Catching Feeling [3/?]

03. Back to the Start

     Minseok hanya menatap Sarang yang tidak berhenti menangis. Meskipun sebenarnya, perempuan itu tidak benar-benar menangis, matanya hanya berair tapi mungkin tunggu beberapa detik lagi hingga air mata itu mengalir keluar, kedua bibirnya terkatup rapat tapi entah kenapa ekspresi matanya membuat Minsek dapat mendengar jeritan sesungguhnya dari Sarang, sehingga tetap, di mata Minseok perempuan itu menangis.

Duduk di pinggir kasurnya Minseok pun menghela napas panjang, “Buka mulutmu, aku mau lihat sudah separah apa.” Sarang yang merasa terlalu lemah segera membuka mulutnya  sementara Minseok yang mengernyit mengangguk ringan memberi tanda Sarang sudah boleh menutup mulutnya. “Gerahammu bermasalah lagi. Kapan terakhir kali ditambal?”

“Dua minggu lalu–”

“Tunggu. Jadi untuk apa kemarin lusa kau kerumahku?”

Sarang memeluk lututnya, menyembunyikan malu yang tiba-tiba menyaingi rasa sakitnya. “Bermain Xbox dengan Nara.”

Kim Minseok hanya menggeleng-gelengkan kepala, sulit mengeluarkan kritik ketika ia mengerti seberapa menyedihkan kondisi perempuan itu . “Aku dengar dari ibu menggigit bawang putih bagus untuk sakit gigi.”

“Tidak, kau tidak akan menyuruhku menggigit si putih bau itu kan?” Ujar Sarang dengan matanya yang sudah membulat horor.

Sambil beranjak dari kasurnya Minseok pun menatap heran Sarang. “Jangan bertindak seperti anak kecil yang menyisakan paprika dari pizzanya.”

“Aku selalu memakan bersih pizzaku. Hei ini soal bawang putih berwarna putih. Kau tahu aku benci warna putih!”

“Aku tidak tahu. Dan permisi, kau makan bakpau saat makan siang aku melihatnya tadi.”

“Tapi bawang putih akan membuat mulutku bau.”

“Itu tidak seperti kau akan berciuman setelah menggigit bawang kan?”

“Dan rasanya sakit sekali! Seperti kau meneteskan cuka pada lukamu yang masih basah..”

“Kau harus menahannya, ayolah hanya beberapa detik.”

“Tapi..”

Minseok memutar bola matanya, dulu sekali ia pernah melakukan hal yang sama pada pasien ibunya yang berumur empat tahun, dan sekarang melakukan pembicaraan yang sama dengan wanita berumur 20 tahun, rasanya, absurd. “Titik. Lee Sarang akan menggigit bawang putihnya dan tidur. Aku benar-benar lelah Sarang. Kau baru saja menghancurkan malam mingguku yang berharga.”

“Bisa kau menemaniku di sini? Sampai ibumu pulang.”

“Maaf?” Memincingkan matanya Minseok hanya menatap bingung Sarang.

“Rasa sakitku akan hilang jika seseorang mengelus telapak tanganku sampai aku tertidur.”

“Wow. Hahah.Tidak.”

***

S A R A N G

Dan Kim Minseok benar-benar membawakanku bawang putih.

“Kau tidak akan memintaku menyuapimu kan?” Matanya menatapku bosan mungkin karena ini sudah hampir menit ketiga sejak ia menjulurkan sepiring bawang tepat di depan hidungku. Aku tetap memandang langit-langit karena menghitung berapa stiker bintang yang ditempelnya lebih baik dari pada beradu mata dengan Baozi.

“Kapan ibumu pulang?”

“3 Jam lagi atau lebih. Dan lebih baik kau gigit sekarang. Aku pernah dengar kasus meninggal karena—“

“Oke stop.” Aku menaikkan tangan, memintanya menutup mulut karena membicarakan kematian menjadi topik terlalu berat ketika kau sakit gigi.

“Haruskah aku membuka wikipedia dan menjelaskan manfaat bawang putih untuk gigimu hmm?” Akhirnya ia menurunkan piring itu, Kim Minseok terlihat benar-benar letih dan aku tidak percaya aku akan menggigit bawang putih sialan itu karena aku kasihan dengannya.

