Catching Feeling [10/?]

Chapter 10- Down For You

 

L U  H A N

 

Minseok tidak berhenti merapikan rambutnya selama perjalanan menuju rumah Sarang. Aku sempat berpikir ia akan menemui dosennya untuk janji makan malam demi kepentingan peluang internship tapi begitu dia memberitahuku ia pergi mendatangi Sarang untuk mengambil hamster aku berpikir laki-laki ini benar-benar sudah jungkir balik.

Ini agak mencengangkan karena sejujurnya sampai kemarin aku masih bercanda soal Minseok menyukai Sarang.

Aku selalu mengatakan hal yang ada di otakku tanpa memikirkannya, kemungkinan soal Sarang dan Minseok bersama selalu ada dengan aku yang tidak pernah memikirkannya lebih lanjut. Masalahnya adalah membayangkan mereka berdua sedikit absurd seperti membayangkan Minnie Mouse dan Donald Duck bersama.

“Apa aku perlu turun? Aku merasa mengganggu acaramu dengan Sarang.”

Minseok terdiam. Aku tahu dia akan mengelak, mengatakan ini hanya urusan mengambil hamster sehingga aku tidak perlu menganggapnya terlalu penting. Jadi aku menghela napas dan bersiap membicarakan kucing baru bibiku ketika tiba-tiba Minseok berkata.

“Kalau kau merasa seperti itu, silahkan.”

“Eh?”

“Bukankah kau bilang harus pulang cepat hari ini? Ada drama yang tidak boleh dilewatkan.”

“Wow kau benar-benar mengingat semua yang kukatakan, baiklah tolong turunkan aku di depan cafe itu.”

“Oke.”

Aku sampai mengerjapkan mata begitu menyadari ia benar-benar menghentikkan mobilnya. Baozi benar-benar menurunkanku. Ia menganggap aku adalah pengganggu acara mengambil hamsternya. Ia benar-benar melakukannya padaku. “Bye Lu Han!” Tepat ketika aku keluar dari mobil dan menutup pintu Audi hitamnya langsung melaju kencang. Baozi benar-benar berubah.

S A R A N G

Setelah Minseok memberikan sapu tangannya padaku suasana jadi sedikit canggung, maksudku, super canggung. Masing-masing dari kami tidak bicara, aku menunggu Minseok mengajakku bicara, mungkin ia bisa bertanya kenapa tiba-tiba aku menangis tapi sampai aku mengajaknya duduk di depan sofa TV ia tidak juga membuka topik. Aku membuang napas dan memilih duduk di sofa depan Minseok melirik laki-laki itu diam-diam sementara yang dilirik justru sibuk dengan ponselnya.

Sebenarnya aku bisa segera memberikan Hamsterville pada Minseok lalu ia akan pulang dan kecanggungan ini hilang. Tapi malam ini aku punya pikiran aku tidak ingin Minseok pulang begitu saja. Setidaknya kami bisa mengobrol, tentang apapun karena bagaimana pun ia adalah tamu pertamaku setelah sekian lama tidak ada yang mengunjungiku.

“Aku suka bajumu. “ Hanya itu yang terlintas di otakku. Hari ini Baozi terlihat tampan dengan turtle necksnya. Ia harus tahu ia terlihat bagus dengan itu jadi aku berdehem dan tersenyum. “Aku suka melihat laki-laki dengan baju lengan panjang, dan kau terlihat bagus dengan baju itu.” Aku mengatakan yang sejujurnya karena malam ini Minseok benar-benar terlihat berbeda, ia punya aura yang membuatmu ingin cepat-cepat mengenalkannya pada ibumu.

Minseok menyeruput jus jeruk yang kuberikan padanya lalu hanya memandangku. Ia bahkan tidak berterima kasih soal pujianku.

“Di mana kau membeli bajunya?” Aku benar-benar kehabisan topik tapi aku tidak ingin Minseok pulang.

“Ibuku membelikannya, aku punya dua, satunya lagi berwarna abu tapi aku kurang suka. Kau mau?”

