Detour #21

picture credit for hersheyjerze on tumblr

#21 Every boy and Every Girl

Seratus tahun sejak keputusan Baekhyun mengambil Hagwon, atau setidaknya itu yang dirasakan Chaeri karena menurutnya waktu bergerak lambat sekali seminggu belakangan ini. Chaeri hampir tidak mengenal sosok Baekhyun yang sekarang, tentu saja Baekhyun tidak berubah, dia masih sama, masih menjadi Byun Baekhyun yang memilih tertawa seperti tertawa itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup, dan benar, menurut Chaeri Baekhyun berubah soal itu, soal selera humornya yang tiba-tiba berlebihan sekali.

“Stress. Orang Stress.” Chaeri berujar pada Baekhyun yang masih cekikan melihat tikus putih yang terpeleset pada roda berputar di kandangnya.

“Kau tidak melihat tikusnya Chaeri! Ekspresinya lucu sekali.”

Sambil memasukkan gelas-gelas ukur pada lemari kaca Chaeri memilih tidak berkomentar soal ekspresi lucu apa yang seekor tikus bisa tunjukkan (seperti tikus punya lesung pipi saja). Ia masih berusaha mencari satu ruang kosong untuk gelas terakhir yang cukup besar ketiba tiba-tiba pintu menjeblak terbuka.

Chen berdiri di sana dengan wajah uring-uringan sampai rasanya Chaeri akan kaget kalau alasannya bukan karena kebakaran, wajah Chen menyiratkan ada bencana baru datang.

“Ada apa Chen?” Baekhyun yang sudah tidak tertawa lagi sepertinya ingin tertawa dengan alasan lain, melihat Chen datang masih dengan coretan spidol di pipinya seperti kumis kucing, Chaeri yakin laki-laki itu kalah kelak dalam permainan kartunya dengan Luhan.

Masih dengan napas tersengal-sengal Chen mengelus dadanya. Chaeri berharap ini bukan kabar buruk, ia berharap Chen hanya terlalu mendramatisir. “Taehyung—“

“Taehyung? Anak kelas 2 itu? “ Berusaha tidak terdengar terlalu peduli Chaeri menaikkan satu alisnya. Baekhyun yang batal tertawa tiba-tiba memandang Chaeri dan Chen bergantian.

“Aku baru tahu kau mengenal Taehyung?”

“Tidak penting kau mengetahuinya—“ Kalimat Chaeri terpotong ketika Chen langsung menarik tangan Baekhyun membawanya keluar dari ruang lab. Baekhyun sempat menahan tangannya ditarik keluar dengan memegang gagang pintu sambil memandang Chaeri bingung seakan perempuan itulah yang menyuruh Chen menarik dirinya.

“Hanya kau yang bisa membantuku sekarang! Kyungsoo tidak masuk hari ini. Luhan bertengkar dengan Taehyung!” Dengan kalimat terburu-buru itu Chen berhasil melepas pegangan Baekhyun dan membawanya berlari.

Chaeri masih berdiri di tempat yang sama. Ia menutup lemari kaca itu dan meletakkan gelas terakhir asal di atas meja terdekat. Ketika sempat kebingungan lebih baik memanggil guru atau mengejar Chen dan Baekhyun Chaeri menelan ludah dan memilih opsi yang tiba-tiba muncul, mencari Sena yang biasanya berada di halaman belakang sedang mengamati pertumbuhan kelinci peliharaan sekolah.

***

Baekhyun sampai terengah-engah dengan Chen masih menarik lengannya, sudah cukup ia berlari tiga lantai nonstop dengan beberapa kali hampir menabrak murid-murid. Sampai kemarin ia masih mengira saingan larinya hanya Luhan dan sekarang ia bersumpah sebelum lulus sekolah mereka harus lomba lari untuk menentukan siapa yang tercepat. Tapi seperti tidak dibiarkan berpikir soal lebih cepat siapa tiba-tiba terdengar suara gedebuk cukup kuat, matanya bergidik berharap yang terjadi itu tidak berhubungan soal Luhan dengan Taehyung.

