It’s a Wonderful Cat’s Life [3/?]

cats-wonder_526F672C_zpsd90ac866

my name-meow?!

now playing      Daisy Stereo Dive Foundation

Ini semua hanya mimpi, Shinyoung ingin percaya akan pernyataan itu. Namun,apa yang di depannya sekarang bukanlah hal yang bisa diterima dengan akal sehat tetapi juga tidak bisa ditolak keberadaannya. “Aaahh!” Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya, berusaha mengeluarkan rasa frustasinya. Kucing jingga di dekat kakinya meringis saat mendengar teriakan yang memekakan telinga itu.

“Bisakah kau tidak berteriak-teriak? Gendang telingaku rasanya mau rusak…” pinta V pelan. Namun yang ia terima adalah wajah marah Shinyoung. Perempuan itu mendengus. “Mungkin bila kau berhenti berbicara—mengeong, apapun itu, aku tidak akan teriak-teriak seperti orang tidak waras!” V langsung mengatup mulutnya, takut akan aura gelap di sekitar Shinyoung.

Telinga V menangkap bunyi—betapa ia merindukan kemampuan kucingnya. Ia memutar kepalanya ke arah suara itu. “Shinyoung, kau tidak apa-apa?” seorang lelaki keluar dari pintu pagar rumahnya. Shinyoung yang memang mengenal tetangganya hanya menatapnya kosong. Sesuatu yang berbeda dengan reaksi V yang langsung melompat ke dekat kaki perempuan itu, ketika ia melihat seekor anjing Husky dengan mata biru yang berdiri di samping lelaki yang baru saja bertanya.

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya lupa membawa sesuatu dari Eunbi unni,” Shinyoung berdalih, tanpa sadar tangannya memegang kepala V, seperti sebuah refleks untuk menenangkan kucing jingga yang setengah kalap karena takut.

Lelaki tetangga itu menyadari keberadaan V dan menunjuknya. “Kau mendapatkan kucing baru?” tanyanya dengan senyum tersungging di wajahnya. Shinyoung tidak tahu kenapa, hanya mengangguk, mengiyakan perkataan laki-laki itu.

“Ia sepertinya kelaparan, jadi aku membawanya pulang,” Shinyoung berdiri, tangannya memegang V yang hanya bengong. Bingung, kenapa semuanya berakhir seperti ini—di tangan seorang gadis yang ia telah ikuti sepanjang hari dan mungkin hampir saja terjun bebas ke dalam Sungai Han. “Iya ‘kan?” jemari Shinyoung mengelus kepala V, yang hanya dapat mendengkur, menyadari gerakan itu membuatnya menjadi lebih tenang.

Tetangganya itu tertawa melihat perilaku Shinyoung. “Ya sudah, kalau tidak ada apa-apa,” ujarnya sambil menahan anjingnya yang sudah siap berlari ke arah gadis dan kucing itu—V berharap bukan ke arahnya. “Tapi kalau ada masalah, jangan sungkan untuk memanggilku ya”.

Shinyoung menganggukan kepalanya dan melambaikan tangan. Meraih ganggang pintu pagarnya, akhirnya ia masuk bersama dengan V digendongannya. “Bagaimana semuanya menjadi seperti ini, eh?” V mendongakan kepalanya ke Shinyoung yang menatapnya masam, masih tidak percaya ia mengerti apa yang kucing ini baru bicarakan.

Ia menghelakan napas sambil melangkah. “Lebih baik kau diam saja, sebelum aku berubah pikiran dan melemparmu ke anjing tadi”.

V menunduk dan bertanya-tanya mengapa seseorang bisa terdengar begitu sadis.

Udara dingin dari luar akhirnya menghilang saat Shinyoung—masih menggendong V, memasuki ruang tamu. Gadis itu meletakkan tasnya sembarangan di atas sofa dan menjatuhkan V ke lantai. Kucing jingga itu mendesis. Seharusnya Shinyoung memberikan peringatan sebelumnya. Cemberut, V mengalihkan pandangannya dari gadis yang hanya menatapnya dengan tatapan setengah peduli. Kucing itu menutup matanya dan menghelakan napas saat ia merasakan udara hangat dari pemanas ruangan yang baru saja dinyalakan. Ia sudah ingin meringkuk dan tertidur. Hari ini merupakan hari yang melelahkan—dan terlalu gila untuknya.