“Tentu!” Aku baru saja mendapatkan baju gratis. Aku tersenyum, kebodohanku dalam mencari topik membuatku mendapat baju gratis.

Tiba-tiba aku membayangkan kami datang ke kampus dengan memakai baju kembar lalu aku akan memamerkan pada Haneul kalau laki-laki yang sempat kau incar ini adalah kekasihku. Tapi tidak boleh, menggunakan Minseok akan membuatku menjadi antagonis. Laki-laki seperti Minseok butuh seseorang yang tulus bersamanya, bukan aku sepertinya.

Lagu dari ipod dock masih berputar. Aku membuat playlist  karena mati bosan,  pertanyaannya kenapa kami harus berdiaman seperti ini ketika Weight in Gold – Gallant berputar. Lagu ini kupersiapkan untuk waltz ketika sejujurnya aku sama sekali tidak berdansa.

Sebelum aku sempat mengkhayal slow dancing dengan lagu ini aku cepat-cepat mencari kesibukan, seperti berpikir bagaimana membuat Minseok mau menengok padaku. Mungkin aku  bisa mengajak Minseok menonton film, lagipula aku sudah menyiapkan Popcorn Caramel kesukaannya. Dan begitu aku membuka mulut siap bicara Minseok masih terlihat sama kakunya. Sulit mengajaknya bicara, aku ingin menanyakan soal surat tapi Minseok pasti memberitahuku jika dia mendapat sesuatu jadi lebih baik aku mencari topik yang lebih ringan.

“Kemana burung beo yang di sana?”

Akhirnya. Ia berbicara.

“Fan Bing. Seseorang mencurinya. “ Aku menghela napas tiba-tiba teringat alasan sebenarnya kenapa aku sudah terkurung 72 jam di rumah.

Respon yang kudapat hanya anggukan kepala dari Minseok, ia merapatkan bibirnya seperti memikirkan kalimat yang tepat untuk menyemangatiku. Aku menunggu beberapa menit penuh antisipasi dan selanjutnya ia hanya memandang layar TV. Baozi lebih tertarik menonton Animal Planet dari pada berbicara denganku. Kim Minseok adalah laki-laki paling antiklimaks yang pernah kutemui.

“Minggu depan Nara ulang tahun. Ia menginginkan pesta ulang tahun dan mengundang teman-temannya. Ibuku sibuk dan kau tahu—“ Mata Minseok masih tertuju pada layar TV, memperhatikan singa betina yang sedang mengejar zebra tapi aku tahu ia hanya menghindari kontak mata denganku. “Aku kurang mengerti urusan begini. Kau bisa membantuku menyiapkan pesta untuknya?”

Tiba-tiba aku ingin tertawa. “Tentu. Aku suka pesta.” Aku segera beranjak dari kursiku dan mengambil tempat di sampingnya. Minseok tidak bergeser meskipun bahu kami bersentuhan yang artinya mungkin laki-laki ini sudah menerimaku sekarang. Aku suka duduk di sebelah Minseok, selama kami di Jepang aku selalu mencari posisi di sebelah Minseok karena berada di dekat laki-laki ini sering membuatku merasa aman, meskipun kebanyakan setiap saat aku mencoba mendekatinya ia selalu beranjak menghindariku.

“Pesta seperti apa yang Nara Inginkan?”

Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya dari TV dan memandangku.  Pipinya memerah jadi kukira ia merasa malu tapi saat aku tidak sengaja menyentuh tangannya, aku tahu ini karena demam. “Ia ingin mengatakan pesta piyama? Atau semacam itu—“

“Kau sakit Baozi.”

“Nara ingin memanggang kue dan aku tahu dia tidak bisa memasak, apalagi aku jadi—“

“Suhu tubuhmu panas Baozi. Kau benar-benar sakit.” Aku menggenggam tangannya dan Minseok melepaskan genggamanku perlahan. “Aku takut ini gejala typus.”

“Di mana hamsternya? Aku harus cepat pulang.” Tahu-tahu ia beranjak dari kursi. Aku ingin menahannya, lebih baik Baozi meminum obat penurun panas sebelum ia menyetir, jarak dari rumahnya ke rumahku benar-benar jauh.

