Eternity

title: eternity character: leo (vixx), anon oc genre: angst, romance(?) rating: pg-13 warning: heavy angst, character death, suicide

lagu vixx eternity nyangkut terus di otak. ide harus segera dilampiaskan (padahal udah). nyari alasan untuk edit fotonya Leo (asadjkhkalaf). seseorang tolong aku biar gak nulis cerita kayak begini… T.T kalau (tetep) mau baca aku saranin sambil dengerin lagunya

eternity; sebuah kondisi yang datang setelah kematian dan tidak akan berakhir…

Cahaya.

Dengan kecepatan 299.792.458 meter per detik, tidak ada yang dapat mengejarnya. Tak peduli seberapa keras kau berusaha untuk tetap membuka mata saat menyalakan lampu, kau pasti akan tetap dikalahkannya. Sesuatu yang tidak bisa digapai, sesuatu yang dengan mudahnya berlalu. Hanya tinggal untuk sekejap saja sebelum akhirnya pergi.

Seperti benang tipis bermain di ujung jemarinya. Terkadang ia mengira ia sedang memegangnya. Ilusi—atau mungkin itu hanya harapan yang terlalu besar yang membuatnya delusional dan membawa dirinya berkhayal akan sesuatu yang tidak pernah ada di sana.

Dingin. Tetapi kalau ia dapat merasakan angin yang memang tidak ada itu berarti sebelumnya ia merasakan kehangatan bukan? Kalau tidak begitu untuk apa lelaki itu merasa begitu kedinginan dan merasa harus memakai jaket musim dinginnya dan masih harus memeluk dirinya sendiri? Semua tidak masuk akal. Udara yang menusuk kulit dan sensasi di telapak tangannya, seakan memintanya untuk meraih sesuatu yang lelaki itu sendiri tidak ketahui.

Mungkin akan lebih mudah bila menjelaskannya sebagai mimpi. Bagian dari alam bawah sadarnya, hasil dari imajinasinya dan otaknya yang kelelahan setelah aktivitas di pagi hari.

Tapi kalaupun itu jawaban yang ia cari, kenapa semuanya terlihat begitu nyata? Senyuman, suara tawa dan rasa hangat yang muncul di dadanya, membuat semua hal yang lihat tampak lebih berwarna, berarti. Tiap hal itu serasa tertanam di memorinya, sesuatu yang sudah melekat dan tidak bisa dilepaskan.

Sudah berhari-hari, minggu, bulan, lewat begitu saja dengan dirinya yang tampak seperti orang linglung setiap detik ia melewati hidup. Seberapa keras ia berusaha melupakannya, menimbunnya dengan kebahagian palsu yang ia buat, tidak ada yang berhasil. Hanya ingatan yang berjalan terlalu cepat, timbul tenggelam di benaknya hingga rasanya ia ingin muntah.

Terkadang ia terduduk dan terdiam, memikirkan itu semua. Lebih dari sekali ketika ia sedang sadar, terbebas dari hal-hal yang telah ia masukkan ke dalam dirinya, ia berpikir, akankah lebih baik apabila ia tidak melawan ingatan itu? Menerimanya seakan itu adalah hal paling normal yang diserahkan dunia kepadanya?

Tetapi ia tidak akan mendapatkan apapun. Kesempatannya sudah lewat. Dunia tidak akan memberikannya kembali apa yang sudah dikembalikan.

Rasanya ia ingin tertawa. Lelaki itu tidak ingin hidup seperti ini, bingung tanpa arti. Itu bukan dirinya.

Udara malam berhembus pelan dan mengelus pipinya yang basah. Matanya merah, sembab, tapi ia tidak menutupnya, hanya melihat ke jalan di hadapannya, gelap dan melarangnya untuk berdiri di sana.

Ia sudah tidak peduli akan hal itu. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan otaknya yang berpikiran sama dengan jalan gelap itu. Jantungnya berdegup keras sampai rasanya ia dapat mendengar setiap detaknya. Konstan seperti sebuah jam. Seberapapun ia berusaha meneguhkan pendiriannya di detik ini pun ia tetap merasa ketakutan walaupun tubuhnya membatu tidak ada niat untuk pindah dari posisinya.

Suara keras datang dari depannya. Sumber cahaya membuatnya harus menyipit.

Orang normal mungkin akan segera melompat dan menyingkir dari kereta yang berjalan ke arahnya tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Tetapi lelaki itu hanya menatapnya dengan wajah datar di tambah dengan seuntai senyum kecil di wajahnya.

Angin menjadi lebih keras ketika kereta itu terus mendekat tiap detik berjalan, dan ia tetap tidak mengubah keinginannya.

Sehelai kertas di tangan, sesuatu yang rasanya harus ia bawa di saat ini terbawa angin. Saat kertas itu menari terbawa pergi dapat terlihat nama pria itu: Jung Taekwoon dan nama seorang wanita. Kertas itu menyentuh tanah dengan lembut ketika kereta itu menghantam tubuh pemiliknya.

Hanya cahaya yang Taekwoon lihat detik demi detik ia dapat terlepas dari mimpi buruk ini. Suara yang semakin keras seakan dapat menghancurkan gendang telinganya. Kalau ia sempat berbicara mungkin ia akan berkata: “Ya sudahlah”. Menutup matanya, Taekwoon tidak melihat cahaya yang terus semakin terang namun potongan-potongan ingatannya yang ia coba lupakan.

Suara piano.

Jemari yang bermain di atas tuts berwarna hitam dan putih, miliknya dan milik seseorang yang sangat berharga.

Tawa yang menggema saat tubuh mereka menari kikuk diiringi lagu ballad.

Kehangatan matahari pagi saat sebuah senyuman menyapanya ditemani aroma secangkir kopi.

Iya. Taekwoon tidak ingin semua itu berakhir. Ia tidak berniat untuk melepaskannya hanya untuk sebuah mimpi buruk. Dan apabila semua hal yang membuatnya bahagia adalah sebuah mimpi, maka ia pikir akan lebih baik apabila ia terus berada di mimpi itu dan tak usah bangun lagi.

Semuanya putih. Apapun yang ia lihat berwarna putih. Tubuhnya terasa aneh—terlalu ringan menurut pendapatnya. Perasaan takut dan asing tiba-tiba membanjiri pikiran lelaki itu. Untuk sedetik ia panik sampai sepasang lengan memeluknya dari belakang dan tubuhnya yang dingin seperti kembali diisi dengan kehangatan yang rasanya sudah berabad-abad ia tidak rasakan.

“Kenapa kau datang ke sini?” perempuan itu bertanya pada Taekwoon tanpa basa-basi. Tidak ada ‘hai’ dan semacamnya. Sesuatu yang selalu perempuan itu lakukan, ingat Taekwoon.

Lelaki itu hanya tersenyum lembut dan mendesah. Ia menatap ke langit yang sama putihnya dengan apapun di tempat itu.

Diletakan tangannya di atas tangan perempuan yang akhirnya berhasil ia raih, tidak ingin melepaskannya dan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini semua nyata. “Aku hanya merasa tidak bisa hidup tanpamu, itu saja”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s