Namun, keinginan itu langsung sirna ketika V merasakan tangan mengambilnya dengan memegang perutnya. Ia mengeong keras. “Turunkan aku!”

Shinyoung langsung meletakannya ke atas sofa. Saat V mendongakkan kepalanya, ia dapat melihat gadis manusia di depannya sedang menyilangkan kedua tangannya dan menatapnya tajam. “Kau masih berbicara, tapi… itu tidak mungkin…”

Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan wajah datar?! V bertanya-tanya dalam hati. “Tapi kau mendengarku ‘kan? Kau juga melihatku… sebagai manusia,” kata kucing itu.

Ia sebenarnya masih tidak percaya dengan hal segila kucing jadi manusia, atau manusia mengerti perkataan kucing. Tetapi, melihat kondisi seperti ini, V tidak bisa hanya diam saja. Ia harus mencari penjelasan mengenai semua ini, mengetahui satu dua hal dapat membantunya mencari jalan keluar. Kepalanya sudah mau pecah, tetapi dalam kondisinya sekarang, ia bukanlah kucing yang dapat menentukan maunya sendiri. Walaupun demikian, instingnya mengatakan gadis ini—Shinyoung dapat membantunya, untuk apa ia tidak tahu untuk sekarang.

Shinyoung dengan wajah gelap hanya menganggukan kepalanya. Seperti mengakui hal se-tidak masuk akal V seekor kucing yang juga seorang manusia dapat membunuhnya. “Tentu saja, kalau sudah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku bisa mengelaknya?” gadis itu bertanya balik sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Membuat tubuh V sedikit terlontar ke udara.

“Jadi,” Shinyoung memutar kepalanya ke arah V. “Apa yang kau akan lakukan? Kau bilang kau tidak bisa pulang,” V kagum gadis itu mengingat perkataannya walaupun pada awalnya Shinyoung menolak untuk percaya.

V menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu tempat ini…” ujarnya. “Dan ketika mengikutimu, aku mendengar suara anjing dimana-mana,” kucing itu tidak perlu melanjutkan perkataannya karena tubuhnya yang merinding sudah cukup menjelaskannya.

Shinyoung menggaruk kepala, “Aku juga tidak tahu, tapi bukankah kau lebih baik beristirahat dulu? Aku tidak pernah berubah jadi kucing kemudian manusia lagi dalam sehari, namun aku yakin hal itu pasti melelahkan.” Sambil berkata demikian Shinyoung berdiri dan berjalan pergi. Tak lama kemudian ia kembali dengan mangkuk kecil. Ia meletakannya di lantai dekat sofa. V mencium aroma yang membuat perutnya berbunyi. Ia melompat turun dan melihat isi dari mangkuk itu. Susu.

Jujur bagi V dan kucing jalanan lainnya, minuman satu ini merupakan hal yang sulit di dapat, entah memang tidak bisa ditemukan atau ada namun dalam kondisi tidak layak untuk dikonsumsi. Menarik napasnya sekali, tanpa basa-basi, V menyeruput habis menu dihadapannya. Setelah selesai V sudah kekenyangan dan bergerak rasanya melelahkan sekali untuknya. Ia setengah tertidur sebelum merasakan tangan mengelus kepalanya. V membuka mata dan melihat Shinyoung.

“Kau lebih baik tidur di sofa, semakin malam lantainya semakin dingin,” ujar gadis itu. V menyadari Shinyoung sudah mandi dari bau sabun dan ia sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. V berdiri di atas keempat kakinya kemudian menelengkan kepalanya ke samping. Ia tidak pernah begitu peduli dimana ia akan tidur—ia bukan Jimin yang suka pilih-pilih posisi tidur.

