Pencil

bekhun gif

Title : Pencil

Author : naminaya

Character : Baekhyun, Sehun, Han Chan Gi

Genre : romance, teen

 

Enjoy!😉

 

* * *

“Lihat Chan Gi?” tanya Baekhyun dengan sejuta urgensi dalam suaranya.

“Tidak lihat.” jawab seorang pemuda yang nampak sedang asik mencungkili kotoran kupingnya.

“Lihat Chan Gi?” Baekhyun mengulang pertanyaan yang sama dengan nada bicara yang sama.

“Siapa Chan Gi?” jawab seorang kutu buku yang dari tampilannya saja sudah kelihatan super kuper (kurang pergaulan).

“Lihat Chan Gi?” “Rambut hitam-ikal-panjang?” jawab Ketua OSIS mereka yang sedang menatap mading lekat-lekat.

“Ya.”

“Cantik?” tanya si Ketua OSIS lagi.

“Menurutku iya. Tapi kau tidak boleh meliriknya, dia tidak available.” jawab Baekhyun.

“Wajah putih dan alis bagai lukisan?” si Ketua OSIS itu nampak tak peduli dengan jawaban Baekhyun.

“Ya.”

“Gadis energik itu ya?”

“Aku tanya orang lain saja.” desah Baekhyun sambil berbalik pergi.

“Lihat Chan Gi?” Baekhyun menyetop seorang gadis mungil yang nampak tersembunyi dibalik tumpukan kertas.

“Yang aku lihat dari tadi hanya tumpukan kertas ini.” jawabnya, acuh tak acuh.

“Lihat Chan Gi?”

“Aku melihatnya berjalan ke arah perpustakaan.” jawab seorang pemuda tampan yang nampak sedang bersandar ke dinding dengan gaya seperti playboy papan atas.

“Berapa menit yang lalu?” tanya Baekhyun antusias.

“Kemarin.” jawab playboy gadungan itu dengan tampang polos.

Baekhyun tersenyum memaklumi sambil berbalik dengan langkah gontai.

Chan Gi selalu hilang di saat ia membutuhkannya. Hari ini Baekhyun butuh kamus Bahasa Korea yang kemarin dipinjam Chan Gi. Dan sekarang Baekhyun jadi kalang-kabut mencari Chan Gi karena ia membutuhkan kamus itu untuk pelajaran berikutnya. Lalu sebuah gagasan terbetik dalam benak Baekhyun. Pasti sekolah memiliki kamus Bahasa Korea diii….

“PERPUSTAKAAN!” ia mengucapkan terima kasih cepat pada si playboy. Baekhyun berlari seperti dikejar setan ke perpustakaan sambil sekali-kali melirik jam tangannya. Namun ia jelas-jelas tak memperhatikan keadaan sekitar. Memang tidak perlu diperhatikan sebenarnya karena lorong menuju perpustakaan sedang sepi, sampai tiba-tiba….

“Hwaaa waaa!…” Bruukk!

Baekhyun jatuh berdemum ke lantai, pantatnya mencium lantai dengan sangat keras hingga membuat pandangannya sedikit kabur selama sesaat.

“Adow…” erang Baekhyun seraya bangkit dan menahan rasa sakit pada bokongnya yang tidak empuk. Baekhyun menunduk dan memungut penyebab kesialan ini. Sebuah pensil kuning dengan gambar Winnie The Pooh, Baekhyun memperhatikan benda yang menyebabkan dirinya terjatuh dengan tatapan benci. Ia mengumpat pelan lalu memasukkan pensil itu ke dalam kantung celananya, kemudian kembali berlari menuju perpustakaan.

* * *

“Ada yang lihat Baekhyun?” tanya Han Chan Gi setangah berteriak sambil berjalan menyelip-nyelip di koridor yang padat oleh murid-murid.

Ia baru saja menyelesaikan jam pelajaran pertamanya dan sekarang ia baru ingat bahwa kamus Bahasa Korea milik Baekhyun masih ada pada dirinya. Tak ada yang mengindahkan teriakan Chan Gi.

“Kasihan Baekhyun.” gumam Chan Gi sambil mengeratkan pelukannya pada sebuah kamus hitam yang beruntung.

