It’s a Wonderful Cat’s Life [2/?]

cats-wonder_526F672C_zpsd90ac866 Chapter kedua setelah hiatus sebelum hiatus(?)

first day-meow!

now playing      B1A4 Seoul

 

Hal yang pertama kali V rasakan adalah rasa hangat yang melingkari lehernya. Serta udara dingin yang menusuknya dari segala arah. Tubuhnya merinding tanpa ia sadari. Suara erangan keluar dari tenggorokannya. Hidungnya bisa mencium banyak hal, udara pagi, asap kenalpot dan aroma kopi hangat – seperti pada depan cafe yang selalu ia lewati.

V enggan membuka matanya, merasa nyaman dengan posisinya sekarang, punggung bersandar kepada sesuatu. Bahkan, ia rasa udara dingin tidak dapat membuatnya membuka mata dan melihat di mana ia sekarang ini. V tidak menyadari ketika ia mendengkur, jelas-jelas merasa terlalu nyaman dengan kondisi ini.

Kopi… pikirnya. Ia menyukai bau minuman itu. Warnanya hitam pekat dan ia pernah mencobanya. Itu merupakan hal yang salah karena tidak ada sepuluh detik dari saat ia menjilat minuman itu, orang-orang dapat melihat seekor kucing nampak seperti sedang muntah di pinggiran jalan. Walaupun begitu, V tetap menyukai aroma yang dikeluarkan air pahit tersebut. Hanya saja… sekarang baunya terlalu pekat. Terlalu dekat.

Ia mengernyitkan hidungnya. Namun semakin ia berusaha untuk tidak memperhatikan aroma itu, V menemukan bahwa melakukan hal tersebut hanya semakin sulit saja. Setiap kali ia berusaha untuk memfokuskan perhatiannya ke hal yang lain, yang ada ia semakin menyadari keberadaan aroma kuat kopi tersebut. V mendengus, sebagai salah satu usaha agar ia tidak terbangun hanya karena bau yang ia cium.

“Ah…” V akhirnya mengerang saat rasanya ia sudah tidak tahan lagi. Tidak ada sepuluh detik semenjak ia mengeluarkan suara itu, ia berlahan berusaha membuka kedua matanya. “Menjauh,” katanya. Dan, bahkan ia tidak sadar akan fakta bahwa V adalah seekor kucing, dan kucing mengeong, bukan berbicara.

Tangannya mengibas, berusaha menjauhkan bau tersebut. Dan, ia sedikit terkejut karena aroma kopi itu lama-lama memudar. Matanya akhirnya terbuka, dan ia menyadari sesuatu. Entah kenapa V merasa dunia menjadi lebih kecil. Sepertinya orang-orang di sekitarnya mengecil hingga seekuran dengan kucing tersebut.

Atau apa yang dahulunya adalah kucing.

“Eh?!” V tersontak. Kedua tangannya meraih tempat ia sedang duduk, kukunya mencengkram kursi itu, walaupun hanya sebatas apa yang ia dapat cengkram dengan jemari manusianya. Perasaan menyentuh sesuatu dengan ujung jari-jarinya yang asing, hanya menambahkan kepanikan awalnya.

Tarik napas, buang napas… ini semua hanya mimpi. V menutup kedua matanya dan menarik napas panjang kemudian membuangnya setelah tiga detik. “Ini semua hanya bagian dari imajinasi terliarmu saja…” V membuka matanya ketika ia berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baru saja mengeong, dan telinganya saja yang salah mendengar.

“Hei, jangan tertidur lagi. Kau bisa terkena hipotermia,” seseorang berkata. V memutar kepalanya berlahan ke arah datang suara tersebut. Dan, ia berusaha untuk tidak berteriak ketika ia menatap ke kedua bola mata berwarna cokelat yang menatapnya datar. Namun, bukan itu yang membuat ia terkejut. Tetapi karena fakta bahwa ia melihat ke mata manusia, bukan ke manusia itu sendiri.

