Catching Feeling [4/?]

Chapter 04 – Strange Thing Will Happen

 

S A R A N G

 

Aku batal mengunjungi sepupuku, memilih kucing mana yang akan kuminta harus dilakukan dengan perasaan yang menyenangkan dan hal yang kutahu sekarang, saat ini aku tidak menyenangkan.

Setelah Jongin dan perempuan yang baru saja kuketahui namanya Dambi itu pergi aku masih berkutat di depan rak novel terjemahan. Sejujurnya, sampai detik aku masih tidak tahu apa yang membuatku berani mengambil Fifty Shades Darker di depan Kyungsoo yang berada tepat di rak sampingku.  Ia melirikku, jelas menghakimiku, ia berpikir aku sudah berubah menjadi wanita mesum. Mungkin kalau aku menjelaskan Lu Han yang menitip untuk membeli buku ini ia akan mengerti, tapi Kyungsoo bahkan tidak bertanya padaku, ia selalu merasa benar tanpa perlu memastikan kebenarannya.

“Aku baru tahu kau menyukai sesuatu yang erotis.” Dan itu kalimat pertamanya yang keluar semenjak percakapan terakhir kami enam bulan lalu.

“Lu Han memintaku membelikannya buku ini.” Aku berkata. “Aku tidak akan membaca novel seperti ini.”

“Novel apa yang kau baca kalau begitu?”  Lalu ia menggeser langkahnya, bahu kami hanya berjak setengah meter, ia bersenandung, Kyungsoo selalu bersenandung ketika ia merasa rileks. Aku menggeser langkahku, kalau aku mencium parfumnya lebih lama lagi mungkin aku akan kembali bernostalgia. Dan bernostalgia di samping orang yang kau nostalgiakan membuat kau terlihat sebagai orang yang terus berkutat pada masa lalu sementara dia sudah selesai dengan masa lalu, sangat menyedihkan.

“Little Prince.” Satu-satunya novel yang pernah kubaca, dan aku membacanya sampai sepuluh kali.

Kyungsoo menengok padaku. Aku yakin ia masih memandangku, sementara mataku masih berfokus pada sinopsis Twilight Kyungsoo belum juga mengalihkan pandangannya dan itu membuatku, jengkel.

Tiba-tiba ia berdehem. “Kau masih lama? Mau kuantar pulang?”

Kyungsoo adalah penyetir terbaik, dia laki-laki yang begitu kau naik mobil dengannya maka kau akan berharap ‘semoga suamiku seperti ini.’ Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak terima kasih, lagi pula aku tidak akan ke rumah dulu.”

Tanpa terlihat berusaha memanjangkan percakapan ia hanya menganggukkan kepalanya lalu mengatakan harus segera pulang untuk mengerjakan portofolio. Aku terus memandang punggungnya, berusaha mengirimkan semacam telepati kalau yang kulakukan tadi hanya jual mahal. Betapa aku mengingkan Kyungsoo berbalik dan mengatakan. “Kalau begitu kau mau kemana?”

 

 

***

 

Dua tahun lalu atau kurang, yang jelas Musim Panas terbaik. Saat angkatanku melakukan Study Tour ke Pulau Jeju. Seumur hidup aku tidak pernah menaiki kapal laut, jadi perjalanan spesial ini sudah kusiapkan semenjak dua minggu sebelumnya. Aku bahkan membeli satu koper lagi untuk meletakkan merchandise yang akan kubeli di Teddy Bear Museum nanti. Oleh karenanya ketika H-1 aku mendapat demam seketika dunia terasa tidak adil.  

Tetanggaku Prof. Song merawatku (karena ibuku pergi), ia wanita tua yang mendedikasikan hidupnya untuk Geografi, tiga hari aku dirawatnya aku hanya menonton National Geographic, dan saat ketika Kyungsoo menjengukku kami sedang menonton episode Journey to Antartica.

Setelah itu aku terobsesi dengan Antartica. Aku mengatakan pada Kyungsoo sebelum umurku 40 tahun aku harus pergi ke sana lalu menaiki perahu Kayak dengan penguin yang berenang di sekitarnya. Dan kami melakukan perjanjian untuk menjadi orang kaya. Karena perjalanan ke Antartika hanya bisa dilakukan oleh kalangan atas atau peneliti (kemungkinan Lee Sarang menjadi peneliti nol).

“Apa jurusan yang akan kau ambil?” Aku memandang penasaran Kyungsoo ketika film tersebut selesai. Prof. Song sedang keluar, tiba-tiba mendapat panggilan dari anaknya dan ia meminta Kyungsoo untuk menjagaku sampai ia kembali.

“Mungkin arsitektur. “ Ia menjawab datar sambil membalik buku latihan soalnya. Aku menyenderkan kepalaku pada bahu Kyungsoo.

“Bagaimana kalau kau tidak naik kelas seperti Lu Han jadi kita bisa sekelas lalu lulus bersama? Nanti Kau  mengambil arsitektur dan aku akan mengambil interior design.”

 “Tidak.” Ia merespon, tangannya melepas kacamata yang selalu dipakainya setiap belajar. “Kenapa kau mengambil Interior? Kau selalu bermimpi untuk bisa kerja di Pixar.”

Aku tersenyum. “Kerja di Microsoft lebih keren.”

