PASTEL#021

#021

 

yehey update


Angin berhembus masih membawa suhu dingin hasil hujan kemarin, Tao pun menarik kupluknya yang melorot. Langkah laki-laki ini tidak begitu pasti, jalannya gontai dengan kepala terantuk-antuk, mulutnya lebih banyak menguap dari pada mengatup. Pagi ini Junhee membangunkannya pagi-pagi (baca: kepagian), dia bilang kebiasaannya sejak dulu selalu berangkat sekolah sepagi mungkin. Dan sampai detik ini Tao masih bertanya kenapa kebiasaannya itu harus merepotkan orang lain.

“Junhee, kau mau jatuh berjalan di situ?” Tao berkata malas sambil memperhatikan perempuan yang sedang jalan meniti di pagar bata yang membatasi semak dan jalan. Junhee hanya terkekeh dan menatap Tao yang kepalanya sekarang hanya sejajar dengan pinggangnya.

“Kalau terjatuh Tao-hyung akan menangkapku kan? Aku dengar dari Ibu Huang kau jago beladiri, dia bilang kalau ada apa-apa aku bisa mengandalkanmu.”

Sekali lagi Tao menguap lebar sebelum menjawab kalimat Junhee. Dipanggil hyung oleh perempuan benar-benar aneh, tidak peduli Tao menolak, Junhee bersikeras memanggil Tao dengan hyung.  “Aku tidak akan menangkapmu, sudah tahu bahaya masih saja dilakukan.”

Junhee mendengus tapi tidak sepenuhnya jengkel dengan perkataan Tao. Dengan kedua tangan yang direntangkan ia mempercepat langkahnya membuat Tao mengumpat panik dalam bahasa mandarin.

”Berjalan di jalan biasa terlalu membosankan! Hidup itu perlu tantangan.” Perempuan itu berujar dengan semangat.

Kali ini Tao menghela napas, ia benar-benar malas mengantar anak ini ke sekolah, tadi pagi ia sudah menempelkan pemanas pada keningnya tapi taktik murahan itu sudah diketahui oleh ibunya sehingga Tao ditarik paksa, ia bahkan tidak sempat mencuci muka.

“Hyung, kurasa kau cocok jadi bodyguardku, bagaimana kalau pura-pura jadi pacarku? Perempuan manis sepertiku ini sering menjadi sasaran penjahat. Aku butuh seseorang untuk melindungiku.”

Mata Tao melirik Junhee dari atas sampai bawah, perempuan ini benar-benar terlihat normal tapi setiap ia berbicara tidak pernah ia dan Tao memiliki percakapan normal. Sejak pertemuan pertama mereka kemarin malam Tao sudah menetapkan bahwa Junhee memang aneh, biasanya Tao bisa menoleransi orang ‘aneh’ tapi ia benar-benar tidak menyangka perempuan cantik seperti Junhee memiliki kepribadian 4D seperti itu. “Aku tidak mau, seenaknya saja dimanfaatkan.”

Mendengar penolakan Tao Junhee justru tertawa. “Aku akan membuat Tao menyukaiku, jadi kau mau menjadi pelindungku.”

“Jangan menghabiskan tenagamu Junhee, aku sudah menyukai perempuan lain.” Tao menjawab sambil setengah menguap tidak begitu menganggap serius perkataan Junhee. Detik ketika perempuan itu merebut dagingnya kemarin malam Tao sudah meletakkan nama Han Junhee dalam urutan terakhir pada gadis yang bisa disukainya.

“Semakin Tao-hyung berkata seperti itu, semakin a—“

“Itu sekolahmu kan?” Tao memotong kalimat Junhee. Langkahnya dihentikan, dari awal ia memang tidak berniat mengantar Junhee sampai gerbang. “Kau bilang sudah pernah sekolah di sini, masih hafal di mana ruang guru kan?”

Junhee menggelengkan kepalanya, ia melompat tepat di depan Tao membuat Tao tersentak kaget “Antar aku sampai gerbang, aku takut seseorang akan menculikku.”

Tao memutar bola matanya.

#

Sina menguap lebar berakhir dengan terbatuk-batuk karena saat itu angin berhembus masuk ke mulutnya.

Sambil bersenandung ia pun melanjutkan langkahnya. Kepalanya terasa pening, hujan-hujanan kemarin membuatnya terserang demam ringan. Sambil meneguk susu pisangnya mata Sina menangkap siluet dua orang yang berjalan menuju gerbang sekolah. Sina memiringkan kepalanya sudah susah payah memasang jam weker harusnya ia menjadi orang pertama yang masuk sekolah hari ini.

Mata Sina membulat kaget saat menyadari Tao lah yang datang, terlebih bersama seorang perempuan. Sina menghentikkan langkahnya, ia memutuskan bersembunyi di balik pohon menunggu perempuan yang datang bersama Tao itu masuk terlebih dahulu. Kepalanya menyembul untuk memperhatikan Tao.

Melihat Tao membuat Sina ingin tertawa geli, sejujurnya ia tidak pernah mengambil serius kalimat ‘aku benci Tao.’ Saat itu ia memang jengkel, tapi tidak sampai membenci. Melihat Tao tidak meminta maaf Sina pikir ia harus memberi laki-laki itu pelajaran, dan kalimat ‘aku benci’ Sina pikir cukup untuk membuat seorang lugu seperti Tao merasa bersalah.

Ketika Tao membalikkan badannya berjalan meninggalkan sekolah, Sina segera menyembunyikan kepalanya. Ide iseng terbesit, Sina merapatkan bibirnya berusaha menahan senyum.  Ia sudah memperkirakan beberapa detik lagi Tao akan melewati pohon tempatnya bersembunyi dan begitu Tao lewat, dia akan—

“Yo Tao.”

“Astaga.” Tao terperanjat dan mundur selangkah melihat Sina muncul mendadak di balik pohon. “Sina mengagetkanku.”

Reaksi Tao membuat Sina terkekeh, persis seperti yang dia inginkan. “Sengaja.” Sambil bersandar pada batang pohon mata Sina pun memperhatikan Tao dari ujung kaki sampai kepala. “Belum mandi dan berani keluar?” Ia mengomentari Tao yang masih memakai celana piyama.

Tao menghela napas, ia memilih menghiraukan Sina dan berjalan melewati perempuan itu. Mendengar nama Sina saja sudah membuatnya tidak nyaman apalagi bertemu dengan perempuan itu.

Sikap Tao membuat Sina mendengus, laki-laki ini bertingkah seakan orang yang salah itu Sina. “Aaah orang golongan darah AB memang selalu seperti ini, lari dari masalah.”

Langkah Tao berhenti, ia langsung membalikkan badannya dan melihat Sina yang meneguk susu pisangnya dengan santai seakan dari tadi ia tidak mengucapkan apapun. “Tahu dari mana golongan darahku AB?” Tao bertanya menyidik.

Sina mengendikkan bahunya, ia mengelap bibirnya yang belepotan sekaligus menyembunyikan senyum gelinya.

“Aku tidak lari dari masalah.” Tao tidak terima penilaian Sina soal golongan darahnya.

“Kalau begitu kenapa kau lari dariku? Waktu itu dan sekarang.”

Pertanyaan Sina membuat Tao menelan ludah, mau mengelak tapi tidak tahu apa yang harus dikelak, kenyataannya dia memang lari. “Sina bilang membenciku, aku pikir permintaan maaf pun tidak akan berguna.”

“Orang ini memang anak kecil.” Sina berkata dalam hati. Ia menghela napas dan berjalan menghampiri Tao. “Aku bercanda saat itu.”

“Jadi Sina tidak membenciku?”

“Aku tetap membencimu.” Sina berkata datar membuat Tao ikut memandangnya datar, capek untuk mengerti jalan pikiran perempuan itu.

“Ada apa dengan perempuan ini?” Tao yang jengkel bertanya dalam hati. “Jadi apa maksudmu?”

Sambil merapatkan bibirnya dan mengelus dagu, Sina memperhatikan wajah Tao yang terlihat bosan menunggu jawabannya. “Aku memang membencimu tapi aku juga tidak serius mengartikannya, yah kurasa lebih banyak tidak seriusnya dari pada seriusnya.”

Entah sejak kapan Tao jadi punya kebiasaan memutar bola mata. Apapun yang Sina anggap tentang dirinya menurut Tao tidak penting lagi, sampai detik ini perempuan itu bahkan tidak terlihat berniat memberitahu kelanjutan hubungannya dengan Sehun. “Aku minta maaf, tapi Sina juga harus minta maaf, kau juga harus bertanggung jawab.”

