I Thought I Saw Your Face Today [part ii/ii]

 

[Part ii/ii – FINAL]


Teman yang duduk di kursi sebelah Nana adalah laki-laki cuek yang membenci Nana karena perempuan itu selalu mengatakan dirinya adalah anak SD yang salah masuk kelas.

Kim Nana adalah perempuan pertama yang membuat Kyungsoo berpikir ada bagusnya juga membawa pisau ke sekolah.

Kyungsoo selalu membenci Nana karena perempuan itu selalu meletakkan sekotak susu sapi kaya akan kalsium di dalam lokernya setiap hari.

Nana yang lahir di bulan Agustus selalu meminta untuk dipanggil Noona oleh Kyungsoo yang lahir di bulan Januari.

Nana yang memaksa Kyungsoo membawa akte kelahiran untuk membuktikkan kebenaran mereka berada di shio yang sama.

Dan sore ini Nana yang itu tiba-tiba memanggilnya Oppa.

“Kyungsoo Oppa.”

“Menjijikkan.” Do Kyungsoo segera menutup bekal makanannya, tahu persis kalau lengah sedikiti Ebi Furai kesukaannya bisa dilahap habis Nana sekali gigit.

“Aku dilema. Kau masih ingat soal Kai dan Sehun yang sering kuceritakan itu kan?” Ia duduk di sebelah Kyungsoo. Berusaha tidak berfokus pada kotak bekal berselera milik Kyungsoo Nana memandang dandelion kecil yang sedikit lagi akan terbang terbawa angin.

“Aku bukan sahabatmu, berhenti bercerita hal semacam ini padaku.” Kyungsoo memutar bola mata. Nana selalu bercerita padanya, soal Sehun ini dan Kai itu. Sedikitpun laki-laki itu tidak pernah merespon cerita Nana yang anehnya perempuan itu tetap membuka mulut, bercerita sesuka dirinya sekalipun tahu ceritanya tidak menarik perhatian Kyungsoo.

“Aku sangaaaaat membenci Kai dan kukira Kai juga sangaaaaaaaaat membenciku.” Nana masih bercerita asyik sekali sehingga Kyungsoo yang sudah bisa membaca keadaan segera membuka kotak bekalnya dan melanjutkan makan udang goreng tepung favoritnya.

“Tapi kemarin lusa ketika aku kembali ke Seoul ia mengatakan kita harus bersama. Kai bilang ia membenci dan menyukaiku di saat yang bersamaan. Apa benar bisa begitu? Aku bertanya padanya tapi ia tidak pernah menjawab setelah kuberitahu aku sudah bersama Sehun.”

Laki-laki yang sedang memasukkan udang ke limanya tiba-tiba nyaris tersedak ketika Nana merangkul bahunya.”Terima kasih Kyung, kau selalu ada untukku, seperti Joseph.”

“Siapa Joseph?” Akhirnya Kyungsoo buka mulut, sambil hati-hati menjaga utuh bekalnya ia mengangkat satu tangan Nana yang terasa menjijikkan ketika melekat di bahunya.

“Biri-biri milik nenekku. Dia pendengar yang baik, tidak pernah berbicara hanya mendengarku.”

Dan Kyungsoo meremas sumpitnya.

 

#

#

Setelah Sehun mengirim surat tertulis di udara yang menurut Nana romantis. Perempuan itu akhirnya melakukan hal yang sama. Ia membuka amplop dan berbicara, mengganggap setiap kalimat yang keluar dari mulutnya akan masuk ke dalam udara di dalam amplop. Ada perasaan yang melegakan ketika berbicara pada benda mati. Atau kadang benda hidup tapi tidak bisa bicara seperti Joseph dan Kyungsoo.

Tidak ada yang menilai apakah itu salah atau benar, tidak ada yang memotong cerita, rahasia terjaga aman karena bagaimana pun juga, si pendengar tidak punya otak (tidak punya hati khusus untuk Kyungsoo).

Setelah Nana mengirim suratnya, tidak perlu menunggu waktu lama karena mungkin Sehun pakai jasa kirim kilat, besoknya surat yang sama datang lagi, masih kosong dan membawa aroma keju parmesan kesukaan Nana. Selanjutnya tanpa banyak pertimbangan ia memutuskan memecah celengannya dan membeli beberapa tangkai mawar. Sehun suka wangi mawar dan Kai mengejeknya seperti wanita.

Kelopaknya segera dicabut dan dimasukkan pada amplop untuk Sehun. Kyungsoo yang melihat Nana melakukan hal itu hanya menggelengkan kepala. Nana ingat persis kalimat yang keluar dari laki-laki itu, dari nada bicara bahkan tatapan karena itu pertama kalinya Kyungsoo yang pertama kali membuka mulut.

“Kau masih menyukainya.”

Dan setelah itu Nana menelpon rumah Sehun, nomor yang terselamatkan di antara puluhan struk pembayaran karena dulu pernah membeli bunga di toko bunga keluarga Oh.

“Halo dengan toko—“

“Ini Nana, Kim Nana, teman dari Oh Sehun.”

“Jadi kau temanku?” Sehun sudah berada di ujung telepon sana. Mereka terhubung dan Nana tidak tahu kenapa ia merasa mereka harus terus terhubung.

“Yah aku temanmu, terima kasih suratnya Sehun— dan uhm— kabar?”

“Baik.”

Kyungsoo mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, memandang jengkel pada Nana yang baru saja merebut paksa ponselnya. “Waktumu sepuluh detik lagi,”

“Waktuku terbatas, sejujurnya aku tidak punya ponsel dan aku lupa nomor telpon rumahku. Aku merasa harus menghubungimu sekarang juga. Kau tahu kan, seperti ini momentumnya, kalau bukan sekarang aku tidak bisa bicara lagi.”

