Detour #17

#17 Friction

Chaeri yang masih memakai seragamnya sudah menjatuhkan diri di atas kasur, tidak bisa melakukan banyak hal selain terlentang dan memikirkan semua yang terjadi sejak di stasiun kereta. Semua detil ia ingat terlalu detil membuat Chaeri merasa memori otaknya tersayangkan hanya untuk hal semacam itu. Rasanya menjengkelkan di saat detik-detik menjelang ujian pergantian semester otaknya justru dipenuhi hal seperti ini.

Beberapa menit perempuan itu mengguling-gulingkan badannya, menyalurkan rasa gugup dan euforia berlebihan dengan hal lebih berguna (jadi menurut Chaeri berguling berguna?).

“CHAERI!” Dari bawah sana terdengar teriakan ibunya, langsung membuat Chaeri duduk tegak dan menelan ludah.

“Aku sedang berganti baju—“ Bohong, Chaeri tidak suka berbohong terlebih dengan ibunya tapi kalau ibunya melihat betapa merah wajah Chaeri sekarang ia akan bertanya ‘kenapa mukamu merah?’ dan Chaeri menjawab ‘aku kepanasan’. Intinya tetap berbohong kan?

Detik selanjutnya tidak ada panggilan dari ibunya, mungkin hanya memastikan apakah perempuan itu sudah tidur belum. Ngomong-ngomong soal ibu, Baekhyun dan ibunya baru saja berkenalan. Chaeri bersyukur ibunya bukan tipe banyak tanya dan menebak apapun sesukanya, setelah Baekhyun mengatakan ia hanya mengantar Chaeri pulang ibunya hanya tersenyum dan memberi uang taksi untuk laki-laki itu pulang. Tidak ada tatapan curiga dari ibunya atau sikap Baekhyun yang dibuat-buat semuanya berjalan lancar.

Itu yang Chaeri harapkan, hidup perempuan itu terbiasa berjalan terlalu normal atau lancar, mendapat beberapa masalah akan menjadi hal baru untuk Moon Chaeri.

#

#

Telinga Kyungsoo bergerak saat menyadari pintu kamarnya berderit terbuka. Ia mendengar suara langkah pelan mendekatinya, rupanya laki-laki itu masih mau menginap di rumahnya. Kyungsoo tidak pernah berpikir di mana Baekhyun akan tidur, laki-laki sefleksibel Baekhyun bisa tidur di mana saja, paling ia ikut-ikutan berbaring di sebelah Chen atau bahkan kalau Kyungsoo menyuruhnya tidur di bak mandi Baekhyun mau-mau saja. Tapi nyatanya, tebakan Kyungsoo salah.  Laki-laki itu segera mendecak saat menyadari tangan Baekhyun melingkari pinggangnya.

“Baekhyun kau tidur di bawah.” Ucapnya tegas sambil melepas pelukan Baekhyun.

“Oh Ayolah Kyungsoo aku butuh memeluk seseorang malam ini.” Baekhyun yang sudah setengah sadar hanya menjawab malas-malasan. Ia kembali memeluk Kyungsoo dari punggungnya.

Kyungsoo memutar bola matanya dan melepas pegangan Baekhyun sekali lagi. “Aku bisa meminjamkanmu guling sekarang kau tidur di lantai.”

“Tidak mau, sejujurnya wangimu seperti Chaeri, jadi malam ini aku bisa membayangkan aku memeluk Chaeri.” Baekhyun menghirup wangi citrus dari rambut Kyungsoo.

“Haaahh.” Kyungsoo jadi membuang napas, kenapa jadi Chaeri yang Baekhyun bicarakan?

Selanjutnya Baekhyun menguap lebar, ia mau saja menceritakan seluruh hal tentang kejadiannya bersama Chaeri, mulai dari Emily sampai lip balm rasa Ceri, masalahnya laki-laki itu terlalu mengantuk untuk menyusun kalimat.

“Aku menyukai Chaeri, Chaeri menyukaiku, sekarang selamat malam Kyungsoo.” Kalimat terakhir sebelum Baekhyun terlelap sepenuhnya membuat Kyungsoo bergeming untuk beberapa detik. Baekhyun menyukai Chaeri tidak ada di skenarionya, yang ia tahu Baekhyun menyukai Nami, ia yakin dan mengerti kenapa lebih baik seperti itu dan Kyungsoo mendukung seratus persen.

Moon Chaeri bersama Byun Baekhyun di luar prediksinya, ini melenceng dan sesuatu yang melenceng harus dibenarkan.

Yah jika saja Kyungsoo tahu sesungguhnya ia hanya cemburu.

#

#

Baekhyun belum mengalihkan pandangannya dari jendela, sejak pelajaran pertama dimulai matanya tidak berhenti memandang gerbang sekolah dari jendela kelasnya, perempuan yang ditunggu Moon Chaeri belum juga datang. Sekali lagi Baekhyun menyesal kenapa ia belum menyimpan nomor ponsel Chaeri? Apa yang dilakukan perempuan itu? Sampai kemarin malam ia benar-benar melihat Chaeri dalam kondisi terbaiknya, mukanya memang merah tapi Baekhyun tahu penyebabnya (tentu saja dia tahu).

“Sst—Guru Yoon melihatmu, jangan memandang jendela terus.” Teman sebangkunya Jongin menyikut Baekhyun yang sejak tadi terus bertopang dagu memandang jendela.

“Ugh mungkin lebih baik aku keluar, perutku tiba-tiba sakit.” Sambil menghela napas Baekhyun menutup buku tulisnya.

“Jam segini Luhan sedang memakai ruang kesehatan.” Jongin berujar disambut Baekhyun yang langsung menyeringai.

“Benar juga! Dia pasti punya nomor Sena dan Sena pasti punya nomor Chaeri! Baiklah, terima kasih Kai!” Dengan yakin Baekhyun langsung menaikkan satu tangannya membuat perhatian seluruh kelas beralih padanya.

Seonsang-nim tiba-tiba perutku sakit, tadi pagi aku makan makanan basi boleh aku istirahat dulu?” Kebohongannya keluar dengan lancar, Baekhyun memang selalu punya sejuta alibi otaknya.

