Pastel #017

pastel poster sina edition

 

oyeay double update

Song Qian berlari terpogoh-pogoh menuju halte tempat janjiannya bersama Tao. Kalau saja Yifan kekasihnya tidak membatalkan janjinya untuk pergi bertiga tentu ia tidak perlu berlarian seperti ini. Berusaha terlihat tidak sedang jengkel Song Qian menarik dan menghela napasnya berkali-kali ia pun memaksakan sebuah senyuman, tepat ketika ia ingin berteriak memanggil Tao yang terlihat sudah duduk di kursi halte, mulutnya terhenti begitu menyadari Tao sedang duduk saling membelakangi dengan seorang perempuan. Ia kira perempuan itu hanya penunggu biasa yang ikut menunggu bis, tapi melihat Tao menjulurkan sekaleng minuman tapi ditolak, Song Qian tahu mereka saling mengenal.

“Tao?”

“Ah Song Qian! Sina! Sina! Dia sudah sampai!” Tao langsung beranjak dan menghampiri Song Qian. Perempuan yang dipanggilnya Sina itu tidak menggubris apa-apa. Song Qian yang masih terengah-engah bertanya pada Tao “Dia ikut kita?”

Sambil tersenyum Tao menggelengkan kepalanya “Dia naik bis yang sama tapi turun di halte sebelum kita, aku harus mengantarnya pulang.”

Song Qian pun hanya mengangguk, beberapa menit kemudian seperti mendengar permintaan Song Qian berharap bis segera datang karena canggungnya suasana yang hening, bis pun benar-benar datang.

Sina beranjak dari kursi setelah Tao dan Song Qian masuk terlebih dahulu. Bis yang sepi membuat Sina mendapat banyak pilihan di mana ia akan duduk. Song Qian menyisakan satu tempat duduk di samping Tao, dan ia sendiri duduk di sebelahnya. Sina menghela napas dan melewati tempat yang seakan Tao dan Song Qian sisakan untuknya. Ia pun memilih tempat paling belakang membuat Tao menengok dan menatapnya dengan aneh.

Perjalanan dipenuhi dengan obrolan Tao bersama Song Qian, sekalipun keduanya memakai bahasa mandarin tapi Sina yakin mereka berdua sempat membicarakan dirinya, melihat mereka sekali-kali menengok untuk memperhatikan dirinya. Obrolan mereka sebagian besar dihabiskan dengan tawa Song Qian sementara Tao terlihat bingung karena setiap ia berbicara Song Qian hanya terkekeh.

Sina  memandang keduanya melalui pantulan jendela bis yang gelap, masih tidak habis pikir dengan laki-laki bernama Tao ini. Sebelumnya ia masih bertanya bagaimana kalau dirinya menyukai Seukri dan sekarang dia berkencan dengan wanita lain? Sina menggelengkan kepalanya.

Flashback

Sampai di depan toko Sina membuka pintunya terlebih dahulu padahal Tao sudah hampir memegang gagang pintunya.

Selesai Tao bertanya apa artinya ia hanya perlu bertemu Seukri sekali lagi kalau ia juga menyukai Seukri, Sina balas bertanya “Apa mungkin kau akan menyukai Seukri?”

Tao hanya menyeringai dan mengendikkan bahunya “Tidak ada yang tahu kan?”

Sina memandang datar dan ikut mengendikkan bahunya “Kalau begitu aku juga tidak tahu, bisa saja Seukri keburu bertemu dengan pria lainnya tiga kali secara kebetulan.”

Tao hanya tertawa, sejujurnya ketika Sina memulai menjelaskan prinsip bagaimana Seukri menyukai seseorang ia langsung menghubungkan hal itu dengan pertemuannya dengan Sina. Bagaimana pertama kali Tao bertemu Sina? Bukankah selanjutnya mereka memiliki pertemuan kedua secara tidak kebetulan? Bahkan pertemuan ketiga pun sama-sama mengagetkan keduanya. Apa itu artinya selalu ada alasan kenapa Tao dan Sina selalu bertemu?

Sampai di dalam toko, ahjumma sedang menghabiskan serial drama yang baru dibelinya. Sina segera menghampiri TV dan berseru melihat ahjumma menonton hal yang sama dengannya.

“Ahjumma, jam lima bisa bangunkan aku?” Tao berkata sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga.

Sambil mengunyah jerkey ahjumma hanya mengangguk-angguk tidak mengalihkan pandangannya dari layar TV.  “Coba lihat Sina, Tao sudah mulai berkencan.” Ujar Ahjumma.

“Aku tidak berkencan!” Tao yang rupanya mendengar langsung menyahut dan kembali turun ke bawah sebelum ahjumma makin mengarang cerita aneh. Sina mendengus dan menatap Tao “Woah Tao sudah mulai besar.”

Tao memelototi Sina “Aku hanya pergi menonton konser, kenapa jadi berkencan?”

“Karena perginya berdua terlebih bersama seorang perempuan! Iya kan Sina?” Ahjumma ikut menanyai Sina, Sina sejujurnya kurang setuju tapi karena dia ingin menggoda Tao ia pun ikutan mengangguk-angguk “Benar ahjumma.”

