Catching Feeling [9/?]

C h a p t e r  0 9  –  M e  T h e s e  D a y s

J  O N G I N

Hal tersulit soal kehilangan seseorang adalah ketika kita menyadari kehilangan yang terjadi itu sebenarnya tidak hanya sekali. Mungkin seperti saat kau bangun tidur dengan tangan otomatis meraih ponsel hanya untuk menemukan tidak ada pesan darinya, di sana kau mulai sadar apa yang sebenarnya terjadi. Semua mulai mengganggu khususnya ketika kebetulan mengambil kaos yang ternyata adalah pilihannya, kau kembali diingatkan, orang itu benar-benar pergi. Saat malam harinya ketika hari buruk terjadi dan tanganmu meraih ponsel untuk menekan nomornya, itu saat kau mengerti kalau orang itu benar-benar selesai denganmu.

Ngomong-ngomong aku mengatakan ini semua bukan berdasarkan pengalamanku. Kim Jongin tidak mengalami semua itu ketika diputuskan hubungannya dengan Song Dambi. Semua analogi tadi hanya cerita Kyungsoo sebulan setelah dia dan Sarang berpisah.

Aku mematikan TV tepat ketika a Little Thing Called Love dimulai. Kebetulan adalah film favorit Dambi, jika kalian penasaran aku mematikannya bukan soal film ini mengingatkanku pada Dambi. Teringat dengan Dambi bukan hal yang salah karena kenanganku bersama Dambi bukan hal yang menyedihkan untuk diingat.

“Kenapa diganti?” Kyungsoo datang dari dapurnya membawa Mozzarella Bites pesananku. Aku selalu membawa mozzarella setiap datang ke tempatnya, dia akan memperlakukanku dengan lebih baik ya memang semacam suapan tapi Kyungsoo tidak seburuk itu.

“Kakakku sudah menontonnya 13 kali. Aku bosan.” Jawabku singkat sementara yang bertanya kembali menyalakan TV. Kyungsoo mulai melakukan kebiasaan buruknya mengganti channel setiap 0.5 detik sampai ia sadar kalau yang dilakukannya hanya membuang waktu. Laki-laki seperti Kyungsoo memang bukan penggemar acara televisi, ia menjual jam tangannya demi TV 55 inch ini hanya untuk menonton film Pixar. Ketika ia sempat berhenti pada BBC news aku mengerang kesal, dan berkat mozarella yang kuberikan ia menuruti permintaanku. Lalu ketika kebetulan berhenti pada American Horror Story aku berdiri.“Jangan ganti!”

Kyungsoo memandangku heran.“Kau menonton serial semacam ini?” Memberi pandangan paling menghakimi seakan aku baru saja mengakui kalau Pororo adalah kesukaanku.

“Kenapa? Menonton hal seperti ini lumayan berguna.” Aku memasukkan dua potongan keju pada mulutku, sementara Kyungsoo masih menatapku.

“Tahu episode tujuhnya?’

***

S A R A N G

Dalam delapan jam terakhir ini aku sudah memanggang dua lusin cupcakes.

Ketika merasa bosan dengan wangi vanilli dan lemon aku menyalakan TV, menonton a Little Thing Called Love kesukaan Haneul. Haneul mencintai film ini, ia menontonnya  hampir setiap bulan setiap putus dengan pacarnya, semacam pengobatan itu yang Haneul katakan. Aku juga punya pengobatan, dengan memanggang kue lalu menyadari hidupku terlalu singkat untuk dihabiskan dengan sedih, karena waktu lebih baik dihabiskan menunggu oven berbunyi dari pada bersedih.

Beberapa hari menghabiskan waktu seperti ini membuatku berpikir dikunci untuk seminggu bukan hal yang benar-benar buruk. Lagipula mereka tidak akan mengunciku selama seminggu jika aku bersikap baik (baca: diam). Hanya tinggal bersabar semalam lagi maka aku akan bebas.

