Detour #13

Playlist yang pas banget untuk chapter ini:

Lazy Afternoons by peeweepow

# 1 3   S h e  &  H i m

Baekhyun mengendap-endap di sepanjang koridor, ia juga tidak tahu kenapa ia harus mengendap. Maksudnya ini baru jam lima pagi, tidak akan ada orang yang sudah bangun. Baekhyun juga tidak memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang buruk, jadi kenapa ia harus mengendap? Entahlah, Baekhyun hanya ingin mengendap, ada ketegangan tersendiri yang ia nikmati; seperti ketika diam-diam mengambil koin di bawah vending machine atau mengikat tali sepatu Luhan pada kaki meja di tengah kelas guru killer, hal-hal sederhana yang membuat hidupnya lebih menantang.

Kamar 501

Baekhyun menghentikkan langkahnya lalu menarik napas berusaha mengumpulkan suaranya.

“Chaeri! Moon Chaeri! Ayo bangun!” Tidak peduli suaranya mengganggu tetangga kamar sebelah Baekhyun tetap mengeraskan suaranya.

Lima menit Baekhyun menyebut nama perempuan itu,  tidak ada tanda-tanda perempuan yang dipanggilnya mendengar.

“Chaeri ayo bangun, ayo bangun, ayo banguuun.” Baekhyun tidak peduli, pokoknya tidak peduli. Chaeri harus bangun.

“Chaeri—“

“Baek—“

Klik

“Astaga apa yang kau lakukan!?”  Chaeri yang kesadarannya hanya setengah tiba-tiba membuka mata lebar menyadari hal pertama yang Baekhyun lakukan setelah ia membuka pintu adalah memfoto dirinya. Baekhyun menyeringai dan segera memasukkan ponselnya pada baju, satu-satunya tempat yang ia yakin Chaeri tidak akan mampu meraihnya.

“Nah akhirnya Chaeri kita bangun.” Ia berkata santai, antara memang terlalu bodoh untuk membaca wajah Chaeri yang jelas dongkol atau sekedar mencoba membuat suasana tidak terlalu canggung.

“Berhenti menyebutku dengan ‘Chaeri kita’ itu membuatku terlihat seperti anak kecil.” Chaeri yang memilih tidak peduli lagi soal tindakan Baekhyun tadi menguap lebar, setidaknya Baekhyun tidak memfotonya saat menguap.

Baekhyun mengelus-elus dagunya terlihat berpikir keras padahal kenyataannya sama sekali tidak. “Bagaimana dengan Chaeri-ku?”

“Menjijikkan.” Tangan Chaeri segera meraih gagang pintu, tidak bisa lagi berhadapan dengan Baekhyun pagi yang entah kenapa benar-benar aneh, meskipun sebenarnya Baekhyun siang, sore atau mungkin malam pun tetap aneh.

“AHH! Aku mau ke toilet!” Refleks Baekhyun yang bagus berhasil menahan pintu itu sebelum tertutup membuat Chaeri memutar bola matanya, malas berdebat dengan orang keras kepala macam Baekhyun di pagi hari Chaeri memilih membiarkan laki-laki itu masuk ke kamarnya.

Alasan ‘aku mau ke toilet’ tentu saja hanya alibi, bukannya menghampiri pintu kamar kecil ia justru mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar 501. “Daeha di mana?”

Chaeri yang sudah menjatuhkan dirinya di kasur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut menjawab malas. “Tidur bersama Ibu Kim, ibunya Jongdae takut tidur sendirian dan anak laki-lakinya itu tidak mau menemani ibunya tidur.”

“Ohh.” Baekhyun hanya mengangguk-angguk.

Suasana menjadi hening, ia malas ke toilet ia ingin berbicara dengan Chaeri tapi perempuan itu malah kembali tertidur. Bukankah biasanya ketika seorang pria masuk ke kamar wanita si wanita harusnya segera merapihkan barang-barangnya? Baekhyun tidak mengerti, ia bahkan melihat cardigan Chaeri di atas di lantai, ia bahkan melihat sisir Chaeri tergelatak di depan pintu toilet, ia bahkan melihat celana da—oke hentikan siapa tahu itu punya Daeha.

“Chaeri! Ayo kita bicara!” Baekhyun duduk di pinggir kasur, masih bersikeras untuk memiliki percakapan dengan perempuan ini.

“Apa kau akan mati? Apa kau akan pergi?” Chaeri yang tidak percaya Baekhyun malah duduk di kasurnya berusaha menahan emosi memegang erat selimutnya.

“Hah? Tentu saja tid—“

“Kalau begitu nanti saja bicaranya.”

“Kalau bisa sekarang kenapa tidak sekarang saja?”

“Pertanyaan yang bagus Tuan Baek, kalau begitu aku tanya; kalau bisa nanti kenapa tidak nanti saja?”

Baekhyun meniup poninya, ia tidak mau. Ia ingin bicara sekarang dan harus sekarang. Ia tidak akan pergi dan tidak ingin mati, tapi tetap ia ingin bicara sekarang. Byun Baekhyun ingin berbicara dengan Moon Chaeri sekarang.

“Kalau kau tidak bangun aku akan memelukmu sekarang.”

Chaeri mengumpat, itu taktik murahan, menjijikkan, menggelikan, aah Chaeri bahkan kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan betapa mengganggunya Baekhyun sekarang. “Dipeluk pun aku tidak akan bangun.”

“Kalau begitu aku akan menciummu.”

“Tidak peduli.”

“Aku akan memeluk dan menciummu.”

“Baekhyun—“

“Chaeri—“

“Aku tidak bercanda! Aku selalu serius dengan kata-kata—“

“Baiklah!” Chaeri melempar selimut yang sejak tadi menutupinya pada Baekhyun. Matanya berkilat marah, rasa kantuknya hilang dan itu menyebalkan, rasa kantuk itu ada untuk dinikmati bukan hilang begitu saja hanya karena marah-marah. “Aahh Baekhyun kita butuh perhatian? Baiklah silahkan cerita aku akan mendengarkan..” Dengan setengah hati Chaeri meniru ucapan Baekhyun kemarin padanya.

