Pastel #016

pastel poster sehun’s edition

#016

Sina membiarkan Sehun membawanya berada sampai ke tengah ruangan, pikirannya masih melayang membayangkan imajinasi saat semua orang sudah berubah, saat Miyoung sudah meninggalkannya dan teman-temannya sudah memasuki dunia yang mereka pilih, Sina masih berada tempat yang sama bingung apa pilihan yang harus diambilnya. Ekor matanya menangkap Sehun yang masih sibuk mengotak-ngatik ipodnya.

“Ayahku selalu melakukan ini ketika ibuku mulai emosi dan marah-marah.” Sehun berkata sambil memasangkan satu earphonenya pada telinga Sina membuat Sina mendengar soundtrack yang ia pilih untuk slow dancing mereka.

Sina mendengus “Aku tidak emosi apalagi marah-marah.”

“Hmm.” Sehun hanya menggumam, sekarang bukan saatnya menentang pendapat Sina. Perlahan satu tangannya mendekap pinggang Sina, membawanya lebih dekat tapi tetap menjaga ruang antara keduanya. Sina menyentuh jemari Sehun yang sudah terjulur membuat Sehun balik menggenggam jemari Sina tidak terlalu kuat tapi tetap mengikat.

Sementara Sina menaikkan satu tangannya meletakkannya diatas bahu Sehun. Sehun memulai pembicaraannya.

 “Jadi darimana kau mulai bercerita?” Ujar Sehun sambil membenarkan posisi tangannya di pinggang Sina, perempuan itu pun akhirnya mulai mengangkat kepalanya, wajahnya dan Sehun berjarak dekat tapi tetap memberinya privasi, Sina merasa nyaman dan aman. “Tahun depan, kita sudah harus memilih kuliah, kau sudah tahu mau ambil yang mana?”

Sehun terdiam, memiringkan kepalanya memikirkan baik-baik pertanyaan Sina. “Aku sudah tahu di mana akan kuliah tapi belum tahu jurusan apa yang akan kuambil.”

Sina mengangguk-angguk, ia menghela napas, sempat terlintas dipikirannya untuk memberitahu Miyoung akan belajar di luar negeri, tapi bagaimanapun juga ia tidak berhak memberitahu selain Miyoung itu sendiri. “Hidupku dikelilingi orang-orang yang berambisi, dan yang membuat semuanya menyebalkan hanya aku yang bertahan tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

“Tidak tahu? Sedikitpun tidak tahu?”

“Tidak tahu.” Sina menjawab singkat dan menatap Sehun datar, jengkel dengan reaksinya.

Sehun membalasnya dengan tersenyum “Bukan tidak tahu, tapi belum tahu.”

“Tidak ada bedanya dari awal aku selalu berpikir seperti itu, tapi sampai detik ini tidak ada yang berubah.”

Kalimat Sina terdengar begitu pesimis, sulit mengubah pikiran orang keras kepala. Sehun diam dan menatap Sina yang sudah menundukkan kepalanya “Hei kenapa kau tidak menatapku? Ketika waltz si pria dan wanita harus saling bertatapan.”

Sina memutar bola matanya, ia pun mengangkat kepalanya yang sejak tadi menatap ke bawah melihat kaki mereka yang terus bergerak beriringan. “Aku capek, aku bosan, apa yang harus kulakukan? Belajarpun lama-lama tidak penting lagi, tidak lulus juga tidak apa-apa lagipula aku tidak tahu harus melakukan apa.”

Sehun yakin kalimat yang Sina keluarkan tidak sepenuhnya serius, perempuan ini hanya benar-benar terjebak dengan pikirannya sendiri. Tapi mendengar kalimat itu keluar dari mulut seorang Ahn Sina, entah kenapa rasanya tidak menyenangkan. “Bagaimana kalau menjadi karyawan kantoran dengan gaji 800.000 won perbulan? Tidak terdengar buruk kan?”

Sina mengernyitkan keningnya “Membosankan.”

Reaksi Sina membuat Sehun terkekeh “Untunglah, kau masih bisa membedakan mana yang membosankan mana yang tidak, setidaknya kau tahu kerjaan seperti itu tidak cocok untukmu.”

Candaan Sehun memang tidak lucu sama sekali tapi entah kenapa berhasil membuat beban Sina sedikit terangkat. “Apa pekerjaan yang cocok untukku?”

“Tidak tahu, yang jelas rumit dan berharga untuk dilakukan, menurut kebanyakan orang itu sulit tapi kamu tidak ambil pusing, hal-hal semacam itu.” Sina masih diam, seperti masih menunggu kelanjutan kalimat Sehun. Sehun merapatkan bibirnya, berusaha menahan senyum yang ingin keluar, entah kenapa menjadi tempat bercerita Sina membuatnya merasa dibutuhkan dan ia suka perasaan itu.

“Setiap orang ada waktunya, yang perlu kau lakukan hanya percaya kalau kau memang berbeda dengan orang lain. Tidak perlu ambil pusing soal urusan orang lain, yang penting lakukan yang terbaik untuk sekarang.”

