Catching Feeling [2/?]

#02 S O M E T H I N G  A B O U T  U S

 

Menikmati makanan adalah salah satu aturan hidup Kim Minseok, atau bahkan tergolong prinsip jika kalian melihat betapa fokus mata lelaki itu ketika membelah mochi snack sorenya. Lu Han yang sejak 10 menit lalu masih mencurahkan keluhan soal betapa cerewet bibinya tidak cukup pintar untuk menyadari kalau menit kedua ia bercerita si sahabat sudah tidak mendengarnya lagi.

“Jadi bagaimana menurutmu?” Kalimat tipikal Luhan setiap selesai bercerita sudah keluar, tampak tenggelam dengan ceritanya sendiri membuat Luhan tidak sadar kalau diamnya Minseok bukan berarti ia berpikir mencari solusi masalahnya.

Minseok yang baru memasukkan sendok ke tujuh Mochi es krimnya hanya berdehem, menjulurkan mangkok makanannya seolah sejak tadi Luhan hanya memohon betapa ingin ia mencoba Mochi es krim itu. “Pertama, kau harus tahu ini salah satu tekstur mochi terlembut yang pernah kurasakan.”

“Oh Baozi. Persetan dengan tekstur. ” Lu Han tidak lupa memutar bola mata, biasanya ia akan langsung menghabiskan setengah porsi ketika si pelit Minseok tumben menawarkan tapi untuk saat ini ia benar-benar tidak mood, maka Lu Han mendorong kembali mangkok es krim itu.  “Aku tidak bisa makanan manis oke? Aku sudah cukup manis dan—“

“Lupakan. Lupakan. Jadi bagaimana ceritamu tadi? Aku hanya mendengar sampai bibimu membangunkan tengah malam untuk membeli makanan kucing.”

“Itu kalimat pertamaku! Jadi kau hanya mendengar kalimat itu sejak—“ Berseru jengkel Lu Han melihat jam tangannya, “Sepuluh menit lalu dan hanya 20 detik pertama yang kau dengar? “Mengerang kesal laki-laki itu memijit batang hidungnya, entah benar-benar lelah atau akting tapi Minseok memutuskan sibuk kembali dengan dessertnya.

“Yah, kalau kau tidak mau mengulang ceritamu juga bukan masalahku.” Minseok kembali membelah Mochi terakhirnya, seakan membelah Mochi berpengaruh dalam menjaga perdamaian dunia ia melakukan itu terlalu hati-hati tanpa sadar tersenyum melihat betapa sempurna perpaduan warna hijau Mochi dan es krim green tea yang mulai mencair.

“Terserah!” Lu Han beranjak dari kursinya, sadar tekstur Mochi tampak lebih menarik perhatian Minseok dari pada ceritanya maka ia mengambil kasar ranselnya membuat teh hijau Minseok tersenggol yang untungnya refleks laki-laki itu cukup baik untuk menahannya sebelum terjatuh. Sambil  memijit keningnya ia benar-benar berjalan pergi meninggalkan meja Minseok yang hanya menggelengkan kepala melihat temannya meninggalkan Waffle yang sama sekali belum tersentuh, penghinaan pada dunia makanan.  

Mata Lu Han mengitari seluruh cafetaria mencari  sosok pendengar yang bisa diandalkan. Well, Lu Han memang benar populer, pengakuannya pada Sarang kalau ia  punya banyak teman memang bukan kebohongan, temannya banyak; baik atau pria atau wanita yang artinya membuat laki-laki itu tidak perlu ambil pusing jika ia merasa kesepian. Tapi masalah sebenarnya adalah ketika dalam hati, sosok teman tidak cukup berarti bagi Lu Han. Laki-laki itu tidak membutuhkan orang yang  haanya sekedar bis menjadi temannya. Sahabat bisa dikatakan penting untuknya, tapi ia butuh definisi lain, bukan hanya teman baik atau sahabat, Lu Han tidak tahu apa sebutannya tapi ketika tiba-tiba matanya menemukan sosok yang dicarinya, laki-laki itu segera menjetikkan jari.