Baekhyun memiringkan kepalanya, menatap wanita itu dengan takjub. “Kau—tidak ingin mencuci muka dulu? Atau setidaknya merapikan rambut tidurmu?” Diantara sekian perempuan yang dilihatnya ketika study field sekolah tahun lalu, tidak pernah ada perempuan yang percaya diri dengan penampilan bangun tidurnya.

“Kau banyak minta, kalau bilang sekarang cerita, ya cerita sekarang, atau tidak aku akan tidur—“

“Dan aku akan menciummu.”

Chaeri memutar bola matanya, harusnya ia merasakan kupu-kupu menari di perutnya atau mungkin pipinya memanas tapi nyatanya ia ingin muntah. Ini sangat menjijikkan. ”Berhenti mengumbar-umbar ciumanmu Baek, itu membuatmu terlihat seperti laki-laki murahan.”

“Baiklah.” Baekhyun tersenyum, melihat Chaeri membalas perkataannya dengan normal, ia yakin telinga perempuan ini terjamin bekerja. “Kau lihat kan kemarin di kapal wajahku sangat serius?”

Chaeri diam, Baekhyun, serius? “Ah!” Ia membuka mulutnya, hanya menganga dan mengangguk-anggukkan kepalanya, cukup membuat Baekhyun yakin perempuan ini ingat (atau mungkin pura-pura ingat agar Baekhyun cepat-cepat melanjutkan ceritanya dan ia bisa tidur).

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” Baekhyun bertanya penasaran, ia menaikkan sebelah alisnya mengantisipasi jawaban Chaeri.

Laki-laki ini benar-benar suka basa basi. Chaeri berkata dalam hati, setelah menghela napas ia pun menggigit bibirnya berusaha menganalis alasan paling mungkin di balik kerutan kening Baekhyun kemarin. “Menu makan malam?”

“HAH. BODOH! BUKAN.” Harga diri Baekhyun terluka, ia bahkan tidak sadar ia baru saja mengatakan bodoh keras-keras pada Chaeri. Tapi tetap saja, bagaimana bisa alasan pemuda berumur 18 tahun seperti dirinya terlihat berpikir begitu keras hanya untuk memikirkan menu makan malam!?

Chaeri menautkan alisnya, bodoh, kata-kata itu terngiang-ngiang di otaknya, dikatakan bodoh oleh Byun Baekhyun? “Hmm— kalau begitu…” Sambil kembali berpikir Chaeri memijit-mijit keningnya berharap otaknya akan memunculkan ide cemerlang, tatapan dari Baekhyun benar-benar mengintimidasinya, ia benar-benar harus menyelesaikan pertanyaan ini, segera.

“Apa? Apa? Masa murid yang bisa menyelesaikan matematika lebih cepat setengah jam tidak bisa menjawab pertanyaan ini?” Baekhyun membenarkan posisi duduknya, ia bersila di depan Chaeri dan meraih bantal terdekat untuk dipeluk membuat kedua remaja itu terlihat melakukan gossip night.

“Bagaimana cara menghentikkan global—warming?” Chaeri bertanya hati-hati, ia serius dengan jawabannya tapi tetap saja tidak percaya diri.

Mata Baekhyun membelalak, pertama ia tidak akan mengatakan ‘bodoh’ karena ia tahu Chaeri serius dengan jawabannya, tapi tetap—ini membuat harga dirinya terluka, meskipun jawaban kali ini membuatnya seperti laki-laki berwibawa yang memikirkan keselamatan bumi. “Bukan, ayo coba lagi, kau pasti bisa.” Baekhyun memilih menjadi motivator untuk Chaeri.

“Ini benar-benar sulit Baek! Aku rasa pertanyaan ini lebih sulit dari pada pertanyaan kenapa gelembung berbentuk bulat.. aku menyerah aku mau tidur.” Chaeri kembali menjatuhkan dirinya, kembali menarik selimut untuk menutupi kepalanya.

Baekhyun menelan ludah, apa sesulit itu memikirkan alasan di balik wajah serius seorang Byun Baekhyun? Apa sangat absurd Baekhyun memiliki wajah serius? Apa menjawab kenapa gelembung berbentuk bulat lebih mudah dibanding harus menebak alasan ekspresi seriusnya? “Sekali lagi Chaeri, kalau salah aku akan—“

“Jangan menciumku, aku tidak mau dicium Baekhyun.” Chaeri kembali bangun dari tidurnya, ia menatap Baekhyun berusaha mengingat ekspresi serius kemarin pada wajahnya.

Laki-laki itu menggigit bibirnya, aku tidak mau dicium Baekhyun? Kenapa Chaeri harus menambahkan kalimat itu? Kenapa ia tidak berhenti saja pada kalimat ‘Jangan menciumku’ kenapa harus menambah kalimat yang membuatnya berpikir siapa saja boleh mencium tapi jangan Baekhyun? “Aku juga tidak mau mencium Chaeri, sekarang tebak alasannya apa.” Baekhyun berkata dengan malas, sekarang jadi jengkel ketimbang penasaran.

“Alasan Tuan Baekhyun berpikir keras kemarin adalah—“ Chaeri mengancungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi, ini benar-benar sulit, ia sudah bergaya tapi sejujurnya tidak tahu apa yang harus dikeluarkan.

“Adalah?”

“Adalaaah—“

“Adalah?” Mata Baekhyun berbinar.

“Adalah…” Mata Chaeri menghindarinya.

“Ada-lah?”

“A—dalah….”

“Adalah?”

“Adalah siapa perempuan yang disukai Chen!”

