Pastel #023

#023

Minggu pagi ini bagi Tao dimulai dengan tidak biasa. Pertama; ia yang setiap pagi terbiasa bangun jam enam kurang untuk jogging pagi hari ini tidak terbangun sekalipun dua wekernya sudah berdering keras. Kedua; tidak ada sarapan yang berisik karena Junhee pagi ini menjadi begitu berbeda.

“Ahjumma apa aku sudah cantik?” Selesai mengoleskan lipstik pada bibir tipisnya Junhee menengok pada ahjumma yang sedang mengoleskan selai stroberi pada roti Tao.

“Cantik sekali.” Pujiannya singkat tapi berhasil membuat Junhee mengangguk kesenangan.

Tao yang baru saja terbangun setelah wajahnya disiram air oleh bibinya hanya memandang perempuan itu bingung. Ia bahkan sampai mengucek matanya untuk meyakinkan apa yang dilihatnya memang tidak salah. “Untuk apa kau berdandan?”

“Karena Tao menolakku aku memutuskan untuk mencari pasangan di kencan buta.” Junhee menjawab tanpa sedikitpun menatap Tao, matanya masih belum puas memandang pantulan dirinya dari  cermin kecil.

“Oh baguslah, jaga sikapmu saat kencan nanti.” Laki-laki yang disindir itu berujar sambil menguap lebar, ia pun melirik Junhee dari ujung kaki sampai kepala, penampilan perempuan ini sudah menarik hanya butuh sentuhan sikap normal (seperti tidak memanggil laki-laki dengan hyung) untuk membuat ia segera mendapat pasangan.

“Apa aku sudah cantik?’ Kali ini Junhee bertanya pada Tao.

Tao baru saja memasukkan roti selai stroberinya pada mulut membuat ia tidak bisa membuka mulutnya secara bebas, Ia hanya mengangguk dan memberikan jempolnya pada Junhee membuat perempuan yang dipuji itu tertawa kecil. “Lebih cantik dari pada perempuan yang kau sukai?”

“Ti—“ Tao menelan rotinya susah payah lalu meneguk susunya. “Dak”

Junhee mendengus, tidak menyangka Tao akan menjawab semudah itu. Selesai merapihkan maskaranya ia segera menjulurkan lidahnya pada Tao. “Aku hanya bercanda.”

Tao memiringkan kepalanya, memikirkan baik-baik jawabannya lagi. “Yah mungkin kau lebih cantik, kulitmu lebih putih dan hidungmu lebih mancung tapi entah kenapa dia terlihat lebih manis dari pada wajahmu.” Nada bicaranya datar tidak peduli reaksi Junhee, ia tahu tidak ada wanita yang suka dibandingkan dengan wanita lainnya tapi masalahnya dia seorang Junhee, perempuan 4 dimensi yang Tao rasa tidak akan tersinggung dengan hal seperti itu.

Junhee hanya mencibir, ia berjanji tidak akan membandingkan dirinya lagi pada perempuan yang disukai Tao itu, rasanya hal itu membuat rasa percaya dirinya menurun. “Ngomong-ngomong bagaimana dress ini? Manis sekali kan?” Berusaha tidak melanjutkan percakapan lebih cantik siapa, Junhee memutuskan mengeluarkan sebuah floral dress selutut dari tasnya.

Tao memiringkan kepalanya mengamati seksama baju yang Junhee perlihatkan padanya. “Bukankah itu baju dari ibuku? Kau mau memakainya untuk kencan nanti?”

“Tidak, ini untuk teman yang akan menemaniku di kencan nanti.” Junhee tersenyum dan melipat dress kesayangannya itu hati-hati. “Perempuan itu cuek sekali, aku yakin dia berencana datang hanya mengenakan jeans dan t-shirt  jadi aku memutuskan meminjamkannya baju ini. Tidak apa-apa kan Tao-hyung?”

Tidak begitu peduli soal hal semacam itu, Tao hanya mengangguk-ngangguk, lebih dari itu ia lebih penasaran soal hal lain. “Kau sudah memiliki teman? Cepat juga.”

“Tentu saja sudah! Dia perempuan yang baik jadi aku mengajaknya berteman, lain kali akan kukenalkan dia padamu.”

“Siapa namanya—“

“Oh! Sudah jam 10! Aku harus berangkat atau aku akan terlambat!” Junhee yang sejak tadi tidak memperhatikan jam langsung beranjak dari kursinya panik, ia segera membereskan seluruh alat make upnya tidak mempedulikan Tao yang menyuruhnya berhati-hati karena Junhee hampir menyenggol gelasnya.

“Aku akan pulang malam! Bye ahjumma dan Tao!” Masih berusaha memasang heelsnya ia sudah berjalan keluar dan menutup pintu dengan kakinya. Tao hanya tercengang dan memutuskan untuk  tidak mengomentari betapa berantakannya meja yang Junhee tinggali,  perempuan memang perempuan dan Tao tidak boleh protes kalau sudah menyangkut urusan kencan.

“Junhee manis sekali ya?” Ahjumma  yang sejak tadi hanya memerhatikan Junhee dan Tao hanya terkekeh.

Tao mengernyit kurang setuju pada ahjumma, ia ingin mengomentari betapa menyebalkan dan mengganggunya Junhee tinggal di rumah ini (tidak ada manis-manisnya!) tapi melihat ahjumma begitu menyukai keberadaan perempuan itu Tao tidak bisa mengatakannya sefrontal itu. “Ada perempuan lain yang lebih manis.”

“Siapa itu Tao?” Dengan senyum jahilnya ahjumma bertanya, beberapa hari terakhir Tao memang terlihat seperti mayat berjalan yang kerjanya hanya tidur siang dan baca komik tapi pagi ini melihat wajah Tao yang begitu berseri ia rasa sesuatu yang baik terjadi pada keponakannya.

“Ahjumma tidak perlu tahu.” Tao mengelap mulutnya yang belepotan susu coklat sekaligus menyembunyikan senyum geli yang tidak bisa ditahannya. Ahjumma makin terlihat penasaran tidak percaya Tao-nya sudah berani merahasiakannya sesuatu darinya.

“Ah hari ini Minseok-hyung memintaku menggantikan shift  kerjanya! Aku harus pergi sekarang!” Tao segera beranjak dari kursi menjadikan alasan kerja sebagai caranya untuk kabur dari ahjumma yang sudah siap menginterogasi.

Percakapan kemarin malamnya dengan Sina akan menjadi rahasia, Tao tidak akan menceritakannya ke siapapun entah itu ke Hara atau Chanyeol ia akan menyimpan memori itu hanya untuk dirinya sendiri.