Gadis di depannya menatapnya bingung. “Apa… apa kau tidak apa-apa?” perempuan itu terdengar tidak yakin ketika ia bertanya kepada V. V menganggukan kepalanya.

Ia melihat ke bawah, kedua kaki manusia – yang cukup panjang – berada di sana menggantikan dua kaki belakangnya yang bewarna jingga. Dan, sepertinya ia tidak bisa merasakan keberadaan ekornya. V mengangkat kedua tangannya yang gemetar. Tidak ada kuku yang biasa tersembunyi, dan mereka tampak tidak membahayakan sama sekali. Ia sudah tidak terlalu terkejut ketika menyadari ia juga memiliki tubuh manusia.

Walaupun ia ingin percaya semua ini merupakan bagian dari sebuah mimpi buruk, ketika ia menyentuh wajahnya, V yakin ini semua adalah nyata. Ia tidak sedang tertidur dan jelas-jelas ia sedang sadar. Matanya melebar ketika menyadari keberadaan tekstur lembut di sekitar lehernya.

“Aku pikir kau kedinginan, jadi aku pinjamkan itu,” gadis itu menunjuk ke syal merah yang melingkari leher lelaki itu. “Lagipula, siapa yang memakai kaos dan celana jeans saat musim sudah mulai dingin?” ujar perempuan itu pelan sambil menghirup aroma kopi di gelas yang ia sedang pegang.

V menatapnya bingung. Kepalanya rasanya mau meledak karena harus beradaptasi akan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Tapi, ia hanya mengangguk saja, berpikir untuk saat ini, respon itulah yang terbaik. Dan, V belum dapat 100% nyaman ketika mendengar dirinya berbicara dengan bahasa manusia, bahkan sampai ada yang memahaminya.

Wajah gadis itu sedikit menunjukkan rasa bingung. “Ya sudah,” perempuan itu berdiri sambil memasukan salah satu tangannya ke dalam saku celana yang sedang ia pakai. “Aku agak sibuk, jadi aku harus segera pergi,” katanya.

Ia menyeruput kopi yang ia sedang pegang dan kemudian melirik ke arah V yang masih melongo sejak tadi. “Kau bisa simpan syal itu. Sepertinya kamu lebih membutuhkannya daripada aku”.

Dan V hanya dapat menatap punggung perempuan itu. Menjauh darinya. Manusia yang dahulunya kucing itu, hanya termenung. Ia masih bingung dan tidak mengerti. “Ow!” ia mengerang keras saat ia mencubit pipinya sendiri. Benar apa yang ia pikirkan sebelumnya, ini semua bukanlah mimpi. Namun mengetahui itu saja tidaklah cukup.

V terbiasa akan hidup menjadi kucing. Tidak peduli kemana ia harus pergi, harus apa, dengan siapa. Sebuah kebebasan. Namun, sekarang dengan rasa tidak yakin, takut dan asing, V merasa amat takut. Walaupun ia tidak ingin mengakuinya, setelah perempuan itu meninggalkannya sendiri, semua ketakutannya hanya berlipat ganda.

“Jangan tinggalkan aku sendiri…”

 

Jung Shinyoung, sembilan belas tahun dan baru memasuki dunia kuliah, sedang dalam masalah besar. Terkadang ia bingung kenapa ia harus terlalu mudah merasa bersalah. Kalau ia sedikit tegaan, ia sedang tidak terperangkap di tengah-tengah kemacetan dengan seseorang sedang menunggunya. Perempuan itu duduk dengan tidak nyaman di kursi taksi. Ia ingin meminta supir untuk menginjak gas lebih keras. Namun, terkena kecelakan terdengar lebih repot dibandingkan harus bertahan dengan omelan kakak kelasnya.

