Catching Feeling [8/?]

 

08. Story We Tell

 

M I N S E O K

 

Kepada Lee Sarang,

Pertama aku ingin mengatakan kalau hanya ada beberapa orang yang kusuka di dunia ini selain orang tuaku dan ahjumma kedai mie yang sering memberi bonus remis. Kau harus tahu menulis surat semacam ini hanya kulakukan untuk orang yang kusuka.

Sekarang baru memasuki musim gugur kan tapi aku merasa seperti musim panas; melupakan PR menghafal halaman sekian sampai sekian dan masih bingung apa lebih baik aku menamatkan Game of Thrones atau mencoba menonton American Horror Story.

Semuanya karena kudengar kau bisa melihat hantu. Awalnya kupikir itu bercanda tapi kau benar-benar mengatakannya (aku menguping), kau bilang mengalami persis kejadian episode 7 AHS, aku penasaran hal apa yang dapat membuatmu sangat ketakutan tapi aku tidak cukup dekat untuk bertanya padamu seperti apa episode 7 jadi aku berpikir mungkin lebih baik aku mencoba menonton serial itu. Sekalipun aku benci hantu (bukan takut.)

Setelah pemikiran singkat itu aku tahu aku ingin mengenalmu. Kukira lebih baik kita berteman. Siapa tahu setelah membaca surat ini kau akan menghampiriku dan menceritakan episode 7 sehingga aku tidak perlu menonton serial itu.

Tambahan terakhir, aku pernah melihatmu di toko musik. Kukira suatu saat nanti kita bisa duet tapi setelah melihatmu menguap lebar ketika si penjaga menjelaskan bahan dari biola yang nyaris kau rusak aku tahu seorang Lee Sarang menganggap tempat ini membosankan. Anehnya aku berpikir itu hal yang menarik, mungkin karena aku selalu tertarik pada orang yang berbeda denganku.

Jadi kupikir aku tertarik padamu.

xx,

 

Ini bukan surat cinta.

Oke baiklah si pengirim mengatakan dia hanya menulis surat untuk orang yang disukainya, tapi tetap ini bukan surat cinta. Ini semacam surat permintaan untuk berteman. Surat cinta yang kutahu selalu berujung pada pertanyaan perasaan, si pengirim hanya ingin berteman, dia hanya mengaku tertarik. Mungkin tertarik seperti Lu Han tertarik pada Suzy atau aku yang tertarik pada Chef Anna Olson. Yah benar, Ketertarikannya hanya sebatas itu.

Ini sudah menit ke-28 sejak aku menunggu Lu Han yang berjanji akan membelikanku Cheeseburgers dengan patty setebal 2 cm berat 200 gram. Ia memintaku menunggunya seperti anak baik dan aku berakhir membaca surat untuk Sarang hampir 20 kali, masih mempertanyakan bagaimana mungkin Baekhyun yang menulis semua ini.

Byun Baekhyun berada di sekolah yang sama denganku. Kami memang tidak dekat karena dia terlalu sibuk dengan klub futsal sementara aku memilih berdiam bersama para nerd di klub astronomi, sekolah terlalu luas untuk mempertemankan orang yang jelas berlawanan seperti kami berdua. Tapi kenyataannya tidak perlu terlalu dekat jika kau ingin mengenal seorang Baekhyun. Setiap semester orang tuanya selalu dipanggil ke sekolah membuat laki-laki ini menjadi topik wajib sebulan sekali. Aku tahu dia benci belajar; alasan pemanggilan orang tuanya karena Baekhyun tidak pernah membawa tas selain berisi baju ganti dan komik.

Setelah lulus sekolah kami bertemu lagi ketika Lu Han mengenalkanku dengannya. Dia berteman dengan Lu Han karena kesamaan menonton Phineas and Ferb yang membuatku tidak masuk ke dalam circle mereka.

Aku menghela napas dan melirik jam, sudah lewat, batas menunggu seperti anak baik sudah habis. Tepat saat aku menyalakan mesin mobil berniat memundurkan mobil tiba-tiba sosok Baekhyun terlihat lewat spion, mengendarai scooternya dengan damai tidak menyadari setengah hari ini ia berhasil membuat seorang Sarang kelimpungan.

Kenapa harus Baekhyun?

 

S A R A N G

 

Setelah memastikan Baozi tidak akan membocorkan rahasia suratku pada Lu Han aku berakhir menghabiskan dua jam di Coffee Bean berpikir dengan meminum kopi mungkin akan menghilangkan pusing seperti yang berlaku pada orang kebanyakan. Tapi aku tahu itu tidak berhasil untukku. Aku baru ingin menelpon Minseok mengajaknya mencari Frozen Yoghurt seperti yang kujanjikannya tadi siang tapi tiba-tiba seseorang ambil posisi duduk di depanku, aku tersedak karena kukira ia sudah pergi.

“Hai Sarang.”

Sementara aku menatap Haneul bingung ia tetap tersenyum. “Hai?” Aku terdengar terlalu canggung. Harusnya kami masih dekat, hubungan pertemanan dengan orang yang semacam Haneul tidak akan hilang begitu saja sekalipun kami tidak pernah mengontak sama lain.

“Aku akan kembali ke Seoul.” Suara Haneul terdengar santai tapi dia menatapku hati-hati berharap banyak pada reaksiku. Harusnya aku lompat dan memeluknya, kami teman dekat kan? Sayangnya kali ini dekat yang kurasakan dengannya lebih soal aku yang berpura-pura dekat dengannya. Aku tidak boleh menyinggung perasaannya, ibuku memberitahu orang tua Haneul hampir bercerai dan aku tahu Haneul membutuhkan seseorang.

