Catching Feeling [5/?]

Chapter 05- The Way She Moves

 

S A R A N G

 

Saat ketika Kyungsoo mengakui aku memiliki jari yang bagus aku mengatakan dulu aku bermain piano.

Umurku 12 tahun ketika mengambil les piano. Karena ibuku memaksa belajar piano hal yang bisa kukatakan pada kalian hanya kenanganku dengan piano tidak begitu bagus. Meskipun sudah hampir 10 tahun aku belajar piano, aku tidak tahu apakah ini bisa dibanggakan atau tidak, tapi lagu yang bisa kumainkan hanya Turkish March (Aku bahkan tidak bisa memainkan Für Elise).

Lalu Kyungsoo mengatakan dia mengerti apa rasanya mempelajari hal yang tidak kau suka karena dulu pun ibunya sempat memaksa dirinya mengambil kelas biola.

Dari percakapan itu kami membicarakan Song Haneul.

Dia sepupuku. Atau bisa dikatakan teman sekaligus saudara perempuan yang sayangnya tidak bisa dipastikan apakah masih berlaku atau tidak.

Semua orang menyukai Haneul. Tidak ada yang bisa membenci Song Haneul, seperti aku dan Kyungsoo. Aku menyukai Haneul karena dia selalu memberikanku anak hamsternya sekalipun tahu aku tidak bisa memelihara hewan dan Kyungsoo menyukai Haneul karena Haneul menyayangiku.

Haneul pindah ke Gyonggi karena pekerjaan orang tuanya saat umur 11, setahun sejak aku mengambil les piano dan dia mengambil les biola. Berbeda dengan aku yang membenci piano, Haneul mencintai biola, dia tetap membawa biolanya dan merelakan dua kucingnya berada di rumahku. Secinta itu lah Haneul pada biolanya.

Di Gyonggi dia menjadi gadis menyenangkan yang disukai siapa saja. Cinta pertama hampir setiap laki-laki yang baru menginjak puber termasuk Do Kyungsoo.

Hubunganku dengan Haneul tidak pernah benar-benar memburuk.  Kami sering bertengkar, sama seringnya dengan kami berbaikan hingga saat musim panas tahun lalu. Saat Haneul mengunjungi Seoul ia menunjukkan foto teman masa kecilnya padaku, lalu menunjuk foto Kyungsoo kecil. Mengatakan dengan riangnya, “Teman les biolaku. Dia pernah memberi coklat valentine padaku, dan aku menyesal tidak membalas perasaannya.”

Aku tidak begitu ingat kelanjutan dari percakapan itu. Hanya saja saat ketika aku menceritakan pada Kyungsoo kalau cinta pertamanya adalah sepupuku, mungkin itu saat ketika semua berubah. Baiklah tidak semua, hanya aku yang berubah.

***

 

Aku tidak berencana membuat Kyungsoo sadar akan kehadiranku di sini. Tapi ketika tiba-tiba kau berjalan mundur dan menginjak kubangan air lalu membuat kotor Adidas putih kesayangan yang baru dicuci kemarin, siapa yang tidak akan berteriak?

“Sarang?” Haneul beranjak dari ayunannya berlari menghampiriku sementara Kyungsoo yang duduk di sebelahnya ikut berjalan.

Betapa aku ingin jatuh ke lubang sekarang.

“Ada kucing lewat di sini? Aku sedang membantu temanku mencari kucingnya yang hilang.”

Haneul menggelengkan kepalanya, rambut lurusnya ikut bergerak dan aku tahu ribuan pria rela melakukan apapun untuk dapat mengelus rambut halusnya. Kyungsoo yang baru saja berdiri tepat di depanku menaikkan alisnya, ia terlihat penasaran. “Apa itu kucing milik Lu Han?”

“Ya lebih tepatnya milik bibinya Lu Han . Kalau begitu aku akan pergi sekarang.” Aku tidak menatap Kyungsoo saat membuka mulut. Lalu aku berjalan mundur dan mencoba tidak dramatis dengan tidak tiba-tiba berlari.

Kalau Kyungsoo lebih memilih persahabatannya dengan Lu Han, dia akan meninggalkan Haneul dan membantuku mencari Bianca. Aku tahu Kyungsoo akan memilih Lu Han, tapi dia tidak akan meninggalkan Haneul. Dia akan meminta Haneul menemaninya, si pintar Haneul yang mengajarinya bermain Twinkle Twinkle Little Star untuk konser biola pertamanya. Kyungsoo selalu suka perempuan yang bisa diandalkan. Dan hal yang kutahu, Kyungsoo tidak pernah mengandalkanku.

Dengan fokus aku terus mendongak sepanjang jalan setapak melihat atas pohon untuk memastikan tidak ada Bianca memanjat di sana. Mendongak sambil berjalan seperti ini benar-benar mencari masalah, aku bisa menabrak kakek-nenek yang memang jam sorenya selalu jalan-jalan di sepanjang jalan ini. Lalu tepat ketika aku merasa engsel di leherku akan berkarat kalau aku tidak berhenti mendongak, aku berhenti.