Pada akhirnya Shinyoung hanya menghelakan napas saat ia telah sampai ke tujuannya. Hingga sekarang ia tetap tidak mengerti mengapa setiap kali mereka bertemu, ia harus datang jauh-jauh ke sebuah restoran untuk menyicipi apa saja yang kakak kelasnya ingin makan pada saat itu. Apabila ia boleh mengeluh, Shinyoung sudah akan melakukannya pada detik pertama kakak kelasnya mengatakan itu padanya.

Membayar uang taksi pas-pasan, perempuan itu bergegas masuk ke dalam restoran. Shinyoung langsung disambut dengan aroma ramen dan udon. Dan, dengan mudah ia dapat melihat kakak kelasnya, seorang gadis dengan rambut sebahu yang tampak lebih pendek dari sebenarnya. Panci besar di depannya mengepul di saat ramen dan udon, ditambah dengan daging dan sayuran yang lain, mulai matang.

Sebelum Shinyoung dapat menemukan kata-kata pertama untuk menyapa perempuan yang lebih tua itu, mulut penuh dengan nasi merah dan mie ramen mendahuluinya. “Kau terlambat,” ujarnya, menyatakan hal yang Shinyong juga tahu dengan baik. “Ada sesuatu di jalan, Eunbi sunbaenim,” Shinyoung berdalih sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.

Perempuan di depannya, Eunbi, hanya menyengir. “Aku tahu,” katanya pendek sambil mengibaskan tangannya ke arah kaca dimana dengan mudah dapat melihat jalanan ramai yang tidak seperti biasanya. “Dan, bukankah aku sudah ingatkan untuk memanggilku ‘unni’? Kita ‘kan sudah saling kenal cukup lama”.

Shinyoung memutarkan bola matanya. “Ya, hanya lebih tua dua bulan. Untuk alasan yang jelas aku tidak ingin memanggilmu dengan sebutan ‘unni’,” kata-kata perempuan yang lebih muda itu menusuk tajam hingga Eunbi hanya tertawa pelan.

Menyuapi dirinya dengan sesendok nasi merah, Eunbi menunjuk mangkuk nasi di depan Shinyoung. “Ayo makan, ini lezat sekali,” Eunbi nampak tidak memperhatikan fakta dimana ia adalah seorang perempuan yang berumur dua puluh tahun dan ia berbicara dengan mulut penuh. “Kau sih terlambat, makanannya sekarang sudah dingin!”

Menggelengkan kepalanya, Shinyoung berdecak. Walaupun begitu ia meraih sendok dan membuka mangkuk stainless di hadapannya. “Aku terkadang tidak percaya Eunbi sunbaenim lebih tua daripada aku”.

Kunyahan Eunbi menjadi lebih pelan ketika ia menyipitkan matanya ke arah Shinyong. “Dan aku tidak pernah percaya alasan kenapa kau bilang aku kakak kelas yang suka mengomel, dasar Ibu Mertua”. Shinyong hanya memakan sesendok makanannya dengan cemberut ketika mendengar nama ‘kesayangannya’ itu.

“Sudah sana makan,” semprot Shinyoung sambil memasukan tambahan lauk ke mangkuk Eunbi, setengah gusar.

 

Terkadang Shinyoung tidak mengerti mengapa ia selalu meminta bantuan Eunbi pada hubungan pelajaran, walaupun Eunbi sendiri sering kali mengatakan bahwa gadis yang lebih muda itu lebih pandai dari pada dirinya. Mungkin Shinyong hanya butuh bantuan mental, mungkin.

Ia melihat catatan pelajarannya yang tertulis rapih saat ia berjalan di jalan sepi menuju rumahnya. Kakinya sudah sangat pegal saat harus menyusuri trotoar. Shinyoung mendongak ke atas dan dapat melihat langit berwarna jingga. Hari sudah senja—terkadang ia tidak sadar waktu ketika menghabiskan waktu dengan kakak kelasnya yang satu itu—dan angin musim gugur sudah mulai membuatnya menggigil. “Ah, kenapa aku harus memberikan syalku ke orang itu ya…” katanya pelan.

