PASTEL #20

Song Qian merapatkan bibirnya, matanya bergantian memandang Sehun dan Sina, sesuatu berjalan di luar dugaannya, itu memang berita bagus dan justru saking bagusnya sulit dipercaya. “Apa kau melupakan Miyoung?” Masih curiga ia bertanya pada Sehun yang sudah melepas genggaman tangannya pada Sina.

Sehun bersyukur Sina bisa diajak kerja sama tapi dari tatapan Sina ia tahu perempuan ini tengah mengutuknya. “Aku sudah putus dengan Miyoung.”

Sekali lagi kalimat Sehun kembali membuat Song Qian mengerjapkan matanya “Ke-kenapa? Sejak kapan?”

Tidak ada jawaban, Sehun diam. Meskipun wajahnya terlihat santai otak laki-laki itu sedang berpikir banyak kemungkinan, sekarang perhatian Song Qian memang bukan pada Sina lagi, dan sebagai gantinya ia akan diwawancarai habis-habisan. “Sejak kapan noona mengurusi hubunganku dengan Miyoung? Sekarang kau sudah mendapatkan jawaban Sina tidak menyukai Tao, lebih baik noona pergi.” Sehun tidak peduli kalimatnya kasar, Song Qian juga sudah terbiasa mendapat perlakuan dingin dari dirinya.

“Baiklah, tapi aku mau tahu siapa yang memutuskan?”

Kali ini Sehun melirik Sina, merasa bersalah karena Miyoung tidak pernah melakukan kesalahan tapi Sehun tetap memutuskan untuk menyelesaikan hubungan mereka “Aku, alasannya yang jelas berbeda dengan alasan kenapa noona memutuskan Yifan.”

Dibandingkan hubungannya dengan Yifan, Song Qian tertawa, dongsaengnya ini benar-benar tidak mau disamakan. “Baiklah aku mengerti. Selamat untuk kalian berdua. Terus terang aku merasa kalian memang cocok.”

“Hmm.” Sehun menggumam malas padahal jantungnya sudah memompa dua kali lebih cepat. Dia bersama Sina, itu benar-benar aneh.

Setelah Song Qian puas mengacak-acak rambut Sehun ia pun berjalan pergi dengan langkah ringan merasa seluruh bebannya sudah hilang sementara orang yang ditinggalkannya masih terdiam seakan seluruh beban Song Qian berpindah pada mereka.

Sehun dan Sina masih terdiam satu sama lain, mereka menunggu Song Qian benar-benar keluar dari game center. Sehun yang memejamkan mata sudah siap menampung kemarahan Sina, ia bahkan tidak akan kaget jika Sina menampar pipinya. Tapi detik berikutnya ketika siluet Song Qian tidak terlihat lagi yang Sina lakukan justru berlawanan dengan prediksiya.

“Lututku lemas.” Sina segera jongkok, jantungnya masih berdetak kencang padahal ia benar-benar lega Song Qian tidak mengingat dirinya.  Kalau perempuan itu tahu ia adik Miyoung entah apa yang terjadi pada mereka berdua.

Sehun yang merasa bertanggung jawab segera jongkok di samping Sina. “Maaf aku membuatmu berbohong tapi aku tahu Song Qian noona orang seperti apa, dan dia—“

“Stop.” Sina meletakkan telunjuknya di depan bibir Sehun, mendengar orang bicara sudah cukup memusingkannya. “Aku juga berbohong, aku kenal Song Qian bukan dari Tao.” Setelah merasa kekuatannya terkumpul Sina pun berdiri diikuti Sehun. Mereka berdua berjalan keluar dari game center menghindar dari kebisingan.

“Song Qian kakak kelasku di SMP, dia sekelas dengan Miyoung dan mereka berdua selalu bermusuhan, jadi mau tidak mau aku tahu kisah mereka.”

Mengetahui Sina sudah mengerti orang macam apa Song Qian, Sehun menghela napas lega, menceritakan dari awal tentang Song Qian sejujurnya ia benar-benar malas. “Kalau kau tahu orang seperti apa Song Qian berarti aku tidak perlu menjelaskan kenapa kita mesti berpura-pura menjadi pasangan.” Ucap Sehun.

Sina mendecak tentu tidak semudah itu Sina menerima rencana Sehun. “Kau perlu menjelaskan.” Ia menghentikkan langkahnya membuat Sehun berhenti juga. “Kalau dia tahu aku adiknya Miyoung apa kau membayangkan apa yang akan Song Qian pikirkan tentang Miyoung? Dia akan mentertawai kakakku habis-habisan karena kekasihnya bahkan direbut oleh adiknya sendiri!”  

Sehun tahu, ia sudah memikirkan hal itu tapi pilihan kata Sina soal ‘merebut’ ia kurang suka mendengarnya. “Aku tahu, oleh karena itu Song Qian tidak boleh sadar kalau kau adiknya Miyoung.”

Sina menghela napas, Sehun berkata seolah semua semudah membalik telapak tangan,  yang namanya kebetulan itu mengerikan, jika saja Song Qian tahu—Sina menggeleng-gelengkan kepalanya, lebih baik ia berfokus pada hal lain. “Dan Sehun, aku mengerti kau ingin aku terbebas dari Song Qian, aku tahu dia jenis perempuan yang bisa meneror perempuan lain yang dianggap mengganggu hubungannya dengan laki-laki yang disukainya.”