“Ya baiklah.” Dengan kalimat itu Baekhyun pun langsung beranjak dari kursinya dan berjalan tertatih-tatih ditambah ekspresi merintih pura-pura sakitnya menuju pintu kelas. Jika saja saat itu Baekhyun melirik pada jendela, perempuan yang sejak tadi ditunggunya baru saja berlari memasuki gerbang sekolah tepat ketika ia mengangkat tangannya.

#

Jika menurut Chaeri kemarin adalah hari keberuntungnya maka hari ini ia menyebutnya sebagai hari kesialannya. Perempuan itu bangun kesiangan, dan yang dimaksud siang kali ini benar-benar siang, jam setengah sepuluh ia baru membuka kedua matanya, di pintu kamarnya terpasang tulisan besar-besar dari Daeha ‘aku sudah membangunkanmu bahkan sudah kurekam untuk membuktikkannya’. Merasa terlalu panik Chaeri salah mengambil seragam, mungkin lebih baik kalau ternyata kesalahannya hanya soal salah ambil baju berdasarkan musim, tapi kenyataannya tepat ketika menaiki taksi di tengah perjalanan ia baru sadar yang dipakai seragam SMPnya (yang anehnya masih muat dengan tubuh Chaeri).

Kesialannya belum berakhir ketika ia yang tidak sempat memasang contact lens pagi tadi memutuskan mengenakan kacamata berbingkai bundar jadulnya, karena tiba- tiba merasa takut ketinggalan pelajaran penting, tepat selesai membayar uang argo Chaeri segera melesat keluar dari taksi melupakan kacamatanya yang tergantung di kantung jok kursi. Dengan napas terengah-engah ia berlari sepanjang koridor, menaiki tangga hingga tiba di kelasnya.

“Maaf— aku terlambat.” Setelah menggeser pintu kelas sambil membungkukkan badannya sekilas ia segera berjalan cepat menuju kursinya, samping jendela baris paling depan.

Chaeri merasakan seluruh mata menyorot padanya. Apa yang salah? Seragamnya? Chaeri beruntung ia meninggalkan coatnya di loker sehingga salah seragam ini bisa ditutupi, rambutnya? Chaeri memang tidak sempat menyisir rambut bed hairnya hasilnya ia mengikat rambut itu menjadi kuncir ekor kuda asal. Soal terlambat? Terlambat manusiawi kan? Kenapa temannya berlebihan sekali?

Sambil mengeluarkan buku cetak Biologi dari ranselnya ia berbisik pada Nami di sebelahnya. “Hei sekarang halaman berapa?”

“Asal kau tahu sekarang kita belajar seni.”

“Hah?” Chaeri menggelengkan kepalanya, ia memincingkan mata berusaha melihat Nami yang begitu blur di pandangannya. “Aku yakin sekarang Biologi.”

“Boleh tahu siapa namamu?” Tiba-tiba gurunya bertanya.

“Aku Moon Chaeri.” Ditanya oleh guru Chaeri otomatis beranjak dari kursinya, matanya kembali terpincing keheranan kenapa rambut putih guru Park berubah jadi hitam.

“Baiklah Chaeri, absensi kelas ini sudah lengkap kurasa kau salah kelas.”

#

Kyungsoo sedang mengeluarkan pensil kayu dari tempat pensilnya, dengan cermat menyusun pensil berdasarkan ketebalannya dari 6H sampai 8B. Pelajaran seni hari ini menggambar wajah teman sekelas, dan jujur ini salah satu pelajaran kesukaannya. Baru saja guru baru mereka guru Kim akan membagi kelompok, tiba-tiba pintu kelas bergeser dengan suara keras, seluruh perhatian beralih pada siapapun itu yang membuat keributan.

Mata bulat Kyungsoo makin melotot saat menyadari tidak lain orang itu adalah Moon Chaeri yang membuka pintu mereka masih dengan napas terengah-engah.

“Maaf— aku terlambat.”

Kyungsoo sempat mengira perempuan ini sedang melawak, mungkin efek bersama Baekhyun tapi nyatanya Chaeri benar-benar duduk di kursi kelas mereka seolah itu memang kelasnya.

Kyungsoo yang sejak tadi memandang Chaeri dengan alisnya yang berkedut karena kebingungan perlahan-lahan tersenyum menyadari perempuan yang masih berwajah merah itu mengeluarkan buku Biologi dari kelasnya.

Mungkin ini namanya jahat, tapi Kyungsoo yang sedang duduk tepat di belakang kursi Chaeri meminta Chen untuk diam tidak memberitahu perempuan itu kalau ia salah kelas.

Sambil bertopang dagu ia memperhatikan Chaeri yang memandang bingung pada Junhee si murid pindahan yang mungkin tidak mengenal Chaeri sehingga tidak kaget melihat Chaeri datang ke kelas mereka. Mata Moon Chaeri melebar kaget mendengar pelajaran hari ini bukan Biologi.

“Boleh tahu siapa namamu?” Guru muda yang masih baru itu memanggil Chaeri sambil membaca daftar absensi kelas.

“Aku Moon Chaeri.” Chaeri otomatis beranjak dari kursinya. Kyungsoo yang masih menikmati kekonyolan Chaeri tiba-tiba terpaku saat melihat rok yang dipakai perempuan itu hari ini terasa begitu familiar. Jelas itu bukan rok dari sekolah mereka, ditambah coat hitam itu, ia rasa penampilan Chaeri yang seperti ini bukan hal baru baginya.

“Baiklah Chaeri, absensi kelas ini sudah lengkap kurasa kau salah kelas.”

Chaeri masih berdiri jelas ia kebingungan, sama halnya dengan Kyungsoo laki-laki itu tiba-tiba ikutan berdiri. “Chaeri?”

Perempuan itu langsung menengokkan kepalanya ke belakang mendengar suara Kyungsoo yang aneh didengarnya kalau di kelas.

Detik ketika Chaeri menengokkan kepalanya, mata Kyungsoo menangkap hal itu; muka merah hasil berlari dengan sorot mata panik yang sama.