“Astaga masih bertengkar!” Chen menarik Baekhyun melewati kerumunan. Di saat seperti ini yang membuat Baekhyun heran bukan kemana para guru ketika murid mereka membuat keributan melainkan ekspresi Luhan yang sejujurnya membuat Baekhyun saja ngeri.

“BAEK! KEBETULAN SEKALI! BANTU AKU!” Luhan menengok pada Baekhyun yang masih memasang mulut menganganya. Di belakang Luhan ada Jongin berusaha keras menahan temannya itu kembali menyerang Taehyung yang sudah terduduk lemas bersandar di loker.

Beberapa detik Baekhyun merasa dia baru masuk dimensi lain. Ia tidak mengerti. Seminggu belakangan ini ia memang sibuk Hagwon sehingga berhubungan dengan temannya saja sulit sekali, melihat si ramah Luhan bertengkar dengan adik kelas sama tidak mungkinnya dengan melihat Kyungsoo memberikan hadiah White Day untuk  Nami.

“Luhan, kurasa kita harus ke ruang kesehatan dulu.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Baekhyun meskipun matanya malah menatap Taehyung yang wajahnya tampak lebih parah dibanding Luhan.

Jongin menghela napas dan melepas tangannya ketika menyadari Luhan sudah mulai tenang. Taehyung baru saja ingin berusaha berdiri ketika tiba-tiba Sehun datang memasuki kerumunan. “Guru Park datang! Ketahuan kalian berdua bisa bisa tidak naik kelas!”

Seperti peringatan Sehun itu artinya tsunami baru saja datang seluruh murid yang berkurumun asyik membuat asumsi sendiri soal pertengkaran itu seketika menyingkir dan kembali pada kesibukan mereka. Taehyung segera bangkit dibantu oleh teman-temannya sementara Sehun segera menjatuhkan diri dan bersandar di loker. “Aku bohong, tidak ada guru, hanya saja capek lihat murid-murid itu menikmatin tontonan ini.”

“Bicara lagi kau mati.” Luhan berseru pada Taehyung yang sudah berjalan tertatih-tatih digotong oleh kedua temannya. Wajah Taehyung jelas menunjukkan tidak takut dengan ancaman Luhan namun melihat bibirnya yang terluka ia tidak bisa bicara banyak. Sambil menunggu Taehyung benar-benar pergi Baekhyun gantian menatap Luhan, masih menyusun kalimat paling tepat untuk berbicara dengan orang yang sedang emosi.

Baekhyun sepertinya terlalu mengambil banyak waktu untuk menimbang karena setelah sekilas menatap Baekhyun Luhan langsung menyambar ranselnya dari Jongin “Jangan menyalahkanku. Kau sudah pintar kan? Baekhyun si anak Hagwon coba ajari Taehyung itu supaya menyusun dulu otaknya sebelum berani bicara.” Dan selagi ia berjalan menuju pintu dengan menyeret kakinya malas-malasan Luhan kembali menoleh. “Katakan tiba-tiba aku kena cacar.” Sambil menyeret tasnya di lantai Luhan keluar dari sekolah. Jelas laki-laki itu sudah tidak bisa berpikir mengingat kena cacar alasan yang pernah dipakainya bulan lalu dan guru tidak akan percaya lagi. Tidak ada yang berusaha mengejar atau setidaknya berteriak balik tidak akan ada yang percaya dengan alasan itu, baik itu Jongin, Sehun, Chen dan Baekhyun hanya bertukar pandang satu sama lain.

Tidak tahan dengan keheningan kaku yang sangat tidak cocok dengan mereka Baekhyun tertawa. “Baekhyun si anak hagwon? Hahahaha astaga apakah aku terlihat sepintar itu sekarang?”

Tidak ada yang tersenyum apalagi tertawa, Chen hanya mendengus sambil memandang loker yang sedikit penyok setelah tertabrak Taehyung. “Aku sendiri tidak tahu, beritanya belum ada tapi tadi pagi, sambil membawa koran Taehyung membicarakan soal kasus penyuapan dan menyangkutpautkan Ayah Luhan dalam kasus itu—“

“Dan seperti kebetulan tidak bisa lebih bagus lagi, Luhan tepat berada di belakang Taehyung ketika mendengar ayahnya dibicarakan.” Jongin melanjutkan, matanya menatap koran tersobek lecek yang Baekhyun yakin sekali Luhan yang membuatnya seperti itu.

