Detour #20

#20 Love and Some Verses

        

Langit sore ini kelabu. Baekhyun memang menyukai warna abu-abu tapi kalau untuk langit ia lebih suka warna biru cerah atau mungkin pink, tapi abu-abu? Baekhyun selalu punya firasat buruk soal langit macam ini, awannya begitu tebal persis seperti permen kapas tapi warnanya abu-abu.

Sambil memandang arlojinya ia baru menyadari sekarang sudah hampir pukul enam, dan ia sendirian berdiri di halaman belakang sekolah. Apa yang dilakukannya di sini? Otaknya tiba-tiba terasa buntu, ia tidak ingat punya detensi sore ini, dan lagi untuk apa dia berdiri di sini sendirian? Sekelingnya sepi, tidak ada teriakan anak klub bola yang biasanya berisik atau mungkin cekikikan dari jendela ruangan klub koran yang terbuka, benar-benar sepi sampai ia yakin ia bisa memastikan berapa persis jumlah jangkrik yang sedang berderik.

“Baekhyun?”

Mendengar namanya dipanggil laki-laki itu langsung menengok. Langsung tersenyum lebar melihat Chaeri yang tahu-tahu berada di belakangnya, Chaeri tampak berbeda, kulitnya begitu pucat dan bibirnya hampir berwarna putih membuat Baekhyun separo kasian dan separo takut karena pandangan Chaeri beda dengan biasanya, matanya tidak menunjukkan minat kalau ia sedang berbicara dengan manusia.

“Di mana yang lain? Apa kita berjanji di sini? Kok aku tidak ingat ya?” Baekhyun bertanya.

Dan jawaban Chaeri semakin membuat tanda tanya Baekhyun menjadi-jadi, perempuan itu malah tertawa, suaranya tinggi dan sekali-kali melengking.

“Aku merasa kita tidak punya hubungan cukup penting untuk bisa berjanji berdua di sini. Kok kau tidak ingat ya?”

“Apa maksudmu tidak punya hubungan cukup penting?”

“Ya maksudku, tidak ada hubungan berarti, aku hanya ke sini mengatakan kalau ibumu datang menjemput, hari ini kan kau harusnya pindah sekolah tapi malah lari.”

“Pindah sekolah? Jangan bercanda! Hei kenapa Chaeri jadi bersikap seperti ini?”

“Kau bilang putus.”

“HHAH?”

“Baekhyun bilang menyukai perempuan lain, dan sama aku tidak serius, kau bilang kita tidak cocok dan lebih baik aku single seumur hidup.”

“Aduh Chaeri—“

“Sudah ya, aku baru ingat ada PR penting.” Chaeri berjalan pergi. Langkahnya tanpa suara padahal jelas tanah dibawah sudah tertutupi daun-daun kering.

 

Baekhyun sama sekali tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, kepalanya pusing dan ia sempat berharap semua ini hanya mimpi tapi begitu air matanya jatuh dan ia mencubit pipinya sendiri, semua masih tidak berubah.

Seperti diserang penyakit flu mendadak, ia merasakan hidungnya langsung tersumbat, lehernya langsung gatal dan ingin sekali dibatukkan, ia lalu mulai bersin, matanya kepedasan dan rasanya terus berair ingin menangis, Baekhyun benar menangis ditambah sekali-kali menekan hidungnya mengeluarkan ingus, dan entah pada kali berapa ia merasakan hidungnya terlepas ketika membuang ingus, sempat merasa memang imajinasinya saja yang terlalu tinggi Baekhyun mengendikkan bahu, tapi matanya tidak sengaja menangkap pantulan wajahnya di jendela lab yang tahu-tahu sudah hitam karena malam hari, mata Baekhyun nyaris meloncat menyadari hidungnya benar-benar tidak ada, hanya sebuah lubang—

“BAEKHYUN!”

“TIDAK—”

Dalam beberapa detik rentetan kejadian terjadi, Baekhyun yang sekejap beranjak dari kursinya menubruk Jongin yang sedang mendekatkan kepala ke telinganya untuk berteriak, ketika Jongin jadi terjatuh ia menyenggol Sungjong yang sedang memegang vas bunga, keributan diakhiri dengan suara pecah vas keramik kesayangan guru kelas mereka.

“Sori.” Hanya itu yang bisa Baekhyun katakan ketika ia menyadari acara bangun tidurnya berakibat kecelakaan kecil.

Sungjong menarik dan membuang napas berkali-kali berusaha menahan keinginan untuk berteriak mengingat tenggorokannyamsedang sakit. Jongin yang mengelus-ngelus dagunya yang terkena kepala Baekhyun masih menganga melihat temannya itu begitu pucat, keringat dingin menetes dari pelipisnya.

“Oi Baek.. wajahmu pucat sekali..”

“Mimpi buruk.” Baekhyun berkata sambil kembali duduk dan memijit puncak kepalanya yang menubruk dagu Jongin begitu kerasnya. “Aku jadi Voldemort.Meskipun sejujurnya soal hidung lepas itu tidak terlalu buruk dibanding bagian Chaeri yang tiba-tiba berubah.