Satu-satunya masalah adalah dunia terputus ketika kau tidak mempunya ponsel. Orang tuaku mengganggap hal itu berlaku pada anak perempuannya sehingga mereka menyita ponselku, tapi  berusaha terlihat tidak peduli aku merelakannya, selama aku punya telpon rumah semua akan baik-baik saja. Dengan tanganku kananku yang masih belepotan terigu aku meraih gagang telpon, aku harus menelpon Minseok, memastikan sesuatu tentang kebenaran suratku.

Tapi saat aku menekan tombol nol disitulah aku sadar tidak ada nomor yang kuhafal selain nomor pemadam kebakaran dan Kyungsoo.

***

Tahun terakhirku di sekolah terbilang agak membosankan. Kyungsoo sudah lulus yang artinya 80% alasanku masuk sekolah sudah tidak ada lagi. Kami hampir tidak pernah bertemu selain jika aku menelponnya dan mengancam aku akan datang ke kampusnya jika ia tidak menemuiku (yang hanya berani kulakukan dua minggu sekali). Saat Kyungsoo bertemu denganku, biasanya hanya datang dengan alasan membeli Lasagna untuk ibunya lalu harus segera pergi karena dia sibuk, sibuk, dan sibuk.

Suatu pagi yang harusnya damai aku mendapat kecelakaan kecil di bus perjalanan ke sekolah. Seorang ahjussi tidak sengaja menyentuh (aku mengatakannya meraba) pahaku. Laki-laki paruh baya itu membela diri dengan alasan rem mendadak dari bus, well itu hanya alasan klasik pelaku pelecehan jadi aku menjambak rambutnya dan berakhir berada di kantor polisi.

“Telpon orang tuamu.”  Si polisi mungkin sudah mengatakan yang ke 10 kalinya sejak aku duduk di depannya. Aku hanya memandang telpon. Ia kembali mengatakan hal yang sama dan aku kembali memandang telpon. Hal seperti ini terjadi selama setengah jam.

“Aku tidak salah.”

“Supir bis bahkan meminta maaf pada seluruh penumpang karena rem mendadaknya. Itu tidak sengaja nona.”

Setelah membuang napas sengaja keras aku melirik si ahjussi yang masih sibuk dengan ponselnya, ia mengancamku atas tuduhan pencemaran nama baik. Lucu sekali, seorang korban pelecehan berakhir menjadi pelaku pencemaran nama baik.

Ahjussi, pagi ini aku ada ujian penting jadi bisa kita lupakan masalah ini dan biarkan aku berangkat sekolah?”

“Kalau begitu telpon walimu dan kita selesaikan ini oke?”

Aku tidak hafal nomor orangtuaku.

“Aku tidak bersalah! Aku akan pura-pura minta maaf dan masalah ini selesai? Bagaimana?”

Kali ini si polisi memejamkan matanya lama, memijit tulang hidungnya dan aku tahu sudah saatnya aku menyerah. Mereka bisa menahanku seharian yang artinya aku bisa saja ketinggalan konser Beenzino.

“Tapi—“ Ponselku tertinggal di rumah Haneul dan yang bisa kulakukan sekarang hanya memanggil pemadam kebakaran, atau Kyungsoo. “Boleh aku memanggil orang yang kusuka?”

“Siapapun yang bisa menjaminmu” Ia memutar bola matanya dan tanpa pikir panjang aku menekan nomor Kyungsoo.

J O N G I N

“Kau memakai film camera? “ Mataku menangkap gulungan film Kodak yang tersebar di meja belajar Kyungsoo. Dia tipe laki-laki yang mengharuskan meja belajarnya kosong agar terlihat rapi jadi melihat gulungan film tersebar berarti tanda tanya.

Kyungsoo masih sibuk membongkar lemarinya ia mencari kamera yang ingin kupinjam. “Hadiah seseorang, tapi aku belum sempat menggunakannya.”

