langkah gontai kamu menaiki tangga, mengabaikan ketukan pintu dan dering ponsel yang terus berbunyi.

____

Apa yang terjadi kalau kamu mengikuti permintaan ibumu?

Apa yang terjadi kalau siang ini harusnya kamu yang menaiki pesawat?

Bukankah harusnya saat ini kamu sedang tertawa bersama mereka, mengambil foto keluarga yang ibumu idamkan, bermain salju bersama orang tuamu, mendengar cerita mereka yang katanya menarik itu. Terlalu banyak penyesalan. Dipikirkan pun tidak ada gunanya, tapi apa artinya kalau tidak dipikirkan jadi berguna?

____

Selama setengah jam Chan Yeol mengetuk pintu rumahmu. Tidak ada yang salah pada Chan Yeol, lalu kenapa kamu tidak mau membukanya?

Kamu membutuhkan seseorang di saat seperti ini Ahn So Hee. Ayo buka pintunya!

Tanganmu sudah memegang gagang pintu, kamu butuh pelukan seseorang, kamu butuh kasih sayang seseorang untuk meyakinkan kamu tidak sendiri So Hee.

“Aku tidak bisa membukanya Chan Yeol.”

“Kau tidak mau melihatku?”

Jawabannya iya tapi apa kamu punya hati untuk mengatakannya?

“Saat ini aku sangat menyedihkan, aku—kalau melihatmu pasti aku akan menceritakan betapa menyesalnya aku, dan aku benar-benar tidak ingin membahas hal itu lagi.”

“So Hee?”

“Ya?”

“Rasanya menyedihkan ketika orang yang kusuka tidak bisa mengandalkan apapun padaku untuk saat tersulitnya.”

Kamu tersenyum, pengakuannya benar-benar manis, seperti Park Chan Yeol. Kata-katanya terdengar tulus, tanpa berbasa-basi dia hanya ingin berada di sampingmu, kuat tapi tidak memaksa. Chan Yeol mengerti.

“Hei aku sedang mengandalkanmu, aku memintamu untuk tidak melihatku sekarang.”

Chan Yeol diam, bahkan tanpa memandangnya pun kamu yakin saat ini dia hanya tersenyum dengan kedua mata menahan air mata. Butuh beberapa menit untuk kamu sadar kalau Chan Yeol benar-benar pergi. Entah memang hanya pergi dari rumahmu atau pergi meninggalkanmu.

____

Pajangan resolusi orang tuamu tertempel besar di ruang makan. Puluhan tempat yang ingin mereka kunjungi selalu bertambah, beberapa diantaranya tercoret karena sudah terselesaikan, sebuah nama tempat yang dirasa terlalu mustahil berkali-kali dicoret lalu ditulis lagi. Kamu tersenyum mengingat saat itu kamu berdebat dengan mereka, kamu mencoret nama Antartika karena kamu yakin hal itu mustahil tapi orang tuamu bersikeras mereka akan membuktikkannya padamu kalau mereka akan pergi ke sana.

Praha, Swedia, Nottingham, Indonesia, Green Land, nama-nama acak tertulis, kamu tertawa kecil mengingat betapa antusiasnya mereka untuk mengajakmu pergi mengunjungi semuanya.

Kamu tertawa tapi bagaimanapun juga suara tangis tidak bisa disembunyikan, masih dengan tangan bergetar kamu meraih ponsel yang terjatuh begitu saja di lantai.

“Halo paman?”

Kamu memutuskan pindah, memulai cara hidup baru dan membuktikkan pada dirimu sendiri kamu bisa menyelesaikan seluruh resolusi orang tuamu.

____

Chan Yeol

Semua keluargaku sibuk membongkar isi rumah, ibuku lupa di mana ia meletakkan kunci mobilnya. Padahal setengah jam lagi pesawat So Hee akan sampai. Kakakku tidak berhenti mengomentari make-upnya yang luntur karena berkeringat, ia terus bergerak ke sana kemari mencari kunci mobil yang kunjung tidak ditemukan lebih dari setengah jam.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala aku hanya mengamati gerak-gerik mereka.

“Yeol! Bantu kami!” Ibuku berteriak dari ujung sana, aku mengendikkan bahuku. “Tidak, lagipula aku tidak ikut menjemputnya.”

Kakakku yang ternyata berada di sampingku langsung menjitak puncak kepalaku, melampiaskan rasa kesalnya sehingga dia tidak main-main dalam memukulku “Aigo Yeollie! So Hee itu sahabatmu! Akhirnya dia menghubungi kita, harusnya kau bersyukur!”

Aku mengelus kepalaku dan menautkan kedua alisku “Tidak, kalau dia sahabatku pasti dari dulu ia sudah menghubungiku, So Hee sudah membuangku.”  Aku memutuskan beranjak dari kursi setelah sekali lagi mendapat jitakan dari Yura-noona. Sambil membuka kulkas mencari susu kotak mataku terpincingkan menyadari sesuatu yang tidak lazim.

“Ibu, sejak kapan kulkas menjadi tempat menyimpan kunci mobil?”

Omo! Terima kasih Yeollie!” Yura-noona langsung meraihnya tepat sebelum aku mengambilnya, aku hanya memutar bola mataku dan begitu menemukan susu kotak stroberiku aku kembali duduk di sofa sebelum akhirnya tanganku tergenggam kuat oleh Yura-noona “Kau harus ikut kami!”

Aku menghela napas dan berusaha melepaskan genggaman tangannya yang ajaibnya sulit dilepaskan “Lepaskan noona, kubilang aku tidak mau ikut.”

Kuku-kuku tajamnya makin mencengkeram kuat pergelangan tanganku, sedikit lagi lebih kuat aku khawatir itu akan menimbulkan luka. “Noona kau ingin membuat pergelanganku terluka?”

“Kalau memang itu satu-satunya cara untuk mengajakmu ikut kenapa tidak?”