“Setelah ini mau menemaniku belanja?”

Tidak. Aku benar-benar ingin mengatakan tidak. Kepalaku sudah siap menggeleng dan beribu alasan seperti tugas dan janji lain sudah siap kukatakan. Berbelanja bersama Haneul yang selalu berpikir seleranya nomor satu adalah hal membosankan kedua setelah menonton proses menetasnya kepompong. Aku menghela napas dan menjadi munafik maka aku tersenyum. “Oke. Sepertinya menyenangkan.”

Haneul tersenyum lebar. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya lembut. “Aku benar-benar merindukanmu Sarang. Bahkan menonton Return of Superman selalu mengingatku padamu.”

Aku tertawa kecil menganggap Haneul benar-benar mengartikan kalimatnya bahwa ia rindu padaku. Sementara aku mengaduk kopi yang tidak kusentuh sejak lima belas menit terakhir Haneul mengeluarkan sebatang rokok dari tas tangannya. Ini pasti saat-saat yang berat bagi Haneul aku hanya perlu lebih bersabar dengannya.

“Merokok merusak kulitmu Haneul.” Dengan datar aku berkomentar soal Haneul yang sudah menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya yang merah muda. Haneul yang kukenal wanita yang cukup pintar untuk tahu melampiaskan stress dengan merokok tidak terlalu membantu. Yah, dia wanita pintar oleh karena itu Kyungsoo menyukainya.

Haneul mendengus. “Kau yang mengajarkanku.” Aku mendecak dan memilih tidak akan berkomentar lagi. Dulu kami pernah bertengkar ketika Haneul memintaku berhenti merokok, aku berhasil berhenti terima kasih pada Haneul yang melapor pada orang tuaku, tapi kali ini kondisi kami tertukar dan aku berbeda dengan Haneul, aku tidak akan capek-capek melapor pada orang tuanya anak gadis mereka satu-satunya merokok.

Kemudian yang ada hanya hening beberapa detik. Aku yang tidak berusaha membuka pembicaraan membuat Haneul sibuk dengan ponselnya. Asap rokoknya membuatku menutup hidung tapi ia tidak terlalu peduli, mungkin karena pada dasarnya ia memang tidak terlalu peduli padaku. “Sarang, kau dekat dengan orang ini kan? Aku pernah melihatmu menaiki mobilnya.” Tahu-tahu ia memperlihatkanku layar ponselnya.  Ada foto Kim Minseok. Baozi sedang mengantri menu spesial kantin musim semi dan Haneul mengambil fotonya diam-diam. Di sana ia memang terlihat tampan, aku selalu suka ketika Baozi menaikkan rambutnya dan kupikir Haneul juga menyukainya.

“Kau menyukainya?” Tanyaku curiga.

“Hah? Enggak, aku hanya penasaran. Aku hanya berpikir membawa laki-laki ini untuk reuni SMA minggu depan akan membuat seluruh temanku iri.” Tiba-tiba ia mendekatkan kepalanya dan berbisik padaku, “Sarang bisa bantu aku berkenalan dengannya kan? Aku yakin kau tidak menyukai orang ini. Dia bukan tipemu Sarang.”

Haneul masih percaya diri kalau ia benar-benar mengenalku. Ia tahu tipe pria kesukaanku seperti aku tahu apa merek baju favoritnya. Kami sudah 10 tahun berteman dan ini bukan pertama kalinya ia menyukai sesuatu yang sempat menjadi milikku. Baozi bukan milikku, aku tahu, tapi dia temanku dan jika Haneul bersamanya maka Kim Minseok tidak akan bersamaku lagi. Haneul akan mengambil Baozi seperti ia mengambil Kyungsoo dariku. “Dari pada dia, aku punya teman laki-laki lain yang bisa kau banggakan.”

“Benarkah? Aku selalu suka pilihan laki-lakimu, pilihan Lee Sarang tidak pernah mengecewakanku. “

“Um, baiklah, aku ada fotonya.” Aku mengambil ponsel yang berada di tasku, tidak pernah kunyalakan selain untuk melihat kalender.

Pemberitahuan 12 misscall dari Lu Han ketika ponsel itu menyala membuatku merasa bersalah. Apa dia mau minta maaf? Aku benar-benar ingin memaafkannya karena well, kali ini giliranku yang akan minta maaf padanya. “Lumayan kan?” Aku menunjukkan foto Lu Han. Ia pernah mengambil selfie dengan ponselku karena katanya kameraku jauh lebih bagus dari ponselnya sendiri.

“Kenalkan aku padanya!” Matanya melebar seperti Haneul yang melihat Jimmy Choo dengan diskon 70%.

Aku baru saja menyelamatkan Baozi dengan mengorbankan Lu Han.

 

***

 

Jam tujuh malam aku baru selesai menemani Haneul. Sesuai perkiraan aku hanya menjadi semacam pembantunya di sana, mengangkat belasan tas belanja sementara dirinya hanya mengangkat tas selempang berisi make up. Setiap aku mengomentari dress yang dipakainya, tatapannya menuntutku untuk selalu mengatakan hal yang ingin didengarnya. Aku memberanikan diri  mengatakan ada dress yang membuatnya terlihat gemuk yang diresponnya dengan dengusan karena Haneul tidak pernah percaya dengan selera bajuku. Bahkan sejak kecil dulu ketika kami sama-sama mengoleksi Barbie ia memarahiku yang selalu memilih dress yang salah untuk kencan Barbie dengan Ken. Saat itu aku tetap menyayanginya karena Haneul yang dulu terlalu polos untuk mengerti kalau dirinya menyebalkan, aku selalu bisa memaklumi, tapi Haneul yang sekarang, harusnya dia cukup dewasa. Menjadi wanita pintar memang tidak selalu cukup, apa Kyungsoo menyadari hal itu? Makanya ia memutuskan Haneul?