“Siapa? Sarang?” Nama Sarang terlintas begitu saja di otakku dan ketika Kyungsoo tidak menjawab, aku tersenyum. “Kalau memang tidak butuh boleh aku minta? Sejak dulu aku mau coba mengambil foto dengan film.”

“Tidak.” Tiba-tiba ia mendorong kursi putar yang kududuki dari meja belajarnya, tidak suka ketika seseorang memasuki wilayah privasinya, meja belajar termasuk privasi katanya.  “Kembalikan kamera ini setelah acaranya selesai.” Kyungsoo menyodorkan kamera Pentax padaku, warna pink yang langsung membuatku tertawa karena sepanjang aku mengenal Do Kyungsoo ia dan hitam tidak pernah lepas.

“Ada apa dengan warna pink.” Aku segera menyalakan kamera, asal mengambil foto Kyungsoo yang sedang melipat kedua tangan di depan dada menatap malas padaku. “Aku suka kamera ini.”

“Aku membelikannya untuk Sarang tapi tidak pernah sempat memberikan padanya.”

“Mau aku memberikan untuknya? Aku dan Sarang berada di kelas Mandarin yang sama.” Aku yang sebenarnya bercanda rupanya tidak terlihat bercanda di depan Kyungsoo, laki-laki itu menggaruk dagunya berpikir seperti aku baru saja menawarkan 50% sahamku padaku (aku bahkan tidak punya saham) “Hei aku bercanda—“

“Aku akan memberikannya sendiri jika ada waktu yang tepat.” Ia mengangkat bahu lalu berjalan pergi ke luar kamarnya.

Alisku selalu berkerut setiap bersama Kyungsoo. Ia selalu membuat pertanyaan tanpa mau menjawabnya. Kenapa Kyungsoo membuat hubungannya dengan Sarang terlihat kompleks? Astaga bahkan menikah saja belum, apa Kyungsoo pernah menghamili Sarang? Kenapa sulit sekali mengakhiri perasaan? Sarang bukan satu-satunya wanita di dunia apa dia tidak mengerti hal semacam itu?

Selagi Kyungsoo mengeluarkan vacum cleaner dari lemari aku mengeluarkan kertas sketsanya dari laci meja.

“Ngomong-ngomong kakak perempuanku akan segera menikah. Kau bisa membantu kan?”

Kyungsoo memang tidak terlihat seperti seseorang yang bisa memikirkan bagaimana sebuah pernikahan itu tapi kenyataannya, dia seorang wedding planner.

“Si pemain baseball itu?” Kyungsoo menengok padaku, aku dapat melihat ia tertarik soal pernikahan kakakku.nSemua ini dimulai ketika kebetulan salah satu dosennya menyukai desain sofanya lalu meminta Kyungsoo mendesain kursi untuk pernikahan anaknya. Dari sana laki-laki itu mulai menikmati dekorasi pernikahan, agak ironis karena kita bicara soal Do Kyungsoo, laki-laki yang bahkan tidak bisa mengatur perasaannya sendiri tapi percaya diri untuk mendesain pernikahan orang lain.

“Oh ya, temanku yang seorang model besok akan mengadakan kencan buta dan kurang satu orang. Kau mau ikut?”

Beberapa detik hening dan saat aku menengok Kyungsoo sudah membongkar vacum cleanernya. Harusnya aku tahu ia lebih tertarik dengan mesin penghisap debu dari pada kencan buta dengan model. “Kyungsoo?”

“Aku tidak bisa ikut.” Kyungsoo yang tampak tidak puas dengan hasil kerja vacum cleanernya hanya menggeleng tanpa memandangku.

“Kenapa?”

 “Vacum cleaner ini butuh service.”

“Jadi?”

“Besok aku harus datang ke tokonya.” Ia memasuki kamar dan menutup pintu meninggalkanku masih dengan mulut setengah terbuka.