Menghembuskan napasnya, Shinyoung memutar tubuhnya untuk dapat membuka tas yang bergelayut di punggungnya. Ia harus berhenti berjalan agar ia dapat lebih mudah memasukan bukunya ke dalam tas. Tetapi, sesuatu yang aneh terjadi. Seingatnya hari masih cukup terang—seterang-terangnya sore hari, namun sekarang ia merasa seperti ada bayangan yang membuat pandangannya menjadi gelap.

Masih dengan tubuh memutar, Shinyoung menengok ke depan dan mendongakkan kepalanya. Ia begitu terkejut saat melihat wajah yang pernah ia lihat. Ia pasti melongo. Dan ia tahu itu sangatlah tidak sopan untuk menatap seseorang dengan ekspersi yang sekarang ia tengah pakai. “Eh…”

Sebelum Shinyoung dapat mengatakan sesuatu, sebuah benda yang familiar dengan dirinya, disodorkan ke arahnya. Syalnya dengan warna merah terang—terkadang Shinyoung menganggapnya sedikit memalukan. Tapi ia benar-benar yakin, itu miliknya. Dan miliknya seharusnya tidak berada di hadapannya sekarang. Mungkin, itulah alasan mengapa ia sedang menatap wajah yang ia baru lihat pagi ini.

Membetulkan posisinya, wajah Shinyoung menunjukan rasa bingungnya dengan jelas. “Apakah ada yang bisa aku bantu?” ia bertanya, berusaha terdengar sopan walaupun pada kenyataannya terdapat ratusan kemungkinan mengapa lelaki ini bisa ada dihadapannya sekarang, syal merah miliknya di tangan.

“Dingin”. Sebelah alis Shinyoung terangkat saat mendengar suara serak dari lelaki itu, seakan-akan ia hampir tidak pernah berbicara sebelumnya. Sebelumnya Shinyoung belum memperhatikan fitur dari orang itu. Yang ia ingat adalah rambut pendek yang acak adul, seperti baru saja bangun tidur, tubuh yang tinggi, tidak kurus dan tidak gendut, dan tentu saja, sepasang mata yang seperti menanyakan hal-hal kecil mengenai mengapa lampu dapat menyala.

Tetapi sekarang ia bisa melihat betapa aneh cara lelaki itu berdiri. Cara berdirinya bungkuk. Walaupun kedua matanya melihat ke arahnya, mata lelaki itu pindah dari satu objek ke objek yang lain, takut dan tidak nyaman terlintas di matanya.

Syal merah tiba-tibanya hanya kurang 1cm dari wajahnya. “Dingin. Ini,” lelaki itu menyodorkan syal itu lagi. Shinyong mengedipkan matanya dan kemudian mengerti apa yang ia maksud.

Shinyoung menghelakan napasnya. “Lihat pakaianmu,” gadis itu menunjuk pakaian berbahan kaos yang dipakai lelaki itu. “Kau kedinginan, kau butuh itu lebih dari aku,” jelasnya. Kata-katanya seperti masuk telinga kanan dan keluar dari telinga yang lain. Meniup poninya, setengah kesal setengah bingung, Shinyoung berkecak pinggang. “Ya sudah, kalau kau tidak butuh,” ia mengadahkan tangannya, “kembalikan”.

Senyum merekah di wajah lelaki itu. Namun yang mengejutkan adalah syal yang dilingkarkan di sekitar lehernya. Shinyong berusaha mengatakan rasa hangat di kedua pipinya, hanyalah karena angin menjadi lebih dingin. Ia berdehem. “Err…” Shinyoung tidak tau ia harus bicara apa, ia hanya mengangkat sebelah tangannya. “Sampai jumpa… nanti,” ia tidak tau mengapa ia mengatakan hal itu. Jung Shinyoung tidak berharap mereka akan bertemu lagi ‘kan? Mengesampingkan pikiran itu, Shinyong setengah berlari saat ia berjalan lagi, tiba-tiba ia ingin cepat-cepat pulang.

