Detour #11

#11 Last Hope

Bola mata Nami tidak berhenti bergerak kanan kiri, tangannya terus terkepal memegang bola tapi sedikitpun tidak terangkat karena terlalu tenggelam pada tontonannya. Pandangannya harusnya menuju keranjang tempat kemana bola harus dilempar tapi ia tidak bisa berhenti bergantian melirik Kyungsoo dan Luhan yang menjadi dewa permainan ini.

“Nami! Cepat lempar!” Chen yang berdiri di sebelah Nami menyenggol perempuan itu dengan sikutnya, membuat Nami mendecak dan memelototinya “Aku tahu aku tahu.”

Nami menelan ludah lalu melempar bola yang sudah berada di tangannya yang selama lima menit tidak juga terlempar. “Aish!” Nami Langsung mengumpat karena bola itu meleset jauh dari keranjang yang menjadi sasarannya. Luhan yang menyadari sebuah bola datang mengganggu bolanya untuk masuk segera menengok dan menemukan Nami tertawa malu padanya. Luhan mendengus dan melangkahkan kakinya mendekat pada Nami.

“Ukur tenagamu ketika melempar.” Ia berujar pada Nami.

“Akhirnya!” Sena melompat kegirangan mendapati bola yang akhirnya masuk setelah sepuluh kali percobaan. Baru saja ia membalik badannya mencari Jongin untuk tos bersama sosok yang ia temukan justru Luhan yang sedang memegang tangan Nami. Gesturnya menandakan ia sedang berusaha mengajarkan Nami yang memiliki kemampuan nol soal akurasi melempar. Pemandangan itu terasa begitu janggal bagi Sena, Luhan dan Nami astaga dua orang musuhnya sekarang bersatu.

“Siapapun tolong hentikan Kyungsoo.” Jongin berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Detik pertama pertandingan melempar bola ini dimulai Kyungsoo segera memimpin permainan, Baekhyun memang sudah memberitahu Jongin kalau SMP dulu Kyungsoo menjadi pitcher andalan tim tapi tetap saja ia kaget kalau jadinya seperti ini.

“Aagh aku tidak peduli lagi.” Sunggyu yang awalnya begitu bersemangat pada akhirnya menjadi orang pertama yang menyerah. Ia segera menjatuhkan dirinya ke tanah sekalipun Sena berusaha menarik tangannya untuk kembali bangkit masih bersikeras berpikir kelompok mereka masih ada kesempatan menang.

“Kita sudah menang di pertandingan volley putra, kali ini kalah tidak apa kan?” Ujar Sunggyu sambil menepis tangan Sena.  Sena menghela napas, ia pun kembali mengambil bola dan terus melemparnya tidak peduli skor mereka jauh lebih rendah dari kedua lawan mereka, anggap saja ini latihan untuk pertandingan dodge ball selanjutnya, Sena berujar dalam hati.

Kalah di pertandingan volley tidak membuat Chaeri putus asa soal hasil akhir festival olahraga, dari awal ia memang tahu tim Nami yang akan memenangkan pertandingan itu. Tapi Kompetisi melempar bola sesudahnya menjadi kemenangan mutlak tim mereka, terima kasih pada lemparan Kyungsoo yang tidak pernah meleset masuk pada keranjangnya. Jika saja tim Sungjong memiliki kerja tim yang lebih baik tentu saja kemenangan pertandingan tadi tidak akan semudah itu didapatkan oleh tim Chaeri.

“Kenapa tersenyum sendiri?” Chaeri yang sedang duduk sendirian menunggu peluit selanjutnya dibunyikan segera menengokkan kepalanya dan menemukan Baekhyun yang ikut duduk di sampingnya.

Chaeri berusaha merapatkan bibirnya berusaha menghentikkan senyum gelinya “Aku hanya memikirkan soal pertandingan tadi, Luhan dan Nami—aku tidak mengerti.”

Baekhyun tertawa kecil dan mengangguk-ngangguk, tahu apa yang membuat Chaeri tersenyum sendirian seperti itu. “Bagi Sungjong mereka adalah harapan satu-satunya tapi di saat yang sama juga mimpi buruk.”

“Voli dan basket Nami memang menang telak. Luhan juga sebenarnya bisa, jika saja ada satu teman timnya yang bisa mengikuti kecepatannya aku yakin Baekhyun dan Jongin bukan masalah.”

