Are We There Yet?

(a/n): lebih baik baca kalau udah baca detour chapter 20.

SENA

Perjalanan ini baru berlangsung lima belas menit sejak Luhan menyetir dan aku mulai bosan sekaligus menyesal kenapa membiarkan dia menyetir. Perjalanan kami tidak terlalu panjang, seharusnya. Mungkin kalau ia bisa sedikit lebih punya keberanian untuk menekan pedal gas waktu akan berputar lebih cepat.

“Oho! Gadis kecil bersepeda roda tiga baru saja membalap kita!” Aku berseru dramatis, pura-pura terkejut yang sejujurnya bukan pura-pura juga, aku serius merasa kaget, di samping kami benar-benar ada anak perempuan bersepeda sudah sejajar dengan ujung mobil kami, bukan roda tiga memang cuma rasa gemasnya tetap saja, sama. Sudah dibilang membiarkan Luhan menyetir jauh lebih buruk dari pada membiarkan nenekku menyetir, setidaknya kalau nenek aku bisa memaklumi tapi kalau Luhan…

“Lu freaking Han biarkan aku menyetir, kau yang bilang kan kalau perempuan yang bisa menyetir itu keren? ” Aku menusuk-nusuk pipinya dengan pretzel utuh yang mungkin tidak akan kumakan karena aku baru menyadari pipi laki-laki itu berkeringat.  

“Sena jangan menggangguku.”

Aku mendengus dan memaksakan pretzel itu masuk ke dalam mulutnya. “Sena jangan  mengganggu, Sena jangan berisik, Sena jangan berbohong, Sena jangan—“

“Sena jangan naikkan kakimu ke atas dashboard.”

Kali ini aku tertawa, masih dengan kaki yang sengaja kujulurkan mendekati setir mobil aku membuka kaca mobil, anginnya memang tidak begitu kencang Luhan menyetir begitu lambatnya aku jadi tidak bisa merasakan angin berarti, tapi untungnya sekarang kami mendekati pantai aku sudah mulai mencium wangi musim panas, ini memang bukan musim panas namanya juga negara tropis (panas sepanjang tahun, itu yang kutahu) tapi aku sudah mencium wangi laut yang akan menyambut kami, ada perasaan semacam nostalgia seperti aku sudah pernah datang ke tempat ini dan tempat ini memanggilku untuk datang kembali, padahal ini pertama kalinya aku ke Indonesia.

Aku dan Luhan memutuskan merayakan satu tahun ulang tahun pernikahan kami dengan mengambil liburan spesial, jauh dan baru. Pulau Maratua pilihan yang kami ambil setelah kami tahu mengumpulkan biaya ke Raja Ampat akan memakan sepuluh tahun lebih dengan gaji kami berdua yang kalau dikumpulkan juga tidak terlalu besar. Setelah berkorban hampir sepanjang bulan memakan sereal sebagai sarapan, makan siang dan makan malam, lalu meminjam uang Kyungsoo yang baru saja memenangkan sebuah proyek, dan terakhir, setelah kupaksa, yaitu menjual salah satu sepatu Luhan, aku dan Luhan berhasil mengumpulkan uang, kami, tanpa bantuan orang tua. Membanggakan. Tentu saja! Aku dan Luhan ke Asia Tenggara dengan uang sendiri (Kyungsoo bilang dia rela memberikannya). Kami memutuskan akan menjadikan liburan musim panas ini spektakuler, memorable, dan fantastis. Tapi Luhan. Dia menghancurkan moodnya. Dia menyetir terlalu lambat.

“Xiao Lu. Boleh aku menggantikanmu?“ Aku mengganti nada suaraku. Manis, setidaknya untuk telingaku sendiri.

“Kau mengganggu konsentrasiku Sena.”

“Masalahnya adalah kau nervous karena menyetir di negara lain. Ayolah percaya padaku, aku tahu aturan di sini, kita bisa menyetir sesukanya.”

“Bagaimana kalau ada suku yang mengejar kita?”

“Aku akan mendorongmu dari mobil membiarkanmu menjadi pengorbanan upacara mereka.”

Selalu berlebihan. Seperti itu. Luhan. Dia memang berlebihan. Sama seperti waktu itu.

***

Hari Keceplosan Luhan. Itu nama hari yang kuberi untuk tanggal 9 September. Hari ketika ia mengatakan Sena adalah perempuan yang disukainya, secara keceplosan alias tidak sengaja. Luhan sempat protes (lebih tepatnya selalu) dia bilang itu tidak adil, kenapa tidak memberi hari dengan nama yang lebih sesuai? Seperti Hari Luhan Dermawan Membelikan Big Mac atau mungkin Hari Sena Salah Tuduh.  Dan keputusan terakhir menjadi Hari Keceplosan Luhan setelah aku menang bermain solitaire dengannya.

Pada tahun ketiga ketika Hari Keceplosan Luhan dirayakan kami memutuskan pergi ke rumah nenek Baekhyun di Gangwondo Yanggu. Mendaki bersama menderita bersama. Itulah hari di mana aku yakin Luhan memang selalu berlebihan. Saat itu kami bersama Baekhyun mendaki bersama, memutuskan lewat jalan alternatif yaitu melewati hutan. Itu Baekhyun yang mengusulkan, katanya untuk menantang adrenalin. Baekhyun berlebihan juga, tapi aku suka gaya berlebihannya, seru dan asyik. Sementara Luhan..

“Baek— aku pikir aku bisa muntah.” Luhan memeluk lenganku, dia memang bergetar hebat, aku hampir mau kasihan tapi mengingat ia selalu mengatakan ini setiap lima menit sekali sejak setengah jam lalu rasa kasihan itu hilang digantikan jengkel sekaligus sayang. Ketika laki-laki begitu tergantung pada kita, bukankah wajar kalau aku merasa makin menyanyanginya? Tapi tetap saja jengkel.

“Kalau mual memang harus dimuntahkan! Sana muntahkan!” Suaraku jadi meninggi, bilang mau muntah berjuta kali tapi tidak dibuktikkan juga, kan jengkel.

“Aku pikir lebih baik aku kembali Sena, kau pergi berdua dengan Baekhyun saja….” Luhan melepas lenganku dan perlahan-lahan mulai berjalan mundur. Aku menarik dan membuang napas berusaha menahan emosiku, aku tahu Luhan takut ketinggian, aku tahu kita sudah menanjak batu terjal yang sudutnya nyaris 90 derajat. Aku tahu, aku mengerti Luhan, tapi tetap saja ini namanya berlebihan. Rasa takutnya berlebihan, ia merelakan aku merayakan Hari Keceplosan Luhan dengan Baekhyun yang justru sama sekali tidak ada hubungannya dengan hari itu.

“Ayolah Luhan, satu gunung lagi kita sampai!” Baekhyun yang tidak peka malah mengatakan satu gunung dengan mudahnya, padahal satu gunung bagi Baekhyun mungkin 50 gunung bagi Luhan.

Wajah putih Luhan seketika pucat pasi, seperti tiba-tiba baterainya di dalamnya mati dan aku tahu laki-laki itu sudah mengambil keputusan.

“Tapi ini Hari Keceplosan Luhan! Setidaknya kau harus mengatasi rasa takut tidak masuk akalmu itu demi aku, hanya untuk hari ini saja. Tolong..Xiao Lu…” Aku meraih tangannya dan menggenggamnya kuat supaya dia tahu betapa seriusnya aku, tapi tetap saja ia menggelengkan kepalanya, dan beberapa detik kemudian ia benar-benar muntah.

Sepenjang sejarah itu adalah Hari Keceplosan Luhan yang paling buruk bagi kami berdua.

***

“Akhirnyaaa!” Aku melompat dari mobil itu dan berlari sampai dermaga paling ujung. Laut turquoisenya hampir membuatku ingin menangis. Ini benar-benar keren, aku tidak mengerti, aku ingin menangis, malah aku sudah menangis karena aku benar-benar merasa liburan kami di sini akan menjadi liburan paling istimewa, magical, lupakan soal Luhan menyetir lambat, mulai sekarang kami hanya akan berjalan, naik sepeda atau menaiki speedboat tidak ada mobil. Tidak ada kelambatan.

“WOAAH” Luhan yang sudah berada di sampingku berteriak, mulutnyaa menganga lebar, seluruh ketegangan diwajahnya hilang, aku suka itu. Aku memeluk lengan Luhan, wangi Luhan seperti laut musim panas, mengingatkanku pada anak laki-laki kecil yang mau bersikap maskulin, aku suka colognenya yang baru.

“Ayo kita naik speedboatnya!”

Luhan segera mengangguk. Kami segera mengangkat backpack kami dan membawanya ke speedboat yang sudah dinaiki satu ahjussi yang sedari tadi tersenyum.

Perjalanan dari pelabuhan menuju Pulau Maratua berjalan tiga jam, tidak ada pembicaraan penting berjalan. Aku dan Luhan hanya memandang laut seperti terhipnotis. Bibir kami sama-sama tersenyum lebar seperti idiot yang tidak mengenal rasa sedih di dunia ini. Meskipun tidak ada kata-kata yang keluar karena kami terlalu terpaku dengan semuanya tapi aku dan Luhan yakin ini merupakan salah satu perjalanan teromantis kami sebagai pasangan resmi, yang ada hanya suara ombak, mesin speedboat dan ahjussi yang entah mengucapkan apa pada rekannya.

Ketika dermaga mulai terlihat aku mengerjapkan mata dan menarik-narik ujung kaos Luhan. “ADA LUMBA-LUMBA.”

“HAH.”

Kami berdua segera beranjak dari kapal, agak sulit, meskipun lautnya tenang karena kami terlalu hiperaktif perahunya lumayan bergoncang dan kami berdua hanya sempat melihat satu lumba-lumba terakhir melompat sebelum pada akhirnya kawanan mereka tidak muncul lagi.

“Sudah kubilang pilihanku pada Maratua tepat! Untung saja kita tidak jadi mengikuti usulanmu ski di Hokkaido.” Ia berkata sombong, mulai lagi. Tangannya sudah terlipat di depan dada dan kalau saja aku tidak cukup dewasa untuk menahan diri aku yakin kami akan mulai bertengkar lagi.

“Sudahlah,tutup mulut dan nikmati liburan kali ini.”

Setelah tertawa entah alasannya apa Luhan menengokkan kepalanya padaku, satu tangannya mencubit pipiku, itu sakit. Aku sudah mengerang kesal tapi ia tahu apa ia harus lakukan untuk membuatku menjadi lebih baik. “Tapi karena kau mengalah kita bisa pergi ke sini. Terima kasih.”

“Sama-sama.” Aku menjinjit dan mengecup pipinya singkat karena sejak turun dari pesawat tadi aku sama sekali tidak sempat memberinya perhatian. Ciuman bagi kami artinya ‘hari ini pun aku menyayangimu’ aturannya wajib dan kalau dilanggar— entahlah, tidak pernah dilanggar, aturan seperti itu dicintai.

LUHAN

Aku dan Sena memutuskan menghabiskan sisa hari ini malas-malasan di pantai. Tubuh kami masih pegal hasil delapan jam di pesawat dengan Sena yang tidak ada habis-habisnya mengatakan berkali-kali padaku apa yang akan dilakukannya di Maratua, intinya aku sama sekali tidak bisa tidur.

“Besok aku mau melihat sunrise pertamaku di sini, kau harus membangunkanku jam lima, kalau aku tidak bisa bangun kau teriak ‘Sena! Sunrise!’ Pasti aku bangun.” Matanya menatapku serius, aku sering sekali melihat Sena serius, tapi perempuan ini selalu serius di saat yang sejujurnya tidak serius pun tidak apa-apa.