“Kalau begitu ini nomor?”

“Temanku, jangan hubungi nomor ini lagi. Ini nomor terkutuk kau bisa mendapat kesialan kalau menelponnya. Aku sarankan setelah ini kau menghapus data panggilan masuk dari nomor ini.” Nana tersenyum pada Kyungsoo dan seketika hilang ketika Kyungsoo menulis sesuatu di atas buku tulisnya. ‘Kakakku yang sedang wamil sedang meluangkan waktu untukku, aku harus berbicara padanya.’

“6.5 detik lagi.” Tiba-tiba Kyungsoo sangat menikmati wajah panik Nana.

“Aku masih menyukainya! Eh— maksudku ‘mu’ kau mengerti kan?”

Sehun diujung sana diam, ia masih memproses semua kalimat itu, terasa berantakan sekali otaknya karena sempat terpikir ‘nya’ yang dimaksud Nana adalah Kai. Tapi dua detik berlalu tiba-tiba Nana berkata lagi. “Waktuku 4 detik lagi! Mu! Maksudku aku menyukaimu. SEPERTI SUARA SAPI ‘MOO’ BUKAN ‘NYA’.”

Ikut merasa panik, Sehun tambah panik, ia benar-benar panik, Nana menyukainya membuatnya merasa panik. “Ka-kalau begitu kita harus bersama kan?”

“Kurasa begitu! Bye Sehun!” Lalu Nana memutuskan panggilan.

Kyungsoo langsung merebut ponselnya dari tangan Nana, agak paksa dengan hasil beberapa bekas cakaran pada lengan laki-laki itu. Skenario kakaknya yang wamil bohong belaka dan ia memutuskan tidak akan memberitahu Nana soal itu

 

#

#

Cinta pertama Kim jongin adalah wanita yang berbeda jauh dengan Nana. Dia dingin dan keren, dia berkarisma dan kadang menggemaskan. Dulu Kai tergila-gila dengan wanita ini, namanya Jung Soojung.

Saat itu setelah mencuri majalah wanita punya Nana dan membaca rubrik zodiak yang mengatakan hari ini adalah hari keberuntungan orang Capricorn Kai memutuskan menyatakan perasaannya pada Soojung. Untungnya Soojung menerima pernyataannya dan mereka berpacaran, cocok sekali.

Karena terlalu cocok satu sama lain Kim Nana merasa hidup menjadi tidak adil. Apa bagusnya seorang Kai sampai bisa memiliki kekasih seperti Soojung?

Wanita yang levelnya jelas berbeda dari Nana. Soojung  perhatian yang selalu mengikat kuat tali sepatu Kai sehingga Nana tidak lagi dengan mudahnya dapat melepas tali sepatu itu.

Soojung wangi yang setiap berada di dekatnya Nana merasa oksigen di sekelilingnya berubah vanilla karena parfum wanita itu.

Soojung yang rambut merahnya sangat mempesona sampai membuat Nana minder dengan rambut hitamnya.

Dan terakhir, Soojung yang diam-diam menyukai Sehun yang membuat Nana merasa terkhianati. Mengetahui saingannya adalah Jung Soojung Nana memilih melupakan perasaannya pada Sehun, karena tidak suka kalah menurutnya lebih baik ia keluar dari permainan.

Tapi berbeda dengan Nana, Kai justru merasa baik-baik saja. Ia tidak pernah membenci Soojung karena sejujurnya, ia dan Soojung sama saja.

“Kau tidak apa-apa?” Soojung tidak tahu harus bertanya apa lagi. Tiba-tiba Kai memaksanya datang ke Beansbins Coffee, tempat kencan mereka dulu. Laki-laki ini tiba-tiba mengeluarkan sekotak monopoli dan memutuskan mereka harus terus bermain sampai Kai menang. Menang dari permainan adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Kai merasa lebih baik sekarang.

Kai yang sejak tadi mengabaikan Soojung masih berfokus menggerakkan pionnya. “Membayar $500 karena berfoto dengan patung Liberty.” Ia memutar bola mata dan meletakkan selembar uang mainannya ke tengah papan.

Soojung menghela napas, terakhir kali ia bermain monopoli dua tahun lalu untuk menemani keponakanya yang baru saja bisa membaca, sekarang ia bermain monopoli untuk menemani seorang pemuda berumur 18 tahun yang baru saja patah hati. “Giliranku.” Ia memutar panahnya, stop di angka empat yang segera membuat Kai mengerang kesal.

“Kalau bermain dengan Nana aku pasti menang.” Kai tidak tahan, ia ingin membalik papan permainan .Soojung baru saja mendapat $1000 karena mendapat penghargaan noble sedangkan dirinya harus mengeluarkan $500 hanya karena patung Liberty? Kai bahkan lupa bagaimana bentuk patung Liberty dan ia harus membayar untuk patung yang katanya ia pernah foto bersama itu? Hidup dan monopoli sama saja, sama-sama tidak adil.

“Ulang lagi permainannya, kali ini aku mau pakai pesawat yang biru. “

“Astaga.” Sambil memutar bola mata ia memilih pasrah membiarkan Kai mencabut seluruh rumah yang sudah payah dibelinya.

“Setiap bersama Nana kita selalu berebut memakai pesawat biru. Itu pesawat keberuntungan, aku baru ingat tadi.”

“Kalau kau terus membicarakan Nana kenapa kau tidak mendatanginya saja langsung?”