“Apa kau baru dikejar maniak?” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kyungsoo. Dialog beberapa tahun yang lalu yang terhenti kini dilanjutkan tanpa si perempuan tahu.

Chaeri tidak tahu apa yang terjadi, Kyungsoo dipandangannya berbayang dua masing-masing buram dan kalau ia memincingkan mata Kyungsoo menjadi satu tapi itu terasa melelahkan. “Di mana kelasku?” Kepalanya terasa pening mungkin karena tidak sengaja menabrak pintu kaca sekolah sebelum ia mendorongnya. Chaeri saat ini merasa keningnya nyeri karena tertabrak, pipinya panas karena malu dan jantungnya berhenti saat Kyungsoo menarik pergelangan tangannya lalu mengatakan “Aku akan membantumu.”

#

Baekhyun yang tidak sengaja terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri merasa mendapat karma karena ia baru saja berpura-pura sakit untuk bolos dari kelas.

Sambil meniup lututnya yang lecet ia melirik Luhan yang masih tercengang menatapnya.

“Apa kurang jelas aku mengatakannya?” Baekhyun berkata.

“Kau sekarang— bersama Moon Chaeri? CHAERI? CHAERI YANG ITU.” Luhan yang masih duduk di kasur hampir ingin melempar Baekhyun dengan bantal untuk memintanya berhenti bercanda.

“Chaeri yang mana? Setahuku hanya ada satu Chaeri di sekolah ini. “ Masih dengan wajah acuhnya Baekhyun mulai mengoleskan obat merah pada lukanya.

“Bagaimana bisa Chaeri menarik perhatianmu? Dia kutu buku yang benar-benar bukan tipe Byun Baekhyun!” Sebagai teman masa kecilnya Luhan jelas tahu tipe perempuan sahabatnya itu, dan Chaeri benar-benar berlawanan dengan tipe Baekhyun.

Baekhyun mendecak dan menatap Luhan dengan dongkol. “Hentikan berkata soal tipe, itu tidak ada hubungannya kalau aku sudah menyukai orang itu.”

Melihat Baekhyun yang menjadi serius Luhan menelan ludah, tetap saja ia belum menerima hal ini. “Aku dengar kau menghabiskan libur musim panasmu bersama Chen dan Chaeri, apa terjadi sesuatu saat liburan?”

“Aku tidak mengerti maksudmu, tapi kalau bilang aku menyukainya hanya karena terbawa suasana aku membantah.”

Luhan meniup poninya. “Kurasa Chaeri bukan perempuan yang tepat, aku tahu kau sakit hati soal Nami, tapi sumpah aku tahu dia sudah berhenti menyukai Kyungsoo, kau masih punya harapan Baek.”

Beberapa detik tidak ada jawaban karena Baekhyun berharap Luhan bercanda, dia teman favorit karena laki-laki ini tipe easy-going kesukaannya tapi melihat ekspresi serius anak laki-laki itu, Baekhyun tahu untuk saat ini Luhan bukan teman favoritnya lagi. “Aku tidak peduli soal tipe  yang kau maksud atau Nami dan Kyungsoo, yang jelas aku menyukai Chaeri.”

“Tapi Chaeri tidak cocok denganmu, perempuan itu terlalu— ugh sulit mencari kata yang tepat yang jelas aku yakin kedepannya kau akan jenuh dan beralih pada perempuan lain. Jelas kau butuh seorang perempuan seperti Nami.” Luhan mendecak. Tidak ada yang tahu tentang masalah ibu Baekhyun selain ia dan Kyungsoo. Luhan tahu jelas laki-laki seperti Baekhyun butuh seorang seperti Nami.

“Persetan soal bekal makan siang atau apa, aku tidak peduli soal aku ingin sosok ‘ibu’ itu kekanak-kanakan. Chaeri memang seperti anak kecil dan aku suka itu.”

“Yah kau benar. Dan Chaeri seperti ibumu, kau tidak capek bertemu dengan jenis wanita yang sama? Aku yakin dia tidak cukup baik untuk memperhatikanmu.”

Bertengkar adu mulut dengan teman sama sekali bukan karakter Baekhyun ataupun Luhan, mereka berdua terbiasa saling berpikiran sama dan jarang memperdebatkan sesuatu apalagi tentang perempuan. Berusaha tidak menaikkan nada suaranya Baekhyun menarik napas lalu membuka mulutnya. “Berhenti sok tahu. Lebih baik perbaiki hubunganmu dengan Sena. Kau bisa menasehatiku kalau kau juga bisa memiliki hubungan yang baik dengan perempuan.”

Baekhyun tahu obat yang diteteskannya kebanyakan, tapi malas membersihkannya ia segera berjalan keluar dari ruang kesehatan dan membanting pintu sekalipun Luhan sudah berteriak aku minta maaf.

Tiba-tiba ia ingin bertemu Chaeri.

#

“Maaf, tanpa bantuan lensa penglihatanku memang buruk.” Chaeri berujar sambil berjalan sempoyongan mengikuti Kyungsoo yang hanya tertawa dan tetap berjalan di depannya

“Tidak apa-apa aku jadi mendapat tontonan menarik, kau mau ke ruang kesehatan dulu? Keningmu merah.”

Chaeri pun meraba keningnya yang berdenyut. “Baiklah.”

Keduanya berjalan menuju ruang kesehatan, perempuan itu tidak berpikir banyak selain alasan apa yang harus dikatakan pada guru Park soal keterlambatannya. Sementara itu Kyungsoo berpikir apa ini saat yang tepat untuk menanyakan Chaeri soal kebenaran cerita Baekhyun.

“Permisi—“ Kyungsoo menggeser pintu ruang kesehatan, matanya langsung menangkap kaki Luhan dengan kaos kaki polkadotnya terjulur dari balik tirai.

“Hei Luhan.” Tangan Kyungsoo langsung menyibak tirai itu menemukan Luhan sedang tiduran sambil membaca majalah.

“Oh D.O— Chaeri?” Mata Luhan langsung beralih pada sosok perempuan yang sejak tadi berdiri di balik punggung Kyungsoo.