“Aku dan Kyungsoo tidak pernah memiliki hubungan spesial.” Itu kalimat yang Haneul katakan ketika ia mengantarku sampai ke depan rumah Minseok.

Setelah kami menghabiskan waktu lima jam bersama pada akhirnya ia mengatakan tujuan awalnya di detik terakhir.  Aku baru ingin melepas seatbelt tapi perkataan itu membuatku menghela napas dan menatapnya jengkel.

“Maaf?”

“Kyungsoo memang sempat menyukaiku, aku sempat menyukainya, tapi itu cerita lama. Jauh sebelum kau bertemu dengannya.”

Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kukatakan. Jadi maksudmu karena Kyungsoo teman masa kecilmu kau lebih mengerti Kyungsoo dan aku yang hanya mengenalnya dua tahun tidak perlu sok tahu? Atau aku harus mengatakan apakah sempat menyukai artinya termasuk harus terus menelpon Kyungsoo ketika laki-laki itu sedang bersamaku?

Pada akhirnya aku hanya menaikkan bahu.

“Aku tidak mengerti.” Tanganku yang sudah ingin membuka pintu mobil dihentikkan oleh Haneul.

“Untukmu.” Haneul menarik setengah belanjaannya dari kursi belakang, memaksaku memegang semua kantong belanja itu. Lalu ia mendorongku keluar dari mobilnya. “Dengan ini setengah rasa bersalahku berkurang.”

Mobilnya langsung melaju pergi sementara aku masih berdiri kebingungan.

 

M I N S E O K

 

“Minseok.  Aku mulai berpikir kita harus mengganti interior rumah ini.” Ibuku berkata di tengah makan malam.

Ia mulai lagi.  Obsesinya dengan trend interior belum berhenti. Aku semakin jenuh karena mengganti isi rumah hampir setiap tahun membuatku merasa tidak pernah benar-benar memiliki rumah. “Aku tidak mau. Aku suka yang ini. “

Ia mengangkat pandangannya dari mangkuk nasi lalu menoleh ke seluruh ruang makan seakan ingin memperlihatkan padaku ia sudah memikirkan semua ini baik-baik. “Aku juga suka. Tapi ini mulai membosankan. Kemarin aku datang ke rumah Sarang dan kupikir memiliki taman di tengah rumah—“

“Tidak.” Aku memotongnya. “Saat kita mengunjungi rumah temanku di Busan juga Ibu mengatakan hal—“

Tiba-tiba bel pintu kami berbunyi. Itu pasti Sarang yang akan mengeluh soal karies giginya. Tadi siang di cafetaria ia mengaku sudah seminggu lupa membersihkan plak gigi ketika aku mengomentari bau mulut. Ibu segera berlari menuju pintu sementara aku yang sudah beranjak dari kursi untuk membuatkan teh kesukaan Sarang tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara tawa yang berbeda.

“Aaah! Akhirnya datang juga! Minseok ayo ke sini sebentar!”

Aku memiringkan kepala, mengintip dari balik dinding dan menemukan perempuan yang berada di depan itu ternyata bukan Sarang.

“Minseok!” Ia kembali menyahut. Ibuku selalu mengenalkanku pada setiap pasien wanitanya, ia tipe ibu yang merasa bisa memilihkan wanita yang tepat untuk anak laki-lakinya yang sayangnya definisi tepat kami berdua selalu berbeda.

“Aku ada tugas.”  Aku langsung berlari menuju tangga ke atas, menghindari percakapan basa-basi membosankan ketika ibu akan membanggangkanku di depan pasiennya. Itu agak memalukan. Seperti saat pertama kalinya aku dikenalkan secara resmi pada Sarang, ketika ia membeberkan sederet perlombaan yang kumenangi lalu mengatakan betapa beruntungnya wanita yang akan bersamaku. Sarang adalah satu-satunya pasien wanita yang hanya tersenyum tanpa melemparkan ekspresi tertarik padaku saat kami dikenalkan, mungkin karena itu ibuku sadar tidak ada gunanya menjodohkan Sarang denganku.

Sampai di dalam kamar  aku langsung menjatuhkan diri ke atas kasur tanpa sadar kembali mengeluarkan surat misterius itu seakan itu sudah menjadi kebiasaanku.

“Tidak mungkin Baekhyun. Si pemalas itu tidak pernah belajar dan tulisannya agak berantakan.”

Apa Lu Han salah memberi informasi?  Tapi saat makan burger (pada akhirnya setelah Baekhyun lewat Lu Han keluar) tadi ia bahkan meyakinkanku dengan menelpon Baekhyun loud speaker dan menanyakan langsung padanya apakah laki-laki itu menyukai Sarang. Jawabannya iya. Dengan sangat ceria Baekhyun mengatakan “Ya! Aku menyukai Sarang!”.  Harusnya laki-laki seperti itu lebih suka mengatakan perasaannya secara langsung dari pada melalui surat.

Memikirkan hal yang tidak ada hubungannya denganku tiba-tiba membuatku merasa menyedihkan. Apa aku harus melakukan ini hanya demi mendapat sepatu baru? Kenapa Sarang harus meminta bantuanku? Kalau aku menemukannya apa dia akan mengencani laki-laki itu?

“Aku harus berenang. Ayo Minseok, kau punya kesibukan dari pada harus memikirkan surat tidak berguna ini.” Aku segera beranjak dari kasur, melempar surat itu asal dan meraih jaket.