Aish! Baiklah! Aku ikut! Aku akan bertemu Ahn So Hee!”  Aku segera mendecak saat tangannya terlepas dan meninggalkan bekas kukunya. Aku harus bertemu Ahn So Hee? Astaga aku bahkan tidak yakin bisa menghirup oksigen yang sama dengan wanita itu!

____

So Hee

Lu Han memaksamu agar ia bisa ikut ke Korea bersamamu, laki-laki ini benar-benar selalu menempel padamu kadang membuatmu takut bagaimana bisa seseorang bisa menyukai sampai begitu dalamnya. Tentu saja kamu menolak karena kamu tahu Lu Han tidak punya siapa-siapa di Korea, yang dia lakukan hanya terus menempel padamu, dan meskipun jahat kamu berpikir itu akan merepotkan.

Sambil menggiring koper kamu menengok kanan-kiri mencari keluarga Park yang sudah kamu hubungi sejak beberapa hari yang lalu. Kamu memutuskan menghubungi mereka karena yakin semua tidak ada gunannya lagi untuk bersembunyi setelah Kim Min Seok menemukanmu, ia pasti sudah memberitahu Park Chan Yeol.

“So Hee!” Sebuah suara yang begitu familiar terdengar, membuat telingamu nyaman entah sejak kapan kamu merindukan suara ibu Park. Kamu segera menengok dan menyeringai begitu menyadari keberadaan keluarga Park berada tepat 10 meter dari tempatmu berdiri.

Tanpa sedikit pun takut menabrak penumpang lain kamu berlari menghampiri mereka, rasanya benar-benar nostalgia, bagaimanapun juga meskipun beberapa tahun lalu kamu pernah membenci anak kedua keluarga mereka, keluarga Park tetap seperti keluarga bagimu.

“Terima kasih kalian bisa datang!” Kamu memeluk mereka satu persatu, tidak ada yang benar-benar berubah dari mereka kecuali Yura-unnie yang semakin cantik dengan potongan pendek rambutnya “Astaga sejak kapan unnie secantik ini?” Kamu menyeringai sambil menatapnya yang tidak berhenti mengacak-acak rambutmu.

Dalam hati kamu benar-benar lega, tidak seorang pun protes dan melemparkan pertanyaan bertubi-tubi kenapa kamu menghilang begitu saja, kamu memutuskan akan menceritakan semuanya setelah semua menjadi lebih tenang.

Begitu kalian semua selesai dengan reunian singkat kamu memiringkan kepala menyadari salah seorang anggota keluarga mereka sama sekali tidak terlihat batang hidupnya sejak tadi. “Chan Yeol tidak ikut?”

Ibu Park mendengus dan menunjuk sebuah kursi yang agak jauh dari tempat kalian “Dia bilang tidak enak badan, tidak bisa berdiri lama-lama jadi ingin duduk di sana.”

Kamu berjinjit dan melongokkan kepalamu, matamu menemukan sosoknya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, rasanya ingin berteriak memanggil namanya karena bagaimanapun juga kamu memang rindu pandanya, tapi menyadari kedua telinganya yang ditutupi headphone kamu hanya menghela napas.

Setelah kalian semua berjalan sampai berada di kursi Chan Yeol kamu pikir anak itu akan melepas headphone dan memelukmu tapi nyatanya ia hanya memandangmu seperkian detik tanpa tanda akan melepas headsetnya. Apa ia membencimu? Itu pertanyaan yang tidak  pernah keluar atau bahkan terpikir karena kamu selalu yakin Park Chan Yeol laki-laki yang paling mengerti dirimu.

“Yeollie tolong bawa koper So Hee. Dia pasti kelelahan.” Ibu Park langsung menarik gagang koper yang kamu pegang dan memindahkannya pada tangan anaknya. Chan Yeol tidak protes tapi ia langsung berjalan berada di paling depan sekalipun kakaknya sudah memanggilnya untuk berjalan beriringan bersama kalian.

____

Sampai di dalam mobil, seluruh keluarga langsung masuk dan menyisakan satu-satunya tempat kosong untukmu di sebelah Chan Yeol. Kamu menghela napas dan memutuskan langsung masuk tanpa memperhatikan Chan Yeol, entah kenapa melihat ekspresi menjengkelkan dari laki-laki ini kurang menyenangkan untukmu.

“Ayo kita berangkat!” Yura-unnie langsung berteriak semangat saat mobil dinyalakan, volume lagu langsung dikencangkan besar-besar dan seluruh keluarga mereka yang dari dulu memang riang langsung bernyanyi, kecuali satu; si anak kedua.

Kamu pun menengok pada Chan Yeol, tidak peduli ia menyadarinya atau tidak kamu menatapnya lama. Poninya terangkat tidak seperti Chan Yeol beberapa tahun lalu yang masih terlihat kekanakan sekarang ia berkesan jauh lebih dewasa. Chan Yeol memakai kaca mata padahal dulu ia memutuskan mau memakai soft lense. Tubuhnya serasa makin meninggi, puncak kepalanya pun sudah tepat berada di bawah atap mobil. Kamu ingin melepas headphonenya ingin berbicara dengannya. Matanya terus menatap keluar jendela dan kamu ingin mata almondnya itu menatap matamu, bibirnya terus tertutup membuatmu makin ingin mendengar suara seperti apa yang akan keluar dari mulutnya.

Tanpa berpikir panjang kamu segera melepas kabel headphonedari ponselnya, sebuah suara yang seharusnya keluar tidak keluar kamu langsung memandang bingung padanya.

“A-aku lagi menghentikkan lagunya!” Chan Yeol berkata terbata-bata dan kembali memasang kabelnya membuatmu tertawa geli karena rona merah pipinya sudah membuktikkan kalau ia tertangkap basah tidak mendengar apa-apa sejak tadi.