Kyungsoo memandang Chaeri dan Luhan bergantian, mata Luhan terus memandang  Chaeri dari kaki sampai kepala. Hal itu membuat Kyungsoo mengernyit. “Katakan sesuatu Luhan.”

“Baiklah.” Luhan mulai memijit tengkuk lehernya dan menatap Chaeri hati-hati. “Soal Baekhyun, aku dengar dari anak itu, kau menyukainya?”

Chaeri yang baru saja duduk di kursi sambil membongkar laci mencari obat hanya melirik Luhan sekilas dan mengangguk. “Aku menyukainya, kau juga menyukainya kan? Maksudku dia Byun Baekhyun apa aneh aku menyukainya?”

“Bukan menyukai itu! Maksudku kalian sudah ekhm— official kan?”  Luhan memandang Chaeri gemas, tidak sadar sebenarnya pembicaraan ini menarik kuping Kyungsoo yang sejak tadi pura-pura membaca poster cara mencuci tangan yang benar.

“Oh itu—iya.” Chaeri menjawab singkat dan mulai mengoleskan trombopob pada keningnya tanpa menatap Luhan yang sudah mengerutkan dahinya.

“Aku tidak membencimu Chaeri, kau perempuan yang menyenangkan tapi untuk kali ini benar-benar tidak menyenangkan. Ayo kita bicara serius di sini; katakan kau menyukai Baekhyun.”

Chaeri menghela napas dan memutar kursinya pada Luhan. Percakapan semacam ini bukan kesukaannya. “Untuk apa? Aku tidak mau.”

“Kau tidak serius dengan Baekhyun kan. “

“Apa maksudmu aku tidak serius?”

“Kau tidak benar-benar menyukainya, kalian hanya terbawa suasana, kau tidak menyukai Baekhyun sampai titik itu.”

“Titik itu titik mana?”

Tiba-tiba Luhan tertawa lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nah. Sudah kuduga, bahkan hal seperti itu saja tidak mengerti, kalau kau tidak serius dengan Baekhyun katakan saja untuk putus dengannya sekarang. Baekhyun orang baik dia pasti mengerti.”

“Kalau aku tidak mau?”

Luhan diam, memandang Chaeri dengan pandangan aku-baru-tahu-ada-perempuan-sepertimu.

Chaeri yang sebisa mungkin tidak menaikkan suaranya berusaha terdengar tenang, diintrogasi dan didikte salah satu hal yang dibencinya. “Terus terang Luhan, kau sok tahu sekali, aku tidak mengerti maksudmu menyukai sampai titik mana atau alasan kenapa ‘karena Baekhyun orang baik’ dia jadi mengerti? Bukankah lebih tepat karena dia pintar dia mengerti? Apa hubungannya antara baik dengan mengerti? Dan kenapa kau menganggap aku bersama Baekhyun seperti sebuah kesalahan?”

“Karena kau tidak serius dan kau tidak cocok dengan Baekhyun.”

Chaeri mendengus dan berdiri dari kursinya. “Sejak awal aku bukan orang yang mengikuti perkataan orang lain dengan mudah. Jadi pertama, buat dirimu pantas menjadi orang yang kudengar.”

Tanpa menunggu respon Luhan Chaeri membuka pintu ruang kesehatan dan berjalan keluar, melupakan kehadiran Kyungsoo di sana.

 “Hei D.O. kenapa kau diam saja? Kau setuju Baekhyun dengan Chaeri?” Luhan yang sempat terpaku hanya bisa melampiaskan rasa kesalnya pada Kyungsoo. Dua orang itu benar-benar mengatakan hal yang sama.

Sementara itu Kyungsoo yang sudah membaca lebih dari lima kali prosedur mencuci tangan masih terdiam. Awalnya ia seperti Luhan tapi sekarang ia tahu semua tidak sesederhana yang Luhan katakan.

“Kurasa kau terlalu ikut campur, aku tahu kau peduli dengan Baekhyun. Tapi menurutku hal seperti ini tidak perlu kau atur. Lagipula kau berbicara seolah mereka akan menikah, ayolah mereka berdua masih anak kecil. Kalau benar perkataanmu, tentu mereka akan putus kan?”

“Sekarang kau yang terdengar jahat.”

Kyungsoo tersenyum. “Aku rasa kau kurang mengenal Chaeri, dan hari ini, kau harus minta maaf pada perempuan itu.”

“Kenapa? Dia bahkan tidak serius menyukai Baekhyun untuk apa aku minta maaf?”

Luhan yang masih menatap Kyungsoo uring-uringan membuat laki-laki itu malas berdebat lebih lanjut. “Oleh karena itu aku bilang kau kurang atau mungkin tidak mengenal Chaeri. Perhatikan perempuan lain selain Sena, oke?” Tangan Kyungsoo sudah memegang gagang pintu, tidak ada gunanya berdebat dengan Luhan sekarang.

Sena lagi, baik Baekhyun atau Kyungsoo sama saja. Luhan memutar bola matanya. “Jangan menyebut nama Sena di saat seperti ini. Jadi bagaimana? Kau setuju perempuan seperti Chaeri bersama Baekhyun?”

Kyungsoo yang sebenarnya sudah keluar dari ruangan mendengar kalimat Luhan, merasa kali ini diam artinya mengiyakan pendapat Luhan, ia pun kembali membuka pintu. “Hentikan mengatakan ‘perempuan seperti Chaeri’ aku tidak tahu kenapa tapi rasanya kau tidak punya hak untuk menilai perempuan itu. Bagaimanapun juga berhenti menganggap anggapanmu itu selalu benar.”

“Hei kalimat itu untukmu Kyungsoo!”

Kyungsoo yang kembali menutup pintu sesungguhnya medengar dengan jelas kalimat terakhir dari Luhan. Ia memang selalu menganggap dirinya benar, karena kapan pun ia menganggap dirinya benar kenyataannya seperti itu. Melihat Luhan tadi ia tahu keputusannya untuk tidak ikut campur hubungan Baekhyun-Chaeri pun memang benar. Sekarang yang ia pikirkan bukan kenapa Baekhyun menyukai Chaeri atau  kenapa Chaeri menyukai Baekhyun, semua tidak penting dan kalau tahu apa ada hal yang bisa diperbuatnya soal itu? Daripada terus mempertanyakan atau menduga lebih baik ia berfokus pada hal lain. Apa hal lain itu?