Pendapat Sehun tidak berkesan mengguruinya tapi tetap menuntun pikiran Sina. Sina diam bingung apa yang harus dilakukannya, diam dan memikirkan baik-baik atau memberi Sehun sebuah komentar?

Sehun memandang pantulan dirinya dan Sina, lama-lama memandang wajah perempuan ini membuatnya merasakan sesuatu yang janggal. “Hei Sina, kau tahu seperti apa ibuku waktu masih seumur kita?”

Sina tidak perlu menjawab karena ia tahu benar Sehun tahu kalau tidak mungkin Sina mengetahui masa muda ibunya. “Dulu dia mati-matian belajar hukum belajar menjadi jaksa karena keinginan orang tuanya, yah dia berhasil, tapi seperti yang dia duga, menjadi jaksa bukan panggilan hidupnya.”

“Lalu?”

“Dia berhenti dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga yang melakukan banyak hal, setiap waktu luangnya digunakan untuk hal yang tidak terduga. Aku bahkan tidak bisa menyebutnya satu persatu mengingat itu sangat banyak.” Sehun tersenyum, membayangkan kelakuan ibunya memang selalu membuatnya merasa konyol. Menyadari Sina yang terus memandangnya Sehun kembali menatap Sina “Jadi maksudku, ibuku bahkan menemukan jati dirinya setelah ia menikah dan memiliki anak, waktu setiap orang berbeda Sina.”

Sina tidak tersenyum tapi hatinya merasa hangat. Sekalipun Sina tidak memberinya komentar yang Sehun tahu perempuan ini mengerti apa yang ingin disampaikannya.

Sina merasa ia tidak perlu mengatakan sesuatu lagi, sebagian besar pikiran yang mengganggunya terangkat begitu saja, matanya yang tidak lagi menatap Sehun sekarang sibuk mengikuti langkah laki-laki itu yang bergerak bebas sesuka hatinya mengikuti ritmik lagu, sekali Sina menginjak kaki Sehun tapi laki-laki ini sama sekali tidak memberi reaksi.

“Ngomong-ngomong Sehun, aku merasa tubuhmu jauh meninggi sekarang.” Sina berkata saat ia kembali mengangkat kepalanya, baru menyadari puncak kepalanya hanya mencapai pundak Sehun padahal dulu masih bisa menyamai dagunya.

Sehun tertawa “Aku tidur delapan jam sehari dan setiap malam minum susu, ahh pubertas! Aku pubertas Sina.”

Sina ingin tertawa, terlalu konyol melihat laki-laki yang begitu bangga dengan pubertasnya. Tapi ia memutuskan merapatkan bibirnya dan mengangguk-ngangguk menanggapi jawaban Sehun.

Baru saja ingin bertanya lagu apa yang Sehun setel sekarang ia merasakan jemari Sehun sudah melepas pegangannnya. Sehun meregangkan tangannya dan menarik napas. “Bagaimana kalau kita cari makan? Aku belum sarapan..”

Sina mendengus tapi memilih menaikkan bahunya dan berjalan mengambil ranselnya diikuti Sehun.

Sambil berjalan santai keluar dari gerbang sekolah Sehun yang menegak pocarinya melirik pada Sina yang sibuk menjepit poninya. Ada hal yang ingin ia katakan sejak mereka bertemu tapi tidak pernah sempat. “Potongan rambut barumu, aku suka.” Sehun berkata singkat, ingin tersenyum tapi melihat es krim keliling yang lewat beberapa meter dari mereka ia langsung lari meninggalkan Sina yang baru saja ingin mengatakan terima kasih.

Tidak peduli orang dibelakangnya memandang aneh Tao tetap berjingkat-jingkat menari kesenangan begitu mengecek rekeningnya, orang tuanya baru saja mengirimnya uang untuk biaya hidupnya bulan ini, ditambah gaji dari tempat kerja sambilan Tao, laki-laki ini makin girang karena akhirnya benda yang idamkan sejak beberapa minggu lalu bisa terbeli juga.

Keluar dari ruang mesin atm dan dipandangi orang-orang yang mengantri di belakangnya dengan tatapan tanda tanya Tao hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman manisnya, dan berlari menuju halte bus. Begitu mendapat kursi ia segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Sina. Tempat tujuannya berada di dekat sekolah perempuan ini, siapa tahu nanti mereka bisa makan siang bersama.

Seukri merasa menjadi perempuan paling beruntung hari itu. Panggilan dari bosnya untuk datang kerja di hari liburnya awalnya merupakan kesengsaraan bagi Seukri, ia sudah menjadwal minggu pertama libur musim panasnya  akan dihabiskan untuk malas-malasan seharian di rumah, dan tiba-tiba tempat kerjanya memanggil Seukri memintanya datang. Tapi siapa yang menyangka pagi itu Seukri langsung mendapat hadiah dengan kedatangan dua pembeli tampan. Salah satu dari mereka tampak lebih kekanakan yang satunya lagi lebih dewasa, tinggi badan keduanya sama-sama tinggi persis seperti yang Seukri idamkan sebagai pria idealnya, laki-laki yang memakai topi dan terus tertawa itu tampaknya tertarik untuk membeli hamster yang tidak berhenti berlari pada roda putarnya sedangkan satunya lagi terlihat malas-malasan tidak berniat membeli apapun.

