Detour #15

#15 Something

Entah waktu yang bergerak terlalu lambat atau memang Baekhyun saja yang menikmati semua ini. Ini sudah detik kelima (atau lebih?) ia merasakan sensasi hangat geli hasil dari mengecup lembut bibir rasa blueberry dan mint milik Chaeri. Ia sudah bersiap dengan dorongan kasar atau tamparan keras dari perempuan itu tapi tidak sama sekali ia merasakan tubuh Chaeri bergerak memberi respon. Ciuman Baekhyun seperti menghentikkan sekrup pergerakan Chaeri.

Dengan perlahan Baekhyun menarik wajahnya karena jika lebih lama lagi ia akan merasa berdosa. Mukanya panas luar biasa, ini memang bukan ciuman pertamanya tapi manisnya sama seperti anak laki-laki yang baru pertama kali mendapatkan coklat valentine seumur hidupnya.

“Chae—ri?” Dengan pelan perlahan penuh keraguan Baekhyun menyebut nama perempuan itu.

Chaeri masih diam dalam posisi yang sama, wajahnya tidak bisa dideskripsikan kalau Baekhyun diminta untuk menjelaskan seperti apa wajah Chaeri sekarang, maka ia akan menjawab ia akan selalu mencium Chaeri agar bisa selalu melihat ekspresi itu.

Selagi Baekhyun masih diam berusaha memerintah jantungnya untuk bekerja seperti biasa, Chaeri hanya bisa merapatkan bibirnya, ia panik luar biasa. Astaga, saking terlalu mendadak ia tidak bisa mencerna apapun yang terjadi. Yang ia ingat ia sedang menjelaskan teori Chaeri tidak mungkin menyukai Baekhyun dan— stop. Chaeri tidak mau melanjutkan.

“Baekhyun—kau benar-benar menciumku?” Chaeri akhirnya membuka mulut.

“Eh?”

“Jadi selama ini kau tidak bercanda setiap kau mengatakan kau akan menciumku?”

Tidak ada jawaban dari Baekhyun, membuat Chaeri segera menengokkan kepalanya pada laki-laki itu. ”Byun Baekhyun! Kau menciumku??” Berpikir berjuta kalipun jawabannya akan sama, lebih baik ia menanyakan langsung pada pelakunya.

Baekhyun sempat menganga, bukan reaksi semacam ini yang ia duga tapi apapun itu Chaeri yang seperti ini lebih baik daripada skenario drama kebanyakan. Chaeri tidak menamparnya, Chaeri tidak berlari meninggalkannya, seluruh adegan dramatis tidak ada dan Baekhyun semakin tertarik pada perempuan ini.

“Hmm—“

“Jawab aku Baek! Kau men-ci-um-ku?” Dengan mata penuh tanda tanya ia memotong semua basa basi hmm— Baekhyun. Ia harus tahu jawabannya, ciuman itu bukan sekedar bibir yang menempel pada bibir! Ada arti dibalik semuanya dan Chaeri harus tahu alasan Baekhyun menciumnya.

“Aku menciummu Chaeri, bukan karena aku mengancamku seperti beberapa hari yang lalu. Ya aku menciummu. Aku bahkan tahu apa rasa lip balmmu sekarang.”

Jawaban Baekhyun belum jelas, Chaeri mengacak-acak rambut hitam ikalnya yang tiba-tiba terasa begitu berat, kepalanya pusing. “Kalau bukan ancaman lalu apa? Tidak mungkin kan— kau—“ Chaeri menelan ludah, ia kembali menatap Baekhyun dan ketika pandangan mereka berdua bertemu ia melihat semburat merah di kedua pipi laki-laki itu.

“Kalau aku mengatakan aku menyukaimu pasti kau akan memutar bola mata dan kembali mengatakan teori tidak masuk akal itu.” Baekhyun menarik napas berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk memperbaiki pengakuan perasaannya pada Chaeri, ini kesempatan yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya.

“Pertama aku adalah Chaeri kedua kau adalah Baekhyun—“ Ia meniru suara Chaeri dan merasakan perempuan ini jadi menatapnya jengkel. “Pokoknya jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi Chaeri, aku benar-benar tidak suka mendengar alasannya.”

Apa yang Baekhyun katakan makin membuat Chaeri kebingungan, semua ini terlalu sulit dimengerti bahkan Chaeri yakin akan lebih mudah baginya untuk menjelaskan efek rumah kaca pada anak kelas satu SD dari pada harus mengerti kenapa Baekhyun tidak suka mendengar alasan itu.

Keduanya hening, Baekhyun hanya melirik sekali pada Chaeri dan berusaha berfokus pada laut malam (sekalipun sejujurnya tidak ada yang menarik untuk dipandang) sama halnya dengan Chaeri ia hanya melirik sekali dua kali pada laki-laki disebelahnya, bahu mereka bersentuhan dan Chaeri masih belum bisa menenangkan jantungnya.

Menyadari suasana canggung yang rasanya aneh kalau bersama Baekhyun Chaeri berdehem  membersihkan tenggorakannya takut takut suaranya akan naik sejuta oktaf begitu ia berbicara. “Jadi Byun Baekhyun—menyukaiku? “

Baekhyun hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya dan mengangguk. Ini memang sudah malam, Chaeri mungkin tidak akan menangkap rona merah di wajahnya tapi tetap saja ini memalukan. Ia rasa sekarang Chaeri yang lebih bisa menguasai keadaan.

Pembicaraan ini makin menyulitkan melihat Baekhyun yang berubah menjadi pemalu seperti itu, Chaeri merasa aneh kenapa justru laki-laki disebelahnya yang bersikap seakan ciuman pertamanya direbut?

“Bekhyun kau mendengarkanku kan? Boleh aku melanjutkannya lagi?”

“Tentu saja silahkan Chaeri.”

Chaeri menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal, ini pertama kalinya seseorang menyatakan perasaan padanya, rasanya masih tidak percaya  ia pikir seumur hidup dirinya tidak akan pernah disukai seseorang (apalagi menerima sebuah pengakuan!) dan berakhir menjadi perempuan yang menikah setelah dijodohkan orang tuanya. “Apa maksudmu suka seperti—kau ingin memiliku, kau ingin aku membalas perasaanmu dan begitu aku menyukaimu juga kita menjadi terikat? Suka yang membuat Baekhyun tidak ingin aku menyukai laki-laki lain? Suka semacam itu yang kau maksud?”

Astaga Moon Chaeri aku baru tahu ternyata bodoh dan polos bisa beda setipis itu— Baekhyun menepuk jidatnya. Ia menghela napas dan memberanikan diri menengok pada Chaeri.

“Hmm—suka semacam itu yang kumaksud. Seperti aku ingin memiliki Moon Chaeri seorang, aku tidak ingin kau menyandarkan kepalamu pada bahu laki-laki lain. Aku juga ingin Chaeri membalas perasaanku dan kita akan bersama. Dan terakhir, aku tidak ingin Chaeri menyukai laki-laki lain. Sekarang kau mengerti?”

Chaeri langsung menengok pada Baekhyun, pipi laki-laki itu masih merah tapi dari pandangannya ia tahu Baekhyun sudah bisa berbicara seperti biasa.

“Aku mengerti tapi aku rasa aku belum menyukaimu, jadi apa yang harus kulakukan? Ugh ternyata menolak seseorang itu susah ya.” Chaeri mengacak-acak rambutnya tidak sadar kalimatnya tadi membuat Baekhyun mendengus.

