Detour #19

 picture credit for Pohroro on tumblr!🙂

#19 Precious

Jadi, sampai mana terakhir kali?

“Ekhm Tuan Byun pertama boleh izinkan aku ke toilet?”

Chaeri yang sempat ikutan terkejut karena orang yang ingin dijumpainya justru mencubit pipinya akhirnya membuka mulut karena selama lima detik yang terasa lama laki-laki itu tidak juga memberi reaksi yang berarti soal kejutan Chaeri datang ke rumahnya.

“Aku tidak ingat pernah memberitahumu alamat rumahku—“

Kaki Chaeri tidak bisa berhenti mengetuk lantai, ia terus berjingkat seperti tidak sabar menari padahal kenyataannya ada masalah darurat hidup mati. “Baek aku harus ke toilet.”

“Ini—bukan mimpi kan? Bagaimana bisa seorang Moon Chaeri bisa berada di sini?” Ah Baekhyun mulai dramatis.

“Ceritanya panjang dan aku mau ke toilet.”

“Apa kau mendapatkan telepatiku kalau aku ingin sekali bertemu denganmu? Begitu Chaeri?” Dramatis Baekhyun artinya mulai tidak masuk akal.

“Telepati apa sih, aku hanya ingin ke toilet.”  Kedua bibirnya tertutup rapat, Chaeri sampai ingin menggigit bibir tapi tidak jadi karena ia ingat betapa kering bibirnya akibat lupa minum air putih semenjak sarapan. Satu hal lagi di dunia ini yang Chaeri paling benci, lebih dari pada dapat nilai yang melenceng dari prediksinya. Nama hal yang ia benci ini sederhana, kebelet. Bakatnya dalam menahan pipis memang tidak begitu bagus.

“Hmm— rumahku berantakan Chaeri aku pikir—“ Baehyun memijit leher belakangnya, ia benar-benar terlalu senang campur kaget membuatnya terlalu tidak peka atau lebih pas kalau dibilang bodoh karena perempuan di depannya ini sudah mulai mengeluarkan setetes air mata, air mata yang keluar hasil memikirkan kalau skenario terburuk terjadi; ngompol di depan Baekhyun.

“Kenapa kau menangis?”

“TOILET ASTAGA BAEKHYUN.”

“Kau mau ke toilet? Katakan sejak awal!” Baekhyun langsung menyeringai dan menggeser badannya mempersilakan Chaeri masuk. “Lurus terus ada tulisannya ‘toilet’! “

Chaeri tidak punya waktu untuk memarahi Baekhyun ia tahu kemampuan larinya tidak cukup hebat untuk menyelamatkan harga dirinya  dan tepat ia memasuki toilet lalu  menutup pintu dengan sebuah bantingan ia tahu semuanya sudah terlambat.

#

#

Baekhyun yang terus terang kaget melihat Chaeri bisa berlari secepat itu untuk sampai toilet hanya mengendikkan bahu. Tadinya ia ingin segera merapikan ruang tamu melihat majalah dan komik yang ia baca bersama Luhan (sekedar info itu bulan lalu) masih bertebaran di atas karpen bahkan bungkus keripik kentang dan stik es krim pun masih berada di posisi yang sama! Tapi dipikir-pikir Chaeri melihat hal ini bukan hal buruk atau bisa mempengaruhi hubungan mereka kan? Jadi Baekhyun hanya menendang bungkus makanannya sampai tidak telihat lalu segera menjatuhkan diri di atas sofa  dan menyambar komik yang paling dekat dengannya.

“Baekhyun?” Kepala Chaeri menjulur dari pintu toiletnya, membuat Baekhyun yang mulai membaca komik hanya menggumam ‘mmm’.

“Baek bisa ke sini sebentar? Aku butuh bantuanmu.” Chaeri mengeraskan suaranya, jelas dalam hati jengkel setengah mati, kalau bukan karena telat pikir laki-laki itu, tentu ia tidak perlu menanggung malu seperti ini!

“Bantu apa?” Baekhyun yang masih tiduran di sofa rupanya jadi terhisap dengan komiknya.

“Kau harus mendekat aku tidak bisa meneriakkannya!”

“Ibuku belum pulang Chaeri, katakan saja dari sana!” Dengan santai Baekhyun berujar dan membalikkan badannya mencari posisi ternyaman, ketika malas bergerak bahkan seorang hiperaktif seperti Baekhyun pun bisa berubah menjadi sepemalas kukang.

“BAEKHYUUN”

“Tunggu dua menit lagi, ini lagi bagian pertarungannya!” Baekhyun beranjak, Chaeri sempat mengira laki-laki itu mau menghampiri dirinya, yang rupanya Baekhyun hanya menarik celana piyamanya yang kedodoran lalu kembali tiduran di sofa.

“DASAR JELEK.” Pintu toilet terbanting keras, Baekhyun membulatkan matanya, ia ingin menghampiri Chaeri tapi…Komiknya masih bagian yang seru…

Singkat cerita.

Setelah mempercepat kemampuan membacanya Baekhyun pun berlari dan mengetuk pintu toilet. Ketukan pertama hasilnya nihil, yang kedua juga, ketiga seperti ada umpatan bisik-bisik dari Chaeri dan keempat Chaeri pun membuka pintunya kembali menjulurkan kepalanya dari pintu. “Boleh aku numpang mandi?”

“Hah? Mesin air rumahmu rusak atau karena kau menyukai kamar mandiku kau ingin coba mandi di sana?”

Chaeri memutar bola matanya, di saat kritis Baekhyun masih melawak. Dan buruknya di sini laki-laki itu benar-benar serius. “Aku tidak bawa baju ganti..”

