PASTEL #018

poster edisi Tao

#018

Miyoung sedang mencuci tangan terburu-buru, Sina baru saja mengabari orang tua mereka sudah sampai. Baru saja ingin mengelap tangannya terdengar suara teriakan pria dari dalam kubin. Ia terperanjat, tapi selama belum melihat dengan mata kepala sendiri ia masih berusaha berpikir orang yang berteriak itu hanya wanita yang sedang sakit tenggorokan.

“Kyaaaa!” Usaha Miyoung untuk berpikir positif gagal karena orang yang keluar itu benar-benar laki-laki. Rasanya ingin menjerit mengatakan ada seorang maniak yang masuk toilet wanita tapi melihat laki-laki itu malah terlihat lebih panik dari dirinya Miyoung berusaha menahan mulutnya yang terus ingin berteriak.

“Ini—toilet wanita kau tahu kan?”

Si laki-laki tidak bisa melakukan apa-apa selain membuka mulutnya menganga sama kagetnya dengan Miyoung. Miyoung makin frustasi tapi selanjutnya terdengar kalimat panjang yang menjelaskan semuanya. Ia pun menarik napas dan memandang laki-laki itu “Can you speak english?

#

Harusnya saat ini Tao sedang membuat panggilan anak hilang atau setidaknya berkeliling mencari sahabatnya Yixing, tapi nyatanya di tengah-tengah usaha pencariannya seorang ibu muda yang baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri berlari menghampirinya.

“Hei anak muda, bisa tolong menjaga anakku sebentar?” Wajah si ibu terlihat panik membuat Tao makin bingung

“Heh?” Masih dengan posisi yang sama Tao tidak bisa merespon apa-apa.

“Tolong jaga dia sebentar ya, aku harus ke toilet.” Tidak menunggu jawaban dari Tao wanita itu langsung menjulurkan bayinya membuat Tao mau tidak mau menerimanya. Ia masih memandang bingung pada si ibu tapi wanita itu tampak tidak peduli apakah Tao bersedia atau tidak, ia segera membalikkan badannya dan berlari menuju toilet. Sementara Tao yang masih menjadi patung dengan tangannya yang menggendong bayi hanya bisa melongo sampai akhirnya bayi itu mulai mengeluarkan sebuah isak tangis.

Tao menggigit bibirnya, ia tidak tahu soal bayi bahkan membedakan ini perempuan atau laki-laki itu pun ia tidak bisa. “Aku ini orang baik, kau tenang  bersamaku.” Tao berkata pelan berusaha tidak panik, pengalamannya menjaga bayi hampir nol. Sambil berjingkat-jingkat ia mengangkat bayi itu bersandar pada bahunya, tangannya menepuk pelan punggung si bayi sambil menyenandungkan lagu anak favoritnya. Hanya itu cara yang ia tahu bagaimana cara menenangkan seorang bayi yang tangisannya sudah berada di ujung tanduk.

“Ayo anak baik jangan men—YIXING!”

Si bayi langsung menjerit tepat ketika Tao meneriakkan nama temannya yang tiba-tiba lewat.

“Astaga apa yang harus kulakukan?” Tao semakin panik, sekarang tidak penting lagi apakah Yixing mendengarnya atau tidak, tangisan bayi ini sukses membuatnya menjadi pusat perhatian. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Tao tahu seorang bayi tidak akan mengerti apa yang Tao bicarakan, tapi bagaimanapun juga itu mengurangi rasa bersalahnya.

“Hentikan tangisanmu, orang-orang akan mengira aku menculikmu.” Tao memandang si bayi gemas, ia mulai mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, hal yang selalu ayahnya lakukan padanya dulu.

“Tao!”

