PASTEL #022

OMG No longer hiatus! BYE WRITER’S BLOCK

#022

Tao makin merasa déjà vu sekalipun waktu, tempat, dan orangnya berbeda (sangat sangat berbeda!) tetap saja ia merasa kembali ke waktu tadi pagi.

“Sina kau bisa terjatuh, apalagi celanamu kebesaran, tali sepatumu juga belum terikat.” Tao mengomentari Sina yang sedang meniti jalan di pagar batu yang lebarnya hanya beberapa sentimeter membatasi jalan dengan semak.

Sina menengok pada Tao, ia mengulum senyum dan duduk di batu dengan susah payah. “Kalau begitu tolong ikat tali sepatuku, aku sudah memasang peniti di celanamu jadi itu tidak akan melorot.”

Tao mendengus tapi tetap mengikuti perintah Sina. Ia berlutut dan mengikat sepatu Sina dua kali memastikan tali itu tidak akan terlepas setidaknya untuk satu bulan. “Ikatan ini Sina harus menjaganya, jangan sampai terlepas.” Tao yang puas dengan ikat pitanya berdiri dan tersenyum pada Sina yang sedang memandangnya.

Ia kira Sina akan membuka mulut dan membantah permintaan Tao atau mengomentari sesuatu tapi perempuan itu mengangguk seperti anak yang mengikuti perintah orang tuanya tanpa banyak protes.

Sina kembali berdiri, merentangkan tangannya seperti pesawat terbang ia berjalan perlahan dengan mata memandang jalannya yang kecil. “Kalau aku jatuh apa Tao akan menangkapku?”

Tao menengokkan kepalanya menatap Sina yang terlihat serius meniti jalan. “Hmm—“

“Jangan menangkapku.” Sina memotong, tampaknya dari awal ia tidak peduli apa yang akan Tao jawab. “Dari pada kau mengatakan akan menangkapku bila terjatuh akan lebih baik kalau Tao memegang tanganku memastikan aku tidak akan terjatuh.”

“Hah?”

“Bukankah lebih keren mengatakan hal itu? Dari pada membual-bualkan aku akan menangkapmu lebih baik mengatakan aku tidak akan membuatmu terjatuh..” Sina mengulurkan tangannya meminta laki-laki yang sedang memandangnya bingung itu menggenggam tangannya.

Tao menelan ludah dan meraih tangannya menggenggam tangan Sina yang terasa hangat. “Apa Sina benar-benar sakit? Tanganmu panas.”

Sina mendengus. “Semua orang mengatakan seperti itu tapi tanganku memang panas.”

Sambil menuntun pelan Sina, Tao hanya mengangguk dan tanpa disadari ia tersenyum sambil mengayunkan-ayunkan tangannya membuat Sina mengumpat takut Tao akan membuatnya terjatuh. “Kalau Sina terjatuh kira-kira apa yang akan kulakukan?”

“Memarahiku? Sudah tahu bahaya masih saja dilakukan.” Sina menjawab sambil menarik napas makin berhati-hati meniti jalan yang tertutupi oleh semak.

“Tidak, aku akan membiarkanmu terjatuh lalu membantumu berdiri, lalu Sina akan kembali mencoba lagi dan aku akan ikut lalu siap menarikmu jika kembali terjatuh.”                   

Kalimat Tao membuat Sina menghentikkan langkahnya dan menatap bola mata laki-laki itu. “Janji padaku, ketika aku terpuruk Tao harus membantuku berdiri lalu ikut berjuang bersamaku.”

“Aku janji.”

“Woah janjimu manis sekali Tao—“ Sina yang sejak tadi menyunggingkan bibirnya tersenyum jahil tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap pipi Tao yang sudah memerah entah karena sakit atau apa yang jelas Sina merasa ia harus mengganti topik jika tidak ingin pipinya ikutan memerah.

“Ekhm.” Perempuan itu berdehem dan melepaskan tangannya dari Tao lalu kembali berjalan. “Hei Tao apa kau lihat rumah besar di atas sana?” Apapun itu ia harus mengganti topik pembicaraan ini, suasana terlalu canggung kurang cocok untuk mereka berdua.

Tao mengangkat kepalanya melihat arah yang Sina tunjuk dengan jari telunjuknya, lampu jalan yang sedikit redup membuatnya harus memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas. “Iya aku lihat.”

Tanpa Tao sadari Sina sudah menyunggingkan senyum isengnya. “Dulu ada orang asing yang menjadikan rumah itu sebagai rumah sakit, lalu si orang asing itu mengadopsi anak orang sini. Nama anaknya aku lupa, kita panggil Hana saja, dia cantik sekali.”

Tao memiringkan kepalanya, ia kembali memandang rumah itu, firasatnya mengatakan percakapannya dengan Sina kali ini tidak akan berjalan seperti biasanya. “Lalu?”

“Ketika dokter itu meninggal dia tetap tinggal di rumah itu bersama pelayannya.”

“Sina sebenarnya apa yang kau ceritakan?” Sorot mata Tao berubah, dari pada penasaran lebih tepat dikatakan sebagai pandangan cepat-hentikan-cerita-ini.

Pandangan itu hanya semakin membuat senyum Sina melebar, sekali lagi Tao selalu memberikan ekspresi yang ia inginkan. “Hana bersama si pelayan tinggal bersama untuk beberapa tahun hingga akhirnya—“

“Hingga akhirnya apa?”  Tao tahu-tahu merespon membuat Sina memiringkan badannya untuk melihat ekspresi Tao lebih dekat. “Ahh—rupanya ada yang penasaran.”

“Lanjutkan saja, kalau aku bilang stop Sina harus stop.”

“Tidak mau,Tao harus mendengarkan semuanya. Hingga akhirnya, laki-laki yang dulu selalu mengunjungi Hana muncul lagi. Mereka pun menikah dan mengadopsi anak. Tapi–”

 “Tapi apa? Apa sebentar lagi sudah mencapai bagian klimaksnya?”

Sina memiringkan kepalanya, permainan semakin seru mungkin ia harus menambah improvasi pada cerita itu. “Sedikit lagi kita akan mencapai klimaksnya, Tao jangan memotong ceritaku.”

“Ba-baiklah.” Tao menelan ludah dan mengangguk. Detik berikutnya Sina melanjutkan ceritanya, hal itu membuat jantung Tao berdegup jauh jauh jauh lebih kencang dari biasanya.

“Suatu saat si laki-laki dan anak perempuannya menghilang bersamaan, kau tahu kenapa?”