Sambil mendegus aku menidurkan tubuhku, ada perasaan hangat menggelitik merasakan pasir berada di tengkuk leher. “Ya ya ya tapi kalau tidak bangun jangan salahkan aku.”

“Aku pasti bangun. Kalau perlu kau bisa menyiramku dengan air!” Seperti mengikutiku, ia ikut tiduran di samping, padahal sempat mengatakan tidak mau kotor karena malas mandi sebelum tidur. Aku tersenyum sambil menaikkan satu tangan untuk melihat sinar matahari sore menerpa lewat sela-sela jariku, di sebelahku Sena ikut melakukannya. Sena selalu mengikutiku, aku tidak mengerti kenapa ia meniru tindakanku, ia sempat bilang aku hanya geer tapi aku merasa dia benar-benar terus meniru apapun yang bisa ia tiru.

Aku semakin yakin soal kebiasaannya suka meniru semenjak kami menikah. Saat ia baru mengetahui kebiasaanku untuk minum kopi susu setiap pagi ia langsung mengikutiku, padahal aku tahu dia bukan penggemar kopi. Ketika aku jogging pagi bersama Jongin, ia mengatakan besok juga mau mulai jogging pagi bersama Seukri. Cara Sena meniruku cukup aneh untuk orang seumurnya, yang kurasakan bukan soal dia ingin menjadi orang yang sama denganku, ia mengikutiku seperti itu adalah hal yang paling tepat dilakukan, seperti ketika balita mengikuti orang tuanya atau anak ayam mengikuti induknya. Aku merasa bersama Sena artinya menjaga Sena. Ia pasti meniruku.

***

Saat itu sepulang sekolah seperti biasa, di 7-eleven bersama Sena mengajarinya bermain rubik. Sejujurnya aku malas setengah mati mengajari perempuan itu, selain tidak melihat dimana keuntungannya bagiku mengajari Sena seperti buang-buang waktu sekaligus tenaga. Menghafal tujuh gerakan saja dia susah sekali. Aku sempat menolak permintaannya mengatakan aku tidak punya bakat mengajar. Besoknya Sena meminta bantuan Kyungsoo dan selanjutnya yang terjadi aku sudah berdiri di antara mereka dan mengatakan pada Sena. “Sore ini, kau pasti bisa. Aku akan mengajarmu.”

Sambil bertopang dagu mengaduk Slurpee aku memandang bosan pada Sena yang keningnya mengernyit berusaha menyelesaikan lapisan keduanya. Aku yakin wajahnya tidak seserius itu saat kami ulangan Matematika tadi siang.

“Kau benar-benar menyukaiku?” Tanpa sadar aku mengatakannya. Terlontar begitu saja karena aku tidak mengerti kenapa ia bersikeras mempelajari rubik.

“Kenapa jadi aku benar-benar menyukaimu?” Sena menyendok Slurpee-nya. Masih dengan tatapan bosan aku menunjuk gelas Slurpee-nya.

“Kau selalu meniruku, aku ingat dulu setiap membeli Slurpee pasti kau memesan Strawberry Banana dan sekarang ikut-ikutan membeli Coke Frost. Belajar rubik, pasti karena kemarin melihat aku berlomba dengan Kyungsoo kan?”

Sena mendecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan, aku mengganti rasa karena ya mau coba saja, ibaratnya, tidak mungkin kan kau setiap hari memakan sereal yang sama? Aku bisa mati bosan memakan Corn Flakes seumur hidup.”

“Lalu rubik?”

“Itu kan permainan yang mengasah otak, aku rasa itu bagus untuk belajar.”

Mendengar jawaban yang sama sekali tidak cocok dengan orang seperti dirinya aku hanya mendengus. Aku mengenal Sena dan sepertinya perempuan itu tidak tahu seberapa kenal aku akan dirinya. Ia tipe yang kalau suka akan terus memakannya seperti tidak ada makanan lain di dunia ini. Aku tahu dari Hara kalau Sena pernah memakan McDonald’s Cheeseburger sebagai makan siang dalam sebulan hingga akhirnya ia berpindah ke nasi lagi karena tahu berat badannya naik, aku juga tahu dia bukan orang yang peduli apa yang bagus untuk belajar, yang ia tahu hanya tidur cukup itu bagus untuk belajar.  

“Kalau kau menjadikanku sebagai panutan hidup katakan saja, agar aku bisa menjadi laki-laki baik yang bisa memberi contoh.” Ucapku sambil membelai rambutnya yang aku yakin dia tahu aku hanya menggodanya. Sena benci seseorang selain neneknya berani membelai rambutnya, termasuk aku, dia benci aku melakukan hal itu padanya.

“Jangan geer.” Ia menepis tanganku tapi aku tahu semua yang kupikirkan itu benar.

Dan besok harinya Sena mengganti sepatunya, menjadi adidas warna neon sama denganku. Aku tahu dia bukan penggemar warna nyentrik dan aku semakin yakin Sena memang mengagumiku. Sejujurnya dia bisa mengatakan kalau ingin kembaran denganku.

***

“Dim dam du bi du bi dam~”

Mengerang kesal aku meraih ponsel Sena yang tergeletak di atas laci samping kasur kami. Alarmnya benar-benar mengganggu, aku cukup berterima kasih karena opening song dari Lazy Town itu berhasil membangunkanku setiap pagi, tapi untuk kali ini aku sama sekali tidak berterima kasih. Suara cempreng itu mengganggu tidurku dan Sena si penyetel alarm masih terbaring pulas. Aku benar-benar capek dengan kebiasaan menyetel alarm ketika ia tahu itu sama sekali tidak akan membangunkannya. Mataku mengernyit saat menyadari betapa berantakan tidurnya, kadang aku merasa ketika kami tidur aku lebih sering dianggap sebagai bantal daripada suaminya sendiri.

“Senaaaa banguuun.” Dengan malas aku mendorong kepalanya dari perutku.

“BANGUN.” Sekarang aku berteriak, sekalipun aku tahu berteriak sama sekali tidak akan membangunkannya. Dengan mata setengah terpejam aku menarik Sena sampai berada di sebelahku. “SENA! SUNRISE! “ Kata kunci sudah kuteriakkan tepat di telinganya tapi ia malah meraung kesal dan menampar pipiku.

Hal pertama yang bisa kulakuan hanya merapatkan bibir menahan emosi, aku tahu Sena memang seperti itu. Sekarang dia menggertakkan giginya berisik sekali, selanjutnya adalah ia menganggapku guling. Memelukku erat sampai aku berpikir ia sedang bermimpi wrestling.

“SENA!” Aku balas menampar pipinya.

“Hmm sama-sama.” Sekarang dia mengigau. Aku memutar bola mata dan memandang pintu toilet, Sena memintaku menyiramnya dengan air tapi aku benar-benar mengantuk untuk melakukan hal itu.

Tapi sebagai suami yang baik aku akan mencoba mencari cara selain harus memakai air. Dengan susah payah aku lepas dari pelukannya lalu menarik badannya hingga berada di posisi duduk. Matanya masih terpejam.

“SENA!” Aku menepuk kedua pipinya keras.

 Ia membuka mata sekejap lebar, horor, lalu terpejam lagi. “Apaaaaa.”

“Ikuti kata-kataku.”

“Ikuti kata-kataku.”

Sekarang dia sudah berada di bawah kendaliku, aku tersenyum dan meraih ponselnya, setelah menyalakan aplikasi merekam aku kembali berkata. “Aku. Sena. Sudah dibangunkan oleh Luhan.”

“Aku. Sena. Sudah dibangunkan oleh Luhan.”

“Bagus.”

Sambil menguap lebar aku mengucek mataku dan kembali membuat Sena pada posisi tidurnya, di sudut mulutnya ada bekas liur, tipikal Sena. Setelah mengelap bekas air liurnya dengan ibu jari aku menarik selimut hingga menutupi dagunya. “Selamat tidur Sena.”

“Selamat tidur Sena.

***

SENA

Hari pertama masuk sekolah. Musim semi awal Maret ketika aku bangun kesiangan dan baru ingat aku sama sekali tidak tahu di mana letak SMAku. Ayahku mendaftarkanku masuk sekolah itu tanpa berkonsultasi denganku, seolah itu adalah hal paling normal yang dilakukan seorang orang tua pada anaknya, memasukkan anak ke sekolah seenaknya.  

Selesai mandi ketika aku mengambil telpon rumah tapi baru ingat aku sama sekali tidak menyimpan nomor ayah aku baru sadar di meja makan sudah ada selembar kertas lecek terlipat, sempat mau kubuang tapi begitu kubuka ternyata itu peta menuju ke sekolah. Kalau saja ayah memberi gambar arah mata angin mungkin aku bisa membaca peta itu, bahkan sebagai pemegang nilai 32 untuk geografi saja aku bisa menilai betapa jeleknya peta itu, peta terburuk yang pernah kulihat. Aku putar ke kanan bisa, ke kiri pun tampak mungkin jadi aku memutuskan meremas dan membuangnya.

Begitu keluar aku yakin akan melihat banyak orang yang memiliki seragam sama denganku dan aku akan mengikuti mereka. Aku akan mencari kompasku sendiri. Aku harus berpikir positif.

Saat berada di bawah halte bus, saat aku baru ingat fakta bahwa aku bangun kesiangan. Itu artinya tidak ada murid-murid yang bisa kujadikan petunjuk. Mereka semua pasti tidak mau terlambat di upacara penerimaan murid baru (ya sebenarnya aku juga tidak mau). Kalau saja aku ingat nama sekolahku, mungkin itu akan lebih baik.

Aku hampir saja ingin ke pos polisi terdekat dan meminta mereka mengantarku ketika aku melihat laki-laki yang berseragam sama denganku berjalan dan berhenti tepat di samping ahjumma yang berdiri di sampingku. Mataku meliriknya, saat itu aku tahu aku sudah menemukan kompas berjalanku.

Rambut coklat gelapnya berantakan awut-awutan, sempat terpikir untuk menyapanya dan mengajaknya berangkat bersama ketika aku menyadari  telinganya memakai earphone. Aku diam, dan melirik lebih cermat padanya, mungkin dia bisa kujadikan sebagai teman pertamaku. Dan itu saat di mana rahangku mengeras, saat melihat sebatang rokok terselip di antara bibirnya. Dia merokok dan aku benci apapun yang berhubungan dengan nikotin.

Ketika kami memasuki bus aku baru sadar ternyata yang berada di mulutnya itu permen berbentuk rokok. Ayah pernah membelikannya dan aku sempat dijewer ibu ketika aku mengemutnya di rumah, ia benar-benar mengira aku merokok. Sempat terpikir untukku bertanya padanya apa dia pernah mendapat perlakuan yang sama sepertiku? Dijewer orang tua karena dikira merokok gara-gara permen itu? Aku akan menanyakannya begitu kami menjadi teman nanti. Semoga aku bisa berteman dengannya.

Sambil duduk di kursi paling belakang bus aku mengamati laki-laki itu, duduknya hanya berjarak dua baris dariku. Dia petunjuk yang tidak boleh kulepaskan.