Jawabannya rahasia.

#

Chaeri berakhir di lantai enam, lantai yang kebanyakan ruangannya tidak terpakai selain untuk gudang. Sebenarnya ia datang ke sini bukan untuk melarikan diri, lagi pula dia harus melarikan diri dari apa?

Penglihatan yang buruk ditambah mood jelek hasil berbincang dengan Luhan membuatnya terus menaiki tangga tanpa berpikir panjang, ia pikir ia berada di lantai tiga, kenyataannya lantai empat. Kakinya terus melangkah, menunggu saat yang tepat ketika instingnya mengatakan ‘ah ini dia kelasku!’ Dan ketika Chaeri sadar tidak ada lagi tangga yang bisa dinaikinya, ia sudah berada di lantai paling atas.

Berjalan di tempat tidak dikenal ditambah apapun yang dilihatnya terasa buram dan miring Chaeri merasa ia berada di dimensi yang berbeda, kepalanya pusing ditambah ponselnya tertinggal di kamar, sekarang Chaeri merasa dirinya terasingkan.

Tiba-tiba ia ingin bertemu Baekhyun.

#

Baekhyun baru tahu kalau ternyata hari ini Chaeri masuk sekolah, ia juga baru tahu kalau Chaeri jarang memberikan nomor ponselnya pada siapapun termasuk pada Sena, dan sekarang Baekhyun baru tahu kalau Chaeri pandai menyembunyikan diri.

Pelajaran kedua ia diminta guru Nam untuk mengambil globe di gudang lantai paling atas. Setelah menemukan bola dunia usang itu di gudang, matanya tidak sengaja menangkap siluet seseorang di kelas bekas yang tidak terpakai selain untuk meletakkan meja dan kursi yang sudah rusak. Awalnya ia sempat berpikir cerita arwah guru perempuan yang gentayangan di lantai enam memang nyata tapi sesuatu membuat Baekhyun memilih untuk tidak sekedar memikirkan hal itu tapi membuktikkannya. Kemungkinan terburuk ia akan dirasuki hantu—  (dan jangan sampai).

Mata Baekhyun mengerjap tepat setelah ia menggeser pintu kelas itu dengan kakinya dan menemukan perempuan yang sedang duduk membelakanginya mendongakkan kepala, terlalu mendongak sampai membuat Baekhyun ngeri si perempuan akan terjungkal.

“Chaeri! Apa yang kau lakukan?” Baekhyun langsung meletakkan globenya dan berlari menghampiri Chaeri yang masih mendongak. Refleks ia menahan kursi Chaeri yang sudah miring.

“Ah! Ini Baekhyun kan? Bisa bantu aku? Aku mau meneteskan obat mata tapi tanganku bergetar.” Chaeri menjulurkan botol kecil obat tetesnya membuat Baekhyun menghela napas dan menarik meja agar ia bisa duduk di belakang Chaeri.

“Apa yang kau lakukan di sini? Lari?”

“Lari dari siapa?” Chaeri merengut Baekhyun belum meneteskan obat tetesnya, padahal saat ini matanya benar-benar terasa kering.

“Dari fansku, kau ingatkan Byun Baekhyun, laki-laki populer di sekolah, tidak peduli seklise apapun kedengarannya kau punya banyak saingan dan aku yakin fansku akan menyerangmu~ ” Sambil tersenyum Baekhyun mengambil obat tetes itu dari tangan Chaeri.

“Buka dua matamu lebar-lebar.” Ia berujar sambil berusaha menahan keinginan untuk tertawa melihat Chaeri yang benar-benar membulatkan matanya lebar-lebar. “Satu, dua, tiga.” Dengan pelan ia meneteskannya jatuh tepat di masing-masing pupil mata perempuan itu.

Selesai Baekhyun membantunya Chaeri mengedipkan kedua matanya berkali-kali, meskipun ia masih belum bisa melihat Baekhyun tapi samar-samar ia dapat melihat senyum di wajah laki-laki itu.

“Cepat bangun Chaeri atau aku akan mencium hidungmu.” Chaeri tertawa dan meluruskan kepalanya yang sejak tadi mendongak lalu menghadap pada Baekhyun yang sedang duduk di atas meja sambil bertopang dagu dan memandangnya.

“Yah tapi tidak peduli seklise apapun itu, biasanya kan si laki-laki akan melindungi perempuannya? Kali ini aku suka yang klise.”

Baekhyun mengendikkan bahunya merasa tanpa mengiyakannya pun Chaeri sudah tahu tentu saja ia akan melindunginya. Sambil memelintir ujung kuncir kuda Chaeri yang ikal jadi memutar mengikuti jarinya, Baekhyun membuang napas.

“Tadi Luhan mengatakan aku tidak cocok denganmu.”

“Tadi Luhan mengatakan aku tidak serius denganmu.”

Keduanya terdiam, memandang satu sama lain dan yakin otak mereka sedang berpikiran sama.

“Tapi sejak kapan kita mendengar orang seperti Luhan? Dia bahkan tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Sena.” Baekhyun dan Chaeri berkata bersamaan, tidak lagi terkejut karena hal seperti ini seakan sudah menjadi hal alami di antara keduanya.

“Bagaimana kau tahu soal Sena dan Luhan?”

Chaeri menaikkan bahunya dan tersenyum. “Pertengkaran dua orang itu tidak wajar dan setelah kuselidiki aku rasa kesalahpahaman yang membuat mereka seperti itu.”

“Benarkah? Kau tahu dari mana?”

“Kyungsoo, laki-laki itu tahu banyak, dia bilang kau salah satu pemain di drama percintaan Sena-Luhan.”

