Catching Feeling [6/?]

photo credit to zoesuen

#06 Good Morning (Time To Wake Up)

 

S A R A N G

 

Jam dua pagi Minseok mengantarku pulang ketika sebelumnya kami sempat berdebat seputar topik perempuan menaiki taksi tengah malam sendirian, aku yang selalu mengutamakan kesetaraan gender mengatakan zaman sekarang wanita pun bisa pulang sendirian, lalu Minseok mengatakan bahwa bahaya wanita cantik— dan setelah itu aku mengalah membiarkannya.

Tidak ada pembicaraan penting karena aku terlalu mengantuk untuk mencari topik, bahkan menggerakkan jari untuk mengecilkan AC terasa sama beratnya dengan mendorong mobil (atau bahkan buldozer) mogok. Minseok mengatakan aku boleh tidur tapi aku memilih menggigit lidahku berusaha menahan mataku jangan sampai terpejam, laki-laki di sampingku sama mengantuknya dan mendapat kecelakaan lalu lintas akan membuat kami seperti remaja bandel yang tidak mengerti aturan dilarang menyetir ketika mengantuk.

“ Setelah ini kau mau kembali ke rumah sakit?” Aku memaksa bola mataku melirik pada Baozi yang baru saja menguap lebar. Ia terus menguap setiap 10 detik dan hal itu membuat rasa ngantuknya menular padaku.

Minseok mengangguk sambil memincingkan mata berusaha sefokus yang ia bisa memandang jalanan Seoul yang masih padat. “Nara sudah melewati masa kritisnya, aku ingin begitu dia membuka mata dia tahu dia tidak sendirian.”

Aku mengangguk sekilas sambil membesarkan volume radio  yang kebetulan menyetel See You Again. “Menurutku, lebih baik kau tidur di rumahku dulu.”

“Tapi—“ Sambil mengucek matanya lagi-lagi ia menguap lebar, aku yakin bahkan dua baozi pun dapat masuk sekaligus.

Minseok terlihat mencari alasan untuk menyangkal ideku, hal itu membuatku tanpa sadar menggenggam tangannya seakan itu adalah hal yang biasa kulakukan padanya setiap ia bingung, aku meremasnya pelan karena siapa tahu aku bisa menyalurkan energiku padanya, dan siapa tahu juga jantung Baozi bisa berdegup lebih kencang, bagaimana pun juga aku adalah wanita dan dia pria. “Tidak apa-apa, jam 6 pesawat ibumu sudah sampai dan dokter mengatakan efek obat akan membuat Nara tertidur 8 jam, kau masih punya waktu untuk tidur.”

Minseok hanya mengangguk, mungkin ia terlalu lelah untuk berdebat dan beberapa detik kemudian aku tertidur.

 

M I N S E O K

Pertama kali aku datang ke rumah Sarang karena ibuku memaksaku mengambil lasagna yang sudah dipesannya. Ibu Lee yang membuka usaha home industry yang menjual berbagai jenis healthy food adalah salah satu pasien ibuku. Selain menjual homemade lasagna beberapa hari kemudian diketahui ia juga membuka kelas piano yang aku baru tahu Nara belajar di sana ketika kebetulan aku datang mengambil lasagna. Saat itu Nara belum menjadi adikku, masih menjadi dongsaeng yang kukenal karena ayahnya adalah dosen favoritku.

Selama aku berkunjung Sarang selalu berada di kamarnya, ia seperti punya dunianya sendiri yang tidak membiarkan seorang pun mendekatinya. Sarang tidak pernah memperlihatkan tanda berminat berkenalan denganku, ibunya bahkan pernah menggedor pintu kamarnya meminta Sarang untuk berterima kasih padaku yang saat itu kebetulan membawakan donat kesukaannya. Aku pernah melewati pintu kamarnya sekali, saat itu mencari toilet karena toilet lantai satu rumahnya rusak. Kupikir kamar Sarang berhantu karena tepat ketika aku melangkahi pintu kamarnya suara tangis terdengar. Satu menit kemudian aku sadar itu suara anak perempuan satu-satunya Ibu Lee alias Sarang, ia menyumpah-nyumpah seorang lelaki bernama Kyungsoo.

Keluarga Sarang tidak memajang foto keluarga, aku tidak pernah melihatnya hingga akhirnya kami bertemu di bandara. Ketika ia memandang kakek yang membaca koran terbalik terlalu serius.

Setelah pulang dari Jepang aku berhenti mengambil lasagna dari rumahnya sebagai gantinya meminta Lu Han menggantikanku. Karena entah kenapa, setelah mengenalnya aku berpikir bertemu dengan Sarang di rumahnya sendiri akan terasa canggung.

Oleh karena itu saat ini memasuki rumahnya, aku tidak tahu apa yang membuatku merasa janggal.  Melihat Sarang membuka kulkas di dapur yang dulu selalu kukunjungi terasa aneh, sesaat aku merasa Saranglah tamu dari rumah ini.

Sementara Sarang mengambil selimut dari kamarnya yang di lantai dua aku menengok kanan kiri. Semua sama persis seperti yang terakhir kulihat. “SA—RANG!” Burung beo yang dipelihara di tengah taman rumahnya berkicau, ibu Lee selalu mengatakan burung itu selalu memanggil nama anaknya setiap melihat Sarang, aku selalu penasaran dan sekarang melihatnya dengan mata kepala sendiri aku merasa geli.

