PASTEL Side Story: Tao-Sina Part

PASTEL Side Story: Tao – Sina Part

” I  M e t  H i m  o n  A  S u n d a y . “

♪ Soundtrack :크루셜스타 – 너에게 주고 싶은 세 가지


Tao

Sebenarnya sampai sekarang  masih tidak habis pikir, kenapa bisa secara spontan mengatakan ‘ya’ pada tawaran itu? Apa harus benar-benar pergi? Kenapa harga yang kubayarkan hanya untuk bertemu orang tua sendiri tinggi sekali?

“Kau jadi pergi besok?” Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu, aku tahu siapa itu.

“Hmm sulit dipercaya ya?”

“Sulit sekali. Aku tidak percaya sahabatku Huang Zitao meninggalkanku semudah ini.” Yixing langsung duduk di atas kasurku tidak peduli beberapa bajuku masih bertebaran di atasnya. Aku tertawa kecil kata-kata Yixing memang benar, bagaimana bisa aku pergi semudah itu?

Setelah mengecek untuk yang kesekian kalinya seluruh barang yang kuletakkan di koper aku menghela napas panjang, kepala terasa berat, berulang kali dipikirkan pun tetap saja tidak percaya besok pagi aku akan berada di tempat yang berbeda untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Kau sudah bisa bahasa Korea?” Yixing bertanya.

Tanpa berpikir aku langsung menggelengkan kepala “Belum.”

“Sudah punya kenalan di sana?”

Kali ini terdiam dulu. “Hanya bibiku.”

“Ibu kota Korea Selatan apa?”

“Pyongyang.”

Yixing menghela napasnya seolah jawabanku terdengar menyedihkan. “Yakin mau pergi?”

 

~//~

 

Hari kedua aku tinggal di Seoul (yang ternyata ibu kota Korea Selatan bukan Pyongyang) tidak seburuk atau sebagus yang aku harapkan, intinya semua berjalan semestinya tanpa kejutan berarti. 

Saat ini ahjumma memintaku duduk di dalam cafe selagi menunggunya belanja baju keluaran musim semi yang sedang diskon besar-besaran sampai 75%, aku berniat membantunya tapi dia bilang tempatnya akan ramai dan aku tidak cukup kuat untuk menghadapi perempuan yang sedang mati-matian memperebutkan sehelai baju. Sekedar info, aku sebenarnya cukup kuat tapi memikirkan berapa ratus (ahjumma mengatakan ratusan!) wanita akan menyerbu baju yang sama, aku menelan ludah.

Kepalaku mengangguk mengikuti ritmik musik yang kudengar, playlist hari Minggu adalah kesukaanku (meskipun sejujurnya setiap hari bagaikan hari Minggu karena aku belum kuliah) tapi tetap, hari Minggu menjadi spesial.

Sambil menahan napas jariku memegang macha macaroon yang akan menjadi pelengkap menara macaroonku, sudah setengah jam ini aku menghabiskan waktu untuk memecah rekor menumpuk macaroon menjadi hampir 15 tingkat. Uangku langsung habis tapi itu setara dengan kebanggaan yang didapatkan.

“Berhasil!”

Tanganku mengepal, terburu-buru aku langsung mencari ponsel di kantung jaketku, karya seni ini harus diabadi—

“AAHHH!” Spontan aku berteriak ketika merasakan menabrak kursiku dan terdorong cukup keras membuat tangan kiriku tergerak dan menyenggol—

Menghancurkan menara macaroon.

~//~

 

Perempuan tidak sopan. Nakal. Dasar.

“OI—“

 Aku lupa aku tidak mengerti apapun soal bahasa Korea selain annyeong dan oppa.

Sambil mengacak rambut mengumpat frustasi aku memasukkan macaroon macaroon  yang sudah tersebar asal ke dalam mulutku, gara-gara emosi belum selesai mengunyah aku sudah memasukkan potongan lainnya, rasanya aneh ketika peanut butter yang belum selesai dikunyah tau-taunya bercampur dengan macha lalu ditambah coffe.