Kamu menghela napas dan bersender pada jok memutuskan tidak akan mengganggu pria ini lagi. Tapi matamu menangkap tangan Chan Yeol yang tidak berhenti bergerak seperti memainkan piano, kebiasaannya setiap ia panik. Entah apa yang terjadi seperti sebuah kebiasaan kamu langsung meraih jarinya dan menggenggamnya lembut. Chan Yeol ingin melepas tangannya tapi kamu terus menggenggamnya kuat.

Chan Yeol

Aku tidak bisa mengerti jalan pikir Ahn So Hee, perempuan ini benar-benar bipolar. Harusnya sekarang giliranku yang membenci dia, tapi sekarang ia menggenggam tanganku kuat tidak membiarkanku lepas darinya. Apa dia tidak takut dituduh selingkuh? Aku ingin berteriak padanya ‘So Hee kau sudah punya kekasih tidak boleh menggenggam tangan pria lain sembarangan!’

“So-So Hee—“ Entah kenapa mulutku serasa bukan mulut sendiri, susah sekali dikendalikan.

“Hmm?” So Hee mengangkat kepalanya, matanya menatapku, tatapan yang kuinginkan dari dulu kembali muncul tapi rasanya aku tidak pantas untuk mendapat tatapan ini, So Hee sudah punya seseorang.

“Jangan menggenggam ta—“

So Hee memotong kalimatku, ia memeluk lenganku, apa sekarang aku terlihat seperti sebuah guling di matanya? “Sekarang aku memeluk lenganmu, tidak apa-apa kan?”

Aku menelan ludah dan menggelengkan kepala tapi So Hee sama sekali tidak menggubrisku. Puncak kepalanya menyentuh daguku, membuatku geli kapan terakhir kali aku mencium wangi shampo ini? Aku bahkan pernah mengganti shampoku sama dengannya ketika aku benar-benar frustasi So Hee menghilang secara mendadak.

“Banyak hal yang ingin kuceritakan Yeollie.”

Aku terdiam, otakku buntu untuk memberi jawaban tapi dorongan yang kuat muncul entah dari mana membuatku menundukkan kepala dan mengecup lembut pipi So Hee.

Baek Hyun

Kim Min Seok kukira akan menjadi orang yang pada akhirnya mengakhiri kisah Chan Yeol dan So Hee. Kukira laki-laki ini yang menggantikanku menjadi pihak ketiga atau bahkan merebut posisi pemeran utama dari Chan Yeol. Tapi nyatanya justru dia menjadi pemeran pembantu yang berhasil membuat cerita ini kembali berjalan.

So Hee sudah ditemukan, So Hee kembali ke Korea, So Hee sudah punya kekasih.

Tiga hal yang membuatku ingin kembali ke Korea penasaran bagaimana cerita ini akan selesai.

Chan Yeol

So Hee akan tinggal di rumah kami sampai kelas musim panasnya selesai. Rumah yang berada di depan rumah kami memang masih milik keluarga Ahn tapi ibuku habis-habisan memaksanya untuk tinggal bersama kami, dia bilang tidak ada alasan untuk menolak oleh karena itu So Hee harus setuju. So Hee tampaknya malas berargumen sehingga tidak butuh waktu lama membuat perempuan ini mengangguk.

Aku masih canggung setelah peristiwa di mobil tadi tapi So Hee tampak tidak mengambil serius sehingga begitu turun dari mobil ia kembali seperti biasa.

“So Hee akan tidur di kamar Chan Yeol.”

“Lalu di mana Chan Yeol akan tidur?”

“Kalian akan tidur bersama.”

Aku langsung memuncratkan susu yang kuminum tepat di depan Yura-noona yang langsung memandang jijik padaku “Aku bercanda Yeol!”

So Hee

Kamar Chan Yeol sebagian berubah, buku-buku pelajaran sudah tidak terlihat lagi di meja belajarnya, sepertinya ia mengambil jurusan kuliah yang sama sekali tidak memerlukan buku. Koleksi gitarnya bertambah, membuatmu tersenyum geli karena sama ia masih memajang gitar kecilnya yang dipakai ketika SD dulu, sama sekali tidak berdebu karena kamu yakin Chan Yeol selalu mengelapnya. Foto-foto bertambah, yang terlihat mencolok fotonya bersama Baek Hyun di bandara, kamu tersenyum dan membayangkan jika saja kamu tidak pergi tentu saja kamu akan menjadi bagian dari foto itu. Matamu menyusuri foto polaroid-polaroid yang tertempel berantakan di dinding kamarnya, fotonya bersama Rang Bi cukup banyak dalam hati kamu penasaran apakah ia dan Chan Yeol kembali berhubungan. Matamu mengernyit saat menyadari fotomu dan Chan Yeol sama sekali tidak terpajang. Kamu ingat dua tahun lalu foto masa kecil kalian masih mendapat ruang spesial dipajang paling atas, tapi sekarang foto itu sudah tergantikan dengan foto kelulusan Chan Yeol.

“So Hee?”

Kamu menengok dan kembali membalikkan kepalamu saat melihat Chan Yeol sudah masuk. Saat di mana dia mencium pipimu benar-benar tidak terprediksi, sampai keluar dari mobil kamu sudah berusaha keras terlihat normal tapi entah kenapa hanya berdua bersama Chan Yeol membuatmu kesulitan mengontrol ekspresi wajahmu.

“Barang-barangku masih ada di sini.” Chan Yeol berkata.

Kamu mengangguk dan kembali sibuk mengeluarkan baju-bajumu. Suasana menjadi hening membuatmu yang seharusnya terbiasa tiba-tiba merasa canggung.  Baru kamu ingin membuka topik sederhana seperti ‘maaf gara-gara aku kamu harus pindah.’ Chan Yeol sudah membuka mulutnya duluan “Ini—bersama pacarmu?”