“Aku bisa meminjamkanmu baju ibuku, masalahnya kenapa kau harus mandi?”

Karena aku mengompol akibat otakmu yang lambat bekerja.

Chaeri menggaruk pipinya, ia tidak selugu itu untuk menceritakan aibnya pada Baekhyun jadi ia memutuskan untuk memberi jawaban paling menggelikan tapi efektif untuk membuat si suka banyak tanya Baekhyun diam. “Apa tidak boleh wangi di depan laki-laki yang kusukai?”

Rencana berhasil, Baekhyun diam dan mengangguk patuh disertai kedua pipi meronanya yang benar-benar menggemaskan.

#

#

Baekhyun memutuskan merapikan komik dan majalahnya. Seperti kurang kerjaan ia berakhir menonton pertandingan boxing sekalipun tidak tertarik untuk mencari tahu orang mana yang harus didukungnya. Sambil sesekali menguap, ia melirik sekali dua kali pada pintu kamar mandi. Jantungnya berdebar, bagaimana ya— rasanya kan aneh ketika kau hanya berdua dengan orang yang kau sukai, di rumah. Masalahnya ini di rumah, suasanya jadi seperti— jangan tertawa.

Baiklah, Baekhyun akan mengakuinya.

Seperti pengantin baru.

Oh tiba-tiba Baekhyun ada ide, dengan senyum menyimpan arti ia segera melesat ke kamar tidurnya.

Pintu toilet berderit terbuka beberapa menit kemudian. “Halo Baek?” Chaeri yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk menengok kanan kiri mencari sosok Baekhyun. Masih merasa asing dengan ruangan ini, dengan gugup ia pun berjalan menuju ruang tamu yang kosong, hanya TV yang menyala membuat Chaeri baru tahu kalau Baekhyun ternyata penggemar boxing.

“Tadah!” Tiba-tiba dari kamar terdekat sosok laki-laki yang dicarinya keluar, tersenyum geli seperti menahan lelucon yang ingin dia ceritakan. Chaeri mengernyit dan menunduk melihat baju yang dipakainya, baju bola Barcelona yang kata Baekhyun punya ibunya (Baekhyun bilang itu satu-satunya yang cocok dengan tubuh Chaeri). Ia pun kembali memandang Baekhyun dan sadar hal apa yang membuat laki-laki itu terus tersenyum geli-geli aneh tapi lucu.

“Oh— kita kembaran?” kata Chaeri.

Yep! Satu-satunya hal yang membuatku dan ibuku akur hanya soal kami membela tim yang sama. Makanya kami punya baju kembaran.” Ia nyengir dan duduk di sebelah Chaeri. Chaeri mau tidak mau malu juga.

“Oh ya! Aku harus menyiapkan minuman untukmu!” Baru saja Baekhyun duduk ia langsung beranjak lagi dan berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Dengan ruangan luas yang tidak dibatasi dinding Chaeri dapat melihat laki-laki itu bersenandung riang dan membuka kulkasnya.

“Chaeri mau minum apa? Teh? Cola? Jus jeruk?”

“Berikan aku teh susu.” Chaeri ikutan pun beranjak, entah kenapa lebih suka berada di dekat Baekhyun.

“Baiklah! Aku akan meramunya untukmu!” Baekhyun menjawab semangat dan mengeluarkan sekotak susu dari kulkasnya, tidak menyadari Chaeri sedang berjalan ke arahnya.

“Hei kau tidak bertanya kenapa aku bisa ke rumahmu?” Tanya Chaeri sambil menarik kursi dari ruang makan sampai di depan counter tempat Baekhyun membuat teh susu untuknya, seperti barista yang melayani pembelinya.

“Aku lupa— ceritakan kenapa.” Respon Baekhyun singkat, Chaeri sedikit mengernyit.

“Kau tidak penasaran? Tidak seru.”

“Aku penasaran, Baekhyun selalu penasaran apapun itu tentang Chaeri.” Rupanya dari tadi ia sedang sibuk menakar berapa susu kental manis yang harus dimasukkannya, ia pun mengangkat kepalanya menatap mata Chaeri tanpa senyuman seperti kalimatnya barusan ya normal.

Agak kaget seperti jantungnya tersedak Chaeri mengalihkan pandangannya pada kuku jari yang tiba-tiba terlihat lebih menarik dari pada Baekhyun itu sendiri. “Intinya Chen yang menyuruhku ke sini, tadinya aku mau ke rumah Chen tapi dia bilang kau akan cemburu lalu dia menggambar peta ke apartemenmu dan aku baru sadar kalau tempat tinggalmu dekat dengan dengan rumah sakit ibuku bekerja.”  Sambil meraih satu gelas terdekat Chaeri menuangkan susu pada gelas itu. “Aku akan membuatkan teh susu untukmu.”

Baekhyun memiringkan kepalanya. “Untuk apa ke rumah Chen?”

“Yah— rumahku kosong, Daeha sedang periksa gigi, ayah ibuku masih bekerja dan malam ini kami akan merayakan ulang tahun ayahku, jadi aku memutuskan menunggu urusan mereka selesai di rumahmu. Nanti sekitar jam delapan aku dijemput, tidak apa-apa kan?” Ucapnya sambil fokus memperhatikan susu kental manis menetes memenuhi dasar mug.

Baekhyun tersenyum. “Hei bahkan menginap pun tidak apa-apa kok.”

“Aku tidak boleh menginap di rumah laki-laki.” Chaeri menjawab datar sedikit menohok Baekhyun meskipun laki-laki itu sebenarnya hanya bercanda. Sambil menuangkan teh panas yang sudah Baekhyun seduh pada mugnya Chaeri bertanya. “Apa Baekhyun suka yang manis?”