“Tunggu!” lelaki tadi mengejarnya dan dalam otak Shinyoung sudah ada banya tulisan ‘WARNING, stalker alert!’ Shinyoung dalam keadaan panik saat melompat masuk ke dalam bis. Orang tadi tetap mengikutinya. Ia tidak membayar masuk bis tapi entah kenapa dapat tetap duduk di salah satu kursi sementara Shinyoung meraih pegangan. Matanya tidak terlepas dari lelaki tadi yang menatap setiap orang seakan-akan melihat ke arah manusia merupakan hal paling abnormal di seluruh hidupnya.

Shinyoung menggelengkan kepalanya. Mungkin laki-laki itu tidak bermaksud mengikutinya. Mungkin mereka memang harus menaiki bis yang sama. Gadis itu menatap keluar jendela, melihat ke langit Seoul yang lama-lama kehilangan warna jingga hangatnya.

 

Shinyoung, kau harus berpikir positif! Optimis! Tidak semua hal harus kau takuti. Itu merupakan hal-hal yang selalu dikatakan oleh orang lain padanya. Tetapi, itu semua seperti menguap ke udara saat Shinyoung berjalan dengan kaku di jalanan menuju rumahnya, lelaki tadi masih berjalan di belakangnya. Dan kalau bukan raut wajah ketakutan laki-laki itu, Shinyoung pasti sudah ambil langkah seribu.

Langit sudah semakin gelap dan samar-samar bulan dapat terlihat di langit. Shinyoung menghelakan napas saat rumahnya sudah terlihat. Ia segera mengambil langkah untuk berlari. Gadis itu sudah tidak terkejut saat lelaki itu berlari mengejarnya. Mungkin aku harus berteriak marah-marah sekarang… ia sudah mulai membuatku kesal—bila sebelumnya ia belum melakukannya… Dengan pikiran itu di kepala, Shinyoung berhenti di depan rumahnya, lelaki itu tepat di belakangnya.

Memutar tubuhnya tiba-tiba, Shinyoung berusaha terlihat sekesal mungkin. Sial, kenapa kakaknya harus sedang pergi ketika hal seperti ini terjadi. Seumur hidup Shinyoung tidak pernah punya seorang penguntit. “Kenapa kau mengikutiku?” kata-katanya dipenuhi kemarahan—yang sedikit dibuat-buat, tapi itu bukan inti permasalahannya. Shinyoung merasa sedikit bersalah karena laki-laki itu nampak lebih takut dari dirinya.

Tapi itu bukan alasan untuk melembutkan hati, Shinyong mengingatkan dirinya sendiri. “Sana pulang,” serunya kepada orang asing yang kulitnya mulai berwarna pucat karena kedinginan.

“Aku… Aku tidak bisa pulang,” jawab lelaki itu, setengah tidak yakin dengan ucapannya sendiri dan matanya menolak untuk membalas tatapan marah Shinyoung. Yang benar saja… pikir gadis itu.

“Memangnya kamu apa?” tanyanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Anak kabur dari rumah? Dari hutang? Tersesat? Gelandangan—“

“Kucing”. Mata Shinyoung terbelalak. Lelaki itu berdehem, berusaha berbicara lebih keras. “Aku seekor kucing—atau seingatku aku dulunya adalah seekor kucing…” lanjutnya, nampak bingung sendiri.

Jawaban lelaki itu membuat Shinyoung langsung terdiam. Apakah ia mengejekku? Pikir Shinyong, merasa perkataan laki-laki itu terlalu tidak masuk akal. Tawa sinis keluar dari mulut Shinyong. “Yah, aku memang tidak pintar,” ujar Shinyong, walaupun suara kecil Eunbi di kepalanya berkata hal yang sebaliknya. “Tapi, apa menurutmu aku akan percaya?” Nada suaranya naik pada kata terakhir di kalimatnya.

