Detour #22

#22 Winter Whisper

 

Mendapat demam ketika sekolah mengalami berbagai drama rasanya seperti terisolasi dari dunia. Chaeri merasa terasingkan, sama terasingkannya dengan korban kapal karam yang terapung di rakit tengah laut. Paling janggal  karena sepanjang sejarah Chaeri tidak pernah sesedih ini saat tidak masuk sekolah, dulu ketika kena demam berdarah saat kelas delapan ia bahkan sempat berterima kasih pada nyamuk yang mengigitnya. Tapi sejujurnya, yang membuat semuanya makin menyedihkan; hari ketiga ia tidak masuk tak seorang pun datang mengunjunginya, tidak itu Chen atau pun Baekhyun. Chaeri benar-benar berharap orang yang disebut setelah Chen tadi benar-benar datang.

Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah? Sedikit pun tidak ada yang menyadari seorang Moon Chaeri absen? Atau mungkin mereka terlalu sibuk dengan segala urusan mereka. Soal Luhan yang akan pindah ke China, soal Baehyun yang sibuk dengan Hagwon, soal Kyungsoo yang punya keperluan. Chaeri sadar dia satu-satunya orang yang tidak memiliki masalah.Well, dia punya masalah, masalahnya adalah dia tidak punya masalah. Mungkin itu hal yang membuat Chaeri bukan bagian dari mereka, kalau ia tersisihkan itu artinya  karena urusan Chaeri sakit tidak terlalu berarti untuk mereka saat ini.

Mungkin semua sedang menyiapkan pesta perpisahan untuk Luhan, Baekhyun mungkin sudah menemukan teman perempuan di Hagwon yang lebih menyenangkan karena mereka punya tujuan yang sama.

Chaeri merasa menyedihkan, otaknya tidak bisa berpikir hal yang lebih menyenangkan.

Hari ketika Chaeri sudah menamatkan seluruh episode Game of Thrones, menontong ulang Yakitake Japan, menamatkan Pokemon Mystery of Dungeon untuk kedua kalinya, dan, bahkan, menonton Pororo ketika ia merasa drama menjadi terlalu membosankan. Jenuh menjadi kata yang paling tepat untuk kondisi Chaeri saat ini, seakan terperangkap dan menjadi Rapunzel karena ibunya tidak mengizinkannya pergi ke manapun.

Tepat ketika ia memutuskan akan membaca ensiklopedi Britannica menjadi bacaan sebelum tidurnya bel rumahnya berbunyi. Seakan yang baru berbunyi tadi adalah alarm tanda kebakaran Chaeri langsung melesat  menuju pintu rumahnya, kedatangan manusia menjadi sesuatu yang paling diharapkan, sekalipun itu hanya salesman pemaksa atau bahkan tukang pos salah kirim, yang Chaeri lakukan hanya ingin mengobrol. Wow, Chaeri ingin mengobrol.

“Masih jam lima, pasti bukan ayah ibu, Daeha hari ini menginap di rumah temannya. Ini pasti seseorang yang akan mengunjungiku!”  Ia berkata dalam hati terlalu bersemangat. Ini benar-benar hal baru bagi Chaeri untuk menunggu kehadiran seseorang yang bukan tukang pizza atau pembasmi kecoak. Tanpa bertanya siapa yang berada di luar sana Chaeri langsung membuka pintu rumahnya dengan senyum lebar menyambut pangeran yang datang menjemputnya.

.Annyeong!” Mulut Chaeri berhenti, masih menganga.

Berdiri tepat di depannya laki-laki itu, tangannya sudah bersiap memencet bel lagi dan berhenti ketika Chaeri sudah membuka pintu untuknya.

“Oh— halo.” Kyungsoo berkata.

Pertama kali, seumur hidup, itu adalah halo termanis yang pernah didapatnya.

Mungkin mata Chaeri terbelalak terlalu lebar karena beberapa detik kemudian Kyungsoo tertawa. Pipinya bersemu merah meskipun syal tebal sudah menutupi setengah wajahnya. Chaeri masih ingin meyakinkan bahwa laki-laki di depannya ini bukan ilusi, bahwa ini Kyungsoo yang Chaeri pikir sedang membencinya ternyata menjadi orang pertama yang datang menjenguknya.

“Uhm— boleh aku masuk?” Suaranya bergetar dan menyadari betapa banyak salju menutupi coat hitam laki-laki itu Chaeri memutuskan segera membuka lebar pintu rumahnya.

“Aku benar-benar tidak menyangka, kau orang terakhir yang kupikir akan menjengukku.” Chaeri berjalan mundur masih memperhatikan Kyungsoo hati-hati seakan takut kalau pandangannya lepas Kyungsoo akan hilang. Sambil melepas syal dan coatnya Kyungsoo hanya mengendikkan bahu.