***

Minseok yang tidak ambil pusing melihat betapa kecewa Lu Han memilih melanjutkan acara snack sorenya. Hari ini ia sudah cukup baik dengan Lu Han, pulang dari MBC ia benar-benar mengabulkan permintaan temannya unuk membawakannya tanda tangan BoA yang  sulit sekali didapat ketika si tuan manager benar-benar menjaga BoA sama pentingnya seperti menjaga Ratu Elizabeth. Mengambil kesimpulan sederhana maka Minseok berpendapat Lu Han tidak punya alasan untuk kesal dengannya. Lagi pula diam-diam ia juga mempunyai tanda tangan CL yang bisa dipakainya untuk membujuk Lu Han jika sahabatnya itu benar-benar marah.

Selesai menyelesaikan Mochinya laki laki iu beralih pada Oreo Panna Cotta yang menjadi klimaks qualiy timenya ketika tahu-tahu seseorang berdehem terlalu keras untuk kategori orang yang tenggorakannya hanya gatal.

“Seingatku kau penderita diabetes dan hmm mari kita lihat, Baozi memesan es krim Mochi, Panna Cota dan Waffle coklat? Seseorang benar-benar sayang dengan hidupnya ya.” Kalimat sarkastik itu membuat Minseok mendongak, kernyitannya kembali muncul melihat perempuan nomor satu dari urutan terakhir yang ingin dilihatnya sudah berdiri di depannya.

“Seseorang yang bahkan tidak bisa membedakan hypothermia dengan leukimia tidak pantas untuk mengomentari menu makananku.”

Memilih mengendikkan bahu terlebih dahulu sebagai pertanda kalau ia tidak peduli soal sindirian Minseok yang memang benar ia  mengambil tanpa izin Waffle coklat Lu Han, langsung memakan setengahnya dalam sekali gigit. “Belakangnya sama-sama mia, dan maaf aku memang bukan anak Biologi.” Mulutnya masih penuh membuat Minseok yang paling benci melihat orang berbicara dengan makanan di dalamnya mendecak jijik. Merasa melihat Sarang hanya akan merusak momen snack sorenya, Minseok menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Sarang bosan.

“Dan Sarang, karena aku cukup pintar sekalipun aku bukan anak Biologi, bukankah karies gigi membuatmu tidak boleh makan makanan manis?”

“Argh! Anak-ibu sama saja!” Merasa tertangkap basah Sarang menggeram jengkel segera berjalan uring-uringan meninggalkan meja, rambut hitamnya yang biasa tergerai sekalipun suhu mencapai 40°c  kali ini terikat sempurna ekor kuda. Minseok yang tanpa sadar terus mengekori Sarang sampai perempuan itu benar-benar hilang memandangnya heran

Saat mereka libur musim panas dulu, sekalipun cahaya matahari musim panas Jepang sudah membuat Minseok memakan es serut sama banyaknya dengan meneguk air putih, hal itu tidak berlaku pada  Sarang yang bersikeras tidak akan mengikat rambutnya, mengatakan tidak ingin leher putihnya belang yang membuat Minseok keheranan apa sunblock tidak ada dalam otak wanita itu.

***

Lu Han sudah meletakkan Waffle coklat barunya di atas meja baru yang akan dijadikan pendengar bisu ceritanya nanti. Baginya jauh lebih bijaksana membali Waffle baru dari pada harus kembali ke meja Minseok mengambil makanannya yang tertinggal, terlebih ketika secara tidak sengaja ia melihat Sarang sedang menggigit setengah wafflenya. Sementara Kyungsoo yang baru saja menutup MacBooknya berusaha tidak mendengus terlalu keras melihat Lu Han duduk di depannya. Selesai menyelesaikan desain one-room apartment hal terakhir yang ingin dilakukannya adalah mendengar cerita Lu Han.

“Hei Kyungsoo kau tahu aku merindukanmu.”

“Batasmu sepuluh menit.” Kyungsoo melipat tangannya di depan dada, menatap tajam Lu Han seakan berusaha mengirim telepati kalau ia terlalu lelah untuk mengomentari apapun itu cerita Lu Han.