“Sst” Sarang mendesis jengkel pada burung peliharaan ayahnya.

“Ibu Lee ada di sini?” Aku duduk di sofa terdekat, langsung menjatuhkan diri dan siap memejamkan mata hingga akhirnya aku sadar Sarang ikut tiduran di sofa depanku. “Sarang kau harus tidur di kamarmu.”

“Dia pergi ke luar kota ada pernikahan temannya. Dan tidak, aku ingin ikut ke rumah sakit lagi jadi kau bisa membangunkanku ketika selesai tidur.”

“Jangan lupa kau ada kelas pagi.” Aku menyelimuti diriku dengan selimut yang Sarang lemparkan padaku.

“Sama denganmu.” Ia menguap lebar membuatku merasa bersalah membuatnya seletih itu karena menemaniku.

“Baiklah aku akan tidur dan ketika bangun tidak akan membangunkanmu.”

“Aku akan membencimu kalau begitu.”

 

***

 

S A R A N G

 

Pada akhirnya aku tetap melewatkan kelas pagi. Ketika kelas akan dimulai tiba-tiba Lu Han menggebrak pintu muncul mendadak lalu mengatakan ada anggota keluargaku yang kecelakaan ketika kenyataannya ia menarikku paksa mengatakan dirinya belum sarapan dan aku harus menemaninya.

“Bukan kah kau sudah menemukan Bianca?” Aku menatapnya jengkel.

“Aku melihat di CCTV kakek yang kukenal menggendong Bianca dan begitu kudatangi rumahnya ternyata ia memang memiliki kucing yang mirip sekali dengan Bianca.” Sambil menatapku frustasi ia membuatku mau tidak mau merasa simpati, kantung mata lelaki itu terlihat, Lu Han yang percaya dengan keampuhan beauty sleep pun bisa juga merelakan jam tidurnya demi Bianca.

“Yakin?” Aku mengambil potongan apel dari fruit saladnya, biasanya ia akan marah dan mengatakan aku harus membelinya sendiri tapi aku tahu dia merasa berutang padaku sehingga dia tidak marah ketika aku mengambil tiga potong apel sekaligus.

“Satu kaki Bianca putih dan kucing yang dimiliki si kakek semua kakinya hitam.”

“Lalu bagaimana bibimu?” Sambil meraih pulpen dari tas aku mencoba menggambar kucing yang kupikir bisa menyerupai Bianca di atas tissue.

“Bibiku mengikuti kontes kucing di Jeju, ia akan pulang tiga hari lagi. “ Kali ini Lu Han terlihat lega, ia seperti tahanan penjara yang lega eksekusi matinya diundur tiga hari lagi, benar-benar menyedihkan melihatnya seperti ini dikendalikan oleh seekor kucing.

“Tapi aku tidak bisa menggambar Bianca. Kemampuan seniku NOL.”

“Aku tahu aku tahu, aku tidak memintamu menggambarnya, aku memintamu menyusun kalimatnya. Lagi pula kita akan memakai foto Bianca oke? Bukan gambarnya.”

Mendecak jengkel aku meremas gambar Bianca yang menyerupai rubah dan mengambil selembar kertas yang kelak kusadari itu adalah PR kelas mandarin. “Berapa imbalan yang akan kau beri untuk orang yang menemukannya?”

“Kencan dengan Lu Han untuk seharian penuh?” Aku nyaris ingin tertawa karena kukira ia melawak tapi melihat ternyata ia serius dengan perkataanya aku mulai berpikir laki-laki ini benar-benar stress. “Baiklah. Itu urusan nanti, tapi nanti boleh aku meminjam uangmu?” Ia berkata ringan, aku tidak tahu apa yang membuatnya merasa meminjam uang dariku adalah hal normal.

“Kau— menarikku ke sini tidak hanya ingin memanfaatkanku kan?”

“Astaga bagaimana bisa aku seperti itu pada temanku sendiri. Tidak ada lagi yang bisa kuandalkan.” Ia menunduk, aku melihatnya memainkannya kuku jari malu-malu. Sambil menggumam sendiri dan menggaruk kepalanya ia mengangkat wajahnya dan menatapku hati-hati, sekarang aku merasa seperti seorang mertua baginya. “Aku sudah berutang banyak pada Minseok.”

“Kyungsoo?”

“Utangku padanya sejak SMA belum kubayar dan sampai saat ini pun ia selalu mengingatkanku. Bagaimana bisa aku meminjam uang pada orang seperti itu?”

“Semua wanitamu? “

“ Aku mulai mencoba berhenti mengandalkan mereka oke?”

Sambil menggelengkan kepala aku mulai menulis. “Baiklah, kau berutang padaku. Sekarang katakan sesuatu tentang Bianca. Nama: Bianca. Ciri-ciri?”

“Warna bulu putih, tapi kaki, buntut, telinga, hidung, warnanya krem, matanya biru, hidungnya mancung, berat sekitar 3 kg dan jangan lupa jenis kelamin betina. “

“Wow, kau benar-benar mengenal Bianca.” Aku masih menulis setiap detilnya, berusaha membayangkan kucing itu.

