Detour #14

# 1 4  Y o u  &  M e

Tidak mungkin, tidak mungkin aku cemburu, pertama karena dia adalah Moon Chaeri, kedua karena aku adalah Byun Baekhyun, jadi aku tidak mungkin cemburu.

Rasanya sudah hampir seratus kali Baekhyun mengatakan hal itu pada dirinya sendiri, karena dia tidak punya alasan masuk akal untuk menyangkal rasa yang katanya cemburu itu, dia berakhir membuat alasan yang sesungguhnya dia juga tidak mengerti, memang kenapa kalau dia Chaeri? Memang kenapa kalau aku Baekhyun? Itu memang tidak ada hubungannya tapi yang jelas, Baekhyun masih tidak terima dia cemburu. Dia marah pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dirinya sendiri mengakui dirinya sendiri cemburu?

Ini kebalikan dari semua yang ia rencanakan, harusnya yang cemburu itu Kyungsoo, tapi bahkan laki-laki itu tidak memberi pesan balasan tentang foto yang Baekhyun kirimkan padanya.

Bicara tentang Kyungsoo, kira-kira apa dia pikirkan? Bagaimana kalau dia tahu Chen menyukai Chaeri—

“Baek!”

Seseorang mengetuk pintu kamarnya, oke sebenarnya bukan seseorang, Baekhyun tahu itu Chaeri tapi dia hanya malas menyebut nama itu.

“Baekhyun! Bangun!”

Dan sekarang apa yang perempuan ini lakukan? Ia memandang jam tangannya, matanya seketika membulat lebar saat menyadari ini sudah jam lima pagi, dan itu artinya ia benar-benar tidak tidur semalaman!

Apa aku harus pura-pura tidur?

“Baekhyun bangun!”

Ahh ini rasanya menjadi Chaeri, dibangunkan di pagi buta, pasti hari itu aku benar-benar dianggap pengganggu oleh Chaeri..

Baekhyun diam, “Tunggu ada yang salah” ucapnya dalam hati. Sejak kapan dia peduli Chaeri terganggu atau tidak? Dan kenapa hati kecilnya mengatakan dia tidak mau dianggap pengganggu oleh Chaeri?

“BYUN BAC—

“Astaga Chaeri aku dengar! Ada apa!?” Baekhyun membuka pintu kamarnya, ia panik padahal si pemanggil Chaeri biasa saja memanggilnya.

Chaeri memiringkan kepalanya melihat Baekhyun yang tampak begitu pucat, kenapa laki-laki ini terlihat begitu frustasi? Kemana Baekhyun yang kemarin meloncat-loncat kegirangan mendapat kakap merah besar setelah sebelumnya hampir terpeleset jatuh ke laut karena terlalu gembira?

“Aku ingin mengajakmu bersepeda—aku punya resolusi liburan kali ini bisa naik sepeda dengan lancar tapi melihatmu pucat seperti ini mungkin lebih baik aku meminta bantuan Chen—“

“Jangan Chen.” Itu refleks, kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Baekhyun. “Kenapa tidak Daeha saja?”

“Dia bilang sebagai gantinya aku harus memberinya Nintendo dan dia baru saja menjambak rambutku karena aku membangunkannya pagi-pagi.”

“Kalau begitu—“ Baekhyun jadi diam, kehabisan kata-kata. Dia ingin menolak karena menghabiskan waktu berdua dengan Moon Chaeri hanya akan membuatnya merasa— canggung?

“Kalau begitu apa? Mau membantu atau tidak?” Chaeri jadi gemas, kenapa Baekhyun yang terkenal ceplos ceplos berubah jadi pemalu begini? Kemana Baekhyun pagi yang selalu hiperaktif?

“Belajar bersamaku tentu kau harus membayar Chaeri— bagaimana dengan 1000 won perjam?”

“Ya ampun.” Chaeri memutar bola matanya. “Lupakan permintaanku, sekarang kau tidurlah tampaknya otakmu tidak bekerja, meminta uang pada teman sendiri?”

“Eh- eh tu-tunggu Chaeri!” Baekhyun menahan pintu kamar yang hampir tertutup, sejujurnya tawaran soal bayaran hanya untuk membuatnya terlihat tidak segampang itu untuk mau diajak Chaeri. “Aku bercanda! Ayo kita pergi!”

“Yeay! Baekhyun memang yang terbaik!” Chaeri mengangkat kedua tangannya, efek bersama Baekhyun beberapa hari terakhir ini membuatnya menjadi berlebihan soal mengekspresikan perasaan.

Aku? Yang terbaik? Menurut Chaeri aku yang terbaik? Baiklah Baekhyun merasa makin gila, sejak kapan ia merasa senang untuk alasan sesepele itu? Hei itu tidak sepele! Hati Baekhyun yang lain berbicara. Dan Baekhyun mengangguk, menjadi yang terbaik untuk Chaeri tentu bukan hal yang sepele.

#

#

Aku tahu siapa yang disukai Chen!

Chaeri mengatakan hal itu berkali-kali pada dirinya sendiri. Ia benar-benar ingin berteriak pada kawan seperjuangannya Baekhyun. Maksudnya ini benar-benar terdengar tidak adil bagi Baekhyun. Siapa yang berinisiatif untuk mencari tahu perempuan itu? Itu Baekhyun! Siapa yang paling bersemangat hingga menceritakan seluruh profil murid perempuan di sekolah hanya untuk melihat dengan siapa Chen tertarik? Itu juga Baekhyun! Cara yang Chaeri lakukan benar-benar tidak berkelas dan terus terang jahat, ia hanya mengancam akan memberitahu Baekhyun kalau Chen pernah mengompol saat SMP dulu dan detik berikutnya Chen langsung menyebut nama perempuan itu. Nama sakral itu, nama yang menjadi misteri dan Chaeri mengetahui hal itu dengan cara mengancam, Chaeri merasa bersalah.

“Chaeri?”

“Hmm?” Chaeri langsung menengok, mendapati Baekhyun yang sedang memandangnya. Laki-laki itu tidak menyeringai atau apa, apa dia kelelahan setelah berkali-kali mempraktekkan pada Chaeri bagaimana cara menggayuh sepeda sambil berdiri?

“Kalau Chen menyukaimu apa yang akan lakukan?”

Demi Tuhan Baekhyun masih berkutat dengan kesimpulan konyol itu? Rasanya Chaeri ingin menjewer telinga Baekhyun dan berteriak tepat di depannya yang  masalahnya Chen sudah meminta jangan memberitahu siapapun. Dan sebagai teman baik Chaeri harus menjaga janjinya. Apa lebih baik aku memberitahu ciri-ciri perempuan itu? Setidaknya Baekhyun tidak akan terlalu bodoh untuk menebak hal-hal semacam itu kan?