Tao langsung menengok, setengah berharap yang memanggilnya itu si ibu tapi mengingat mereka belum berkenalan Tao yakin itu tidak mungkin. “Yixing! Maaf aku terlambat, bagaimana kau—“

“Berikan bayinya padaku.” Perempuan di sebelah Yixing memandang Tao prihatin. Tao langsung menyeringai dan memberikannya “Aku tidak sengaja berteriak di dekat telinganya.”

Miyoung menghela napas “Dan karena itu si bayi menjerit sehingga kami menyadari keberadaanmu.” Berada di dekapan Miyoung membuat bayi itu mulai tenang. Tao menghela napas dan tersenyum, sementara Yixing yang berada di sebelah wanita itu ikutan bermain dengan bayinya. Suasana menjadi canggung bagi Tao melihat sekarang temannya dan wanita yang tidak dikenal menjadikan dunia seolah milik berdua.

Ah! Siapa wanita itu! Tao belum bertanya.

“Yixing? Dia kekasihmu?” Dalam bahasa China Tao menanyakan temannya.

Yixing yang sempat tenggelam bermain dengan si bayi yang ingin menjilat jarinya segera menggelengkan kepalanya “Tidak, dia yang membantuku saat tersesat. “

Yixing melirik pada Miyoung, mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi ia baru ingat sekarang ia sudah menginjak Korea, bahasanya tidak berlaku disini. Ia pun pun menghela napas dan kembali memandang Tao “Lebih kita pulang sekarang Tao, ada hal yang harus kuceritakan padamu.”

Tao hanya mengangguk, ia pun meraih tas bayi yang ibu itu letakkan di bawah kakinya. “Maaf, kami harus pergi, bisa aku titipkan bayi ini padamu? Ibunya sebentar lagi datang.”

Miyoung yang baru saja tersenyum melihat bayi itu menerima dirinyanya langsung membulatkan matanya “Hei aku juga punya urusan, aku tidak bi—“

“Terima kasih! Kami akan mengingat jasamu!” Tao yang sungguh ingin menghindar dari bayi yang serasa membencinya itu segera meletakkan tas bayi di samping kaki Miyoung dan berlari pergi diikuti Yixing yang melihatnya kebingungan. “Go— ma..wo!” Yixing berkata terbata-bata sambil menengokkan kepalanya pada Miyoung.

Miyoung hanya bisa menganga, tidak mengerti apakah ini sebuah kesialan atau sebaliknya, keberuntungan?

#

“Hentikan ibu.” Sina berkata malas sambil mengelap pipinya yang baru dicium oleh ibunya. “Aku tahu ibu merindukanku tapi tetap saja sekali ciuman sudah cukup.”

Ibu  Sina hanya tertawa kecil dan merangkul Sina “Ngomong-ngomong di mana Miyoung?”

“Dia ada di depan Tom N Toms© tidak bisa kemana-mana karena harus menjaga bayi.”

“Bayi? Bagaimana bisa—apa dia..”

“Seseorang menitipinya bu.” Sina langsung memotong tepat sebelum seluruh drama yang ibunya pikirkan keluar. Ayah Sina yang daritadi sibuk dengan ponselnya ikut berjalan di samping Sina. “Bagaimana kabar Jinki sekarang?”

Sina terdiam agak kaget ternyata Miyoung belum memberitahu kedua orangtuanya, yang ia tahu Miyoung selalu menceritakan apapun yang terjadi di hidupnya pada orangtua mereka. “Mereka sudah putus.”

“Putus? Bagaimana bisa? Padahal aku sudah membelikan banyak oleh-oleh untuknya!” Ibu Sina terlihat terlalu dramatis, yah mungkin dari situlah Miyoung mendapatkan sifat drama queennya. Sina mendengus, ia rasa tidak salah kalau dirinya sendiri yang memberitahu lagipula pada akhirnya mereka akan tahu kan? “Ibu bisa memberikan oleh-oleh itu pada pacar barunya.”

“Secepat itu dia sudah punya pacar baru?” Kali ini giliran ayahnya yang kaget.