Semuanya gara-gara dia.

Perempuan tadi sedang berjalan di depan cafe terpogoh-pogoh dengan segelas minuman yang tadi di pesannya di tangan kanan. Rasanya aneh, ia memakai seragam sekolah dengan kacamata hitam, baiklah dia masih SMA mungkin masa-masa labil jadi menabrak kursiku tanpa meminta maaf akan kumaafkan, tapi aku tidak mengerti kenapa dia harus memakai Rayban di cuaca yang tidak begitu panas, apa dia selebriti?

~//~

Sina

 

“Sina-ah!”

Aku sedang berlari menghampiri taksi, lima belas menit lagi drama yang kutunggu akan mulai dan aku masih berada di kota sebelah untuk cek mata di rumah sakit.

“Astaga itu benar-benar kau! Kenapa kau memakai kacamata hitam?”

Sambil tersenyum, aku memandang sekilas pada taksi yang menjadi targetku. “Oh hm– Mataku baru operasi lasik, jadi aku harus—“ Aku menggigit bibir, ahjumma yang satu ini selalu mengobrol seakan hari ini adalah hari terakhirnya bisa bicara, kalau aku berbicara dengannya pasti aku terlambat sampai rumah.

“Astaga! Aku ada PR! Ahjumma maaf aku harus segera pulang.” Tidak banyak basa-basi lagi aku segera membalikkan badan dan berlari menuju taksi putih itu.

~//~

 

 “Sina! Bagaimana matamu? Apa baik-baik saja?”

“Kan sudah kubilang, mataku merah karena aku lupa meneteskan obatnya, berlebihan sekali jadinya aku ketinggalan drama kan.” Sambil menjatuhkan diri di sofa aku segera meraih remote dan mengganti Harry Potter yang masih ditonton ibuku.

“Sina! Aku masih menonton!”

“Iya aku tahu.”

“Kalau begitu jangan merebut remoteku! Siapa cepat dia dapat.” Remote yang di tangan kembali direbut oleh ibuku, serius ini benar-benar menjengkelkan.

Aku meniup poni dan memilih mengalah, toh aku sudah terlambat setengah jam, dari pada setengah-setengah sekalian saja aku ketinggalah seluruh episod. Tapi ketinggalan satu episod kan sangat berarti, siapa tahu episod hari ini penjahatnya akan tertangkap? Siapa tahu—

“Oh ya Sina! Miyoung baru menelponku, dia bilang uangnya kurang bisa tolong antarkan ini padanya?” Segepok uang dalam amplop tahu-tahu sudah berada di pangkuanku.

Butuh waktu bagiku untuk menjawab permintaan itu, asal kalian tahu ini belum sampai lima menit sejak aku duduk di sofa. “Transfer, bisa di transfer kan?”

“Kartu ATMnya hilang kau tahu kan kakakmu memang ceroboh, ayolah dia bilang baju yang didiskon bagus sekali, sayang kalau tidak dibeli!”

SMS Banking zaman sekarang bisa kok transfer pake ponsel.”

“Ponselnya tertinggal!”

“Kalau begitu bagaimana Miyoung menelpon eomma?”

“Telepon umum, kau lupa ada telepon umum?”

Aku masih merasakan tubuhku berkeringat hasil lari-larian tadi, hatiku juga masih sakit karena ketinggalan satu episod dan sekarang aku harus kembali ke kota sebelah lagi, sekedar mengantarkan uang untuk diskon 75% spring sale??

 

~//~

Tao

 

Aku memandang arloji dan menelan ludah mengingat ini sudah hampir jam enam tapi ahjumma belum kembali juga. Kira-kira kenapa belum selesai? Bukankah kalau bajunya laku harusnya acara rebutan baju ini sudah selesai? Ahjumma bahkan belum membalas pesan gambarku, aku sudah mengirimkan menara macaroon yang kubuat ulang.