Kai akhirnya mau menjawab, setelah berhasil membeli tiga rumah di Perancis di permainan tadi ia merasa lebih baik. “Aku malu. Baru saja menyatakan pada perempuan yang sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya temanku sendiri.”

“Kalau begitu kau rebut Nana dari Sehun.” Soojung meskipun terlihat santai tapi sesungguhnya sangat menaruh harapan pada Kai untuk berhasil mendapatkan Nana.

Kai meremas miniatur-miniatur rumah monopoli hingga beberapa detik kemudian mengumpat kesakitan karena atap rumah itu melukai telapak tangannya. “Kenapa kau tidak bisa membuat Sehun menyukai dirimu? Kalau kau dan Sehun bersama pasti aku dan Nana akan bersama juga.”

“Jadi penyebab semua ini adalah aku?” Perempuan yang disalahkan melipat kedua tangan di depan dada. Jongin tidak pernah berubah, terlalu kekanakan, inilah yang membuat Soojung berpindah ke Sehun.

“KAU. Kalau aku harus masuk rumah sakit karena stress kau yang harus membiayainya karena kau lah penyebab hancurnya hubunganku dengan Nana.” Ia membagikan uang mainannya pada Soojung, saking kesalnya hampir berniat mengurangi jatuh uang perempuan itu.

“Kalau aku menang permainan ini kau harus merebut Nana dari Sehun.” Berkata yakin Soojung pun mulai menghitung ulang uangnya mengingat Jongin punya kebiasaan bermain curang.

“Dan kalau aku yang menang, kau harus merebut Sehun dari Nana.”

Deal.” Dan mereka berdua bersalaman.

 

***

 

Sehun agak malas sebenarnya bangun pagi-pagi menyiram seluruh bunga di tokonya.  Sebenarnya ia memang pemalas. Ketika Sehun sekali lagi lupa memasukkan kertas suratnya dalam amplop ia tidak berniat mengirim ulang suratnya lagi, parahnya amplop itu pernah terpanggang bersama Makaroni Keju oleh ibunya ketika terselip secara tidak sengaja ke bawah loyang.

Dengan setengah hati laki-laki itu memakai celemeknya asal-asalan, menurut Sehun laki-laki bercelemek sambil membawa penyiram itu tidak maskulin. Sebagai laki-laki Oh Sehun memang termasuk laki-laki biasa, biasa dalam artian ia remaja laki-laki kebanyakan, yang suka malas belajar dan rajin bermain. Yang suka makan tteokbokki pinggir jalan dan minum cola sampai dua botol. Keluarganya normal dan temannya normal. Yang rasanya terbilang tidak normal kenapa ia bisa bersahabat dengan seorang seperti Kim Jongin dan klimaksnya, menyukai perempuan seperti Kim Nana. Kim Nana memang beda dari banyak wanita, tentu saja semua wanita berbeda, ada yang pendiam, ada yang cerewet, ada yang genit, ada yang cuek, tapi untuk Nana, tidak ada kosakata yang dapat mewakilkan orang seperti dia, sekedar kata aneh pun tidak bisa karena kadang Nana bisa menjadi wanita paling normal yang pernah dia lihat. Seperti saat ini, ia menelpon Sehun pagi-pagi sekali, hal yang hampir tidak pernah dilakukannya dengan alasan tidak punya ponsel.

Masih menyiram bunga Aster dengan ponsel yang dijepit diantara bahu dan telinganya seseorang tiba-tiba menepuk keras bahu Sehun.

“AWW! Oh baiklah— aku tahu ini nomor terkutuk, aku tidak akan menelpon balik padamu. Bye.” Sambil meringis ia menengok ke belakang, berbagai makian sudah di ujung lidah ketika tiba-tiba semua tertelan di ludah saat ia menyadari Hangyeol orang yang baru saja menepuknya.

“Oh halo hyung.”

Hangyeol tertawa, seperkian detik tadi ia tahu Sehun tengah mengutuknya. “Merusak pagimu yang sempurna ya? Dengan bunga dan telpon dari pacarmu?”

“Tidak— tapi kalau hyung merasa seperti itu tidak apa-apa.”

“Aku tidak mengerti kenapa adikku bisa menyukaimu tapi sudahlah, aku mau beli mawar putih untuk model lukisanku.” Hangyeol segera mengitari rak-rak yang terisi banyak pot sementara Sehun yang hampir tidak tahu apapun tentang bunga selain biji bunga Matahari bisa dibuat menjadi kuwaci memilih izin masuk tokonya mencari ibunya.

Setelah menentukan bunga pilihannya, Hangyeol meminta seikat bunga itu dirangkai, mata Sehun yang sejak tadi setengah terbuka karena mengantuk segera membelalak lebar saat menyadari tangan ibunya sedang memegang lukisan yang hanya terdiri dari garis lurus dan garis agak miring yang dibuatnya asal saat dipindah paksa ke kelas seni oleh Guru Shin.

“Ke-kenapa lukisanku bisa ada di ibu?”

“Oh— Gurumu baru saja membawanya untuk kita, katanya ruang seni sudah terlalu penuh.” Ibu Oh menjawab dalam senyum untuk pelanggannya yang biasa, Sehun tahu tinggal tunggu Hangyeol pulang sampai ia mendapat cacian soal lukisannya, rasanya ingin mengatakan itu lukisan abstrak tapi mengetahui ada seniman sejati di depannya tentu saja abstrak menurut Sehun adalah ngasal bagi Hangyeol.

Setelah Kim Hangyeol tampak puas sekali dengan rangkaian mawar putihnya ia menatap Sehun, kali ini tersenyum, senyum yang mirip Nana.

