Soul 2

Poster_zps6bfd71a5soul
chapter two
The Search

“Kenapa, kenapa???”

Dokter dan asistennya segera memasuki ruangan sumber suara jeritan perempuan yang cukup menyakitkan di telinga. Disusul Ri Ma yang terburu-buru masuk dengan wajah yang sangat khawatir.

Hyuk jae yang masih terpaku melihat cermin menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk. Ke arah 3 orang itu berdiri dan menunggu jawaban dari Hyuk Jae yang wajahnya sudah sangat memucat.

Ya! Sebenarnya siapa aku??”

Tanya Hyuk Jae dengan suaranya yang cukup kencang, membuat dokter sedikit terkejut dan wajah Ri ma semakin khawatir.

“Dokter, ia bahkan tidak mengingat dirinya sendiri” Bisik Ri Ma sangat khawatir kepada dokter.

“Dimana walinya?” Tanya dokter itu pada Ri Ma. Membuat Ri Ma menoleh ke arah Hyuk Jae sebentar, seakan ragu dengan jawabannya sendiri.

“Mereka… masih diluar kota, dan kurasa takkan kembali sampai minggu depan” Jawab Ri Ma. Membuat dokter menghela napasnya.

“Kalau begitu, suster tolong periksa keadaan Ha Young. Dan Ri Ma ssi, kami ingin agar anda menyampaikan sesuatu terhadap walinya” Ucap dokter itu.

“Ah, ne Park Seonsaengnim

Setelah itu suster masuk dan mengecek beberapa keadaan fisik tubuh Ha Young yang berisi Hyuk Jae. Sedangkan Dokter Park berbicara tentang beberapa analisis apa yang telah terjadi pada Ha Young. Pintu ruangan tidak begitu tertutup dan kesunyian ruangan itu membuat Hyuk Jae masih bisa mendengar apa yang dikatakan Dokter Park kepada Ri Ma.

“Suster” Ucap Hyuk Jae tiba-tiba.

Ne?

“Mereka terus membicarakan kalau aku terkena Amnesia. Dan alasannya adalah…. shock pasca kecelakaan?” Hyuk Jae berbicara sambil menguping membuat suster itu sedikit panik. “Mereka bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Siapa namaku?” Tanya Hyuk Jae.

Hyuk Jae menatap mata suster yang sebenarnya agak gugup itu. Sang suster kebingungan apakah ia harus menjawab pertanyaan pasiennya itu atau tidak. Ia tidak berani bertindak diluar instruksi dokter.

Dan sebenarnya Hyuk Jae bukannya tidak tahu. Ia tahu perempuan ini bernama Ha Young. Tapi banyak orang di Korea yang bernama Ha Young dan sebenarnya ia sedikit berharap Ha Young yang ia masuki bukanlah Cho Ha Young. Cho Ha Young yang tak sengaja ia temui minggu lalu. Walaupun sepertinya mustahil, karena ia sangat mengenali wajah Cho Ha Young. Wajah tembam yang familiar baginya itu sekarang adalah tubuhnya.

Suster yang pada awalnya sedikit ragu akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya. Ia menganggap mengatakan nama pasien tidak akan berpengaruh bagi masalah psikis dan tubuh pasien. Jadi dengan hanya memberitahu namanya tidak akan menyusahkan Dokter Park Jung Soo. Setidaknya itu yang dipikirkan suster.

“Cho Ha Young”

Seketika itu Hyuk Jae merasakan dunianya runtuh. Oke, mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi ia merasakan bahwa perempuan bernama Ha Young ini adalah perempuan bermasalah. Tentu saja, ia bahkan berani melawan Kangin, sang berandal terkenal.

Hyuk Jae hanya tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa ikut terlibat dalam masalah perempuan ini. Entah kenapa ia agak menyesal mencampuri urusan perempuan ini sebelumnya.

Tapi ia melakukannya demi kebaikan bersama. Mana ada orang yang akan membiarkan orang di depannya mati bukan? Ia bisa menyesal seumur hidup karena tidak menolongnya. Karena itulah Hyuk Jae kembali mengingat kejadian sekitar seminggu yang lalu, kejadian yang mungkin saja menyebabkan jiwanya berada di dalam tubuh Ha Young.