“Kau bilang belum kan? Berarti bisa saja nanti menyukaiku. Dan jangan bilang kau menolakku, iya aku memang menyukaimu tapi aku kan belum meminta Chaeri untuk menjawab perasaanku.”

“Iya sih—“

“Jadi Chaeri belum menolakku.”

“Baiklah aku mengerti.”

Baekhyun tersenyum, ia merenggangkan tangannya dan menghela napas lega. Selesai mengeluarkan seluruh alasan marah tidak jelasnya ini ia merasa seluruh bebannya sudah terangkat. Daripada bersikeras ia menolak kalau ia cemburu kenapa ia tidak mengakui sejak awal kalau ia menyukai Chaeri? Yah meskipun Chaeri belum menyukainya tapi apa peduli Baekhyun? Ia sudah menyatakan perasaannya, ia sudah mencium Chaeri dan yang terbaik Chaeri tidak marah padanya! Apakah Baekhyun bisa meminta lebih?

“Baiklah, kurasa kita harus kembali ke kamar, sepertinya yang lain juga sudah masuk.” Baekhyun pun berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang ditempeli pasir diikuti dengan  Chaeri yang melakukan hal yang sama.

Sambil menyenandungkan lagu Gee Baekhyun berjalan ringan diberi sedikit lompatan tidak menyadari perempuan yang berjalan di belakangnya kembali memandang laki-laki itu bingung.

“Baekhyun—“

“Apa Chaeri?” Baekhyun menengok masih dengan senyum jenaka di wajahnya.

“Kau tidak minta maaf telah mengambil ciuman pertamaku? Yah sebenarnya aku bukan tipe perempuan yang memperhatikan hal semacam itu— tapi tetap saja kan sebaiknya kau minta maaf?”

Ekspresi yang kembali tidak bisa dideskripsikan itu kembali pada wajah Chaeri. Baekhyun merapatkan bibirnya berusaha menahan tawa yang minta untuk keluar. “Dari pada aku minta maaf bukankah lebih baik kau balas dendam padaku? Seperti ketika kau melempar bola voliku atau meletakkan kelomang pada tasku.”

“Heh?” Chaeri menaikkan alisnya dan makin kaget ketika Baekhyun kembali berjalan menghampirinya lalu berhenti tetap selangkah di depan Chaeri.

“Kau bisa menciumku balik.” Dengan mata terpejam Baekhyun membungkukkan badannya membuat kepala mereka berdua sejajar.

Chaeri mengepal kedua tangannya berusaha menahan keinginan untuk menonjok muka yang terus terang manis itu. “Byuntae.

“Hah?”

“Dasar Byuntae Bacon. Sudahlah lupakan kata-kataku tadi, aku tidak akan membalas dendam. Lebih kau tidur saja otakmu tampaknya sudah tidak beres lagi.”

Chaeri berjalan melalui Baekhyun tidak habis pikir dengan perlakuan laki-laki itu padanya. Apa seperti itu perlakukan seorang pria yang menyukai wanita? Ia pikir setelah semua yang terjadi hal ini akan membuat Baekhyun menjadi laki-laki lebih normal. Bisa saja Baekhyun jadi lebih pendiam (meskipun itu tidak cocok dengannya) atau setidaknya bersikap lebih sopan, tapi Baekhyun—ah sudahlah. Chaeri jadi bertanya kenapa Baekhyun selalu menjaga sikap di depan Nami sedangkan di depannya tidak.

#

#

Besok pagi setelah Baekhyun menyatakan perasaan pada Chaeri semua berjalan seperti biasa, sama sekali tidak ada pembicaraan soal kejadian kemarin malam. Tidak ada pertanyaan dari Daeha, Chen dan ibunya. Tidak ada yang merasa kemarin terjadi sesuatu yang spesial. Situasi perjalanan pulang ke Seoul pun sama seperti situasi awal mereka berangkat. Baekhyun yang kembali mengambil alih posisi pengatur musik di mobil tanpa seorang pun protes selain Chaeri, Chen bersama ibunya seperti biasa tahu-tahu tertawa tanpa alasan jelas ditambah Daeha yang sekali lagi menang suit dan berhasil menguasai jok belakang. Chaeri tidak mengerti, semua kembali berjalan terlalu biasa ia bahkan mulai meragukan pengakuan Baekhyun padanya.

#

Ketika Kyungsoo pergi ke Jepang menemui ibunya sekaligus mengisi libur musim panasnya yang terlalu berharga dari pada menjadi guru untuk ketiga muridnya yang tampak tidak memberikan perkembangan berarti, Luhan dan Sena tetap memilih menghabiskan liburan mereka dengan belajar dengan Sungjong sebagai guru pengganti (setelah dipaksa tentunya).  

Nami  menyibukkan dirinya menghadiri berbagai seminar, mulai dari kelas motivasi sampai masak tidak ada yang dilewatkannya, sempat menghabiskan waktu dengan Luhan membuatnya sadar tidak ada gunanya bertahan suka pada orang yang sama, ia harus bergerak dari Kyungsoo.

Dan dengan semua dari mereka memiliki prioritas masing-masing libur musim panas selesai tanpa masalah (mungkin?). Ada yang merasa terlalu cepat seperti kemarin baru saja libur (contohnya Chen) dan ada yang merasa terlalu lama lalu mulai menyalahkan matahari yang masih saja menjadi matahari musim panas (seperti Sena dan Luhan).

#

#

Sepuluh menit lagi bel akan berbunyi tapi Chaeri masih duduk di toko donat langganannya yang berjarak tidak sampai 50 meter dari  gerbang sekolah.

Sambil mengunyah donat kacangnya matanya memandang datar pada jalan yang dilewati teman-temannya tadi.  Pemandangannya menarik, Chaeri bahkan sering secara sengaja berada di toko ini setengah jam lebih cepat sebelum bel berbunyi hanya untuk mengamati bagaimana teman sekolahnya datang ke sekolah. Menurutnya mengamati teman-temannya mendatangi sekolah dengan berbagai cara lumayan seru untuk dijadikan bahan tertawaan. Seperti Baekhyun dan Luhan yang langganan lomba lari untuk sampai gerbang sekolah dengan Jongin sebagai jurinya yang sudah jalan duluan menaiki sepeda atau melihat Sena yang jalan sambil tidur diakhiri dengan menabrak tiang listrik.

“Halo Chaeri~”

Chaeri yang sedang bertopang dagu hanya menggigit bibir mendengar suara yang dihindarinya beberapa hari terakhir memanggilnya. “Ada apa Chen?” Tanpa menengok ia sudah menyadari Chen datang mengambil kursi disebelahnya.

“Apa yang kau tunggu? Pangeranmu Baekhyun sudah masuk sekolah kenapa masih duduk di sini?”

Nah

Chaeri memejamkan matanya, temannya ini benar-benar tahu bagaimana caranya memakai rahasia menjadi bahan permainan. Setelah pulang dari Seonyudo Chen memang tidak mengatakan apa-apa, dia bersikap seperti biasa aneh dan tidak bisa ditebak. Tapi tiga hari sebelum libur musim panas selesai laki-laki ini tiba-tiba memunculkan dirinya di pagi buta membuat Chaeri yang sedang mengambil koran langganan hampir menjerit. “Aku tahu semuanya Chaeri~” Dan dengan kalimat itu Chaeri mengerti ia sudah membuat kesalahan besar. Mata Kim Jongdae tentu saja tajam, ia sudah terbiasa menatap langit berjam-jam yah intinya sudah pasti ia melihat semuanya (dan Chaeri jadi bertanya apa Daeha melihatnya juga atau tidak).