“Hamsterville di atas meja makan— kau boleh mengganti namanya.” Aku menunjuk meja makan dan Minseok segera beranjak dari sofa. Ia langsung mengangkat kandang hamster itu dan terlihat bersiap pulang. Entah kenapa aku merasa panik, bukan seperti ini harusnya.

“Aku baru memanggang banana muffin dan tidak ada seorang pun di sini yang ingin mencobanya. Kau ingin mencoba kueku?” Aku menahan Minseok tepat ketika ia meraih kunci mobil. Minseok mengerjapkan matanya, menimbang banyak hal karena keningnya sampai berkerut, aku sudah bersiap ia akan menolak tapi detik berikutnya ia mengangguk.

L U  H A N

Aku pernah bermusuhan dengan Sarang ketika aku tidak sengaja menghilangkan pulpen kesayangannya untuk kedua kalinya. Sarang tidak benar-benar menunjukkan kemarahannya, ia hanya mengabaikanku setiap aku mengatakan selamat pagi, lalu aku pernah melihat ia mencoret fotoku yang dipajang di majalah dinding sebagai juara pertama. Baiklah ralat, dia benar-benar menunjukkannya.

Sarang mengacuhkanku jadi mungkin sampai dua minggu kami benar-benar tidak pernah mengobrol sampai suatu hari aku mendapat masalah. Semua bermula karena katanya aku merebut pacar Yoonsoo, lalu kebetulan saat itu aku memakai sneakers palsu dan Yoonsoo memancing semua orang untuk memojokkanku. Tidak ada yang berada di pihakku. Aku hanya tertawa karena semua ini benar-benar sepele, mereka tidak benar-benar menindasku, mereka hanya takut pada Yoonsoo yang ayahnya merupakan donatur terbesar. Jadi ketika semua orang ikut mempermalukanku aku hanya bisa berusaha meyakinkan diriku kalau mereka hanya bercanda. Yoonsoo berakhir merebut sepatuku dan hampir membuangnya keluar dari jendela, aku tidak ingin berkelahi jadi aku membiarkannya membuang sneakers sialan itu. Saat itu Sarang muncul dan merebut sepatu itu dari Yoonsoo. Ia mengembalikannya padaku lalu membuat Yoonsoo diam.

Setelah itu aku meminta nomor ponsel Sarang, aku menyukainya dan kupikir kami cocok. Sarang memberikanku nomornya dengan mudah dan begitu aku mencoba menelpon nomor itu, ternyata ia memberikanku nomor ayahnya.

Besoknya aku tahu Kyungsoo menyukai Sarang.

***

Kyungsoo berada di kelasku pagi ini. Aku mengerjapkan mata melihatnya berada di sini. Terlalu aneh, karena Kyungsoo selalu punya seribu alasan untuk menghindari kelasku. Dengan alasan utama tidak ingin bertemu Sarang yang artinya ia tidak berani masuk ke kelasku.

“Kyung—“

“Kembalikan suratku.” Kyungsoo langsung menghampiriku. Tatapan tajamnya tidak bercanda, ia benar-benar marah untuk alasan yang aku bahkan tidak tahu.

“Surat apa?”

“Surat yang kubuat untuk Sarang ketika kita bermain truth or dare dulu. “

“Surat—“ Aku terdiam. Dulu kami bermain truth or dare, aku meminta Kyungsoo menulis surat cinta karena itu benar-benar lucu, seorang Do Kyungsoo, menulis surat, tambahan surat cinta. Lalu aku ingin memberikannya pada Sarang tapi ia berhasil merebut surat itu sehingga pesan memalukan itu tidak pernah terkirim.

“Kau merebutnya dariku! Aku tidak menyimpannya!” Aku mendorong bahu Kyungsoo menjauh dariku. Kyungsoo menatapku bingung, sekarang ia kelihatan panik.

“Bukan kau yang mengambilnya?”