Sehun mengangguk. “Aku pikir hanya Miyoung yang bisa melawan perempuan seperti Song Qian noona, aku tidak yakin kau bisa ja—“

Sina mendengus, merasa dirinya baru diremehkan “Baiklah aku mengerti, menurutmu aku tidak cukup kuat melawan Song Qian kan?”

Rasanya Sehun tidak perlu menjawab pertanyaan itu, Sina pun menghela napas, sejak awal yang paling membuatnya resah bukan soal dirinya, lebih dari itu ada seseorang yang membuatnya lebih cemas. “Tapi Sehun, kau tahu kan setelah ini Song Qian akan semakin mengejar Tao, apa..” Sina diam berusaha mencari kalimat yang tepat.

“Kau tidak kasihan pada Tao?” Ia pun bertanya. Sudah ratusan kali Sina memikirkan kemungkinan itu dan tidak pernah sekalipun ia merasa Song Qian pantas untuk Tao. Sekarang dirinya sudah terikat dengan Sehun apa yang bisa ia lakukan untuk Tao?

Menyadari Sina kembali sibuk dengan pikirannya Sehun menghela napas, ia jelas peduli dengan Tao menurutnya laki-laki itu terlalu baik untuk seorang seperti Song Qian. “Nanti kita temukan caranya.”

Sina tidak puas dengan jawaban Sehun tapi bagaimapun mereka memang tidak bisa melakukan banyak hal. Sina mengacak-acak rambutnya, semuanya menjadi rumit, kenapa ia harus mengkhawatirkan Tao? Ikut campur urusan orang lain sama sekali bukan gayanya.

“Oh ya, terima kasih atas kerjasamamu tadi. “ Sehun menjulurkan tangannya, butuh beberapa detik untuk Sina akhirnya mau menerima tangan itu dan menjabatnya.

“Ingat, kita hanya berpura-pura di depan Song Qian, di sekolah jangan pernah mengungkit hal ini.”

“Ya ya aku tahu.” Sehun berkata malas “Apa Miyoung perlu tahu?”

Mendengar nama Miyoung tersebut Sina langsung memiringkan kepalanya, akhirnya ia bisa bertanya pada Sehun “Itu tergantung, sekarang aku mau tanya kenapa kau memutuskan Miyoung?”

Itu pertanyaan yang sudah Sehun siapkan, ia bahkan sudah berlatih bagaimana ia akan menjelaskannya di depan Jongin, tapi di depan Sina? Itu beda kasus, terlebih Sina adik Miyoung. “Aku..” Sehun terdiam, berusaha mencari kalimat yang bisa menjelaskan keadaannya tanpa membuatnya terlihat sebagai laki-laki tidak tahu diri.

Sina tampak tidak keberatan Sehun mengambil waktu, ia tahu alasannya tidak mungkin sederhana dan lagi melihat Miyoung tidak menangis ia merasa keputusan Sehun memang tidak salah.

“Kau tahu Sina.” Sehun akhirnya membuka mulutnya. Sina yang mulai bosan pun langsung mengangkat kepalanya memandang Sehun.

“Dulu aku seperti anak TK yang melihat mainan baru. Melihat sesuatu yang begitu menarik, bagus, aku langsung ingin memilikinya. Pertama kali dengan Miyoung, dulu aku merasa perempuan ini berbeda dengan perempuan lain yang kutemui. Dia terlihat begitu…” lagi-lagi Sehun terdiam, kesulitan mencari kata yang tepat.

Ikut penasaran Sina mencoba menebak. “Menawan?”

“Bukan-bukan.”

“De—wasa?” Sina berkata, tidak yakin karena Miyoung dan dewasa sama sekali tidak cocok.

Sehun yang masih berpikir keras kembali menggelengkan kepalanya.

“Seksi?”

“Bukan.” Kali ini Sehun memutar bola matanya.

Sina tertawa, baru saja ia ingin kembali menebak Sehun langsung menjetikkan jarinya “Keren!”

“Keren?” Salah satu alis Sina naik, tidak mengerti.

Setelah mengangguk semangat Sehun melanjutkan ceritanya  “Iya keren, dia bisa bermain piano cepat sekali seolah jarinya kesetanan, dia juga bisa memarahi Chanyeol-hyung sampai hyung itu hampir menangis, lebih dari itu ia selalu membuat makanan yang lezat, ketika bersamanya berat badanku naik.”

Alasan Sehun menyukai Miyoung membuat Sina menganga. Laki-laki ini tampaknya tidak sadar ia baru saja membuat reputasinya turun di mata Sina. Sehun yang tidak peduli Sina yang memandangnya aneh kembali melanjutkan penjelasannya. “Aku salah mengartikan perasaan kagum itu menjadi suka, dan begitu terbiasa dengan segala hal yang kubilang keren itu, lama-lama Miyoung lebih tepat dikatakan sebagai kakakku.”

“Apa..kau mengatakan semua itu pada Miyoung?”

“Ya, aku bilang pada Miyoung hubungan kita menjadi statis karena aku tidak bisa menjadi laki-laki yang tepat untuk perempuan seperti Miyoung, dia butuh perhatian sederhana dan aku tidak bisa memberikannya.”

Sina memijit keningnya, satu pertanyaan masih tersisa. “Lalu bagaimana reaksi Miyoung mendengarnya?”

