Detour #18

#18 Bloom

Chaeri menundukkan kepala menatap kakinya yang terus melangkah beriringan dengan Baekhyun. Lebar dan kecepatan langkah mereka jelas berbeda, dan mengetahui Baekhyun sengaja melambatkan langkahnya agar mereka bisa berjalan beriringan—bukankah wajar Chaeri menyukai hal sederhana semacam ini?

“Kenapa kau menundukkan kepala? Ayo lihat ke depan.” Sambil berusaha menahan tawa Baekhyun menyikut Chaeri. Perempuan itu baru saja menceritakan soal salah seragamnya dan sempat salah masuk toilet laki-laki.

Chaeri pun mengangkat kepalanya mengikuti perintah Baekhyun. “Apa yang harus kita lakukan setelah ini?” Sebisa mungkin Chaeri berusaha tidak terdengar canggung, ia tidak begitu mengerti soal hal normal apa saja yang dilakukan sebuah pasangan, yang ia tahu ia hanya ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Baekhyun.

Baekhyun menengadahkan kepalanya memandang langit di atas, dalam hati bersyukur tidak ada awan abu-abu tebal yang dapat merusak rencananya. “Pertama bukankah lebih baik kita bergandengan dulu?”

“Hmm baiklah.” Chaeri membuka telapak tangannya yang sejak tadi terkepal, meraih jemari Baekhyun dan menautkannya dengan jarinya sendiri, terus terang ia belum terbiasa melakukan ini, seumur hidup bahkan dengan ayahnya sendiri pergelangan tangannya selalu dipegang seperti polisi yang memborgol penjahat.

“Bagaimana kalau—“

“CHAERIIII”

Keduanya membalik badan bersamaan, menemukan Sena yang masih berlari terengah-engah menghampiri mereka. Chaeri mengernyit menyadari temannya itu berlari tanpa sepatu, kedua converse merahnya dijinjing satu tangan, sementara satu tangannya lagi memegang sumpit. Rambut perempuan itu masih basah, handuknya  pun tersampir di pundak.

“Katakan apa yang membuatmu sampai berlari seperti ini?” Chaeri bertanya.

Sena masih belum bisa berbicara napasnya masih tersengal, sampai lima menit yang lalu ia masih menikmati bekal setelah klub renangnya selesai, sambil mencuri dengar Luhan yang sedang mengobrol dengan Kai soal Baekhyun terus terang perempuan itu tidak begitu tertarik, tapi detik ketika kata ‘Baekhyun’, ‘jadian’ dan ‘Chaeri’ berada dalam satu kalimat— tanpa pikir panjang ia segera melesat meninggalkan bekalnya.

“Kau.” Sena menunjuk Baekhyun tapi segera menggelengkan kepalanya lalu berganti menunjuk Chaeri. “Maksudku kau. Chaeri.”

“Ya?” Satu alis Chaeri naik, melihat ekspresi menyelidik dari Sena yang jarang berwajah serius entah kenapa membuatnya menelan ludah.

“Bersama laki-laki itu?” Sekarang jari Sena bergeser dan menunjuk Baekhyun yang memandang bingung.

“Aku? Bersama Baekhyun? Iya, seperti yang kau lihat aku memang lagi bersama Baekhyun.” Otak Chaeri masih belum sampai.

“Ahh— bukan itu maksudku! KAU, MOON CHAERI DAN BYUN BAEKHYUN. KALIAN—“ Mulutnya terkatup, kata selanjutnya terlalu membuat Sena malu untuk mengucapkannya, apalagi ini soal Chaeri, Chaeri yang itu, perempuan yang masih menggambar sketsa jantung manusia ketika disuruh menggambar simbol cinta.

Baekhyun menutup mulutnya menyembunyikan senyum geli melihat Sena yang masih memandang Chaeri tidak percaya seperti menganggap perempuan itu baru saja mendapat penghargaan noble, eh— apa artinya bersama Baekhyun sama hebatnya dengan mendapat penghargaan noble?

Detik selanjutnya mata Sena berhenti pada tangan Chaeri dan Baekhyun yang bergandengan, semua sudah jelas, jawabannya di sana. “Ya Chaeri! Hal seperti ini harusnya kau diskusikan denganku! Kita kan teman.” Ia langsung menarik tangan Chaeri membuat Baekhyun yang sejak tadi tersenyum jadi merengut.

“Diskusi soal apa?”

Sambil menahan keinginannya untuk memutar bola mata Sena mendecak. “Kita bicara soal Baekhyun! Kau yakin keputusanmu? Kau tidak tahu kan laki-laki seperti apa Byun Baekhyun itu?”

Ya ya ya Park Sena.” Baekhyun buka mulut, perempuan ini harusnya tau menggunjing tidak baik di depan orangnya langsung, meskipun dibelakang juga tidak baik sih. Setidaknya kalau memang mau membicarakan dirinya bisa tidak tepat di depannya kan?