“Hai Sarang.”Jongin berdiri tepat di depanku. Kenapa laki-laki ini selalu berada di saat seperti ini? Aku hanya bisa mengangguk sekilas karena bagaimana pun juga melihat Kim Jongin berdiri di sini, 20 cm di depanku, masih terasa janggal karena untuk beberapa detik aku merasa dia lah pemeran utama pria.

“Hai?”

Jongin mengeluarkan tawa kecil.  Membuatku berpikir bagaimana beruntungnya kalau bisa mendengar tawa itu setiap hari. “Mungkin sejak lima menit yang lalu aku melihatmu terus mendongakkan kepala. Apa itu semacam olahraga baru atau—“

“Oh,” Aku langsung memotong kalimatnya,  konyol ketika aku mengingat resiko akan bertabrakan dengan kakek nenek sementara kenyataannya Kim Jongin, mahasiswa pindahan yang ketampanannya menyamai pangeran Philip ternyata memperhatikanku. “Aku mencari kucing di atas.”

Ketika Jongin ikut mendongak aku menepuk dahiku, ia pasti berpikir aku mencari kucing terbang di atas sana.

“Maksudku, mm— kucing memanjat di pohon.”

Lalu ia kembali memandangku, kali ini tidak tertawa, hanya tersenyum tapi efeknya seperti menular karena tiba-tiba aku ikut tersenyum. “Mau kubantu?”

Aku menggelengkan kepalaku. “’Aku bisa mencarinya sendiri. Tapi terima kasih.”

Kali ini ia nyengir. Dan begitu saja aku ingat semua tentang Jongin, bagaimana aku bisa mulai menyukainya. “Berdua lebih cepat kan? “

Tidak mau terus bertatapan seperti ini maka aku menyerah dan mengangguk. “Baiklah kau menang.”

Kim Jongin tersenyum. Jenis senyum yang membuatmu tersenyum karena melihat salju pertama musim dingin atau sakura pertama musim semi. Ada sesuatu tentang senyum Jongin yang setiap perempuan pasti suka. Mungkin Jongin bukan cinta pertamaku apalagi ciuman pertamaku tapi mengingat bagaimana bisa aku menyukai— tertarik dengannya masih membuat geli, seperti sudah berabad lalu tapi kalau diingat lagi, itu hanya empat bulan yang lalu.

***

 

Sejak aku dan Jongin mencari Bianca di balik semak sepanjang trotoar ponselku tidak pernah berhenti berbunyi. Baozi menelponku, aku tidak mengangkat telponnya karena aku tahu dia hanya memastikan apa aku benar-benar membantu Lu Han.

“Kau sudah coba memasang brosur kucing hilang?”

Tanganku tidak berhenti menyibak setiap semak, terus berpikir Bianca yang pemalu akan bersembunyi di baliknya. “Aku akan mengatakan itu pada Lu Han.”

“Kucing ini milik Lu Han?”

“Secara teknis milik bibinya tapi Lu Han yang selalu merawatnya.”

Tiba-tiba Jongin menarik lenganku dan berkata, “Aku punya ide.”

Menaikkan sebelah alisku aku menatap Jongin bingung. Jongin baru ingin membuka mulut menjelaskan betapa jenius rencananya ketika tiba-tiba seseorang meneriaki namaku. Dan tanpa menengok aku tahu siapa dia.

“OI— SARANG.”

Lu Han yang baru saja keluar dari seven-eleven berlari menghampiriku. Wajahnya merah dan ia menahan senyum, aku tahu ia akan mengatakan sesuatu yang membuat semuanya lebih melegakan oleh karenya aku berjalan terburu-buru saat menghampirinya diikuti Jongin lalu saat ketika Lu Han menepuk bahuku dan mungkin ingin merangkulku dahinya berkerut. Aku memiringkan kepala bingung soal perubahan ekspresinya dan detik berikutnya mengerti.

“Dan untuk apa Kai di sini?”

“Dia membantuku mencari Bianca. Katakan apa kabar baiknya Lu-ge!” Jawabku tidak sabar. Hei Bianca ditemukan apa lagi yang lebih penting dari pada itu?

Lu Han mengabaikanku, ia mendekati Jongin dengan tangan terkepal sementara laki-laki yang didekati sama bingungnya denganku. Kepalan tangan Lu Han yang menunjukkan kalau ia bukan laki-laki seflamboyan yang kukira membuatku teringat, dulu aku pernah menonton  seseorang pernah menonjoknya karena Lu Han merebut pacarnya (ketika kenyataannya Lu Han tidak tahu apa-apa), Lu Han tidak membalas pukulannya, ia masih bisa tertawa lalu minta maaf karena Lu Han benci kekerasan.

“Kau tahu Kai. Tidak sopan seorang pria berjalan dengan perempuan lain ketika satu jam lalu ia baru saja putus dengan pacarnya.”