“Kalau Chen menyukaiku— aku akan mengatakan padanya kalau aku menyukai laki-laki lain.” Tapi pertama Chaeri harus menjawab pertanyaan konyol ini.

“Kau benar-benar menyukai laki-laki?”

Chaeri memutar bola matanya. “Aku straight Baekhyun, aku menyukai lawan jenis.”

“Bu-bukan! Bukan itu maksudku! Apa kau benar-benar menyukai seseorang?”

“Tentu saja belum, kan kau bertanya kalau Chen menyukaiku? Aku hanya akan menjawab alasan terbaik kalau kita akan menolak seseorang. Kalau aku hanya bilang ‘maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu’ menurutku itu terlalu jahat dan kalau aku bilang ‘aku menyukai orang lain’ pasti dia mengerti karena dia tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang.”

Baekhyun diam. Metode Cheri boleh juga, mungkin dia akan melakukannya juga. “Oh aku mengerti.”

“Ngomong-ngomong soal perempuan yang disukai Chen—kurasa perempuannya—“

“Ah sudahlah.” Baekhyun berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang tertempel pasir di mana-mana.  “Aku tidak penasaran lagi, kalau dia memang tidak mau memberitahu ya sudah biarkan saja.”

“Baekhyun dengarkan aku dulu—“

“Dan kalau benar kau mengatakan hal itu pada Chen dan Chen menanyakan siapa laki-laki itu, siapa yang akan kau jawab?”

Chaeri menggigit bibitnya, kenapa Baekhyun masih berkutat pada hal itu? Kenapa fokus masalah mereka menjadi antara Chaeri dan Chen? Tokoh utama perempuan cerita cinta Jongdae bukan Chaeri! Dan dipikir-pikir Chaeri belum memutuskan siapa laki-laki malang yang akan menjadi korbannya, laki-laki yang pura-pura Chaeri sukai.

“Siapa Chaeri?” Baekhyun menatap Chaeri, antara takut dan penasaran.

“Hmm—“

“Siapa?”

“Biarkan aku berpikir—“

“Lama sekali, sebut saja nama laki-laki yang terlintas begitu kamu memikirkan kata-kata suka! Laki-laki yang menurutmu paling wajar disukai, laki-laki yang—“

“Kyungsoo.”

“Maaf siapa?”

“Do Kyungsoo.”

Baekhyun menelan ludah, memastikan apa yang di dengarnya benar. Ia diam untuk beberapa detik siapa tahu Chaeri akan meralat jawabannya tapi lima detik diam dan Chaeri masih tidak mengatakan apa-apa, saat itu Baekhyun tahu ia kalah bahkan sebelum memulainya.

#

#

Jari Kyungsoo mengetuk meja di depannya, di depannya memang ada sebuah koran yang terbuka siap dibaca tapi matanya memandang jalanan di depan dari tempat duduknya di cafe yang sudah didudukinya sejak dua jam lalu. Bukannya membaca artikel soal keluarga dari Korea Selatan yang bertemu kembali dengan keluarganya yang di Korea Utara mata Kyungsoo justru terfokus pada pasangan-pasangan yang lewat di depannya.

Ada yang bergandengan tangan, ada yang saling menyuapi es krim, ada juga yang terlihat berselisih. Kyungsoo memiringkan kepalanya mempertanyakan semua hal yang ia lihat. Apa mereka tidak takut bakteri yang berada di tangan pasangan mereka tertular? Bagaimana bisa mereka berbagi sendok semudah itu? Baiklah Kyungsoo tahu HIV tidak akan menular melalui air liur, tapi tetap saja kan? Intinya mereka berbagi air liur dan itu menjijikkan. Pengamatan Kyungsoo belum selesai, satu lagi di bawah pohon sana ada yang—

“Hei! Apa yang kau lihat? Perempuan cantik?” Seseorang membuyarkan lamunannya.

Luhan yang baru saja menyenggol Kyungsoo dengan sikutnya hanya menyeringai melihat temannya menatap balik dengan tajam. “Apa peduliku dengan perempuan cantik— kau bawa semua bukumu?”

Sambil mengeluarkan seluruh bukunya dari ransel Luhan memincingkan mata menatap jalan yang menjadi perhatian Kyungsoo tadi. “Kalau begitu apa? Apa ada sesuatu yang begitu simetris membuat hatimu berdebar?”

Persetan dengan simetris Kyungsoo memutar bola matanya.  Dari pada melanjutkan pembicaraan penting yang sebenarnya tidak terlalu penting itu dengan Luhan, Kyungsoo yang merasa perutnya sudah menuntut diisi makan segera beranjak dari kursinya.

“Oh ya Luhan, aku lupa memberitahumu.” Sambil mengambil ponselnya untuk mengecek pesan balasan dari salah satu ‘murid’nya sekali lagi Kyungsoo menatap jalan, memastikan apakah perempuan yang katanya akan datang beberapa menit itu sudah ada.

Luhan mengalihkan pandangannya dari koran pada Kyungsoo. Ada artikel menarik tenyata mahkluk bernama ‘Yeti’ benar-benar ada.  “Soal apa?”

“Hari ini aku juga akan mengajar orang lain, yah dia masih kecil jadi kalau jam belajarnya kugabungkan denganmu kurasa tidak akan merepotkan.”

“Hei Kyungsoo! Aku Luhan temanmu sudah membayarmu untuk seharian ini mengajarku dan kau seenaknya menggabungkan waktuku dengan orang lain?” Luhan mengerutkan dahinya, ia tidak terima.  

Kyungsoo menghela napas. “Ah sudahlah, aku pergi membeli makanan dulu, kalau kau melihat perempuan kecil yang memakai bandana kelinci segera beritahu aku.”

“Kalau aku melihat perempuan kecil memakai bandana kelinci aku akan mengusirnya mengatakan Kyungsoo sudah membuangmu.”

Kyungsoo hanya mengendikkan bahu tidak mengambil serius ancaman Luhan. Sebenarnya ia bisa saja makan di cafe tapi saat ini yang ingin ia makan makanan berat, mungkin berbau sea food? Meskipun ini musim panas Kyungsoo tidak peduli, ia ingin makan kepiting lada hitam. Dan menjadi terlalu obsesi dengan kepitingnya ia tidak menyadari perempuan berbandana kelinci baru saja masuk dan berpapasan dengannya.

#

Luhan sebenarnya selalu meletakkan belajar pada urutan terakhir dalam daftar apa yang harus dilakukannya. Tapi bicara soal belajar, ia tahu beberapa bulan lagi ia harus lulus dari sekolah, ini bukan pilihan bagi Luhan, ini kewajiban karena ia tidak mau mengulang setahun! Oleh karena itu liburan kali ini ia memutuskan untuk ikut kelas neraka (baca: musim panas) di sekolahnya, ia memang sudah berusaha untuk fokus tapi tetap saja cara guru sekolahnya mengajar tidak pernah diterima otaknya, dan sebagai orang yang bisa memanfaatkan apa saja disekelilingnya ia memutuskan untuk menyewa Kyungsoo sebagai guru privatnya.