“Terakhir bermimpi menjadi kera sakti sekarang menjadi orang jahat hah?” Sungjong berjongkok dan mengumpulkan kepingan vas yang pecah sambil menggelengkan kepalanya. “Lebih baik konsultasi ke psikiater, ini sudah kesekian kalinya kau mimpi buruk di tengah hari.”

Masih merasa jantungnya berdebar cukup keras Baekhyun memilih tetap diam, napasnya agak terengah dan ia merasa tubuhnya berkeringat padahal suhu di dalam kelas tergolong dingin. “Oh Kai, terima kasih, kau membangunkanku di saat yang tepat.” Baekhyun terus terang lega juga ia tidak menatap dirinya yang tak berhidung cukup lama.

Kai mengernyit dan mengacak-acak rambutnya. “Aku rasa ini terakhirnya kalinya aku membangunkanmu, sudah berapa kali sih tertidur terus di dalam kelas?”

“Untung guru-guru tidak menyadarimu.” Sungjong yang sudah mengumpulkan kepingan vas kembali berdiri dan berjalan menuju pintu kelas. “Hari ini hari terakhir kau tidur Baek, besok aku tidak akan menyelamatkanmu dari guru lagi.”

Baekhyun mendecak, beberapa hari terakhir ini guru membolehkannya tertidur karena Sungjong selalu mengatakan dirinya sakit, dan belakangan Baekhyun jadi tidak bisa dipercaya akibat tertangkap basah berbohong sakit untuk bolos ulangan Sejarah. Ia pun menelungkupkan badannya di atas meja, kepalanya jadi terasa berat. “Yang kali ini benar-benar mimpi buruk…”

“Apa aku muncul? Kalau kau bilang aku jadi Patkai si manusia babi itu lebih baik diam saja.”

“Tidak.” Baekhyun langsung bangun dan menatap Kai yang menatapnya dengan seringai, temannya itu masih tidak percaya seburuk apa mimpi yang baru saja dialaminya. “Mimpi kali ini yang muncul hanya Chaeri…dia—“

“Kau membunuhnya ketika menjadi Voldemort?”

“Bukan.”

Tapi tiba-tiba ingat mitos bilang mimpi buruk kalau dibicarakan jadi kenyataan Baekhyun memutuskan untuk menutup mulut. “Sudahlah lebih baik aku keluar, tahu di mana Chaeri?”

“Kau bisa menelponnya.”

“Ya andai saja dia memang punya ponsel.” Ucap Baekhyun sambil memutar bola matanya.

 

***

Byun Baekhyun berjalan cepat sepanjang koridor lantai dua menuju tangga, ia bersin satu dua kali tampaknya mimpi ketika dia terserang flu mendadak itu benar-benar membuatnya jadi pilek. Murid-murid berlalu lalang di kanan kirinya, beberapa murid perempuan mencuri lirik karena rambut bangun tidur Baekhyun cukup menarik perhatian, Sehun dan Chen menyapanya tapi terlalu buru-buru Baekhyun hanya bisa melambaikan tangannya kira-kira sedetik tepat di depan muka mereka membuat kedua temannya itu tergidik mengira Baekhyun mau menampar.

 

“Baekhyun!” Luhan dan Sena menyapa berbarengan ketika berpapasan di tangga. Mereka berdua beberapa minggu terakhir menjadi orang terakhir yang ingin dilihat Baekhyun.

“Apa—“

“Guru Nam memanggilmu dia bilang—“

“Katakan aku sakit.” Tanpa menatap dua orang itu Baekhyun sudah berada di anak tangga terakhir menuju lantai tiga.

 

Detik ketika Baekhyun akhirnya berada di depan pintu ganda perpustakaan  ia  menghentikkan langkahnya. Jantungnya kembali berdegup kencang, ini memang bukan pertama kalinya ia mimpi buruk, tapi firasatnya kali ini mimpi barusan merupakan suatu pertanda. Dengan perlahan kedua tangannya mendorong pintu tinggi itu.

Untungnya mencari Chaeri tidak begitu sulit, perempuan itu sedang duduk di depan meja persegi panjang besar yang jaraknya hanya beberapa meter dari pintu masuk, tumpukan buku yang tingginya hampir semeter berada di kanan kirinya. Beban Baekhyun agak terangkat ketika Chaeri tidak terlihat sepucat di mimpinya.

“Chae—“ Usahanya untuk menyeru nama Chaeri terhenti, bukan karena takut ditegur pengawas perpustakaan tapi ia menyadari perempuan yang mottonya di ruang perpustakaan itu tidak boleh berisik sedang tertawa.

Ketika Baekhyun menolehkan kepalanya mencari sumber tawa Chaeri ia baru sadar Kyungsoo duduk di seberang meja depan Chaeri, sama-sama tertawa.

“Ekhm.” Sambil berdehem Baekhyun pun mengambil posisi di sebelah Chaeri, ikut penasaran apa yang membuat perempuannya tertawa.