“Kau, pasang telingamu baik-baik,” Shinyoung melangkah sekali, lelaki di depannya mentapnya dengan mata lebar, takut akan apa yang akan dilakukan gadis di hadapannya. Tubuhnya yang lebih tinggi dan lebih besar serasa mengecil tiba-tiba di bawah tatapan tajam seorang Jung Shinyoung.

“Aku lebih baik lompat ke sungai Han daripada percaya kau itu seekor kucing!”

 

“Berhenti mengeong Jimin!” Suga mendesis ke arah kucing berbulu abu-abu yang bolak-balik terus dengan langkah depat. Ekor mengibas-ibas di belakangnya.

Jimin berhenti dan memutar kepalanya ke arah kucing yang lebih tua. “Aku bisa berhenti mengeong apabila aku sudah bisa berhenti panik!” mata birunya memandang tajam ke arah kucing berbulu putih itu. Mendiamkan tatapannya satu detik lebih lama, Jimin kembali berputar-putar di tempat yang sama, mengatakan sesuatu dengan suara kecil dan tempo cepat—seperti orang yang sedang rap.

Suga hanya menghelakan napasnya. “Aku ‘kan hanya mengingatkan,” katanya setengah kesal. Ia juga khawatir dimana V sekarang. Namun, apa yang sedang dilakukan Jimin tidak akan membuahkan hasil bila dilihat dari sisi manapun.

Kucing di sampingnya hanya menguap. “Sudahlah Suga, dia kucing terakhir yang melihat V masih berjalan dan melompat,” ujar J-Hope yang setengah tertidur, kelelahan karena ia nyaris tidak tidur semalam. “Jadi wajar saja kalau dia yang paling panik di antara kita bertiga”.

Mata kedua kucing itu terpaku pada Jimin yang masih ngedumel sendiri. Mengomel akan sikap V yang memiliki tingkat kosentrasi sekecil kutu. “Hei, apakah kau sudah memeriksa semua tempat?” Suga bertanya kepada Jimin. Mata biru milik Jimin menatapnya.

“Tentu saja sudah!” Jimin berteriak, membuat Suga dan J-Hope meringis. “Aku sudah berkeliling ke tempat-tempat biasanya ia berjalan-jalan; belakang toko daging, taman, café, bahkan aku sudah sampai ke dasar tong sampah. Ia.Tidak.Ada.Dimana-mana!” mengakhiri kata-katanya, kucing bermata biru itu kembali ke hobinya yang baru, berputar-putar seperti komudi putar.

“Sudahkah kau bertanya ke RapMon atau Jin?” J-Hope tiba-tiba berbicara. “Mereka lebih tahu tempat-tempat. Dan lagipula, kita jarang keluar daerah ini. Siapa tahu V tersesat tadi malam dan tidak tahu jalan pulang,” ia memberi saran.

Jimin berhenti melangkah, sebelah telinganya mendelik. Mungkin benar apa yang dikatakan kucing yang lain itu. Tapi, Jimin tidak habis pikir. Ia telah menghabiskan waktunya bersama dengan kucing jingga itu semenjak mereka lahir. Jimin tahu dimana V akan pergi, kapan ia akan kehilangan kosentrasinya serta hal-hal yang membuatnya berhenti dan mulai menatap benda itu dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Secara kasar, bahkan seekor Jimin bisa tahu dimana V akan melakukan ‘urusannya’!

Oleh karena itu ia tidak habis pikir. Jimin memutar kepalanya ke arah kedua kucing yang mentapnya, menunggu reaksi kucing yang dari tadi tidak bisa diam. “V pergi ke tempat yang belum ia pernah datangi?” Jimin bertanya tidak ke siapa-siapa—lebih ke dirinya sendiri. Sebagian dari dirinya ingin percaya V tidak melakukannya, namun bagian lain dari dirinya berpikir sebaliknya, begitu juga dengan nada bingung bercampur bentuk kekhawatiran baru yang ada pada ucapannya.

“Ia tidak sebodoh itu ‘kan?”