“Kenapa dia bertingkah seakan aku menghamilinya?”  Sina bertanya dalam hati.

“Ya ya ya aku minta maaf.” Perempuan itu kembali meneguk susunya tidak memandang Tao sekalipun ia menyadari tatapan tajam Tao mengatakan ia tidak begitu senang dengan cara Sina meminta maaf.

Baik Tao dan Sina terjaga dalam diam. Sina memandang jam tangannya, awalnya ia ingin berangkat cepat untuk belajar di perpustakaan tapi sekali lagi sisi malas Sina memilih untuk me nunda hal itu dan melakukan hal lain; mengobrol dengan Tao misalnya.

Tao ingin pergi tapi ada sesuatu yang aneh dari Sina. “Apa Sina sakit?” Mata Tao menyadari  bibir yang tidak sengaja bertubrukkan dengannya terlihat kering di tambah wajah perempuan ini begitu pucat.

Sina tidak langsung menjawab pertanyaan Tao, ia menghabiskan susu pisangnya baru kembali menatap Tao. Menjawab pertanyaan Tao terlalu basa-basi, ada hal lebih penting yang membuatnya penasaran. “Jadi kenapa Tao ada di sini?”

Sina yang tidak menjawab pertanyaannya membuat Tao dongkol, ia pun menggelengkan kepalanya. “Aku mengantar temanku yang baru pindah ke Korea, dia seumuran dengan Sina, namanya Han Junhee.”

“Oh.” Sina seperti biasa, memiliki keterbatasan dalam memberi respon. Hening. Sama halnya dengan Tao ia juga tidak mengerti apa yang harus diperbincangkan lagi. Tao memijit leher belakangnya, kebiasaan setiap mengalami suasana yang canggung. “Kalau begitu aku pergi, jangan lupa ambil sepedamu.”

“Ah sepeda!” Sina langsung menepuk keningnya, ia benar-benar lupa. Tao hanya mengangguk sekali sebelum ia kembali membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Sina.

Sina masih berdiri di tempat yang sama, tangannya meremas botol susu yang sudah kosong, ia memperhatikan Tao yang terus berjalan jauh, masih ada yang ingin dikeluarkannya tapi bingung bagaimana cara mengungkapkan semua itu. Ia ingin bertanya soal Song Qian, tapi merasa tidak cukup dekat untuk berhak mengetahui hubungan Tao dengan wanita itu.

“AAHH tubuhku menggigil!” Sina berseru, mengatakan sesuatu untuk mendapat perhatian laki-laki yang tiba-tiba bertingkah jual mahal itu. Menyadari Tao menghentikkan langkahnya ia pura-pura batuk dan mengencangkan suaranya. “Kalau saja kemarin stalker  yang mengikutiku mau berbaik hati meminjamkan payung tentu aku tidak akan sakit seperti ini!”

Tao diam, tapi diamnya Tao cukup membuat Sina merasa puas dan tertawa. Tidak menunggu balasan dari Tao ia segera berlari menuju gerbang sekolah. Sina memang puas, dan akan lebih puas lagi kalau ia melihat betapa merah padamnya muka Tao sekarang.

#

#

Lima belas menit lagi ujian akan selesai. Sebagian besar murid masih berkutat dengan pensil dan penghapus mereka, mengotak-atik pertanyaan dengan seluruh rumus yang mereka ingat. Sehun menutup lembar ujiannya, tidak peduli lagi dengan nilainya. Toh kedepannya ia yakin pekerjaan yang akan ia tekuni tidak akan berhubungan dengan Matematika.

Kalau sudah bosan begini Sehun lebih suka memperhatikan seisi kelas, matanya sudah jenuh membedakan mana yang konvers mana yang invers. Sambil memainkan pensil di tangannya mata Sehun melirik pada perempuan yang sejak tadi sudah menyelesaikan soalnya, Moon Chaeri. Mencontek bisa saja, tapi harga diri Sehun lebih tinggi, dari pada terus iri melihat Chaeri yang menyelesaikan soal dengan mudahnya Sehun memutuskan memperhatikan perempuan yang sedang duduk di sebelah Chaeri. Perempuan itu menelungkupkan badannya di atas meja, nasibnya tampak tidak beda jauh dari Sehun.

Sambil menopang dagunya dengan tangan, Sehun memperhatikan Sina yang sudah bangun, menggeliatkan badan lalu menyandarkan dirinya pada kursi. Perempuan itu masih memejamkan mata mungkin menikmati cahaya matahari pagi yang menembus jendela dan menerpa wajahnya. Kalau Sehun adalah Luhan tentu ia berani menyalakan ipod  di tengah ujian karena angin yang berhembus membuat dahan pohon rindang yang menjadi latar belakang Sina bergerak, pemandangan yang membutuhkan sentuhan musik untuk membuatnya makin sempurna. Wajah Sina memang datar tidak menunjukkan emosi apapun, dan karena datar itu lah membuat Sehun makin penasaran. Apa yang dipikirkan perempuan itu, alasan apa dibalik kernyitan keningnya, bagaimana membuat perempuan ini tertawa, pertanyaan semacam itu sering bermunculan di kepala Sehun setiap ia mengamati Sina.

#

Meja tempat Sina makan benar-benar berisik. Sina berusaha menjaga konsentrasinya, tidak mau terlibat dengan teman-teman yang mulai bergosip soal kedatangan murid baru. Apapun yang berhubungan dengan ‘baru’ memang selalu menjadi pembicaraan, guru baru, murid baru, menu baru, petugas janitor baru, bahkan kelinci peliharaan sekolah baru. Seukri dan Nami yang sedang duduk di depannya masih membicarakan topik yang sama; Han Junhee. Nama itu sebenarnya tidak begitu asing tapi tidak bisa dikatakan familiar, di tahun pertamanya Sina sering mendengar nama itu tersebut.

“Sina kau sudah dengar kalau Junhee ternyata dulu jadian dengan Luhan?” Seukri tidak tahan melibatkan Sina dalam pembicaraan ini.

Sambil mengunyah mashed potatonya Sina menggelengkan kepala tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari buku pelajaran yang ia baca. Seukri mendengus tidak puas, tapi kalau Sina sudah seperti ini berarti ia memang malas diajak bicara.

“Lalu bagaimana reaksi Luhan?” Nami yang selesai mengunyah kembali berbicara.

“Reaksi Luhan tidak menarik, yang menarik justru dari Senanya!” Seukri kembali tenggelam dengan segala hal yang ia ketahui tentang sejarah cerita Sena dan Luhan. Sina menarik napas, ia pun menutup bukunya dan mengangkat makanannya untuk berpindah  ke meja lain.

Pindah ke ujung ruangan kantin yang lebih sepi Sina mengambil meja yang kosong. Sialnya Sina ia langsung bertemu dengan tokoh utama hari itu.

“Boleh aku duduk di sini? Tentu saja boleh! Ini kan bukan mejamu!” Perempuan ini terlihat berbicara sendiri, ia bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Sina memilih tidak menggubris Junhee yang sudah duduk di depannya.

“Siapa namamu? Kenapa duduk sendiri?” Baru Sina menikmati meja sepinya, kedatangan perempuan itu langsung merusak semuanya.

“Ahn Sina, aku duduk sendiri karena tidak mau duduk bersama.” Sina menjawab asal, ia kembali membaca bukunya mengingat rumus past future perfect continuous yang belum juga menempel di otaknya.

“Dengar, karena aku suka gayamu, aku beritahu sesuatu yang menarik.” Junhee tampak puas dengan perilaku Sina, tidak banyak bicara tapi telinganya terjamin bekerja, persis sosok yang ia butuhkan sekarang.

Ia pun berdehem dan memasang mimik serius. “Aku dan Luhan tidak pernah jadian, itu hanya gosip, kau harus percaya padaku. “

Sina menyesap teh lecinya, lalu memandang Junhee yang belum menyentuh makan siangnya sama sekali. “Makananmu nanti dingin.”

Diam. Junhee terdiam, ia memandang Sina dalam-dalam, menaikkan alisnya berusaha mencari secercah ekspresi tertarik atau apapun itu dari wajah Ahn Sina. Hasilnya nihil dan Junhee menyukai itu. “Ah! Akhirnya aku mendapat teman di sekolah ini!”

#

#

“Oleh karena itu Tao, kau harus membantuku.” Yixing sedang memohon pada sahabatnya tapi matanya itu masih fokus melihat kardus yang sedang dicatnya. Tao yang duduk di belakangnya tidak menggubris permintaan Yixing. Ia masih tenggelam dengan kesibukan menggunting kertas menjadi pola rumput.

