#23 Detour

# 2 3   W i n t e r  T w i s t

Orangnya kikuk.

Gayanya terlalu kaku

Wajahnya lumayan memang.

Tapi selera Ibu Byun aneh.

Chaeri tidak bisa berkonsentrasi pada poster yang dibuatnya, bagaimanapun juga setelah mengetahui guru seni mereka adalah pacar baru ibunya Baekhyun mata Chaeri tidak bisa lepas dari sosok laki-laki yang sekali-kali menangkap basah tatapan dirinya.

“ Kau suka Junma?” Nami yang gemas karena Chaeri tidak juga menyelesaikan mewarnai huruf untuk poster mereka memecah konsentrasi perempuan yang matanya masih mengekori sosok si guru.

“Siapa Junma?” Agak tersentak kaget Chaeri yang merasa tertangkap basah kembali berfokus pada pensil warnanya.

“Guru seni kita, dia sudah banyak fansnya jadi aku tidak terlalu kaget kau menyukainya, tapi—“

“Aku tidak suka, dia namanya aneh sekali.” Langsung Chaeri memotong ucapan Nami, salah paham paling konyol adalah kalau dirinya tiba-tiba menyukai pacar baru Ibu Byun.

“Kim Joonmyeon, karena namanya ribet  dan wibawanya sebagai guru agak kurang murid-murid membuat nama panggilan untuknya, Junma.”

“Oh—“ Sambil mengangguk mengerti tanpa sadar Chaeri kembali melirik Junma yang sedang berada di meja sebelah mereka. Melihat senyum kaku pria itu tiba-tiba dia baru ingat guru ini lah yang pernah bertanya padanya di mata letak toilet, apakah saat itu Junma sudah menyukai Ibu Byun? Ini guru yang waktu itu mengajar kelas Kyungsoo ketika Chaeri salah masuk kelas, apa saat itu Junma sudah berpacaran dengan Ibu Byun? Entah kenapa Chaeri makin penasaran, dan bukan, bukan karena ia suka guru itu

***

Semenjak mengikuti Hagwon Baekhyun makin suka bicara, Chaeri baru menyadarinya ketika laki-laki itu tidak berhenti mengoceh soal apapun yang bisa dikomentarinya, entah itu sekedar mengomentari bentuk awan atau soal kebiasaan Chaeri meniup makanan sebelum dimakan yang kata Baekhyun itu berbahaya untuk kesehatan.

 “Aku sudah tahu bagaimana cara terbaik mengeluarkan saus ini dari botolnya.” Baekhyun mulai lagi. Chaeri yang sejak tadi menikmati sup krimnya memilih hanya memutar bola mata, beberapa detik lalu laki-laki itu baru saja selesai mengkritiknya habis-habisan soal kebiasan meniup sebelum makan, ini bukan karena fakta soal meniup makanan membosankan, tapi Chaeri jenuh dengan cara Baekhyun menjelaskan seolah dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Aku juga tahu, ngomong-ngomong Hobbit sudah baca sampai mana?”

“Aku akan mengeluarkan saus ini untuk sup krimmu.” Baekhyun pura-pura tidak dengar, hal yang selalu dilakukannya ketika Chaeri bertanya tentang perkembangan novel yang dibacanya.

“Kubilang aku sudah tahu caranya dan aku tidak suka saus tomat. Jawab pertanyaanku.” Ujar perempuan itu jengkel sambil menarik mangkoknya menjauh dari Baekhyun yang sudah meraih botol saus tomat.

“Hanya untuk konfirmasi, kau tahu kan kalau kita memukul pantat botol sausnya, isinya malah melesak makin dalam bukan keluar?” Laki-laki itu berkata tenang sambil memutar-mutar botolnya, tiba-tiba botol saus tomat menjadi menarik sekali di mata Byun Baekhyun.

“Aku tahu Baekhyun, aku mengerti, aku bisa menjelaskan bagaimana caranya tapi—“ Tiba-tiba melihat Baekhyun mengabaikannya dan asyik mengeluarkan saus tomat di piring kosong membentuk wajah senyum Chaeri terdiam, ia ingat sesuatu. “Tadi kelasku diajar Junma.”