“HEI.”

“Astaga aku lupa kau Baekhyun.” Chaeri menutup mulutnya dan tertawa. Baekhyun mendengus tapi apapun itu yang Chaeri katakan tadi ada benarnya juga.

“Aku senang dodge ball kali ini perempuan dan laki-laki digabung, jadi kemungkinan Luhan dan Nami bertengkar lagi semakin besar.”

Chaeri menaikkan bahunya, setengah setuju setengah tidak. Pertandingan sebelumnya Luhan benar-benar bisa menang kalau ia tidak meluangkan perhatiannya membantu Nami yang ujung-ujung diakhiri dengan Nami yang melemparkan bola pada Luhan yang terus mengkritik kemampuan melemparnya.

#

14.12

Pertandingan sudah berjalan 10 menit, Seukri dan Sungjae sudah keluar, sejujurnya dua orang itu benar- benar tidak bisa diharapkan. Seukri terlalu pasif tidak bisa melakukan apapun selain menjerit panik sebaliknya Sungjae terlalu agresif matanya fokus hanya mengincar Jongin sehingga ia tidak menyadari tepat dibelakangnya Sunggyu sudah memegang bola siap mengenainya. Sementara Sehun dan Kyungsoo tidak berhenti bergantian saling mengoper mengenai orang yang paling mengganggu: Jongin dan Baekhyun, ada seorang perempuan merasa dirinya paling tidak berguna.

Pertahanan Chaeri memang bagus, mungkin karena tubuh kecilnya ia pandai menghindar dari bola, dan sayangnya hal itu justru membuat Chaeri sama sekali tidak memiliki kesempatan memegang bola, ia terus bergerak membuat Kyungsoo bahkan tidak bisa memperhatikan Chaeri lebih dari dua detik.

“Sina keluar!”

Perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak melakukan apapun itu sebenarnya cukup beruntung, ia tidak berusaha melempar atau menghindar tapi seorang laki-laki terus melindunginya, harusnya ia berterima kasih pada Jongin si pelindung tapi sebaliknya Sina berterimakasih pada Sehun yang mengenainya, dari awal ia memang ingin cepat keluar.

#

Do’a Nami terkabul tim Kyungsoo kalah sehingga di pertandingan dodge ball ia tidak perlu menghadapi mereka. Saat ini Nami sebagai satu-satunya wanita yang masih bertahan di pertandingan berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Sena, Sina, Chorong semua sudah keluar. Tidak seperti biasanya, Luhan pun tidak mencari masalah dengannya. Mereka berdua menjadi rekan yang membuat Sungjong tidak berhenti tersenyum selama pertandingan. Akurasi Nami memang tidak begitu bagus, tapi matanya selalu jeli membuat ia selalu menghindari bola dan memberitahu Luhan orang mana yang sebaiknya dikenai.

Tidak butuh waktu lama, Jongin dan Baekhyun kehabisan stamina. Nami Luhan Sungjong ketiganya segera memimpin papar skor dan menit selanjutnya, tim Sungjong mendapat kemenangan ketiga mereka.

#

Gangwon-do, Yanggu

Ketika matahari mulai menerangi langit kelabu menjadi lebih berwarna seorang wanita tua keluar dari rumahnya. Meskipun terlihat begitu rapuh dengan punggung yang membungkuk ditambah dengan rambut tebalnya yang memutih langkah wanita itu menunjukkan yang sebaliknya, langkahnya pasti; tidak bergoyang, tulangnya memang sudah tua tapi ia tetap wanita tua yang sehat. Sambil menyebarkan beras pada ayam peliharaannya nenek Byun menghela napas, firasat mengatakan hari ini tidak akan berjalan biasa.

Selesai menghabiskan semangkok beras untuk ayam dan merpatinya ia berjalan menuju keran bersiap menyirami kebun seladanya, baru saja membungkuk untuk mengambil selang, telinganya yang masih tajam menangkap suara langkah. Tinggal di daerah yang sepi membuatnya peka pada suara yang bukan berasal dari alam. Ketika langkahnya makin mendekat ia segera membalik badan dan ternyata, firasatnya memang benar.