Chaeri yang tidak begitu ambil pusing soal Sena dan Baekhyun yang memelototi satu sama lain memilih untuk mendorong Sena menjauh dari Baekhyun. “Baek! Aku harus berbicara dengan Sena dulu!” Rasanya ia harus meluruskan sesuatu dengan Sena.

“Jadi aku pulang sendiri?”

“Iya.”

Dengan perpisahan singkat itu Chaeri menarik Sena kembali memasuki gerbang sekolah meninggalkan Baekhyun yang hanya melongo melihat perempuannya pergi begitu saja. Sambil menyeret kakinya malas-malasan Baekhyun pun melanjutkan perjalanan pulangnya. 

#

#

Kyungsoo menyeruput McFlurry Oreo­nya sambil menatap Jongdae yang tidak berhenti melirik kanan kiri setidaknya sepuluh detik sekali.

“Hei kubilang jangan gugup.”

“Aku tidak gugup, ini namanya waspada.” Jongdae membela diri, jelas ia berbohong, sundae coklatnya sudah mencair karena waktunya dihabiskan untuk memandangi setiap sudut ruangan.

“Jadi katakan, sejak kapan dan bagaimana kau mulai menyukai Seuk—“

“Bodoh— sst!” Tangan laki-laki itu langsung membungkam mulut Kyungsoo. “Setidaknya kita bisa membicarakan hal seperti ini di rumah atau di manapun asal bukan tempat dia bekerja kan?”

Mendapati Jongdae yang menatapnya panik Kyungsoo justru ingin tertawa, Kim Jongdae untuk kali ini menjadi seorang laki-laki normal (dan itu aneh), pertanyaan lucunya: bagaimana bisa hal normal menjadi aneh? Hal itu hanya berlaku pada Kim Jongdae. “Kenapa? Kau tidak ingin lihat Seukri bekerja?”

“Tentu saja mau— astaga Kyungsoo.” Jongdae menelan ludah tidak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika ia merasa sosok perempuan itu sedang berjalan menghampiri meja mereka. Entah ini efek kebanyakan nonton film atau apa tapi semua di mata laki-laki itu berjalan jadi lambat, terlalu dramatis.

“Hei D.O. dan Chen! Apa kau tahu aku bekerja di sini atau ini hanya kebetulan?” Seukri yang sedang membawa pel karena balita sebelah meja Kyungsoo menumpahkan minumannya mencuri waktu mengobrol dengan kedua teman sekolahnya itu.

“Kebetulan. Sejujurnya aku benci junk food tapi Chen memaksaku ke sini.”

Lamunan Chen terpecah, ia baru tahu seorang Kyungsoo bisa menjadikan berbohong sebagai hal paling mudah di dunia.

Sambil mengobrol dengan Seukri ekor mata Kyungsoo mendapati teman laki-lakinya malah menundukkan kepala dan mulai menyendok sundaenya yang sudah mencair. “Oh ya Seukri.” Kyungsoo sengaja membesarkan suaranya. “Aku sudah mengajak Sehun ke sini.”

“Benarkah? Astaga katakan itu sejak tadi! Baiklah aku harus merapikan rambutku dulu!” Dengan itu Seukri pun berjalan pergi meninggalkan mereka. Bukannya uring-uringan soal kenapa jadi ada nama Sehun, Jongdae justru mematung dengan ekspresi terpana, tidak tahu apa yang membuat Kang Seukri terlihat begitu mempesona sore ini, padahal rambutnya lepek, mukanya berkeringat dan badannya tidak wangi.

Menyadari Chen yang malah memandangi perempuan itu menghilang sampai masuk toilet membuat Kyungsoo menaikkan alisnya. “Kau tidak dengar kalimat terakhirku?”

“Aku dengar, soal sainganku Sehun kan? Terima kasih Kyungsoo.” Sambil bertopang dagu Chen malah tersenyum.

Kyungsoo tahu sengaja memanggil Sehun ke sini sebenarnya tindakan jahat, secara tidak langsung membuat Chen mengetahui perempuan yang disukainya sedang menyukai orang lain, ia pikir temannya itu akan kehilangan kata-kata atau sekedar memelototinya dengan marah, tapi tersenyum? Itu di luar prediksinya. “Kenapa terima kasih?”

“Karena memberitahuku kalau dia menyukai orang lain.”

“Hmph—“Sambil memainkan ponselnya Kyungsoo menutup mulutnya yang ingin tertawa, sejujurnya masih kurang mengerti tapi ya sudahlah. “Oh baiklah, lagipula aku bohong, aku memanggil Luhan ke sini.”

“Hah?”

#

Luhan masih memantulkan bola basket pada ringnya, ini sudah pantulan ke-50 tapi entah kenapa rasanya belum puas, bukan karena three-pointnya gagal tapi melihat Sena dan Chaeri masih duduk di pinggir lapangan entah kenapa ia tidak bisa pergi. Setengah dirinya ingin mendengar lebih jelas percakapan kedua perempuan itu, apa soal Baekhyun atau dirinya? Bukannya Luhan geer tapi jelas ia melihat Sena sekali-kali menunjuk dirinya.