Baekhyun mendengus, merasa tertangkap basah tapi aneh dia tidak takut kalau Chaeri mengetahui hal itu.  Lagipula dari pada membahas soal Luhan-Sena ia lebih tertarik soal nama laki-laki yang kembali tersebut itu. “Apa saja yang Kyungsoo ceritakan padamu?”

“Banyak sekali, kami sering menghabiskan waktu bersama sebagai anggota perpustakaan, kalau kuceritakan semua aku malas.”

“Ayolah ceritakan bagian paling menariknya!”

Chaeri menghela napas, di saat seperti ini ia ingin menatap wajah Baekhyun melihat bagaimana mata laki-laki itu mengerling. “Baekhyun, aku tidak bisa melihatmu dengan jelas.”

“Pejamkan matamu dan bayangkan saja aku!”

“Ugh menggelikan. Tapi baiklah.” Chaeri benar-benar memejamkan matanya, membayangkan Baekhyun sedang duduk di depannya, menatapnya baik-baik dengan ekspresinya yang selalu berubah berdasarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Chaeri. “Cerita paling menarik menurutku adalah ketika Kyungsoo menceritakan dia penonton bagaimana Byun Baekhyun mulai menyukai Seo Nami.”

Alis Baekhyun bertaut. “Lewat lewat, menurutku itu membosankan, ganti cerita lain.”

Chaeri menggelengkan kepalanya dan tersenyum “Menurutku tidak membosankan, ceritanya manis tidak dibuat-buat.”

Baekhyun jadi merapatkan kedua bibirnya, ia memang penasaran bagaimana Kyungsoo menceritakan semua itu pada Chaeri. Tapi— bukankah ini aneh? Chaeri tahu soal itu dan menganggapnya sebagai hal yang manis?  “Baiklah ceritakan, kalau ada yang salah aku akan membenarkan.”

“Sejujurnya aku lebih percaya dengan Kyungsoo dari pada kamu Baek, jadi— percuma.”

“Chaeri.”

“Baiklah, dengarkan ceritanya.” Chaeri membalikkan badannya memutuskan tidak menghadap Baekhyun, rasanya canggung berhadapan dengan orang yang terus menatap mata kita yang sedang terpejam.

“Telingaku terpasang.” Berkata malas-malasan Baekhyun kembali menopang dagunya, jari telunjuknya kembali memainkan ikal rambut Chaeri dengan memelintirnya.

Setelah menarik dan membuang napas lalu berdehem Chaeri memulai ceritanya. “Waktu itu pipa gas di kantin sekolah rusak, seluruh murid harus membawa bekal makan siangnya sendiri.”

Mata Baekhyun ikut terpejam mendengar narasi Chaeri sekaligus membayangkannya. Semua terasa nostalgia yang ironisnya orang yang bercerita justru tidak berada di sana.

“Saat itu seluruh murid memamerkan bekal masing-masing yang dibawa, aku tidak mengerti menurutku kalian terlalu kekanakan tapi sudahlah. Yang kutahu bekal makanan yang paling mewah dibawa oleh Oh Sehun.”

“Hmmm—“ Baekhyun sekedar menggumam.

“Sena membawa bekal yang ia buat bersama ibunya lalu Luhan mengejeknya seperti biasa, Kyungsoo membawa bekal yang dibuatnya sendiri karena ibunya berada di Jepang, Chen dan lainnya kita anggap sebagai cameo saja ya? Aku tidak akan menceritakan mereka.”

“Terserah.”

“Nami membawa dua bekal, ia ingin memberikan bekal itu pada Kyungsoo tapi tepat ketika ia akan menghampiri laki-laki itu, matanya menangkap sosok Baekhyun yang sedang duduk memojok memakan roti krim pisangnya sendirian.”

“Baekhyun yang merasa kurang kenyang hanya mengunyah rotinya dengan kesal karena uang jajannya tidak cukup banyak untuk membeli makanan lain. Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya merasa kaget melihat ada sekotak bekal makanan terjulur tepat di depan wajahnya.”

Chaeri terdiam, terus terang dialog ini sulit dikatakan. “Aku membuat dua bekal, menu spesial dari Seo Nami nasi merah dengan sosis keju bentuk kepiting campur jamur goreng tepung, aku persembahkan untuk Byun Baekhyun orang yang menjadi teman pertamaku di hari pertama sekolah.”

Baekhyun tidak tahu, ia ingin protes kenapa Chaeri bisa mengingat percakapan itu.

Chaeri menelan ludah. Bagian tadi tidak sesulit yang ia pikirkan tapi selanjutnya, benar-benar sulit. “Lalu Baekhyun bilang, ‘kau tidak perlu mengasihaniku’.”

“Dan Nami berkata: Aku tidak mengasihanimu, ini namanya apa aku juga tidak mengerti yang jelas aku hanya ingin memberimu ini.”

Detik berikutnya sebagai jeda Chaeri membuka matanya. Terlalu lama memejamkan mata membuat cahaya matahari yang langsung menerpa membuatnya kesilauan. “Dan saat itu Baekhyun memandang Nami dalam, menatap perempuan yang sudah meletakkan kotak bekalnya di samping Baekhyun lalu ikut duduk di sebelahnya. Kyungsoo yang sejak tadi mendengar pembicaraan keduanya tahu, kalau saat itu Baekhyun menyu—“

“Sudahlah tidak perlu dilanjutkan Chaeri.”

Chaeri kembali membalikkan badannya. Menengok pada Baekhyun yang masih samar-samar di matanya.

“Kau tahu bagian paling pentingnya? Bukan bagian soal aku pernah menyukai Nami-nya tapi bagian kenapa aku harus memakan roti krim pisang? Padahal jelas rasa kesukaanku bukan rasa itu.”

Baekhyun bercanda, Chaeri tahu begitu saja. Ia meraih tangan Baekhyun yang sejak tadi memainkan ujung ikatan rambutnya lalu menggenggamnya pelan. “Bukan soal rasa kesukaanmu, ini soal Baekhyun yang berhemat untuk mencari biaya.”

“Biaya untuk apa?” Bertanya pelan Baekhyun sejujurnya kaget Chaeri mengetahui lebih dari perkiraannya.