“Dia berterima kasih padaku karena aku berani mengambil langkah.”

Saat itu juga seluruh kekhawatiran Sina soalnya kakaknya segera terangkat. Melihat Miyoung menyedihkan benar-benar tidak menyenangkan untuk Sina, kakaknya itu setiap sedih selalu bertingkah seakan seluruh sumber kebahagiaan di dunia lenyap.

“Baiklah, mungkin kita bisa memberitahu Miyoung. Sekarang aku mau pulang, dan aku tidak akan mengakui kekalahan di DDR tadi, kau menang karena baru bermain, sedangkan aku sejak setengah jam lalu sudah mulai bermain.” Sina yang kembali menjadi dirinya pun berjalan cepat meninggalkan Sehun. Sehun tertawa ia ikutan mempercepat langkahnya hingga kembali beriringan dengan Sina.

“Oh ya Sehun.” Sina menengok pada Sehun yang langsung menengok padanya. “Hmm?”

“Tidak ada kecupan lagi.” Ia berkata sambil mengelap pipinya yang dicium Sehun membuat laki-laki itu kembali tertawa. “Aku tidak jamin~”

#

#

tumblr_m7eg8bdnqz1qdlkyg.giftumblr_m7eg8e9VIp1qdlkyg.giftumblr_m7eg8inMIc1qdlkyg.gif

Tao menelungkupkan tangannya di atas meja, kepalanya diletakkan di atas majalah yang sejak tadi dibaca tapi matanya memandang jendela memperhatikan sepeda merah Sina yang masih terparkir di depan toko basah terguyur hujan. Sampai kapan Sina berniat meninggalkan sepedanya di sana? Apa perempuan itu lupa? Tao keheranan mengingat ini sudah hari ketiga sepeda itu masih berada di posisi yang sama.

“Minum coklat panas ini, sudah kuberi ekstra marshmallow  di atasnya.” Ahjumma meletakkan secangkir coklat panas di depan Tao berharap keponakannya ini lebih bersemangat, tapi bahkan secangkir coklat kesukaan Tao pun tidak mampu membuat laki-laki ini mau mengangkat kepalanya.

Ahjumma mengernyit “Tao! Kau harus menghargainya!”

Mendengar bentakan ahjumma Tao refleks segera duduk tegak dan meraih cangkirnya “Te-terimakasih ahjumma.”

“Sekarang ceritakan padaku, apa maksud semua ini?” Ahjumma bertanya sambil menunjuk majalah wanita remaja yang berada di meja Tao. Sementara di meja satunya lagi tumpukan komik perempuan berserakan.

Tao yang masih menegak coklatnya tidak mau menjawab apa-apa, ahjumma akan mentertawakan dirinya habis-habisan kalau tahu alasan sebenarnya.

“Sampai kapan mau merajuk seperti ini? Bukankah Yixing sudah minta maaf saat memakan kalbimu?”

Tao mendesah jengkel ahjumma bahkan menganggap dirinya sekanak-kanakan itu.”Aku sudah memaafkan Yixing soal itu.”

“Kalau begitu kenapa terus mengerutkan keningmu, ayo tersenyum, sekarang kau terlihat jelek.” Ahjumma menarik kedua pipi Tao memaksakan sebuah senyuman, Tao menggelengkan kepalanya saat ini suasana hatinya tidak bisa diajak bercanda, ia pun menepis pelan tangan bibinya.

“Aku mau berangkat kerja!” Ia langsung berdiri berusaha terlihat tenang sekalipun lidahnya serasa terbakar karena ia menghabiskan coklat itu cepat-cepat ingin segera kabur dari bibi yang sudah siap menanya-nanyai dirinya.

“Hei seingatku kau tidak bekerja hari ini?” Ahjumma ikut berdiri dan merapihkan majalah-majalah yang berserakan di atas meja. Tao yang sudah mengambil payung dan berdiri di depan toko hanya menengok sekilas sebelum ia membuka pintu “Aku menemukan pekerjaan baru!”

Tao langsung berlari, hujannya cukup deras dan ia hanya memakai kaos lengan pendek. Alasannya pergi kerja hanya kebohongan, yang ingin ia lakukan sekarang hanya berjalan keluar berusaha menenangkan pikirannya. Perkataan Song Qian beberapa hari lalu berhasil membuat beberapa hari terakhirnya terasa begitu menyiksa.

F l a s h  b a c k

Isi lemari Tao berserakan kemana-mana, ia mencari kemeja untuk dipakai di ulang tahun Hara. Pagi tadi Hara mendatanginya dan memberikan undangan ke pesta ulang tahunnya yang ke-11, membuat Tao cukup kaget karena ia kira perempuan ini baru berumur delapan tahun.

Mata Tao membulat menemukan kemeja tartannya yang ternyata tertumpuk di baju ahjumma yang disimpan di lemari Tao. Baru saja ingin menutup pintu lemari matanya menangkap sebuah kotak mungil yang terbungkus dengan kertas berwarna pink pastel.

“Aku lupa memberikan ini pada Sina!”  Tao langsung mengambilnya, bibirnya langsung tersungging menyadari kotak ini bisa diberikan sebagai permintaan maafnya pada Sina atas kecelakaan itu. Sambil bersenandung Tao segera mengambil handuk, baru saja ingin membuka baju, tangannya berhenti saat menyadari sebuah gelang terpasang di pergelangannya. Tao langsung melepas gelang itu berpikir jangan sampai terkena air, gelang yang sama akan dimiliki oleh Sina oleh karena itu Tao harus menjaga gelangnya baik-baik.