“Oh lalu?” Tanpa mengangkat kepalanya Baekhyun menjawab singkat, masih fokus memberi dua lubang hidung pada masterpiece saus tomatnya.

“Dia pacar ib—“

“Iya Chaeri iya.” Kali ini dengan kepala terangkat sambil tersenyum Baekhyun memotong kalimat Chaeri, dari caranya tersenyum ketika seharusnya tidak ada hal yang perlu disenyumi (kecuali kalau dia gila) jelas sekali ada yang salah.

Merasa ada yang janggal jari Chaeri terus mengetuk meja, Byun Baekhyun masih tersenyum padanya, membentuk mata bulat sabit yang biasanya menjadi kesukaan perempuan itu tapi kali ini membuatnya sangat tidak nyaman. “Jadi apa Junma dan ibumu ada rencana—“

“Tidak Chaeri tidak.”

Selanjutnya tanpa sadar tangan Chaeri meraih tisu langsung meremasnya, sesuatu membuatnya memanas, ada yang salah dengan Baekhyun dan Chaeri sama sekali tidak suka dengan perlakuan ini.

“Apa Junma sudah mengetahui—“

“Sudah dia sudah.” Lagi, Baekhyun memotong.

“Kau dekat dengan—“

“Kurang dekat.”

Seakan karet kesabarannya digunting Chaeri menggebrak meja, sepelan mungkin tapi cukup membuat mangkuk supnya berguncang. Banyak sekali yang ingin Chaeri tanyakan, apakah Baekhyun mendadak bisa meramal sehingga ia selalu tahu jawabannya tanpa menunggu pertanyaan selesai atau Baekhyun menjadi begitu sok tahu? Jawabannya beda tipis karena menurut Chaeri peramal itu sok tahu. Tapi dari pada mengomentari soal ramal-ramalan itu ia lebih terganggu pada hal lain.

 “Sejak tadi aku mendengarmu berbicara, tapi kenapa susah bagimu menungguku menyelesaikan kalimat? Apa sulit sekali?” Nada suara Chaeri cukup dingin, sampai dia merasa suhu ruangan bisa menurun karena suaranya sendiri.

“Terus terang itu sulit Chaeri.” Baekhyun menjawab datar, akhirnya membiarkan Chaeri menyelesaikan kalimat. Senyumannya yang menurut Chaeri mengganggu kali ini hilang yang sayangnya tidak segera membuat Chaeri merasa lebih baik, justu rasanya lebih buruk karena nada suara Baekhyun yang begitu monoton tidak cocok untuk laki-laki ini.

Detik ketika Chaeri membuka mulut siap protes  tiba-tiba seseorang mengambil tempat di kursi kosong sebelah Chaeri.  “Sori interupsi!”  Taehyung tanpa berusaha membaca situasi segera menggeser mangkok sup krim sampai isinya bercipratan ke mana-mana. “Sunbae bantu aku mengerjakan trigonometri yang ini, pelajaran ketiga kelasku ada ulangan.”

“Nanti Taehyung.” Berkata setegas mungkin perempuan itu menggeser buku tulis Taehyung yang berada di depannya, cipratan sup krim yang mengenai lengan sweater putihnya sama sekali tidak menjadi masalah ketika Byun Baekhyun menjadi super menyebalkan.

“Bantu dia Chaeri.” Tiba-tiba Baekhyun kembali tersenyum, dan sungguh ini pertama kalinya Chaeri sangat membenci senyuman itu.

“Kenapa sulit?”

“Pelajaran ketiga Taehyung kan ulangan, bantu dia.” Jawab Baekhyun sambil  memandang perempuan itu tanpa sedikit pun melirik Taehyung seperti junior di depannya ini memang tidak ada.

“Sekarang sudah pintar kan? Kau yang bantu. Sekarang jawab dulu pertanyaanku.”