“Karena Chaeri manis kurasa aku suka yang manis.”

Chaeri. Ingin. Muntah. “Ada apa denganmu hari ini Baek?” Menaikkan satu alisnya ia menyipitkan matanya pada Baekhyun yang terus tersenyum padanya.

“Hei apa kau tidak merasa kita seperti pengantin baru? Memakai baju kembaran  dan membuat minuman bersama di dapur. “

“Baekhyun— aku serius. Kau aneh hari ini.” Chaeri mulai mengaduk minumannya dan berjalan kembali ke ruang tamu diikuti Baekhyun yang membawa minuman untuknya.

“Tadi hanya kesal semudah itu kau meninggalkanku hanya untuk Sena, dan tiba-tiba kau datang ke rumah, tentu saja wajar aku menjadi aneh.” Jawabnya sambil mengendikkan bahu.

Chaeri mengangguk-angguk memilih tidak banyak tanya lagi, ia memandang gelas yang dipandang Baekhyun dan menunjuknya. “Ayo tukaran, aku minum punyamu, kau minum punyaku.”

“Yang lebih enak menang—“

“Hadiahnya—“

Keduanya saling bertukar pandang, memikirkan hadiah apa yang tepat untuk si pemenang.

“Hadiahnya gampang lah sekarang minum dulu.” Baekhyun memutuskan keheningan, melihat Chaeri berpikir terlalu serius untuk hadiah kompetisi membuat teh susu rasanya ganjil juga.

Cheers!” Mereka bersulang, meneguk gelas masing-masing habis dengan sekali tegukan. Chaeri langsung mengelap mulutnya yang belepotan, gantian melihat Baekhyun melakukan hal yang sama dengan tambahan berlebihan membuang napas panjang seperti habis menegak sebotol soju. “Kau berlebihan—“

“Aku selalu seperti ini, bahkan minum susu stroberi jadi seperti ahjussi stres habis minum soju.” Sambil menyeringai lebar Baekhyun mengelap sudut bibir Chaeri yang masih kotor. Chaeri mendengus dan mengelap sudut bibir Baekhyun yang sama saja belepotannya. “Heh— Baekhyun menjadi ahjussi aku penasaran. Apa kau akan memelihara kumis sampai menjuntai seperti akar?”

“Tergantung~ Kalau Chaeri menyukai suaminya berkumis aku akan memelihara kumis.”

HM.

Moon Chaeri paling tidak bisa membicarakan hal seperti ini. Level pembicaraan macam ini bukan levelnya. “Aku lebih suka yang bercukur setiap pagi, lebih rapi.”

“Mengerti!” Ia tertawa dan mengacak-acak rambut Chaeri, mungkin menyadari kalimatnya tadi sukses membuat pipi Chaeri semerah  buah plum yang sedang matang. Merasa masih ingin menggoda perempuan itu ia menambahkan “Dan aku lebih suka jika istriku membantuku bercukur.” Bisiknya pelan tepat di dekat telinga Chaeri.

ASDFGHJKL.

Chaeri benar-benar tidak siap.  “Ganti topik!”

#

#

Nami tidak benar-benar kaget saat mengetahui Chaeri dan Baekhyun bersama. Meskipun ia mengetahuinya hasil dari menguping Luhan dan Kai yang tengah bergosip soal Baekhyun-Ini-Itu ia memilih tidak perlu mengkonfirmasi lebih lanjut pada dua orang itu, sejak awal setelah mereka berempat bersama Kyungsoo makan di restoran China waktu itu ia sudah mendapat chemistry antara Baekhyun dan Chaeri.

Nami juga tidak kaget saat mengetahui Chen menyukai Seukri (lagi-lagi hasil menguping), tadi secara tidak sengaja ketika menikmati iced coffenya di McDonald ia duduk di kursi belakang tepat Chen dan Kyungsoo ‘berbicara’ (entah kenapa gosip dan Kyungsoo tidak cocok) mendengar Chen begitu gugup sekaligus excited melihat Seukri ia ambil kesimpulan Chen menyukai perempuan itu.

Dan terakhir, yang kali ini Nami kaget. Nami kaget ketika ia ingin membeli pizza ia menemukan sesuatu yang membuatnya tercengang. Ia terkejut sampai rasanya ingin melompat 30 cm dari tanah saking kagetnya melihat Sena dan Luhan bergandengan tangan dengan kedua muka mereka sama-sama merah (untung Nami tidak melihat kejadian sebelumnya atau ia benar-benar bisa melompat).

Laki-laki itu, Luhan, sudah berbaikan dengan Sena. Hatinya mencelos untuk beberapa alasan, cemburu mungkin termasuk tapi ini lebih tepat dikatakan iri. Selama ini ia menganggap Luhan teman senasibnya karena sama-sama bertepuk sebelah tangan (Nami juga tahu sejarah Sena-Luhan), dan kali ini laki-laki itu meninggalkannya, sudah maju selangkah bersama Sena. Sena, hubungan Nami dengan perempuan itu belum juga membaik meskipun kedua dari mereka sudah tidak lagi menyukai Kyungsoo.

Sambil memijit keningnya kehilangan selera soal pizza ia tetap berjalan, ingin makan tapi makan apa ya.

“Nami?”

Refleks ia menengok, sempat berharap itu Luhan tapi kenyataannya—

“Kyungsoo? Apa yang kau lakukan di sini?”

Kyungsoo mengendikkan bahu, setelah tadi bersembunyi dari Chaeri, Chen, Seukri di toko buku kecil pinggir jalan tiba-tiba perutnya lapar, mungkin pizza bisa membantu tapi pemandangan di depan etalase itu cukup membuat Kyungsoo kehilangan selera makan, dua orang yang tengah kasmaran kadang menggelikan.