“Seperti tidak kenal Miyoung saja! “ Sina yang gemas menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingat waktu kakaknya putus dengan Yoseob pun orang tuanya langsung kaget.

Sementara ibu Sina terus meruntutkan pertanyaan Sina hanya membalas dengan gelengan, anggukan atau sekedar ‘aku tidak tahu.’

“Sina! Ayah! Ibu! “ Suara familiar terdengar. Ketiganya yang dipanggil menengok berbarengan dan melihat Miyoung duduk di salah satu kursi cafe dengan bayi di pangkuannya. Sina mengernyit dan memincingkan mata, ia kira perihal penitipan anak hanya bercanda, ternyata Miyoung benar-benar mengurusi anak orang asing.

“Apa dia memberikan bayinya padamu?” Sina bertanya sekalipun jelas jawabannya tidak mungkin. “Ibunya sibuk mengurus imigrasi,  bisa tolong gendong dia? Aku benar-benar pegal.”

Sina mengangguk dan menggantikan posisi Miyoung sementara kakaknya langsung berdiri dan melakukan reunian dengan kedua orang tuanya. Sina yang tidak terbiasa dengan bayi hanya bisa menggoyang-goyangkan bayi ini ketika memangkunya, mungkin si bayi akan merasakan ia sedang duduk di atas wahana, begitu yang Sina pikir.

“Ada seorang laki-laki yang seenaknya kabur dan memberiku bayi ini.” Miyoung berkata dengan malas, mengingat peristiwa pemuda China bersama temannya yang seenaknya kabur itu. 

“Maksudmu?” Sina tidak mengerti.

Miyoung menghela napas dan menengok pada ayah ibunya “Bagaimana kalau kita minum dulu?”

Ibu Ahn segera mengangguk diikuti dengan ayahnya yang langsung mengambil kursi kosong terdekat. Miyoung pun segera duduk di depan Sina “Tadi aku ke toilet dan bertemu laki-laki China yang salah masuk.”

“Lalu?”

“Karena dia tampan dan terlihat menyedihkan aku membantunya.” Miyoung berkata sambil tersenyum tapi selang beberapa detik kemudian berganti menjadi wajah kecut. “Tapi laki-laki ini benar-benar tidak bisa apa-apa, bahasa Inggrispun tidak bisa, aku ingin memanggil petugas tapi ia menarik tanganku seperti memohon padaku jangan melakukannya. Akhirnya kami berdua berjalan entah ke arah mana, dan untungnya tidak cukup lama kami mendengar jeritan seorang bayi.”

“Dan apa hubungannya si laki-laki dengan bayi? Ah maksud unnie bayi ini?” Sina bertanya.

Miyoung mengangguk dan mengelus kepala bayi itu “Iya bayi ini, seseorang laki-laki membuat bayi ini menjerit tapi itu hal baik juga karena ternyata, laki-laki yang membuat bayi ini menangis teman si laki-laki China itu.”

Sina mendengus dan tertawa kecil “Hah kebetulan sekali, jangan-jangan laki-laki itu sengaja membuat bayinya menangis untuk mendapat perhatian?”

Miyoung tertawa dan mengendikkan bahunya “Bisa jadi, dan setelahnya laki-laki itu langsung kabur dan menitipkan bayinya padaku! Apa dia tidak takut menitipkan anak orang lain pada orang asing sepertiku? “ Miyoung menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tetap tersenyum geli.

#

Bibi Huang menengadahkan kepalanya melihat langit biru yang begitu cerah. Berangin dan panas, cuaca sempurna untuk menjemur baju. Sambil menyenandungkan lagu lama ia kembali mengangkat satu baju dari ember dan menjemurnya. Kepalanya kembali digelengkan entah untuk yang keberapa kalinya melihat kaos putih Tao yang ternoda oleh tanah. Keponakannya itu benar-benar ceroboh dan tidak mengerti betapa merepotkannya kecerobohannya itu bagi bibinya. Hampir setiap hari Tao selalu kembali dengan baju kotornya, seperti anak kecil yang bermain sepuasnya seolah hari itu menjadi hari terakhirnya bermain.

