Pastel #019

# 0 1 9

Semua berjalan begitu lambat. Tao tidak mengerti tapi ia merasa saat itu waktu berhenti berdetik. Suara sekelilingnya lenyap tergantikan dengan detak jantungnya yang berdentum begitu keras. Telapak tangannya yang menyentuh jalan menopang badannya, satu-satunya kekuatan hanya berasal dari tangan itu jika ia tidak ingin menimpa tubuh Sina sepenuhnya. Detik selanjutnya yang terjadi membuat kesadaran Tao hampir hilang, ia rasa ia harus menghilang sekarang karena tidak ada satupun yang dapat membuatnya merasa lebih baik, malu geli takut bercampur menjadi satu. Hidungnya mencium wangi apel kesukaannya, dan saat ia sadar itu berasal dari bibir Sina, Tao segera bangkit.

“Tao—“ Sina yang susah payah bangkit segera menghentikan kalimatnya begitu pandangannya seketika menjadi gelap.

Tao yang panik melihat Sina bangun segera melepas topinya dan memasangkannya pada Sina sampai mata perempuan itu tertutup. “Hei Tao—“ Sina yang mengangkat tangan untuk melepas topi Tao kembali berhenti begitu ia merasakan tangan Tao menahannya.

“To-tolong jangan lepaskan Sina.” Tao langsung berdiri dan mendirikkan sepeda Sina yang menimpa setengah tubuh perempuan itu. Sina segera berdiri dengan susah payah karena pandangannya ditutupi topi, baru saja ingin kembali mengangkat topi itu ia merasakan tangan Tao kembali menahannya. “Jangan lepaskan sampai aku pergi, aku benar-benar tidak bisa melihatmu sekarang..”

Sina mendecak jengkel, Tao mulai lagi berlebihan. Kenapa laki-laki ini bersikap seolah ia korbannya? Bukankah untuk kecelakaan semacam ini pihak perempuan yang lebih dirugikan? Astaga ada apa dengan pemuda bernama Huang Zitao ini?  “Hei Tao, aku bilang le.pas.kan.” Sina berusaha melepas topinya dari kepala tapi tangan Tao sukses menahan topi itu tetap terpasang menutupi kepalanya hingga mata. “Jangan—kumohon, lima detik lagi aku pergi dan kau boleh melepas topinya.” Tao yang sekarang mukanya semerah udang rebus, berusaha sekuat mungkin meraih skate yang terjatuh beberapa meter darinya dengan kakinya sementara tangannya bertahan memegang kepala Sina menahan topi itu tetap menghalangi pandangan Sina.

“1, 2, 3!” Tao segera berlari, sekencang yang ia bisa. Sementara Sina yang saat itu segera mengangkat topi membalikkan badannya, ia menggelengkan kepalanya melihat Tao yang sudah berlari terbirit-birit sampai menabrak jatuh tempat sampah.

#

Luhan yang sedang menunggu Tao sambil menjilat es krim di depan pintu minimarket hanya bisa memiringkan kepalanya melihat Tao melesat begitu saja di depannya. Luhan melongokkan kepalanya melihat arah dari mana Tao berlari memastikan apakah ada anjing melihat laki-laki tadi barusan berlari terbirit seakan ada anjing mengejarnya.

“Tidak ada.” Luhan berkata sendiri. Ia menghela napas dan kembali mendorong pintu toko. Baru saja ingin memesan menu makan siang termahal, laki-laki yang seharusnya membayar malah kabur begitu saja. Setelah memeriksa dompetnya Luhan mendecak, uangnya hanya cukup untuk membeli segelas ramyun sekarang.

Sambil membawa ramyunnya menuju meja ia pun membuka ponsel, menunggu balasan dari Jongin yang berjanji akan bermain bersama Tao dan dirinya hari itu.

Baru saja Luhan menyeruput mienya pintu minimarket terbuka, kegaduhan ringan terjadi karena pembeli yang masuk menabrak tumpukkan keranjang dan kalau saja Luhan tidak mengenal orang yang masuk itu mungkin ia akan mengira orang itu gila.

“Ada apa ini? Kau membuatku malu.” Luhan berkata malas sambil membantu membereskan keranjang-keranjang yang terjatuh itu. Tao tidak merespon apa-apa, mukanya memerah untuk dua alasan pertama kecelakaannya dengan Sina, dan kedua kecelakaannya dengan Sina, sekarang kepalanya dipenuhi dengan peristiwa itu, menabrak keranjang di depan banyak orang pun tidak menjadi masalah bagi Tao.

“Oppa! Apa yang terjadi!?”

Tao mengenali suara itu ia segera mengangkat kepalanya lalu menyeringai melihat sosok yang ia butuhkan muncul “Hara!”

Hara yang sedang bertolak pinggang mendapati oppanya memalukan hanya menggeleng-gelengkan kepala “Menyedihkan sekali oppa.” Ia memandang prihatin pada Tao sementara laki-laki itu hanya tertawa kecil, Luhan yang berdiri di sebelahnya hanya memandang Tao dan Hara bergantian berusaha mencari kemiripan antara mereka berdua, ia benar-benar tidak tahu Tao punya adik perempuan.

“Hara! Kubilang tunggu— Luhan?”

Perempuan yang baru masuk itu awalnya ingin menjitak kepala sepupu kecilnya yang seenaknya merebut dompetnya lalu berlari masuk minimarket tapi melihat Luhan hal yang bisa lakukan hanya berdiri mematung, tangannya masing memegang gagang pintu. Penjaga kasir yang mulai jengkel melihat keributan kecil akhirnya berdehem “Tolong jangan halangi jalan.”

Kelima orang itu segera mengangguk, Tao langsung menghampiri Hara dan menceritakan semuanya sementara Luhan yang masih berdiri di tempat yang sama akhirnya berhasil mengalihkan pandangannya dari perempuan yang baru masuk itu. “Kenapa melihatku seperti itu? Aku tahu wajahku memang tampan tapi kalau dilihat seperti itu—“

“Menggelikan.” Sena segera berjalan melewati Luhan yang belum menyelesaikan kalimatnya. Laki-laki itu hanya bisa mengerutkan keningnya jengkel ia ingin memanggil Sena tapi melihat perempuan itu sedang menarik paksa tangan anak kecil yang sedang berbicara dengan Tao, ia makin penasaran, apa jangan-jangan mereka bertiga saudara?

“Hara! Kembalikan dompetku!” Sena berkata jengkel pada sepupu yang mengabaikan dirinya itu. Hara sedang tenggelam bersama percakapan aneh dengan laki-laki yang tidak dikenalnya. Sena yang menyadari dompetnya menyembul dari kantong jaket Hara segera memanfaatkan kesempatan itu. Hara mengerang kesal tapi bagaimanapun mendengar cerita Tao jauh lebih penting daripada berebut dompet dengan kakak sepupunya.

“Dia kakakmu?” Tao bertanya pelan melihat orang yang sempat mengganggu percakapannya dengan Hara sedang berbicara dengan Luhan.

“Kakak sepupu, lalu bagaimana? Setelah oppa menutup mata Sina apa yang perempuan itu lakukan?” Hara masih penasaran setengah mati mendengar cerita itu, sementara Tao berfokus pada hal lain; melihat kakak sepupu Hara berbicara dengan Luhan ia berpikir apa artinya ia juga satu sekolah dengan Sina?