“BENAR CHAERI BENAR!” Dalam sekejap Baekhyun sudah berdiri dan melompat-lompat di kasur. Rasanya terlalu senang, ini memang alasan tersepele tapi apapun itu kalau kalian menjadi Baekhyun sekarang, pasti mengerti kenapa ia benar-benar berlebihan seperti ini.

“Aku—benar?” Chaeri bahkan masih tidak percaya.

Yep kau benar!” Baekhyun mengangguk semangat dan kembali duduk manis pada posisi asalnya.

Selagi Baekhyun masih tersenyum lebar Chaeri masih menganga, sungguh ia benar-benar merasa semua terlalu aneh untuk menjadi kenyataan, yang Chaeri pikirkan hanya hal yang terlihat paling tidak mungkin terjadi di dunia, yang penuh dengan perdebatan, penuh dengan kontroversial, penuh dengan kata-kata hah-itu-tidak-mungkin dan ternyata semua itu benar! Chen menyukai perempuan! Kim Jongdae menyukai seseorang!

“Chen menyukai seseorang?” Chaeri kembali mengulangi pertanyaannya

“Nah, kau mengerti kan? Kenapa wajahku terlihat seserius itu?” Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah ceria Baekhyun membuat Chaeri hanya mengangguk patuh.

“Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu serius.”

Baekhyun kembali mengangguk, matanya mengerling, ia dan Chaeri memiliki kemampuan telepati! Perempuan ini benar-benar seorang jenius, lupakan soal menu makan malam atau global warming yang jelas Chaeri benar-benar berhasil menebak dan itu membuat Baekhyun ingin mencubit pipi perempuan itu, ingin mengguncang-guncang bahu mungilnya, ingin mengacak rambut keriwil halus tebalnya, ingin— Baekhyun tidak bisa melanjutkannya lagi, ia bangga pada Chaeri.

#

#

T i g a  h a r i   k e m u d i a n

Kyungsoo sudah menyelesaikan segalanya. Ia sudah mengerjakan seluruh tugas libur musim panasnya, sudah menyelesaikan puzzle 1000 keping yang ia beli kemarin tanpa melihat gambarnya, menemukan rumus rubiks 5×5 tantangan dari Luhan dan bahkan sudah membaca habis buku golongan darah yang Seukri rekomendasikan. Tapi di antara seluruh hal yang ia lakukan hanya ada satu yang tidak bisa Kyungsoo selesaikan, dan saat ini pun ia masih melakukan hal itu. Untuk pertama kalinya Kyungsoo merasa dirinya aneh.

Laki-laki itu kembali menggulingkan badannya di atas kasur, satu tangannya memegang ponsel memperhatikan hal yang sama sejak tiga menit yang lalu, atau lebih tepatnya sejak tiga hari lalu.

Banyak pertanyaan yang muncul di Kyungsoo, oke sebenarnya itu tidak banyak, hanya ada dua tapi tetap saja susahnya sama dengan menyelesaikan 100 soal teka teki silang, baiklah Kyungsoo berlebihan, intinya dia bingung karena pertanyaan itu ditujukkan untuk dirinya dari dirinya sendiri.

 “Kenapa Baekhyun bisa punya foto itu?” Sekali lagi pertanyaan pertama berputar di otaknya

Dan kenapa aku tetap menyimpan foto ini?” Itu dia pertanyaan ke dua. Kenapa aku menyimpan foto baru bangun tidur Moon Chaeri pada ponselku?

Yang tidak kalah menariknya adalah pesan singkat Baekhyun yang membuat laki-laki ini merasa dongkol. ‘Hari ini aku menjadi orang pertama yang melihat Chaeri’. Ada dengan pesan itu? Apa hebatnya menjadi orang pertama yang melihat Chaeri? Kenapa dia harus memberitahuku hal tidak penting semacam itu? Kenapa aku gusar dengan hal tidak penting itu? Dan kenapa aku tidak menyukai hal tidak penting itu? Dan kenapa aku tetap mempertanyakan hal tidak penting itu? Dan ke—

“Hoi Kyungsoo!”

Mendengar seruan temannya yang mengatakan lima menit lagi akan datang semenjak setengah jam yang lalu, Kyungsoo langsung beranjak dari kasurnya dan membuka pintu kamar, melihat Luhan yang sedang melambaikan tangannya.

“Jadi hal penting apa yang ingin kau katakan sampai kau tidak bisa menyampaikannya lewat pesan atau telpon?” Sambil bertopang dagu Kyungsoo menatap malas pada Luhan yang terkekeh dan berlari menaiki tangga menghampirinya.

“Apa kau lupa bagaimana cara memperlakukan seorang tamu? Sekarang berikan aku cheese cake dan jus apel, aku belum sarapan!” Luhan yang memang kadar kesopanannya rendah segera masuk ke kamar Kyungsoo dan menjatuhkan dirinya pada kasur membuatnya mendapat tendangan dari laki-laki itu tidak sampai dua detik setelah ia masuk kamar.

#

“Bukankah kau ikut kelas musim panas?” Sambil menyilangkan  tangannya di depan dada Kyungsoo bertanya menyidik, Luhan tidak membawa ransel atau apapun yang membuatnya terlihat bersiap belajar.

“Aku ikut, dua hari lagi.” Ia menyeringai dan beranjak dari kasur setelah melihat cheese cake yang benar-benar Kyungsoo bawakan untuknya.

Kyungsoo mendengus, tipikal Luhan. Tidak perlu menunggu lama, dua potong kue favoritnya sudah habis.

“Katakan apa yang ingin kau katakan, setengah jam lagi aku harus pergi.”

“Kau tidak bisa pergi.” Luhan masih dengan mulut penuh berkata, ia menelan kunyahannya yang menyangkut di tenggorokan dan mengelap mulutnya yang belepotan krim blueberri. “Aku sudah bilang pada Nami kau mengajaknya jalan hari ini.”

“HAH?” Mata yang sudah bulat itu makin membulat, tentu saja ia kaget. Seseorang dengan seenaknya mengatur jadwal dirinya.