“Aku tahu dari Kyungsoo Park-saem memintamu mengajar Taehyung, jadi kau yang bantu dia.” Senyuman itu masih menempel di wajah Baekhyun, Chaeri ingin merobek wajahnya.

“Nah, kau tahu segala tentangku, sekarang aku juga ingin tahu tentang masalah itu, kenapa sulit sekali bercerita padaku?”

“Aku sudah, sekarang bantu Taehyung.”

Kim Taehyung sama sekali tidak tahu apa-apa, ia sama sekali tidak tahu posisi duduknya di sebelah Chaeri terlalu dekat menurut Baekhyun, ia tidak tahu Chaeri sedang menahan emosi dan dia juga tidak tahu keberadaannya saat ini akan menjadi sumber permasalahan.

“Aku akan membantunya tapi nanti, Taehyung kau pergi sekarang.” Seakan sedang lomba tatap-tatapan mata, Chaeri sama sekali tidak melepas pandangannya dari Baekhyun, mungkin kalau Chen lewat ia akan mengatakan kedua mata itu memancarkan laser.

“Baik—“ Nada yang rasanya tidak bisa dibantah itu membuat Taehyung mengangguk patuh dan beranjak dari kursi hingga tiba-tiba Baekhyun menarik lengan sweaternya.

“Tidak, kau di sini.” Baekhyun menahan juniornya masih dengan ekspresi yang sama seriusnya dengan Chaeri, seketika Taehyung yang tidak tahu soal Trigonometri merasa pintar, ia yakin sekali keberadaannya di sini sebuah kesalahan.

“Taehyung kau pergi.”

“Taehyung tetap di sini sampai kau mengajarinya Trigonometri.” Baekhyun segera menarik buku tulis dari tangan laki-laki itu, meletakkannya di depan Chaeri. “Bantu dia Chaeri.”

“Aku bilang nanti, ceritakan dulu masalahmu.”

Ketika Taehyung menelan ludah ingin sekali mengulang waktu agar tidak perlu menginterupsi dua orang ini ia tersentak, tiba-tiba Baekhyun menaikkan suaranya. “Aku sudah! Sekarang bantu Taehyung!”

“Aku. Tidak. Mau. “

“Chaeri. Kau. Gurunya.”

Meniup poninya Chaeri pun mendengus. Tangannya berada di pinggang karena sebisa mungkin ia berusaha menahan keinginan untuk melempar mangkuk sup yang berada di dekatnya. “Aku tidak suka ini.“ Ia beranjak dari kursinya, memilih pergi dari pada mengeluarkan seluruh emosinya. Beberapa murid sudah memandang mereka dan membuat adegan ‘drama’ sama sekali bukan gaya Chaeri.

“Kenapa egois sekali?”

Udara berhenti bergerak bagi Chaeri.

“Aku egois?” Masih dengan stoic face ia membalik badannya, Baekhyun masih duduk, kali ini sambil mengaduk-aduk sup krim Chaeri yang sudah diberi saus tomat.

“Kau egois. Aku sudah menceritakan masalahnya dan selesai, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan soal itu. Sekarang kau mengajari Taehyung.”

Merasa tertantang Chaeri kembali duduk, tiba-tiba ingin sekali mendorong masuk muka Baekhyun ke sup krimnya yang masih panas itu. “Lucu sekali. Jadi menceritakan maksudmu, ketika kau selalu memotong kalimatku dan menghindar dari pembicaraan ini dengan alasan aku harus mengajari Taehyung? Pengecut.”

Baekhyun meniup poninya, lidahnya masih terasa terbakar karena menelan sup ini tanpa coba meniupnya. “Ini masalahku Chaeri, tidak ada hubungannya dengan menjadi pengecut.”

“Ada karena kau menggunakan alasan Taehyung untuk berdalih. Kau ingin aku mengajari Taehyung? Tapi aku tidak ingin.”

“Itu artinya kau egois.”

“Sena selalu membantu Luhan, dia datang ke rumah laki-laki itu berusaha membujuk ayahnya, memang agak ikut campur tapi itu artinya dia peduli. Luhan membolehkan Sena membantunya. “

Kali ini menghela napas panjang Baekhyun merasa capek. “Kau berbeda dengan Sena. Dan aku berbeda dengan Luhan.”