Rasanya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa tatapan yang diberikan Shinyoung melarangnya untuk mengucapkan apapun. Sehingga tanpa pikir dua kali ia langsung melompat naik ke atas sofa dan langsung mencari tempat yang paling nyaman untuknya. Shinyoung tersenyum kecil sebelum berdiri dan berjalan pergi.

Ini semua gila. Jung Shinyoung tidak tahu apa lagi kalau bukan itu. Ia ingin menghubungi Eunbi, atau kakaknya, atau siapapun yang ia kenal mengenai masalah kucing ini. Tetapi, untuk alasan yang terlalu jelas Shinyoung tidak bisa melakukannya. “Ah, aku bisa gila…” katanya pada diri sendiri sebelum memukul pelan kepalanya.

Ia menatap ke atas. Shinyoung dapat melihat atap kamarnya yang putih, tidak ada apapun. Gadis itu sedang berusaha untuk menutup mata—dan berpura-pura hal ini hanyalah bagian dari imajinasinya yang sering berlebihan. Namun, walaupun ia sudah mematikan lampu, membuka jendelanya sedikit, memakai pakaian tidurnya yang paling nyaman, Shinyoung belum bisa menemukan titik dimana ia bisa tertidur.

Haruskah aku menutup pintu kamarku? Tanyanya palda diri sendiri. Shinyoung tidak suka berada di tempat yang terlalu gelap, walaupun ia hanya bisa tidur dengan lampu dimatikan. Ia menghelakan napas dan memutar posisi tidurnya, punggung menghadap ke arah pintu. Memejamkan matanya, Shinyoung menunggu rasa kantuk membuatnya tertidur—dan mungkin memberitahunya ini semua tidak nyata.

Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di kasur. Kedua matanya langsung terbuka, untuk sedetik ia benar-benar kalap. Mungkin perkataan kakaknya soal hantu di kamarnya itu benar. Tapi, tanpa diingatkan siapapun Shinyoung juga tahu kakaknya itu memang aneh. Tetapi tetap saja, Shinyoung merasa ia harus mencari tahu perasaan diperhatikan itu apa.

Shinyoung berputar dan ia berhadapan langsung dengan dua mata bersinar menatap balik ke arahnya. Gadis itu mengedipkan matanya satu-dua kali sampai terdengar suara meongan.

“Ah!” Shinyoung menjerit saat ia duduk dari posisi awalnya. Mata kecil V masih menatapnya. “Kau!” gadis itu menunjuk kucing berambut jingga itu. “Kenapa kau di sini?!”

V menunduk. “Aku takut.” Shinyoung memberikan wajah tidak percaya.

“Haruskah aku mendengar perkataan itu dari kucing yang tinggal di pojokan jalan?” tanyanya sinis. Mata biru kucing itu naik sedikit ketika Shinyoung menggelengkan kepalanya. “Aku rasa tidak,“ Shinyoung menjawab pertanyaannya sendiri saat memberikan sinyal pada kucing itu untuk cepat-cepat minggat dari kasurnya.

V mengabaikannya dengan sedikit kibasan ekor. “Tapi aku tidak pernah tidur sendiri,” meong V saat ia meringkuk dengan kepalanya bersender ke bantal, punggung membelakangi Shinyoung. “Mungkin itu karena aku punya lima saudara—tapi sudahlah, tubuhku kecil, kau tidak akan sadar aku ada di sini.”

“Ya, aku bisa tidak sadar ada kucing yang juga manusia tidur di sebelahku—tunggu dulu!”

Kucing itu berguling ke arah Shinyoung, mukanya masam. “Apa lagi? Aku mengantuk sekali.”

Jari telunjuk Shinyoung lagi-lagi mengarah ke arah V. “Kalau aku tidur denganmu, bukankah berarti aku tidur dengan seorang pria?” tanyanya dengan wajah di antara malu dan merasa jijik. V hanya menggeram kecil. “Aku kucing, bukan manusia laki-laki. Memangnya kau tidak pernah tidur dengan binatang?”

“Tapi, di komik-komik, bukannya biasanya ada waktu dimana mahluk sepertimu berubah kembali?”