S A R A N G

Saat itu Kyungsoo hanya bersenandung ringan setelah mengeluarkanku dari kantor polisi, tanpa mengomel atau bertanya apa aku baik-baik saja yang justru membuatku merasa takut. Kukira itu artinya ia benar-benar marah jadi aku memilih diam sepanjang perjalanan. Kami hanya mendengarkan Beenzino tanpa aku berusaha meniru rapnya atau Kyungsoo yang mengoreksi.

Setengah jam sejak kami menaiki mobil aku sadar Kyungsoo tidak membawaku ke sekolah atau rumahku. Tapi saat perutku berbunyi kelaparan pada akhirnya kami berhenti di Dunkin Donuts. Kyungsoo membelikanku Croissant Sandwich sementara dirinya hanya meminum pepsi.

 “Kau— sedang tidak punya uang?” Hanya sekedar memastikan apakah ia marah atau tidak maka aku memulai pembicaraan.

“Aku menabung untuk TV 55 inch.”

“Wow. Sekarang tanggal berapa?”

“1 Agustus.”  Jawabnya singkat.

Lalu kembali hening dan aku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan Kyungsoo lupa ulang tahunku. Aku sudah memberi lingkaran besar-besar pada kalender di kamarnya dua hari lagi ulang tahunku dan yang ia lakukan sekarang menabung untuk TV 55 inch.

“Kemana kita?”

“Anak perempuan dosenku akan menikah dan aku ingin lihat tempatnya.” Ia menjawab santai. Kyungsoo mulai menyetir dengan satu tangan, aku ingin menggenggamnya tapi aku  belajar kalau menjadi perempuan agresif kurang menarik sehingga aku berakhir memegang boneka Pororo yang kuletakkan di dashboard mobilnya.

“Lalu apa hubungannya denganmu. Maksudku, kau bahkan bukan mempelai pria untuk apa melihat tempatnya?”

Tiba-tiba Kyungsoo menengok padaku. “Sekarang aku punya pekerjaan Sarang.”

Saat menyetir mobil selain saat lampu merah ia hampir tidak pernah menoleh padaku, dan ketika ia menoleh bukan saat lampu merah, itu artinya ia menantikan reaksiku. Kyungsoo menatap mataku, aku tersenyum benar-benar lebar dan itu berhasil membuatnya tersenyum.

“Wow. Lalu kau menjadi kaya?”

“Tidak juga. Hanya saja aku punya pekerjaan.”

“Nanti kau akan mendesain pernikahanku juga kan?”

Kyungsoo tertawa, ia mengambil boneka Pororoku dan melemparnya ke belakang lalu menggenggam tanganku sampai kami sampai di tempat. Sepanjang yang kuingat itu perjalanan yang paling menyenangkan.

***

“Halo? Apakah dengan Sarang?”

Nara memberiku kejutan jam 11 malam sebagai orang pertama yang menelpon telpon rumahku selain orang tuaku yang sekedar menanyakan apa aku sudah membersihkan rumah. Berteman dengan anak kecil artinya berbagi nomor telpon rumah, yang sejujurnya itu lebih menyenangkan. Aku suka perasaan berbicara sambil memainkan tali gagang telpon memelintirnya dengan jari telunjuk.

“Ya ini dengan Sarang.”

“Ini aku Nara!”

“Iya aku tahu.” Aku dapat membayangkan Nara tertidur di atas kasur rumah sakit sambil memangku telponnya sementara Baozi duduk di sampingnya sibuk menghitung waktu batas menelpon.

“Minggu depan aku bisa keluar dari rumah sakit. “ Suaranya terdengar ceria menjadi Nara yang biasanya.

“Itu lumayan cepat. Kau ingin aku menjemputmu?” Aku mulai memelintir kabel gagang telpon, mengambil posisi tiduran di atas sofa sambil menyadari mendengar suara melalui telpon lebih menyenangkan dari pada ponsel.

“Bukan, aku tidak semanja itu. Aku butuh bantuanmu Sarang. Minggu depan kita punya kelas sains dan aku harus membawa hewan peliharaan, tapi kami tidak punya hewan peliharaan dan aku berpikir aku bisa meminjam hamstermu?”