“Kalau begitu setiap aku punya masalah aku tidak akan menceritakan padamu. Sekarang belikan aku sup krim pengganti karena kau sudah memberi saus tomat pada supku. Aku tidak akan membantu Taehyung.”

Baekhyun ingin memutar bola mata. Sesaat ia merasa Chaeri menjadi terlalu kekanak-kanakan. “Kau tidak punya masalah.”

“AKU PUNYA.”

“Kalau kau punya, kau tidak akan seegois ini.”

Chaeri membulatkan keputusannya, tanpa berpikir soal resiko ia beranjak dan mendorong puncak kepala laki-laki itu sampai wajahnya masuk ke mangkuk sup. “PANAS CHAERI.” Tanpa berpikir Baekhyun menepis tangan perempuan itu, lebih keras dari keinginannya sehingga sedetik ia merasa menjadi bajingan yang berani memukul perempuan. Puncak hidungnya masih dilumuri sup krim yang warnanya sudah kemerahan. Dari pada malu atau marah sesuatu membuatnya hanya kembali membuang napas.  “Aku capek. Bisa tidak kita tidak perlu membicarakan soal masalah-masalah ini.”

“Kalau kau capek kita selesaikan semuanya, kita buat hubungan kita tidak cukup berarti jadi aku tidak punya alasan untuk peduli pada masalahmu.”

“Itu maumu?”

“Itu maumu, kau yang bilang capek, aku hanya memberi saran.”

Tangan Chaeri terlipat di depan dada, game sudah dimulai dan ia tidak peduli beberapa murid sudah mengeluarkan ponsel untuk merekam ini.

“Aku heran bagaimana Kyungsoo bisa menyukaimu?”

Keheningan beberapa detik dengan Chaeri menggigit bibirnya, ia tidak mengerti apa maksud kalimat Baekhyun tapi ia tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya. “Kenapa aku jadi menyukaimu? Sejak awal orang seperti Byun Baekhyun memang tidak cocok denganku.”

***

Ruang ganti perempuan hari ini ramai sekali. Sampai rasanya jauh lebih ramai dari pada H-1 konser One Direction dengan Moon Chaeri menjadi pusat, semua mata menuju padanya dan jika saja alasan itu karena mereka iri akan tubuh rampingnya mungkin perempuan itu akan lebih bersyukur. Masalahnya alasan mengapa setiap mata tertuju padanya karena kejadian di kantin tadi pagi cukup membuat beberapa isu yang sempurna untuk dijadikan gunjingan setidaknya selama seminggu sampai mereka menemukan isu baru. Kebanyakan perempuan terlihat tidak bisa menyembunyikan senyumnya, tentu saja isunya adalah Baekhyun putus dengan Chaeri dan artinya kesempatan mereka mendekati Baekhyun kembali lagi. Rasanya seperti dress yang diperebutkan para wanita diberi diskon 75% dan semua berebut ingin mendapatkannya.

Selesai memakai baju olahraga Chaeri kembali bercermin, seketika merasa jelek, sangat jelek. Alisnya merengut, bibirnya membentuk garis tipis tanpa senyum dan matanya masih sedikit berair hasil menjadi gadis cengeng karena bagaimana pun ia tidak menyangka Baekhyun tidak menepis kalimat terakhir dari Chaeri.

“Kau baik-baik saja? Sial sekali hari ini kelas olahraga seluruh murid kelas tiga digabung.” Sena yang sejak tadi memelototi murid-murid yang terus memandang Chaeri segera meremas bahu mungil perempuan itu ketika menyadari Chaeri tidak berusaha meluruskan isu apapun soal dirinya, termasuk gosip konyol Baekhyun marah karena perempuan itu selingkuh dengan Taehyung. Hah.

“Sangat baik. Lebih dari itu, apa mataku masih terlihat sembab?”