“Aku bahkan lebih mengenal Bianca dari pada bibiku sendiri. “ Ia mengeluarkan tawa yang lebih terdengar menyedihkan dari pada suara tangis sehingga aku mengangkat kepalaku untuk mengecek bahwa dia baik-baik saja.

Lu Han yang ternyata sedang memilih foto Bianca mana yang akan dipasang tiba-tiba menatapku. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan kemarin dengan Kai?”

“Ia membantuku mencari kucingmu, dan jangan membicarakan Jongin kalau kau tidak ingin aku mulai bertanya-tanya tentang Dambi.”

Lu Han tersenyum dan memberikanku jempol, aku tahu ia benar-bena lega aku tidak menginterogasinya tentang Dambi.

Satu jam kemudian kami selesai membuat format brosur, Lu Han berjanji akan membelikanku Mc Donald’s orange juice  sehingga aku menunggunya sambil bersandar di bawah pohon maple yang warna daunnya sekarang terlihat seperti medium rare steak. Sambil mengeluarkan ponsel dan mulai menulis pesan pada Minseok bahwa aku benar-benar membencinya tiba-tiba seseorang memanggilku.

“ Sarang?”

Aku mengangkat kepala dan menemukan Kyungsoo berada di depanku. Memakai kemeja hitamnya yang digulung ¾ dengan tousled hair membuatku berpikir ia mungkin masih pria paling tampan.

“Apa?” Aku kembali memandang layar ponsel, mengetik apapun demi kepentingan terlihat sibuk di depan Do Kyungsoo yang selalu mengatakan aku gadis pengangguran.

Baozi aku benar-benar membencimu :(( bisa kau menjemputku di kampus? aku akan memberikanmu lasagna gratis

“Barusan Lu Han mengatakan ia ada urusan penting dan tidak bisa membelikanmu— jus jeruk?“

Aku menatapnya sekilas, Kyungsoo mungkin mengkasihaniku, mengira aku rela menunggu seorang Lu Han demi segelas jus jeruk, orang seperti dia tidak mengerti kesegaran jus jeruk Mc Donald. “Tidak apa-apa lagi pula aku sudah berjanji dengan seseorang.”

Tiba-tiba pesan baru masuk.

Aku tidak ke kampus, ibu ada urusan mendadak tidak ada yang menemani Nara.

“Oh. Baiklah” Kyungsoo membalik badannya dan berjalan meninggalkanku

Ia selalu seperti ini. Bahkan ketika aku memintanya putus ia tidak mencoba bertanya kenapa dan membiarkan semuanya terjadi. Di matanya aku selalu menjadi seseorang yang tidak perlu dipertahankan.

Kalau begitu aku akan ke rumah sakit sendiri setelah itu kau akan membelikanku orange juice, harus dari Mc Donald.

Tanpa sadar aku mengirim pesan itu pada Minseok sambil menatap Kyungsoo yang semakin lama menjauh.

Pesan baru masuk.

Tidak perlu ke rumah  sakit. Kau bisa membeli itu sendiri.

Aku menarik napas, kepalaku terasa pening dan aku sadar, aku akan benar-benar membenci Minseok. Beberapa jam lalu aku berpikir mungkin Baozi bisa menjadi sahabatku, tapi melihatnya selalu memberi batasan tanpa alasan yang jelas, aku  benar-benar membenci hal semacam itu.

Pesan baru masuk.

Aku bisa membelikanmu sesuatu yang lebih baik dari pada jus jeruk.

Tidak ada nama pengirimnya, tapi aku tahu siapa orang itu. Sekalipun aku sudah menghapus nomornya harusnya aku tahu aku tidak mungkin benar-benar bisa menghapusnya.

 

M I N S E O K

 

Tidak perlu ke rumah  sakit. Kau bisa membeli itu sendiri.

Pesan itu tidak sengaja terkirim. Saat mengetiknya aku merasa terlalu jahat, aku baru ingin menulis ulang mengatakan tunggu 15 menit lagi pada Sarang tapi tiba-tiba Nara merebut ponsel dan pesan itu terkirim tidak sengaja.

“Kenapa ibumu tidak bisa datang menjengukku?”

“Itu ibumu juga Nara. Dan kembalikan ponselku.” Tiba-tiba matanya menyipit memandang layar ponsel lalu ganti menatapku penasaran.“Kau— masih berhubungan dengan Sarang? Bukannya Sarang musuhmu?”

“Aku tidak pernah menganggap Sarang musuhku.”

“Berarti kau menyukainya?”

“Aku tidak menyukainya.”

“Bagus. Oppa tidak boleh menyukainya. Dia menyukai orang lain.”

Aku menghela napas panjang, diceramahi oleh Nara selalu membuatku capek. Ya baiklah, bukan hanya Nara, siapapun yang memberi nasehat memang selalu membuatku merasa capek. “Ngomong-ngomong, saat kau masih les piano, apa kau tidak pernah bertemu Sarang? Bahkan sedikit pun?”

“Tidak.” Nara mengembalikan ponselku. “Pertama kali aku melihat Sarang saat kita ke Jepang. Awalnya aku membencinya kukira dia anak Sombong.”

“Kau tahu apa yang membuat Sarang selalu mengurung diri di kamarnya?”

Kali ini giliran Nara yang membuang napas. “Dia tidak pernah mengurung diri di kamarnya. Sarang cerita padaku, dia selalu kabur.”