Seminggu yang lalu

Hyuk Jae berjalan menyusuri trotoar yang akan membawanya menuju rumahnya. Agak jarang ia pulang sendirian kali ini. Biasanya ia pulang bersama Donghae, Shindong atau Yesung. Dan biasanya mereka berempat akan berjalan dengan lelucon tidak lucu Donghae, kelakuan aneh Yesung dan tawa lebay Hyuk Jae. Dan biasanya mereka juga tak akan lupa berburu es krim keluaran terbatas musim panas yang sangat cepat habis di toko-toko. Mereka bahkan berebut es krim terbatas itu seperti anak kecil jika jumlah sisanya di toko tak mencukupi jumlah mereka. Dan pertengkaran itu selalu dimenangkan oleh Shindong.

Tapi Hyuk Jae lebih memilih untuk pulang sendirian hari ini. Bukan, bukan karena ia tak ingin bertengkar soal es krim terbatas itu. Ia hanya ingin merasakan ketenangan hari ini setelah Kangin mengusik niatnya untuk tidur di bawah pohon rahasianya tadi.

Hyuk Jae berjalan di bawah teriknya matahari, ia bahkan berjalan sambil menyipitkan matanya karena terik matahari yang cukup silau.

Tapi ia sedikit tertegun saat berjalan melewati jembatan beton yang melintasi sungai. Pantulan sinar matahari yang ada di permukaan sungai membuatnya semakin menyipitkan matanya. Tapi Hyuk Jae tetap berusaha melihat sesosok manusia di depannya.

Seorang perempuan berseragam sekolah menyandarkan tubuhnya di pagar jembatan sambil melongokkan kepalanya ke bawah, seolah-olah ia sedang meratapi barangnya yang tak sengaja jatuh ke sungai. Mungkin iya, karena di jam pulang sekolah ini perempuan itu seharusnya membawa tas sekolahnya.

Hyuk Jae tak melihat wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya yang menjuntai kebawah. Tapi posisi perempuan itu dalam bahaya. Ia melihat ke arah bawah, ke arah sungai dan ia dalam posisi berjinjit. Hyuk Jae cukup ngeri melihatnya, karena perempuan itu bisa saja terjatuh.

Hyuk Jae hanya berharap perempuan itu akan baik-baik saja dan berhenti mencari tas sekolahnya. Tapi saat Hyuk Jae baru saja berniat berjalan melewati perempuan itu, perempuan berambut panjang itu menghentikan kegiatan melihat ke bawahnya dan mendongakkan kepalanya ke arah langit. Perempuan itu menutup matanya, membiarkan angin yang lewat menerbangkan rambut panjangnya yang hitam kelam.

Hyuk Jae sempat tertegun melihat sosok itu, karena rambut yang berkibar-kibar terkena angin itu hal yang menurutnya sangat keren dan… indah. Terlebih lagi sosok perempuan itu sedikit berkilauan akibat pantulan cahaya matahari di permukaan sungai.

Hyuk Jae akhirnya menyadari sesuatu dari pipi tembam perempuan berambut panjang itu. Dia adalah Cho Ha Young, perempuan yang akan ia tolong tadi, tapi gagal. Hyuk Jae baru saja ingin mengingat ulang kejadian yang terjadi di tempat rahasianya, tapi segera terhenti saat melihat hal yang mengejutkan.

Ha Young, ia membuka matanya perlahan dan menatap lurus sungai yang berada di bawahnya. Dan tanpa ragu, tiba-tiba ia memanjat pagar, sampai kedua kakinya berhasil berdiri diatas pagar dan Hyuk Jae merinding membayangkan bagaimana tubuh itu nantinya akan tercebur ke dalam sungai yang bening dan dalam itu. Hanya membayangkan suara deburan air yang akan terjadi saja membuatnya takut. Apalagi jika Ha Young dengan yakinnya mulai melangkahkan kakinya ke udara yang kosong.

“CHO HA YOUNG!”

Hyuk Jae tanpa sadar langsung berlari dan menarik tangan Ha Young dengan tangannya, mencegahnya terjatuh ke dalam air. Tapi setelah itu, Hyuk Jae tak tahu apa-apa lagi selain dunianya yang terasa berputar, bunyi hentakan kepala yang menabrak trotoar, Cairan hangat yang mengalir dari kepalanya, langit musim panas yang biru, dan suara deburan air sungai.