“Baiklah, aku akan menggigitnya.” Tanganku yang gemetar segera mengambil potongan terkecil yang mungkin besarnya hanya mencapai jempol bayi. Minseok terus menatapku penuh antisipasi, semacam tatapan yang orang berikan ketika menunggu adegan puncak dari akrobat sirkus. Apa melihat Lee Sarang memasukkan bawang ke mulut sama menariknya dengan melihat singa meloncati cincin api? Ketika mulutku sudah terbuka dan tatapan laser Minseok terasa melubangi kepalaku, mataku terpejam. “Bisa kau berhenti menatapku seperti itu?”

“Aku hanya memastikan kau tidak akan menipuku.”

“ Ibuku bahkan tidak menatapku seperti itu saat resital pertamaku dulu.”

Kali ini Minseok membuang napas, aku tahu laki-laki itu tidak akan menyerah. Dia bukan tipe orang yang akan berhenti melakukan hal yang dianggapnya benar, dan memastikan aku tidak menipu dirinya adalah hal yang benar menurut Minseok. “Oke aku tidak akan melihat.” Ia merenggangkan tangannya, kupikir Minseok akan berdiri dan berjalan keluar tapi laki-laki itu malah melipat kedua tangannya di depan dada.”Tapi aku akan memastikan kau benar-benar memakan bawang putih itu.”

“Tadi kau bilang hanya menggigitnya!” Aku kembali menjauhkan bawang itu dari mulut, karena menggigit dan memakan adalah berbeda.

Ia menatapku frustasi dan aku balas menatap sama frustasinya. “Tidak ada yang salah dengan memakannya?”

“Wangi bawang ini akan membekas dan itu hal yang salah.”

“Dan kalau kau tahu, “ Tiba-tiba Minseok mengambil seraup bawang “ Bau mulut bisa dihilangkan dengan menyikat gigi.” Tanpa peringatan ia segera memasukkan bawang itu pada mulutku, mengunci paksa mulutku tidak memberikan kesempatan untuk memuntahkannya, saat ketika aku merasakan lubang pada gerahamku menjadi berjuta-juta kali lebih perih aku tahu apa yang dimaksud dengan neraka dunia. Tapi, hal terburuk dari semua ini adalah, seseorang tersenyum melihat momen penderitaanku. Minseok tersenyum. Dia tersenyum. Pada Lee Sarang dia tersenyum dan tepat ketika aku menelan habis seluruh bawang ia mengangkat tangannya. “Harusnya aku lakukan ini sejak tadi.”

      

***

          Satu jam kemudian setelah merasakan bagaimana bawang putih membantu mengurangi rasa sakit lubang gigi aku beranjak keluar dari kamar sementara Minseok yang terlalu sibuk menonton film dokumentasi imigrasi bangau di Jepang tidak menyadari ‘pasien’nya sudah beranjak keluar dari kamarnya. Ia benar-benar tahu bagaimana cara menghabiskan malam minggu yang benar. Kau tahu, ketika Minseok mengatakan ‘malam mingguku yang berharga’ kupikir ia akan mengajak pacarnya ke rumah atau menghabiskan berjam-jam di depan meja menghafal apapun itu yang jelas lebih baik dari pada bermalasan di atas sofa TV menonton Animal Planet.

“Baozi, aku pulang.”

Dari balik sofanya ia menengok, mataku menangkap tangannya mengambil seraup coklat M&M dan betapa aku ingin mengomentari soal Diabetes Melitus ketika tiba-tiba ia mendecak, “Sudah kubilang bawang putih obat yang manjur.”Aku meringis melihat wajah penuh kepuasannya, dia memang tidak tersenyum tapi aura seberapa besar dirinya merasa benar sangat terasa.

“Terima kasih Prof. Kim tapi—“ Kalimatku terhenti, tiba-tiba Minseok membesarkan volume TVnya, cukup keras sampai aku yakin ia melakukan ini hanya untuk menggangguku.

“Silahkan pulang, hati-hati di jalan.”Antara ia mencoba menjadi orang menyebalkan atau ia menjadi orang menyebalkan (selalu dua pilihan itu Minseok) ia kembali memalingkan kepalanya, memandang takjub bagaimana sekumpulan bangau terbang dengan indahnya. Aku hanya berdiri dengan mulut terkatup, aku tahu, Minseok memang selalu seperti itu, hanya padaku.

***

Ini bagaimana aku dan Minseok bertemu.