“Kabur?”

“Ops. Aku sudah berjanji menjaga mulutku atau Sarang akan marah padaku. Lagi pula kenapa kau mengatakan Sarang tidak perlu datang ke sini? Lebih seru jika dia yang menemaniku.”

“Aku—  hanya tidak terbiasa selalu berada di samping perempuan.”

Nara hanya memandangku aneh dan tidak mempertanyakan maksud kalimatku. Ia membesarkan volume TV lalu mengambil kacang macadamia yang Sarang berikan padaku dirumahnya. Sambil ikutan menonton Game of Thrones aku menghela napas.

 

***

S A R A N G

 

Dua jam sejak aku dan Lu Han menempel brosur pencarian kucing sepanjang jalan dari rumahnya menuju kampus akhirnya kami berdua istirahat di Mc Donalds. Ia menepati janjinya membelikanku jus jeruk, aku sempat melihat isi dompetnya yang tipis dan meringis dalam hati. Dua hari lagi bibinya akan pulang, dan dua hari lagi ada ujian pertengahan semester. Tadi Lu Han hampir mengemis padaku, memintaku untuk membantunya menempel brosur sementara aku yang merasa Lu Han terlalu menggantungkan nasib hidupnya pada Bianca membuatku tidak berani menolaknya.

“Mari kita pikirkan kemungkinan terburuk. Bianca tidak—“

“STOP.” Sambil memakan kentang gorengnya ia menggebrak meja. Mungkin sadar itu tidak sopan ia menatapku hati-hati dan tersenyum. “Maafkan aku— aku hanya tidak ingin memikirkan hal itu.”

Aku mengendikkan bahu dan menyesap jus jerukku.. “Aku hanya mencoba realistis.”

“Aku tahu. Tapi lebih baik bicarakan hal yang lain. Seperti—“

“Ujian tengah semester?”

“Tidak. Sesuatu yang lebih menyenangkan.” Ia menghela napas, merosot dari kursi sampai hanya kepalanya yang menyembul dari meja. “Cerita padaku soal orang yang kau suka.”

“Kupikir membicarakan girls talk dengan seorang playboy bukan hal yang tepat.”

“Aku bisa memberi saran. Bagaimana pun juga soal hal-hal seperti ini aku lebih berpengalaman.” Ia menguap lebar, kantung matanya sudah berkurang tanpa sadar aku tersenyum dan meraih wafflenya, Lu Han yang biasanya luar biasa pelit masih tidak protes, aku mulai merasa bersalah memanfaatkan kondisinya yang seperti ini.

“Aku bisa bercerita banyak. Apa yang harus kuceritakan?”

Sambil menatap langit-langit ia menegakkan posisi tubuhnya, memiringkan kepala dan terlihat berpikir keras. ”Kau bisa memberitahuku apa yang kau suka tentang orang yang kau suka? Atau yang tidak kau suka dari orang itu? Hal-hal seperti itu yang aku baca di komik perempuan.”

Aku mengerjapkan kedua mataku kaget, bukan karena Lu Han membaca komik perempuan, (ia bahkan menyukai Frozen) tapi karena aku baru sadar aku  tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu.

 “Hal yang kusuka dari orang itu.” Aku menatap Lu Han hati-hati, melihat wajah jenakanya tersenyum tiba-tiba aku merasa percuma menceritakan hal semacam ini pada orang seperti dirinya.

“Apa Sarang?? Ceritakan. Kau menggantungku!”

“Kau seperti perempuan. Tidak ada laki-laki yang tertarik dengan pembicaraan semacam ini.”

Well, aku bukan laki-laki seperti itu, aku sering mendengar bibiku cerita soal mantan suaminya, kau bisa mengandalkan telingaku Sarang.”

“Baiklah.” Aku meneguk jus jerukku sampai habis, lalu Lu Han menyodorkan segelas Cola nya padaku, mungkin berpura-pura itu adalah soju sehingga ketika meminumnya aku mabuk dan menceritakan semuanya. “Ini cerita lama, tapi setiap mengingat hal ini aku selalu tersenyum. Dulu ada orang yang kusuka, aku meminjamkan pulpen kesayanganku padanya, pulpen dari ayahku yang terbuat dari kayu, aku benar-benar menyukainya dan ia meminjam pulpen itu dariku tanpa tahu itu adalah benda kesayanganku.”

“Lalu?” Lu Han terlihat penasaran, dan itu menyenangkan dapat membuat laki-laki yang selalu membuat wanita menangis bisa penasaran pada ceritamu.

“Lalu karena ia bodoh ia menghilangkan pulpennya. Aku hampir menangis, dan kupikir kejadian ini akan membuatku berhenti menyukainya. Tapi besok paginya ia mendatangiku, memberikanku sebungkus oreo karena kau tahu kenapa?”

“Tidak.”

“Saat itu aku memakai pantofel hitam, kaus kaki ungu panjang dan sweater ungu. Lalu ia mendatangi mejaku, mengatakan ‘Sarang hari ini terlihat seperti Oreo Blueberry’.”

Sambil memiringkan kepalanya Lu Han menatapku, seperti berpikir keras mencari jawabannya lewat tatapanku.  “Aku rasa aku tahu orang itu.” Ucapnya meskipun ia sendiri terdengar tidak yakin.