“Aku benar-benar ingin pindah dari rumah bibiku.” Luhan berkata, tahu betapa serius Kyungsoo ketika mengatakan waktu berceritanya hanya sepuluh menit. Kyungsoo hanya diam tanda stopwatchnya benar-benar sudah mulai. “Memandikan kucingnya yang berjumlah belasan hampir setiap minggu, lalu membuang kotoran mereka setiap sore bukan alasan utamaku Soo.”

“Lalu?”

“Hmm—“ Sambil memasukkan potongan kecil Wafflenya Luhan menghela napas. “Ia tidak berhenti membawa pulang seorang perempuan hampir setiap minggu ke rumah, bertingkah sebagai ibuku berusaha mencari perempuan yang tepat untukku. Astaga umurku masih 21. ”

“Bukankah artinya dia sayang padamu?”

“Sayang dan kasihan beda tipis.” Lu Han memutar bola mata. “Tahun lalu sejak ibuku meninggal yang dia lakukan hanya mengkasihaniku. Dan itu adalah hal terakhir yang aku butuhkan, yah jujur aku lebih suka ia memberiku uang dari pada membawa gadis ke rumah setiap hari.”

Kyungsoo yang sudah menopang dagu di atas satu tangannya menaikkan alisnya bingung. “Hei bukankah kau suka perempuan, siapa yang setiap melihat wanita cantik selalu mencari akal untuk mendapatkan nomor ponselnya?” Tangan Kyungsoo meraih milkshake kesukaannya, mengaduk pelan sambil menunggu Luhan kembali membuka mulut.

Menancapkan garpu pada wafflenya seolah itu adalah balon yang harus dipecahkan Lu Han mendecak. “Perempuan yang ia bawa selalu wanita polos yang membuatku merasa menjadi pedophilia jika mengencani mereka. Aku punya sesuatu yang bisa dikatakan tipe oke? Dan berpacaran dengan anak baik terlalu membosankan. “

Sambil menghela napas Kyungsoo pun membuka ponselnya, sementara Luhan tiba-tiba berganti topik soal seperti apa tipe perempuannya, tangan Kyungsoo bergerak lincah mencari artikel soal quotes ‘di belakang pria sukses pasti ada wanita baik’ yang tampaknya dibutuhkan oleh seorang Lu Han. Detik ketika ia menemukan artikel itu, mulutnya yang sudah telanjur terbuka tidak bisa mengeluarkan suara ketika tiba-tiba pandangannya terpaku pada sosok wanita yang berhenti tepat di belakang Lu Han.

“Lu-Ge! Aku baru berpikir waffle yang kucoba di meja Baozi tadi benar-benar lezat, tapi aku terlalu malas untuk membeli yang baru dan dang! Kau membeli waffle yang kuinginkan. Jadi boleh aku minta?” Seperti biasa tanpa menunggu respon setidaknya, gumaman atau anggukan tangan Sarang langsung sigap mengambi potongan terakhir yang sengaja Lu Han sisakan untuk gigitan terakhir, potongan Waffle favorit yang paling mendapat banyak bagian blueberry. Entah Sarang yang memang gesit atau Lu Han yang terlalu lama kaget melihat potongan kesayangannya hilang begitu saja, karena ketika si laki-laki membalikkan badan siap protes, si perempuan sudah menghilang.

Kyungsoo menelan ludah, kembali mematikan ponselnya yang memang lowbat. Seketika mengurungkan niat menceramahi Lu Han soal tipe wanita ketika ia sendiri baru sadar dirinya tidak cukup pantas untuk memberi nasehat semacam itu

“Jadi Kyungsoo.” Lu Han sudah kembali menjadi dirinya, seakan tadi Sarang sama sekali tidak muncul untuk mengganggu sesi heart-toheartnya dengan Kyungsoo ia kembali berkata semangat. “Yang ingin kukatakan adalah, boleh aku pindah ke apartemenmu sementara waktu?”