Tidak ada yang mengenal Luhan seperti Baekhyun mengenal temannya itu, berteman sejak SD Baekhyun tahu jelas meskipun pembawaan karakter Luhan iseng dan cuek ia tipe yang lebih suka menggunakan kalimat dari pada menghabiskan tenaganya untuk melukai orang lain. Bukan gaya Luhan memukul orang. Sama sekali bukan.

***

Chaeri tidak menemukan Sena di halaman belakang, sekarang dia mulai menyesali keputusannya memakai tabungannya untuk membeli Nintendo bukannya membeli ponsel yang harusnya tinggal butuh waktu saja sampai dia sadar berkomunikasi dengan ponsel jauh lebih efektif dari pada sekedar telpon rumah untuk orang seumurannya. Akhirnya memutuskan melanjutkan tugasnya membereskan beberapa hal di ruang lab ia kembali berjalan cepat melangkah sekaligus melewati dua anak tangga.

“Sunbae!” Merasa yang dipanggilnya bukan dirinya Chaeri melanjutkan jalan cepatnya ketika tiba-tiba si pemanggil berseru lagi. “Chaeri-sunbae!”

“A—“ Matanya terpaku pada sosok yang berada tepat lima anak tangga bawahnya, tampak bersusah payah mengejar dirinya. “Taehyung?”

“Oh syukurlah kau ingat, kukira bonyok di wajah ini akan menutupi ketampanan wajahku. “ Ia berujar dan akibat tersenyum lebar Taehyung langsung  meringis, luka di sudut bibirnya belum kering.

“Suaramu, aku tahu dari suaramu, wajahmu tidak kukenal.” Chaeri berkata dengan menyidik, ia berusaha tidak terlihat penasaran siapa atau mungkin apa penyebab memar di wajahnya itu, tentu saja sesuai berita Chen Luhan adalah pelakunya.

“Kalau begitu aku bertaruh suaraku selalu terngiang di telingamu sejak pertemuan kita? Sulit kan menghafal suara orang?” Masih tersenyum Taehyung perlahan-lahan mendekati Chaeri yang entah kenapa Chaeri malah berjalan mundur berusaha memperbanyak jarak yang terus dipersempit Taehyung.

“Yah sulit— katakan ada apa kau memanggilku, karena kau tahu Taehyung, kau benar-benar menghambat sekarang.”

“Apa benar Sena-sunbae jadian dengan Luhan?” Pertanyaan terlalu mendadak itu membuat Chaeri sempat mengerjapkan matanya, untuk meyakinkan bahwa ekspresi panik dari wajah Taehyung memang bukan permainan cahaya, memang laki-laki itu panik.

“Ya.”

Beberapa detik Taehyung diam, memandang Chaeri dengan pandangan kosong dan baru saja Chaeri ingin menanyakan apa urusan ini denganmu anak laki-laki itu sudah melesat menuruni tangga. Seperti mendapat semacam plot twist paling menjungkir balikkan fakta Chaeri mengambil satu kesimpulan; pertengkaran Luhan dan Taehyung tadi disebabkan oleh Sena.

Dengan tangan terus tidak berhenti bergerak di kantong jaketnya Chaeri berjalan dengan mata memandang jalan, mata batin seakan membuatnya dapat bergerak dengan lancar melewati orang-orang yang hampir saja menabraknya. Ketika kakinya berhenti tepat di ruang lab dan Chaeri sudah mengambil satu keputusan untuk bertanya pada Sena soal Taehyung pintu ruangan terbuka.

“SENA! Kemana saja?” Chaeri tidak ingat ia pernah sesenang ini melihat Sena, terakhir bertemu Sena perempuan itu masih mengomentari Baekhyun yang sok sibuk dan itu berakhir tidak menyenangkan ketika Chaeri mengatakan sok sibuk lebih baik daripada diam tidak melakukan apa-apa seperti Luhan.

“Bermain dengan tikus putih peliharaan Chen.” Sena menunjuk kandang kotak terbuat dari kaca berisi tikut putih yang sempat menjadi tontonan favorit Baekhyun ketika laki-laki itu menunggui Chaeri merapikan isi lemari.