“Atau Google. Dan kemarin kau bilang ingin menjadi editor majalah Bazaar, lalu mungkin besok menjadi bagian dari NASA. ” Kyungsoo memutar bola mata. “Laki-laki suka wanita yang selalu tahu hal apa yang akan dilakukannya. Dan Sarang, kau tidak tahu hal apa yang akan kau lakukan.”

“Duh. Aku akan pergi ke Antartika.”

“Dengan cara?”

“Menjadi orang kaya?”

“Ayolah, aku tahu kau pintar Sarang, beri jawaban yang memuaskan.”

.Aku menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan ciuman karena saat itu cara menjadi orang kaya sama sekali tidak terlintas di otakku, besoknya ia sakit, saat aku menjenguknya ia memintaku membacakannya Little Prince karena ia harus merangkum cerita itu untuk kelas Bahasa Perancis yang diambilnya. Novel itu mengubah hidupku.  

 

***

 

Pada akhirnya aku tidak pulang sendiri. Saat hampir tertidur di halte menunggu bus  tiba-tiba Audi hitam berhenti di depanku, Lu Han membuka jendelanya dan menyuruhku masuk. Aku memutar bola karena pasangan kencan Lu Han berada di kursi depan, betapa aku benci duduk di belakang.

Selama perjalanan aku terus menutup mulut berusaha menahan muntah, mereka menjijikkan. Si perempuan tidak berhenti meraba paha Lu Han dan aku bersumpah melihat Lu Han memutar bola matanya. Mereka sempat bertengkar soal musik apa yang akan dinyalakan dan keputusan berakhir dengan aku yang mengusulkan lebih baik kita mendengar siaran lalu lintas untuk menghindari macet. Setelah melihat Lu Han memeluk pacarnya dan memberikan good night kiss ketika mereka tiba di depan rumahnya, aku segera memijit keningku, melihat PDA selalu membuatku merasa pusing.

Bye Lu Han!”

Ketika perempuan itu menutup pintu rumahnya. Aku dapat melihat Lu Han yang langsung mengelap jijik noda lipstik yang membekas di pipi kirinya. Lu Han adalah definisi sempurna dari munafik.

“Aku akan menurunkanmu di rumah Minseok. Terlalu lelah untuk menyetir sampai Daegu.” Ia berkata, memberikan nada jangan dibantah dan aku memilih diam mengunci mulut. Aku hanya mengangguk dan berpindah ke kursi depan.

“Aku butuh udara segar setelah melihat PDA yang menjijikkan. Aku tahu kau bajingan, tapi kupikir kau tidak separah itu.”  Ucapku sambil membuka jendela mobil, menaiki mobil dengan jendela terbuka membuat perjalanan menjadi sebuah perjalanan sebenarnya.

Lu Han yang segera mematikan AC ikut membuka jendela pintunya. “Jangan bahas itu oke? Aku ingin perjalanan ini tenang.”

“Apa yang terjadi? Kencan tadi tidak berjalan lancar? Kau tidak jadi mendapat sepatu baru?”

“Diam Sarang.”

Lalu aku benar-benar diam. Tiga detik kemudian aku merasa menjadi sama bajingannya.

“Apa zodiakmu?” Aku memutuskan bicara, dan sekalipun Lu Han memintaku diam aku akan tetap bicara sampai rasa bersalahku menghilang.

“Aries.”

Sambil memandang pemandang luar aku berusaha mengingat apapun yang bisa kukatakan untuk membuat Aries menjadi zodiak yang terlihat keren. Membicarakan zodiak sudah semacam seperti, obsesiku.  “Wow. Orang bilang orang Aries biasanya lugu. Dan kau tidak lugu. “

Aku memejamkan mata,  malam ini mulutku tidak bisa diajak kerja sama. Apapun yang kukatakan pasti salah.

“Benarkah? “ Aku kaget Luhan merespon.

“Hidup Aries terbagi dua, dunia penuh benci dan dunia penuh cinta. Kau merasa seperti itu?”

“Kadang.”

“Dan Aries adalah zodiak yang memiliki rasa pengertian yang tinggi, jadi aku pikir berteman dengan orang Aries adalah hal yang menyenangkan.”

Sambil mengeraskan volume radio tiba-tiba ia terkekeh. “Minseok juga Aries. Jadi kau pikir berteman dengan Minseok adalah hal yang menyenangkan? “

“Uhm—“ Saat aku menengok Lu Han sudah tersenyum, ia kembali menjadi dirinya lagi. “Yah. Mungkin?”

 

***

 Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Minseok begitu aku sampai di depan rumahnya.Melihat bagaimana pertemuan terakhir kami, maka bertemu laki-laki itu tiba-tiba menjadi super canggung. Kemungkinan dia akan mengusirku lebih masuk akal dari pada ia akan menerimaku dan membuatkanku teh hangat.

Teh hangat.

Aku menggosok tanganku, sekarang aku baru sadar betapa dinginnya suhu malam ini. Minseok pembuat teh paling enak, mengalahkan nenekku atau teh yang kubeli di restoran Ramen. Meminum Teh Minseok akan membuatku merasa bahwa dunia terlalu sayang untuk dilewati tanpa teh.

Saat aku membuang gengsi dan memegang gagang pintunya tiba-tiba pintu itu terbuka. Kim Minseok berdiri dengan kaos putih dan celana piyama Anpan Mannya yang dia beli di Jepang.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menelan ludah. Yang kulakukan di sini hanya berdiri dan berpikir bagaimana cara membuat teh paling enak. Kita memandang satu sama lain dan begitu saja aku sadar mungkin, berteman dengan orang Aries tidak selalu menyenangkan .