“Tidak.” 100% tanpa keraguan Kyungsoo menjawab. Tanpa mengecek apakah benar batas 10 menit sudah lewat atau belum ia memasukkan laptopnya ke tas, menyeruput sampai habis Strawberry Milkshakenya lalu beranjak dari kursi. Tidak perlu bagi Kyungsoo untuk berpikir dua kali, ia tahu jika dirinya memboleh Lu Han pindah dan berbasa-basi anggap-saja-rumah-sendiri pada Lu Han maka temannnya itu akan benar-benar menganggap itu rumahnya sendiri.  Lu Han yang memilih menyerah karena ia tahu percobaan pertama membujuk Kyungsoo pasti gagal hanya bersiul riang. “Ini lah kenapa kau dan Sarang putus.”

Kyungsoo mengendikkan bahunya, berusaha menganggap kalimat Lu Han barusan sama tidak pentingnya dengan ramalan zodiak yang ia tonton pagi tadi. “Dan kau tahu apa? Putus dengan perempuan itu bukan sesuatu yang buruk.“

“Iya pangeran.” Lu Han mengedipkan matanya.

***

 Empat tahun lalu pertemuan pertama mereka berdua; Do Kyungsoo dan Lee Sarang.

Kedua dari mereka terpilih sebagai pemeran utama untuk pementasan drama Snow White sebagai perayaan ulang tahun sekolah  yang merupakan permintaan pribadi kepala sekolah yang menganut prinsip never too old for Disney. 

Mendapat peran pangeran sudah cukup membuat Kyungsoo makin enggan masuk sekolah, dia benci seni peran untuk alasan kalian tidak perlu tahu. Setiap sore ketika seluruh orang sibuk mempersiapkan pentas tahunan yang selalu menjadi acara bergengsi sekolah mereka, laki-laki itu selalu bolos latihan. Kyungsoo selalu melakukan apa yang menurutnya benar. Dan baginya menghindari peran pangeran lebih dari benar.

Berulang sampai H-3 ketika dirinya tidak sengaja bertabrakkan di koridor dengan Sarang yang tengah melakukan pelarian masih mengenakan gaun Snow Whitenya.

“Hei kenapa H-3 si Snow White masih berlarian seperti ini?” Sungguh konyol Kyungsoo masih berani mendikte orang lain ketika dirinya justru melakukan hal yang sama, berlari dari tanggung jawab.

“Aku bisa gila dengan latihan sparta itu, bahkan si pangerannya membuatku muak.”

Kyungsoo menaikkan satu alisnya ia dengar dari Lu Han mereka memang sudah menemukan pangeran pengganti sekalipun sebenarnya Kyungsoo masih diharapkan kembali sebagai pangeran yang asli.

Menghela napas Kyungsoo membungkukkan badannya mengambil apel milik perempuan itu yang terjatuh tepat di samping kakinya. “Kalau begitu kenapa masih mau menjadi Snow White?

“Aku punya tanggung jawab, sekalipun aku membenci gaun dan tingkah laku Snow White yang terlalu polos tapi aku sudah ditunjuk dan aku harus membuktikkan, aku orang yang bisa diandalkan. Well tidak seperti si pangeran yang kabur, bukankah menggelikan? Dia laki-laki dan kabur begitu saja tanpa mencoba?” Sarang tanpa sadar mengoceh, melampiaskan rasa dongkolnya pada orang yang dengan mudah melempar tanggung jawab membuat Sarang harus adu akting dengan kakak kelas mesum yang kadang-kadang sengaja menyentuh pahanya ketika ia melihat Sarang tertidur di peti.

Kyungsoo mendengus. Mencoba peran pangeran merupakan hal yang sudah ia lakukan sejak dulu sekali, ia sudah hafal skenario si pangeran di luar kepala, ibunya yang memiliki teater membuat sejak kecil laki-laki itu mau tidak mau menghafal skenario drama klasik yang katanya harus dimengerti demi menjaga nama baik keluarga mereka.

“Pangeran punya alasannya sendiri oke?”