#

#

Dan di sinilah Sina duduk sekarang. Setelah seumur hidup ia menjadi adik Miyoung baru sekarang Sina merasa ia mirip dengan kakaknya. Setelah Junhee memaksanya habis-habisan memakai dress yang katanya di pesan dari Milan hanya untuk Sina (dan Sina tahu itu bohong) ia merasa penampilan dirinya sekarang hanya seperti Miyoung yang baru jatuh cinta. Sina tidak suka penampilan ini, kalau pun dia memakai dress dia selalu memakai legging sebagai pelengkapnya tidak mau membiarkan kakinya kedinginan.

Sambil berpangku tangan tidak peduli laki-laki didepannya akan mempertanyakan etikanya ia melirik Junhee yang sedang menikmati obrolan dengan pasangan kencannya.

Laki-laki yang menjadi pasangan Junhee terus terang memiliki tipe wajah kesukaannya. Sina merasa familiar dengan wajah itu tapi dia malas mempertanyakan hal ‘apa kita pernah bertemu’ atau semacamnya. Sambil menghela napas Sina memandang jam dinding di cafe yang rasanya jarum itu jadi berjalan dua kali lipat lebih lambat seperti tidak membiarkan dirinya untuk segera pulang.

“Jadi Sina, film apa yang kau tonton akhir-akhir ini?”

Pasangan kencan buta Sina rupanya masih berinisiatif untuk mengajak perempuan yang sudah memberikan tatapan aku-mati-bosan itu mengobrol. Sina kembali memandang laki-laki yang duduk di depannya. Wajahnya menarik dan Sina patut memberi acungan jempol pada selera fashionnya karena selera klasik laki-laki itu benar-benar kesukaannya, navy blue turtle neck di tambah kacamata oversized yang melengkapi wajah ehm— tampannya.

“Taehyun, aku lihat kau tidak memiliki kesulitan berkomunikasi dengan wanita dan penampilanmu juga tidak jelek, kenapa kau masih ikut kencan buta?” Sina tidak menjawab basa-basi soal film kesukaannya, ia lebih penasaran kenapa laki-laki sesempurna macam itu punya alasan untuk ikut kencan buta, di luar sana sudah ada ribuan wanita masa mencari kekasih saja masih harus pakai kencan buta?

“Yah justru itu aku ikut kencan semacam ini, aku ingin menjalin hubungan serius karena perempuan yang ikut kencan buta juga mencari hal yang sama kan?” Taehyun menjawab dengan senyum puas melihat Sina akhirnya mau memulai topik.

Sina berusaha untuk tidak memutar bola mata, dia hanya mendengus dan mengendikkan bahu. “Ini hanya kencan buta bukan biro jodoh jadi tidak semua wanita seserius yang kau anggap, contohnya aku.”

Ucapan Sina hanya membuat Taehyun tertawa kecil. Ia pun menyenggol temannya yang memaksanya ikut kencan buta. “Yah Minseok bagaimana ini? Temannya Junhee bilang dia tidak serius dengan kencan ini.”

Junhee memelototi Sina, ia sudah bilang pada Sina setidaknya bertahan satu jam dan perempuan itu boleh pergi tapi bahkan belum sampai setengah jam Ahn Sina sudah membuat masalah.

“Sina hanya bercanda, tidak apa-apa Taehyun kau harus mengenal perempuan ini lebih lama untuk terbiasa dengan candaannya.”

Minseok yang tidak memberi respon apa-apa hanya memperhatikan Sina lebih jeli karena ia benar-benar merasa pernah bertemu perempuan itu, tapi dipikir berapa kalipun rasanya tidak ada tempat yang memungkinkan mereka berdua pernah bertemu, yah palingan Sina hanya mirip dengan beberapa pelanggan di cafe tempat kerjanya.

Taehyun kembali menatap Sina yang hanya sibuk mengaduk-aduk milkshake oreo­-nya. “Kau lihat Sina? Kata Junhee aku harus lebih lama bersamamu untuk terbiasa dengan candaanmu, bagaimana kalau kita jalan keluar?”

Sina yang hanya bermain dengan sedotan kembali mengangkat kepalanya memandang Taehyun. Berjalan keluar bukan pilihan yang buruk malah bisa dibilang paling bagus, karena itu artinya ia bisa kabur di tengah-tengah acara jalan-jalan mereka. “Baiklah.” Sina beranjak dari kursi berjalan cepat menuju pintu cafe tidak menunggu laki-laki itu untuk keluar bersamanya.

Ya tunggu Sina!”

#

#

“Tao!”

Tao yang sedang mengelap gelas kaca segera menengok pada perempuan yang memanggilnya. Song Qian sudah berada di sebelahnya menunjukkan foto panna cotta dengan siraman saus raspberry.

“Enak kan? Temanku mengirimi foto ini bagaimana setelah kerja nanti kita makan panna cotta?” Ia bertanya dengan semangat, beberapa hari terakhir ia tidak bisa mendekati Tao karena terlalu sibuk setelah terpilih menjadi panitia festival kampus.

Tao menelan ludah, foto panna cotta yang Song Qian tunjukkan luar biasa menggoda, biasanya ia akan mengangguk apapun itu yang berhubungan dengan makanan tapi entah kenapa mengiyakan tawaran Song Qian kali ini membuatnya merasa bersalah pada seseorang. “Hmm— Song Qian menurutku hal seperti ini harusnya kau lakukan bersama kekasihmu, apa Yifan tidak marah melihatmu makan berdua dengan laki-laki lain?”

Mendengar nama Yifan Song Qian tergidik, oh ia lupa memberitahu Tao. “Astaga aku lupa memberitahumu! Yifan dan aku sudah putus.”

“Putus?” Tao penasaran, inilah alasan ia malas memulai hubungan dengan perempuan, mendengar kata putus selalu membuatnya menjadi ragu terlebih Song Qian mengatakan itu dengan terlalu santai.

“Hmm, nanti kuceritakan, jadi bagaimana? Kita makan ini ya?”

Ini memang acara makan biasa tapi bagi Tao ada yang berbeda, ia sudah menyatakan perasaannya dengan Sina dan perempuan itu mengiyakannya (iya kan?) entah kenapa makan berdua dengan perempuan lain membuatnya merasa bersalah. “Hmm—“ Tao menggaruk rambutnya, harus ada alasan untuk menolak ini.

“Aku— sudah berjanji pada Sina akan pergi setelah shiftku selesai.” Dalam hati Tao meminta maaf menggunakan nama Sina, tapi nama perempuan itu seratus kali lebih baik dari pada ia harus meminjam nama Junhee.

“Sina?” Song Qian memiringkan kepalanya, baru ia ingin menyerah tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Hei bagaimana sih? Kau sendiri yang bilang makan berdua harusnya dilakukan dengan kekasihmu? Sina sudah punya Sehun!”

Oh iya.

Sekarang Tao benar-benar bingung, bagaimana bisa ia merasa bersalah kalau Sina saja masih bersama laki-laki lain? “Oke baiklah.”

