PASTEL Side Story: Sehun-Sina

Pastel Side Story: First Year 

He doesn’t quite understand himself

Bukannya aku maniak, tetapi memperhatikan perempuan itu sudah menjadi kebiasaannku sejak semester pertama dimulai. Entah seleraku yang aneh atau apa tapi aku tidak pernah mati bosan memperhatikan perempuan yang pandangannya lebih banyak menuju jendela dari pada papan tulis. Tidak ada yang menarik dari perempuan itu, sungguh aku tidak bohong, maksudku mungkin kebanyakan laki-laki lebih suka memperhatikan wanita yang punya banyak ekspresi, mencolok di kelas, memiliki aegyo, senyumnya manis yah pokoknya hal ini semacam itu, tapi berbeda dengan perempuan ini. Aku selalu puas memperhatikannya karena dia tidak pernah tertarik untuk mengedarkan pandangannya selain pada jendela dan papan tulis itu membuatku aman tidak akan tertangkap basah sedang memandangnya.

“Oi Sehun! Ambil nomormu!”

“Ya ya ya.“ Dengan malas aku beranjak dari kursi. Hari ini kelas kami melakukan undian untuk menentukan posisi tempat duduk untuk satu semester ke depan, aku tidak peduli siapa teman sebangku memang akan lebih baik kalau itu laki laki tapi yang jelas, siapapun orang yang duduk di sebelahku nanti— aku harap itu bukan Sina.

“Hei berapa nomormu?” Baekhyun menyikutku, ia terlihat penasaran mungkin karena ia mendapat nomor sial berada tepat di depan meja guru dan melihat dari cara matanya memandang aku tahu dia siap merebut kertas undianku jika posisiku lebih baik darinya.

Aku mendengus dan membuka lipatan kertas itu. “Nomorku— enam.”

“Hei siapa yang nomor enam juga?”  Sambil menaikkan kertas itu aku menengok pada seluruh kelas, pandanganku berhenti pada perempuan yang sedang melambaikan tangannya padaku ikut melambaikan kertasnya juga.

“Hei! Aku nomor enam juga!”

Siapa dia?  Mataku mengernyit, ingatanku mengingat nama atau wajah orang memang tidak bisa dibanggakan. Baru saja aku mau menanyakan Baekhyun siapa nama  perempuan itu aku mendengar laki-laki di sebelahku menghela napas.

“Sial kau beruntung sekali bersebelahan dengan Seo Nami.”

“Hah? Aku bahkan baru tahu ada perempuan bernama Nami—“

“Hei Sehun!”

Aku mengalihkan pandanganku dari Baekhyun, tidak sempat mendengar ocehannya tentang siapa perempuan bernama Nami itu. Jongin yang memanggilku tadi duduk di kursi paling belakang melambaikan-lambaikan tangannya sambil memegang secarik kertas “Kau yakin nomormu enam? Aku juga nomor enam!”

“Aku yakin nomorku en-—“ Tiba-tiba Baekhyun merebut kertasku, matanya mengernyit lalu beberapa detik kemudian ekspresinya berubah, dia tertawa.

“Coba lihat titik ini! Kau membacanya terbalik, ini nomor sembilan! “

Nomor sembilan?  

“Hei siapa yang nomor sembilan!” Aku berteriak mau tidak mau karena kelas benar-benar ramai, masing-masing dari mereka sibuk mencari teman sebangkunya. Aku berjinjit dan mengedarkan pandanganku pada seluruh kelas. Tidak ada yang meresponku.

“Siapa yang nomor sembilan!?” Sekali lagi kembali berteriak. Tidak ada jawaban lagi, baru aku ingin menambah level volume suara perempuan yang duduk di sebelahku tadi pagi mengangkat tangannya. “Seukri? Kau nomor sembilan?”

Seonsang-nim aku mau izin ke toilet.”

Ck, cuma izin ke toilet.