Seukri menghela napas, menikmati pemandangan di depannya yang membuatnya tidak menyesal melewatkan liputan konser TVXQ, karena pada akhirnya ia bisa melihat dua orang yang tampangnya selevel dengan idolnya itu secara lebih dekat.

Kejutan Seukri belum selesai, baru saja ingin memberanikan diri untuk memberi makan si hamster tiba-tiba pintu tokonya kembali terbuka. Mata sipit Seukri segera terbuka lebar menyadari pembelinya kali ini seorang pangeran yang pernah dibantunya dulu. Meskipun hanya beberapa menit mereka pernah bertemu Seukri yang memiliki keahlian mengingat wajah orang segera yakin laki-laki yang baru masuk tadi memang pernah bertemu dengannya.

“O-omo—“ Seukri panik, ingin berteriak tapi tahu kalau ia masih bekerja. Sebagai perempuan yang selalu percaya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, Seukri makin yakin laki-laki yang baru masuk ini bisa saja menjadi orang yang ditakdirkan untuknya.

“Tao!”

“Ya ampun mereka saling kenal!” Seukri terkejut merasa kejadian ini terlalu mencengangkan untuk dianggap kebetulan. “Dan namanya Tao.”  Seukri berkata dalam hati, menyimpan nama itu baik-baik dalam otaknya.

“Chanyeol-hyung!” Si laki-laki bernama Tao ikut kegirangan melihat orang yang menyahutinya. Mereka berdua langsung melakukan semacam tos, agak similiar dengan apa yang dilakukan Jongin dan Sehun. Seukri berusaha menahan senyumnya yang terus melebar, ia tidak mau dianggap sebagai penjaga toko freak yang terus menyeringai tanpa alasan yang jelas.

Cola dan sushi merupakan kombinasi yang aneh dan Sina mulai meragukan pendapatnya saat melihat Sehun terlihat begitu berselera saat menegak colanya setiap ia mengunyah satu sushi. Sina sudah terbiasa melihat kombinasi yang aneh, Sena temannya selalu memakan semangkok susu yang dicampurkan pepaya sebagai makan siangnya, Miyoung bahkan memaksa Sina memakan nasi yang dicampur susu yang selalu Miyoung bilang itu makanan orang Perancis, masalahnya karena Sena dan Miyoung memang aneh Sina tidak terlalu terkejut melihat selera makan mereka juga aneh, dan untuk seorang Sehun yang terlihat seperti orang normal bukankah selera makannya harusnya juga normal?

“Lapar—ya?” Sina bertanya hati-hati takut Sehun tersedak ketika menjawabnya. Sehun menatap Sina dan segera mengangguk-ngangguk, yang entah kenapa membuat Sina menelan ludahnya, laki-laki ini merubah cara pandang Sina padanya. Beberapa jam lalu saat mereka menari bersama Sehun menjelma menjadi laki-laki dewasa yang dapat menenangkan dirinya, dan tadi di minimarket ia berubah menjadi bocah yang terperangkap di tubuh laki-laki dewasa, yang langsung membeli berbagai es krim batangan yang memiliki poin di setiap stiknya, Sehun mengatakan mengumpulkan poin menjadi kesenangannya akhir-akhir ini.

Sambil memperhatikan Sehun yang memakan dengan lahapnya Sina teringat sesuatu saat Sehun mengomentari anjing yang lewat di depan mereka.

“Ah aku lupa! Aku harus membeli makanan ikan!”

Sehun kembali meneguk colanya dan menelan sushinya sebelum menjawab “Kalau begitu sambil menungguku kau bisa membeli itu di sana.” Sehun menunjuk toko hewan yang berjarak 10 meter dari meja makan mereka.

Sina segera mengangguk dan mengambil ranselnya “Kalau begitu aku sekalian menunggumu di sana.” Sina pun bangkit dan berlari menuju toko hewan yang kalau tidak salah Seukri pernah mengatakan ia bekerja di sana.

Selama Chanyeol bercerita mata Tao sulit berhenti melirik pada laki-laki yang datang bersama Chanyeol. Apa laki-laki yang Chanyeol perkenalkan namanya Kevin ini laki-laki yang sama dengan yang Song Qian kenalkan? Tapi yang Tao ingat namanya bukan Kevin melainkan Wu Yi Fan. Tao ingin bertanya hal itu tapi sampai detik ini Chanyeol terus berbicara tidak memberinya kesempatan bertanya.

“Ta-tao! Chanyeol oppa?”

Suara perempuan memanggilnya dan begitu ia menengok Ahn Sina sudah berada di depan pintu toko memandangnya, wajahnya memang datar tapi dari nada suaranya jelas ia kaget.

“Sina!” Refleks Tao berjalan menghampirinya, reunian singkatnya dengan Sina terganggu begitu Chanyeol ikut meneriakkan nama perempuan itu. “Sina! Sudah lama tidak bertemu!”