Mungkin sebulan yang lalu, atau lebih. Aku tidak pernah bisa mengingat tanggal tapi aku ingat persis itu hari terpanas musim panas karena kami bertemu ketika aku menghabiskan Frozen Yoghurt ketigaku. Di bandara sambil menunggu keluarga Kim yang akan menjadi teman seperjalanan kami datang aku terlalu sibuk memperhatikan seorang kakek-kakek yang membaca korannya terbalik. Ia memincingkan matanya, mungkin bingung sejak kapan hangul berubah bentuk. Aku terlalu penasaran bagaimana kakek itu akan menyadari kalau koran yang dibacanya sejak tadi terbalik sehingga ketika ibuku berteriak Hei Sarang keluarga Kim sudah sampai aku tidak mendengarnya.

Hei? Seseorang menepuk bahuku.

Si Kakek membalik halaman selanjutnya dan interupsi dari si penepuk bahu membuatku mendecak kesal.

Kita sudah dipanggil.

Sstt— Kakek itu membetulkan letak kacamatanya, aku tidak tahan untuk mengingatkannya. Mungkin klimaks dari kasus ini si kakek akan menutup korannya jengkel.

Ekhm Seseorang berdehem, dan kalau ia kembali membuka mulut maka aku akan menginjak kakinya.

Tunggu sedikit lagi.

Detik selanjutnya plot-twist terjadi dengan seorang pemuda datang mendekati kakek itu, mengatakan beberapa kata hingga si kakek menjetikkan jari dan membetulkan posisi korannya. Aku mengerjapkan mata memastikan penglihatanku benar kalau sekarang laki-laki itu berjalan menghampiriku. Ia terbatuk lalu menggaruk rambutnya dan semburat merah di kedua pipinya membuatku lemah. Kita akan ketinggalan pesawat.

Kita?Sebelah alisku naik, dan mungkin dia menganggap itu hal yang lucu karena detik selanjutnya ia tertawa.

Aku Kim Minseok, anak Dr. Kim.

          Saat kau bertemu, berkenalan, bertatapan dengan Kim Minseok kau akan tahu dia adalah pria seperti itu. Laki-laki yang langsung pulang ke rumah setelah sekolah, ganti baju lalu mencuci tangannya dan memakan puding roti. Kakak laki-laki yang tahu bagaimana cara menyenangkan Ibunya tapi bingung bagaimana membuat adik kecilnya berhenti menangis. Seseorang yang memiliki tuntutan soal sarapan yang sehat tapi mengabaikan jenis cemilan macam apa yang akan dimakannya. Itulah Kim Minseok yang aku tahu.

Nara. Aku memanggil adik perempuannya. Masih berumur sembilan tahun dan dia benar-benar manis, terutama wangi shamponya. Kakakmu, apakah dia membenciku? Karena sejak turun dari pesawat tadi ia sama sekali tidak memandangku.

Kakakku pemalu. Dan dia tidak akan membenci seseorang tanpa alasan.Nara membalik Vogue yang dibacanya.

Aku mengerjapkan mata, menggigit bibir karena bicara soal alasan, dia punya alasan untuk membenciku mengingat bagaimana aku tidak sengaja menjatuhkan es krimnya dan dia hanya mengkerut mengatakan tidak apa-apa ketika aku tahu betapa Minseok menginginkan es krim itu sejak pertama si pramugari menawarkannya pada kami.

Di  pesawat tadi ia selalu sibuk menonton padahal aku sudah berulang kali mencoba mengajaknya berbicara.

Oppa pemalu. Nara melirik Minseok. Kakaknya sedang tertidur dengan penutup mata pandanya. Dan kaku itulah yang membuatku malu bagaimana aku mempunyai kakak seperti itu.

Aku memiringkan kepala, merasa pembicaraan ini akan mengarah ke privasi aku memutuskan tidak bertanya lebih lanjut. Mengetahui masalah orang lain akan membuatku terbebani dan Lee Sarang tidak suka merasa terbebani.

Bangunkan aku kalau sudah sampai Nara.

Setengah jam kemudian aku terbangun, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar hotel. Lalu yang kedua Kim Minseok yang duduk  di atas sofa membaca seriusPipi si Kaus Kaki Panjang.Melihat bagaimana  cahaya matahari sore membuat matanya terpincing silau saat membaca aku terjaga beberapa detik, ia menguap dan memiringkan lehernya kanan kiri, mata kami bertatapan dan ia tersenyum.  Saat itu aku berpikir, dia akan menjadi orang favoritku..