“Banyak yang harus kuceritakan, tapi pertama boleh aku minum sesuatu yang panas dulu? Suhu di luar sudah minus.” Ujarnya sambil menggosok hidungnya yang kemerahan.

Chaeri langsung mengangguk lebih dari dua kali dan berjalan menuju dapurnya yang bergabung dengan ruang makan diikuti Kyungsoo berjalan di sampingnya. Kyungsoo datang membawa wangi musim dingin dengan campuran citrus dan Chaeri menyukainya, terkurung berhari-hari di rumah membuatnya bosan dengan oksigen di rumah, terlalu pengap.

“Aku bawa obat, tapi melihat wajahmu kurasa kau tidak sakit lagi?” Mendengar suara itu entah kenapa membuat sesuatu yang nyaman menyelimutinya, kenyataan kalau Do Kyungsoo datang mengingatkan Chaeri kalau ia masih menjadi bagian dari laki-laki itu, Kyungsoo masih menganggapnya teman.

“Besok aku pasti bisa masuk.” Chaeri berusaha tidak terdengar terlalu gembira. Sebelum menyalakan kompor untuk memanaskan susu Chaeri yang menggulung lengan bajunya yang kepanjangan baru menyadari sesuatu yang fatal. Jumper zebranya, piyama paling nyaman sekaligus menggelikan, hoodie berbentuk kepala zebra masih menutupi kepalanya, dan kalau tidak salah, seakan untuk menambah kekonyolancosplay zebra ini ada ekor zebra satu meter di bagian belakang celananya.

“Kyung—“ Langsung saja Chaeri menengok, secepat yang ia bisa padahal ia tahu semua sudah terlambat, tentu saja tadi Kyungsoo tertawa karena melihat piyama ini. Chaeri semakin mati kutu ketika menyadari Kyungsoo sudah duduk di kursi dengan tangan di atas meja makan menopang dagunya sambil tersenyum geli.

“Hmm?” Siapa pun yang mengenal Kyungsoo tahu laki-laki itu tidak akan tersenyum tanpa alasan yang jelas. Kyungsoo tidak seperti Baekhyun yang bisa tertawa karena melihat ekspresi tikus.

“Piyama ini, aku bersumpah bukan aku yang membelinya—“ Chaeri berkata jujur dan memilih tidak mengatakan bahwa ia berujung berterima kasih pada Daeha karena ini piyama musim dingin paling nyaman yang pernah dikenakannya.

“Zebra cocok untukmu.” Sedetik kemudian Kyungsoo sudah mengganti ekspresi gelinya, kembali menjadi si datar tanpa emosi yang Chaeri yakin itu pergantian ekspresi paling cepat yang pernah ia lihat di dunia ini, lebih cepat dari pada Lucy di Narnia.

“Terima kasih.” Tersenyum sarkastik Chaeri kembali membalik badan dan memanaskan susunya.

Sambil menuangkan susu pada mug  The Simpsons kesukaannya, Chaeri melirik Kyungsoo, sedang menguap lebar tanpa ditutup yang menurut Chaeri itu pemandangan lucu.

“Silahkan.”

Sambil menunggu Kyungsoo meminum susunya Chaeri memilih bungkam, ia akan menjadi anak baik menunggu Kyungsoo memulai ceritanya. Perasaan berdebar menunggu cerita ini mengingatkan Chaeri pada masa kecil saat menunggu neneknya mulai mendongeng. Kira-kira apa yang akan diceritakannya? Berita apa yang ketinggalan sampai Kyungsoo mau menjenguknya? Entah kenapa rasa sayang sekaligus hormat pada Kyungsoo meningkat. Kyungsoo seperti tentara yang sedang melakukan misi rahasia terlarang, bicara soal misi terlarang, Chaeri teringat laki-laki itu.

“Baekhyun bagaimana?” Akhirnya Chaeri berkata duluan.

“Baekhyun agak depresi tidak melewati passing grade di Hagwonnya tapi dia baik-baik saja.” Ujar Kyungsoo setelah menurunkan gelasnya, masih ada kumis susu di atas bibirnya. Chaeri memutuskan merapatkan bibir menahan senyum sekaligus keinginan untuk mengomentari Kyungsoo soal cara minum susunya yang masih sama ketika Chaeri masih TK.

“Luhan-Sena?”

Kyungsoo tertawa, mendengar Kyungsoo dua kali tertawa rasanya seperti mendapat berkat.“Aku merasa seperti diinterogasi.”

“Kau memang diinterogasi, tapi kupikir lebih baik aku berhenti bertanya. Bukankah banyak yang ingin diceritakan?”