Tao memandang Sina dan bibinya bergantian hingga akhirnya ia menarik napas “Sina juga berkencan—bersama Kai!”

Sina membulatkan matanya, sekarang Tao menyerang balik dirinya. Belum sempat ia ingin melakukan pembelaan ahjumma sudah membantunya “Dan apa salahnya Sina berkencan? Kau mengatakan seolah kencan adalah sebuah kesalahan.”

Sambil menelan ludahnya, Tao pun membuang napas, ia kembali berjalan menaiki tangga sekali-kali melirik Sina masih berharap Sina mengubah pendapatnya, rasanya menjengkelkan ketika Sina sama sekali tidak menolak pernyataan ahjumma. “Baik, aku memang berkencan dengan Song Qian.”

Merasa senang keponakannya kalah berpendapat ahjumma kembali terkekeh sambil menyenggol Sina dengan sikutnya “Hahaha akhirnya Tao menjadi laki-laki juga Sina.”

Sina harusnya mengangguk dan ikut tertawa tapi hal yang bisa ia lakukan hanya memandang kecut pada layar TV, ahjumma yang tidak menyadari hal itu menganggap Sina terlalu fokus menonton drama, tapi dalam hati Sina bahkan tidak memperhatikan lagi apa yang sedang mereka katakan di drama.

#

“Besok aku ada kelas!” Sina yang hampir terlelap langsung terbangun begitu mendengar jam besar di toko berdentang. Ahjumma yang sedang menyiapkan makan malam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Sina yang setengah tidur berjalan ke sana kemari mencari ranselnya.

“Tao!” Ia memanggil keponakannya yang terdengar sibuk di lantai atas. Bunyi gedebak gedebuk khas Tao setiap ia panik mencari sesuatu.

“Kenapa ahjumma?” Sambil menyandang ranselnya Tao berlari menuruni tangga. Rambutnya masih setengah basah karena ia baru saja selesai mandi dua menit yang lalu.  Kemejanya bahkan belum terkancing sampai bawah.  Kedua tangan Tao sibuk, satu memegang ponsel satu memegang hair dryer sehingga kaos kakinya ia bawa dengan mulut.

“Temani Sina pulang.” Ujar Ahjumma sambil mengangkat ransel Sina yang daritadi tenggelam di antara bantal-bantal. “Hei Sina, ini tasmu.” Sina langsung menengok dan tersenyum “Terima kasih ahjumma.”

Tao yang masih memakai kaos kaki melirik Sina yang sedang duduk di sebelahnya mengikat tali sepatunya. “Sepatumu terbalik Sina.”

Sina memejamkan matanya dan menghela napas, ia segera membalik posisi kanan kiri dan mendengus melihat Tao yang masih sibuk mengikat tali sepatunya. “Ahjumma aku bisa pulang sendiri.” Sina pun bangkit, dan tepat ia memegang gagang pintunya Tao sudah berdiri “Bis yang kita naiki sama kan? Sekalian saja.”

Sina dan Tao pun keluar berbarengan. Dari ekor matanya Sina mencuri lirik pada Tao yang sedang memainkan ponselnya. “Nama temanmu Song Qian? Dia dari China juga?”

Tao segera mengangguk “Iya dia juga dari Beijing. Kemarin lusa aku pulang duluan kan? Itu karena aku membantunya, motornya mogok.”

“Oh.” Sina merespon singkat. Mereka berdua kembali berjalan. Sina tidak bisa berhenti melirik pada Tao, penasaran apakah ini hanya perasaannya saja atau Tao memang Tao terlihat begitu berbeda sore ini, wajahnya lebih berseri apa karena ia akan berkencan?

“Tao—“

“Hmm?”

Sina berdehem “Parfummu..terlalu wangi.”

Tao memiringkan kepalanya “Aku tidak memakai parfum.” Sina menggigit bibirnya merasa malu, ia yakin Tao terlalu wangi dan baru saja ingin mengatakan pendapatnya, Tao sudah membungkukkan badannya mendekatkan kepalanya pada hidung Sina “Coba cium, apa wangi shampoku yang Sina maksud?”

“Ah rambutmu masih basah!” Sina mendorong bahu Tao pelan, rambut Tao menggelitik pipinya. Tao hanya memandang Sina aneh dan kembali berjalan tidak menyadari tindakannya membuat kedua pipi Sina merona.

Sementara mereka berdua terus berjalan beriringan Sina yang sengaja melambatkan langkahnya tidak mengerti kenapa Tao harus tetap berjalan tepat di sampingnya. Padahal dengan kaki panjangnya Tao pasti sudah berada jauh di depannya. “Hei Tao, aku tidak keberatan kau berjalan lebih cepat daripada aku.”

Tao menengok pada Sina dan menyeringai “Dan aku tidak keberatan melambatkan langkahku agar kita berjalan beriringan.”

Sina mendecak “Kau bisa terlambat, kencan bernama Song Qian.”

“Aku tidak kencan, aku hanya—Sina! Ada odeng! Ayo kita beli!” Tangan Tao otomatis menarik tangan Sina, mumpung masih kosong ia tidak ingin kelewatan pembeli lain menyadari hanya beberapa batang odeng yang tersisa.

