Post-It

post-it poster

Title : Post-It

Author : naminaya

Genre : Romance

Cast : Baekhyun, Han Chan Gi, Suho and Hya Ni

 

gif3

fanfic dengan cast EXO pertama dari aku… semoga cocok, dan semoga pada suka yaa🙂

Enjoy!😉

* * *

Truth or dare?” tanya Hya Ni dengan binar jahil di matanya.

Dare!” balas Chan Gi tanpa ragu.

“Yeah!” Hya Ni melompat ke udara dengan antusias.

“Apa?” tanya Chan Gi lagi, dengan agak malas. Chan Gi sudah sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Hya Ni, sahabatnya. Hya Ni begitu tergila-gila dengan drama-drama, ia bahkan ingin menjadikan hidupnya seperti drama. Namun, Hya Ni bukan tipikal gadis yang cantik yang bisa kencan dengan mudah. Akhirnya Hya Ni sampai pada keputusan untuk “mendramakan” hidup Chan Gi. Chan Gi tidak bisa dibilang antusias dengan ide itu.

“Ajak Byun Baekhyun kencan.” jawab Hya Ni sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagunya, pura-pura berfikir. Chan Gi berani bersumpah bahwa sebenarnya Hya Ni sama sekali tidak perlu berfikir untuk mengatakan hal itu.

Dari puluhan namja di sekolah ini…. Demi Tuhan, kenapa harus Byun Baekhyun?!

Chan Gi mengikuti arah pandang Hya Ni. Byun Baekhyun nampak sedang menempeli post-it ke punggung salah seorang temannya yang tidur tertelungkup di meja taman. Post-it itu telah ditulisi dengan kata-kata seperti, “Aku anak mami” atau “Aku seorang idiot sejati”. Senyum kecil terkembang di wajah Chan Gi.

“Sanggup?” tanya Hya Ni.

“Siapa takut.” gumam Chan Gi sambil bangkit dari duduknya. Berusaha mengabaikan jantungnya yang berdentum-dentum.

Chan Gi berjalan dengan langkah pasti menuju Byun Baekhyun. Mengajak Bakhyun kencan? Humf, cuma sepotong kue, pikir Chan Gi, menguatkan dirinya.

Chan Gi meraih post-it dari tangan Baekhyun tanpa menghiraukan tatapan kaget sekaligus bingung dari Baekhyun dan merogoh pena dari sakunya. Chan Gi menuliskan beberapa kata diatas post-it dan menempelkannya ke punggung teman Baekhyun yang masih tidur.

“Maukah kau berkencan denganku?” Baehyun membaca tulisan yang tertera di post-it dengan perlahan.

“Hhooaaamh! Mimpi indah, kurasa.” Chan Gi tidak mengenali wajah teman Baekhyun yang semula tidur seperti terhipotis. Cukup tampan, walaupun tak bisa dibandingkan dengan Baekhyun.

“Mimpi apa?” tanya Baekhyun dengan tawa ringan.

“Humm… Kurasa aku bermimpi menjadi anak mami yang selalu bertingkah seperti seorang idiot sejati. Bukankah itu konyol? Kebalikan dari sifat asliku banget kan?” jawab namja itu sambil mengacak rambutnya.

“Yeah, mimpi itu memprediksi masa depanmu.” Baekhyun berkata tanpa dosa, walaupun dia tahu betul apa yang menyebabkan temannya bermimpi konyol.

“Berdoa aja semoga nanti malam kau tidak meminta ibumu menemanimu tidur.” lanjut Baekhyun di sela tawa renyahnya yang secerah musim semi.

“Doakan nanti malam tak ada petir, aku takut petir.” gumam namja itu sambil mulai berjalan pergi perlahan-lahan.

“Ternyata post-it itu ajaib.” ujar Baekhyun mengangkat bahu, lalu ekor matanya menatap sosok Chan Gi yang mulai sibuk menggerak-gerakkan tangannya menjadi sebuah tarian kecil yang lucu.

“Oh, aku melupakanmu.” gumam Baekhyun sambil menepukkan telapak tangannya ke jidat, cukup untuk menarik perhatian Chan Gi.