V mendesis, tidak senang dirinya disebut bagaikan alien—mungkin ia aneh tapi tidak usah sampai disebut ‘mahluk’ seperti itu. “Komik ‘kan hanya fiksi—mereka tidak nyata. Kejadian-kejadian itu hanyalah bagian dari imajinasi manusia yang terlalu berlebihan,” ujar V sambil menguap. “Jadi, khawatir karena hal seperti komik sedikit tidak logis, apalagi untuk perempuan sepertimu.”

Shinyoung mengabaikan kata-kata terakhir pada kalimat kucing itu. “Lalu, kau apa? Hasil rekayasa? CG? Ini semua hanya mimpi? Ini saja dimulai dengan hal yang paling tidak mungkin,” jawab Shinyoung dengan nada dingin. “Aku harus apa kalau begitu—hei!”

Kucing itu sudah berbaring membelakanginya lagi. “Bagaimana kalau begini, kita akan tidur layaknya manusia dan kucing normal. Apabila aku benar-benar kembali menjadi manusia, aku akan pergi dari kamar ini sebelum kau sadari, setuju?”

Gadis itu tidak percaya seekor kucing berusaha bernegosiasi dengannya. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. “Kecuali, kau ingin tidur di ruang tamu, aku merasakan aura tidak enak tadi, makanya aku ke sini,” perkataan kucing itu membuat Shinyoung bergidik dan akhirnya menyerah saat ia merebahkan dirinya kembali ke kasur.

Ia membelakangi kucing jingga itu. Shinyoung sudah pernah tidur dengan kucing, atau dengan kakak laki-lakinya dulu. Tapi ini berbeda, menghadap ke kucing itu rasanya sedikit melanggar norma. “Kau harus memegang janjimu, oke? Kalau tidak aku akan menendangmu dari tempat tidur ini tanpa rasa kemanusiaan,” V menjawabnya dengan meongan kecil, mengiyakan persyaratan Shinyoung.

Satu, dua detik, Shinyoung rasanya belum dapat menjumpai dunia mimpi. Ia menelan ludahnya ketika ia menyadari pertanyaan yang dari tadi terngiang-iang di kepalanya. “Aku belum sempat bertanya, bolehkah aku tahu siapa namamu?” Shinyoung tidak mendengar jawaban. Mungkin kucing itu sudah benar-benar tertidur. Lagipula bila semua ini adalah kenyataan, pasti melelahkan jadi dirinya…

“V,”

“Eh?”

“Teman-temanku memanggilku V, bagaimana denganmu?” V mengeong pelan.

Shinyoung terdiam untuk beberapa detik. Ia baru saja bertanya apa nama seekor kucing ke kucing itu sendiri, dan kucing itu menjawabnya. “Kau memiliki nama yang aneh,” ujarnya.

Kucing jingga itu mengeluarkan suara dengusan. “Kami kucing tidak peduli dengan nama keren atau nama dengan seribu arti. Aku kucing, aku hanya tahu mereka memanggilku V. Dan kau belum memberitahu namamu, bukankah itu sedikit tidak adil?”

Gadis itu tertawa kecil. “Namaku Shinyoung, Jung Shinyoung. Dan aku merasa bila kau menjadi manusia, kau lebih baik punya nama yang baru. Nama yang tidak terdengar seperti panggilan untuk binatang peliharaan,” ujarnya setengah bercanda. V membalasnya dengan tawa—yang jujur hampir tidak bisa dibedakan dengan suara meongannya.

Lama-lama kesunyian mengisi ruangan. V mendelikkan telinganya, namun yang ia dengar hanyalah napas pelan Shinyoung yang sudah tertidur. Kucing itu menghelakan napasnya. Ia melirik keluar jendela dan menatap ke arah langit malam.

“Sebenarnya aku sedikit berharap aku tidak akan membutuhkan nama itu…” katanya pelan sebelum menguap, sedikit mengabaikan secercah kebohongan dari perkataannya sendiri. Angin malam yang masuk melalui jendela yang dibuka menusuk tubuh kucing itu. V menggigil dan meringkukkan tubuhnya, mencari kehangatan dari bed cover. Ah, lebih baik kusimpan pikiran itu untuk besok…

V menguap dan mulai memejamkan kedua matanya. Ya, lebih baik ia tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Walaupun ia tidak begitu yakin, apakah hal terburuk itu adalah ia tetap menjadi seekor kucing, atau kehilangan kesempatannya untuk hidup layaknya seorang manusia.