“Permisi— guruku bilang aku harus mencari laki-laki bertopi biru— LUHAN OPPA?”

“Hhah?”

Luhan yang baru saja menengokkan kepalanya ke belakang menyadari seseorang menarik-narik bajunya. Ia mengerjapkan mata ada seorang perempuan kecil yang baru saja meneriakkan namanya. Dan yang terburuk, dia tahu siapa perempuan itu.

Melihat Hara yang masih membiarkan mulutnya menganga Luhan meletakkan telunjuknya di depan bibir meminta Hara untuk diam. Mereka berdua berhasil mendapatkan perhatian seluruh pengunjung cafe. “Siapa gurumu?” Luhan berbisik pelan.

“Do Kyungsoo.”

Tiba-tiba semua menjadi masuk akal ketika Luhan menyadari Hara yang sedang berdiri di depannya ini mengenakan bandana kelinci, dan pertanyaannya sekarang adalah—

“Hara!”

Baiklah Sena ikut.

Sena yang baru saja berlari menyusul sepupu kecilnya segera mengelus-ngelus dada  berusaha menenangkan jantungnya yang masih memompa kencang akibat mengejar Hara. Baru saja ia bernapas lega, tepat ketika ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk jantungnya kembali bekerja keras. “Demi tuhan Luhan, kenapa harus kau lagi?”

“Kenapa di antara sekian perempuan harus kau lagi? “ Luhan memutar bola matanya, ia kembali menghadap meja mengabaikan keinginan mulutnya untuk bertengkar dengan Sena. Tujuannya hari ini adalah belajar, apapun tidak dapat mengganggunya sekalipun hal itu adalah Sena.

“Apa kau sudah tahu siapa guru yang Hara maksud?” Mencoba damai Luhan memulai pembicaraan dengan Sena yang sudah duduk di sebelahnya ikut mengeluarkan buku-buku dari ransel.

“Aku baru tahu tadi pagi, orang tuaku hanya mengatakan anak teman mereka pintar dan bersedia mengajari Hara dan baru tadi Hara menyebutkan namanya ketika kami sarapan.” Sena menjawab pertanyaan Luhan dengan tenang, hari ini ia akan berdamai dengan Luhan, tujuannya hari ini adalah belajar dan apapun itu tidak dapat mengganggunya, bahkan Jongin atau Luhan sekalipun.

Luhan mendecak, apa artinya Sena akan ikut belajar bersama mereka? “Kau ikut belajar? Bukannya hanya menemani Hara di sini?”

“Apa urusanmu sih? Kalau aku mau belajar juga tidak ada hubungannya denganmu kan?” Baiklah, tidak jadi tenang, bersama Luhan tidak mungkin tenang.

“Tentu saja ada! Aku sudah membayar Kyungsoo hari ini dan kau datang mengganggu, sekarang ia tidak akan berfokus pada pelajaranku.” Ia berkata dengan jengkel sambil membalik-balik halaman bukunya dengan gusar.

Sena melebarkan matanya, ia baru ingat sesuatu. “Ngomong-ngomong apa Kyungsoo tahu kalau aku dan Hara sepupu? Apa dia mau mengajariku? Apa aku harus membayarnya juga?”

Sementara Sena mulai panik mengecek berapa uang di dompetnya untuk membayar Kyungsoo, Luhan hanya mengendikkan bahu.  Ia yakin Kyungsoo tidak akan sepelit itu untuk meminta uang temannya sendiri, dan Luhan membayar hanya untuk membuat Kyungsoo terikat dengannya, Sena tidak membayar pun tidak apa-apa.

Aish kenapa Kyungsoo lama sekali? Ada soal yang tidak kumengerti!”  Luhan mengacak-acak rambutnya. Sekarang di mana Kyungsoo? Ia tidak ingin tinggal bertiga bersama Hara dan Sena, kedua perempuan ini benar-benar berisik.

#

Baru saja Kyungsoo menghabiskan kepiting ketiganya ponsel miliknya bergetar. Kedua tangannya berlumur saus lada hitam membuatnya tidak bisa menerima panggilan itu (karena Kyungsoo memprioritaskan makanan dari pada menjawab panggilan telpon), nama Luhan tertera di layarnya dan Kyungsoo baru ingat ia meninggalkan dua muridnya di cafe.

Setelah menghela napas Kyungsoo memutuskan untuk menyudahi makan siangnya, bagaimanapun juga ia harus bertanggung jawab. Setelah mengelap tangannya dengan tisu ia membunyikan lonceng memanggil pelayan.

Tidak sampai sepuluh detik, pintu ruangannya bergeser dan pelayan yang masuk membuat Kyungsoo tergidik, ketika kita bertemu orang yang sama di beberapa tempat berbeda dengan tidak sengaja itu menyeramkan. Kyungsoo tidak peduli apa kata orang, terserah itu takdir atau kebetulan yang jelas ini menyeramkan.

“Kang Seukri?”

“Astaga D.O. lagi-lagi kau—“

Keduanya sama-sama terdiam, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ini benar-benar lucu kalau kita bertemu hanya sekali dua kali, atau paling tidak tiga, tapi dengan Seukri? Entah yang keberapa kali! Bahkan si pintar Kyungsoo sudah tidak bisa mengingatnya lagi.

“Wow, kita bertemu lagi—“ Kyungsoo terbatuk, tapi sekarang bukan waktunya basa basi, Kyungsoo punya urusan. Ia pun kembali memasang straight face nya dan bertingkah sebagai tamu yang tidak mengenal sosok pelayan di depannya.

Sama halnya dengan Seukri, ia juga lelah bertemu Kyungsoo sehingga menyadari Kyungsoo yang memilih tidak basa-basi sesungguhnya itu melegakan.

“Aku sudah selesai makan, bisa minta billnya?”

“Baiklah.” Seukri menjawab singkat dan keluar dari ruangan.

Mereka berdua sama-sama punya urusan, Kyungsoo sibuk dengan kelas mengajarnya dan Seukri dengan part timenya. Tapi jika keduanya bertemu lagi (di luar part time nya) Seukri tidak akan sungkan berbicara dengan Kyungsoo, kebanyakan orang pasti merasa canggung, mereka berpikir ‘tadi berlagak tidak kenal sekarang jadi dekat begini?’ Tapi Seukri tahu pertemanannya dengan Kyungsoo tidak akan menjadi canggung hanya dengan hal seperti itu.