Eh jangan-jangan—

Tidak, tidak mungkin Tao kau jangan berpikir seperti itu, tidak mungkin ahjumma pingsan karena tempatnya ramai kan? Tadi pagi dia sempat mengeluh badannya lemas, apa darah rendahnya kambuh?

Mungkin saja tapi—

Tiba-tiba pintu didobrak, sesaat aku mengira cafe ini sedang dirampok tapi melihat ahjumma yang masuk aku menghela napas lega, tapi tunggu, bagaimana bisa aku bisa lega kalau ahjumma sampai ke dalam toko ini dalam keadaan tidak sadar?

Mataku mengerjap melihat si perempuan Rayban lah yang datang membopong ahjumma.

Aku benar-benar ingin bertanya tapi apa yang bisa kutanyakan padanya?

Matanya tidak memandangku, ia celingak celinguk seperti mencari sesuatu, kupikir dia akan menghampiriku tapi nyatanya ia terus berjalan menghampiri kasir mengatakan beberapa patah kata lalu berjalan seperti anak kambing baru belajar berjalan dan ia keluar dari cafe.

Aku memiringkan kepala melihat ia melesat pergi, tadi berjalan seperti bayi kambing sekarang berlari seperti cheetah balapan dengan kijang, bagaimana kujelaskan— rasanya seperti—

Sudahlah Tao lebih baik kau berhenti sekarang.

~//~

Sina

 

Begitu aku membuka pintu toko, yang menarik perhatianku bukan baju mana yang paling bagus atau di mana Miyoung, tapi ahjumma yang sedang terlentang di lantai dan dikerubungi orang-orang.

“Ahjumma–!”

“Sina-ah? Sepertinya darah rendahku kambuh..”

Aku menelan ludah melihat betapa pucat wajahnya yang selalu berseri, beberapa detik kemudian matanya terpejam dan aku tahu hari Mingguku akan hancur.

Tanpa banyak tanya pada orang sekitar kenapa wanita ini pingsan aku segera membopongnya dan berjalan keluar. Berat badannya luar biasa tidak ringan untuk diangkat orang yang jarang mengangkat barang berat sepertiku, aku menggigit bibir mencari sesuatu yang bisa membuatku mendapat ide apa yang harus kulakukan sekarang.

Untungnya doaku terkabul, ponsel ahjumma berbunyi.

Isinya entah apa karena itu bukan bahasa Korea. Tapi yang jelas foto menara macaroon itu cukup menjelaskan kemana aku harus pergi sekarang, lebih baik aku ke sana. Ke tempat laki-laki seram yang sudah membentakku karena aku sempat menabraknya karena aku merobohkan menara konyol macaroonnya. Untungnya tempat itu tidak begitu jauh, kalau jauh aku akan meninggalkan ahjumma di toko ini dan mengirim pesan pada si pengirim pesan itu.

Lebih baik aku—

Ops.

Detik ketika aku mendorong pintu cafe dengan terlalu heboh karena beberapa detik aku merasa lututku lemas dan membuat ahjumma menubruk pintu keras.

Pandanganku langsung mencari sosok yang bisa kuandalkan, aku tidak mau berhadapan dengan laki-laki seram itu, akhirnya dengan susah payah aku menghampiri kasir yang wajahnya seperti mengantuk.

“Ahjumma ini, dia tadi datang ke cafe ini kan?”

Si kasir memandangku gelisah dan mengangguk. Aku menghela napas, sekarang tanggung jawabku pindah pada orang ini. “Sepertinya laki-laki yang memakai kupluk hitam itu kenalannya, kau bisa titipkan ahjumma pada orang itu sekarang aku mau pergi.”

Tidak ada jawaban itu artinya ia mau mengikuti permintaanku lalu dengan perlahan aku memposisikan ahjumma duduk pada kursi terdekat. Sekarang aku mesti kabur, jangan sampai si laki-laki minta pertanggung jawabanku, baik soal insiden menara hancur itu atau kenapa aku bisa berakhir membopong ahjumma yang pingsan.