Tiba-tiba iya merasakan ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang seharusnya menyembul dari kantung seragamnya. “Haih? Mana pensil itu!” Chan Gi merogoh-rogoh kantung kemeja dan kantung roknya sekaligus, membuat kamus yang semula berada di pelukannya terpental.

“AWW! Siapa yang cukup gila untuk melempar kam–” lelaki yang semula terbungkuk-bungkuk kesakitan mengangkat kepalanya, menampakkan wajah tampannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chan Gi ragu.

“Aish.. jangan khawatirkan aku. Aku bahkan pernah tertiban selemari penuh buku tebal dan tidak kenapa-kenapa.” jawab lelaki tampan itu.

“Sungguh?” tanya Chan Gi sambil terbelalak.

“Begitulah. Oh ya, namaku Sehun.” lelaki itu mengulurkan tangannya pada Chan Gi.

Chan Gi menyambut uluran tangan itu dengan sedikit ragu-ragu. Tepat setelah tangannya berada dalam genggaman Sehun, pikiran Chan Gi dipenuhi oleh Baekhyun.

“Dan.. kamu?” tanya Sehun mengeluarkan Chan Gi dari alam pikirannya.

“Ah ah ah ya! Maaf melamun. Chan Gi.” jawab Chan Gi, merasakan pipinya mulai memanas karena malu.

“Tak perlu terpana begitu.” ujar Sehun dengan senyum menawan.

Chan Gi membalas senyumnya ragu-ragu sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sehun. Tapi tidak bisa. Dengan cepat dan tegas Sehun memutar tangannya sehingga genggaman mereka bukan lagi seperti bersalaman tetapi menjadi seperti berpegangan tangan erat.

“Hei–”

Sehun menaruh jari telunjuknya di bibir Chan Gi, memintanya untuk diam.

“Hei, kamusnya!” seru Chan Gi, kali ini tidak sudi dipotong perkataannya.

“OH! Ya, aku hampir lupa… terima kasih sudah mengingatkan..” ujar Sehun.

Satu tangan menepuk jidat dan satunya meremas tangan Chan Gi yang berada dalam genggamannya, membuat Chan Gi berjengit sedikit. Sehun menunduk dan mengambil kamusnya walaupun agak sulit karena kamus itu sedikit tertendang-tendang di tengah kerumunan. Posisi Sehun yang merunduk begitu rendahnya membuat tubuh Chan Gi ikut menunduk karena Chan Gi benar-benar merasa lemas. Setiap kali Sehun menyentuhnya, otaknya dipenuhi oleh Baekhyun. Pasti ada yang salah dengan saluran otaknya.

* * *

Baekhyun keluar dari perpustakaan sambil menenteng kamus tebal di tangan kirinya dan sebatang pensil sialan di tangan kanannya. Entah kenapa, rasanya tangan kanannya yang lebih pegal.

“Fitness gratis…” gumam Baekhyun setengah mengeluh setengah membesarkan hatinya sendiri. Ia berhenti di depan koridor yang padat.

“Gila..” gerutunya mengomentari kechaosan yang terbentang di hadapannya.

Lalu Baekhyun memutuskan untuk memutar, mengambil jalan taman tapi tetap mengawasi koridor, berharap akan menemukan Chan Gi diantara kerumunan siswa siswi itu.

But, no luck.

Baekhyun menatap iri sejumlah pasangan yang nampak sedang asyik mengobrol sambil bergandengan tangan di koridor. Sementara Baekhyun malah kehilangan pacarnya. Menyedihkan. Tiba-tiba mata Baekhyun menangkap pasangan yang aneh, mereka nampak sama-sama menunduk seperti berusaha mengambil sesuatu. Baekhyun tidak dapat melihat wajahnya, tapi ide untuk ruku’ di koridor yang ramai saja sudah gila.

“Pasangan masa kini banyak yang nyentrik.” gumamnya acuh tak acuh.