Aku ingin meminta Baekhyun berteriak tapi dia sudah tidak berada di sebelahku lagi,  laki-laki itu berjalan ke belakang paling meminta Jongin untuk bertukar kursi dengannya. Setengah kelas sudah mendapatkan kursinya hanya aku dan beberapa murid berdiri masih mencari siapa nomor sembilan. “HEI SIAPA NOMOR SEMBI—“

Suara pintu berderit terbuka. Aku tidak menyelesaikan kalimatku karena seseorang memotongnya. “Aku.”

“Kau nomor sembilan?” Sambil mengernyit aku membalikkan badanku. Siapapun orang itu, telinganya harus diobati—

“Maaf, tadi aku te toilet. “

“Oh—“

Aku refleks membalikkan kepalaku, baiklah ini nomor sial. Bersebelahan dengan Ahn Sina bukan hal yang menguntungkan  untukku.

#

#

Hari ketiga aku bersebelahan dengannya. Memikirkan satu semester penuh aku tidak akan bisa mengamatinya lagi terus terang membuatku sedikit malas berada di kelas. Tidak ada pemandangan lain yang lebih menarik dari pada memperhatikan perempuan tanpa ekspresi itu melamun. Dan sekarang ia berada tepat di sebelahku, ekor matanya bisa menangkapku. Aku menatapnya dan ia menatapku, maka tamat semuanya.

Terus terang berada di sebelah Sina membosankan, melihatnya memang tidak membosankan tapi berada di sebelahnya membosankan. Ia tidak mengatakan apapun, tidak ikut tertawa ketika Baekhyun mengeluarkan lelucon, tidak menatap saat diajak bicara. Rasanya seperti berada di sebelah patung. Aku ingin mengamati Sina, tapi bukan dari jarak sedekat ini.

“Hei Sehun.”

“Hmm?” Sambil menopang dagu aku masih menatap papan tulis. Bukannya aku sombong tapi buat aku menatapnya kalau ia bahkan tidak pernah menatapku saat aku bertanya padanya.

 “Boleh aku lihat catatanmu? Tulisan guru Park terlalu kecil tidak terbaca.”

Kali ini kepalaku menengok, Sina rupanya menengok padaku, matanya bertemu mataku masih tidak ada ekspresi. “Silahkan—“ Aku menggeser buku tulisku ia hanya mengangguk tidak mengatakan ucapan terima kasih. Yah dia Ahn Sina, aku harus terbiasa melakukan kebaikan tanpa mendengar ucapan terima kasih sebagai balasannya.

“Untukmu.”

Sebuah permen mint sudah berada di mejaku, aku kembali menengok dan menemukan Sina sedang mengemut permen. Baiklah, kutarik pendapatku sebelumnya; berada di sebelah Ahn Sina tidak membosankan karena aku Oh Sehun lebih suka mendapat permen mint dari pada mendapat ucapan terima kasih.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Sekali lagi aku menengok, ini sepele tapi aku baru tahu seorang Sina bisa mengatakan ‘sama-sama.’

#

Dan minggu berikutnya aku tahu, berada di sebelah di Ahn Sina bukan sekedar tidak membosankan,  kalian bisa membayangkan setidaknya dalam sehari ada dua permen di kantong celanaku. Sina benar-benar butuh kacamata tapi aku pikir jangan, maksudnya kalau setiap hari aku mendapat permen bahkan pocky lebih baik ia terus meminjam catatanku.

____________________________________________________________________________

Author’s note:

Beberapa hari terakhir aku bener2 keranjingan baca shoujo manga school life kayak dalam sehari bisa baca 8 jam gitu. exo apa kabar ya.