Dengan itu Baekyun segera mengambil post-it dari meja dan menulisinya dengan satu kata dan segera berlari ke arah temannya yang sudah berjarak satu setengah meter dari posisi Chan Gi berdiri.

“Hei, Han Chan Gi!” teriak Baekhyun sambil menunjuk sebuah post-it berwarna oranye stabilo yang berada di punggung temannya, diantara belasan post-it warna-warni yang tertempel di kemeja putih itu.

Senyum lebar terkembang di wajah Chan Gi. Begitu menyadari hadirnya sebuah senyum, Chan Gi burur-buru mengusir senyum itu dari wajahnya dan menggatikannya dengan raut wajah datar yang setengah hidup ia usahakan agar kelihatan natural.

“Ada apa di punggungku?” tanya teman Baekhyun curiga, sambil mencoba menengok ke arah punggungnya. Akan tetapi, usahanya gagal, Baekhyun sudah keburu mendorong pelan pipi kawannya, mencegahnya melihat lusinan post-it di punggungnya.

“Kusewa punggungmu untuk mengiklankan diri, kau tahu, sewa baliho sekarang mahal sekali.” jawab Baekhyun ceria.

“Eh ya aku tahu. Kau sebaiknya mengosongkan dompetmu untuk biaya sewa. Punggungku lebih mahal daripada baliho.” jawab temannya lalu kembali berjalan pergi.

“Dompetku sudah kosong!” balas Baekhyun, sama sekali tak membutuhkan jawaban.

Baekhyun mengangkat bahu dan berlari ke arah Chan Gi lagi.

“Mengiklankan diri? Kau anak mami dan idiot sejati?” tanya Chan Gi sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Aku tahu keduanya tidak kedengaran cocok untukku. Tapi begitulah, aku harus sedikit berkorban demi lelucon yang kubuat.” lagi-lagi Baekhyun mengangkat bahunya.

“Jadi? Mau di mana?” tanya Chan Gi sambil melirik Hya Ni yang masih memperhatikan mereka dengan senyum yang terkembang dari kuping-ke-kuping.

“Bagaimana kalau di taman? Aku akan beli sandwich kalkun untuk kita.” usul Baekhyun.

“Setuju.”

“Kapan?”

“Malam ini? Aku bebas dari kegiatan malam ini. Lagi pula… semalam bulan sudah menjadi bulan cembung, jadi malam ini bulan pasti sudah purnama.” jawab Chan Gi sambil memain-mainkan jemarinya seolah mengkalkulasi peredaran bulan.

“Jenius. Aku suka malam-malam terang bulan. Jam berapa?” tanya Baekhyun lagi.

“Pukul 5 kita bertemu di taman, mungkin kita bisa menyaksikan matahari terbenam.” jawab Chan Gi. Sekarang ia nampak seolah sedang mengkalkulasikan peredaran matahari.

“Baiklah.” dari ekspresinya Chan Gi tahu bahwa Baekhyun terlihat bersemangat.

Chan Gi tak tahu apa yang telah merasukinya, tapi tiba-tiba saja Chan Gi maju selangkah dan menyentuh poni Baekhyun. Lalu dengan lembut dan setengah main-main Chan Gi merapikan poni Baekhyun. Baekhyun tertawa tertahan dam mulai salah tingkah.

“Kita ketemu lagi nanti malam. Sampai jumpa!” dengan itu, Chan Gi mudur dengan tenang walaupun Chan Gi merasakan sensasi aneh yang menyenangkan dalam perutnya.

* * *

“Han Chan Gi mengajakku kencan sore ini!” pekik Baekhyun di telefon sambil melompat ke udara.

“Wah, benar-benar hari keberuntunganmu!”

“Ya memang, entah mimpi apa aku semalam. Dan, apakah hyung bersedia membelikanku sandwich kalkun? Aku sudah berjanji padanya akan membawa sandwich kalkun untuk kita sore ini.” gumam Baekhyun di awang-awang.