Setelah itu, pemandangan langit cerah berwarna biru berubah menjadi hitam kelam bagi Hyuk Jae.

Kira-kira itulah yang terjadi, dan Hyuk Jae sangat yakin jiwanya masuk ke dalam tubuh Ha Young saat ia berusaha menarik tangan Ha Young.

Hyuk Jae memberantaki rambut panjang Ha Young dengan frustasi, membuat suster itu terkejut dan khawatir.

“Ha Young ssi, anda kenapa? Saya mohon jangan memberantaki rambut anda seperti itu. Apa anda merasa sakit?” Tanya suster itu sedikit panik. Bahkan suster itu berusaha menahan tangan Hyuk Jae yang belum berhenti memberantaki rambutnya sendiri.

“Lepaskan!! Ya! Aku merasa sakit! Aku merasa sakit karena tubuhku berada diambang kematian!” Racau Hyuk Jae frustasi. Wajar saja, ini pertama kalinya ia memasuki jiwa orang lain tanpa tubuhnya sendiri berada di sampingnya. Ini benar-benar mimpi buruk baginya. Bahkan kemungkinannya untuk kembali ke tubuh aslinya sangat kecil.

Hyuk jae masih terus meracau membuat suster itu memanggil dokter lagi. Bahkan Hyuk jae terus meronta-ronta mengingat kemungkinan besar tubuhnya sudah mati. Bagaimana lagi? Habis tubuhnya yang tak berjiwa terjatuh ke dalam sungai. Besar kemungkinan kalau sampai saat ini tubuhnya masih ada di dasar sungai.

Apapun yang terjadi ia harus segera menemukan tubuhnya.

***

Hyuk Jae melipat kedua tangannya di depan dada, menatap malas Park Jung Soo, dokter penanggung jawabnya yang tengah menunggu Hyuk Jae membuka mulutnya.

“Aku tidak butuh tes semacam ini” Ucap Hyuk Jae kesal tanpa mau menatap mata Dokter Park yang tepat didepannya.

“Ini hanya semacam tes psikologis untuk menganalisa amnesiamu. Kami butuh ini untuk proses penyembuhanmu” Ucap dokter Park lembut sambil tersenyum. Seolah ia sangat sabar menghadapi Hyuk Jae yang masih bungkam di depannya.

“Jadi siapa namamu?” Tanya Dokter Park lagi. Mengulang pertanyaan yang tadi tidak dijawab Hyuk Jae.

Hyuk Jae menatap dokter Park dan mendecak kesal. Ia rasa dokter Park akan terus bertanya berulang-ulang tentang hal itu. Jadi pada akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya.

“Lee…” Hyuk Jae menghentikannya. Tersadar akan dirinya yang bukan lagi seorang Lee Hyuk Jae.

“Cho Ha Young. Puas?” Ucap Hyuk jae ketus.

“Berapa umurmu?” Tanya dokter Park lagi. Hyuk Jae dibuat berpikir tentang hal ini. Ha Young memakai seragam SMA dan mungkin saja Ha Young seumuran dengannya.

“16?” Hyuk Jae menjawab dengan nada tidak yakin, membuat dokter Park tersenyum dan mencatat sesuatu di bukunya.

“Tanggal ulang tahunmu?” Hyuk Jae mengerutkan alis, tentang hal ini tentu saja ia sama sekali tidak tahu.

“Uhmm, tahun 19…9.. AKKKH! Aku tidak tahu!!” Hyuk Jae langsung berdiri diatas kasur, dan berniat melompat ke lantai kalau saja para asisten dokter tidak menahannya dan memaksanya duduk di kasur.

YAAA!! Kumohon biarkan aku pergi sebentar saja!!!” Hyuk Jae meronta-ronta, rambut panjangnya kini lebih berantakan lagi dari sebelumnya. “Aku harus pergi ke jembatan itu!!” jerit Hyuk Jae lagi membuat dokter Park mengangkat alisnya.

“Apa kau tahu apa yang menyebabkanmu masuk rumah sakit?” Tanya dokter Park.