“Aku menunggu dua orang itu pergi.”

Nami tersenyum dan berjalan menghampiri Kyungsoo yang sedang membaca majalah masak. “Dari pada membicarakan Sena-Luhan bagaimana kalau kita membicarakan Chaeri-Baekhyun?”

“Dua topik itu sama saja menurutku.” Kyungsoo menjawab datar sambil membalik halaman majalah tanpa memberi pandangan pada Nami.

“Menurutku beda, karena Chaeri-Baekhyun ada unsur cinta segitiganya.”

Kyungsoo menelan ludah, tapi tetap mempertahankan poker facenya. “Oh ya? Kalau boleh tahu siapa pihak ketiganya.”

Nami tersenyum, sudah lama ia tidak berbicara sesantai ini dengan Kyungsoo. “Well, tergantung sudut pandangnya, kalau kau membela Baekhyun maka tentu saja pihak ketiganya Kyungsoo, kalau kau berada di sisi Kyungsoo sudah pasti Baekhyun pihak ketiganya.”

“Aku lebih suka kalau orang yang mengatakan ini hanya salah paham.” Sebisa mungkin Kyungsoo yang merasa tenggorokannya tersumbat tetap bicara sedatar mungkin.

“Tapi cerita tidak bisa selalu berjalan sesukamu D.O. hadapi saja. Kau terlambat.”

“Aku tidak pernah terlambat.”

“Kau terlambat, bukan soal Baekhyun keburu mendapatkan Chaeri, tapi soal kau terlambat menyadari kalau kau sebenarnya menyukai Chaeri.”

Untuk pertama kalinya Kyungsoo menyadari kalau ia salah, ia sempat ingin mengakui tapi tidak jadi dan sekarang Nami membuat semuanya jelas. Meskipun sedang membaca artikel soal fermentasi kopi yang lamanya sampai delapan tahun kepalanya justru melayang jauh-jauh dari kopi. Sekarang Do Kyungsoo sadar, kalau diumpamakan mungkin sekarang ia merasa berada di jalan satu arah tidak bisa putar balik atau pun berbelok. Dan kalau dibikin hiperbolisnya, jalan itu dilanjutkan dengan jembatan gantung yang kayunya sudah rapuh.

#

#

Neomu banjjak banjjak nuni busyeo no no no no no!”

Berakhir menjadi Baekhyun pemenang kompetisi teh susu Chaeri terpaksa mengalah membiarkan laki-laki itu menyetel keras lagu Gee memenuhi satu ruangan penuh di apartemennya (Chaeri bertaruh tetangga Baekhyun mendengarnya juga dan Baekhyun bilang tidak apa-apa karena mereka juga menyukai SNSD), ia benar-benar merasa curang ternyata Baekhyun memberi sedikit esens vanilla pada teh susunya membuat Chaeri mengakui kalau minuman buatan Baekhyun lebih enak.

“Kalau aku menang, ganti lagu ini.” Berkata dengan penuh keyakinan Chaeri mendorong perlahan sebatang kayu kecil di depannya. Sekarang mereka berdua bermain Jenga, permainan yang paling tidak menguras tenaga dan cukup seru dibanding ia harus menerima ajakan Baekhyun bermain lompat tali.

“Dan kalau aku menang kau harus menarikan lagu Gee di depanku.” Sambil tersenyum ia bertopang dagu memperhatikan mata Chaeri yang terpincing berusaha membuat tumpukan kayu di depannya tidak roboh.

“Asal kau tahu Jenga keahlianku, bukannya sombong tapi banyak orang bilang motorik halusku bagus.”

“Ya ya ya Chaeri-ssi pegang kata-katamu.” Mengulum senyum sekarang giliran Baekhyun yang menarik satu batang lagi. Baik itu Chaeri atau Baekhyun sama-sama menahan napas merasa tumpukan di depan mereka terlalu rapuh seperti satu hembusan napas saja mungkin membuatnya runtuh—

“BAEKHYUN!”

“AAA—” Satu senggolan dan runtuh semuanya.

Chaeri meninju udara bahagia, teriakan tadi membuat Baekhyun gelagapan dan kehilangan konsentrasi. “Ini tidak adil! Kau curang! Coba bayangkan bagaimana kalau kau lagi bermain tiba-tiba seseorang meneriakkan namamu! Aku tidak terima!” Sambil melipat tangan di depan dada Baekhyun membuang muka, entah kesal karena lagu Gee-nya diganti atau karena jadinya tidak bisa melihat Chaeri menari Gee untuknya.

Chaeri menaikkan satu alisnya. “Bukan aku yang berteriak, sumpah.”

“Itu kau!”

“BAEKHYUN!”

Mungkin karena sudah dua minggu lebih tidak bertemu ibunya Baekhyun sesaat tidak mengenali suara itu.

“Nah kau bisa melihat itu bukan aku, sekarang buka pintu itu.” Chaeri menggerakkanya dagunya ke atas meminta Baekhyun segera berdiri untuk membuka pintu, rasanya kesal dituduh curang.

“OH BAEKHYUN~!”

Suara itu lagi, makin melengking naik satu oktaf seperti seriosa, sekarang Baekhyun benar-benar ingat. “Itu ibuku, sial kukira dia sudah lupa jalan pulang ternyata masih ingat!” Sambil menggerutu ia segera beranjak dan berjalan menuju pintu, Chaeri yang sempat bertingkah sok langsung menelan ludah, ibunya Baekhyun! Perempuan yang kata Luhan mirip dengannya!