“Yah suka-suka dia. Orang yang punya alasan sendiri untuk melemparkam tanggung jawabnya untuk orang lain memang tidak pantas memerankan pangeran. ” Sarang mengendikkan bahu, merebut apelnya yang masih ditangan Kyungsoo dan meninggalkan laki-laki yang hanya memijit tengkuk kepalanya frustasi.

Hari H ketika si mesum pemeran pengganti pangeran tidak bisa datang keracunan makanan akibat tidak bisa membedakan apel yang sudah dicat. Kyungsoo yang ditarik Lu Han akhirnya terpaksa datang mengambil kembali peran pangeran. Sarang tercengang karena tuan yang menabrak sekaligus mendengar celotehnya adalah orang yang menjadi penyebab utama Sarang sengaja memberikan si pemeran pengganti apel beracun, Sarang benar-benar tidak ingin beradu akting dengan orang mesum itu, lebih baik ia berakting dengan si pangeran pengecut lagi  pula ia dengar pemeran asli yang ditunjuk kepala sekolah jauh lebih tampan. Semua menjadi plot-twist paling jungkir paling bagi Sarang, ia tidak tahu Kyungsoo bisa berakting jauh lebih baik dari dirinya yang sudah berlatih sejak dua bulan lalu, ia tidak tahu kalau shampo wangi strawberry tetap maskulin jika laki-laki itu yang memakainya, klimaks dari semuanya adalah totalitas Kyungsoo yang pada akhirnya benar-benar memberikan ciuman sejati untuk Snow White.

***

Giginya yang baru ditambal dua minggu lalu kembali berdenyut, Sarang menahan napasnya, membuka kamar Minseok yang akhir-akhir ini menjadi kamar keduanya karena laki-laki itu tidak pernah lagi tidur di rumahnya sendiri semenjak Sarang secara intensif harus melakukan pemeriksaan rutin terhadap karies giginya.

“Astaga.” Tangannya memegang pipi yang setengah jam sejak memakan waffle Luhan makin membengkak. Tanpa sempat melepas ranselnya ia menaiki kasur Minseok, menikmati aroma kopi karena laki-laki itu menggunakan biji kopi sebagai isian bantalnya.

Sementara itu laki-laki yang sejak tadi bersenandung karena baru mendapatkan One Piece terbaru tampaknya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dengan Ace sehingga tidak menyadari kejanggalan kenapa pintu rumahnya sudah terbuka.

“Astaga.”

Kali ini giliran Minseok yang bersuara, sampai rasanya ia harus mengucek mata karena sumpah ia sudah mengecek jadwal ibunya berulang kali, memastikan pasien bernama Lee Sarang tidak ada jadwal periksa hari ini. Kantong berisi jar cake yang sejak tadi dipegangnya erat jatuh begitu saja ketika mendorong pintu kamarnya melihat Sarang sudah menutupi diri dengan selimutnya.

“Kau tidak punya jadwal periksa hari ini.” Minseok menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh perempuan itu. Alisnya nyaris bertaut saking bingung sekaligus jengkel karena Sarang tidak juga bereaksi.

“Lee Sarang. Ibuku menghadiri seminar hari ini.”

Sarang masih meringkuk dengan posisi janinnya membuat Minseok baru sadar hal itu membuat setengah pahanya terekspos, sambil menghela napas ia kembali menutupi tubuh Sarang dengan selimutnya. Kim Minseok cukup tahu diri untuk tidak mencuri kesempatan melihat hal yang bukan menjadi haknya.

“Hei Sarang?” Entah kenapa khawatir ia mulai mengguncang bahu perempuan yang masih tidak bereaksi itu. Sarang mengingatkannya pada kelinci peliharaannya yang mati, ditemukan Minseok sudah terbujur kaku. “Kau baik-baik saja kan?”

Minseok mulai mengacak rambutnya frustasi.

“Aku lupa menggosok gigi—“

Butuh beberapa detik bagi Minseok untuk menyadari sesuatu. Tangannya berhenti mengacak rambut saat isak tangis Sarang terdengar. Saat ketika dirinya hanya bisa menatap siluet tubuh yang masih terbungkus selimut itu semua menjadi jelas.