Beberapa hari terakhir menjadi hari menyibukkan bagi seluruh mahasiswa di Korean National University of Arts (K-Arts), sebentar lagi universitas mereka akan merayakan perayaan ulang tahun, Tao dan Yixing memutuskan menyibukkan diri membantu anak jurusan drama setelah Chanyeol mengancam Tao akan mengenalkan dirinya pada Miyoung.

“Zitao kau mendengarku?” Yixing pun membalikkan badannya, ia mengangkat kuas besarnya yang masih meneteskan akrilik merah “Hei, aku pegang ini.”

“Dan aku pegang ini.” Tao menunjukkan guntingnya membuat ancaman Yixing menjadi tidak berguna.

Yixing menghela napas untuk kesekian kalinya hari itu, ia kembali membalikkan badannya untuk mengecat kardus. “Apa menurutmu aku tidak menyedihkan? Gadis yang baru saja kutemukan ternyata sebentar lagi akan pergi.”

“Kalau begitu segera nyatakan perasaanmu.” Tao malah menghela napas lega, merasa puas melihat hasil guntingannya. Ia pun berpindah tempat ke sebelah Yixing, ikut membantu mengecat kardus raksasa itu. “Lagi pula kalian baru bertemu dua kali, bagaimana bisa langsung memastikan kalau kau menyukainya?”

Tao selalu membahas hal yang sama membuat Yixing mendengus. “Itu urusanku, sekarang yang kuminta kau membantuku.”

Masih keras kepala Tao menggelengkan kepalanya. “Berapa kali kubilang aku tidak akan pergi ke pesta ulang tahun Miyoung, kalau dia melihatku aku pasti dimarahi.”

“Tidak akan,  sudah kubilang pesta ulang tahun dan pesta perpisahannya digabung, tamunya akan banyak dan aku yakin dia tidak akan menyadari keberadaanmu.”

“Dari mana kau yakin?” Dengan nada curiga Tao bertanya.

“Percaya padaku, selama Miyoung tidak mengenalmu dia tidak akan menyadari keberadaanmu.”

Yixing terdiam dan melirik Tao, tangannya mengepal senang saat melihat Tao menghela napas dengan ekspresi mengatakan baiklah-kau-menang.

Tao mengambil ponselnya, melihat kalender apakah pesta Miyoung bertepatan dengan kepergian ayah ibunya. “Baiklah, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”

Mata Yixing yang dari tadi hanya terbuka setengah karena mengantuk segera membulat lebar. “Gampang sekali.” Yixing meletakkan kuasnya dan menengokkan kepalanya pada Tao lengkap dengan senyum lebarnya. “Seperti yang kubilang, tamunya akan banyak dan sulit bagiku untuk menyatakan perasaan, karena aku tidak berencana menyatakan perasaanku di depan umum aku butuh tempat di mana aku hanya bisa berdua dengan Miyoung.”

Tao menaikkan sebelas alisnya antara penasaran dan malas mengetahui rencana temannya itu. “Lalu? Aku harus membuat keributan besar lalu kau menarik Miyoung dari kerumunan? Aku tidak mau.”

Perkataan Tao membuat Yixing tertawa kecil. “Cara itu terlalu klasik, aku punya ide yang lebih cemerlang.” Yixing berdehem dan membenarkan kerah kemejanya.

“Apa katakan.” Tao berucap sambil kembali memfokuskan perhatiannya pada kardus.

“Aku membutuhkan bantuan orang dalam dan kudengar Miyoung punya adik perempuan. Oleh karena itu kau harus meminta adik Miyoung membuat Miyoung pergi di tengah-tengah pesta.”

Sambil meletakkan kuasnya Tao menengok pada Yixing. “Itu merepotkan sekali, berteman seperti itu kelihatan tidak tulus kenapa tidak kau saja yang melakukannya? Atau mungkin Chanyeol-hyung?”

“Chanyeol sudah mendapat bagiannya sendiri, ia akan bermain gitar.”

Tao meniup poninya tidak mengerti skenario macam apa yang Yixing rencanakan. Menyadari temannya sama sekali tidak bersemangat Yixing mengendikkan bahunya. “Hhah kau tidak mengerti, kalau aku yang mendekatinya aku akan terlihat sebagai seorang pria tidak tulus yang mendekatinya hanya karena aku suka kakaknya. Ayolah Zitao kumohon, ini mudah kan?” Yixing memandang Tao serius membuat Tao merengut.

“Baiklah, sekarang ganti ekspresimu karena itu tidak cocok untukmu.”

 “Baiklah baiklah.” Yixing tertawa, skenarionya mungkin ia anggap sempurna, jika saja ia tahu salah satu tokoh penting dalam skenario itu sulit untuk diajak kerja sama.

#

#

Seiring dengan bergantinya posisi matahari, langit ikut berganti warna. Kombinasi warna favorit Sina: ungu, oranye, kuning mengganti biru kelabu yang mendominasi sejak pagi tadi. Sina memandang ke luar dari jendela kelas, tidak pasti apa yang diamatinya tapi tatapan perempuan itu terasa teduh. Tangannya masih menggenggam sapu karena hari ini gilirannya piket kelas. Biasanya Sina akan diam-diam kabur dengan alasan ke toilet, taktik kuno itu selalu sukses untuk mengelabui teman-temannya yang sudah menyerah soal sifat pemalas Ahn Sina. Tapi kali ini mengingat ia akan pulang terlambat, Sina memilih menjadi murid teladan.

Mata Sina yang sejak tadi memandang gradasi warna langit turun ke gerbang sekolah lalu menyadari seseorang yang begitu familiar kembali muncul di tempat yang sama, Tao. Meskipun mata Sina minus, Sina yakin benar laki-laki yang lengannya sedang dipeluk oleh Junhee itu adalah Huang Zitao. Mereka berdua terlihat berselisih, Tao berusaha melepas pegangan Junhee tapi perempuan yang lincahnya seperti monyet itu selalu mendapatkan kembali lengan Tao. Sina memiringkan kepalanya, sesuatu kembali dipertanyakan.

“Apa yang kau lihat?” Sebuah suara menginterupsi pengamatan Sina pada Tao dan Junhee. Sina segera menengok dan melihat teman kelompok piketnya Sehun duduk di meja guru, mata laki-laki itu fokus membaca majalah game yang sedang dipegangnya, penghapus papan tulis yang harusnya dipegang malah tergeletak di lantai.

“Dari pada mengurusi apa yang kulihat lebih baik selesaikan tugasmu.” Sina berkata datar dan kembali menyapu lantai yang dipenuhi sampah karet penghapus.

Sehun mendengus dan mengikuti perintah Sina, badannya berbalik menghadap papan tulis tapi ia masih mengajak Sina mengobrol. “Luhan bilang, kau sudah menjadi sahabat Junhee.”

Tangan Sina yang sudah jenuh memegang sapu segera menjatuhkan sapunya, ia pun berjalan lalu berhenti tepat di samping Sehun. “Aku akan menceritakan apapun tentang Junhee asal kita bertukar tugas, aku yang menghapus dan mengelap kau menyapu.”

Tanpa melirik pada Sina, Sehun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku memilih tidak tahu apapun soal Junhee dari pada harus menyapu.”

Kening Sina mengernyit, ia kembali berjalan menuju tempat semula dan memandang gerbang. Junhee dan Tao sudah menghilang dan tanpa sadar hal itu membuatnya menghela napas. Sehun yang sudah menyelesaikan tugas menghapusnya kembali duduk di meja guru melanjutkan membaca majalahnya. “Kenapa selalu menghela napas?”

Sina merapatkan bibirnya berusaha menahan keinginannya untuk kembali membuang napas. Tanpa menjawab pertanyaan Sehun ia menarik kursi lalu duduk di atasnya. Persetan dengan tugas menyapu. “Apa Luhan dan Junhee benar-benar tidak pernah berhubungan?”

Sehun tersenyum, ia mengangkat kepalanya dan menatap Sina yang sekarang sedang bertopang dagu sambil memandangnya. Ia dan Sina sudah memiliki perkembangan, perempuan ini akhirnya mau mengajaknya mengobrol sekalipun tetap, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa antusias. “Tidak pernah, dulu Junhee memang menyukai Luhan tapi Luhan menolaknya dan mereka damai tidak ada masalah. Sekarang katakan apa kau dan Junhee benar-benar berteman?”