 

***

 

Kyungsoo yang tengah mempraktekkan trik sulap dengan kartu reminya tersenyum ketika menyadari Baekhyun mengambil posisi duduk di sebelah Chaeri, hampir seperti kebiasaan sudah seminggu belakangan ini Baekhyun selalu rajin mendatangi perpustakaan, wajah Baekhyun yang terlihat pucat membuat Kyungsoo berasumsi mimpi laki-laki itu kali ini tidak begitu baik.

“Mimpi buruk? Tidak ada bagian soal aku menjadi biksu botak lagi kan?” Ia bertanya hati-hati.

“Tidak.” Baekhyun menggelengkan kepalanya, mulutnya sudah menganga siap bercerita tapi tiba-tiba tertutup lagi, tiba-tiba Baekhyun menengok pada Chaeri yang masih tenggelam dengan novelnya. “Bibirmu kering. Sudah minum sejak sarapan?”

Chaeri menggelengkan kepalanya, dan seperti sudah menjadi tontonan setiap hari Kyungsoo tahu Baekhyun akan mengeluarkan sebotol air mineral untuk Chaeri.

 

Memasuki musim dingin bulan November menjadi bulan ketiga sejak Chaeri dan Baekhyun bersama, dan Kyungsoo juga heran kenapa ia tidak keberatan melihat dua temannya itu begitu cocok satu sama lain. Tidak sesulit yang ia bayangkan semua terjadi begitu saja, berjalan normal tapi tidak tipikal, rasanya sulit dijelaskan.

“Mimpi apa kali ini? Apakah aku masuk? Mimpi terakhir yang kau menjadi kera sakti aku tidak ikut rasanya aku dilupakan.” Chaeri berkata setelah menyedot minumannya (terakhir ketahuan minum di perpustakaan membuat Chaeri ditegur dan Baekhyun memutuskan membawa sedotan untuk bisa minum diam-diam).

 

Dua orang itu, dari sudut pandang manapun Kyungsoo lihat sebenarnya tidak memiliki perubahan berarti dengan sebelum mereka jadian. Tidak ada PDA (re: Public Display of Affection) yang paling Kyungsoo benci dan baik itu Baekhyun atau Chaeri tidak pernah membuat efek dunia milik berdua yang umumnya selalu terjadi untuk sebuah pasangan (contohnya Luhan-Sena). Percakapan mereka seputar hal-hal sederhana tapi menarik tidak ada habisnya, membuat  siapapun yang mendengarnya merasa dua orang itu hanya teman baik.

“Masuk sih tapi cuma jadi cameo. “ Baekhyun menjawab dengan gugup, ia masih terlihat pucat.

“Apa aku masuk?” Kyungsoo ikutan bertanya, sekarang mimpi Baekhyun yang teratur menjadi semacam serial drama yang dinantikan teman-temannya (yang paling terkenal yang Baekhyun jadi kera sakti, Chen bilang dia ingin membuat film dari mimpi itu).

“Ya, kau masuk D.O. Jadi Voldemort.”

 

Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa aneh bagaimana terikatnya hubungan dua orang itu. Rasanya seperti menyilangkan dua tanaman dengan jenis yang berbeda, hasilnya aneh tapi pantas untuk dilestarikan, kira-kira semacam itu.

“Lalu kau menjadi siapa? Harry Potter?” Dengan tampang mengernyit seolah harga dirinya terluka Kyungsoo kembali bertanya.

“Aku menjadi Byun Baekhyun!” Jawab Baekhyun terlalu ceria, jadi seperti dipaksakan.

“Dan aku jadi apa? Meskipun cuma cameo…” Chaeri ikut penasaran.

“Chaeri jadi pohon ketiga!”

 

Satu hal lagi yang membuat makin berbeda, yang kata orang kalau sudah suka sama orang ada yang namanya cemburu tidak pernah berlaku pada dua orang itu. Baekhyun berbicara dengan seluruh teman perempuannya (yang banyak) seperti biasa, bedanya setiap Chaeri kebetulan lewat matanya langsung mengikuti perempuan itu tidak lagi memandang si lawan bicara, dan Chaeri juga tetap menghabiskan waktu bersama Kyungsoo lebih banyak dari pada dengan Baekhyun mengingat keduanya sama-sama menjadikan perpustakaan sebagai kelas kedua. Entah memang tidak ada hal yang membuat mereka bisa saling cemburu atau komitmen dua orang itu memang kuat, dan sejujurnya Kyungsoo juga tidak tertarik untuk mencari tahu karena yang penting itu sama sekali tidak mengubah hubungan mereka bertiga.

“Pohon ketiga!? Aku bahkan pernah menjadi gagak pertama! Aku bosan jadi cameo.” Chaeri meniup poninya. Ia protes sekalipun ia tahu itu mimpi milik Baekhyun yang tidak mungkin ia bisa mengaturnya.

Sementara itu Baekhyun hanya tersenyum dan mengendikkan bahunya. “Tapi gagak pertama satu-satunya yang bertahan hidup ketika aku menghancurkan seluruh kota.”