Tao memiringkan kepalanya dan menatap Chanyeol kebingungan, sama halnya dengan Chanyeol yang baru sadar Tao juga ikut memanggil Sina. Dan sebagai penutup tentu saja Sina melakukan hal yang sama. “Astaga aku bisa gila—Tao sebenarnya temanmu berapa?”

Tao segera merangkul bahu Chanyeol dan menyeringai “Chanyeol-hyung seniorku Sina.”

“Dan Sina adik temanku Tao.” Chanyeol menambahkan pernyataan untuk membuat semuanya menjadi lebih jelas. Ketiganya pun mengangguk berbarengan hingga akhirnya Chanyeol bertanya “Dan kamu siapanya Sina? Maksudku bagaimana bisa kalian saling kenal? Apa Miyoung temanmu juga?”

Baru Tao ingin menjawab ia tidak kenal Miyoung, Sina sudah membuka mulutnya lebih cepat “Tao keponakan pemilik toko langgananku.”

Chanyeol mengangguk-ngangguk, ia pun menjetikkan jarinya lalu menarik tangan Kevin atau Yifan atau siapapun itu karena kadang laki-laki ini juga lebih suka dipanggil Kris. “Oh ya Sina! Miyoung sudah memberitahumu kan kalau dia mendapat rekomendasi belajar di Wina?”

Sina hanya mengangguk dan Chanyeol langsung menepuk-nepuk bahu Yifan “Nah, ini temanku yang mendapat rekomendasi yang sama juga. Mereka akan berangkat bersama.”

Mata Sina mengerling melihat betapa jangkungnya laki-laki yang sekarang sedang menatapnya. “Namaku Wu Yifan, kau bisa memanggilku Kevin atau Kris.” Yifan menjulurkan tangannya yang langsung Sina jabat.

Tao tanpa sadar menginterupsi pengenalan itu sebelum Sina menyebutkan namanya “Jadi benar kau Yifan!?”

Yifan dan Sina menengokkan kepalanya pada Tao bersamaan, dua-duanya sama menatap Tao dengan aneh hingga akhirnya Tao tertawa kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal “Ah maaf-maaf lanjutkan pengenalan kalian.”

“Namaku Ahn Sina adiknyaa Miyoung.”  Ujar Sina yang hanya dibalas dengan anggukan kecil dari Yifan. Baru saja Sina ingin bertanya pada Chanyeol dan Tao apa yang ingin mereka beli tahu-tahu sahutan perempuan membuyarkan semuanya.

“Sinaa!!” Suara Seukri memanggilnya keras-keras, Sina memutar bola matanya begitu melihat Seukri menunjuk Sina dengan jarinya, mulutnya terbuka lebar dan satu tangannya masih memegang tisu dari toilet. Sekarang semuanya akan menjadi lebih panjang. Sina menghela napas dan menghampiri Seukri, sekarang ia harus membeberkan semuanya dari awal.

Sehun menutup sarapannya dengan menghabiskan bubble tea rasa taroo kesukaannya. Ia pun berjalan menuju toko hewan yang tadi ditunjuknya. Begitu mendorong pintu toko, yang disambutnya bukan penjaga toko yang mengatakan selamat datang atau suara-suara hewan yang berisik, justru temannya Chanyeol yang mengatakan selamat datang pada dirinya, Seukri yang Sehun ketahui bekerja di sini justru sedang mengobrol dibalik counter kasir bersama Sina.

“Kenapa kondisinya seperti ini?” Sehun bertanya pada Chanyeol yang sibuk memilih hamster mana yang akan dia beli.

Chanyeol tanpa menatap Sehun karena dia benar-benar intens memandang hamsternya hanya tertawa kecil lalu menjawabnya “Ada reunian singkat—oke aku beli yang ini!” Chanyeol langsung mengangguk semangat senang menemukan pilihannya. Melihat Sehun tiba-tiba ia menyadari sesuatu. “Oh iya Sehunnie, aku belum memperkenalkanmu pada—hei Kevin ayo sini!”

Sehun jelas kebingungan tapi ia tetap memasang wajah datarnya ketika tahu-tahu seorang pria tinggi sudah berada dihadapannya “Kenalkan Sehun, ini Kevin, temanku yang mendapat rekomendasi belajar yang sama dengan Miyoung.” Chanyeol berujar sambil menepuk-nepuk pundak Yifan.

Sehun memiringkan kepalanya, tidak mengerti apa yang Chanyeol maksud dengan rekomendasi belajar yang sama dengan Miyoung. Ia ingin bertanya tapi Chanyeol sudah mendahului dirinya dengan mengenalkan dirinya pada pemuda bernama Kevin. “Dan Kevin, kenalkan ini Oh Sehun, kekasih Ahn Miyoung.”

Mereka berdua pun berjabat tangan, setelah keduanya lepas Yifan kembali memperhatikan ular yang sempat menakutinya tapi entah kenapa membuat laki-laki ini semakin tertarik. Chanyeol yang ingin menghampiri counter  tertahan begitu Sehun memegang lengannya. “Hyung! Apa maksudmu dengan rekomendasi belajar? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Chanyeol menganga dan menutup mulutnya, sekarang gilirannya yang terkejut “Ja-jadi Miyoung belum memberitahumu?”