“Aku bisa gila karena perubahan sikap Nami, dan semuanya karena kau Kyungsoo ia melampiaskan rasa frustasinya padaku!” Luhan langsung terlihat emosi, ia menegak habis minumannya mengingatkan Kyungsoo pada ayahnya yang meneguk soju untuk melampiaskan rasa kesalnya hanya saja yang Luhan minum ini hanya jus apel.

Luhan menyadari Kyungsoo tidak membuka mulutnya, mungkin ia berharap Luhan melanjutkan lagi acara keluh kesahnya, yah tipikal Kyungsoo.

“Awalnya aku pikir dia hanya terlalu stress jadi aku mengiyakan ajakan kencannya, oke itu bukan kencan tapi untuk membuat ini semua lebih dramatis aku akan menyebutnya kencan.”

“Lalu?” Kyungsoo berusaha terlihat tertarik dengan pembicaraan ini.

“Hari pertama ia mengajakku menonton film dan karaoke, aku menemaninya karena aku kasihan padanya. Hari kedua ia mengajakku makan siang di restoran mahal yang baru dibuka dan aku terbujuk karena dia akan mentraktirku. Hari ketiga ia menarikku paksa ke kebun binatang. Dan hari ini..“ Luhan menarik napas, benar-benar sulit untuk menyebutkannya dan lagi melihat wajah Kyungsoo yang menahan tawa ia yakin kalimat selanjutnya hanya akan meruntuhkan pertahanan Kyungsoo memasang tampang poker face.

“Hari ini dia—“ Luhan menutup wajahnya dengan tangan, tujuan awalnya ke sini ingin marah-marah pada penyebab Seo Nami frustasi tapi kenapa ia jadi seperti mengadu pada Kyungsoo meminta perlindungannya? “Hari ini dia mengajakku ke rumahnya untuk bertemu orang tuanya!”  

Mata Luhan terasa berair, ia benar-benar tidak mengerti, ini masalah antara Nami dan Kyungsoo tapi kenapa harus ia yang menanggung kekesalan wanita itu? Detik saat merasakan Kyungsoo menepuk-nepuk punggungnya, Luhan bersyukur temannya ini tidak mentertawakan kesengsaraannya.

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Nami.” Akhirnya Luhan mengangkat kepalanya kembali memasang wajah seriusnya, terlihat menyedihkan sama sekali tidak cocok untuk orang sepertinya. “Aku tidak memintamu menerima perasaan Nami, tapi setidaknya buat dia merasa kalau kau membutuhkannya.”

“Bagaimana bisa aku melakukan hal semacam itu?” Tanda tanya memenuhi wajah Kyungsoo.

Tidak peduli apapun jawaban Kyungsoo, Luhan hanya mengendikkan bahunya. “Aku tidak peduli caramu, yang jelas hari ini aku mengatakan pada Nami kau mengajaknya jalan untuk memperbaiki hubungan kalian, apapun itu kau harus menyelesaikan masalah ini. Ini benar-benar menggangguku.” Luhan berdiri, ia menatap Kyungsoo yang masih duduk, pertanyaan ini selalu berputar di otaknya dan Luhan pikir ini saat yang tepat untuk menanyakannya. “Kenapa kau tidak bisa menyukai Nami saja? Maksudku—dia memiliki kriteria wanita ideal pada umumnya, cantik, bisa memasak, dia rapi sama sepertimu, nilainya tidak begitu jelek ia juga—“

“Aku tidak bisa pergi, kubilang setengah jam lagi aku ada janji dengan seseorang.”

Sambil meniup poninya Luhan mengacak-acak rambutnya dan kembali duduk. “Aku akan menggantikkanmu, sekarang ganti bajumu dan jadi Kyungsoo tampan yang paling kau bisa, tolong buat Nami bahagia hari ini.”

“Astaga ini menggelikan, sekarang kau menganggap Nami sebagai anakmu?” Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, Luhan berkata seperti itu membuatnya jadi terbebani. Dari awal tujuannya menolak Namin mentah-mentah karena ia tidak ingin wanita itu berharap padanya. Dan sekarang Luhan memintanya untuk bersikap baik pada Nami? Kalau begitu seluruh skenarionya akan gagal. “Kenapa kau tidak meminta Baekhyun? Kau tahu kan dia menyukai Nami?’

“Dia sedang honeymoon dengan Chaeri! Ayo lah Kyungsoo tolong aku!”

Honeymoon? Apa maksudmu dengan bulan madu? Dan kenapa ada Chaeri? Sejak kapan mereka?”

Luhan memutar bola matanya. “Lupakan, lupakan, sekarang ayo ganti baju, aku akan menggantikanmu. ” Luhan yakin Kyungsoo paling hanya berjanji dengan teman yang ia kenal juga, mungkin Jongin atau paling buruk Sungjong.

Honeymoon? Byun Baekhyun liburan bersama dengan Moon Chaeri? Hanya berdua? Apakah itu legal? Astaga Kyungsoo tidak habis pikir, ia tidak habis pikir dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya mematuhi Luhan untuk pergi bersama Nami hari ini.

“Ngomong-ngomong kau janji dengan siapa?”

“Ada festival kartun dan animasi di Namsan bersama Seukri dan— ah hanya bersama Seukri.” Luhan tidak membaca nada suara Kyungsoo, ada sesuatu yang ia sembunyikan dan Kyungsoo bersyukur Luhan tidak menyadarinya.

#

Maaf! Ada kerja sambilan yang tidak bisa kutinggalkan! Tidak apa-apa kan aku tidak ikut?

Sena memutar bola matanya, membaca pesan Seukri yang benar-benar tidak bertanggung jawab. Kemarin ia memaksa Sena habis-habisan, mengatakan suasana akan menjadi terlalu canggung jika pergi berdua dengan Kyungsoo, dan sekarang ia melarikan diri meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Kyungsoo? Sena makin meragukan persahabatannya dengan Seukri.