 

Rasanya semua berjalan dengan semestinya, dibilang terlalu lancar tidak bisa, tapi penuh masalah pun juga tidak, porsi masing-masing pas. Perbedaan memang ada tapi hanya sebatas seperti perbedaan margarin dan mentega. Kyungsoo tertawa kecil dan kembali melanjutkan sulapnya yang membuat baik itu Baekhyun dan Chaeri berhenti berselisih soal pembagian tokoh dalam mimpi Baekhyun.

 

***

 

 

Selama kira-kira sepuluh menit Kyungsoo dan Luhan sama-sama menghadap jendela di koridor depan kelas yang sengaja dibiarkan terbuka membawa angin musim dingin yang semakin membuat dua orang itu menggigil. Tangan mereka masing-masing mengotak-atik rubik 10×10 rupanya sedang melakukan kompetisi siapa yang lebih cepat.

“Menurutmu kalau Sena tahu apa yang akan dia lakukan?” Luhan berbicara tanpa memandang Kyungsoo, mereka berdua sama-sama terhisap dengan kotak kecil itu.“Kyung?”

Tidak ada jawaban.

“Dia gampang ditebak sih, paling bilang tidak apa-apa padahal sebenarnya jelas ada apa-apa.” Kyungsoo akhirnya menjawab setelah Luhan menginjak kakinya.

Sekarang Luhan mengerutkan keningnya memandang Kyungsoo yang mengatakan hal itu dengan mudah seakan dia orang yang paling mengerti Sena.

“Kapan lebih baik aku mengatakannya?”

“Lebih cepat lebih baik.”

“Kalau cuma ngomong memang gampang, tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya!”

Kyungsoo menghela napas setelah pada akhirnya menyelesaikan satu sisi rubiks. Ia melirik Luhan yang rupanya sudah menyelesaikan sisi kedua. “Sama seperti ketika kau mengatakannya padaku, to the point.”

“Itu karena kau bukan manusia, jadi aku pikir bilang padamu juga tidak akan ada hal-hal emosional terjadi, aku bahkan belum mengatakan pada Baekhyun, Sehun atau Jongin.”

Beberapa detik tidak ada yang berkata lagi. Tiba-tiba merasa masa bodoh dengan kompetisi rubiks ini Kyungsoo mendecak dan mengambil tasnya yang tersandar di lantai. “Kalau aku bukan manusia untuk apa kau cerita padaku?”  Laki-laki itu langsung berbalik badan dan berjalan meninggalkan Luhan yang masih memanggil-manggil namanya. Luhan mengatakan dirinya bukan manusia? Luhan kira yang punya masalah hanya dirinya?.

 

***

 

Satu lantai di atas lantai di mana Kyungsoo dan Luhan berada, dua orang juga melakukan hal yang sama, menantang angin musim dingin dengan membuka jendela lebar-lebar sambil bertopang dagu pada kusen jendela Sena dan Chaeri menghela napas berbarengan.

“Kalau aku bilang Luhan menurutmu dia akan bilang apa?” Sena berkata dengan cemas, kesannya seluruh hidupnya hanya bergantung pada apa yang akan keluar dari mulut Luhan.

“Yaah paling bilang tidak apa-apa padahal dalam hati jelas ada apa-apa.” Chaeri menjawab masih mengemut permen lemon dari Kyungsoo karena perempuan itu berhasil menebak salah satu trik permainan kartu Kyungsoo tadi.

“Kapan aku bicara sama Luhan soal ini?” Sena bertanya lagi, tambah cemas karena jawaban Chaeri tidak meringankan bebannya sama sekali.

“Jangan lama-lama pokoknya— uhuk!” Permennya menggelincir sampai ke tenggorokan padahal bentuknya masih bulat sempurna.

“Chae-chaeri? Kau tersedak?” Sena memukul-mukul pundak perempuan itu meskipun hasilnya nihil karena akhirnya Chaeri mengeluarkan bunyi ia sudah menelan bulat-bulat permen itu.

“Pokoknya kalau ada waktu cepat katakan saja, jangan menunda hal. Kalau begitu aku pergi dulu, aku baru ingat ada sesuatu yang harus kukerjakan.” Chaeri masih sedikit terbatuk, ia pun menepuk pelan bahu Sena sambil berjalan cepat sepanjang koridor.  Ia baru ingat ada tugas menyebalkan yang ia emban hanya karena nilainya sedikit lebih baik dibanding teman-teman lainnya.

 

Sambil sesekali melirik kanan kiri ekor matanya mendapat pemandangan Seukri dan Chen di dalam kelas, Chen memegang handycamnya sementara Seukri yang berdiri di sebelahnya terlihat berminat pada apa yang Chen perlihatkan padanya

“Yo Chaeri!” Karena melirik dua orang itu Chaeri sama sekali tidak sadar ada Baekhyun bersandar di depan jendela koridor, tangannya memegang hal yang sebenarnya biasa saja tapi karena itu Byun Baekhyun Chaeri merasa yang dipegangnya jadi luar biasa.