Dengan yakin Sehun langsung menganggukkan kepalanya.

Aigo!  Aku jadi merasa bersalah.” Ia menepuk jidatnya sendiri lalu menarik Sehun sampai ke sudut ruangan. “Jadi begini, kemarin kemarin Miyoung menemuimu di Jeju kan?”

Sehun hanya mengangguk menunggu Chanyeol menjelaskan lebih lanjut.

Chanyeol menghela napas, tiba-tiba merasa berat karena hal seperti ini lebih cocok diceritakan langsung dari Miyoung, tapi bagaimanapun juga sudah terjadi, Chanyeol harus menyelesaikannya “Ia ke Jeju sebenarnya karena diundang dosennya untuk menghadiri festival musik, lalu di sana ternyata Miyoung berhasil mendapatkan rekomendasi untuk belajar di luar negeri.”

Sehun mengedipkan kedua matanya bersamaan, otaknya segera bekerja cepat untuk memproses kabar itu “Jadi maksudmu Miyoung akan belajar di luar negeri bersama laki-laki bernama Kevin itu?”

Chanyeol mengangguk, daripada merasa simpati entah kenapa ia ingin menggoda dongsaengnya “Seperti yang kau lihat Sehun, Kevin benar-benar tampan kan? Jadi kurasa kau harus berhati-hati kalau Mi—“

“Hahaha.” Sehun tertawa datar membuat Chanyeol tidak menyeselaikan kalimatnya. “Baik aku akan berhati-hati hyung.” Sehun pun membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu toko. Langkahnya terhenti saat menyadari yang laki-laki yang terasa familiar dengannya sedang menggendong kucing persia putih, ia memiringkan kepalanya, ingin bertanya tapi laki-laki itu sudah bertanya duluan.

“Ah! Kau laki-laki yang mengantar Sina pulang waktu itu! Kau ingat aku?” Tao yang menyadari Sehun berhenti di depannya langsung mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Sehun. “Namaku Huang Zitao, kita pernah bertemu sekali haha sepertinya kau tidak ingat.”

Sehun diam berusaha mengingat di mana ia melihat pria ini, ia memang pernah bertemu tapi Sehun rasa bukan sekali. “Namaku Oh Sehun teman sekelas Ahn Sina.”

Tao mengangguk sekali dan kembali sibuk bermain dengan kucing yang sudah berhasil ia jinakkan.  Sekalipun terus tertawa saat bermain bersama kucingnya, ekor mata Tao menyadari Sehun masih berdiri memandangnya, hal itu membuat Tao merasa tidak enak dan kembali menengokkan kepalanya “Apa aku menghalangi jalanmu?”

Sehun yang tahu kalau Tao mulai curiga padanya segera menggelengkan kepalanya “Ah tidak! Kucingnya lucu sekali hyung. Baiklah aku keluar duluan ya.” Sehun berjalan melewati Tao yang hanya mengangguk-ngangguk kebingungan.

Sebelum Sehun memegang gagang pintu toko ia lupa kalau ia belum berbicara pada Sina. “Sina! Aku pulang duluan ya!”

Sina yang sedang mendapat hardikan dari Seukri hanya memandang Sehun sekilas dan menyahutinya “Baiklah! Terima kasih untuk hari ini Oh Sehun!”

Sehun tersenyum dan mengangguk, tepat saat ia mendorong pintu toko terbuka detik itu juga ia ingat di mana ia pernah bertemu Tao untuk yang kedua kalinya.

Sambil berjalan Sehun membalikkan badannya kembali memperhatikan Tao yang masih bermain dengan kucing. Meskipun ekspresinya berbeda Sehun yakin benar itu laki-laki yang sama, laki-laki yang terus memandang Sina saat sedang makan siang bersamanya. Itu memang sudah lama, ditambah ia hanya melihat Tao dari jarak beberapa meter itupun dihalangi oleh jendela, tapi mata tajam itu Sehun ingat, ia yakin Tao adalah laki-laki yang sama, laki-laki yang kedua matanya terus memandang Sina saat itu, membuat Sehun yang menyadarinya merasa bersalah seakan pandangannya mengatakan, ‘perempun itu milikku.’

Selesai Seukri menyelesaikan segala pertanyaannya darimana Sina mengenal Chanyeol dan Tao, bagaimana bisa ia dan Sehun bolos bersama, seperti apa rasanya menyentuh tangan Yifan (yang terakhir paling tidak penting). Sina pun akhirnya kembali pada tujuan awalnya ke toko hewan, membeli makanan ikan karena neneknya yang selalu lupa membeli makanan untuk hewan peliharaannya sendiri.

Begitu mendapat apa yang ia cari, Sina memandangi Tao yang tidak berhenti mendatangi setiap kandang kucing di toko itu. Chanyeol dan Yifan bahkan sudah meninggalkan toko ini sejak setengah jam lalu tapi Tao masih berkutik untuk menentukan pilihannya.