Laki-laki itu langsung mengangguk, dan menarik ranselnya ke atas meja. “Baekhyun memintaku untuk menjengukmu dan mengantarkan surat ini.” Sebuah kertas lecek terlipat dijulurkan Kyungsoo dari bagian luar ranselnya.

Chaeri langsung menerima dan nyaris ingin meremas saking senangnya, seakan mendapat koran setelah sekian lama terisolasi di penjara. “Aku baca nanti saja, lalu kenapa Baekhyun memintamu datang? Maksudku, kenapa dia tidak datang sendiri saja?”

“Jawabannya ada di surat itu, tapi kalau kau mau kuceritakan terserah.”

“Kalau begitu aku baca dulu.”

Chaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Halo Chaeri. Sudah lama aku tidak menulis surat, aku merasa seperti nenekku karena dia satu-satunya orang yang mempertahan metode surat untuk menyampaikan pesan pada cucunya (padahal ibuku sudah membelikannya ponsel). Tukang posku adalah Kyungsoo, dia mungkin tukang pos paling mahal yang pernah kubayar (tapi ujungnya dia tidak meminta bayaran sih) karena sulit sekali memintanya untuk menjengukmu. Jadi pertanyaan kenapa aku tidak bisa menjengukmu, karena, karena, karena…

Kau penasaran?

Ayo tebak.

  1. Baekhyun sibuk hagwon
  2. Baekhyun takut tertular virus
  3. Baekhyun lupa
  4. Baekhyun malas
  5. Tidak ada yang benar

Chaeri mengernyit. Ia mengangkat kepalanya menemukan Kyungsoo yang sedang menelungkupkan badannya di atas meja. “Surat ini banyak basa-basinya.”

“Aku tahu, lihat dari wajahnya ketika menulis aku yakin itu bukan surat biasa.”

Setelah menghela napas, dan memutuskan jawabannya adalah A Chaeri kembali membaca surat itu.

Jawabannya bukan A Chaeri.

Begitu saja di otaknya langsung muncul muka Baekhyun dengan senyum kemenangan karena Chaeri salah menebak, Baekhyun paling suka kalau Chaeri salah.

Jawabannya E karena tidak ada yang benar dari semua itu. Aku tidak bisa menjengukmu karena ibuku membuat masalah. Kau tahu si guru seni yang baru itu? Dia pacar baru ibuku, sekarang ibuku menjemputku setiap hari mengatakan kalau badai salju bisa datang sewaktu-waktu dan terus terang itu menjikkan, terlalu hipokrit karena aku tahu dia hanya berpura-pura baik di depan guru baru itu. Sekarang aku pulang selalu memanjat pagar belakang dan menumpang pada Luhan. Luhan baik-baik saja, Kyungsoo bilang dia sudah memberitahumu soal kepindahan itu. Dan Luhan tidak pernah mau mengantarku ke rumahmu, dia memang sialan.

Aku meminta Kyungsoo datang menjengukmu hanya karena dia laki-laki yang paling kupercaya, Chen selalu sibuk dengan proyek filmnya dengan Seukri dan kurasa dia mengira kau sebenarnya tidak sakit (dia mengira kau sedang bertengkar denganku makanya tidak masuk, konyol kan?)  Taehyung baru tahu tentang kita berdua, dia bertanya pada Sena kemana kau selama ini, kenapa kau tidak menceritakan soal kita berdua padanya? Tapi sudahlah.

Lalu Sena, dia tidak menjengukmu karena belakangan ini ia selalu pulang bersama Luhan. Luhan pulang ke China dipaksa ayahnya dan Sena berusaha membujuk ayah Luhan soal itu.

Masih banyak yang ingin kutulis tapi Kyungsoo sudah mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran membuatku merasa bersalah, oh kau belum kuberitahu. Kyungsoo juga akan pindah dari Korea.

Kalimat terakhir segera membuat Chaeri berhenti membaca.

“Kapan kau pindah?”

Kyungsoo mengangkat kepalanya, menatap Chaeri dengan datar, seakan Chaeri baru bertanya kepadanya sekarang tanggal berapa. “Setelah lulus.”

Memilih tidak mendramatisir soal hal itu karena Kyungsoo sendiri santai sekali, Chaeri kembali membaca suratnya.

Soal Kyungsoo kurasa kau bertanya sendiri saja padanya. Jangan lupa minum air putih.

P.S. Menurutku Kyungsoo tampan sekali hari ini, kau jangan menyukainya ya? Kekekekekekeke

Dan Chaeri tidak tahu apa lagi yang harus dia dengar dari Kyungsoo kalau surat Baekhyun saja tampak sudah menceritakan semuanya.