Sambil menelungkupkan badannya di atas meja Sina hanya menggumam malas. Semua temannya sudah menanyakan hal yang sama, apa hubungannya dengan Junhe memang semenarik itu? “Aku tidak tahu, yang aku tahu aku tidak bisa membenci Junhee, anak itu mengingatkanku pada Miyoung, maksudku soal cerewetnya.”

Sehun mendecak. “Miyoung jauh lebih keren, oh ya, jadi kapan Miyoung berangkat?”

Mendengar nama Miyoung tersebut Sina langsung beranjak dari kursi, ia segera membuka ranselnya dan mencari sesuatu yang Miyoung titipkan padanya sejak kemarin tapi Sina selalu lupa. “Aku benar-benar lupa soal ini, kemarin Miyoung menitipkannya padaku.” Ia menjulurkan amplop mungil berwana turquoise. Sehun segera turun dari meja dan menghampiri Sina.

Selagi Sehun membuka amplop itu dan membaca isinya Sina mulai menjelaskan. “Senin minggu depan ia berangkat. Miyoung-unnie menggabungkan pesta ulang tahun dengan pesta perpisahannya dan karena tamunya akan banyak ia memutukan tidak ada dress code aneh seperti tahun lalu.”

Sehun tertawa kecil dan memasukkan amplop itu pada kantung celananya. “Oh maksudmu tema bajak laut? Ngomong-ngomong tahun lalu aku tidak melihatmu di pesta Miyoung.”

Sina menaikkan bahunya. “Aku pura-pura sakit, siapa yang mau ikut untuk pesta seperti itu?”

Jawaban Sina hanya membuat Sehun mengangguk-angguk mengerti, matanya melihat dua amplop sama masih menyembul di ransel Sina, ia pun menaikkan sebelah alisnya. “Berapa banyak lagi yang akan kau undang?”

“Luhan dan Jongin juga diundang.” Sina menjawab sambil kembali menarik resleting ranselnya hingga tiba-tiba tangan Sehun menghentikkannya.

“Biar aku yang memberikan itu pada mereka berdua.” Sehun langsung mengambil amplop itu membuat Sina memelototinya, kurang suka seseorang seenaknya mengambil barang dari tasnya.

Sehun hanya menyeringai, ia langsung memandang jam tangannya dan memaksakan sebuah mimik panik. “Baiklah, aku harus pulang, ada anime yang tidak boleh kulewatkan.” Laki-laki itu menghindar dari tatapan tajam Sina dan meraih ranselnya. “Bilang terima kasih pada Miyoung karena mengundangku!” Sehun berseru sambil menutup pintu kelas sementara Sina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jam dinding kelas masih menunjukkan pukul lima lebih beberapa menit, Sina tertegun dan ingat ia sudah membuat janji dengan seseorang. Dengan cekatan ia menyambar ranselnya dan keluar dari kelas berlari menuju perpustakaan. Detik Sina berlari ia baru ingat ia lupa mengembalikan sapu ke ruang janitor, Sehun bahkan belum mengelap jendela kelas yang berdebu membuat guru Park protes karena ia alergi debu. Kedepannya kelas 3-A harus tahu kalau menempatkan Sina dan Sehun pada kelompok piket yang sama adalah pilihan buruk.

#

#

“Yakin tidak mau menemaniku?” Junhee bertanya untuk sekian kalinya pada Tao. Sudah lima menit mereka berdiri di depan pintu rumah sakit tapi Junhee masih keras kepala meminta Tao menemaninya sama halnya dengan Tao yang keras kepala menolak permintaan Junhee.

Tao berusaha tersenyum, bagaimanapun juga kali ini ia tidak bisa menemani Junhee. “Sudah kubilang, masih ada tugas yang harus kuselesaikan, aku harus kembali ke kampus.”

Junhee meniup poninya, kali ini ia jengkel. “Padahal aku ingin sekali mengenalkan ibuku pada menantunya.”

Seketika mata Tao langsung membulat kaget, itu kata terakhir yang ingin ia dengar dari mulut seorang Han Junhee.. “Menan—tu?”

Menyadari eskpresi Tao yang jelas tidak terima Junhee tertawa kecil. “Yah seperti di film-film karena orang tua kita dekat bukankah cepat atau lama kita akan dijodohkan?”

Drama lagi. Tao mulai capek. “Dan seperti di film-film salah satu pihak pasti menentang perjodohan itu.”

Merasa makin tertantang, Junhee langsung menggelengkan kepalanya. “Dan seperti di film-film pihak yang menentang pasti lama-lama suka.”

Tao menyadari Junhee memandangnya lekat-lekat, rasanya ngeri, ia ingin lari tapi tidak mau membenarkan teori Sina soal golongan darah AB yang selalu dari masalah. “Dan seperti di film pasti akan diakhiri salah satu pihak lari bersama pasangan sebenarnya lalu menempuh hidup baru.”

“Dan seperti di film—“

“Hidup kita tidak seperti film Junhee.” Tao langsung memotong kalimat Junhee. Tepat sebelum Junhee kembali membuka mulut, tangan Tao yang cekatan langsung mengambil coklat batang yang berada di kantung celananya, sekalipun itu coklat kesukaannya Tao memilih merelakan coklat itu untuk membungkam mulut Junhee. “Makan ini makan. Baik aku harus pergi, bilang ke ahjumma makan malam duluan saja!” Tao langsung berlari, melambaikan tangannya girang karena berhasil lepas dari perempuan itu. Sementara Junhee hanya bisa menghela napas, diakhiri dengan senyuman, Tao tahu apa kelemahannya.

#

19.03

Kamus, ensiklopedi, buku tulis, berserakan di atas meja. Kelihatannya memang sedang belajar tapi kalau dilihat lebih cermat salah satu murid perempuan dengan pintarnya menyembunyikan novel remaja di balik buku sejarahnya, seorang laki-laki menaikkan kakinya ke meja mengambil kesempatan karena pengawas perpustakaan sedang keluar. Sina menggelengkan kepalanya berusaha memasang telinganya baik-baik mendengar pertanyaan dari murid ranking satu yang sedang mengajarinya.

“Jika terjadi pertemuan dua massa udara yang berbeda temperatur, yaitu antara massa udara panas yang lembab dengan massa udara dingin yang padat sehingga berkondensasi, maka terjadi hujan…”

Sebelum menjawab Sina kembali meneguk vitaminnya, diminum berkali-kali tapi rasa pusingnya tidak menghilang. Ia ingin meminta Kyungsoo mengulangi pertanyaannya tapi wajah kaku laki-laki ini membuatnya sungkan.

“Zenithal.”  Luhan tahu-tahu menjawab, dan Sina yakin yang ia katakan itu asal, laki-laki ini sejak tadi tidak ikut belajar bersama mereka.

“Bisa ulangi lagi pertanyaannya?” Sina bertanya pelan membuat Kyungsoo hanya menghela napas. “Intinya pertemuan dua massa yang berlawanan jadinya hujan apa?”

“Zenithal! Percaya padaku Sina.” Luhan menjawab dengan matanya yang masih fokus membaca majalah yang sama persis dengan yang Sehun baca tadi. Sina memutar bola matanya, ia melirik Sena yang duduk di sampingnya terkekeh sendiri membaca novel remaja yang Sina tahu ia sembunyikan dibalik buku sejarah. Bagaimana bisa orang-orang seperti ini menghabiskan waktu bersamanya?

“Orografis, percaya padaku, itu namanya hujan o-ro-gra-fis.” Kali ini malah Sena yang membuka mulut.

“Jadi mana yang kau percaya?” Kyungsoo bertanya. Laki-laki ini juga sebenarnya sama tidak seriusnya, meskipun bilangnya mau belajar tapi sejak tadi yang ia lakukan hanya memfoto resep-resep pastry dengan ponselnya.

Sina menghela napas, kenapa pertanyaan Kyungsoo jadi berubah? Baru Sina ingin menjawab tiba-tiba ponselnya berdering, ringtone khusus Miyoung, Sina menghela napas lega. “Aku angkat telponnya dulu.”

“Sina! Apa kau sudah di rumah?” Miyoung terdengar begitu semangat di seberang sana.

“Tidak, aku masih di sekolah sebentar lagi aku pulang.” Jawab Sina sambil melirik jam dinding perpustakaan, ia memang terdengar tenang tapi terus terang mulai panik baru menyadari ia benar-benar terlambat pulang.

“Baguslah! Ayah ibu bilang hari ini mereka tidak pulang, lebih baik kau ke kampusku kita pulang bersama nanti. Kau takut di rumah sendirian kan?”