“Dengar. Aku mau tanya, soal Luhan—”

“Luhan! Dengar Chaeri, aku sudah mengambil keputusan, aku akan memberitahu Luhan soal rencanaku sore ini, tidak peduli dia mengatakan bodoh—“

“Tunggu dulu pertama—“

“Di mana Luhan? Aku harus bicara pada Luhan!” Tergegas Sena berlari meninggalkan Chaeri, perempuan yang ditinggalkan merengut melihat Sena yang jelas menganggap apa yang akan Chaeri katakan tidak sepenting yang akan ia katakan Luhan. Sambil memutar bola mata Chaeri melangkah masuk ruangan, Sena selalu seperti itu.

***

Bel yang menandakan pelajaran ke tiga mendadak berbunyi membuat perempuan yang masih berjalan sambil menggigit roti isi srikayanya tersedak, mulutnya yang masih penuh berusaha sekuat tenaga menelan semua roti yang dijejalnya masuk ke dalam mulut, tangannya sibuk memukul-mukul dadanya seakan kalau dipukul makanannya bisa mengalir masuk, Nami nyaris menyerah ingin memuntahkan semuanya ketika ia menyadari sebotol air mineral sudah dijulurkan untuknya.

“Terimakasih—“ Tanpa melirik siapa penyelamatnya Nami segera mengambil botol itu dan meminumnya, rasanya seperti air putih paling lezat yang pernah ia cicipi.

“Punya Chaeri.” Suara itu menjawab ringan, dengan santai, sepertinya tidak sadar bantuannya tadi benar-benar menyelamatkan Nami yang nyaris muntah di depan umum.

“Terima kasih Baek, aku akan memberikannya pada Chaeri, tadi aku baru ingat kelasku ada test dan aku lupa belajar sama sekali.” Nami berkata sambil mengelap mulutnya yang belepotan, matanya melirik Baekhyun yang masih berjalan di sampingnya dengan kepala bergoyang kanan kiri menikmati senandungnya sendiri.

“Adikku belajar di Hagwon dan dia beda sekali denganmu, setiap hari kerjaannya hanya mengeluh soal PR yang bisa berkali lipat.” Nami kembali berkata, matanya masih meneliti wajah Baekhyun yang terus tersenyum entah untuk alasan apa, atau memang mulut Baekhyun saja yang sudah terbentuk senyum sekalipun ia tidak tersenyum?

Baekhyun mengangguk, menengok pada Nami yang sedikit tersentak, perempuan itu baru menyadari ini pertama kalinya ia mengamati wajah Baekhyun. “Kau punya adik?”

“Satu adik perempuan.” Jawab Nami singkat sambil memikirkan apakah perlu untuk menambahkan keterangan umur, tapi menyadari Baekhyun tidak penasaran perempuan itu kembali diam.

“Aku baru tahu, dia tidak sekolah di sini?”

“Tidak, sekolah wanita yang dia pilih. Kau penasaran dengannya?”

“Hah? Tentu saja tidak, hanya tidak bisa membayangkan kau punya adik perempuan.” Baekhyun mengendikkan bahu dan kembali melanjutkan senandungnya.

“Kenapa tidak bisa?”

“Yaaa— sikapmu, tipikal anak bungsu manja, sekarang sudah mending sih.”  Masih dengan nada santainya Baekhyun menjawab, sama sekali tidak menyadari kalimat barusan berhasil membuat alis Nami nyaris bertaut.

“Aku tidak pernah manja, aku selalu masak sendiri.”

“Itu karena kau suka masak.” Baekhyun nyegir dan menengok pada Nami yang sudah mengepal tangannya. “Contoh, meminta ambilkan itu ambilkan ini, dulu setiap bersama Kyungsoo di perpustakaan pasti pura-pura tidak sampai agar Kyung mau mengambilkan buku untukmu kan?

“BAEK—“

Nami yang merasa panas sudah menjalari pipinya hampir ingin menjambak rambut Baekhyun ketika pintu kelasnya terbuka. Sosok Chaeri keluar dengan membawa setumpuk buku yang kira-kira setengah meter tingginya.