“Lalu apa ceritamu Kyungsoo?” Chaeri mengangkat kepalanya, kali ini melihat Kyungsoo yang masih belum mengetahui soal kumis susunya membuat Chaeri merasa bersalah. Ia segera mengambil tisu dan menjulurkannya pada Kyungsoo.

“Sejujurnya tidak banyak, sekarang aku lebih suka kau menginterogasiku.” Kyungsoo menatap bingung pada tisu itu dan Chaeri menunjuk bibirnya sendiri. Beberapa detik kemudian wajah merah Kyungsoo menjadi ekspresi yang paling ingin Chaeri abadikan. Dia sadar ia tidak ingin laki-laki ini pergi.

Chaeri menggigit bibir sambil menyusun kalimat yang membuatnya tidak terlihat begitu menyedihkan. Rasanya menjengkelkan karena Kyungsoo menganggap kepergiannya ini adalah hal biasa.

“Kutebak keperluan waktu itu berhubungan dengan kepergianmu?”

“Benar. Kemarin aku sedang membuat visa.”

“Jadi, kau memutuskan melanjutkan kuliahmu di luar negeri? Negara apa? Ngomong-ngomong aku sama sekali tidak tahu jurusan apa yang akan kau ambil.”

“Jepang, kedokteran kurasa.”

Dokter. Dokter Do Kyungsoo. Sungguh tidak terduga.

“Kalau soal kedokteran, bukankah di Korea juga—“

“Aku tahu, aku hanya ingin menemani ibuku di sana.” Kyungsoo berkata datar, ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia bisa menceritakan pada Chaeri semudah ini. Kemarin ia menceritakan semuanya pada Baekhyun  Luhan dan itu jauh lebih sulit, bahkan dari pada ketika pidato sebagai pemegang rangking tertinggi di upacara penerimaan murid baru.

Menyadari perubahan ekspresi Chaeri Kyungsoo kembali membuka mulutnya. “Orang tuaku bercerai.”

Seperkian detik Kyungsoo yang mengambil jeda segera membuka mulut lagi. “Ada apa dengan ekspresimu? Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, aku tidak begitu ambil pusing.”

“Jadi wajar selama ini kau tidak mengerti bagaimana cara menghadapi perempuan.” Chaeri tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya, bersama Kyungsoo ia mencoba tidak menjadi sentimental, Kyungsoo selalu menuntun pembicaraan ini menjadi sama santainya dengan pembicaraan cuaca-hari-ini-cerah-ya.

Kyungsoo kembali meneguk susunya, kali ini mengelap bibirnya setelah minum. “Dulu memang. Tapi kurasa tidak juga, entahlah aku tidak tahu.”

***

Setelah memutuskan menunggu sampai orang tua Chaeri pulang, Kyungsoo yang benar-benar mengantuk menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu. Chaeri memaksanya jangan pulang sampai setidaknya perempuan itu tidak sendirian di rumah, orang tuanya pulang malam dan adik perempuannya menginap di rumah teman, membiarkan seorang perempuan muda sendirian di rumah bukan perbuatan yang gentle, itu yang Chaeri katakan sehingga Kyungsoo memilih pasrah dan membiarkan Chaeri memesan pizza untuk makan malam mereka

“Aku baru ingat telpon rumahku rusak, boleh aku pinjam ponselmu?”

“Ambil saja di tas.” Kyungsoo yang sudah memejamkan matanya menunjuk ransel yang berada di dekat kakinya.

Menyadari Kyungsoo sudah memejamkan matanya Chaeri memilih mematikan televisi dan menyalakan radio, mencari lagu paling pas sebagai pengantar tidur. Ia merasa membuat tidur laki-laki ini berkualitas adalah balas budinya  untuk Kyungsoo. Kyungsoo mendengkur pelan sekali, seperti sepupu bayinya.

Dengan hati-hati ia mengambil ransel yang berada di bawah kaki Kyungsoo. Chaeri mengerang frustasi begitu membuka resletingnya, mencari Iphonenya yang berwarna hitam di dalam tasnya yang hitam berserta semua barang-barangnya yang hitam benar-benar sulit. Chaeri memutuskan mengeluarkan semua barang yang ia pegang. Mengetahui benda apa saja yang dibawa oleh seorang Kyungsoo membuatnya merasa lebih mengenal laki-laki itu. Ia baru tahu Kyungsoo menyukai Toblerone, Kyungsoo juga membawa hand sanitizer dan sapu tangan beserta handuk besar mengingatkan Chaeri pada ibunya, tempat pensilnya sangat berat dan yang membuat Chaeri tertawa Kyungsoo membawa buku panduan pertolongan pertama. Bawaan laki-laki ini kebalikan dari Baekhyun yang hanya membawa satu buku tulis, baju ganti, dua batang pensil lalu novel Hobbit yang tak pernah habis dibacanya (selalu saja masih bab satu) dengan alasan sibuk.