“Tidak. Bukan aku. “ Aku memutar bola mata sementara Kyungsoo langsung merogoh sesuatu dari kantong kemejanya.

“Jadi siapa yang menulis ini?” Ia menunjukkan secarik kertas lecek, aku memincingkan mataku untuk melihat lebih jelas, tulisannya benar-benar jelek aku mulai tersinggung bagaimana bisa Kyungsoo mengira tulisan sejelek ini adalah tulisanku. ‘Pesan tersampaikan~’ Siapa yang menulis kalimat itu? “Jongdae.”

Aku segera menatap Kyungsoo. Kyungsoo berbicara sendiri, wajahnya mengingatkanku pada Sherlock Homes yang baru memecahkan kasus. “Minggu lalu Jongdae datang ke kamarku, senyum di wajahnya aneh sekali waktu ia pulang.  Itu pasti Jongdae.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Di mana Jongdae?” Kyungsoo menatapku panik tiba-tiba aku merasa kasihan.

S A R A N G

Saat aku membuka pintu kelas di saat bersamaan Kyungsoo keluar. Kami berdua terlalu kaget untuk bisa mengucapkan apapun. Aku masih mematung berdiri di tempat yang sama sampai akhirnya Kyungsoo mengatakan selamat pagi lalu berlari.

“Apa yang Kyungsoo lakukan di sini?” Aku segera mengambil kursi kosong terdepan sementara Lu Han yang sepertinya kaget melihatku datang hanya menaikkan bahu.

“Aku hanya ingin bertanya— kau tidak perlu menganggapnya serius oke?”

“Apa?” Lu Han mulai berbasa-basi, beberapa hari lalu ia sempat memohon padaku menemaninya datang ke gedung broadcasting untuk memastikan apa ada ular di sana. Aku kehilangan pendapat soal Lu Han setelah kejadian itu, kalau sekarang ia masih membicarakan ular maka aku—

“Apa kau mendapat surat dari Jongdae?”

“Surat?” Aku menengok ke belakang. Lu Han sudah menaikkan kakinya ke atas meja dan begitu ia menyadari aku menganggap serius perkataannya ia langsung memandang langit-langit. “Apa yang kau maksud surat? Surat seperti apa?”

“Tidaak~ kubilang kau tidak perlu menganggap ini serius kan?”

“Lu Han. Kau tahu soal surat itu? Siapa pengirimnya? “

Lu Han bersiul. Ia bodoh sekali. Aku ingin bertanya, apa alasan Kyungsoo berada di kelasku karena surat itu? Tapi kalau Lu Han menjawab ‘ya’ aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan kalau ia mengatakan ‘tidak’, ia akan membual menujukkan dirinya memang tidak bisa berbohong. Jadi aku memilih kembali membalikkan badan. Tapi selanjutnya Lu Han menghela napas lega terlalu keras membuat semuanya menjadi lebih jelas.

***

Aku merasa Minseok mulai menyalahgunakan kebaikanku. Ketika aku mengatakan aku akan membantunya soal pesta ulang tahun Nara aku tidak mengira ia akan menganggap bantuanku adalah hal yang mudah didapatkan.

Saat aku masih sibuk memilih rasa Pocky di dalam minimarket tahu-tahu Baozi  sudah berada di sampingku terengah-engah kehabisan napas. Tiba-tiba tanpa pengantar ia mengatakan ada pertandingan penting yang tidak boleh dilewatkan, lebih penting dari pada kelahiran adik pangeran George sehingga mau tidak mau aku segera mengiyakannya.  Tahu-tahu ia memberikanku kunci mobilnya lalu mengatakan aku harus ke sekolah Nara untuk mengantar sesuatu. Aku belum sempat memproses apapun tapi ia segera berlari mendorong pintu keluar.

Hal yang membuat ini menjadi tidak biasa adalah ia memberikan kunci mobil Audi kesayangannya padaku ketika ia sendiri tidak tahu apa aku bisa menyetir mobil. Harusnya aku bangga, atau setidaknya senang Kim Minseok benar-benar mempercayaiku sekarang, tapi membuatku repot untuk urusan pribadinya, itu agak menjengkelkan.