#

#

Hari ini tidak ada yang mengerti jalan pikiran Byun Baekhyun.  Ketika Chaeri baru saja menyelesaikan istana pasirnya bersama Chen dan Daeha entah dari mana sebuah bola voli datang menghantam persis bangunan 1.5 meter yang mereka bangun susah payah. Dan itu Baekhyun, Chaeri tahu. Ketika Daeha dan Chen uring-uringan mencari siapa pelaku yang berani menghancurkan istana mereka Chaeri hanya mengambil bola itu dan melemparnya ke laut hingga hilang terbawa ombak. Baekhyun di balik semak hanya mengumpat mengetahui pilihan melempar istana dengan bola voli cukup salah.

Hari ini ketika Chaeri bersama Chen dan Daeha berjalan menyusuri tepi pantai mencari kulit kerang, tepat ketika ember kecil mereka hampir penuh seseorang melempar ember itu pada laut ketika mereka bertiga pergi untuk makan siang. Chaeri tahu itu Baekhyun, Daeha dan Chen mengutuk siapapun yang melakukan hal itu tapi yang Chaeri lakukan hanya meletakkan kelomang pada tas Baekhyun memastikan ketika laki-laki itu memakai handuk ia akan mendapati kelomang.

#

“Astaga!” Baekhyun melempar handuknya, mendapati tiga kelomang menempel di handuk yang nyaris akan menempel di tubuhnya.

Mencari masalah dengan Moon Chaeri sejujurnya tidak bermanfaat dan Baekhyun bingung kenapa ia masih melakukan itu. Hari ini ia baru saja menghancurkan liburan seseorang dan buruknya ia tidak merasa bersalah.

Baekhyun hanya ingin memberi Chaeri pelajaran, pelajaran karena pilihan Chaeri untuk memilih Kyungsoo dibanding Chen jelas salah. Kalau jawaban Chaeri adalah Kyungsoo maka Baekhyun memilih lebih baik jika Chaeri bersama Chen. Apa bagusnya Kyungsoo? Dia hanya sedikit tampan dan memiliki otak di atas rata-rata yang kurang berguna karena kemampuan sosial anak itu nol (Baekhyun berlebihan). Bagaimana bisa Chaeri lebih memilih Kyungsoo dibanding Chen?

Baiklah,  pertanyaan-pertanyaan itu semua hanyalah alasan, Chaeri bersama Chen atau Kyungsoo sama saja menyebalkannya bagi Baekhyun. Ia tidak memberi pelajaran pada Chaeri yang ia lakukan tadi hanya melampiaskan rasa kesalnya pada perempuan itu.

“Permisi Tuan-Siapapun-Namanya bisa kau minggir karena kau menghalangi jalan.”

Baekhyun menengokkan kepalanya dan mendapati Chaeri yang terlihat kesulitan mengangkat sebuah meja.

Sambil membuang muka Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada. “Nyonya-Aku-Tidak-Peduli-Siapa-Namamu kenapa kau tidak meminta Chen membantumu?”

Cheri memutar bola mata dan berusaha melanjutkan langkahnya untuk mengangkat meja yang akan dipakai mereka untuk makan malam. “Untuk apa kau peduli dengan orang yang bahkan namanya pun kau tidak peduli.”

Mengamati Chaeri yang sama sekali tidak meliriknya Baekhyun hanya mengendus. Tanpa sedikit pun terlihat ingin membantu laki-laki itu berjalan meninggalkan Chaeri yang dalam hati menyumpahnya. Chaeri kesal setengah mati dengan sikap Baekhyun beberapa jam belakangan ini (ini masih hitungan jam dan dia sudah sekesal itu?) Sejak nama Kyungsoo keluar sebagai jawaban Chaeri, perubahan eskpresi Baekhyun benar-benar drastis, yah tidak hanya ekspresinya, sikapnya juga.

“Tuan-Aku-Tidak-Perlu-Tahu-Siapa-Namamu! Bisa tolong panggil Chen untuk membantuku?” Chaeri berseru meminta bantuan pada Baekhyun, ia bisa pingsan jika terus mengangkut meja ini sendirian.

Detik ketik Baekhyun membalikkan kepalanya dan tersenyum pada Chaeri, saat itu Chaeri tahu ternyata Baekhyun tidak seburuk yang ia pikirkan. Chaeri baru saja ingin menarik sumpah serapahnya pada Baekhyun hingga tiba-tiba yang laki-laki itu lakukan hanya menjulurkan lidahnnya keluar dan kembali berjalan tidak menggubris permintaan Chaeri.

Baiklah Chaeri berjanji akan menyelesaikan masalah ini dengan Baekhyun, ia tidak tahan karena membenci seseorang tidak baik untuk kesehatan. Tapi apa kesalahan Chaeri? Apa harusnya dia tidak menyebutkan nama Kyungsoo pada Baekhyun?

#

#

“Kyungsoo aku lupa rumus untuk soal ini.”

“Oppa boleh aku minta kuemu?”

“Hei Kyung bagaimana kalau aku mencontek PR mu saja?”

Do Kyungsoo menghela napas. Lima belas terakhir ia sudah bolak balik beranjak dari kursi untuk menghampiri tiga muridnya yang merepotkan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mereka, Kyungsoo ingin marah tapi tidak tahu hal apa boleh ia menyalahkan mereka? Sena terus memanggilnya karena perempuan ini benar-benar punya masalah soal mengingat rumus, bahkan ia tertukar antara rumus Fisika dan Matematika! Sedangkan masalah untuk Hara ia hanya tidak biasa memakai pensil mekanik dan Kyungsoo sudah menyuruhnnya untuk mengganti jadi pensil kayu tapi Hara bersikeras dengan pensil mekanik yang ujung-ujungnya selalu membuat ia mengganti isi pensil setiap lima menit. Dan terakhir adalah Luhan yang tidak berhenti mengoceh soal betapa mengganggunya Sena, awalnya laki-laki ini bisa menjaga sikap tapi setengah jam kemudian pertahanannya runtuh dan ia selalu mengomentari apapun yang Sena lakukan (yang itu semua tidak penting.)

“Hei Sena! Remah biskuitmu mengenai buku tulisku!” Luhan mulai lagi dengan celotehnya.  Sena yang masih mengunyah biskuitnya hanya mengendikkan bahu dan tidak membalas protes Luhan.  Luhan selalu protes apapun tentang dirinya bahkan wangi shampo yang ia pakai pagi tadi.

“Ah Luhan Oppa berisik sekali, aku tidak mengerti bagaimana bisa dulu Se—“

“Hara jaga mulutmu.” Sena yang sigap membungkam mulut sepupu kecilnya langsung melirik Luhan. Menyadari Luhan yang masih sibuk dengan membersihkan buku dari remah biskuit Sena menghela napas lega, diantara sekian rahasia yang ia ceritakan pada Hara kenapa perempuan ini tahu rahasia mana yang paling parah?