Setelah merapikan meja ruang keluarga terburu-buru Chaeri segera beranjak untuk mengambil seragamnya yang masih tergantung di toilet.

“BAEK— Oh kukira kau tidak ada!” Detik ketika Baekhyun membuka pintunya ia menemukan sosok ibunya sudah menyeringai lebar.

“Kalau aku memang tidak ada apa ibu akan terus berteriak dan mengganggu tetangga seperti itu sampai aku pulang?” Dengan perasaan jengkel ia membopong ibunya yang dari tadi berdiri sempoyongan, jelas ibunya ini mabuk.

“Baekhyun anakku~ maaf ibumu ini lupa passwordnya seperti biasa kau anak yang bisa kuandalkan, lihat aku bawa cream puff kesukaanmu!” Sekali-kali cegukan ia berjalan tertatih-tatih dengan Baekhyun sebagai penopangnya.

Chaeri yang baru saja memasukkan seragam pada tasnya mendongak dan sedikit kaget melihat perempuan muda yang mabuk itu benar-benar ibunya Baekhyun. Ia sempat mengira itu bisa jadi kakak atau apa tapi itu benar-benar ibu.

“Chaeri, perkenalkan ini ibuku, dia lagi mabuk jadi acuhkan saja, ayo kita lanjutkan lagi main Jenganya.” Sambil memijit  bahunya yang pegal ia kembali berjalan mendekati Chaeri yang gayanya sudah siap pulang.

“Kau sudah mau pulang? Sekarang masih jam tujuh malam.” Terdengar nada kecewa dan Chaeri tahu ia harus menghadapi suasana canggung ini.

Sambil menggigit bibir ia melirik pada Ibu Byun yang menguap lebar, rasanya ingin memperkenalkan diri tapi berbicara dengan orang mabuk bukan hal yang tepat.

Rasa canggung Chaeri makin menjadi ketika Ibu Byun yang tiduran di sofa tahu-tahu beranjak dan memandang dirinya tajam. Wajahnya dan Baekhyun tidak mirip sama sekali, wanita itu sedikit ada unsur kaukasoidnya, jelas beda dengan Baekhyun yang wajahnya orang Korea asli. “Kau! Siapa kau! Beraninya dekat dengan Baekhyunku!”

“Chaeri, dia mabuk.” Sekali lagi Baekhyun mengingatkan, tidak ingin perempuan itu mengambil serius kata-kata ibunya.

Chaeri sempat menelan ludah, dikira ibunya Baekhyun marah karena Chaeri meminjam bajunya. “Aku Moon Chaeri—“

“Kubilang dia mabuk, kau tidak usah menjawab Chaeri.” Dengan risih Baekhyun mendecak. Ia segera berdiri dan menarik ibunya paksa untuk beranjak dari sofa. “Lebih baik ibu mandi dulu, dinginkan kepalamu, kau bau!”

“Aku tidak bau! Aku wangi! Parfumku mahal!” Meskipun begitu Ibu Byun tetap beranjak dari sofa dan berjalan terhuyung-huyung menuju toilet, diikuti Baekhyun yang sudah membawa handuk.

Tepat ketika Baekhyun menghela napas dan membalikkan badannya untuk kembali menghampiri Chaeri pintu toilet kembali terbuka.  Ibu Byun sekali lagi membuat Baekhyun terlihat muak.

“Apa lagi sih? Kubilang ibu mandi saja!”

“Siapa perempuan itu? Kau tidak pernah mengajak perempuan ke rumah sebelumnya.” Antara sadar atau tidak sadar Ibu Byun kembali memandang Chaeri, kali ini terlihat lebih tenang, murni rasa ingin tahu tanpa pandangan menghakimi seperti yang sebelumnya.

“Dia perempuan yang kusukai.” Baekhyun akhirnya menjawab setelah menimbang-nimbang tidak ada ruginya juga menjawab pertanyaan itu.

“Hmph.” Malah mendengus Ibu Byun kembali menunjuk Chaeri. “Lalu apa kau menyukai anakku, Baeri?”

“Namanya Chaeri!” Baekhyun yang jengkel langsung meralat.

Dan tampaknya kesalahan nama itu bukan tidak disengaja karena sesudahnya Ibu Byun hanya mengendikkan bahu dan menutup pintu toiletnya. “Tapi aku tidak suka buah Ceri! Aku lebih suka Berry! “ Ia berteriak dari dalam.

Chaeri masih melongo dan melihat Baekhyun gusar lalu kembali duduk di depannya. Baekhyun yang sekarang tidak seperti Baekhyun yang dikenalnya, ekspresi geli dan jenakanya hilang diganti jengkel dan muak.

“Baekhyun?”

“Kalau ini soal ibuku aku tidak akan menjawab.” Tanpa memandang Chaeri Baekhyun kembali menyusun Jenganya.

“Bukan soal ibumu.”

“Apa?” Kali ini Baekhyun menatap Chaeri, bebannya soal pikiran Chaeri akan memandang penuh rasa kasihan seketika hilang ketika perempuan itu menunjuk sesuatu di belakangnya.

“Boleh minta cream puffnya? Aku mulai lapar.”

Tangan Baekhyun segera meraih boks yang ditunjuk Chaeri. “Tidak.”

#

#

Tidak ada yang menyangka cita-cita Kyungsoo sebenarnya termasuk sederhana untuk ukuran orang yang kompleks seperti dirinya. Kebanyakan temannya berpikir Kyungsoo akan mengambil sekolah manajemen bisnis, gurunya menyarankan mungkin jurusan teknik cocok untuknya, ayahnya meminta Kyungsoo mengambil sekolah perhotelan, ibunya bilang lebih baik anaknya mengambil sekolah desain. Tapi sejujurnya apa yang Kyungsoo inginkan?