“Laki-laki yang sedang berbicara dengan kakakmu itu, kau kenal dia?” Tao berkata mengenai Luhan.

Hara mengernyit, sekarang urusan Sena dan Luhan sama sekali tidak penting untuk dibahas “Aku tahu, dia Luhan-oppa, mereka satu sekolah, ayolah oppa lanjutkan lagi!”

Tao langsung membuka kedua mulutnya, tanpa sadar bibirnya langsung membentuk senyuman, sekarang ia bisa mendapat informan yang terpercaya “Siapa nama kakakmu?” Tao mengabaikan Hara yang sedang memandangnya jengkel “Park Sena! Ayo lanjutkan ceritamu oppa!”

Masih mengabaikan rasa penasaran Hara, Tao segera berdiri dan  menghampiri Luhan Sena yang sepertinya sedang berdebat melihat kening keduanya sama-sama berkerut. “Permisi?”

“Apa!?” Luhan dan Sena menengok berbarengan pada Tao yang sedikit tersentak karena mendapat bentakan. “Aku mau berbicara dengan Sena.”  Tao berkata pada Luhan yang langsung memandang Tao menyidik.

“Kau kenal dia?” Luhan bertanya pada Sena yang langsung menjawabnya dengan sebuah gelengan.

“Dia tidak kenal denganmu Tao, kau pasti salah orang.” Luhan berujar, feelingnya mengatakan kalau Tao dan Sena berteman bisa saja, perempuan labil ini menyukai Tao.

Tao mendecak “Namaku Huang Zitao, teman dari Luhan, Jongin, dan Sina.”

Sena membulatkan matanya kaget, soal Luhan dan Jongin ia tidak begitu terkejut, tapi Sina? “Namaku Park Sena, teman dari Luhan, Jongin dan Sina ju—“

“Aku tahu.” Tao memotong kalimat Sena dan menarik lengan perempuan itu, Luhan yang langsung menganga melihat Tao menginterupsi dirinya dengan Sena ikutan berjalan dan duduk di kursi luar minimarket.

“Apa Sina menyukai seseorang di sekolah?” Tanpa basa basi Tao langsung menanyakan pertanyaan yang terus berputar di otaknya sejak kejadian itu. Sena yang masih diam karena terkejut laki-laki yang seenaknya menarik dirinya ini tahu-tahu membicarakan Sina hanya menggelengkan kepala.

“Tidak tahu atau tidak menyukai siapapun?” Tao tampak tidak puas dengan jawaban Sena.

Sena menelan ludahnya, ia tidak begitu dekat dengan Ahn Sina, tapi ia tahu orang yang disukainya; Kim Jongin, suka dengan perempuan ini. Apa ia harus memberitahu Tao? Tapi Luhan yang sekarang duduk di sampingnya membuatnya tidak bisa mengatakan itu, tentu laki-laki itu akan mentertawakan dirinya yang cintanya bertepuk sebelah tangan. “Aku tidak tahu, aku tidak dekat dengan Sina, dia jarang berbicara dengan laki-laki jadi sulit menebaknya.”

Luhan mendengus dengan jawaban Sena “Dia menyukai seseorang! “ Luhan angkat bicara, hanya asal bicara karena ia juga tidak tahu.

“Benarkah?” Tao menghela napas dan melorot dari kursinya. Itu artinya ia baru mengambil ciuman perempuan yang sedang jatuh cinta dengan pria lain.

Luhan tertawa kecil “Kau tahu orangnya siapa.” Itu jawaban untuk Tao tapi laki-laki ini memilih untuk menatap Sena. “Kim. Jong. In.”

Tao langsung duduk tegak dan memandang Luhan curiga “Jangan bercanda.”

“Iya jangan bercanda!” Sena ikutan sependapat dengan Tao, tampaknya sekarang laki-laki ini bisa dimanfaatkan untuk menyudutkan Luhan.

Luhan mengendikkan bahunya “Mereka berdua dekat, baik di sekolah atau di luar sekolah selalu saling menempel.” Luhan sekali lagi berkata asal, ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Sina di sekolah, dan di luar pun hanya sekali ia melihat Jongin dan Sina bersama.

“Tidak!” Sena langsung menengok pada Luhan, alisnya hampir bertaut “Hanya Jongin yang menyukai Sina tapi perempuan itu tidak pernah memberinya tanggapan, ini hanya suka sepihak.”

Luhan merapatkan bibirnya, berusaha tidak menyeringai “Aahh tampaknya seseorang bernasib sama dengan Jongin.” Ekor matanya melirik Sena, merasa menang perempuan ini akhirnya mengakui Jongin menyukai orang lain.

Sena hanya bisa mengepal tangannya, ia masuk perangkap Luhan. Tao yang dari tadi diam hanya memperhatikan kedua orang itu bergantian, entah sejak kapan mereka berdua yang terus berbicara. Beberapa detik suasana menjadi canggung, Luhan berdehem dan kembali memandang Tao “Sebenarnya kenapa kau membicarakan Sina?”

Belum sempat Tao menjawab tiba-tiba Sena bicara “Sina tidak mungkin menyukai Jongin.” perhatian Luhan dan Tao pun kembali pada perempuan itu.

Luhan mendengus “Jangan sok tahu.”

“Aku tidak sok tahu!” Sena berseru, ia menggigit bibirnya menunggu otaknya berhasil mencari alasan apa yang dapat memperkuat pendapatnya. Sina, Ahn Sina, apa perempuan ini tidak punya skandal?

“Dengar ya, tidak akan ada perempuan yang bisa menolak Jong—“

“Sehun.” Sena berkata mantap, ia baru ingat ia pernah melihat Sina dan Sehun keluar dari gerbang sekolah pada kelas musim panas hari pertama “Sina menyukai Sehun, jadi tidak mungkin ia menyukai Jongin. Aku pernah melihat mereka bolos bersama.”

“Tapi Sehun sudah punya pacar!”

“Lalu?” Sena memutar bola matanya.

Tao menarik napasnya, ia menatap Sena dan Luhan bergantian heran bagaimana bisa mulut mereka berdua tidak bisa diam setidaknya untuk mengambil napas. “Baiklah terima kasih!” Tao langsung berdiri, duduk di sini lebih lama lagi hanya membuatnya menjadi penonton gratis drama picisan antara Luhan dan Sena.

“Kita belum selesai!” Sena dan Luhan berkata berbarengan pada Tao, keduanya tidak ingin Tao pergi dan membuat mereka jadi duduk berdua.

“Aku tahu inti pembicaraan kalian, sudahlah lebih baik aku tanya langsung orangnya.” Tao berkata malas dan berjalan meninggalkan meja itu.

Ya Tao! Kembalikan skate ku!” Luhan mengancam tapi tidak berhasil membuat laki-laki itu menghentikkan langkahnya.

#

Duduk di pinggir sungai Han sebenarnya bukan kebiasaan Sehun. Laki-laki ini jarang menghabiskan waktu kosongnya hanya dengan duduk melamunkan semuanya, ia lebih suka mencari kesibukan entah berjam-jam di game center  atau membaca komik di toko buku pinggir jalan. Dan untuk saat ini, untuk pertama kalinya Sehun tidak ingin melakukan apa pun kecuali diam. Ia sudah menyelesaikan urusannya dengan Miyoung, semua berjalan dengan lancar bahkan lebih baik dari apa yang dipikirkannya. Tidak ada pertengkaran, tidak ada tangisan, hubungan Miyoung dan dirinya baik-baik saja, mereka bahkan merasa lebih baik dari yang sebelumnya.