“Hai hai Sarang.” Lu Han masuk sambil memakan Cheetosnya. Ia terlihat begitu bebas dan pengangguran dengan mulutnya yang belepotan MSG sehingga aku berpikir untuk memintanya mengantarku. Tapi menatap Lu Han saja sudah sulit,  tidak mungkin aku meminta bantuannya, jika aku melihatnya lebih lama lagi aku tidak bisa menahan diri untuk menanyakan siapa pengirim surat.

“Hai.” Aku membalas singkat dan melupakan rasa Pocky yang harus kubeli demi menghindari Lu Han yang rupanya masih ingin membeli Cheetos.

Tanpa sadar aku berjalan cepat sampai berpapasan dengan Haneul yang sibuk dengan gengnya, teman-teman perempuan yang beberapa hari lalu sukses mengadakan pesta kejutan untuknya sehingga Haneul sekarang menganggap mereka lah sahabat sesungguhnya. Aku melambaikan tangan  dan Haneul membalas lambaian tanganku lalu kami selesai.

Saat aku menyerah dan berpikir untuk menelpon Minseok protes soal permintaan egoisnya, Jongin lewat di depanku. Ia melangkah di depanku tapi sibuk dengan ponselnya sehingga tidak menyadari aku sedang tersenyum padanya.

“Ekhm—“ Aku terbatuk. Cukup keras harusnya untuk membuatnya menengok padaku.

Jongin menoleh padaku, memandangku bingung sekaligus canggung. “Eh, sori— aku tidak melihatmu.”

“Tidak apa-apa.” Aku berjalan menghampirinya, “Jadi aku membutuhkan bantuanmu tapi kalau kau sibuk tidak masalah, aku bisa meminta bantuan yang lain.”

“Aku sibuk.” Jongin memandang jam tangannya sekilas lalu menatapku dan tersenyum.  “Tapi ini hanya sebentar, kau bisa menungguku sebentar di sini?” Senyuman Jongin membuatku mau tidak mau ikut tersenyum, Jongin benar-benar tahu bagaimana memperlakukan wanita.

“Tentu, aku akan menunggumu.”

“Aku hanya sebentar!” Ia berlari mundur sambil menyahutiku.  Hari ini Jongin memakai kemeja putih, lengan panjang favoritku, jika Minseok adalah laki-laki yang harus dikenalkan pada ibumu, maka Jongin adalah laki-laki yang harus dikenalkan pada mantan pacarmu. Siapapun akan bangga mempunyai orang seperti Jongin berada di sampingnya.

Sambil duduk di kursi taman bawah pohon aku mengirim pesan untuk Baozi. Mengatakan ia harus membayarku dengan makan siang di hotel bintang lima. Aku setengah bercanda soal itu tapi lima menit kemudian ia membalas pesanku mengatakan ‘oke’.

Tanganku kaku ketika aku memikirkan apa yang harus kubalas. Mungkin Baozi juga setengah bercanda. Dia tidak mungkin rela menghabiskan uangnya untuk Lee Sarang, bahkan Kyungsoo yang ayahnya memiliki hotel tidak pernah mentraktirku di hotelnya. Sesuatu ada yang salah, aku tidak bisa membayangkan memakai dress untuk fine dining dengan Kim Minseok.

“Hei.” Aku menengok ke atas. Seseorang memanggilku. Ada Jongdae berdiri di depanku, kehabisan napas dengan wajahnya yang memerah. “Dengar baik-baik aku hanya akan mengatakan ini sekali—si pengirim surat“

“Jangan katakan.”

“Eh?”

Jongdae kelihatan bingung dengan jawabanku. Ia menungguku bicara sekaligus mengatur napasnya, apa rentenir sedang mengejarnya? Aku dapat melihat kaosnya kebahasan karena keringat dan begitu aku ingin membuka mulut seseorang menarik Jongdae menjauh dariku.