Hyuk Jae yang tangan dan tubuhnya ditahan oleh beberapa orang berhenti memberontak dan melihat ke arah dokter Park. Merasa dirinya akan diberikan kesempatan. “Ne, jembatan beton distrik 3. Kepalaku terbentur trotoar” Ucap Hyuk Jae yang mengharapkan dokter di depannya memberikan kesempatan untuknya untuk keluar sebentar.

Tapi dokter Park hanya mencatat sesuatu lagi di bukunya dan menatap Hyuk Jae. “Baiklah terima kasih. Kamu butuh istirahat yang cukup” Dokter Park mengelus kepala Hyuk Jae yang diperban, dan menyuruh asisten-asistennya untuk pergi keluar kamar Hyuk Jae.

YA! Kau bahkan tidak memberiku kesempatan sama sekali!” Jerit Hyuk Jae sebelum akhirnya pintu kamar itu tertutup.

Hyuk Jae lagi-lagi memberantaki rambut panjangnya dan mengerutkan alisnya. Rasanya ia ingin menangis, tapi tak ada laki-laki yang menangis. Setidaknya ia masih memegang prinsip itu sekalipun ia berada di dalam tubuh seorang perempuan.

Hyuk Jae terdiam sebentar, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Panik seperti ini hanya akan membuang tenaganya. Awalnya ia berpikir untuk kabur dari rumah sakit, tapi setelah dipikir itu tindakan yang akan membuat dirinya sendiri sulit.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk berpura-pura menjadi Ha Young sambil mencari tubuhnya sendiri. Ya, hal itu lebih baik dan tidak begitu menimbulkan masalah. Hyuk Jae pun memikirkan tentang langkah pertama yang akan ia ambil untuk menemukan tubuhnya.

Ia sama sekali tidak ingin berpikiran negatif dan memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi pada tubuhnya. Bisa jadi tubuhnya juga ditemukan bersamaan dengan tubuh Ha Young bukan? Jadi masih ada kemungkinan tubuhnya sendiri berada di rumah sakit ini juga kan?

Hyuk jae akhirnya tersenyum. Beban berat yang menimpanya sekarang sudah menjadi lebih ringan. Hyuk Jae dengan bahagianya turun dari kasurnya dan berjalan senang tapi ia lupa akan satu hal.

“Akkkhhh!”

Ia lupa membawa infusnya sekalian. Jadi sambil mengelus-elus punggung tangannya yang ngilu akibat jarum infusnya yang tertarik, ia menarik tiang infus beroda itu di sampingnya. Siap memulai pencarian tubuhnya.

Hyuk jae menengok ke kanan dan ke kiri setelah ia berhasil melewati pintu kamarnya yang sedari tadi tak berhasil ia sentuh sedikitpun. Begitu tak terlihat apapun yang bisa mencegahnya, Hyuk Jae segera menegakkan tubuhnya dan berjalan sambil menarik tiang infusnya yang sangat menyebalkan karena dokter Park bilang ia baru bisa melepas infusnya besok.

Hyuk Jae berjalan sambil tersenyum. Walaupun bertelanjang kaki karena lupa memakai sendal yang tersedia di kamarnya. Ia tak mau repot kembali ke kamarnya yang sudah berhasil ia tinggalkan.

Setelah berbingung-bingung karena tak pernah menelusuri Rumah Sakit, Hyuk Jae langsung menghampiri resepsionis rumah sakit dengan sumringah.

“Permisi… apa ada pasien bernama Lee Hyuk Jae disini? Atau mungkin pasien yang tenggelam di sungai?” Tanya Hyuk Jae pada wanita yang berjaga di resepsionis itu.

Wanita itu menatap Hyuk Jae heran karena pergi membawa-bawa infusnya dengan rambut yang sangat kusut dan berantakan, seperti pasien rumah sakit jiwa.

“Sebentar, saya cari” Wanita itu berhenti menatap Hyuk Jae dan beralih ke komputernya. Ia mengetik beberapa kata di keyboard itu lalu kembali menatap Hyuk Jae.

“Maaf, tapi tak ada pasien bernama seperti itu di rumah sakit ini. Ada satu pasien yang tenggelam, tapi ia tenggelam di kolam renang” Ucap wanita resepsionis itu.