“Oh Nami, testnya batal gurunya tid— oh ada Baekhyun.” Chaeri sama sekali tidak terlihat kaget sekalipun nada ‘oh’nya ditinggikan. Mata bulat hitam pekat Chaeri segera memandang Nami dan Baekhyun bergantian yang entah kenapa Nami merasa pandangan itu seperti menghakiminya.

“Dan kau mau ke mana?” Suara Nami seperti tertahan, takut terdengar gemetar.

“Mengembalikan beberapa buku sekaligus mencari yang baru. Kalau begitu aku pergi.” Tanpa menutup pintu kelasnya Chaeri berjalan melewati Nami yang masih agak mematung ditambah Baekhyun yang sejak tadi sudah menghentikkan senandungnya.

“Chaeri! Aku akan menemanimu!” Baekhyun langsung berbalik dan tergesa mengikuti perempuan itu. Nami yang harusnya tahu kalau semakin lama ia berdiri di sana akan menimbulkan kecurigaan masih memandang dua orang itu berjalan sampai ujung koridor, sesuatu yang menyodok perutnya dengan perasaan tidak enak muncul ketika ia melihat Baekhyun mengecup puncak kepala Chaeri, rasanya benar-benar aneh, ia jijik pada dirinya sendiri, apalagi ketika sadar kalau sebenarnya dirinya sama sekali tidak punya hak untuk cemburu melihat hal itu.

***

“Pipinya Nami merah sekali, seperti apel.” Chaeri membuka mulutnya ketika ia menyadari Baekhyun yang sejak tadi berjalan di sampingnya tidak berkata apa-apa.

Baekhyun mengucek matanya dan memilih menguap lebar, rupanya merasa tidak penting untuk mengomentari pipi Nami.

“Aku jadi mau makan apel, mau menemani ke toko buah setelah pulang?” Chaeri berkata lagi, berhenti tepat di depan perpustakaan, menunggu Baekhyun membukakan pintu itu untuknya.

“Sori Chaeri, ada Hagwon.” Sambil sekali lagi menguap Baekhyun membukakan pintu itu untuk Chaeri. Tanpa mengucapkan terima kasih perempuan yang dibukakan langsung melesat masuk, Baekhyun hanya menggaruk kepalanya dan berjalan sempoyongan menuju kursi terdekat. Sekolah lebih menjadi rumah akhir-akhir ini, di rumahnya sendiri Byun Baekhyun menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar jika ada tempat tidur yang paling enak selain ruang kesehatan dengan kasur airnya, itu adalah perpustakaan bersama Chaeri dengan cerita sebelum tidurnya

Memilih tidak mengecek ke rak mana Chaeri berjalan Baekhyun langsung menjatuhkan dirinya di atas kursi, menelungkupkan kedua lengannya di atas meja, detik ketika ia merasa matanya hanya terbuka seperkian milimeter Baekhyun merasakan Chaeri sudah duduk di kursi sebelahnya.

“Hari ini aku bermimpi. Aku menaiki kereta api lalu kau sebagai masinisnya, datang memeriksa tiketku dan tersenyum lebar sekali, seperti  kucing Chesire.” Chaeri berujar, kali ini giliran ia yang bermimpi.

“Aku ganteng waktu memakai seragam masinis?” Dengan kalimat yang hampir menyerupai gumaman Baekhyun masih sempat mempedulikan persoalan itu.

“Lumayan, tapi bukan tipeku, lalu setelah itu ada pengunjung lain lagi yang masuk, tebak siapa?”

“Pochi?”

“Oh bukan anjing Baek, hewan dilarang masuk kan. Kyungsoo datang dan duduk di sebelahku, membawa koper yang besar sekali.”

“Kalian saling kenal?”

“Tidak, tapi kami bergandengan tangan, tapi tidak saling kenal. Pokoknya aneh.”

“Menurutmu itu mimpi indah?” Tiba-tiba Baekhyun duduk tegak, matanya masih setengah terbuka.

“Tidak, ada kesan D.O. akan pergi jauh. Agak menyedihkan mimpinya.”

Menatap Chaeri susah payah dengan kedua matanya  yang hanya setengah terbuka Baekhyun sudah membuka mulut, ingin mengungkapkan pendapatnya siapa tahu Kyungsoo pergi hanya untuk tamasya jadi Chaeri tidak perlu sedih, tapi tepat ketika kata pertama keluar, seseorang menggebrak meja mereka lagi. Seperti dejavu, orangnya pun sama.