Dahi Jongin berkerut mulai memandang Lu Han jenuh seakan ia dan Lu Han sudah berbincang berjam-jam lama ketika kenyataannya mereka baru saja bertatapan kurang dari semenit. “Pertama itu bukan urusanmu. Dan aku bersama Sarang sekarang hanya untuk membantumu mencari kucing.“

“Nah. Aku sudah menemukan Bianca kau bisa pergi sekarang.”

Lu Han tidak tahu apapun tentang Jongin, mengusir seseorang yang berniat membantumu benar-benar kasar, aku ingin ikut bicara, mengatakan sesuatu untuk membuat Jongin lebih dihargai dan—

“Sesuatu yang harus kau tahu Lu Han. Dambi yang memutuskanku.”

“Kau yang membuatnya melakukan hal itu.” Rahangnya mengeras. Aku berjalan satu langkah, bermaksud menarik salah satu dari mereka karena firasatku mengatakan, satu kesalahan kata maka semua kacau.

“Tidak, seseorang yang membuatku melakukan hal itu.” Jongin berkata, ia berbicara pelan tapi aku yakin ia sama jengkelnya dengan Lu Han.

“Menyalahkan orang lain untuk rusaknya hubunganmu benar-benar pengecut Kim Jongin.”

“Dan mencampuri urusan orang lain benar-benar tidak sopan Lu Han.”

Tiba-tiba semua menjadi masuk akal bagiku. Aku pernah dengar sekilas dari Kyungsoo, kupikir itu hanya isu, tidak mungkin Lu Han bertepuk sebelah tangan selama 10 tahun oleh satu perempuan, mungkin maksudnya ia ditolak oleh seorang perempuan 10 tahun yang lalu. Seorang Lu Han selalu tahu caranya menaklukkan wanita, mulai bagaimana menarik perhatian wanita sombong sampai seorang gadis polos.  Aku pikir aku mengenal Lu Han sebaik Lu Han mengenal Bianca, tapi tepat ketika Jongin mengatakan sesuatu yang aku tidak bisa mendengarnya dan Lu Han memukul rahang pria itu aku tahu aku tidak sebaik itu mengenal Lu Han.

 

***

K Y U N G S O O

Aku pernah bermimpi Triceraptos menginjak maket bangunan yang kubuat setelah hampir tiga hari bertahan tidur dua jam. Triceraptos itu meludahi sisa maketku lalu berjalan pergi seolah tujuan hidupnya sudah tercapai. Dosen memberiku nilai minus 1 dan kupikir itu adalah mimpi terburukku.

Dan hari ini, aku sadar ada sesuatu yang lebih buruk dari pada itu. Hal yang terburuk ternyata sama sekali tidak berhubungan dengan Triceraptos atau maket yang hancur, karena saat aku menyadari aku dan Sarang benar-benar berakhir, aku tahu Triceraptos datang menginjak tugas sama sekali tidak berarti.

Ketika Sarang kehilangan kepercayaan dan aku kehilangan kepekaan lalu aku memutuskan semua menjadi mengganggu dan kita selesai adalah hal terburuk. Dipikirkan siapa yang bersalah, sampai detik ini aku berpikir aku masih merasa itu kesalahan Sarang. Tapi memang sejak kapan Sarang tidak melakukan kesalahan? Ia selalu melakukan hal yang salah, ia salah dalam memilih jurusannya, ia salah dalam menentukan hadiah untukku, ia salah dalam menilaiku, ia salah dan bagiku kesalahan Sarang tidak bisa menjadi permisi jadi itu artinya, bagaimana pun juga ini tanggung jawabku.

“Kupikir lebih baik kau mencari di sana, kita sudah periksa taman ini sejak tadi Kyungsoo.” Haneul yang berdiri di sebelahku pada akhirnya menyerah. Aku tidak pernah memintanya membantuku mencari Bianca tapi ia tetap menungguku.

“Aku tahu, tapi aku merasa siapa tahu ada bulu rontok Bianca di sini. Kita bisa memberikan itu pada anjing pelacak.” Aku masih menyibak semak kali ini dengan kakiku malas-malasan.

“Daan  Kyungsoo berbohong. Siapa yang baru saja menjadi saksi pertemuan manis Sarang dan Kai tadi? Aku melihat matamu bodoh, sudah kubilang kalau kau tidak mau berbuat apa-apa lebih baik lupakan Sarang.”

Pemilihan kata ‘bodoh’ membuat kedua alisku merengut, aku memutar bola dan membalik badanku. Bukan aku tidak mau tapi aku tidak bisa, tapi aku memilih tidak mengatakannya, karena tidak bisa membuatku terlihat lebih payah. “Permisi Haneul, aku tidak pernah memintamu menemaniku di sini, kau bisa pulang dan aku akan melanjutkan mencari bulu Bianca di sini.” Haneul menggelengkan kepalanya. Dia letih dengan semua ini dan harusnya dia tahu kalau ada orang yang paling jenuh, maka itu adalah aku. “Tidak perlu merasa bahwa urusan Sarang denganku adalah urusanmu juga.”

“Sarang adalah urusanku, aku tidak akan membiarkan Sarang dengan laki-laki pengecut sepertimu.”