Wajah Hyuk Jae yang awalnya sudah sedikit percaya diri sekarang menjadi kelam lagi. Harapannya yang tadi sudah terbentuk hancur, dan ia harus memulai percariannya lagi.

“Ha Young ssi!”

Sebuah suara itu awalnya tidak begitu mengganggu Hyuk Jae. Tapi setelah mengingat dirinya yang sekarang bernama Ha Young, Hyuk Jae segera menengok ke arah suara itu. Hyuk jae mengenalnya, suster yang sedari-tadi menanganinya.

Suster itu mendekati Hyuk Jae sambil terengah-engah “Ha Young ssi, anda tidak boleh berkeliaran seperti ini”

Hyuk Jae memperhatikan suster yang terengah-engah itu. Dalam otaknya tiba-tiba Hyuk Jae mendapat ide brilian. Senyum kembali terkembang di wajahnya. Sekarang hanya kata kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Yang berulang di kepalanya.

“Suster”

Hyuk Jae menatap mata suster yang menanggapinya aneh. Sebenarnya, sang suster merasakan sedikit rasa takut terhadap pasiennya yang satu ini. Selain pemberontakannya tadi, pasiennya yang satu ini sulit ditebak seperti saat ini. Bahkan suster itu tak dapat menerjemahkan arti tatapan berbinar dari pasiennya yang berambut panjang ini.

Hyuk Jae meraih tangan suster itu dan menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya. Dan seperti yang diperkirakan tubuh, Ha Young tiba-tiba terjatuh tergeletak di lantai, membuat sang wanita resepsionis panik dan langsung menolong tubuh Ha Young.

Agassi”

“Agassi”

Wanita resepsionis itu memanggil-manggil Ha Young dan menggoncangkan tubuhnya. Ia benar-benar panik karena melihat orang kehilangan kesadaran tepat di depannya.

“Hei! Kenapa kau tidak ikut menolongnya?” Wanita resepsionis itu sibuk menepuk-nepuk pipi Ha Young agar ia terbangun sambil memarahi sang suster yang hanya diam saja. Tentu saja karena tubuhnya kini diisi oleh Hyuk Jae.

“Aku berhasil” Ucap Hyuk Jae di dalam tubuh suster itu, tanpa memedulikan wanita resepsionis yang akhirnya memanggil-manggil dokter untuk membawa tubuh Ha Young.

Sayangnya, hal itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya terlintas di dalam pikiran Hyuk Jae. Hyuk Jae hanya menghela napasnya melalui hidung Ha Young, karena ia tahu jika ia masuk ke dalam tubuh suster itu, banyak hal yang berbahaya yang akan terjadi. Yang pasti, jika ia benar-benar melakukannya, suster itu akan tahu jati dirinya yang asli.

“Suster, aku hanya bosan berada di dalam kamar. Apa aku tak boleh berkeliling sebentar saja?” Tanya Hyuk Jae, berusaha membuat puppy eyes agar suster itu mengasihaninya.

“Tidak. Dokter Park berpesan padaku agar kau istirahat dengan tenang di kamarmu” Jawab suster itu dengan suara yang dibuat tegas.

“Ayolah suster, hanya 10 menit! Aku tidak akan kabur” Hyuk Jae memohon lagi, tapi sepertinya dari ekspresi suster itu Hyuk Jae tak akan diizinkan berjalan semenitpun.

“Aku tak akan kabur, percayalah” Hyuk Jae kembali memohon, bahkan sampai mengeluarkan wajah memelasnya tapi sepertinya tetap tidak berhasil.

“Suster boleh ikut denganku kalau begitu, supaya aku tidak kabur”

HYUK JAE tersenyum puas karena pada akhirnya ia bisa berjalan-jalan berkeliling rumah sakit. Ia bukan hanya berkeliling dalam gedung. Ia bahkan keluar dari gedung rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Rasanya hidupnya begitu damai jika melihat sesuatu yang serba hijau. Walaupun harus ditemani seorang suster di sebelahnya.

Tiba-tiba seekor kucing berjalan mendekatinya. Hyuk Jae tersenyum dan menunduk sambil menjentikkan jarinya untuk menarik perhatian kucing tersebut. Ia bahkan juga menirukan suara kucing yang menurut suster sama sekali tidak mirip. Suara kucing yang ditirukan Hyuk Jae mungkin malah terdengar seperti erangan kucing yang terjepit.