“Kau? Baca buku? Apa itu novel?” Chaeri mengerjapkan matanya memperhatikan buku setebal batu bata yang berada di tangan laki-laki itu.

The Hobbit, setelah Kyungsoo cerita soal lucid dream aku mau coba mengarang mimpiku sendiri. Siapa tahu habis membaca novel ini mimpiku yang selanjutnya jadi makin keren Chaeri!”

Chaeri memincingkan matanya pada Baekhyun yang masih tersenyum. “Sebenarnya kenapa akhir-akhir ini kau selalu bermimpi? Biasanya tidak serajin ini kan?”

“Entahlah, mungkin selama ini aku punya kemampuan membaca  masa depan, ingat ketika aku mimpi dinosaurus hidup lagi? Besoknya National Geographic benar-benar membahas dinosaurus kan?”

Chaeri benar-benar ingin  mengingatkan soal kebetulan tapi melihat mata Baekhyun yang berbinar ia memutuskan menganggukkan kepalanya dengan sangat enggan (yang untungnya Baekhyun tidak sadar).

Lucid dream tidak semudah yang kau bayangkan Byun Baek. Kau harus konsentrasi dan melakukannya berulang-ulang—” Chaeri berujar sambil ikut bersadar pada jendela di samping Baekhyun. Ia benar-benar bersemangat menjelaskan teori itu.

“Ahh~ begitu maksudnya!” Dan Baekhyun benar-benar mengacuhkan dirinya. Chaeri mendengus dan melirik Baekhyun yang sudah mengernyit membaca tiap kata yang tertera. Aneh melihat Baekhyun membaca sampai sefokus ini, mengganjal seperti itu sebuah kesalahan. Apalagi tujuannya untuk membuat mimpinya lebih keren.

“Aku pergi dulu kalau begitu.”

“Kau mau kemana?” Baekhyun bertanya tapi matanya masih menempel pada halaman buku.

“Mengemban tugas mulia.” Chaeri pun berlalu dengan langkah cepat, sudah terlambat lima menit dari yang ia janjikan dengan guru Park.

***

 

Chaeri menghela napas ketika tepat pada akhirnya ia berhenti di depan kelas 2-C, dengan guru Park di sampingnya Chaeri memilih membiarkan gurunya itu yang membuka pintu kelas.

“Ini kelasnya, setiap Selasa sore kalau bisa aku ingin kau membantu anak ini.”

Pintu pun bergeser dibuka, belum sempat Chaeri ingin protes soal setiap Selasa sorenya yang harus diluangkan matanya sudah menangkap anak laki-laki yang duduk bersila di atas meja, topi baseballnya dipakai terbalik dan matanya menatap tajam buku yang sedang dipegangnya. Jelas ini anak yang tidak tahu sopan santun dan cukup punya nyali untuk bertingkah seperti itu di depan guru killer macam guru Park.

“Taehyung, pindah dari sana, kakak kelas yang kuceritakan padamu sudah datang meluangkan waktunya untuk mengajarmu.”

Laki-laki yang namanya Taehyung itu menolehkan kepalanya pada Chaeri. “Dia yang namanya Chaeri? Saem bilang kakak kelas yang mengajarku akan sangat cantik!”

Guru Park membetulkan letak kacamatanya yang melorot sampai puncak hidung. “Jaga tata kramamu, Moon Chaeri satu-satunya murid yang bisa kuandalkan untuk mengurus murid tidak tahu diri sepertimu.”

Taehyung mencibir tapi akhirnya mengendikkan bahu dan turun dari singgasana mejanya.

“Ayo Chaeri-sunbae, kita mulai pelajarannya.”

 

Chaeri menghela napas dan melangkah maju ketika Guru Park keluar dan meninggalkannya berdua dengan junior yang bernama Taehyung itu. Entah apa yang terjadi tiba-tiba Taehyun yang dikiranya akan memberontak atau mengajak bolos tahu-tahunya benar-benar mengeluarkan seluruh buku pelajarannya dan duduk dengan manis di atas kursi, di depan mejanya ia sudah meletakkan kursi untuk Chaeri.

Chaeri duduk di depan Taehyung sambil menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. “Sejujurnya aku agak lupa pelajaran kelas 2, bagaimana kalau sekarang kita belajar yang tanpa rumus saja?”

Taehyung mengangguk dan menatap Chaeri. Meneliti wajah perempuan itu. “Bahasa Inggris bagaimana?”

“Baiklah, aku pinjamkan kau novel bahasa Inggris lalu aku minta sore ini kau menterjemahkannya lima halaman dulu, bagaimana?” Chaeri sudah menunduk untuk mengambil ranselnya hingga tiba-tiba ia mendengar Taehyung tertawa.

“Tidak mau~ Itu membosankan, aku ada ide lebih menarik.”

Sudah kuduga. Chaeri berkata dalam hati, dari awal ia sudah curiga anak ini tiba-tiba bersikap baik. “Kalau begitu katakan idemu.”

Taehyung tersenyum membuat matanya berbentuk croissant yang entah kenapa mengingatkan Chaeri pada Baekhyun. “Chaeri-sunbae tulis surat cinta dengan bahasa Inggris lalu aku akan menterjemahkannya, bagaimana?”