“Untuk apa kau ke sini!? Bukankah sudah kubilang aku masih sehat!?” Tangannya yang sedang memegang mangkuk plastik dilemparkannya pada wanita yang datang mengunjunginya itu.

“Ibu! Aku datang bukan karena mengkhawatirkanmu!” Ibu Byun yang terbiasa mendapat pengusiran setiap mengunjungi rumah ibunya tetap berjalan mendekat.

Nenek Byun menatap anaknya memastikan apakah ada koper di dekatnya. “Kenapa kau ke sini? Sudah kubilang cari uang di Seoul dan urus anakmu Baekhyun!” Melihat anaknya di kampung halaman selalu membuat wanita tua itu merasa gusar. Ia menarik napas panjang dan memijit keningnya yang pusing. “Ayo kita bicara di dalam.”

#

“Seminggu!?” urat nadi pada tenggorokannya nampak saking emosinya.

Ibu Byun tidak mengambil pusing soal reaksi ibunya sendiri, itu sudah biasa, dan entah siapa yang salah kali ini ia memilih untuk mempertahankan pendapatnya. “Aku akan tinggal di sini selama seminggu, aku butuh cuti ibu.”

Selagi anaknya mengeluarkah segala alasannya untuk cuti nenek Byun dengan tenang hanya meneguk teh hijaunya, jika ia terus berteriak seperti ini umurnya bisa memendek. “Aigo, bagaimana bisa ada seorang ibu seperti dirimu? Apa kau memikirkan Baekhyun?” Suaranya sudah tidak meninggi lagi tergantikan dengan rasa simpati.

“Tentu saja aku memikirkan Baekhyun! Aku tidak mau dia terus melihatku stress, lebih baik aku menenangkan diri di sini kan?”

Melihat anaknya sendiri terlihat begitu menyedihkan, nenek Byun tidak bisa memarahinya lagi. Kedua alisnya yang terus bertaut perlahan-lahan kembali ke posisi semula. “Bagaimana bisa Baekhyun membolehkanmu?”

“Aku belum memberitahu Baekhyun aku pergi.”

Kalimat itu sekali lagi kembali membuat emosi nenek Byun tersulut, ia menggenggam gelas keramiknya berusaha meredam emosinya. “Sekarang kau beritahu dia.”

Tanpa memberi respon Ibu Byun segera menjatuhkan dirinya di atas tatami, saat ini ia benar-benar mengantuk, menjawab pertanyaan ibunya hanya membuat rasa bersalahnya pada Baekhyun menjadi-jadi. “Aku sudah menuliskan pesan di meja makan.”

“Menulis? Kau anggap apa ponselmu kalau tidak digunakan!?”

“Baekhyun ada festival olahraga! Sejak pagi dia bilang dia harus menang, kalau aku memberitahunya apa dia bisa konsentrasi saat pertandingan nanti!?”

Sekali lagi nenek Byun meneguk habis gelas keduanya, marah pada anak seperti ini seperti tidak ada gunanya. “Astaga anak ini, bagaimana bisa membiarkan Baekhyun sendirian? Kalau kau cuti habiskan waktumu dengan Baekhyun, bukan denganku!”

“Meskipun aku sudah dewasa, aku tetap butuh liburan musim panas bu.” Sambil mengikat rambut panjang lurusnya ibu Byun berdiri dan berjalan menuju pintu ruang sebelah.

“Liburan musim panas? Kau membiarkan Baekhyun liburan musim panas sendirian!? Kenapa tidak kau ajak Baekhyun ke sini!”

“Aku kenal anakku sendiri, dia pasti bisa mengatasi semuanya, lagipula Baekhyun banyak teman.” Dengan kalimat itu ia menutup pintu meninggalkan ibunya yang hanya bisa mengelus dada sambil menghela napas.

#

14.48

“Skor pada permainan ini paling tinggi, kalau menang kita bisa membalikkan keadaan.” Seukri berkata pada Chaeri yang masih sibuk mengemut permen mintnya. Chaeri hanya mengangguk dan merenggangkan kakinya sambil memperhatikan laki-laki yang sedang mengipasi dirinya dengan brosur yang sudah dilipat-lipat.

“Kyungsoo!” Chaeri menyahut temannya, Kyungsoo yang berebut kipas dengan Sehun segera menengok dan menaikkan alisnya.