Setelah menemukan ponsel dan memanggil pizza Chaeri memilih bermain dengan ponsel Kyungsoo. Mengetahui laki-laki ini akan pergi membuatnya menyadari kalau ia tidak pernah benar-benar mengenal Kyungsoo, mereka memang dekat, tapi sekarang definisi dekat bagi Chaeri sudah berubah. Kalau dipikir membicarakan urusan pribadi pun tidak pernah, hanya gosip (dan kalau Kyungsoo yang bilang sudah pasti itu fakta) sekolah dan Pokemon. Chaeri menghela napas.

Tidak ada game selain permainan mencari kata dan Tetris. Sangat Kyungsoo. Foto-foto kebanyakan makanan dan catatan di papan tulis (yang artinya Kyungsoo bisa juga malas menulis), satu selca bersama Baekhyun yang Chaeri yakin sekali itu Baekhyun yang memaksa. Ada rekaman tikus putih milik Chen sedang berlari di roda putarnya, menggelikan membayangkan Kyungsoo merekam hal itu, dan Chaeri jadi mengerti apa yang Baekhyun maksud dengan lucu sekali ekspresi tikusnya ketika terpeleset. Masih tertawa Chaeri menggeser jarinya, terus mencari foto yang bisa dikomentari hingga matanya berhenti pada satu foto.

Tidak ada yang istimewa dari foto ini yang sampai bisa membuat seorang Kyungsoo mau menyimpannya, karena ini foto dirinya, ini foto Moon Chaeri. Sesaat Chaeri ingin membangunkan Kyungsoo bertanya bagaimana bisa ia memiliki foto itu, tapi detik selanjutnya ia ingat, itu foto yang Baekhyun ambil ketika mereka liburan. Pagi buta ketika Baekhyun menggendor pintunya dan begitu dibuka ia malah memfoto Chaeri dengan rambut singanya.

Untuk apa Baekhyun memberikannya? Jawabannya hanya di Baekhyun karena Chaeri bertaruh tidak mungkin Kyungsoo yang meminta foto itu.

“Chaeri?”

Kyungsoo memanggilnya pelan tapi suara itu datang menyergap seperti menangkap basah perbuatannya. Chaeri langsung berdiri dan memaksakan senyum yang langsung membuat Kyungsoo mengernyit.

“Kau kena—“

“Aku tidak apa-apa! Tadi kenapa memanggilku?”

“Aku mau ke toilet.” Kyungsoo berujar dan berdiri dari sofa. Chaeri menelan ludah, ia masih memegang ponsel Kyungsoo dan firasatnya mengatakan kalau Kyungsoo tahu Chaeri masih memegang ponselnya itu akan mencurigakan, maka ia menyembunyikan ponsel itu di kantong piyamanya.

Seakan Kyungsoo bisa membaca pikirannya, laki-laki itu malah tetap berdiri di tempat yang sama dan memandang Chaeri dari kepala sampa kaki seperti mencari rahasia yang disembunyikan Chaeri.

“Ada apa—“

“Rambutmu lebih rapi.”

Oh tipikal Kyungsoo. Chaeri memutar bola mata merasa bodoh mengira Kyungsoo menyadari Chaeri masih memegang ponselnya“Mengikuti saranmu memakai vitamin rambut.”

“Oh— iya.” Kyungsoo terlihat menjadi seseorang yang tiba-tiba malu sendiri, benar-benar aneh, baru Chaeri ingin bertanya kenapa laki-laki itu sudah berjalan cepat menuju toilet.

***

Baekhyun bersiul sambil memilih cream puff  mana yang akan dibelinya untuk Chaeri. Satu tangannya sudah memegang kantong berisi apel hijau dan merah karena ia tidak tahu Chaeri lebih suka jenis yang mana, beberapa hari yang lalu perempuan itu hanya mengatakan ia ingin apel.

“Permisi, aku mau yang ini.” Baekhyun menunjuk rasa Nutella dan tersenyum puas.

***

Masih mengunyah pinggiran pizzanya Chaeri membuka mulut. Bukannya ia tidak menikmati film Sound of Music yang ia pilih setelah menang suit tapi entah kenapa ia ingin berbicara dengan Kyungsoo, ketika mengetahui waktunya bersama Kyungsoo sudah terhitung bulan perasaan ingin mendengar dan didengar Kyungsoo meningkat dua kali lipat. “Dulu aku menyukaimu.” Dan entah kenapa topik yang keluar bukan Pokemon atau apa, Chaeri hanya mengatakan apa yang berada di kepalanya.