Mataku otomatis melirik Hamsterville yang sedang berlari di roda putarnya, Hamster Roborovski pemberian Haneul yang sudah kupelihara selama satu setengah tahun tapi sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bersahabat padaku.

“Aku bisa memberikan Hamsterville padamu.”

“Benarkah? Jadi namanya Hamsterville?”

“Iya. Tapi dia agak menyebalkan, kau boleh mengganti namanya. Mungkin dia jahat karena kuberi nama Hamsterville.”

‘Tunggu—“ Suara Nara terdengar menjauh, dia pasti sedang berbicara dengan Minseok membujuk laki-laki itu menerima Hamsterville sebagai peliharaan mereka. Sampai beberapa menit suara Nara tidak terdengar hingga tiba-tiba jadi Minseok mengambil alih telpon.

“Halo Sarang?” Suara Minseok terdengar seperti orang sakit pilek.

“Hai Baozi!” Aku ingin menanyakan apakah dia sehat tapi beberapa detik kemudian telpon sudah kembali pada Nara.

“Baiklah Sarang, kakakku akan mengambilnya besok dan aku harus segera tidur. Mimpi indah!” Ia menutup panggilan. Aku mengerjapkan mata, memikirkan kemungkinan Minseok akan datang ke rumahku tiba-tiba membuatku berpikir besok akan menjadi hari menyenangkan.

***

J O N G I N

Kesalahan paling bodoh terjadi di saat-saat krusial. Seperti ketika menjatuhkan cincin pernikahan ke dalam selokan sehari sebelum pernikahan, atau berurusan dengan hal sepele lima menit sebelum kencan butamu.  Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, selesai memarkir mobil di depan toko hewan untuk membeli makanan anjing aku sibuk berpikir apa Kyungsoo akan datang ke kencan buta ini, aku sudah mengiriminya foto perempuan yang kupikir tipenya tapi ia hanya membaca pesanku tanpa membalasnya. Selanjutnya tanpa sadar dengan kunci yang masih tertancap di dalam aku menutup pintu mobil.  Aku baru saja mengunci mobil dengan cara bodoh kusadari lima detik kemudian.

“Astaga.” Seseorang bicara. Familiar dan firasatku buruk.

 Aku segera menengok mencari asal suara dan harus menahan untuk tidak menyumpah begitu menemukan Lu Han memandangku dengan matanya yang tersenyum.

“Aku baru melihat kejadian bodoh dan aku menyesal kenapa aku tidak merekamnya.” Pria itu berjalan menghampiriku dengan wajah panik seakan sigap membantu tapi aku tahu ia tidak akan membantuku, ia hanya akan memastikan kalau aku jengkel lalu ia akan tertawa dan pergi.

“Kalau tidak membantu lebih baik pergi.”

“Tidak, aku akan membantumu. Aku akan menelpon Dambi dan mengatakan kau putus dengan pria yang tepat.”

“Terima kasih atas bantuannya.” Sambil menghela napas aku mulai mengambil ponsel. Laki-laki seperti Kyungsoo sama bergunanya seperti Google. Ia pasti tahu apa yang harus kulakukan.

“Baoziiiii.” Lu Han berteriak tiba-tiba, saking kagetnya ponselku nyaris terjatuh dan saat aku ingin bertanya kenapa tiba-tiba ia memanggil makanan, seorang laki-laki keluar dari mobil yang parkir di sebelahku. “Hei Minseok, ibumu juga pernah mengunci mobil dari dalam kan?”

Minseok menggaruk kepalanya. Ia memandangku dan mobilku bergantian. “Panggil saja tukang kunci.”

 “Ayolah. Kau tahu triknya kan? Kau bisa kelihatan keren di depan Kai lalu dia akan menceritakan pada Kyungsoo kalau Kyungsoo punya rival yang keren.”