“Tentu saja. Dengar dulu ceritaku. Lalu ia memberiku sebungkus Oreo, aku mengatakan aku benci krimnya. Lalu ia membuka Oreo itu, memakan semua krimnya dan menyisakan biskuitnya untukku. Dan saat itu aku tahu, aku tidak bisa berhenti menyukainya.”

Lu Han mengerjapkan mata kaget dengan endingnya sampai ia terbatuk-batuk. “Kau masih menyukai orang itu?”

“Tidak, aku sudah berhenti menyukainya sudah lamaaaaa sekali.”

“Ohh— baiklah.” Kedua pipinya memerah, dan  aku tertawa.

“Karena itu Lu Han, sekarang kau tahu bahkan seorang Lee Sarang pun pernah menyukaimu cobalah lebih bersemangat. Hilangnya Bianca tidak akan mengakhiri hidupmu.”

Tiba-tiba Lu Han tertawa, air mukanya terlihat jauh lebih baik dan diam-diam aku merasa bangga. “Seseorang akan cemburu jika aku menceritakan hal ini.”

“Siapa orang itu?” Aku memandang curiga

“Rahasiaaa” Dan seperti Lu Han biasanya, ia mengendikkan bahu dan tertawa, aku berusaha tidak terlalu penasaran, dan itu berhasil karena detik berikutnya ponselku berbunyi, orang yang sangat penting menelponku.

 

***

“Nara? Kau baik-baik saja?”

Aku berusaha memasang telingaku baik-baik karena suara kendaraan yang lalu lalang benar-benar menggangguku.

“Kenapa sombong sekali tidak menjengukku? Sangat membosankan ditemani oleh Minseok Oppa.” Omelan Nara terdengar seperti dirinya yang biasa membuatkutanpa sadar tersenyum. sambil memandang jam tangan aku mulai menyebrang jalan. “Sejam lagi aku sampai. Maaf aku sedang membantu temanku dari kem—“ Suara klakson mobil tiba-tiba membuatku melompat, aku langsung menengadahkan kepala dan baru sadar sejak tadi aku berjalan ketika lampu masih berwarna hijau

“HEi kau tidak apa-apa??” Nara terdengar lebih panik dari pada aku yang harusnya sekarang jantungan karena untuk seperkian detik aku merasa tadi adalah akhir hidupku. “Di sana berisik sekali.”

“Aku salah melihat lampu.” Aku menelan ludah dan memutuskan kembali ke seberang jalan semula, menyebrang jalan salah satu kelemahanku, kadang aku merasa lampu lalu lintas membenciku.

“Aku akan meminta Oppa menjemputmu kau tunggu di sana oke?”

“Tidak please jangan Minseok.”

Nara terdiam, dan tiba-tiba ponselnya berganti tangan lalu di ujung sana terdengar suara Baozi berdehem. “Halo Sarang?”

Aku mematikan ponsel. Ketika aku mengatakan aku membenci seseorang, maka aku akan benar-benar melakukannya.

***

M I N S E O K

Aku selalu menghabiskan terlalu  banyak waktu sebelum mengambil keputusan. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah aku bisa menghabiskan waktu 15 menit lebih untuk memutuskan baju mana yang akan kupakai. Berada di restoran bahkan tempat menjual fast food akuselalu membaca menu dua kali untuk mencari menu terbaik mana yang harus kupilih. Aku tidak bisa memilih terlalu cepat dan setelah memilih aku akan mulai menyesal lalu berpikir mungkin lebih baik aku tidak memilih yang itu.

Nara merengek padaku, mengatakan aku telah membuat Sarang tidak akan menjenguknya dan sebagai gantinya ia menyuruhku membelikan lilin aroma terapi karena tidur di kasur baru selalu membuatnya kesulitan tidur. Saat ini aku sudah menghabiskan setengah jam berdiri di depan rak memilih aroma apa yang harus kubeli. Aku sudah membelikan untuk Nara sejak tadi, ia mengatakan dengan jelas aku harus membelikan aroma jeruk untuknya. Harusnya aku pergi sekarang dan mencarikan roti untuknya yang rewel mengatakan menu rumah sakit tidak cocok untuk lidahnya. Tapi melihat lilin aroma terapi langsung membuatku ingat Sarang yang di Jepang dulu pernah membeli satu kotak besar lilin karena ia benar-benar terobsesi dengan hal semacam itu.

Mungkin aku bisa membelikan ini untuk membuat Sarang berhenti marah padaku. Masalah terbesar sekarang adalah aku tidak tahu wangi apa yang ia suka. Lavender terlalu anggun untuk orang seperti Lee Sarang dan aku yakin dia tidak menyukai Jasmine Tea karena katanya itu membuatnya merasa seperti orang tua. Aku sudah menelpon Lu Han dan dia mengatakan daripada membelikan wanita lilin lebih baik aku membelikannya parfum.

“Permisi.” Pada akhirnya aku melakukan opsi terakhir, bertanya pada pelayan wanita yang sejak tadi tidak berhenti melirik padaku, ia mungkin mengira aku akan menguntil barang.

Si wanita terlihat gelagapan lalu berjalan menghampiriku. Aku menggaruk pipi kananku dan melirik puluhan lilin yang berjajar di sampingku. “Apa kau tahu wangi yang setiap wanita pasti suka?”