Sehun menarik napas dan merenggangkan tangannya, dan ketika seluruh bebannya terangkat apa yang harus dilakukannya?

“Oh Sehun!”

Sehun menengok dan mendengus melihat orang terakhir yang ingin dilihatnya hari itu, padahal ia baru saja ingin memanggil Jongin.

“Noona mengikutiku?” Sehun bertanya datar, kembali melayangkan pandangannya pada sungai.

Song Qian menjitak pelan puncak kepala dongsaeng kesayangannya kesal melihat reaksi Sehun, ia tahu laki-laki itu kurang suka dengannya tapi itulah yang membuat Sehun makin menarik di mata Song Qian “Kau harus mendengar ceritaku.”

“Katakan.” Sehun menjawab singkat, tidak ada rasa penasaran karena Song Qian pasti membawa topik yang itu itu saja.

“Yifan dan aku putus!”

Kali ini Sehun menengok, hal yang membuat penasarannya karena Song Qian terdengar begitu riang. Sehun tahu putus hubungan tidak selalu membuat orang frustasi, seperti dirinya dan Miyoung mereka pun baik-baik saja, tapi Song Qian? Kenapa perempuan ini terlihat begitu bahagia seperti hubungan yang pernah dijalankannya dulu sebuah kesalahan.

“Dan kau senang?” Ucap Sehun sambil menatap Song Qian dengan aneh.

Song Qian tertawa dan mengangguk-ngangguk “Tentu saja, rasanya seperti pembebasan karena aku bisa menjalin hubungan dengan laki-laki lain. “ Ia menarik napas dan melirik Sehun, menunggu laki-laki itu memberi balasan tapi Sehun tampak tidak tertarik untuk melanjutkan percakapan mereka. Song Qian pun berdehem “Dengar Sehun, meskipun aku jarang memiliki hubungan serius tapi aku ini wanita yang paling benci dengan perselingkuhan! Jadi sekalipun aku menyukai laki-laki saat aku sudah menjadi kekasih orang lain, aku tidak akan selingkuh dari orang itu.”

“Dan kau memutuskannya.” Sehun melanjutkan kalimat Song Qian.

“Bukankah itu lebih baik? Daripada menipu diri sendiri?” Song Qian bertanya.

Sehun memiringkan kepalanya, mencoba memikirkan dirinya jika berada di posisi laki-laki yang disukai Song Qian, ia merasa ngeri. “Itu memang baik untuk dirimu, tapi noona tidak pernah memikirkan laki-laki yang disukai noona kan?”

Pertanyaan Sehun membuat Song Qian diam “Aku memikirkannya, tapi dipikirkan pun tidak ada gunanya, tidak ada yang bisa mengatur rasa suka kan? Kalau aku sudah suka ya lanjutkan saja!”

Sehun tertawa kecil “Aku bersyukur noona tidak akan menyukaiku, siapapun laki-laki yang disukai dirimu, aku kasihan padanya.”

#

“Hatchih!” Tao bersin, merasa heran padahal sampai tadi pagi ia merasa tubuhnya fit. Tiba-tiba tubuhnya menggigil untuk alasan yang tidak jelas mengingat suhu saat ini terbilang masih cukup tinggi.

“Chanyeol-hyung!”  Tao berteriak saat melihat sunbaenya lewat di saat yang tepat.

Awalnya Tao ingin mencari Sina, ia tahu kabur dari Sina saat itu tindakan bodoh dan tidak bertanggung jawab, tapi saat itu melihat wajah Sina memang menjadi hal yang ditakutinya. Melihat wajah perempuan yang menjadi ciuman pertamanya (tidak sengaja), terlebih itu seorang Ahn Sina, Tao tidak berani, ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang Sina lakukan sekarang.

Tapi beberapa menit lalu ahjummanya menelpon mengatakan Yixing menghilang, tidak membuat Tao kaget karena anak itu menghilang bukan terjadi sekali dua kali sejak ia tinggal di Seoul. Yixing memang suka pergi, untuk alasan tidak jelas tapi ujungnya selalu ditemukan di tempat yang sama.

“Tumben kau berada di kampus hari Minggu.” Chanyeol berkata begitu Tao sudah berada di depannya. Tao langsung menyeringai “Apa hyung melihat Yixing? Kalau aku tidak menemukannya aku tidak bisa kembali ke rumah.”

Chanyeol terdiam memiringkan kepalanya “Aku melihatnya tadi, di depan mading, tapi kenapa kau tidak menelponnya?”

“Telponnya ditinggalkan di rumah, Yixing memang suka pergi, ia bilang ia harus memastikan sesuatu”

Chanyeol menyeringai “Kalau begitu ayo kita ke ruang kontrol kita bisa memanggil Yixing, aku juga sedang mencari seseorang.”

#

Foto perempuan itu tertempel di mading saat Yixing tengah mencari pengumuman pergantian dosen di mading kampusnya. Ia mengucek matanya berkali-kali memastikan perempuan itu sama dengan gadis yang dicarinya beberapa minggu terakhir ini.

“Dia akan pindah ke luar?” Yixing bertanya, ia sudah bisa membaca hangul tapi tetap saja berita yang dibacanya terlalu mencengangkan untuk dipercaya.

“Bisa geser sedikit? Aku harus menempel poster.” Seorang perempuan datang mengganggu konsentrasi membacanya. Yixing mengangguk lalu menggeser badannya. Ia mengernyit, baru saja ia menemukan orang itu, dan dalam hitungan minggu perempuan itu akan kembali pergi?

“Permisi aku mau tanya. “ Yixing menyentuh bahu perempuan itu tapi matanya masih fokus membaca setiap kata di artikel yang dibacanya “Perempuan ini? Apa benar dia akan pergi?”

Miyoung yang sedang menggunting selotip untuk menempel poster pengumuman mencari anggota baru untuk klub orkestranya menoleh sekilas pada artikel yang sedang ditunjuk laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Rasanya ingin tertawa melihat betapa lucunya sebuah kebetulan karena yang ditunjuknya itu fotonya sendiri. “Ya dia akan pergi.” Miyoung menjawab.

“Kenapa dia pergi? Apakah ada semacam persyaratan dan hanya perempuan itu yang memenuhinya?” Yixing bertanya penasaran.

Miyoung diam, ia memiringkan kepalanya, ia juga tidak begitu mengerti yang jelas saat festival musik di Jeju waktu itu ia berhasil menarik perhatian dosennya “Yah mungkin semacam itu.”

“Kalau aku juga mau pergi, apa kau tahu caranya?”

Miyoung mulai menempel posternya, rasanya kasihan karena laki-laki itu tidak punya kesempatan lagi untuk pergi. Kuota murid yang pergi setiap tahunnya sangat terbatas. “Aku rasa kau harus menunggu tahun depan, kau jurusan apa? Kalau piano aku bisa membantumu.”

Yixing tersenyum, tuhan memang memihaknya “Aku jurusan piano.” Ia menjawab semangat. Dengan mata berbinar ia menengok pada perempuan yang menjadi pahlawannya hari itu.

“Namaku Zhang Yi—“

Miyoung yang selesai menempel posternya pun menengok pada laki-laki yang tidak melanjutkan pengenalan dirinya. Mulutnya yang siap bertanya ikutan berhenti sama halnya dengan laki-laki yang sekarang memandangnya itu dengan mulutnya yang juga tidak tertutup.