Kali ini mata Sina melirik pada jendela perpustakaan. “Sekarang hujan, bagaimana bisa aku ke sana? Aku tidak mau naik taksi sendirian malam-malam.”

Dengusan Miyoung terdengar. “Pinjam payung temanmu, pokoknya kau harus ke sini, aku tidak mau pulang sendirian.”

Sina mendecak. “Oke aku mengerti, tapi jangan buat aku menunggu terlalu lama di sana, baiklah kututup aku sedang belajar unnie.”

“Selamat belajar!” Miyoung menutup telponnya.

Ketika Sina kembali membalik badannya, ketiga orang yang mengaku sedang belajar sudah memasukkan buku-buku mereka yang berserakkan ke dalam tas. Sina menaikkan alisnya. “Kalian sudah mau pulang?”

Mereka bertiga mengangguk bersamaan. “Ini sudah malam, tidur yang cukup juga dibutuhkan untuk otak kita.” Jawaban Sena membuat Sina merasa konyol, dari sekian hal tentang metode belajar yang perempuan ini pedulikan hanya soal tidurnya.

Tiba-tiba Sina ingat sesuatu, ia harus meminjam payung dari salah satu temannya. “Apa diantara kalian ada yang naik bis? Boleh aku menumpang payung sampai halte?”

Pertanyaan Sina membuat Luhan, Sena dan Kyungsoo saling berpandangan. 

“Jadi apa jawabannya? Zenithal atau Orografis?” Kyungsoo ternyata masih ingat Sina belum pertanyaan itu.

Sina mendengus. “Pertama kau bilang apa nama hujan ketika dua massa yang berlawanan bertemu, lalu berganti jadi mana yang kupercaya Luhan atau Sena dan sekarang aku harus memilih Zenithal atau Orografis?”

Laki-laki itu diam tapi ia tahu Sina tahu jawabannya.

Sina menghela napas. “Frontal.”

“Ding dong deng~” Kyungsoo berujar ia tersenyum lalu membalik badannya berjalan menuju pintu. “Maaf aku tidak bisa berbagi payung dengan perempuan.”

Suasana menjadi hening dan laki-laki itu tidak menyadari dia lah yang menyebabkan semua itu. Sina memelototi Kyungsoo, ia tahu laki-laki ini memang  terkenal dengan sikap dinginnya, tapi sampai seperti ini? Ia rasa Kyungsoo perlu belajar etika cara memperlakukan wanita.

“Jadi apa diantara kalian berdua ada yang bisa berbagi payung denganku?” Sina kembali bertanya.

Luhan yang sejak tadi sedang duduk sambil membaca majalah dengan ransel yang sudah disandangnya langsung mengangguk. “Kau bisa pulang bersamaku, hari ini aku dijemput ayahku naik mobil. Dan aku tidak bermasalah berbagi mobil dengan perempuan.” Luhan sengaja menekankan kata ‘perempuan’ mungkin berharap Kyungsoo menyadari dirinya disindir.

Tanpa pikir panjang lagi Sina segera mengangguk. “Baiklah, ayo ki—“

“Tunggu!” Sena yang dari tadi diam tahu-tahu segera beranjak memeluk lengan Sina. “Jangan pulang bersama Luhan, ayahnya itu tipe orang yang akan menginterogasi siapapun yang terlihat dekat dengan anaknya, kau tidak akan tahan berada di mobilnya.”

Sina menghela napas. “Kalau begitu apa kau punya saran yang lebih baik?”

“Pulang bersamaku!” Sena menjawab mantap membuat Luhan yang sudah berdiri hanya tertawa kecil. “Bagaimana kalau kalian berdua pulang bersamaku?”

“TIDAK.”

#

#

“A-astaga—“

Tao memandang Chanyeol datar, ini sudah sekian kalinya ia melihat ekspresi sama ketika orang melihatnya. “Aku terpeleset dan jatuh ke kubangan air.” Tao menjawab apa adanya dan segera berlalu meninggalkan Chanyeol yang langsung tertawa terbahak-bahak.

Sambil mengumpat Tao membuka lokernya berharap ia meninggalkan sepasang baju dan celana karena sekarang seluruh badannya masih basah kuyup. Mata Tao sekali lagi menangkap kotak mungil yang tidak jelas akan dimiliki oleh siapa, gelang itu cukup mahal jadi Tao akan menjaga gelang itu untuk siapapun yang ia rasa pantas untuk memakainya.

“Tao! “ Suara Yixing terdengar dari ujung sana. Tao segera menutup lokernya setelah mengambil handuk, ia berjalan menghampiri Yixing yang Tao yakin laki-laki itu sedang menahan tawa melihat keadaan dirinya. “Jangan tertawa atau aku tidak akan membantu rencanamu.”

“Baiklah aku mengerti!” Yixing mengangguk dengan mimik serius.

“Jadi ada ap—“

“Aku dan Miyoung akan makan malam bersama.”

Bukannya membalas Tao memandang sekeliling. Ia mendekatkan kepalanya pada Yixing lalu berbisik. “Apa Miyoung ada di sekitar ini?”

“Tidak ada. Jangan terus-terusan takut pada Miyoung, dia perempuan yang baik. Baiklah aku pergi, sepertinya aku akan pulang terlambat kau pulang duluan saja.”

“Siapa yang mau menunggumu?” Tao menaikkan bahunya dan berjalan meninggalkan Yixing yang seketika itu juga segera tertawa terbahak-bahak. “Ya Zitao ada tanah di pipimu!”

#

Air belum juga berhenti menetes dari rambut Sina yang basah terguyur hujan, sambil memeluk dirinya Sina mendorong pintu kampus dengan kaki. AC langsung membuat gemeretak gigi Sina makin terdengar. Dengan langkah gontai perempuan itu berjalan menuju mesin menjual otomatis, ia membutuhkan kopi panas kalau tidak mau mati kedinginan seperti ini.

Setelah mendapatkan tiga kaleng yang langsung diletakkan di pangkuannya Sina segera mengambil ponsel untuk menghubungi kakaknya.

Dering pertama ketika Miyoung mengangkat telponnya Sina langsung berkata cepat. “Halo unnie? Aku sudah sampai cepat kita pu—“

“Astaga aku lupa! Maaf Sina, aku sedang di luar makan malam bersama temanku..”

“Hah?” Sina yang masih kelelahan karena berlari menembus hujan tidak bisa berteriak pada kakaknya. “Apa masih lama?”

Di seberang sana terdengar Miyoung menghela napas, Sina tahu hal selanjutnya yang terjadi, dan itu bukan hal yang menyenangkan. “Aku akan pulang terlambat, ba-bagaimana kalau kau pulang ke rumah nenek?”

“Ck dasar.” Sina mengumpat dalam hati dan mematikan panggilannya. Miyoung langsung menelpon tapi dengan cepat Sina langsung mencabut baterainya. Hari ini ia benar-benar sial. Kalau saja ia tidak membiarkan Sena menolak tawaran Luhan tentu ia tidak perlu basah-basahan seperti ini. Sina lelah, ia ingin tidur tapi kedinginan, ingin pulang tapi tidak berani pulang sendirian, ingin marah tapi tidak tahu dilampiaskan pada siapa.

#

Merasa bersih dan Segar, Tao dengan langkah ringan berjalan menuruni tangga merasa senang karena Chanyeol si sutradara meminta Tao memainkan peran yang diinginkannya. Tao mengelus perutnya yang sudah terisi penuh karena mendapat makan malam gratis hasil membantu klub drama, sekarang yang Tao inginkan hanya tidur.

Sambil membongkar isi ranselnya mencari earphone Tao yang sedang menuruni tangga hati-hati berhenti ketika mendengar isak tangis samar-samar. Tao tergidik, ia menghentikkan langkahnya lalu menelan ludah, semakin ia diam semakin isakan itu terdengar, apa kampus ini ada hantunya? Tao mulai merasa merinding.

“Tenang Huang Zitao..”Tao berbisik pada dirinya sendiri, ia menutup ransel dan memeluk erat-erat ranselnya, kalau benar ada hantu ia siap melemparkan ransel ini.

“Siapa itu?” Suara perempuan terdengar, gemetar dan Tao yakin itu suara yang sama dengan yang menangis tadi. Tao menggigit bibirnya, setelah menuruni tangga ia menyembulkan kepalanya dari balik tembok, bulu kuduknya segera berdiri saat melihat seorang wanita duduk di kursi tunggu, rambut hitamnya basah menutupi setengah wajah. Dan kabar baiknya Tao tahu itu manusia, “Dia masih punya bayangan.” Tao berkata dalam hati.