“Semua benar-benar tergantung selera. Sulit menentukannya.” Ia menjawab hati-hati lalu memandangku sama hati-hatinya.”Kalau boleh tahu wanita seperti apa yang anda maksud?”

Sambil meniup poni tiba-tiba aku merasa pipiku memerah. Bagaimana aku harus menjelaskan Sarang? Orang seperti dirinya terlalu kompleks. Rasanya seperti bagaimana menjelaskan campuran rasa pisang dengan alpukat. “Yah— dia perempuan yang menjengkelkan, tidak tahu sopan-santun, suka seenaknya?”

Bagus Minseok sekarang kau membuat dirimu terlihat mencari lilin untuk meracuni seseorang

Aku sadar benar perempuan itu menatapku aneh, ia berpikir aku akan membelikan ini untuk orang yang kusuka dan sekarang ia mungkin berpikir aku sedang membeli lilin untuk musuhku.

Setelah berdehem aku mulai mencari kata, sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih baik untuk menjelaskan Lee Sarang. “Dia bilang dia tidak bisa memutuskan lebih baik tinggal di hutan atau pantai, musim kesukaannya musim gugur, lalu ia paling suka wangi detergen dari pada parfum manapun. Dan mm— orangnya menggemaskan.”

Si wanita berakhir tertawa kecil tapi aku tidak peduli karena berikutnya ia segera memutuskan tiga wangi apa yang harus kubeli untuk Sarang.

***

 

Keluar dari toko aku berjalan menuju toko selanjutnya, jaraknya tidak begitu jauh jadi tidak ada salahnya sekali-kali berjalan mengitari Seoul. Bakery yang Nara maksud merupakan toko penjual bagel terbaik. Tepat ketika menggeser pintu masuk toko orang pertama yang kulihat adalah laki-laki yang pernah menjadi wallpaper ponsel Sarang. Ia sedang mengantri dibelakang seorang wanita yang sibuk menggendong dua anak kembarnya, laki-laki itu sibuk memainkan ponselnya sampai tidak sadar salah satu anak menjatuhkan boneka Olafnya tepat di sebelah kakinya.

Aku baru ingin mengambil boneka Olaf karena anak itu tampak tidak berani memberitahu si laki-laki kalau bonekanya terjatuh. Tapi ketika tiba-tiba laki-laki itu sadar ada boneka terjatuh dan aku sudah telanjur membungkuk pada akhirnya kepala kami bertubrukkan.

“Maaf—“ Ia kembali berdiri membiarkanku yang mengambil boneka itu. Aku memberikan Olaf pada anak yang kebingungan itu lalu menengok padanya. “Kau Kyungsoo kan?”

Si laki-laki bermata bulat sekilas terkejut tapi detik berikutnya hanya mengangguk.”Kita pernah bertemu sebelumnya?”

Aku tersenyum dan segera  mengantri di belakangnya. “Ya— Aku ingat kau mendapat juara satu untuk lomba fotografi musim semi. Aku panitia lomba itu.”

Kyungsoo kali ini terlihat tertarik dengan pembicaraan lalu memasukkan ponselnya ke kantong celananya. “Hahaha, astaga, aku benar-benar tidak percaya saat itu menang.”

“Saat itu kami bingung memilih antara Lee Sarang atau Do Kyungsoo.” Ucapku ringan memilih berpura-pura tidak menyadari perubahan air muka Kyungsoo. Lagipula aku tidak bohong, saat itu kami benar-benar kesulitan memilih foto karya dua orang itu. Kyungsoo yang sempat diam beberapa detik terlihat akan mengatakan sesuatu, dan aku tidak percaya, aku penasaran setengah mati apa yang akan ia katakan karena detik berikutnya, sudah giliran Kyungsoo untuk memesan.

Setelah membeli bagelnya Kyungsoo menundukkan kepalanya padaku sekilas lalu berjalan keluar dari toko. Aku masih terdiam memandangnya sampai tiba-tiba kasir itu berdehem menandakan aku berdiri terlalu lama.

“Aku pesan—“

Aku tidak mengingat pesanan Nara. Tiba-tiba semua terasa buyar dan tahu-tahu aku membeli semua rasa.

***

Nara berpikir aku membenci Sarang, Sarang berpikir dugaan Nara benar, dan aku berpikir mungkin lebih baik aku jadi benar-benar membencinya saja. Sejujurnya aku tidak pernah benar-benar membenci Sarang, seperti yang kalian tahu, aku hanya iri, dicampur, jengkel dan sedikit protektif pada Sarang.

Saat aku melewati toko buku tiba-tiba Lu Han keluar dari sebuah gang sempit, ia sibuk membawa brosur pencarian Bianca dan aku memutuskan akan membantunya karena beberapa terakhir aku benar-benar tidak melakukan peranku sebagai sahabat. Sambil kami menempelkan brosur di sepanjang tiang listrik Lu Han menceritakan bagaimana Sarang mengaku kalau dulu ia pernah menyukai Lu Han.

“ Jangan cemburu oke Baozi? Sarang mengatakan ia sudah berhenti menyukaiku lamaaaa sekali.”

Aku memutar bola mata dan berakhir hanya berdiri memegang tumpukan brosur di sampingnya sementara laki-laki itu sibuk menempel brosur. “Jadi kenapa kau terlihat senang sekali? Kau menyukai Sarang?”