Tao hanya bisa menggelengkan kepala, ia merapatkan bibirnya rapat-rapat membentuk garis tipis. Menyadari ekspresi clueless Tao, Sina menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pura-pura depresi Tao tidak mengerti maksudnya. “Dua orang itu saling menyukai lalu meninggalkan Hana.”

“Lalu bagaimana dengan Hana? “ Tanpa sadar Tao langsung terbawa emosi yang justru membuat Sina kembali mengulum senyum gelinya. Ia menggerakkan tangannya menyuruh Tao mendekati dirinya. Tepat ketika kepala Tao sudah berada di sampingnya Sina membisikkan kelanjutannya pada Tao. “Dia bunuh diri menggantung dirinya.”

“STOP. Sina hentikan ceritamu.” Tao yang segera tergidik langsung melangkah mundur. Sina merengut dan kembali berjalan. “Tidak asik, Tao tidak asik.”

“Aku—“

“Hei Tao, kau lihat jendela di lantai dua rumah itu kan?”

Memakan waktu beberapa detik hingga akhirnya Tao mau kembali mengangkat kepalanya, ia menengadah melihat rumah kayu yang  yang sudah dirambati tumbuhan-tumbuhan itu. “Hhmm.”

“Banyak orang yang melihat bayangan wanita di jendela itu.” Sina berbisik pelan tepat di telinga Tao. Mata Tao membelalak ia segera mengalihkan pandangannya dari bangunan menuju Sina. “Kubilang hentikan ceritanya Ahn-Si-Na.”

Reaksi Tao membuat Sina meniup poninya, baru ia ingin membuka mulut ia merasakan tangan Tao sudah kembali menggenggam tangannya. “Lepaskan Tao, kalau kau terlalu menarikku aku bisa terjatuh.”

“Aku tidak bisa, lututku lemas sekali, ayo Sina kita harus cepat pulang.” Tao semakin merinding, semakin otaknya memerintah jangan memandang jendela rumah itu semakin matanya mengarah ke arah sana.

“Kau tahu? Banyak juga orang yang melihat gerbang rumah itu tertutup sendiri, katanya arwah Hana masih ada—“ 

“Sina hentikan!!” 

“Ta-Taoo!”

“BRAK.”

Tenaga Tao membuat Sina tertarik sampai jatuh.

#

#

Sambil membalikkan topi baseballnya Sehun mempercepat kayuhan sepedanya. Tidak peduli angin pagi yang dingin makin menerpanya ia terus mempercepat setiap kayuhannya. Ketika pandangannya makin jelas matanya mengernyit menemukan sosok yang menjadi topik pembicaraannya dengan Jongin kemarin terlihat. Sebenarnya melihat Sina berjalan di depan gerbang sekolah bukan hal yang aneh tapi masalahnya—Sehun melirik jam tangannya. “Ini masih jam 05.30 bagaimana bisa Sina sudah sampai di sekolah?”

“Hei Sina.” Sehun yang sudah berada di sebelah Sina memperlambat sepedanya membuat perempuan yang tengah memasukkan tiga pretzel sekaligus ke dalam mulutnya ini membulatkan matanya kaget. “Ba-bagaimana bisa–?” Sina dalam hati merutuk, kemarin Junhee yang mendahuluinya sekarang Sehun.

Perubahan ekspresi Sina sangat menarik membuat Sehun terkekeh dan turun dari sepeda, ia pun berjalan sambil mengiring sepeda. “Ada sesuatu yang harus kulakukan, dan kau?”

“Sama.” Tanpa melirik pada Sehun ia kembali sibuk mengunyah satu-satunya makanan yang bisa ia jadikan energi hari ini. Sejak kemarin malam apapun yang ia rasakan menjadi pahit, Sina bahkan melewatkan sarapan pasta carbonara favoritnya.

Dengan keduanya berjalan beriringan Sehun menyadari langkah Sina yang kecil dan gontai, sekalipun  laki-laki ini sudah mengecilkan langkahnya perempuan ini tetap saja ketinggalan. Sehun melirik pada Sina. “Kau sakit?”

Sina memegang keningnya memastikan apakah suhunya sudah turun. “Kurasa iya.”Jawabnya sambil menguap lebar, karena menceritakan Tao soal cerita hantu Sina sendiri berakhir kesulitan tidur. “Kalau kau bilang lebih baik aku pulang aku tidak akan melakukannya.” Ujar Sina menyadari ekspresi perpaduan simpati dan khawatir dari Sehun .

Melihat Sina yang membaca pikirannya Sehun hanya menyunggingkan senyum, ia mengendikkan bahunya dan mengambil vitamin dari kantong celananya. “Lebih baik kau habiskan harimu tidur di ruang kesehatan, aku dengar sekolah mengganti kasur keras itu menjadi kasur air.”

Sina menerima vitamin itu dan tersenyum, pikiran tidur di atas kasur air membuatnya tidak menyesal mengambil pilihan masuk sekolah meskipun sakit. “Benarkah? Kalau begitu setelah ujian pertama aku akan melesat ke sana, ngomong-ngomong Sehun.” Sina diam, bingung apa yang ia akan melanjutkan kalimatnya atau tidak.

“Apa?”

“Tubuhmu bau.” Perempuan itu menjawab singkat dan menggeser langkahnya hingga berjarak satu meter dari Sehun.

Sehun mendengus dan mencium bahunya memastikan apakah efek belum mandi separah itu. “Aku tidak sebau itu, lagipula ini bau keringat hasil olahraga. Dari pada bau bukankah lebih tepat dikatakan manly?”

Sina memutar bola matanya.

#

#

“1 menit 24 detik, terlalu lama!” Sina berseru pada Seukri yang baru saja mencapai ujung kolam renang. Perempuan yang kehabisan tenaga hasil setengah jam berenang nonstop itu hanya bisa mengerang kesal dengan catatan waktunya yang semakin melambat.  

“Beri aku waktu istirahat lima menit.” Ia berkata lemas dan mengapungkan dirinya di atas air sementara Sina hanya mengendikkan bahu dan memasang waktu lima menit pada stopwatch yang dikalungi di lehernya. Menemani Seukri latihan memang sudah menjadi rutinitasnya kalau ia benar-benar bosan.

Sina yang duduk di pinggir kolam mencelupkan kakinya hingga betis, ia memang tidak suka berenang tapi bermain dengan air selalu menjadi hal yang Sina sukai jika ia sudah bosan dengan segala rutinitas. Sambil menggoyangkan kakinya menimbulkan bunyi kecipak kecipuk Sina yang lama-lama merasakan kelopak matanya semakin berat tiba-tiba tergidik saat menyadari sebuah kaki-kaki tahu-tahu muncul di sebelah kakinya. Sina melirik orang itu dari ekor matanya dan mendapati Sehun sudah duduk di sampingnya.