Lebih baik aku berenang 20 putaran dan berakhir tidur nyenyak tanpa memikirkan apapun. Itu jauh lebih produktif dari pada membaca surat Sarang untuk yang 31 kalinya. Ketika aku keluar dari kamar suara ibu tidak terdengar yang artinya si pasien sudah masuk ruang periksa sehingga aku bisa berjalan dengan santai menuju pintu luar.

 Suara mobil terdengar dari halaman depan dan saat aku menyibak gorden jendela sudah ada Sarang berdiri di depan pagar. Sementara mobil yang mengantarnya melaju pergi ia tetap berdiri.

“Bagaimana kencannya?” Akhirnya aku memilih keluar karena Sarang tidak juga bergeming dari tempatnya berdiri.

Sarang menengok padaku. Ia segera berlari kecil menghampiriku dengan  wajah kebingungannya yang membuatku kasihan, seperti anak ayam yang terpisah dari rombongannya. “Aku ingin bertemu ibumu, lihat gerahamku.” Tahu-tahu ia membuka mulut lebar lalu jarinya menujuk gerahamnya yang selalu bermasalah.

“Ibuku sedang menangani pasien lain. Ingin kuberi bawang?” Aku mengernyit melihat lubang baru di geraham lainnya, Sarang benar-benar butuh pelajaran soal menyikat gigi sebelum tidur dan setelah makan.

Kepalanya langsung menggeleng, aku terlalu capek menjadi ambassador bawang putih untuk membujuknya mengunyah bawang jadi aku menghela napas dan berjalan menuju garasi tanpa mempedulikan Sarang yang meringis kesakitan. Itu sudah menjadi resiko Sarang, aku sudah coba membantunya.

“Boleh aku ikut?”

Aku mengendikkan bahu dan ia mengikutiku masuk mobil.

 

***

 

Ketika aku bertemu Sarang di bandara untuk penerbangan menuju Tokyo aku sadar itu bukan pertama kalinya aku melihat Sarang.

Kenyataannya aku pernah melihat Sarang dua tahun yang lalu. Karena sangat kebetulan aku mengingat persis kejadian itu. Saat kami masih sekolah Lu Han memaksaku datang melihat pentas drama perayaan ulang tahun sekolahnya. Ia mendapat peran sebagai kurcaci nomor tiga dan memintaku datang untuk merekam penampilan perdananya. Aku yang saat itu bersekolah di asrama khusus laki-laki segera mengiyakan karena melihat seorang wanita bukan hal mudah untuk orang yang pulang ke rumah dua kali dalam setahun.

Tugas yang Lu Han berikan terlalu mudah, karena laki-laki itu hanya kebagian sedikit skenario aku hanya perlu menyalakan video cam kurang dari lima menit. Lalu setelah Lu Han menyelesaikan adegan menebang pohon dan keluar dari panggung aku ingin mematikan video cam, detik berikutnya si pemeran utama wanita masuk ke panggung. Pemeran Snow White merebut perhatianku sehingga pada akhirnya aku merekam seluruh pertunjukan drama.

 

***

 

S A R A N G

 

Stopwatch yang kugantung di leher semakin lama terasa berat.

“Hei! Apa aku jadi lebih lama? ” Kepala Baozi muncul dari dalam kolam. Aku menghela napas dan memandangi stopwatch yang ia berikan padaku. Sayang sekali Minseok kau lebih lambat dua detik. Tapi satu jam  menemani Kim Minseok berenang membuatku belajar banyak hal soal dirinya, jadi aku berbohong dan tersenyum “Baozi lebih cepat 0.4 detik.” Karena seorang Minseok tidak akan pernah puas sampai ia bisa mengalahkan rekornya sendiri. Aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk melihatnya memecahkan rekor tidak berguna.

“Tapi tadi aku sempat—”

“Tidak. Kau berenang terlalu cepat sampai aku takut kakimu bisa lepas. Jadi boleh kita kembali ke rumah karena pipi kananku rasanya semakin  membengkak.”

Perkataanku membuat lima menit kemudian kami sudah kembali dalam mobil. Tubuh laki-laki itu masih berbau kaporit, aku memintanya mandi tapi ia benar-benar takut aku akan pingsan kesakitan jadi tanpa mengeringkan rambutnya ia segera menyetir secepat yang ia bisa tanpa melanggar aturan lalu lintas. Aku merasa seperti istri hamil di detik-detik melahirkannya dan Minseok sebagai ayah yang panik karena ia takut anak pertamanya tidak berhasil.

Baozi membuatku tidak bisa berhenti tertawa selama perjalanan.

 

 

M I N S E O K

 

Aku tidak begitu yakin soal bagaimana caraku menghampiri Baekhyun. Setelah memutuskan lebih baik aku bertanya langsung padanya aku berakhir menunggu di koridor depan kelasnya. Semua akan mudah jika aku bisa bertanya ‘apa kau menyukai Sarang’ dengan nada santai lalu jika ia bertanya apa urusannya denganku aku akan menjawab aku berutang banyak pada Sarang sehingga aku harus menjamin laki-laki yang mendekatinya adalah pria yang baik.

Itu cara terbaik, mungkin. Lalu ketika aku berjalan menuju kelasnya tiba-tiba Baekhyun meluncur di sampingku dengan skateboard. Sekarang aku mengerti kenapa hanya gedung fakultas Seni yang memiliki peraturan dilarang menggunakan skateboard terpasang besar-besar di dinding.

“Baek!” Aku berteriak, ia menghentikkan skateboardnya lalu menoleh padaku. Matanya melebar heran sampai aku berpikir ia lupa padaku karena rasanya sudah hampir sebulan aku berhenti makan siang bersama Baekhyun yang dengan kebiasaan sendawanya selalu membuat selera makanku berkurang. Tapi untungnya beberapa detik kemudian ia segera melesat dan berhenti tepat di depanku. “Minseok! Astaga! Kukira kau pindah karena aku tidak pernah melihatmu lagi!”