***

Hari ini aku sampai di kampus lebih cepat, tidak seperti pagi yang biasanya ketika aku harus berlarian sepanjang koridor pagi ini aku bisa berjalan tenang. Pagi seperti ini pagi yang membuatku merasa menjadi tokoh utama serial drama. Aku bahkan menyempatkan diri membeli minum di Starbucks meskipun aku bukan penggemar kopi, lalu duduk di taman sambil membuka buku sketsa yang pada akhirnya berakhir dengan aku menggambar burung merpati yang menyerupai anak ayam.

Duduk sendiri seperti ini, hal yang bisa kupikirkan adalah bagaimana jadinya jika saat seperti ini aku masih bersama Kyungsoo. Mungkin ia akan duduk di sebelahku, mengoreksi sketsaku dan mengatakan lebih baik aku menyerah dalam menggambar, lalu ia akan mengambil alih pensil dan berpura-pura menggambar merpati ketika aku tahu ia sedang menggambarku.

Sulit bagiku melupakan seseorang, aku adalah orang yang sulit mengingat sesuatu, karenanya hal yang bisa kuingat pasti hal yang penting. Kyungsoo adalah orang pertama yang kupikirkan ketika sendirian karena ia punya kemampuan spesial yang akan membuat orang tidak akan merasa kesepian tanpa perlu melakukan apapun. Aku tidak punya sahabat perempuan, atau kalian menghitung Nara, Nara adalah satu-satunya sahabat perempuanku. Kyungsoo adalah sahabat pertamaku. Kami bermulai dari teman lalu sahabat menjadi kekasih berakhir menjadi orang asing.

“Hei hei lihat ini.”Lu Han tahu-tahu sudah duduk di sampingku, tangannya langsung menjatuhkan belasan katalog apartemen di atas pangkuanku. Mataku mengernyit“Apa maksudnya ini?”

“Aku akan pindah. Kau punya saran apartemen mana yang harus kuambil?”

“Apakah saranku akan mempengaruhi penilaianmu?”Ujarku malas tapi tetap melihat satu persatu setiap brosur. Mencari tempat tinggal adalah hal favoritku karena itu adalah hal mustahil yang bisa kulakukan. Senang rasanya berpura-pura melakukan sesuatu yang kau tahu kau tidak akan pernah melakukannya.

“Tentu saja, aku suka seleramu.”

“ Kau bahkan tidak mengenalku.”

“Aku mengenalmu lewat Kyungsoo. Ini favoritku, lebih baik yang ini atau ini.”Lu Han langsung merebut dua brosur yang kupegang,  ia punya selera yang jelek.

“Kenapa kau tidak bertanya pada Kyungsoo? Ini bidangnya.”Tanganku berhenti pada sebuah kamar apartemen berdinding putih, semuanya putih dan putih tidak cocok dengan Lu Han. Tapi aku suka kamar ini, jendelanya besar.

“Aku akan bertanya terakhir pada Kyungsoo.”Tiba-tiba ia mengernyit, mengambil lagi brosur lain yang sedang kupegang. “Seleramu sama dengan Minseok, ia juga memilih kamar yang ini, katanya jendelanya besar.”

“Tapi kamar itu tidak cocokmu. Sejujurnya dari pada mencari mana yang bagus lebih baik kau lihat apakah uangmu cukup untuk menyewa apartemen. Semua yang kau ambil mahal.” Aku mendesah dan merapihkan seluruh  brosur yang mulai berjatuhan, bagaimana ia bisa mendapat brosur sebanyak ini?

Ei, kau tidak sopan. Mungkin aku tidak terlihat seperti itu, tapi aku orang yang rajin menabung.”

Dahiku berkerut, memandang Lu Han dari kepala sampai ujung kaki. Si tampan yang sejak dulu terkenal sebagai playboy yang menggaet noona untuk mendapatkan uangnya. “Boleh aku tanya jam tangan Rolex yang kau pakai pemberian siapa dan bagaimana kau bisa memakai Tas MCM ketika aku tahu kau selalu memakan Ramyun sebagai makan malammu?”

“Sudahlah, lebih baik aku bertanya pada Kyungsoo.” Ia meniup poninya dan beranjak dari kursi, berjalan dengan hentakkan kaki yang dibesar-besarkan untuk mendramatisir karena dia laki-laki yang menyukai drama.

Lu Han pernah menjadi seniorku di SMA. Dulu dia sekelas dengan Kyungsoo lalu turun kelas karena absennya tidak mencukupi. Aku selalu ingin tertawa setiap mengingat tahun pertama SMA ketika menjadikan Lu Han sebagai obsesiku. Meletakkan coklat diam-diam pada lokernya, merekam setiap pertandingan basketnya, tidak mencuci kemejaku sebulan ketika secara tidak sengaja bertubrukkan dengannya, wow, betapa menggelikan Lee Sarang yang dulu.