Hari kedua di Jepang tepat setelah Minseok kembali dari jogging paginya, mata Kim Minseok menangkap Lee Sarang, perempuan yang baru kemarin dikenalkan ibunya sebagai pasien baru, yang kebetulan sekali, ibu Sarang memenangkan lotre liburan gratis ke Jepang lalu mengajak keluarga mereka liburan bersama.

Masih merasa canggung, tanpa menyapa Sarang yang sedang menuang susu ke gelasnya Minseok menghampiri kulkas, mencari jus jeruk ketika tiba-tiba Sarang membuka mulut.

“Kenapa kau rajin sekali? Maksudku kita kan sedang liburan, tidak ada salahnya untuk sementara berubah menjadi orang malas yang hanya mengenal tidur.” Masih dengan kumis susu di mulutnya Sarang memandang heran Minseok, membuat laki-laki itu menahan senyum geli karena rambut bangun tidur perempuan itu benar-benar mendefinisikan ‘orang malas yang hanya mengenal tidur.’

“Hanya berjaga dari sekarang kalau aku ingin memiliki masa tua yang menyenangkan.”

 “Biar kutebak. Aku sering melihat ini di iklan,” Sarang mengusap dagunya tampak berpikir keras. “Kau memiliki keturunan gula darah tinggi?”

“Yep.”

Tidak terprediksi oleh Minseok perempuan itu justru tersenyum lalu mengancungkan jempolnya. “Oh aku mengerti perasaanmu. Jika saja waktu kecil dulu aku sudah berpikir sepertimu, tentu aku bisa menikmati masa mudaku sekarang, betapa aku ingin bisa memakan dessert sesukanya seperti kebanyakan wanita yang memiliki perut kedua untuk makanan penutup.”

Minseok memiringkan kepalanya bingung. Belum bisa menangkap maksud kalimat Sarang.

“Karies gigiku agak parah, tapi terima kasih untuk ibumu tidak separah yang dulu. Lupa menggosok gigi saja bisa membuatku hariku terasa seperti di neraka.”


(a/n)

Tebak siapa yang tiba-tiba kembali menjadi author produktif?

Aku!

Guys makasih komentar kalian dari chapter pertama! HUGS. aku mencoba ngebuktiin betapa berterimakasihnya aku dengan ngupload chap 2 secepat yg kubisa /wink

20 thoughts on “Catching Feeling [2/?]

  1. Uwaaaahhh, ada yang sedang kelebihan ide cerita nihhh..
    Sampai harus ngebut nulisnya, idenya udh ketumpuk bngt ya kak xDDD
    Hoo, aku udh liat beberapa titik cerah sih ttg snow white yg sarang benci, juga hub. minseok sarang yg kupikir amatlah jelek trnyta gak separah itu juga. Mereka kayak sling benci cuma di depannya doang, tp sbnarnya pduli. ciyeeee…
    Hmmm, part 2 ini masih bercerita ttg profil awam aja yaa, ttg keseharian dll jdny yaahh belum greget xD
    Untuk penulisan, mngkin bisa di edit lg bbrp kalimat dan kata pengulangan. Mungkin karna terlalu terburu2 nulis, jd bnyk yg terlewatkan dalam proses editing..
    Walaupun lagi cnta bngt sm ff ini, detournya ttp disayang juga dong kakk xDDD
    After all, ttap cinta sm smua karya kak pika. fighting kaakk

  2. Oh My God! Seneng banget liat Chatching Feeling update chapter kedua. Padahal baru kemaren baca chapter 1-nya. Oh jadi, dua-duanya punya penyakit yang bikin mereka gak boleh makan makanan manis banyak-banyak ya. Oh jadi gitu cara ketemu Kyungsoo sama Sarang. Dan,Aw! Aku suka Kyungsoo yang keras kepala. Walaupun masih berasa Kyungsoo di Detour-nya tapi masih kerenlah. Aku tunggu chapter 3 nya ka!^^

  3. ceritanya belum gereget yahh,next chapter bikin gereget ya kak pikraa,kangen tulisan ka pikra yang bikin jantung degdegan hihi…

  4. Tuh. Seperti yang aku bilang di chapter 1, kadang aku benci sama keberuntungan OC di ff dan pangeran nyium snow white, aaaaakkkkkk terlalu egois kalo aku berharap snow whitenya itu aku hahahaha

    Dan kenapa akhir ceritanya mesti buat aku geregetan dan penasaran sama apa yg bakal xiumin lakuin menghadapi sarang yang nangis karna sakit gigi~~

    Akkkkk dan aku tetap menantikan detour dan pastel :3

    Terima kasih syudaaah membuat ff ini🙂 fighting!