Aku memberinya tatapan oh-benarkah lalu memutuskan segera bertanya sebelum aku kehilangan keberanianku. “Hei jadi Lu Han mengatakan kau suka pada teman sekelasnya?” Lebih baik mengatakan teman sekelas karena menyebut Sarang rasanya terlalu frontal.

“Maksudmu Sarang?” Dan Baekhyun memang frontal.

Aku menggangguk dan ikutan tersenyum melihat Baekhyun tersenyum. “Aku kurang yakin sebelum mendengar langsung—“

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Baekhyun malah tertawa, “Ya! Apa Lu Han membocorkan rencana kejutanku untuk Sarang bulan depan?”

Cepat-cepat aku berkata sebelum Baekhyun membeberkan kejutannya untuk Sarang, “Hei, tapi menulis surat untuk Sarang dan memberinya kejutan, apa sebegitunya Sarang bagimu Baek?” Aku tidak berminat soal kejutan yang aku hanya ingin tahu apa ia menulis surat untuk Sarang atau tidak.

 “Surat? Aku tidak menulis surat. Surat bukan gayaku.”

Baekhyun menatapku bingung dan tanpa sadar aku menggunakan nama Lu Han. “Lu Han mengatakan kau akan memberi Sarang surat.”

“Benarkah? Kalau begitu aku harus bicara pada Lu Han. Ia salah rencana. Aku pergi dulu Minseok!” Ia melesat pergi dan aku hanya berharap semuanya akan berjalan lancar.

Maksudku lancar di sini, kalian pasti mengerti.

 

***

 

Siang ini aku bertemu Lu Han di depan pintu kelasku. Dia tidak mengangkat topik soal Baekhyun yang artinya dua orang itu belum bertemu. Laki-laki yang berdiri bersandar di depan dinding  itu sibuk menyesap bubble tea terlihat seperti wanita Inggris yang sedang menikmati tea timenya. Aku menggelengkan kepala dan memilih berjalan melewatinya.

“Hei. Apa kau kenal perempuan bernama Lee Haneul?” Tiba-tiba Lu Han bertanya. Aku sampai terbatuk sempat berpikir ia akan menahanku dan protes “kapan aku bilang Baekhyun menulis surat?”

Langkahku terhenti. Mengenal Haneul sesuatu yang wajar, semua pria di kampus tahu siapa Haneul dan aku termasuk. “Kalau Haneul yang kau maksud Haneul yang memenangkan lomba story telling antar kampus aku kenal.”

“Kalau aku dapat membuatnya menjadi saksi kalau ada ular di gedung ini. Apa kau akan mempercayaiku?”Aku langsung menengok dan melihat Lu Han memandangku berapi-api

Kata ular membuatku mengerjapkan mata sampai dua kali untuk meyakinkan kalau yang kudengar memang tidak salah. Lu Han masih mengangkat masalah ular. Aku tahu Lu Han, aku tahu dia selalu menjadi minoritas, tapi menjadi minoritas pun bahkan ada batasnya. Ketika kebanyakan mahasiswa lainnya akan mengangkat topik berkualitas dengan mata berapi-api itu ia justru membahas reptil melata.

“Aku percaya.”  Jawaban pendekku membuat Lu Han melompat girang dan berjalan pergi.

Aku cukup yakin orang seperti apa Haneul tanpa perlu berteman dengannya. Dia cukup rasional untuk tahu kalau tidak mungkin ada ular di gedung kampus. Masalahnya dia bukan mahasiswi di sini bagaimana Lu Han bisa meyakinkannya?

Pertama kali aku melihat Haneul adalah tiga bulan yang lalu ketika aku harus menggantikan Yifan yang sakit sebagai perwakilan dari jurusan kami. Kemampuan bahasa Inggrisku memang terbatas jadi aku tidak terlalu kecewa ketika kalah di babak pertama. Saat itu aku melihat Haneul yang menjadi sorotan karena cerita Hansel and Gretel yang dibawakannya mendapat nilai sempurna. Tapi ketika kebanyakan orang bertepuk tangan untuk Haneul mataku jatuh pada Sarang yang memilih kisah tiga babi kecil untuk story tellingnya.

 Satu bulan kemudian aku datang melihat babak final sekedar memastikan apakah Sarang masih mengikuti lomba itu. Kejutannya adalah ia termasuk dua besar dan ketika aku diam-diam mendukung Sarang menjadi pemenang aku menyadari Kyungsoo ikut menonton final itu, ia berada di sisi Haneul dan kupikir itu salah satu penyebab Sarang gagal menjadi juara satu.

 

***

S A R A N G

 

Aku pernah berharap tertabrak mobil dan menghabiskan waktu satu bulan di rumah sakit setelah aku dan Kyungsoo memutuskan hubungan.

Pagi ini aku kembali berharap tertabrak mobil, menghabiskan waktu setengah tahun jika perlu agar aku tidak perlu berurusan dengan semua ini. Kemarin Dr. Kim memaksaku tidak pulang karena pulang jam setengah 12 malam tidak terlalu aman untuk wanita muda. Karena aku terlalu lelah aku mengiyakannya sekalipun hari itu ibu tidak ada di rumah. Ia harus menemani kakek yang akan dioperasi besok lusa dan sejak sore menelponku memastikan aku harus berada di rumah. Ia tidak pernah memperbolehkan rumah ditinggal tanpa penghuni, apapun yang terjadi rumah tidak boleh kosong itu katanya. Kupikir ini karena Fan Bing, tapi tadi pagi aku sudah memberikan makanan dan minuman ekstra di kandangnya sehingga semalaman burung itu ditinggalkan tidak apa-apa kan? Kupikir begitu.