 

***

 

M I N S E O K

 

Hal yang membuatku membolehkan Sarang masuk dan mengatakan ‘silahkan duduk aku akan membuatkanmu teh’ adalah karena malam ini ia terlihat menyedihkan. Aku memang tidak begitu mengenal Sarang sampai aku bisa membaca pikirannya lewat mata, tapi yang kutahu begitu saja, perempuan ini menyedihkan karena bahkan di tengah malam seperti ini ia harus berakhir di rumah orang yang dibencinya.

Sementara aku mencari teko untuk memanaskan air Sarang hanya menonton tenang American Horror Story. Beberapa menit lalu, saat aku memberi stabilo pada halaman terakhir esai yang harus kuhafalkan Lu Han menelpon mengatakan bagaimana aku tidak menjadi gentleman karena membiarkan seorang perempuan berdiri di depan pintu menggigil kedinginan. Kupikir ia bercanda Sarang berada di depan rumahku, dan begitu aku mengintip dari balik jendela, perempuan itu benar-benar berdiri menggigil kedinginan di depan rumahku.

“ Sarang ingin teh apa?”

“ Lipton Black Tea.” Aku menggangguk dan membiarkan ia mengganti acara TV, berakhir menononton Asia’s Next Top Model aku berusaha tidak protes.

Setelah meletakkan dua gelas satu untukku dan Sarang maka aku kembali mengambil stabilo melanjutkan memberi tanda poin yang mana yang harus kuhafalkan hingga tiba-tiba aku ingat pertanyaan yang tidak boleh kulewatkan.

“Jadi berikan alasan kenapa aku harus menerimu sabagai tamuku?”

Sarang tersenyum dan menaikkan bahunya. Tangannya langsung mengambil gelas yang baru kuletakkan, tapi tepat sebelum ia meneguk teh itu ia terdiam. “Tunggu dulu,” Ia berkata, satu tangannya segera meraih isi dalam tasnya. “Aku baru ingat. Aku punya hadiah untukmu.”

Wajahnya terlihat semangat, seperti ayah yang akhirnya berhasil membelikan anak laki-lakinya remote control. Seharusnya aku berterima kasih tapi menerima hadiah dari perempuan di bukan hari ulang tahunku masih membuatku canggung. Tahu-tahu Sarang meletakkan satu buku di atas meja.

Berpikir Seperti Pankreas: Panduan Praktis untuk Menangani Diabetes.

Harusnya aku tidak perlu berharap terlalu banyak.

“Hm. Terima kasih. “

“Sama – sama.” Ia mulai menyeruput tehnya, aku tidak mengerti kenapa ia memintaku berpikir pankreas. Maksudku diantara sekian organ tubuh manusia kenapa harus pankreas. “Tapi kenapa kau memberiku hadiah? Dan yah, kenapa harus tentang pankreas”

“Itu panduan untuk penderita diabetes, kau harus bisa berpikir seperti pankreas kalau ingin hidupmu sehat oke? Dan aku tidak perlu alasan untuk memberi seseorang hadiah. ”

Aku memutar bola mata, lalu beberapa detik kemudian tersenyum. Sarang tertawa dan aku tahu dia bangga dengan hadiahnya.

 

 ***

 

Pada akhirnya Sarang tertidur di atas sofa. Satu tangannya masih memegang yogurt yang baru habis setengah, mulutnya menganga dan aku berterima kasih ia tidak mengeluarkan liur untuk jatuh di atas bantal sofaku yang terlalu berharga.

 

Mengganti Frozen menjadi Paranormal Activity aku pun mematikan lampu ruang tengah dan berjalan menuju kamar. Detik ke-10 aku berjalan Sarang menjerit.

 

S A R A N G

 

Aku bangun mendengar suara vacum cleaner.

Cahaya matahari yang menembus jendela langsung menerpa mataku yang artinya Minseok sempat masuk ke kamar ini ketika aku tidur. Aku ingat jendela bersama gordennya sudah kututup rapat dan melihat jendela itu terbuka lebar, siapa lagi yang membukanya kalau bukan si pencinta cahaya matahari pagi Kim Minseok.  Di sebelahku sudah ada segelas air putih lalu tepat di ujung kasur ada baju terlipat dengan handuk kuning milik Nara. Melihat semua ini akhirnya aku mengerti sesuatu.

Baozi sedang memotong pisang untuk serealnya ketika aku membuka pintu kamar Nara.

“Hai.” Dia tidak membalas basa-basiku. Aku ikut duduk di depannya dan meraih mangkok yang sudah diberi susu. Sambil mengisi penuh mangkok dengan Corn Flakes mataku tidak bisa meninggalkan sosok Minseok yang fokus membuat potongan pisang terbaik untuk serealnya. “Aku tahu kau mengusirku. Kau ingin aku cepat pergi dari sini kan?”

“Kalau kau berpikir seperti itu, silahkan.” Satu tangannya mengambil satu pisang lagi dan mengulitinya lagi.

“Aku hanya mengartikan tindakanmu. Kau ingin membuatku tidak nyaman dengan semua kebaikan ini.”