Mungkin sepuluh kemudian ia berdiri dan aku ikutan turun. Aku terus berjalan di belakangnya dan rasanya benar-benar bersyukur ia tenggelam bersama ipodnya sehingga tidak menyadari ada aku mengikutinya dari tadi. Selama kami berjalan aku merasa musik yang didengar ikut menjadi soundtrack perjalanan kami, kadang ia berhenti sekitar lima detik untuk menari lalu berjalan lagi. Seperti menikmati seluruh perjalanan ke sekolahnya itu membuatku tersenyum, laki-laki itu membuatku melupakan fakta bahwa kami sudah terlambat satu jam sejak upacara penerimaan siswa baru.

Sepuluh menit terakhir sebelum kami sampai di sekolah adalah saat aku tahu dia bukan sekedar kompasku.

Laki-laki itu lebih dari sekedar kompas. Dia seperti penyelamat, aku merasa dia cocok menjadi pemadam kebakaran. Ketika aku merasa sangat haus tiba-tiba ia berhenti untuk mengikat tali sepatunya, di situlah aku sadar aku berhenti tepat di depan vending machine. Saat ketika aku merasa perutku berbunyi dan mataku menangkap gerobak bakpau daging laki-laki itu masuk ke 7-eleven. Lalu ketika selesai membayar tiga bakpauku aku melihat laki-laki itu keluar dari 7-eleven dengan Cheetos di tangannya. Kami terus berjalan, aku dan dia. Dia seperti jendral dan aku anak buahnya.

Lima menit terakhir sebelum kami sampai di sekolah adalah saat di mana aku tahu dia tidak hanya menjadi penyelamat.

Aku akhirnya bisa berada di sebelahnya ketika kami menunggu lampu merah menyala. Melihat betapa berantakan rambutnya aku mengira dia belum mencuci rambut setidaknya tiga hari tapi begitu berada di dekatnya aku dapat mencium wangi pir dari rambutnya. Dalam hati aku bersyukur dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku yang anehnya sebagian diriku malah menyesal. Kalau dia menyadari keberadaanku mungkin kami bisa berteman sekarang juga. Siapa tahu.

Detik ketika lampu hijau berganti menjadi lampu merah adalah saat aku menyadari sebuah hal penting. Saat ketika aku melihat dia menggandeng seorang nenek yang ternyata berada di sebelah kirinya aku tahu sesuatu. Aku menghormati dia. Aku menghormati kompas penyelamat yang sebenarnya memiliki arti lebih istimewa bagiku yang hanya saja tidak ada kata-kata tepat yang dapat menjelaskan betapa spesialnya itu.

Ketika kami sudah berjarak setidaknya 10 meter dari gerbang kukira ia akan berlari panik mencari aula tapi kenyataannya ia malah terus berjalan melewati gerbang dengan santainya. Ini pertama kalinya aku melihat seorang laki-laki berjalan tiga ratus meter melewati gerbang sekolah (padahal dia sudah terlambat) hanya untuk mencari tempat sampah untuk bungkus Cheetosnya.

Tiga puluh menit perjalanan kami ke sekolah itu membuatku mengambil keputusan.

Laki-laki itu kelak akan menjadi suamiku.

Atau setidaknya orang seperti itu yang kelak akan mendampingiku. Laki-laki peduli lingkungan yang tidak takut terlambat sekolah. Laki-laki yang berani menawarkan permen rokok pada anak kecil dan menikmati bagaimana reaksi panik si ibu. Laki-laki yang— pokoknya aku sudah memutuskan orang ini akan menjadi panutanku. Aku mengaguminya. Aku berpikir apapun yang dia lakukan pasti benar, pasti tidak akan merugikan dan itu juga keren. 

Selanjutnya yang terjadi tidak selancar yang kuduga. Minggu-minggu pertama di sekolah memang sempat menjadi surga bagiku, bersama laki-laki yang kelak kuketahui namanya Luhan. Sekali dua kali kami mengobrol, aku dapat merasakan pandangannnya dan aku yakin saatku sudah tiba.

Dan itu benar-benar terjadi. Saatku sudah tiba dan yang tidak kutahu saat yang sudah tiba itu maksudnya adalah saat penolakan. Saat aku kalah. Kami bertengkar karena dia menjadi orang menyebalkan tanpa alasan, aku membencinya tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa hormatku padanya. Sulit membenci seutuhnya pada orang yang kita hormati, sama seperti ketika aku sempat membenci J.K. Rowling karena ia membuat Dumbledore mati tapi aku tidak pernah benar-benar membencinya, aku masih menghormati J.K. Rowling. Mungkin rasa hormatku pada Luhan sejenis.

***

Aku berjongkok di atas dermaga, memandang ke bawah pada laut tosca jernih seperti agar-agar. Sempat terpikir ketika aku meloncat ke sana bukannya malah masuk aku akan terpental.

“Sena, sampai kapan mau bersikap aku tidak ada di sini?” Luhan terus mengikutiku sejak aku bangun. Aku seperti jendral dan dia anak buahnya. Ada perasaan puas karena aku bisa memimpinnya.

Sambil bersenandung asal aku memikirkan cara keren apa untuk menyelesaikan pertengkaran ringanku dengan Luhan. Harusnya aku tahu aku tidak boleh marah dengannya, dia sudah menunjukkan rekaman aku berkata aku sudah dibangunkan oleh dirinya. Dan karena itu aku merasa dia curang. Dia sudah tahu akan kalah tapi ia mencari cara agar tidak disalahkan.

“Lima menit lagi menganggapku batu, aku akan meninggalkanmu sendirian.”

“XIAO LU!” Tiba-tiba aku memutuskan berteriak dan berdiri mendadak, seperkian detik ia terlihat takut tapi karena dia Luhan dia balas menantangku, dagunya dinaikkan.

“Kau bisa mengangkatku kan? Berat badanku 45 kilo harusnya sih bisa kalau kau mengaku dirimu laki-laki sejati.”

Luhan memincingkan matanya menatapku curiga, dia mungkin mengira aku meminta dirinya menggendongku. Dan aku tahu dia tidak suka, dia bilang dia tidak suka ketika aku lebih tinggi dari pada dirinya.

Aku mendecak dan menunjuk laut. “Lempar aku, aku mau terjun ke sana dengan cara dilempar, pasti seru. “

“Seru sekali, tapi jangan menangis.” Ia berjalan hingga berada di sebelahku, tangannya sudah memegang pinggangku lalu mengangkatku. Ketika aku mengalungkan tangan pada lehernya ia  membawaku berjalan sampai ujung dermaga, aku menggigit bibir menahan rasa super mengasyikkan ini, adrenalinku terpompa.

“Terakhir kali aku melakukan ini bersama ayah tapi itu umur 10 tahun. Lempar aku dengan sangaaaaat jauh, seperti kau membenciku, seperti— AAAA “

Luhan langsung melemparku, benar-benar jauh, mungkin saat itu ia benar-benar membenciku.

***

Ketika kita mulai berhubungan dengan seseorang. Ada saatnya di mana kita mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan, cukup dipercaya saja harusnya. Seperti apa benar dia menyukai kita? Apa hubungan ini berjalan semestinya? Aku sempat menjadi orang seperti itu. Mempertanyakan semuanya. Dan itu sempat membuatku benci pada diri sendiri.

Februari tanggal 14. Membuat coklat untuk orang yang disukai. Aku hampir membuat coklat untuk Siwon Oppa ketika pada akhirnya aku ingat aku punya Luhan sekarang. Aku tahu Luhan suka Truffle, ia suka sekali. Jadi aku memutuskan membuat Truffle coklat untuknya. Aku tidak bisa masak ngomong-ngomong.

Seisi sekolah harusnya tahu Luhan sudah menjadi milikku, kami terang-terangan. Pertanyaannya adalah kenapa murid-murid perempuan itu masih memberikan Luhan coklat? Percakapan mereka soal bagaimana memberi Luhan coklat tanpa sepengetahuan Park Sena benar-benar mengganggu telingaku sepanjang perjalanan menuju kelas. Apa aku kurang menunjukkan pada mereka kalau aku ini perempuannya dan itu artinya Luhan tidak berhak menerima coklat selain dariku?

Dengan pikiran positif itu aku membuka pintu kelas dengan bahagia, sudah pasti Luhan menolak semua coklat itu. Ia akan mengatakannya dengan tegas pada perempuan lain mengatakan “maaf, aku sudah punya Sena” ia juga akan membuang coklat yang tersimpan di loker sepatunya. Aku tahu itu. Dia Luhanku.

Semula kupikir seperti itu hingga akhirnya aku menangkap sosok Luhan duduk di atas mejanya pesta coklat bersama Jongin. Meja Luhan tertutupi coklat, mejaku yang berada di sebelahnya juga ikutan ditutupi coklat.

“Yo Sena! Aku dapat banyak coklat! “ Ia melemparkan sebungkus coklat padaku, refleksku yang jelek membuatku tidak menangkapnya, yang sejujurnya aku juga sama sekali tidak mencoba menangkapnya.

“Kenapa kau menerimanya?” Suaraku menjadi tercekat.

“Karena mereka memberinya padaku.” Jawaban Luhan sederhana sekali. Apa dimatanya hubunganku dengan dirinya sesederhana itu juga? Menerima karena diberi?  

***

“Aku mau Slurpee Luhaaaaaan.” Aku menendang-nendang pasir. Kegerahan, kepanasan, dehidrasi. Kami baru selesai bermain voli bersama penduduk sekitar.

“Sejujurnya kalau kau kena diabetes aku tidak akan kaget, obsesimu pada Slurpee berlebihan.”

Aku mendengus tapi aku tahu aku tidak bisa mengelak. Ketika SMA dulu menyukai Slurpee biasa saja, aku bisa makan seperti aku meminum air putih, toh seminggu sekali kami ada olahraga. Tapi ketika masuk dunia kerja hal seperti olahraga tidak bisa dilakukan semudah itu, yang namanya mengatur jadwal itu benar-benar membuat hidup menjadi sepuluh kali lebih susah. Aku mengkonsumsi Slurpee secara berlebihan tanpa diimbangi olahraga. Luhan kali ini sangat benar (karena dia selalu benar). Aku membalik badan dan menemukan Luhan berbaring di sebelahku.

Ia memejamkan matanya, mungkin sedang menikmati semuanya. Aku ikut memejamkan mata.

***

LUHAN

Enam bulan sejak Hari Keceplosan Luhan Sena mengajakku bermain ke rumahnya, ia bilang orang tuanya ingin bertemu denganku. Di situlah saat aku sadar aku belum menceritakan orang tuaku kalau aku sudah memiliki teman perempuan yang spesial.

Minggu pagi ketika aku berangkat ke rumahnya aku bertemu Hara yang sedang mengajak jalan anjingnya. Sempat terpikir untukku memalingkan muka agar ia tidak perlu melihatku, sepupu Sena itu terus terang mengganggu sekali, suka ikut campur dan merasa dirinya selalu benar, seperti aku.

“Luhan Oppa!” Hara menjerit, dia benar-benar menjerit. Aku sendiri kaget akan reaksinya yang seperti itu.

“Oh halo Hara…” Tiba-tiba aku kehilangan kata-kata, aku baru ingat Hara satu rumah dengan Sena, dan aku tidak mau dia mengantarku ke rumahnya, Sena pasti akan mengira aku membutuhkan Hara untuk mengantarnya sampai rumah.

“Apa Oppa tersesat? Mau kuantarkan? Hari ini mau ke rumah mertua kan?”

“Aku tidak tersesat. Tidak perlu diantarkan. Iya hari ini aku mau pergi ke rumah orang tua Sena.” Aku menjawab dengan nada monoton yang terbalik dengan Hara.