Yeay!” Mata Song Qian langsung berbinar perempuan itu langsung mengangkat kedua tangannya, berbanding terbalik dengan Tao yang sudah menundukkan wajahnya. Ia benar-benar bodoh, kenapa ia menyatakan perasaan pada perempuan yang sudah memiliki kekasih? Tao tidak ingin menjadi menjadi pihak ketiga, setiap ia menonton drama dengan ahjumma mereka pasti akan menyumpah-nyumpah si pihak ketiga dan sekarang ia menjadi pihak ketiga.

Ini karma, dan Tao tidak percaya karma. Itu artinya sesuatu yang salah terjadi.

#

#

Sina menengokkan kepalanya kanan kiri, sambil membungkuk ia berjalan di balik freezer makanan beku. Skenarionya memang harus kabur dari Taehyun, tapi yang terpikir di kepala Sina hanya supermarket, tempat ini luas dengan rak-rak menjulang tempat sempurna untuk lari karena seperti labirin.

Pertanyaan sekarang bagi Sena adalah bagaimana ia memberitahu Taehyun ia baik-baik saja? Menyadari laki-laki itu begitu perhatian atau lebih pantas dikatakan over-protective Sina takut dengan kehilangan dirinya Taehyun akan berakhir di kantor polisi dan melaporkan dirinya hilang. Itu konyol.

Dengan berhati-hati sambil berjongkok ia bergerak maju, mungkin ia bisa memberi pesan lewat customer service. Baru saja Sina ingin berbelok tiba-tiba sebuah kaki sudah berdiri di depannya.

“Kenapa kau membungkuk?”

Mati. Dia bukan Taehyun kan? Sina lupa, dia sama sekali tidak ingat apa sepatu Taehyun tapi melihat warna celananya ia ingat itu sama seperti yang Taehyun kenakan.

“Lensa kontakku— jatuh.” Masih berjongkok perempuan yang memiliki kemampuan akting rendah itu meraba-meraba lantai berusaha terlihat panik mencari lensa kontak.

“Sejak kapan kau memakai lensa kontak?”

Sina meniup poninya. “Dua hari yang lalu.” Sambil menjawab asal ia melanjutkan acara pencarian lensa kontak yang tidak mungkin ditemukan sekalipun ia meraba-raba lantai itu seharian. Tiba-tiba terdengar suara tawa. Dan suara tawa ini bukan suara Taehyun.

“Sehun?” Mulut Sina terbuka, masih menganga.

Sehun mengendikkan bahunya, sambil menahan senyum ia ikut berjongkok tepat di depan Sina. “Aku akan membantumu mencari lensa kontak itu.”

Sehun dengan santainya ikut-ikutan meraba lantai membuat Sina tahu dia hanya digoda. “Lupakan, aku terlihat bodoh.”

“Lalu kenapa kau bersembunyi? Apa kau melaku—“

“Apa laki-laki yang memakai sweater biru dan kacamata masih berada di sekitar ini? Aku berusaha kabur darinya.” Sina membisiki Sehun, laki-laki ini bisa digunakan sebagai alatnya menghindari Taehyun.

Tanpa bertanya lebih lanjut Sehun langsung berdiri dan menengok kanan kiri mencari sosok laki-laki yang Sina maksud. Matanya mengernyit saat melihat pria dengan ciri yang Sina jelaskan sedang berdiri beberapa meter dari tempat mereka.  “Ada.”

Aish.” Sina menggigit bibirnya, apa yang harus ia lakukan?

Melihat Sina terlihat panik, Sehun membungkukkan punggungnya di depan Sina. “Memang kenapa dengan laki-laki itu? Dia terlihat baik.”  Sehun ikut berbisik.

“Justru karena terlalu baik aku harus kabur darinya, dia pasangan kencan butaku. “

“Kencan buta? Untuk apa kau ikut kencan buta?” Sebagai teman yang sudah mengenal Sina jelas laki-laki itu kebingungan, ikut kencan buta sama sekali bukan gaya Sina.

“Sudahlah jangan banyak tanya, lebih baik kau membantuku bisa kabur darinya!” 

Sehun mendengus, bagaimana bisa ia membantu kalau tahu ceritanya saja tidak. Tapi memaksa penjelasan kalau orang itu tidak mau bercerita juga bukan gaya Sehun, ia pun berdiri dan berjalan mendekati laki-laki yang Sina maksud.

“Ahh permisi?”

Taehyun yang baru saja berniat akan melakukan panggilan anak hilang untuk Sina langsung menengokkan kepalanya. “Ya?”

“Tadi ada perempuan yang menghampiriku mengatakan ada pesan yang harus disampaikan pada laki-laki yang memakai sweater biru menggunakan kacamata, yah kurasa itu kamu—“  Sehun mengacak-acak rambutnya, orang di depannya terlihat lebih tua apa boleh memanggilnya kamu?

“Ah apa perempuan itu memakai floral dress dengan rambut sebahu tatapan matanya dingin dan wanginya vanilla?”

Hmft—dia benar-benar menyukai Sina. Sehun mengendikkan bahu, ia tidak memperhatikan baju yang Sina pakai dan entah kenapa tatapan perempuan itu tidak begitu dingin di matanya. “Yah wanginya memang vanilla kurasa itu perempuan yang kau maksud.”

“Pesan apa yang disampaikan?” Taehyun panik, apa segawat itu sampai Sina tidak bisa mengatakan langsung padanya?

Selagi Taehyun menanti jawaban Sehun merapatkan bibirnya, kalau ia menjawab dengan alasan standar rasanya membosankan. “Hmm—katanya dia itu orang Jepang dan masa berlaku visa Koreanya sudah habis, dia ingin mengatakannya padamu tapi malu jadi dia kabur mengatakan takut kalau ditangkap polisi. Sejenis imigran gelap?”

Mata Taehyun membelalak lebar, jelas dia percaya. “Sina orang Jepang?”

“Ah iya! Dia bilang namanya Sina! Yamada Sina!” Sebisa mungkin Sehun berusaha menahan kedua bibirnya untuk tersungging. Melihat Taehyun yang langsung mengangguk-ngangguk ia tahu tipuannya berhasil.

“Baiklah aku mengerti, pantas dia begitu pendiam apa karena bahasa Koreanya terbatas? Ya sudahlah terima kasih sudah menyampaikkannya padaku.” Taehyun menepuk bahu Sehun sekali dan berjalan pergi.

“Ah! Dia bilang tolong jangan laporkan dirinya ke polisi!” Sehun berseru dan mendapat balasan dari Taehyun yang menganggukkan kepalanya dan memberinya jempol. Taehyun begitu baik Sehun entah kenapa merasa bersalah.

Tapi bukan Sehun namanya kalau dia terus merasa bersalah, sambil bersenandung pelan ia berjalan menuju tempat awalnya bertemu dengan Sina, perempuan itu masih berjongkok menundukkan kepalanya, sama sekali tidak menyadari keberadaan dirinya.