Saat aku mendorong pintu, kicauan Fan Bing yang biasanya menyambutku ketika pulang tidak terdengar. Kukira ibu lupa mematikan radio sehingga Fan Bing tidak mendengar suara langkahku.

Aku berlari memasuki ruang tengah karena firast aneh. Lalu mendapat pelajaran penting kalau malapetaka sebenarnya bukan saat Kyungsoo dan aku selesai, tapi ini. Pintu kandang Fanbing terbuka, beberapa bulunya yang berwarna putih bertebar di kandangnya. Fan Bing dicuri.

Aku menarik napas, memejamkan mata dan berharap semua ini hanya mimpi. Lalu ketika hitungan ketiga aku membuka mata dan semua tetap sama, aku merasa seluruh pandanganku berkunang dan selanjutnya hitam.

 

***

 

Sekarang aku mengerti perasaan Lu Han. Dulu aku tidak mengerti untuk apa Lu Han yang asma mati-matian mencari Bianca ketika laki-laki itu sensitif dengan bulunya. Sekarang Fan Bing menghilang aku memahami Lu Han.

Ayah yang pulang besok minggu tidak akan diam begitu saja. Ia mendapat Fan Bing dari sahabatnya di China. Mengatakan harga beo itu puluhan juta yang sebanding dengan biaya kuliahku sehingga aku harus menganggap Fan Bing sama pentingnya dengan belajar.

“Kau sudah menelpon ibumu?” Haneul duduk di sebelahku. Setelah menelpon polisi orang yang kupikirkan bisa membantuku hanya Haneul.

“Sudah. Ia akan sampai beberapa jam lagi. Apa kau bisa menyembunyikanku?”  

“Kau akan baik-baik saja. Ini bukan kesalahanmu Sarang. Kita akan mendapatkan si bajingan pencuri Fan Bing oke?”

Yang bisa kulakukan hanya mengangguk. Aku tidak akan baik-baik saja. Semua akan terulang lagi.

 

***

 

Minggu datang terlalu cepat. Ayah akan sampai beberapa menit lagi dan aku punya firasat soal buruk soal kehidupanku kedepannya. Aku sudah meminta ibu agar ayah mengetahui soal Fan Bing langsung dariku, dengan itu ia akan mengira aku anak perempuannya cukup berani untuk menanggung resiko. Aku berharap seperti itu. Benar-benar berharap.

“Sarang!” Terlalu fokus menggigiti jari aku tidak menyadari ayah sudah berada di depanku. Ia terlihat sama seperti dua minggu lalu aku meliha tnya dan mendengar berita Fan Bing aku yakin itu akan membuatnya terlihat berbeda, mungkin lebih tua 10 tahun.  Mempunyai ayah seorang pilot membuatku jarang menghabiskan waktu lebih dari tiga hari dengannya, tapi hal itu tidak membuat hubungan kami canggung, kami cukup dekat, sekalipun ia tidak tahu aku alergi udang.

Seharian itu aku menghabiskan waktu menemaninya mencari hadiah ulang pernikahan untuk orang tua ibuku. Ayah sama sekali tidak memberi ekspresi berarti ketika aku mengatakan Fan Bing diambil seseorang karena aku tidak berada di rumah. Mungkin ia terlalu kecewa dan aku diam saja tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk membuatnya merasa kehilangan Fan Bing sebenarnya tidak terlalu buruk. Aku tidak bisa mengubah fakta Kehilangan Fan Bing adalah hal terburuk, ayah menganggap beo itu adalah adik angkatku.

“Sarang kau mengerti konsekuensinya kan?”

Aku mendapat hukuman, mereka mengatakan itu adalah konsekuensi tapi aku lebih suka menyebutnya hukuman. Aku tahu itu, sejak awal kedua orang tuaku tidak akan membiarkanku lolos begitu saja. Ayahku selalu ingin aku belajar dari kesalahan dan ibuku tidak pernah percaya ketika aku mengatakan maaf maka maksudku adalah aku tidak akan mengulanginya lagi.

“Seminggu ini kau tidak boleh keluar rumah oke? “ Ibuku berkata dengan nada keibuannya hal yang selalu dilakukannya ketika dia merasa aku masih terlalu kecil.

Aku mengabaikannya memilih tetap berfokus mengaduk adonan brownies sementara ia terus bernostalgia soal aku dan kebiasaan merokokku yang dulu. “Sudah kukatakan aku pergi bukan untuk main-main, saat itu gigiku benar-benar sakit. Dan Dr. Kim mengatakan berbahaya aku pulang tengah malam.”

Balasan yang kudapat hanya gelengan kepala. Ia malah mencicipi adonanku “Terlalu manis.”

Kondisiku sekarang persis seperti si pengembala yang selalu berteriak ada seriga ketika sampai akhirnya serigala sebenarnya datang tidak seorang pun benar-benar mempercayainya. “Aku suka yang manis.”

“Ngomong-ngomong soal manis kau tidak perlu panik. Dr. Kim mengatakan jika kau rajin menyikat gigi kau tidak memperlukan perawatan seminggu ini.” Ibuku berjalan pergi, meninggalkanku yang bersikeras akan memanggang Brownies jam dua pagi.  Tepat ketika suara pintu kamar tidurnya tertutup aku segera berlari menuju pintu depan mengecek apakah ia masih menyimpan kuncinya di bawah pot. Tentu saja tidak, ia sudah menyembunyikan kuncinya. Harusnya aku sudah terbiasa, karena ketika ibu memutuskan sesuatu; dia memang akan melakukannya. Ketika dulu dia mengatakan akan mengunci kamarku selama seminggu karena aku pergi diam-diam untuk merokok ia benar-benar mengunci kamarku keesokan harinya, seminggu penuh.