“Tanah lagi.” Bibi Huang mendecak ketika menemukan satu baju Tao masih memiliki bercak tanah yang sulit dihilangkan. Sebenarnya apa yang anak itu lakukan saat bermain basket sampai sekotor ini? Bibi Huang terus bertanya keheranan.

“Ahjumma!” Suara keponakannya terdengar. Ia langsung berjalan menuju halaman depan ingin menanyakan langsung kenapa bajunya bisa sekotor itu. Hanya saja begitu ia melangkahkan kakinya sampai di depan pagar keponakannya ini kembali membawa kejutan.

“Kejutan! Yixing datang!” Tao berteriak begitu selesai membantu Yixing mengeluarkan tas-tasnya dari bagasi taksi.

Mata bibi Huang membulat tidak percaya, kedua tangannya menggosok matanya memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. “Yixing!? Zhang Yixing!?” Ia berseru dan berlari menghampiri pemuda yang sedang menyeringai padanya.

“Halo bibi.” Yixing tersenyum dan melambaikan tangannya. Meskipun ia dan Tao tidak bersaudara, sebagai teman masa kecil laki-laki ini, keluarga Tao sudah sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

“Bagaimana bisa kau di sini? Kau akan tinggal di sini kan? Kenapa tidak mengabariku?” Runtutan pertanyaan langsung keluar, Tao yang ikut senang ingin membiarkan bibinya dan Yixing berbicara dulu sehingga ia memilih masuk duluan membawa koper sahabatnya itu.

“Ada pertukaran pelajar di tempatku kuliah jadi aku akan tinggal di Seoul selama empat bulan. Tao bilang aku bisa tinggal bersama kalian. Dan Tao juga bilang jangan mengabarimu untuk memberimu sebuah kejutan.” Yixing menjawab seluruh pertanyan dengan pelan dan dipenuhi senyuman.

Bibi Huang hanya tertawa dan menepuk-nepuk punggung Yixing. Ia tersenyum “Kau akan menyukai Seoul, aku yakin.”

Yixing ikutan tertawa dan mengangguk pasti “Aku sudah menyukai Seoul, firasatku mengatakan tinggal di sini akan menyenangkan.” Ia tersenyum dan mengangkat kepalanya melihat langit cerah yang serasa mewakili perasaannya. Perempuan yang membantunya itu, Yixing yakin sesuatu akan membuat mereka bertemu lagi, dan saat kesempatan itu muncul ia tidak akan melepaskannya.

#

#

Sebulan hampir berlalu terasa begitu cepat. Rutinitas yang sama terus berjalan meninggalkan kesan yang berbeda untuk setiap orang. Sina mengikuti kelas musim panasnya serajin yang ia bisa, di samping teman-temannya sudah mulai mengisi angket di mana mereka akan kuliah Sina berusaha tidak peduli sekalipun angketnya sendiri masih terkubur di tumpukan kertas paling bawah.

Miyoung sudah menyelesaikan semua urusannya, keluarganya tidak menentang sama sekali soal keputusannya melanjutkan studi ke Wina, bahkan kekasihnya Sehun pun memberi reaksi yang tidak jauh berbeda dengan Sina, sekedar ucapan selamat formalitas. Hubungan jarak jauh sama sekali tidak pernah menjadi pembahasan mereka dan sejujurnya Miyoung tidak ambil pusing soal itu, bagaimanapun juga yang ia percaya hubungan mereka akan terus berjalan. Entah sejak kapan kepalanya dipenuhi dengan semangat belajar, ribuan resolusi yang akan dilakukannya begitu pindah ke Wina nanti. Miyoung juga baru tahu kalau ia bisa bertahan hidup sekalipun tidak mendapat panggilan telpon dari Sehun.