Tao segera menyerahkan beberapa lembar won pada ahjussi yang menjaga. Sina pikir Tao akan membagi enam odeng yang dibelinya tapi laki-laki itu terus memegang semuanya seakan dari awal memang tidak ada niat untuk membagi Sina.

Sina mengikuti Tao duduk di kursi taman. Dugaannya salah karena begitu duduk Tao langsung menyerahkan tiga odengnya pada Sina. “Ayo kita makan dulu.”

Sina segera menerimanya, sementara ia sibuk mengunyah Tao kembali melanjutkan kalimatnya tadi “Yang namanya kencan itu bersama perempuan yang disuka kan? Dan aku tidak menyukai Song Qian. Lagipula Song Qian juga sudah punya pacar, kau tahu Yifan kan? Kemarin kita bertemu dengannya, dia kekasih Song Qian.” Tao menjelaskan dengan mulutnya yang masih penuh.

Sina mengangguk-angguk ia malas berbicara dan membiarkan Tao yang memimpin percakapan ini. “Jadi Sina, aku tidak berkencan. Lagipula aku rasa aku  menyukai perempuan lain.”

Sina mengangguk-angguk lagi, ia penasaran tapi ia rasa tidak perlu bertanya pun Tao akan melanjutkan ceritanya.  Tao yang sebenarnya berharap Sina antusias mendecak tidak puas dengan reaksi yang didapatnya “Eii—bahkan Sina tidak penasaran siapa wanita itu!”

Sina masih diam, mulutnya masih penuh dan ia diajarkan orangtuanya jangan berbicara kalau mulutmu penuh “Kuberitahu Sina, pertemuan pertamaku dengan wanita ini awalnya merupa—eh?” Tao menghentikkan ceritanya, ia segera menengok dan matanya membulat melihat Sina yang sedang bersandar pada bahunya. “Aku capek.” Sina berkata singkat dan kembali memasukkan odeng pada mulutnya.

Tao yang baru saja menelan odeng yang belum sepenuhnya terkunyah segera tersedak dan memukul-mukul dadanya. “Minumlah.” Sina mengambil botol minumnya dari ransel dan menyerahkan pada Tao. Tao langsung menerimanya, meminumnya sampai setengah karena terlalu gugup. Suasana menjadi canggung terlebih setelah ia mengembalikan botolnya pada Sina.

“Lanjutkan ceritamu.” Sina berujar sambil memejamkan matanya, menikmati angin sore yang membelai mukanya yang berkeringat karena terik matahari musim panas. Tao mengangguk-ngangguk sekalipun sebenarnya kalimat yang sudah tersusun di otaknya hilang, ia tidak tahu apa yang harus diceritakan. “Tapi kita tidak bisa berlama, aku ha—“

Kalimat Tao terpotong saat Sina segera berdiri meninggalkan Tao yang masih mematung dengan posisi duduknya.

Sina menengokkan kepalanya ke belakang sekilas “Ayo bangun, kau bisa terlambat.”

“Iya.” Tao langsung bangun dan berlari pelan menyusul Sina, yang anehnya berbeda dengan Sina yang sebelumnya, langkah kaki perempuan ini begitu cepat seperti tidak memperbolehkan Tao berada di sebelahnya.

Sina tidak mengerti sejak kapan rasa posesifnya keluar, yang ia tahu ia merasa nyaman dengan Tao. Entah sejak kapan dan kenapa Sina baru menyadarinya sekarang, yang jelas bersama Tao membuatnya melihat hal-hal kecil menjadi hal berharga. Ia tidak pernah lihat orang yang senyumnya melebar sebesar itu setiap melihat odeng, ia juga baru tahu ternyata dalam permainan basket tidak mendapat skor pun tetap membuat permainan menjadi menyenangkan, Tao juga membuat persepsinya soal pria salah karena ternyata ada juga pria dewasa yang sama polosnya dengan seorang gadis yang baru jatuh cinta. Semua hal tentang Tao yang baru ia sadari membuat Sina perlahan-lahan menginginkan hanya dirinya yang boleh menyadari hal itu, ia tidak ingin ada perempuan yang merasakan hal yang sama dengan dirinya, ia tidak ingin perempuan lain mendapatkan perhatian Tao; seorang laki-laki yang masih menganggap penting arti sebuah kencan layaknya tokoh perempuan di mahwa-manhwa yang dibacanya. Sina tahu itu egois tapi siapapun gadis yang akan bersama Tao ini, tolong jangan Song Qian.

End of flashback

#

“Unnie malam ini pulang kan?” Sina memutuskan menelpon Miyoung untuk memastikan sesuatu.

“Iya, jangan lupa besok kau keluar lebih cepat kita harus menjemput ayah ibu.”

“Aku tahu, oh ya aku ingin menanyakan sesuatu, soal kau pergi ke luar negeri, laki-laki yang ikut bersamamu itu namanya Yifan kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Suara Miyoung terdengar menyidik, biasanya Sina tidak akan mengetahui apapun tentang dirinya kalau ia sendiri tidak bercerita.

“Aku tahu dari Chan-oppa, unnie kau tidak akan suka dengan Yifan kan? Kau tahu dia punya pacar kan?”

Miyoung terkekeh “Aku tahu, aku memang tidak menyukainya tapi Sina—aku lebih tidak menyukai pacarnya.”