“Kalau begitu semoga beruntung! Mereka sudah menunggumu!” Hara mengedipkan matanya lalu berjalan riang membawa anjingnya kembali berjalan.

Perjalanan ke rumah Sena seperti sedang bermain game, aku bertemu banyak penghalang. Level pertama mungkin Hara. Level ke dua ada perbaikan jalan dan aku harus mencari akal untuk melewatinya. Dan level ketiga adalah Kyungsoo. Dia tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Sena.

“Halo Kyungsoo!” Berbeda dengan kasus Hara, aku tidak akan memalingkan wajahku dari orang ini.

“Kenapa tidak bilang kalau mau ke rumahku?” Ia menjawab, masih mengernyit pada vending machine di depannya. Taruhan, laki-laki itu sudah berdiri lima menit untuk memikirkan lebih baik teh atau air putih.

Aku hanya tertawa, melihat Kyungsoo salah tapi ia tidak tahu dirinya salah itu benar-benar menyenangkan. “Koreksi. Aku ke rumah Sena.”

Satu alisnya naik, ia terlihat kaget mungkin sempat lupa aku dan Sena sudah berbaikan. “Pantas, aku bertemu Sena dan dia terlihat sibuk sekali membawa kantung belanjaan. Aku sempat mengira ia sedang melakukan upacara leluhur.”

Aku mendengus dan menaikkan bahu. “Jadi, ada saran?”

Kyungsoo kali ini tersenyum. Senyuman yang mengatakan aku-tahu-lebih-banyak-darimu, terus terang aku benci senyuman jenis itu. “Aku pernah melihat ayahnya sekali ketika komplek kami melakukan bersih-bersih bulanan. Dia orang yang menyenangkan.”

“Orang menyenangkan standar Do Kyungsoo, aku tidak bisa berharap banyak soal itu. “ Dengan mata menyidik aku meninggalkan Kyungsoo dan kembali berjalan.

Saat itu aku sampai di rumah Sena satu jam kemudian, melenceng lima puluh menit dari targetku. Setelah bertemu Kyungsoo aku bertemu dengan nenek-nenek yang merengek padaku untuk mengantarnya ke rumah cucunya. Kami berputar jalan mencari rumah yang berpagar bata merah, ingatannya luar biasa, ia benar-benar pikun. Selanjutnya aku tahu rumah cucunya adalah rumah Sena.

***

Hari ketiga di Maratua tidak selancar yang kami inginkan. Sena mendapat menstruasi dan dia tidak bisa melakukan obsesinya sejak musim panas dimulai. Ia merengek tidak bisa melakukan snorkeling. Sena benar-benar mengingatkanku pada neneknya.

“Masih banyak hal lain yang bisa kau lakukan, melepas bayi penyu ke laut, memancing, main voli juga, atau tidur. Kau suka tidur di pantai kan?”

Sena mengalihkan pandangannya dari kamera, aku tahu yang bisa ia lakukan hanya memotret. Dan aku cukup senang karena biasanya mengambil foto adalah tugasku, itu membuat jumlah fotoku sangat sedikit dibanding Sena.

“Harusnya kau menungguku Luhan. Harusnya kau tidak bersenang-senang sendirian.”

“Bukankah kau juga bersenang-senang?”

“Tapi kita berpisah! Aku membangun istana pasir, kau surfing. Aku mencari kepiting pasir kau dengan asyiknya snorkeling. Aku sakit perut meringkuk di kamar kau malah bakar-bakaran ikan!”

Aku mengerjapkan mata, ketika Sena berhasil menyudutkanku aku selalu merasa seperti anakku memberontak. Ada perasaan jengkel sekaligus sayang. Seperti bangga dia akhirnya bisa memakai otaknya dengan benar untuk membuat analis tapi sayangnya itu dipakai untuk menyerangku.

“Jadi apa yang harus kulakukan? Menemanimu di sini? Mau membangun istana pasir?”

Sena menggelengkan kepalanya.

“Aku bosan dengan istana pasir. Ayo jalan kaki saja, di tepi pantai.”

Aku memutar bola mata. Dia mulai lagi. “Bergandengan tangan? Kau memakai dress putih? Lalu melihat matahari terbenam?”

“Yup! Kau pintar sekali!” Ia mencubit pipiku, Sena selalu mencubit pipiku dengan lembut, sedangkan aku selalu mencubitnya dengan keras. Aku suka ketika dia tidak meniruku dalam hal ini.

“Bosan. Itu bisa kita lakukan di hari terakhir.”

“Membosankan?” Kilat mata Sena berubah. Dan aku tahu apa artinya ini. “Jadi maksudmu bersamaku membosankan? Begitu? Kau lebih suka bermain dengan penduduk sekitar dari pada menghabiskan waktu denganku? Aha! Jangan-jangan kau sudah menemukan wanita cantik di sini ya?”

Sena masih mengoceh, dan ocehannya benar-benar tidak berisi, aku rasa dia berbakat dalam membuat skenario drama picisan. Akalnya ada-ada saja, ia sempat mengatakan aku akan memberinya pil tidur agar ia tidak menangkap basah aku yang sedang selingkuh. Lucu sekali.

“Kau berpikir begitu? Jadi menurutmu aku laki-laki seperti itu?” Setelah Sena puas berkata giliran aku yang menguasai keadaan.

“Tidak. Menurutku—“

“Pernah melihatku menyukai perempuan lain? Jangan samakan aku dengan orang yang sudah berganti-ganti dari Baekhyun, Sungjong, Kyungsoo, Jongin. Aku berbeda denganmu Sena.”

“DULU KAU BERKENCAN DENGAN NAMI.” Air matanya tahu-tahu sudah menetes. Perempuan yang sedang menstruasi memang jadi sentimental.

Sambil berusaha menahan mulut untuk tidak membalas perkataannya aku menatap mata Sena yang benar-benar berair. Dia selalu mengangkat masalah Nami setiap kami bertengkar.

“Tidurlah.” Aku menepuk pahaku, dari pengalaman membiarkannya tidur adalah solusi paling tepat. Sena mengangguk dan menidurkan kepalanya di atas pahaku, secara otomatis tanganku langsung meraih kepalanya, membelai lembut (di saat seperti ini ia suka kepalanya dibelai) dan mulai menggumamkan Tian Mi Mi lagu kesukaannya. Ia tertidur. Ia tertidur dengan mudahnya sementara aku harus menahan kesemutan karena setidaknya sejam aku harus duduk sambil menunggu dia bangun.

***

Seminggu sebelum libur musim panas aku dan Baekhyun sempat berselisih. Kelinci peliharaan sekolah sudah melahirkan anak, Baekhyun mengatakan yang melahirkan adalah kelinci yang berwarna coklat sedangkan aku yakin kelinci warna abu-abu tua lah yang melahirkan. Aku sendiri lupa bagaimana pembicaraan kami jadi berujung soal kelinci mana yang melahirkan.

“Oke, kalau begitu kita cek sekarang. Yang kalah harus membelikan Cheetos sekarang juga.” Baekhyun yang aku yakin sekali sedang ingin makan Cheetos berujar sambil meletakkan semua kartunya di atas meja menandakan permainan selesai, aku tahu sebenarnya ia hanya cari jalan bagaimana bisa keluar dari permainan ini, dia sudah hampir kalah.

Aku menaikkan dagu dan bangkit dari kursi. “Baik.”

Kami berlari menuruni tangga, entah kenapa jadi balapan.

Ketika Baekhyun sempat menabrak guru Park di koridor aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari mendahuluinya. Sampai di depan kandang kelinci masih terengah-engah aku langsung menjulurkan sebatang wortel yang kuambil diam-diam dari dapur.

Mataku langsung mencari kelinci angora abu-abu tua itu. Rasa percaya diriku begitu tinggi sekalipun aku sejujurnya tidak bisa membedakan jenis kelamin kelinci, kesimpulan kalau yang betina adalah kelinci yang abu-abu datang begitu saja, aku juga tidak mengerti. Ini semacam wangsit.

Dan di sudut kandang aku menemukan sesuatu. Anak kelincinya tidak begitu kecil lagi, sudah menginjak masa dia mencapai puncak kelucuannya. Dan aku tahu sesuatu, induknya adalah si coklat. Si abu-abu sedang berbaring, aku mencoba meraba perutnya dan tidak menemukan puting susu. Kelinci jagoannya Baekhyun ibunya. Wangsitku salah.

Saat itu yang kulakukan terjadi begitu saja, tanganku otomatis menarik pintu itu terbuka lebar. Aku berharap mereka kabur. Kecintaanku pada hewan mengatakan membiarkan mereka pergi ke alam bebas daripada harus terkurung di kandang adalah tindakan bijaksana, sudah kuberitahu kalau aku ini anggota WWF?

Aku membiarkan si kelinci abu-abu kabur, diikuti yang coklat sementara anak kecilnya masih terlihat ragu mau mengikutinya atau tidak.

Nah dengan begini Baekhyun tidak akan mengetahui kebenarannya. Ini bukan masalah aku harus membelikannya Cheetos, ini soal harga diri.

Tidak ada yang mengetahui kejadian itu. Aku sama sekali tidak merasa bersalah sementara semua guru heboh karena itu kelinci kesayangan kepala sekolah. Aku bermain peran menjadi orang lugu yang tidak tahu apa-apa hingga akhirnya pada libur musim panas seseorang menelponku.

“Aku tahu kau yang membebaskan kelincinya.”

Suara itu Seo Nami. Saat itu perasaanku persis seperti pejabat negara yang ketahuan korupsi. Ancamannya membuatku bertekuk lutut dan aku sepakat akan menemaninya jalan-jalan asal dia janji tidak akan mengatakan rahasiaku. Di situlah saat pertama kalinya aku menyesali tindakanku. Aku menyesal telah membebaskan kelincinya, aku menyesal mempunyai rahasia dan Nami satu-satunya orang yang mengetahui hal itu.

  

SENA

Pertama kali melihat Luhan berkencan aku merasa laki-laki itu berubah. Meskipun Luhan populer dia berbeda dengan Baekhyun, Luhan tidak pernah menanggapi satupun perempuan yang mendekatinya. Hampir sama dengan Kyungsoo hanya saja Kyungsoo versi lebih jahat.

Saat itu bersama Nami. Perempuan yang disukai Baekhyun. Aku mengamati mereka sedang makan crepes sambil berjalan sedangkan aku bersembunyi dibalik vending machine (aku tidak mengikutinya, ini kebetulan). Aku benci saat ia menunjukkan semua yang kusuka darinya di depan Nami, ketika dia menjadi gentleman yang menahan Nami ketika cewek itu nyaris menyebrang jalan padahal ada motor lewat, ketika dia memberikan Nami sekaleng kopi yang tidak dihabis minum olehnya. Sudah cukup Nami mendapat semuanya. Aku tidak peduli dia menjadi satu-satunya orang yang pernah menolak Baekhyun, aku juga tidak peduli dia perempuan yang berhasil mendekati Kyungsoo, yang jelas dia tidak boleh berurusan dengan Luhan.

Itu saat pertama aku mengetahui Kyungsoo benar. Soal aku tidak benar-benar menyukai Jongin karena Luhan masih berpengaruh.

***

Luhan paling suka bersepeda. Setiap kami ada waktu kosong ia selalu memaksa untuk bersepeda. Aku mencoba menyukai bersepeda seperti ia menyukainya, tapi itu sulit. Ketika Luhan bersepeda dia selalu menggayuh lebih cepat sama sekali tidak menungguku, akan lebih manis kalau kami bisa bersepeda bersebelahan lalu mengobrol banyak hal sambil menggayuh berbarengan, tapi dia tidak. Aku sempat memintanya untuk memboncengku tapi  Luhan mengatankan aku menjadi anak manja.