Huang Zitao bersama teman wanitanya menjalin hubungan yang baik. Selain mereka bekerja di tempat yang sama, perempuan ini secara kebetulan datang ke toko rajutan milik bibi Huang. Tao bertanya apa ia punya alasan untuk terus bertemu Song Qian? Bagi Tao itu tidak penting tapi perempuan ini selalu membuat prinsip Seukri makin dipertanyakan, tapi lebih dari itu Tao rasa ia kehilangan seseorang.

Oh Sehun menikmati hidupnya, tidak lagi dipusingkan pada pertanyaan apa-Miyoung-bagimu kini ia memilih memfokuskan perhatiannya pada hal lain. Libur musim panasnya mendapat kejutan, seseorang dari sebuah agensi terkenal menawarinya sebuah tawaran saat perjalanan pulangnya dari sekolah. Tidak ada yang tahu soal itu selain Sina dan Jongin yang kebetulan pulang bersamanya. Kartu nama si manajer masih tersimpan di laci meja belajarnya ia bahkan lupa memberitahu ibunya kalau ia mendapat kesempatan menjadi seorang trainee.

#

#

Sehun mengancingkan kemejanya, sambil menatap cermin ia menghela napas, keputusannya sudah bulat hari ini. Awalnya ia memang telanjur membiarkan semuanya berjalan begitu saja, menghindari akhir hubungannya dengan Miyoung dan memilih membiarkan perempuan itu yang memimpin jalannya hubungan. Tapi kali ini Miyoung dan Sehun tidak jauh berbeda, mereka berdua sama-sama merasa hubungan ini akan baik-baik padahal dalam hati keduanya tahu berpura-pura merupakan hal yang mereka jalankan untuk beberapa minggu terakhir.

Tidak seperti biasanya, Sehun memutuskan hal ini tanpa sepengetahuan Jongin. Kali ini ia harus memikirkannya sendiri, ketika Miyoung lah yang mengawali hal ini dan perempuan ini terlalu takut untuk mengakhirinya, mungkin Sehun harus mencoba mengambil langkah.

“Kau pergi ke mana Sehun? Bukankah kelas musim panas sudah selesai?” Ibu Oh beranjak dari sofanya melihat Sehun terlihat begitu rapi pagi itu.

Sambil mengambil sepatu dari rak sepatu Sehun menengok pada ibunya, berusaha memasang ekspresi straight face seperti biasa. “Mau pergi ke rumah Kai.” Sehun berbohong.

Ibu Oh terkekeh, ia segera menghampiri anaknya yang sedang duduk di depan pintu depan memakai sepatunya. Nalurinya sebagai ibu cukup kuat, Sehun memang pintar untuk menjaga ekspresinya tapi kemampuan itu tidak cukup tinggi untuk mengelabui ibunya “Kau gugup ya? Bahkan memasang kancing pun tidak benar.” Ujarnya sambil membenarkan kancing kemeja anaknya ke dua dari atas.

Sehun menelan ludah dan menyeringai “Untuk apa bertemu Kai saja gugup? Baiklah aku berangkat ya.”

Melihat anaknya masih keras kepala tidak memberitahu alasan kepergian sebenarnya ia langsung mendecak dan mengacak anak rambutnya yang terlihat sudah ditata susah payah “Sana pergi!”

Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengangguk dan segera membuka pintu rumahnya. Sekali lagi ia bicara pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan dirinya kalau tindakannya memang benar.

#

Huang Zitao menemukan hobi barunya, sekalipun hal itu sempat membuatnya seharian berada di rumah karena kedua lututnya yang terluka ditambah kaki kiri yang terkilir ringan. Tapi sepertinya perkataan pengalaman guru terbaik berlaku pada Tao.