Kyungsoo menutup mulut Jongdae. Ia terlihat sama kehabisan napasnya sehingga bisa kupastikan dua orang itu sejak tadi berkejaran. Aku memilih memaksakan senyum, entah kenapa situasi ini agak aneh, ini pertama kalinya aku melihat Kyungsoo kehabisan napas. Kyungsoo melirikku hati-hati dan begitu tatapan kami bertemu ia segera menghindar lalu menarik Jongdae paksa menjauh.

Dari kejauhan dua orang itu terlihat bertengkar, atau aku dapat melihat Kyungsoo bertolak pinggang sementara Jongdae meringkuk memegang perutnya, suaranya tawanya terdengar sampai ke sini. Interaksi mereka seperti menonton sitcom menarik jadi aku terus memperhatikan mereka. Ketika kukira semua sudah selesai dan Jongdae berjalan pergi entah kemana Kyungsoo justru menghampiriku. Rambutnya basah karena keringat, aku sudah ingin memberikannya sapu tanganku tapi melihatnya dari jarak dekat membuat semuanya sulit.

Ia memberiku kejutan dengan duduk di sebelahku. Lalu menengadahkan kepalanya ke langit sambil menarik dan membuang napas.

“Karena lebih baik kau mengetahuinya langsung, aku akan mengatakannya sendiri.”

Tanpa sadar aku menahan napas. Apapun yang Kyungsoo katakan aku tidak siap mendengarnya. Aku benar-benar ingin beranjak dan kabur tapi aku tahu setelah itu aku akan menyesal seumur hidup lalu memikirkan berkali-kali apa yang ingin dikatakannya. Jadi aku menghitung mundur dalam hati, menenangkan jantung yang berdetak lebih cepat dari Kyungsoo yang sepertinya habis berlari mengelilingi kampus mencari Jongdae.

“Surat yang kau terima. Yang mengatakan episode tujuh atau apa, itu surat dariku.”

Aku menengok pelan. Dari ekor mataku Kyungsoo terlihat masih menengadahkan kepalanya ke langit, jadi aku memberanikan diri untuk memandangnya tapi begitu aku menengok ia ikut menengok,  mata kami bertemu tapi Kyungsoo langsung memutuskannya dengan kembali menatap ke depan. “Aku menulisnya selesai drama Snow White itu, aku dan Lu Han bermain truth or dare ia memintaku menulis surat untuk orang yang kusuka, ia tidak memperbolehkanku menulis surat untuk ibuku  jadi—“

“Jadi sebelum aku menyatakan kau sudah menyukaiku?”

“Mmm.” Kyungsoo hanya menggumam dan itu lebih dari cukup.

Selama ini aku selalu berpikir Kyungsoo menerima pernyataanku karena kasihan melihatku. Saat itu kondisiku menyedihkan, geng Yoonsoo mengerjaiku dengan menyiram air bekas pel karena aku pernah membela Lu Han yang merebut pacar Yoonsoo, lalu Kyungsoo membantuku dan aku menyatakan perasaan saat itu juga. Ia menerimaku saat itu juga jadi hari yang harusnya menjadi hari tersial seumur hidup menjadi menyenangkan karena Kyungsoo.

“Apa ketika aku menyatakan perasaan padamu kau melompat dalam hati?”

“Aku tidak melompat dalam hati.” Jawaban Kyungsoo menghentikkanku dari nostalgia, aku segera menengok dan melihatnya tersenyum. “Aku benar-benar melompat di kamar malam itu.” Lalu ia tertawa. Mata kami kembali bertemu dan aku tersenyum.

“Jadi, selesai salah paham ini. Apa kau menunggu seseorang?” Kyungsoo cepat-cepat mengganti topik. Terlihat sekali ia benar-benar tidak nyaman membahas masa lalu sementara aku terus terang kecewa karena kupikir aku bisa mengembalikan hubunganku dengan Kyungsoo dengan percakapan ini.

“Aku menunggu Jongin.”

“Jongin?” Matanya terlihat bingung. Ia tidak terlihat cemburu, hanya bingung. Aku mengharapkan reaksi yang lebih seperti pertanyaan protektif ada apa dengan Jongin tapi Kyungsoo hanya mengangguk-ngangguk.