Dia memberiku tatapan menyidik. “Lalu?”

“Kau tidak akan menyangkal kalau kau pengecut?”

“Untuk apa? Aku tahu aku tidak pengecut, itu hanya penilaianmu.”

Kedua bolanya membesar. Memandangku heran hingga akhirnya ia mengerang frustasi. “Ayolah Kyungsoo! Kau sudah punya masalah dengan Sarang jangan buat masalah dengan sepupunya juga!” Ketika dia ingin membuka mulut aku memotongnya. “Bukan aku yang satu-satunya punya masalah dengan Sarang, urusi masalahmu juga.” Lalu aku membalik badan, berjalan pergi dengan latar suara Haneul yang terus menyumpahiku.

***

S A R A N G

 

Aku bersyukur Jongin tidak membalas pukulan Lu Han. Hal terakhir yang kuinginkan terjadi adalah mereka berguling di tengah jalan saling memukul dan aku harus melerainya lalu semua orang akan mengira dua orang itu memperebutkanku.

Lu Han pergi setelah melakukan hal yang dianggapnya benar itu. Ia tidak jadi memberitahuku kabar baiknya tentang Bianca dan itu membuatku jengkel luar biasa. Sementara Jongin hanya memijit sudut bibirnya yang terluka ia hanya menghela napas dan aku mulai bertanya-tanya kenapa ia begitu pasrah.

“Apa kau merasa bersalah jadi membiarkan Lu Han memukulmu?”

“Bukan. Aku hanya tidak ingin memukulnya.” Wajahnya terlihat menahan nyeri, harusnya pukulan Lu Han tidak mungkin sesakit itu, laki-laki yang hanya melatih kakinya seperti Lu Han tidak akan bisa memukul sekeras itu, Lu Han selalu percaya diri soal tendangannya tapi tidak dengan pukulannya.

“Aku akan membeli telur untukmu, kau diam di sini.” Karena merasa kasihan aku segera membalik badan berjalan mencari apapun yang menjual telur hingga akhirnya aku teringat aku tidak membawa dompet.

Tiba-tiba Audi hitam berhenti tepat di depanku, nyaris menabrak, aku sudah ingin menyumpah lalu Kim Minseok turun dan menarikku masuk ke mobilnya. Semua terjadi begitu cepat terlalu mendadak sampai aku tidak bisa memberontak sekalipun aksi ini jelas seperti penculikan. Ia memegang pergelanganku terlalu keras dan aku mulai takut sekalipun di satu sisi aku tahu ia tidak mungkin menculikku. Saat ketika ia menjalankan mobil dan melepas lenganku aku tahu sesuatu pasti terjadi.  

“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” Matanya menatap lurus ke jalan.

Aku menelan ludah dan memilih menyalakan  music player, The Beatles – Hey Jude mengalun dan lagu itu tidak membantu sama sekali mencairkan suasana ini.

“Kenapa kau tidak menjawabku Sarang?” Masih sama dinginnya Minseok bertanya.

Aku memberanikan diri menengok padanya dan baru menyadari laki-laki itu datang masih mengenakan seragam baseballnya, kedua lututnya kotor dengan tanah, dan di kedua bahunya masih ada rumput-rumput. “Aku mengira alasannya tidak penting.” Jawabku pelan.

Minseok tidak langsung membalasku, ia menengok padaku dan kali ini baru terlihat betapa menyedihkan wajahnya sekarang, memandangku sedih dan capek aku sama sekali tidak punya dugaan apa yang terjadi. “Menurutmu aku bisa memanggilmu dengan alasan tidak penting? Apakah aku terlihat seperti laki-laki yang akan menelponmu karena hanya ingin mendengar suaramu?”

Aku ingin menangis. Aku tahu aku salah. Dan sesaat aku tidak ingin tahu alasan di balik semua ini karena apapun itu, yang bisa membuat seorang Minseok seperti ini sudah pasti bukan masalah biasa. “Apa yang terjadi?”

“Bus sekolah Nara kecelakaan dalam perjalanan pulang tadi. Nara masih melakukan operasi mengangkat kaca yang menyangkut di tulang rusuknya.”

Isi perutku seperti jatuh. Hey Jude masih bermain dan Minseok mengeraskan volume membiarkanku menangis lebih keras.

***

 

Malam terakhir di Jepang Nara memaksaku menemaninya mengelilingi Tokyo. Ia bilang ia ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Minseok yang sudah lewat. Hubungan Nara dan Minseok tidak begitu bagus, Nara membenci Minseok dengan alasan merasa ayahnya bercerai karena ibunya Minseok.  Oleh karenanya saat mengetahui Nara ingin membeli hadiah ulang tahun untuk laki-laki itu sampai membangunkanku jam 10 malam aku tidak bisa protes. Ini perkembangan terbaik dari hubungan kakak-adik itu.

“Kau ingin membeli apa?” Aku menguap lebar dan menutupi kepalaku dengan kupluk milik Minseok yang diam-diam kuinginkan. Tokyo jam 10 malam masih ramai, aku mulai menyesal kenapa aku tidak mengganti piyama semangkaku dulu.