Minseok mendengus. Memandangku sekilas sekedar memastikan aku lah yang berada di depannya, kukira ia akan diam lagi dan membiarkanku tetap clueless tapi ia malah tersenyum. “Kau tahu Sarang, kalau aku baik padamu maka aku akan membenarkan selimutmu yang melorot, membawakan sarapan ke atas kasurmu, menyetel musik jazz dari pada menonton berita pagi. Dan aku tidak melakukan semua itu untukmu. Jadi jangan geer oke?”

Aku ingin mengatakan aku tidak geer,  bagiku seseorang menyiapkan segelas air putihku untukku sudah merupakan kebaikan tapi Minseok tidak akan peduli dengan itu jadi aku hanya mengangkat bahu dan mengambil kesimpulang asal. “Kalau begitu kau tidak mengusirku.” Aku berkata. “Aku boleh di sini seharian?”

“Aku tidak pernah bilang seperti itu.” Tiba-tiba ia beranjak dari kursi, membawa mangkok sereal pisangnya keluar dari ruang makan sebelum akhirnya ia menengok padaku  “Kau harus mencuci semua yang di wastafel.” Lalu ia berjalan pergi meninggalkanku.

 

***

Melihat seseorang jarang membuatku senang. Orang yang bisa membuatku senang hanya dengan bertemu dengannya masih terhitung jari; mungkin hanya ayahku, atlit Lee Yongdae, dan Prof Song. Jadi tentu saja aku juga aku merasa kaget dengan diriku karena Hari ini aku senang melihat Kim Minseok. Ia tidak benar-benar pergi meninggalkanku, Minseok hanya berada di halaman belakangnya dengan sekop dan sebotol air putih karena ia pemegang prinsip 8 gelas air putih per hari.

“Aku sudah mencuci mangkok dari sisa makan malam.” Aku berjalan mendekatinya meskipun aku tahu ia tidak suka aku berada di dekatnya. Baozi benci parfumku, ia mengatakan kombinasi wangi permen kapas, citrus, vanilla membuatnya mual.

Aku sudah menduga ia akan mengusirku, tapi ia tidak melakukannya.

Ketika ia tidak mengatakan apa-apa sekalipun aku ikut mencabut rumput liar di sebelahnya maka aku berdehem,

“Kau tahu bagaimana caranya berhenti menyukai makanan?”

“Tidak.”

“Ayolah— aku bertanya serius.” Aku terdiam, membuat pembicaraan tetap berjalan dengan laki-laki seperti Minseok benar-benar menyulitkan. “Apa makanan favoritmu?”

“Aku tidak pilih-pilih makanan.”

“Bukan, aku tidak peduli soal makanan apa saja yang akan kau makan. Aku bertanya, apa makanan kesukaanmu?”

Minseok tetap mencabut rumput liar di sekitarnya tapi aku tahu dia sedang berpikir. “Aku suka sup labu.”

“Lebih dari kau menyukai Panna Cotta? Kau akan memilih sup labu dari pada Oreo Cheese Cake? Kau akan memilih sup labu dari pada seloyang pizza meat and cheese? Begitu?”

Tiba-tiba ia berhenti mencabut rumput dan memandangku aneh. “Iya?”

“Nah. Katakan bagaimana caramu berhenti menambah porsi sup labu ketika kau tahu ini sudah berlebihan tapi kau tidak juga kenyang. “

“Mencari makanan lain? “

Itu benar. Ketika kau berlebihan menyukai suatu makanan kau harus mencari makanan lain. Kim Minseok jenius. “Kau punya teman yang bisa dikenalkan padaku?”

Dia memutar bola matanya. “Lu Han?”

Ew.

“Kau tahu. Aku bosan membicarakan hal semacam ini, jauh lebih baik membicarakan makan malam.” Dia masih mencabut rumput, wajahnya terlihat seperti seniman yang sedang memikirkan warna apa yang digoreskan pada kanvasnya hanya saja aku tahu hal yang Minseok pikirkan adalah soal makan malam, atau snack malamnya, ia selalu memikirkan detil seperti itu.

Tanganku berhenti mencabut rumput yang baru setengah kutarik. Tentu saja membicarakan makan malam adalah topik paling menyenangkan. Untuk apa aku menghabiskan waktu memikirkan ‘makanan baru’ ketika aku tahu memikirkan makan malam lebih menyenangkan?

“Aku ingin Sashimi.” Kami berkata bersamaan.

Dan kalau Minseok tidak tiba-tiba berdiri untuk membetulkan selang yang lepas dari keran mungkin aku sudah memeluknya.

 

***

 

Aku dan Kyungsoo menghabiskan libur musim dingin dengan kopi atau teh di tangan, berkeliling Seoul jalan kaki ditambah lagu rap.

Lalu kami membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Bagiku berbicara dengan Kyungsoo tidak pernah membosankan. Tapi mungkin Kyungsoo menganggap berbicara denganku membosankan karena tidak jarang ia menutup mulutku dan memintaku diam. Kali ini ia tidak menutup mulutku tapi aku tahu Kyungsoo memintaku diam. Meskipun begitu aku tidak bisa diam.

“Kalau kau bosan membicarakan The Hunger Games kita bisa membicarakan sarapan hari ini.” Aku menggoyangkan tanganku yang masih menggenggam tangannya. Sudah lima kali sejak ia menguap saat aku menceritakan bagian favoritku dari Hunger Games. “Apa sarapanmu hari ini Kyungsoo?”