“Aku tidak menunggu Baekhyun dan dia bukan pangeranku.” Perempuan itu menjawab malas..

Chen hanya tertawa cekikan dan itu membuat Chaeri makin jengkel, lama-lama gerah juga dipermainkan seperti ini.

“Hei Chen— aku sudah bilang aku menarik ancamanku soal kau pernah mengompol, apa kita tidak bisa berdamai saja?”

 “Berdamai? Memang kita ada masalah apa?” Wajah Chen benar-benar menyebalkan, terlalu menyebalkan membuat Chaeri segera beranjak dari kursi meninggalkan satu donatnya yang belum tergigit.

Chen hanya mengendikkan bahu menganggap Chaeri pergi karena memang takut terlambat bukan karena menghindarinya. Sambil memakan sisa donat Chaeri ia menopang kepalanya dan memandang jalanan. Tanpa sadar mulutnya tersenyum melihat perempuan yang menjadi topik pembicaraannya dengan Chaeri lewat, ah andai saja aku seperti Baekhyun Chen berkata dalam hati, sepanjang 18 tahun hidup, ini pertama kalinya dia merasa payah.

#

Detik ketika Chaeri membuka pintu sekolah melangkahkan kakinya, pemandangan sama kembali terlihat membuat Chaeri hanya menggeleng-gelengkan kepala karena sedikitpun tidak ada yang berubah dari kedua orang itu.

“Hmm— kenapa kalian masih di sini? Bukankah sudah saatnya masuk?”

“Chaeri!” Sena yang berjalan bolak-balik di depan vending machine segera berlari menghampiri Chaeri. “Luhan menyalahkanku, dia bilang kopi yang dia beli tidak keluar karena koinku masih menyangkut di dalam.”

Sekarang giliran Chaeri memandang Luhan yang bersandar di mesin itu hanya melambaikan tangannya. “Lalu apa kau sudah mendapatkan minumanmu?” Chaeri bertanya pada Sena.

“Belum, aku menyalahkan Luhan karena ia seenaknya memasukkan koin padahal punyaku saja belum keluar.”

“Ah ya sudah— selesaikan urusan kalian.”  Terlalu malas menjadi penengah pertengkaran tidak penting yang tidak ada untungnya bagi Chaeri, perempuan itu segera berjalan cepat kabur sebelum Sena memintanya untuk dibela.

Chaeri baru saja ingin mendorong pintu kelasnya hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.

“Hmm—Baek?”

Laki-laki yang sedang menyeringai melihat Chaeri menaikkan alisnya itu menaikkan satu tangannya dan berhenti tepat di puncak kepala Chaeri. “Semangat belajar ya.”

“Ah! Kenapa kau seperti ini sih?” Tangan Chaeri langsung menepis, ia benar-benar merasa diperlakukan sebagai hewan, kebiasaan Baekhyun harus segera dihentikan.

“Kau bilang kau suka ketika aku mengelus kepalamu?” Mulut Baekhyun mengkerucut membuat Chaeri ingin muntah, eh tapi itu terlalu jahat.

“Tapi tidak 24 jam dalam sehari juga, maksudku aku suka ketika kau melakukannya di saat yang tepat.”

“Kalau begitu  apa yang harus kulakukan untuk menyemangatimu belajar?” Tampaknya Baekhyun masih ingin menggoda Chaeri, Sungjong si ketua kelas sudah memanggilnya tapi ia masih bertahan berdiri di depan kelas Moon Chaeri.

“Kau bahkan bukan orang tuaku, tidak ada yang perlu kau lakukan.” Chaeri meniup poninya dan memandang jengkel pada laki-laki yang Chaeri tahu ia hanya menggodanya, sejak kapan Baekhyun peduli Chaeri semangat atau tidak?  

“Bagaimana kalau ciuman selamat pagi?”

“BAEK—“

“Halo semangat pagi Baekhyun.”

Sebuah suara datang menginterupsi dan tentu saja itu suara Jongdae. Chaeri merapatkan bibirnya merasa panik, semuanya sudah tamat kalau Chen mendengar percakapannya dengan Baekhyun.

“Oh halo Chen!” Baekhyun entah lugu atau apa hanya menyapa balik tidak ambil pusing soal cengiran Chen yang jelas menyimpan sesuatu. Dan inilah yang Chaeri benci, Chen hanya mengatakan ia tahu semuanya pada Chaeri ia benar-benar bertingkah sebagai orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di depan Baekhyun.

“Baekhyun! Guru Park mencarimu!” kepala Sungjong menyembul dari pintu kelas seberang sana. Baekhyun ingin mengabaikannya tapi melihat kepala gurunya yang ikut menyembul ia jadi menelan ludah.

“Ah! Sayang sekali kita tidak sekelas! Baiklah bye Chaeri! Sampai jumpa saat makan siang!” Baekhyun langsung berlari tentunya setelah sekali mengacak rambut yang sudah susah payah Chaeri sisir tadi pagi.

Makan siang? Aku akan kabur ke perpustaan.

Dan bicara soal perpustaakaan, ah sejak tadi Chaeri belum bertemu Kyungsoo. Padahal Chaeri ingin memberitahu kalau ia baru saja berhasil menangkap Snorlax di Pokemon Leaf Greennya

#

#

Pelajaran pertama hari ini berjalan terlalu lancar atau mungkin karena teman sebangku Chaeri yang berubah total. Nami hari ini menjadi anak manis, baiklah Nami dari awal memang cantik tapi hari ini bahkan Chaeri sebagai perempuan saja merasa Nami menjadi begitu— menawan? Tidak ada Nami yang sibuk mengoles kukunya diam-diam di tengah pelajaran atau yang setiap pop quiz dimulai ia selalu menyenggol Chaeri meminta jawabannnya. Hari ini Nami menjadi wanita berkepang dua yang memakai kacamata oversized membuat wajahnya terlihat makin mungil. Sekarang yang Nami lakukan mengangkat tangannya kalau ada yang bagian yang tidak mengerti bukan membisiki Chaeri mengatakan kalau cara guru mengajarnya salah.

“Hei Chaeri bagaimana liburanmu?” Tepat ketika bel istirahat berdering perempuan itu akhirnya memulai topik lain selain pelajaran.

“Aku pergi ke pantai di Seonyudo sisanya istirahat di rumah hmm— bagaimana denganmu?” Chaeri biasanya malas bertanya balik, tapi ayolah Nami sudah mengajaknya bicara ia harus meresponnya dengan baik.

Nami melepas kacamatanya dan tersenyum. “Kebanyakan membaca, jadinya ya aku seperti ini, memakai kacamata, dan ternyata waktu aku periksa mata aku sudah min satu setengah!”

“Wow—“ Chaeri memperhatikan kaca mata Nami, modelnya hampir sama seperti yang dipakai Baekhyun.  “Tapi kau terlihat tidak buruk dengan kacamata.”

“Ah terima kasih.” Nami tertawa. Nami tertawa bersamanya! Chaeri benar-benar tidak terbiasa, ia ingin ikut tertawa tapi sungguh masih belum terbiasa menghadapi perubahan sikap Nami yang seperti ini.  