“Wow Tao aku rasa kau hampir menyamaiku.” Luhan bertepuk tangan selesai melihat Tao berseluncur dari turunan yang cukup terjang dengan skateboardnya. Tao langsung menyeringai “Kau punya dua skate kan? Boleh aku pinjam skate ini?”

Luhan mendengus tapi akhirnya mengangguk. “Boleh tapi traktir aku makan siang, sekarang.”

Tidak perlu menimbang lagi, Tao merelakan dompetnya yang menipis dan segera mengangguk.

Sementara Tao menaiki skate  menuju minimarket terdekat Luhan yang membawa sepeda berhasil membalap Tao. “Aku tunggu! Ayo yang cepat! Sebentar lagi aku ada les!” Luhan berseru sambil terus mengayuh sepedanya meninggalkan Tao.

Tao hanya tertawa dan mengangguk-ngangguk merasa senang bisa menggunakan skate Luhan hanya dengan membelikan laki-laki itu makan siang. Sambil memasang headphone pada telinganya mendengar G-Dragon-Crooked  Tao mempercepat kecepatannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan baru masuk, sambil sekali-kali melirik pada jalan ia membaca isi pesan dari ahjummanya, matanya mengernyit saat membaca pesan itu, antara panik dan merasa konyol, baru saja ia ingin mengangkat kepala seruan panik terdengar.

 “S-stop!!”

Dan Tao terlambat.

Sebuah kecelakaan kecil terjadi. Entah kesalahan disebabkan oleh siapa yang jelas masing-masing pihak tahu sekarang mereka berdua bermasah.

#

Sina menggayuh sepedanya malas-malasan. Kalah suit dengan Miyoung membuatnya harus mengantar kimchi lobak yang mereka buat kebanyakan pada neneknya. Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa jengkelnya Sina sekarang karena ibunya memaksanya untuk segera berangkat padahal drama baru yang ditunggu-tunggunya baru saja tayang. Ditambah ketika Sina meminta uang taksi (karena ia malas mengambil bus) ibunya menolak dan menyuruhnya menaiki sepeda, mengatakan pipi Sina terlihat lebih bulat karena kurang olahraga.

Sina memasang earphonenya menyetel lagu soundtrack drama yang dinyanyikan idolanya Yesung dari Super Junior. Tanpa banyak melihat sekeliling, Sina segera menyebrang jalan sekalipun lampu hijau yang menyala, ia mendapat beberapa hardikan dari pengendara motor tapi tidak satupun masuk pada telinganya.

Tepat ketika berada di klimaks lagu, ponselnya berdering, dan dari nada deringnya itu ia tahu Miyoung lah yang menelpon.

“Ada apa unnie?” Sina bertanya, agak dingin karena ia merasa kakaknya curang ketika suit.

“Kau di mana? Masih mengantar makanan?” Suaranya tidak meninggi tidak seperti Miyoung yang biasanya, sesuatu telah terjadi dan Sina yakin itu bukan hal yang menyedihkan. Miyoung kalau senang pasti segera berteriak, kalau sedih langsung menangis, dan kalau datar seperti ini, karena ia sendiri tidak tahu apakah itu hal yang menyenangkan atau sebaliknya. “Ya aku masih mengantar, ada apa?”

Kali ini terdengar tawa kecil kakaknya, Sina makin penasaran “Apa apa? Jangan basa basi seperti ini aku sedang bersepeda”

“Aku dan Sehun selesai.”

Mata Sina yang setengah mengantuk saat itu juga sepenuhnya terbuka, tapi hal itu tidak berarti membuatnya memperhatikan jalan karena otaknya langsung sibuk mengingat ulang seluruh percakapannya pada Sehun. Satu persatu-satu persatu memori tentang Miyoung dan Sehun begitu saja kembali berputar hingga akhirnya mata Sina menangkap siluet orang yang datang mendekat ke arahnya, tidak bisa melakukan banyak hal selain berteriak Sina makin dibuat kaget menyadari Tao lah yang sekali lagi datang membawa kejutan pada hidupnya.