Kamu segera membalik badanmu, matamu membulat kaget saat menyadari fotomu bersama Lu Han sudah berada di tangannya, kamu menepuk jidatmu pasti Lu Han yang seenaknya memasukkan itu ketika membantumu packing.

Tanpa menjawab kamu segera mengambil foto itu dan memasukkannya dalam koper.

“Dia pacarmu?” Chan Yeol kembali bertanya.

Tidak tahu harus menjawab apa kamu masih diam, Chan Yeol tampaknya gemas sehingga ia mengulang pertanyaannya lagi “So Hee, dia—pa-car-mu?”

Kamu mengendikkan bahumu “Aku tidak suka menyebutnya pacar, tapi dia laki-laki yang menyukaiku.”

Chan Yeol memiringkan kepalanya, masih dengan mata menyidik ia menanyaimu lagi “Apa kamu menyukainya?”

“Berusaha menyukainya.” Kamu menjawab singkat dan langsung berdiri meninggalkan baju yang belum selesai tersusun. Ingin kabur dari percakapan ini. Chan Yeol ikut berdiri menyusulmu mengikutimu menuruni tangga. “Apa maksudmu? Kalian menjalin hubungan tapi tidak saling suka? Aku tidak mengerti.”

Pertanyaan seperti ini lah yang paling kamu hindari, Min Seok juga bertanya hal yang sama hanya saja ia lebih mudah dijelaskan. Kamu menghentikkan langkahmu dan membalik badan kembali menatap matanya “Kamu tidak perlu mengerti Chan Yeol.”

Kalimat itu berhasil membuat Chan Yeol mengunci mulutnya, ia mengangguk dan kembali ke kamarnya “Aku lupa, barangku tertinggal.” Ucap Chan Yeol.

____

Chan Yeol

Ya Kim Chan Yeol!”

Aku langsung menengokkan kepalaku dan menendang kaki laki-laki yang suka mengganti margaku seenaknya “Park! Park! Park-Chan-Yeol!”

Kyung Soo memutar bola matanya dan balas menendang kakiku “Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi matamu terus menatap ke atas, ayo cepat selesaikan latihan ini aku ada kencan satu jam lagi!”

Aku mendecak, bukannya mengikuti perintah Kyung Soo, gitar yang sedari tadi kupangku kusandarkan pada dinding, Kyung Soo mulai ingin mengomel lagi tapi aku berhasil membuka mulut terlebih dahulu “Perempuan yang pernah kuceritakan—Ahn So Hee? Kau ingat kan?”

Kyung Soo hanya mengangguk, ia mengambil ponselnya dan kedepannya aku yakin bercerita dengan laki-laki ini hanya akan direspon dengan sekedar gumaman atau anggukan.

“Sekarang dia tinggal di rumahku, apa menurutmu itu hal yang bagus?”

Kyung Soo hanya mengangguk tapi sama sekali tidak mematahkan semangatku untuk bercerita “Sekarang dia sudah memiliki pacar sehingga aku selalu merasa memiliki jarak dengannya.”

“Hmm.” Kyung Soo menggumam lalu tertawa, matanya masih memandang layar ponsel, ia sama sekali tidak mendengar ceritaku.

“Do Kyung Soo!” Aku merebut ponsel dari tangannya. Kyungsoo langsung mengerutkan keningnya ia menghela napas.

“Aku mendengar Chan Yeol, kau mengatakan perempuan yang kau sukai itu—“

“Aku tidak menyukai So Hee!”

Kyung Soo diam dan menatapku, tanpa membiarkanku melanjutkan kalimat ia kembali berkata “Ya kau menyukai So Hee, dan masalahnya sekarang So Hee sudah punya pacar. Kau bilang So Hee tinggal di rumahmu, itu artinya kesempatanmu lebih dekatnya lebih besar, tapi sekali lagi kau bilang dia punya pacar dan pertanyaanku sekarang adalah, kau juga punya pacar Park Chan Yeol!”

Kalimat Kyungsoo membuatku diam, detik itu juga ia manfaatkan untuk merebut ponselnya dari tanganku.

Tiba-tiba aku tertawa, sekarang aku mengerti bagaimana So Hee bisa menjani hubungan dengan pria yang menyukai dirinya itu secara sepihak. Aku dan So Hee sama.

____

“Konsermu bulan depan, apa kau bisa memesan tiket VIP untukku?”

Rang Bi berujar semangat begitu aku duduk di depannya. Aku mengendikkan bahuku dan tersenyum “Aku bisa tapi belum tapi belum tentu aku mau.”

Rang Bi membulatkan matanya, kaget mendengar jawabanku “Ya Chan Yeol, aku serius.”

“Aku tahu kau serius, oleh karena itu kali ini aku mencoba serius.”

Tangannya meraih jus leci yang dipesannya, ia segera mengaduk-aduk isi gelasnya berusaha mencari kesibukan selain menjawab pernyataanku.

“Kau tahu selama ini aku tidak serius menjalani hubungan ini, aku juga tahu kau tidak serius menyukaiku, masalahnya selama ini aku terlalu malas memperbaiki semuanya sehingga aku memilih berpura-pura tidak menyadari semuanya Rang Bi.”

Rang Bi menyeruput jusnya, matanya terus melirik ke luar jendela dan sekeliling cafe membuatku mendengus, di saat seperti ini saja ia masih memikirkan hal tidak penting itu. “Tidak ada temanmu di sini, tidak akan ada yang mengetahui kau baru diputuskan, tenang saja aku sudah mengeceknya tadi.”

“A-apa maksudmu?”

Aku berdiri dan menjulurkan tanganku untuk menyalaminya “Selamat kau menang, kau sudah jadian bersama Park Chan Yeol kan? Bilang pada teman-temanmu kamu yang memutuskanku karena aku selingkuh, dengan begitu mereka akan mengasihanimu tidak mentertawaimu.”