“Menurutmu siapa yang menang? Baekhyun atau Sungjong?” Chaeri yang sudah berpindah tempat di samping Kyungsoo langsung menanyakan hal yang terus berputar di otaknya sejak pertandingan dodge ball selesai.

Setelah meniup poninya Kyungsoo menengok pada Chaeri, ia ingin memberi jawaban tapi poni Chaeri yang sudah terikat kembali terjatuh membuat laki-laki itu merasa gemas. “Rambutmu, ikat dulu.”

Chaeri memutar bola matanya dan melepas ikatan lalu mengikatnya lagi sesuai yang Kyungsoo ajarkan padanya. “Ketika pertandingan hampir selesai kau masih sempat mengurusi rambutku, apa aku perlu memotong pendek rambut ini?”

“Jangan, kau cocok dengan rambut panjang, hanya kurang perawatan.” Kyungsoo yang sudah mendapatkan kipasnya kembali langsung tersenyum ketika Chaeri sudah bisa mengikat rambutnya sendiri dengan benar.

Chaeri masih tidak habis pikir, ketika tim mereka menang pada pertandingan melempar bola senyum Kyungsoo bahkan tidak selebar itu! “Jadi siapa yang menang saat pertandingan tarik tambang nanti?” Chaeri masih bersikeras dengan pertanyaannya.

“Pilihan jawabannya hanya ada dua: Baekhyun atau Sungjong. Kau kurang satu orang.”

Jawaban Kyungsoo membuat Chaeri menaikkan alisnya tidak mengerti. “Kita tidak mungkin menang. Tarik tambang permainan kekuatan oleh karena itu yang menang tidak mungkin kita.”

“Jadi kau sudah merelakan makan siang gratis?”

“Kurasa begitu.”

#

“Woah keren sekali.” Baekhyun yang tenggelam dengan permainannya sendiri membuatnya tidak menyadari seseorang sudah berada tepat di belakangnya. Sambil menunggu pertandingan selanjutnya di mulai Baekhyun yang sedang membasahi kepalanya dengan air dari selang dengan tidak sengaja menemukan pelangi hasil gabungan suhu tinggi musim panas dan air selangnya. Itu percobaan sains biasa dan entah kenapa ada kebanggan sendiri bagi seorang Byun Baekhyun menemukannya.

“Baekhyun?”

Masih menyeringai laki-laki itu menengok dan menemukan perempuan yang sedang memandangnya aneh. “Ah Nami! Coba lihat ini aku membuat pelangi!”

Nami hanya tersenyum, bukan senyum Nami yang biasanya jadi Baekhyun tahu ada sesuatu aneh di balik semua ini. “Ada apa?” Baekhyun bertanya.

“Bisa—kau pergi sebentar? Aku ingin mengajak Kyungsoo ke sini.”

Bang! Nami benar-benar— “Ahh baiklah, aku akan pergi semoga kau beruntung.” Laki-laki itu masih berusaha tersenyum, ia mematikan kerannya dan berjalan ke belakang berusaha terlihat berjalan seperti biasa, yah setidaknya jika terlihat dari belakang.

Nami tahu hal yang ia lakukan benar-benar tidak tahu diri, bagaimana bisa ia mengusir Baekhyun begitu saja, bagaimana bisa ia membiarkan Baekhyun tahu kalau ia akan menyatakan perasaan pada sahabat laki-laki itu sendiri. Tapi terlepas dari semua itu, karena dia Baekhyun Nami yakin laki-laki easy-going itu selalu bisa menyelesaikan masalahnya. Dari pada kasihan bukankah lebih baik menolak secara langsung? Meskipun caranya menyakitkan.

Aigo apa perempuan itu tidak mengerti?” Sambil mengomel Baekhyun menjatuhkan dirinya di atas tanah, ia bersembunyi di balik pohon yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Nami. Nami memang menyuruhnya pergi, tapi apa semudah itu seorang Baekhyun mau menurutinya?

“Siapa perempuan itu?” Tahu-tahu sebuah suara menyahut.

Baekhyun tergidik, ia segera bangkit dan sosok ia temukan justru Chaeri yang duduk di sisi lain dari batang pohon itu. “Astaga aku tidak tahu ternyata kau stalker kelas berat.”