 “Untuk siapa dari siapa?”

“Untuk seseorang yang kau suka, tentunya dari dirimu.” Ia masih tersenyum, wajahnya terlihat menikmati seluruh percakapan ini. Chaeri yang biasa pasti akan menolak ide ini mengatakan terlalu menjijikkan atau metode itu tidak begitu efektif dan hal yang perlu diketahui, bersama Baekhyun membuat pikirannya yang konservatif terbuka untuk hal-hal tidak biasa, jadi pada akhirnya Chaeri mengangguk. “Baiklah, kutulis surat cinta tapi ketika kau menterjemahkannya jangan ada kesalahan sedikit pun, jika iya—“

“Baiklah aku tahu! Ada penalti. Asal kau tahu bahasa Inggrisku tidak seburuk yang kau kira.” Taehyung memotong kalimat Chaeri seolah penalti tidak akan pernah terjadi untuknya.

“Oh banyak omong dasar.” Chaeri berkata singkat sambil mengambil pensil mekaniknya lalu mulai menulis kalimat yang hanya ditunjukkan untuk orang yang disukainya.

 

***

Perubahan yang terjadi setelah bersama hanya disadari oleh dua orang itu; Chaeri dan Baekhyun. Mereka seperti punya aturan main sendiri soal bagaimana cara melakukan ini-itu. Baekhyun memang tidak menelpon Chaeri setiap malam, Chaeri juga hampir tidak pernah menonton pertandingan bola laki-laki itu, tidak ada yang meminta apalagi menuntut, hanya begitu saja terjadi tanpa penjelasan.

 

“CHAE—RI”

Perempuan yang sedang mengikat tali sepatu sambil bersandar pada dinding itu menoleh pada laki-laki yang melambaikan tangannya sambil berlari, celana yang dipakainya terbalik sehingga kantong yang menunjukkan dasi dikucel paksa masuk ke kantong justru di sisi depan. Chaeri paling suka melihat Baekhyun pakai sweater ia juga tidak tahu kenapa menurutnya laki-laki yang paling tampan kalau memakai sweater itu Baekhyun.

Keduanya berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah dengan jemari mereka sudah saling terkait, sebelumnya Chaeri tidak tahu kalau bergandengan tangan ternyata tidak seribet yang ia kira, yang Chaeri pikir dulu betapa tidak nyamannya menggenggam tangan yang berkeringat tapi sekarang ia mengerti merasakan tangannya digenggam seperti itu adalah benda berharga rasanya menyenangkan apalagi kalau diakhiri dengan kejutan Baekhyun meletakkan coklat Skittles  ke dalam tangannya.

Truth or dare?” Seperti biasa Baekhyun melakukan salah satu permainan favoritnya bersama Chaeri.

Truth.” Chaeri sudah memiliki pengalaman soal dare –nya Baekhyun, dan dia tahu cukup sekali ia melakukan itu.

“Menurutmu Byun Baekhyun paling keren kalau lagi melakukan apa?”

“Ketika Baekhyun mencetak gol bunuh diri tidak sengaja, menurutku senyum idiotmu saat mengira dirimu menang itu keren.”

Baekhyun tertawa sarkastis. “Aku tahu aku tahu, aku memang selalu keren.” Ia  terlihat percaya diri tapi dalam hati mengutuk diri habis-habisan soal kekonyolan itu.

Saat ketika Chaeri menengokkan kepalanya pada Baekhyun laki-laki itu sudah tersenyum lebar padanya. “Dare! Aku mau dare!” Ia bahkan sudah menjawab sebelum Chaeri sempat bertanya.

Sambil menggaruk dagunya ia menengok kanan kiri mencari sesuatu yang cukup seru. Tidak ada yang benar-benar menarik selain seorang ahjumma yang sedang mengajak Golden Retrievernya berjalan-jalan. Lalu di ujung pertigaan sana tepat di depan 7-eleven mata Chaeri menangkap Luhan dan Sena yang duduk berdua, sama-sama tertawa dengan Slurpee di tangan mereka yang selalu menjadi pertanyaan bagi Chaeri apa enaknya makan es ketika kau merasa darah di tubuhmu saja sudah beku?

“Baek, kau lihat ada Sena dan Luhan di ujung sana kan?”

“Ya.” Baekhyun memincingkan matanya dan tersenyum, melakukan dare dari Chaeri seperti melaksanakan sebuah misi terlarang, hanya orang-orang terpilih dan ia suka perasaan menantang itu, dan saking sukanya ia tidak pernah memilih truth meskipun dalam hati penasaran setengah mati hal seperti apa yang Chaeri ingin tahu tentang dirinya.

“Ganggu mereka, kau akting seperti Sena selingkuh darimu, aku penasaran reaksi Luhan seperti apa. Seru kan?” Chaeri menggigit bibir menahan kegeliannya, membayangkan Luhan emosi.

Aye aye captain!” Dan dengan itu Baekhyun langsung berlari.