“Masih, tapi tidak apa-apa, Baekhyun akan merasa bersalah membuat perempuan menangis.”

“Aku tidak mau terlihat cengeng di depan laki-laki itu.” Chaeri kembali mengelap matanya, pipinya masih lembab dan kedua bibirnya memerah karena ia terus menggigit bibir itu berusaha menahan keluar air matanya.

“Tapi itu manis, perempuan selalu cantik ketika ia menangis karena laki-laki, artinya ia benar-benar jatuh cinta dan jatuh cinta membuat perempuan cantik.”

Chaeri tidak peduli, cantik atau jelek tidak penting karena itu tidak akan membantu dirinya.

Sena menghela napas, usahanya membuat temannya merasa lebih baik ini agak tidak berguna karena sesungguhnya ia tahu Baekhyun tidak terlalu bersalah, sulit sekali membela seseorang yang sebenarnya agak salah. Sambil mengeluarkan ikat rambut dari kantong celananya ia menyisir pelan rambut Chaeri. “Rambutmu akan kuikat dua ke samping, pasti manis dan akan mengalihkan pandangan orang-orang dari matamu.”

“Hanya gadis berumur empat tahun yang rambutnya diikat dua seperti itu.” Chaeri memutar bola mata.

“Kalau begitu kau cocok!”

***

Ruang Gymnasium yang biasanya tidak pernah seramai ini. Pengang dengan keributan yang ada Kyungsoo memilih duduk bersila di sudut ruangan mengatakan kepalanya pusing untuk siapapun yang mengajaknya bermain.

 “HEI D.O! Kelas kita dan kelas 3-A  lagi adu panco, kau harus ikut. ” Chen berlari mendekati Kyungsoo, tampak senang sekali mungkin karena pelajaran kesukannya digabung dengan kelas perempuan kesukaannya.

“Aku pusing.” Dengan jawaban singkat dan pandangan jangan-berani-kompromi-denganku Kyungsoo berhasil membuat Chen menelan ludah dan berlalu pergi.

Baru saja Chen pergi seseorang segera menjatuhkan dirinya di samping Kyungsoo. “Ayo lompat tinggi! Baekhyun selalu menang ini mengesalkan“

“Aku pusing.” Tanpa berusaha menengok pada Luhan Kyungsoo kembali menjawab pendek.

 “Payah.” Dengan malas-malasan Luhan beranjak, tangannya langsung mengacak-acak rambut laki-laki itu membuat Kyungsoo mengerang kesal. “Kau sudah dengar Baek dengan Chaeri—“

“Sudah—“ Ia menepis tangan Luhan, temannya itu tiba-tiba tersenyum, senyum semacam kucing Cheshire yang membuat Kyungsoo  malas melihatnya.

“Sudah kubilang, kata-kataku benar mereka memang tidak cocok, bahkan Chaeri sendiri yang mengatakan itu!”

Kyungsoo yang sedang malas sekali berargumen memilih segera beranjak dan berjalan meninggalkan Luhan yang masih berbicara sendiri soal betapa bijaksana dirinya. Kyungsoo sendiri tidak begitu kaget kalau dua orang itu akhirnya bisa berselisih, hanya saja ia tidak menyangka kenapa dengan alasan sesepele itu mereka bisa bertengkar? Atau sepele bagi Chaeri dan Kyungsoo berbeda?

***

Chaeri tidak bisa mendeskripsikan betapa buruknya hari ini, jauh lebih buruk dari pada ketinggalan satu episod Running Man atau kehabisan Cream Puff. Ia berusaha menyembunyikan dirinya di antara tubuh-tubuh menjulang seperti Jongin atau Sehun karena sama sekali tidak Chaeri menikmati pelajaran olahraga ini.

“Karena beberapa minggu belakangan pelajaran olahraga ditiadakan, hari ini seluruh kelas tiga akan mendapatkan pelajaran yang sama untuk ujian praktek olahraga nanti.” Guru olahraga mereka, Guru Lee menatap tajam satu persatu murid-murid yang berada di barisan paling depan, absen karena demam membuat ia tidak bisa mengajar dan kabar yang ia dapat beberapa muridnya malah membuat keributan ketika jam pelajaran olahraga kosong.