“Kenapa kakimu terluka?” Sehun mengomentari lutut kanan Sina yang ditempeli plester, yang ia tahu Sina bukan tipe perempuan ceroboh yang bisa mendapatkan luka untuk alasan sepele.

Sina terdiam memikirkan kebohongan apa yang akan ia ceritakan, ditarik jatuh oleh Tao itu benar-benar tidak keren. “Aku menyelamatkan kucing yang nyaris terlindas sepeda.”

“Aaah benarkah?” Sehun terdengar benar-benar serius padahal  dalam hati tertawa, ia tahu Sina berbohong, bukan karena ia tahu bagaimana tanda-tanda perempuan itu berbohong tapi Ahn Sina mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kucing? Itu mustahil.  

Sina memutar bola matanya tahu benar Sehun tidak mungkin percaya, baru saja ia ingin membuat skenario baru soal cerita di balik lukanya tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Hei Sina—“ Sehun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, perempuan itu tiba-tiba berdiri dan berjalan menjauh darinya membuat Sehun merengut. “Hei aku sudah mandi! Kenapa masih menjauh!”

Sina yang sedang mengambil ranselnya yang berada kursi hanya tertawa kecil dan mengambil sesuatu dari tasnya. Sambil berjalan berhati-hati di atas lantai yang licin ia kembali duduk di tempat semula. “Untukmu, itu cocok sekali denganmu.” Sina pun melemparkan botol kaca kecil yang diterima Sehun dengan tanda tanya di wajahnya.

Cologne?” Tanya Sehun setengah tidak yakin.

Sina mengangguk, ia segera mengambil botol mungil itu dari tangan Sehun dan menyemprotkan sedikit pada kerah kemeja laki-laki itu. “Watermelon Lollipop itu wangi yang cocok untukmu. Ibuku membelikan ini katanya aku bau tapi menurutku wangi ini tidak cocok untukku.” Sina berkata dengan santai tidak peduli apakah laki-laki yang memandangnya itu tidak marah seseorang menyemprotkan parfum seenaknya.

Sehun tertawa geli, ia tidak protes, meskipun wangi yang Sina semprotkan terlalu manis untuk ukuran pria kalau itu penilaian Sina ia rasa itu tidak salah. “Baiklah, sebagai gantinya aku akan memilihkan wangi yang cocok untukmu.”

Alis Sina bertaut. “Aku tidak suka pakai parfum.”

“Lalu siapa bilang aku suka pakai parfum? Besok aku mau membeli hadiah untuk Miyoung bisa bantu aku memilihkannya?” Sehun bertanya berusaha terlihat sesantai mungkin padahal dalam hati takut Sina mengartikan hal itu sebagai ajakan kencan. Ini memang kencan, setidaknya itu yang Sehun harapkan kalau Jongin melihat ia dan Sina pergi berdua. Perbincangan kemarin malam soal rencana Jongin menyatakan perasaan pada Sina berhasil Sehun hentikan meskipun dengan cara curang, Sehun berbohong.

“Aku tidak mau. “

Sehun mendengus, tentu saja Sina akan menolak. Dari awal ia yakin perempuan seperti Sina tidak akan mau meluangkan waktu untuk alasan seperti itu, tapi sebagai Oh Sehun ia sudah menyiapkan senjata rahasia.

“Kuberitahu ya mencari hadiah untuk Miyoung itu mudah. Kau bahkan mantannya tapi tidak tahu apa yang dia inginkan?” Sina menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jjambbong.” Tiba-tiba Sehun berkata.

Sina menaikkan sebelah alisnya, mendengar makanan yang sejak kemarin ia idam-idamkan Sehun sebutkan namanya. “Ada apa dengan Jjambbong?” Masih berusaha terlihat tidak terlalu antusias Sina bertanya pelan.

“Besok aku mau makan Jjambong, temanku punya restoran mie jadi aku bisa makan Jjambbong sepuasnya.” Sehun berkata dengan yakin, matanya memandang Seukri yang sedang tersenyum memberikan jempol padanya. Kemarin ia sudah bertanya pada Seukri bagaimana bisa membuat Sina jalan bersamanya dan perempuan itu mengatakan sejak kemarin Sina sudah mengatakan ingin makan Jjambbong lebih dari sepuluh kalii.

Tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi Sehun segera mengepal tangannya saat mendengar Sina mengucapkan kalimat yang ditunggunya. “Boleh aku ikut?”

#

#

Si penjaga toko CD memperhatikan laki-laki yang sudah hampir setengah jam terus mengitari rak tapi tidak juga mengambil dvd apapun. Wajah laki-laki itu benar-benar terlihat serius, ia mengerti kalau seseorang bisa berwajah serius jika bingung memilih film mana yang harus ditonton tapi masalahnya laki-laki itu hanya berkutat di depan rak film anak, kenapa wajahnya terlihat seserius itu?

“Permisi?” Perempuan itu pun akhirnya memberanikan diri menghampiri si laki-laki yang kemarin lusa  juga berjam-jam di toko tempat kerja sambilannya tapi berakhir tidak membeli CD apapun.

Tao tergidik menyadari si penjaga toko menghampirinya, apa ia dikira pencuri? Tao dalam hati bertanya-tanya.

“Apa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantu?” ia tersenyum berusaha terlihat ramah menyadari tampaknya laki-laki itu kaget seseorang menghampirinya.

Tao menelan ludah, sambil menggaruk-garuk rambutnya ia menyebutkan judul film yang dicarinya. “The Little Mermaid.” Sambil melirik pada penjaga toko Tao langsung menyeringai. “Ini bukan untukku, adik perempuanku.”

Penjaga toko itu hanya tersenyum, yah setidaknya kali ini orang  itu membeli sesuatu. “Kalau menonton untuk diri sendiri juga tidak salah kok.” Ia hanya mengendikkan bahu lalu berjalan menuju pintu gudang. “Itu film lama tapi seingatku kita masih menyimpannya di gudang.”

“Ahh iya-iya.” Akhirnya sambil menunggu penjaga toko mengambilkan untuknya Tao langsung beralih pada rak film anak selanjutnya, matanya kembali bertaut fokus mencari film lama yang tidak sempat di tontonnya.

“Silahkan.” Tahu-tahu penjaga toko itu sudah menjulurkan CDnya pada Tao. Menyadari pembelinya masih terlihat mencari sesuatu penjaga itu kembali bertanya. “Ada lagi yang kau cari?”