 Sehun berdehem. “Apa nyonya sudah menemukan lensa kontaknya?”

 “Bodoh.” Sina yang mendongakkan kepalanya segera berdiri dan memandang kanan kiri dengan hati-hati.

“Dia sudah pergi kau harus berterima kasih padaku.” Sambil berujar matanya baru menyadari pakaian Sina hari ini, sekarang ia mengerti kenapa Taehyun menyukai perempuan itu. “Kukira kau tidak niat mengikuti kencan buta, tapi gayamu hari ini benar-benar kebalikan dari sikapmu.”

“Cerewet.” Sina mendecak dan membenarkan bajunya yang terlipat. Ia kira Sehun sudah pergi tapi laki-laki itu masih berdiri di tempat yang sama. “Kenapa kau masih berdiri di sini?”

“Kau tidak ingat? Hari ini kita janji makan Jjambong.”

“Ahh— iya aku ingat, tapi aku malas, perutku sudah kenyang dan bukankah kita janji jam dua belas nanti? Sekarang bahkan belum jam sebelas.”

Mendapat jawaban seperti itu Sehun terdiam. Malas. Sina dan malas selalu berada dalam kalimat yang sama dan terus terang kadang itu mengganggu. “Tapi kau sudah janji menemaniku membeli hadiah untuk Mi—“

“Sehun!”

Yang dipanggil memang hanya Sehun tapi justru Sina yang menengok, laki-laki yang dipanggil justru menghela napas dan mengacak-acak rambutnya.

“Ah! Ada Sina!” Ibu Oh yang berlari membawa trolinya membuat Sina menelan ludah, Sina sudah tahu tipe ibu seperti apa Ibu dari Sehun itu dan sedikit kebetulan saja pasti akan dibesar-besarkan oleh wanita itu.

“Rupanya diam diam kalian kencan—“ Nah benar kan.

“Bukan.” Baik itu Sina dan Sehun berkata bersamaan. Sehun meniup poninya, ia baru saja berhasil kabur dari ibunya tapi selang beberapa menit sudah kembali ditemukan. Menemani ibunya belanja bulanan merupakan kegiatan paling melelahkan sekaligus membosankan bagi Sehun, biasanya ia selalu berhasil kabur dengan alasan belajar ke rumah teman tapi pagi ini laki-laki itu bangun kesiangan dan terpaksa ikut ibunya.

“Baiklah Sina, aku pergi dulu.” Sehun membalikkan badannya, ia segera merebut troli yang ibunya pegang dan berjalan cepat meninggalkan Sina. Bersama dengan Sina lebih lama lagi akan membuat perempuan itu menjadi korban drama ibunya. Kesalahpahaman ibunya dapat membuat hubungannya dengan Sina menjadi canggung.

“Baiklah Sina! Kami pergi dulu!” Ibu Oh melambaikan tangannya dan berlari menghampiri Sehun. Benar-benar ibu yang enerjik, Ibu Oh mengingatkannya pada Miyoung, apa tipe wanita Sehun memang tipe yang keibuan?

Sina memiringkan kepalanya melihat Sehun dan ibunya yang berjalan makin menjauh, sedikit lagi mereka akan berbelok dan menghilang dari pandangan,

“SEHUN—“

Entah suara Sina yang kurang keras atau apa, tapi anak dan ibu itu sudah telanjur berbelok. Sina menghela napas dan membalikkan badannya. Alasannya memanggil Sehun sesungguhnya memalukan, dan diam-diam Sina bersyukur Sehun tidak mendengarnya, baru saja ia kembali melangkah menuju rak produk susu Sina mendengar derap langkah cepat di belakangnya.

“Apa?”

Sehun sudah berada beberapa meter di belakangnya, alisnya naik terlihat penasaran membuat Sina tertawa. “Boleh aku ikut bersamamu?”

“Hah?”

“Kau bilang mau membeli hadiah untuk Miyoung? Aku juga mau membelinya sekarang.”

Sambil merapatkan bibirnya ia menatap Sina berusaha mencari ekspresi bercanda dan seperti biasanya perempuan itu menatap tanpa emosi. “Tapi aku sedang menemani ibuku, dan bukankah kau bilang kau malas makan Jjambong?”

“Iya aku malas, tapi aku mau ikut kalian belanja. Lagi pula kita bisa membeli hadiah untuk Miyoung di supermarket.”

Sehun tidak sempat bertanya lagi, Sina sudah berjalan melaluinya. Ada apa dengan Sina? Anak ini sakit atau apa?

“Hei Sehun! Ayo!”

Kembali diberi kejutan saat Sehun membalikkan badannya ia sudah menemukan Sina berdiri di samping ibunya ikut mendorong troli, sesuatu yang salah terjadi.  Ada apa dengan perempuan itu? Stress?

#

“Percaya padaku, kau beli ini dan Miyoung akan melompat kesenangan.”

“Jangan bercanda.”

“Kau meragukanku? Aku ini orang yang paling mengerti selera Miyoung.”

“Oh baiklah.” Sehun mendengus dan memasukkan barang yang Sina tunjuk pada troli, apapun itu yang penting dia sudah membeli hadiah untuk Miyoung.

#

#

Sambil bersandar pada kasurnya Zitao memantulkan bola basketnya pada dinding kamar, ditangkap, lempar lagi, tangkap, lempar lagi, ia sudah melakukan hal tanpa arti itu hampir setengah jam. Meskipun ekspresinya kosong tapi yang laki-laki pikirkan itu cukup kompleks, tapi kompleks standar Tao bagaimana sih?

“Jadi sekarang aku menjadi Manabu.” Tao menghela napas, Manabu adalah nama tokoh laki-laki sebagai pihak ketiga di shoujo manga yang ia baca, laki-laki itu menyukai kekasih temannya sendiri, Tao jelas membenci Manabu dan sekarang ia menjadi Manabu?

“Dan aku menjadi Choi Youngdo? Laki-laki itu akhirnya tidak berhasil mendapatkan Eunsang kan?” Masih berbicara sendiri Tao terus memikirkan betapa menyedihkan nasib dirinya menjadi orang ketiga. Tao mulai berpikir akan lebih baik kalau ia menyukai perempuan lain, mungkin lebih baik kalau ia tidak menyukai seseorang saja. Tapi semuanya berujung kalau mungkin, dan mungkin itu kebanyakan tidak mungkin kan?

“TAO-OPPA!“ Pintu kamarnya terbuka dan Hara menyerbu masuk membuat Tao nyaris ingin melempar bolanya pada Hara saking kagetnya.

“Hara bisa mengetuk pintu dulu kan? Bagaimana kalau aku lagi ganti baju?” Dengan alis mengerut Tao yang sedang malas mengobrol dengan siapapun membuat Hara yang melihatnya ikut merengut.