“Taehyung—“

“Apa kami terlihat seperti orang tua Taehyung? Jadi kau melaporkan semua yang terjadi tentang anak itu pada kami?”  Baekhyun memutar bola mata dan mengalihkan pandangannya pada Chen.

“Dia bertengkar dengan Sena.” Kali ini Chen menarik pergelangan tangan Chaeri, menghiraukan umpatan Baekhyun dan membawa Chaeri berlari keluar dari perpustakaan.

“Chen! Pelan-pelan! Aku bisa tersandung!” Dengan terpogoh-pogoh melewati tangga Chaeri merasa jantungnya hampir meloncat setiap Chen meloncati dua anak tangga sekaligus.

“Kau harus lihat Chaeri—“

“YA aku tahu, tapi pelan sedikit.”

“Kalau kita terlambat—“

“CHEN AKU ASMA!” Chaeri terpaksa berbohong dan segera bersyukur karena Chen segera menghentikkan langkahnya. Mereka berdua terengah-engah, Chen menunjuk toilet di ujung koridor. “Sepertinya sudah selesai, coba kau cari Sena di toilet sana.” Chen melepas pegangannya yang erat dan berlalu pergi.

Sekarang Chen pergi. Dan sejak kapan Chaeri mematuhi perintah Kim Jongdae? Mencari Sena terlalu sulit, dia bukan tipe perempuan yang akan menangis sembunyi-sembunyi di toilet. Orang seperti Sena akan berlari ke atap sekolah yang itu artinya Chaeri harus naik tangga, dan sekali lagi, meskipun enggan mengakuinya, Moon Chaeri merasa malas.

“Chaeri?” Seseorang menepuk bahunya, belum sempat Chaeri sempat menoleh tiba-tiba tepat di depan wajahnya sudah ada dua edisi ensiklopedi Britannica. “Titip ya.” Dan dengan kalimat itu Sehun berlari meninggalkan Chaeri, perempuan yang ditinggalkan menatap tidak percaya pada siluet laki-laki itu sampai menghilang. Demi apapun ini hari paling mengganggu yang ada, seperti ada yang hilang dan salah, tidak berjalan semestinya dan yang terburuk, Chaeri tidak tahu hal apa yang harus disalahkan, tidak mungkin harinya menjadi buruk hanya karena Sehun yang malas datang menitipkan buku kan?

“Mungkin aku PMS.” Dan dengan kalimat itu Chaeri kembali berjalan, menuju perpustakaan kali ini dengan santai.

 ***

Langit hari ini benar-benar mendung, persis seperti mimpi yang dialami Byun Baekhyun minggu lalu. Untungnya mimpi itu tidak menjadi kenyataan, tidak ada Baekhyun yang berdiri sendiri karena saat ini ia sedang berdesakkan di kereta menuju Hagwon, tidak ada Chaeri yang pucat dan bibir kering karena Baekhyun sudah memastikan perempuan itu meminum segelas air sebelum mereka berpisah, terakhir tidak ada hidung Voldemort. Berjalan lancar setidaknya bagi Baekhyun.

Bagi Chaeri ini sore yang biasanya juga. Dengan bertopang dagu malas ia menatap Taehyung yang masih sibuk menyelesaikan soal Matematika keduanya.

“Surat cinta yang kubuat dulu, kau mau meniru suratku dan menulisnya ulang untuk Sena?” Chaeri berkata setelah yakin Taehyung sudah seperti biasa, sejujurnya agak aneh melihat betapa santainya Taehyung sekarang mengingat laki-laki itu sudah membuat dua drama di sekolah hari ini.

“Yah benar— tapi batal.” Tanpa mengangkat pandangannya dari lembar soal Taehyung menjawab.

“Kau menyukai Sena sejak kapan?”

“Minggu lalu.” Kali ini ia menatap Chaeri dan tersenyum. “Alasan? Aku suka wajahnya.” Ujarnya lagi sambil kembali menulis.