Ia membayangkan apa yang akan ia dan Chan Gi lakukan apabila mereka berdua bertemu di koridor yang padat itu. Mungkin pelukan singkat dan obrolan ringan. Bukan membungkuk-bungkuk seperti pasangan idiot itu. Hahh… Baekhyun cekikikan dan mengalihkan pandangannya dari koridor karena tiba-tiba saja ia merasa perlu ke kamar mandi.

* * *

“Mm… Sehun, aku harus segera ke kelasku, bisa kembalikan kamusku?” pinta Chan Gi tegas.

Mata Sehun melebar selama sepersekian detik sebelum akhirnya memunculkan senyum lebar di wajahnya.

“Tentu saja! Mau kuantar ke kelasmu?” tanya Sehun menggoyang-goyangkan pundaknya.

Chan Gi memutar bola matanya dan mendesah. “Oh, kurasa aku perlu ke kamar mandi.” ujar Chan Gi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.

“Nih, bisa bertemu di gerbang sekolah sore ini?” tanya Sehun seraya melepaskan genggamannya dan menyerahkan kamus yang semula ia tenteng pada Chan Gi.

“Tidak bisa!” teriak Chan Gi sambil menyambar kamus itu lalu segera menggunakan jurus seribu langkah.

Chan Gi terus memacu langkahnya, menyelinap di antara kerumunan siswa yang meamdati koridor dengan lincah, menciptakan sedikit kekacauan. Ia tidak memperlambat langkahnya ketika hampir mencapai pintu kamar mandi perempuan yang terletak setelah pintu kamar mandi laki-laki. Lalu…

Bruukk! “AW!” keluh Chan Gi, berusaha menahan malu malihat sejumlah pasang mata tertumbuk ke arahnya.

Ia bangkit dan menggosok-gosok bokongnya yang terasa sakit. “Jangan melihatku seperti itu!” ucap Chan Gi setengah membentak beberapa penonton.

Setelah semua orang kembali pada kesibukan masing-masing seolah Chan Gi tak pernah terjatuh, ia menunduk dan melihat sebuah benda semeter di depan kakinya. Tak bisa dipungkiri, benda itulah yang telah membuat Chan Gi jatuh tadi. Chan Gi memungut benda itu lalu berseru girang.

“PENSILKU! OH! Aku merindukanmu! Tapi kenapa kamu malah membuatku terpeleset dan harus menanggung malu sih?!” Chan Gi mulai asyik mengobrol dengan pensilnya.

“Bukan hanya kamu yang jatuh karena ulah pensil itu.” ucap sebuah suara di belakangnya.

Chan Gi membeku dan memutar badannya perlahan, Oh Tuhan… “Baekhyun!”

“Ya?”

“Kamu tidak melihatku terpeleset kan?” tanya Chan Gi agak panik.

“Aku ada di dalam toilet laki-laki, aku mendengar suara gedebuknya.” jawabnya santai sambil memungut kamus yang terlempar ketika Chan Gi jatuh tadi.

“Aih… kau melebih-lebihkan..” gumam Chan Gi menyentuh leher belakangnya dan membuang pandangannya dengan muka merah diserbu rasa malu.

“Oh ya, karena sekarang aku udah menemukanmu, aku akan melakukan apa yang selama jam istirahat ini kukhayalkan.” ucap Bakhyun sambil kembali menaruh kamus ke lantai dan mendekat. Begitu jaraknya dengan jarak Chan Gi tinggal kurang dari setengah meter Baekhyun meraih kedua tangan Chan Gi dengan tangannya sendiri dan kemudian menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Baekhyun melakukan gerakan memutar membentuk lingkaran di punggung Chan Gi dengan sebelah tangannya, membuat gadis itu merasa tenang dan aman.

“Kau tahu? kurasa pose seperti ini lebih pantas untuk sebuah pasangan.” ucap Baekhyun dengan tawa kecil.

“Mm?” Chan Gi merasa tak tahu harus menjawab apa.

“Yah, paling tidak kita normal. Tadi aku melihat sepasang kekasih di koridor, dan mereka malah membungkuk-bungkuk bersama. Koridor ramai lagi. Bagaimana mungkin mereka bisa segila itu.. Hahaha…” tawa Bakhyun menyembur begitu mengingat dua sejoli sinting itu.