Sina ikut jongkok di samping Tao. Tao yang masih sibuk membiarkan kucing itu mengendus-endus kepalan tangannya tampak tidak sadar sudah ada Sina disebelahnya.

“Ekhm.” Sina berdehem membuat Tao sedikit terperanjat.

Sina tersenyum dan mengelus puncak kepala kucing yang sedang mengendus-endus tangan Tao. “Kau memilih kucing jauh lebih lama daripada perempuan memilih baju untuk kencan pertama.”

Tao tertawa kecil, ia mengangkat kucingnya dan tersenyum gemas “Semua kucingnya menggemaskan, aku ingin membeli persia yang itu tapi harganya tidak cocok untuk dompetku.” Tao menunjuk kandang kucing yang langsung mendapat perhatiannya begitu memasuki toko. Sina hanya mengangguk-angguk, sebenarnya sekarang Seukri menyuruh dirinya untuk bertanya pada Tao apa laki-laki ini masih ingat dengan perempuan yang pernah menunjukkan jalan untuknya (yang berakhir membuat Tao makin tersesat dan Sina harus mengantarkan laki-laki ini pulang).

“Hei Tao.”

“Hmm?”

Tao menoleh pada Sina dan kembali mengalihkan pandangannya pada kucing yang mulai memainkan jari tangannya. Sina merasakan pandangan Seukri menusuk dirinya, sejujurnya Sina merasa takut bagaimana kalau Tao sudah melupakan Seukri? Sahabatnya ini sudah menganggap Tao sebagai pangerannya tapi kalau kenyataannya Tao melupakan Seukri. Sina sudah membayangkan raut kecewa Kang Seukri.

“Kau ingatkan ketika aku mengantarmu pulang karena tersesat?”

Tao mengangguk tapi tidak menatap Sina balik. Wajahnya mulai memerah karena Sina mengingatkannya pada kejadian mati listrik yang ujung-ujungnya membuat Tao refleks memeluk Sina.

Sina yang tidak menyadari Tao sudah berganti ekspresi kembali mengeluarkan pertanyaannya “Kau ingat bagaimana kau tersesat?”

Tao kembali mengangguk “Waktu itu aku bertanya pada perempuan yang sedang menunggu bis di halte, dan ternyata dia memberiku petunjuk yang salah.” Sina menarik napas, berarti sampai saat itu Tao masih ingat kejadiannya, begitu Sina ingin mengatakan kalau penjaga toko dan perempuan yang ditanyainya itu sama Tao tiba-tiba menempelkan jari telunjuk di depan mulutnya “Si-sina—“ Tao memandang sekeliling memastikan si penjaga toko sedang tidak memperhatikan mereka.

Sina menaikkan alisnya merasa kebingungan dengan perubahan sikap Tao. “Sebenarnya temanmu itu yang memberi petunjuk padaku.” Ucap Tao pelan.

Mulut Sina langsung menganga, matanya dipincingkan menatap Tao dengan aneh, oke keduanya saling mengingat satu sama lain tapi kenapa yang terjadi berbeda dengan yang diharapkan? “Lalu kenapa?” Sina ikut berbisik.

Tao menghela napas “Jangan sampai dia mengingat aku pria yang sama, bukankah akan canggung karena ternyata dia memberiku petunjuk yang salah.”

Sina memutar kedua bola matanya “Kalau begitu kau berpura-pura kalau petunjuknya benar! Sekarang bangun dan berterimakasihlah padanya. Kabar buruk bagimu kerena dia ingat persis kamu laki-laki yang sama.”

“Hhah?” Tao yang terkaget membulatkan kedua matanya. Ia berdiri karena Sina meraih tangannya menuju kasir. “Kenalkan Seukri, ini temanku Huang Zitao, dia laki-laki yang kamu beri petunjuk jalan dulu sekali.”

Seukri memandang Sina dalam hati sibuk mencaki maki perempuan itu, ia benar-benar kaget Sina akan mengenalkan dirinya pada Tao. Padahal yang ia minta hanya menanyai apakah Tao ingat dengan dirinya!  Sementara Tao memegang lehernya dan menatap Sina bingung sebelum akhirnya Sina menginjak kakinya pelan menginsyaratkan untuk melakukan apa yang dia minta pada Seukri.”Terima-terimakasih pada saat itu, berkat kamu aku bisa pulang, siapa namamu?”

Seukri menggigit bibirnya, berusaha tetap terlihat normal padahal sekarang jantungnya sedang berdetak hiperaktif “Kang—Kang Seukri, teman sekelas Sina.”

Tao mengangguk pelan. Suasana kembali hening dan Sina pun memutuskan kembali menarik tangan Tao membawanya ke tempat asal. Seukri masih mematung sementara Sina langsung mendapat tatapan tajam dari Tao. “Kenapa kau benar-benar ingin aku berkenalan dengan temanmu? Apakah ucapan terima kasihku benar-benar penting untuknya?”