Daaan maaf karena kepalaku dipenuhi school life otakku dipenuhi adegan2 sekolah jadinya aku lg semangat ngerjain detour karena cerita yang itu emang lebih disorot kehidupan sekolahnya tapi aku mau ngelanjutin pastel gimana dong. Yaudah jadinya aku buat side story gimana sehun-sina awal temenan (soalnya sekolah)

Ufufufu yaudah author kembali menenggalamkan diri dengan komik2,  pikrachu kembali menjadi otaku.

ganteng kan dia mengingatkanku pada sehun :3

13 thoughts on “PASTEL Side Story: Sehun-Sina

  1. Oke deh thor tapi yang Detour kapan dilanjut? Sebenernya aku lebih penasaran di FF Pastel, abis Taonya polos banget hahaha😀 yaudah deh thor,keep writing!!🙂

  2. ooh, jadi sehun suka sama sina dari tuh udah dari pertama ya, dari kelas berapa ini setingnya?

    penasaran kali dianya, ada cowok seganteng oh sehun kok sina cuek aja hahaha..
    kalo aku sekelas sama sehun,..ketampanan luar biasa itu gak akan kusia-siakaaann gyaaa.

    aa..tonari no kaibutsu-kun, baca itu toh, nonton animenya juga gk?

    • eh bukan suka juga sih, cuma tertarik aja ;; dan ini kelas satu sma sebelum sehun kenal miyoung

      aku baca tonari no kaibutsu-kun! (tp belum selesai) kalau animenya belum eh tp gambar cowok yg kubilang mirip sehun itu dari hirunaka no ryuusei baca juga ga?? >w<

      • oiyaa..
        gara2 duaduanya rambut pirang jadi ketuker,. ini kan si mamura yah..yang alergi cewek itu.
        iya baca, ah..sekarang aku ngerti, tulisan pikrachu ini.. ringan, natural, unik, gak maksa, kaya baca manga minus gambar ..
        muehehe lanjutkan !

      • KAMU TAU MAMURA >////////< aku suka banget banget banget sama diaaaa (ah curhat curhat)

        anyway ramen panas-san, kamu tau trik ku nulis! ding dong deng! sebenernya aku pingin bikin komik tapi latihan berapakali pun gambar manganya ga bagus2 jadi semua kulampiaskan di fanfic dan bersyukr feelsnya nyampe ;3

  3. Ahhh~
    Kenapa SehunSina mencuri perhatian saya? Tidakkk~~~ Author harus bertanggung jawab~

    Ceritanya sederhana, tapi…. ahhh~
    Membuatku jatuh cinta pada sesosok manusia bernama Sehun (?) #plakk
    Tao ku mau dikemanain?
    Bagaimana kabar TaoSina?

    Baiklah kalo begitu~ dari pada saya terus galau mikir, siapa yang saya pilih antara Sehun dan Tao (ini maksudnya apa?)

    Ditunggu chapter Pastel Selanjutnya
    Fighting ^^9

  4. Ternyata sina bener2 pendiam yak. Jadi kasian. Haaaaah sehun-sina waaaaaahhh… –”

    aku lupa, naks2 detour sama pastel itu pada kelas berapa sih? Kelas 2 apa 3? :O

    dan gak tau nih mau ngomen apaan wkwkw *sungkem*
    kayaknya oh sehun belum bisa mencuri hati ku #eaaaaa
    ceritanya sih suka, always tulisan pikrachu kapan sih aku gak suka wkwkw *gombal
    gregetnya juga lumayan, tapi kenapa oh sehun gak bisa bikin- aaaah.. *sungkem lagi*

    yaah pokoknya i love you lah (?)
    keep writing.. Aku bakal semangatin *ambil pompom* fightiiiiiiing!!!!😀

    • sebenernya aku berencana kelas 2, cuma lama2 aku mikir lebih seru kelas 3, yaudah deh kelas 3 ;D

      iya ga papa suka itu emang ga bisa dipaksain, kayak ga bisa paksain tao suka kamu.. lol bercanda. ihihihihi sehun bukan tipemu nadia-ssi rapopo rapopoo~

  5. Hmm.. Jadi, gitu ya, awal ketertarikan SeHun sama Sina
    Diam-diam merhatiin anak gadis orang TIAP HARI.. Duhh, Sehun sayang kamu yakin CUMA tertarik?? fufufufu *ngakak dengan anggunnya*

  6. Wah ternyata sehun emang suka merhatiin sina dari dulu, ohmaygawd ><
    Berarti sehun duluan dong daripada tao (?)
    Ya kan yaaaaa??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s