Lu Han yang kutahu memang menyukai serial drama terlihat terlalu bersemangat mengarang skenarionya. Ia, Kyungsoo dan Sarang satu sekolah dan aku tahu dia membenciku, dia benci ketika merasa sahabatnya direbut, agak kekanakan memang.

“Aku tidak peduli. Dan aku tidak suka Sarang.” Minseok memutar bola mata dan kembali mamsuki mobilnya sementara Lu Han mendecak tidak puas.

“Aku bahkan tidak menyebut Sarang? Ia sendiri kan yang mengakuinya?” Lu Han bicara sendiri, benar-benar pintar berakting menjadi orang bingung tapi aku tahu dia menikmati semua ini . Sementara aku masih berdiri di samping mobil Lu Han tertawa sendiri lalu berbisik padaku. “Katakan pada Kyungsoo malam ini Sarang akan berkencan dengan Baozi.”

Dan dengan kalimat itu ia pergi meninggalku. Lu Han dan si Baozi pada akhirnya tidak membantuku.

“Halo Kyungsoo?” Kyungsoo segera mengangkat panggilan pada dering pertama. “Aku baru saja mengunci mobilku dari dalam—“

“Kau tidak mengatakan ada perempuan bernama Haneul datang ke kencan buta ini.”

“Maksudmu? Bagaimana dengan vacum—“

“Tokonya tutup dan cepat datang ke sini.” Ia menutup telpon, aku masih berdiri di posisi sama sambil menunggu tukang kunci selama setengah jam.

***

S A R A N G

Aku menunggu Minseok dengan melakukan banyak hal. Hal ini mengingatkku pada kalimat Kyungsoo ketika aku memberikannya scrapbook sebagai hadiah ulang tahun.

Kyungsoo pernah mengatakan aku terlalu terobsesi dengan Martha Stewart. Aku tidak tahu apa itu pujian tapi kata terlalu obsesi membuatnya terdengar aneh. Ekspresi wajahnya saat membuka halaman scrapbook ‘apa yang akan kita lakukan nanti’ tidak bisa kutebak. Daftar yang kutulis hanya nama kue yang bisa kita buat bersama, tempat yang harus dikunjungi saat jam enam pagi, dan hal-hal tidak penting kata Kyungsoo. Saat itu aku mendekorasi kamarnya sebagai kejutan ulang tahun, terlalu banyak kejutan dan pesta dan kreasi dan dia mengatakan lebih baik aku menjadi ibu rumah tangga.

 Di sana kami mulai bertengkar. Aku ingat pendapat Kyungsoo soal wanita karier adalah wanita ideal, saat ia mengatakan lebih baik aku menjadi ibu rumah tangga, aku berpikir ia tidak ingin membangun masa depan bersamaku. Kyungsoo mengomentari aku terlalu mengambil kata-katanya. Lalu aku protes apa salahnya mempercayai kata-kata Kyungsoo. Kyungsoo membalas ia tidak selalu serius. Aku marah dan mengatakan apa itu artinya ia tidak serius saat mengatakan ia menyukaiku.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi dan aku segera membukanya.

Minseok berdiri di depan. “Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan itu ditujukan untukku. Aku membulatkan mata, memandangnya heran kenapa ia harus bertanya apa aku baik-baik saja ketika aku melihat sendiri kalau Minseok benar-benar sakit pilek.

“Baozi, saat dia mengatakan menyukaiku, apa dia serius?”

Minseok tidak menjawabnya, ia mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya lalu menyuruhku untuk mengelap pipiku.

Aku melakukan perintahnya, Minseok mungkin tahu kalau jawaban Kyungsoo saat itu membuatku menangis.

***

Author’s Note

Halo akhirnya ketemu lagiii.

Kita ketemu bulan depan lagiii. Makin ke sini aku nyadar diri kemampuanku saat ini hanya ngasih monthly update haha but its okay its love kan kalian pasti ngerti. Yes akhirnya aku bisa mengupas cerita kyungsoo di sini beri aku pendapat soal chapter ini aku penasaran cowok mana yang bikin kalian greget.