Tidak ada yang tahu, bukan karena Kyungsoo merahasiakannya hanya saja orang-orang memang tidak pernah menanyakannya, mereka mengambil asumsi dan mengiyakannya dengan mudah, seperti tanda diamnya Kyungsoo itu artinya ‘iya kau benar’.

Sambil bersenandung pelan ia mendorong pintu kayu warung Ramen langganannya. Tidak seperti tempat makan biasanya ia tidak perlu mengamati menu apa yang akan dipesan karena si ahjussi si pemilik warung sudah hafal benar pesanannya. “Annyeong Kyungsoo-kun.”

Kyungsoo tersenyum dan menganggukkan kepalanya sekilas, pemilik warung Ramen ini orang Jepang asli, komunikasi mereka terbatas karena bahasa Korea pun ia kurang bisa, percakapan sederhana soal bagaimana cara merebus telur yang enak membuat keduanya menjadi teman baik.  Kyungsoo segera mengambil posisi duduk tepat depan si koki yang sedang mengaduk kuah di kuali raksasanya.

 Sambil bertopang dagu ia memejamkan mata, mendengar suara kecipak kecipuk kuah yang dituang ke dalam mangkok ditambah obrolan ringan bapak-bapak soal politik di kursi dekatnya. Tempat ini satu dari sedikit tempat yang membuatnya betah berlama-lama selain perpustaan dan book cafe. Padahal tidak ada buku, cenderung berisik, dan kadang pengap tapi aneh Kyungsoo justru menyukai segala kekurangan itu.

Haik! Miso Ramenmu sudah siap!” Semangkok Ramen sudah terhidang di depannya, kepulan asapnya menjadi aroma favorit Kyungsoo selain wangi citrus.

Sementara Kyungsoo mulai menyeruput kuahnya pelan-pelan, pintu toko terbuka, Kyungsoo bukan tipe yang repot melihat siapa yang baru masuk tapi mendengar namanya tersebut ia otomatis menengok.

“D.O!”

“Baekhyun?”

Baekhyun sama kagetnya dengan Kyungsoo hanya saja ia nyengir lebar. “Aku baru ingin mengajakmu ke sini dan kau sudah tahu tempat ini!”

“Kalau soal rekomendasi makanan aku tahu lebih banyak dari pada kamu Baek.” Kyungsoo balas menjawab dengan percaya diri, tapi tampaknya Baekhyun yang biasanya tidak mau kalah itu hanya menggumam dengan nada hmmm-memang-kau-yang-terbaik.

“Ahjussi-kun aku mau Miso Ramen juga.” Kata Baekhyun sambil ambil posisi di sebelah Kyungsoo.

“Kenapa kau makan di luar?” Kyungsoo bertanya, firasatnya mengatakan Baekhyun malam ini menjadi pasif dan butuh dipancing untuk mau berkata.

“Mencari nutrisi. Benci spagethi untuk beberapa alasan.“ Ia menjawab sambil meneguk Yakult yang sudah tersedia di atas meja.

“Jadi ibumu sudah pulang?” Kyungsoo tahu spagethi artinya Ibu Byun pulang. Meskipun pasta buatan wanita itu memang lezat Baekhyun selalu meletakkan spagethi buatan ibunya pada posisi terakhir daftar menu yang mau dimakannya.

“Dia pulang ketika ada Chaeri di rumah! Seperti tidak membiarkanku bahagia saja— “ Mulut Baekhyun sudah mengekerucut.

“Chaeri ke rumahmu?”

“Iya. Dia memberi kejutan padaku, Chaeri manis sekali kau harus tahu—“

“Lalu bagaimana reaksi ibumu melihat Chaeri?” Entah kenapa Kyungsoo merasa ia harus memotong kalimat Baekhyun, entah Chaeri manis atau pahit ia mencoba tidak peduli.

“DIA MEMANGGIL CHAERI DENGAN BAERI.” Baekhyun tampak tidak peduli Kyungsooo memotong kalimatnya, ia terus melanjutkan omelan seberapa menyebalkannya ibunya hari itu, dan kalau sudah begini yang Kyungsoo bisa lakukan hanya sekedar merespon ‘oh’ atau paling panjang ‘ya kau benar sih’.

Percakapan terus bergulir nonstop sampai ramen kedua untuk Kyungsoo dan dua setengah untuk Baekhyun yang terbiasa ikut lomba tantangan makan.

“Jadi— setelah Chaeri merebut cream puff terakhir dari tanganku—“ Baekhyun berhenti, sendawa untuk beberapa detik membuat Kyungsoo mendecak tidak suka.

“Hah Kyungsoo kau benar-benar seperti Chaeri, dari wangimu, caramu mendecak ketika aku jorok, dan matamu yang membulat mendadak setelah itu biasa lagi seperti tidak ada apa-apa, lucu sekali kalian.” Baekhyun berganti topik lagi, dia memang selalu seperti itu, ketika kau bersama Byun Baekhyun berganti topik bisa menjadi sama mudahnya dengan membalik telapak tangan.

“Apa artinya aku dan Chaeri cocok?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Kyungsoo spontan, sempat membuat Baekhyun mengerjap tapi dilanjutkan dengan tawa.

“Cocok sekali. Mungkin kalian bisa menjadi pasangan lucu yah meskipun kalah lucunya dibanding aku dan Chaeri bersama.”

“Kau dan Chaeri memang cocok?” Sekali lagi spontan. Kyungsoo mulai benci mulutnya sendiri.