Chaeri merengut dan meniup poninya. “Kau tahu di dunia ini ada kata yang namanya ‘kebetulan’ dan sayangnya itu sering terjadi pada kita berdua, jadi stop menganggapku sebagai fansmu.”

Berdebat dengan Chaeri memang sering menyulut emosi tapi untuk kali ini ia rasa kehadiran Chaeri dibutuhkan. Baekhyun langsung duduk di sebelah Chaeri. “Baiklah, ayo kita taruhan, apa menurutmu Nami akan menangis?”

Chaeri memiringkan kepalanya, dengan perlahan ia menyembulkan kepalanya memperhatikan apa yang membuat Baekhyun terlihat bersembunyi. Ketika mata Chaeri menangkap sosok Kyungsoo saat itu juga ia mengerti. “Nami mau menyatakan perasaannya pada Kyungsoo? Secepat itu?”

“Yaah aku juga tidak mengerti, tapi kurasa ada alasan kuat, dia tahu Kyungsoo orang seperti apa, harusnya dia bisa memilih momen yang tepat kan?” Baekhyun yang memilih tidak mengintip seperti apa yang Chaeri lakukan sekarang menyandarkan dirinya pada batang pohon. Seringai jenakanya menghilang, sesuatu membuatnya keningnya berkerut.

“Kau tidak apa-apa?” Chaeri kembali ke posisi awal, sekali lagi ia kembali ke prinsip tidak akan mengganggu privasi orang lain.

“Aku Byun Baekhyun, masih banyak perempuan di dunia ini kan?” Laki-laki itu kembali tersenyum menghadap pada Chaeri yang masih memandang wajahnya, tidak terlihat menunjukkan simpati tapi ia tahu Chaeri peduli padanya. “Sudah kubilang aku tidak apa-apa!” Pipi Baekhyun terasa panas, ia segera mengambil botol minumnya berusaha menyibukkan diri tanpa harus menatap mata Chaeri yang sekarang seakan sedang menghakiminya.

Beberapa detik setelah Baekhyun meneguk air minumnya sekalipun perutnya sudah berteriak stop-aku-bisa-meledak tiba-tiba terdengar suara tawa Chaeri. Setelah mengelap mulutnya yang belepotan Baekhyun dengan tanda tanya pada wajahnya menengokkan kepalanya pada Chaeri.

“Aku suka tulisan di botol minummu.” Chaeri tersenyum, menunjuk botol biru transparan yang Baekhyun pegang. “I don’t sweat, I sparkle. Itu cocok untukmu.”

“Ahh ini punya ibuku, tapi aku suka kata-katanya.“ Baekhyun tersenyum, harusnya ia protes harusnya ia mengelak, harusnya ia bilang ‘kau hanya menggodaku kan Chaeri?’ tapi entah kenapa kalimat itu terdengar tulus, bukan basa-basi, murni Chaeri hanya mengungkapkan pendapatnya.

“Jadi menurutmu aku berkilau?”

Chaeri mengendikkan bahunya. Ingin melanjutkan kalimatnya tapi takut membuat rasa percaya diri Baekhyun di atas puncak (dan terus terang itu menjengkelkan untuk dilihat). “Setidaknya lap keringatmu, itu benar-benar menyilaukan.” Chaeiri melemparkan sapu tangannya, disambut oleh Baekhyun yang langsung mengacak-acak rambut Chaeri dengan tawanya yang renyah.

“Aahh sejak kapan Moon Chaeri memiliki mulut semanis ini?”

Chaeri hanya bisa memutar bola mata, ia ingin menepis tangan Baekhyun takut itu akan menghancurkan ikat rambut yang susah payah membuat Kyungsoo tersenyum tapi masalahnya, bagaimana cara Baekhyun mengelus dan menepuk puncak kepala Chaeri membuat tangan Chaeri ragu untuk mengusirnya. Seperti kucing yang disayang majikannya atau anjing yang diberi pujian, memberikan rasa kenyamanan tersendiri bagi Chaeri.

#

#

“BRUK!”