#

Song Qian yang baru sampai di toko ahjumma keheranan melihat Tao yang terlihat rapi berlari menuruni tangga.

“Tao!” Ia berseru

Tao langsung menengok, sebelah alisnya dinaikkan kaget dengan kehadiran wanita ini “Bukannya aku sudah mengirim pesan janji makan siangnya dibatalkan?”

“Ya aku tahu, aku datang hanya untuk membeli sesuatu.” Song Qian menjawab dengan senyuman.

Tao hanya mengangguk-ngangguk, dengan terburu-buru ia membuka lemari sepatu mencari Pantofelnya. Mata Song Qian menyadari kotak yang dipegang Tao, sepertinya laki-laki ini belum tahu kabar soal Sina.

“Apa kau akan memberikan kotak itu pada Sina?” Ia bertanya.

Tao menengokkan kepalanya ke belakang menghadap Song Qian dan tersenyum “Iya, aku baru sempat sekarang.”

Sambil menarik napas Song Qian berjalan menghampiri Tao “Kalau begitu pas sekali, kau bisa memberikan ini sebagai hadiah pada Sina karena dia baru saja jadian dengan Sehun!”

“Ah benarkah—tunggu, jadian?” Tao yang baru saja duduk mulai memasang sepatu kembali menengokkan kepalanya menghadap Song Qian.

Yep  aku juga kaget, tapi melihat mereka berdua memang cocok aku rasa itu tidak aneh. “Song Qian berkata sambil duduk di sebelah Tao. Tidak menyadari kalimatnya itu membuat  jantung Tao serasa berhenti untuk beberapa saat.

Tangan Tao berhenti memasangkan sepatu pada kakinya, ia ingin berbicara tapi takut mulutnya bergetar. “Tao?” Song Qian kebingungan melihat Tao yang tidak memberi respon.

“Ke-kenapa Sina tidak memberitahuku ya?” Sebisa mungkin Tao berusaha terlihat santai. “Hahahah.” Sebuah tawa yang dipaksakan keluar dari mulutnya, sambil mengacak-acak rambut yang menghabiskan waktu sepuluh menit lebih untuk ditata Tao berdiri. “Kalau begitu aku harus memberi selamat pada Sina!”  Ia berkata tanpa memandang Song Qian, tidak peduli Song Qian menyahutnya Tao tetap menutup pintu dan berjalan cepat keluar.

Kotak yang sudah disiapkan untuk Sina masih dipegangnya erat, padahal ia sendiri tidak yakin kemana barang itu akan berakhir. Sina Sehun Sina Sehun nama dua orang itu tersebut berkali-kali di otaknya, tahu begini ia harusnya lebih mengambil serius kata-kata Sena saat itu. Sehun? Tao hanya bertemu sekali dengannya, di toko hewan waktu itu, ia tidak tahu apa-apa soal laki-laki yang disukai Sina, rasanya benar-benar bodoh. Tao yakin  kalau ia dan Sina sudah dekat, tapi menyadari Sina menyukai seseorang pun Tao tidak tahu. Sekarang Tao mempertanyakan dirinya sendiri. Sina yang dianggapnya teman pun tidak menganggap Tao cukup penting untuk tahu siapa orang yang bersamanya.

Baru saja kemarin ia memikirkan skenario permintaan maafnya untuk Sina tapi sekarang rasanya semua rencana itu sudah tidak penting lagi, Sina sudah memiliki seseorang yang dapat melupakan kejadian itu.

“Hahaha.” Tao memaksakan sebuah tawa lagi. Ia baru saja membaca komik di mana si tokoh laki-laki tidak berani menyatakan perasaannya, lalu wanita yang disukainya direbut. Setelah itu Tao mengkritik si laki-laki pengecut yang tidak bisa menyatakan perasaannya sendiri, sekarang semua itu menjadi karma karena Tao tahu ia dan laki-laki itu menjadi orang yang sama. Apa yang terjadi kalau Tao jadi mengirimkan pesan itu untuk Sina?

Sina bagaimana kalau aku mentraktirmu makan?

Pesan itu masih menjadi draft  di ponsel Tao, cukup sulit untuk Tao menekan tombol send karena Tao berjanji pada dirinya sendiri akan menyatakan perasaannya pada Sina jika perempuan itu menerima ajakannya.

E n d  o f  f l a s h b a c k

#

#

Tao memasuki toko CD, AC ruangan langsung membuat tubuhnya menggigil begitu ia mendorong pintu toko. Saat ini tidak ada uang di dompetnya tapi toko ini satu-satunya yang bisa menjadi pelarian Tao.

Tao tidak tahu musik apa yang akan didengarnya, tangannya secara acak mengambil CD lagu sekalipun ia tidak tahu siapa penyanyinya. Dengan beberapa kepingan CD sudah berada di tangan Tao pun berjalan menuju bagian pemutar. Kebiasaannya setiap ia merasa tidak ada lagi hal yang bisa membangkitkan semangatnya; laki-laki ini memilih menghabiskan berjam-jam di toko CD mendengarkan musik secara acak, sekalipun bisa saja ia menikmati musik dengan ipodnya sendiri, ada kesan berbeda jika ia mendengarkan musik di tempat ini.