“Aku ingin melaporkan sesuatu dan oppa bersikap seperti itu?”

Tao menghela napas dan memaksakan sebuah senyuman, ini anak kecil ia tidak boleh melampiaskan rasa kesalnya pada anak kecil. “Apa itu?”

“Aku! Yoon Hara, baru saja mendapat menstruasi pertama!” Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya, kegirangan mendapat hal yang membuatnya merasa menjadi wanita seutuhnya.

Sesaat Tao tercengang, bukan hanya kaget untuk apa Hara melapor padanya ia juga bingung, maksudnya Hara masih kecil, bagaimana bisa anak perempuan itu sudah— menstruasi? (Tao merasa canggung). “Tapi kau masih kecil, pinggangmu belum membentuk dan dadamu masih rata, tidak ada gadis dewasanya sama sekali.”

Hara mendengus dan menyibak rambut ikalnya. “Perempuan zaman sekarang memang tumbuh cepat, aku hanya ingin memberitahu oppa karena kupikir itu artinya aku sudah menjadi wanita dewasa kan?”

“Kau yakin itu menstruasi? Sudah periksa ke dokter siapa tahu itu sakit—  ah!” Hara memukul kepalanya, cukup keras mungkin perkataan Tao membuatnya tersinggung. “Baiklah maaf, kutarik kata-kataku selamat Hara kau sudah menjadi seorang gadis. “ Tao mengelus-elus kepalanya, Hara tidak main-main saat memukulnya.

Hara mengulum senyum dan mengangguk, 120% bertingkah menjadi gadis manis membuat Tao merasa konyol. “Dan oppa, kupikir karena aku sudah besar, mungkin sudah saatnya aku menyatakan perasaanku pada Gongchan?”

“Menyatakan perasaan?” Tao memiringkan kepalanya, apakah senormal itu perempuan menyatakan perasaannya duluan pada laki-laki? “Hei, bukankah biasanya laki-laki yang menyatakan perasaan? Kenapa kau tidak membuat Gongchan menyukaimu dulu?”

Hara mendecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tren sekarang perempuan yang menyatakan perasaannya duluan. Gongchan terlalu polos dia tidak akan menyadari aku menyukainya kalau aku tidak bicara!”

“Benarkah?”

“Hmm— lagipula aku khawatir, ratu dari kelas sebelah sepertinya menaruh perhatian pada Gongchan, aku takut Gongchan akan direbut.”

Merasa pembicaraan ini makin menarik, Tao membenarkan posisi duduknya dan menghadap Hara. “Ratu? Katakan bagaimana sainganmu, apa dia benar-benar sulit dikalahkan?”  

“Namanya Daeha—- karena dia tomboi dia pandai berteman dengan laki-laki dan itu termasuk Gongchan! Wajahnya juga manis! Kelakuannya bossy jadi banyak perempuan memanggilnya ratu.”

Tao mengangguk-angguk, melihat Hara begitu berapi-api memperjuangkan orang yang disukainya entah kenapa ia merasa semangat Hara tertular padanya. “Tapi kalau Gongchan menyukai Daeha dan Daeha juga menyukai Gongchan apa yang akan kau lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Hara seketika diam, pikirannya tidak sejauh itu, ia terlalu percaya diri. “Aku—“

“Apa? Apa yang akan lakukan?” Sekarang jadi Tao yang terlihat bersemangat dengan pembicaraan ini, saking semangatnya tidak sadar pertanyaan itu menyudutkan Hara.

“Aku tidak tahu! Oppa jahat sekali!” Hara langsung berdiri dan berlari keluar dari kamarnya, membuat Tao hanya bisa melongo, bahkan seorang seperti Hara pun tidak tahu jawabannya?

#

#

Sina mulai menyesal mengambil pilihan menemani Sehun dan ibunya berbelanja. Alasan pertama ia iseng melakukannya hanya karena ia merindukan sosok ibunya sekaligus Miyoung (menyedihkan tapi memang iya), bersama ibu Oh mungkin dapat membuatnya merasa lebih bersemangat. Ibu Oh gambaran sempurna seorang ibu rumah tangga yang baik plus  memiliki sikap kakak perempuan seperti Miyoung, rasanya nyaman menghabiskan waktu dengan wanita semacam itu. Tapi satu hal yang Sina lupakan, tetap saja harusnya ia berhati-hati, bagaimana pun juga Ibu Oh adalah Ibu Oh, ia tetap memilki beberapa sisi yang membuat baik itu Sina atau Sehun capek menghadapinya.

“Maafkan aku, harusnya kau menghabiskan waktu dengan keluargamu, bukan di sini kan?” Sehun menjatuhkan dirinya di atas sofa tepat sebelah Sina duduk.

“Tidak apa-apa, lagipula mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing.” Sina mengendikkan bahu, ia mengambil remote di atas meja mencari acara TV yang lebih baik daripada harus menonton Titanic bersama Sehun.

Sambil bertopang dagu Sehun melirik perempuan tanpa ekspresi itu dari ekor matanya. Sudah ia duga Sina memiliki masalah, ia ingin bertanya tapi sejak di supermarket tadi Sina terus menyibukkan diri mengobrol dengan ibunya. Sejujurnya Sehun sedikit senang ibunya berhasil membujuk Sina ikut makan malam bersama keluarga mereka, dengan begini ia punya waktu untuk bertanya pada Sina.

“Hei Sina.”

“Hmm?” Sina memutuskan berhenti di channel Animal Planet, jauh lebih baik melihat buaya menyerang anak gajah dari pada melihat adegan mellow-drama dengan Sehun.

“Kau masih memikirkan rencana masa depanmu? Seperti kuliah apa yang akan kau ambil?”

“Hah?” Sina menengokkan kepalanya pada Sehun yang sudah menatapnya, ia bahkan sudah melupakan persoalan itu sejak perbincangan terakhirnya dengan Tao.

Reaksi Sina membuat Sehun menghela napas dan menyenderkan badannya pada sofa, tidak tahu bagaimana harus melanjutkan percakapan semacam ini. Ia jarang memedulikan urusan temannya dan menjadi peduli begini terlebih untuk seorang Sina, rasanya masih canggung. “Ohh—sepertinya bukan.”

Sina mendengus dan ikut menyenderkan punggungnya pada sofa. “Apa aku terlihat memiliki masalah?”

“Entahlah, hari ini hanya terlihat berbeda.”

Perempuan itu malah tertawa dan menunjuk dress yang dipakainya. “Karena ini? Temanku yang memaksa untuk memakainya, aku tahu ini tidak cocok.”

Sehun mengalihkan pandangannya dari TV pada Sina, ia menatap perempuan itu dari ujung kaki sampai kepala tidak tahu kalau tindakannya itu membuat Sina gugup setengah mati. “Bukan tidak cocok tapi belum terbiasa, tidak ada yang salah dengan baju itu, kau cocok memakainya.” Sehun berkata dengan datar dalam hati ia mulai berpikir apa Sina sedang krisis percaya diri?