“Pizza sisa semalam.” Ia menguap lebar, menutupi mulutnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih berada di tangan kiriku. Setelah dua detik kami diam ia akhirnya menengok padaku. “Apa sarapanmu Sarang?”

“Aku makan dua EggMcMuffin hari ini.”

“Jadi.. haruskah kita membicarakan makan siang kita hari ini?”

Aku mendecak. Bagaimana bisa ia lupa aku tahu apa makan siangnya hari ini? “Kita makan siang bersama tadi. Mungkin lebih baik membicarakan apa makan malam kita hari ini?”

Aku baru membuka mulut, ingin mengatakan ‘Sashimi’ ketika tiba-tiba Kyungsoo menarik tangannya lepas dari genggamanku. Tangannya langsung meraih ponsel dari kantong. “Aku harus pulang sekarang. Kita akan makan Sashimi besok lusa.”

“Kau akan bertemu dengannya lagi?”

“Yah. Minggu depan dia akan pergi, kau bisa bersabar sampai minggu depan kan?”

“Tentu saja.”

Dan itu menjadi kencan musim dingin terakhir bersama Kyungsoo. Besok lusanya kami batal makan Sashimi.

***

 

Sampai setengah tiga sore aku membantunya mencabut rumput liar dan menanam bunga. Laki-laki seperti Kim Minseok tidak cocok dengan bunga, tapi ia berdalih ini untuk menambah populasi lebah yang sudah jauh berkurang. Kami berakhir memakan Banana Split dengan madu yang Minseok banggakan 100% madu alami.

“Aku ada kelas Bahasa Mandarin sore ini.“

“Kalau begitu lebih baik aku pulang sekarang.” Ucapku sambil memasukkan potongan terakhir pisang yang Minseok berikan padaku.

“Tapi ibuku akan pulang hari ini. Kau tidak ingin memeriksa gigimu?” Ia mengelap bibirnya yang belepotan es krim dengan tisu. Lalu mengambil selembar tisu lagi dan memberikannya padaku sambil menunjuk pipi kananku.

Tiba-tiba aku tidak mengenal laki-laki di depanku. Sejak kapan ia peduli dengan gigiku dan bekas es krim di pipi kananku? Sepanjang yang kuingat Baozi tidak pernah peduli, apapun tentang Lee Sarang. “Baiklah, kau mengingatkanku.”

“Kalau begitu aku akan mandi sekarang. Ngomong-ngomong Kucing kesayangan bibinya Lu Han. Lu Han memintamu bantu mencarinya. “

Tentu saja. Minseok memintaku tetap tinggal bukan demi memeriksa gigiku tapi soal ia sibuk dan tidak bisa membantu Lu Han mencari kucingnya.

“Oke aku akan membantunya. Mencari kucing adalah keahlianku.”

 

 ***

 

L U  H A N

 

Siang hari ketika aku bermain futsal dengan Jongdae dan Chanyeol aku lupa menutup pintu kamar kucing (kamar kucing yang besarnya dua kali lipat dari kamarku). Sampai di rumah tepat jam 3 sore waktu untuk memberi snack pada kucing-kucing itu aku menyadari Bianca menghilang. Bianca menghilang.

Aku bisa mati, aku tidak pernah bercanda setiap mengatakan pada Baozi atau Kyungsoo kalau bibiku sudah menganggap Bianca seperti anak perempuan satu-satunya. Ia membeli Bianca dari USA, menjual sepedaku untuk membeli kucing sialan itu dan sekarang Bianca kabur, aku bahkan tidak berani berpikir kemungkinan apa yang akan terjadi padaku jika bibiku tahu Bianca menghilang.

“ Lu Han?”

Aku membalik badan, menemukan Lee Sarang berdiri dengan wajah sama bingungnya denganku.“ Kenapa kau? Aku meminta Baozi datang ke sini?” Aku tahu ini terdengar kasar. Tapi aku benar-benar frustasi, aku butuh Minseok, orang berkepala dingin seperti dia orang yang bisa kuandalkan untuk mencari kucing.

“Dia punya kelas sore ini dan memintaku datang untuk membantumu.”

Mau tidak mau aku memutar bola mata. Baozi tidak mengambil kelas di hari Senin. Ia selalu mengatakan hari Seninnya di mulai hari Selasa. “Sial. Baiklah Sarang. Aku butuh bantuanmu. Bianca alias anak perempuan bibiku hilang.”

“Katanya yang hilang kucing?”

“Lebih baik kau percaya padaku kalau bibiku sudah menganggap Bianca seperti anaknya.”

Sarang pendengar yang baik. Setelah itu dia hanya menganggguk-ngangguk dan aku tahu mungkin aku bisa mengandalkan Sarang.

 

***

S A R A N G

 

Lima menit kemudian Lu Han dan aku berpencar, dia akan memeriksa CCTV di setiap Seven-Eleven yang ada dan aku mencari di taman terdekat.

Ini pertama kalinya aku tahu kalau seorang Lu Han bisa terlihat menyedihkan. Bahkan bibiku yang menghilangkan kunci mobil suaminya tidak terlihat sepanik Lu Han sekarang. Apa yang akan terjadi kalau Bianca tidak akan kembali? Lu Han mengatakan Bianca adalah ras Maine Coon yang mahal, jauh lebih masuk akal seseorang akan langsung menjualnya dari pada mengembalikan kucing itu meskipun bibinya sudah menulis nomor telepon pada kalung yang dipasang pada Bianca.