“Apa kau bukan murid—Sina?” Tao melongo, melihat ransel merah yang sama persis dengan yang Sina pakai pagi tadi.

Sina mengelap matanya yang terus berair, ia mengangkat kepalanya yang menunduk ketika mendengar seseorang menyebut namanya. “Tao? Ba-bagaimana bisa kau ada di sini?”

Tao yang sudah berhenti di depan Sina memandang perempuan itu dari kaki sampai kepala. “Kenapa Sina basah kuyup seperti ini? Ah!” Tao menutup mulutnya menahan tawa ketika menyadari noda tanah di pipi Sina. “Jadi begini rasanya melihat diriku yang terjatuh.” Tao berkata dalam hati.

“Kalau mau tertawa, tertawa saja.” Sina berkata malas dan menjatuhkan kepalanya pada ransel yang sedang dipangku, menyembunyikan bekas-bekas menangis di wajahnya.

Tao mengacak-acak rambutnya, masih merasa canggung dengan Sina. “Kenapa Sina ada di sini?”

“Aku ingin bertemu—“ Sina diam, Tao tidak boleh tahu kalau ia adiknya Miyoung, kemungkinan Tao memberitahu Song Qian kalau dirinya adalah adik Miyoung cukup besar. “Aku ingin observasi.”

“Ohh, aku baru tahu Sina ingin kuliah di sini.” Tao mengangguk-angguk berusaha terdengar biasa padahal dalam hati girang mendapati ia dan Sina bisa saja kuliah di tempat yang sama.

Sina mengumpat dalam hati, ia benar-benar tidak berminat pada seni, tidak mungkin ia kuliah di K-arts. Lagi-lagi keheningan terjadi, Tao menarik napas dan memilih segera pulang. “Baiklah lanjutkan observasimu, Sina harus mandi jangan sampai masuk angin.”

“Hmm.” Sina hanya menggumam, kepalanya masih tertunduk tapi ia tahu Tao sedang berjalan pergi, langkah Tao yang teratur terdengar menggema di koridor yang sepi.

Sina mengepal tangannya, ia mengangkat kepala dan memperhatikan punggung Tao yang terus menjauh. Sedikit lagi Tao akan mencapai pintu dan meninggalkan Sina sendirian. Sama seperti tadi pagi melihat Tao berjalan begitu saja, tidak melambaikan tangan mungkin merasa pertemuannya dengan Sina tidak cukup penting untuk diakhiri lambaian. Sina tidak terima Tao pergi begitu saja, tapi ia tahu ia tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Sina tidak mengerti ia menggigit bibirnya berusaha menahan kata-kata yang sudah berada di ujung lidah. Dan tepat ketika Tao memegang gagang pintu Sina tidak bisa menahannya lagi.

“Sampai kapan Tao mau membenciku!?” Pertahan Sina runtuh, tidak peduli ada yang mendengar ia memilih mengeluarkan semuanya. “Apa kesalahanku!? Bukankah aku sudah minta maaf? Tao jahat sekali. Apa Tao tidak mengerti? Aku ingin mandi tapi tidak ada baju! Aku ingin pulang tadi tapi tidak ada yang bisa menemaniku! Aku lapar tapi tidak punya uang! Aku benci Tao! Aku benci golongan darah AB lebih dari aku membenci golongan darah O!”

Sina mengakhirnya semuanya dengan tangisan, ia mengerang kesal dan menendang-nendang udara, setengah dirinya berharap Tao sudah telanjur keluar tidak mendengar kata-katanya tapi setengahnya lagi berharap laki-laki  itu mendengar semuanya dan berbalik menghampiri Sina. Merasa begitu pusing Sina mengacak-acak rambutnya, tidak menyadari Tao sudah berada di depannya.

Tao mengepal tangannya berusaha menahan tangannya untuk tidak mengelus rambut Sina, mengelap pipinya yang basah, menyapu sudut matanya yang masih mengeluarkan air, menggenggam tangannya yang gemetar. Laki-laki itu merapatkan bibirnya berusaha menahan keinginannya bertanya apa Sina baik-baik saja? Apa ada lagi yang ingin dikatakan? Kenapa tiba-tiba membicarakan golongan darah? Sina yang ia lihat sekarang menjelma menjadi gadis kecil yang menjalankan aksi ngambeknya. Laki-laki itu menghela napas dan membuka ranselnya. “Pertama Sina harus mandi dulu.” Ujar Tao sambil menutupi rambut basah Sina dengan handuknya.

#

#

Kantin kampus di malam hari sepi, kebanyakan murid memilih makan di luar. Tao yang tidak punya uang untuk mentraktir Sina memilih menyiapkan makanan untuk perempuan itu di kantin, berteman dengan bibi kantin ternyata membuatnya tahu di mana kunci dapur disimpan.

Sambil mengaduk minuman hangat yang sudah ia siapkan untuk Sina, Tao menyelimuti dirinya dengan taplak meja, kedinginan karena ia meminjami Sina jaketnya, lupa kalau itu artinya ia hanya memakai baju tanpa lengan di tengah pergantian musim panas menuju musim gugur.

Pintu kantin berderit, Tao menengok dan melihat Sina keluar dari pintu. Perempuan itu berjalan kesulitan sambil menarik-narik celana training milik Tao yang kebesaran untuknya. Ditambah tangannya tenggelam memakai hooded-jacket-nya. “Bagaimana? Habis mandi lebih segarkan? Aku juga tadi jatuh ke kubangan aku mengerti perasaan Sina.”

Sesungguhnya Sina benar-benar tidak punya muka untuk melihat wajah Tao, bagaimana bisa laki-laki ini masih mau menungguinya padahal baru saja Sina melampiaskan rasa kesalnya yang tidak rasional pada Tao. “Maafkan aku tadi, dan terima kasih bajumu, besok kukembalikan.”

Tao mengangguk-ngangguk, ia menelan ludah dan menyodorkan sepiring club sandwich: satu-satunya makanan yang bisa ia buat sekalipun pada akhirnya telur mata sapi yang digorengnya berakhir dengan warna kecoklatan hasil lupa mengecilkan api. “Makan dulu.”

Sina mengangguk. “Dan ini sampo sabunmu.” Sina memberikan sekantong plastik yang membuatnya tiba-tiba teringat sesuatu. “Shower Gel Organic Milk and Organic Honey, for soft and smooth skin, sabunmu sama seperti teman perempuanku yang peduli sekali soal kulitnya..” Sina tidak bisa menyembunyikan senyum geli saat mengatakan itu.

Menyadari Sina tengah menyindirnya Tao yang seketika membelakkan matakanya langsung menggeleng. “Itu bukan punyaku! Aku meminjam ahjumma karena punyaku habis.”

“Ahh benarkah?” Sina pura-pura percaya tapi ia sadar nama ‘Tao’ tertulis besar-besar di bawah botol sabun itu.

“Ya benar itu sabunku, sekarang minum ini dulu untuk menambah kekuatanmu.” Tao berusaha mengganti topik dengan menjulurkan secangkir shir choy  yang sudah ia racik untuk Sina.

“Apa ini?” Sina yang sudah memegang cangkirnya menatap Tao sebelum meneguk minuman itu. Tao tersenyum, ia mengangkat satu jarinya bersiap menjelaskan komposisi minuman kebanggaannya.

“Itu adalah—“

“Ei— Apa ini?” Sina yang ternyata sudah telanjur meneguk minuman itu karena mengiranya adalah susu coklat langsung menjulurkan lidahnya keluar. “Tao mengerjaiku?”

“Tidak! Itu bagus untuk stamina Sina harus meminumnya.” Tao kembali mendorong gelas yang baru Sina kembalikan pada dirinya.

“Aku tidak mau, rasanya aneh, aku tanya apa ini?” Masih penuh dengan curiga Sina memandang jijik pada cangkir yang terisi dengan air berwana coklat muda.

“Ini teh susu, aku menyampur teh hitam dengan susu lalu kuberikan garam dan mentega. Bagus untuk stamina.” Tao mengatakannya dengan datar seolah ia baru menceritakan pada Sina minuman paling biasa di dunia ini. Sina yang melongo memandang Tao dengan aneh. “Habiskan setengahnya lalu aku mau meminumnya.”

“Baik, janji Sina harus meminumnya.” Tao langsung meneguk minuman itu, menyisakan setengahnya lagi untuk Sina.