Tao mengambil headphone yang menggantung dan memasangnya, ia menekan tombol play tanpa repot-repot mengecek judul lagu itu. Mata Tao yang sering kali menyipit membentuk bulat sabit kerena sering tertawa kali ini tidak menunjukkan emosi apapun. Matanya memandang luar jendela, hujan yang masih juga deras menjadikan jalanan begitu lengang membuat Tao bisa melihat balik kaca bangunan di depannya.

Sosok perempuan yang sedang duduk menyandarkan diri di sofa cafe mendapat perhatian Tao “Sina?” Ia memiringkan kepalanya, melihat siluet perempuan itu tepat di balik jendelacafe di depan toko.  Tidak seperti Tao yang biasanya, ia memilih tetap berdiri di sana tanpa berusaha membuat Sina menyadari keberadaannya.

Masih dengan tatapan datar Tao memperhatikan Sina, perempuan itu sedang menelungkupkan badannya di atas meja, ia juga memandang keluar tapi tidak menyadari keberadaan Tao di sana. Jantung Tao tidak berdegup kencang seperti yang biasa, tapi ia merasakan sesuatu yang sakit menjalarinya rasanya melihat Sina saja membuatnya tidak nyaman. Anehnya Tao, ia memilih menghiraukan rasa sakit itu dan berdiri di sana tetap memandang Sina yang sudah duduk tegak mulai membaca buku di depannya.

Tao tidak kaget apalagi tertawa melihat Sina yang tidak sengaja menjatuhkan gelasnya. Matanya tidak mengerling saat melihat Sina tertawa, penasaran kenapa perempuan itu tertawa pun tidak. Perempuan ini seperti tidak meninggalkan kesan apa-apa lagi bagi Tao. Sekarang yang Tao pertanyakan kenapa matanya tidak bisa melepaskan sosok Sina? Kenapa kakinya yang sudah mulai pegal masih mau bersikeras untuk berdiri?

Tanpa sadar tangan Tao kembali meraba bibirnya berusaha mengingat peristiwa yang selalu membuatnya merasakan sensasi listrik yang sekarang berganti menjadi kosong.

Tao mendengus, mungkin ia terlalu menyukai Sina. Ia menginginkan Sina tanpa bisa berbuat banyak karena perempuan ini bahkan tidak menganggapnya.

#

#

Sina menelungkupkan tangannya di atas meja cafe, kepalanya dijatuhkan di atas buku pelajaran tapi matanya memandang jendela memperhatikan tetesan hujan yang terus membasahi kaca membuat jendelanya berembun.

“Aahh.” Ia mendesah malas, saat ini benar-benar malas belajar tapi besok lusa ada ujian yang setengah materinya saja belum ia kuasai. Otak Sina tidak bisa diajak konsentrasi, di sekolah terlalu berisik sekalipun Seukri sudah mengajaknya untuk belajar bersama di perpustakaan, di rumah sejak orang tuanya kembali kata sepi tidak cocok lagi untuk rumahnya, ayahnya selalu memasang volume besar setiap menonton pertandingan bola, ibunya di lain ruangan menyalakan musik aerobik yang upbeat hampir mencapai volume maksimal dan ditambah permainan piano Miyoung, telinga Sina terasa pengang. Ia ingin belajar di toko ahjumma, sekalian mengambil sepedanya yang terlupakan,  tapi ada Tao disana, kemungkinan bertemu Song Qian besar. Sina pun memutuskan mengasingkan diri di cafe rekomendasi Miyoung.

Sambil mengaduk coklat marshmallow nya Sina menatap langit-langit cafe, cahaya  lampu  yang kuning membuat perasaannya ikut hangat. Dengan pikiran yang sudah lebih tenang Sina kembali memikirkan hal yang paling dihindarinya; Tao dan Song Qian.

Apa mungkin Tao menyukai Song Qian? Tapi Tao bilang dia menyukai perempuan lain? Siapa perempuan itu? Apa perempuan itu cukup kuat untuk membuat Song Qian menyerah? Tapi tunggu, apa perempuan itu juga menyukai Tao? Apa Song Qian tidak bisa menyukai laki-laki lain? Kenapa harus Tao yang disukai Song Qian? Apa yang dilihat Song Qian dari Tao? Kenapa Seukri bisa suka Tao? Song Qian versus Seukri siapa yang menang? Kenapa seorang Tao bisa disukai? Apa bagusnya Tao sih? Kenapa aku memikirkan Tao? Bisa tidak Tao menyelesaikan urusannya sendiri?

Tidak.

Sina menghela napas panjang, pertanyaan selalu dibalas dengan pertanyaan tidak ada jawaban keluar. Otaknya terasa buntu.

Sambil  mengangkat kembali cangkirnya Sina menegak coklatnya pelan-pelan, matanya menyusuri seluruh pengunjung cafe apa tidak sesuatu yang bisa membuatnya lebih baik sekarang?

#

#

Hari ini begitu ajaib Tao berpikir sambil menatap langit musim panas, sampai tadi sore langit masih mendung dan saat ini awan menghilang begitu saja, giliran bintang yang memenuhi langit. Hari sudah malam, Tao juga kaget begitu menyadarinya. Hal yang ia lakukan sejak tadi hanya memperhatikan Sina tanpa sekalipun memandang jam dinding di depannya, begitu Sina keluar dari cafe waktu Tao serasa kembali berjalan, jam sudah menunjukkan pukul enam.