Tapi tanpa dugaan kucing itu mendekati Hyuk Jae dan melompat ke pangkuannya. Membuat Hyuk Jae tersenyum senang.

“Suster, apa kau menyukai kucing?” Tanya Hyuk Jae sambil mengelus kepala kucing itu.

“Aku benci binatang yang berbulu” Jawab suster itu.

“Jadi kau benci kucing?” Tanya Hyuk Jae mengembangkan senyum isengnya. Hyuk jae langsung menyodorkan kucing itu kepada sang suster, membuat suster itu menjerit-jerit dengan wajah yang pucat. Sedangkan Hyuk Jae tertawa sarkatik dengan suara melengking milik Ha Young.

“Suster, bukan salahku kalau suster dimarahi dokter kepala”

Ucap Hyuk Jae yang masih menggendong kucing tadi. Suara jeritan dan lengkingan tawa tadi ternyata membuat dokter kepala datang dan menasehati suster itu.

Suster merapikan rambutnya yang tadi sempat berantakan karena sibuk menjerit. Dari ekspresinya, Hyuk Jae tahu ia masih malu karena kejadian tadi. Melihat tatapan Hyuk Jae, suster itu sengaja terbatuk untuk membersihkan tenggorokannya.

“Terserah, tapi yang penting sepuluh menit sudah berlalu” Ucap suster sambil melihat jam tangannya.

Sedangkan Hyuk Jae membuat half smile dengan satu alis terangkat. Yang jelas, ia tak akan membiarkan waktu bebasnya hanya sebatas 10 menit.

Seketika tubuh Ha Young tergeletak di tanah, terjatuh dari kursi. Sedangkan kucing dipangkuannya yang sempat ia elus langsung melompat ketika tubuh Ha Young mulai tak terkendali.

Hyuk Jae dengan tubuh kucingnya tersenyum puas meninggalkan suster yang terkejut dan terus memanggil-manggil nama Ha Young. Suster itu mengguncang-guncang tubuh Ha Young, tapi percuma saja. Jiwa yang mengisinya tadi telah berpindah.

Hyuk Jae akhirnya ‘benar-benar memulai’ pencarian tubuh aslinya. Walaupun hanya dengan tubuh kucing tapi ia pikir ini sudah lumayan cukup. Hanya saja tak terpikirkan bagi Hyuk Jae jika ia memakai tubuh kucing, ia sama sekali tak bisa mencari informasi dengan maksimal.

Ya! Kenapa aku tidak bisa mengontrol tubuhku?

Ucap kucing itu dengan suara kasarnya. Hyuk Jae sedikit terkejut mendengarnya karena ia pikir kucing yang sedari tadi ia elus itu betina. Menurut pengalamannya bersama kucing, agak jarang kucing jantan sangat diam dan tenang seperti tadi.

“Meow Meow Meow (Maaf aku memakai tubuhmu sebentar. Lagipula kupikir kau betina)” Ucap Hyuk Jae terhadap kucing itu.

Apa kau bercanda? Aku ini Jantan! Dan kamu laki-laki? Kupikir kau juga seorang perempuan. Aku merasa rugi tadi.

“Meow meow meow meow (Ya! Itu sebabnya tadi kau bermanja-manja? Menjijikan)”

Hei, beraninya kau berbicara seperti itu! Aku ini ketua geng kucing daerah sini. Bahkan kau berani mengontrol tubuhku seperti ini.

“Meow? Meow meow meow meow? (Hah? Bahkan kucing juga punya geng berandal?)

Memang kau pikir kami ini apa? Dasar manusia. Hei, tunggu-tunggu. Bagaimana bisa kau membawaku ke sungai seperti ini?

Hyuk Jae menghentikan kaki mungilnya tepat diujung sungai. Sebagai kucing, sudah tentu ia tak bisa melihat TKP dari jembatan, jadi Hyuk Jae mendatangi tepi sungai dan melihat ke dalam sungai untuk memulai pencariannya.

Hanya saja, begitu ia menjorokkan kepalanya mendekati sungai, suara kucing jantan itu mengganggunya. Ia bahkan tak bisa berkonsentrasi melihat apa yang ada di dasar sungai.