“Aku masih tidak mengerti kenapa Nana menyukaimu, tapi aku juga tidak mencoba untuk mengerti sih hahaha. Yah tapi, aku titip ini, punya Kai, tadi aku ke apartemennya tapi dia sedang pergi.”

“Oh baiklah—“ Dengan agak ragu Sehun menerima kantong plastik besar yang berisi gulungan kertas yang benar-benar besar karena Kai memang suka menggambar. “Tapi kenapa tidak ditinggal di depan pintu saja? Atau dititip—“

“Aku ingin kau melihatnya. Nah baiklah, sampai jumpa, semoga libur musim panasmu menyenangkan.” Hangyeol sudah berjalan pergi, senyum ala Nana nya sudah menghilang dan ia segera menjadi Hangyeol biasa yang tak bisa ditebak.

Ibu Oh yang sudah ingin mengkritik betapa memalukannya lukisan anaknya itu segera terdiam ketika Sehun di depannya hanya mematung menatap kertas yang dipegangnya.

Kai memang suka menggambar. Sehun tahu itu, gambarnya tidak terlalu bagus tapi ia memang suka menggambar. Seluruh buku pelajarannya diberi ilustrasi yang hanya Kim Jongin saja yang mengerti sisi artistiknya. Menurut Sehun sebagai teman yang mengamati perkembangan karya seni Kai, gambarnya yang paling realistis adalah gambar guru Shin yang sedang marah karena seluruh muridnya mendapat nilai di bawah empat, botak yang dibuat Kai sempurna, kedua pipinya yang merah sama persis dengan yang asli, bahkan bulu hidung yang keluar pun tidak terlupakan oleh Kai.

Sekali lagi, ia tahu Kai suka menggambar, tapi sedikitpun, Sehun tidak tahu Kai suka Nana.

Gambar Nana dihadapannya memang tidak serealistis gambar guru Shin yang pernah Kai buat. Sehun masih bersikeras bahu Nana tidak selebar itu dan kakinya tidak seperti cakar ayam, tapi sisanya, Sehun tidak bisa berkata apa-apa. Sehun tidak tahu kalau di mata Kai Nana memiliki bulu mata lentik dengan mata berbinar, memang agak sipit sebelah (Kai selalu mengatakan itu berjuta kali) tapi alis Nana dibuat indah sekali oleh Kai, jika seluruh gambar dibuat dengan krayon alis Nana satu-satunya yang dibuat rapi dengan spidol hitam. Kedua pipi Nana bersemu merah dengan tidak lupa tahi lalat kecil di pipi kanannya, di tangannya yang masih seperti cakar ayam Kai menggambar jam tangan yang kembaran dengannya hanya saja milik Nana warna pink, Nana memakai kaos kaki polkadot kesukannya dan Kai ingat kebiasaan Nana yang kalau memakai kaos kaki pasti sebelahnya melorot.Tangan kanan Nana membawa anjing, itu Monggu. Nana di sini senyumnya tidak kelebaran, senyum yang ini menjadi tawa terbuka lebar lalu di dalam mulutnya ada hati kecil sekali.

 

***

 

Setelah Kyungsoo bertemu Joseph dengan paksa ia tahu perempuan ini memang tidak beres. Berulang kali bertanya ‘apa yang harus kulakukan’ pada biri-biri putih yang menurut Kyungsoo malang sekali nasibnya, majikannya punya cucu seperti Nana.

“Hei Nana, berhentilah bicara pada hewan dan padaku, cari sahabat wanita lalu minta solusi.” Kyungsoo berusaha tidak terdengar peduli, ia tidak ingin Nana tahu kalau dirinya mulai kasihan pada perempuan itu.

“Aku tidak mau tahu jawabannya, aku takut mereka bilang selama ini aku salah. Tapi dipikir ini semua salahmu. Kalau Kyungsoo tidak mengatakan aku masih menyukai Sehun aku pasti tidak akan menyatakan perasaanku semudah itu padanya!”

“Tapi kau memang menyukai Sehun!” Jelas tidak mau disalahkan, Kyungsoo yang suka sekali mengabaikan Nana memilih langsung menjawab.

“Lalu kenapa belakangan ini aku selalu merasa bersalah? Aku merasa Kai terus menghantuiku. Dia menyukaiku. Kai si pecinta Soojung itu menyukaiku! Itu artinya aku lebih hebat dari pada Soojung kan?”

Sambil mengacak rambutnya, Kyungsoo menggeser langkahnya menjauh dari Joseph yang mulai mengendus-endus sepatunya. “Tidak juga, berarti ada yang salah dengan otak Kai. Lebih baik kau telpon Sehun dan katakan ‘halo Sehun aku menyukaimu tapi sepertinya menyukaimu membuatku merasa bersalah karena Kai menyukaiku juga.’”

“Benarkah? Baiklah aku pinjam—“

“Kau gila. Aku bercanda.” Kyungsoo menatap tidak percaya, ia tidak tahu seorang perempuan bisa sebodoh ini. “Kau menyukai Kai. Artinya kau selingkuh. Intinya kau salah.”

“KYUNGSOO MERESPONKU! KAU BUKAN JOSEPHKU LAGI.” Nana menunjuk-nunjuk Kyungsoo, dalam hati merasa bangga sekaligus kesal, bangga karena membuat Kyungsoo berbicara seakan mampu membuat Joseph bicara dan kesal karena Kyungsoo mengatakan hal yang paling dihindarinya.

“Aku memang bukan hewan peliharaanmu sejak awal. Kenapa kau tidak membeli biri-biri betina lalu nikahkan dengan Joseph dan anaknya menjadi peliharaanmu sendiri?”