“Setahuku dia mengoleksi Gundam, aku ingin membelikan untuknya.”

Sambil memegang erat tangannya takut Nara terseret kerumunan aku tersenyum, Gundam selalu menjadi favorit, rasanya melegakan masih ada laki-laki yang menyisakan waktu kosongnya untuk merakit Gundam. “Tapi itu mahal dan aku tidak membawa dompet.”

“Aku sudah mengambil uang dari dompet ibu.” Nara menjawab polos membuatku tertawa.

“Dan boleh tahu kenapa tiba-tiba ingin memberikan hadiah untuk Baozi?”

Perempuan kecil itu menatapku hati-hati, tatapan yang berkata aku-hanya-mengatakan-ini-padamu-oke?  Aku hanya membalas menatapnya geli, ia berdehem dan menghela napas. “Hari ini dia terlihat menyedihkan.”

Aku terdiam. Memang benar Kim Minseok hari ini terlihat sangat menyedihkan. Aku melihatnya dimarahi seorang kakek karena ia tidak sengaja menubruk istri si kakek hasil mengejar balon yang diterbangkan Nara. Ia juga dimarahi seorang murid SMA karena tidak sengaja menumpahkan kopi pada rok perempuan itu karena membantuku mengambilkan sendokku yang terjatuh sampai tidak menyadari kopinya tersenggol. Melihat seseorang dimarahi selalu membuatku sedih.  

Beberapa jam kemudian kami sudah keluar dari toko dengan Nara yang puas dengan kotak kadonya dan aku dengan Tamagotchi baru yang kubeli tadi. “Hei Nara, aku ingin Taiyaki.”

“Aku lihat penjual Taiyaki tadi. Ayo kita beli.” Lalu ia menarik tanganku dan aku membiarkannya terus menuntunku sementara mataku masih fokus menatap layar kecil itu memikirkan nama yang cocok untuk monster digital ini.

Kerumunan yang banyak membuat jarak yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu dua menit menjadi sangat sangat lama, aku sudah memberikan nama untuk Tamagotchiku,  saat ketika aku sedang memilih akan memberikannya makan apa aku menubruk bahu seorang laki-laki. Tamagotchiku terselip dari tangan dan jika seseorang menginjaknya aku akan menjerit saat itu juga.

“Ah sumimasen.” Si laki-laki menyelamatkan Tamagotchiku tepat sebelum seorang wanita muda yang masih asyik dengan kekasihnya akan menginjak Arongee (nama Tamagotchiku) dengan heelsnya. Ia menatap Arongee beberapa detik dan tersenyum, saat ketika ia mengembalikannya pada tangaku ia ikut menyelipkan sekantong Taiyaki dan berbisik “Bayimu kelaparan.”

Aku segera mengangkat wajah dan menatapnya, ia berbicara bahasa Korea. Itu pertemuan pertamaku dengan Jongin. Dan kalian harusnya mengerti kenapa aku menyukainya, karena kedua kalinya aku bertemu dia, ia sedang menunggu pesawat yang sama di bandara Haneda, lalu aku bersumpah jika aku bertemu untuk yang ketiga kalinya aku akan menyukai Kim Jongin.

Kami bertemu untuk ketiga kalinya, di kampus. Dengan Kyungsoo sebagai perantaranya.

 

***

 

Kita berdiri di depan kamar operasi. Minseok berada di sebelahku masih sibuk menelpon ibunya yang sedang panik tidak menemukan tiket pesawat pulang Korea malam ini.

“Mungkin ibu akan sampai besok siang.” Ucapnya setelah memutuskan sambungan.

Aku mengelap kedua telapak tanganku yang basah pada celanaku. Mataku masih terpejam karena aku berharap semua ini hanya mimpi. Kalau Nara kecelakaan dan berada dalam masa kritisnya hanyalah mimpi, aku benar-benar berharap.

“Lebih baik duduk dulu, tidak ada gunanya berdiri di sini.” Ia menarik lenganku dan kembali menuntunku berjalan, sejak tadi Minseok menuntunku, ia bahkan menuntunku keluar dari mobilnya pelan-pelan memperlakukanku seperti nenek yang menderita Osteoporosis.

Aku menjilat bibirku panik. “Apa yang akan terjadi kalau Nara benar-benar mati? Terakhir aku berbicara dengannya kami masih bertengkar karena Snow White.” Suaraku gemetar, mungkin bahuku ikut bergetar karena berikutnya Minseok meremas bahuku lembut. “Kurasa lebih baik kau berdo’a dari pada memikirkan kemungkinan terburuk.”

Aku tahu Minseok sama paniknya denganku. Tapi ia selalu punya cara untuk menyembunyikan ekspresinya, bertingkah senormal yang ia bisa tapi dalam hati sama tidak tahunya apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukannya.

Aku mengangguk. “Boleh aku yang menginap malam ini? Aku tahu kau kakaknya— tapi—“

“Silahkan. Nara menyukaimu, ditemani oleh orang yang disayanginya keputusan paling tepat.”