Kyungsoo tersedak, ia hampir ingin memuncratkan Colanya kalau saja Chaeri tidak segera memberinya tisu.

“Ma-maksudku hanya tertarik..“ Menyadari perubahan ekspresi itu Chaeri segera meralat kalimatnya. Kyungsoo memang memiliki bakat merubah ekspresi, sedetik lalu ia terlihat seperti laki-laki yang sedang menonton film paling membosankan yang pernah ada dan sekarang dua pipi sampai telinganya sudah memerah seakan tiba-tiba adegan yang ditontonnya berganti menjadi adegan 17 tahun ke atas. “Begini, dulu, hari kedua aku masuk sekolah, aku menyadari aku selalu membaca buku yang sama dengan orang bernama Do Kyungsoo. Yah intinya aku penasaran bagaimana tampang orang yang selalu meminjam buku yang sama denganku.”

Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya, harusnya Chaeri menjadi orang yang paling kaget hari ini dengan semua berita yang didapatnya, tapi sekarang Kyungsoo merasa semua jungkir balik.

“Aku— sejujurnya, astaga ini memalukan.” Entah kenapa Chaeri menyesal memulai topik ini, seperti mengangkat aib kalau dulu dia salah satu fans Kyungsoo. Hal yang bisa ia lakukan adalah menutupi wajahnya, tidak seorang pun tahu kecuali si penjaga perpustakaan kalau Chaeri sempat menaruh perhatian lebih pada Kyungsoo.

“Kau tertarik padaku? Kita sudah bertemu beberapa kali di perpustakaan, dan aku ingat kau sama sekali tidak tertarik padaku.” Tiba-tiba Kyungsoo teringat, saat itu di perpustakaan ketika semua belum berubah, ketika sosok perempuan dengan rambut keriwil membaca dua buku sekaligus menarik perhatiannya, membuatnya bertekad untuk berteman dengan Moon Chaeri hanya agar bisa memperbaiki rambut berantakan perempuan itu, yang ironisnya sekarang rambut Chaeri tidak lagi menjadi perhatian utama Kyungsoo. Semua berubah begitu saja, terjadi tanpa tahu cerita mereka sudah dimulai.

“Sebenarnya ini konyol. Kalau diingat dulu aku sempat cemburu ketika Nami ternyata menyukaimu—“ Chaeri berhenti, tampaknya ia selalu salah memilih kata karena kalimat tadi sekali lagi membuat pipi Kyungsoo semerah udang rebus. “Sebenarnya bukan cemburu—intinya dulu aku hanya ingin bertemu denganmu, dan mengetahui ada orang yang menyukaimu entah kenapa itu terasa lebih sulit.”

“Kita sudah bertemu dulu kan? Ingat ketika kau menggantikan Sena piket dan akhirnya aku mengantarmu pulang karena sudah kemalaman?”

Chaeri mengangguk, sekarang ia tertawa karena rasanya itu benar-benar konyol. “Aku mau membuat pengakuan. Sejujurnya saat itu aku tidak tahu kalau kau adalah Do Kyungsoo, dan caramu memandangku, dulu aku sempat mengganggapmu menjengkelkan.”

“Itu karena rambutmu berantakan sekali—“

Chaeri hanya bisa menggigit bibirnya berusaha menahan tawa, merasa semua nostalgia ini sangat konyol. Saat ia memimpikan siapa Kyungsoo ketika sebenarnya Kyungsoo yang ia cari sudah berada di depannya, ketika gelisah mengetahui Nami menyukai Kyungsoo. “Ini lucu sekali.”

“Pantas, reaksi ketika aku memberitahumu namaku Kyungsoo, ketika saat itu kau dipanggil Sungjong karena jejak kakimu mengotori perpustakaan.”

Chaeri menjetikkan jarinya. “Itu dia! Saat itu aku mencari Kyungsoo karena Luhan menitipkan surat cinta dari Sena untukmu! Saat itu aku tidak tahu siapa Kyungsoo oleh karena itu aku bertanya padamu siapa Kyungsoo dan kau bilang kau Kyungsoo, tentu saja aku kaget, kemarin kita pulang bersama membicarakan Pokemon  kukira kau anak suka main dan mengetahui kau Kyungsoo yang itu, yang meminjam biografi Soros dan buku-buku sulit lainnya aku tidak percaya kau juga seorang otaku  Pokemon.” Chaeri menarik napas, itu kalimat terpanjang nonstop yang pernah ia keluarkan seumur hidup, sedetik kemudian ia merasa ia punya bakat rap.

Seakan mereka berdua baru saja menemukan teori paling hebat, Chaeri dan Kyungsoo saling berpandangan. Merasa ada sesuatu yang terhubung di antara mereka berdua tanpa disadari.