 

Ia benar-benar bodoh, konyol, seekor kucing—yang sekarang seorang manusia yang tolol.

V sangat bingung saat perempuan yang menolongnya pergi. V selalu menatap dunia manusia dengan rasa ingin tahu, namun perasaan baru mendatanginya. Rasa takut. Sebeberapa keras ia berusaha menghalau perasaannya itu, tetapi mereka tetap terus kembali. Tangannya menggenggam erat halusnya syal merah di sekeliling leher manusianya. Dan tanpa ia sadari, kakinya sudah melangkah mengikuti perempuan itu.

Ia berusaha berjalan pada jarak yang aman. Untunglah ia tidak lupa cara menyelinap di antara kerumunan orang—sebuah kemampuan yang ia miliki saat bertubuh kucing. Beberapa kali ia menjadi panik ketika ia kehilangan figur perempuan itu di antara banyaknya manusia. Ditambah dengan hal-hal baru yang V bisa lihat atas pertolongan tinggi tubuhnya.

Sebelum ia sadari, V sudah berada pada daerah yang belum ia kunjungi. Semuanya terlihat asing. Ia tidak menemukan hal yang mengingatkannya akan rumah. Ditambah lagi hidung manusianya membatasi kemampuan mencium aromanya. Dan itu diperburuk dengan seorang tante-tante yang menggunakan parfum yang kuat—benar-benar menghancurkan indera penciumannya.

Oleh karena itu V terus berada di sekitar perempuan yang telah ia ikuti seharian, tanpa gadis itu ketahui. Sampai ia mendatanginya dan memberikan syalnya. V masih merasa aneh berbicara dengan manusia. Walaupun begitu, ia tahu perempuan itu tidak nyaman dengan dirinya. Namun, ia bukan pada posisi yang bisa memilih ‘kan?

Dan sampailah ia di sini. Punggung gadis yang terang-terangan memilih terjun ke sungai Han dibandingkan percaya bahwa sebelum hari ini dimulai V adalah kucing jingga yang tinggal di jalanan—walaupun, ia sendiri tidak sepenuhnya percaya. Tapi apa mau dikata. Ia tidak punya jalan lain lagi. Ia benar-benar takut, V tidak pernah tahu kehidupan menjadi manusia begitu mengerikan.

Suara kunci gembok terbuka membuatnya semakin takut. Tangannya berusaha meraih pundak perempuan itu. Ia ingin mengatakan jangan pergi. Tapi, bukankah itu terdengar aneh keluar dari V, seekor kucing yang mencintai kebebasan tanpa ada yang mengikatnya?

Ujung jemarinya menyentuh bahan pakaian yang dipakai oleh perempuan itu. Hanya sedetik, sebelum matahari di langit benar-benar menghilang dan rasa sakit di seluruh tubuhnya kembali. Mendorongnya, menekannya. Rasanya tulang-tulangnya dipatahkan menjadi bagian-bagian yang kecil. V hanya bisa meringis.

Di saat yang sema perempuan itu—Shinyoung, sudah kehilangan kesabarannya. Ia memutar tubuhnya, wajahnya menunjukkan ia bisa memakai buku pelajarannya untuk menghantam wajah lelaki yang mengaku dirinya kucing itu. “Apa lagi—“

Namun tidak ada seseorang pun di sana. Oke, tenang Jung Shinyoung. Tetanggamu hanya bercanda saat ia bilang anjingnya merasakan adanya hantu di depan rumahnya. Tetap saja ia melompat saat sesuatu menyentuh pergelangan kakinya. Ketika ia menatap ke bawah, ia melihat seekor kucing berwarna jingga menatap balik ke arahnya. Shinyoung mengedipkan matanya. Jangan bilang—

“Ah, aku kembali menjadi kucing…” kucing itu berbicara. Dan gadis itu dapat mendengarnya.