“Seukri! Maaf aku terlambat!”

“Seukri?” Sena membalik badannya, mulutnya menganga tidak bisa menutupi kekagetannya. Kyungsoo memang tidak datang, tapi mimpi buruknya datang!

“Astaga bahkan di hari damai seperti ini pun aku masih harus melihat wajahmu?” Luhan yang masih terengah-engah setelah berlari menghampiri perempuan yang dikiranya Seukri itu hanya bisa mengumpat dalam hati, di antara sekian perempuan kenapa harus Park Sena hari ini?

Sena berdehem. Ia menggeser langkah menjauh dari Luhan dan melirik pada laki-laki yang sedang mengipasi dirinya yang kepanasan. “Hari ini aku ada janji dengan Kyungsoo.”

“Hari ini aku ada janji dengan Seukri.”

“Tunggu—“ Keduanya terdiam, mereka sama-sama membulatkan matanya menyadari hal ganjal. Dan keduanya segera tahu mereka berdua baru saja masuk perangkap.

#

#

Hari ini berjalan terlalu damai Chaeri jadi merasa sesuatu yang salah terjadi. Hari ini tidak ada pertengkaran antara Baekhyun dan Daeha, tidak ada Jongdae yang menakut-nakuti di pantai ada hiu, tidak ada Ibu Kim yang selalu menjerit ketika mereka berada di tengah laut. Semuanya damai dan mungkin hanya Chaeri yang merasa ini salah.

Saat ini ia bersama Jongdae dan Baekhyun tengah memancing, sejujurnya hanya Chaeri. Memang Baekhyun yang berinisiatif untuk menyewa kapal kecil dan berlayar ke tengah untuk memancing tapi di tengah hari ia merasa mengantuk dan meminta Chaeri untuk memegang pancingannya. Lalu Jongdae yang sibuk dengan handycamnya untuk membuat film pendek tidak berhenti bergerak sana-sini membuat Chaeri tidak pernah tenang mengingat perahunya selalu bergoyang ke mana Jongdae bergerak.

“Chen! Kau bisa diam? Sebenarnya film seperti apa yang ingin kau buat?” Chaeri yang habis kesabarannya menatap Jongdae yang tidak peduli dengan gertakannya.

“Ini rahasia.” Ia tersenyum dan mengendikkan bahunya.

Chaeri hanya bisa menghela napas. Ia juga ingin tidur, kelopak matanya terlalu berat dan sepoi angin terlalu menggodanya untuk tidur. Chaeri ingin tidur, tapi Baekhyun juga tidur, jadi siapa yang akan menarik pancingnya jika mereka berdua tidur?

“Hoahm. Tidurku nyenyak sekali.“ Akhirnya suara yang Chaeri ingin dengar semenjak setengah jam lalu keluar lagi, suara Baekhyun yang biasanya menjengkelkan terdengar dan kali ini justru membuat Chaeri tersenyum, akhirnya ia bisa tidur.

“Kenapa kau tersenyum? Kau merindukanku?” Baekhyun yang sudah berpindah tempat kembali duduk di sebelah Chaeri menyadari bibir Chaeri tersungging lebar.

“Akhirnya aku bisa tidur! Tolong lanjutkan aku benar-benar mengantuk.” Chaeri tidak menggubris godaan Baekhyun, karena sekali ia membalas maka Baekhyun akan membalasnya lagi dan itu tidak akan pernah selesai hingga akhirnya Chaeri jadi sama sekali tidak mengantuk.

Tangan Baekhyun berhasil menahan Chaeri, sebenarnya otaknya tidak memerintah hanya refleks saat melihat Chaeri menjauh darinya. “Jangan tidur. Kalau aku sendirian aku akan kembali mengantuk lalu kita tidak akan mendapat ikan.”

Chaeri mengusap wajahnya, ia benar-benar benci dikontrol seperti ini. “Aku mengantuk.” Berbicara sarkasme dengan Baekhyun hanya akan menimbulkan perdebatan tidak penting, Chaeri memilih menjadi perempuan manis yang mengatakan keinginannya tanpa basa-basi.

Sementara itu Baekhyun hanya memiringkan kepalanya, Chaeri tidak membentaknya, ia tidak mengatakan hal yang menyindirnya atau memandang sinis padanya, Chaeri menjadi aneh, dan aneh artinya menarik bagi Baekhyun.

“Ayo kita berbicara sampai matahari terbenam, berbicara denganku tidak akan membuatmu mengantuk.” Baekhyun masih memegang pergelangan tangan Chaeri, memang tidak memaksa, Chaeri bisa saja melepas pegangan itu dan kabur ke kabin kapal tapi pandangan Baekhyun terlalu memelas. Tapi memelas tidak selalu bisa memenangkan hati Chaeri, sekali lagi, Chaeri mengantuk.

“Baekhyun, aku mau tidur.” Chaeri masih menahan keinginannya untuk memberontak.

Tiba-tiba Baekhyun menjetikkan jarinya, ia mendapat ide cemerlang, yang tentu saja standar cemerlangnya Baekhyun dan Chaeri beda. “Bersandar di bahuku! Setidaknya jangan buat aku sendirian!”

“Ada Chen, kau tidak sendirian.” Ujar Chaeri sambil menguap lebar.

“Percayalah, aku sudah mengenal Chen lebih lama darimu, aku tahu betapa menyebalkannya dia ketika sudah berfokus pada satu hal.” Baekhyun memandang Chen yang sedang berada di ujung kapal, merasa sebagai kapten yang mengatur kemana ombak akan membawa mereka.