Hara hanya menjulurkan lidahnya pada Sena, ia tidak pernah tertarik soal hubungan Sena dengan Luhan, kakak sepupunya ini tidak pernah serius dengan satu pria jadi ia tidak pernah mengharapkan kisah cinta spesial muncul di kehidupan Sena. Lebih dari itu ia lebih penasaran soal kehidupan cinta Oppa yang sedang mengajarnya.

“Hei Kyungsoo Oppa.” Hara beranjak dari kursinya dan berpindah pada kursi sebelah Kyungsoo yang kosong. Kyungsoo tidak menggubris panggilannya, paling Hara hanya akan memintanya untuk kembali mengisi pensil mekanik.

“Bagaimana kabarmu dengan perempuan waktu itu?” Hara tersenyum lebar, Kyungsoo persis seperti tokoh utama pria dingin yang ia baca di shoujo manga karena itulah ia tidak pernah kesal menanggapi Kyungsoo yang bersikap cuek padanya, itu memang karakternya menurut Hara.

“Perempuan itu?” Kyungsoo menaikkan alisnya dan menatap Hara bingung.

“Yang waktu itu kalian membangun istana pasir bersama, yang Oppa menggendongnya karena dia terjatuh—“

Mata Kyungsoo membulat bagaimana anak ini bisa mengingat peristiwa yang bahkan ia sendiri hampir lupa?  “Astaga mulutmu itu benar-benar..”

“Bagaimana Oppa? Apakah kalian masih bersama??” Hara menepis tangan Kyungsoo yang menutupi mulutnya. Ia tidak akan diam sampai Kyungsoo menjawab rasa penasarannya.

“Aku dan dia memang satu sekolah tentu saja kami bersama.” Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak perlu seorang anak kecil mencampuri hubungannya dengan siapapun.

“Maksudku bukan bersama itu! Apakah dia masih menjadi yeojachingu mu?”

“Hara kalau kau punya waktu untuk mencemaskan hubungan orang lain lebih baik kau cemaskan PR mu.” Kyungsoo memutar bola mata dan beranjak dari kursinya, ia sudah tahu gaya Hara, perempuan ini akan terus mengekorinya sampai Kyungsoo mau menjawab dan satu-satunya cara untuk menyiasati hal itu adalah—

“Aku ke toilet dulu.” Kyungsoo berbohong dan berdiri dari kursi meninggalkan Hara yang menggembungkan pipinya jengkel.

Luhan dan Sena sama sekali tidak mendengar percakapan Hara dan Kyungsoo, Luhan masih marah-marah soal remah biskuit yang sekarang mengenai celananya sementara Sena makin jengkel karena Luhan membuatnya terlihat menjadi pelaku kriminal hanya karena remah biskuit.

“Apa saat TK kau tidak diajarkan untuk makan dengan cara yang benar?” Laki-laki itu dengan geram merebut sepiring cookies dari depan Sena.

“Aku tidak diajarkan, lalu kenapa? Kau bisa mengajariku?” Sena mendongakkan kepalanya menantang Luhan.

Sambil mengusap wajah Luhan menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar membuatku gila Sena, aku hanya ingin memiliki minggu yang tenang dengan belajar dan kau menghancurkan semuanya dengan remah biskuit sialanmu itu.”

“Itu semua karena kau selalu berlebihan, apa remah biskuit yang mengenai buku tulismu bisa membuatmu mati? Kenapa kau selalu membenci apapun hal yang kulakukan? Kau bahkan memarahi mulutku yang belepotan susu sampai wangi sampo! Kau yang menghancurkan mingguku!” Sena mengepal tangannya berusaha menahan keinginan untuk menggebrak meja di depannya.

“Wangi sampomu itu polusi! Aku tahu kau menggunakan sampo sewangi itu hanya untuk menggoda Kyungsoo kan? Sudahlah Sena Kyungsoo tidak mungkin menyukaimu!”

Mata Sena membelalak, sekarang percakapan soal remah biskuit berganti jadi dia menyukai Kyungsoo? “Aku tidak menyukai Kyungsoo! Orang yang kusukai Jongin!”

“Ahh— sama saja aku tidak peduli, Sena si wanita murahan~ menyukai laki-laki siapapun itu~”  Luhan menutup telinganya dengan jari telunjuk tidak mau mendengar kalimat balasan Sena, hal itu selalu membuat jantungnya sakit.

“Aku tidak murahan!” Sena menggebrak meja.

“MU-RA-HAN. Park Sena wanita murahan—“

“STOP. Dari pada bertengkar lebih baik kalian ciuman saja!”

Luhan dan Sena menatap Hara yang tahu-tahu sudah berdiri di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama menganga, ciuman, itu seperti kata benda terakhir yang berada di kamus mereka.

Hara yang sedang bertolak pinggang bergantian memandang Sena dan Luhan dengan geram, telinganya capek mendengar perselisihan kedua orang yang tidak ada habisnya itu. Pertengkaran wanita dan pria itu sebenarnya lucu dan akan membuat mereka menjadi lebih dekat, tapi teori itu tidak berlaku untuk Luhan-Sena karena mereka—

“Kalian pasangan yang paling menyedihkan yang pernah kulihat.” Hara menggeleng-gelengkan kepalanya dan memijit kening berusaha menghilangkan pening melihat kakak sepupunya yang menjadi nenek sihir setiap bersama Luhan. “Bagaimana kalau kalian ciuman saja? Untuk menghilangkan pertengkaran, seperti di drama-drama ketika si wanita tidak ada habisnya berceloteh si pria menutup semuanya dengan ciuman lalu mereka berbaikan? Bagaimana?” Mata Hara berbinar memandang Sena dan Luhan bergantian.

“Menjijikkan.” Keduanya berkata bersamaan dan kembali membalik badan menghadap buku masing-masing. Lebih baik mereka diam daripada mendengar solusi Hara yang tidak masuk akal.

#

#

Chaeri baru saja selesai mengoleskan seluruh lotion pada tubuhnya, nyamuk malam sudah mulai beraksi dan mereka semua masih bersikeras bermain di pantai sampai jam 12 malam mengingat besok mereka akan kembali ke Seoul.

“Jongdae! Tolong bantu aku menghidupkan kembang api ini!” Ibu Kim meneriakkan nama anak laki-lakinya yang sedang membakar ikan tangkapan mereka bersama Baekhyun dan Daeha.

Chen mendecak dan menyerahkan kuas untuk membumbui ikannya pada Baekhyun. “Baek tolong kau urusi ini dulu, ingat kau harus merata saat mengoleskannya!”

Baekhyun hanya mengangguk dan mengambil alih tugas Chen mengolesi ikan-ikan itu dengan bumbu kecap. Sementara temannya sedang berlari menghampiri ibunya mata Baekhyun mengamati Chaeri yang sejak tadi hanya duduk di pinggir pantai tidak melakukan apa-apa. Biasanya Chaeri tidak akan menghabiskan waktu dengan melakukan hal tidak berguna, setidaknya dia akan membangun istana pasir atau mencari kepiting kecil dan sekarang yang perempuan ini lakukan benar-benar hanya diam.