“Itu dia Jongin!” Aku melihat Jongin 15 meter dari sana berlari kecil sambil melambaikan tangannya.

Aku benar-benar berdo’a menginginkan Kyungsoo untuk melakukan sesuatu sehingga percakapan ini berakhir spesial, tapi aku tahu menunggu Kyungsoo tidak terlalu menghasilkan sesuatu. Aku belajar dari pengalaman, menunggu laki-laki itu menjadi lebih peka buang-buang waktu. Jadi aku memberanikan diri, mengatakan semuanya dengan cepat sebelum Jongin sampai di depan kami.

“Aku masih menyukaimu dan kupikir kau masih menyukaiku jadi bagaimana?”

Kyungsoo mengerjapkan matanya, ia memandangku kaget, tidak bingung hanya kaget dan ketika seperkian detik aku menyesal mengatakan kalimat itu Kyungsoo menggenggam tanganku. Menunjuk Jongin dengan dagunya dan tersenyum. “Kalau begitu katakan pada Jongin kau tidak jadi menunggunya.”

“Oke.” Aku membalas genggaman tangannya, tidak terlalu erat persis seperti yang kita lakukan dulu.

Author’s note:

HAI.

Gimana pun juga akhirnya aku bisa updatee yesh. Hello Kyungsoo kembali hm i know banyak yg ngira si pengirim surat jongin? Tp di chapter sebelumnya aku udh ngasih clue kyungsoo nanya ‘kau tahu episode tujuhnya?’ Jadi kukira itu udh enggak ambigu lagi? heheh.

Setiap komen yang adaaa aku sukaaa bgt tapi aku ga bisa bales sesering dulu tp untuk chapter ini aku benar-benar kangen interaksi sama kalian jadi plis tinggalin feedback buat aku kita ngobrol lagi. Siapa tahu aku jadi makin semangat update!

 

 

 

29 thoughts on “Catching Feeling [10/?]

  1. comment pertama yehey!
    suka banget chapter ini, berantai semuanya dan percakapannya ringan tapi asik. Harus jujur nih…. CERITA INI BIKIN BAPER BANGET KARENA KAYAKNYA SEMUA ORANG BISA RELATE KE CERITA INI HEHE… curhat kan tuh aku haha!
    kangen ka pikraaa ^^

    • HAHAH pokoknya apapun yg terjadi catching feeling definitely not harem yah kedepannya bakal ada pencerahan kok siapa pairing sebenernyaa. HUuuu kangen juga nay :”

  2. kak jujur ini kelewat manis, aduhai apalah, aku sampe nyengir2 ala idiot gitu
    alurnya sesungguhnya sangat menipu, bikos si pengirim surat bisa merujuk ke siapa aja, eh, tau2nya si kyungsoo
    ih, apalah ini manis sangat😀
    dibagian luhan yg dikasi nomer telpon ayahnya sarang buat aku cekikikan😀
    sampe saat ini cuma tulisan kakak aja yg masih kupantengin dan paling kutunggu-tunggu
    SEMANGAT KAK!!!
    YEAY BAKAL ADA KYUNGSOO LAGI!!!❤❤❤

    • Yeees makasih semangaatnyaaa haha dr awal kyungsoo kok haha tadinya mau ngasih clue lagi tp takut terlalu jelas jadi ga seru yaudah ambiguin aja hehe

  3. Omgee tertipu si pengirim surat. Yah, sarang balikan sama kyungsoo dan artinya kemungkinan besar minseok akan patah hati. Aku bener2 suka sama minseok di ff ini dan dari dulu aku ngedukung sarang-minseok, tp gapapalah sarang balikan sama kyungsoo. Pesan aja nih buat kyungsoo kalo gak mau kehilangan sarang lagi peka dikit lah masa sarang yg nembak, sarang yg minta putus, sarang juga yg minta balikan?