Sina yang langsung mengalihkan perhatiannya pada kucing tidak menjawab apa-apa. Tao ikut jongkok dan memilih tidak bertanya lebih lanjut. “Baiklah aku beli yang ini!” Tiba-tiba Tao berkata semangat, pilihannya jatuh pada kucing yang sedang menjilat tangan Sina itu.  

“Cepat sekali?” tanya Sina bingung.

“Aku suka kucingnya.” Tao menjawab singkat, ia pun berdiri dan melambaikan tangannya pada Seukri “Seukri! Aku mau membeli kucing yang ini!”

Sina dan Tao berakhir pulang berbarengan. Mereka menaiki bis yang sama, dan berjalan beringan menuju toko bibi Tao. Dalam perjalan pulang, Sina dan Tao sama sekali tidak membahas soal Seukri. Sina lebih suka mengangkat topik yang sejak awal ia ingin tanyakan tapi tidak pernah ada waktu yang tepat untuk menanyakannya “Tao, kau mengira nenekku hantu?”

Tao menelan ludahnya dan memandang Sina dengan senyum kakunya “Siapapun akan mengira hal yang sama, kalau melihat nenekmu saat itu Sina.”

“Hahahaha!” Sina tertawa dan menghentikkan langkahnya. Tao ikutan berhenti, entah kenapa harga dirinya merasa tercoreng “Aku juga tahu itu terdengar konyol, tapi nenekmu tidak berkata apa-apa, yang ia keluarkan hanya gumaman tidak jelas kupikir dia memarahiku mengiraku orang jahat.”

Sina menyeka air mata yang keluar, ia menggelengkan kepalanya dan menatap Tao sambil tersenyum iseng “Tidak, dia mengiramu namjachinguku.”

Tao diam mengingat ulang apa itu namjachingu  “Ah!” Tao mendecak mengerti, mukanya langsung memerah dan Sina langsung mengganti topik pembicaraannya. “Ngomong-ngomong kenapa aku ingin kau berkenalan dengan Seukri.”

“Kenapa?”

“Karena dia menyukaimu.”

Kalimat Sina membuat Tao tidak bisa melakukan apa-apa selain memiringkan kepalanya. “Hah? Dia menyukaiku? “ Tao pun berhasil menyusun beberapa kata.

Sina mengangguk “Iya, dia menyukaimu, namanya suka pada pandangan pertama.”

Kali ini Tao tertawa “Jangan bohong Sina.”

Sina tidak menggubris Tao yang menganggapnya bercanda, meskipun Seukri memang terlihat seperti perempuan yang tidak serius dan mengatakannya dengan terlalu mudah kalau ia sudah jatuh cinta tapi sebagai sahabatnya Sina merasa perempuan ini bisa berubah menjadi serius untuk beberapa alasan. “Dengar Tao, Seukri itu perempuan yang berprinsip tidak ada kebetulan di dunia ini. Pertemuan pertamanya denganmu sangat berkesan untuknya, dan pertemuan kedua kalian makin membuat Seukri yakin kalau dirinya dan kamu memang—ugh ini menggelikan tapi aku harus mengatakannya, ditakdirkan.”

Tao melongo, ia tidak pernah tahu pertemuan singkat itu berefek besar pada kehidupan gadis yang ditanyainya.

Sina berdehem, ia menyadari kata-katanya memang terlalu berlebihan tapi memang kenyaatannya Seukri memiliki karakter seperti itu. “Dan jika secara kebetulan kalian bertemu untuk ketiga kalinya, selamat Tao kau sudah berada digenggaman Seukri.”

“Hhah?” Tao makin dibawa bingung.

“Pertemuan pertama mungkin kebetulan, pertemuan kedua mulai dipertanyakan, pertemuan ketiga,  berarti kalian memang memiliki alasan untuk terus bertemu.” Sina menghela napas dan memandang Tao “Jadi kalau tidak menyukainya, jangan sampai kalian bertemu untuk yang ketiga kalinya.”

Tao merapatkan bibirnya dan mengangguk “Aku mengerti.”

Sina tidak mengerti kenapa jawaban pasti dari Tao membuat hatinya lega, bayangannya soal Seukri dan Tao bersama sebenarnya tidak begitu menyenangkan untuk Sina. Menurut Sina Seukri tidak cocok untuk Tao, laki-laki ini membutuhkan wanita yang lebih dewasa dan meskipun Sina tahu ia tidak berhak untuk mengaturnya entah kenapa ia masih menginginkan Tao masih menjadi Tao yang seperti sekarang, untuk sekarang Sina masih menginginkan Tao tetap menjadi pria polos yang—

“Dan Sina?”

“Hmm?”

“Kalau aku juga menyukai Seukri itu artinya aku cukup memunculkan diriku di depannya kan?”

Tao mengeluarkan pertanyaan yang sebetulnya hanya butuh anggukan Sina sebagai jawabannya, yang entah kenapa Sina tidak bisa melakukannya semudah itu.

_______________________________________________________________________________________________

Author’s note!

SELAMAT TAHUN BARU! Ga peduli telat yang penting ngucapin

ga terasa udah nyampe chapter 16 :’) terima kasih buat readers yg betah sama cerita ini huhuhu terharu 

author pikrachu ada kabar baik dan kabar buruk.