Jadi pagi ini aku dan Luhan bersepeda lagi. Jaraknya mungkin sudah 10 meter di depanku dan tidak ada tanda-tanda ia mau menungguku. Aku juga tidak akan memintanya, aku sudah mengerti Luhan.

Karena mulai capek aku menghentikkan sepedaku dan duduk di bawah pohon kelapa. Luhan tidak akan menyadari aku berhenti mengikutinya, paling setengah jam lagi dia akan kembali dan mengatakan padaku segala petualangannya. Selesai bersepeda Luhan biasanya langsung bercerita soal apa yang dilihatnya, kesannya ia baru naik pesawat untuk ke negeri seberang padahal hanya naik sepeda untuk beberapa kilo saja.

. Waktu itu pernah dia kembali dengan mata berbinar lalu mendeskripsikan dia nyaris tertabrak truk. Aku hampir menangis. Tapi aku suka ketika dia bercerita, pasti terakhir ia mengatakan “coba kau juga ada di sana Sena, pasti tambah seru.”

Setiap Luhan mengharapkan keberadaanku adalah saat kebanggaanku.

***

Aku masih berusaha menggigit caping kepiting ketika tiba-tiba Luhan memecah kesunyian.

“Kau cantik memakai dress itu.” Iya berkata dengan mulutnya yang masih penuh nasi, sempat terpikir Luhan berbicara dengan perempuan lain hingga akhirnya aku ingat kami hanya makan malam berdua sekarang.

Setelah meneguk jus jeruk hal yang bisa kulakukan hanya menggigit bibir untuk tidak tersenyum terlalu lebar, jangan sampai Luhan merasa pujiannya itu bisa membuatku melayang. Aku tidak menduga dia bisa mengatakan hal itu. Luhan bukan tipe yang suka memuji, bahkan sekedar basa-basi pun tidak. Enam bulan bersamanya aku  segera menghentikkan usahaku untuk mendapat pujian darinya, ia tidak akan pernah memuji dan aku tidak ingin menghabiskan waktuku mengharapkan pujiannya.

“Terima kasih, nenekku yang memilihkan.” Nenekku memilihkannya, dia bilang roknya yang mengembang cocok untuk orang yang suka berputar seperti aku, seperti perempuan di drama musikal. Diam-diam aku bertekad akan membeli dress sejenis ini lebih sering lagi.

Luhan hanya mengangguk dan kembali fokus dengan kepitingnya sambil bercerita petualangan bersepedanya hari ini tidak ada yang spesial. Lalu kami kembali makan dengan fokus, agak sunyi mungkin karena kami berdua sempat bertengkar tadi, soal Luhan tidak sengaja merobek ubur-ubur ketika menyelam, aku marah luar biasa.

“Di pipimu ada nasi.” Luhan menunjuk pipi kananku dan aku segera mengelapnya.

Suasana kembali sunyi. Bukannya aku benci sunyi, kadang suasana seperti ini bisa dikatakan romantis ketika pasangan pada umumnya lebih banyak bermain mata dari pada berbicara. Tapi Luhan dan aku tidak, kami lebih suka berbicara dan kalau dia diam begini, aku takut.

“Soal ubur-ubur itu, aku tahu kau tidak sengaja.”

“Tentu saja tidak.” Ia menjawab singkat.

Yang bisa kulakukan hanya menghela napas panjang, kita anggap saja Luhan sudah berubah. Dan aku tidak bermasalah dengan perubahan itu.

Tapi tidak bisa. Perubahan selalu terjadi karena alasan, dan aku harus tahu apa alasan itu.

“Habis ini mau melakukan apa?” Aku bertanya, suaraku terdengar lebih gemetar dari yang seharusnya.

“Tidur, aku capek.”

“Hmmm baiklah.”

            Selesai makan malam ia segera berjalan menuju resort kami, aku tidak menduga Luhan berjalan di sampingku, kukira ia akan berlari ke kamar dan segera menjatuhkan diri di kasur. Dan kebalikannya tiba-tiba Luhan menggenggam tanganku, nyaris saja aku terpekik.

“Apa kita sudah di sana?” Ia bertanya.

“Maksudmu? Oh sampai kamar? Belum, belum sampai Luhan.”

“Aku mengantuk, kau juga kan?” Ia menarik tanganku, seperti anak kecil yang minta ditemani ke toilet tengah malam.

***

Seharian ini Luhan terus berada di sampingku. Aku sudah merelakannya berenang dengan penyu-penyu tanpa aku dan dia menolak dengan alasan takut digigit oleh hewan itu, dia berbohong. Aku memintanya diving, dan dia mengatakan kulitnya sudah terlalu berkeriput akibat terus terkena air, yang ini juga pasti bohong.

Dan di sinilah aku dan Luhan, kami tidak bersepeda atau membangun istana pasir (aku sudah bosan), tidak mencari kulit kerang atau kepiting pasir, Luhan tiduran di kursi malas, mulutnya menganga dan aku bersyukur dia memakai kaca hitam karena pasti setengah matanya terbuka, kebiasaannya ketika tertidur, pasti jelek sekali.

Aku sedang berkejaran dengan ombak dan tidak tahu kenapa tiba-tiba berkejaran dengan ombak jadi sepuluh kali lipat lebih menegangkan. Reaksiku ketika ombak berhasil menjangkau kakiku benar-benar berlebihan, rasanya seperti aku ditarik dan kalau aku lengah aku akan terus tertarik sampai tidak akan kembali ke daratan.

Ini namanya imajinasi. Seperti Spongebob dan Patrick berkhayal, aku mencoba seperti mereka.

Setiap kehabisan ide hal apa yang bisa kulakukan aku mencoba sedikit bodoh dan tidak peduli kata orang, dan itu berhasil membuat hal-hal kecil menjadi berkali-kali lipat lebih menyenangkan daripada biasanya.

Saat itu gagang hijau tiba-tiba menempel di pergelangan kakiku, aku menjerit merasakan sensasi kenyal dingin dan beberapa detik kemudian Luhan berlari menghampiriku. Luhan itu Squidward, dia tidak bisa diajak asyik kadang-kadang.

“Sena! Kau baik-baik saja!?” Aku sempat mengerjap untuk memastikan apa yang kulihat memang benar, Luhan panik sekali, apa dia mengira aku baru saja berteriak ada tsunami?

“Ada— lumba-lumba.” Aku berbohong dan dia menghela napas lega.

“Kukira ada tsunami.” Tebakanku benar.

Aku mengendikkan bahu dan nyengir lebar, ya dia memang seperti itu, tahan diri Sena tidak perlu kau komentari. “Tidurlah, aku aman di sini.”

“Tidak, aku akan memperhatikanmu.” Luhan ambil posisi duduk beberapa meter dari tempatku berdiri. Dan aku berusaha tidak memperlihatkan raut kekecewaanku, kalau Luhan menonton pasti dia mengomentari seluruh hal yang kulakukan.

LUHAN

Sena seperti Danny Phantom. Aku mungkin Doraemon. Dia bisa segala hal. Aku sadar Sena adalah orang pertama yang  pernah membuatku iri.

Cara dia tertawa ketika musim hujan membuat kami kerepotan karena hampir setiap sudut di rumah kami bocor.  Atau ketika dia menangis karena aku membuang belalang sembah yang dipeliharanya. Dia bisa segala hal, menjadi wanita paling keren yang pernah kau lihat atau gadis paling ingin kau cekik di dunia ini.

Seperti sekarang dia sedang memvisualkan ombak yang datang sebagai tsunami yang nyaris menghantamnya. Ada saat aku mau bertukar mata dengannya, penasaran bagaimana cara ia melihat sesuatu. Aku selalu penasaran bagaimana cara dia memandang dunia, apa dia punya semacam aplikasi yang membuat hal yang diimajinasikannya benar-benar terlihat nyata? Di saat seperti ini aku benar-benar merasa seperti Squidward yang iri pada Spongebob.

Kemarin ketika makan malam Sena menjadi perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Kalau boleh jujur lebih cantik dari pada hari pernikahan kami. Penyebabnya entah kenapa, aku rasa dia tidak memakai make-up dan mataku juga cukup bagus, tidak mungkin minus menjadikannya dia jadi lebih cantik kan?

“Ayo mulai ceritanya, jadi bagaimana petualanganmu?” Saat itu Sena bertanya padaku. Aku hampir lupa kami sempat bersepeda tadi. Ia bertanya riang, seperti menganggap aku ini adalah novelis jenius yang akan menceritakan kisah paling menakjubkan sedunia. Padahal ini hanya soal aku bersepeda untuk beberapa kilo.

Hening beberapa detik, seperti aku dibiarkan berpikir sementara sekelilingku pause. “Kau? Penasaran?” Akhirnya aku merespon sambil berusaha tidak tersedak ketika memasukkan nasi putih ke mulutku.

Dan di situ dia tersenyum lagi, dengan caping kepiting terselip di antara mulutnya yang  belepotan saus lada hitam, tahu-tahu begitu saja aku mengatakan “Kau cantik memakai dress itu.”

***

Saat aku bermain ke apartemen Baekhyun, secara kebetulan ibunya sedang di rumah. Aku bersyukur dia masih ingat padaku atau mungkin aku akan kaget setengah mati mengira dia adalah wanita asing yang berada di kamar Baekhyun, wanita ini jarang sekali berada di rumah, mungkin enam bulan yang lalu aku pernah melihat punggungnya dari balik counter dapur ketika aku menginap di rumah Baekhyun.

“Jadi? Kau sudah memiliki pacar Lulu?” Ibu Baekhyun suka sekali memberi nama panggilan, aku berusaha tetap tersenyum ketika ia memanggilku dengan nama perempuan.

“Kalau kau ingat Sena, ya dia orangnya.” Aku menjawab sambil memandang jam dinding, kapan Baekhyun pulang dari hagwonnya?

“Sena? SENA? YANG DULU SUKA ANAKKU?”

Reaksi semacam ini sudah kuduga dari Ibu Byun tapi tetap saja aku merasa kaget, aku tidak menyangka dia nyaris berteriak.

“Yah benar. Sena yang itu.”

Selanjutnya aku sudah mengira dia akan menjelekkan Sena, menganggap itu perempuan tidak setia dan lain-lain sebagainya, aku tidak mau membayangkannya.

“Lalu bagaimana? Apa kalian sudah sampai di sana?” Untungnya dia tidak mengejek Sena.

Aku berhenti karena aku tidak tahu maksud pertanyaan itu, apa maksudnya? Sampai di sana apa? Aku tidak mengerti.

“Kau tahu maksudku kan Lulu? Ayolah.” Ia tersenyum, aku sempat berpikir yang tidak-tidak tapi aku yakin Ibu Byun tahu hubunganku dan Sena bersih, kami orang baik yang tidak akan melakukan sesuatu ilegal di bawah umur.

“Sori— aku..”

“Sampai ketika kau merasa orang ini adalah orangnya, ketika merasa tidak ada yang perlu dipertanyakan karena kau sudah tahu jawabannya sendiri. Kau sudah sampai pada hubungan itu?”

Saat itu aku tidak bisa menjawabnya, tapi aku mengerti apa maksud pertanyaannya. Aku sempat berencana akan menanyakan Sena, apa dia sudah sampai di sana?

Tapi aku selalu lupa menanyakannya.