“Kenapa Chaeri tidak ikut membakar ikan bersama kita?” Baekhyun bertanya pada Daeha yang kerjaannya hanya mengendus aroma ikan bakar.

“Dia bilang dia tidak mau berdekatan denganmu.” Daeha menjawab dengan datar tidak repot-repot melirik Baekhyun.

Mendengar jawaban tanpa keraguan itu Baekhyun hanya meniup poninya, perasaan kesalnya pada Chaeri sudah menghilang. Insiden tadi sore membuatnya merasa menjadi laki-laki paling bajingan.

#

Flashback

Baekhyun hanya mencibir melihat Chaeri yang melompat-lompat kesenangan di sebelah Chen yang baru saja merasakan kail pancingannya tertarik.

“Ayo Chen! Berusaha! Sepertinya ini ikan yang besar!” Sorakan Chaeri membuat telinga Baekhyun menjadi panas. Yang memancing di kapal ini bukan hanya Chen tapi kenapa yang Chaeri lihat hanya laki-laki itu?

“Sedikit lagi! Astaga Chaeri aku benar-benar jenius!” Chen juga sama saja terdengar noraknya. Mereka berdua sekarang benar-benar terlihat seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu di mata Baekhyun.

“Jangan terlalu percaya diri Chen—“ Baekhyun berbisik pada dirinya sendiri. Ini sudah hampir sejam dan tidak sedetik pun ia merasakan kailnya tertarik.

Ketika beberapa menit Baekhyun yang hampir mati kebosanan akan tertidur ia merasakan pancingannya bergerak. Mata yang sejak tadi hanya terbuka setengah itu segera membulat lebar. “Chaeri! Aku juga dapat—“

“CHEN! Kau mendapat ikan lagi!” Chaeri masih menjadi pemandu sorak Chen. Ia tidak mendengar Baekhyun, ia mengabaikannya (mungkin?). Baekhyun tidak mengerti, harusnya ia bersorak kegirangan karena sepertinya ikan yang ia dapatkan ini benar-benar besar, tapi ketika ia merasa tidak ada orang yang memperhatikannya, tidak ada Chaeri yang menganggapnya, ikan sebesar apapun tidak akan membuatnya senang.

Baekhyun menjatuhkan pancingannya, ia menelan ludah dan menatap laut biru jernih yang terlihat menggoda. Laut hari ini tenang, tidak ada salahnya ia terjun kan?

Sambil menggigit bibirnya berusaha menahan senyum karena memikirkan skenario rebut-kembali-perhatian-Chaeri! ia melangkahkan kakinya menuju pinggir kapal. Tepat ketika Chaeri kembali bersorak menyemangati Chen Baekhyun melompat dari kapal.  

“ASTAGA APA ITU?” Chaeri segera membalikkan badannya, sesuatu yang besar jatuh ke laut dan jantungnya hampir berhenti saat menyadari Baekhyun yang sejak tadi berdiri beberapa meter di belakangnya sudah tidak ada hanya menyisakan pancingan yang tergeletak begitu saja.

“Chen! Baekhyun jatuh ke laut!” Chaeri dengan sigap menarik Chen menuju tempat Baekhyun berdiri. Mata mereka berdua membelalak saat menyadari Baekhyun yang meronta-ronta di bawah sana.

“To-tolong aku!” Laki-laki itu menjerit berusaha mengeluarkan seluruh kemampuan aktingnya untuk terlihat tenggelam.

“Baek! Bukannya kau bisa berenang!?” Chen yang biasa santai terdengar kaget, ia tidak percaya temannya ini benar-benar tenggelam. Baekhyun yang ia tahu Baekhyun yang pernah mendapat juara satu saat pertandingan renang tahun lalu.

“Kakiku kram!!” Baekhyun masih terlihat berusaha keras untuk bisa mengambang. Ia benar-benar jenius dalam berakting.

“Chen! Ayo kau bisa berenangkan!?” Chaeri sudah terlalu panik, ia ingin menangis melihat temannya hampir mati di depan mata kepala sendiri.

“A-aku takut ada hiu—“

“ASTAGA.” Chaeri menepuk jidatnya, ia bisa gila.  Apa harus ia yang terjun? Chaeri bisa berenang, hanya sekedar bisa tapi Baekhyun harus diselamatkan!

“Chen cari ban di kabin kapal!” Sedetik setelah Chaeri meneriakkan perintahnya pada Chen ia segera melompat. Suhu dingin laut musim panas langsung menyejukkan kulitnya.

“Baekhyun! Kau masih punya tenaga!?” Chaeri yang tersengal-sengal karena terlalu panik menengok kanan-kiri mencari sosok Baekhyun.

“Baek? Kau di mana!?” Chaeri menyelam, sambil memaksakkan matanya melawan rasa perih ia menengok kanan kiri mencari sosok Baekhyun. Napas Chaeri hampir habis, dari dulu kelemahannya memang soal menahan napas, sejak kecil setiap ia bertanding bersama Daeha ia selalu kalah bahkan sebelum detik ke dua puluh.

“Chen! Aku tidak menemukan Baekhyun!” Dengan susah payah Chaeri menyembulkan kepalanya dari permukaan laut, kenapa Baekhyun menghilang begitu saja? Apa benar kata Chen di laut ini benar-benar ada hiu? Apa Baekhyun sudah termakan—“

“TADA!”

Baek!? Chaeri menjerit dalam hati.

Matanya membelalak saat menyadari suara itu tepat berada di belakangnya. Dan tepat ketika ia membalik badannya jawabannya sudah berada di sana.

“Byun Baekhyun kembali hidup! Apa kau merindukanku Chaeri? Ah lihat kau bahkan sudah menangis—“

“PLAK”

Selang beberapa detik setelah Baekhyun memberi kejutan pada Chaeri yang ia dapatkan justru tamparan keras. Mata Baekhyun membelalak, ia tidak bisa marah karena ia lebih terhipnotis pada bagaimana cara Chaeri memandangnya sekarang. Mata Chaeri merah dan berair, efek karena ia membuka matanya saat menyelam tadi atau bisa juga karena ia menangis. Rambut Chaeri yang biasanya tebal bergelombang menjadi lurus dan menutupi pipi dan mulutnya, Baekhyun ingin menyingkap rambut itu tapi tatapan Chaeri mengatakan mendekat-kau-kubunuh. Berat untuk mengakuinya tapi Baekhyun tahu, sekarang Moon Chaeri benar-benar sukses membencinya.

#

#

“Makanlah.”

Chaeri yang sejak tadi hanya memeluk lutut sambil memandang laut malam pura-pura tidak mendengar laki-laki yang baru saja duduk di sebelahnya ini.