“Masuk akal.” Kyungsoo menutup mulutnya menyembunyikan senyum geli karena merasa kebetulan ini menjadi intermezzo yang menyenangkan. “Kenapa tidak menyukaiku lagi?”

Aku. Salah. Bicara. Kyungsoo menggigit bibir.

Menjadi perempuan tidak peka Chaeri hanya tertawa dan mengendikkan bahunya. “Kurasa aku tipe perempuan yang malas menyukai laki-laki yang sudah disukai perempuan lain. Sainganku Nami dan dulu ada Sena juga. Tapi bukankah ini lucu? Kau hampir menjadi orang yang kusuka Kyungsoo!”

“Yah lucu.” Kyungsoo tertawa.

“Aku tidak bisa membayangkannya. Seperti di komik, mungkin aku akan berdebar melihatmu, melihat Do Kyungsoo, konyol sekali kan?”

Kyungsoo kali ini mengendikkan bahu, memilih tidak menjawab, tidak ingin mengiyakan. Karena menurut Kyungsoo, itu sama sekali tidak konyol.

***

 Angin musim dingin membuat rambutnya terangkat, Baekhyun mengerang kesal, ia ingin sampai di rumah Chaeri dengan rambut yang paling membuatnya terlihat tampan. Sambil menunggu busnya datang Baekhyun mengeluarkan ponsel, segera mencari kontak Kyungsoo.

“Halo Kyung?”

“Hei Baekhyun!”

Pertama yang Baekhyun yakin adalah, yang mengangkat sudah pasti bukan Kyungsoo sendiri. Tapi siapa perempuan yang bisa berada di sebelah Kyungsoo malam-malam begini?

“Aku mau bica—“

“Ini Chaeri, Kyungsoo di toilet ada apa?”

Fakta Kyungsoo belum pulang dari rumah perempuan itu sungguh membuat Baekhyun ingin mengutuk sahabatnya, dalam prediksinya Kyungsoo hanya memberikan surat, basa-basi lalu pergi. Bukan hampir setengah menginap di rumah perempuan itu.

“Katakan jangan lupa bawa kamus Biologi besok.” Baekhyun menutup telponnya. Ia ingin memberi kejutan pada Chaeri tapi justru dirinya yang mendapat kejutan.

***

Jam sepuluh malam, Kyungsoo memutuskan pulang ketika Chaeri memberitahu orang tuanya akan pulang setengah jam lagi.

“Aku antar sampai halte!”

“Tidak perlu, orang sakit diam saja di rumah.” Kyungsoo menyibukkan diri dengan melilitkan syal pada lehernya, ia sedang tidak ingin menatap Chaeri.

“Aku sudah sembuh.”

“Orang baru sembuh diam saja di rumah.”

Sekali lagi Chaeri menangkap nada itu dari cara bicara Kyungsoo, nada yang menandakan kalimat itu tidak boleh dibantah.”Baiklah, orang sakit yang baru sembuh memang lebih baik di rumah.”

Kali ini Kyungsoo menatapnya, ada sesuatu yang berbeda dari cara Kyungsoo melihatnya. “Jangan lupa minum air putih.”

“Baekhyun yang menyuruhmu?” Chaeri berusaha tidak memutar bola mata, tapi ketika Kyungsoo menggelengkan kepala dan menyentuh bibirnya seakan itu hal biasa yang dilakukannya, Chaeri merasa tersengat.

“Bibirmu kering.” Kyungsoo melepas jarinya, meninggalkan sensasi aneh di bibir Chaeri.

Refleks, Chaeri menarik napas dan mengangguk, tiba-tiba ia ingin Kyungsoo segera pergi. “Oke, aku akan minum dua gelas sebelum tidur.”

“Selamat tidur.” Kyungso tersenyum. Senyum yang kalau Baekhyun lihat pasti dia akan mengatakan “Nah, kubilang apa, Kyungsoo tampan kan hari ini?”

***

Ini sudah hari ketiga Byun Baekhyun tidak pulang ke rumahnya, dua hari pertama ia sudah merepotkan Luhan, hari ini ia berencana menginap di rumah Chen yang itu artinya di pagi hari ia akan bertemu Chaeri. Memikirkan hal itu, ia memutuskan akan menginap di rumah Kyungsoo.

Deringan pertama ketika ia menelpon Kyungsoo langsung diangkat, oleh suara sama yang membuat monster hijau di perut Baekhyun bangkit.

“Kyungsoo menginap di rumahmu?” Kalimat itu terdengar lebih dingin dari yang Baekhyun inginkan. Ketika beberapa detik Chaeri tidak menjawab Baekhyun berdehem, apa Chaeri benar-benar takut?