Aku membayangkan Lu Han menangis.

Laki-laki itu terlihat rapuh dan aku tidak percaya dia laki-laki yang kemarin berani beradu pendapat dengan dosen di kelas filsafat hukum.

Sampai di taman mataku mengekori setiap titik, mencari kucing berwarna coklat hitam yang ekornya seperti kemoceng (Lu Han mengatakan itu). Aku berharap setidaknya aku menemukan kucing jalanan, aku bisa mengikuti kucing itu dan tidak ada yang tahu, siapa tahu dia berteman dengan Bianca dan membawaku menemui Bianca.

Tidak ada yang tahu.

Aku suka kalimat itu karena itu berlaku untuk setiap kejadian yang ada. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa menebak persis kejadian apa yang akan terjadi. Hal itu membuat semuanya menjadi tidak terduga dan aku yakin kalian berpikir bahwa kejutan jauh lebih manis dari pada sesuatu datang sesuai yang kita harapkan.

Tapi kejutan sore ini bukan hal yang jauh lebih manis bagiku. Aku berpikir menemukan Bianca dalam kondisi tertabrak mobil adalah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sore ini. Tapi kenyataannya, melihat Kyungsoo dengan perempuan itu di taman adalah hal terburuk. Sangat buruk.

Kenapa harus perempuan itu, kenapa harus di taman, kenapa harus saat ini. Tidak ada yang tahu. Mungkin Minseok benar. Aku harus mencari makanan baru, seperti Minseok yang mencari penggganti sup labu, aku pun harus mencari pengganti.

 

 

 

 

Author’s note

 

AKU UPDATE.

Kok Cuma Catching Feeling aja dilanjutin?

Karena aku pingin update tapi ga pingin lanjutin Detour dulu. Dan alasan utamanya karena 2-3 chapter lagi Detour bakal tamat, aku harus menyelesaikan Detour dengan mood istimewa yang bakal muncul bulan Mei (baca: bulan liburan amin). YEAY. Jadi kita ketemu Chaeri lagi bulan Mei oke?

 

Aku memutuskan memakai banyak POV untuk bikin cerita ini lebih berasa, pov mana yang ingin kalian banyakin lagi? Kalau kalian punya pendapat atau uneg-uneg soal cerita ini, atau Sarang, atau luhan, minseok, kyungsoo bahkan mungkin Bianca dan lain-lainnya silakan komen. Aku ingin tahu pendapat kalian tentang cerita ini, karena denger opini orang hal yang seru, silahkan ngomongin apa aja, bahkan menyarankan makan malamku juga ga papa!

 

21 thoughts on “Catching Feeling [4/?]

  1. FIX.KANGEN SAMA TULISANNYA KAK FIKA!!!

    Aku mulai menyukai Catching Feeling sama kayak aku addict ke Detour.Dan aku sangat berharap Catching Feeling bisa menggantikan Detour kalo Detour udah D’end nanti *hiks *elapingus

    Kyungsoo,aku gatau gimana mau komentarin dia.Yang jelas karakter Kyungsoo disini beda dari Detour.Kalo Detour dia masih jaim-jaim imut ke Chaeri disini dia lebih cool-mature ke Sarang.Dia keren.Berkharisma.Itu yang nyantol di pikiranku.Tapi,menurutku Kyungsoo juga kurang peka.Gregetan dia malah langsung pergi bukannya bujuk Sarang –“.Dan,pas flashback Kyungsoo-Sarang,aku gatau kenapa tapi aku sedikit kesel sama Kyungsoo pas kencan terakhir musim dingin,apa setelah itu mereka putus? siapa yang di temuin Kyungsoo? kenapa mereka gak jadi makan sashimi? Siapa cewek di taman itu? Apa itu pacarnya Kyungsoo? Aku penasaran.banget.Oke,aku butuh Kyungsoo POV untuk chap selanjutnya kaakkk

    Lu Haaannnn! Ma Deeerrrr! kkkk~ mood maker ku kalo baca catching feeling partnya dia pasti senyum2 sendiri.Pokoknya luv luv banget sama Luhan! *ciumpipinyapakelipstickmerahdarahayam*

    Aku bisa diabetes baca partnya Minseok.Asli! Dia manis banget menurutku.Tipe2 suami yang bakal ngurus rumah kalo istrinya lagi sakit atau pergi jenguk orang tua😄 Aku favorit semua part Minseok-Sarang.Favorit banget.Tapi,paling nyantol sih pas mereka nyabutin rumput.Walaupun itu cuma ‘cabut rumput bersama’ tapi pembicaraan mereka itu yang buat ngena banget di otak.Sarang bisa banget minta saran tapi pake metode makanan.Maksudku,dia gak perlu cerita yang sebenernya tapi bisa dapetin solusi paling akurat.Kayaknya aku perlu coba metode Sarang,hmm..

    Mei kak? 2 bulan lagi dongs? masih lama ._. kangeeeennnnn sama BaekChae,KyungChae,Luhan-Sena,Jongdae yang malang,dan semuanyaaa.Tapi,demi mendapatkan hasil yang istimewa,aku bakal nungguin.Asal Catching Feelingnya di update ya,kak biar ngobatin kangenku sama Detour.Semangat lah buat kak Fika ^^ 화팅 언니! ^^

    • Aaa makasiiih iyaa catching feeling bakal beda bgt sama detour dan aku seneng kami tetep sukaa.