 


 

Author’s note:

Agak kentang sih ya part terakhirnya.

Jadi chapter ini bikin kita lebih mengenal rebel side of sarang Sarang, our heroine enggak sebaik yang kita duga tapi emang setiap orang punya flaw masing-masing kan?

Chapter selanjutnya aku bakal coba fokus ke jongin dan yess baekhyun emang jadi cameo aja kkekeeke.  

Ngomong-ngomong aku lagi nonton Oh My Ghostess dan chefnya bener2 mirip kim minseok. Wajahnya maksudku.

Aku selalu nunggu komentar dari kalian, 50% semangatku datang dr feedback yang kudapat. 30% lagi dari exo yang ruining my life, 20% dari hobi mengkhayal.

 

19 thoughts on “Catching Feeling [8/?]

  1. yeay! akhirnya ada lanjutannya lagi..
    nggak ngerti setiap hari buka ini buat lihat udah ada lanjutannya atau nggak..
    dan
    TARAAAAA!!
    aku merasa surprise banget ini ada..

    jadi yang adik tirinya minseok sarang kabur itu karena dia ngerokok.. terjawab. wkwk

    ngefly sendiri waktu sarang sama minseok.. kayak ada gimanaa gitu diantara mereka..

    tapi ada lagi ni yang bikin penasaran.. yang buat surat bukan baekhyun(?)

  2. Akhirnya ff nya dilanjutin. Setelah sebulan lebih bolak balik liat blog dan jreng jreng jreng ff Catching Feeling udah dipost. Aku seneng banget sumpah, dan yah byun cabe cuma jadi cameo. Jadi siapa yang ngirim surat buat Sarang? Aktor Do kah? Aku penasaran. Tadi ada tulisan yang ngga baku dan aku sedikit terganggu tapi ngga berdampak apapun. Sebenernya ini pertama kalinya aku comment ff kakak. Biasa ngga ada paket jadi bacanya secara offline *bow* tapi pas baca note kakak, aku sadar author itu juga butuh feedback dan yahh aku akan berusaha jadi reader yang baik. Dan aku punya saran, kenapa kakak ngga post ff kakak diblog lain? SKF misalnya, aku rasa nanti dapet banyak respon karena cara penulisan kakak beda sama author lain. Disini responnya sedikit, kan sayang ff bagus2 tapi feedback nya dikit. Itu sih saran aku. Jangan lama2 kak nanti feel nya ilang, aku aja lupa jalan ceritanya, hehe. Apa aku comment kepanjangan? Hahah, yaudah segitu aka. Keep writing kak! Bye:*

    • aaah makasih komennya bikin semangat lanjutin buat ngasih tau siapa pengirim surat sebenernya hm.

      haha aku ngerasa dengan cuma ngupload cerita di sini aku ngerasa cerita ini lebih eksklusif? lol. dan littlesweetfanfiction udh kayak rumah sendiri suka2 aku mau update kapan hehe menyayangkan sih soal feedback dikit tp di blog ini udah ada beberapa pembaca setia jadi sekalipun dikit juga gapapa🙂

      Enggaak komenmu sama sekali ga kepanjangan malah kurang panjang hehehe.

  3. aaaaahhh loveeeee banget~ karena fokusnya minseok-sarang pov aku suka banget chapter ini ;3
    bisa lebih ‘ngebaca’ karakter minseok, meskipun tanda-tanda dia suka sarang masih sedikit banget.
    ngomong2 aku suka surat cintanyaaaa… haha sederhana tapi ngena.. jangan sampe yg nulis surat cinta itu kyungsoo karna aku konsisten sama pernyataan aku di chapter2 sebelumnya hahaha

  4. omoooo tiap buka browser nyempetin buat cek wp nya dan akhirnyaaa part 8 nya dataaaang…
    jadi sarang-kyungsoo ini cuman kesalahpahaman doang ya? ato jenuh juga?
    sarang kaya yg lbih sayang minseok dripada luhan ya..
    oh omoo bagus deh baekhyun cuman jdi cameo,ga tega sama chaeri nya kaaan hehehe
    semangat buat part 9 nya😀

  5. Suratnya bener2 khas, setuju sama minseok itu bukan surat cinta. Ngomong2 yg ngirimin, kyknya itu Jongin, sok tau hehe. Nah, sarang pernah ngerokok tp udh berenti kan? Kurang suka sama cewek yg ngerokok dan pengen tau banget gra2 apa ngerokoknya? Dan mana Kyungsoo?

  6. akhirnya ff nya dilanjutinnn yeayyy

    suka banget pas ada moment minseok sama sarang 😘
    lain kali dibanyakin ya min moment2 minseok sama sarang sekalian moment romancenya diselipin min wkwkwk

  7. Eonnn … Aku bacanya sampe senyum” semdiri pas baca Miseok langsung membuatkan teh kesukaan Sarang, tapi aku ngerasa Minseok berubah banget dari yg dingin jadi perhatian banget ke Sarang, ternyata Minseok udah lama merhatiin Sarang dan aku sukaaa paje banget pas baca Minseok memastikan Sarang sekedar itu aja (?) I don’t belive it. Aku menemukan kesamaan antara Minseok dan Sarang mereka sama” mengorbankan Luhan .. Dan aku masih penasaran tentang siapa yang tulis surat klau bukan ByunBaek ?
    Aku sama kyk Sarang gk ngerasa kyk gmana gitu ttng Haneul yg ngerasa dia lebih sok tau dari pada Sarang,

  8. Woahh.. Aku kira itu beneran baekhyun yg kirim, apalagi isi suratnya serasa agak beda😀
    Haha tapi untung itu bukan beneran baek, bisa-bisa si-Chaeri protes😀
    Jadi penasaran siapa yg ngirimin Sarang surat, semoga updatenya cepetan ya^^
    Fighting!!^^9

  9. ahhh author aku selalu suka ff buatanmu…..
    teasernya keren bangetttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt janggg ,aku kasih semua jempolll

  10. author-nim! aku terlambat berhari-hari sejak pertama kali part ini keluar….