***

Mungkin mulutku menguap terlalu lebar karena setelah dosen menjelaskan apapun itu tentang hukum pidana orang pertama yang ia tunjuk untuk menjawab pertanyaannya adalah aku.

“Kau yang memakai sweater pink.” Sialnya hanya aku yang memakai sweater pink.

Aku membenarkan posisi dudukku setelah hampir merosot jatuh karena mendengar orang berbicara nonstop selama dua jam adalah cara terbaik jika kau ingin mengantuk.“Katakan, ada sebuah kasus; seseorang telah melakukan pembunuhan terhadap orang lain. Untuk itu dia dikenai hukuman 10 tahun. Setelah 10 tahun selesai menjalani masa hukumannya ia bebas, dan selang beberapa waktu, diketahui ternyata korban yang diduga terbunuh itu ternyata tidak mati, dan akhirnya dia membunuh lagi orang itu. Pertanyaannya adalah, apakah dia dapat dihukum lagi karena ada asas nebis in idem; seseorang tidak dapat dituntut atas kesalahan yang sama apabila telah diputuskan hakim sebagai keputusan terakhir. Apa pendapatmu?”

Aku terdiam sepuluh detik, berpikir cukup lama hingga akhirnya aku sadar lebih baik jujur dari pada sok tahu.“Aku tidak tahu, itu terlalu kompleks.”

“Dan kau boleh keluar karena menguap lebih dari tiga kali di depanku sangat tidak sopan nona.” 

Aku hanya mengerjapkan mata. Dia menghitung berapa kali aku menguap. Dosen yang selama ini terkenal dengan kedinginannya memperhatikanku!  Tanpa berpikir lagi aku segera merapikan seluruh buku, memasukkannya asal ke dalam tas dan mengabaikan Lu Han yang tawanya terdengar jelas di belakangku.

Sejujurnya, aku merasa lebih baik. Selama kelas berlangsung kepalaku hanya berkutat dengan daftar apa saja yang harus kulakukan, banyak hal menyenangkan yang harus kulakukan, terlalu menyenangkan sampai aku tidak sabar kapan kelas ini harus berakhir, aku pun melihat jam dan menghela napas karena kelas selesai satu jam lagi, lalu aku menguap dan tahu-tahu aku diminta keluar. Tentu saja aku senang.

Ketika aku terdengar langkah kaki di belakang kepalaku segera menoleh. Lu Han berjalan di belakangku, siulan riangnya terdengar jelas yang menandakan ia sama senangnya denganku.

“Hari yang menyenangkan.” Kami berkata bersamaan. “Aku bertaruh Prof. Han menangkap basah kau sedang membaca Fifty Shades of Grey di kelasnya.”

“Alasan lebih keren dari pada menguap tiga kali, ngomong-ngomong kau menguap tujuh kali. “ Ia mempercepat langkahnya hingga kami berjalan berdampingan.

“Kau memperhatikanku?”

“Yah tentu saja, kau menguap mengeluarkan suara dan itu berisik. Terlebih suara itu sangat mengganggu ketika aku membaca bagian paling menyenangkan dari novelnya. Dan kau merusak tujuh momen berharga jadi aku ingat.”

Aku mengedipkan mataku pada Lu Han dan ia tertawa.

Kami pun berjalan keluar dari kampus, Lu Han mengatakan ia punya sushi date di Itaewon dan aku beruntung toko buku yang kudatangi di Itaewon sehingga ia mau mengantarku. Saat kami berhenti tepat di mobil hitam yang sangat kukenal aku segera memberi pandangan menyidik pada Lu Han yang sudah memasuki mobil itu. “Hei, ini kan mobil Minseok.”

Sambil mengendikkan bahu Lu Han mengedipkan matanya padaku. “Minseok meminjamkannya padaku.”

“Tidak mungkin.”

“Baiklah, dia tidak masuk kuliah hari ini. Baozi sakit dan aku meminjam kunci mobil pada ibunya yang mengenalku sebagai sahabat baik Minseok. Puas? Sekarang masuk karena pasangan kencanku sudah menanyakan kapan aku sampai.”

Aku mendengus dan masuk, sementara Lu Han mulai mengatur musik aku segera menghentikkan tangannya yang sudah bergerak menyetel volume. “Tidak ingin ada Sistar, Crayon Pop, atau apapun hari ini. Kita jadikan ini menjadi perjalanan tenang oke?”