Menyadari Nami yang sedang mengangkat buku-buku Chaeri memiringkan kepalanya. “Kau ingin ke perpustakaan?” 

“Ya, mau ikut? Ada buku masak yang ingin kupinjam.” Nami berkata dengan santai, padahal perubahan ekspresi Chaeri kalau ia kaget jelas terbaca dan tampaknya Nami tidak mau ambil pusing soal hal itu.

Chaeri dalam hati bersyukur, pergi ke perpustakaan berarti ada Kyungsoo di sana dan Nami masih berani ke perpustakaan? Perempuan ini benar-benar kuat.

“Hmm tidak, aku lapar sepertinya aku langsung ke kantin.” Chaeri memutuskan menunda pertemuannya dengan Kyungsoo, berbicara soal Snorlax tentu saja penting tapi lebih baik ia membiarkan Nami dan Kyungsoo berdua di perpustakaan.

Sambil menyenandungkan sebuah jingle iklan Chaeri melangkah dan berhenti tepat di depan pintu kelas Sena, biasanya ia selalu memanggil Sena untuk makan bersama tapi ugh dia malas bertemu Baekhyun. Baekhyun selalu datang ke kelas Sena tepat sebelum ke kantin entah itu barter kartu Yu-Gi-Oh dengan Luhan atau sekedar menonton TV karena kelas Sena-Luhan satu-satunya kelas yang memiliki televisi. Baiklah, hari ini ia akan makan sendirian mungkin di atap, paling-paling hanya ada Chen. Eh tidak, Chaeri tidak mau bertemu Chen.

“Permisi? Apa kau tahu  toilet di mana?”

Chaeri yang masih sibuk dengan pilihan di mana ia harus makan siang hanya menunjuk lurus koridor tidak mengambil perhatian siapa yang bertanya padanya.

“Ah terima kasih aku guru baru di sini!” Pemuda yang baru bertanya itu hanya membungkukkan badannya sekilas dan berjalan pada arah yang ditunjuk Chaeri sementara perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama bingung kemana ia harus melangkah.

#

Baekhyun beranjak dari kursinya memperhatikan pintu kantin menunggu kedatangan perempuan yang akan diajaknya makan bersama, tadi dia ingin mendatangi kelas Chaeri tapi tiba-tiba Luhan menariknya tepat ketika ia akan mendorong pintu kelas 3-A mengatakan bahwa Baekhyun harus melihat koleksi kartu Yu-Gi-Oh terbarunya.

“Hei sebenarnya siapa yang kau cari?” Chen yang sedang memainkan pastanya berusaha menahan senyum, tentu saja Baekhyun menunggu Chaeri tapi kita lihat apakah laki-laki itu akan mengaku atau tidak.

“Aku menunggu Chaeri—“

Baiklah dia mengaku.

Baekhyun menjawab hal itu dengan santai, seperti menunggu Chaeri adalah hal yang selalu dilakukannya sejak dulu dan berbeda dengan teman-teman semejanya, mata Luhan dan Jongin langsung mengernyit. “Ada apa dengan Chaeri?”

“Ah.” Sekarang Baekhyun menggigit bibirnya, apa hal yang baik kalau menceritakan pada mereka semua soal perasaannya pada Chaeri?  Bukannnya menyukai Chaeri hal yang memalukan— hanya saja otak teman-temannya masih percaya kalau ia masih menyukai Nami, mereka akan bertanya kenapa tipe mu jadi berbeda sekali, kenapa jadi Chaeri, dan pertanyaan mengganggu lainnya, Baekhyun malas menjawab hal seperti itu.

“Hmm—“ Ia menggaruk kepalanya dan memutuskan mengendikkan bahunya. “Yah lupakan, aku hanya ingin bertanya soal PR pada Chaeri.”

“Oh.” Luhan dan Jongin tidak terlihat begitu penasaran, sepertinya mereka memiliki topik yang lebih menarik.

“Ngomong-ngomong kau sudah bertemu Nami?” Jongin memulai topik favoritnya lagi, perempuan dan perempuan.

Sambil mengelap mulutnya yang belepotan saus Baekhyun hanya menggeleng. “Memang ada apa dengannya?”

Kim Jongin membentuk huruf o pada mulutnya berpura-pura kaget, ia menatap Luhan dan tersenyum, “Eii— harusnya bukan aku yang bercerita tapi sudahlah. Kau tahu Baekhyun? Sepertinya kau memiliki saingan, rupanya Luhan juga menyukai Nami!”

Mata Luhan membelalak lebar rasanya ia nyaris memuntahkan air mineral yang sedang berada di mulutnya. “Kau bercanda aku membenci Seo Nami bagaimana bisa menyukainya?”

“Aku melihatmu bergandengan tangan dengannya saat liburan waktu itu!”  Jongin menyikut Luhan yang makin menatap sinis padanya, kencan dengan Nami adalah hal yang paling ingin ia lupakan dan Jongin mengingatkannya lagi.

Laki-laki yang digoda Jongin itu memutar bola matanya “Aku hanya membantunya, kau tahu kan dia baru ditolak Kyungsoo?”

Baekhyun tidak peduli soal acara kencan Luhan dan Nami, lebih dari itu kalimat yang ia dengar tadi membuatnya ingat masalah yang ia buat sebelum liburan.  “Hei ngomong-ngomong di mana Kyungsoo?”

“Tidak tahu, tanya saja Chen.” Jongin yang masih tertawa menjawab sambil menunjuk Chen yang sedang mengunyah pastanya.

“Chen! Di mana Kyungsoo?”  Baekhyun penasaran, meskipun pada hari biasa ia memang jarang bertemu Kyungsoo tapi setidaknya sekali dalam sehari sebelum makan siang mereka akan bertemu di toilet, Kyungsoo selalu menghabiskan waktu lebih lama di toilet karena acara cuci tangannya.

Chen yang baru saja menelan makanannya memiringkan kepala, Chaeri juga tadi menanyakan pertanyaan yang sama padanya. “Ah dia—“

#

#

Rupanya Chen tidak bercanda

Chaeri yang baru mengelilingi setiap rak perpustakaan semakin panik, entah sejak kapan menemukan Kyungsoo menjadi sesulit permainan berburu harta karun. Ia sudah mengecek tabel peminjam buku dan tidak ada nama Kyungsoo, ia juga bertanya pada pengawas perpustakaan yang sudah mengenal baik Kyungsoo dan jawabannya memang Kyungsoo belum ke perpustakaan hari ini. Kyungsoo menghilang, dan Chaeri belum memberitahunya kalau ia sudah berhasil menangkap Snorlax.

Sambil mengacak rambutnya ia berjalan menuju keluar dari perpustakaan. Apa lagi ruangan yang paling mungkin Kyungsoo datangi? Antara laboratorium atau ruang kesehatan, mungkin juga ruang musik, atau jangan-jangan kolam renang?

“Aaah!” Chaeri mengerang kesal, ia janji akan meminta nomor Kyungsoo begitu mereka bertemu nanti.

Yah semoga saja akan bertemu

#

17.12

Baekhyun mengecek perpustakaan untuk kesekian kalinya.

Tidak ada Kyungsoo.

Chen pasti bercanda.