Selesai Tao meminumnya, Sina memandang gelas itu dengan ngeri, itu minuman paling absurd bahkan lebih aneh daripada jus brokoli campur seledri yang Miyoung buat, kalau bukan karena Tao sudah berbaik hati padanya ia tidak akan mau meminumnya.

“Minum ayo minum!” Tao yang gemas melihat Sina berkali-kali sudah mendekatkan cangkir pada mulutnya tapi kembali dijauhkan mulai tidak sabar. “Para prajurit di timur tengah zaman dulu selalu meminum ini sebelum mereka berperang.”

“Aku tidak mau berperang.” Sina yang sudah merasakan seteguk kembali menjulurkan lidahnya yang menolak rasa itu.

“Minum Ahn Sina!” Tidak peduli Sina akan marah Tao langsung berdiri dan memaksa Sina untuk meneguk habis minuman asin itu.

#

#

“Sampai kapan kalian mau bermain?” Ibu Oh yang membuka pintu kamar anaknya tanpa ketukan membuat Sehun yang tengah menatap kartu Yu-Gi-Oh di tangannya langsung kehilangan konsentrasi.

“Ibu, aku dan Jongin sudah belajar tadi.” Tanpa melirik ibunya Sehun meletakkan kartunya di atas papan permainan.

Jongin yang masih memikirkan langkah berikutnya menelan ludah melihat tatapan tajam ibu Oh yang jarang sekali diperlihatkannya. “Kami pasti akan tidur sebelum jam dua belas tante.”

Ibu Oh mendecak, ia memperhatikan meja belajar anaknya di mana buku-buku masih tersusun rapi tidak ada tanda mereka membuka buku-buku itu. Bahkan ia menjamin debu masih menyelimuti meja belajar yang dipakai Sehun hanya untuk merakit Gundam-nya. Ia pun berdehem dan mengambil bungkus-bungkus biskuit dan keripik yang berserakan. “Oh Sehun, kalau ujian besok kau mendapat nilai dibawah 8 aku akan membakar semua kartumu.”

“Besok Geografi aku tidak bisa jamin—“

“Terserah.” Ibu Oh menutup pintu kamar tidak peduli Sehun setuju atau tidak ia akan membakar kartu-kartu anaknya.

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya terkekeh melihat temannya yang masih bersikeras bermain. “Woah luar biasa Oh Sehun berani sekali, aku baru pertamakali melihat ibumu marah.”

Sehun mendengus, ia mengacak-acak rambutnya melihat life pointnya kembali minus, tidak terima dikalahkan seorang Jongin ia kembali mengumpulkan seluruh kartu dan mengacaknya. “Ayo main lagi.”

“Aku tidak mau, sekarang sudah hampir jam dua belas.” Jongin yang sudah jenuh segera menjatuhkan dirinya di atas kasur Sehun. Temannya ini kalau sudah keras kepala benar-benar menjadi orang yang menjengkelkan.

Sehun menarik napas. Ujian Geografi besok benar-benar tidak ada jaminan ia bisa mendapat nilai di atas delapan tapi bukan berarti ia merelakan seluruh kartu koleksinya dibakar begitu saja. “Satu permainan lagi, kalau aku kalah aku akan memberikanmu Exodia.

“Benarkah? Katakan itu sejak awal!” Mata Jongin kembali mengerling, ia langsung turun dari kasur dan ambil posisi di depan Sehun. “Kau tidak takut kartumu akan dibakar?”

Sehun tersenyum dan meletakkan kartu andalannya di atas  papan permainan. “Tenang saja kartuku akan selamat, tidak usah memikirkan kartuku karena kalau aku menang kau harus memberiku Blue Eyes White Dragon.”

“Ei—percaya diri sekali.” Jongin menyeringai dan meletakkan satu kartu lagi. Matanya menatap amplop mungil yang terselip di bawah papan permainan. “Kau mendapat surat cinta?” Jongin bertanya dan mengambil amplop itu.

“Ah itu! Undangan untuk pesta Miyoung ambil saja itu untukmu.” Sehun berkata sambil membuka ransel yang berada di sebelahnya. “Dan ini tolong berikan untuk Luhan.” Ujarnya sambil menjulurkan amplop yang sama pada Jongin.

“Woah! Tempatnya bagus selera Miyoung memang tinggi. Hei apakah Sina akan datang?” Senyum iseng tersungging, Sehun yang sejak tadi tidak menatap lawan bicaranya akhirnya memandang Jongin.

“Karena itu gabungan pesta ulang tahun dan perpisahan tentu dia datang.”

“Benarkah? Ini kesempatan bagus untukku.” Masih tersenyum Jongin mengambil satu kartu lagi, matanya memandang kartu yang di tangan tapi pikirannya melayang memikirkan sebuah skenario.

“Sehun, kau mau membantu sahabatmu ini kan?”  Tangan Jongin kembali mengambil kartu undangan dan membaca jamnya.

“Tergantung.”

“Aku ada rencana, kau mau membantu?”

Sehun mendecak dan mengangkat kepalanya memperhatikan Jongin yang belum juga berhenti tersenyum. “Katakan dulu alasan di balik senyum menyebalkanmu itu.”

“Aku akan menyatakan perasaanku pada Ahn Sina!”

#

#

Author’s note:

Sebenernya ini rahasia, tp karena udah enggak berlaku lagi author ceritain. Dari awal aku ngetik pastel Sina udah dibikin fix sama Tao. Enggak peduli apapun pokoknya mesti sama Tao. Aku juga udah ngerencanain klimaksnya ketika Sina hampir suka Sehun tapi akhirnya dia sadar ada laki-laki yang selalu ada buat dia, dan itu adalah Tao terus Sina nolak Sehun dengan alasan Miyoung suka sama Sehun. Heol drama sekali. Dan seiring berjalannya waktu karakter Sehun tumbuh diluar dugaan, apa yang harus kulakukan. Aku suka Tao dan Sina waktu bikin mereka tanpa sadar selalu cekikikan diakhiri menghela napas dan kalau Sehun Sina waktu ngetik langsung pasang wajah serius tapi ujung2nya senyum. Yah begitulah susah jelasin. Btw selamat belajar mati-matian buat yang udah 3 sma , di bagian ini ada kyungsoo-sensei muncul sebagai cameo untuk chapter spesial edisi UN~

daaan junhee emang dari awal ga kubikin jadi tunangan taoo

XOXOXOXOXOXOXOXOOXOXOXOXO dari Pikrachu❤

16 thoughts on “PASTEL#021

  1. sumpah demi kyungsoo yang imoeet, aku udah kurang-kurangin baca fanfic akhir2 ini tapi pas ada kiriman update-an pastel di email ternyataa engga kukuuu. dan terima kasih kepada author yang begitu baik hati mengingatkan tentang UN :’) *padahal udah lupaxD* wkwk

    okeh lupakan curhatan anak sekolah ini hoho
    thor pas banget updatenya di hari akhir sekolah setelah melewati ujian praktek minggu ini bisa dihibur sama pastel… ^^
    sebenernya satu yang mengganjal hati pas pertama buka chapter ini itu.. untuk apa lee kwangsoo ada disitu? aku kira dia bakal masuk cerita tapi ternyata engga. jadii? apa rencana author sebenarnya? *deep stare*

    haahh… junhee xD wkwk
    kayaknya bener gak jelas ini anak. tunggu mau nebak, apa sebenernya junhee itu bakal jadi tipe anak yang baik-baik aja, tapi tanpaa dia sadari dia itu menyebalkan dan MENGGANGGU?! keuchi? ya.. dia sebenernya gak niat jahat atau gimana, hanya gak tau situasi dan kondisi aja. DAN ITU YANG MALAH MENGHAMBAT HUBUNGAN TAOSINA!! KEUCHI KEUCHI?? bahhahaa kalo bener saya request tao maen ke toko cd lagi yak huakakkaka xD

    sehun… emm, sejujurnya aku engga tertarik sama anak satu ini. mungkin dari exo debut cuma ini anak yang gak pernah narik perhatian aku. jadi duh kalo sama dia tuh hambar aja gitu. ngambaaaaaaaaaaaaaaang~ wkwk jadi, saya mohon jangan buat sina berakhir bersama sehun pelis, demi kyungsoo yang imoeeeet :3
    btw sehun udah suka sina kan? aku nyium bau bau asmara dari lubuk hati sehun. dia pasti sengaja ambil undangan buat jongin grgr gak suka sina ketemu cowok itu. huahahaha kayaknya aku cocok jadi cenayang nih xD