“Cocok kok, kami sama-sama suka nonton Spongebob setiap minggu pagi.”

Dan itulah Baekhyun, dia memang suka hal sepele, Kyungsoo yakin jika Baekhyun membeli rumah yang dipikirkan bukan harga, lokasi atau luas tapi entah apa itu karena saking sepelenya Kyungsoo juga tidak tahu. “Itu konyol, katakan alasan yang jelas jadi aku bisa membuat Luhan berhenti mengguruimu soal hubunganmu dengan Chaeri.”

“Luhan! Dia lagi! Banyak omong tapi coba lihat, mendapat senyum Sena saja tidak bisa! HHAH.” Baekhyun ganti topik lagi, padahal Kyungsoo masih ingin membahas persoalan cocok dengan Chaeri itu.

“Mereka sudah jadian, aku melihat mereka berciuman.”

“Nah kan, dia bahkan bisa menci— CIUMAN HAH.” Seketika mulut Baekhyun berhenti bergerak, beberapa detik menganga lalu tertutup seperti lupa bagaimana cara berbicara.

“Dari pada soal itu lebih baik kau jawab apa yang membuat kalian berdua cocok.”

“Kita harus memanggil Luhan ke sini sekarang! Tunggu! Jangan Luhan, lebih baik aku panggil Jongin, aku tanya apa dia sudah menolak Sena sehingga perempuan itu patah hati dan—“

Kyungsoo sudah tidak mendengar apa lagi yang keluar dari mulut Baekhyun, sudah telanjur jengkel karena pertanyaannya tidak kunjung dibalas. Sambil memakai taoge yang disisakannya terakhir ia menggumam malas pada setiap kalimat  yang keluar dari mulut Baekhyun.

Saat ketika Jongin datang topik mereka sudah berganti total menjadi piala dunia.

#

#

Baekhyun berbaring telentang, jendela kamarnya masih terbuka secara sengaja untuk membiarkan angin malam masuk. Sekalipun sudah jam 11 malam ia masih mendengar keributan di luar kamarnya, ibunya mengajak teman-temannya (yang kebanyakan sesama single parent) datang, seperti tidak mempedulikan suara tawa mereka yang sudah berisik volume TV justru mencapai volume maksimum, jelas itu mengganggu Baekhyun.

“Hei! Hei! Anakku Baekhyun sudah punya pacar!” Gosip yang sebenarnya dimulai, sejak tadi wanita-wanita itu hanya membicarakan acara TV dan pekerjaan mereka, sekarang dipikirnya Baekhyun sudah tidur Ibu Byun mulai membicarakan anaknya sendiri.

“Seperti apa pacarnya?”

“Kau menyukainya?”

“Bagaimana bisa!?”

Selanjutnya malas mendengar Baekhyun langsung meraih earphone yang berada di meja kecil pinggir kasurnya dan memasangkannya pada ponsel, meskipun bukan penggemar musik rock ia memasang lagu itu karena rasanya tawa ibu-ibu itu hanya bisa disaingi dengan genjrengan gitar listrik dan jeritan yang memekakkan telinga.

Sejujurnya yang membuat Baekhyun tidak bisa tidur bukan hanya karena gosip malam ibu-ibu dan kikikan mereka yang mengganggu seperti suara nyamuk, mungkin kalian akan mengira ia tidak bisa tidur karena teringat Chaeri yang ujung-ujungnya menari gerakan Gee setelah kalah main Uno, tapi bukan itu sebenarnya.

Meskipun rasanya berlebihan tapi malam ini Baekhyun merasa ia pantas mendapat piala Oscar atas penghargaan aktingnya tadi di depan Kyungsoo.

Ya ini dia, dia tidak bisa tidur karena merasa karirnya akan cemerlang di dunia film sebagai aktor.

Baiklah itu bercanda, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal tadi (dan Baekhyun tidak tertarik menjadi aktor). Sebetulnya Baekhyun lagi merasa menjadi antagonis. Dia tahu Kyungsoo sudah tertarik dengan Chaeri lebih lama darinya (ia bahkan sempat mendukung dua orang itu bersama), ia tahu selama ini Kyungsoo terlalu lugu untuk menyadari perhatiannya pada Chaeri bukan sekedar karena rambut berantakan perempuan itu. Dia tahu banyak sementara Kyungsoo tidak.

Dan kenyataan mengganggu ini mulai membuat Baekhyun gelisah. Semua pertanyaan menyudutkan dirinya, seperti; Kenapa Baekhyun tidak memberi kesempatan pada Kyungsoo untuk mengekspresikan perasaannya? Kenapa Baekhyun tidak menunggu Kyungsoo menyadari semuanya dan mereka akan mempunya kompetisi yang fair? Kira-kira apa yang terjadi ketika liburan waktu itu Baekhyun memberitahu Chaeri Kyungsoo cukup menyukai perempuan itu?

Sebenarnya semua akan lebih mudah kalau Baekhyun bisa memutuskan lebih berharga yang mana. Tapi pertemanannya dengan Kyungsoo atau hubungannya dengan Chaeri  adalah dua hal yang sama berharganya tidak bisa dibandingkan, mustahil dipilih dan takut kalau ia bisa memilih jadi seperti pengkhianat.

Dan akhir cerita (karena kalau dinarasikan panjang sekali) Baekhyun sudah menentukan pilihannya. Terlalu sulit untuk diputuskan hingga ia baru bisa tidur jam tiga pagi ketika ujung-ujungnya muncul mimpi buruk yang mengatakan kalau pilihannya itu salah.