“Itu mudah, aku akan selalu memastikan bahwa dongsaeng-dongsaengku mendapatkan makanan yang cukup. Oh ya, apakah Chan Gi sudah tahu bahwa kau naksir dia?”

“Kurasa belum. Tapi aku tidak akan menunggu lebih lama lagi, aku akan mengatakan padanya sore ini juga.” tekad Baekhyun, mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Semoga sukses. Yeoja sering kali sulit ditangani.”

“Tidak dengan Chan Gi. Dia sempurna.” gumam Baekhyun, mabuk kepayang.

“Hahaha… sepertinya kau memang sungguh-sungguh menyukai gadis itu.”

“Ya memang. Dan ‘gadis itu’ punya nama, Chan Gi. Nama yang sangat indah.”

“Aish sudahlah, jangan membuatku iri. Gadis impianku bahkan tak tahu kalau aku ada di bumi ini.”

“Maafkan aku hyung! Aku hanya terlalu bahagia.”

“Ya, aku tahu aku tahu… Semoga sukses dengan kencan pertamamu dan cinta pertamamu.”

“Aku punya firasat baik soal itu.” ujar Baekhyun dengan tawa kecil.

Lalu Baekhyun menutup sambungan telefon dengan hyung kesayangannya, Suho.

* * *

Tak sabar…. apa yang harus kukatakan padanya nanti? Apakah aku harus bersikap manis? Atau tetap menjadi diriku sendiri?

Aish… Han Chan Gi! Bagunlah! Kenapa namja itu bisa merasukimu begini parahnya?!” kesal Chan Gi pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya di depan cermin.

Chan Gi melirik jam tangannya, sudah hampir pukul 5. Chan Gi segera mengambil jaket denim untuk melapisi dress kuning gading tak berlengan yang ia kenakan. Lalu dengan penuh pertimbangan, Chan Gi memutuskan untuk memakai sebuah bandana biru dongker dengan pola rajut di rambutnya. Walaupun Chan Gi tidak pernah begitu suka memakai bandana. Tapi ia merasa dirinya nampak terlalu polos tanpa bandana itu.

“Baekhyun, aku datang.” gumam Chan Gi diiringi helaan nafas panjang.

Di sana. Di bangku taman itu. Menatap ke arah cakrawala. Byun Baekhyun.

“Hai. Aku tak tahu kau bisa nampak se-manly ini dengan kemeja.” sapa Chan Gi riang.

“Yah.. begitulah.. aku tak bisa menemukan dasi, jadi.. beginilah..” jawab Baekhyun canggung, Baekhyun yang periang dan iseng telah pergi entah kemana. Digantikan dengan Baekhyun yang pemalu dan canggung yang sama-sama menggemaskan bagi Chan Gi.

“Dan kau… kau terlihat luar biasa.” puji Baekhyun pelan diiringi dengan rona lembut yang perlahan tapi pasti merambati pipinya.

“Ah? Kau ini…” Chan Gi sebenarnya senang bukan kepalang, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk nampak natural seolah kencan ini memang hanya tantangan dari Hya Ni. Walaupun diam-diam, Chan Gi merasa kencan ini lebih serius daripada sebuah permainan truth or dare.

Chan Gi duduk di sebelah Baekhyun, namun masih tetap memberikan jarak diantara mereka. Sebenarnya Chan Gi hanya khawatir Baekhyun dapat mendengar degup jantungnya.

“Yah… Sesungguhnya, aku tidak percaya bahwa seorang Han Chan Gi sedang duduk di sampingku saat ini.” gumam Baekhyun, menunduk. Menolak bertemu mata dengan Chan Gi.

“Kenapa tak percaya? Aku hanya ‘seorang Han Chan Gi’ biasa.” jawab Chan Gi sambil memelintir ujung dress selututnya.

“Jangan merendah.” jawab Baekhyun mengangkat pandangannya ke arah cakrawala yang membentang.

“Matahari sudah akan tenggelam.” ujar Chan Gi lirih.