Sambil mengacak-acak rambutnya ia memutuskan menyudahi kesibukan mencari Kyungsoo. Sebenarnya tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan laki-laki itu. Baekhyun hanya penasaran bagaimana kabar seorang Kyungsoo, apa ia masih menjadi laki-laki yang sama atau jangan-jangan tambah parah. Kalau pertengkaran terakhir mereka membuat Kyungsoo menghilang begitu saja tentu Baekhyun tidak terima. Baekhyun hanya ingin melihat Kyungsoo, sekali melihat ia akan pergi. Dan gara-gara sibuk dengan Kyungsoo ia tidak sempat bertemu lagi dengan Chaeri. Sekarang Baekhyun harus mencari Chaeri. Dan ia baru ingat kalau ia belum memiliki nomor perempuan itu.

Sambil mengipasi dirinya dengan koran bekas yang ia ambil di tempat sampah Baekhyun bersiul berusaha membuat dirinya yang sedang berjalan sendirian di koridor lantai paling atas tidak ketakutan. Sebenarnya ini bukan masalah lantai atas ada hantunya atau tidak, hanya saja lampu koridor mereka mati dan awan-awan semakin menjadi kelabu membuat koridor makin menjadi redup. Baiklah misi mencari Chaeri ditunda besok sekarang ia harus pulang.

Baru saja Baekhyun akan meluncur di tangga ia mendengar bunyi gedebuk di ruang PKK.

Kyungsoo? Benar juga! Kenapa aku tidak berpikir dia berada di ruang PKK?

Laki-laki itu langsung berlari dan tepat ketika memegang gagang pintunya ia langsung menyerukan nama Kyungsoo yang sayangnya tebakannya salah.

“KYUNG— Nami?”

Nami yang baru menjatuhkan wajan segera mengangkat kepalanya melihat Baekhyun yang mematung dengan tangan masih memegang gagang pintu.

“Ada apa?” Perempuan itu tersenyum geli menyadari Baekhyun yang masih tercengang. Laki-laki itu memang seperti keluar dari komik, ekspresinya bervariasi dan tidak pernah membosankan.

Setelah beberapa detik hening Baekhyun memaksakan tertawa untuk mencairkan suasana. “Ahh ternyata benar kau Nami, aku dengar dari Jongin kau merubah penampilan tapi aku benar-benar tidak menyangka kau seberubah ini.” Baekhyun memegang tengkuk lehernya, ia memang tidak menyukai Nami lagi tapi rasa canggung tetap tidak bisa dihilangkan.

Nami tertawa kecil, semua orang memang mengomentari perubahannya tapi entah kenapa reaksi Baekhyun terlihat lebih menarik. “Aku hanya mengepang rambutku dan memakai kacamata apakah seberubah itu?”

“Yah—“ Bukannya Nami menjadi jelek, dia tetap menjadi Nami yang cantik hanya saja pembawaannya berbeda. “Berubah sih tapi bukan perubahan yang jelek. Lagi pula semua manusia berubah! Aku juga berubah.” Ia mengendikkan bahunya berusaha terlihat santai tapi melihat cara Nami yang menatapnya tiba-tiba serius, Baekhyun langsung menelan ludah.

“Penampilanmu tidak berubah Baek, jadi apa maksudmu yang berubah dalamnya?” Nami bertanya.

Pertanyaan Nami sebenarnya cukup sensitif untuk Baekhyun, apakah perempuan ini akan membawa topik dulu ia pernah menyukai Nami? “Iya.” Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Baekhyun.

Respon Nami hanya anggukan singkat, baru saja ia ingin membuka mulut tiba-tiba terdengar suara guntur. “Wow Baek kita harus pulang, aku membawa payung, kau?”

Baekhyun merapatkan bibirnya tidak, ia tidak mau sepayung dengan Nami. “Aku tidak bawa tapi— “ Mata laki-laki itu melirik kanan-kiri seperti mencari jawaban di seluruh ruangan.

“Ada perempuan yang kusukai, aku takut dia melihat kita dan berpikir aku masih menyukaimu Nami. ” Tidak peduli dengan Nami yang langsung menaikkan alisnya kebingungan Baekhyun langsung berlari keluar ruangan, ia ingin bertemu Chaeri, penundaan misi batal, sekarang ia harus bertemu Chaeri.

#

#

Chaeri yang selangkah lagi akan keluar dari sekolah segera melangkah balik begitu mendengar suara petir. Ini dia hujan datang dan Chaeri tidak membawa payung. Chaeri memang memiliki kebiasaan malas membawa payung, bukan karena ia suka hujan-hujanan tapi membawa payung memenuhi tasnya yang sudah terisi banyak buku, jadi perempuan ini lebih suka membawa sesuatu yang lebih kecil. Contohnya seperti jas hujan, warnanya kuning mencolok dengan di bagian belakang punggung kepala beruang Rilakkuma besar-besar tercetak. Pertama kalian harus tahu jas hujan ini bukan Chaeri yang beli.

“Oi Chaeri! “

Sebuah suara menyebalkan terdengar dan kabar baik ini bukan Chen. “Ah Baekhyun! Kebetulan sekali kau bawa pay—“

“Ayo kita berangkat!” Tahu-tahu Baekhyun sudah merangkulnya, ia sudah memegang jaketnya dan tersenyum pada Chaeri. “Seperti di drama ayo kita memakai jaketku sebagai payung kita berdua.”

“Hm— pertama kau lepas tanganmu.” Chaeri mengangkat tangan Baekhyun yang menempel di bahunya. Ia tidak ingin melakukan hal yang Baekhyun minta, adegan drama yang Baekhyun rencanakan membuatnya mual, itu adegan kedua yang ia benci setelah piggy-ride back. “Aku bawa jas hujan, jadi maaf kita tidak bisa melakukan itu.” Chaeri berujar sambil menunjukkan jas hujan kuning terangnya pada Baekhyun.

Mata Baekhyun membelalak lebar “Aku juga punya jas hujan itu dan warnanya putih! Bagian belakangnya ada gambar beruang Korilakkuma!”

Tidak, Chaeri tidak mau kembaran, ia berjanji setelah ini ia akan menukar jaket hujannya ini dengan jaket hujan Ninja Turtle milik Daeha. “Siapa yang membelikannya?” Dan Chaeri benar-benar penasaran.

“Tentu saja aku yang membeli, tadinya aku mau beli yang kuning tapi entah kenapa yang kuning lebih cocok untuk perempuan, dan kau membelinya!”

“Aku tidak membelinya—“

“Yang jelas kau memilikinya, baiklah besok aku akan membawa jas hujanku, hari ini aku pulang hujan-hujanan dan kau memakai jaket kuning itu, ah itu pasti cocok untuk Chaeri!” Baekhyun yang benar-benar senang langsung mengambil jaket yang masih belum dipakai Chaeri. Chaeri yang hanya mendengus membiarkan Baekhyun memakaikan jas hujan itu padanya, sekarang Baekhyun bertingkah sebagai ayahnya.

“Kalau begitu— sampai jumpa? “

Baekhyun tersenyum melihat Chaeri yang menaikkan tangannya, mungkin maksud perempuan itu untuk tos tapi melihat betapa kakunya Chaeri gerakannya jadi benar-benar aneh. “Aku menginap di rumah Chen hari ini, ayo kita pulang bersama.”

“Lagi? Kenapa kau selalu menginap di rumah Chen? Memang ada apa dengan rumahmu? Apa orang tuamu tidak kesepian anaknya selalu pergi?” Chaeri langsung bertanya, frekuensi Baekhyun menginap di rumah Chen sudah terlalu banyak, setidaknya tiga hari dalam seminggu Baekhyun selalu bermalam di sana.