Mata Chaeri menatap ngeri matras di depan. Hari ini ia tamat.

“Kalian harus menguasai roll depan dan belakang, lebih bagus lagi kalau bisa Tiger Sprong. “

Seketika Chaeri merasa mual. Roll membuatnya mendapat pengalaman pahit, sejak lehernya terkilir saat SD dulu tidak pernah lagi ia mau mencoba roll. Bahkan menurutnya jauh lebih baik lari maraton berkilo-kilo dari pada melakukan satu kali roll.

“Setelah melakukan pemanasan masing-masing berbaris sesuai abjad kalian.”

Murid-murid segera berdiri, wajah mereka santai sekali sangat membuat Chaeri iri. Ia tidak pernah seiri ini selain pada manusia yang memiliki kemampuan memutar badan begitu fleksibel. Jongin dan Sehun yang sejak tadi mendengar komat-kamit di belakang mereka akhirnya menengok kebelakang dan tersentak kaget melihat Chaeri begitu murungnya duduk sambil memeluk lutut.

“Tenang Chaeri, Baekhyun pasti akan minta maaf—“

“Bukan soal Baekhyun.” Chaeri langsung beranjak memotong kalimat simpati Jongin sementara Sehun yang di sebelahnya memandang Chaeri takjub.

“Aku baru tahu Chaeri lumayan manis.” Laki-laki itu berujar tanpa sadar yang langsung membuat Jongin memukul perutnya.

“Dia sudah ada yang punya!”

Chaeri mencari sosok Nami, ia tahu kalau dulu perempuan ini pernah mengambil kelas balet yang siapa tahu bisa membagi rahasia bagaimana bisa memiliki tubuh lebih lentur. Terlalu panik menengok kanan-kiri ia tidak menyadari langkah selanjutnya membuat dirinya menabrak punggung seorang laki-laki.

“Aaww— maaf—“

“Chaeri?” Kyungsoo yang sedang melakukan pemanasan pada leher menengok kaget, perempuan itu akhirnya memunculkan diri setelah hampir setengah jam kata Sena mengurung diri di toilet.

“Kau lihat Na—“ Chaeri tidak selesai bertanya, Kyungsoo dihadapannya tiba-tiba menggigit bibir dengan tampang orang menahan tawa, lelucon ketika dirimu sama sekali tidak tahu mana yang lucu kadang menjengkelkan.

“Model rambutmu seperti sepupu Sena.”

Chaeri ingin sekali mengutuk Sena, sudah dibilang model rambut Hatsune Miku ini hanya membuatnya terlihat konyol, tepat ketika ia ingin menarik ikatannya Kyungsoo terbatuk, cukup janggal sehingga Chaeri yakin itu sengaja.

“Jangan dilepas. Cocok denganmu.” Lalu laki-laki itu berjalan pergi tidak sadar kalimatnya barusan berhasil membuat Chaeri tersenyum untuk pertama kalinya pada hari ini. Bukan soal dibilang manis tapi soal Kyungsoo yang memandangnya tanpa simpati, jenuh sekali Chaeri sejak tadi semua temannya memandang kasihan, mereka harus tahu Chaeri tidak semenyedihkan itu hanya karena persoalan Baekhyun.

***

Sekali lagi Chaeri mengeluh.

Ia benar-benar benci pada dirinya sendiri hari ini. Tidak cukup soal harus memperlakukan diri di depan puluhan murid karena sepertinya hanya dirinyalah yang tidak bisa roll, ia juga harus menanggung malu karena tepat di depannya orang terakhir yang ingin ia lihat batang hidungnya hari ini berdiri santai sekali seolah sejak awal  mereka berdua tidak bertengkar atau bahkan tidak saling mengenal.

Tiba-tiba Chaeri menyalahkan ayah ibunya yang memberi nama dirinya Chaeri, kenapa harus C kenapa tidak Maeri atau Saeri, atau abjad apa saja asal bukan setelah huruf B karena sekarang ini, ia harus berbaris tepat di belakang Byun Baekhyun.