 

***

Chaeri mengelap pipi kanan Baekhyun yang berlumur sirup dengan sapu tangan yang hampir tidak pernah terpakai olehnya, syal putih Baekhyun ternoda karena terciprat coke  milik Luhan. Chaeri menyumpahi dirinya, membuat Baekhyun mendapat lemparan Slurpee dari Sena sama sekali tidak lucu. Ia benci dirinya sendiri.

“Ganti ekspresi wajahmu. Ayolah.” Ternyata masih bisa tersenyum Baekhyun justru menjilat salah satu ujung mulutnya yang masih terkena sirup manis.

“Maafkan aku.”

“Termaafkan dan beres!”

Dialog seperti ini sudah berulang untuk yang ketiga kalinya, Chaeri terus meminta maaf dan Baekhyun tampak tidak jengkel untuk memberikan jawaban yang sama. Ia tahu yang ia perlu lakukan hanya membuat Chaeri minta maaf sepuasnya.

“Bagaimana kalau aku bicara pada Sena—“

“Sekarang giliranku.”

Sekilas Chaeri mengira Baekhyun akan membalas dendam tapi laki-laki tertawa kecil dan memegang tangan Chaeri, menghentikkan kesibukannya mengelap wajah laki-laki itu, Baekhyun rasa ia sudah cukup bersih.

Truth or dare?

Truth.” Dengan malas Chaeri menjawab.

“Menurutmu apa cita-cita Byun Baekhyun?”

Bermain truth or dare  bersama Baekhyun sebenarnya memiliki aturan main sendiri. Setiap Chaeri memilih truth pasti Baekhyun menanyakan pertanyaan apapun soal dirinya di mata Chaeri. Apa pendapatmu soal Baekhyun begini atau tebak Baekhyun suka apa, Baekhyun tidak pernah bertanya soal hal privasi tentang Chaeri. Entah ia merasa itu tidak penting atau sebenarnya sudah tahu. Pertanyaan kali ini Chaeri pikir cukup susah, paling susah sebenarnya.

“Penalti. Aku tidak tahu.” Chaeri menjawab setelah berpikir hampir 10 detik.

Baekhyun mengendikkan bahunya dan tertawa. “Dan kau tidak akan pernah tahu karena aku selalu memilih dare!”

“Kita tidak perlu bermain truth or dare untuk tahu apa cita-citamu Baek. Itu hal normal untuk dibicarakan.”

“HAH. Tidak Chaeri. Untukku tidak.”

Satu alis Chaeri naik. “Kau tidak bermaksud sok jual mahal rahasia kan? Oh aku baru ingat, cita-cita bahkan bukan rahasia.”

“Aku lebih suka menjadikan ini kejutan, begitu jalanku sudah jelas kau akan terpukau Chaeri.”

“Sudah jelas bagaimana? Kita masih sekolah dan—“

“Minggu besok aku akan mulai mengambil Hagwon. Kita tidak akan bertemu setidaknya selain di sekolah. Libur musim dingin aku akan menghabiskan waktu di Hagwon.”

Chaeri memiringkan kepalanya. Baekhyun dan Hagwon sama sekali tidak cocok, bahkan orang yang suka belajar seperti Chaeri pun merasa Hagwon bukan tempat yang tepat untuknya. 

“Jangan bercanda Byun Baekhyun.”

“Aku tidak.”

***

Ada saat begitu membuka mata kau baru sadar dihadapanmu sudah ada dua pilihan. Lakukan atau tidak. Iya atau tidak sama sekali. Ambil atau tidak. Meskipun pilihannya sesederhana itu tapi efek yang diterima sangat kontras, salah memilih hasilnya fatal tidak ada jalan balik, harus dijalani.

Orang bilang momen seperti itu hanya terjadi sekali seumur hidup, berlangsung dengan singkat mungkin hanya beberapa detik dan tanpa pikir panjang kita harus tahu apa keputusan kita. Keputusan itu akan mempengaruhi seluruh hal tentang kita dan mungkin orang lain. Rasanya memang ironis bagaimana hal seperkian detik bisa merubah seluruh hal dalam hidup.

 


 

Author’s note:

AKU TEGANG. Oleh karena itu aku memutuskan update.

Di chapter 20 entah kenapa aku merasa lebih mateng sama Detour. Sekarang udah coba buat plot gimana cerita ini bakal berakhir dan itu rasanya kayak finally aku bisa membaca masa depan. Yeay.

Gimana pendapat kalian soal chapter ini?

Kita punya tokoh baru, Taehyung, yep dari BTS. /WINK WONK/ aku bukan penggemar bangtan boys tapi kita butuh kehadiran orang baru!

Dan soal hadiah untuk chapter 20 aku udah bikin kejutan! Dan detik berikutnya bukan kejutan lagi karena aku akan ngomong apa kejutannya di author’s note ini.

Salah satu reader Detour ada yg request bikin cerita luhan x oc lalu ada juga reader yg request bikin marriage life fanfic. Jadi biar sekali dayung dua pulau terlewati aku gabungin aja. SO THAT’S IT. Aku bikin marriage life  feat Luhan x Sena.