Udara dingin menusuk kulitnya dan V mengerang. “Dingin…” ujarnya setengah sadar. Jemarinya berusaha meraih selimut atau bantal, atau apapun yang bisa ia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya. Namun yang ia rasakan adalah tekstur licin yang dingin dan keras, membuat punggungnya terasa sakit. Cahaya juga sudah mengganggu tidurnya. V berlahan membuka matanya dan sekali lagi menatap dunia yang seukuran dengan tubuhnya.

“Aneh…” gumamnya sambil berusaha untuk bangkit dari posisinya yang tergeletak di lantai kamar yang dingin. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha mengingat bagaimana dia bisa berada di sana. Namun, sebelum V menemukan jawaban dari isi kepalanya yang penuh benang kusut, ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

Ia menengok ke arah pintu dan dapat langsung melihat Shinyoung dengan rambut berantakan berdiri menyandar ke pintu. Ekspresi wajah gadis itu mengingatkan V akan sesuatu dan sekarang sudah sangat jelas mengapa ia tergeletak di atas lantai dingin.

“Ah, aku…” V berusaha mencari kata-kata penjelasan. Ia sudah berjanji untuk bangun tapi ia baru ingat detik ini, bila tidur V tidak ada bedanya dengan sebatang kayu. “Sudahlah,” suara Shinyoung terdengar aneh karena sedang menggosok gigi. “Aku sudah puas menendangmu tadi,” ujar Shinyoung dengan senyum tersungging di wajahnya.

V hanya menelengkan kepalanya ke samping, sedikit mengingatkan Shinyoung akan kucing—atau fakta bahwa V adalah kucing. Shinyoung setengah gemas ketika V menjilati bagian belakang tangannya. “Hei, hentikan itu,” perintah Shinyoung tajam. Manusia kucing itu menatapnya seakan gadis itu telah menyuruhnya untuk terjun dari Namsan Tower.

“Manusia tidak menjilati tangannya, itu menjijikan,” katanya. Shinyoung menunjuk satu set pakaian di atas tempat tidur yang pada awalnya V tidak sadar sudah ada di sana sejak tadi. “Bilas wajahmu dengan air, dan ganti pakaianmu.”

Lelaki itu menatap pakaian itu dengan penuh tanya. Tetapi ia kemudian menyadari tubuhnya tercium tidak enak—bau keringat. V ingin mengatakan sesuatu namun tatapan tajam Shinyoung yang terlihat tidak sabar segera membuatnya mengambil langkah seribu ke kamar mandi, mengambil satu set pakaian yang teronggok di atas tempat tidur sebelum melesat keluar dari kamar.

V yakin ia akan hilang apabila ia tidak mencium bau sabun dari salah satu ruangan. Manusia kucing itu hanya pernah sekali memasuki kamar mandi karena ketidaksengajaan. Dan kejadian itu adalah salah satu dari pengalamannya yang ia sangat ingin lupakan. Tetapi, mungkin insiden itu sedikit membantunya saat matanya tertuju pada toilet dan wastafel yang paling tidak sudah pernah ia lihat.

“Hmm…” ia bergumam. Alisnya bertaut saat ia berusaha mengingat apa-apa saja yang dilakukan oleh manusia di dalam kamar mandi. Kedua matanya terus menatap ke toilet berwarna putih. Selang beberapa detik, V menghelakan napasnya. Mungkin urusan kamar mandi ini jauh lebih kompleks dari apa yang ia bayangkan.

Shinyoung tidak suka memasak. Bukan berarti ia tidak bisa namun lebih tepatnya ia menghindar dari pekerjaan itu, karena memasak berarti menambah satu pekerjaannya—mencuci piring. Paling tidak kalau ia memesan makanan atau beli di luar akan mengurangi hal-hal yang harus ia lakukan. Tetapi hari ini berbeda dengan hari biasanya. Seseorang yang jelas bukan kakaknya dan bukan temannya butuh asupan di pagi hari karena telah menginap di rumahnya.