“Hei Minseok.” Aku mulai berkata, tiba-tiba merasa harus meluruskan sesuatu. “Kau harus tahu kalau Nara tidak benar-benar membencimu.”

“Aku tahu, tapi tetap saja ia selalu memilihmu.”

Sambil menelan ludah aku melirik Minseok. Ia menatap kosong ke depan. Ketika seseorang terlihat seperti itu hal yang bisa kulakukan hanya menatapnya lama, aku ingin tahu apa yang Minseok pikirkan.

“Kau tahu kenapa aku bertingkah aku membencimu?” Dia mencoba terlihat santai, aku tahu hal yang dikatakannya tidak mudah oleh karenanya aku memilih hanya menggumam dan membiarkan Minseok tahu aku sama santainya dan dia tidak perlu berpikir bahwa alasannya akan membuatku kecewa.

“Karena kau bisa mendekati Nara dalam sepuluh menit dan membuatnya mengatakan andai kakakku bukan Kim Minseok. Aku iri luar biasa dan tahu-tahu sejak pulang dari Jepang aku mulai menganggap kau menyebalkan.”

“Tidak mungkin hanya itu.” Aku memberanikan diri menatapnya.

“Yah, aku akan memberitahu sisanya nanti.” Lalu ia menengok dan tersenyum.  

Aku tidak pernah tahu kalau Minseok bisa tersenyum seperti ini. Tapi melihatnya begini padaku, setelah semua yang terjadi, setelah ia membuatku takut dan aman pada saat yang bersamaan aku merasa sesuatu akan akan berubah. Minseok tidak juga menggeser posisinya sekalipun bahu dan lutut kami bersentuhan, aku menahan keinginanku untuk menyandarkan kepalaku pada bahunya yang masih dikotori rumput.

“Aku mencetak homerun tadi.” Ia berkata, aku menengok padanya dan ia masih tersenyum. Begitu saja aku menggenggam tangannya dan memilih menyerah menahan kepalaku. Minseok tidak protes, aku memejamkan mata dan menyadari wangi Minseok seperti lemonade yang selalu kuminum di tengah hari musim panas.

“Selamat atas homerunnya.”

Kami sama-sama diam. Aku memikirkan apa yang terakhir Nara pikirkan tentangku dan mungkin Minseok berpikir, apa yang kupikirkan tentangnya sekarang.

 


 

Author’s note:

Update lebih cepet untuk mengapresiasi EXODUS? Karena mulai dari teaser sampai lagu (kecuali ladyluck hahah) aku sukaaa semua. THE FEELS OMG.

Banyak drama terjadi daan semoga itu enggak bikin kalian capek tapi justru terpompa. Soal Lu Han, Jongin, Kyungsoo,Minseok, Nara semua sepaket komplit mana hal yang paling menjadi concern kalian? Atau apapun tentang chapter ini aku seneng mendengar pendapat kalian :—-)

 

20 thoughts on “Catching Feeling [5/?]

    • Hikkks komen owe kepotong😦

      Yaudah review ulaaaang😦
      Tuhkaaaan playboy macem luhan pasti punya cintah yg tak terlupakan sekalipun dia brengsek. Dan jongin-luhan keknya punya masalah rumit gitu kan? Sarang masih suka jongin? Dan kyungsoo juga? Jadi sarang-kyungsoo putus karna salah paham? Terus mereka berdua masih saling sukaaaaa? Aaaaak >,<

      Berharap SarangXminseok moment di perbanyak thor :3

  1. Senengnya tanggal merah kak Pikra update, ㅋㅋㅋ~
    HAHA kenapa gak suka ladyluck kak?😄 gimana pendapatan kakak tentang Kyungsoo era EXODUS?

    Setelah baca cerita Sarang tentang Haneul aku ngebayangin kalo Haneul itu tokoh antagonis di K-drama dengan rambut panjang bergelombang dan ke-feminim-annya.Dan aku rasa aku gak suka Haneeeeuuuuullllllllllllllll!!!!! terkutukkkkkkkk kau Haneuuulll! *kemudian ada bunyi petir*

    WHY?! WHY Kyungsoo ada di taman sama Haneul??? Dan aku ngerasa pertemuan Kyungsoo-Haneul-Sarang (Haneul harus ada di tengah karena menurutku dia orang ke-3 –“) itu awkward moment.Ibaratnya pas Haneul manggil Sarang dan Sarang nengok ada bunyi bebek atau burung gagak yang jadi backsoundnya ._.