“Mm!” Chan Gi nyaris terpekik, namun untungnya ia masih bisa menahannya. Ia membekap mulutnya kuat-kuat berharap matanya tidak membeberkan rahasia kecilnya.

“Kenapa?” tanya Baekhyun menelengkan kepalanya khawatir. “Kau tidak mual kan? Maag mu tidak kambuh kan?” tanya Bakhyun, belum menanggalkan ekspresi khawatirnya.

“Aih.. tidak.” gumam Chan Gi tidak jelas sambil mengayunkan tangannya yang semula mendekap mulutnya. Namun karena Chan Gi terlalu fokus mengatur ekspresinya, ia lupa bahwa Baekhyun berdiri sangat dekat di depannya, sehingga tangannya yang tadi mengibas main-main mengenai dada Baekhyun dengan sentuhan yang terasa… mendesirkan darah bagi Baekhyun.

“Aih, minhae..” gumam Chan Gi lagi, menyelipkan beberapa helai rambut ke belekang telinganya.

“ Minhae? Kenapa?” tanya Baekhyun dengan senyum teduh, yang langsung membuat Chan Gi merapalkan sumpah serapah pada dirinya sendiri karena senyum itu mengingatkannya akan Sehun.

“Emh.. ya, aku tak sengaja mengenai… mengenai… mengenai… mu?” jawab Chan Gi ragu-ragu, mengetahui bahwa ia tidak bisa mengatakan “Maaf aku mengenai dadamu.” karena kedengarannya terlalu aneh.

“Tak apa… Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah melakukan tradisi membungkuk-bungkuk di koridor bersamamu. Itu terlalu aneh, aku takkan melakukannya. Tidak dengan pacarku, mungkin aku akan melakukannya dengan Sehun.” ujar Baekhyun dengan tawa.

“Oup?!” Chan Gi tersedak amandelnya sendiri.

“Ne?” tanya Bekhyun, menengklengkan kepalanya meminta penjelasan.

“Sehun?” tanya Chan Gi tercekat, tapi berusaha menyamarkannya dengan sebuah dehaman.

“Ne, Sehun. Dia sahabatku, mungkin lain kali aku akan mengenalkannya kepadamu. Dia sangat tampan, aku hampir saja enggan mengenalkannya padamu, aku takut kau jatuh hati padanya. Tapi setelah kupikir lagi, aku masih lebih tampan daripada Sehun. Jadi aku tak lagi khawatir.” jawab Baekhyun dengan senyum dari telinga ke telinga.

“Aih… tak perlu repot-repot. Aku tidak perlu kenal dengan si Sehun itu, aku sudah bahagia denganmu.” jawab Chan Gi, mengontrol ekspresinya sebisa mungkin.

Baekhyun tertawa dan menarik lengan Chan Gi, mengantarnya ke kelas keduanya.

Ditarik Baekhyun begitu, Chan Gi membenahi hatinya, mencoba memperbaiki saluran otaknya yang terasa bocor. “Aku tidak akan jatuh hati pada Sehun.” batin Chan Gi sambil mengusahakan senyum kecil.

* * *

Setelah sekian lama absen ngepost, akhirnya aku mengirimkan fanfic lagi. oh ya, fanfic ini aku dedikasikan untuk kakak kelasku yang paling cantik, baik, lucu sekaligus pacar Baekhyun.🙂

semoga pada suka yaa.. kritik dan saran (seperti biasa) selalu author harapkan. Terima kasih!!😀

with love,

naminaya~

 

 

10 thoughts on “Pencil

  1. naya bikin fanfic exo yeaaaay
    kok aku suka ketua osisnya ya ._. apa dia bakal punya peran penting atau enggak (kalau enggak aku bakal lupain ketua osis dan fokus ke sehun) DI SINI SEHUNNYA SASSY BGT
    “Aku melihatnya berjalan ke arah perpustakaan.”
    “Kemarin.”
    plis lanjutin cerita ini c:

    • Hehe… Makasih kak fikraaaa🙂

      Ketua osisnyaaa…. Ada laaaah, pokok ya semua peran yang muncul pada masa pencarian Akan berperan, hehe…

      Jangan bosen2 ya kak baca fanfic2 kuuu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s