“Perlu kau tahu, aku dan Chen dan teman masa kecil, mengatakan kau lebih lama mengenal Chen—“

“Baiklah aku salah, tolong jangan tidur Chaeri aku ingin berbicara denganmu.” Baekhyun menghela napas dan kembali memandang laut. Ia memang ingin berbicara pada Chaeri, ia ingin mendengar penjelasan Chaeri kenapa kebanyakan daging ikan berwarna putih, melanjutkan debatnya cream puff mana yang lebih lezat mint chocolate atau raspberry chocolate, menganalisis bersama tentang hubungan Nami dan Kyungsoo kedepannya, banyak hal yang bisa diperbincangkan dengan perempuan ini.

“Baekhyun aku mengantuk..” Chaeri serius, ia ingin tidur, ia mengantuk karena ingin tidur jadi ia harus tidur.

“Chaeri.”

“Baekhyun—aku mau tidur. Aku mengantuk aku ingin tidur, aku juga ingin berbicara denganmu; aku ingin menjelaskan otot ikan yang membuat dagingnya berwarna putih, aku juga ingin mengatakan rasa mint chocolate itu rasa paling enak, dan menurutku Kyungsoo dan Nami akan baik-baik saja—“

Mata Baekhyun membelalak. Sekali lagi ia dan Chaeri melakukan telepati. Ini tidak masuk akal, terlalu ajaib untuk menjadi kenyataan. Pasti ada yang salah, apa Chaeri bisa membaca pikiran?

Masih merasa terpaku tanpa sadar Baekhyun melepaskan genggaman tangannya dari Chaeri. Chaeri sedikit kaget, melihat Baekhyun diam itu selalu membuat tanda tanya untuknya. “Halo Baek?” Tanyanya hati-hati.

Tidak ada jawaban dari pria itu, harusnya Chaeri senang itu artinya ia bebas dari Baekhyun tapi justru yang ia lakukan kembali duduk di tempat asalnya, di sebelah Baekhyun. “Baiklah aku menyerah, aku akan menjadikan bahumu sebagai bantal.” Chaeri mengambil aviator Ray-Ban Baekhyun yang tergantung di kerah kaosnya mengambil kesempatan selagi laki-laki itu melamun.

“Selamat tidur.” Chaeri menjatuhkan kepalanya pada bahu paling nyaman yang pernah ia rasakan (mungkin karena Baekhyun satu-satunya laki yang pernah disandarinya). Sambil memejamkan mata Chaeri berharap Baekhyun akan menggumamkan lagu, seperti ketika mereka di kereta waktu itu.

Baekhyun menelan ludah, lamunannya soal Chaeri memiliki kekuatan esper buyar ketika ia merasakan kepala perempuan itu bersandar pada bahunya. Perempuan itu bahkan sudah mengambil kacamatanya dan ia tidak menyadarinya? “Chaeri mau kunyanyikan lagu apa? Genie? Gee? Run Devil Run?” Ia berusaha menghilangkan suasana canggung yang sebenarnya hanya dirasakan oleh dirinya.

Kali ini giliran Chaeri yang  kaget, mendapati Baekhyun tahu keinginan dalam hatinya untuk mendapat lagu pengantar tidur dari Baekhyun, yang sayangnya pilihan lagu Baekhyun hanya membuat Chaeri memutar bola mata. “Kau diam saja.”

“Baiklah.”

Sore itu keduanya terdiam, tidak tidak ada penjelasan soal daging ikan, rasa krim yang paling lezat, atau cerita Kyungsoo-Nami. Yang ada hanya detak jantung Baekhyun yang berdebar lebih kencang, suara ombak yang membuat Chaeri tertidur sehingga ia tidak menyadari betapa gugup laki-laki di sebelahnya, dan suara dengkur Jongdae yang tertidur karena bosan setengah mati melihat dua temannya sudah melupakan kehadiran dirinya.

#

#

Kenapa Kyungsoo harus begitu tampan hari ini?

Itu pertanyaan Nami begitu melihat laki-laki yang ditunggunya mendorong pintu cafe. Nami harus menyelesaikan perasaaannya dengan Kyungsoo, ia harus memastikan kalau hari ini adalah hari terakhir ia menyukai Kyungsoo yang sayangnya hal itu begitu sulit melihat Kyungsoo yang begitu tampan hari ini. Kemana Kyungsoo dengan rambut jamurnya? Kenapa laki-laki itu memotong rambut tanpa persetujuannya membuatnya di mata Nami menjadi 100 lebih tampan dari pada biasanya.

“Po-potongan rambut barumu bagus..” Suara Nami bergetar, rasanya benar-benar aneh canggung di depan Kyungsoo, sampai minggu lalu mereka masih bisa mendiskusikan resep red velvet dan sekarang membahas potongan rambut saja sudah membuatnya gugup setengah mati.

Kyungsoo tersenyum, hanya sedikit saja sekedar formalitas. “Kalau dipikir-pikir tanpa poni lebih menyegarkan jadi aku memotong rambutku.”

“Aaahh—“ Nami mengangguk-ngangguk, ia meraih jus alpukatnya dan menyesap minumannya berusaha mencari kesibukan.

“Bagaimana kencanmu dengan Luhan?”

Mata Nami membelalak. Rasanya seperti tertangkap basah selingkuh (padahal menjalin hubungan dengan Kyungsoo saja belum),  ia ingin mengelak tapi Kyungsoo juga tidak berhak untuk marah-marah, jadi untuk apa dikelak? “Sebenarnya bukan kencan hanya jalan-jalan biasa.”

“Ohh.” Jawaban singkat dari Kyungsoo membuat Nami makin gugup.

“Jadi Kyungsoo—“

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Nami mengangkat kepalanya yang tertunduk, menatap mata Kyungsoo yang tengah memandangnya. Pandangannya datar seperti biasa dan efeknya juga seperti biasa pada Nami. Kenapa Kyungsoo harus tampan? Nami menggigit bibirnya, kenapa mereka harus bertemu hari ini? Kenapa harus setelah ia memotong rambut?

Nami menggelengkan kepala, ia tidak boleh terus terpaku seperti ini. Ayo dapatkan kesadaranmu Seo Nami!  “Silahkan, aku merasa bangga Kyungsoo bertanya padaku.”