“Apa itu artinya aku tidak boleh bicara?” ucap Luhan sambil memanyunkan mulutnya, Lu Han harusnya tahu aegyo tidak akan berhasil padaku.

“Kau boleh bicara. Aku hanya ingin ketenangan.”

Selama perjalanan berlangsung laki-laki itu benar-benar memberikanku ketenangan, ia tidak memulai cerita soal apartemen mana yang akan dibelinya atau menyetir ugal-ugalan sekalipun jalanan kosong, Lu Han hanya bertanya apa yang akan kubeli di toko buku nanti lalu memintaku untuk membeli kelanjutan dari Fifty Shades of Grey. Hanya itu saja dan aku berterima kasih. Oleh karenanya ketika kami sampai di toko buku, aku memberikan brosur yang kuambil diam-diam darinya. “Ini apartemen pilihanku, cocok untuk Tuan Han yang menyukai Sushi karena ada sushi bar di bawahnya dan yang terpenting, kau mendapat pemandangan terbaik dengan kantong pas-pasanmu.”

          Luhan mengerjapkan matanya kaget, dapat membuat seorang Luhan memiliki ekspresi tanda tanya dengan dahi mengernyit adalah hal yang membanggakan. Sulit membuat laki-laki ini kehabisan kata-kata. Lalu tiba-tiba begitu saja sesuatu melintas di otakku, pernah menyukai Lu Han tidak terlalu memalukan.

          Begitu memasuki toko buku aku segera berjalan mencari rak buku bagian anak. Mencari hadiah ulang tahun untuk Nara tidak terlalu sulit, tidak seperti kakaknya yang sangat kompleks Nara terlalu mudah dibaca, atau mungkin karena ia masih berumur sembilan tahun dan mencari tahu kesukaan anak perempuan berumur sembilan tahun memang tidak begitu sulit.

          Nara suka membaca dan aku yakin itu salah satu pengaruh dari kakak laki-lakinya. Minseok suka membaca, aku dapat membayangkan jika ia menjadi ayah nanti ia tipe yang akan memberikan anaknya ensiklopedi untuk hadiah natal. Seperempat kamar laki-laki itu digunakan untuk rak berisi buku, topiknya kebanyakan membosankan jadi aku tidak berusaha mengerti di mana sisi spesial buku itu. Ada satu buku yang menarik perhatianku saat melewati rak bagian kesehatan, buku yang sangat Kim Minseok “Berpikir Seperti Pankreas; Panduan Praktis untuk Menangani Diabetes.” Dan aku segera mengambil buku itu, tentu saja Baozi butuh.

          Aku sampai di bagian buku anak. Hal yang harus kalian ketahui tentang Nara adalah; dia menyukai Matematika. Sempat terpikir aku akan membelikannya buku tentang Algebra atau Misteri Angka Nol, sekarang ia memang tidak mengerti tapi aku yakin itu akan berguna untuknya nanti, tapi kau tahu, orang selalu berubah, tidak ada yang tahu. Siapa tahu di masa depan nanti Nara akan mengerti betapa tidak menyenangkannya Matematika. Jadi pada akhirnya keputusanku jatuh pada buku yang kelak akan berguna untuk Nara; Before You Meet Prince Charming. Aku bisa membacakan untuknya sebagai ganti karena waktu itu aku menolak membacakan Snow White. Nara terlalu kecil untuk mengerti cinta, Dr. Kim terlalu sibuk dengan prakteknya hingga aku khawatir dia tidak punya waktu untuk Nara dan tentu saja Baozi tidak bisa diandalkan untuk urusan ini. Kuakui aku tidak cukup bijak untuk menjelaskan topik cinta atau kasih dan sebagainya, tapi untuk sekarang, aku lah pilihan terbaik terbaik.

          Misi selesai, maka aku harus keluar dari tempat ini karena sejujurnya aku bukan penikmat buku. Aku memang suka membaca, majalah, itupun hanya untuk melihat gambarnya. Jadi berada lama-lama di toko buku sebenarnya agak membosankan. Maka sesuai daftar hal-menyenangkan-yang-akan-kulakukan, setelah ini aku akan mengunjungi sepupuku yang memiliki banyak kucing, aku akan memintanya satu, kucing berwarna putih gading dengan hidung hitam yang dipostnya di Instagram, lalu setelah itu piknik di pinggir sungai Han bersama ahjumma Tteokkbokki yang mengatakan aku mirip dengan almarhum anaknya, terakhir aku akan pulang dengan sekeranjang penuh Cheetos dan menonton Lords of the Rings lalu Lion King jika ingin tidurku nyenyak.