Pertanyaan spontan Chaeri membuat Baekhyun terdiam, banyak alasan kenapa ia harus menginap di rumah Chen tapi memberitahu perempuan ini sungguh menyulitkan. “Rumahku baik-baik saja, ibuku juga senang aku memiliki teman sebaik Chen, jadi ya sudahlah ayo kita pulang bersama.” Tangan Baekhyun tadinya ingin menggenggam Chaeri tapi mendadak keinginannya hilang, ia langsung berjalan mendahului Chaeri membuat perempuan itu menatapnya bingung. Baekhyun memintanya pulang bersama tapi ia malah berjalan meninggalkannya.

#

Chen yang sedang berteduh di halte bis langsung tertawa saat melihat sahabatnya Baekhyun berjalan dengan santai padahal jelas hujan sudah membasahi seluruh tubuhnya, baru saja ia ingin meneriakkan nama Baekhyun matanya mengernyit saat menyadari Chaeri dengan jas hujan kuningnya berjalan tepat di belakang Baekhyun, mereka benar-benar lucu.

“Baekhyun! Chaeri!” Suara Chen yang memang melengking keras langsung membuat kedua orang itu menengok, tanpa basa-basi lagi mereka berdua segera menghampiri dirinya.

“Untuk apa kau naik bis?” Baekhyun langsung duduk dan mengeluarkan handuk dari tasnya. Chen yang menyadari Baekhyun tidak mengambil tempat di sebelah Chaeri mulai membaca ada yang aneh dengan Baekhyun dan Chaeri.

“Aku mau ke rumah Kyungsoo—“

“KAU BILANG KYUNGSOO PINDAH KE JEPANG.” Chaeri dan Baekhyun berkata bersamaan, saking geramnya tidak menyadari mereka berdua berkata bersamaan.

Chen menutup mulutnya berusaha menutupi lebar senyumnya yang sudah melampaui taraf normal, ternyata dua temannya ini benar-benar percaya. “Aku bercanda! Dia hanya sakit dan aku akan menjenguknya.”

“Boleh aku ikut?”  Chaeri dan Baekhyun sekali lagi berkata bersamaan bedanya kali ini mereka berdua sadar lalu pandangan keduanya bertemu. “Untuk apa—“ Lagi, keduanya berkata bersamaan.

Otak Chaeri tidak bisa memberi jawaban yang tepat, di kepalanya yang terlintas hanya Snorlax dan Kyungsoo. Alasannya sepele tapi—

“Ah itu dia bisnya! Ayo cepat naik!” Chen langsung beranjak dari kursi dan memasuki bis hijau itu sama halnya dengan Baekhyun yang tidak peduli lagi dengan jawaban Chaeri.

#

#

Kyungsoo yang baru saja memuntahkan isi perutnya entah yang keberapa kali untuk hari ini kembali menjatuhkan dirinya di atas kasur. Badannya lemas dan perutnya tidak berhenti mengeluh soal rasa mual, semua karena keracunan makanan. Kyungsoo berjanji tidak akan membiarkan ayahnya memasak lagi.

Tangannya meraih malas kamera yang tergeletak di atas bantal, ia baru saja ingin menyeleksi foto mana yang harus dihapus tapi tiba-tiba perutnya cari masalah lagi.

“Kyungsoo! “ Ayahnya memanggil, tapi mulut Kyungsoo tidak bisa menjawab kalau ia buka mulut yang keluar bisa muntah.

Dengan panik Kyungsoo kembali keluar dari kamarnya, ia berlari menyusuri tangga karena toilet lantai atas sudah terlalu menjijikkan untuknya, muntah yang sebelumnya belum disiram karena kerannya rusak.

“Kyungsoo!” Sekarang yang memanggil bukan ayahnya, mata Kyungsoo membelalak melihat Chen sedang melambaikan kedua tangannya. Masih dengan mulut ditutupi tangan, satu tangan Kyungsoo membalas lambaian tangan itu.

“D.O!” Kejutan kembali datang, Baekhyun dengan bajunya yang basah datang membasahi lantainya! Ah tapi sudahlah, Baekhyun datang ke rumah berarti ia sudah tidak membenci dirinya lagi kan?

“Halo Kyungsoo—“

Dan kejutan terakhir di mana batas ketahanan Kyungsoo sudah mencapai titik batas, Kyungsoo muntah. Chaeri tercengang, Kyungsoo muntah setelah melihatnya.

#

Rencana Baekhyun untuk menginap di rumah Chen batal, ia memutuskan menginap di rumah Kyungsoo. Laki-laki ini langsung melempar handuk pada Baekhyun, mengatakan berada di kamarnya harus dalam keadaan bersih.  Dan melihat Kyungsoo berbaik hati mau meminjamkannya baju kenapa tidak sekalian menginap saja?

“Kyungsoo boleh aku menginap? Tadi aku mau ke rumah Chen tapi hujan begini malas kembali lagi.”

“Asal kau tidak mengompol silahkan.” Kyungsoo menjawab sambil memberikan hair dryer pada Chaeri. “Keringkan rambutmu.”

Chaeri yang tengah tersenyum iseng pada Chen saat mendengar kata ‘ompol’ keluar langsung mengangguk canggung saat melihat Kyungsoo menjulurkan hair dryernya.

Chen yang sedang berbaring pada lantai kamar Kyungsoo sedang memejamkan matanya, kamar Kyungsoo merupakan kamar favorit di antara seluruh kamar teman-temannya. Kamar laki-laki itu memang tidak sebesar kamar Luhan yang megah atau memiliki kasur seempuk milik Sehun tapi kamar ini benar-benar nyaman. Rapi, tenang, sejuk, wangi citrus seperti pemiliknya juga.

Kyungsoo menatap kedua temannya bergantian, selagi menunggu Baekhyun mandi Chen sedang menikmati dunianya entah tidur atau sekedar memejamkan mata dan Chaeri sekali lagi, membuat Kyungsoo gemas setengah mati dengan rambutnya.

“Chaeri rambutmu—mau aku bantu merapihkannya?”

Chaeri yang sibuk menyisir rambutnya yang mengembang dengan jari langsung mengerjapkan mata melihat Kyungsoo sudah memegang sisir atau sikat? Sisir itu besar sekali seperti sisir untuk bulu anjing.

“Serius Kyungsoo kalau rambutku benar-benar mengganggumu aku akan memotongnya—“ Chaeri tidak begitu bermasalah soal rambut pendek atau panjang, sebenarnya dari dulu ia ingin memotong rambutnya, hanya saja— malas. Alasan paling konyol sepele yang anehnya bertahan untuk hampir setahun.

“Aku tidak terganggu, bukannya kebanyakan perempuan suka dengan rambut panjang, aku hanya—“ Kyungsoo sudah menyentuh rambut Chaeri padahal perempuan itu belum mengatakan ‘ya’ padanya. “Aku hanya suka menata rambut.” Ia menjawab asal dan untungnya Chaeri tidak mengomentari hobi yang terlalu aneh untuk ukuran seorang seperti Kyungso.

“Aku tidak termasuk kebanyakan perempuan itu. Lagi pula rambut panjang itu sebenarnya merepotkan kalau bukan karena malas aku sudah memotong pendek rambut ikal menyebalkan ini.” Chaeri memainkan rambutnya, ia merasakan yang Kyungsoo lakukan bukan hanya menyisirnya, seperti menarik satu ikatan ke ikatan lain lalu digabungkan ah susah dijelaskan.