***

Sambil memperhatikan Sena tiba-tiba aku kembali ingat pertanyaan itu. Dan kali ini aku harus menanyakannya, maksudku, itu pertanyaan 5 tahun lalu dan tiba-tiba aku ingat, sekarang, begitu saja, itu artinya ini momen paling tepat kan?

“SENA! Aku mau bertanya!”

Perempuan itu sedang mengumpulkan ranting kayu ketika aku menanyakannya. Tanpa banyak basa-basi mau bertanya apa dia langsung berlari dan duduk di sebelahku. Setiap aku mau bertanya dia selalu melakukan itu, melupakan seluruh kesibukannya tadi dan langsung menghampiriku. Aku merasa dia berusaha memberikan yang terbaik untuk pertanyaan yang akan kuberikan padanya.

“Silahkan! Aku akan berusaha menjawab.” Ia langsung memandangku, pandangannya mengatakan ‘hei aku cukup pintar kan? Makanya kau bertanya padaku.’ Aku berusaha tidak mengomentari pandangan itu.

“Apa kita sudah sampai sana?”

Sena tersenyum, kali ini pandangannya mengatakan ‘memang ya aku pintar, aku tahu jawaban itu.’

“Apa? Katakan jawabanmu.” Entah kenapa nadaku jadi seperti merengek, aku benci itu.

“Kita sudah sampai kok, tahun lalu kita baru sampai. Kau tidak merasakannya?” Sena menjawab dengan tenang, seperti mengatakan cuaca hari ini cerah.

“Aku merasakannya, jauh sebelum tahun lalu, berarti lebih duluan aku yang sampai kan?”

“Yah memang……cuma…. kalau diibaratkan kau sampai lebih cepat karena naik pesawat sedangkan aku naik rakit, mengerti? “

Aku memandang Sena. Ingin mengatakan kalau kalah ya mengaku saja, tidak perlu diibaratkan. Tapi kalau aku mengatakannya kami akan bertengkar. Jadi aku memutuskan hanya tersenyum pura-pura setuju.

SENA

“Ayo Luhan! Lempar aku! Lempar seperti kau memben— eh tidak, lempar seperti kau sedang ikut pertandingan lempar lembing dan musuhmu adalah Baekhyun. Atau mungkin lempar seperti sasaranmu adalah Kyungsoo.”

“Kita berutang pada Kyungsoo, tidak boleh seperti itu Sena.” Luhan menggelengkan kepala, terlihat sok bijaksana.

Aku hanya tertawa dan menaikkan kepalaku agar dapat mengecup pipinya pelan, hanya seperkian detik karena sesuatu yang dilakukan lebih cepat lebih asyik menurutku. Mencium Luhan seperti menekan tombol nyala, selanjutnya aku dilempar, saking jauhnya aku merasa hampir seperti terbang. Kali ini lemparannya tidak seperti dia menganggapku barang yang dibencinya lalu dibuangnya jauh-jauh.

Detik ketika aku merasakan tubuhku sudah berada di bawah permukaan air aku merasa merinding, ada rasa geli, petualanganku yang sebenarnya dimulai. Seperti pada akhirnya prolog liburanku di sini selesai dan kami memulai chapter satu, aku merasa seperti itu. Merinding, senang, takut karena aku tidak bisa menebak bagaimana jalannya, bagaimana kalau tiba-tiba ada salah?  Tapi masa seperti itu sudah lewat. Aku sudah sampai tahap di mana aku tahu hal seperti itu tidak penting lagi dipertanyakan.

Hal yang terpenting sekarang adalah ada Luhan di sampingku, laki-laki yang akan mengingatkanku untuk pindah ke chapter selanjutnya, laki-laki yang terus berada di sampingku sampai kami berada di epilog. Aku cukup tenang karena Luhan adalah Danny Phantomku yang selalu bisa kuandalkan, dan aku adalah Doraemon untuknya, selalu ada di sana untuk membangunkannya dari tidur siang dan mengingatkannya mengerjakan tugas.

“Seru?” Luhan bertanya. Dia melihatku dengan pandangan apakah aku kelinci percobaannya yang berhasil.

Memang agak menghina dianggap percobaan tapi aku suka pandangan itu, maksudku, aku memang suka semua jenis pandangan Luhan.


Author’s note:

HANLUHANLUHANLU❤

Aku merasa selingkuh dari kyungsoo (HMPH)

Maksudku, aku beneran bayangin nikah sama luhan dan ngerasa ini ga beres, luhan the only oppa yg nyaris bikin aku oh sudahlah.

Sejujurnya di detour aku sempat bikin yg jadi tetangga chaeri tuh luhan bukan chen. Karena luhan memang mendapat image boys next door di mataku, tapi entah kenapa enggak jadi. Dan aku bersyukur ada Fallen Cupid karena di fanfic itu Luhan jadi tetangga! Obsesi soal Luhan jadi tetangga tercapai juga.

Ini ujungnya jadi semacam side story gitu ._. marriage lifenya kurang ditonjolin, gomen2. Tapi kalau ada kesempatan aku mau bikin lagi, tapi serius, soal baek-chaeri aku ga jamin karena aku bahkan ga yakin 100% mereka bakal bareng terus. Aku bakal nulis marriage life chaeri x someone kalau detour udah tamat c: 

Sampai bertemu di update selanjutnya, selamat hari pancasila!

-xx, pikrachu

 

44 thoughts on “Are We There Yet?

  1. Banyakin aja bikin yang kaya giniiii sena-luhan yang beginiii, ini lebih manis jadi serasa dunia milik berdua doaaaaang. aku suka banget. asli.

    Aku yang tadinya mau turun makan jadi duduk dulu di tangga gara gara ngeliat ini dipost, langsung baca maygat
    Aku ketawa ditahan tahan takut dibilang ga jelas sama ortuku, tapi sampe bagian spongebob patrick squidward aku ga bisa nahan ketawaa!! Asli itu lucu banget!! Aku langsung lari ke kamar buat ketawa sepuas puasnyaaa xD

    Walaupun ini alurnya muter muter tapi tetep dimengerti kok, ah manis banget sih ff bikinan kak pik tuuuuuh ><

      • Iya haarus BANGET kalo ngga nanti dibilang ga waras xD
        Sama sama kak ^^ ditunggu karya selanjutnyaa~

  2. Ini keren banget.
    Marriage life yg pikrachu banget.
    aku jelly.. jellyous. banget

    hahh..mudah2an suatu saat nanti punya pasangan yg pengertian kaya luhan disini. tapi wanita kan sulit dimengerti hmp. apalagi yg modelnya aneh bin ajaib ky aku ngimpi kali ye. (apa ini kok malah curcol)

    makin penasaran detour endnya gimana. salam buat jari-jarinya pikrachu.

  3. KAKAK ini KEREN KEREN 100 keren buat authornim deh yehet yehet
    Kak buatin lagi dong , suka banget sama couple ini ,
    Semangat writing authornim *^o^*

  4. GOD this story is soooo sweet ^-^
    terungkap sudh kenapa Sena suka sama Luhan pas di awal side story Luhan yg benran jd pertanyaan sy (soalny karakter Luhan disitu rada autis dgn earphone selalu nempel dn baru 1 minggu masuk sekolah).
    Beneran ketawa-ketiwi sendiri baca chap ini, mereka pasangan aneh tp menarik.

    tp thor hub baekhyun-chaeri bnrn ga sampe marriage life ya? yaaa sayang bgt ak suka pasangan itu bgt bgt bgt. Tapi ya tapi walaupun baek-chae ga jalan terus ak tetep suka pikrachu sama kek dia suka JK Rowling walaupun buat Dumbledore mati. Hahaha

    • Maksudku….ga sampe maariage life bukan karena mereka bakal putus atau apa…ini hanya soal otakku yg ga bisa bayangin mereka nikah, luhan-sena kan nikah muda, aku ga yakin baek juga udah nikah umur segitu, dan gitu deh, author bingung jelasinnya.

      Tapi makasih kamu tetep suka ceritaku!!❤

  5. Yaaa aampuuun sorry to say thoor tapi aku jdi niat selingkuh dri detour ke cerita ini satuuu, aku sampek nangiis bacanyaa ntah laah aku sukaaa saking sukanya aku nangiiiiss😦 hahaha gk ngertiii deh. Image luhan nya too cool too hot too handsome too manly dll laah luhan sena berkebalikan banget yaa sama chaeri baekhyun😀 suka dua dua couple ini

    Masuk ff the best banget ini truus yg bkin ff ini istimewaa panjang bangeeet dn gk ngebosanin suka sama karakter dua orang inii hehehe klau bs bnyakin yg gni gnian jga boleeh thoor kereen (y)

    • kamu nangiiiiiiiiiissss tunggu kamu nangissssss hah. ntara ngakak sama ga ngerti bisa nangis di tengah cerita romcom begini😄

      • Hahaha tapi ya gtulah thor aku suka bangeeet saking sukanyaa aku nangiss -.- hahaha sekayak makan pancake saking sukanya aku bersykur banget bsa makan ituu haha jdi ya mirip2 gtu deh aku bersyukur bsa baca ff kamu :v suka sama crita yg begini beginian yg jelasin gmna luhan ke sena dan sena ke luhan

  6. KENAPAAAAAA????? Emang entar udahannya chaeri ga sama byunbaek???;;;;;;A;;;;;;;; ah tidakkkkkkkk. Gara-gara author’s note yang itu, aku malah lebih fokus kesitu. Padahal tadi udah seneng banget soal luhan-sena ㅠㅠ mau nangis rasanya tau kenyataan hubungan baek-chaeri akan seperti itu nanti/? ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ. Aku ngeshipp parah sih sama 2 kapel itu ㅠㅠ huhuhuhuhuhuuu EMAKKKKKKKK~ (?). Yaudahlah aku bahas luhan-sena ㅠ^ㅠ.

    Hm… Okay. Aku emang bisa dibilang reader baru.. Tapi entah kenapa aku cintah banget sama fanfic-fanficnya eonthor-nim. Sempet sih beberapa fanfic selain detour udh aku baca;-; yakaya misalnya oh my prince gitu-gitu. Tapi aku belom sempet baca pastel;_;. Dan….aku lupa udah komen atau belom;_; hehehe maaf.. Bukan maksud tak menghargai, aku hanya… Suka amnesia asal nge-close tab gitu aja abis baca, pas inget tab-nya udh ditutup dan males bongkar history, hehehehheehehee;_;. Dan.. Setiap fanfic eonthor yang aku baca itu: lucu, lawak, kovlak (dan dari ketiga itu gadabedanya-_-), tapi ada makna sendiri gitu lho;_;. Kaya ada makna terselip seperti uang koin dalam saku celana/?;_;. Dan… Di bagian side story ini aku suka sama pemikiran tentang “kompas”, jujur, aku mengharapkan sangat cerita kaya gitu ada di kehidupan nyata aku;_; muahahahahaa;_;. Keren dah;_;.
    Juga buat luhan-sena, mereka itu bah! Manisnyaaaaaaa tapi gaterlalu romance akut gitu;_; bisa dibilang fluff ringanlah, dan itu manis kataku;____;. Ya pokoknnya lopek-lopek di angin buat kopel ini;____;)b <3+4+5+6+7+…. *jadi deret*.

    Eonthor-nim… Seriusan… Maksud dari author's note tadi. . . Jadi. . . Baek-chaeri cepat atau lambat akan segera berakhir, begitu…. ?……. Duh…. /kretek/ duh…. Potek dah nih…… <|3. Heung ㅠㅠ resiko banget sih emang kalo ngeshipp terlalu grege kaya gini ㅠㅠ. Tapi jujur lho, aku mah masih mengharapkan mereka 'satu' ㅠㅠ cinta bangetlah sama mereka berdua ㅠㅠ. Pertimbangkan lagi coba eonthor-nim (?) ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ.