Anywayy. Aku mau numpang promosi akun di sini. Bulan ini angkatanku bakal bikin pameran yang artinya kita bener2 butuh promosi  dan ini susah banget lalu aku inget pembaca LSF dan aku mengandalkan kalian :——)

 Untuk yg punya akun ig bisa di follow @baltagramata nya. Habis acara selesai di unfollow lagi juga gapapa kok.

Until the next month baai dont forget this story juseyo i wont abandon its guys

p.s. pov mana untuk the next chapter?? 

15 thoughts on “Catching Feeling [9/?]

  1. Pertama penulis surat itu Jongin! Yeay tebakanku benar. Aku sangat menikmati membaca chapter ini menguak alasan sarang dan kyungsoo putus adalah hal yg paling ingin ku tahu karena perempuan seperti sarang tdk akan memutuskan kyungsoo hanya krn seorg haneul, sarang bahkan bilang kyungsoo terlalu keren untuk selingkuh dan sayangnya terlalu keren juga membuat kyungsoo menjadi menyebalkan dan saat kyungsoo yg menyebalkan dan sarang yg juga menyebalkan bertemu semuanya menjadi berantakan. Well, itu pendapatku tentang hubungan sarang dan kyungsoo (dan jujur bagian saat mereka di mobil itu membuatku tersenyum karena mereka pernah benar2 bahagia bersama). Aku selalu suka sarang yg bisa membuat hal2 menjadi lebih mengasyikkan, dan sarang ultah 3 agustus? Happy birthday!! Dan satu lagi, kenapa sarang hapal nomor pemadam kebakaran? Sarang harus mulai hapalin nomor org tuanya nih mulai sekarang.

  2. kyungsoo yg paling gregeeeeet,dia ini klo suka ya bilang aja suka kenapa susah bgt sih buat ngaku???
    ah ttep berharap kyungsoo-sarang CLBK
    monthly update jg gpp ko authornim,aku masih bersyukur ini masih di lanjut hehehe
    semangat yaaa

  3. Hahhh…
    Awalnya aku dukung Minseok-Sarang, tapi pas baca part ini gak gak tau kenapa malah jadi bimbang dan pengen Kyungsoo-Sarang CLBK *HAHAHA
    “Kyungsoo, kamu itu kenapa sih? Kalau sebenarnya masih suka Sarang kenapa harus putus?”
    Kalau pov, aku suka siapa saja😀

    *Oia, karena baca coment yg d part sebelumnya, aku juga nungguin Pastel lohh, siapa tau kalau baca ini jd makin semangat mau dilanjutin hihihi

  4. hai author-nim kesayangan~
    minseok sih yg bikin greget karna harusnya minseok harus jadi pemeran utama wkwkwk~
    btw dari chapter ke chapter aku ngerasa sarang dan minseok terjebak friendzone heuheu karna perasaan sarang dan kyungsoo yg masih jadi misteri ilahi xD
    aku masih dengan sabar menunggu gregetnya sarangXminseok loh~~
    dan jongin masih abu-abu buat aku, masih harus ngeraba sih baca katakternya. dan karna itu yang bikin penasaran akan kaya gimana cerita selanjutnya..

    alur maju-mundurnya favorite banget karna tetep mudah di visualisasikan, jadi berasa nonton adegan drama hehe^^

    ditunggu chapter selanjutnya🙂

  5. nggak nyangka kalau yang nulis surat seaneh itu kai yang karakternya disini kayak maskulin gemes gemes bodoh(?) gimana gitu..
    cast di chapter ini yang greget tentang kyung soo.. jadi foto cewek kencan buta itu haneul tooo (mungkin)..
    mereka putusnya gara2 itu karena kehadiran haneul atau masih adalagi?
    sumvah, aku senyum2 sendiri waktu momen kyungsoo sarang di mobil.. so sweet gimana gitu.. seorang do kyung soo gituin ceweknya kayak gentle gimana gitu menurut aku..
    tapi kalau masalah gentle sendiri, aku merasa terharu minseok bener bener buat hatiku goyah dibuatnya :))