Sina menjentikkan jarinya, sekarang Miyoung sudah membawa pembicaraan yang Sina incar dari awal “Memang siapa pacarnya?” Sina bertanya berpura-pura tidak tahu apapun.

“Kau ingat Jinki kan?”

“Hmm. Tidak mungkin aku lupa.” Sina berujar sambil mengingat mantan kakaknya yang paling ia kenal. Laki-laki ini benar-benar konyol, kalau dibarengkan bersama Chanyeol mungkin akan membentuk duo lawak sempurna.

“Nama perempuan itu Song Qian, kalau tidak salah aku pernah menceritakannya padamu waktu aku dan Jinki putus?”

“Aku lupa, ceritakan lagi unnie.”

Miyoung menghela napas, membahas musuh masa kecil hanya akan membuat moodnya yang daritadi bagus terusak “Dia—yang membuatku putus dengan Jinki, aku tahu dia juga menyukai Jinki dari awal tapi Jinki sudah memilihku dan tampaknya dia tidak puas. Jadi begitulah, kau tahu seperti di film-film dia membuat skenario, lalu melebihkan-lebihkan setiap aku berbicara dengan pria lain, menggelikan.”

“Setelah itu?”

“Ahh aku harus menutup telpon, kulanjutkan nanti! Yang jelas setelah dia pindah jurusan aku tidak mendengar banyak tentangnya lagi. Sudah ya Sina!” Miyoung memutuskan panggilan.

Sina merengut, tidak puas dengan akhir yang menggantung. Ia menggulingkan badannya dari pinggir kasur ke pinggir lainnya, daripada berteriak frustasi ia lebih suka melampiaskan dengan menggerakkan tubuhnya. Yah tapi setidaknya, Song Qian yang dimaksud Tao dengan Song Qian musuh kakaknya sudah dipastikan sama. Sina tidak akan langsung memberitahu semua yang dia pikirkan pada Tao, itu bukan haknya dan Sina rasa Tao tidak akan menyukai Song Qian, karena seperti yang Tao bilang, dia menyukai perempuan lain. Sina menghela napas, sejak kapan ia memikirkan urusan orang lain?

#

Sehun membolak-balik dagingnya tidak sabar untuk segera memasukkannya dalam mulut.

“Jangan balik dulu Oh Sehun!” Temannya Nami memukul tangannya pelan dengan sumpit membuat Sehun mendengus dan kembali menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Bukannya kau baru memakan sepiring penuh tteokkbokki?” teman perempuannya Chaeri angkat bicara padahal Sehun kira perempuan ini daritadi tertidur melihatnya terus memejamkan mata dengan kedua telinga ditutupi headphone.

“Aku ini sedang masa pertumbuhan, apa salahnya makan?” Sehun menjawab acuh.

Chaeri tidak membalas dan memilih kembali memainkan nintendonya sementara Nami sibuk memesan makan lain. Bomi dan perempuan lainnya sibuk menggosipkan guru baru sekolah mereka yang tidak mungkin Sehun terlibat dalam percakapan semacam itu. Sehun kembali mengecek ponselnya menunggu balasan dari Kai.

Hari ini teman-teman sekelasnya makan malam bersama, dan demi solidaritas ia ikut tapi sialnya Sehun, semua laki-laki teman sekelasnya tidak bisa datang. Sehun pun memutuskan mengajak Kai, temannya yang selalu siap kapan saja untuk makan gratis. Ia menghela napas dan kembali meraih sumpitnya, Nami sudah memelototinya tapi Sehun tidak peduli. Tepat ketika ia akan menyentuh daging asapnya ponselnya berbunyi. Sehun langsung mendecak gemas dan meraih ponselnya.

Kalau Sina tidak datang aku juga tidak datang.

Balasan dari Kai membuatnya memutar bola mata.

“Kenapa Sina tidak datang?” Sehun bertanya malas.

Baik Nami dan Chaeri tidak ada yang menjawab, mereka berdua satu-satunya yang tidak ikut menggosipkan guru baru. Sehun mengerti Chaeri masih tenggelam dengan gamenya tapi Nami? Sehun menendang kaki Nami hingga perempuan ini mengangkat kepalanya. “Ya Nami, aku tanya kenapa Sina tidak datang?”

“Katanya capek.” Nami kembali sibuk memainkan ponselnya. Sehun menghela napas bosan, tahu begini lebih baik ia menghabiskan malamnya bersama Chanyeol dan Luhan di studio.

“Hei Sehun, kau tahu kan Kyungsoo dan Baekhyun—“

“Ahh aku tidak mau bicara.” Sehun segera berdiri membuat Nami tidak menyelesaikan pertanyaannya. Seo Nami mengangkat pertanyaan yang setiap perempuan selalu tanyakan pada dirinya mengingat saat peristiwa itu hanya Sehun yang satu-satunya berada di sana. “Aku pulang duluan, ibuku memanggilku.” Sehun berbohong lalu beranjak meninggalkan meja, sekalipun Nami sudah berteriak-teriak padanya untuk menjawab pertanyaan itu.