“Ini film lama juga; Let’s Go Kamen Riders” Tao berkata pelan, sejujurnya ia tidak pernah malu dengan hobinya menonton serial Kamen Rider tapi sejak kemarin ketika Chanyeol mentertawai hobinya habis-habisan kebanggaan Tao sebagai fans Kamen Rider menghilang. “Itu film untuk adik laki-lakiku.” Tao kembali berbohong.

“Yah tunggu sebentar, itu juga film lama.” Penjaga toko itu mengulum senyum dan kembali berjalan menuju pintu toko.

Tao menghela napas, ia pun kembali berjalan dan berpindah ke rak bagian film romantis, sejak kemarin Hara memintanya menonton film yang katanya bisa menjadi inspirasi untuk Tao.

“Ada lagi yang kau cari?”

Tao tersentak kaget, ia mengelus jantungnya dan berkata pelan. “Aku lupa judulnya apa, tapi pemainnya Song Joongki ceritanya berhubungan dengan serigala—“

“Ahh iya aku tahu. Kali ini film untuk siapa?” Tanpa sadar penjaga toko mulai tertarik dengan Tao.

“I-ibuku.” Tao berbohong tapi kebohongan ketiga ini sudah membuatnya terbiasa berbohong, jadi ia tidak begitu merasa bersalah.

“Ada lagi?”

Tanpa pikir panjang Tao langsung menggelengkan kepalanya. Mereka berdua pun berjalan menuju counter kasir, baru saja Tao mengeluarkan dompetnya tiba-tiba ia teringat sesuatu. Bibinya meminta Tao membeli film untuk menambah kosakata Korea Yixing dan dirinya. “Pororo!” Tao berseru membuat penjaga toko ikutan kaget.

“U-untuk sepupuku yang masih balita.” Tao semakin lihai berbohong.

#

#

“Berapa kali kubilang aku tidak mau.” Sina bosan ditambah capek mengatakan kalimat yang sama semenjak keluar dari gerbang sekolah bersama Junhee. Perempuan ini benar-benar tidak mengenal kata menyerah atau mengalah yah intinya egois. Ia masih mengamit lengan Sina tidak peduli Sina bilang ia tidak suka.

“Ayolah Sina—aku tidak punya teman selain dirimu!” Ia merengek. Sina memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa benar perempuan ini tidak punya teman selain dirinya? (Sina baik sehingga ia mengaku kalau ia memang teman Junhee). Sebenarnya dari pada berpikir soal tawaran Junhee Sina lebih banyak berpikir kenapa hari ini Junhee tidak pulang bersama Tao. Pertanyaan itu selalu berada di ujung lidah, Sina tidak ingin menanyakannya karena ia tahu yang ia dapatkan sebagai gantinya adalah interogasi dari Junhee. Kau kenal Tao? Bagaimana kau tahu aku berteman dengan Tao? Sina menghindari pertanyaan semacam itu keluar dari mulut Junhee.

“Besok aku sudah punya janji dengan temanku.” Yang Sina maksud adalah janjinya bersama Sehun.

“Sudah kubilang aku hanya membutuhkan kehadiranmu satu jam! Setelah itu kau boleh pergi! Ayolah Sina kumohon!” Junhee makin keras kepala, ia bahkan mengeraskan suaranya padahal mereka berdua sudah berada di halte bus bersama orang-orang yang memandang mereka bingung.

Sina memelototi Junhee. “Kalau kau berteriak aku tidak akan mau.”

“Baiklah aku diam.” Junhee merapatkan bibirnya dan menggerakkan jarinya di atas mulut seperti menutup resleting.

“Dari sekolah mana mereka?” Sina bertanya curiga

Junhee memandang sekeliling, merasa perbincangan ini akan menjadi perbincangan rahasia. Ia berdehem dan mendekati telinga Sina. “Aku tidak tahu, yang kudengar mereka adalah ulzzang dan salah satu dari mereka adalah model!”

“Model?” Sementara Junhee menyeringai Sina menaikkan sebelah alisnya “Kenapa seorang model mengikuti kencan buta?”

Junhee mengendikkan bahunya. “Aku tidak tahu! Kita bisa menjadikan itu sebagai topik pembicaraan besok. Jadi besok kau pergi ya Sina? Ayolah! Aku mohon—“

“Hmm tapi sebagai gantinya setiap hari selama sebulan kau harus membelikanku kimbab segitiga.” Sina menghela napas, ia melirik Junhee berharap perempuan itu terlihat malas dan berpikir ‘ah susah sekali mengajak perempuan ini.’ Tapi kenyataannya. “Aku janji! Bahkan selama setahun pun tidak apa-apa!”

“Aku pegang janjimu.”

Junhee mengangguk-angguk, terlalu berlebihan mungkin lima kali anggukan. “Tentu saja! Ah itu bisku!”

Sebuah bus hijau berhenti tepat ketika Junhee berseru, dan detik ketika Junhee melangkah memasuki bus ia menengokkan kepalanya pada Sina. “Dandan yang cantik dan pakai baju terbaikmu, oke?”

“ Ya ya ya.” Sina mengibas-ngibaskan tangannya mengisyaratkan Junhee segera pergi memasuki busnya.

“Aku pegang janjimu!”

Dan Sina memutar bola matanya siapa yang berjanji?

#

22.18

Di meja makan hanya ada sepotong sandwich yang sudah digigit oleh ayahnya, susu kotak yang setengahnya sudah dipakai untuk masker wajah Miyoung dan semangkok ramyun yang baru saja Sina beli. Inilah makan malamnya.

Sambil mengunyah malas sandwichnya Sina memandang foto keluarga ukuran 80 X 110 cmnya yang terpajang tepat di depannya. Hari kepergian Miyoung sudah bisa terhitung oleh jari tapi justru di saat seperti ini, di saat-saat rasa kekeluargaan sangat penting, di meja makan malah hanya ada Sina seorang ditinggal oleh keluarga yang sibuk dengan urusan masing-masing. Kemana perginya Miyoung? Kenapa dia malah menginap di rumah temannya bukan menghabiskan waktu dengan adik satu-satunya? Kenapa orang tuanya masih meyempatkan menyibukkan diri bertemu klien padahal anak tertua mereka sebentar lagi akan pergi?

Jam dinding di ruang makannya terdengar jelas, membuat perempuan ini semakin merinding. Perasaannya bercampur takut, sedih, ingin menyalahkan keadaan tapi terlalu capek.

Tanpa menghabiskan makan malamnya Sina kembali berdiri, makan malam sendirian sebenarnya sudah biasa, dan saking biasanya mungkin ia bosan.