      Hahhaha minseok masih judes aja udh diabetes yaa apalagi kalau dia berubah?

  2. Haiiiiiii kamu yang akhirnya kembali >,< mungkin ini yang namanya kangen, oke lupakan soal detour yg akan datang di bulan mei, yang ini pun ga masalah. Setidaknya bisa menghapus sedikit kerinduanku wkwkwkwk

    Anw, hubungan sarang-kyungsoo itu kaya yang sarangnya suka banget tapi kyungsoo nya terlalu dingin buat perempuan seperti sarang, iya gak sih? Aku sih nangkepnya gitu.
    Dan belum ada tanda-tanda minseok bakal suka sama sarang yah? Tapi bersikap 'sedikit' baik, berarti membuka peluang kan? Hahaha ini pendukung sarangXminseok banget😀

    Gak tau kenapa ya, aku kok kesel sama kyungsoo gitu hahaha udah kaya "duh sarang, udahlah ya lo gausah inget-inget kyungsoo lagi, dia cuma masalalu. Mending sama minseok, emg sih dia nyebelin, tapi lakik yang nyebelin kan greget!" Kkkkkkkk😀 ((maapkeun daku))

    Coba thor aku mau tau sebenernya Luhan pernah gak sih serius sama ciwei? Gak yang sok-sok playboy gitu. Terus kira-kira bakalan ada cast ciwei yg serius suka sama dia dan dia akhirnya dia serius suka sama ciwei. Apa akhirnya malah sama sarang? Oh NO!!! Rasanya aneh ngebayangin sarang sama luhan. Tapi yah kalo emang ide cerita seperti itu, gapapa juga sih karena aku punya firasat akhirnya sarang akan sama minseok ((tetep))

    Btw aku ngerasa tulisan kamu makin berkembang deh~ ihiy sumpah baca serial ff kamu yg sebelum2nya sama yg ini beda bgt kesannya. Yang lain itu oke bgt udah pasti tulisan kamu selalu bikin delusi tapi yang ini kaya baca novel terjemahan banget, ih makin cintah deh sama tulisan kamu :*

    Okey dey, tetep jadi author favorite aku yaaaaah. Semangat^^

    • Oia buat POV sih tidak masalah dari sudut pandang siapa aja asalkan bisa di mengerti udah bagus bgt kok^^ tapi aku lebih suka cerita dari sudut pandang sarang sih, maksudnya kalo cuma ngeliat dari satu sudut pandang aja kan bisa asik menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh lawan karakternya hahahaha ((tipikal anak yang doyan nerka-nerka))

    • Hahahah haaaii kok cuma dikit doang menghapus kerinduannya?

      Welll halo team minseokkk kita liat kamu bakal bertahan atau enggak ya. Dan soal hanlu aku ga bisa ngasih jawaban 😝

      Aku bakal semangaaat pujianmu menyanjungkuu

  3. penasaran waktu baca flasbacknya sarang sama kyungsoo. sebenernya siapa yang mau kyungsoo temuin cewekkah ?. aku juga masih penasaran penyebab sarang sama kyungsoo putus.

    kak kalo bisa perbanyak pov minseok ya🙂 pengen tau sudut pandang sebenarnya dari seorang minseok. penasaran hahaa. sebenernya dia itu gimana sama sarang.

  4. Kak, omaigat! FF ini bagus banget!!
    Aku biasanya nyari-nyari FF yang tokohnya Minseok karena emang jarang. Aku baru nemu FF ini dan ternyata tokohnya Minseok!!😄
    Aku nggak tahu kenapa, tapi aku suka sama Luhan-Sarang. Tapi bukan berarti aku nggak suka sama Minseok-Sarang.
    FF ini sebagai pengobat rindu tulisan Kakak. Detournya bakalan tetep aku tunggu, bahkan dua atau satu tahun pun bakalan tetep ditunggu.
    FIGHTING!!!

  5. Huaaaaa, kak pikaa, ini chapt fav aku sejauh ini..
    Kalau boleh jujur sihh, aku emg lebih nungguin catching feeling dibnding detour. Soalnyaa detournya kan mau tamat, jd sayangg, terus ini ff masih bkin penasaran bgt, lanjutannya ditunggguuuu huaaa…
    Gak nyangka juga kak pika bakal nulis kyungsoo kesayangannya adalah tukang selingkuh…
    Huaaa kyungsoo kau tegaaa pada seorang sarang.. Kukira mereka putus karena apaa, tak kusangkaa..
    Kutunggu kelnjutan dan kebenarannya.. hmmm, ditunggu bngt malah, semangat kak pikaa

  6. Aku suka POV siapa aja yang penting porsinya pas.
    Ckckkc… Luhan ga nyangka bacaannya kaya begono 🙈🙈 semoga ketemu yaa cari si “bianca”

  7. Sumpah kyungsoo yg disini beda bgt sifatnya sm yg di detour. Agak kesel sm kyungsoo yg gk peka ke sarang. Kyungsoo sm sarang kyknya gak bisa balikan lagi ya?._.
    Btw aku kangen Chaeri kyungsoo baekhyun & semua cast yg ada di detour:’) gpp deh harus nunggu bulan mei yg penting msh bisa baca kisah mereka haha
    pakai byk pov gini juga bagus kok, ceritanya jadi lebih jelas. yg pasti semangat ya thor, kalau bisa update catching feelingnya jangan terlalu lama😀

  8. Yeeyyyyy😀 pikrachu update!
    Ahhhh beneran suka sm gaya bahasanyaaaaa! kyak d Pastel dan d Detour, pasti kalau baca bkin senyum2 sndri, guling2 cekikikan kyk org gila tapii yaahhh memang kyak gituuu😀

    Ahhhh suka suka sukaaa! apalagi kalau ad Partnya Luhan, atau adegan Minseok-Sarang! Sense of Humor-nya gak maksa2 bget tp ahhhh gak tau jelasinnyaa, yg jls such a great writing-skill!