“Hei kau laki-laki yang—“

“Xing.” Yixing menyelesaikan kalimatnya “Namaku Zhang Yixing.”

Selotip yang Miyoung pegang terjatuh, menjadi satu-satunya sumber suara di koridor kampus yang sepi. Matanya tidak terlepas dari sorot mata Yixing, harusnya ia juga mengenalkan dirinya tapi suara Miyoung serasa terkunci sekalipun kedua bibirnya sudah siap berbicara.

“Halo halo Ahn Miyoung tahan mulutmu, aku tidak mau melihat air liurmu menetes.”

Suara Chanyeol dari speaker di koridor memecah keheningan. “Aish.” Miyoung mengumpat, sahabatnya Chanyeol mempermalukan dirinya. “Ya Chanyeol!” Miyoung langsung memelototi atap koridor tempat kameraCCTV  terpasang.

“Maaf kita bicarakan ini lain kali, aku harus pergi—“

“Tunggu!” Yixing memegang tangan Miyoung yang siap berjalan meninggalkannya. Miyoung yang makin dibuat kaget oleh laki-laki yang sempat merepotkannya dulu memandang tangan Yixing, sudah lama laki-laki tidak memegang tangannya seerat itu. Bahkan Sehun pun mengaku ia tidak suka bergandengan tangan lama karena tangannya berkeringat.

“Hei Yixing! Kemana saja kamu!?”

Yixing menepuk jidatnya, sekarang giliran Tao mempermalukan dirinya.

“Siapa suara perempuan itu?” Miyoung bertanya panik mendengar suara wanita tua itu seperti marah-marah. Yixing melepas pegangannya, dan berusaha tersenyum “Lebih baik kita ke ruang kontrol sekarang.”

#

Tao terkekeh melihat Chanyeol yang berhasil merusak momen Yixing dan perempuan entah siapa itu.

“Hyung aku juga mau bicara.”

Chanyeol mengendikkan bahunya dan menggeser kursinya mempersilahkan Tao berbicara. Tao yang masih cekikikan segera mengeluarkan ponsel memanggil ahjummanya. “Halo Ahjumma? Aku sudah menemukan Yixing, mau berbicara dengannya?”

“Benarkah!? Mana dia? Biarkan aku bicara dengannya!”

“Baiklah.” Ia pun tersenyum dan menyalakan loud speaker lalu mendekatkan ponselnya pada mic. “Hei Yixing! Kemana saja kamu!?”

Dari monitor Tao makin tertawa melihat Yixing yang berhasil dipermalukannya. Setelah tos bersama Chanyeol, Tao kembali mendekatkan mulutnya pada mic, siap kembali menggoda temannya tapi mulutnya terhenti ketika sosok perempuan yang dipegang tanganya oleh Yixing itu terlihat makin jelas.

Sambil memincingkan matanya, Tao berusaha menerka siapa wanita itu mengingat wajahnya terasa begitu familiar, menyadari wanita itu sudah mengenal Yixing ia makin yakin itu wanita yang sama.  “Hyung! Wanita itu! Dia juga belajar di sini?” Tao bertanya panik.

“Oh iya! Dia Miyoung yang kupanggil tadi.”

Tao menelan ludahnya, sekarang ingat persis siapa wanita itu karena ia pernah berutang padanya. “Astaga aku harus pergi! Terima kasih hyung!” Tanpa banyak penjelasan lagi  ia segera berdiri dan mengambil skate Luhan.

“Tao! Kau harus bertanggung jawab! Yixing dan Miyoung sedang menuju ke sini!” Chanyeol yang tidak terima Tao pergi begitu saja, ikutan berdiri, ia dan Tao sudah berjanji akan bertahan untuk dimarahi bersama.

Tepat sebelum Tao menutup pintu ruangan ia menyembulkan kepalanya “Maaf hyung! Tapi wanita bernama Miyoung itu, aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang!”

Tidak memedulikan teriakan protes dari Chanyeol Tao terus berlari, entah kenapa hari ini ia terus berlari?

#

“Astaga! Kau baik-baik saja?” Seorang ibu yang sedang mendorong kereta bayinya terlonjak kaget melihat perempuan muda yang berjalan terhuyung-huyung menabrak tiang listrik pinggir jalan.

Sina yang kesadarannya penuh mendadak ketika kepalanya terbentur tiang hanya bisa memandang si bayi tanpa memberi jawaban.

“Permisi? Apa kepalamu baik-baik saja?” Reaksi aneh Sina membuat ibu itu makin panik. Sina menghela napasnya, matanya sekarang memandang ibu yang tidak berhenti terlihat cemas itu. “Aku tidak baik-baik saja.”

Tidak membiarkan ibu itu kembali berkata Sina segera berjalan cepat melewatinya, masih dengan badan terhuyung ia berusaha sekuat tenaga melangkahkan kakinya. Kepalanya terasa begitu pening, apapun yang ia lihat rasanya berubah menjadi Tao, bahkan wajah bayi tadi jadi seperti Tao!

Kembali menarik napas Sina sekali lagi menghela napasnya, dipikirkan berapa kali pun tetap saja semua kesalahan seseorang “Tao sialan! Bodoh!” Ia menginjak-injak jalan aspal sekuat tenaga melampiaskan rasa jengkelnya.

Awalnya Sina memang berusaha bersikap biasa saja, bukankah ini hanya sekedar kecelakaan? Tapi semakin ia menggayuh sepedanya setelah itu, semakin kesadarannya kembali, perlahan-lahan semua makhluk yang ia lihat rasanya berkamuflase jadi Tao. Polisi lalu lintas yang sedang membantu rombongan anak TK berubah wajahnya menjadi Tao (beserta dengan belasan anak TK yang dibantunya), Ahjussi penjual daging langganan neneknya berubah menjadi Tao, bahkan anjing tetangga rumah neneknya berubah menjadi Tao! Sekali lagi jari Sina meraba lembut bibirnya, berusaha memastikan apa benar bibir itu sudah pernah tersentuh bibir laki-laki? Saat itu juga Sina sadar, kalau semua kecelakaan itu tidak lagi sekedar kecelakaan biasa, sekarang ia sadar sepenuhnya, Huang Zitao sudah mengambil sesuatu yang berharga darinya.

“Ibu! Di mana Miyoung-unnie?” Begitu sampai di rumahnya ia langsung menghampiri ibunya yang sedang terlentang di atas sofa dengan wajah yang ditutupi majalah travel.

“Dia pergi ke kampus.” Ibu Ahn menjawab singkat, masih terlalu mengantuk.

Sina mendecak, padahal ia penasaran dengan persoalan kakaknya dengan Sehun. “Apa ibu melihatnya ketika dia kembali setelah pergi pagi tadi? Apa wajahnya terlihat habis menangis? Apa dia—“

“Tidak, ibu tidak melihat, ibu tidak mendengar, ibu tidak tahu apapun.”

“Ibu payah.” Sina kembali mendesah kesal, di saat seperti ini justru sikap dramatis ibunya tidak keluar. Akhirnya dengan langkah gontai Sina menaiki tangga menuju kamarnya. Tiba-tiba kepalanya kembali terpenuhi dengan Tao, astaga Sina bisa gila.

#

Tao memiringkan kepalanya merasa tidak asing lagi dengan sepeda merah yang terparkir di depan toko.

“Ahjumma! Apa ahjumma membeli sepeda baru?” Ia bertanya sambil mendorong pintu.