Ah, sampai sekarang Shinyoung masih merasa aneh hanya dengan memikirkannya saja.

Ia meletakan toast dan selai di atas meja, Shinyoung tidak tahu apa yang akan disukai oleh manusia kucing, selai strawberry, cokelat atau kacang. “Ah,” tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan berjalan ke rak makanan di atas counter. Shinyoung tidak pernah mengeluh—menurutnya, mengenai tubuhnya yang kalah tinggi dengan teman-temannya. Tetapi ia berbohong kalau Shinyoung mengatakan ia tidak ingin memiliki tubuh yang lebih tinggi dari sekarang, walau hanya bertambah sedikit saja.

“Apa yang ingin kau ambil?”

“Eh?” Shinyoung menyadari V berdiri di belakangnya dengan memakai pakaian kakaknya—hanya saja kaosnya terbalik. “Ada kaleng di atas, bisa tolong ambilkan?”

V meraih ke dalam kabinet yang tinggi dan meraba-raba sampai akhirnya sekaleng tuna sudah ada di tangannya. “Ini bukan?” tanyanya. Shinyoung hanya mengangguk dan meletakan kaleng itu ke dalam rice cooker. V menatap Shinyoung kebingungan. “Eh, itu—,” ia menunjuk ke rice cooker dimana Shinyoung baru saja memasukan kaleng ke dalamnya. Gadis itu tidak menjawab—sepertinya Shinyoung entah memiliki masalah pendengaran atau menganggap V selalu menanyakan hal yang tidak usah dipertanyakan.

Shinyoung hanya mendorong V ke arah meja makan dan laki-laki itu membuat dirinya nyaman di kursi makan. Mata manusia-kucing itu terbelalak ketika Shinyoung dengan wajah datar menumpahkan isi kaleng ke atas sepotong roti. Onggokan itu jujur saja mengingatkan V akan makanan anjing atau kucing peliharaan. Jangan-jangan ia benar-benar

Ia tidak bisa mengatakan apapun saat Shinyoung memberikan roti itu ke arah V yang menatapnya seakan Shinyoung memberikannya apel beracun. Gadis itu tidak ambil pusing dan hanya memakan roti jatahnya sendiri. Namun, ada beberapa hal yang perlu diingat 1) V tidak makan seharian 2) itu memang tuna kaleng tapi tetap saja sayang kalau hanya dibuang 3) Shinyoung tidak ingin berurusan dengan orang lain karena V pingsan di rumahnya.

“Kenapa kau tidak makan?”

Shinyoung menahan tertawa ketika V menunjukkan wajah setengah takut dan setengah bersalah. “T-tapi baru saja…” Gadis itu menghelakan napas. “Kukira kau bilang kau bisa mencium bauku apa sekarang hidungmu tidak bisa mencium bau ikan? Hidung manusia normalku saja bisa,” ujar Shinyoung sebelum menggigit toast-nya sendiri.

Ikan? V menatap roti di hadapannya dan benar saja, aroma ikan tuna meruak dari piring itu—walaupun agak berbeda dari pasar atau di tempat sampah. Walaupun begitu tanpa pikir panjang ia langsung melahap roti itu sampai tersedak. “Dasar bodoh…” kata Shinyoung pelan sebelum memberikan segelas air ke V yang masih terbatuk-batuk.

“Oh iya,” ujar Shinyoung ketika sesi tersedak V sudah berhenti. “Aku baru kepikiran, umurmu berapa?”

Manusia-kucing itu menatap gadis itu sebelum alisnya bertaut. “Mungkin… sekitar satu tahun lebih? “ V menopang dagunya, ia mengingat sekali Jimin membawanya ke bawah pohon warna-warni di ulang tahunnya. Shinyoung menganggukan kepalanya setelah mendengarkan penjelasan V.