Rang Bi menatapku bingung, aku langsung meraih tangannya dan menyalaminya paksa “Aku sudah dengar, kekasih Kyung Soo salah satu dari geng yang taruhan denganmu itu, ia menceritakan semuanya padaku. Dan aku tidak marah padamu karena dengan begini aku mengerti satu hal.”

Tidak ada jawaban apa-apa, ia hanya ia menundukkan kepalanya membuatku tersenyum maklum, berpura-pura tidak sadar berada dalam permainannya adalah hal terbodoh yang kulakukan, tapi hal itu membuatku sadar So Hee masih memberiku sebuah kesempatan.

So Hee

Selesai membersihkan seluruh kamar tamu yang sudah berganti menjadi kamar Chan Yeol kamu menghela napas lega. Alasanmu memakai kamar Chan Yeol karena kamar tamu keluarga mereka tidak pernah terurus, itu membuatmu merasa sungkan sehingga diam-diam kamu membersihkan kamar itu untuk mengurangi bebanmu merebut kamar Chan Yeol.

Tinggal bersama keluarga pamanmu yang memiliki watak perfeksionis membuatmu ikutan mengikuti gaya hidup mereka yang tanpa sadar terus menuntut kebersihan dan kerapihan di mana-mana. Lantai kayu yang berdebu sudah berkilau dengan wangi lemon wangi kesukaan Chan Yeol. Kamu membuka lebar-lebar jendela kamar membiarkan angin sepoi masuk.

Di saat seperti ini hal yang kamu butuhkan adalah tidur siang singkat, kamu mengambil boneka buaya besar yang tampaknya lebih nyaman daripada bantal. Dengan lantai yang terasa dingin sehabis dipel kamu membaringkan badanmu di atasnya. Kedua kakimu dinaikkan pada kasur yang tingginya hanya sekitar setengah meter. Matamu mulai memberat tapi mengamati dahan-dahan yang terus bergoyang dibalik jendela terlalu sayang untuk ditinggalkan.

Ponsel yang dari tadi tergeletak di lantai kamu raih, begitu ingin membuka kamera sebuah pesan baru masuk. Foto Lu Han terpampang bersama anjing kesayangannya. Laki-laki ini benar-benar membuatmu merasa geli dan jijik di saat yang bersamaan. Kamu menghela napas dan kembali meletakkan ponselmu di atas lantai. Sudah berminggu-minggu kamu menjadi bulanan seorang Lu Han. Laki-laki ini terlalu keras kepala, tidak peduli betapa kamu mengabaikan kehadiran dirinya. Sejak awal kamu tahu Lu Han hanya menjadikan dirimu bagian dari permainannya. Judul laki-laki terpopuler di angkatannya hanya akan menjadi omong kosong kalau ia tidak berhasil menaklukkan dirimu. Merasa terhina memang membuatmu sempat membenci pria ini, tapi bagaimanapun juga kehadiran Lu Han sangat membantumu di Beijing. Kalau bukan karena dirinya, kamu tidak akan bisa berkomunikasi karena dia adalah guru bahasa terbaik yang pernah kamu temukan, nilainya yang tinggi juga membuatmu banyak belajar darinya hingga kamu mendapatkan beasiswa summer course di Seoul. Kamu banyak berutang pada Luhan dan meskipun kamu tidak menyukainya, kamu pikir dengan berpura-pura menyukai dirinya itu akan membantu mengurangi utangmu. Tindakanmu memang jahat, tapi siapapun tahu kamu hanya satu dari beberapa perempuan yang sudah berada di genggaman Lu Han (setidaknya itu yang dia kira). Laki-laki ini memang bajingan dan di saat bersamaan menyenangkan juga, sehingga banyak wanita yang menyadari hal itu tetap memilih bertahan di sampingnya, dan salah satunya kamu.

Kamu tertawa geli, sejujurnya kamu terus berpikir bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri hubunganmu dengan Lu Han. Sebenarnya itu tidak terlalu susah, pertama, kamu tidak pernah benar-benar menyukai dirinya, kedua, Luhan memiliki banyak cadangan sehingga itu tidak akan terlalu mengganggu dirinya, pertanyaannya adalah, apakah kamu dan Luhan masih bisa menjadi teman? Kamu membutuhkan Luhan karena koneksinya itu akan membantumu dalam banyak hal di masa depan nanti.

Beragam skenario beputar di otakmu, yah sudahlah mungkin kamu bisa menceritakan persoalan ini pada Yu Ra-unnie nanti.

Chan Yeol

Partitur yang sudah berkali-kali Kyung Soo ingatkan jangan sampai lecek pada akhirnya berakhir menjadi kipas selama perjalanan pulangku.

Tidak sabar segera mandi aku segera membuka pintu rumah. Kepalaku menengok kanan-kiri tidak terbiasa mendapati keadaan rumah yang sunyi. Apakah Ibu pergi hari ini? Kemana Yu Ra-noona katanya dia sedang libur? Bukankah So Hee memulai kelasnya besok lusa?

Aku hanya mengendikkan bahu dan berjalan sambil bersenandung menuju kulkas. Setelah mengambil sprite dingin dan menempelkannya pada pipiku aku berjalan menuju kamar tamu yang selama beberapa bulan kedepan menjadi kamarku. Sejujurnya aku kurang suka kamar ini, aromanya dupanya masih kuat, ibuku selalu menyemprotkan parfum nenekku di ruangan ini.

Sambil menguap aku mendorong pintu kamar yang langsung berderit. Mulutku tidak kembali tertutup, kaget dengan pemandangan yang menyambutku begitu membuka pintu.