“Nyonya-tolong-aku-butuh-perhatianmu kau belum makan sejak sore tadi, setidaknya makan ini.” Baekhyun meletakkan sepiring penuh marshmallow di depan Chaeri. Perempuan ini pernah mengatakan ia malas makan ikan karena sulit memisahkan duri dari dagingnya.

Chaeri masih menautkan alisnya, perutnya memang bergejolak minta diisi pasokan, tapi kalau makanan itu dari Baekhyun? Ugh maaf tidak.

“Aku lebih suka kau menamparku sekali lagi dua kali lipat lebih keras dari pada mengabaikanku seperti ini Chaeri.”

Chaeri masih diam, mulutnya masih terkunci untuk orang seperti Byun Baekhyun.

“Aku tahu sore tadi itu tindakan tersalah, bahkan lebih salah dari pada saat aku menghancurkan istana pasir kalian dengan bola voli— eh aku mengaku.”  Baekhyun menutup mulutnya sendiri, bagaimana bisa ia mengaku di saat-saat seperti ini? Chaeri hanya akan makin membencinya!

Mulut Chaeri masih terkatup, tapi perlahan ia merasakan mulutnya tersungging, sungguh ajaib Baekhyun masih bisa melawak di saat seperti ini.

“Saat itu aku hanya—“ Baekhyun diam, tidak mungkin dia mengatakan dia ingin merebut perhatian Chaeri dari Chen. “Aku hanya—“ Dengan panik Baekhyun menggigit bibirnya, aku hanya apa?

“Ibu! Hati-hati kau hampir melukaiku dengan kembang api!” Chen berseru dari ujung sana yang membuat Baekhyun diam-diam berterima kasih padanya.

“Aku hanya ingin membuktikkan pada Chen kalau di laut ini tidak ada hiu!” Baekhyun berkata yakin, ia menatap Chaeri hati-hati takut dan penasaran pada reaksinya.

“Kau tahu? Aku kira kau benar-benar ditelan bulat-bulat oleh Hiu. Tidak ada darah dan kau menghilang begitu saja—“ Chaeri akhirnya mau membuka mulut, matanya masih menatap laut karena ia pikir melihat Baekhyun hanya membuat emosinya kembali tidak stabil.

Baekhyun menghela napas lega, ia mengelus tengkuk lehernya dan menunduk. “Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Aku mau makan tapi aku baru saja memakai lotion apapun yang kusentuh rasanya akan pahit.” Chaeri melirik marshmallow warna warni yang terlihat menggoda untuk dimakan. Setelah ini ia berjanji tidak akan menjalankan aksi merajuk dengan mogok makan lagi karena itu benar-benar menyiksa.

“Katakan ‘Aaa’ “ Tahu-tahu Baekhyun sudah menjulurkan sepotong marshmallow di depan mulut Chaeri.

Perempun itu hanya mendengus tapi memutuskan tidak banyak protes dan mengikuti perintah Baekhyun. “Kenapa aku tidak boleh menyukai Kyungsoo?” Pertanyaan itu keluar begitu saja ketika Chaeri melihat wajah Baekhyun yang tersenyum, sudah lama ia tidak melihat wajah itu tersenyum di depannya.

Baekhyun meniup poninya, kenapa tiba-tiba Chaeri mengangkat topik ini? “Kenapa di antara sekian laki-laki harus Kyungsoo?”

Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Chaeri paling malas dengan hal itu. Sambil menelan marshmallownya Chaeri berpikir.  Tidak banyak teman laki-laki yang ia miliki selain Chen, Kyungsoo dan Baekhyun, dan kenapa harus Kyungsoo yang menjadi pilihannya? “Coba kau pikir Baek, katakan kalau aku menyukai Luhan apakah itu terdengar normal? Chaeri menyukai Luhan? Aku akan dimusuhi Bomi dan Chorong seumur hidup ah jangan lupakan Sena dia juga—“

“Kalau bukan Luhan?” Baekhyun memotong kalimat Chaeri, tentu saja tidak mungkin Luhan, itu paling aneh.

“Hmm” Chaeri mengelus dagunya, kalau bukan Luhan? Siapa lagi yang pernah berbicara dengannya? “Aahh Jongin? Dia jelas-jelas menyukai Sina! Aku tidak mau menyukai laki-laki yang sudah menyukai perempuan lain.”

“Selain Jongin?” Baekhyun mulai gemas, kenapa kau tidak sebutkan namaku? Baekhyun bertanya dalam hati.

“Sehun? Aku benci dia, dia selalu menitipkan buku padaku karena malas ke perpustakaan.”

“Ada lagi yang lain kan? Selain Luhan, Jongin, Sehun? “

Kali ini Chaeri menatap Baekhyun, ada apa dengan semua pertanyaan ini? Siapa lagi laki-laki yang mungkin— “Jangan bercanda aku tidak mau berpura-pura menyukai Sungjong.” Chaeri kembali menebak.

“Bukan Sungjong.”

“Sungjae? Tidak, Sunggyu? Tidak mungkin. Yang paling mungkin hanya Kyungsoo Baek! Pertama yang aku yakin dia tidak menyukai perempuan lain, jadi setidaknya aku masih punya harapan jika benar aku menyukainya.”

“Bukan Chaeri! Bukaaann!” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa ia harus melakukan telepati lagi? Di depan matamu ada laki-laki yang paling mungkin kau sukai kenapa kau tidak menyebutnya??

“Tidak mungkin aku menyukaimu Baek.”

Baiklah telepati antara Byun Baekhyun dan Moon Chaeri mulai lagi.

“Kenapa tidak mungkin?” Baekhyun menelan ludah dan melirik pada Chaeri, sebisa mungkin ia berusaha mengendalikan pipinya yang memanas, Baekhyun takut.

“Tidak ada cara aku akan menyukaimu, kau laki-laki menyebalkan yang paling pernah kutemui, kau merusak minggu pertamaku di sekolah karena kelakuan konyolmu meluncur dari tangga, kau juga menuduh aku mengupingmu, setiap kau menginap di rumah Jongdae kalian selalu tertawa cekikian dan itu mengganggu tidurku, dan jangan lupa— kau juga menyukai Nami, sudah kubilang kan aku tidak menyukai laki-laki yang sudah menyukai perempuan lain?”

Baekhyun hanya bisa memandang Chaeri dengan takjub, perempuan ini tidak akan menyukainya. Seratus persen Baekhyun yakin soal itu. Baekhyun! Kau sudah kalah kenapa masih seperti ini? Ia bertanya pada dirinya sendiri.

“Aku tidak menyukai Nami lagi, aku yakin itu.” Baekhyun berkata lemas. Ia ikut memeluk lutut dan ikut menatap laut, Moon Chaeri sudah membencinya apa lagi yang bisa ia lakukan?