    Okay! I'll be wait for the next!!!!! Karya eonthor pikarachu sekarang bakal jadi tungguan aku juga! KEEP WRITING! EONTHOR FIGHTING!!!! JJANGGGG!!!! *bawa pompom* (ง`ロ´)ง

    • aku salah bicara. maksudku reader-nim yang terhormat, bukan kubilang mereka putus, cuma ga yakin aja…..aku ga yakin mereka bakal nikah? kan banyak orang yg pacaran udah sejati bgt tapi ujung2nya ga nikah? yah sejenis kayak gitu deh keraguannya ._. tp bukan berarti mereka putus, maksudku mereka mungkin putus, tapi kalau pun putus kamu jangan patah semangat ya.

      Dan komenku ngelantur.
      Pokoknya emang aku ga bisa bayangin chaeri nikah sama siapa, itu aja c: kekekek

  7. uwooooo~ ^o^

    ya ampuunnn itu Luhan emang nyetirnya selambat apa sampe bisa dibalap sepeda? 20 km/jam kah? hahahaha

    Hahahahahahahaha😄 Hari Keceplosan Luhan? ada-ada aja nih Sena ngasih namanya,dimana-mana kan adanya ‘hari jadian’ ‘anniversary’ ini malah Hari Keceplosan Luhan,gokill
    tapi kenapa 9 September? kenapa gak 7 september aja,kan biar sama kayak hari pertama kali aku melihat dunia (re: di lahirin)

    pas baca part Luhan ninggalin Sena karena phobia-nya disitu aku ngerasa Luhan gak gentleman sama sekali,dimana-mana kan cowok selalu rela berkorban gitu,apalagi itu lagi ngerayain Hari Keceplosan Luhan,ckckck

    Aku suka banget part Sena nyeritain awal rasa hormat-nya Sena ke Luhan.Disitu image gak gentle Luhan di part naik gunung ilang gitu aja,kesannya cool gitu.Terus yang Sena bilang lagu yang di dengerin Luhan itu adalah soundtrack-nya dia sama Luhan,uuuhhh aku langsung mesem-mesem sendiri.Apalagi ngebayangin rambut Luhan yg acak2an,duhh samalah kayak Sena yang langsung di buat klepek-klepek

    ” ingatannya luar biasa, ia benar-benar pikun. Selanjutnya aku tahu rumah cucunya adalah rumah
    Sena. ” ahahahahaha aku ngakak baca ini😄 Luar biasa pikun berarti neneknya Sena..ahahahahaha😄

    Pas Luhan POV dan nyeritain gimana kagumnya dia ke Sena,gimana cantiknya Sena pas makan malem saat itu,aku suka menurutku itu romantissssssss
    terus-terus pas Luhan nyamperin Sena pas dia jerit kirain ada tsunami gataunya bukan,terus dia jadi nungguin Sena,menurutku itu juga romantis,Dan pas Luhan ngelempar Sena ke laut-tapi yg bag akhir- itu juga menurutku romantis,aakkk ><

    Emang sih kurang nonjolin kalo mereka udah nikah,rasa-rasanya mereka masih SMA aja gitu-mungkin karena aku terlalu suka Detour-,tapi tetep aja aku suka cerita ini,seru,lucu,unik,romantis hihihi :3

    aku tunggu cerita Chaeri x someone-nya itu,semoga aja sama Kyungsoo…akakakakak😄 semangat Author-nim (" ^o^)9

    • LOVE KOMENNYA❤ seneng bgt per adegan dibahas ehehehehhe aku senang😀

      daaan kentara bgt reaksi kyung-chae shipper sama baek-chae shipper. dan kamu satu dari sedikit orang yg seneng sama author's note ku yg bilang aku ga yakin sama baek-chae LOL

      • LoVE YOU TOO lah kakak author-nim😄 aakk maafkan diriku yang gak bisa nahan buat ngomentarin setiap adegan..xixixixi :3

        aku Kyung-Chae shipper betewe hahaha tapi karena berhubung Baek-Chae jadi official di detour yaaa aku legowo nerimanya,mungkin Kyungsoo emang jodohnya sama aku-emaap- ^^v

  8. Luhan beneran sweet banget di sisni. entah kenapa tiap adegan mereka berdua itu menurutku romantis, pas adegan luhan bangunin sena, jagain sena dan semuanya, jadi pengen punya suami kayak luhan yang disini..
    sena yang mengagumi luhan juga sena yang suka mendengarkan petualangan luhan itu lucu menurutku, pokonya cerita ini daebak, authornya hebat menuturkan kata di tiap adegannya
    tapi…kenapa author note nya jadi bikin ugh banget, padahal saya suka couple baek-chaeri. tapi lebih dari itu saya lebih suka ceritanya author hehehe, saya tunggu cerita marriage life chaeri x someone, kalo boleh request, kalo boleh loh someone nya jangan yang ada di cerita detour biar ga MJJ (Mak jleb-jleb) *reader ngelunjak😀

  9. wow wow wow. ini…. KEREN! Menurut aku pribadi nih ya walaupun ini marriage life tapi school life masih terasa karena ada bagian flashback ke masa masa sekolah dulu. pas bagian Sena ngikutin Luhan😄 gatau kenapa ini bikin senyam senyum gajelas gitu deh haha… aku ngerasa pernah ngalamin itu tapi aku lupa kapan, dimana, dan dengan siapa? *serius*/halah/
    Ekhem, boleh tau nggak si Kyungsoo kerjanya apa ya? Dia jadi orang kaya gitu? Kok bisa sih dengan sukarelanya ngasih uang ke Sena-Luhan? Kamu rerlalu baik dyo :p mending uangnya buat aku untuk nyusul kamu yang ada di sebrang samudera nan jauh disanaaaa asdfghjkl *plakk*
    Ada Baekhyuuuunn >.♥ aaaa tapi nggak ada Chaerinya ㅠㅠ dia kemanahhh? di masa depan mereka nggak bersama ya? atau jangan jangan Chaeri malah sama… Kyungsoo? aku harus seneng atau apa nih? kemarin kan udah berikrar tapi aku malah ingkar -.- /labil ih/
    Judulnya diambil dari ucapan Luhan ya?
    Dan itu Ibu Byun… haduh dia pede gila kayak anaknya, pake bilang “Sena? yang dulu suka anakku???” hellowwww sekarang siapa coba yang nggak suka sama Baekhyun?!! /apaansih/
    Kafik makin DAEBAK! Selalu bisa bikin hatiku berdegup dagdigdugduar(?) pas lagi baca ff-ffmu. Semuanya keren! suerr deh -,v Keep Writing and 화이팅!!! 힘내세요요요용♥

    • kalau kamu lupa kapan dimana siapaaaa aku curiga itu hanya khayalan lol tapi goodluck semoga dapet momennya lagi!

      IHIHIHIHIHIHIHIHIHI makasih komenmuuuu❤ ga papa ga bisa pilih baek atau kyungsoo (karena aku ga milih juga hahahah) yg penting nanti semua happy sama siapapun itu ;;

      • Sekarang udah ingetttt!!!! Yeay jadi aku udah buktiin ya kalau itu bukan sekedar khayalan😄. Baru aja hari Senin lalu ketemu sama orangnya pas pulang sekolaahhhh mirip banget kan? Bedanya kalau Sena-Luhan pas mau ke sekokah nah aku pas pulang sekolah. Ini jarang banget terjadi -.v
        Tapi sekarang aku udah nggak se excited pertama momen itu terjadi…. dia cuek gitu sih kayak Luhan sok sok ngga nyadar kalau ada yang ngikutin -_- akunya bete /kokmalahcurhaaaaatttt(?)/ maaf maaf😄

  10. Yah, padahal aku suka sama couple chaeri baekhyun. Agak gak rela kalo chaeri sama orang lain. Gimana yaaa.

    Waktu baca ff ini dari awal, aku udah bisa bayangin tokoh2nya, sampe2 kebawa mimpi kisah manisnya baek chaeri. Syang kalo mereka berakhir.

    Huaaaaaaaa. Aku beneran sedih. Berasa aku ini pemeran chaeri. Gak rela pisah sama baek.

  11. uahahh ini sangat seru. Aku bela”in baca trus sambil jalan pas pulang sekolah. Daebakk semua scene-nya aku suka, kecualiii…..
    Bagian cuap-cuapnnya aku kurang suka, ;( knapa eoni mau bikin chaeri sma orang lain???? Please baekhyun ajajaj ya? Ya? Ya? Ya? ya?
    Tapi apapun itu, kak semangat. Kkk

  12. omaigat!! ya ampun aku enggak nyangka bisa di post secepet ini. pas banget, aku lagi bete dan ff ini mengembalikkan moodku!! aku suka banget, ternyata ini waktu mereka udah nikah dan dicampur sama pas mereka masih SMA, suka banget sama couple ini lucu dan enggak nyangka banget, Sena ternyata sabar banget ngadepin Luhan yang kayak gitu dan Luhan sabar banget ngadepin Sena yang sipatnya kaya gitu. ngakak waktu mereka naik gunung, tuh Luhan sayang banget, ganteng dan berbakat tapi takut tinggi, penasaran kenapa dia takut tinggi yah hehehe. dan itu ya ampun aku enggak bisa nahan senyum pas sena miinta luhan buat ngelempar ya ampun tuh luhan kayaknya emang niat banget yah wkwkwkwk konyol abis dan aku suka ini panjang banget lain kali bikin yang sepanjang ini yah, aku bakal senang kok bacanya, apalagi cara penulisan authornya enak dan nyantai. dan ugh! aku lupa apa yaaa?!!!oh iyah dibagian akhir itu so sweet banget!! pengen deh jadi sena kalo luhan semanis itu seriusan wkwkwkwkw

  13. HALOOOOOO!! HAAA TADI SEMPET NYASAR PAS MAU KOMEN UDAH NGESCROL SAMPE BAWAH TERNYATA KOTAK KOMENNYA DIATAS YA HA HA HA /PLAK T_T

    OTAKKU JADI GAK BERES ABIS BACA INI HEUNG~ GAK SEHAT NIH CERITANYA. /DITENDANG WKWK

    LUHANSENA I LOVE YOUUUUU!! :** AUTHORNIM I ADORE YOUUUU!!! :3
    HUFT, PAS KATANYA CERITA INI CHEESY SAMPE MAU DI KASIH PASSWORD AKU GAK NYANGKA EFEKNYA EMANG DAHSYAT YAAAA :”” AKU SUDAH TIDAK BERBENTUK SEKARANG/?

    kamu tega, thor.
    ini romantis bangeeeeeeeeettt.. Ngelebihin moment taosina atau baekchae. Mereka sidepair kan, kenapa mereka…
    dear luhansena, sidepair itu gak boleh ngelebihin mainpairnya. GAK BOLEH! huhuhu
    alert ini komen bakal panjang wkwk

    pertama, dari awal pas baca mereka lagi dimobil yg jalannya kayak siput aku masih datar trus ketawa pas mobil siputnya dibalap sepeda lalu pas ada kata “hari pernikahan” aku langsung close tab wkwk
    takut. Kaget. Trus langsung, KOK UDAH NIKAH ASDDFGHHKL!!!
    Dan sehari kemudian aku baru berani baca wkwk /orang aneh/

    kedua, ini panjaaaaaaaaaaang dan puaaaaaaas BANGET. Bener-bener terbayar nungguin moment mereka :3 sekalinya ada begini aaaaaaa;;
    btw, mereka nikah muda? Ah sweet bgt sih. Mau jadi sena dong/ga.