#

Karena Sehun malas pulang ia pun memutuskan mengelilingi Hongdae. Miyoung mengabarinya malam ini ia akan pulang, dia bilang ada sesuatu yang harus ia ceritakan pada Sehun. Sehun sudah tahu apa itu, pasti soal kepergiannya ke luar negeri. Sejujurnya Sehun tidak marah sampai detik ini Miyoung belum memberitahu pada dirinya, mungkin perempuan ini beranggapan hal sepenting ini lebih baik dibicarakan langsung bukan melalui telpon. Pertanyaan yang selalu Sehun kemukakan sejak tahu berita itu justu Sehun tujukkan untuk dirinya sendiri.

Ketika perempuan yang kita sukai akan pergi jauh untuk jangka waktu yang lama bukankah harusnya aku sedih?

Pertanyaan semacam itu yang keluar dari otak Sehun. Baiklah Sehun kaget, Sehun terkejut, Sehun sempat tidak percaya, tapi dipikirkan sekali lagi membayangkan Miyoung pergi ternyata tidak sesulit dengan apa yang ia tonton di serial drama bersama ibunya ketika salah seorang pihak melepas kepergian kekasihnya di bandara. Sehun bahkan yakin ia tidak akan menitikkan air mata begitu melepas Miyoung di bandara. Beberapa hari terakhir ini Sehun terus mempertanyakan perasaannya pada Miyoung. Ia tahu ia menyukai Miyoung, saat Miyoung berada di dekatnya ia tersenyum, tertawa, ia mengganggap Miyoung sebagai orang yang penting. Tapi apa semua itu cukup untuk diartikan sebagai perasaan suka yang sesungguhnya?

Sambil menaikkan resleting jaketnya menutupi leher Sehun berjalan memasuki klub, umurnya memang belum cukup, tapi pemilik klub ini berteman baik dengan Chanyeol dan ia juga tahu Sehun datang ke tempatnya hanya untuk menonton band favoritnya, bukan clubbing layaknya pengunjung lain.

Sehun langsung mengambil tempat favoritnya yang jarang diduduki orang lain melihat tempat itu tersudut dan jauh dari bar.

“Soda susu seperti biasa.” Pelayan perempuan yang sudah terbiasa dengan kehadiran Sehun meletakkan segelas minuman langganan Sehun di atas meja.

Sehun tersenyum. Sambil menegak minuman matanya fokus memandangi panggung memastikan apakah pemain yang sedang menyetem gitar itu salah satu band favorit dirinya. Saat Sehun beranjak  berdiri untuk melihat lebih jelas matanya menangkap siluet perempuan yang dikenalinya.

Ia memincingkan matanya, meskipun lampu ruangan redup dan perempuan itu terus bergerak membuat Sehun tidak bisa memperhatikan wajahnya secara jelas, tapi ia ingat jelas boots yang dipakai perempuan itu. Belum lagi vedora dan jaketnya Sehun ingat persis gaya semacam itu.

Baru saja Sehun beranjak ingin mendekat sekedar memastikan siapa perempuan itu, secara kebetulan si wanita membalikkan badannya. Matanya menangkap sosok laki-laki yang berada beberapa meter di belakangnya tertangkap basah sedang memperhatikannya. Ia pun menepuk bahu laki-laki yang berdiri di sampingnya “Tao! Aku duduk di belakang sebentar!” Tao yag kegirangan salah satu band favoritnya tampil hanya mengangguk-ngangguk.

“Kau Oh Sehun kan?” Song Qian menghampiri Sehun yang hanya mengangguk dan memandangnya bingung.

“Apa kau bersama Miyoung sekarang?” Mereka berdua pun berjalan menuju tempat duduk semula Sehun tadi. “Tidak, dia tidak ikut.” Sehun menjawab singkat.

“Noona pergi bersama Jinki-hyung?” Sehun bertanya sambil melihat laki-laki yang barusan dibisiki oleh Song Qian. Song Qian menggelengkan kepalanya dan tersenyum “Tidak, kau tidak tahu aku sudah putus dengan Jinki?”

“Oh benarkah?” Sehun berkata datar, ia tidak terlalu kaget, Miyoung pernah memberitahu dirinya kalau Song Qian memang perempuan yang suka berganti pacar. Tidak jauh berbeda dengan Miyoung, hanya saja Miyoung melakukannya bukan karena suka tapi keadaan yang menuntutnya, yah itulah yang Miyoung katakan padanya, ia benar-benar tidak ingin Sehun mengiranya sebagai perempuan yang tidak pernah serius.

“Apa itu pacar noona?” Sehun menunjuk Tao, hanya melihat Tao dari punggungnya membuat Sehun belum menyadari kalau orang yang ditunjuknya itu Tao.

Song Qian menggelengkan kepalanya dan tersenyum “Apakah terlihat seperti itu? Apakah aku terlihat berpacaran dengannya?”

“Tidak, aku hanya bertanya.” Sehun menjawab dengan datar. Song Qian sama sekali tidak berubah, membaca dari raut wajahnya, itu persis sama ketika ia sedang bersama Jinki dulu. Sehun ingat ekspresi itu, persis sama dengan ekspresi yang dilihatnya dari Song Qian ketika dirinya dan Miyoung mengikuti Song Qian dan Jinki diam-diam. Saat itu ia memang belum menyukai Miyoung sama juga dengan Miyoung yang belum menyukai Sehun, Sehun hanya sahabat yang berbaik hati menemani Miyoung memastikan apakah kekasihnya itu selingkuh atau tidak.