“Oh.” Chaeri memilih tidak bertanya lebih lanjut, selain tidak penting ia lebih suka menanyakan pertanyaan lain. “Kalau misalnya ada 9 perempuan yang wajahnya kau sukai, siapa yang akan kau pilih?”

“Yang wajahnya paling berbeda, tidak mungkin seleraku pasaran.”

“Oh—“ Chaeri mengangguk-angguk memilih tidak mengkritik soal menyukai seseorang hanya berdasarkan wajah. “Salah, harusnya dikuadratkan bukan dibagi.”

“Bagaimana dengan Chaeri-sunbae? Laki-laki yang kau sukai di surat itu, apakah orangnya benar-benar ada atau hanya khayalan?” Taehyung bertanya, tangannya merebut penghapus dari Cheri dan membenarkan soal yang dikoreksi tadi.

“Ada, tapi orangnya tidak akan kuberitahu.” Chaeri yang biasanya tidak menyimpan rahasia berfirasat akan lebih baik Taehyung tidak tahu soal Baekhyunlah orang itu.

“Siapapun orangnya, kurasa dia beruntung.” Mata Taehyung kembali menatap Chaeri, kalimat yang keluar dari mulutnya seperti hal mutlak seakan dia tahu persis apa keuntungan menjadi orang yang disukai Chaeri.

“Dan orang yang kau sukai, kurasa dia mendapat nasib sial.” Chaeri mengendikkan bahu, tanpa sadar tertawa ketika Taehyung menirukan ekspresi orang sakit hati.

Sore hari bersama Taehyung seperti melewatkan sore hari di rumah, berjalan tanpa aturan tapi tetap memberikan keamanan yang hangat, seperti nonton DVD di atas sofa empuk bersama keripik kentang rasa rumput laut. Junior yang memberikan perasaan nyaman tidak perlu menjadi kakak kelas yang baik, ayo jadi teman saja, hal seperti itu.

***

Ternyata hari ini Chaeri benar-benar ingin makan apel. Jadi perempuan itu memutuskan pergi ke toko buah yang pernah direkomendasikan Kyungsoo, yang katanya pir di sana rasanya manis dan segar.

Sambil bersenandung ringan Chaeri menaiki bus yang baru saja berhenti ketika ia sampai di halte, Chaeri merasa ini sore yang terbaik. Mendadak begitu saja kejengkelannya untuk hal yang entah apa tiba-tiba hilang digantikan perasaan senang tidak perlu menunggu bus terlalu lama atau mungkin karena Taehyung mengatakan suatu hari dia akan mentraktir Chaeri. Sederhana sekali mengubah mood Chaeri.

Baru saja Chaeri ingin berjalan menuju kursi paling belakang, matanya menangkap orang hilang yang dikenalnya pasti. Kyungsoo di kursi baris kedua. Matanya menatap jalan yang terus bergerak, dan dari ekspresinya jelas ia tidak menyadari keberadaan Chaeri.

“Hei.” Tanpa izin dia segera menjatuhkan diri di kursi sebelah Kyungsoo yang sedetik kemudian segera mengerjapkan matanya, pertama kali sepanjang mengenal Kyungsoo ini pertama kalinya ia melihat Kyungsoo agak panik.

“Kau mengagetkanku.” Rupanya laki-laki itu hanya kaget

“Pakai baju bebas? Kau bolos?”

“Tidak, ada keperluan.”

Chaeri entah kenapa merasa titik di kalimat itu berkesan ia tidak boleh menanyakan apa keperluan itu. Menyembunyikan rahasia, ia yakin Kyungsoo menyembunyikan sesuatu. Jangan-jangan mimpinya benar-benar jadi kenyataan? Kyungsoo akan pergi?

“Kau tidak sakit kan? Maksudku, kanker atau—“

Kyungsoo mendengus yang segera saja langsung menghapus seluruh ketakutan Chaeri. “Tidak Chaeri,

aku sehat, lebih sehat dari pada yang kau kira.”

“Oh oke, baiklah, ngomong-ngomong kau harus tahu banyak kejadian di sekolah hari ini.” Berusaha menghilangkan penasaran soal keperluan Kyungsoo, Chaeri memilih segera berganti topik.