“Tunggu, kenapa peliharaanku harus anak Joseph? Kenapa tidak istri Joseph saja yang kujadikan peliharaan?”

“Karena—“ Segera tersadar merasa tertular virus bodohnya Kyungsoo memijit keningnya. “Lupakan saranku, aku harus menelpon kakakku, ia meluangkan waktunya hari ini.” Kebohongan yang masih bertahan itu membuat Kyungsoo selamat dari Nana.

Sore ini, ia harus merencanakan sesuatu, bukan untuk Nana, untuk dirinya sendiri.

#

#

Jongin masih mengelus anjing peliharaan Nana. Setelah Nana pergi, Mong diputuskan tetap tinggal di Seoul dengan alasan kereta yang membawa Nana tidak memperbolehkan membawa hewan. Alasan yang terlalu sederhana menurut Kai, bagaimana pun juga Nana sudah merawat Mong sejak mereka kecil, ikatannya sudah terjalin kuat dan putus begitu saja karena kereta tidak memperbolehkan?

Kai tidak tahu kenapa ia jadi mempertanyakan hal itu, akhir-akhir ini selalu mempertanyakan apapun yang bisa dipertanyakan agar hidupnya tidak selalu berpusat pada Nana. Rasanya hidup semakin berjalan tidak masuk akal sejak kekalahannya di monopoli beberapa hari lalu. Hanya karena Kai menginap di rumah Soojung di Inggris yang harganya $300 ia kalah. Padahal rumah di Inggris yang paling murah tapi ia kalah.

Kalah telak, rebut Nana dari Sehun untukku.” Kalimat terakhir dari Soojung masih terngiang di telinganya, sangat mengganggu seperti dengung lalat yang ingin sekali dipukul, tapi memukul lalat menjijikkan sekali sehingga Kai tidak bisa melakukannya.

Ketika Jongin memutuskan akan mengirim surat untuk Nana tiba-tiba ponselnya berdering. Di layarnya terpampang nomor tidak dikenal yang sempat membuatnya mengernyit, lalu ketika ia ingat dari awal dirinya memang tidak pernah menyimpan nama di ponsel Kai segera menerima panggilan itu.

“Ini Kim Jongin atau Kai?” Si penelpon langsung berkata, pertama Kai tahu, nomor tidak dikenal ini memang benar-benar tidak dikenal karena suara yang terdengar benar-benar asing.

“Ya—“

“Aku Kyungsoo teman Nana di sekolah barunya, aku dapat nomormu dari orang bernama Sehun.”

“Nana? Kim Nana?” Kai mengepal tangannya, langsung merasa mendapat kekuatan mendengar nama itu tersebut.

“Yah dia. Perempuan sinting itu. Aku menelpon hanya ingin mengatakan kau harus datang ke sini karena Kim Nana berusaha bunuh diri, aku berusaha menghentikkannya tapi ia masih ingin melukai nadinya sendiri. Tolong kau datang, neneknya Nana masih tidur siang aku tidak bisa mengganggunya.”

Lalu telepon putus dan Kai segera berlari menuju stasiun kereta tanpa otak benar-benar bekerja.

#

#

Setelah turun dari kereta Sehun segera berjalan cepat menuju taman yang orang bernama Kyungsoo itu maksud. Beberapa jam lalu ia baru saja mendapat panggilan dari nomor terkutuk yang selalu Nana camkan padanya, dan mengetahui betapa tidak realistisnya Nana kadang-kadang ia memutuskan tetap berbicara pada orang yang kata Nana kalau bicara padanya kau akan mendapat kesialan dalam waktu 3×24 jam.

Kyungsoo mengatakan orang bernama Nana menyatakan perasaan pada dirinya padahal Kyungsoo tahu Nana sudah punya kekasih, merasa bersalah Kyungsoo memutuskan memberitahu Sehun secara langsung sekalipun Nana mengajaknya untuk berhubungan di belakang Sehun. Sehun tidak tahu antara mana yang harus dipercayainya, Nana polos atau Kyungsoo terkutuk, tapi apapun itu jawabannya Sehun akan tetap pergi, dari awal ia memang ingin bertemu Nana dan Kyungsoo sekarang memberi alasan masuk akal untuk menemui Nana.

#

#

Nana mendorong ayunan kosong, sekali lagi hantu Kai menghantuinya, masih berpikir Kai lah orang yang sedang didorongnya tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, Nana nyaris ingin memekik keras ketika orang dibelakang segera memberi isyarat diam.

“Kyungsoo kau mengagetkanku.” Nana mengernyit

“Kau juga selalu mengangetkanku dan aku tidak pernah protes.” Ujar Kyungsoo tenang sambil duduk di ayunan yang dalam imajinasi Nana hantu Kai segera membaur dalam udara ketika Kyungsoo duduk di atasnya.

“Kau tahu? Aku baru menelpon Sehun.”

“Oh benar— APA? JANGAN BERCANDA. KAU TERKUTUK SEHUN TIDAK MUNGKIN.”

Laki-laki itu membuang napas panjang, ia harus berkepala dingin karena sebentar lagi, satu-satunya orang yang bisa berkepala dingin hanya dirinya. “Aku juga berbicara dengan Jongin, atau Kai.”

“BA-BAGAIMANA BISA—“

“Aku minta nomornya dari Sehun, mengatakan kalau nenekmu rindu dengan Kai dan ingin bicara dengannya. Kau sendiri yang bilang Kai dekat dengan nenekmu.” Kyungsoo menambahkan kalimat terakhir ketika Nana memandang takjub seakan heran bagaimana Kyungsoo tahu tentang hubungan Kai dengan neneknya.