Baru saja ia ingin menghampiri dua perempuan itu tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan malas-malasan tanpa mengecek siapa yang menelponnya ia segera menerima panggilan itu. “Halo?”

“Cepat datang ke McDonald yang baru dibuka dekat stasiun.”

“Hah?”

“Sekarang cepat Chen butuh bantuan.” Kalimat terakhir dan teleponnya putus, seseorang yang memanggil tanpa repot-repot bertanya apa kau lagi sibuk sebelum menyuruh orang siapa lagi kalau bukan Kyungsoo?

Chen butuh bantuan kesannya seperti sesuatu yang urgensi, tapi masalahnya itu ‘Chen’ bantuan apa yang dia butuhkan?

Sementara itu Sena yang ujungnya jadi menceritakan kenapa hubungannya dengan Luhan menjadi buruk baru menyadari laki-laki yang menjadi topik mereka sedang membereskan isi tasnya bersiap mau pergi.

“Oi Luhan!”

Dengan kening mengernyit Luhan langsung menengok padanya, jarak mereka yang terpaut 15 meter membuat keduanya harus saling berteriak. “Kenapa?”

“Kau mau ke mana?”

“Makan!”

Sena memegang perutnya yang sempat berbunyi sekali karena bekal tadi sama sekali tidak mencukupi lambungnya. Ditambah uang di dompetnya sudah habis mungkin ada baiknya ia berdamai dengan Luhan sore ini. “Boleh kami ikut?”

Butuh beberapa detik bagi Luhan untuk membuka mulutnya, kalau dipikir-pikir sudah berapa tahun sejak ia melihat Sena tersenyum padanya? Dan kenapa dengan mudahnya laki-laki itu menganggukkan kepala mengiyakan permintaan Sena? Entahlah yang jelas ia tahu ada sesuatu di balik semua itu.

#

“Luhan! Boleh aku memesan Big Mac? “

Sudah kuduga. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Sena bosan ia mendengus. “Aku tidak bilang akan mentraktirmu, yang kutraktir hanya Chaeri.”

“Kenapa hanya Chaeri?” Dengan kening berkerut Sena melirik pada Chaeri yang masih berdiri di depan counter masih menimbang menu apa yang harus dipesannya.

Luhan pun tertawa dan menunjuk Kyungsoo yang sejak tadi diam sejak kedatangan mereka bertiga. Perihal soal Chen butuh bantuan jelas bohong, Chen masih dalam kondisi primanya bermain-main dengan sedotan membentuk menara yang membuat Luhan malu untuk makan di meja mereka.  “Yaah seseorang mengatakan aku harus minta maaf pada Chaeri jadi aku akan mentraktir perempuan itu.”

“Hah? Kyungsoo?” Gantian sekarang Sena memandang Kyungsoo.

Sementara dua temannya masih berselisih Do Kyungsoo hanya memijit keningnya, bukan karena pusing soal Chen yang tengah menarik perhatian hampir seluruh pengunjung restoran dengan menara sedotannya bukan juga jengkel karena Sena dan Luhan saling membentak di depan umum. Bisa dibilang malu hasil ketahuan bohong yang anehnya ini lebih memalukan dari pada tertangkap basah menyembunyikan komik di balik buku pelajarannya. Di Perpustakaan tadi ia berkata tegas soal pulang dan sekarang Chaeri menangkap basah dirinya malah makan di luar. Chaeri memang sama sekali tidak membahas hal itu tapi tetap saja, namanya juga Kyungsoo selalu membuat hal sederhana menjadi rumit.

Beberapa menit kemudian Chaeri sudah datang dengan membawa pesanannya hanya segelas McFlurry oreo.

“Kenapa hanya memesan itu? Aku mentraktirmu sebagai permintaan maaf karena Kyung—“ Mulut Luhan terkatup ketika Kyungsoo menyikut tepat ulu hatinya sebagai peringatan bicara-maka-kau-mati.

Chaeri yang tidak membaca situasi hanya mengendikkan bahu dan memilih ambil posisi di sebelah Kyungsoo. Sambil mengaduk minumannya ia menyadari laki-laki yang belum bicara dari tadi itu memesan hal yang sama. “Hei kukira laki-laki sepertimu tidak suka minuman manis?”

Kyungsoo tidak bisa langsung menjawab, pertanyaan itu langsung memancing pertanyaan-pertanyaan lain muncul dari otaknya. Memang aku laki-laki seperti apa? Lalu menurutmu minuman apa yang cocok untukku? Jadi kau juga memilih oreo daripada coklat?  Tidak ada yang penting tapi yang menyedihkan ia benar-benar penasaran soal jawaban dari pertanyaan-pertanyaan konyol itu.

“Tidak pulang bersama Baekhyun?” Dan Kyungsoo memutuskan berganti topik.

Mendengar nama ‘Baekhyun’ tersebut mata Chaeri secara otomatis langsung menuju laki-laki yang dihindarinya seharian ini, Kim Jongdae. Dan benar, laki-laki itu tengah menatapnya dengan senyum lebar paling menyebalkan yang pernah Chaeri lihat. “Aku ada keperluan dengan Sena— jadi—“ Chaeri kehabisan kata, ia ingin menarik Sena tapi perempuan itu sudah berdiri dan mengantri bersama Luhan. Baru saja ia ingin mengakhiri kalimatnya sosok yang tak terduga duduk di sebelahnya.