Kabar buruknya aku mengalami semi writer’s block di Detour, plotnya udah ada tp entah kenapa kosakata yg author punya jadi terbatas terus enggak sreg, terus bosen mungkin karena belum nonton smweek jadi feels baeksoo belum pol, jadinyaaa cerita ini semi hiatus JENG.

dan kabar baiknya, aku udah ngetik pastel banyaaakk banget jadi update cerita ini bakal sering update beberapa minggu kedepan ^^ 

Hari ini bakal ada double update! Sekedar info chapter selanjutnya bakal bikin kalian

 

11 thoughts on “Pastel #016

  1. I’m the first comment ? Yeeee ..
    Thor, ak harap Detourny jgn kelamaan hiatusny, nnti ak penasaran sampe uring”an sama Pastelny di cepetin ya thor soalny ak ska bgt Tao sma Sina couple dan Image Tao yg serem krn mata pandany jdi ilang di ff ini dn ak ska, soalny itu kyk sifat asliny Tao ..
    Buat chapter ini kykny kurang panjang de Thor hehe #mian
    Tpi ttp fighting ya buat lanjutin ffny

    • iyaa untungnya ada yg suka, selama ini di mataku juga tao cowok inosen gitu:3 kurang panjang?? o.o kalau kepanjangan capek nanti kalian bacanya xD

  2. Sina ..

    jangan..

    coba-coba..

    ngangguk..

    eyy.. Updatenya kok cepet ? Ini misterius.
    iseng2 kemari karna besok udah masuk lagii😥 eh ada updatetan xD

    sina gasetuju baby panda sama seukri karna seukri gak lebih dewasa dr panda atau karna sina gak rela? Hummm

    fighting!

  3. Akuh dataaaaang😀 hehe akhirnya di post juga. Padahal pas liburan aku nungguin. Kenapa baru muncul saat masuk sekolah.. saat ujian praktek sebentar lagi datang.. ke-na-pa u.u *curhat* hahhahax
    Langsung aja, jadi kenapa ayah sehun romantis bgt sama ibunya sehun siiiih *salah fokus*
    Bagian dansa itu sukaaa bangeet masaaaa suukkkaaaa. Coba taosina *tetepxD*
    Jadi maksudnya wu yifan muncul ituuh apaaah? Jadi org ketiga antara sehun dan miyoung? Eh tapi ada victoria kan –”
    Dan seukri jadi org ketiganya taosina nihh?? Apa vic?? Atau aku deh yg jadi org ketiganya wkwkw *loh hoho

    Okeh segini dulu. Gak sabar mau baca yg atu lagi hihi
    Btw aku suka moment taosina tadi walaupun dikit tapi gimana gitu🙂

  4. Finally dilanjut jugaa pastelnyaaaa huhuhuhuhuhuhuhu udah menunggu berabad-abad loljkjk I love ur story as always author-nim! ♡

  5. Aaaaargh kalo ditanya lebih suka detour apa pastel, aku jawab paling kenceng PASTEL!!! Gatau kenapa, aku suka banget nget nget :3 mungkin karena aku ngeliat diriku dalam diri sina kali ya/? *etseelah*
    Bener deh, apa yang dialamin sina ini juga aku alamin, di saat orang orang di sekeliling aku udah pada punya tujuan, cita cita dan mulai bergerak, aku masih aja diem di tempat, ga punya tujuan dan cita cita, ga kenal diri sendiri ._.
    Kalo bisa kak *kalo bisa siiih* kakak kasih solusi buat sina di ff inii.. kali aja bisa jadi solusi juga buat aku🙂 pendaftaran sbmptn ditutup bentar lagi tapi aku belum daftar karena gatau mau masuk jurusan apa ._.
    Aduh jadi curhat, hehehe

    Oke lanjut komennya~
    aku kira 2 cowo tingginya siapa kok bisanya dibanding bandingin ama tvxq, eh ternyata krisyeol.. pantes laah.. mereka juga ga beda tinggi ama tvxq–

    Mau dong kak diajak dansa ama sehun sambil curhat kaya gitu. Mau bangeeet~~

  6. Cast barunya udah pada muncul, banyak banget hihi

    dn seperti kata oppaku, sudah lama tidak bertemu haha

    diawal aku nggak bisa ngebayangin gimana kalo jadi sina, dansa sekaligus ngobrol sama sehun bisa bkin aku pingsan *abaikan, sehun jadi bijak itu jarang ditemuin loh hihi, tpi kok ekspresi sehun wktu tahu miyoung dpet rekomendasi belajar ama yifan kok gitu sih thor ?? Aneh banget, sebenarnya dia itu suka miyoung gk sih ??
    Dan lagi, aduh antara vic yifan dan si polos tao plus seukri jadi penghalang buat sina, maaf thor aku sitao shipper😉
    aku suka chapter kali ini karna ada kevinnya hihi meski luhan gk nongol sih plus bagian endnya bikin aku gatel mau tau reaksi sina bgaimana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s