“Masuk akal, kamu terlihat seperti orang yang sudah melewati pubertas di umur manusia,” Shinyoung meminum seseruput cokelat panasnya. “Walaupun aku kurang yakin umur tidak membuatmu lebih pintar atau lebih dewasa,”

V berhenti mengunyah makanannya. “Apa yang membuatmu berkata seperti itu?” pertanyaannya dijawab dengan kedua bahu Shinyoung yang terangkat. “Misalnya mengapa kamu mengikutiku kalau kau bisa menunggu dan berubah jadi kucing kemudian kembali ke kehidupan bersama teman-teman kucingmu?”

Lelaki di hadapannya terlihat terkejut, wajahnya seakan mengatakan ‘kenapa aku tidak kepikiran?’ namun sedetik kemudian ia membuang muka, berusaha menutupi mukanya yang memerah karena malu. Shinyoung tertawa kecil di dalam hati. “Kalau Shinyoung di posisiku, Shinyoung juga pasti hanya bergerak menggunakan insting!” V tidak sadar ia setengah berteriak tepat di wajah gadis itu.

“Cara bicaramu, apa kau berusaha terdengar imut?” V hanya melongo. Merasa orang yang ia tanya sama sekali tidak sadar dengan apa yang ia maksud Shinyoung menghelakan napasnya. “Yang jelas kau tidak bisa tinggal di sini lama-lama, aku bisa kena marah. Lebih baik kau cari jalan keluar—memangnya kau berencana untuk berubah jadi manusia terus?”

Sebenarnya V berpikir untuk menjawab ‘iya’ tapi mana mungkin ia mengatakan bahwa alasan dia menjadi manusia sekarang adalah karena keinginannya sendiri. Walaupun ia tidak begitu yakin, Shinyoung sepertinya ingin membantunya. “Kalau aku tahu harus berbuat apa, aku tidak akan mengikutimu waktu itu!” V membuang muka. “Lagipula, sejujurnya aku tidak tau memulainya darimana…”

Shinyoung terdiam sebelum berdiri, kursinya berderit ketika bergeser di atas lantai kayu. Mata V lengket ke Shinyoung yang berjalan cepat dan seperti mencari sesuatu sampai akhirnya perempuan itu masuk ke salah satu kamar—yang menurut V beraroma seperti orang lain. Satu dua menit kemudian Shinyoung kembali dan meletakkan selembar kertas di atas meja sebelum berjalan lagi, sekarang ke ruang tamu yang berdekatan dengan ruang makan.

“Apa ini?” V mengangkat kertas itu, tulisan berantakan menghiasinya. Ia memang tidak bisa membaca, tetapi entah kenapa V juga berpikir manusia normal saja tidak akan dapat membacanya.

Gadis itu kembali sekarang dengan beberapa lembar uang. “Apa kamu sebegitu bodohnya? Kalau kau tidak tau dimana kamu harus memulai, maka kamu harus kembali ke tempat kamu memulai semua ini!” Shinyoung setengah berteriak, gemas melihat seorang lelaki yang seperti hampir seumuran dengannya bisa begitu… tidak tahu apa-apa. Ia sadar V bukan manusia biasa—atau bisa dibilang kucing biasa, tapi kadang-kadang kau hanya menilai dari apa yang kau bisa lihat.

Menghelakan napasnya Shinyoung menunjuk kertas itu. “Itu tempat aku bertemu denganmu pertama kali, biasanya aku lupa, jadi kamu harus bersyukur aku ingat kali ini,” ujar gadis itu, berusaha menjelaskan. “Uangnya bisa kau pakai untuk pakai bis, masih ingat terminal yang dekat sini ‘kan?” V menganggukan kepalanya.

“Kalau kau tidak tau jalan, tanya orang di sekitarmu, orang-orang di sini baik jadi mereka pasti akan membantumu bila kau bertanya baik-baik,” Shinyoung kembali menjelaskan sambil kembali duduk di kursinya.

V hanya setengah mendengarkan, ia menatap sebaris tulisan di bawah nama tempat ia harus pergi. “K-k-kim Taehyun-hyung. Kim Taehyung. Shinyoung, apa itu Taehyung?”