“Seukri?”

Sekarang giliran Chen yang diam.

Seukri yang sudah mengganti seragam kerjanya sekarang duduk di samping Chaeri, matanya langsung berbinar saat menyadari meja yang tadinya hanya ada Kyungsoo dan Chen sudah dipenuhi tas teman-temannya, apa salah satunya ada yang milik yang Sehun? “Hei apa Sehun sudah sampai?”

“Dia bilang dia harus menemani ibunya pergi.“ Sambil mengaduk minumannya Kyungsoo sekali lagi berbohong, benar-benar mudah tanpa perhitungan.

Aish katakan itu sejak awal. Aku bahkan sudah menyampo rambutku di toilet tadi!” Bahu Seukri menurun, punggungnya yang tegak seketika membungkuk membuat Chaeri kebingungan. Insting perempuan Chaeri mengatakan dari mata Seukri yang jelas mengerling dengan menyebut nama Sehun tiba-tiba meredup seperti itu— bukankah ini yang namanya dikatakan ‘suka’?

Chen melonggarkan dasinya, merasa momen ini terlalu mencekat. Dua orang yang sedang duduk di depannya ini satu-satunya yang tahu soal rahasia terbesarnya, dan perempuan yang disukainya itu (dia rahasia terbesarnya!) duduk tepat di samping mereka. Kim Jongdae merasa berada di ujung tanduk, bukannya memikirkan soal Seukri yang bersedih karena laki-laki lain, ia malah memelototi Kyungsoo dan Chaeri bergantian.

“Kalau kau suka Sehun katakan saja.” Tiba-tiba Kyungsoo buka mulut, Chaeri nyaris menyemburkan minuman yang sudah berada mulutnya itu kalau saja Seukri tidak segera menjawab. Ia pikir Kyungsoo sedang berbicara dengan Chen.

“Hei tidak semudah itu.” Seukri menghela napas dan melirik Sena Luhan yang masih berselisih di depan counter, dalam hati benar-benar berharap dua orang temannya itu diusir dari restoran ini, mereka benar-benar merusak nama baik sekolah.

Sementara Seukri mulai membicarakan betapa tidak mungkinnya Sehun bisa menyukai dirinya Kyungsoo melirik Chen yang rupanya memilih menggoda Chaeri, jelas Kyungsoo tidak cemburu, tidak, dia tidak cemburu, dia hanya jengkel kenapa laki-laki itu malah mengobrol dengan tetangga perempuannya yang bisa ditemuinya kapanpun dan mengabaikan perempuan yang disukainya sedang bersedih.

“Chaeri—“ Sekarang Kyungsoo memilih melibatkan Chaeri dalam pembicaraan ini. “Kau sekelas dengan Sehun kan? Apa ada perempuan yang menyukainya?”

Chaeri bersyukur Kyungsoo mengajaknya bicara, meskipun tidak sama sekali ia tertarik soal Sehun tapi kali ini itu jauh lebih baik dari pada harus mendengar Chen berulang kali menyebut nama Baekhyun ekhm— sayang, di depannya. “Aku tidak tahu, tapi satu-satunya perempuan yang sering mengobrol dengannya hanya Sina.”

Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum seakan selesai memecahkan sebuah kasus. “Baiklah Seukri, itu artinya kau sudah kalah. Aku tahu Sehun seperti apa dia hanya mengobrol dengan orang yang disukainya, dan karena Chaeri bilang sering, artinya ia memang menyukai Sina. Sekarang lebih baik kau menyerah.”

Seukri melongo. “Tapi kita tidak akan tahu kalau mencoba.”

“Kalau begitu nyatakan perasaanmu pada Sehun.”

“Tapi—“

Kyungsoo memutar bola matanya, Chaeri menggeleng-gelengkan kepalanya, Chen menghela napas. Mereka bertiga benar-benar tidak suka hal berbau plin-plan.

“Sudahlah, ditolak pun tidak akan membuatmu mati kan?” Dengan malas Chaeri kembali memulai pembicaraan setelah sempat hening beberapa detik.

“Haha kau tidak mengerti Chaeri~ Orang yang kau sukai membalas perasaanmu tentu saja kau tidak mengerti betapa menyakitkannya perasaan kita tidak terbalas.” Chen meresponnya, membuat Kyungsoo memelototi laki-laki itu, jelas Chen punya masalah soal timing ia selalu berbicara di saat yang tidak tepat.

Breaking news! Chaeri menyukai seseorang? Siapa?” Posisi duduk Seukri segera berubah.

Chaeri sebenarnya tidak pernah berniat menyembunyikan hubungannya dengan Baekhyun, tapi bukan berarti ia akan membeberkan hal itu pada semua orang. Dan untuk kali ini ia merasa membicarakan persoalannya dengan Baekhyun tidak tepat, topik utama saat ini kan Seukri. “Dari pada itu bukankah kita harus bertanya pada Chen? Kenapa ia mengerti betapa menyakitkannya perasaan yang tak terbalas? Apa kau berbicara berdasarkan pengalaman pribadi?” Chaeri mengulum senyum, kali ini ia berhasil memojokkan Kim Jongdae!