“La—lalu..” Nana mulai tenang, ia ikut duduk di ayunan samping Kyungsoo, terlalu tegang sampai tidak sadar Kyungsoo terus menatap ponselnya menunggu kapan baik itu Sehun atau Kai sampai ke sini.

“Aku mengatakan pada Sehun kau mencoba bunuh diri dan aku mengatakan pada Kai kau selingkuh dari Sehun dengan menyukaiku.

“AKU TIDAK MUNGKIN JATUH CINTA DENGAN HEWAN PELIHARAANKU.”

Berkepala dingin dengan Kim Nana di depannya benar-benar sulit, Kyungsoo sudah ingin mengeluarkan rentetan cacian ketika tiba-tiba sebuah suara berat menyahut nama perempuan itu.

“KIM NANA!”

Meskipun yang disebut bukan namanya Kyungsoo refleks berdiri dan memincingkan matanya, ia baru ingat ia tidak tahu seperti apa Sehun atau Kai sehingga saat ini dirinya tidak bisa mempersiapkan diri respon apa yang akan didapatnya, histeris atau histeris, dua-duanya histeris dengan alasan berbeda.

“KAU TIDAK BOLEH MATI LEBIH CEPAT DARI PADA AKU.”

Baiklah itu Kim Jongin. Dengan hati-hati Kyungsoo melangkah mundur dan bersembunyi di balik semak-semak. Nana yang masih terpana pada laki-laki yang berlari padanya seakan di belakang gerombolan banteng siap menyeruduknya tidak menyadari di belakang Kai sudah ada Sehun berjalan begitu cepatnya.

“KAI! Aku tidak menyukai orang bernama Kyungsoo itu! Dia bukan tipeku! Aku bersumpah!”

Kai terlalu panik, di dekat ayunan ia melihat pecahan botol kaca yang secara sengaja ditinggalkan Kyungsoo di sana. Selama Nana terus meracau soal selingkuh atau Kyungsoo yang ia bisa lakukan hanya merengkuh Nana. “Jangan mati.”

Beberapa meter di belakangnya Sehun hanya bisa menggigit bibir resah, Nana selingkuh atau bukan adalah masalah lain ketika tiba-tiba Kim Jongin muncul. “Nana?”

Nana melepas rengkuhan Kai dan berjalan cepat menuju Sehun yang memandang aneh padanya. “Aku sehat! Hidupku menyenangkan dan aku bisa melalui masalahku dengan cara yang normal. Aku tidak bunuh diri.”

Sehun melongo, tidak tahu mana yang harus dikomentari ia menengok kanan-kiri. “Mana orang yang bernama Kyungsoo itu?”

“Dia orang terkutuk! Kau jangan melihatnya percaya padaku. Sekarang ayo kita ke rumah, Kai kau juga ikut, aku akan menjelaskan aku tidak pernah selingkuh dan mencoba bunuh diri.”

Kyungsoo dibalik semak hanya terkikik, menukar apa yang diberitahu pada Kai dan Sehun hanya bonus untuk melihat kesalahpahaman antara tiga orang itu. Menyadari Nana berusaha menarik dua orang itu dari taman ia segera terbatuk dan keluar dari semak. Tiga orang itu memandangnya kaget seperti seekor beruanglah yang baru saja keluar.

“Aku yang bernama Kyung—“

“KALIAN BERDUA TUTUP MATA. Jangan percaya pada apapun yang dikatakan orang itu. Dia yang menyebarkan seluruh kebohongan ini.” Nana menutup kedua mata Sehun dan Kai dengan masing-masing telapak tangannya sementara Kyungsoo di depannya tiba-tiba merasa kaca yang dipecahkannya tadi lebih cocok untuk melukai nadinya sendiri, Nana benar-benar membuatnya stress.

“Aku membantumu Nana.”

“Tidak, kau ingin memberontak! Aku tahu kau lebih suka rasa stroberi tapi aku selalu memberimu rasa vanilla, tapi percaya padaku Kyungsoo, kandungan kalsium pada susu vanilla lebih—“

“Bukan itu Nana.”

“Kau memfitnahku karena aku satu-satunya orang yang tahu kau memalsukan umurmu kan? Tidak apa-apa Kyungsoo, noona tidak akan membocorkan asal kau tetap menjadi anak baik—“

“BUKAN NANA.” Kyungsoo berjalan cepat menuju Nana dengan dua orang sinting itu (karena menurut Kyungsoo orang yang bisa menyukai Nana hanya orang sinting).

“Kalian berdua dengar, Sehun, Jongin atau Kai. Kim Nana ini sebenarnya menyukai kalian, tapi ia tidak tahu lebih suka yang mana. Sehun, dia menyukaimu, tapi semenjak tahu Kai menyukai dirinya ia merasa menyukaimu sebuah kesalahan. Dan Jongin atau Kai, Nana menyukaimu, tapi pengakuanmu yang tidak jelas membuatnya bingung, kau bisa menjelaskan lebih rinci apa maksudnya membenci dan menyukai di saat yang bersamaan. Dan Nana, aku muak dengan segala dramamu, berhenti bicara padaku, karena kalau memaksaku lagi aku akan melakukan hal yang lebih parah dari ini. Besok aku akan membawa akte kelahiranku.”

Keempat dari mereka hening. Memproses setiap kata yang keluar dari Kyungsoo sementara yang baru bicara tadi masih menenangkan jantungnya.

“Boleh aku pulang?” Kyungsoo bertanya, jenis pertanyaan yang sekalipun seseorang melarang ia akan tetap pulang.