“Kenapa bukankah rambut ikal itu manis?”

Kyungsoo mengatakannya manis, telinganya salah, Chaeri yakin.

“Manis untuk beberapa orang, mungkin kalau aku lebih memperhatikan perawatan rambut aku juga akan manis? Hahaha—“

Kyungsoo tidak ikut tertawa, ia tidak menemukan itu sebagai hal yang lucu. Maksudnya rambut Chaeri memang berantakan tapi bukan artinya itu jelek. Kadang memang terlihat sebagai rambut bangun tidur yang membuat Kyungsoo gemas tapi Kyungsoo tidak bisa bohong, keadang ia harus mengakui pada dirinya sendiri saat melihat Chaeri kesulitan menjepit poninya yang sudah kepanjangan atau mengikat rambut saat pelajaran olahraga, itu suatu hal yang lucu tapi menjengkelkan karena diakhiri dengan Chaeri yang menyerah dan melempar ikat rambutnya.

“Mungkin kau harus memakai vitamin rambut mulai sekarang.” Kyungsoo memutuskan mengganti topik.

“Aku tidak mengerti hal semacam itu, yah tapi baiklah kurasa aku harus mencobanya.” Chaeri mengangguk-angguk, mendapat perhatian dari seorang Kyungsoo sebenarnya cukup membanggakan.

“Ketika kau merawat dirimu jangan berpikir itu adalah hal yang merepotkan, kalau seperti itu hal sekecil apapun yang kau lakukan jadi terlihat tidak penting dan hanya merepotkan.”

Chaeri merasa dirinya diceramahi, ia bingung karena bahkan ibunya pun tidak pernah menyuruhnya memakai conditioner seorang Kyungsoo justru menyarankan dirinya memakai vitamin.

“Itu merepotkan.” Tahu-tahu sebuah suara keluar, saking gugup Chaeri ia tidak mendengar sejak tadi pintu sudah terbuka dan Baekhyun sudah smasuk. Kyungsoo masih berfokus mengepang rambut Chaeri berusaha membuatnya menjadi Bohemian Braid kesukaan ibunya. “Mungkin memang merepotkan tapi itu tidak mengganggu.” Kyungsoo mengelak pendapat Baekhyun.

Pemandangan yang Baekhyun lihat setelah membuka pintu kamar Kyungsoo membuat laki-laki itu mengerutkan dahinya. Ini sudah malam kenapa Chaeri masih di sini? Ia tidak berencana menginap kan? Sebenarnya apa tujuan Chaeri datang ke sini? Apa dia khusus datang meminta Kyungsoo mengepang rambutnya? Kenapa Chaeri membiarkan Kyungsoo menyentuh rambutnya? Pertanyaan sudah melenceng dan Baekhyun tahu cemburu adalah perasaan paling menjengkelkan di seluruh dunia.

“Hei Chaeri sebenarnya untuk apa kau kesini? Ini sudah malam harusnya kau pulang, hei Chen bangun jangan tidur cepat antar Chaeri pulang!” Baekhyun menendang kaki Chen, tampaknya laki-laki itu terlalu menikmati kamar Kyungsoo.

Chaeri menelan ludah, tujuannya bertemu Kyungsoo untuk melaporkan soal keberhasilannya menangkap Snorlax tapi melihat atmosfer saat ini, sama sekali tidak cocok menyebutkan hal seperti itu.

“Cepat selesaikan urusanmu dengan Kyungsoo.” Suara Baekhyun terdengar begitu dingin padahal laki-laki itu sudah sebisa mungkin terlihat santai dan buruknya ia teringat fakta Kyungsoo adalah laki-laki yang paling mungkin disukai seorang Moon Chaeri. Ini berbahaya.

“Ada apa Chaeri?” Kyungsoo tidak begitu mengerti kenapa Baekhyun terlihat jengkel, dan sejak kapan seorang Baekhyun peduli pada jam pulang? Tapi lebih dari itu ia penasaran kenapa seorang Chaeri sampai mengunjunginya, kalau benar-benar alasannya khawatir well baiklah, Kyungsoo terharu.

“Chaeri ini sudah malam! Kau harus pulang!” Chaeri mendecak, sekarang Baekhyun bertingkah sebagai ibunya.

“Aku harus memberitahu Kyungsoo sesuatu! Kyungsoo sebagai tuan rumah saja biasa saja dan kenapa jadi kau yang mengaturku, lagi pula ada Chen sebagai pengantarku aku aman.”

Chen mengucek matanya, ia kembali menguap dan memandang Chaeri dan Baekhyun bergantian, bayangan keduanya jadi berkali lipat sampai empat. Kim Jongdae benar-benar mengantuk. “Chaeri sepertinya aku menginap saja, kau bisa pulang sendiri—aw!“

“Jangan bercanda.” Baekhyun menjitak kepala Chen. Ia menghela napas dan menatap Chaeri yang jauh jauh jauh terlihat menggemaskan dengan bohemian braid karya Kyungsoo yang sempurna.

“Sudah selesai!” Kyungsoo menghela napas lega, wajahnya tersenyum melihat kepangannya yang sempurna, tidak ada rambut yang terlewat dan kepangan terakhir berakhir dengan tepat. “Jadi ada apa Chaeri?“

“Boleh aku lihat hasilnya dulu?” Chaeri entah kenapa tampak semangat, ia selalu percaya hasil tangan Kyungsoo selalu berakhir dengan memuaskan.

Kyungsoo langsung mengangguk dan membiarkan Chaeri bercermin sementara Baekhyun yang duduk di belakang hanya bertopang dagu kesal, Chen sudah mendengkur dan tidak ada lagi yang bisa membangunkannya kecuali gempa bumi. “Chaeri ayo kita pulang, aku yang akan mengantarmu.” Baekhyun berdiri dan mengambil ransel Chaeri yang tergeletak di lantai, ia tidak tahan lagi melihat pemandangan di depannya.

“Hei aku belum mengatakan hal yang harus kukatakan pada Kyungsoo.”

“Kalau begitu katakan sekarang!” Baekhyun gerah, ayolah cepat  Chaeri kau harus pulang.

“Ini rahasia.” Chaeri menundukkan wajahnya. Ia menghela napas dan meminta Kyungsoo mendekat padanya. Kyungsoo menaikkan alisnya, sejak kapan ia dan Chaeri berbagi rahasia?

“Aku berhasil mendapatkan Snorlax hanya dengan delapan kaki percobaan.” Bisikan Chaeri rasanya menggelitik. Tapi lebih dari itu kalau alasan Chaeri mendatanginya hanya untuk melapor ia berhasil menangkap Snorlax, Kyungsoo kehilangan kata-kata. Apa yang harus dikatakannya? ‘Wow selamat Chaeri?’

Baekhyun tercengang, Kyungsoo dan Chaeri berbagi rahasia. Dua orang itu saling berbisik di depannya dan Baekhyun sebagai orang ketiga yang tidak tahu apa-apa. Wajah Kyungsoo terlihat kaget, lalu pipinya bersemu merah. Hei apa Chaeri baru saja menyatakan perasaannya?? (Baekhyun mulai lagi berlebihan).