Bibi Huang yang sedang bermain dengan kucing peliharaan Tao segera bangkit “Tidak, itu sepeda Sina, dia menitipkannya di sini, katanya kepalanya pusing mendadak tidak bisa bersepeda.”

Mendengar nama Sina, Tao menghentikkan langkahnya. Semuanya segera terulang, peristiwa itu terputar jelas membuat pipi Tao kembali memanas. “A-apa dia kelihatan aneh?”

“Aneh? Yah kurasa menabrak pintu toko itu aneh.”

Tao mengernyit “Menabrak pintu toko?”

Bibi Huang mengangguk, ia mengangkat kucing hitam itu dan meletakkannya pada pangkuan Tao “Sina seperti datang dengan pikiran kosong, ia berjalan menabrak pintu seakan tidak ada pintu di sana, ia menginjak ekor kucingmu tapi tidak bereaksi apa-apa saat kakinya dicakar. Oh iya, ia juga datang untuk mengembalikan topimu.”

Tao segera menundukkan kepalanya, perkataan ahjumma makin membuat Tao dipenuhi rasa bersalah melihat Sina terdengar begitu meresahkan. “Apa yang harus kulakukan?”

#

Sina makin merasa frustasi, ia mengucek-ngucek matanya untuk kesekian kalinya melihat poster Yesung yang tertempel di dinding kamarnya. Sekali lagi wajah Tao muncul menggantikan wajah Yesung. Sina mengerang kesal ia menggulingkan badannya kanan kiri tidak tahu apa lagi yang harus diperbuatnya. Apa Tao tidak mengenal kata maaf di dunia ini?

Tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan baru masuk, Sina yang biasanya paling malas menerima pesan (karena ia malas mengetik untuk membalas pesan itu) segera bangun dan meraih ponselnya. Apa Tao yang mengirimnya pesan?

“Ah.” Sina kembali menghela napas, dengan malas ia membuka pesan dari Miyoung itu.  Kali ini ia ingin mendengar cerita Miyoung, karena mungkin itu satu-satunya cara untuk melupakan insidennya dengan Tao, tapi sialnya Sina bahkan Miyoung pun tidak bisa membantunya sama sekali.

Hari ini aku menginap di rumah teman.

Sina menendang-nendang udara, kesal tidak ada pelarian untuk melampiaskan rasa kesalnya. Ia menarik napas, sesuatu harus dilakukan. Dengan yakin ia kembali meraih ponselnya mencari nomor Tao.

#

Sekali lagi Song Qian memperhatikan dirinya pada pantulan kaca mobil toko yang ia lewati. Rambut yang menghabiskan waktu sejam lebih untuk dikepang terlihat masih rapi, ia tersenyum dan kembali mengoleskan lip gloss rasa apel yang baru ia tahu itu rasa favorit Tao.

Sambil tersenyum ia memejamkan matanya “Ayo Song Qian! Kau bisa!”

Pintu toko pun terdorong, ahjumma yang sedang melayani satu pembeli membuatnya tidak bisa menyapa Song Qian yang baru masuk.

Sekalipun ia tidak begitu keranjingan dengan rajut merajut tapi membeli benang adalah satu-satunya cara yang membuatnya lebih dekat dengan bibi Huang. Tanpa banyak pertimbangan ia segera mengambil gulungan benang besar berwarna ungu.

Setelah satu tamunya pergi Bibi Huang segera tersenyum pada Song Qian “Kau mencari Tao kan?”

“Aah itu salah satu alasanku.” Tidak perlu berpura-pura Song Qian memilih mengatakan alasan sebenarnya membuat ahjumma terkekeh. “Dia sedang malas-malasan di halaman belakang, aku juga tidak tahu tapi Tao seperti kehilangan tenaga sejak kemarin sore.”

Song Qian menaikkan alisnya, kemarin lusa saat ia bertemu Tao di cafe laki-laki ini masih tertawa riang saat mengalahkan Minseok bermain PS di ruang staff. “Apa dia sakit? Boleh aku melihatnya?”

Ahjumma mengendikkan bahunya “Silahkan, mungkin ia butuh teman bicara.”

Tanpa pikir panjang Song Qian segera tersenyum “Ahjumma baik sekali, apa kau mendukungku dengan Tao?”

Sesungguhnya ahjumma tidak pernah benar-benar mendukung hubungan Tao dan Song Qian, ia hanya merasa bangga keponakannya Tao memiliki seorang penggemar, terlebih seorang wanita cantik seperti Song Qian, jadi apa yang harus dirinya lakukan? Ia tidak bisa melarang wanita itu mendekati Tao karena bagaimanapun juga Tao lah yang berhak memutuskan siapa orang yang menjadi temannya. Ia pun tertawa kecil dan menepuk bahu Song Qian. “Aku tidak mendukungmu, tapi karena aku mengerti seberapa besar kau menyukai Tao aku akan berbaik hati mengingatkanmu kalau kau mempunyai saingan.”

“Saingan?” Song Qian mengernyit membuat ahjumma makin geli.

“Sudahlah cepat kau hampiri Tao, kalau dia sudah tidur susah sekali untuk dibangunkan.” Ia pun berlalu dan menaiki tangga membuat Song Qian tidak mengejarnya.

Aish!” Entah kenapa peringatan ahjumma membuat Song Qian gusar. Sebenarnya mendapat saingan bukan hal baru bagi Song Qian, malah itu sudah seperti makanan sehari-hari untuknya. Ia sudah berhasil merebut Jinki dari Miyoung yang merupakan queenkas dari sekolah, apa lagi yang perlu ditakutkannya?

Song Qian menarik napas, berusaha menghilangkan rasa gelisahnya. Dengan pelan ia pun mendorong pintu belakang yang terhubung dengan halaman belakang.

Perlahan ia menyembulkan kepalanya, toko ahjumma yang mungil dan sederhana membuat mulut Song Qian menganga lebar saat melihat halaman belakang mereka yang begitu tertata apik. Kebun anggur kecil yang menjadi atap kursi taman mendapat perhatian utama Song Qian, dengan pelan ia melangkahkan kakinya, menginjak batu alam yang tersusun menjadi jalan setapak. Perpaduan gemerisik daun dan gemercik air membuat suasana makin sempurna. Air mancur mungil tempat burung gereja membersihkan sayap mereka membuat taman ini terasa makin hidup dengan kicauan mereka. Terik matahari serasa tidak menyiksa dengan adanya pohon ketapang rindang yang menjadi kanopi menghalangi cahaya yang terlalu menyilaukan. Song Qian merasa sejuk, kejutannya tidak berhenti saat ia melihat laki-laki yang dicarinya tertidur santai di atas tempat tidur jala yang terikat di antara dua pohon kesemek rindang.

Perlahan tanpa menimbulkan bunyi mengganggu Song Qian berjalan menghampiri Tao. Wajahnya tertutupi dengan buku panduan merawat kucing membuat Song Qian sedikit kesal karena ia tidak bisa memperhatikan wajah tidur Tao. Tanpa penjelasan pun Song Qian mengerti kalau saat itu Tao memang membutuhkan me-time berkualitas. Ia makin dibuat merasa geli melihat tumpukan majalah gadis remaja di atas meja taman, beberapanya sudah terbuka dan dibatasi dengan daun kering, Song Qian segera membacanya dan menggeleng-gelengkan kepala melihat Tao hanya menandai rubrik konsultasi cinta.