“Hari ini Luhan bertengkar dengan seseorang, Sena bertengkar dengan seseorang. Kau tahu siapa ‘seseorang’ itu? Sebab itu adalah dua orang yang sama.” ‘Nada bicara Chaeri seperti MC acara kuis yang mau tidak mau membuat Kyungsoo tersenyum geli.

“Seseorang yang pasti tidak begitu kukenal.” Kyungsoo menjawab tenang yang langsung membuat Chaeri keheranan, ada rasa kaget yang sama seperti ketika seorang anak kelas satu SD dapat menjawab soal fungsi kuadrat yang membuat Taehyung hampir menangis tadi.

“Kau kenal Taehyung?”

“Tidak.” Kyungsoo menjawab, dan seperti gaya cuek khas Do Kyungsoo, ia tidak berniat menanyakan siapa Taehyung atau apakah Taehyung orang yang kau maksud? “Persoalan yang menarik adalah, kenapa Luhan bertengkar dengan orang itu?”

“Karena orang itu menyukai Sena juga?” Kesimpulan yang sampai detik sebelumnya pernah membuat Chaeri merasa dirinya orang pintar segera saja berubah menjadi kesimpulan paling bodoh melihat senyum Kyungsoo yang jelas menyiratkan aku-tidak-percaya-kau-sebodoh-itu-Chaeri.

“Saat ini Luhan banyak pikiran, maksudku, yang sepenuhnya salah bukan orang itu, untuk saat ini siapapun yang membuat masalah sekalipun sepele di depannya pasti akan membuat Luhan mengamuk. Orang itu hanya sial karena membuat masalah dengan Luhan yang di saat yang tidak tepat.”

“Aku tidak mengerti.” Chaeri merasa menjadi orang paling bodoh, entah kenapa.

“Maksudku, yang menjadi masalah adalah timing—“

“Bukan, aku mengerti yang itu, tapi bagaimana pun juga itu artinya Luhan melampiasan rasa kesalnya pada orang lain kan? Agak egois menurutku, kalau ia punya masalah harusnya—“

“Desember Luhan akan pindah ke China.”

Protes Chaeri soal sikap Luhan menggantung begitu saja, tiba-tiba ia merasa bumi berhenti berputar dengan rem mendadak. “Dan pulang?”

“Menurutmu? Kalau dia kesal beberapa hari ini sampai bersikap egois seperti yang Moon Chaeri katakan—tadi apa kau bilang? Melampiaskan rasa kesalnya pada orang lain?” Kyungsoo tersenyum, sarkastis.

Chaeri tidak bisa membalas, dan dia tahu Kyungsoo tidak perlu balasan. Pandangan dari Kyungsoo secara tidak langsung melabelkan sesuatu, semacam ‘rendahan’ yang entah kenapa Chaeri tidak bisa protes.

, “Aku tahu aku salah. Berhenti memberi pandangan itu padaku.” Chaeri berkata dalam hati, ia benci sekali pada dirinya sekarang.


Author’s note:

Sampai chapter lalu aku masih bilang aku bukan fans BTS.

DAN GANTI.

KARMA.

AKU SUKA TAEHYUNG OMG.  Taehyung menggemaskan bgt maaf tasy, aku makan temen suka sama taehyung juga😥

Proses pengetikan chapter ini ditemani Beautiful & Just One Day by BTS. Suka banget lagunyaaaa aaaa.

Dan sekedar info, banyak yg salah paham soal apa itu Hagwon, Hagwon itu istilah buat tempat bimbel di korea, kayak nurul fikri atau primagama itu, dan jam belajar hagwon itu intensif bgt kayak kita kalau bimbel program sbmptn tapi lebih parah lagi, aku sok tau bgt tapi aku googling katanya sih kayak gitu.

74 thoughts on “Detour #21

  1. Kirain taehyung suka sama chaeri eh ternyata sena

    banyak bnget bagian yg bikin aku gantung thor, apalagi masalah luhan n taehyung, aduh luhan parah kalo udah ngamuk

  2. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  3. Luhan ke China? Terus Sena gimana? Entahlah, yang dimaksud mimpi Chaeri itu kan Kyungsoo yang pergi tapi kok jadi Luhan? Dan mungkin je Luhan ga balik ke Korea? Please. Aku jadi buat skenario sendiri -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s