So Hee tertidur di atas lantai, kepalanya beralaskan boneka buaya yang dulu menjadi guling favoritku. Aku berjalan mendekatinya dengan pelan berusaha tidak membuat perempuan ini terbangun. Angin sepoi  yang terus berdesir masuk melalui jendela yang terbuka lebar tepat dihadapannya membuatku mengerti kenapa So Hee terlihat begitu terlelap dalam tidurnya. Mukaku memerah saat menyadari kaosnya sedikit terangkat memperlihatkan perutnya, dengan pelan aku duduk di sampingnya menurunkan pelan-pelan sedikit kaosnya.

Sebagai seorang pria melihat perempuan yang kau sukai tertidur seperti ini tanpa perlindungan tentu akan membuat jantungmu berdebar lebih kencang kan? Kaki panjang So Hee merebut perhatianku, So Hee yang seperti ini makin membuatku memandangnya sebagai seorang wanita bukan lagi anak perempuan manis seperti aku menganggapnya dulu. Aku mengambil selimut tipis dan menutupi sebagian tubuhnya, kelak begitu So Hee menjadi milikku aku akan melarangnya memakai celana sependek ini selain di depanku.

Mataku menyusuri wajahnya, mulutnya sedikit menganga aura kekanakannya terlihat begitu ia menggumam tidak jelas lalu membalik badannya, rambutnya yang sudah memanjang menutupi mukanya. Tanganku langsung menyapu pelan rambut yang menghalangi wajahnya. Tanpa pikir panjang aku ikut menjatuhkan diriku di samping So Hee, melihat So Hee tidur jauh lebih menarik daripada menemani ibuku menonton serial drama. Wajah kami hanya berjarak sejengkal, aku merasakan hembusan napasnya, perutku geli dan sekuat mungkin aku menahan keinginanku untuk mencium bibirnya.

Sekali lagi tanganku menyentuh pipinya, mengelusnya lembut. Tanpa sadar tanganku terus menyusuri ke bawah, merasakan rambutnya yang begitu lembut membuat tanda tanya untukku mengingat So Hee tipe wanita yang jarang mengurusi rambutnya di salon, hingga akhirnya tanganku berhenti di pinggangnya aku mendorongnya pelan sampai kepalanya berada di bawah daguku, tubuh kami bersentuhan, So Hee tidak boleh bangun aku tidak ingin merusak momen ini.

So Hee

Begitu kamu bangun, yang kamu tahu kamu sudah berada di pelukan Chan Yeol. Matamu terus berkedip memastikan semua hal ini bukan mimpi. Kamu menarik tubuhmu pelan berusaha kembali membuat jarak dengan Chan Yeol tapi sebuah tangan yang terus berada di pinggangmu kembali mendorong pelan “Ayolah sebentar lagi.” Chan Yeol berkata, suaranya masih parau apa dia hanya mengigau?

“Hei Chan Yeol?”

“Apakah kita bisa lebih lama lagi begini?”

Baiklah, Chan Yeol benar-benar sadar.

Kamu mendorong tubuhmu menjauh membuat Chan Yeol mengerang pelan, entah apa yang membuatnya berani melakukan hal ini padamu. Ia sudah melepaskan tangannya tapi kamu masih merasakan bahu kalian bersentuhan. Kamu meliriknya sekilas, ia memejamkan matanya dengan mulutnya yang tersenyum.

“Tiduran seperti ini benar-benar menyenangkan. Sepertinya ini akan menjadi kamar tetapku.” Ucap Chan Yeol.

Kamu mendengus, sekali lagi kamu membalik badanmu menghadapnya, mengamati profil Chan Yeol dari samping. Chan Yeol tertawa dan ikut membalik badannya menghadap padamu. Ia membuka matanya dan tersenyum padamu.

Sebuah perasaan hangat yang kamu kenali dulu perlahan-lahan terasa kembali, menggelitik perutmu. “Kau bau Chan Yeol.”

Chan Yeol tertawa, renyah dan terdengar nyaman di telingamu “Kalau aku sudah mandi dan wangi apa kamu mau memelukku?”

Kamu memutar bola mata dan memukul dadanya pelan “Sejak kapan pelukan menjadi isi kepalamu hah?”

Chan Yeol menghela napas “Entahlah, yang jelas berdekatan dengan So Hee membuatku merasa nyaman.”

Hanya bisa tertawa menanggapi kalimat itu kamu meraih ponselmu dan membuka foto Lu Han tadi. “Kenalkan, namanya Lu Han.”

Chan Yeol mengerutkan keningnya, ia terlihat jengkel dan entah kenapa justru makin membuatnya memikat. “Sebelum memelukku kau harus mendapat izin darinya.”

Chan Yeol langsung bangun dari tidurnya, ia ingin beranjak tapi kamu segera menahan pergelangan tangannya “Dengarkan dulu, ada sesuatu yang harus kuceritakan padamu.”

Kalimatmu membuatnya menghela napas, meskipun terlihat sungkan ia kembali berbaring di sebelahmu. “Laki-laki ini yang banyak membantuku di Beijing, dia seorang cassanova yang mendapatkan hati seluruh wanita, dan aku berpura-pura menjadi salah satu di antara wanita-wanita itu.”

Chan Yeol hanya mengeluarkan sebuah gumaman sebagai responnya. Kamu menghembuskan napas dan kembali membalik badanmu memandang jendela. “Aku tidak peduli kau menganggapku wanita murahan, yang jelas selama aku merasa tidak termakan dengan seluruh kebaikannya aku tidak termasuk wanita seperti itu. Lu Han membuat mimpiku menjadi jurnalis menjadi lebih jelas, pengetahuannya soal dunia jurnalis banyak, ayahnya seorang editor majalah punya nama sehingga aku banyak belajar darinya.”

Dari ekor matamu kamu menyadari Chan Yeol kembali memandangmu tapi kamu memilih tetap memandang jendela, kali ini bagian yang tersulit; membahas orang tuamu.

“Orang tuaku memiliki berbagai resolusi mustahil, mereka ingin pergi ke antartika, salah satunya bahkan lebih absurd meskipun tidak tertulis tapi mereka sering mengatakannya, mereka bilang mereka harus ke bulan.”