Yep, pengalaman pribadi. Dulu aku menyukaimu Chaeri.”

Hening.

Mati! aku benar-benar cari mati. Chaeri mengumpat dalam hati; sekarang Chen membawa persoalan tiga belas tahun yang lalu saat mereka baru SD. Masa-masa ketika batas polos dan bodoh benar-benar tipis di mana Kim Jongdae menyalahartikan kata berani dengan nekat.

Masih hening. Kyungsoo pun kehilangan kata-kata. Ia lupa di dunia ini ada yang namanya cinta monyet atau setidaknya cerita masa kecil, jadi yang ada di kepalanya sekarang soal menyukai ‘dulu’ adalah menyukai beberapa hari yang lalu. Jadi sebelum menyukai Seukri dia menyukai Chaeri? Kyungsoo bahkan sudah mengambil kesimpulan.

Ketika lima detik menjadi waktu yang dinikmati Jongdae karena laki-laki itu berhasil membuat dua teman (baca: ancaman)nya diam ia pun memutuskan menghilangkan seluruh kecanggungan ini. “HEI.” Tangannya menggebrak meja.

“Ini cerita lama! Dulu aku menyukai Chaeri dan ia menolakku! Ini hanya cerita manis di antara kita berdua, iya kan Chaeri? Dan Kyungsoo, demi tuhan itu 13 tahun yang lalu! Berhenti memandangku seolah ini kejadian kemarin.”

Kyungsoo menelan ludah dan mengangguk-angguk merasa malu, apa pedulinya soal Chen pernah menyukai Chaeri? Bagaimana bisa sesaat ia berpikir protektif tidak terima soal cerita manis antara dua temannya itu. Merasa malu sekaligus jengkel pada dirinya sendiri Kyungsoo pun beranjak dari kursi. “Ngomong-ngomong aku lupa sore ini ada les, aku harus pulang sekarang.” Sebenarnya tidak ada les (ia bahkan tidak ikut les) tapi untuk beberapa alasan Kyungsoo tidak tahan berada di sini.

“Yakin pulang? Tidak main-main dulu?” Sekarang Chaeri menambahkan rasa malunya, ada apa dengan perempuan ini? Ia bahkan tersenyum iseng pada Kyungsoo!

“Ten—tentu saja aku pulang.”

Chaeri masih mengulum senyum, di sekolah tadi Kyungsoo bilang ia akan pulang tapi kenyataannya berakhir di McDonald. “Ya tentu saja Tuan Do, aku percaya di sini tidak ada hantu kau boleh pulang duluan.”

Pipi Kyungsoo memerah, ia baru tahu Chaeri bisa juga menggodanya, apa perempuan ini baru diajari Baekhyun?

“Hati-hati dikejar maniak!” Chaeri berseru ketika Kyungsoo sudah mendorong pintu untuk keluar, tidak ada yang menyadari betapa merahnya wajah laki-laki itu, kupingnya pun ikutan merah. Benar-benar menggemaskan karena laki-laki yang sedang jatuh cinta memang selalu menggemaskan, iya kan?

#

#

“Luhan setidaknya belikan aku french fries. “

“Kubilang aku hanya ingin mentraktir Chaeri.”

Mereka berdua sudah tidak memikirkan berapa banyak orang yang sudah menyerobot antrian mereka. Sena masih bersikeras memesan makanan sementara satu-satunya orang yang punya uang ngotot uangnya hanya untuk Chaeri. Tatapan menghakimi dari kasir atau pun orang yang lewat sudah seperti hal normal baik itu bagi Sena atau Luhan.

“Aku benar-benar lapar Luhan!”

“Tapi aku tidak punya alasan untuk mentraktirmu.” Luhan kembali menguap lebar. Percakapan yang sama akan terulang selanjutnya.

“Luhan setidaknya belikan aku french fries.” Sena bicara itu lagi. Ini sudah kesian kalinya pembicaraan mereka berputar soal dua objek: french fries dan Chaeri. Benar-benar dialog paling membosankan dan satu-satunya yang menikmati hal itu hanya Luhan.

Entah sudah berapa menit menghabiskan tenaga hanya untuk satu porsi kentang goreng Sena pun memutuskan mengunci mulutnya,  jenuh capek malas, baiklah dia akan diam.

Tanpa bicara perempuan itu segera membalikkan badannya berjalan menuju meja mereka. Tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan Kyungsoo, Chen, Chaeri dan Seukri. Yang ada hanya ­post-it bertuliskan ‘rekor kalian 48 menit 38 detik berdiri dan bertengkar di depan umum.’

Sena menggigit bibirnya dan meremas kertas itu. Tanpa repot-repot pamit mau pulang ia segera mendorong pintu dan berjalan keluar uring-uringan. Ia dan Luhan memang terbiasa bertengkar tapi untuk kali ini rasa kesal yang ada jadi berkali-lipat.