“Chaeri ayo kita pu—“

“Baiklah Baekhyun! Astaga kau benar-benar rewel.” Chaeri langsung merebut ranselnya yang dipegang Baekhyun dan berjalan meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di posisi yang sama. Laki-laki itu masih berpikir reaksi apa yang harus diberikannya Chaeri. Perempuan itu sudah sampai mendatanginya ke rumah dan Kyungsoo tidak memberikan jawaban apa-apa? Menangkap Snorlax hanya dengan delapan kali percobaan itu sebuah keajaiban tapi Kyungsoo tidak begitu baik dalam mengekspresikan perasaannya. Ia tidak ingin membuat Chaeri merasa kalau hal seperti itu tidak perlu dibanggakan. Chaeri perlu tahu kalau Kyungsoo kaget soal laporan itu. Tapi bagaimana caranya?

Astaga ini benar-benar sulit Kyungsoo bahkan merasa lebih mudah untuk menjelaskan efek rumah kaca pada anak kelas satu SD dari pada memberi selamat pada Chaeri.

Detik ketika ia menyadari Baekhyun dan Chaeri sudah keluar dari kamarnya ia baru tahu apa yang harus dikatakannya. Kyungsoo berlari menuruni tangga menemukan Baekhyun dan Chaeri yang sedang berpamitan dengan ayahnya.

“Chaeri!”

Chaeri menengok diikuti dengan Baekhyun, yang anehnya justru wajah Baekhyun yang terlihat lebih penasaran dibanding Chaeri.

Kyungsoo berdehem dan berjalan sampai berhenti tepat di depan Chaeri. “Kau— hebat.”

“Hah?” Baekhyun memberi reaksi, ia jadi seperti orang yang mewakili Chaeri tapi Kyungsoo tidak peduli.

“Yah pokoknya kau hebat, aku bahkan tidak bisa sehebat itu.”

Chaeri tidak tahu apa yang harus dijawabnya, pujian yang ia dapat seumur hidup hanya dia ‘pintar’ atau sekali-kali ‘baik’ dan sekarang seorang laki-laki memujinya hebat.

Selagi Chaeri diam sama halnya dengan Kyungsoo, Baekhyun memperhatikan dua temannya bergantian, dia harus melakukan sesuatu untuk membuat kedua orang itu sadar ada dirinya di sini. “Bagaimana bisa seorang Chaeri hebat?” Dan Baekhyun menghancurkannya, pilihan katanya salah dan semua itu karena cemburui, ini bodoh.

Kyungsoo mengendikkan bahunya, ia tidak melirik Baekhyun karena menurutnya lebih menarik melihat Chaeri yang terlihat bingung. “Kau tidak mengerti.”

Aku tidak mengerti? Baekhyun bertanya dalam hati.

“Yah baiklah, sampai jumpa besok, kalian berdua hati-hati.” Kyungsoo membuka pintu rumahnya diikuti dengan Chaeri dan Baekhyun.

Chaeri masih diam, Baekhyun sudah berjalan di depan meninggalkannya karena laki-laki itu masih bertanya pada dirinya sendiri kenapa ia tidak mengerti sedangkan Kyungsoo mengerti.

“Sampai jumpa Kyungsoo.” Chaeri memberanikan diri menatap Kyungsoo.

“Sampai jumpa besok Chaeri.”

Chaeri mengangguk dan segera berlari menghampiri Baekhyun yang fokus dengan dunianya sendiri.  Ini benar-benar menyenangkan, dipuji hebat oleh Kyungsoo benar-benar menyenangkan. Ada perasaan bangga karena itu Kyungsoo dan konyol karena alasannya hanya menangkap Snorlax, tapi yang terpenting ia tahu Kyungsoo tulus.

Baekhyun jelas tahu ada yang salah, ia yakin ia mengerti dan Kyungsoo yang tidak mengerti kalau ia mengerti.

“Chaeri—“

Baiklah ralat, Baekhyun tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa Chaeri tersenyum seperti itu karena pujian Kyungsoo, dan buruknya Baekhyun tidak mau mengerti. Ia takut kalau ia mengerti semuanya menjadi jelas jadi sudahlah—Baekhyun tidak mau mengerti.

___________________________________________________

Author’s note:

AHA! Plis jangan berkecil hati untuk baekhyun aku udah nyiapin sesuatu jadiii apapun yang terjadi (tau2nya enggak ada apa2 ternyata aku cuma nakutin kalian) kalian harus berlapang dada! c:

Dan sebelumnya authornya Detour pingin memeluk kalian satu satu karena respon dari chapter 14!! AHHH itu yang namanya terharu, terharu banget aku ga nyangka kiss dari baekkie bisa membuat reader Detour segempar itu o.o ohohoho jadi makin semangat apalagi viewer cerita ini nambah terus wohoo~ \m/

oia meskipun bias pikrachu emang kyungsoo tapi tetep aja itu ga bikin aku bakal wow-in kyungsoo di cerita ini (amasaaaaaaa)

Intinya aku berusaha menjadi author yang bijaksana dalam menentukkan official couple dalam Detour.

Anyway untuk chapter selanjutnya bakal ada scene favorite author all the time, ‘cowok nganterin cewek pulang!’ kalian maunya Chaeri Baekhyun pulang naik apa? Bis atau kereta? ;;)

89 thoughts on “Detour #15

  1. Bis atau kereta yang penting bisa menciptakan suasana yang roantis. Hihi makin cinta sama yang namanya baekki :*mymu

  2. aku maunya mereka naik kuda eon *plakkk wkwkkw astaga, siapa sih yg disukai chennnnn?? penasaran, dan apa kabae sehun seukri wkwk jongin sina??? hohoho gak muncul lagi tuh couple dua. ehemm, caheri sama baekhyin kann?? iya kannn

  3. ehh ?? kenapa jadi chen yg nginep dirumah kyung soo ? -,- kenapa jadi baekkie yg nganterin chaeri ?? membingungkan..o_O
    semangat thor ! ^^b

  4. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  5. Aku reader baru thor, maaf baru sempat komen krna selama ini bacanya cuma dihp doang
    dari part pertama smpe part 15, part 15 jadi part favorit aku hihi mungkin karena tingkah bacon yang cemburu sama kyungsoo trus sikap kyungsoo yg manis ke cherie aku bahkan ketawa sndiri sampe” adik spupuku ngatain aku gila hehe
    aku bener bener suka karyamu thor, bigthumb😀

  6. Sumpah ini ff menarik banget dibaca! Biasanya aku udah mulai bosen kalo udah part puluhan, tapi ff ini engga! Yeeyyy!^^ semangatt thor. Baru bisa comment sekarang, maaf~ baru ketemu di ff recommended♥

  7. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  8. Baekhyun orangnya ga tau malu dan terang-terangan-__- walah si ni kaya anak culun donv gayanga :v
    Btw, si baek cemburuan orangnya.. Whahaha
    Si chen mlah ngebohong kalo si d.o pindab ke jepang, ahaaa ada d.o-chaeri moment nih😁

  9. udahh ahh aku kesel sama diriku sendiri. masa iya mau teriak malem-malem begini? kan ga mungkin kan? Yahh…siapa lagi kalo bukan Chen yang bikin teriak. Isshhh sumpah greget banget sama ini manusia. BaekChae aja greget apalagi aku?! -_-
    aku kira Kyungsoo pindah ke Jepang beneran lohh! tapi aku mikirnya, lah kan Kyungsoo cuma berkunjung ye kan!
    ahh matta! Chen juga suka lwan jenis? asal yg disukainya ga kek Alien aja sih-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s