Berbanding terbalik dengan Sehun yang merasa pendapatnya tadi biasa untuk dikatakan, Sina menggigit bibirnya, kalau Sehun mengejeknya ia tidak akan membantah, kalau Sehun mengatakan hal manis berkesan gombal Sina akan mencemoohnya, tapi barusan Sehun memujinya dengan terlalu santai tidak menyadari arti kalimat itu untuk ukuran seorang Sina lumayan membuatnya senang (bagaimana pun juga Sina masih perempuan kan). “Terima kasih.”

“Ya sama-sama.” Laki-laki itu menjawab singkat dan mengambil remote untuk mencari channel yang lebih manusiawi, melihat buaya sedang mencabik mangsanya tidak terlalu bagus untuk tontonan sebelum makan.

“Hei kenapa diganti?”

“Aku tidak mau muntah saat makan malam.” Tidak membaca nada kesal pada pertanyaan Sina Sehun tetap menguasai remote, tidak ada yang menarik bagi Sehun, selera humornya sedang tidak ada membuat variety show menjadi terlalu membosankan dan menonton Titanic tidak cocok untuk suasana saat ini. “Mau ke kamarku?”

“Untuk apa?” Sina merespon malas.

“Dari pada membosankan di sini, lebih baik ke kamarku aku mau menunjukkan sesuatu.”

Beberapa detik Sina terdiam tapi melihat Sehun sudah berjalan duluan menaiki tangga ia menghela napas dan memilih mengikuti laki-laki itu. Sebenarnya berada di lantai bawah membuat Sina merasa tertekan, melihat Ibu Oh memasak sendirian terus terang ia ingin membantu tapi mengingat kemampuan masaknya akan lebih baik kalau ia diam saja, Sina tidak ingin mempermalukan dirinya.

#

#

“HYUNG-!” Junhee mendorong pintu toko dengan satu tangan sementara satunya lagi mengamit lengan laki-laki yang menjadi pasangan kencannya.

Tao yang sedang membantu memasangkan mentimun pada wajah bibinya tidak bisa melakukan banyak hal selain bergumam ‘hmm?’ pada Junhee yang sedang masuk dengan bunyi gedebuk karena ia melempar sepatunya asal.

“Aku membawa namjachingu ku! Perkenalkan namanya Baozi!” Dengan tidak sabar Junhee menepuk-nepuk pundak Tao yang sejak tadi belum membalikkan badannya terlalu sibuk menata timun pada pipi ahjumma.

Mendengar Baozi membuat satu alis Tao naik, hah kekasihnya makanan?

“Tao?”

Namanya tersebut, yang bicara yang pasti bukan Junhee atau Ahjumma tapi bagaimana bisa pasangan Junhee sudah mengenal dirinya?

“Hah—“ Tao membalikkan badannya, butuh beberapa waktu bagi laki-laki itu meyakinkan apa yang dilihatnya memang tidak salah. “Minseok-hyung?”

“ASTAGA KALIAN SALING KENAL.” Junhee berteriak, kedua laki-laki itu segera mengernyit dan menutup kedua telinga mereka. Tao menatap dua orang di depannya bergantian, ia baru ingin melempar berbagai pertanyaan pada pasangan itu hingga tiba-tiba Minseok menjetikkan jarinya.

“AH! Aku ingat siapa perempuan itu!”

“Perempuan itu? Perempuan siapa?” Sambil memiringkan kepalanya Junhee langsung menoleh pada Minseok. Laki-laki ini begitu pemalu membuat Junhee selalu bereaksi berlebihan setiap ia membuka mulut  seperti sekarang.

“Teman yang menemanimu itu,  Ahn Sina!” Minseok menatap Junhee lalu berganti pada Tao “Dia temanmu kan Tao?”

Ketiga dari mereka diam, bahkan drama queen Junhee terdiam. Tao hanya menelan ludah, sekarang ia berharap telinganya salah dengar. “Sina?”

“Iya, perempuan yang datang ke cafe dan sempat membentakmu itu.”

Sina.

Perempuan itu sekali lagi membuat Tao merasa dunia berjalan miring. Tao ingin jatuh.

_________________________________________

Author’s note:

Orang ke – 3 LOL sejujurnya akhir2 ini setiap bikin scene Tao aku selalu nyetel lagunya HiVi yg Orang Ke 3 kayak pas gitu lirik sama moodnya xD

Hubungan taosina dipenuhi dengan miss communication karena kalau keduanya berjalan terlalu lancar ga seru, tapi kalau selisih terus kapan dong nyambungnyaaa ah jangan tanya itu pada author. Lebih baik kita berfokus sehun mau ngapain sih di kamar dan KENAPA BAOZI JADI SAMA JUNHEE. AKU GA NGERTI. Awalnya aku bakal buat song qian jadi suka sama minseok cuma lebih baik itu cewek kita bikin totally mad in love with tao aja c:

Daan meskipun ini udah chap 23 dan halamannya udah jauh lebih banyak daripada detour, hubungan mereka bertiga masih ngambang jika dibandingin dengan baekhyun-chaeri-kyungie, tenang aja author nyadar hal itu dan ini bukan kesalahan karena sesuatu yang baik akan datang buat orang yang mau menunggu!

Until the next chapter, bye! –xoxo pikrachu.

31 thoughts on “Pastel #023

  1. triple update? yehet wuahahahah. emang iya sih ngambang banget … ambigu? ga ambigu juga sih. *abaikan tapi GAPAPA KOK SERIUS KEGIRANGAN SETENGAH MATI NGELIAT UPDATE NYA OHORAT. lanjut’😀

  2. Detour & Pastel itu fanfict yang bikin aku cekikikan kalo baca. iya bener hubungan TaoSinaSehun masih ngambang walaupun ini udah chapter 23. ternyata si Hara satu sekolah sama Daeha ohalah…… jangan-jangan mereka bakal ada cinta segitiga itu sama si Gongchan? Jadi Song Qian gampang banget moveon apalagi dari Yifan, jangan bilang si Qian kesemsem sama Tao? Tao jangan galau dong nanti makin keliatan mata pandanya🙂🙂

    • Si populer Gongchan daridulu selalu kuketik tapi ga pernah muncul namanyaa…dan bener! songqian udah suka banget sama tao c:

  3. Ya ampun thor, ak bisa stress klau baca patel kyk gni ._.
    Biarpun smua ff yg kutunggu hri ni update smua tpi knapa rsany nyesek gtu ya ? Oke next ya buat pastelny .. Klau mw bkin mrk ber3 ngambang gpp tpi tlng vic jgn dimasukkin, rasany kek dy pelarian dri nickhun ._.