PLIS KALIAN EXCITED.

Yep ini Luhan dan Sena di Detour! Tetap terhubung sama plot tapi ini spesial semacam spin-off sepertinya, aku ga ngerti jelasinnya gimana. Alasannya aku milih Luhan-Sena karena aku nyadar banyak yg ga puas sama setiap scene mereka yg nyempil2  dan kuputuskan cerita yg ini bakal made of a loooot  of cheese karena ini super cheesy (mungkin) aku sampai malu dan mikir apa mending kukasih password aja tp kalau gitu jadi ga ada yg baca, jadi yaudahlah. Pokoknya aku udah ngasih peringatan. Bakal kuupload secepatnya!

Aku mengucapkan hello untuk  pembaca baru ^^ Selamat bergabung kawan! Dan reader lama jangan bosan dengan cerita ini c:

Oh ya aku coba bikin ask.fm/pikrachu bisa ngobrol lebih bebas di sana!

 

93 thoughts on “Detour #20

  1. Hallo author. Kyaaaaa akhirnya sampe di chapter20. Aku reader baru dan yeah selama ini menjadi silance reader disini /huaaaaah maaafkan aku/ entah kenapa aku kepikiran buat komen di chapter ini. Aku jatuh cinta sama detour, dan selalu ketagihan baca ini sampe melupakan kolom komentar, dan beberapa jam yang lalu (karena aku baru baca detour ini selama 2 hari) aku jadi ngerasa bersalah karena tidak pernah meninggalkan jejak dan karena ff ini terlalu manis untuk hanya sekedar dibaca.

    Btw, baik Baek atu D.O, they’re not my bias, tp setelah baca ff ini entah kenapa jadi jatuh cinta /walaaaaaah maafkan aku yeollie/ dan setiap kali denger suara mereka, entah kenapa jadi tersipu malu -_- (oh!)

    Dan buat Pikrachu makasih banget udah nulis cerita semanis ini >.<; nama kamu udah ada di list author favorit aku :3 jadi terus lanjutin cerita ini yaaaaaaaah
    Dan mulai sekarang aku berjanji akan selalu meninggalkan jejak hihi🙂
    Salam kenal^^ fighting!

  2. Wkwkwk daebak thor,setiap baca ff ini gua ngakak >o< xD hmm keep writing ya thor ^^ jujur gua sukaaaa sama ff ini, abisnya manis bangeeett

  3. thoor aku nunggu2 lanjutan chap detour, tpi smpet lamaa, sampe aku klewatan dn ketinggalan chap2 yg trnyata udah dipublish. aku kdang smpe bingung dn lupa chap trakhir yg aku baca chap brpa yaa. krna itu semangat ya thor buat nerusin detour inii..
    oiyaa aku surprice bgt krna ada V disinii..baekhyun-V..eyeliner line ^^

  4. thorrrrr aku suka pakek banget sma ff ini!!!!
    satu kata deh buat author….. DAEBAK!!!
    aku bakal jadi reader setia author!!!:))

  5. Hai author, maaf sebelumnya karena di chapter 19 aku nggak komen soalnya sinyalnya susah kalo lagi hujan dan kalo aku reload bakal gagal tersambung*authorgaktanya*
    Sampai detik ini aku nggak nyangka kalo dalam sehari aku baca detour dari chap 1-20*authorgaktanya*
    Dan aku suka banget ff ini soalnya alurnya gak ketebak, pokonya daebak deh buat author

  6. sbentar kak..
    sy masih nda habis pikir dg mimpi baek tempo chapter(?)
    taetae nyempil..
    eh.. baek ngambil bimbel..
    bentar deh.. hagwon itu berat bgt (sy pernah baca ato sy prnh dengar di drakor, entahlah sy lupa)

  7. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  8. yahhh baekkie kenapa harus pergi ? trus chaerinya bgmn ? hmm ada taehyun pula ? apa dia bakalan jadi pihak ke tiga ? hadeh.. penasaran >.<
    semangat thor ! ^^b

  9. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  10. yeyyeyeyy aduh mian unn,aku komennya diawal2 dan ini baru komen lagi ,tl alsii ini seruu aku slalu ngkak bahkan sampe tidur malem buat baca ni epep

  11. Baekhyun mau mau pergi ke hagwon? Kalo gtu nasib chaeri gimana?
    And btw, si alien jadi pendatang baru nih dan jadi siswa yang bener-bener ga sopan :v
    Moga chaeri ga sakit hati ya🙂

  12. Emang dasar Baekhyun! aku jadi ketkutan sendiri. kalo emang itu beneran gimana, deg-degan sendiri jadi huuhh…semoga mereka berdua langgeng aja. Yeah walopun emang couple ini dari luar beneran biasa. apasih yang di harapkan selain mereka tetap bersama…
    ada apa dengan Luhan-Sena ? kok mereka anehhh

    pada dasarnya emang harusnya Baekhyun memperbaiki diri. walopun itu pasti berat bagus Chaeri maupun Baekhyun sendiri. semngat aja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s