“Tidak. Sayang sekali Sarang bukan tipeku padahal kami bisa menjadi pasangan yang menyenangkan kan.” Ia menghela napas lalu menggeser langkahnya mencari tiang listrik lainnya. “Kupikir saat itu ia tergila-gila dengan Kyungsoo, dan mengetahui ternyata selama ini ia menyukai orang yang berada di sebelah Kyungsoo aku merasa itu plot twist yang keren.”

“Aku bertemu Kyungsoo tadi.”

“Wow benarkah. Bagaimana rasanya bertemu rival?” Tanpa menatapku ia hanya bersiul, tentu Lu Han menganggap semua ini adalah permainan menarik. Di matanya aku selalu menjadi laki-laki yang baru menginjak akil balig kemarin.

“Bisa kau berhenti dengan semua ini Lu Han? Kyungsoo bukan rivalku. Dan aku benci perempuan seperti Sarang.”

“Kau tahu Baozi. Biar aku memberitahumu sebuah nasehat.” Kali ini ia menengok padaku, lalu kembali menatap ke depan sekedar memastikan aku masih mendengarnya.

Aku mendengus, pernah kukatakan aku membenci nasehat?

“Kau tidak membenci Sarang kau hanya tidak membiarkan Sarang tahu kalau kau menyukainya.”

Aku benar-benar membenci nasehat, karena kadang jika isinya benar hal yang kulakukan hanya berpikir kalau selama ini aku salah. Memikirkan aku melakukan kesalahan selalu membuatku tidak nyaman. Dan saat ini, aku merasa tidak terlalu nyaman.


 

 

 

A/N

 

Halo aku udah libur dan aku sangat senang sekalipun liburku bakal pendek bgt. Aku minta maaf untuk update super slow, sejujurnya hampir keseluruhan dari chapter ini udh kuketik dari kapan tau tapi entah kenapa things happen dan aku jadi ga mood buat ngelanjutin. Tapi akhirnya karena ngeliat gif kyungsoo main billiard pake spec (yg capture perfectly kyungsoo yg kupake di catching feeling)

aku jadi semangat jadi aku persembahkan chapter ini untuk siapapun yang membutuhkan semangat.

 

p.s. sebelum move on ke sequel aku bakal bikin detour special chapter

19 thoughts on “Catching Feeling [6/?]

  1. Ini ff dengan cast minseok yang pertama aku baca. Ah aku udah ga tau mau ngomong apalagi. Terima kasih ya ff ini menghibur aku yang lagi kelimpungan belajar buat sbmptn *curcol* T.T

  2. DIABETES!

    Kenapa aku ngerasa catching feeling itu manis sekaliiiiiiiiii,aaahhhh :3 suka semua part di chapter ini.Dari mulai Sarang-Luhan-Minseok-Kyungsoo-Nara.Aku suka semuaaaaaaaaaaaaaaaaa :3 Ff ini semacam jadi penyemangat karena aku lagi UKK,hiks.Thankseu kak Pikaaaa ^^ Semangat juga! ^^

    oiya,aku punya pertanyaan; Minseok sama Nara itu saudara tiri? .-.

  3. Sudah lama sekali berniat baca catching feeling dan akhirnya kesampain juga since sekarang ujian sudah berlalu dan file extrovertku kehapus jadinya ganiat mau ngepost (ini sedih banget). Aku suka suka suka banget gaya nulis kakak, bahasa sehari hari bisa disusun sedemikian rupa sampe jadi rangkaian kalimat2 yg simply catchy (well this fic was titled ‘Catching Feeling’ for a reason, right? Heehee).
    Kalo cerita ini dipublish, kayaknya aku bakal jadi orang pertama yang ngantri di depan toko buku pada hari peluncurannya and I’ll definitely buy the autographed one. Dan aku ngga ngelebih-lebihin loh hehe, karena lately aku ngerasa agak awkward kalo baca fanfic pake Bahasa, tapi kalo baca fanfic2 kafik somehow aku malah ngerasa kayak “Aku cinta Bahasa Indonesia” wkwk (jiwa sumpah pemudaku bangkit). It’s easy to get super attached to a great story🙂
    Heehaw, maaf panjang kak…
    summary : LOVE THIS FIC

    • You dont have any idea how much i adore your writing style naayaaa i feel so honoured!!

      Hahahah kalau ceritaku dipublish harus ceritamu duluan yg dipublish nay c:

      Thanks for the kind words naay dan aku harap moodmu kembali untuk ngelanjutin extrovert yang keapus😦

  4. Maafin aku sebelumnya ya kak, selama ini aku cuma siders dari detour tp males banget buat komen. Well, aku sebenarnya ga tau mau blng apa kalo ngomen dan hari ini jari aku cuma tergerak setelah baca part yg minseok bilang ‘sarang seperti punya dunianya sendiri’ dan entah knp malah gatel pengen komen. Makasih yah buat ceritanya yg manis, dan sekali lg maaf yah baru komen semoga seterusnya bakal komen terus

    • Hahah one more siders revealed! Makasih ya aku bener2 menghargai pembaca yg ngasih feedback ke ceritaku itu bener2 penghargaan bgt ada orang yg ngeluangin waktunya untuk ngetik pendapatnya ttg cerita ini c:

  5. Maaf sebelumnya, ini pertama kalinya aku komen walaupun udah ngikutin fanfic karya kakak sejak pertengahan detour dan utk itu aku minta maaf banget kak. Sebelumnya detour itu fanfic fav aku krn ceritanya yg anak muda bgt apalagi aku jg masih sma saat itu dan sekarang mau masuk kuliah kyknya fanfic favorite aku bakal berubah jd catching feeling. Terakhir, maafin siders ini yah kak.