“S-stop!!” Teriakan Sina terhenti ketika mereka berdua sama-sama menyadari semuanya telanjur terlambat. Tao yang menabrak sepeda Sina tidak bisa menjaga keseimbangannya hingga tubuhnya pun mau tidak mau menimpa sepeda itu, Sina yang kalah kekuatan membuatnya terdorong ke belakang. Tubuhnya memang ditimpa sepeda tapi kepala Tao jatuh tepat berada di atas wajahnya. Mata Sina serasa ingin meloncat keluar menyadari sebuah bibir bertubrukan dengan bibirnya sendiri. Dan kabar buruknya, saat itu keduanya hanya bisa membeku.

_______________________________________

Author’s note

OOPS Taosina shipper mana teriakannya?

HAHA oke aku tau ini adegan drama bgt tp author butuh scene ini untuk bikin cerita mereka berkembang, kita butuh klise!

daaaan dari awal author emang ga niat  miyoung-sehun kalian juga nyadar kan? ;; makanya author seneng bgt akhirnya mereka putus juga.

Eniwei bakal ada double update karena aku ga tau kapan bisa ol lagi.

Oh iya! Selamat ulang tahun buat kyungsoo-kun❤ telaat dan harusnya diucapin di author’s notenya detour tp yaudahlahya.

7 thoughts on “PASTEL #018

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! YEHEEEETT TAOSINA FIRST KISS!! INI HARUS DI RAYAKAAAAN :3 sumpah ya ini aku histeris kayak gak waras wkwkw
    Okeee okeee
    Pertama part ini pendek, alurnya cepet. Dan endingnyaa dahsyaaaaaaatt hahaaa
    Sebenernya ini kaget antara kissing sama liat part 19 udah di post wkwk author bener2 produktif bgt :3 sukasukasuka

    Nah, yixing baru nyampe ke seoul udah nyantol aja sama cewek korea. Tapi aku sehati sama yixing nih. Kayaknya bakal ada sesuatu sama dia dan miyoung dan kayaknya aku bakal suka sama apa yg akan terjadi diantara mereka berdua jihihi

    *terima tisu dari author* aku bakal nyiapin hati, mental dan airmata buat part2 selanjutnya. Juga kalo author mau aku juga bakal banyak ngomel nanti. Tapi jgn parah2 ya thor. Kasiaaan taosinaaa :”(

    Gak tau lagi mau ngomong apa haha see you di komen atas dah😀 xo

  2. Oh yeahh.. Yixing suka Miyoung. Bagus, bagus
    Dan Sehun udah mutusin Miyoung. Yess..

    TA-TAPI, Tapi
    APA-APAAN ITU?? TAO SINA KENAPA, KENAPA KENAPA CIUMAN??
    Pikrachu tega tega tega TT.TT Mana itu sama2 Ciuman pertama mereka TT.TT
    HUWEEE GA RELAAA GA RELAAA *makan tisu*
    Ga sanggup baca next chapter.. SEHUUUNN KAMU DI MANAAA??? ;( ;(

  3. Are they kissing? Kissing?? Kissing??? Taosinaaa?? Aaaaaaaaaaaaaaaa ><

    Sehun mutusin miyoung akhirnyaa.. yaa emang sih keliatan kok kalo mereka tuh ga serius. Hebat sehunku bisa mutusin cewe! Hahahaha xD

  4. Aku juga seneng miyoung sehun putus, itu artinya sina sehun punya kesempatan, dan tao, aduuuuuh kenapa selalu tao yg ngerebut kisseunya sina???? Waeee?
    SinaXsehun shipper~

  5. oh noooooo knapa harus tao hiks ,padahal udah seneng shun ptus ma miyoung,aduh jadi takut baca caphter betkutnya
    Ayoo SEHUNNN ambil sinaaa >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s