Sambil menaiki tangga ia meraih ponsel dari kantong celananya. “Halo Seukri?” Sina memanggil satu-satunya teman perempuan yang ia yakin tidak akan marah jika ditelpon tengah malam sekalipun.

“Hmm? Ada apa?” Dari seberang sana Sina mendengar suara tawa adik-adik Seukri yang keras, Sina sudah pernah bertemu dengan mereka secara langsung dan ia benar-benar bisa membayangkan seberapa ramai keadaaan keluarga mereka sekarang.

“Kau sedang menonton film ya?”

Yep! Ini lucu sekali, kau juga Sina, ganti channel tvmu—“

“Ah sudahlah, tidak jadi, kumatikan ya?” Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut Sina memutuskan panggilan.  Ia menatap layar ponselnya bertanya siapa yang akan ditelponnya. Seseorang yang bisa mendengarnya, memasang telinga untuk beberapa jam dan yang terpenting tahu kapan harus bicara kapan harus diam. Siapa lagi kalau bukan dia? Oh Sehun.

#

#

Makan malam hari ini terlalu ramai, semenjak ada kehadiran Junhee tidak ada lagi istilah makan sisa karena perempuan ini selalu melahap semuanya, tidak terkecuali jatah Tao, dan hal ini lah yang membuat Tao makin jengkel pada perempuan itu.

“Kalau seperti ini ceritanya aku tidak akan makan malam di rumah ini lagi!” Tao meletakkan sumpitnya di atas meja, menyerah rebutan daging dengan Junhee.

“Jangan seperti itu Tao, ahjumma sudah memasak untuk kita kau harus menghargainya.” Yixing berkata dengan tenang, tentu saja ia tenang, ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya makanan yang sedikit lagi akan masuk ke mulut kita disambar oleh si rakus Junhee.

Tao menelan ludah, ia memandang ahjumma yang hanya diam meneguk tehnya, bibinya itu semakin dia diam semakin menyeramkan.

“Benar-benar, Tao tidak tahu cara menghargai makanan, baiklah karena aku baik aku akan memberikanmu ini.” Junhee mendorong piringnya pada Tao sempat membuat Tao tersenyum tapi saat menyadari piring itu hanya berisi sayuran yang disisakan Junhee ia tahu perempuan ini hanya menjahilinya.

“Aku tidak ma—“

Trr trrr  

Kantong jaketnya bergetar dan Tao benar-benar berterima kasih pada siapapun yang menelponnya sekalipun itu hanya telpon salah sambung atau teman kuliah yang mengingatkan tugas yang sengaja Tao lupakan, ia tetap berterimakasih. Bagaimana pun juga ia harus kabur dari meja makan ini dan mencari makan di luar.

“Ah ada telpon!” Tao menyeringai, terlalu terlihat girang membuat Yixing, ahjumma dan Junhee menengok padanya.

“Siapa?” Ketiganya bertanya bersamaan.

Tao menelan ludah, ikut bertanya siapa yang menelponnya malam-malam begini. Tepat ketika ia membaca nama pemanggil ia merasa tuhan memang membantunya malam ini. “Pacarku—“

Tao melesat beranjak dari kursi dan lari keluar dari toko meninggalkan Yixing, ahjumma dan Junhee yang saling berganti pandang. Huang Zitao bisa punya kekasih? Itu pertanyaan mereka bertiga.

#

“Halo?”

Sina menggigit bibir, mendengar suara Tao dari speaker ponselnya benar-benar aneh. Sina juga bingung kenapa ia berakhir menelpon Tao. Yang jelas tepat ketika ia siap menekan tombol panggil melihat nama Sehun, ia menyadari nama Tao tepat dibawahnya, dan tulisan ‘TAO’ terlihat benar-benar menggoda untuk dipanggil. Sina juga tidak mengerti.

“Wah Tao belum tidur! Ini sudah jam sepuluh lebih bukankah anak baik harusnya sudah tidur?” Sina yang matanya hampir terpejam kembali membulat lebar saat mendengar Tao yang sedang mendecak.

“Ugh itu artinya  Sina juga bukan anak baik kan? Kau juga belum tidur.”

Sina memutar bola matanya. Ia berdehem dan menatap langit kamar, apa Tao pendengar yang baik? Memanggil Tao ini benar-benar tidak sengaja, seperti karena jarinya kepeleset atau apa, kenapa ia jadi menekan nama Tao bukan Sehun? Bagaimana cara ia memulai perbincangan dengan Tao?

“Kau tidak bertanya kenapa aku menelponmu?”

“Kenapa Sina menelponku?”

Sina menghela napas, baiklah Tao pendengar yang baik, dia selalu membalas setiap kalimatnya dengan cara lugu ala Tao yang kadang menjengkelkan.

“Mungkin ini terdengar menggelikan tapi aku tidak bisa tidur jadi aku menelponmu. Aku—“

“Kau penderita imsomnia?” Tao terdengar panik dan Sina mendecak.

“Dengarkan dulu kata-kataku, hari ini di rumah aku sendirian, apa menurutmu tidak bahaya seorang gadis tinggal sendirian?” Sina menarik selimutnya hingga menutupi dagu, ia memutuskan akan berbicara dengan Tao sampai tertidur.

Tidak ada jawaban dari Tao membuat Sina terbatuk untuk memastikan apakah pria ini masih mendengarnya. “Apa Sina sudah mengunci pintu rumah?” Akhirnya Tao bicara.

“Sudah.”

“Bagus, kalau begitu kau aman, kalau begitu ayo kita bicara, aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”

Sina tersenyum, siapa tahu Tao benar-benar seorang pendengar yang baik?

“Mau kuceritakan cerita seram? Aku sudah memikirkan sekuel dari cerita Hana yang waktu itu.”

“SINAAA”

Respon Tao selalu menyenangkan, Sina tertawa hingga akhirnya ia ingat kalau ia sendirian di rumah malam ini, tidak baik menceritakan cerita hantu kalau kau sendirian. “Ah tidak jadi, lain kali saja, aku mau melihat wajahm secara langsung tapi tenang saja kali ini aku jamin endingnya akan bahagia.”

#

#

Sambil mengunyah odengnya Tao berusaha menahan tawa mendengar Sina yang bercerita soal mimpinya menjadi kucing. Cerita itu benar-benar konyol dan yang membuat Tao merasa senang ia masuk dalam mimpi itu.

“Oh ya Sina!” Tao berseru mengingat ia punya sebuah pertanyaan untuk Sina.

“Ada apa?”