Hei, hei… cepat pergi dari sini. HEI! Bisakah kau berhenti melihat ke dalam sungai?! Hei, segeralah pergi dari sini. Ya! Hentikan!

“Meow meow (Berisik sekali, diamlah sebentar)” Ucap Hyuk Jae yang merasa terganggu. Ia merasa ia sudah cukup berhasil untuk kabur dari rumah sakit, jadi ia tak akan repot-repot menuruti kemauan kucing preman yang kasar ini.

Hei! Aku takut air! Kau tahu bukan, kucing tidak bisa berenang. Apa yang akan kau lakukan jika kita mati bersama?

“Meow (Tidak akan terjadi)”

Ya! Sudah kubilang berhentilah!

Hyuk Jae menyerah. Kucing jantan itu merengek terus-menerus. Membuatnya pengang dengan segala rengekan itu. Pada akhirnya Hyuk Jae menjauh dari tepi sungai, membuat dirinya mendapat ribuan ucapan terima kasih dari kucing jantan preman ini.

“Meow meow (Katanya preman, tapi hanya begini saja takut)” Ledek Hyuk Jae pada si kucing itu. Sedangkan kucing itu merasa tersinggung dengan sindiran Hyuk Jae.

Ya! Semua makhluk hidup pasti punya sesuatu yang ditakuti! Aku yakin kau juga takut pada sesuatu.

“Meow meow meow (Aku ini pria sejati. Jadi aku tak mungkin takut pada hal-hal kecil)”

Sambil mengatakan itu, Hyuk Jae merasakan sesuatu yang menggelitik kakinya. Awalnya ia tak begitu peduli, tapi begitu ia menoleh ke bawah, Hyuk Jae tak bisa menahan jeritannya lagi.

“NGWWWEOONGGG!!”

Dengan jeritan yang tak jelas lagi bunyinya, Hyuk Jae segera berlari dengan kakinya yang berbulu itu. Tapi ia mengakui, bahwa berada di tubuh kucing membuatnya bisa berlari lebih cepat.

Kupikir kau pria sejati. Tak kusangka kau takut kecoa.

Hyuk Jae, sambil berlari histeris bahkan merasakan bulu kuduknya yang berdiri karena si kucing menyebutkan nama serangga yang dibencinya itu.

“Meow meow meow meow meow meow meow meow (Ini berbeda!! Aku tidak takut, hanya benci. Mereka menggelikan, apalagi dengan tubuh ini serangga itu terlihat makin besar. Lagipula bagaimana bisa serangga itu ada di pinggir sungai???”

Hyuk Jae masih berlari sambil membantah si kucing dengan segala ocehannya. Bahkan ia tak tahu harus berlari kemana lagi.

Kecoa itu mengejar dengan terbang di belakang kita!

“Meow??!! (Benarkah??!!)”

Hyuk Jae menambah lagi kecepatan larinya, tanpa sadar kembali melewati jalan-jalan yang telah ia lewati tadi. Jalan kembali ke rumah sakit.

Hoi, Aku hanya bercanda, aku juga ikut capek karena berlari. Jadi tolong berhenti

Hyuk Jae yang sangat lega mendengar hal itu akhirnya menghentikan kakinya. Dadanya kembang-kempis dan jantung kucingnya berdetak sangat cepat karena butuh pasokan oksigen. Dan saat Hyuk Jae mendongakkan kepalanya untuk melihat dimana ia sekarang, Hyuk Jae menghela nafasnya panjang.

Gedung rumah sakit putih yang cukup tua itu berdiri dengan megahnya di depan mata kucingnya. Bagunan itu terasa lebih besar karena tubuhnya yang sekarang jauh lebih kecil dari biasanya.

Walaupun ia merasa sangat tidak cukup dengan hasil investigasinya hari ini, tapi ia cukup lelah dengan yang terjadi.

Mungkin ini saatnya kembali ke tubuh barunya.

___________________________________________________
 author’s note » Sudah hampir setahun dan maafkan aku….

One thought on “Soul 2

  1. finally….update!!alhamdulillah inget ya sm ceritanya^^

    “Aku benci binatang yang berbulu” kyknya kenal deh sm kalimatnya?-_-

    lanjutin ya…penasaran sm jiwanya ha young sm badannya hyuk dmn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s