Chan Yeol tertawa kecil dan kamu segera menengok padanya “Dan aku memutuskan membuktikkan pada diriku sendiri kalau resolusi mereka tidak mustahil.”

Begitu kamu ingin berkata, kamu merasakan tangan Chan Yeol sudah menggenggam lembut tanganmu, kamu tersenyum dan menguatkan genggamannya “Otakku tidak bisa dituntut menjadi seorang peneliti yang  bisa membuat lab di antartika, lebih-lebih menjadi astronot. “

“Aku tahu.” Chan Yeol menjawab singkat, persis seperti yang kamu butuhkan.

Kamu tersenyum dan melanjutkan ceritamu “Dan orang tuaku menurunkan kesukaan mereka soal dunia tulis-menulis padaku, hal itu membuatku berpikir menjadi seorang jurnalis akan membuatku menjadi orang yang dapat mengelilingi dunia tanpa perlu memiliki otak sejenius einstein.”

Chan Yeol mengangguk, ia ingin kamu kembali melanjutkan ceritamu tanpa perlu ia menyela “Aku bisa membuktikkan pada mereka kalau resolusi mereka pasti akan terselesaikan, bagaimanapun juga aku ini darah daging mereka kan? Meskipun mataku yang menyaksikan secara tidak langsung mereka juga ikut merasakannya kan?”

Chan Yeol merapatkan bibirnya dan mengangguk yakin, ia menunjukkan satu jempolnya padamu. Kamu menguatkan genggaman tanganmu padanya. “Aku pergi meninggalkan kau dan Baek Hyun begitu saja karena aku tidak ingin melihat orang yang selalu mengingatkanku pada orang tuaku, itu benar-benar bodoh dan aku tahu saat itu aku benar-benar bodoh. Tapi bagaimanapun juga melihat kalian berdua mengingatku soal bagian menyedihkan dalam hidupku.”

Chan Yeol ingin berkata dan kamu kembali cepat-cepat berkata tidak ingin Chan Yeol menyelamu “Dan itu benar-benar tindakan teregois, aku tahu Chan Yeol, kau dan Baek Hyun bisa memarahiku aku tidak keberatan.”

“Itu urusan nanti, lalu sekarang kenapa kau kembali lagi?”

“Karena aku tidak ingin menjadi orang bodoh lagi.”

“Jelaskan padaku.” Chan Yeol masih menuntut sebuah penjelasan, dan kamu lega dia masih punya keinginan untuk mendengar ceritamu.

“Ketika Min Seok bertemu denganku, aku rasa aku benar-benar tertangkap basah. Kim Min Seok menangkap diriku yang berlari, aku membela diriku mengatakan selama ini aku hanya menyiapkan diri untuk sesuatu yang besar, aku bukan kabur. “ Kamu menarik napas dan menggigit bibirmu “Tapi dia bilang tidak ada alasan untukku menghilang begitu saja, dia bilang alasan itu menjadi sia-sia karena yang kulakukan hanya menghindar dari perasaan menyesal, tujuanku menjadi tidak jelas kalau aku terus-terusan memaksakan diriku merasa mampu menjalankan semuanya sendirian, dia bilang aku sombong, dia bilang kenapa aku harus membuang teman-temanku, dia bilang aku tidak berpikir panjang, dia bilang—“

“Terlalu banyak pengulangan So Hee, oke aku mengerti.”

Kamu membalik badanmu dan kembali menatap mata Chan Yeol yang dari tadi terus memandangmu “Intinya aku berpikir tidak ada alasan untukku meninggalkan kalian.”

Chan Yeol langsung beranjak, sambil duduk ia meregangkan tangannya lalu menarik dan membuang napasnya. Kamu ikut beranjak dan memiringkan kepalamu “Kau harus memberiku sebuah komentar Chan—“

Mulutmu tertutup dengan sebuah kecupan singkat dari Chan Yeol. Kedua matanya tersenyum, menyadari mukamu yang seketika memerah ia melakukannya sekali lagi, bibirnya terasa hangat meskipun hanya seperkian detik mendarat di bibirmu. Saat itu juga kamu yakin Chan Yeol kembali membawa perasaan manis yang menghilang itu. Tidak peduli betapa gelinya perutmu yang kamu tahu sekarang, kamu menyukai perasaan semacam ini, kali ini giliranmu yang membalasnya. Beberapa detik setelah Chan Yeol mengalihkan wajahnya darimu kamu memberinya kejutan, tapi ternyata sebuah ciuman yang harusnya menjadi singkat berjalan diluar rencana ketika Chan Yeol menahan lehermu, memaksamu tetap berada di sana. Semua terbalik justru kembali Chan Yeol yang memberimu kejutan.

Baek Hyun

Cuaca musim panas membuatku terus berada di kolam renang tanpa menjalankan fungsi sebenarnya dari kolam karena sejujurnya aku hanya duduk di sana, mencari kesejukan tanpa harus membuat kulitku kering (karena ruangan AC hanya merusak kulitku.)

“Baek Hyun!” Web camku dan So Hee sudah terpasang. Perempuan itu terus melambaikan tangannya menghalangi wajahnya yang justru paling ingin kulihat.

Aigo Baek Hyun! Kenapa kau bertelanjang dada seperi itu!” Di sampingnya Chan Yeol muncul sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku tertawa geli melihatnya menjadi seorang pria yang begitu protektif dan posesif, tangannya mendekat seperti ingin mematikan ponsel So Hee. “Kita lanjutkan kalau kau sudah memakai baju oke?”

“Yeol! Jang—“

Dengan itu pertemuan yang harusnya menjadi dramatis mengingat ini sudah setahun sejak aku melihat So Hee berujung menjadi begitu singkat, dengan alasan aku tidak memakai baju. Benar-benar konyol.