“Ten—tentu.” Kai mengangguk dan dengan itu Do Kyungsoo segera melesat keluar dari taman. Ia sudah melakukan sesuatu hari ini, sesuatu untuk dirinya agar selamat dari teror Kim Nana yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

#

#

Musim gugur ketika angin bersepoi terlalu sering sampai membuat Nana tertidur untuk kesekian kalinya. Saat ini siapapun yang melihat Kim nana akan mengernyit jijik pada air liur yang siap menetes membasahi bahu laki-laki yang menjadi sandarannya.

Kim Jongin mengambil tisu dari kantong kemejanya dan meletakkannya di tempat si air liur akan mendarat. Udara hari ini membuat darah di tubuhnya beku tidak bisa bergerak, selain faktor jaketnya yang dipakai untuk selimut Nana, bagaimana perempuan itu terus menempel padanya membuat tubuh Kai kaku. Ada yang beda ketika Nana bersamanya, bukan hanya soal oksigen disekitarnya jadi terbagi dua karena Nana mengambilnya, tapi juga karena Nana selalu membawa perbedaan pada apapun hal yang berbau umum. Sulit dijelaskan karena apapun jadi sulit dijelaskan ketika bersama Nana.

Ketika Nana menghabiskan jatah sarapannya sebagai balas dendam sulit dijelaskan kenapa Kai tidak bisa marah padahal Nana baru saja memakan habis Waffle kesukaannya. Saat Nana mengatakan Sehun bersama Soojung tidak cocok lebih cocok dirinya lah yang bersanding dengan Sehun, sulit dijelaskan kenapa Kai tidak pernah cemburu.

Hubungan mereka memang sangat canggung. Mungkin karena dua-duanya terbiasa saling membenci tanpa alasan, lalu tiba-tiba saling menyukai tanpa alasan juga. Kai merasa kehilangan setelah mereka berpisah sementara Nana merasa dihantui ketika mereka berpisah. Seakan ada benang transparan yang membuat Jongin dan Nana tidak boleh berpisah, terserah kalau mau saling membenci asal jangan berpisah.

“Ambilah.” Sebuah ubi bakar terjulur di depan mukanya, Kai yang sudah setengah mengantuk segera tersenyum dan menerima hadiah Kyungsoo.

“Aku bersyukur kau suka bersama Nana.

”Dan aku bersyukur kau tidak suka bersama Nana.” Sambil memakan ubi bakar dan menjatuhkan pelan-pelan Nana pada pahanya, Kai membuka ponselnya, mencari sebuah gambar yang membuatnya tidak bisa menahan senyum. “Coba lihat, Joseph sudah punya anak.”

Kyungsoo tahu harusnya ia tidak penasaran soal hal ini, tapi tetap, ia memilih akan bertanya. “Yang mana peliharaan Nana? Anak atau ibunya?”

“Nana mengatakan anaknya Joseph untukku. Ibunya milik Hangyeol, kakak laki-laki Nana.”

Kyungsoo yang mengernyit segera memandang Nana yang masih tertidur, bertanya dalam hati kenapa perempuan itu tidak juga memiliki  biri-biri sendiri. Nana selalu mengatakan ia iri pada neneknya yang memiliki biri-biri yang jarang mengembik seperti Joseph.

“Aku mengatakan untuk apa anak Joseph untukku, dan kau tahu dia bilang apa? Aku sudah punya hewan peliharaan, namanya Kyungsoo.”

Dan Kai juga tidak tahu, kenapa ia tidak iri ketika Nana mengatakan itu. Semua sulit dijelaskan dan karena terlalu sulit dijelaskan lebih baik hentikan saja cerita ini.

Lalu angin sepoi berhembus.

Kyungsoo mengutuk Nana dalam hati.

Perempuan yang dikutuk tersenyum dalam tidurnya, pangerannya datang menjemput dengan keledai putih karena Kai tidak cocok dengan kuda.

Si pangeran yang diimpikan hanya tersenyum tanpa tahu mimpi perempuannya mengatakan dirinya mati dibakar naga.

Lalu mereka hidup bahagia, tentu di kehidupan nyata.

 

#

#


(A/N)

SELESAAAAAI. Aku lagi latihan bikin cerita tamat dan akhirnya bisa HEEETYEHETYEE sekalian ngabuburit sambil berkarya c:

Demi Allah (eh ga boleh demi2an) aku udah mikir final chapter ini bakal angst, bakal ada perpisahan dengan long kiss lalu kehidupan baru, tapi tiba2 waktu ngetik tanganku ngetik cepet banget ga bisa dihentiin, aku udah nyuruh otakku untuk berhenti tapi dia terus ngetik dan ceritanya jadi kayak gini  KALIAN KECEWA GA. Aku terus terang kecewa tapi aku tidak bisa memungkiri kalau aku suka cerita ini :^) meskipun hampir ga ada moral maksudku kayak ga bijaksana gitu fanficnya 

Meskipun akhirnya Sehun bukan sama Nana tapi enggak sedih2 banget kan? Meskipun gaya pacaran Nana dan Kai tidak disebutkan tapi feel mereka tetep dapet kan? Meskipun Kyungsoo jahat banget kalian tetep sayang sama dia kan? Meskipun— yasudahlah yang penting hepi yeay.