“Ada apa?” suara kesukaan Song Qian beberapa minggu terakhir ini terdengar. Ia terperanjat dan menengok pada Tao yang sudah bangun. Matanya masih terlihat mengantuk ditambah rambut berantakan Tao yang mencuat kemana-mana membuat laki-laki ini makin menggemaskan di mata Song Qian.

“Apa aku membangunkanmu?” Ia bertanya hati-hati.

Tao menggeleng-gelengkan kepalanya “Tidak, dari awal aku memang tidak tidur.”

Song Qian menghela napas lega, ia ingin mengomentari soal taman belakang mereka tapi ia rasa itu bisa dilakukan lain kali. “Tao, kau tidak sibuk kan hari ini?”

Tao yang sudah kembali menidurkan badannya hanya menggumam.

“Ada restoran pizza yang baru dibuka, aku dengar dari Minseok kau su—“

“Aku tidak bisa pergi.” Tao memotong kalimat Song Qian, membuat wanita itu membulatkan matanya, ini pertamakalinya Tao menolak ajakan makan siangnya.

#

Tao merasa terganggu, tahu begini lebih baik ia mengatakan pada ahjumma kalau ada yang mencarinya bilang saja dirinya sedang pergi. Saat ini Song Qian masih duduk di kursi taman, padahal Tao berencana menghabiskan waktunya hari ini sendirian tanpa interupsi dari siapapun. Pesan dari Sina yang diterimanya kemarin masih terngiang-ngiang.

Aku benci Tao.

Dengan kata lain, Ahn Sina membenci Huang Zitao. Sekarang Sina membenci dirinya, tanpa Tao bisa menanyakan alasan jelasnya (karena pulsanya habis). Siapapun tahu itu hanya kecelakaan tapi kenapa semua berakhir menjadi acara Sina membenci Tao? Apa semuanya kesalahan Tao? Memikirkan Sina memiliki perasaan mengerikan itu pada Tao, Tao makin merasa resah. Apa ia dan Sina tidak bisa mengobrol lagi? Apa mereka tidak bisa makan odeng bersama lagi? Apa Tao tidak bisa memperhatikan diam-diam Sina yang sedang merajut lagi?

Tao tidak mengerti, ini pertamakalinya seseorang mengatakan secara frontal ia membenci dirinya, terlebih itu perempuan, terlebih itu Sina, sulit untuk mengakuinya tapi Tao tahu. Berbeda dengan kejadian dulu ketika ia mengecup pipi Sina tidak sengaja yang berujung Tao jadi jengkel merasa Sina merebut ciuman untuk perempuan yang disukainya kelak, insiden kali membuat semuanya menjadi ironis. Tao tidak lagi  jengkel, hal itu membuat dirinya merasa menjadi seorang bajingan, terlebih ketika pemikiran gila itu muncul, ketika hati kecilnya mengatakan ingin merasakan hal yang sama lagi, ketika hidungnya ingin mencium wangi yang sama lagi, ketika bibirnya ingin merasakan sentuhan yang sama lagi, Tao sadar ia menyukai Sina.

#

Usaha Sina untuk mengalihkan perhatiannya dengan menonton drama gagal, karena yang ada semua pemain wajahnya kembali menjelma menjadi Tao. Hari ini hari terakhir liburannya, menghabiskan waktu dengan uring-uringan memikirkan Tao? Sina merasa waktunya terlalu berharga dihabiskan dengan hal semacam itu. Dan di sinilah Sina berdiri sekarang, memutuskan untuk menghabiskan uang jajannya dengan bermain habis-habisan di game center.

Sudah lama sekali ia tidak datang ke sini, terakhir ia dan Miyoung pulang karena kehabisan uang. Sina menarik napasnya, targetnya hari ini mendapatkan score S untuk hard level ‘Dance Dance Revolution.’

#

Perkiraan Song Qian hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan meleset jauh. Di taman tadi, ia memutuskan tidak terlalu agresif mengajak Tao keluar bersamanya, sebaliknya ia memilih menunggu duduk tenang di kursi. Suasana begitu pas, seperti burung-burung pun mendukung hubungannya dengan Tao. Apa ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya dengan Tao? Pertahanan Tao kali ini terlihat lemah membuat Song Qian merasa yakin ia akan menyusup lebih mudah ke hati Tao.

Dengan perlahan ia mulai membuka mulutnya, mengeluarkan kalimat-kalimat manis yang ia susun setiap malamnya sambil memikirkan Tao. Ia bahkan merasa ini pengakuan termanis yang pernah dilakukannya, bahkan dibanding dengan Yifan yang didapatnya setelah dua kali pengakuan. Jantung Song Qian langsung berdebar, penasaran setengah mati dengan jawaban Tao, yang sayangnya hal selanjutnya serasa membuat dunianya jungkir balik. Dengkuran Tao cukup menjelaskan pengakuannya tadi bagaikan lagu nina bobo untuk Tao.

“Aahh Tao bodoh!”  Ia menendang batu kecil, tidak tahu kemana lagi rasa kesal ini harus dilampiaskan. “Membosankan!” Ia berkata sendiri, memandang langit biru yang berlawanan dengan suasana hatinya.

Baru saja Song Qian ingin menjatuhkan dirinya pada kursi halte memutuskan untuk tidur rumah (karena melihat Tao yang begitu menikmati tidurnya) ia melihat sosok dongsaeng kesayangannya berjalan beberapa meter di depannya. Sehun yang berjalan memasuki game center membuat sebuah ide terbesit di otak Song Qian. Bermain dengan Sehun seharian ini sepertinya seru juga. Dengan pikiran itu pun ia berlari dengan semangat menuju bangunan yang baru saja Sehun masuki.

#

Sehun memutuskan untuk menghadiahi dirinya hari ini, sekalipun ia tidak tahu hal apa yang ia lakukan hingga ia merasa pantas memberi hadiah untuk dirinya sendiri. Hari ini hari terakhir libur musim panasnya, dan begitu masuk nanti mereka akan disambut beberapa ujian membosankan, oleh karenanya, apa salahnya melampiaskan keinginan bermain game tepat sehari sebelum ia akan tenggelam bersama ujian-ujian itu?

Sambil bersenandung mata Sehun segera mencari mesin game favoritnya, bagaimanapun juga hari ini ia harus mendapatkan score S mengalahkan Jongin di DDR.

Sehun merengut mendapati seorang perempuan sudah mendahuluinya menguasai game itu. Melihat kartu yang dimiliki si perempuan, Sehun yakin perempuan itu sudah mengisi ulang kartunya sampai penuh. Rasanya percuma Sehun menghabiskan uang jajannya untuk bermain di sini kalau ia sudah didahului oleh orang yang sama ambisius dengan dirinya.

Ia pun menghela napas dan memilih duduk di kursi sambil memperhatikan punggung perempuan yang terus bergerak mengikuti ritmik lagu yang upbeat itu.

“Ah hanya melihat orang bermain membosankan!” Sehun berkata dalam hati. Ia pun berdehem, perempuan di depannya ini cukup handal, apa mereka bisa bermain bersama?

“Permisi—bagaimana kalau kita main bersama saja?” Sehun pun memberanikan diri.

Sina yang sedang terengah-engah baru saja memainkan lima lagu nonstop mengernyit saat mendengar suara familiar menyahutnya dari belakang. Ia menarik napas, berusaha meyakinkan telinganya salah.