Aku tertawa dan menenggelamkan diriku pada kolam, sekarang semua cerita ini sudah selesai, berakhir bahagia dan sedikit menyedihkan karena pada akhirnya porsiku tidak sebanyak yang kuharapkan, bukankah akan lebih menarik kalau So Hee sempat menyukaiku?

Ya tapi tetap, ending terbaik itu relatif, semua orang memiki sudut pandang mereka sendiri, dan beginilah penutup terbaik untuk segala konflik So Hee dan Chan Yeol. Sekarang mari kita berharap Byun Baek Hyun akan mendapat jatahnya untuk menjadi pemeran utama.

Epilogue

“Kau ingat surat cinta yang berada di rumah anjingmu?”

“Ah iyaa waktu itu aku heran gadis mana yang meletakkan surat di dalam rumah anjing padahal jelas di samping rumah itu ada kotak surat”

“Itu aku.”

“…”

“Kau sudah menolakku dulu, secara tidak langsung, ketika kau mentertawakannya di depanku dan Baek Hyun.”

“So—“

“Sudahlah, aku tahu isinya memang menggelikan, aku memujimu mati-matian kan? Itu tulisan terburukku.”

“Aku masih menyimpannya.”

“Jangan bercanda.”

“Aku mentertawakannya karena saat itu aku tidak ingin kamu tahu aku mulai menyukai perempuan.”

“Haha lucu sekali—“

“Sejak pertama kali ini Park Chan Yeol muncul dalam hidupku aku merasa inilah pangeranku ya—“

“Yeollie hentikan.”

_________________________________

author’s note:

SELESE. AKHIRNYA SELESE. 

Pengerjaan cerita ini agak lama (banget), karena topik yg author pake rada klise, tapi akhirnya mendapat pencerahan dan asdfhgjfdjaldajlj voila! Terus karena ini pertama kalinya buat adegan kiss (lips) rada2 awkward gitu ngetiknya huhu author masih inosen.

Terus capek banget ganti font setiap ganti pov oleh karena itu readers sekaliann…..komen juseyo :3 

oia, buat yg baca pastel karena minggu2 terakhir aku menghilang bakal ada double update YEHET

14 thoughts on “Mutual Feelings – Part II [Final/Epilogue]

  1. Bagus thorr, tapiiiiii…. Karena updatenya kelamaan jadi gregetnya kurang berasaa. Gimana jelasinnya ya.-.? Jadi.. Kan yang pertama udah greget bgt tuh, trus skrg udah lupa gregetnya jadi ya gitu dah pokoknya._. Semoga author ngerti maksudku😀 Tapi pokoknya pikrachu author favorit kuu🙂 detour sama oh my prince (bener ini bukan ya judulnya.-. Pokoknya yg sehun itu) jangan lupa di update yaa. Semangaaattt. Maaf kepanjangan._.v

    • yaah sayang banget:\ tp ngerti sih kalau baca ff yg udah lama bgt aku juga jadi suka lupa gitu hah
      yaampun oh my prince ._. udah lama bgt, karena suatu hal ff itu hiatus..
      Ga kepanjangan kok❤

  2. gege!!!hahaha ya ampun…aku g nyangka gege bakal bikin kiss scene….pas baca aku lgsg ngebayangin mukanya gege pas bikin scene itu…lol
    cast disni bagus2 semua ya!(y) dan untuk minseok-sohee aku ngerasa lg liat si kembar gitu…

  3. Uohh.. ramen datangg,
    chap ini lumayan lah, lumayan bikin gregeet, ditengah perjalanan kan kirain udahan eh malah ada konflik2 lagi..tp gpp sih jadi gak gitu2 aja story linenyah..
    Untung happy end, jd gak galau xD

    hmm perasaan aku tuh ya sohee rada mirip sama lee ho jung yg di mv k.will sama yeollie cuma sohee lebih chubby, jadi sepanjang fict ini terus kebayang dia argh..
    daann di fict ini ada baek teguh, yang superr bijak haha

    oiya sebenernya yah ada banyak pilihan nama selain ramen panas, ada sate ayam sama kentang ajaib dll. tapi kebiasaan jadi silent reader pake nama ramen biar yang baca reviewnya tuh semangatnya beruap-uap hehe
    btw biasnya pikrachu-san siapa sih, bacon atau kyungsoo ?

    salam supe— eh salam yehet.
    *kipwraythengh

    • lols langsung ngiler, tp emang sih waktu baca nama ‘ramen panas’ langsung menggebu2 gerah kepedesan😄
      KYUNGSOO DONG B)

  4. ulala~ kiss scene-nya🙂 hahah walopun pertama kali aku baca kiss scene karya author itu di detour 14🙂 endingnya kece lah🙂 ditambah foto Baekhyun yang bikin aku selalu gimana gitu karena eksperesi bahagianya Baekhyun kadang kelewat nyebelin. ngomong-ngomong Baekhyun, detour 15nya ditunggu, Gasabar baca gimana reaksi Chaeri di next chapternya🙂 keep writing thor

    • hahh? padahal aku berusaha bikin akhir ini clear se clear mungkin tapiii….pikrachu butuh pencerahan kalau buat sequel ;D

  5. Pikrachu kamu kok di panggil gege? Emg kamu cowo? *butuh penjelasan*
    Aku sukaaaaaaa ini,, ceritanya gak keduga banget dan akhirnya.. Aaahh akhirnyaaaaaa kisseunya ituuuu~
    Pokoknya makasih thor, ini menghibur bangettttttt🙂

  6. Woahhh..
    Gak tahu deh mau ngomong apa
    Pas awal-awal baca dari part 1, aku kira kisahnya bakalan kayak ff biasanya, sahabat saling suka terus bertengkar, baikan kemudian bahagia. Gak nyangka bakalan complicated begini. Ahh suka banget sama moment fluff-nya yang di kamar tamu =^^= HAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s