Ia berlari menuju toko ahjumma, belasan panggilan dari bibinya membuat Tao berpikir sesuatu yang urgen pasti terjadi. Dengan terengah-engah ia membuka pintu toko, sosok bibinya tidak terlihat membuat Tao kebingungan, malam begini ahjumma selalu berada di lantai bawah. Baru saja Tao membuka sepatu, keningnya mengernyit saat melihat heels dan pantofel yang ia kenali tersusun di sebelah rak sepatu.

Jantung Tao berdetak kencang, ia ingin berharap tapi takut semuanya tidak mungkin. Dengan ragu ia berjalan menuju pintu taman belakang. Sambil menelan ludah tangannya menggenggam gagang pintu. Secara perlahan di hitungan ketiga ia pun mendorong pintunya dan yang terjadi—

“Tao!!”

“HAH!? Ka-kapan kalian kembali??” Tao berusaha tidak terjatuh, lututnya terasa lemas apalagi ketika wanita yang disayanginya itu sudah memeluknya. “Apa ibu akan lama disini?” Tao bertanya kegirangan.

Ayahnya yang ikut berdiri menghampiri anak satu-satunya lalu mengacak-acak rambut Tao dan menyeringai “Kau tidak menanyaiku hah?”

Tao tertawa, air mata keluar membuat kedua orang tuanya berkaca-kaca, mereka tahu dalam setahun jumlah pertemuannya dengan Tao masih terhitung dengan jari. “Masalah kepulangan lain kali kita bicarakan, sekarang kami akan mengenalkanmu pada seseorang.”

Tao hanya mengangguk, sebenarnya tidak perlu dijawab pun Tao tahu waktu yang dihabiskan orang tuanya disini tidak akan lama. Ia pun berjalan mengikuti ayah ibunya menuju kursi-kursi taman yang sudah disusun melingkari tempat barbeque.

“Kenalkan perempuan manis ini, namanya Han Junhee.”

Tao yang sejak tadi tersenyum karena mencium aroma daging bakar langsung mengangkat kepalanya memperhatikan perempuan yang sedang mengunyah daging dan tersenyum padanya. “Namaku Huang Zitao.” Tao ikut tersenyum.

Ibu Huang pun duduk di samping Junhee dan merangkulnya, Tao kebingungan tapi ia rasa ibunya akan langsung menjelaskan siapa sebenarnya perempuan itu. “Dia anak sahabatku, dan kedepannya akan ikut tinggal di sini.”

“Ah iya.” Tao hanya mengangguk-angguk, ia segera duduk di kursi dan mengambil sumpit, berita yang ibunya bawa memang mengagetkan, tiba-tiba ada perempuan asing yang harus tinggal bersamanya, Tao ingin bertanya tapi saat ini ia benar-benar lapar. Makanan selalu menjadi prioritas seorang Tao. “Tapi apa muat? Yixing kan juga sudah pindah kesini.” Ia bertanya dengan kedua mulutnya yang sudah penuh dengan daging.

Ahjumma tertawa dan menepuk bahu keponakannya “Kau dan Yixing akan sekamar!”

 Memilih tidak banyak bertanya dan berfokus pada daging, Tao sekali lagi hanya mengangguk.

Apa aku sesuka itu pada Sina? Aku bahkan melupakan makan siang karena perempuan itu.” Ia bertanya dalam hati.

Tao yang sedang fokus membungkus daging dengan selada baru saja ingin memuji siapapun yang memanggang daging, ketika ia mulai membuka mulut, ahjumma yang tiba-tiba menyenggol sikutnya mengatakan sesuatu. “Dia akan belajar di sekolah yang sama dengan Sina.”

“Hah?” Tao langsung terbatuk, ia memukul dadanya sambil berusaha keras menelan daging yang menyangkut di tenggorokannya.

Junhee tertawa kecil melihat pemuda yang terlihat kaget tanpa alasan yang jelas, alasan kepindahannya ke Korea memang tidak begitu menyenangkan untuk dibahas terlebih jika orang tua Tao yang mengatakan. Ia pun berdiri dan duduk di kursi samping Tao. “Sebenarnya aku sudah pernah tinggal di Seoul, tapi aku pindah ke Shanghai dan kembali lagi karena ibuku koma dan dirawat di sini.”

Tao memandang Junhee, perempuan itu sudah berada di dekatnya membuatnya bisa mengamati lebih jelas wajah seperti apa yang tinggal bersamanya nanti. Jawaban Junhee membuat Tao ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat perempuan itu merasa lebih baik tapi masih tersedak membuatnya hanya bisa terbatuk-batuk.

“Besok hari pertamanya sekolah, kau antarkan dia ya?” Ibu Huang menepuk bahu Tao tanpa tahu kalimat yang diucapkannya dengan santai itu langsung membuat anaknya berencana untuk pura-pura sakit besok.

____________________________

Author’s note:

Tadaah! Tokoh baru! (sebenarnya lama tapi muncul lagi) kalau ada yg baca detour side stories; luhan’s part harusnya kenal sama cewek ini😉 awalnya author ga berencana manggil dia tp terinspirasi dari komen reader tao punya tunangan di cina (oke aku tau itu bercanda tapi tetep aja idenya lumayan bagus) dan karena tunangan too mainstream kita panggil dia sebagai anak temen orang tua tao aja😉 Lagipula aku mikir sina sama song qian itu kurang seimbang, sina butuh seorang rival yg bisa bikin pembaca makin dugeun dugeun gregetan.