Perlahan tapi tidak begitu pasti karena aku merasa si laki-laki sedang memandangku aku berjalan dengan lutut gemetar.

Sedikit lagi, Sina.

Satu..dua..tiga!

Aku melesat dan berlari keluar dari toko. Entah berlari ke mana aku hanya terus bergerak maju seperti petualang aku melesat dengan berani; sekalipun hampir menabrak sepeda, sekalipun lampunya belum merah sekalipun aku lupa aku belum memberi Miyoung uang itu.

Hari Minggu ini memang bukan hariku, hari ketika aku bertemu laki-laki galak dan hari ketika aku melewatkan satu episod.

Minggu depan aku akan mengunjungi ahjumma menceritakan semuanya termasuk kenapa keningnya bisa benjol.  Tapi aku tidak jamin, bagaimanapun juga Ahn Sina bukan anak baik seperti yang kebanyakan orang kira. Dan jika aku bertemu laki-laki seram itu lagi— ah jangan sampai pokoknya.

 


 

Author’s note

Today’s current mood

Sekalipun belum nonton Overdose sebagai fansnya exo pikrachu tetap gembira dan puff! jadilah chapter ini.

14 thoughts on “PASTEL Side Story: Tao-Sina Part

  1. ihihihi Sina lucu… aku bayangin dia pas nabrak bangkunya Tao terus lari begitu aja tanpa minta maaf kayak orang iseng+songong gitu haha

    aku jadi penasaran nih sama Pastel… aku baru baca 2/3 ceritanya…

    oh iyaa… Detour kapan update? aku kangeenn sama KyungChae @@ ….

  2. Lucu amat mrk ber2 cocok emang dari awal .. Wkwk

    Thor pastel update dong ini side story krng greget gtu loh bcany, wkwk
    Gk bsa jg gpp si emng overdose udh comeback ? Kykny ak ketinggalan brita de -_-

  3. sina sina cewek ini bener2 bikin speechless dgn karakter dingin, aneh, n acuhnya tp beneran pas sma tokoh imaginarynya krystal.
    hahaha tao juga aneh, polos, bodoh. pasangan di pastel n detour extraordinary semua tp itu malah yg bikin ff ini jadi beda n selalu ditunggu. nice job author_nim

  4. AHHH~ PASTEL SIDE STORY >……< Itu SEWIITT *?* BANGET…
    Eonnie, Pastel kok gk Update- update lagi? Kangen saya Tao~ ^3^

    • Aku Bingung mau mengatakan apa?? Mau komen apa??
      Sina di sini berbeda dengan karakternya di Pastel. Dia di sini kok kayak anak kecil ya?? Ngegemesin gitu >…..< Itu SWIITT *?* BANGET…

      Komennya kepotong lagi *3*

  5. seram. iya bener banget, itulah yg aku rasain waktu pertama kali liat tao jaman mama dulu, udah serem terus ekspresiya songong-sok keren gimana gitu. temen aku bilang itu yg namanya tao manis loh terus aku langsung “ha manis darimananya.. mukanya nyebelin gitu”
    tapi ternyata AB tyle gk bisa cuma diliat satu sisinya aja, dan akhirnya setelah tau macam2 sisinya.. malah..jatuh cinta.. huaa.

    hmm waktu sina bopong ahjumma ke cafe kok tao diem aja.. bukannya langsung nolongin hahaha
    aku kok bayangin ahjumma itu bibi2 yg tinggal di sebelah rumah sinchan, yang di pelipisnya selalu pake koyo kecil2..aduh.. ahjuma berapa ya umurnya, dia bibi tua atau masih muda?

    jgn nonton overdose dulu, pas mereka comeback aja biar surprise haha.