    Walau Detour msih lama updatenya, ya udh gak papa, yg pnting ad tulisan2 yg mngobati kerinduan *ahkealayanmulaitampakkepermukaan* 파이팅!

  9. ahaha yehet!! dalam sekejap aku berubah pikiran dan seperti diarahkan secara teratur buat berbelok arah (apalah ini)..
    Seketika aku merasa rasa penasaranku jauh lebih besar sama CF dibanding detour atau pastel. Mungkin karna CF baru semacam tunas kali ya dan detour atau pastel udah hampir berbuah. Walaupun tetep aja aku merasa ketemu chaeri bulan mei rasanya terlalu lama T-T
    Gak perlu ganti karakter luhan yg bandel gemesin tapi bikin lemes ini karna aku ssukaaaaaaaaaa banget!!! Terlalu bosen sama karakter luhan yg selalu jadi laki2 sempurna dengan ketampanan tak terkalahkan dan hati yg seputih salju (adeuuh).. Hehe yg nakal2 begini memang selalu lebih menarik kan :3
    Pemeran utama disini siapa? Minseok? oke!! aku pengennya minseok. Jadi sebenernya minseok ini benci sarang gitu? Tapi baik banget ya walaupun orang yg ngebosenin dan bikin makan hati kalo punya temen kaya gitu… Aku clueless sekali mikirin sarang yg sebenernya hatinya tuh mengarah ke siapa (selain sang mantan).. hahah duh mengenal sarang berasa mengenal temen sendiri. Yeah, tipikal orang yg selalu berputar di lingkaran sang mantan. Dan, aku nyaman sama pov nya sarang. Kalo sampe akhir pov nya dari sarang semua ku gak bakal protes sama sekali😀

    mohon izin kak, boleh aku jambak kyungsoo? entah kenapa aku sebel sama si mantan ini heuh -.-

    next chapternya…… lama juga bakal ditunggu, kalo gak lama malah alhamdulillah😀

    • Hahahahhahahhaha kocak bgt dah komenmu dr detour ke pastel eh sekarang catching feeling

      Jangan jambak kyungsoo dong tenang aja pokoknya yg terbaik buat saraang 😝😝😝

  10. Akhirnya ff nya update jga😀
    Suka sma sifat Minseok disini. Dia kalem, cuek tp ttp perhatian. Dia pura2 cuek sma Sarang, tp sbnrnya peduli.
    Plng suka scane yg di taman itu. Cieee Minseok-Sarang sehati^^
    Siapa kira2 cwek yg sama Do?? Dan jujur sya rada sebel sma sifat Do dsini. Dia kyk ngga suka sma Sarang. Sprti cinta sarang bertepuk sbelah tangan?!
    Dan Luhan Lop U..suka sma karakternya dsini. Jd pencair suasana dia antara Minseok-Sarang #Luhan_as_Cupid><
    Next thor…ini mesti lanjut ampe the end😉

  11. Aku seneng liat catching feeling update. Yeay! Minseoknya berubah jadi lebih sweet gitu aw aw aw. Dan, aku udah bilang di chapter sebelumnya sih kak kalau Sarang tuh belum bisa move on dari Kyungsoo? Dan baru di chapter ini aku ngerasa Kyungsoo disini bedaaaa banget sama di Detour. Kesan manly kerasa banget, dan entah kenapa aku juga ngerasa lemesnya Sarang pas liat Kyungsoo sama perempuan lain. Sarang bener-bener dapet kejutan yang hebat!
    Konsep Minseok “Hari seninnya mulai pada hari selasa.” keren….
    Luhan adalah orang munafik paling hebat disini! Terus…. aku gak tau tapi aku suka hubungan Sarang-Luhan gak tau kenapa mereka rasanya klop gitu. Sebagai temen tapinya. Ah sudahlah aku banyak banget komen. Sama usul, bikin Bianca jalan di depan Kyungsoo ka jadi pas Sarang mau ngambil Bianca jadi agak canggung gitu wkwkwkwk. Cuma usul sih terserah ka pikrachu^^ chapter 5, detour,pastel i’ll be waiting lah…^^

  12. Sebenernya keanapa kyungsoo putus sama sarang? Mereka bener-bener jatuh cinta atau cuma ngerasa ada kecocokan karena mereka sama-sama pintar dan salah ngartiin itu sebagai perasaan? Kalo dipikir kyungsoo itu terlalu lurus hidupnya dan kurang cocok*ehem sama sarang. Tapi ga tau ding semua cerita berada di tangan authornya *prok prok prok

  13. Xiumin 😂 ternyata dia sengaja baik dengan sarang supaya dia menggantikannya untuk mencari bianca.. Next kak 👍🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s