        Katakan hidupku agak membosankan, tapi setidaknya aku menikmati apa yang kulakukan, dan itu yang terpenting. Hari ini akan menjadi hari terbaik Lee Sarang—

“Sarang?”

Aku menengok, klimaks motivasi diriku terhenti dengan seseorang menepuk bahuku. Jongin tersenyum padaku dan aku segera membalas senyumnya. Aku benci berpura-pura tapi sebisa mungkin aku tetap mencoba memasang senyum terbaikku, karena wanita yang sekarang memeluk lengan Jongin pun sedang memasang senyum terbaiknya.

Harusnya semua sudah selesai. Ini tidak adil. Aku memang berhenti menyukai Jongin. Dengan prinsip tidak akan menyukai laki-laki yang sudah menyukai perempuan lain aku sudah menyelesaikan perasaanku pada laki-laki itu. Lagi pula laki-laki seperti Jongin terlalu klise untukku dan aku bersyukur semua ini selesai sebelum aku benar-benar memulainya. Tapi mungkin prinsip yang sama tidak berlaku untuk laki-laki di sebelahnya. Do Kyungsoo menatapku, ciuman pertamaku masih terlihat sama seperti terakhir kali aku bergandengan tangan dengannya.

Sejak dulu aku selalu mengira aku sudah berhenti menyukainya. Aku berhasil membuktikkan itu berkali-kali, berjalan melewati Kyungsoo begitu saja, mengabaikan keberadaannya, bahkan tertarik dengan pria lain. Tapi detik ini, ia muncul saat ketika momentum tidak berpihak padaku, saat ketika judul buku yang akan kuberikan pada Nara mengingatkanku padanya. Kyungsoo tidak mengatakan ‘hai’ atau tersenyum padaku, ia tahu matanya lebih banyak bicara dari pada mulutnya sendiri. Ia selalu tahu hal yang dilakukannya karena dia adalah Do Kyungsoo.

 Aku sadar Kyungsoo selesai denganku dan bagian terburuk yang selalu kuhindari akhirnya benar-benar terjadi; aku kecewa.

***

A/N

Hei. Sudah Februari.

Jadi kita sedang mendalami Sarang sekarang. Meskipun chapter ini berpusat pada OC kuharap kalian tetap menikmatinya ya.

Ingin ngasih tau aja, tapi masalah sakit gigi Sarang bener2 nyiksa bukan karena ini cewek cengeng aja, aku ngelihat gimana ibuku dengan sakit giginya dan itu menginspirasiku untuk karakter Sarang.

Dan karena di chapter ini si dyo banyak numpang nama, mari kita perjelas soal karakternya. Aku pernah bilang kita butuh refreshing kyungsoo dengan perbedaan karakternya di Detour (buat yg baca Detour pasti ngerti), tapi refreshing yg kumaksud di sini, enggak berarti dia bener2 berubah, karena ugh, susah jelasinnya.

Kalau Kyungsoo di Detour aku bikin laki-laki ini jadi cold-wise-guy yg kaku banget benar-benar clueless polos ga ngerti sama perasaannya sendiri,  maka Kyungsoo di catching feeling kubuat lebih realistis? Kayak versi lebih karismatik, ga sekaku itu, tahu hal yang harusnya dia emang udah tahu. Kalau di Detour dia adorable, maka di sini dia gorgeous. Kalau di Detour dia Era-Wolf yg nyanyi X.O.X.O  di sini dia versi mateng Era-Overdose nyanyi Thunder. Kalau di Detour lebih childish, disini mungkin lebih boyish? Ya gitu deh ah. Dan Luhan adalah Lu Han. Aku ga bisa bikin doi jadi anak baik  karena dia seperti tokoh komik banget sih, yg bad guy atraktif gemees nyebeelin. Dan Minseok, aku sayang minseok. Gaah aku selalu rambling di author’s note. Kita sudahi saja. Ditunggu feedbacknya saay❤

13 thoughts on “Catching Feeling [3/?]