“Ara!”

Perempuan tinggi yang tampak atletis dengan mudahnya segera berguling mulus di atas matras. Chaeri iri. Sangat Iri.

“Baekhyun!”

Laki-laki itu melakukan roll atau mungkin sekedar pamer dia melakukan dua kali berturut-turut dan sungguh itu pertama kalinya Chaeri benar-benar iri pada Baekhyun, ketika Baekhyun mengalahkannya dalam pelajaran Fisika ia bahkan tidak seiri ini.

“Chaeri!”

Ketika namanya tersebut, kakinya yang gemetar melangkah maju, Baekhyun tanpa meliriknya sedikit pun segera beranjak dari matras dan berjalan menuju tempat anak-anak yang sudah melakukan roll, semua duduk berputar mengelili matras, apa harus sekali mereka melihat? Kenapa mereka tidak pergi bermain saja?

“Chaeri?” Guru Lee mengangkat pandangan dari buku catatannya mengernyit jengkel pada Chaeri.

“Y-ya—“ Chaeri akan mempermalukan dirinya sendiri sebentar lagi, apa ini perasaan yang sama ketika orang mendapat hukuman penggal atau gantung? Karena rasanya Chaeri juga ingin sekali mengucapkan kata-kata terakhir.

Ketika tangannya menyentuh matras rasa gemetar hebat datang, mengingat rasa sakit leher terkilir dan tawa teman-temannya ketika ia kembali ke sekolah dengan leher diberi gips cukup membuat perempuan itu trauma dengan roll.

“Satu— dua—“ Chaeri menelan ludah. Ia tidak ingin mempermalukan diri, ia tidak ingin Baekhyun melihatnya dalam kondisi saat ini. “Saem, aku tidak bisa roll.”

***

Baiklah ini jujur, Baekhyun sempat membenci Chaeri. Saat ketika Chaeri meminta penjelasan soal Junma dan ibunya ia benar-benar tidak suka itu. Ia tahu Chaeri mencoba peduli, tapi tetap saja ia tidak suka itu dan itulah yang membuatnya benci pada dirinya sendiri. Ia benci ketika Chaeri menyebut nama Junma untuk mengganggu percakapan mereka soal saus tomat.Membicarakan Junma artinya mengingat Junma, mengingat Junma adalah hal yang tidak menyenangkan. Mengingat bagaimana laki-laki itu menghabiskan malam di rumah Baekhyun sangat menjijikkan, melihat bagaimana tampang ibunya saat keluar dari kamar tidur membuat apapun yang berhubungan dengan Junma menjadi hal yang paling dihindari Baekhyun. Khususnya setelah Junma menelpon meminta Baekhyun membawakan kemejanya yang tertinggal ke sekolah.

“Ayo Chaeri, kau hanya perlu mengangkat pinggul.” Bomi kelihatan hampir menyerah karena perempuan yang diajarnya tidak juga berani menggulingkan tubuhnya ke depan.

Chaeri agak beruntung, ia memang satu-satunya murid yang tidak bisa melakukan roll depan, tapi karena hampir 50% murid tidak bisa melakukan roll belakang, guru Lee memutuskan membuat kelompok terdiri dari lima orang yang masing-masingnya harus saling membantu sampai seluruh anggota bisa melakukan roll. Seakan kebetulan sedang menghukum, Chaeri-Kyungsoo-Baekhyun satu kelompok (ditambah Sungjae dan Bomi yang membuat Chaeri bersyukur karena mereka pintar sekali menghilangkan kecanggungan).

Baekhyun menggaruk kepalanya dan berjalan menuju Chaeri yang sejak tadi tidak beranjak dari depan matras.

“Biar aku yang membantu Chaeri.” Sambil berjongkok di samping Chaeri Baekhyun menghela napas, kelompoknya harus mendapat nilai sempurna, Guru Lee sudah mengancamnya karena pada kelas olahraga minggu lalu dirinya bersama Jongin lah yang membuat keributan dengan adu wrestling yang merebut perhatian setiap murid yang melewati gymnasium.