  5. Aku gak bakal komen tentang kamu yang jadi cepet apdet kak, karna udah pasti para readers bakal menyambut dengan senang hati
    Makin ke sini aku makin terhanyut dengan karakter xiumin, dan aku rasa karakter cuek itu cocok dengannya walaupun sebenarnya dia peduli. Intinya antara peduli dan tidak. Hhuhuhu, aku jadi seneng xiumin.
    Aku ngerasa kalo karakter luhann dan sarang itu seperti hal yang tertukar, aku malah gemes sama luhan yang cerewet.
    Ditunggu banget loh penjelasan hubungan antara sarang sama kyungsoo, entah kenapa bikin aku makin penasaran sama mereka berdua.
    Oke, keep writing kak!
    Saking semangatnya ngepost, kamu sampe lupa ngedit beberapa typo

  6. Ohohohohoho😄 i’m here kak pikaaaaaaa *turun dari permadani*

    Entah menurutku di chapter dua ini ada banyak hal yang terungkap dan yang jelas bikin aku ‘makin mengerti’ ff ini.

    Pertama,aku biasanya gak terlalu ambil serius tentang ff kak pika.Kayak Chaeri-Kyungsoo yang kadang2 kalo ngomong nyelekit tapi saling biasa aja.Tapiiiiiii….pas Sarang bilang kalau Minseok itu punya penyakit diabetess…aku langsung mikir.

    INI SERIUSAN?!

    Gatau kenapa pikiran aku malah jauh kemana-mana .-. Uhhh,uri Baozi oppaaa~~~~

    Kalo soal Luhan gatau aku mau komen apa.Yang jelas dia seperti Drama King kalau menurutku.Selalu melebih-lebihkan peristiwa –” Tapi itu yang buat aku jatuh cinta sama Luhan yang kayak gini,gimana ya ngejabarinnyaaa *.*

    KYUNGSOO! dia jurusan arsitek-kah? aaakkk ngebayangin Kyungsoo masuk jurusan arsitek kayaknya gimanaaaa gituuu,awwww!😄

    Kharisma Kyungsoo sedikit menurun pas aku tau dia kabur jadi peran pangeran,karena menurutku itu terdengar egois.Lee Sarang aja yang gak suka dongeng tanggung jawab masa Kyungsoo begitu,apalagi dia cowok,seharusnya lebih gentle.Tapiiiiiiii~ Aku kembali dibuat kesemsem karena ngebayangin Kyungsoo pake baju pangeran,aduh,aduh aduh,aku mau jadi Snow White-nyaaaaaaaaaa!

    Walaupun Minseok di chapter 1 keliatan banget gak suka sama Sarang,kalo menurutku di chapter ini dia keliatan gak terlalu benci Sarang.Apalagi yang Sarang ada di kamar Minseok,entah menurutku mereka keliatan deket kayak temen lama.Aku berharap mereka bisa lebih dekeeettttttt lagiiiiii,hihihihihi :3

    Hft.Aku telat banget banget kayaknya,kemaren aku banyak tugas-sekarangpun sama- T.T huaaaaa😦

    Aku ikut seneng kak pika udah produktif lagi,semoga makin makin produktif ya kak! Semangat!

  7. Urii soosoo, meski dia bukan main chara kemunculan di tiap chapter selalu ku tunggu, hihi.. because he’s my bias:-D
    Kak nulisnya enakan pitasan euy, penyampaiannya ringan dan ngalir gitu aja. Sukaaa FF ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s