Kyungsoo menjatuhkan dirinya di atas kasur, lupakan aturan soal kebersihan atau apapun itu, ia bahkan belum melepaskan kaos kaki yang selalu menjadi perhatian utamanya ketika mencuci baju. Saat ini kepalanya dipenuhi berbagai hal, sebenarnya otak laki-laki ini sudah biasa memikirkan banyak hal hanya saja kali ini masalah pertama untuknya, terlalu kompleks untuk orang seperti dirinya.

“Kyungsoo malam ini—“ Ayahnya yang baru membuka pintu kamar tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, matanya menyusuri seluruh hal yang ia rasa tidak masuk akal. Pertama: anaknya tidak melepas kaos kaki sebelum naik ke kasur, kedua: isi tasnya berserakan dan tergeletak di lantai dan ketiga: ada memar di pipi kanan anaknya.

“Ah ayah, malam ini kita makan di luar saja.” Kyungsoo menjawab pertanyaan tak terselesaikan dari ayahnya, keduanya matanya masih terpejam mungkin ia merasa seluruh masalahnya menjadi lebih simpel jika yang dilihatnya hanya kegelapan. Ayah Kyungsoo menaikkan alisnya, ia hanya mengangguk dan berjalan keluar dari kamar anaknya, menanyakan apa yang terjadi pada anaknya tidak berguna karena Kyungsoo selalu tahu kapan saat yang tepat untuk bercerita.

Ketika pintunya kembali tertutup Kyungsoo kembali bangun, dengan kakinya ia menyeret ransel yang isinya berserakan kemana-mana, Nutella coklat yang Nami berikan masih belum tersentuh. Kyungsoo menghela napas.

F l a s h b a c k

“Kau tahu kenapa selama ini hidupmu terlihat membosankan?” Kyungsoo yang baru keluar dari kamar mandi menengok kanan kiri, tidak ada seseorang pun di sana sudah pasti suara itu berbicara padanya. Ketika laki-laki itu kembali berjalan terdengar suara gedebuk ringan, begitu kepalanya menengok ke belakang yang ia temukan sosok Baekhyun duduk bersandar pada tembok koridor.

“Aku berbicara padamu Kyungsoo, aku tanya apa kau tahu kenapa kau terlihat sangat membosankan?” Baekhyun mengangkat kepalanya, matanya menunjukkan kalau emosi yang ditahannya tidak main-main.

Kyungsoo memiringkan kepalanya. “Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Aaah bagaimana bisa murid ranking satu kita tidak mengerti hal sesederhana ini? Apa saat TK kau tidak di ajarkan terima kasih atau minta maaf?” Baekhyun berdiri menghampiri Kyungsoo yang terus diam, dan semua itu membuat laki-laki ini makin kesal, ia menganggap Kyungsoo sama sekali tidak menanggapi perkataannya.

“Aku diajarkan.” Jawaban singkat itu membuat otak Baekhyun makin memanas, tangannya terkepal, ia juga tidak mengerti padahal sudah berapa kali ia meyakinkan dirinya sendiri ia merelakan Kyungsoo dan Nami tapi detik saat ia melihat dengan mata kepala sendiri, semua janjinya terasa tidak berlaku lagi. Nami tidak boleh berakhir dengan laki-laki semacam Kyungsoo.

“Detik ketika Nami masuk sekolah ini kau tahu siapa yang membuatnya langsung menghabiskan sepertiga waktu di sekolahnya di perpustakaan? Kau tahu siapa yang membuatnya begitu terlihat bodoh? Kau tahu laki-laki seperti apa yang membuatnya menjadi begitu menyedihkan?”

Sorot mata Baekhyun yang jarang sekali di perlihatkannya membuat Kyungsoo memikirkan baik-baik kata-kata yang akan keluar dari mulutnya, ia tahu berbicara dengan orang yang emosi bukan hal yang mudah dilakukan. “Kalau maksudmu semua penyebabnya adalah aku, aku minta maaf. Aku menolaknya karena aku tidak menyukainya, apa lagi yang salah bukankah kau juga sering menolak perasaan seseorang?”

“Jangan samakan aku dengan bajingan berhati batu sepertimu.”

“Hei.” Pandangan Kyungsoo berubah. Tangannya mengeras tidak tahu kemana rasa jengkel itu dilampiaskan.

“Kau tahu aku menyukai Nami kan.” Kalimat Baekhyun lebih terdengar seperti pernyataan dari pada pertanyaan di telinga Kyungsoo.