“Tapi aku tidak membencimu Baek.”

Baekhyun diam. Ternyata sinyal telepati Baekhyun belum dimatikan.

“Aku tidak membencimu, maksudku aku memang tidak bohong soal bagian kau laki-laki paling menyebalkan yang pernah kutemui, tapi aku tidak bisa membencimu. Yah setidaknya kau masih punya sisi baik, aku suka saat kau mengelus kepalaku, aku juga merasa kau bisa menjadi guru yang baik meskipun galak, dan terakhir—“ Chaeri memiringkan kepalanya, berusaha menyusun kata-kata yang tepat.

“Aku juga suka matamu yang mengerling setiap aku menjelaskan fakta-fakta yang kebanyakan orang lupakan tapi kau tetap tertarik mendengarnya, seperti saat aku menjelaskan padamu kenapa gelembung berbentuk bulat dan kenapa kebanyakan daging ikan berwarna putih. Oh ya! Aku berjanji di sekolah nanti aku akan mempraktekkan padamu cara terbaik mengeluarkan saus tomat dari botolnya.”

Ini benar-benar berbahaya, Baekhyun yakin ia sudah mematikan sinyal telepatinya tapi kenapa Chaeri selalu tahu hal apa yang berada di pikirannya?

“Tapi tetap, aku tidak mungkin menyukaimu Baek. Pertama karena aku adalah Moon Chaeri dan kedua karena kau adalah Byun Baekhyun jadi tidak mungkin aku menyu—“

Baekhyun menghentikkan Chaeri menyelesaikan kalimat itu, ia menutup mulut Chaeri dengan bibirnya sendiri karena itu cara paling efektif dari pada mengatakan ‘tapi aku menyukaimu Chaeri’. Tidak ada kalimat yang bisa membuat seorang Chaeri mengerti kalau alasan ‘karena aku adalah Moon Chaeri dan kau adalah Byun Baekhyun’ alasan paling tidak masuk akal di dunia ini. Baekhyun tidak bodoh, ia tahu setelah ini Chaeri akan menamparnya, dua kali lipat lebih keras atau mungkin dua puluh kali lipat.

Apa yang akan dilakukannya nanti? Bagaimana bisa menghadapi Kyungsoo setelah libur musim panas ini? Dia baru saja merebut ciuman pertama seorang Chaeri kan? Apa Chen, ibunya, dan Daeha melihat hal ini? Tapi persetan dengan semua itu yang jelas Baekhyun baru tahu ternyata perempuan seperti Chaeri masih peduli dengan bibirnya,  lip balmnya rasa blueberry dan mint yang well, sepertinya itu akan menjadi rasa cream puff kesukaan Baekhyun mulai sekarang.

__________________________________________________________________________________

Author’s note

SELAMATKAN AUTHOR-NIM DARI BAEKCHAE FEELS YANG MENGGEBU-GEBU INI

AHH Baekhyun dayuuuuuuumn (kkaebsong~)

tolong jangan benci laki-laki yang baru saja merebut first kiss dari perempuan inosen seenaknya kkaebsong~

Dan oh! aku baru nyadar Detour memiliki banyak viewers! (well standarnya author pikrachu views hampir seratus itu lumayan banyak kkaebsong~)

Kebanyakan emang silent readers tapi tetep aja mereka masih bertahan baca sampai chapter 13 berarti mereka ngikutin cerita ini kan?? ASTAGA SALUT.

Aku cinta sama kalian semua yang baca, tapiiii lebih cinta lagi kalau diberi komen d(=w=)b

Anyway spoiler next chapter kita kembali ke sekolah! /nyetel Sherina – Kembali ke Sekolah/

DAN ITU ARTINYA ADA KYUNGSOO AKU KANGEN SAMA DIA.

102 thoughts on “Detour #14

  1. aduhh Firstkiss kah ??? grregettt suka banget sama baekchae kapelll mwaahh. lusena juga aku ngakak pasbagian hara “STOP. Dari pada bertengkar lebih baik kalian ciuman saja!” lucuu suka bangett

  2. aku juga mau dicium baekhyun kkaebsoongggg wkwkkw astaga, sebenernya masih penasarn sama yg disukai chen, nuguya???? seukri ya?? tqu ah gelap. jadi luhan masih gak tau kalo sena suka sama dia?? pliss couple disini pada absurd wakakaakaj

  3. Baek bener” cemburu berat kyknya,sampe berbuat konyol gitu.. :v
    Omo..g nyangka baek bakal nyium chaeri..gmn tuh reaksinya chaeri?

  4. OMO !! baekkie???? woahh daebakk !! si cewe dan baekkie ??? mungkib setelah ini bakalan timbul perasaan suka nih ?? >.<
    semangat thor ! ^^b

  5. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  6. Ya ampun ya ampun aku guling2an dikasur baca chapter ini! CHAPTER FAVORITEEE >< ah sudahlah gila lama2 ih. Dtnggu chapter slanjutnya.. SEMANGAT THOR BUAT KARYA YG LAIN

  7. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  8. omg omg omg😀
    gg bisa ngomng apa.. cuma bisa ketawa” sndri pas baca ini.. akhirnya yg dtunggu ..
    moga aja makin deket baekyun sma chaeri ..
    luhan sama sena uga..
    kyungsoo semngat mengajar ya..

  9. Gomen aku baru kasih comment di part ini:v aa un ceritanya seru banget! Sederhana tapi susah dijelaskan(?)haha baekhyunku manis banget disini😁 keep writing un!

  10. Si baek sih nyari perhatian sampe nyemplung ke laut segala-__-
    Oh ya, si luhan banyam komentar ya jadi cowok, cerewet, dia lebih baik jadi cwe sekalian aja deh supaya berantem sama sena saling narik rambut-__-
    Aaaaa? Ciuman pertama di curi!🙉🙊🙈

  11. Omegot! Baek! Kau menodai kain polosku!/apaini?_-
    telepatinya kapan mati kalo malah disambung dengan bibir? Kan makin rapet! Heol, mungkin tinggal nungguin feelnya Chaeri aja ya😀 couple ini mah aneh, tapi menghibur dengan segala yg ada hihi😀
    Hara tuh masih kecil, tapi kenapa pikirannya menjurus kedewasa? bahkan menyruh Luhan mencium Sena? yang benar saja

  12. Omegot! Baek! Kau menodai kain polosku!/apaini?_-
    telepatinya kapan mati kalo malah disambung dengan bibir? Kan makin rapet! Heol, mungkin tinggal nungguin feelnya Chaeri aja ya😀 couple ini mah aneh, tapi menghibur dengan segala yg ada hihi😀
    Hara tuh masih kecil, tapi kenapa pikirannya menjurus kedewasa? bahkan menyruh Luhan mencium Sena? yang benar saja
    apadah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s