“Kau sudah mengenalku, kau tahu aku tidak menyukaimu, lalu kenapa kau masih menyatakan perasaan padaku?” Dengan lancar Kyungsoo mengeluarkan kalimatnya, Nami harusnya tersinggung, tapi ini Kyungsoo dan dia memang laki-laki seperti itu.

“Aku—“ Nami merapatkan bibirnya, alasannya kenapa menyatakan perasaan begitu mendadak sesungguhnya sangat kekanakan. “Aku cemburu pada Moon Chaeri.”

“Cem—buru?” Itu kata-kata yang jarang Kyungsoo dengar, rasanya aneh terlebih berada dalam satu kalimat dengan Moon Chaeri. “Ada apa denganku dan Chaeri?”

“Festival olahraga hari itu, kalian begitu dekat, melihatmu bisa dekat dengan perempuan selain aku, aku merasa Chaeri bisa merebutmu dariku.” Nami mengedarkan pandangannya pada jendela cafe, ia tidak bisa menatap Kyungsoo karena ini benar-benar memalukan.

Laki-laki itu memiringkan kepalanya. “Apa aku begitu dekat dengan Chaeri?” 

Kyungsoo benar-benar lugu, atau lebih tepatnya polos tapi mungkin lebih cocok dikatakan bodoh. Nami ingin tertawa, menjawab pertanyaan itu hanya akan membuatnya merasa makin sakit. “Entahlah, yang aku pikir saat itu kalau aku tidak ingin kehilanganmu aku harus menyatakan perasaanku, lalu kau menerimaku aku bisa membuat Chaeri menjauh.”

“Dan kenyataannya aku tidak menerimamu kan? Kau benar-benar percaya diri aku akan menerimamu?”  Dengan penasaran Kyungsoo bertanya, untungnya Nami sudah terbiasa dengan Kyungsoo yang tidak mengerti perasaan perempuan.

“Ketika kau cemburu otak tidak bekerja.”

“Kalau begitu cemburu benar-benar berbahaya.”

#

#

“Ayo cepat Chaeri!” Baekhyun mendorong Chaeri. Perempuan ini menepis tangan Baekhyun dari punggungnya, kenapa Baekhyun suka sekali mengatur?

“Aku bisa berjalan sendiri Baek! Sekarang kau pergi dan biarkan aku bicara berdua saja dengan Chen!”

Dengan kesal Chaeri melangkahkan kakinya mendekat menuju Chen. Sejak tiga hari yang lalu ia dan Baekhyun sudah membuat rencana bagaimana mengetahui siapa perempuan yang disukai Chen. Chaeri sudah menunjukkan beberapa foto teman perempuannya, mulai dari Sena sampai guru Yoon (bisa saja Chen menyukai guru kan?). Baekhyun bercerita tentang seluruh teman perempuannya dari adik kelas sampai alumni sekolah mereka; berharap wajah datar Chen akan terlihat antusias setelah nama tertentu tersebut. Tapi hasilnya nihil hingga Baekhyun berakhir pada kesimpulan kalau Chen masih menyukai Chaeri.

“Tidak mungkin laki-laki ini menyukaiku. Bacon sialan itu benar-benar konyol.” Chaeri berkata dalam hati sambil berjalan menuju Chen yang sedang merekam langit jingga yang siap berganti warna dengan handycamnya.

“Hei Chen? Bisa aku ganggu sebentar?” Ia menepuk bahu Chen membuat laki-laki itu sedikit tergidik, ia terlihat benar-benar fokus dengan kegiatannya dan Chaeri tahu ia mengganggu.

“Silahkan.” Chen pun duduk di atas pasir tidak peduli ombak yang datang membasahi ujung celananya.

Mengikuti Chen yang duduk Chaeri pun berdehem, ia melirik pada pohon kelapa terdekat dan menemukan Baekhyun sedang mengintip dari baliknya.

Nah sekarang persoalannya, apa yang harus Chaeri katakan? Yang Baekhyun bilang ‘pastikan dia menyukaimu atau tidak?’ tapi bagaimana cara memastikannya? Chaeri juga punya harga diri, tidak mungkin tahu-tahu ia menanyakan hal konyol seperti itu.

“Akhir-akhir ini Baekhyun benar-benar terobsesi mengetahui siapa perempuan yang kau sukai.” Chaeri menggaruk-garuk rambutnya, ia melirik pada Chen memastikan apakah laki-laki itu mendengarnya.

“Aku tahu itu, dan kau juga kan Chaeri?” Chen menyeringai melihat Chaeri yang langsung menggelengkan kepalanya. Perempuan ini benar-benar tidak mau disamakan oleh Baekhyun.

“Yah, sejujurnya iya, aku dan Baekhyun sudah melihat semua kemungkinan siapa yang kau sukai, dan hasilnya tidak ada. Dan kau tahu apa Baekhyun katakan? Dia bilang kau menyukaiku! Hahaha lelucon macam itu?” Chaeri memaksakan sebuah tawa, berusaha membawa pertanyaan itu sebagai candaaan ia menelan ludah dan melirik pada Chen, kenapa laki-laki ini tidak ikut tertawa?

“Aku memang menyukaimu.” Chen menengok pada Chaeri, sorot matanya serius dan itu berhasil membuat Chaeri merasa pendapat Baekhyun benar.

“Ahhh—“ Chaeri kehabisan kata-kata ia menatap langit berusaha mencari ide bagaimana cara terbaik melanjutkan pembicaraan canggung ini.

“Tentu saja aku menyukaimu Chaeri! Aku tidak mungkin membencimu! Meskipun kadang kau mengabaikanku ketika aku memanggilmu untuk melihat bulan purnama aku tetap menyukaimu, kita teman kan?”