“AKU LUPA MENGEMBALIKAN INI.” Chaeri menjerit, jeritannya sudah cukup membuat Baekhyun yakin kalau perempuan ini benar-benar sehat. Ia mulai curiga teori Chen kalau Chaeri pura-pura sakit benar.

“Kyungsoo sudah pulang?”

“Sudah sejak setengah jam yang lalu. Bagaimana ini Baek?”

“Kalau besok kau masih tidak masuk titipkan saja ke Chen.”

“Kau tidak bisa datang ke sini? Aku akan menitipkannya padamu dan kau ke rumah Kyungsoo sekalian mengambil kamus Biologi.”

Baekhyun ingin memutar bola mata, gampang sekali Chaeri mengatur skenario. Tapi sejujurnya, ia memang sudah berada di depan rumah Chaeri. Sejak setengah jam yang lalu ia berjalan uring-uringan tanpa arah dan begitu mengangkat kepala, tubuhnya sudah membawa diri ke rumah Chaeri.

“Maaf, tidak bisa.”

“Ck, iya aku buang sekarang! Maaf Baek ibuku sedang menyuruhku membuang sampah—“

“Tidak apa-—“

Hal yang selanjutnya terjadi membuat Baekhyun ingin ditelan bumi, tidak ada hal yang lebih canggung dari pada berbohong ketika detik berikutnya kebohonganmu langsung terungkap. Chaeri yang baru saja membuka pintu rumah sudah ingin melempar laki-laki itu dengan kantong sampah ketika tahu-tahu Baekhyun berteriak.

“APRIL MOP! Aku datang padamu Chaeri!”

Lelucon paling garing yang pernah Baekhyun keluarkan tapi Chaeri memutuskan tidak mengingatkan Baekhyun soal sekarang sudah bulan November. Ia lebih suka menanyakan kenapa laki-laki itu berbohong.

“’Maaf tidak bisa’ apa ya?”

“Hehehehe.” Baekhyun berjalan mendekatinya, hingga ia berada setengah meter di depan Chaeri lalu melakukan hal yang menurut Chaeri berada di urutan terakhir daftar apa yang mungkin terjadi. Tanpa izin Baekhyun sudah menempelkan bibirnya, ciuman rasa Nutella. “Aku sudah mengambil penyakitmu. Besok masuk ya?”

Baekhyun langsung berlari, seakan musim dingin memanggilnya laki-laki itu langsung menghilang entah berlari ke mana yang membuat Chaeri tahu Baekhyun lari bukan untuk main kejar-kejaran. Ia ingin melarikan diri dari Chaeri. Baru saja Chaeri ingin melempar kantong sampahnya asal, tangannya yang lain merasakan sebuah beban, kantong hitam sudah terpegang olehnya, rasanya seperti tersihir karena Chaeri sama sekali tidak sadar Baekhyun membuatnya memegang kantong itu.

“Ibu! Aku ada apel!” Berusaha menahan senyumnya menjadi terlalu lebar ia pun kembali memasuki rumah.

 


Author’s note:

Ngerasa bizarre banget ga sama chapter ini? Kayak ada yang aneh dan ganjilnya gitu? Ngerasa kan ya. Kalau enggak ya udah ga papa, tapi kalau iya, berarti kita tos.

Kenapa judulnya winter whisper? Karena aku ngerasa musim dingin bisik2 sama kita, kayak ngasih beberapa clue  coba tebak apa maksudnya.

Fokus di sini emang lagi BaekChaeKyung karena kita butuh istirahat, capek kan kalau Taehyung muncul lagi bikin gempar terus sena-luhan kenapa2 lagi. Aku memutuskan  ngebuat ending chapter ini sangat damai (baekhyun mencium chaeri itu damai kan) karena aku ga ingin bikin kalian penasaran sama chapter selanjutnya, karena,

Tebak.

Enggak deng, aku malas tebak-tebakan. Ya karena update selanjutnya mungkin bakal lebih lamaaaaa.

Aku capek untuk beberapa alasan. Oh bukan! Bukan karena BaekYeon, meskipun news itu cukup membuatku tercengang tapi enggak mengganggu. Bukan juga karena Kris, mungkin…karena….KYUNGSOO MAKIN GANTENG.

Enggak, bukan itu.

Btw, kemarin anniversaryku di blog ini, yang itu artinya fanficku yang pastel udah setahun o.o alasan aku ga update pastel karena aku merasa kentang sama pastel, bukannya writer’s block, ide udah ada, ya cuma itu, kentang. Ngerti kan, kentang banget dasar terus jadi kesel jadi ya gitu.

Sampai jumpa~BAI.

74 thoughts on “Detour #22

  1. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s