“Biaya untuk menjadi anak laki-laki yang hebat demi menjaga ibunya, kurasa begitu.”

Untuk saat ini Baekhyun bersyukur Chaeri yang sekarang tidak bisa melihatnya, sekarang ia merasa matanya memanas dan tidak perlu tunggu waktu, matanya benar-benar meneteskan air, hanya sedikit tapi tetap artinya ia menangis. “Luhan bilang kau mirip ibuku, aku tidak terima itu.”

“Apa maksudnya?”

“Hari sebelumnya ibuku baru masuk rumah sakit karena habis melukai nadinya sendiri, kalau saat itu aku minta dibuatkan bekal benar-benar konyol kan? Dia stress karena pacar barunya hanya memanfaatkan dirinya. Yah itu memang terakhir kalinya ibuku berhubungan dengan pria, sejak itu ia benar-benar tidak mau berminat dengan laki-laki dan memilih menyibukkan diri dengan kerjaannya. Bagian yang Luhan mirip denganmu bukan bagian kau yang dengan mudahnya bunuh diri.”

“Lalu yang mana?”

“Bagian soal dia menjadi perempuan yang tidak bertanggung jawab tidak memperhatikan anaknya, bagian dia perempuan tanpa sifat ibu, bagian yang dia tidak peduli dengan hal di sekelilingnya.”

“Aku—“

“Luhan tidak mengenalmu, ia mengatakan hal itu karena ia hanya melihatmu tanpa benar-benar berbicara denganmu.”

Chaeri yang merasa ia awalnya menggenggam tangan Baekhyun berganti jadi tangannya yang berada di genggaman Baekhyun. “Aku tidak tahu, aku rasa aku tidak bisa berkata banyak.”

“Maksudnya?”

“Aku juga tidak mengenal ibumu, bagaimana bisa aku mengiyakan perkataanmu kalau aku bahkan benar-benar tidak pernah berbicara dengan ibumu? Siapa tahu kami benar sama?”

“Kalian berbeda, aku mengenal ibuku dan kamu Chaeri jadi aku tahu kalian berbeda.”

Di saat seperti ini Chaeri tahu kalau ia perlu meyakinkan Baekhyun kadang hal tidak berjalan sesuai harapannya, tapi poin terpentingnya Baekhyun harus tahu Chaeri berusaha tidak membiarkan hal itu terjadi. “Tentu saja berbeda, tidak ada orang yang sama di dunia ini kan?”

#

#

Kyungsoo kurang begitu ingat ia punya waktu favorit, tapi pelajaran seni hari ini membuatnya sadar kalau ia juga manusia yang punya hobi selain bermain game dan membaca buku. Sambil mengeluarkan buku sketsanya yang sempat terpendam di loker selama beberapa minggu ia mulai menggores apapun yang berada di kepalanya, sekedar garis tegak lurus sampai sebuah desain robot.

“Kau suka menggambar?” Chaeri yang sedang duduk di depannya memecah keheningan di antara mereka berdua.

Kembali lagi soal waktu favorit, Kyungsoo baru sadar betapa ia menikmati waktu sorenya di perpustakaan bersama teman perempuannya ini.

“Bisa dibilang begitu.” Tanpa mengangkat kepalanya untuk menatap Chaeri Kyungsoo menjawab singkat, bukan karena ia malas atau apa tapi karena ia tahu perempuan itu juga tidak menatapnya

Waktu seperti ini waktu yang dinikmatinya. Ketika ia dan Chaeri mempunyai percakapan ringan ataupun berat. Seperti bertukar pikiran soal Pokemon atau Digimon seolah dua hal itu lebih penting dari headline news hari itu . Chaeri bertanya sambil memainkan laptopnya, Kyungsoo menjawab sambil membaca bukunya. Tidak ada kontak mata atau gestur yang ada hanya telinga dan mulut yang terus bekerja ditambah otak yang bekerja dua kali lipat untuk kerja dan bicara.

Chaeri yang sedang menunggu Baekhyun menyelesaikan hukuman membersihkan toilet (karena bolos pelajaran kedua) memilih untuk menghabiskan sorenya di perpustakaan.

“Hei Kyungsoo, apa maksudmu pagi tadi, bertanya apa aku baru dikejar maniak?”

“Lupakan, kau hanya mengingatku pada seorang perempuan.” Kyungsoo berbohong, firasatnya mengatakan saat ini bukan waktu yang tepat membahas hal itu.

Cheri yang merasa matanya lelah memutuskan mematikan laptopnya dan mengamati sisi lain dari Kyungsoo yang baru ia lihat hari ini. Melihat laki-laki itu menggambar terasa aneh tapi menarik, seperti melihat simpanse bisa berhitung, normal tapi aneh. Selagi matanya terpincing mengamati  tangan Kyungsoo yang tidak berhenti bergerak ia sadar sesuatu.

“OH! Kyungsoo kau kidal?”  

Kyungsoo kali ini mendongakkan kepalanya, Chaeri menaikkan suara membuatnya penasaran ekspresi macam apa yang keluar dari perempuan itu. “Aku ambidextrous.”

“Benarkah? Kau bisa menggunakan tangan kanan kiri dengan lancar? Coba tunjukkan, tulis bersamaan dengan tangan kiri dan kanan.”

Mulut laki-laki itu tersungging, seumur hidupnya baru kali ia bangga bisa menulis dengan dua tangan. Sambil menahan senyum Kyungsoo membuka halaman buku sketsa selanjutnya dan menulis  ‘Moon Chaeri’ dengan kedua tangannya secara bersamaan sukses membuat mata Chaeri membulat dan berbinar.

“Ini benar-benar KEREN.”

Chaeri langsung beranjak dari kursinya dan pindah ke kursi samping Kyungsoo. Terlalu bersemangat, ia langsung mengambil kedua pensil dari tangan Kyungsoo dan menggeser buku gambar laki-laki itu ke depannya seenaknya. “Waktu aku sakit demam berdarah dan rawat inap selama seminggu, aku kehabisan kerjaan dan memutuskan melatih kemampuan menulis dengan dua tangan.”