    Yeaaaahhh! ada moment Jongin-Saraanggg! aku suka! aku sukaaaaaaa!!! Di pikiranku karakter Jongin itu laki-laki cool dan berkarisma,tapi dia itu gak cuek,perhatian dan peka :3 Aku suka banget moment mereka berdua :3

    Dan apa banget deh Luhan tiba-tiba dateng dan menghancurkan semuanya –” Ya,walaupun ku akui ku kira Luhan cemburu Sarang sama Jongin,ternyata masih ada sebab-musabab yang lain.Gak nyangka Luhan si troublemaker cintanya bisa bertepuk sebelah tangan juga’-‘)/

    Kemudian aku terkejut karena Kyungsoo bisa berubah jadi tukang ngintipin orang,dan yap! aku masih penasaran sama kisah detailnya Kyungsoo-Haneul-Sarang

    Naraaaaaaaa :”( Aku gak bisa komentar apa-apa,Nara semoga baik-baik aja,semoga selamat :” :” kak jangan bikin Nara kenapa-napa dongsss

    Dari kasus Nara,aku jadi tau awal mulanya Jongin-Sarang ketemu,jadi tau hubungan kakak-adik Nara-Baozi,jadi tau kalo sebenernya Minseok sayang sama Nara,jadi tau apa yang ngebuat Minseok memutskan untuk membenci Sarang.Aku suka moment Sarang-Minseok di depan ruang operasi,mereka yang keliatan saling gak suka tapi bisa sedeket itu,aahh mupeng ;3 aku juga jadi pengen punya kk cowok :3

    Di tunggu chap selanjutnya kak Pikraaa,semangattss! ^^

  2. Ohmegat, pantesan aja hari ini buka web ini mulu, trnyta firasatku benar….
    Suka banget sama ff ini, apalagi td abis nntn xiumin di mubank, aduhai gnteng bngt…
    Aku baru tau klu slama ini kyungsoo msih suka sama sarang, tapi kok dia gtu sihh, gak mau brtndak dluan, klu gini ceritanya ya bakal gk bs nyatu, aplg dg posisi srg brg haneul, cwe mana yg pkirannya gak kemana2 coba… btw, kukira kyungsoo yg mutusin. trnyta crtanya mrk brdua lebih rumit drpd itu..
    Aku kok ada feeling bakal ada kisah segitiga yaa, eheemm…
    Oiaa, pov gini aku suka bngt, krn kita jd tau suara hati msg2 cast nyaa, keren bngt….
    Kali aja next chap bs secepat dan lbih cepat dr ini aku pst akan bhgia skli…
    hmm, apalagi yaaa…
    oke dehhh, kutunggu next chap kak pika

  3. Aku bisa apaaa kalau aku fokus kesemua bagiannya :” tapi bagian kyungsoo luar biasa menurutku, di ff ini aku gk bakal nge ship siapa2 semuanya aku suka luhan sarang jga suka, bahkan sarang-nara (?) hahahahaha
    Suka disini bkan gmnaa tpi yah aku suka semua moment moment disini dan ngerasa kayak semua pemerean utama walaupn menurut sarang jongin yg pemeran utama hehehehe

  4. Flawless.
    Ada kyungsoo, minseok, luhan, jongin
    terus siapa lagi deh yang bikin hidung
    mimisan setiap hari kalau dikelilingin
    sama mereka.
    Aku masih ga ngerti ini cerita mau
    dibawa kemana, konfliknya apa dan
    pairing utama siapa. Minseok-sarang
    kah atau clbk kyungsoo-sarangkah or
    even jongin-sarang? Karena sblm
    ditinggal bonyok sama luhan kan
    jongin bilang dia putus sama dambi
    karena seseorang. Sarangkah?
    Ga ngerti lagi ini bahasa oke banget
    dan penjelasan penjabaran karakter
    berasa baca fanfic translate.
    Aku selalu suka ide cerita kamu.
    Sederhana, tapi menarik.
    Luhan yang gonta-ganti pasangan tapi
    sebenernya ogah, bibinya yang
    keterlaluan, sarang yang biasa periksa
    gigi ke rumah minseok dan gimana
    setiap pemeran begitu kuat sama
    karakter mereka masing-masing.
    Buat next chapter, semangat!!
    Bagi email atau wa kalau boleh hehe

  5. wah wah jadi makin lopek nih sama bang umin. bayangin dia jadi lembut sama sarang kok gue blushing sendiri ><

  6. Nahaha kenapa gak suka ladyluck kak? karna ada cewek mendesahnya? kkk~

    Bener bener nih makin terpompa (?), makin kompleks banget. Pemainnnya banyak, dan drama diantara mereka bikin greget dan uhh, aku rasa ini bakal makin ribet kedepannya. Beda ya sama detour dan pastel, seenggaknya disana concern ke maincast, nah ini, pov nya banyak, tapi cerita jadi makin berwarna😀
    Dari semuanya, concern aku sih sama hubungan minseok-sarang-kyungsoo. Kyungsoo masih suka kan sama sarang? Dan rasa2nya sarang ada perubahan sama minseok. Tapi tetep, akupun masih butuh luhan-sarang. Aku gak terlalu tertarik sih sama sarang-jongin, tapi kalo sarang tertarik sama jongin, aku pun ikut tertarik dan jadi penasaran. Kenapa jongin bikin pacarnya mutusin dia dan kenapa luhan mukul jongin??!!
    eh dan gws aja buat nara. Semoga dia baik2 aja ,,__,,

  7. Pliss… kak, aku pengen Jongin-Nara moment.
    Kyungsoo entah kenapa nyebelin sekali, bawaannya pengen tabok pake batako abis itu karungin bawa pulang
    Minseok makin lama makin mencair, udah gak kaya es balok lagi
    Aku terlambat banget baca ini gak sih? di chapter sebelumnya aku belum sempet komen kayaknya kak, jadi maafkan aku /sibuk sekali soalnya mau UN/ *eh *curhat
    Ditunggu chapter berikutnya kak…
    FIGHTING!!!!!!