“Aku dan Yifan belum putus, jadi laki-laki yang berdiri di sana bukan pacarku. Ah kau belum kenal Yifan ya?”

Rasanya ingin memutar bola mata, sejak kapan Sehun harus tahu dengan siapa saja Song Qian berpacaran? Tapi mendengar nama Yifan, Sehun langsung mengerutkan keningnya “Itu teman Miyoung aku tahu.”

Song Qian membulatkan matanya “Jadi kau tahu bulan depan mereka akan pergi bersama?”

Sehun mengangguk kecil, berbanding terbalik dengan Song Qian yang matanya terlihat berbinar. “Wah dan kau masih bisa sesantai ini? Kau tidak takut pacarmu direbut?”

Sehun meneguk minumannya dan menggelengkan kepalanya, kemungkinan Miyoung akan menyukai Yifan memang besar, dan sekali lagi Sehun selalu bertanya pada dirinya kenapa ia tidak takut hal itu akan terjadi? “Bagaimana dengan noona? Tidak takut Yifan akan menyukai Miyoung?”

Song Qian tertawa “Aku tidak takut. “ Ia pun menaikkan tangannya mengatakan pada pelayan yang menghampiri dan mengatakan ia memesan minuman yang sama dengan Sehun.”Kau lucu sekali Sehun, pantas Miyoung menyukaimu.”

Sehun memiringkan kepalanya, dan Song Qian kembali melanjutkan kalimatnya “Kuberitahu ya, aku tahu wanita seperti apa Miyoung itu, dia pasti ingin balas dendam karena aku merebut Jinki darinya, aku yakin dia akan berusaha merebut Yifan dariku.” Song Qian mengakhiri dugaannya dengan senyum kemenangan.

Banyak hal yang harus Sehun komentari, tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Pertama tentu saja ia harus menolak pendapat Song Qian kalau Miyoung akan melakukan hal semacam itu, tapi terlebih ia lebih penasaran kenapa Song Qian tidak terlihat takut kalau pacarnya direbut?

“Kenapa noona tidak takut kalau Yifan akan berbalik menyukai Miyoung?”

“Astaga Sehun! Kau lucu sekali, harusnya kau mempertanyakan dirimu sendiri kenapa kau tidak takut Yifan akan menyukai Miyoung?” Song Qian mencubit gemas pipi Sehun yang detik berikutnya Sehun langsung menepis tangan itu. “Aku takut, tapi aku tidak akan menunjukkannya. Sekarang aku tanya kalau benar Yifan akan menyukai Miyoung, apa yang akan noona lakukan? Berusaha merebutku dari Miyoung?”

Song Qian kembali tertawa tapi melihat Sehun memandang serius padanya ia langsung menggelengkan kepalanya “Aku tahu kau tidak mungkin menyukaiku.” Dalam hati Sehun lega, terlibat skandal dengan Song Qian hal yang merepotkan. Tiba-tiba Song Qian tersenyum dan mendekatkan kepalanya pada telinga Sehun “Lagi pula aku ada dia.” Bisik Song Qian sambil menunjuk laki-laki yang pergi bersamanya, sekarang sedang melompat-lompat mengikuti irama musik.

“Apa laki-laki itu ada hubungannya dengan Miyoung?”

“Tidak, tidak ada. Kenapa laki-laki yang kusukai harus berhubungan dengan Miyoung?”

“Entahlah.” Sehun merespon singkat. Ia pun memutar kursinya dan mengalihkan perhatian pada panggung diikuti oleh Song Qian. Mereka berdua sama-sama memutuskan menghentikkan pembicaraan ini.  Kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

Song Qian menanyakan pada dirinya sendiri apa ia bisa menaklukkan Tao semudah yang ia pikirkan mengingat wanita yang bersama dengan Tao di halte tadi sepertinya cukup dekat dengan Tao dan anehnya ia merasa familiar dengan wanita bernama Sina itu. Dan Sehun kembali menanyakan pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa marah kalau seandainya benar Miyoung akan melakukan hal yang Song Qian pikirkan, merebut Yifan.

#

Sina dan Miyoung sama-sama menguap. Sudah setengah jam mereka menunggu pesawat orang tua mereka, dan mendapat pengumuman penerbangan mereka tertunda, Sina makin merasa jenuh. Semalaman Miyoung menceritakan seluruh masalahnya dengan Song Qian. Miyoung bilang mereka teman sekelas saat SMP sehingga sangat wajar begitu Miyoung menunjukkan foto Song Qian pada adiknya, Sina mengaku ia cukup familiar dengan wajah itu mengingat saat itu Miyoung dan Sina juga satu SMP sehingga sering bertemu memang tidak aneh lagi. Awal masalah mereka memang klise, perebutan laki-laki yang berakhir dengan Miyoung yang menang. Sama-sama memiliki penyakit mudah menyukai laki-laki membuat mereka berdua sering berakhir menyukai orang yang sama. Hingga akhirnya Jinki menjadi puncak masalah mereka.