    ketiga, setiap momentnya, yg maju mundur, aku sukaaaaaaaa. Setiap paragraf, kalimat, kata aku baca dengan seksama. Dan author harus tau ff romance itu bisa loh bikin nangis wkww aku aja sampe berkaca2 xD saking gemesnya mereka romantis overdooooose :”

    keempat, aku suka cerita kompas penyelamat yg akhirnya jdi kriteria calon suami buat sena haha itu romantis bangeeet dan luhannya gentle bangeeet gak salah sih sena bisa sampe segitu hormat sama luhan sampe jadi panutan hidup wkwk ceritanya unik🙂 dn yg aku penasaran luhan nyadar gak kalo diikutin sena? Dan kapan luhan mulai tertarik sama cewek itu? Apa sejak diatas pohon/? Wkwk
    trus trus, romantis juga pas luhan bilang sena cantik. Seeeeerr haha
    pas luhan cemburu sena minta diajarin rubik sama kyung :”
    Pas sena ragu sama luhan grgr nerima coklat dari cewek2.
    pas bagian sena-luhan-tsuNAMI wkwk
    pokoknya semua romantiiiiiiisss :33
    AKU SUKA BANGET ㅠ.ㅠ

    btw, luhan emang sidebias paling bikin.. Susahlah intinya dia emg susah dijelaskan. Mana boleh dia segentle dengan muka secute itu. :”(
    aku juga mau kesana sama luhan. Tp naik pesawat bareng aku gak mau naik rakit wkwk

    next part harus ada lagi ya moment mereka.. Aku tunggu😀

    ah ya dan chaerixsomeone hing aku baca balesan komen mu. Jadi bisa aja ending detour chaeri akhirnya sama baekhyun tapi pas di afterstory chaeri marriage lifenya bukan sama baek. Bisa aja sama sungjong si ketua kelas? Atau sama taehyung ade kelas itu… Bisa aja dia muncul bukan cuma biar ada cast baru.. Bisa aja dia ternyata jodoh chaeri wk. Bisa aja, gak ada yg gak mungkin Kan, kayak ternyata baek selingkuh sama penjaga toko cd setelah masuk hagwon(btw hagwon itu universitas kan?) bisa ajaaaa. Trus kyung ketemu jodohnya yg ternyata penjaga perpustakaan, Bisa ajaaaa. Setelah 20 chap yg panjang chaeri malah gak sama dua main cast bisa ajaaaa wkwk /plakplakk

    yaa walau author mau endingin detour secepatnya. Aku cuma mau request nnt pas afterstory mending dibuat kayak masa depan mereka semua.. Semacam reuni gitu kan lucuu. Nnt ketemu lagi ngebahas masa2 mereka sekolah dulu. Hehehehehehe
    ada taosina juga udah nikah/eh
    ada sehun yg akhirnya jadian sama nami/loh
    ya semacam itulah. Tapi semua ditangan authornim yg handal haha

    aku tunggu next chapternya ya… Semangaaaat😀

    byeong byeong!!

    • HHEEEEEEUUUNG SDASLJLDSDALDKLDKDA (di saat enggak ngerti mau ngetik apa) Iya begitulah mian aku minta maaf parah ini luhansena pelanggaran sudah mendahului chaeribaek. Tapi HAHHH emang sudahlah, waktu ngetik ini aku lagi jadi wanitaa kesepian yg tibatibapengenmauhoneymoontapigataumausamasiapa dan jeng! jadilah roadtrip love super cheesy.

      Semua kemungkinan yang kamu sebutin bisa semua kokk, bisa aja semuanyaaa, bisa aja baek waktu selingkuh sama mbak penjaga cd selingkuh bosen lalu akhirnya selingk sama penjaga perpustakaan yg diketahui ternyata penjaga perpustaan pikrachu-ssi dan kemudian detour ada sequel baek vs kyung tp ocnya kali ini penjaga perpustakaan bisa aja kok bisa aja.

      Afterstory! heuheu aku belum bisa bayangin tp okelah, tp serius taosina marriagelife bakal lucu ga sih tp bahkan authornya ga tau sina gimana meheheh.

      Oh ya hagwon tuh istilah buat bimbel di korea, kayak nurul fikri atau SG, bta gitu dan jam belajarnya bener2 intensif bgt.

  14. OH GOD ceritanya bikin ketwa perjuangan luhan yang mau krumah sena itu berat sekali cobaan’a dan semuanya bikin senyum-senyum sendiri. Erntahlah dr awal sampe akhir baca cerita ini bikin qw senyum-senyum sendiri. Tingkah luhan-sena tetep aja kaya tom and jerry tpi diakhirnya selalu sweet. Keren lah ff’a

  15. omaigott kakak ku cinca ku❤ ini itu happily ever after banget kyahahahahaha😀 diksi kakak keyen sumpah :-* aku berasa jadi sena disini bener bener jadi sena🙂

    Apalagi yang waktu sena masuk sma terus ketemu luhann ahahaha dan sena dengan pede-nya nyebut "Lelaki itu pasti menjadi suami ku kelak" hahaha😀

    Padahal bulan depan aku juga mau masuk sma hahaha semoga aku ketemu orang kayak luhan muhehehe /eh tapi beneran ding/ hahaha

    terus yang scene sena dilempar sama luhan (?) ituu sumpah pengen banget juga aku nya hahahaha seakan dunia milik berdua eung wkwkwk😀 makasih kak buat ff nya ini hahaha oh ya chen-seukri juga boleh side story nya kok wkwkwk :-*

  16. Uwaaaaa.. Kereeeen, meskipun luhan terkesan cuek tapi tetep romantis.. Aku suka setiap momen yg mereka lakuin.. Daaan pas naik gunung sama baek, kenapa cuma ber-3? Kenapa ga ber-4 sama chaeri?? Ato jangan” baek gaa berakhir sama chaeri..tapi chaerinya sama kyungsoo(eaaaaa ngarep).. ~semangat dan saya tunggu untuk karya selanjutnya yha kak author *pikrachu*..

  17. tahap sampai disana eum waktu part itu rada nggak ngeh. sampe duluan? nggak ada bayangan sama sekali ><
    bagus banget, kisah true love yang emang cintanya nggak muluk tapi always bikin dugeun-dugeun wkwkwk
    walalupun emang bayangin luhan sama sena kaya sahabat in love tapi mereka juga manis bgt disini, perasaan masing2 kaya lebih kamu gali gitu thor. love banget story nyaaa ♡♡♡♡♡♡

  18. author harus tau kalo aku fans beratnya Luhan selain Baekhyun, Jongin dan EXO tentunya -_- saat saat dimana imajinasi jadi liar banget adalah jeng~ jeng~ jeng~ pas baca FF ini. kayaknya seru kalo beneran nikah sama Luhan dan kehidupannya kayak begini. engga kayak di drama tapi kayak di FF. kkk~ dan aku jealous banget sama Sena pas sadar lawan castnya Luhan disini itu sena. kayaknya emang ketularan imajinasi liarnya si sena, semacem spongebob dan aku patricknya. author berhasil. dan aku nunggu FF fallen cupidnya sam oh my prince nya loh🙂

  19. Hari keceplosan Luhan… Hahahaha… ini yang aku suka dari pikrachu (mulai sok kenal) ^^v
    Punya seribu perumpamaan yang anti-mainstream tapi malah terdengar yummi…
    aku gak berharap banyak masalah couple2 di sini… aku suka pertemanan mereka… pertemanan pasti lanjut sampai mereka pad tahap mariage life itu baru realistis.. Nami coupelan sama Baekhyun dan Chaeri sama Chen pada akhirnya juga gak papa… Masuk akal kok kalau pada akhirnya BaekChae gak bersama. Dari sekian banyak kebetulan yang ada juga begitu. Pacaran lama-lama tapi akhirnya nikahnya sama yang lain juga. Dan aku mengharapkan ending yang spektakuler dari Detour…

    menuju part ending Detour… bikin deg2an… semoga sakit jantung nya (baca deg deg-an) gak lama-lama… ah iya iya ini intro aja mau bilang semoga pikrachu gak capek gak sibuk gak kena writer’s block gak bosen ngetik Detour dan post Detour sampe tamat…

  20. oo tadi itu ada flashback dan masa sekarangnya.. baguslah mereka romantis aneh begemana gitu, dan disaat seperti ni aku masih mempertanyakan Baekhyun x Chaeri

  21. Hello! Anyeong! Ni hao!
    Wow!! Sweet!!! Aku suka banget FF ini! Ya meskipun married life nya ga terlalu menonjol, gkpp ini malah sweet! Omo! Selain aku suka (pake banget) sama ff ini. Terlebih cast nya luhen gege wekeke. Ga usah d tanya gimana ff ini, udh kelewat amazing lho utk aku sang readers baru yang ketagihan and jatuh cinta sama blog dan FF nya! Keep fighting yaw! #Req. Ff fluff cast jongdae×OC apa bisa? Kalo bisa OC nya aku yaw wekeke aku cinta banged ama jongdae wakaka#

  22. Oya ada yg lupa thor-
    Memang kenapa sama baek-chae yang ga yakin mereka bakalan sampe nikah? Menurutku si lucu aja lho kalo mereka pisah (putus. Kaya d detour) dan akhirnya mereka entah dapat mimpi apa semalam bisa nikah dan akhirnya mereka damai gitu lho (ngerti kan mksdnya gimana hehe) malah aku mendukung banget nget ama couple tu. Tapi ttp si keputusan ada d tangan mu thor >×< aku akan hargai! Thanks~

  23. huwahhh luhan sena udah menikah ternyata.. aku baru tau ada sidestory mereka yg ini…
    Astaagaaaa kenapa luhan disini bener2 tipikal suami idaman banget :3
    suami yg rasanya bisa jadi apapun, dari temen, lawan, kakak, sampe ayah rasanya ahh gak tau gimana ngungkapinnya..
    Luhanluhanlu kak!! gara2 kamu aku juga jadi berasa pengen selingkuh dari baekhyun hihi
    tapi ngomong2 baekhyun, baca author’s note soal chaeri-baekhyun belum tentu bersama.. kok rasanya malah aku yg nyesek ini otp kesayangan kalo pisah gimana.. gak rela liat chaeri malah nikah sama orang lain dan apalagi kalo baekhyun nya ikhlas2 aja alamaaakk noooo!! gak mau peduli tapi berharap happy ending walaupun itu udah mainstream juga gapapa ㅠㅠ

    uh tapi ini kan part nya luhan-sena. hehe aku kaget, woah mereka liburan ke indonesia!! Seandainya luhan beneran liburan kesini (tapi jangan sama pacarnya).. Tapi luhan yg di detour ini yg kebayang luhan predebut. Soalnya mukanya lebih pas dibanding luhan yg udah debut gini yg keliatan malah manly dan perfect boy banget… lega sekali sena nikah sama luhan.. tapi deg degan nunggu bulan mei… pokoknya aku gak bakal, gak mungkin, gak bisa, gak mau, dan gak akan pernah rela kalo chaeri sampe pisah sama baekhyun.. skenarionya malah jadi ke arah angst ㅠㅠ
    (hoho ini ngatur2 yg authornya siapa padahal)
    lope lope sama luhan pokoknya~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s