“Aku tahu, itu salah satu alasan kenapa aku menolak Nami.”

Baekhyun menarik napas, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Ia memang sulit menghafal sejarah tapi anehnya rekaman dialog Nami dan Kyungsoo masih terekam jelas di memorinya. “Dengan mengatakan maaf Nami, aku tidak mungkin menyukaimu, aku mengganggapmu teman dan tidak ada cara aku bisa menyukaimu lebih dari itu.”

“Ya.” Jawaban singkat tanpa keraguan keluar dari mulut Kyungsoo.

“Dengan mengatakan kau menghabiskan waktu dengan terus mengejarku?”

“Hmm.”

“Dengan mengatakan kalau kau terus seperti ini itu menggangguku?”

“Ya, dan pertanyaannya kenapa kau menguping pembicara—“

“BUKK!”

Tangan Kyungsoo meraba pipinya, memastikan nyeri yang dirasakan itu memang ada. “Wow kau memukulku?”

Tanpa mengatakan apapun Baekhyun mengambil ranselnya yang tergeletak meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di tempat yang sama yang dengan gestur dan ekspresi yang sama. Pikiran kedua laki-laki itu sama-sama kacau, masalah kalau tim Sungjong menang segera terlupakan. Baik Kyungsoo atau Baekhyun sama-sama tahu kalau hubungan persahabatan mereka tidak akan kembali lagi. Ketika Kyungsoo terlalu keras kepala untuk mau mengakui kesalahannya Baekhyun terlalu naif menganggap seorang Kyungsoo akan mengerti di mana letak kesalahan itu.

#

#

Perut Baekhyun tidak bisa berhenti berbunyi, laki-laki itu kehabisan energi seakan seluruh tenaganya habis hanya karena menonjok pipi temannya. Sejujurnya ia bukan tipe orang yang melampiaskan seluruh kekesalannya dengan permainan fisik tapi dipikirkan berapa kali pun hanya itu yang Baekhyun bisa lakukan karena kata-kata intelek manapun tidak akan ada yang bisa membuat otak Do Kyungsoo mengerti.

Setelah pintu apertemennya terbuka setelah dua kali percobaan gagal memasukkan password akibatnya otaknya yang lupa apa password apartemennya sendiri Baekhyun menyeret langkahnya menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu yang jarang sekali diduduki selain dirinya sendiri.

“Ibu?” Baekhyun berseru, menunggu jawaban dari balik kamar mandi atau mungkin dapur tapi beberapa menit menunggu ia tahu jawabannya ibunya ada di meja makan. Dengan malas laki-laki itu menghampiri meja makan, hanya tersisa sarapannya yang belum habis dan satu lembar post-it tertempel di teko.

Musim panas ini ibu akan beristirahat di rumah nenekmu, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi paman karena di sini sulit mendapatkan sinyal. Jaga dirimu dan selamat libur musim panas!

P.S. ada cream puff kesukaanmu di kulkas!

Setelah membaca kalimat itu yang Baekhyun lakukan hanya tersenyum, bukan karena cream puff kesukaannya di kulkas atau karena ibunya tidak menyuruhnya ikut kelas musim panas. Baekhyun senang karena dugaannya tepat, koper yang dilihatnya di kamar ibunya tadi membuat Baekhyun tidak lagi kaget kalau wanita itu kembali pergi seenaknya.

“Dia memang tidak cocok menjadi ibu.” Baekhyun berkata sendiri, ia meremas kertas itu dan melemparnya sengaja tidak pada tempat sampah, berharap suatu saat ibunya menyadari kalau pesan-pesannya tidak pernah disimpan oleh Baekhyun.

Sambil bersenandung Baekhyun kembali menidurkan dirinya di atas sofa. Ketika kebanyakan murid berteriak girang menyambut libur musim panas, laki-laki ini justru depresi memikirkan apa yang harus ia lakukan.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun bergetar, dengan malas laki-laki itu mematikannya, itu hanya alarm menandakan anime kesukaannya sudah dimulai, tapi Baekhyun yang sekarang merasakan tidak ada lagi yang bisa membangkitkan semangatnya, anime dan cream puff tidak akan membuatnya merasa lebih baik.