  6. Aku gak ngerti sama kalimat ini, “kenapa harga yang ku bayar untung bertemu orangtua sendiri tinggi sekali?” itu maksudnya apa ya kok gak mudeng ._.

    okeee ciaaaaahhh, tao klupukan item kayak di ekso saatnya tampil :3
    disini taonya masih poloooossss ih jadi kangen denger dia ngomong ‘ahjussi’ sama senyumnya itu kalo abis di bully baek.. Aaah zitao aku rinduu sekali pada muuu xD wkwk

    eh btw, aku jadi pengen baca pastel dari awal deh wakaka jadi kangen yang dulu dulu #eaaaaak hahaha

    oiya ff taoxpenjagatokocd itu. Aku justru batu inget pas kamu bilang kemaren loh wkwk udah lama gak buka folder fanfic di laptop. Kemaren sempet lanjutin sih tp blm kelar juga. Tiba2 gak pede wkwk

    • Maksudnya ‘mahal’
      *jawaban yg enggak membantu sama sekali*
      Maksudnya kan tao ke korea biar ketemu ortunya gampang secara ayah ibunya sibuk bgt, eh tp baru inget jarang sekali saya mengungkit orang tuanya ._.

      Aah aku pernah coba baca ulang pastel chapter terus entah kenapa kesel sendiri nemu cacat di mana2 -_-
      LANJUTIN~~~~~❤

  7. Waach keren.. Makin lengkap aja pastel.nya.. Tapi min se inget aku tao-sina ketemu itu bukannya pas di toko ahjumma pas sina bikin kupluk(?) buat sehun yaa?? Trus sina bikin tao takut.. Trussss gimana yaaaa~~aahh tauk lupa.. Tapi ternyata ini pas ketemu pertama yaaaaa..-LUCU- next chap pastel aku tunggu yaa~FIGHTING!

  8. Yaampuuun ibukota korea selatan kok pyongyang? Dasar tao errooooor wkwkwk xD

    Sina kocak banget dah segitu takutnya ama tao hahahaha ngerti dia kalo udah bikin tao sebel wkwkwk xD

    Ini sebenernya masuk detour apa pastel sih kak? Hahaha karena cast nya taosina jadi aku mau baca sesuai urutan pastel.. dari awal.. padahal ini di post sebelum detour 19 dan detour 19 nya udah aku baca wkwkwk xD

  9. Pingback: Rekomendai Fanfiction | Anggi Nindya Sari

  10. uhuhu duh lagi lagi cuma komen di akhir..
    Gak tau tapi, pertama baca detour dan kemudian tau pastel, langsung pengen baca. Kalo soal penulisan, alur, dan lainnya gak perlu ditanya. 12 Jempol sekaligus deh!!
    Aku gak terlalu terbiasa baca cerita dgn cast selain baekhyun, tapi baca pastel rasanya beda. Feels nya dapet dan langsung nempel di hati /aseek
    Karakter Tao yg manly manja gini emang cocok sekali. Tapi keselnya dia terlalu polos dan hampir bodoh, apa2 seolah selalu pasrah sama keadaan dan gak ngelakuin sesuatu yg setidaknya ‘cukup’ berpengaruh buat mengatasi suatu hal duh duh.. Dan Sehun, hihi dulu aku lupa, di detour sehun jadi apa. Dan baru inget akhir2 ini, sehun yg suka nitip buku perpus ke chaeri dan jadi hantu di filmnya chen kan ya? Hoho tapi pas lah, sehun anak bandel tukang main… Yoyo aku suka banget mama nya sehun…
    Banyak pemain sama sekali gak bikin bingung, yeah, apalagi disini konfliknya lumayan ribet karna si ini kenal si itu dan berhubungan dengan si anu yg deket sama si inu (?)..
    Tapi…. ini last update nya dari mei 2014?? ini masih dilanjut kan kak??
    lanjut peulisss, sama detour juga.. pokoknya ditunggu deh… Fighting yo yo!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s