    updatenya per bulan nggak papa kak.. tetap setia kok wkwk

  6. pov kyungsoo.❤
    Jantung hati bunda berubah pada akang kyungsoo. Author mah, pinter abis mainin hati pembaca. Kyungsoo manis maksimum, sampe tahun depan juga kita tungguin kok. Tapi, nggak sampe setahun juga kali.

    Besok ulangan mtk, dan kyungsoo memaniskan suasana. Dan well,Baekhyun benar-benar menghilang dari radar.

    pas si Jongin bego banget ninggalin kunci, aku jadi ingat ke begoanku sendiri terkunci diluar rumah nungguin ortu padahal aku sendiri punya kunci. walau nggak ada korelasinya sih.

    Sudut pandngnya seger banget, kak. Wuih, macam MCM dan nature republic. Dalam semua novel dan ff yg kubaca, ini adalah sudut pandang paling seger. }}

    Love u very much, kak.❤

  7. jujur sih ya kyungsoo ini yg paling greget!! Putusnya sarang kyungsoo kaya salah paham tapi yahh… yagitulah. Walaupun masih berharap banyak tapi kyungsoo balikan sama sarang rasanya kurang memungkinkan juga..
    Kalo minseok, uh ahhh dia juga greget banget pengen najong. Nunggu dia maju selangkah itu kok rasanya susah amat sih. Dan hubungan minseok-sarang ini yg jadinya semacam gak jelas; temenan nggak tapi deket. Dan belum ada semacam tanda yg lebih jelas tentang perasaan mereka. Huftt nunggu minseok suka sarang rasanya kaya nunggu sequel detour, antara gak sabar tapi tetep bisa nunggu dengan excited dan bener2 asdddffghjkll
    Daaaan…. chapter depan pengennya pov kyungsoo dan minseok. haha berasa ada di pihak luhan, klo dipikir2 mereka emang kaya rival sekarang😀

  8. dri awal baca detour sampe skrng catching feeling, aku masih ttp suka karakter luhan *nah loh* kyk apa yg pengen aku sampein, udh di sampein luhan😄 trus karakter luhan yg bikin lucu wakak

    yg bikin greget sih kyungsoo minseok dua2nya sama ya._. krn karakter mereka 50:50 tipikal yg serius2 gitu tpi diem2 sweet aduuh >< kyknya selera sarang gk berubah(?) dan jongin masih samar karakternya jadi mesti tunggu next chap^^ tpi mungkin aku lebih dukung ke minseok-sarang yaa. krn kyungsoo udh prnh d masa lalu(?) dan kalo mereka balikan lgi berasa ada yg kurang gmn gitu.. aku penasaran aja klo sarang-minseok bkl gmn hub lanjutnya (moment2nya), walaupun alasan kyung-sarang putus masih kurang jelas dan kyknya mereka masih saling suka?

    aku tunggu next chapternya kak! hwaiting~❤

  9. Ka maaf aku gak bisa ngasih masukan yang panjang karna aku udah terlalu penasaran sama next chap nya😂 dari semua co, aku suka kyungsoo ka entah mengapa hihi. Menurutku sarang x kyungsoo masih dapat diselamatkan ka. Persatukan mereka😂
    Update bulanan, tak masalah hihi. Semangat!

  10. Terlalu banyak cowo kece disini dan aku bingung main role cowo nya itu siapa? Terus kalo Sarang-Kyungsoo masih suka satu sama lain kenapa mereka putus? Terus yang nulis surat itu siapa? Bukannya Kyungsoo agak kurang sreg gitu ya sama Haneul, kok pas tau ada Haneul kencan buta dia langsung semangat gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s