Baekhyun dengan perlahan menggeser duduknya merapat pada Chan Gi. Dengan ragu-ragu mengangkat tangan kirinya ke belakang punggung Chan-Gi. Setelah pertarungan batin yang sengit selama beberapa saat akhirnya Baekhyun memutuskan untuk meletakkan tangannya di sandaran kursi belakang Chan Gi.

Chan Gi mengalihkan pandangan dengan malu, berdoa dalam hati agar pipinya tidak nampak memerah karena saat ini saja pipinya sudah terasa memanas.

Mereka menyaksikan matahari tenggelam dalam kebisuan yang magis. Baekhyun mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk meletakkan sebelah tangannya di bahu Chan Gi, setengah merangkul gadis itu.

Di sisi lain, Chan Gi tidak menolak. Chan Gi malah menyukai kahangatan yang Baekhyun berikan. Mungkin Baekhyun memang tidak berbuat banyak, tapi Chan Gi merasa seolah Baekhyun telah memberikan seluruh keindahan dunia kepadanya.

Sore itu, dua insan paling berbahagia di bumi ini duduk berdampingan di bangku taman seolah mereka memang tercipta untuk bersama. Seolah Baekhyun lahir untuk merangkul Chan Gi dan Chan Gi lahir untuk berada dalam rangkulan Baekhyun.

Matahari sudah habis ditelan cakrawala. Bulan muncul, menyorotkan sinar keperakannya khusus untuk Baekhyun dan Chan Gi.

“Kau benar. Malam ini memang terang bulan.” gumam Baekhyun sambil mengeratkan rangkulannya.

“Aku tidak heran bahwa ternyata perhitunganku tepat.” jawab Chan Gi dengan tawa kecil.

“Kau sudah lapar? Sesuai janjiku, aku sudah membawa sandwich kalkun untuk kita.” Baekhyun merogoh kanting plastik yang tergeletak di tanah di sebelah kursi taman. Untuk sesaat Baekhyun melepaskan rangkulannya. Chan Gi berusaha mengabaikan rasa dingin yang terasa begitu Baekhyun melepaskan rangkulannya.

Chan Gi nemerima sandwich yang dioperkan Baekhyun kepadanya. Mereka makan dalam diam, menikmati kehadiran satu sama lain dalam kesunyian malam. Malam itu taman nampak lengang, jangkrik dan kodok mulai memainkan musik pengiring untuk mereka, dan bulan menyinari mereka seperti lampu sorot keperakan.

Seluruh alam seolah ikut serta menyiapkan kencan mereka. Semesta mendukung.

“Kau diam sekali malam ini. Biasanya kamu heboh.” komentar Baekhyun tanpa menatap mata Chan Gi.

“Kau sendiri. Tidak seperiang dan sejahil biasanya malam ini.” balas Chan Gi. Baekhyun hanya tersenyum dan menghela nafas gugup.

“Kau tahu? Kupikir aku menyukai senyummu.” ucap Baekhyun lancar.

Chan Gi diam.

“Dan kupikir aku juga menyukai caramu berbicara.”

Chan Gi masih tak bergeming.

“Aku juga menyukai tawamu.”

Chan Gi masih diam seribu bahasa.

“Aku menyukai suaramu yang riang.”

Angin berhembus tenang di sekeliling mereka.

“Aku menyukai penampilanmu setiap harinya.”

Sehelai daun meluncur lembut ke kepala Chan Gi.

“Aku menyukai tarian-tarian kecilmu.”

Baekhyun mengusap daun itu dari kepala Chan Gi.

“Aku juga menyukai caramu menyantap sandwich tadi.”

Baekhyun mengeluarkan post-it dari kantungnya. Menuliskan sesuatu di atas post-it tersebut dengan pena. Lalu menarik post-it yang sudah ditulisi dan menempelkannya di paha Chan Gi.

Saranghae, Han Chan Gi

Seulas senyum tersinggung di wajah Chan Gi. Jika orang berkata bahwa Chan Gi terlihat santai, itu salah besar. Han Chan Gi belum pernah segugup ini sebelumnya. Dengan lembut Chan Gi mengambil post-it dan pulpen dari tangan Baekhyun dan mulai menuliskan sesuatu.