14 thoughts on “I Thought I Saw Your Face Today [part ii/ii]

  1. Berbukalah dengan yang manis dan aaaaah apa nih, gak terlalu manis sih tapi luar biasa menbghibur! Demi apa kyungsoo disini ngena banget di hatiku. Aku gak berhenti ngakak sumpah😀
    Setelah kemarin sedih baca detour #23 cerita kali ini cukup buat aku hepi
    Author jjang🙂

  2. HAHAHAHA! aku gak kecewa aku sukaaaaaa banget sama ceritanya,bahasanya ringan dan gak berbelit-belit,lucu bikin aku ketawa😄

    yaampun Kyungsoooo,evil banget sumpah! tapi aku suka,justru ini tantangan buat aku ngebayangin ekspresi bohong Kyungsoo yang biasanya gak pernah bohong.

    muka kyungsoo yang terlalu imut atau emang nana-nya yang merasa tua? hahahaha sampe disuruh bawa akte kelahiran segala😄

    Kai sama Sehun kasian udah lari-lari,panik,ternyata boongan.Tapi lebih kasian Sehun sih,soalnya akhirnya Kai sama Nana,bukan sama dia ._.

    aku suka karakter nana disini,yaaa walaupun otaknya sebelas duabelas lah sama si Encun,tapi lucu,justru gak bikin bosen bacanya,hahahaha.Semua part disini aku suka,semuanya lucu dan menggemaskan,manis dan imut-imut,aakkk aku sukaaa! keep writing kakak! ^^/

  3. Hyaaaaaaa kakak bisaan banget deh bikin cerita kaya gini nih ih gemes deh pen ta cubit kak fikra ih(?)
    Aku suka bangeeeet aaaaaaakk>< apalagi ada aku segala di sana (re:soojung) wkwkwk kakak tau aja kalo aku suka sehun haahahaha😄
    Kyungsoo pahlawan(y) kalo dia ga kaya gitu aku jamin masalah kai-nana-sehun ga bakal kelar sampe joseph punya anak hahaha😄 tapi licik juga sih caranyaa dasar kyungsoo tapi aku sukaaaaaa! Aku suka akhirnya nana sama kai karen udah pasti sehun sama aku *kan ngelantur*

    HAHAHAHAHAA NICE FF KAK! SERING SERING BIKIN YG KAYA GINI ^^

  4. RATOOHOORAT!!!😀
    padahal pengennya nana sama sehun (mungkin sehun ditakdirkan sama aku)
    dia lebih memilih jongin atau kai yang item gak kalah item dari sepanas aspal jalanan (jongin atau kai itu gak item tapi coklat atau putih tua)
    kasian sama kyung yang mesti tersiksa gara sifat nana yang bawaannya pengen dilempar batu (peluk kyung) /peluk fotonya/
    kenapa juga jongin atau kai dan sehun mesti jatuh cinta sama kim nana bobok yang super freak
    berharap ada sweet moment mereka di ending tapi apa daya mengingat sifat pemeran wanitanya tidak memungkinkan untuk diajak ber-sweet sweet moment
    sebenarnya gak tahu mau ngomong apa kak, karena ff-mu itu udah terjamin untuk wajib dibaca
    kak, kapan2 buat ff yang main castnya chen dong😀
    kalo oneshoot juga gak apa apa, kalo gak dibuatin juga gak apa apa😀

    salam overdose~ ^^v

  5. haaaii
    aku ga nyadar aku diem2 nungguin ff ini
    ffnya keren. anti mainstream!
    sampai cewek kayak nana pun anti mainstream! patut diabadikan
    dan my kyungsoo oppa ikut2 weird tapi dia paling normal diantara orang2 tidak normal itu-____- pokoknya keren!
    semangaaat kak author! salam kenal!

  6. Haha thor aku suka ffmu asli bikin tetawa sinting. Kasih 4jempol bwt ffmu.aku suka sama karakternya kyungsoo.

  7. AKU SUKA PAKE BANGET BANGET ENDINGNYA! Gapapa lah Sehun kalah sama Kai. Dan apa itu Kyungsoo? Tetep sama sifat gak acuhnya tapi berpengaruh besar sama hubungan Kai-Nana-Sehun. Kan kan aku tambah jatuh cinta sama Kyungsoo. Oh ya ceritanya manis kok, feel fluffy nya tetep dapet. Kak pikrachu kenapa aku selalu suka ceritamu?! Detour #24 sama Pastelnya dan mungkin cerita lainnya*aku lupa Pastel udah sampe chapter berapa. 23 atau 24?* kutungguin ya…. fighting ^o^

    • Aku agak kecewa sih nana sma jongin, hahahaha tpi aah gk ngerti deh gk tau bilang hahaha suka bagian yg ada kyungsoo nya hahaha lucuuu sumpah ini ff lucu :v nice ff walaupn ending nya agak gmna gtu hehehe tpi trtutupi krna sumpah ini ff lucu :v

  8. ah manis sekaiiiiiiiiiii!
    Aku sukaaaa cerita ini thor! haha
    Endingnya kerasaaa sampe ubun-ubun wkwkwk
    Penasaran nih sama ending detour! Keep writing thor!🙂

  9. Ini ucul banget bisa bayangin nana yang dorkynya setengah mati, huhu tapi agak sedih gak jadi sama sehun u,u tapi gapapa sama kai juga manis kok hihi

  10. Ketawa ngakaklah aku waktu Nana nyamain Kyungsoo sama Joseph–yang ternyata biri-biri. Please, Nana.
    Aku suka semua karakternya soalnya uniik.
    Kyungsoo konyol banget, pake nukar informasi segala biar mereka bertiga salah paham. Penyelesaian yang konyol.
    Emang dari awal aku kayak ngerasa Kim Nana lebih cocok sama Kai. Walaupun mereka berbeda, tapi akhirnya jadi satu juga kan. hhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s