Daan bicara tentang song qian, sekedar mengklarifikasi kenapa aku memanggil Song Qian di pastel sebenarnya maksudku ga bener2 itu victoria f(x), (maksudnya itu emang vic tapi enggak vic juga, intinya song qian di sini bener2 ‘out of character’ tp gau deng soalnya song qian asli juga ga tau kayak gimana haha yang jelas dia baik) dia juga jadi karakter nyebelin bukan karena dia cocok atau ga suka dia, ya karena maunya gitu aja. Sebenarnya aku milih song qian cuma karena aku suka namanya aja. Jadi kalau ada fans victoria maaf ya kalau agak tersinggung sama watak song qian di cerita ini J.

Oh ya aku gambar tao di pastel! Rambutnya dia ga gondrong soalnya tao lebih ganteng lebih seger kayak gitu. Tapi yang kugambar taonya jadi keliatan tua  -_-;;

Wah kepanjangan author’s notenya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya❤.

xoxo, Pikrachu.

16 thoughts on “PASTEL #20

  1. FINALLY ini update jugaaaa………………………………………………………………
    kasian sama tao ._. sebel sama song qian -_- dan munculah han junhee.
    aku udah kepo banget sma ini ff ending nya masih jauh banget yah =))
    lanjut””””””

  2. baaaaaaaaaaaaaaaah…. *hela napas*
    udah mau komen itu aja!!
    .
    .
    .
    .
    engga ding wkwk jadi reader yg ini lagi ngambek soalnya author’s note nya bikin komen panjang yg udah tersusun setelah baca berantakan. be-ran-ta-kan .-.
    sumpeeeeeh nyesel itu ngomong gitu huaaaah u,u waktu itu kan bilangnya aku thor, aku tunangannya bukan junhee *mupeng wkwk*
    seketika tadi abis baca notenya aku langsung buka itu chapter yg aku blng gitu trus mau cari tombol delete komen tapi ternyata tidak saya temukan (ya emang gak bisa-_-)
    eh btw itu maksudnya komen aku kan yak?wkwk (tautaunya bukan trus saya malu, gak mau komen lagi wkwk-_-)
    junhee apa itu -,- wkwkkw

    oke aku inget2 dulu tadi mau komen apa aja hoho
    oiyaaaaaaaaaaaaaa, huehehehheheehhehehe jadi gitu toh kalo tao lagi galau… buahahahahha ujan-ujanan wakakakakkaa galau sambil ujan-ujanan. UJAN-UJANAN SAMBIL GALAU, LUAR BIASA! SPEKTAKULER!!! buakakakakkaka tao galaunya pooooooooooooolll, thankyou thoorr :**
    ini demi mau ngakak tapi kasian xD
    aku tau emang tao galau itu ganteng banget ahilaaaahhh.. coba bayangkan bagaimana perasaan penjaga toko cd itu ketika tao masuk toko dengan basah. bagaimanaaaa?! bagaimana kalau penjaga toko itu sayaaaa! perasaan sayaaaa u,u baaaaaaaaah! *jadi curhat kan._.)*
    oke lupakan gak penting… *sbnernya komen gue emng gak pernah penting sih –“*

    nah trus, sina mikirin tao. ini nih, suka bete sama orang yg jadi oon kalo nyangkut perasaan. mau ngakuin suka aja mesti galau dulu, apalagi sambil ujan-ujanan wkwkw kayak tao bakakkaka xD
    ayolah sina buru-buru aja mantapkan hati mu sebelum taonya direbut penjaga toko cd nanti(re:saya) ha ha ha ha..

    oiya thor mau request miyoungyixing yak nextchap xD trus masalah junhee mau dibuat seperti apa kharakter dia nanti? saya penasaran ._. apakah jahat seperti song qian? atau baik hati yang meluluhkan hati tao? atau… gak mau ngomong deh takut salah lagi nanti T_T
    saya tunggu song qian out from the story yaaa.. kasian perannya pasti gak penting lagi nnt wkwkkw *ketawa jahat* aduh ampun juga sama fans vic eonni. saya suka juga kok sama doi tapi gak suka sama karakter dia disini hehehe piss :Dv

    jadi, inti komen ini adalah tao mau dateng ke pesta ultahnya hara itu cute banget . . . sekian ^^v
    (chukae udah sampe chapter 20, gak berasa pastel udah berkepala 2, lebih tua dari saya :’) terharu jadinya. semangat selalu. fighting :D)

    • HAYOO SALAH SENDIRI HAHAHA
      iyaaa komenmu itu yang mengundang masalah baru pada perkembangan hubungan sina-tao ckckckkc
      daaan sekali lagi komen yg ini emang ga penting tp berhasil bikin ngakak, kenapa diantara sekian adegan mesti dibahas bagaimana perasaan penjaga toko cd itu ketika tao masuk toko dengan basah?? KENAPA MESTI ITU YG DIBAHAS LOL
      Authornya sendiri bales komen jadi ikutan emosian juga ._.

      sudah2 kesempatan penjaga toko cd muncul kecil kemungkinannya, meningan kamu ganti shipping jadi ke junhee aja;) junhee mau dibikin jadi ga ketebak susah dijeaskan..