“Jurusan apa yang kau ambil? Sina bilang waktu itu kau ke kampusku untuk observasi?” Sambil kembali meneguk soft drinknya Tao menunggu Sina yang belum juga menjawab pertanyaannya.

“Em— aku tidak tahu, tapi sepertinya aku tidak akan kuliah di sana.”

“Heh?” Tao memiringkan kepalanya, kecewa dan penasaran, tapi itu pilihan Sina jadi ia akan menerimanya.

“Sebenarnya waktu itu aku bukan observasi, aku hanya—menumpang toilet!”

Entah kenapa Tao tahu Sina berbohong dan anehnya ia tidak mempermasalahkan itu. Ada hal yang menurutnya lebih penting. “Ahh kalau begitu jurusan apa yang sebenarnya akan kau ambil? Bukankah beberapa bulan lagi Sina sudah lulus?”

“Tidak tahu, aku tidak mau kuliah aku mau selamanya menjadi murid SMA.”

#

Dengan malas-malasan Sina meraih beberapa brosur kampus dari atas laci pinggir kasur, terus terang tidak ada yang menarik entah desainnya yang membosankan atau Sina saja yang sudah mensugestikan apapun itu jurusannya membosankan.

“Tidak tahu, aku tidak mau kuliah aku mau selamanya menjadi murid SMA.” Ia menjawab pertanyaan Tao dengan asal.

“Ahh— panggilan hatimu belum keluar ya?” Tao merespon dengan cepat, nadanya ringan seperti tidak menganggap kalimat Sina itu hal yang aneh atau tidak wajar.

“Yah, kupikir begitu.”

“Apakah orang tuamu tidak menyarankan sesuatu?” Tao kembali bertanya, dan dari nada bertanyanya ia suka itu. Sina memang suka suara Tao, mendengar ia berbicara dengan aksen koreanya benar-benar lucu, kadang pelafalannya masih salah dan Sina sengaja membiarkannnya karena itu lucu.

“Hmm tidak, mereka pikir aku bisa memutuskannya sendiri.”

Mereka memang tidak bertatapan tapi Sina yakin Tao sedang mengerutkan dahinya berpikir sesuatu. “Wah Sina punya kebebasan, apa aku sudah cerita kalau dulu aku mengambil manajemen bisnis karena dipaksa ayahku?”

“Benarkah?”

“Hmm—hanya bertahan beberapa bulan dan semester selanjutnya aku pindah jurusan.” Tao tertawa, dan Sina suka mendengarnya. Tawanya renyah, ringan, adiktif membuat Sina terus ingin mendengarnya lagi.

Sina mendengar suara Tao menguap. Rasa kantuknya tertular tapi ia masih ingin berbicara dengan Tao.  “Tao sudah mengantuk?”

“Sepertinya begitu, boleh kuputuskan panggilannya sekarang?” Sekali lagi terdengar suara Tao yang menguap, Sina tertawa geli membayangkan betapa besar mulut Tao yang sedang menguap.

“Jangan, kita harus bicara terus.”

“Tapi aku mengantuk—“

“Tidak peduli.” Sina menjawab singkat, terserah Tao menganggapnya manja atau apa.

“Apa lagi yang mau dibicarakan?” Suara Tao yang terdengar semangat mulai menghilang, Tao mulai malas dan merajuk, Huang Zitao benar-benar mengantuk.

“Tidak tahu, pokoknya Tao bicara saja, sampai aku tidur bicara terus.” Sina membalikkan badannya ke kiri, meraih guling dan memeluknya erat, ia juga mengantuk.

“Sina aku mengantuk.”

“Kenapa kau mengantuk?” Suara Sina juga terdengar makin pelan, matanya sudah terpejam tapi telinga dan mulutnya masih bertahan.

“Karena aku butuh tidur.”

“Kalau begitu kenapa tidak tidur saja?”

Sina menguap lebar, benar-benar lebar dan ia rasa kalau lebih lebar lagi rahangnya tidak akan kembali ke posisi semula.

“Sina memintaku untuk terus berbicara.”

“Kenapa kau mendengar permintaanku?” Tangan Sina meraih radio kecilnya dan menyalakan siaran favorit yang selalu menyetel lagu ballad dan jazz di tengah malam.

“Kurasa karena aku menyukai Sina.”

Kalimat terakhir terasa begitu manis, Sina tidak tahu ini mimpi atau bukan tapi yang ia yakin ia tersenyum.

“Kenapa kau menyukaiku?”

“Entahlah, aku menyukai Sina begitu saja.”

“Kenapa begitu saja.”

“Karena kita selalu bertemu begitu saja.”

“Kenapa kita selalu bertemu?”

“Takdir mungkin?”

“Kurasa begitu.”

Sina melepas genggamannya pada ponsel, sekarang ia benar-benar tertidur. Malam itu mungkin menjadi tidur terbaiknya, entah karena ada suara Tao sebagai pengantar tidurnya atau karena ia sudah mengganti seprai kasur yang apek menjadi wangi. Satu hal yang pasti bagi Sina hanya perasaan kalau sekarang ia mengerti bagaimana rasanya menjadi tokoh utama di shoujo manga yang dibacanya. Pipi Sina memerah mungkin memang karena kedinginan yah tapi kalau dibilang karena dia malu Sina juga tidak akan mengelak.  Perutnya geli ada sensasi aneh, dan Sina yakin ini bukan karena ia kelaparan atau punya penyakit cacing, ia tahu penyebabnya apa dan Sina akan mengakuinya.

Semua ini gara-gara Tao.

__________________________

Author’s note:

OH HALO kawan! pastel emang hiatusnya ga selama detour sih tapi tetap aja bikin kangen. 

Dan akhir2 ini aku ga ngerti kenapa lagi suka bikin kalimat cheezy yang kadang bisa bikin butterfly-in-stomach tapi kalau salah takaran ngasih kejunya jadi bikin muntah (ugh jangan sampe).

Dan part terakhir aku ketik lagi ngantuk banget tapi idenya ada terus latar ngetiknya G-Dragon – Butterfly playing on repeat begitulah jadinya.

sampai jumpa chapter berikutnya, XOXOXOOOOO/infinity kayak magnum infinity dari pikrachu

22 thoughts on “PASTEL #022

  1. Aku suka pake banget thorrrrr.. Momment Tao Sinanya berasa bgt, tao bohong lgi tu klau yg tlpn pacarnya .. Wahh tao ngaku” sina pacarnya keren keren ..
    Next partnya bkin sina tao jadian dong ak pengen tahu gmana si tao pcaran sma sina ?