“Kalau kau jago—Hah. Jadi benar Sehun?” Sina meniup poninya mendapati tebakannya benar.

Sehun yang daritadi berkata sambil memainkan ponselnya segera mengangkat kepalanya saat mendengar suara familiar menyebut namanya, matanya membulat kaget menyadari perempuan yang sempat dihujatnya dalam hati itu ternyata Sina. “Astaga ternyata—“

Sina mendengus, melihat Sehun membuatnya merasa jengkel, jika dipikir lagi kalau bukan karena ia dan Miyoung putus tentu Sina tidak akan kehilangan konsentrasi saat menggayuh sepeda. Kemarin malam pun Sina sudah mengambil kesimpulan, kalau kecelakaan ini disebabkan oleh tiga orang; Sehun, Miyoung dan Tao. Sina mengelap pelipisnya yang berkeringat. “Kau berani menantangku?”

Melihat Sina yang begitu percaya diri Sehun merasa geli. Ia segera beranjak dari kursi dan menaiki stage game . “Scoreku selalu sama seperti inisial namaku.”

 “Hei itu kalimatku.”

Sehun Sina saling berpandangan, keduanya semakin tertantang terlebih ketika menyadari nama mereka berdua sama-sama diawali huruf S.

#

Song Qian memang ingin menghampiri Sehun, tapi begitu ia mendorong pintu game center permainan favoritnya langsung menarik perhatian. Terlebih melihat boneka panda yang mengingatkannya pada Tao, ia segera membuka dompetnya memastikan uangnya cukup untuk bermain ufo catcher mengingat permainan ini bukan permainan yang mudah, setidaknya butuh 10 percobaan untuk mendapatkan dua boneka, satu untuk Tao, satu untuk dirinya sendiri.

“Berhasil!”

Song Qian meninju udara, kegirangan mendapat boneka pandanya yang kedua pada percobaan kedelapan. Sekalipun permainan yang dilakukannya tidak begitu menghabiskan tenaga entah kenapa ia merasa keringat menjalar di pipinya. Song Qian mengelap keringatnya, matanya yang sejak tadi nyaris juling memandang mesin pencapit segera mengedarkan pandangannya, baru menyadari game center menjadi agak sepi. Tiba-tiba terdengar kerusuhan,  Song Qian berjinjit untuk melihat asal bunyi kegaduhan itu.

“Bukankah itu tempat Sehun?” Merasa penasaran ia pun segera berjalan cepat mendekati kerumunan.

Song Qian memiringkan kepalanya, ternyata memang Sehun yang menjadi pusat perhatian, tapi perempuan di sebelah Sehun itu, bukankah ia perempuan yang bersama Tao waktu itu?

Perempuan yang ia ketahui bernama Sina itu bersama Sehun sedang menyelesaikan lagu klasik bertempo cepat, gerakan keduanya serempak belum ada kesalahan, monitor DDR terus menunjukkan tulisan perfect  setiap Sehun dan Sina menggerakkan kakinya. Rasanya Song Qian ingin menginterupsi tapi melihat mereka menjadi pusat perhatian, Song Qian memilih menunggu sampai lagu itu selesai.

Menit selanjutnya tepuk tangan riuh kembali terdengar ketika Sina dan Sehun sama-sama memiliki score yang sama, dua miss.

“Sehun!” Ia berseru ketika kedua orang itu turun dan duduk di kursi terdekat, keduanya sama-sama terlihat lelah.

Sehun yang merasa begitu lega sempat berhasil mengalahkan Sina meskipun hanya satu lagu menengokkan kepalanya melihat Song Qian lah yang memanggil ia mengernyit “Noona?”

Sina yang sedang mengambil botol minum dari ranselnya ikutan menengok pada wanita yang dipanggil noona oleh Sehun. Sebisa mungkin Sina bertahan dengan poker facenya, bahkan wanita ini pun mengenal Sehun? Bukankah targetnya sekarang Tao?

“Dan kau—Sina kan?” Song Qian bertanya.

Sina hanya mengangguk datar sebaliknya Sehun langsung menengok pada Sina “Bagaimana bisa kau kenal Song Qian noona?”

Sina memutar bola matanya, dia musuh bebuyutan mantan kekasihmu, tapi Sina memilih berbohong pada Sehun “Tao yang mengenalkannya padaku.”

Song Qian hanya tertawa kecil melihat kebetulan ketiganya saling mengenal , banyak hal yang ingin ditanyakan tapi ia rasa tidak penting untuk mengetahui apa hubungan Sehun dan Sina, sudah pasti mereka teman satu sekolah. Lebih dari itu sesuatu membuat Song Qian lebih penasaran.

“Apa kau sudah menerima gelang dari Tao?” Ia bertanya hati-hati.

“Tidak.” Sina menjawab singkat.

Jawaban pasti dari Sina membuat Song Qian makin bingung. Ketika pulang menonton konser beberapa minggu  yang lalu ia dan Tao berhenti pada toko aksesoris yang menarik perhatian dirinya, Song Qian yang sempat geer melihat Tao sibuk melihat gelang bagian wanita mengira Tao sedang memilihkan gelangnya untuk Song Qian, yang berujung ketika dibungkus Tao mengatakan gelang itu untuk Sina. “Ketika aku dan Tao pergi ke Hongdae waktu itu, apa keesokan harinya kau tidak bertemu Tao?”

Sina menghela napas, Song Qian mengingatkannya dengan ‘kecelakaan’ itu. “Tidak.” Sina menjawab lagi.

Sehun yang daritadi hanya diam memandang Sina dan Song Qian  bergantian menyadari ada sesuatu yang harus dipertanyakan. “Jadi waktu itu noona pergi bersama Tao?” Ia bertanya menyidik, kalau diingat lagi siluet pria itu memang seperti Tao.

“Wah. Kau kenal Tao?” Song Qian memiringkan kepalanya, agak terkejut.

Sehun meniup poninya, rupanya pria tidak beruntung itu Huang Zitao, meskipun ia dan Tao tidak begitu dekat entah kenapa Sehun merasa simpati. Dan, bukankah Sina dan Tao cukup dekat? Seperti yang Sehun sadari ketika Tao memperhatikan dirinya sedang makan siang bersama Sina. Sehun menelan ludahnya, ia melirik Sina dan Song Qian, ekspresi Song Qian kembali terbaca, Sehun kenal itu, ekspresi yang sama ketika ia memandang Miyoung, ekspresi ketika ia merasa keberadaan wanita itu akan mengganggu dirinya.

“Hei Sina, apa kau tahu Tao sakit hari ini?” Song Qian berusaha memancing Sina, saat ini waktu yang paling tepat untuk memastikan dugaannya apa Sina wanita yang Bibi Huang maksud.

Tanpa membuka mulut Sina menggelengkan kepalanya. Song Qian hanya mengulum senyum, basa basi dengan seorang seperti Sina tidak ada gunanya, lebih baik langsung bertanya pada intinya.

“Aku penasaran Sina, sebenarnya apa hubunganmu dengan Tao? Aku merasa kalian begitu dekat. Tao sering menceritakanmu ketika sedang bersamaku, aku tahu Tao memang baik makanya ia membelikanmu gelang tapi apakah kamu menyukai Ta—“

“Noona.” Sehun memotong kalimat Song Qian, kedua gadis yang sedang bertatapan itu segera mengalihkan pandangannya ke Sehun. “Apa Sehun?” Song Qian bertanya tidak sabar.