“Kenapa tiba-tiba kau penasaran dengan temanku? Sebelumnya kau tidak pernah bertanya sedikitpun?” Miyoung membuka pembicaraan. Sina yang membungkukkan punggungnya hingga wajahnya berada di atas lutut hanya menggelengkan kepala “Tidak, kupikir ceritamu bagus kalau dijadikan drama.” Sina menjawab asal karena kalau ia mengatakan yang sejujurnya sudah pasti Miyoung akan meminta dirinya menceritakan dari awal.

“Dasar.” Miyoung memukul pelan kepala adiknya. Ia pun berdiri dan meregangkan badannya “Aku ke toilet dulu ya.” 

#

“Ma-maaf!” Tao membungkukkan badannya berkali-kali pada bapak yang ditabraknya tidak sengaja. Ia pun kembali berlari menuju pintu kedatangan penerbangan dari luar negeri. Pulang terlalu malam kemarin membuatnya bangun kesiangan padahal semalam ia sudah berjanji akan menjemput sahabatnya Yixing tepat waktu.

Sampai di sana, orang lalu lalang sudah sepi, Tao menepuk keningnya merasa bersalah. Temannya ini sama sekali tidak berbahasa Korea, Tao sudah berulang kali menelpon ponselnya tapi tidak sekalipun tidak diangkat.

#

“Aaargh!” Yixing berteriak saat ponselnya masuk pada lubang kloset. Terselip jatuh ketika ingin memasukkannya pada kantong celana. Apa yang harus dilakukannya? Mengambil langsung? Astaga itu terlalu menjijikkan bagi Yixing. Ia pun segera membuka pintu toiletnya berharap di luar sana ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Sayang begitu membuka pintu justru ia dihadapkan pada wanita yang menjerit histeris begitu melihatnya.

___________________________________________________

Author’s note:

ye~heet, ohoorat! double update 

mari sambut tokoh baru kita Zhang Yixing!

Dan kalau kalian inget, yixing pernah kesebut sama tao di chapter2 sebelumnya, jadi dia ga murni tokoh kemarin sore gitu yang tau2 muncul.

chapter 18 udah diketiik ;; akhir2 ini pengerjaan pastel emang lagi produktif bgt ga ngerti kenapa.

Dan ops, ada spoiler detour di chapter ini o.o

go go go goo

18 thoughts on “Pastel #017

  1. Akhirnya pastel update! Double update lagi! >< ^^

    Aku suka chapter ini! Karena banyak moment Sina Tao. Dan aku rasa di chapter ini Sina udah gak abu- abu lagi (gak tau juga kenapa? Mungkin ini cuman feeling aja).
    Sebenarnya kenapa Sina bertanya tentang Song Qian di Miyoung? Apa jangan- jangan Sina cemburu Tao dekat dengan Song Qian?

    Aku juga suka sama posternya. Simple tapi enak diliat. Cewek yang di posternya itu siapa? Krystal F(x)?

    Ditunggu chapter selanjutnya ^^
    FIGHTING ^^9

    • gimana ya dibilang cemburu juga…yg jelas sina peduli sm tao🙂
      iya itu krystal tp itu bukan karena author shipping dia sm tao ya, author lebih suka pake girl band dr pada ullzang dan krystal yg paling pas buat karakter sina🙂

  2. Eheeeeem sejujurnya aku gak bisa berenti senyum pas baca ini sampe selesai aja aku masih diem trus senyum2 sendiri ngebayanginnya. Ahahhaa apa saya sudah gilaaa.. taosina membuat saya gilaaa :3
    Aku suka semua momen mereka di chapter ini. Pas tau nawarin minuman kaleng di halte ke sina. Pas tao ngomongin masalah kencan trus sina cemburu unyu gitu. Trus pas tao turun tangga dgn rambut basah aaaaaaah manly, cute, sexy semua bercampur jadi satu pas author ngedeskripsiin itu. Pas tao ngedeketin keplanya ke sina jugaa, polos tapi bikin jantungan rasanya haha. Beeeeeesssst banget deh puaaaas. Author jjang😀

    Sina juga udah terlihat cerah ini. Hahahaah semoga cepet2 saling mengungkapkan perasaan deh mereka hihi
    Sudah kuduga vic pasti cewek jahat. Iiiih sebeeeelll dia cuma manfaatin yifan doang dong? Kasian😦
    Trus enak aja mau rebut tao dari sina lagi. Eh tapi kalo miyoung sama kris out dari cerita sehun nnt sama siapa?? Aaah nnt sehun malah deket sama sina trus tao sama vic. TIDAAAAAAKK my taosina feels bisa broken nih thor u.u
    Oke aku serahkan semua sama author deh. Tapi jgn pisahkan taosinaaaa huhuhu

    Ooh dan yixing mau ngapain? Apa nnt ada konflik baru yg dia bawa dari china misal sebenernya tao udah nikah sama aku gitu? Ahaha sinetron bgt xD
    Aku tunggu chap selanjutnya. ^^
    btw, Posterbya lucu deh pastel banget huehehe
    Dan semangat buat detournyaaa. Aza aza fighting!😀