    Tpi dlu author blng klau mw bkin sina hampir ska sma sehun tpi ujung”ny dy sma tao, it’s okay si tpi ak bkal gregetan nungguin sina sma tao bersatu, ah ak jg kangen momment ahjuma, tao sma sina
    Itu si vic ap kabar ? Bguslah dy udh plng ke cina gk ganggu tao sina lgi, skrng tugasku tinggal 2
    1. Nginget seukri di pastel
    2. Author fighting😀

    Him to him gk di lanjutin?

    Fighting for the next chap, bKal nunggu loh ya, topi bwat sehun msih blm jadi tu? Wkwkwk detour gk kna writer block lgi kan ?

    • Ckckc jadiannya ga segampang itu heheheheh kita liat nanti ya.
      Btw yang sina hampir suka sehun itu, itu plot lamaaaa banget dan udah ga kupake lagi, jadi intinya kita ga tau pemenangnya sehun atau tao.
      Tugasmu yang nginget seukri itu😄 yaampun dia emang tokoh irit2 muncul tapi lumayan penting :DD

      DAN KAMU BACA HI TO HIM. Sebenarnya aku berencana ingin ngedelete cuma kalau dipikir2 sayang, jadi mungkin kulanjutin kalau detour sama pastel udah tamat🙂
      soal topi sehunn….jeng jeng ada deh jawabannya kita liat nanti. Dan oh enggak dong! no writer’s block! B)

  2. ah aku meleleh thor.. tanggung jawab!! kembalikan aku ke bentuk semulaa u,u haaaaaaaaa
    kenapa begini sih ceritanya.. kenapa mereka romantis banget? aku gak bisa berenti senyum bacanya, kadang malah nahan2 jerit takut di omelin ayah yang lagi nonton akademi dangdut *okesip ini gak penting*

    aku biasanya komen selalu sesuai prosedur(?) dari scene ke scene. jarang lompat-lompat.. tapi kali ini gak bisaaaaa… scene terakhir terlalu indah untuk komentarin paling akhir.. taosina terlalu bikin aahhh thorr aku melt beneran :3

    ini terhebat! teleponan, nemenin tidur, denger suara tao, diiringi lagu butterfly. perfect banget lah :3
    aaahh masih melt niiiih.. gak bisa ngetik.. aaaah xD

    eh tunggu… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA;; TAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!! (numpang triaknya disini ajah hehe)

    aku juga SUKA BANGET sama Aksennya tao kalo lagi ngomong bahasa korea. mungkin itu juga salah satu alesan aku suka banget sama dia kali yak. dan pendeskripsian mu thor. aku berasa jadi sinaa, dengerin suara tao, suara tawanya.. aaaaaaaaaaahhhhhhh tanggung jawaaaaaaaaaaab!! T_T

    kalo begini mah aku nanti malem gak bisa tidur nih. dan pasti ngerepeat lagu butterfly terus sambil bayangin suara tawa tao yang renyah kayak emping :3 trus laper.. eh bukan, trus buka phonebook di hp nyari kontak tao eh ternyata gak ada.. trus tanggung jawaaaaaaaaaaaaaaab thor kalo gak ada nomer tao di hp aku gimanaaa?!! gimana aku bisa tidur?!! T_T (mulai gila.. mulai gilaa..)
    haaah.. oke.. kayaknya harus ganti topik kalo gak scene yang lain gak kebagian lapak komen nanti –”

    aku ulang ke scene awal hahahaha…
    sina manjaaaaa bangeeeet *tabok* masa envy sama sina u,u aaah jadi bete hahag
    tapi manis yaah, malem2 berduaan jalan berdua sama tao. taonya dewasa gituuuu.. makin suka deh sama TAOSINA! TITIK!!!
    untung si penjaga toko cd udah bobo jadi gak liat, kalo liat bisa terjun ke jurang kali tu orang wkwkwkw

    ih tao itu penakut bgt yak, cengeng lagi. trus manja banget sama kris. kadang aku suka heran kenapa dari 12 alien yang tampan2 aku sukanya sama tao –”
    tapi gak bisa move on, gimana dooong (mulai gombal.. mulai gombal..) hahhahahaha

    DAN ININIH BIKIN SIOOOOOk!! ADA AKOH ITU ADA AKOOOH MAK DI FF-NYA PIKRACHU!! JADI PENJAGA TOKO CD!! GILAAAA WKKWKWKWKKW
    pas baca tuh seketika langsung ngakaaaaakk.. dengan segenap hati banget bacanya sambil bayangin itu aku beneran xD wkwkw
    btw, aku padahal juga lagi buat ff taoxpenjagatokocd xD jadi pas pastel author bilang mau hiatus aku langusng terinspirasi buat ff. nyuri2 waktu ditengah2 kesibukan yang melanda xD tapi belom kelar juga ampe sekarang wkwk EH malah udah ada duluan di part ini wkwkw jadi malooooooo :3
    kira2 aku lanjutin gak yak ff itu? haha jelek sih, tulisan aku masih cetek sekali hhehe :Dv
    tapi kayaknya kita sehati ya…. *pd bangaaaaat* wuakakkakaka..

    eemm mau komenin sehun.. tapi karena sehun bauuu.. gak jadi deh wkwkw *pukpuk sehun*
    aku mau nantangin nih xD *reader belagu* manaaa katanya mau buat aku jadi ngeshipp sehunsina. sejujurnya aku tuh ngebayangin di chap ini ada scene sehunsina yg bener2 bisa bikin aku excited bacanya.. tapi malah diserang sama tao.. hiks (lemes lagi,gak bisa ngetik)
    aku tunggu thor.. kita liat apakah aku bisa jadi lebih sedikit suka sama sehun sina? (mumpung aku lagi envy sama sina niih xD) wkwkkw

    haaah.. capek!

    terakhir deh nih, aku rasa chen suka sama seukri. hahahag jgn tanya kenapa, aku juga gak tau. feeling ajaah wkwkw

    oke udahaaaaann.. capek ngetiknyaaaa.. mau belajar lagiT_T.. dadaaaaah.. seeyou! *ngilang

    • AWW AWWW AWWWWWWWWWW ALHAMDULILLAH BERHASIL aku sempet malu buat bagian itu, takut terlalu gombal terus jadi gimana gitu feelnya eh tapi melihat betapa excitednya kau jadi berpikir ‘fiuh-bagus-deh’

      EH SAMA SUARA TAO ITU EMANG ADORABLE GEMESIN LUCU. apalagi dia ngomong bahasa koreaaa astaga itu lucu banget apalagi yang “AHJASSI” ketawanya jugaaaa kayak anak kecil cekikikan, suaranya tinggi gitu asdasdjhasjdlhasljdhasjdahk tp tao kalau ngerap suaranya jadi sok sok galak gitu.