Sehun menghela napas, ia mengepal tangannya kuat meskipun berkesan gegabah tapi ini cara terbaik untuk membuat Sina terlepas dari Song Qian. “Sina tidak mungkin menyukai Tao.”

Song Qian mendengus, sebaliknya Sina memandang Sehun heran, ia memang tidak menolak pernyataan Sehun tapi darimana Sehun bisa mengambil kesimpulan itu?

“Sina—“ Sehun menengokkan kepalanya pada Sina, ia  tersenyum meskipun itu akan membuatnya terlihat bodoh di depan Sina “Dia baru saja menyatakan perasaannya padaku kemarin.”

“HE-EH.” Song Qian menganga, Sina jelas ingin menolak tapi mulutnya terasa terkunci saat Sehun menginjak kakinya pelan, serasa memohon pada Sina untuk bekerja sama dengannya, selanjutnya yang terjadi Sina semakin dibuat kaget.  Detik berikutnya ia merasakan tangan Sehun menarik tangannya.

“Dan aku menerimanya.” Kalimat itu Sehun akhiri dengan kecupan singkat pada pipi Sina, hanya seperkian detik tapi mampu membuat dua wanita di depannya kehilangan kata-kata.

_____________________________________

Author’s note:

OOPS sehunsina shipper mana teriakannya?

woh ternyata membutuhkan 19 chapter untuk membuat tao mengakui perasaannya o.o

gimana perasaan kalian soal chapter ekstra panjang ini? sebenernya bisa aja dipotong tp jadi kentang udah ga dapet feel menggebu2 lagi.

mood author lagi bagus jadi double update (bisa aja triple) tapi enggak deh. daaan pikrachu masuk big 30 di ffcompetition xoxoparty, excited bgt ternyata ceritaku……bisa juga huehehehe

oh iya! pastel udah 200 halaman lebih lho o.o salut sama kalian yg mau bertahan mengikuti cerita ini❤ :* {}

22 thoughts on “Pastel #019

  1. Thor ak lbih ska sma chapter 18ny .. Lebih seru mnurut ak, soalny ak taosina shipper dn Vic bknny asliny dy baik kok jdi kek gni sih .. Aigoo .. Lanjut ya thor

  2. My otp my otp kumpuuuuuulll waaaaaaaaa
    Pertama aku masih mesem2 karena taosina trus taohara eh ada luhansena abis gitu yixingmiyoung. Aaaaa; dibombardir sama otp sendiri wkwk
    Eh tapi serius thor, luhansena bikin gemeeesss Bangeeeeeett. Kalo iseng bikin sidestory lagi gitu thor hahahha😀
    Yixingmiyoung juga udah mencuri perhatian ku di awal2. Plis miyoung jgn out thor kasian yixiiiiing :333

    Apa ya saking panjangnya ini part ampe lupa mau ngomen apa aja wkwk
    Aku ngakak pas sina kebayang tao terus xD sampe anjing aja jadi muka tao wkwk itu pelecehan xD
    Dan tao galauuuuu huyuuuuuuu… hari2 menjadi suram dan tak ada semangat beraktivitas xD cailaaaah tao galauuu wkwkw dan akhirnya dia menyadari perasaannya tanpa harus kepo2 ke hara dulu😀
    Saking senengnya baca bagian tao galau aku jadi gak sebel pas vic tbtb muncul bahahhaa soalnya dia dicuekin sama tao. Hidup tao galauuu yuhuuuuuu ^○^/”
    Tao galau aja ganteng yaampuun u.u
    Btw, tao lucu ya. Dia kenal sama semua org di ff ini kayaknya. Coba thor dibuat tao gak sengaja ketemu sama readernya ff ini juga wkwk

    Permulaan konflik mulai tercium nih. Ekhem sehun pd bangt sehun wkwk dia putus sama miyoung jadi gak beres nih otaknya. Masa ngakuu ngakuuuu liiiiiih –”
    Dia gak terima sina suka sama tao yaaa. Jadi dia langsung ngaku2 gitu. Yessss tao galau alert nih. Gimana pas tao denger sina pacaran sama sehun?? :O
    Aaaaah gak sabar part selanjutnya. Mau liat tao galauuuuu :”3

    Btw thor mau kemana kok blng gak tau kapan on lagi? Gak hiatus kan thoorr?? Plis jangaaaaaan tinggalkan akuuu *?*
    Wkwkw oke seeyousoon :***

    • SUMPAH ngakak baca komen ini
      HAHA udah dibilang otp lagi XDD
      yaampun kamu tao biased tp liat biasnya sendiri sedih malah seneng😄
      dan iya tao ganteng kalau lagi galau :3 (padahal sama sekali ga ada pendeskripsian doi ganteng masih aja dibilang ganteng XD)

      alasan sehun kenapa begitu ada di chapter selanjutnyaaa🙂 nah itu dia kesukaan author reaksi tao sina udah jadian ><

      aku mau update cuma internet mati (mungkin disuruh fokus tugas kali ya. hah.)
      Uuh padahal chapter selanjutnya aku suka banget😥

  3. WHHHAAAAAATTTT SEEEEHUUUUNNN ARE YOU NUTTTSSSS OMG
    ga sabar sama kelanjutannya. aw aw aw xD *abaikan*
    boleh juga tuh triple update whauauuaua seneng buanget malahaann… hoho

  4. AAAAA..
    pertama -tama marilah kita panjatkan puji dan syukur atas first kiss di bibir taosina yeay HAHA
    Victoria jangan ganggu taosina grrrr pergi kau hush..hush *lebay haha

    kenapa author suka sekali bikin perasaan jadi campur aduk kaya adonan bakwan gini sih ..

    WELLDONE!! FIGHT !!

  5. Woah!! Sumpah nahan teriak pas baca Tao dan Sina….. Kiss! TaoSina! TaoSina!
    Gemes deh sama Song Qian! Pengganggu! ><

    Ditunggu chapter selanjutnya ^^
    Fighting ^^9

    • AKU JUGA MAU TAPI—

      Tao juga lucuuu kaaaann
      jadinya biarkan aku bersemedi dulu karena enggak di detour enggak di pastel aku bingung milih couple yang mana ._.
      Hehehe tapi serius aku juga lebih suka sehun-sina ;;)

  6. Aku benci Tao.
    Itu kalimat singkat tapi pasti nusuk banget buat orang polos kaya tao. Hahahaha aduh lagi dia tuh masa matanya sina harus ditutupin dulu baru dia pergi. Yaampun taoo~~~

    Aku suka sehun-sina moment di sini~~ pengen deh bisa main DDR expert begitu. Tapi masalahnya malu kalo ditonton. Hahahaha xD
    Oke tapi ini apaan sandiwaranya sehun, pake acara cium cium sina segala eeeeeh ga boleh tauuu~~ tuh sina keliatan banget gatau perasannya sendiri ke tao, nahkan mulai galau kan. Hahaha

    Hara itu sepupunya sina yang diajarin dio itu yaaaa?? Astagaaah aku baru ingeeeet xD dan seneng deh di sini ada sena-luhan moment, couple favourite sepanjang masa~ hahaha

    Dan moment nya miyoung-lay juga lucu, apakah kakak akan membuat miyoung sama lay akhirnya?

  7. yeyyyy aku seneng banget nget nget sama part ini,Ayo sehun sina go go go!!alleallealeee >_< uh akhirnya ada sehunsina lagi,ok lanjutttttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s