    Ak gk tw mw comment apa, kykny chapter ini ak ngerasa pendek ya .. Kyk, penantian panajng harapan pendek .. Mungkin authorny lgi lost contac dgn pastel ..

    Gmana sma ff yg ak blng hampir sama apakah berbeda ? Kalau beda sory tpi akny aj yg ngerasa itu sama mungkin ._.

    Next ya😀

    • penantian panjang harapan pendek…kita sepikiran tapi emang chapter ini dibikin damai mungkin kurang ngena ya?

      oh iya! soal ff itu! SUMPAH aku ngerasa dunia kecil banget, aku kenal sama authornya! (bukan temenan sih cuma tau doang) dia itu author yang pernah ngerekomendasiin FF Detour ._. jadi dia pembaca ff ini jugaa hahahahah kesamaan ada sih mungkin karena sama2 school life dengan tokoh utama kyungsoo-baekhyun juga, tapi berhubung plotnya beda aku jadi ga keberatan soal beberapa hal yang sama itu ;;)

  4. tao it polosnya kebangetan setiap baca pastel pasti tanganku gemes bgt pegang hp. klo seandainya tao ad di dpnku beneran minta cubit sama cium. hahaha
    pertemanannya dgn hara semakin gila, ada2 aja hara dtg cuma mau bilang klo dia dpt haid pertama ke tao. demi apa tao it cowo hara >_< tp berhub tao it anak kecil 7 thn yg tersesat d tubuh dewasa so well nothing really suprise about…
    ok smpai jumpa d next chap, cuma mau bilang aku suka bgt gaya penulisanmu author_nim ♥♥

    • AHAHAH ga usah minta dicium! dicubit aja >:)

      ahahah hara mungkin kurang respek sama tao jadi dia ngerasa bareng cowok kayak tao kayak lagi sama unnie xD

  5. Heeeung daeeeeebak ~
    part ini bikin aku ngakak gak berenti haha
    yaaa dan SELAMAT author berhasil buat aku sukanya banyak sama sehunsina wakakakakka
    gakngerti kenapa moment yg begini yg bikin aku jadi suka sehun sina. Tapi serius deh dari yang sehun ketawa pas ketemu sina lagi nyari kontak lens itu, hati ini tuh langsung.. dek! Apakah sehun adalah jodoh ku? #loh #gakgitu –”
    pokoknya suka sama sehunsina pas di supermarket ituuuu. Hahaha apalagi apaitu, YAMADA SINA? WKWK
    trus trus lagi pas dirumah hiiiing aku bayangin sehun pake pakaian kayak yang di poster ituuuu… Cocok banget sama diaaaah :3
    dan apa rasanya itu diliatin sama sehun dari atas sampe bawah?!! TRUS DIAJAK KEKAMAR?! DIAJAK KE-KA-MAR!! HUAAAAAAA
    kamu mau kasih unjuk apaan ke sina, sehun?? Ngajak cewe ke kamar cowok tanpa ada rasa canggung? Gilaaaaa… Tumpeh-tumpeh nih sehunsina feels-nyaaa :””

    btw, tadi aku sempet ngerasa suasana bulan puasa masa pas bayangin mama sehun nyiapin makan malam hahaha #aneh

    yuhuuuu zitaooooo wkwkwkw masih aja galau ini anak satu xD
    jadi orang ketiga hahaha kasian kebanyakan gaya si lau sekarang, gak polos lagi kayak dulu #kokjadicurhat
    btw btw ngakak climax pas hara ngasih tau dia menstruasi pertama yahahhaa sumpah itu anak 4D juga xD kasian sena punya adek kayak gitu mana saingannya adeknya chaeri lagi jiakakkaa DAEEEEBAK!!

    oya tao mah gak cocok jadi young do. Dia tuh cha eunsangnya hahahaha sama LuTan xD
    dan bagian akhirnya “…Tao ingin jatuh.” ohh dasar butiran debu😄

    thor buat special chapter dong, detour sama pastel ketemu di satu cerita. Yaaa gak sekarang juga gapapa atau pas di ending masing2 ff juga boleh (kapan endingnya?._.)
    pasti seru!!😀

    sejauh ini terima kasih telah menghibur dengan tulisan mu thor😀 fighting ^^

    • kok aneh sih sumpah ini aneh, sejujurnya aku ga berencana bikin sehun sina bikin chemistry di chapter dan kamu sebagai orang terakhir di daftar orang-bakal-ngedukung-sehun komen kayak gini! Unpredictable o.o

      DAN INI JUGA ANEH. PLIS PUASA DUA BULAN LAGI (iya kan?) dan gara komen ini aku mikir ibu OH lagi bikin kolak sama es buah

      soal tao kurang polos…aku juga ngerasa tapi dia tetep lucu kan? ;;)

      DUH BUTIRAN DEBUUUUU PLS PLS PLS AKU GA NGERTI kenapa aku harus ngomenin part komenmu yang ini tapi aku mau ketawa bacanya.

      oh ya aku berencana kok! bikin digabung nanti kalau ada tanggal spesial atau tiba2 random aku bakal post soalnya kalau nunggu kapan ending…itu masih lama…. tapi aku usahain tahun ini bisa tamat ^^

      oh kamu juga komenmu menghibur~❤

  6. Detour sama Pastel update barengan? Sampe bingung baca yang mana duluan. Itu apa yang mau ditunjukin Sehun ke Sina dikamarnya? Oke sampe chapter 23 Sina belum punya perasaan dan rasanya masih ngambang. Thor boleh minta sesuatu gak? Kasih lagi dong momen yang bikin kesemsem^^ chapter #24 kutunggu

  7. Pastel Updateeee!
    Dari tadi baca, pengen benget nanya ini : •itu Taehyun ‘BTS’ bukan? Atau author bikin OC?
    —-
    Ini Chapter bener2 lucu! Ngebayangin Tao galau, lempar- lempar bola basket ke dinding, tidak lama Hara datang dan mengatakan kalau dia ‘Mendapat Menstruasi Pertama’ xD gila bener tuh Hara :)) kalo aku misalnya kayak Hara gitu pasto malu banget ><

    Dan..dan.. kakak Song Qian hadir lagi di FF ini.. semoga aja gak ganggu Tao lagi —

    Walaupun gak ada momen TaoSina, it's oke lah.. Momen SehunSina udah cukup. Cukup buat aku GILA! apa yang bakalan di tunjukin Sehun sama Sina? …. di KAMAR? Apa yang bakalan mereka lakukan di kamar? AAAHH!!

    Kalo misalnya, Author buat Song Qian suka sama Minseok, nanti Junheenya gimana?