“Namamu,” jawab perempuan itu ringkas. “Kau tidak benar-benar berpikir akan menggunakan namamu yang hanya terdiri dari satu huruf ‘kan?” Shinyoung menaikan salah satu alisnya. Lelaki di depannya membuka mulut, dan untuk kesekian kalinya V mengatupkan mulutnya kembali.

“Jadi, kalau aku bertanya namamu apa yang akan kamu katakan?” Shinyoung bertanya dengan senyuman. Senyuman yang membuat V merasa disiram dengan air dingin.

V tinggal sesedikit ‘ini’ untu menjawab dengan namanya yang seperti gadis di depannya katakan, ‘nama yang terdiri dari satu huruf’. Oleh karena itu ia memasang senyumannya sendiri dan menjawab, “Taehyung, Kim Taehyung,”

Namun tak disangka Shinyoung menjulurkan tangannya, V menutup mata takut-takut gadis yang menendangnya pagi ini juga akan memukulnya. Tetapi yang ia rasakan adalah sentuhan lembut di atas kepalanya. Saat membuka mata, pipinya langsung terasa hangat karena Shinyoung sekarang sedang mengelus kepalanya, sedikit memberantakan rambutnya, dengan senyum manis di wajahnya.

“Taehyung yang baik,” kata gadis itu seperti sedang bicara kepada kucing sungguhan—bukan yang jadi-jadian seperti V.

Tapi itu tidak berarti V tidak menyukainya. Malahan, ia mungkin menyukainya lebih dari seharusnya. Membuatnya teringat hari-hari di pinggiran jalanan dengan anak-anak kecil melakukan hal yang sama, mengelusnya di kepala dan membuatnya mendengkur karena kegirangan. Namun ada sesuatu yang mungkin membuatnya lebih menyukai keadaan ini dari sebelumnya. Mungkin karena senyum Shinyoung atau nama barunya—atau mungkin keduanya.

Nama manusianya. Kim Taehyung. Memikirkannya saja membuat dirinya tersenyum lebar, walaupun di malam sebelumnya ia tidak begitu bersemangat akan ide memiliki nama manusia. Namun semuanya seperti terbalik, ia merasa tidak ada yang salah mengenai hal itu. Dan samar-samar ia dapat mendengar suara bel. Ia mengabaikannya terlalu sibuk untuk senang—sampai perkataan Shinyoung, “Tunggu, kau bisa membaca?!” lewat bagaikan angin lalu saja.

AUTHOR’S NOTE

Akhirnya setelah penundaan yang gak selesai-selesai dan kemalesan yang gak ada ujungnya It’s a Wonderful Cat’s Life di-update/masih gak percaya sendiri. Sekarang sih pinginnya update tiap minggu, pinginnya… -___-

Sebenarnya berbekal iseng akhirnya author bikin account ask.fm, gak ngerti buat apa/slapped. Tapi kalo ada yang ingin ditanyakan, sekedar kenalan atau pingin poke karena gak ada update-an terus, tinggalkan pertanyaan di http://ask.fm/itsredpenguin.

Sekarang biarkan author bersemedi sebentar untuk identitas kakaknya Shinyoung– ja ne!

ITSREDPENGUIN SIGN OUT!

3 thoughts on “It’s a Wonderful Cat’s Life [3/?]

  1. Sekarang udah suka BTS feel waktu bacanya beda banget o.o dulu kayak baca novel gitu sekarang baru kerasa feel fanficnya.

    Padahal kucing tapi aku deg2an gimana dong ini ga normal :s

    PLIS TASYA SUGA DIMUNCULIN

    • Yes-ssu! Mission accomplished! Tenang kok kak Fik, normal itu normal~ ^^

      Suga? Hmm… Setelah penampilan barunya aku jadi bersemangat masukin dia jadi, heads up! Suga something -something bakal muncul–gak janji kapan tapi

  2. pgen pu’y kcing yg seimut taehyung…
    oh ya thor bleh request gbar’y taehyung yg jdi kcing gk…??
    sol’y q bnar” pnsran ma taehyung klo jdi kcing..
    next chap’y ditggu..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s