Ada suara di hatinya mengatakan ‘nah kau sadar kan’. Hal itu membuat Baekhyun sadar kalau sudah sejak dulu ia tahu tidak mungkin dirinya menyerahkan Chaeri. Perasaan sukanya pada Chaeri sama berharganya dengan harga diri Kyungsoo yang tidak mau dikasihani karena Baekhyun sudah mengambil langkah duluan.

Sekarang kita (Baekhyun saja sih sebenarnya) tinggal berharap kalau perasaan sukanya Baekhyun sama berharganya dengan perasaan sukanya Chaeri.


Author’s note:

OHO! Satu chapter lagi Detour menginjak kepala dua! O.O Akhir-akhir ini aku mulai memikirkan soal hardcopy project untuk Detour,  sebagai apresiasi buat diriku sendiri karena ga nyangka bisa ngetik panjang-panjang (ah norak ah authornya).  

Btw, targetku dari dulu jangan sampai chapter detour ngebalap pastel (meskipun ga tau  alasannya kenapa) tapi entah kenapa rasanya itu jadi susah karena jumlah halaman Detour udah ngalahin pastel!

Sampai jumpa di chapter 20 semoga semogaaa aku bisa memikirkan kejutan yang bagus untuk memperingati chapter 20~

-xx, Pikrachu

95 thoughts on “Detour #19

  1. unable to speak, especially as
    the temporary result of
    shock. ini fanfiction menarik
    pertama dengan karakter byun
    baekhyun yang berbeda dari
    biasanya!!! and i love it. aku
    suka gimana penulis bisa
    mengkombinasi beberapa
    genre dengan baik, well ini
    bener2 pertama kali aku baca
    fanfiction yang humornya oke.
    terkesan santai tapi ‘oh
    yaampun. luhan bego bgt!’
    ‘baekhyun mabok nih kayanya’
    last kenapa seluruh karakter
    dicerita ini pada kocak semua
    ya kecuali do kyungsoo. dan
    keseluruhan karakter seolah
    menggambarkan ini adalah
    karakter sebenarnya yang
    dimiliki para main cast. I mean
    in real life. saat mereka masih
    SMA trs tingkahnya aneh aneh
    manis tapi bego, itu semua
    kaya nyata! termasuk kyungsoo
    yang hidupnya selalu lurus dan
    terarah walau jembatan
    didepan ambruk ya longsor
    atau apa tapikan masih bisa
    diatasi dengan baling baling
    bambu. intinya, walau
    penggunaan(maaf) tanda baca
    sempet buat aku kesel karena
    misalnya dua nama digabung
    tanpa tanda koma itu artinya
    aku harus baca lebih dari satu
    kali untuk mengerti
    maksudnya. sebenernya ide
    cerita ini genre utama school
    life, ya. banyak cerita diblog
    lain yang juga menggunakan
    genre yang sama tapi gatau
    kenapa ini yang paling ngena.
    karena? asli. ini kehidupan
    nyata banget ga si?
    penyampaiannya ringan tapi ga
    monoton dan terkesan
    penasaran terus mau baca
    sampai lupa waktu tidur!
    kebanyakan fanfic school life
    yang aku baca juga ga sedikit
    yang membawa konflik terlalu
    berat. ga sesuai sama anak2
    sekolah biasa yang masih
    bego lugu gatau malu dll.
    terakhir(lagi) aku—ga rela
    kyungsoo tersakiti. aku harap
    semua main cast plus OC
    pasangan masing2 berakhir
    baik. oke gaada cerita yang
    selalu berakhir baik tapi inikan
    hiburan menarik! i mean baca
    fanfict seru kocak gini tuh
    menarik tapi kalau endingnya
    malah buat hati mencelos
    yasudahlah takdir cerita yang
    menentukan. and for my
    beloved kyungsoo, do you ever
    know the most special person
    in the
    world but they don’t want your
    love so you turn it
    into pain.

    • Siapapun kamuuu aku makassiiiih bgt komen serunyaaaa tau ga gara2 komen ini aku menelantarkan tugas dan buka laptop karena jadi gemeees bgt pengen lanjutin 😫

      Tentang aja untuk kyungie aku ga bakal ngasih bocoran tapi semua bakal baik2 aja 😘 cerita doi bakal diperjelaas di spin-off detour habis detour tamat (masa sih bias sendiri rela disengsaraiiin)

  2. mak nya baekhyun absurd bgt -_- jadi nami itu masih suka sama kyungsoo ya -_- knpa gak jadian ajaa. hoho dan aku ikut pusing mikirin setiap pasangan di ff ini wkwkwk pada kocak semua masalahnya well couple plg fav ya baekri hekekeeke chen yoo fightinggg

  3. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  4. kenapa baekkie jadi bingung nih ??o_O
    hmm… mungkin dia lelah >.<
    penasaran sama kejutan selanjutnya..
    semangat thor ! ^^b

  5. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  6. Jadi chaeri yang dateng? Padahal kan sebenernya si chen bisa ngasih tau alamat apartement baekhyun daripada harus ngegambar peta :v
    Luhan sama sena udah jadian? Masa? Ko ngakak sih pas jong in dateng langsung ngebahas piala dunia :v
    Ko baekhyun bingung sih ah, ga seru, mending pilih salah satu supaya rame..
    Izin baca chapter selanjutnya kaka, mau tau kejutannya😀

  7. huuhh…please deh Baek! kau beneran ga peka ato bagaiman? kasian Chaerin kan! sampe…ehmm…mengompol-_-
    Baekhyun beneran sabar menghadapi Ibnya. salut banget. dengan sifatnya kekgitu tapi dia bisa menjaga ibunya. huuhhh…ya semoga saja ibunya Baekhyun merestui mereka aja hihi😀
    Emang sulit untuk mendiskripsikan Kyungsoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s