Bomi mengendikkan bahu dan berlalu pergi. “Bantu pacarmu sana.” Tampaknya gosip di kantin belum sampai ke telinganya. Chaeri mengumpat dalam hati sementara Baekhyun masih berjongkok di depannya, laki-laki sialan, kenapa wanginya harus seperti sabun bayi ketika Chaeri benar-benar membenci pria ini.

“Pertama kau berdiri.”

Memilih mengutamakan nilai olahraga Chaeri pasrah dan berdiri mengikuti petunjuk Baekhyun, tampaknya Baekhyun yang ini tidak menjadi terlalu sok tahu.

“Bungkukkan badanmu sampai tangannya menyentuh matras— nah seperti itu.”

Chaeri tiba-tiba merasa menjadi anak kambing baru lahir, kedua kakinya gemetar.

“Lalu tempelkan kepalamu pada matras bentuk posisi segitiga dengan kepalamu di puncaknya, majukan lagi, benar— kedua tangannya sejajar.”

Chaeri harus mengakui, Baekhyun kali ini benar-benar terlihat pintar.

“Masukkan kepalamu, bukan, seperti ini.” Tiba-tiba tangannya mendorong pelan puncak kepala Chaeri, ada yang aneh, ini menggelikan.

“Angkat pinggulmu, lalu berputar, jangan ragu-ragu, ini mudah hanya perlu sedikit dorongan.”

Merasakan keringat membasahi pelipisnya Chaeri ingat, justru ‘sedikit dorongan’ itu lah masalah terbesarnya. “Aku takut leherku terkilir.”

“Tidak asal kau memasukkan lehermu.”

“Tapi—“

“Coba dulu.”

Sambil menelan ludah, ia menyusun rencana dalam hati soal kebohongan apa yang harus dikatakannya agar bisa menghindar, detik ketika ia memutuskan perutnya merasa kram Kyungsoo yang sejak tadi membicarakan How to Train Your Dragon 2 dengan Sungjae tiba-tiba berbicara padanya. “Tidak akan membuatmu mati jadi coba saja.”

Seketika Chaeri memejamkan mata, otomatis tanpa banyak pertimbangan ia mengangkat pinggulnya mendorong diri ke depan merasakan tubuhnya berputar darah turun ke kepala lalu semuanya selesai. Ia segera menengok pada Baekhyun, saking senangnya sampai lupa kalau beberapa jam lalu ia baru saja memasukkan kepala guru rollnya itu pada sup panas, lalu detik ketika Baekhyun membalas senyumnya. Chaeri tahu mereka selesai.

A/N:

Kayak gini ekspresi kalian?😮

PASTI KESEL PASTI MALES PASTI APA DEH SAMA AUTHOR-NIM.

Tapi aku sudah menyiapkan mental sama kritik di chapter ini untuk kalian yang mengambil BaekChae garis keras orz.

Mulai dari chapter ini bakal ada chapter yang pendeeeek banget atau malah panjaaaaang. Dan aku ada kabar gembira, bukan soal ekstrak kulit manggis atau biskuat tapi soal saatnya kita countdown menuju detour finaaal chapter. /YEAY/

Kira2 berapa chapter lagi? Belum pasti heheehhet tapi aku maunya sebelum chapter 30.

XX, PIKRACHU 

59 thoughts on “#23 Detour

  1. Huaaa kaka maaf aku ngga komentar di chapter sebelum-sebelumnya dan aku malah nge like aja tapi gpp kan?😀
    Untuk chapter ini aku ngerasain apa yang dirasain baekhyun kalo ngebahas tentang pacar ibunya ,Junma alias si Kim Joomyeon alias si Suho! Smpahnya aku kaget kalo dia jadi guru seni plus calon ayah tiri baekhyun (kalo jadi)
    Sena sama si baekhyun lagi berantem ya? :v tapi ko pas ngajarin merasa hilang bebannya? :v😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s