“Apa tidak ada yang bisa membantuku?” Baekhyun pun kembali meraih ponselnya, membuka kontak mencari nama-nama yang bisa menjadi harapan terakhir untuk libur musim panasnya.

D.O? Tidak mungkin, melihatnya saja sudah membuat liburanku rusak.

Baekhyun menggeser jari pada layar ponselnya kembali mencari nama teman yang katanya selalu ada di sana untuknya.

Sehun? Ah dia bilang ibunya menang lotre ke Jeju tidak mungkin aku ikut

Luhan? Komiknya memang banyak tapi rumahnya menyeramkan.

Kai? Aah yang laki-laki ini lakukan hanya jalan-jalan tidak jelas.

Jongdae?

#

“Yakin tidak ada yang tertinggal?” Ibu Kim melirik anaknya Jongdae yang sudah bisa menyibukkan diri bermain Nintendo.

“Tidak ada, baju, alat mandi, topi, sunblock, pancingan, semuanya siap.” Dengan mata masih fokus memainkan gamenya Jongdae kembali berdiri, berada di ruang tamu hanya membuatnya mendengar omelan ibunya yang tidak berhenti merasa mereka pasti akan meninggalkan barang penting.

Baru saja ia ingin menyalakan musik dari ponsel tiba-tiba nada dering berbunyi,  nama Baekhyun langsung muncul.

“Halo Baek?”

“Chen! Kau memang sahabatku, hanya kau yang mengangkat telponku dariku.”

Jongdae memutar bola matanya, Baekhyun basa basi seperti ini pasti sebenarnya ia ingin meminta sesuatu. “Apa keinginanmu katakan?”

“Apa aku bisa menginap di rumahmu malam ini? Dan besok? Dan besok lusa, lalu besoknya lagi, daan—“

“Kau ingin libur musim panas bersamaku?” Jongdae langsung menebak intinya masalahnya, dan tidak perlu menunggu tanggapan dari Baekhyun untuk mengiyakan tebakannya Jongdae langsung memanggil ibunya.

“Ibuu apa mobilnya masih muat? Aku ingin mengajak Baekhyun ikut.”  Ia berseru kembali menuruni tangga mendapati ibunya yang kembali membongkar ransel yang entah sudah berapa kali di cek olehnya.

“Tentu boleh! Bilang padanya bawa baju yang banyak!” Ibu Kim berseru membuat Jongdae mengepal tangan kegirangan, itu artinya ia tidak akan mati bosan di mobil!

“Baek kau boleh ikut, kami akan menginap di Seonyudo jadi bawa banyak bajumu. Besok pagi kami berangkat jadi lebih baik malam ini kau menginap di rumahku.”

Jawaban Jongdae membuat Baekhyun meloncat kegirangan di seberang sana, firasatnya meminta bantuan pada Jongdae memang tepat, siapa sangka pada akhirnya ia bisa liburan di pantai? “Baiklah, malam ini aku akan ke rumahmu! Kumatikan telponnya aku harus bersiap!” Panggilan terputus. Jongdae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya terkekeh sendiri.

“Ibu Kim! Aku sudah meletakkan seluruh bawaanku di mobil!” Tiba-tiba terdengar suara familiar, Jongdae yang sudah berada di depan kamarnya kembali berlari menuruni tangga menemukan Chaeri yang sedang mengangkat beberapa pancingan.

“Chaeri aku ada kabar baik!” Jongdae berseru, dua anak tangga terakhir ia selesaikan dengan lompatan membuat Chaeri tersentak kaget karena laki-laki ini terlihat begitu girang.

“Apa?”

“Baekhyun ikut bersama kita!”

“HE-EH!?”

_______________________________________________________________

Author’s note:

YEAY enggak hiatus lagi! Otakku kembali bekerja! YEEE-HHEEET.

Dan maaf karena ini bukan fanfic sport!au adegan olahraganya dibikin simpel huehehe. Fuuh akhirnya bagian kesukaanku bisa muncul, udah beberapa hari ini aku mimpi nyelam di laut, jadi chapter selanjutnya bakal kuketik sepenuh hati untuk melampiaskan rasa ingin ke pantai tapi ga bisa.

Kangen banget sama cerita ini ;u; waktu aku hiatus banyak reader baru jadi makin semangat ngelanjutinnya ^^ 

68 thoughts on “Detour #11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s