“AAAHH” Perempuan itu menyeringai, rasanya benar-benar bodoh ia sempat mengira Chen ‘menyukai’ dirinya. “Tapi maksud Baekhyun bukan menyukai seperti itu Chen..” Chaeri menggigit bibir,  kembali bingung bagaimana cara merangkai kata-kata untuk membuat orang seperti Kim Jongdae mengerti.

“Menyukai seperti itu? Jadi maksudmu menyukai apa?” Chen terlihat bingung, ia memiringkan kepalanya ikut berpikir suka macam apa yang Baekhyun maksud.

“Suka seperti—“ Apa yang harus kukatakan? Aku juga tidak pernah menyukai seseorang seperti yang Baekhyun maksud! Chaeri berteriak dalam hati, menjelaskan untuk dirinya saja sulit, apalagi menjelaskan untuk orang lain? “Hmm..maksudku suka seperti— kau tahu kan perasaan ketika kita ingin memiliki orang itu? Ketika kita ingin dia bisa membalas perasaaan kita dan begitu perasaan terbalas kita menjadi terikat, suka yang membuat kita tidak ingin melihatnya menyukai orang lain, yah semacam itu.” Chaeri mengacak-acak rambutnya, penjelasannya berantakan tapi memang seperti itu yang terpikir di otaknya.

Sambil menggigit bibirnya ia melirik Chen, laki-laki itu tidak meresponnya ia hanya menatap datar pada laut, bukan menikmati sunset atau angin sepoi, hanya diam dan tidak terbaca oleh Chaeri.

#

“Apa yang harus kulakukan kalau Chen benar-benar menyukai Chaeri?”

“Haruskah aku memberitahunya kalau Kyungsoo juga menaruh perhatian pada perempuan itu?”

Baekhyun memincingkan matanya menatap tajam pada dua temannya yang sedang duduk di tepi pantai. Sebenarnya apa yang Chaeri lakukan? Kenapa ia jadi santai-santai begitu?Apakah dia sudah melakukan misinya?

Pikiran Baekhyun melayang untuk berbagai kemungkinan, pertama Chaeri terlalu lama di sana karena Chen sudah menyatakan perasaannya lalu Chaeri menerima dan mereka pun menikmati matahari terbenam bersama. Kedua Chen sudah menjawab siapa perempuan yang disukainya dan itu bukan Chaeri, tapi karena Chaeri malas dia memilih tetap duduk di sana. Ketiga—

“Ah! Sudahlah!” Baekhyun mengacak rambutnya gemas. Ia meniup poninya lalu berjalan meninggalkan pohon kelapa yang dijadikan tempat persembunyiannya. Apa pedulinya soal Chen dan Chaeri? Kalau mereka bersama itu hal yang bagus kan? Chaeri akhirnya punya pengalaman dan temannya Chen menjadi lebih normal.

Iya itu hal yang bagus Baekhyun berkata pada dirinya sendiri.

Kim Jongdae dan Moon Chaeri pasangan yang serasi, Baekhyun tahu itu. Keduanya sama-sama unik, sama-sama polos, sama-sama temannya.

Dan ketika mereka berdua benar-benar bersama Baekhyun tentu akan senang, sebagai teman yang baik bukankah ia harus senang? Ya aku akan senang.

Chaeri tidak akan bersandar pada bahunya lagi, ia sudah punya Chen jadi ia akan bersandar pada Chen. Chaeri tidak akan memarahinya lagi karena perhatiannya selalu beralih pada tingkah aneh Chen. Chaeri akan membagi cream puff chocolate mintnya hanya pada orang yang disayanginya dan itu adalah Chen. Pengetahuan sederhana yang Chaeri ketahui akan ia ceritakan pada Chen seorang, mungkin seperti cara terbaik mengeluarkan saus tomat dari botolnya.

Semuanya beralih untuk Chen, tidak ada untuk Baekhyun. Dan Baekhyun harus menerima itu. Tidak ada Chaeri yang bisa digodanya karena perempuan itu sudah ada pemiliknya.

Dan detik berikutnya Baekhyun sadar.

Ia cemburu.

_______________________________________

Author’s Note:

AAH AHHH AHHHHH

Baekhyun senjata makan tuan, niatnya bikin Kyungsoo cemburu terus jadi dia yang cemburu.

Dari chapter-chapter sebelumnya banyak bilang BaekChae momentnya masih dikit, jadi aku harap chapter ini bisa bikin kalian seneng.

Sejujurnya bikin fluff moment di Detour itu rada susah lebih susah daripada Pastel malah../curhat/

Karena mereka belum saling suka dan gimana pun juga mereka masih teman, jadinya mesti hati2 jangan sampai kayak pacaran, enggak boleh terlalu cheesy tapi jangan ngebosenin. Aku ga bisa bikin banyak adegan skinship di Detour karena bikin pake bahasa Indonesia itu AWKWARD.

Untuk yang kangen Kyungsoo-Chaeri (termasuk aku!) author ingin bilang:

Good things come to those who wait!

Until the next chapter, bye! XOXO, PIKRACHU.  

66 thoughts on “Detour #13

  1. Sumpahnya aku bingung mau komentar apa selain, author sukses buat aku berpikir tujuh keliling!
    Pertama luhan dan sena yang ternyata jatuh ke perangkap.
    Kedua d.o yang ketemuan sama nami.
    Ketiga chen yang tiba-tiba diem setelah ngedenger penjelasan chaeri.
    Dan keempat baekhyun yang cemburu T.T
    Arrghhh bingung sumpah sama si baekhyun dan si chen ini :v kalo luhan sama d.o masih bisa nebak-nebak dan yakin sama tebakan itu, lah kalo masalah baekhyun, chen sama chaeri aku nyerah-_-

  2. Hahaha…rasakan itu Baek. Aneh2 sihh…ya seperti itulah rasanya tak rela :v
    btw, Luhan jadi korban arah banget ye. habis keluar dari kobangan lumpur lahh malah masuk ke selokan/perumpamaan aneh/
    ya gpplah Luhan-Sena kencan :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s