Wajah perempuan itu benar-benar kecut membuat Luhan mulai merasa bersalah. Padahal ia berencana lima kali lagi Sena memohon laki-laki itu akan mentraktirnya Big Mac. Dan ketika menyadari Sena benar-benar keluar ia segera bergerak.

“Permisi—“ Luhan berusaha menyerobot dua wanita di depannya, dengan senyumannya ia berhasil membuat dua perempuan muda itu menelan ludah dan membiarkan diri mereka diserobot. “Big Macnya satu, french friesnya dua, dan—“ Bibirnya tergigit, ini belum cukup.

“Dan—“

Kasir yang sedang menunggu memandangnya bingung.

“Dan— “

Mengira Luhan kebingungan soal memilih menu si kasir pun bermaksud membantunya. “Kami menyarankan—“

“Bukan-bukan, aku tidak butuh saranmu, ahh— iya! Itu dia! Boneka itu! Aku mau boneka burger itu!”

“Tapi itu hanya untuk promo, dan masa—“

Berusaha tidak memutar bola mata dan tetap memasang wajah terbaiknya Luhan kembali tersenyum. “Tolong, aku janji akan membayar dua kali lipat, ini untuk pacarku.”

“Tapi ini akan menyalahi—“

“Hidupku tergantung pada boneka itu! Kalau aku tidak mendapatkannya seumur hidup aku akan single, noona mau tanggung jawab!?”

“Ba-baiklah.” Si penjaga kasir tahu ngotot berdebat dengan laki-laki keras kepala ini akan membuatnya mendapat perhatian seluruh pembeli, dan baginya itu tidak lebih baik dari pada menyalahi aturan.

#

#

Sena berhenti di restoran pizza yang jaraknya beberapa meter dari restoran tadi. Niatnya ingin lari sebisa mungkin tapi tetap saja yang namanya lapar tidak bisa dihindari, ia pun berakhir memandang etalase toko itu melihat imitasi pizza yang benar-benar persis dengan aslinya. Luhan benar-benar keterlaluan, berjuta kali Sena menyumpahi laki-laki itu. Apa dia menyukai Chaeri? Kenapa Chaeri boleh dan dirinya tidak?

“Park Sena!” Mendengar namanya tersebut kepalanya otomatis menengok, matanya yang hampir berair entah karena kelaparan atau memikirkan Luhan menyukai Chaeri segera membulat lebr melihat laki-laki itu sudah berada di belakangnya dengan satu kantong di masing-masing tangan.

“Itu untuk Chaeri?” Berusaha bicara sedatar mungkin Sena menaikkan dagunya.

“Hah?”

“Jadi sejak kapan kau menyukai Chaeri?”

Masih tertegun Luhan belum menjawab pertanyaan Sena. Ia tahu perempuan di depannya ini tidak benar-benar pintar, rankingnya tidak terlalu bagus, standar anak yang kebut belajar semalam sebelum ujian dan itu artinya Sena juga tidak terlalu bodoh. Pertanyaannya: Kesimpulan dari mana ia jadi menyukai Chaeri? “Jadi sejak kapan kau mengira aku menyukai Chaeri?” Ia balas bertanya.

Sena benci pertanyaan dibalas pertanyaan, tapi kalau Luhan memulainya makan ia akan melanjutkannya. “Harusnya kau tahu kan Chaeri sudah bersama Baekhyun? Aku memang tidak begitu setuju soal Baekhyun dan Chaeri tapi kalau dibandingkan denganmu Baekhyun jelas lebih pantas.”

“Jadi sejak kapan aku jadi suka Chaeri?”

“Di antara sekian perempuan kenapa harus Chaeri?” Sena tidak mendengar kata-kata Luhan, ia lebih  terbawa egonya sendiri, meskipun tahu itu egois karena ia sama sekali tidak punya hak untuk menentangnya Sena memilih tetap menyudutkan laki-laki itu.

“Kenapa jadi Chaeri sih?”

“Jangan pernah merebut kekasih temanmu sendiri, itu namanya—“

Luhan menjatuhkan salah satu kantongnya (dan semoga itu kantong yang berisi boneka), satu tangannya langsung meraih pergelangan Sena dan menariknya hingga jarak mereka kurang dari semeter. “Kalau aku merebut kekasih teman sendiri namanya apa? Katakan.”

“Namanya—“ Lidahnya seperti terlilit, tatapan Luhan mematikan jadi Sena memutuskan memejamkan matanya.

“Aku tidak akan menciummu jadi tidak perlu memejamkan mata seperti itu!”

“Aku tidak memikirkan kau akan menciumku!” Spontan Sena membuka matanya lebar, tidak terima dan— Luhan berbohong, dia menciumnya. DIA MENCIUMNYA.

Kebohongan Luhan bertahan tiga detik karena Sena langsung mendorongnya dan memandang wajah pria itu tidak percaya.