    WAAAANGG~~~

    ini benar-benar memalukan jika harus kukatakan hal seperti ini, tapi aku berharap baekhyun bisa berhenti menjadi cameo dan Ya Tuhan dimana Luhan? dia berhenti setelah membicarakan masalah ular. dan itu membuatku penasaran apakah Haneul sudah menerornya,{maksudnya menciptakan hubungan dengan Luhan}.
    well, aku masih terlalu asing dengan karakter Sarang yang sebenarnya lebih ekstrim dari yang terlihat, aku penasaran apakah Minseok tahu Sarang pernah merokok. Dan tentang seminggu terkunci, yang kutebak sebagai karma karena dia meremehkan kasus bianca, semua orang pasti akan merindukannya.

    Aku ingin bertanya satu hal, apakah hanya aku yang berharap bahwa Sarang tidak bersama baekhyun, minseok, jongin, kyungsoo atau bahkan Yifan. {aku bahkan tidak menyangka dia akan keluar sebagai wallpaper}, dan memilih Luhan sebagai pasangannya?

    Ya. Sarang Luhan. aku tahu Sarang bukan tipe Luhan dan Luhan bukan jenis laki-laki yang menjadi idaman sarang, tapi aku sangat memfavoritkan moment mereka berdua. menurutku bianca adalah mak comblangnya. dan aku berharap Luhan melupakan dambi dan prof. song.

    dan terakhir, aku bersyukur kami memiliki andil dalam cerita ini, dan tentang exo yang ruining you life, jika itu aku, aku akan menempatkan Exo sebagai faktor dan akan menempatkannya sebagai 99 %, semua mantan membuatku benar-benar frustasi. tolong beritahu aku apa yang harus kulakukan tentang mereka. tentang berkhayal, aku akan menempatkan 99% juga. dan feedback 102 %. itu untuk 300% presentasi.

    hehe…
    teruslah menulis Author-nim. ini adalah tulisan yang kunobatkan sebagai komentar terpanjang dalam sejarah, mungkin aku bisa menjadikannya novel.. Heol~dan aku melihat disalah satu komen sepertinya Author menyukai komentar yang panjang? anggap saja ini bentuk dedikasiku sebagai penggemar setia
    Keep writing~~~~

  11. Waww ini keren. Seriously, aku selalu tunggu update-annya dan sempat komen juga tapi aku lupa passwordku jadi ga tinggalin komen di beberapa chapter, cara author menceritakan other side Sarang itu bagus, bikin aku sadar bahwa orang juga punya kebiasaan buruk. Bagus bagus lanjutkan terus yaaa hehe☺☺

  12. jadiiiii….. itu bukan surat cinta?? dan yg nulis bukan sarang?? DAN BAEKHYUN CUMA JADI CAMEO? ㅠㅠ
    belum puas menikmati kehadiran baekhyun di detour, aku jadi egois, cerita milik baozi pun aku masih pengen banyak baekhyun nya hehehe
    jadi yg nulis surat siapa ya… masa jongin?? tapi bisa jadi sih… tapi siapapun yg penting minseok sarang lebih deket udah merdeka!!
    eunghhh sebenernya aku masih berharap kyungsoo muncul lumayan banyak disini tapi yeah, dia kan cuma mantan.. jadi cuma sebatas sampingan kali ya hqhqhq
    next chapter yg banyak jongin nya siap ditunggu yuhuuu :3

  13. jadiiiii….. itu bukan surat cinta?? dan yg nulis bukan sarang?? DAN BAEKHYUN CUMA JADI CAMEO? ㅠㅠ
    belum puas menikmati kehadiran baekhyun di detour, aku jadi egois, cerita milik baozi pun aku masih pengen banyak baekhyun nya hehehe
    jadi yg nulis surat siapa ya… masa jongin?? tapi bisa jadi sih… tapi siapapun yg penting minseok sarang lebih deket udah merdeka!!
    eunghhh sebenernya aku masih berharap kyungsoo muncul lumayan banyak disini tapi yeah, dia kan cuma mantan.. jadi cuma sebatas sampingan kali ya hqhqhq
    next chapter yg banyak jongin nya siap ditunggu yuhuuu :3

    *ini sampingan aja, aku mau tanya (aku pernah tanya ini tapi gatau udah dijawab apa belum sama kakak), soal pastel, itu dilanjut gak kak?? kenapa gak update lagi? padahal masih nunggu sampe sekarang :3

    • Well kita liat chapter selanjutnya bikin kamu berubah pendapat ga hahah

      Oh iya pastel. Itu cerita sebenernya aku bikin karena temenku ngerequest tapi dia ga suka exo lagi aku jadi ikutan males. Tp gara2 kamu aku jadi tau ternyata masih ada yg kutungguin nanti kulanjutin deh🙂

  14. Baru cek web ini lagi dan ternayat udah ada updateannyaaa😁 aku juga nonton oh my gosht loh dan aku lebih setuju kalo tokoh utamanya itu mirip sama suho yang udah berumur dibandingkan minseok😝
    Cara penulisan kaka yang selalu daebak, bagaimana bisa gini sihhhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s