    Penasaran banget ekspresi dan perasaan yang bakal di tunjukkin Junhee saat tau kalau Sina adalah cewek yang di maksud Tao itu… bakalan marah sama Sina? Cuek sama Sina? Atau gak mau tau?
    Trus..trus nanti ekpresi Tao juga pas tau Sina itu teman yang di maksud Junhee dan Sina ikut kencan buta.. bakalan galau gk tuh Tao? AAAAHHHH! gk sabar buat baca Chapter selanjutnya…

    Karena ini banyak moment SehunSina, pasti chapter selanjutnya bakalan banyak momen TaoSina. Bener gak? (Reader sok tau ^^v)

    Ditunggu (BANGET) Chapter selanjutnya ^^
    Sampai Ketemu lagi di chapter selanjutnya, Author.
    Fighting! ^^9

    • Uahh~ salah >< di BTS itu Taehyung bukan Taehyun kan? …ahh~ (memalukan x_x)
      Abaikan pertanyaan itu aja, Pikrachu Eonnie…
      Ahhh~

      • LOL btw sekedar info Taehyun di sini itu Taehyun model korea yang ganteng bgt main di You From Another Star😉

    • Chapter ini emang bukan buat taosina….tadinya mau cuma kutunda dulu🙂
      Oh ya! Pertanyaan kalau songqian sama minseok..berarti junhee yang sama tao! Hayoloh lebih suka saingan Sina yang mana? Junhee atau Songqian? Tapi author baik kasih dua2nya juga ga apa2 c:

  8. nyeeh, kirain songqian udah lenyap.. -_____-v kenapa kamu ada lagi, haha, semua udah pernah di deketin, onew, yeoseob, yifan, (bener gk tuh rada2 lupa) eh minseok pernah juga ya?

    sina ngapain ke kamar sehun kyaa >o<!!

    • heeh, asal ngomen di komp knp selalu kepotong yah..

      (interview tao) An ideal type that shakes your heart : I would like it if she was pretty and kind. I become interested in a girl that shows no interest in me. I wonder why the reason is.

      hmm ada mirip2nya ke sina huee..

      taosinaa >o<

      • AAA HEI QUOTES ITU AKU TAU JUGA sdasdasda dan terus terang gara2 itu quotes aku udah nyiapin special chapter!! WOOT congrats ramen panas kau membuat pikrachu membocorkan rencananya!!

  9. Detour dan Pastel adalah FF yg bisa membuat aku seneng sendiri ,, gak tau deh knp -,- pokoknya AKU SUKA BANGET SAMA FF BIKINAN AUTHOR PIKRACHU❤ next chapternya jangan lama-lama oke?? Nanti aku keburu lumutan -,- T^T keep writing🙂

  10. uh saya ska bget.,..
    Krakter tao polos2 gmana gtu…,
    ni yg bwt qw msh bingung ma hubungan sehun-minyoung…sbnarnya sehun tu ska siapa?
    Song qian ,..tu sfatnya gmana?

    • sehun miyoung udah putus! hahaha udah mereka ga usah dibawa2 lagi ;;) dan sehun suka siapa aku maunya sih sina tapi ga tau beneran atau enggak o.o song qian sifatnya……..rahasia.

  11. Hahahahahahaha xD
    Tau ga kak? Begitu sehun nyebut yamada sina bayangan aku tentang sina yang tadinya baek sumin jadi yamada miiko wahahaahaha xD sumpah kocaaak xD

    Oke ketawanya selesai ._.

    Sehun sama sina ngapain di kamaaaar?? Sehun mau nunjukin apaaaa???
    Trus trus hadiah buat miyoung yg dipilihin sina apaan?? Aduh cepetan ultahnya miyoung kenapaa–

    Padahal pasangan kencan butanya sina taehyun ya, hahaha tapi itu anak malah kabur ckck *iyalah orang di hatinya cuma ada tao*

    Oke kak aku tau ini postingan pastel terakhir dan aku berharap kakak segera melanjutkaaaan~~
    Pls jangan bikin aku mati penasaran x.x

  12. KAK!!! AKHIRNYA AKU BACA PASTEL
    demi apa aku gak tahu tapi tiba-tiba pengen baca
    TERLALU PENASARAN
    ada alasan dibalik aku gak niat baca pastel, yaitu karena ada tao sebagai main castnya
    dalam otak ku kayak udah tertanam si tao ini orang labil, dalam mv emang sih cool tapi kalo udah di variety show beda lagi, yang paling membekas sih waktu dia lari-lari cantik waktu liat pemandangan dinamsan tower sambil poto-poto, itu yang ngebuat aku susah ngebayangin peran kayak gimana yang cocok dibawa sama tao
    TAPIIIii… setelah baca pastel aku ngerasa feel dari sifat tao disini hidup banget dan emang gak maksa

    aku benar-bener nyesel gak baca ini sebelum2nya, tapi untungnya udah gak nyesel lagi karena udah baca

    dan kak, aku makin seneng banget sama pastel karena kegalauan sina di ff ini
    masalah sina disini sama banget sama masalah yang lagi aku dapet soal mau ngelanjutin atau ngambil jurusan apa, aku jadi ngerasa kalo sina disini aku (tapi sayangnya enggak)
    aku agak dapet pencerahan waktu baca ff ini

    ditunggu kelanjutannya kak !!!

    salam overdose~ ^^v

  13. Hallo aku baru baca ff akhir “ini tapi blm ada yg sesuai dengan yg aku cari tapi pas baca ff ini langsung tetarik apa lagi ada tao nya,chpater 24 nya blm ada ya
    Di tunggu dhe thor chapter 24 nya

  14. Oh god, aku pikir hara mau kasih tau tao kalo dia ngeliat sehun ama sina jalan atau laporan apa gitu yg jelas brhubungan sama tao smpe” masuk kamar gk ngetok dulu eh nyatanya apa ?? Aku yoon hara sudah mendapat menstruasi pertama, haha sumpah ngakak smpe kebanting” thor😀 itu demi apa coba, tao itu cowo hara hihi

    itu sehun kenapa dengan santainya ngajak sina ke kamar ?? Mau ngapain coba ??
    Aku juga sama thor kok bisa si baozi berakhir sama junhee hihi

  15. yeyy ada moment sehun sina,dannnn aku tambah dukung mreka bgt di caphter ini,oh ayolahh aku suka mama tehun waktu ma sina dan sina ma tehun
    aku bakal dukung sehun sina sampe akhir apapaun yg terjadi ,fighting!!!!!!!!^^

  16. kak masih inget sm pastel gk? sumpah aku kangen banget sm pastel sampe aku baca ulang lagi dari awal tapi tetep aja aku gak bosennn!!!!:D
    kak please pastelnya dilanjutin lagi dong, aku bener2 penasaran sm hubungan sina dan tao. eh sebenernya kgn bgt sm tao, trus baca pastel rasa kgn nya ilang sedikit lah.
    oiya maaf jg sblmnya aku gapernah comment karena bingung mau ngomentarin apa:(
    pkknya please kak pastel dilanjutin lagi ya, detour aja udh tamat kan:”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s