Kyungsoo biasanya tidak suka seseorang memakai buku gambarnya tapi perilaku Chaeri membuat laki-laki itu sama sekali tidak bermasalah buku gambarnya dicoreti perempuan itu.

“Baiklah, aku akan menulis Do Kyungsoo.” Sambil menggigit bibirnya berusaha konsentrasi Chaeri dengan kedua tangannya mencoba menulis bersamaan, hasilnya jelas berantakan beda jauh dengan tulisan tangan kiri Kyungsoo.

“Hahaha kau kurang latihan.”

Chaeri masih tidak puas, ia tidak membalas komentar Kyungsoo dan masih berfokus menuliskan nama Do Kyungsoo sekali-kali Moon Chaeri di kertas gambar itu.

Kyungsoo yang memilih menunggu perempuan yang disampingnya puas berlatih hanya memperhatikan Chaeri sambil menopang dagunya, melihat nama Moon Chaeri dan Do Kyungsoo tertulis di satu lembaran tanpa sadar membuat laki-laki itu tersenyum geli, meskipun kesannya kekanakan tapi hal itu membuat seperti ada sesuatu yang spesial di antara mereka berdua; hanya Moon Chaeri dan Do Kyungsoo.

Chaeri yang merasa tulisan tangan kirinya makin bagus merasa pensil yang dipakai sudah terlalu tumpul. Sambil beranjak dari kursinya ia mengambil rautan yang berada tepat di samping kiri Kyungsoo membuatnya sedikit bertabrakan dengan laki-l aki itu.

“Hei kau bisa bilang tolong ambilkan rautan.”

“Oh maaf.” Chaeri hanya menjawab singkat. Terlalu tidak peka dan menjadi terobsesi dengan tulisan tangan kiri membuatnya tidak sadar kalau ikatan kuncir kudanya menggelitik wajah laki-laki itu.

Dan, Kyungsoo beranjak dari kursinya.

“Kau mau ke mana?”

“Pulang.”

“Kalau begitu aku ikut, aku tidak mau sendirian di sini.”

Sambil membereskan buku-buku yang dipinjamnya Kyungsoo menggebrak meja, membuat Chaeri tergidik. “Jangan,  aku sudah lama di sekolah ini, percaya padaku tidak akan ada hantu di perpustakaan dan sepuluh menit lagi Baekhyun akan selesai.”

“Tapi—“ Chaeri ingin bilang masalahnya bukan karena ia takut hantu.

“Aku bilang jangan.” Tidak peduli Chaeri masih menatapnya kebingungan Kyungsoo langsung merebut buku gambarnya dan berjalan keluar dari perpustakaan. Sambil berjalan dengan tergesa ia membuka lembaran bukunya satu-persatu, mencari halaman yang baru dicoret-coret tadi.

Sesaatnya tangannya sudah mencengkram halaman itu bermaksud merobeknya, tapi detik berikutnya ia tahu itu bukan hal yang mudah. Lebih tepatnya tidak mungkin.

“Ayolah Kyungsoo.” Sambil berkata sendiri ia mengacak-acak rambutnya, semua jadi berantakan mulai dari rambut sampai perasaan. Seperti bukan menjadi dirinya lagi Kyungsoo pun mengakui sesuatu.

Dan itu rahasia.

___________________________

Author’s note:

Chapter ini berjalan tidak sedamai yang aku pikirkan soalnya aku sempet berencana ini menjadi one fine day chapter di mana mereka semua happy2 congrats baekhyun yang udah bareng sama Chaeri. Tapi—author-nim memutuskan menundanya dulu (firasat Pikrachu berkata seperti itu)

Mana momen favorit kalian di chapter ini? Meskipun ga ada yg asdjhaksdhakdj tapi waktu ngetik entah kenapa aku bayanginnya tetep dugeun dugeun doki doki.

Daaaan sekedar ngasih tahu author yg ini sama sekali ga tau apa2 soal comeback exo selain rambut baru mereka, jadi di komen jangan ngomongin soal itu oke? (biar aku ga ngiri)

80 thoughts on “Detour #17

  1. oke kalau aku nebak posternya kayanya yg hijau Laki2 itu Baekhyun? Karena bajunya sama dengan si perempuan. Dan pada akhirnya si perempuan memilih yang hitam.. Jonginkah? /eh/

  2. what happen with kyungsoo -_- dan luhan segitu bgt nilai chaeri hohohoh agak sebel sama kyungsoi yg seolah2 tetep mau ngejar chaeri meskipun udh tau kalo chaeri pynyanya baekkk ewhh

  3. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  4. ada apa sama DO ?? hmm… membingungkano_O , agak misterius juga ya ternyata DO ?? tapi gpp… ga bosen juga kok bacanya .. hehe😀
    semangat thor ! ^^b

  5. D.O akhirnya sadar kalo dia suka sama chaeri hehe
    moment favorit aku di part ini waktu kyungsoo tahu dengan detail percakapan nami ama baekhyun
    hehe gk tau knpa itu jadi bagian favorit aku thor

  6. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  7. Si chaeri bangun kesianfan bener-bener kesiangan tah, terus rambutnya lagi, ugh, dan jangan lupakan kalo dia salah kelas :v
    Luhan bener-bener kaya cwe pengen tau urusan orang (tapi ga semua) terus ikut campur dan ngomongnya lumayan pedes, frontal-__-
    Wehhh, daebak! Bisa nulis pake dua tangan!-__- btw, cwe yang setahun lalu siapa ya? Jangan-jangan cwe yang pernah disuka sama si d.o, dan kayanya si d.o mulai suka sama si chaeri..hahahaha ketauan😂

  8. Oh ya ampun~ Luhan terlalu berlebihan menilai. Masa iya temannya baru jadian, maah disuruh putus meskipun tidak langsung sihh
    Kyungsoo main rahasiaan terus ihh
    btw, aku kasihan juga sama Baekhyun yang tidak mendapat perhatian penuh dari seorang ibu. Untungnya Baekhyun tak sampai hati membenci ibunya. Huuhhh…semoga Chaeri dapat menjadi kebahagiaan Baekhyun kelas😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s