  6. uyeaaaaw lalalalalalalala hepinesssssssss~

    aku sangat sedang butuh semangat thor :”( huhuhu jadi tingkat akhir dan TA ga di acc terus tuh rasanya menyedihkan bangeeeet😦
    yaaaaaah tulisanmu iniiiiii bisa buat aku senyum senyummmn aaaakkk

    aku suka minseok. dia tipe lakik yg kaku di depan ciwei tapi sebenernya dia yang baik gitu kan~
    dan luhan hahaha kenapa dia selalu jadi lakik “sok tau” but ngegemesiiiin ewww~

    ah aku masih marah sama kyungsoo. marah kenapa ya? pokoknya klo disini kyungsoo udah kaya tokoh antagonis buat aku. abis dia rivalnya minseok wkwkwk

    btw terimakasih thor di tunggu banget loh detour special chapternya :*

    • Stay strong aku udh mulai dpt gambaran seberapa mengerikan ta😦 shit happens and its okay😦 dan bikin kamu lebih semangat gara2 tulisanku aku tersanjuung aaah

      Tidaakkk uri kyungsoo bukan antagonisssss di sini

  7. huaa makasih buat transfer semangatnya kak pika^^ jadi terharu *usap ingus*
    curcol dikit ya kak, aku lagi pusinggg daftar kuliahh hikss T.T
    btw hari ini aku ultah loh kak jadi pas udah 3 hari sengaja ga buka blog ini aku seneng banget dapet hadiah catching feeling wehehehe xD

    hayoo itu kim baozi tuh ga sadar yaa sama perasaannya sendiri.. orang dia sampe bisa deskripsiin sarang terang-terangan kok wkwkwk
    dan, hyaa aku makin cinta bayangin sosok kyungsoo yang versi well-built dari dia yang di detour hehehe🙂
    dan untuk luhan, aku sedih liat hidup dia ada di tangan bianca gitu😦
    ohohohoo dan dimana kai di chapter ini??

    okee semangat terus kak pika walau liburnya sedikit. aku yang libur panjang malah bingung mau ngapain hehehe
    fighting!!
    ditunggu next chapnya ya kaak

  8. Geregetaaaaannn!!! yaampun sampe bingung ngungkapinnya gimana. Aku selalu bingung tapi kagum kenapa tulisan kakak selalu terkesan sederhana padahal dalemnya rumit (eh jadi inget baekhyun duh). Aku gak pernah suka ff yg pov nya gunta ganti tapi ya baca ini nyaman2 aja…
    Dari sini, entah kenapa aku butuh kyungsoo-sarang yg lebih karna, yuhuuu mereka berasa ngegantung. Dan bentar, apa barusan minseok secara gak langsung mengakui kalo dia suka sama sarang???? sdffgjkl minseok akhirnyaaaaaaa :”)
    chapter ini beneran bikin semangat balik lagi, apalagi ditambah kabar paling menyenangkan, Detour special chapter???? OMG!! ditunggu pokoknya deh.. apapun yg dipost, aku tunggu..
    oh ya kak, mau tanya, sebenernya pastel masih ongoing atau diberhentikan?? udah setahun ga update😦
    tapi, selamat buat liburannya!!🙂

    • hahhaha ops seseorang mendapat clue B)

      Pastel hiatus yaah hahah aku punya banyak memori manis dengan pastel jadi fanfic itu ga bakala diberhentikan kok🙂

  9. halo authorniiiiiim…
    aku penggemar berat mu!!! dan salam kenal😀
    baru-baru ini aku nyari fanfic baekhyun dan bnyak yg nyaranin detour dan aku suka banget sampe cinta sama tulisan kamu… ini bener-bener selalu bikin aku nahan napas saking penasarannya,lalu aku lanjut ke fanfic ini dan suer ini keren banget! kalo di detour aku baekry shipper disini aku kyungsoo-sarang shipper,ga tau knapa pokoknya merasa mreka harus CLBK hehehe
    maaf aku ga prnah feedback di detour ato CF yg chap kmaren krna rasanya aku udah telat bngt… tp tenang feedback dri aku bkal ada trus di fanfic-fanfic author selanjutnya
    semangat yaaa

  10. maafkan diriku kak..aku udah ngikutin ff ini dari sebelum negara api menyerang dan baru muncul sekarang….

    suka banget sama cerita ini<3.. diksi yang cerdas, plot yang unexpected banget, karakter tokoh yang kuat.
    Hwaiting kak… suka banget sama karakter luhan disini… si Ungchu juga imut, kaya heri puter main bilyar sodok sodokan kayu ke kepala minseok…hahah #abaikan/
    Hwaitingkak❤

  11. Sarang-Minseok cocok juga, tapi alangkah baiknya minseok ngaku aja kalo dia punya rasa sama Sarang, tapi dia bahkan nggak tau ya dia itu sebenernya suka sama Sarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s