  3. Eheeeeem sejujurnya aku gak bisa berenti senyum pas baca ini sampe selesai aja aku masih diem trus senyum2 sendiri ngebayanginnya. Ahahhaa apa saya sudah gilaaa.. taosina membuat saya gilaaa :3
    Aku suka semua momen mereka di chapter ini. Pas tao nawarin minuman kaleng di halte ke sina. Pas tao ngomongin masalah kencan trus sina cemburu unyu gitu. Trus pas tao turun tangga dgn rambut basah aaaaaaah manly, cute, sexy semua bercampur jadi satu pas author ngedeskripsiin itu. Pas tao ngedeketin keplanya ke sina jugaa, polos tapi bikin jantungan rasanya haha. Beeeeeesssst banget deh puaaaas. Author jjang😀

    Sina juga udah terlihat cerah ini. Hahahaah semoga cepet2 saling mengungkapkan perasaan deh mereka hihi
    Sudah kuduga vic pasti cewek jahat. Iiiih sebeeeelll dia cuma manfaatin yifan doang dong? Kasian😦
    Trus enak aja mau rebut tao dari sina lagi. Eh tapi kalo miyoung sama kris out dari cerita sehun nnt sama siapa?? Aaah nnt sehun malah deket sama sina trus tao sama vic. TIDAAAAAAKK my taosina feels bisa broken nih thor u.u
    Oke aku serahkan semua sama author deh. Tapi jgn pisahkan taosinaaaa huhuhu

    Ooh dan yixing mau ngapain? Apa nnt ada konflik baru yg dia bawa dari china misal sebenernya tao udah nikah sama aku gitu? Ahaha sinetron bgt xD
    Aku tunggu chap selanjutnya. ^^
    btw, Posterbya lucu deh pastel banget huehehe
    Dan semangat buat detournyaaa. Aza aza fighting!😀

    • haha aku juga ga berhenti senyum waktu baca komen ini😉
      NAH sudah kuduga, adegan tao habis mandi bakal dikomentarin sm kamu lololol
      beberapa tebakanmu ada yg bener, karena author baik aku peringatkan buat siapin sapu tangan di chapter2 kedepan

  4. yak perjalanan masih panjang ..

    udah nonton showtime ep 7? full of Tao xD dan anehnya Tao yg di ep 7 mirip bgt sama yg digambarin di fanfic ini, Tao tu gapernah OOC disini hehe
    gr8 job ^^

  5. Yaah, kalo ada waktu jgn lupa nonton hehe ^^ tao polos banget, kan member cina jalan2 keliling seoul, pemandunya kyungsoo sama baekhyun (haha detour deh), tao tuh kaya anak TK, ga nyangka,. excited liat pemandangan excited naik namsan cable, terus bahasa koreanya yang belum lancar, dia manggil ajusshi jadi ajasshi, dan karena sangking excitednya dia ngomong campur2 pake bahasa cina, gak sadar gitu,.

    seneng sama pastel ya karna ini, karakternya gak OOC, huhu pikrachu-san semangat :’)

    • aku udah nonton yeay! IYAA Baeksoo di mana mana seneng banget. Lol aku juga ga nyangka bahasa korea tao beneran masih pas2 an😄

      okok semangat semangat ^^o

  6. Sina udah punya sinyal kalo dia itu suka atau gak ya peduli sama Tao. Tapi, Sina ga nunjukkin kalo dia itu suka Sehun
    Paling cuma Sehun yang ngerasa nyaman and aneh pas lagi bareng Sina, dia juga kayaknya udah ilang rasa ke Miyoung

    Sina PLEASEEE!!

    Awalnya aku mikir Song Qian itu cewek baik-baik yang setia dan ga suka ngerebut pacar orang, eh taunya..
    Aku juga penasaran fimana reaksinya Sina waktu denger Song Qian suka Tao. Ini bakal jadi petunjuk yang lebih jelas lagi.

    Dan siapakah di toilet itu?? Yeyyy kita punya YIXING alias LAY!! Kukira dia cuma bakalan kewat doang di monolog pikiran Tao kemaren. Wihh, pasti akan jadi lebih seru😀

  7. Sina jeles yaaaa sina jeles tuuuh aiiih hahahaha xD lucu ya perasaan kaya gitu tuh, pasti rasanya tuh ga rela gimanaaa gitu wkwkwk

    Yaampun song qian kenal sehun? Aduh dasar dunia sempit x_x ah sudah tercium dengan jelas kalo song qian tipikal tipikal cewe yg perangainya buruk.. waduh dulunya rivalan sama miyoung jangan sampe sekarang rivalan ama sina.

    Eeeeeeh ada laaaaay~~ wawawaw xD

    Oh iya itu yang sehun ditanyain apa yg tetjadi antara baekhyun-kyungsoo yg mana sih? Hahaha aku lupa CX

  8. Asyyiikk perasaan sina sekarang udah gk jelas (udah ada titik terang kalo dia itu suka tao :-D)
    kalo nanti sina sama tao mending sehun sama aku aja😀, pas tau kalo victoria itu cewek gk baik aku lgsung negship yifan ama miyoung pdahal blum ada momentnya abiiss si sehun kyak gk ada rasa ke miyoung

    itu yg ditoilet siapa ? Apa miyoung ? Dan lagi apa tao bakalan ketemu secara tdk kebetulan sama sina ?? Hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s