    dan di part ini aku ngerasa ada yang beda dari tao. pas dia sama junhee dia kok jadi kayak keliatan lebih dewasa ya? gak kayak dia pas sama sina. feel yang aku rasain gitu. kalo sama sina tuh kayak bocah polos tapi pas sama junhee.. bedaaa deh pokoknya :3 hehehe

    adegan tao basah kedua yang luar biasa hahahhahahahha masa aku suka pas tao ngomong,“Aku terpeleset dan jatuh ke kubangan air.” biasa sih tapi lucu aja.. hehehe kayaknya adegan tao basah mesti dibuat seriesnya thor. adegan tao basah the series –” ha ha ha…
    dan lanjut ke moment taosina yang naujubilah… ampooooooooooooonnn, masa tao ngacak2 rambut sina kayak ngacak2 perasaan gueeeh xD *lebay*
    so sweeeeeeettt…. moment kali ini bener2 manis kayak tebu :”) sina jadi kayak cewek yang lagi merajuk ke pacarnya, trus tao lebih dewasa nanggepinnya dengan cool, aaaaaaaaaaaaaaaaakkkhhhh thor lopeyuuuu banget deh. tapi sayang berenti begitu aja u,u kenapa bersambungnya cpet banget *padahal part ini panjang tapi tetep aja gak pernah puas hahah* ada rencana double update ga thor? *mangkaknya mulai* hoho

    aku kayaknya harus berentiin komen ini juga karena gak sadar udah panjang ._. hahaa ditunggu part selanjutnya, keep writing yaaa… aku janji keep komen kok :3 *gombal* wkwk
    oiya gambar tao yang di part kemaren bagus thooorr😀

    • aaah gif kwangsoo itu cuma mewakili ekspresiku waktu ngupdateee (gara2 males pake poster)
      sumpah itu kata2 yg dicaps lock setuju banget beneer sekali dia bakal ngeganggu tapi bakal dibikin jadi karakter yg ga bisa dibenci ;;)
      dan soal sehuuun gimana bisa anak seganteng itu ga bisa narik perhatianmu /COUGH/ dia kan bias keduaku /COUGH/ sina sama sehun tuh maksudnya bukan ngambang, ceritanya mereka temenan habis itu….oke stop ini spoiler. Intinya gara2 kamu bilang kayak gitu kayaknya ini bakal jadi tantangan author gimana bikin hubungan sina sehun lebih jelas /pumps fist
      Btw analisismu tepat sekali nak! kalau sama junhee tao emang jadi rada judes soalnya aku pingin tao tuh ga bener2 cowok lugu polos hatinya kebaikan dia tuh cuma nunjukkin sisi kayak gitu sama cewek yg ditakutinnya dan itu adalah sina :3
      DAN PLS aku ngakak baca tao basah the series sumpah ini suka taonya terlalu akut bahaya sekali (basah aja udah kayak gini apalagi kedepannya….) kayaknya gw harus hati2 ngetik bagian tao..
      yaampun bales komenku udah panjang tapi aku masih mau lanjutin. terus teruus adegan sina ngambek itu juga kesukaanku (spazzing fanfic sendiri ._.), dari dulu aku pingin bikin ini cewek keliatan sisi lemahnya aah akhirnya kesampean di chapter ini =w= sebenernya masih ada kelanjutan tapi kuputuskan untuk dipotong buat chapter selanjutnya! double update lagi bisa otak produktifnya udah ga mode-on lagi hehe
      ditunggu komennya liat aja kedepannya bakal kubikin kamu ganti otp ke sehunsina… /deep stare

  2. Aaahh .. Mkin ska sma ff ini.. Ak ska momment taosina keren unyu manis so sweet la .. Tidak dpt berkata kata lagi .. Ahh ff ini yg paling ak tunggu selain detour .. Adu kyungsoo apakah dy cma mw 1 payung sma chaeri .. Sorry nyangkutin mrk tpi .. Ak sma d.o chaeri sma tao sina .. Ent ngapa ak request bgt klau tao sina jln di tman ktemu sma d.o sma chaeri .. Aa .. Gk bsa bayangkn ..

    Btw sina karakternya pas ktemu tao intiny yg dy ngambek ituloh .. Ak ska karakternya .. Trus pembawaannya keren author .. Ak ngefans padamu

    Makin lma ak jdi lebay sekian cuap”ny fighting .. Dn buat kwangsoo ak kira dy bakal jdi cameo jdi kek orng yg tertindas soalny biasa di running man dykn paling tertindas gk tw npa dn itu cocok bwt dy .. Heheh

    • wahaha adegan kyungsoo sama chaeri agak susah tuh soalnya kita punya baekhyun yg tidak bisa dilupakan c: tapi sina sama d.o tuh perpaduan kocak jadi kalau ada momen yg pas kucoba selipin deh ;;)
      Haha dan gif kwangsoo cuma mewakili ekspresiku ketika ngupdate, sama sekali ga ada hubungannya dengan cerita -_-v

  3. SUMPAH.. jadi sehun pas di radio cerita, kalo dia lg sama tao dia bakal ngerasa kalo tao itu bukan seorang hyung karna golongan darah AB itu kaya punya kepribadian ganda,. kadang manja, jail, kadang sebalikny. tapi lumayan banyak jg taohun momen yg nunjukin sisi ke ‘hyung-an’ tao, jadi chap ini benerr2 kaya real uuuuu..

    apa lg pas sina ngambek, udah basah, kotor, minyoung gak ada, pengen pulang tapi ga bisa,. >o< aah, eh tao nya bukan jd baby panda tp panda jantan dewasa uuu.. dia mengayomi(?) sina dgn sedemikian rupa ooh..

    suka banget chap ini, terus sehun udh mw tamat sma masih main yugioh, et daah..

    pikrachu-san ganbatte !! fightingg!!

    • itu radio apaa? aku mau nonton! btw sehun itu emang orang yang peduli bgt sama golongan darah ya? ._. di exost juga dia ngomentarin golongan darah -_-
      hahaha aku suka chapter ini soalnya bisa bikin sisi tao yang berbeda, kan bosen juga kalau liat dia terus-terusan terlalu lugu gitu😄

      • Gol darah it udh kaya zodiak gt bwt sehun, dy prcaya bgt hh..
        jdul program radiony a night like this, bintang tamunya baek sama sehun.. Di yucub ada.
        tp aku lupa kalo dy yg blgin tao gk sprti hyung it dimana >< apa di showtime ya.. Atau dmana ya heeh..
        Btw baeksehun di radio itu lucu deh, bkin sakit perut
        haha

  4. AAAAA.. keren.. aku baru tahu ff ini kemaren, trus lngsung baca smpe part 21.. tp bingung mau komen di part mana😀

    aku suka sama masuk nya cast” baru, terkesan natural dan ga maksa..
    tp ada beberapa penempatan kata yang aku ga suka, kayak “tante”.. kesannya ga nyambung…
    udah gitu romancenya nge-feel yang sehun sina..

    kak twitter nya apa? ntar aku follow🙂

    • WOAH WOAH langsung baca sampe part 21 o.o sumpah itu udah 200 halaman lebih hebat banget salut bgt saya.
      Daan EMANG kata ‘tante’ itu kumunculin dengan banyak pertimbangan tp ujung2nya tetap aja aneh -__- tadi mau ‘bibi’ cuma kayak ketuaan kalau ‘ibu’ kayak formal banget, tp yaudah kuganti aja nanti heh (akhirnya ada juga yg ngomentari kata ‘tante’ xD)
      Twitterku sama kayak pen name @pikrachu🙂

  5. kak twitter mu di protect, aku jd ga bisa mention..

    follow aku biar aku bisa folback + mention.. id name ku @koala0598

  6. Ya ampun aku kira junhee itu pendiem, ternyata ampun pecicilan banget, mana pedenya tingkat dewa lagi hadeeh tapi gpp, kehadiran dia nambah rasa di ff ini, heheh

    Jadi lay ama kai punya rencana yang sama? Yaampuuun x_x dan tao masih belum tau kalo sina itu adenya miyoung ckck

    Jadi kakak udah fix bakal bikin sina sama tao? Trus sehuuuun??? Sehunkuuu??? Sama aku aja yaaaaah *eh
    Yah kalo aku sih sebenernya netral netral aja mau sina ama sehun atau sama tao, soalnya dua duanya seimbang, sama sama sweet, aku sih pengen dua duanya aja, hehe, mana bisa–

  7. oh tidakkkk ,ok aku emang udah ada feeling kalo sina bakal sama tao tapiiiiiiii aku masih blm relaa maunya sama sehunnnn aja hiksss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s