Shinyoung hanya bisa berteriak. Saat ia mulai bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar, sedikit takut ia menunjuk ke arah kucing yang seperti sedang menunjuk ke arah zombie. “K-kau… K-kau seekor k-kucing? D-dan a-aku bisa mengerti me-meonganmu?” Shinyoung terdengar tidak percaya sendiri.

V menganggukkan kepalanya. “Aku ‘kan sudah berusaha memberitahumu dari tadi…”

“Tetap saja itu tidak masuk akal!” Shinyoung sekerang memegang kepalanya dengan kedua tangannya, seperti takut sesuatu akan terlempar ke arahnya. Ia terjongkok, melihat kucing jingga yang masih saja menatapnya dengan tatapan yang ia kenal hari ini, di lehernya terdapat kalung dengan bel berwarna transparan menggantung.

Shinyoung menutup matanya dan menghitung sampai lima kemudia membukanya lagi. Hanya kembali bertemu dengan tatapan penuh tanda tanya dari V. “Ahh… sepertinya lelaki tadi benar-benar seekor kucing…” ia berbicara layaknya itu adalah hal terwajar yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

“Akhirnya kau percaya!” V terdengar teramat lega. Berbeda dengan Shinyoung yang erangannya menjadi lebih keras saat ia juga dapat mendengar perkataan V dengan jelas di telinganya, walaupun yang dihadapannya adalah kucing yang 100% tidak mengerti bahasa manusia.

Tangannya mengacak-acak rambutnya yang sudah seperti orang bangun tidur. “Aku bisa jadi gila! Haruskah aku pergi ke sungai Han sekarang?”

“Nah, nah, sekarang jangan lompat ke sungai ya… Hanya aku yang tahu dan asal kamu tahu: kucing tidak suka air,” meong V dengan nada menghibur, tidak sadar ia hanya memperburuk keadaan.

 

AUTHOR'S NOTE

Chapter ini udah menunggu diselesaikan semenjak awal tahun tapi… kebanyakan delay-nya walaupun awalnya mau di-post setelah MV Boy in Luv Bangtan Boys keluar.

Update berikutnya gak tahu kapan, tapi bila ada waktu akan kukerjakan (selain cerita di AFF yang belum dilanjutin juga… -.-")!

ITSREDPENGUIN SIGN OUT!

8 thoughts on “It’s a Wonderful Cat’s Life [2/?]

  1. HHAH yaampun ternyata V enggak permanen jadi manusianya o.o
    Entah kenapa di mataku V yang baru jadi manusia dengan punggung bungkuk terlihat begitu menggemaskan dan eh emang dia tinggi?? aku mikirnya v kayak bocah kecil tinggi 173an

    Terus aku ketawa baca bagian ini “Shinyoung merasa sedikit bersalah karena laki-laki itu nampak lebih takut dari dirinya.”

    Ada ya stalker yang lebih takut daripada yang diikutinnya😄

    • V tingginya 178. Gak tinggi2 bgt sih (skrg mah satu band bisa orang2nya plg pendek 180 -.-“)

      Dan V tetap bisa jadi kucing karena… (aku suka kucing!)

    • Ding dong~!
      Anda benar~!

      Chapter berikutnya masih ditulis dan mungkin untuk posting-an selanjutnya belum tentu kapan, karena aku sendiri ada UN, orz

      Tapi, kalau ada waktu akan segera ada lanjutannya. Terima kasih sudah membaca~🙂

  2. Thor next dong ffnya ini seru banget langka ff semacam ini bagus haa. Sebenernya wakti itu aku pernah baca ff ini tapi gak sempet comment dan tadi aku ngubek ngubek gugel nyari ff ini karena lupa judulnya dan webnya ternyata belum lanjut =__= /curhat

    Min next chap ditunggu secepatnyaa yaaa

    • Ya ampun…/crying in happiness

      Hahaha… belakangan ini emang lagi belum ketemu waktu buat nulis lanjutannya, tapi sekarang mudah-mudahan updatenya bakal lebih rutin dan gak nyampe berbulan-bulan OTL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s