      HAHAHAHAH PENJAGA TOKO CD X TAO PLIS KAMU LANJUTIN FANFICNYA. Lagipula di situ ga ada nama aku cuma bilang ‘perempuan itu’ jadi meningan kamu lanjutin aku penasaran, daan menulis itu ga istilah cetek! tuangkan pikiranmu soal tao waktu nulis (oke aku jadi ceramah) tapi lanjutin ajaaaa.

      Hmmm soal Sehunnie…OKE BENER YA (LANGSUNG TERIMA TANTANGAN) chapter kedepan emang udah kurencanain jadi chapternya sehun, soalnya kalau sekarang ngasih momen sehun nanti tubrukkan sama tao terus akunya ikutan bingung deh (?) aku bakal bikin kamu sukanya ga sedikit, tapi BANGET kekekekke.

      Selamat belajar~ pokoknya kalau lagi males banget belajar (berdasarkan pengalaman pribadi) bilang aja ke diri sendiri OPPA SUKA CEWEK PINTAR

  3. om tao nonton kamen riders nya sama aku ya? ya? xD

    penempatan kata kurang tepat “pacarku”
    lebih kerenan “nae yeojachingu”🙂

    next chap, di panjangin ya kak🙂

    • Itu udah panjaaang (Standarku sih) tapi okok kuusahain aku takut panjang2 takut capek bacanya.
      terus terus soal yang pacarku emang rada aneh sih aku jadi awkward waktu ngetik, cuma entah kenapa aku kayak masih ga biasa gitu nulis bahasa korea di cerita selain oppa dan ahjumma😄

  4. So sweeeeettttt omooooooo!!!!! Ngebaca ini mood booster bangeeett laaahhh >< harusnya gue belajar tapi malah baca ginian aaaahahhhhhhhhhh!!!
    Thor tanggung jawab aku ga bisa berenti senyam senyum -_- meskipun tao bukan bias….. BIKIN MELTING ADUHAIIIII ! Sehun juga. Lanjutnya jgn lama' ya thoorrr

    • Refreshiiiiing jangan belajar muluuu (author ga bener)
      Daaan bisa bikin orang yang ga suka tao aja sampe melting omg itu kehormatan buatkuuuu ;u;

  5. HEUM..
    Kok cepet banget hiatusnya, biasanya hiatus itu kan sampe berbulan-bulan hmp.
    Tapi..

    AKU SENENG YEAAYY (*≧▽≦)
    padahal udah ikhlas kalo pastel comebacknya lama, padahal udah nyiapin diri kalo2 pastel updatenya tahun depan dan padahal2 lainnya, sampe2 aku kepikiran baca pastel dari chap 1 lagi untuk mengusir kegalauan (?)*oke ini cukup lebay.

    dan itu taosinaa momen my my my
    itu tao ngaku lagi kalo suka sama sina, mereka telponan sampe ketiduran..ohh
    bayangin kalo denger suara tao yang manja manja gimana gitu sebelum bobok ahhh

    kalo sampe aku jumpa pikrachu di jalan, pasti aku cubit.( ►_◄ )-c<*_*; )

    • Namanya kan semi-hiatus…HAHAH dan tenang aja berhubung aku ga sekolah tapi belum kuliah ga bakal ada excuse ‘ada tugas’ / ‘ada ulangan’ jadi weekly update dari author pikrachu!
      omaigad kamu kepikiran baca dari chap 1 sumpah dari zaman aku satu chapter 500 kata doang X

      hahahaha kok aku jadi mikir pikrachu sama ramen panas papasan di jalan tapi kita belum kenalan terus tau tau kamu nyubit aku eh tapi jangan nanti kak kyungsoo marah yeojanya disakiti lol

  6. Huahhh~~ T.T
    Ketinggalan, terlambat T.T
    Setelah akhirnya ada pulsa untuk internetan, langsung buka blog ini dan… Author udah update 2 chapter Pastel…

    Sina udah berubah yah author? Pas baca part Sina, gk bisa menghilangkan senyum dari muka (?) Sina jadi tambah ceria gitu kayaknya. Abu-abunya udah hilang.

    Momen TaoSina… >..< kelebihan manis itu mah!

    Ditunggu chapter selanjutnya ^^9
    FIGHTING~

    • Aaah meitha-ssi udah lama ga bca komennya~

      Yep sina udah berubah, kan kalau gadis /cough/ jatuh cinta jadi lebih…eh tapi emang sina udah fix suka sama tao?? Lah authornya juga bingung, well mungkin abu2nya ganti jadi abu2 tua😄

  7. Oh yeahh, Tao mulai berani yaa.. Gamblang aja gitu bilang suka sama AHN SINA

    OHHH PUPUS SUDAH HARAPANKU..

    Emm.. Pikrachu, sejak kapan seorang AHN SINA jadi tukang gombal gitu ya??

    End. Tamat. Segitu aja.

    • KOMEN READER YG INI SELALU BIKIN AKU NGERASA JAHAT

      hahhh pls kamu lebih kuat, mungkin di pastel kamu sedih tp di detour pasti seneng c;
      daaan ehh sina ga gombal! dia hanya jujur~~

  8. Oh my god aku suka scene terakhiiiir~~ ><
    Tao sina ayodong udah jadi ajaa (?)
    Ah elaaaaaaaah kaaaak~ eh tapi sehunnya? Iya ya? Sehunnya sehunnya? Aduh kan ah
    Tapi emang untuk sekarang taosina lebih maju sih daripada sehunsina.. soalnya taosina sama sama suka *walopun sina belom menyadari perasaannya*

    Itu tao lucu banget sih beli pelem kok pelem anak anak semuaaa xD sekalinya yg ga anak anak malah werewolf boy yg mellow mellow begitu, aduh taooo taooo xD

    Aku ga sabar menanti ulangtahun miyoung :3
    Apa yang akan terjadi yaaa??

  9. Yeeee part kali ini bnyak moment tao sina nya hihi

    entah knapa aku suka kalo sina sama sehun krn sehun itu memperlakukan sina bgitu romantis tpi lebih greget lagi kalo moment sina tao
    kalo sina lgi sama tao itu kesannya sina gk jadi sina yg dingin dn datar tpi dia lebih cerewet krn suka ngegangguin tao dn setiap kali baca tulisan author pas sina tao moment itu bikin aku gigit jari krna gemes sendiri😀

  10. tuuh kannn sina suka taoo ,kyaaa gimana nasib uri sehunnie ,ok semoga di caphter slanjutnya sina suka tehun haha..fighting sehunsina wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s