  1. Ugh hei jam berapa kamu post ini? Tapi tapi tapi ini menyenangkan, maksudku rutinitas bangun pagi yang membosankan jadi berubah pas liat notif fic, right?😀
    Sudah seminggu tidak lagi baca ff untuk mengurangi delusi, tapi nyatanya notif dari sweetfanfic buat hati ini tidak sanggup menahannya lagi ><
    Aaaaaak aku suka Xiumin~ err kece karna dia jadi orang yg tidak peduli tapi peduli (?) Apalah itu, intinya aku suka karakternya..
    Sarang imut banget ya, hihihi dia mengingatkan aku sama sahabat aku waktu jaman smp, kurang lebih kelakuannya sama kaya sarang. Dan aku suka sama dia (karna dia sahabat aku)
    Jadi Jongin udah punya pacar? Aku penasaran sebenernya kyungsoo masih suka sarang gak?
    Pokoknya ditunggu kelanjutannya😉 juga detournya~

    Terima kasih^^ fighting

  2. Kalau Sarang masih suka sama Jongin rasanya pasti nyes. Tapi, Sarang malah ngerasa kecewa putus sama Kyungsoo jadi Sarang masih suka sama Kyungsoo atau cuma kecewa aja putus sama Kyungsoo?

    Minseok. Awalnya ramah tapi lama-lama jadi galak gitu ya sama Sarang dan Sarang perhatian sama Minseok….

    Kyungsoonya jadi manly tapi tetep imut minta ditarik ya kak? Hehehehehe. Aku seneng chapter 3 AKHIRNYA MUNCUL dan aku bakal nungguin chapter 4 nya^^ fighting

  3. Uwaaaaa, penasaaaraaannn.
    Chapt ini jadi berasa pendek bnget dg suatu alasan.
    Aku jd kerasa, karakter sarang trnyta gini toh, dia msih sm kyak karakter cwe pd umumnya, tp dia lebih realistis, ntah knp jd mirip aku sih hahaha xD, yahh dia cwe hnya saja punya harga diri. Suka tp gak ngumbar2 banget, krkter cwe utama disni beda bngt sih sama krktr2 ff sblumhya. Sprt chaeri yg trllu naif, krktr sarang itu bener2 realistis
    Teruss, ehmm, aku serius beneran sm kyungsoo, kok bs putus ? siapa yg ptuskan siapa ? trus xiumin kok mnddk benci sarang, duhh belum dapet titik terang.
    Okke, next kutunggu..

  4. oke ini ga penting tapi author apakah luhan harus menjadi penggemar Fifty Shades of Grey?
    gorgeous pangeran do kyungsoo, bisa jelaskan kenapa mereka – sarang&d.o- mutus?
    ah akhirny bukan kai yg jadi tokoh utama dlm cinta sarang, entah kenapa itu melegakan #fiuhhh
    btw thor ff luhan,sehun, oc apa judupnya my prince ga dilanjutin lagi kah?
    terakhir, jujur ak selalu suka caramu menjelaskan karakter tokoh ffmu, simpel dan unik.
    keep writing ♡♥♡♥

    • well haha harus doang Tuan Lu kan menjadikan Mr Grey panutannya😉

      sarang x d.o bakal dijelasin kok, karena masa lalu mereka megang peranan penting B)

      oh my prince lagi hiatus, kebanyakan luhan di setiap fanficku aku memutuskan yg oh my prince dilanjutin kapan2 aja heheh

  5. super bagus. super ngehibur. super oke! pusing kenapa pilihan castnya buat aku jatuh cinta. xiuhan kaisoo. oke. kaisoo emang bertebaran di banyak cerita lain tapi xiuhan? mungkin ada, tapi ini pertama kali aku baca yang semenarik ini. super hebat, idenya ga basi tau ga. idenya bener-bener beda dan ga terlalu jauh buat diimagine. dokter gigi, tetanggaan, karies, diabetes meilitus, sister complex, semuanya bikin yang baca santai tapi greget. ini super bagus entah udah keberapa kali aku bilang tapi dari humor kotoran kucing bibi luhan, hadiah ensiklopedia waktu natal, jawaban ‘tidak’ dyo pas di cafe, semuanya sukses bikin aku gajadi nunda baca. gajadi masukin saved pages dan langsung baca sampai chapter 3. seneng bisa baca cerita kamu!! ntar idenya gausah jauh dari kenyataan ya hahaha yang gini aja udah bikin kenyang. detournya ditunggu juga!! mari berteman!!

    • komenmu moodbooster banget :))) hahahaha ‘ntar idenya gausah jauh dari kenyataan’ lol. Detor mungkin semi hiatus tapi aku bakal tetep lanjutin catching feeling. Yuuk tos kita temenan :>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s