      Daaaan ketika komennya udah mau selese kenapa malah bahas hal “tao mau dateng ke pesta ultahnya hara itu cute banget” ituuuuu bukan inti masalah cerita iniiiii TT^TT HAHAHHA

      iya nih aku juga ga nyangka mungkin sampe kepala tiga juga masih ada eheheh

  3. Huah! Pastel update lagi~
    Berhubung comment ku di part sebelumnya itu dikit banget, karena gak tau mau ketik apa. Kalau di tanya alasannya, jawabanya simpel aja, kepikiran terus dengan adegan ciuman Tao-Sina. Gak inget lagi sama yang lain!

    Setelah Song Qian, eh ada Junhee. Jadi, Junhee itu udah langsung jadi tunangan Tao?
    Tao! Jangan lupakan perasaanmu pada Sina! Ingat ciuman pertamamu adalah Sina. Tao Ingat itu! Ingat!

    Sina mikirin Tao? Kyak!!! SINA!! jangan bilang kamu sudah memiliki perasaan sama Tao?? Ayo Sina! Jawab!

    Semakin penasaran aja nih cerita. Sehun-Sina-Tao. Saya TaoSina s. Tapi kenapa setiap momen SS (SehunSina) selalu bikin saya. Ah! Gak bisa diungkapkan dengan kata- kata. Senang? Gembira? Semacam itulah.

    Segiti aja dulu deh comment ku. Maap kalo kependekan/ kepanjangan *?* -abaikan.

    ^^9 FIGHTING!
    ditunggu part selanjutnya ^^

    • Okee kalau gitu aku bakal bikin scene yg bisa membuatmu melupakan adegan adegan kiss taosina
      daaan junhee bukan tunangan tao, tunangan terlalu pasaran aku bikin konflik yg lebih seru nanti.
      Daan terus terang aku ga bisa jawab sina udah suka tao belum ya? (authornya ngaco nih)
      Tenang aja aku juga bingung kok sama cerita ini, btw makasih komennya meitha-nim bikin makin pengen bisa bikin kalian gemes dengan ceritaku ;;)

  4. Akhirnyaa update pnasaran sma kelanjutan nyaa ≧﹏≦thor mian ak bru komen di chap ini ak readers baru ini tdi bacaa ff ini ngebut hihi
    semangat nulis yaah thor fightinggg ♥♥♥♥

  5. Authorrrrr .. Aku udh nebak klau akirnya vic jdi kek gni, dan bnerkn ap yg ak tebak terjadi .
    Tao jgn jadi rebutan dong kasian Sinanya, btw Thor ak bru sadar klau Detour sma Pastel nyangkut cba bkin Jongin gmana gtu sma Sina kyk yg di Detour chap 10 yg dikejar singa itu klau gk slh ..

    Dan Junhee .. Kykny ak gk inget de ad Junhee, cba skali” bkin moment Tao Sina sma Chaeri Kyungsoo itu mereka berdua bias ak di EXO ya walapun yg pertama ttap Kyungsoo si ..heheh

    Mian gaje dan panjang .. Fighting ya Thor, dan author adalah eonni kkk

    • Jongin bakal muncul lebih banyak lagi kok ^^ meskipun dia ga dianggep sama sina lol.
      ARGH KYUNGSOO ultimate biasku tenang aja bakal kubikin banyak scene dia :3
      iya aku kelahiran 95 ^^

  6. Uhuu😥
    baby panda di terjang banyak cobaan..
    moga2 tao gak nyoba buat ngelupain sina..
    heuhh.. Gimana ya chap2 selanjutnya TT

    btw keren deh fanartnya^^ gak tua kok.
    di banyakin lg shadingnya, jangan takut~
    go go

    • tenang aja tao kita ga bakal selemah itu kok;;)
      iyaaa shadingnya emang kurang, tau aja aku takut kalau aku banyakin shadingnya^^

  7. Pastel ke-20..
    Kayaknya emang Sina itu jodohnya sama Tao. Selamat ya😦 *pasang ekspresi terpukul* Pupus sudah harapanku menyatukan Sehun dan Sina /lebay/
    Sina udah ketahuan suka Tao, tapi kok ni bocah belum sadar2 juga ya.. Bikin gemes aja

    Hmmm.. Ada tokoh baru toh, bakal suka Tao juga??

    Sehun~ Im still into you..

    • komennya sedih bacanya ikut sedih ._.
      Harapanmu belum pupus karenaaa author ga ingin mengakhiri pastel sesimpel itu!
      Sumpah kalimat terakhirnya galau…aku jadi merasa bersalah

  8. Ah elaaaah song qian tuh apaan siiiih, urusin aja idup lo sendirii, jangan usik usik taooo kasian kan jadinya anak polos begitu galau

    Ini junhee yang dulunya ketua kelas itu bukan sih? Yang pernah naksir sama luhan plus yang bikin luhan sama sena salah paham sampe waktu itu? *sekarang sih udah ngga, kan udah jadiaaan wkwkwk* oh oke aku gatau kalo ternyata dia berperan penting di pastel. Eh penting ga sih? Hahaha mboh lah kita liat next chapternya sajooo~

  9. Song qian nyebelin!
    Aku sina-sehun shipper tp kok pas mereka pura-pura pacaran gitu rasanya masih aga kurang sreg yaaaa? Jd ngerasa kasian gitu sama Tao -_- duh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s