Wajah Sena yang pucat membuat Luhan tahu kalau tindakannya tadi gila, ia sudah bersedia mendengar berbagai umpatan dari perempuan itu, bahkan kalau dikatakan sinting pun tidak akan marah.

 “Setidaknya jangan buat aku melihat dengan jelas bagaimana kau menciumku, bodoh!”

Berusaha tidak menahan tawa Luhan menjatuhkan satu kantong di tangan satunya lagi kali ini pelan-pelan (dan semoga benar yang itu isinya makanan). “Jadi kalau matamu terpejam aku boleh menciummu?”

“Uhm— tergantung alasannya.” Sambil mengelus tengkuk lehernya Sena memandang langit, jauh lebih bagus untuk jantungnya sekarang.

“Hei kau bilang kau tidak setuju Chaeri dengan Baekhyun?”

“Iya.” Sena menjawab singkat.

“Bagus, kita berada di perahu yang sama, aku juga tidak setuju. Dan kau tahu? Dua orang itu bilang mereka tidak akan mendengarkanku karena aku sendiri tidak dapat memperbaiki hubunganku denganmu!”

Sena memiringkan kepalanya, berpikir soal ia dan Luhan berada di perahu yang sama benar-benar aneh.

“Memang kenapa kalau tidak dapat memperbaiki hubungan denganku?”

“Ya tentu saja karena Sena perempuan yang kusukai—“

Mungkin ini yang namanya keceplosan.

“…”

“Ohh—“ Sambil menggaruk pipinya Sena memberanikan diri menatap Luhan. Gantian Luhan yang menatap langit. Pipi laki-laki itu merona merah benar-benar menggemaskan. Sena juga menggemaskan karena kedua pipinya mengikuti warna pipi Luhan, mereka berdua sedang jatuh cinta, untuk kedua kalinya (dengan orang yang sama). “Hei apa kau memilih menatap langit karena kalau melihatku jantungmu berdebar tidak karuan?”

“Hmph, rasa percaya dirimu terlalu tinggi.” Luhan masih bicara pada awan. Tapi Sena tahu mungkin saja laki-laki itu membayangkan awan sebagai dirinya.

“Tapi benar kan?”

“Benar.”

Dan Sena ikutan menatap awan.

Keduanya memandang langit sama-sama tahu kalau mereka tidak bisa saling memandang kalau tidak ingin jantungnya loncat keluar. Kaki mereka bergetar padahal tidak ada gempa, kedua sepatu mereka pun sama-sama mengetuk aspal tidak bisa berhenti bergerak seperti ada kelinci hidup di sana melompat-lompat.

“Luhan kau bisa melepas tanganku sekarang.”

“Hmmm.” Luhan tidak melepasnya, ia terus menggenggamnya membuat Sena gemas dan ikutan berbohong; berbohong soal ciuman harus dengan mata terpejam.

“SENA—“

#

#

Kesialan Moon Chaeri sepertinya berpindah pada Kim Jongdae. Setelah Chaeri bersama Seukri dan Jongdae memutuskan untuk meninggalkan Sena Luhan yang sudah memalukan nama sekolah mereka dengan bertengkar di depan umum, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan pulang Seukri tidak bisa berhenti menanyakan segala hal tentang Sina-Sehun, dan Chaeri menjawab sebisa yang ia bisa.

“Apa mereka benar-benar dekat?”

“Ya—“

“Apa menurutmu mereka sudah jadian?”

“Tidak.”

Yah sebenarnya maksud Chaeri sebisa yang ia bisa hanya sekedar menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ tapi serius, itu benar-benar sulit karena tepat di samping Chaeri Jongdae terus berjalan dengan telinga terpasang, laki-laki itu tidak tersenyum atau cemberut membuat perempuan itu semakin gelisah. Chaeri benar-benar harus menghentikkan percakapan ini, ia harus menyelamatkan Chen sekarang karena—Chaeri mengerti.

Membayangkan apa jadinya kalau Baekhyun tidak balas menyukainya benar-benar mengerikan, rasanya pahit. Sama-sama membuat jantungnya berdebar tapi untuk alasan yang menyakitkan. Memang tidak membuatnya mati tapi tetap saja—

“Seukri! Aku dan Chen harus pergi ke toko itu! “ Chaeri yang tiba-tiba menghentikkan langkahnya langsung menunjuk bangunan yang ada diseberang mereka asal.

“Oh— benarkah?” Mereka bertiga secara otomatis berhenti. Seukri memandangnya aneh dan Chaeri bersyukur Chen mengikuti skenarion dadakan ini. “Aku baru tahu kalian punya ketertarikan dengan senjata.” Ujar Seukri.

“Baiklah, sampai ketemu di sekolah besok!” Perempuan itu pun melambaikan tangannya dan berlari menuju halte bus meninggalkan Chaeri dan Chen.

“Dah!” Chaeri berseru terus melambai-lambaikan tangannya sampai Seukri tidak terlihat lagi. Pelan-pelan Chaeri pun menolehkan kepalanya pada Chen yang masih memandang ke depan. Pandangan datar itu, Chaeri tidak suka melihatnya jika Chen yang memilikinya. “Chen?”