  8. TERNYATA KYUNGSOO MASIH GK BISA MOVE ON.. astaga jadi mereka berdua masih sama2 suka?aduh jadi pengen gigit kyungsoo.. tapi emg klo aku jadi sarang aku jg gk bisa move on dri kyngsoo sih, dia emg tipikal cowok2 ideal wakakak aku jadi penasaran alasan mereka putus..

    ASTAGA I LOVE U KAK (?) aku seneng banget kakak bikin minseok sarang moment karena memang moment ini yg aku tunggu2. apalagi.. min..seok senyum, aduh aku bayangin aja udh ketawa2 sendiri, krn kita semua tau minseok sifatnya tuh dingin jadi sungguh moment langka(?)dan alasan gk terduga walaupun aku pikir pasti masih ada alasan lain dibalik itu *tos sarang*

    aku suka cara penulisan kakak yg selalu ada unsur lucu dan gk selalu fokus ke tokoh utama jadi gk boring, ada konflik lain di tokoh lain kayak luhan dan jongin, aku semakin penasaran karakter luhan yg playboy ternyata oh ternyata… aku jadi terjebak lgi dengan karakter luhan sama kyk di detour, dia bukan tokoh utama tpi aku malah suka luhan disitu(?) haha soalnya karakter dia emg memikat.. penasaran sama masalah luhanXD

    oke aku tunggu updatenya kak!! aku selalu check blog kakak buat tunggu updatenya, (blog favorit) hoho, gk sabar nunggu bulan mei, annyeong~😄

  9. Aaaaaaa ternyata Catching feeling udah update 15 hari yang lalu. Aaaaaarrrggghhhh aku baru baca sekarang…
    ayey Minseok udah lebih baik sama Sarang, kayaknya Nara kecelakaan ngasih efek baik ke hubungan Minseok-Sarang
    Kyungsoo belum bisa move on sama kayak Sarang. Cieeee
    Luhan-Jongin dendam banget kayaknya Luhan sampe ninju Jongin gitu dan…akhirnya ketauan juga gimana awalnya Sarang suka sama Jongin. Semoga momen Sarang-Minseok diperbanyak sebanyak cintaku ke Kyungsoo*eh

    Kenapa gak suka lady luck ka???? Padahal kan lagunya enak, Chanyeol suaranya bikin lemes gitu. By the way, kyungsoo kece ya ka di mv call me baby?^^ ditunggu chapter 6 nyaaaa

  10. author kapan update…?
    update #Detour dan mungkin ff ini udah lama tapi sumpah aku exited banget ngebaca ff ini #Oh-My-Prince

  11. Huaaa eonni maaf baru komen
    Hyaaa kapan aku ga suka sama ff eonni kalo ffnya keren semua kayak gini? Selalu ringan dan enak dibaca tapi mudah dimengerti.
    Oya eonni aku mau kasih tau dr chapter 1 itu masih ada beberapa typo dan ada kata yg hilang atau entah terselip jadi kalimatnya kurang lengkap. Tapi aku tetep ngerti maksudnya kok hehehe =))

    Omaigosh I’m such a BIG fan of kyungsoo. Huaa aku jadi banyak mikir sepertinya jongin akan bergabung dengan lingkaran cinta bersama sarang, kyungsoo dan minseok.
    Itu sarang orang tuanya ga khawatir dia ga pulang2? Aku rasa eonni perlu menjelaskan ini di chapter berikutnya hehehe
    Eonni bikin gambaran tokoh2 yang kayak eonni bikin buat detour dan pastel dong.. jadi aku bisa tau nara kayak gimana wkwk
    Yaampuuun gereget banget pengen baca terus rasanya aku pengen narik alur ceritanya dari dalam kepalamu pikrachu eonni hehee
    Semua yang eonni bikin aku suka dr mulai detour pastel sm catching feelings. Trs yg ff buatan adikmu itu apa kabar eon? Aku akan tetep nungguin updatenya nihh semua ff disini. Btw ini udah mei loh eonn saatnya baca detour.
    Huaa eonni makasih banyak udah bikin ff sebagus iniii. Semngat terus ya eooonn!! Update pallijuseyo~~~

  12. Lu Han Lu Han Lu Han Lu Han kenapa juga playboy kaya dia sakit hati gegara ditolak cewe sepuluh tahun lalu. Terus kenapa juga Sepupunya Sarang tiba-tiba sama kyungsoo, apa jangan jangan sepupunya Sarang naksir sama kyungsoo tapi kyungsoo nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s