Chan Gi menempelkan post-it yang sudah ditulisi di paha Baekhyun.

Aku tersanjung

Baekhyun menulis di selembar post-it lagi.

Hanya tersanjung?

Chan Gi membalas.

Saranghae, Byun Baekhyun

Baekhyun tersenyum puas dan memungut semua post-it. Lalu menatap Chan Gi tepat di mata gadis itu. Sebuah janji tak terucap. Yap. Mereka telah resmi bersama. Tidak diucapkan, tapi mata mereka berbicara banyak. Dari cara Baekhyun menatap Chan Gi, kita nyaris bisa melihat cinta. Ya, cinta. Cinta dalam wujud yang sebenarnya.

“Apakah aku terlihat berbeda?” gumam Baekhyunsambil berdiri dari duduknya. Ia bahagia, tapi bokongnya sudah meraung karena telah duduk selama berjam-jam.

“Tidak juga.” jawab Chan Gi, mengikuti Baekhyun berdiri dari duduknya.

“Coba kau perhatikan lebih teliti lagi.” ujar Baekhyun, memasang senyum jahilnya.

Chan Gi mengamati Baekhyun dari ujung rambut hingga ujung kaki, tapi Baekhyun terlihat sama seperti biasanya. Tampan dan memancarkan aura riang yang manis.

Chan Gi menggeleng sebagai jawaban.

“Kau pengamat yang payah.” ujar Baekhyun dengan tawa kecil dan senyum lebar.

“Katakan padaku apa yang berbeda darimu.” pinta Chan Gi, terlanjur penasaran.

“Baiklah. Aku tidak merapikan poniku sebelum berangkat ke sini.” jawab Baekhyun sambil meniup poninya.

“Haha… sekarang aku mengerti.” sekarang Chan Gi baru menyadari bahwa poni Baekhyun memang berantakan.

Chan Gi maju selangkah dan mulai merapikan poni Baekhyun. Belum sampai 5 detik Chan Gi menelusurkan jemarinya di ujung-ujung poni Baekhyun tiba-tiba ia merasa lengan Baekhyun naik ke punggungnya dan seketika menarik Chan Gi merapat Baekhyun. Butuh waktu lebih sedetik bagi Chan Gi untuk menyadari bahwa dirinya tengah dipeluk.

Terima kasih Hya Ni,” batin Chan Gi sambil mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Baekhyun.

* * *

Akhirnya fanfic cast EXO pertamaku kelar jugaaa :”’)

Gimana?

Fanfiction ini aku dedikasikan khusus untuk kakak kelasku yang paling kece, sebagai hadiah ulang tahunnya… maaf ngepost nya telat.

happy bday gif

OH YA, WAITING FOR INPUTS FROM READERS YEAH😀

with love,

naminaya~

 

11 thoughts on “Post-It

  1. INI BAGUS BANGET!! SENYUMSENYUM SENDIRI GITU BACANYA MASA. SAMPE KETAWA MALAH gadeng. tapii huuuh :””””)) speechless gak tau mau komen apa lg. daebak deh pokoknya!! bikinin lagi….

  2. Waktu bagian ‘semesta mendukung’ aku langsung speechless terus kalimat2 confess baekhyun bener2 bikin aku blushinggg

    AAARGHH naaay pinter banget kamu bikin adegan confessnya meskipun cheesy tapi suka suka suka banget banget banget c:

    sebagai fans exo aku menyatakan fanfic exo pertamamu BERHASIL
    Good job! bikin lagi ya kalau bisa starring kyungsoo

  3. Hiyaaa.. GILA GILA, berani banget ngajak Baekhyun kencan pake acara ngerapihin poni Baekkie lagi. Hihihihi

    Aku ngerasa terbang waktu baca pengakuan2 kecil dari Baek.. Itu manis, tau ga sih?? Aku rasanya kayak orang mabuk yang linglung plus ngikik2 dengan oh so tidak anggunnya, setelah ngebayangin adegan romantis di taman itu

    . Keren
    P.S Aku suka banget kata2 Suho di telepon, ratapan pria tak dianggap. kkkkekekk~~ ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s