Chen langsung mendongakkan kepalanya, tidak jelas apa yang ditatapnya membuat Chaeri ikut mendongakkan kepala. “Apa yang kau lihat?”

“Aku tidak melihat apa-apa, hanya berusaha memasukkan air mata.”

Tidak menemukan kata-kata yang tepat Chaeri memilih hanya menggumam, untuk membuat Chen tahu kalau ia mendengar.

“Kali ini aku benar-benar tidak tertolong Chaeri.”

Dan Chaeri menundukkan kepalanya, kesilauan karena cahaya matahari sore memang menghalangi pandangannya.  

“Sejujurnya aku tidak tahu kalau aku menyukai Seukri sampai kau mengatakan hal itu.” Chen berkata

Chaeri memandang Chen, ragu-ragu sejenak dan ia memilih bertanya. “Kalau boleh tahu— saat aku mengatakan apa ya?”

Chen mengendikkan bahunya, tiba-tiba ingin tertawa karena itu lebih cocok untuk dirinya. “Rahasia~ Ya sudahlah, daripada itu mengetahui kau dan orang yang disukaimu memiliki perasaan yang sama, aku menasehatimu untuk menjaga hal itu baik-baik.”

“Apa menurutmu aku dan Baekhyun cocok?”

“Karena Chaeri perempuan baik dan Baekhyun laki-laki baik tentu saja kalian cocok.”

Chaeri tersenyum, betapa sederhana jalan pikir Kim Jongdae kadang-kadang memang dibutuhkan.

#

#

Sial

Lagi-lagi aku lupa.

Baekhyun mencubit pipinya sendiri, menghukum dirinya yang sekali lagi lupa meminta nomor ponsel Chaeri.

Lagi pula kenapa Chaeri tidak meminta nomorku sih?

Dan Baekhyun mulai menyalahkan orang lain, ia berjanji akan mencubit Chaeri karena perempuan itu sama sekali tidak berinisiatif untuk meminta nomornya.

Tepat ketika Baekhyun ingin memanggil Kyungsoo siapa tahu laki-laki itu punya nomor Chaeri, bel apartemennya berbunyi. Dering belnya terasa asing, kapan Baekhyun mempunyai tamu memencet bel sebelum masuk? Terakhir dua tahun yang lalu ketika pacar ibunya masih berani datang berkunjung, tapi masa selama itu? Sebulan lalu Luhan datang tapi saat itu bersama Baekhyun jadi ia tidak mendengar bel masuk itu.

“Ya ya ya tunggu sebentar.” Masih dengan cotton bud di telinganya ia menyeret langkahnya malas-malasan menuju pintu depan, Baekhyun berjanji kalau yang datang laki-laki yang ‘berkeperluan’ dengan ibunya ia akan membanting pintu itu.

Saking penasarannya laki-laki itu lupa mengecek siapa yang memencet belnya lewat lubang pengintip, tanpa banyak tanya Baekhyun langsung menarik gagang pintunya. Jawabannya adalah—

“Aww kenapa kau mencubit pipiku?”

Kalian sudah tahu jawabannya kan?

__________________________________________________________________________________________________

Author’s note:

WINK WONK

 chapter selanjutnya untuk yang suka cowok di bawah ini

[itu gif di atas acara apaan baekhyunnya bikin aku mau nangis]

87 thoughts on “Detour #18

  1. gya….aw..aw..
    LuNa akhirx
    ya ampun..
    maaf kak sy nda komen bxk n pnjg kali lebar
    ciut sy jdix krn bxk yg komen puanjang bgt😥

  2. entahlahh couple luhan sena bikin gemeshhhhh, wkwk dan kasiahan chen, gak papa deh sehun gak dapet peran, biar seukri sama chen aja huhuhu dan sehun kalo suka sina berati saingan sama jongin. ini dissni temen makan temen semua ya wkkwkw dan itu yg cubit pipi baek si chaeri ya?? ohoh telepati lagi?? wkwkkw

  3. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  4. arghh bisa” pipinya jadi tembem dicubut baekkie … >.< hahaha😀 lucu yah ? ada yang clbk ?? wkwk😀😀 gokil"…
    semangat thor ! ^^b

  5. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  6. Kenapa banyak yang ga setuju ya baek sama sena?-_- si chen kesian, aku turut berduka ya kalao lawannya si sehun :v
    Yeeeyy! Akhirnya si luhan menyatakan perasaannya, tuh kan bener si luhan tuh suka sama sena, dia tuh benci ke sena karena sena yang suka sama orang lain, ga lebih,
    Ko aku ga bisa nebak ya siapa yang dateng terus nyubit pipi si baek? Apakah si sena?

  7. Yeahh…Sena beneran berlebihan dehh…sama kek Luhan :3 ehh? Mereka berda jadian? Ya syukur deh. jadi ga bertengkar hanya karena mencari perhatian.
    Chen jadi mmnakin aneh disekat Seukri. Biasanya kan Chen paling banyak cakap…seketika bungkam hihi
    ciyeee yang dapet cubitan Baekhyun hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s