    Ohiya kalau minseok tipe yg pengen dikenalin sama org tua, jongin sama mantan, trus kyungsoo pengen dikenalin sama siapa? Sama reader? Hahahha

    Awesome story kak! Hehehehe

  4. Sumpahhhh.. seneng banget ada update dari pikrachu. Sampai lompat lompat *hehehe*
    Dr chapter sebelumnya aku kira Jongin yg kirim surat, soalnya pas percakapan itu, aku kira Jongin yang nanya tentang episode tujuhnya. Ah apa? Itu dari Kyungsoo? Omaigattt, pantes aja gitu, isi surat cintanya beda banget sama surat cinta yang biasanya. Ahhh Kyungso-ya~

    Dan apa? Kejutan part ini ngehhh bangeeett!! Mereka balikannnnnnnn!! Yuhuuuuuuuu~ aaahhh
    Kisah-kisah masa lalu mereka tuhh manis banget, seneng kalau misalnya bahas-bahas pas mereka awal-awal mereka pacaran.
    Tapi kalau mereka balikan, Minseoknya bagaimana? Hahahaha😀
    Tapi sumpah, seneng mereka balikan😀

    p.s. semangat yahh nulisnya, supaya updatenya juga cepat hihihi penasaran sm hubungan Kyungsoo-Sarang-Minseok

    p.s. p.s Pastelnya juga dong,nam Oh My Prince kalau bisa >,< aku nungguin lohhh hehehehe

    • Hahaaa ternyata yg suka kyungsoo-sarang banyak jugaa kukira udh banyak yg ga suka sm dyo disini:/

      Aku ga sabar nulis bagian minseok mmmm kita liat gimana itu kabar cowok.

      Pastel oh my princee… Haha iya bakal kulanjutin entah kapan? Tp bakal dilanjutin🙂

  5. kakaaaaaak aduuuuh aku suka suka suka banget chapter iniiii YEAH akhirnya mereka balikan lagi.. adududuuuh doa ku terkabul.. makasih kak pikrachu yang cantik imut baik hati dan tidak sombong…
    Hahaha aku jadi makin excited sama next chapnya… jadi jadi jadi aku berdoa lagi supaya happy ending dan sequel detour cepet publish!!!
    semangat kak pikrachu!!!

    • Hahhaa clbk nya sarang sama kyungsoo ini banyak juga pendukungnya ya ._. Iyaa sama2 buat reader yg baik dan tidak pelit komen ini🙂

      Huhuhu happy ending itu relatif sih ya tapi aminin dulu aja c:

  6. gila gila gila

    nggak bisa napaaaaas

    aku suka do kyung soo dari awal debut.. and then, disini aku ngerasa kalau dia itu emang the best

    nggak tau kenapa tapi walaupun suka mereka hanya pada sekeliling orang2 itu,, mereka punya cerita sendiri2 cara menyukai dan apalah itu

    aku sukaa banget

    seandainya aku bisa seperti sarang..

    oh god, ini bagaikan kejutan indah buat aku yang baru buka blog ini

    ceritanya terlalu buram untuk diprediksi.. tapi itu yang buat kereeeen

    semangat kak ceritakan minseoknya dan pasangan baru kembali kita beserta luhan dan kai

    hmm itu kayaknya semuanya deh —

    yang pasti ditunggu kelanjutannya ^^

    • Haii kyungsoo biased!! Fuh lega doi di catching feeling banyak juga pendukungnya c:

      Ehehehey loveline catching feeling enggak sesulit itu untuk diprediksi kok😉

  7. AAAAAAAAA aku tidak melompat di kamar, tapi hampir jatoh dari kasur gara2 guling2 saking senengnya asdfgnmhsklsgkl kyungsoo sarang…… Ceelbeka??? oh yampun hahaha speechless :”)
    uhhh susahnya nahan senyum, ending chapter ini spesial banget. hmm yeah scene biasa aja sih, tapi ini kyungsoo sarang!! yaluhan kenapa jadi kaya tante hebring begini hahaha
    tapi gimana sama minseok… yg ini ganjel banget, liat gelagat minseok yg udah agak berubah gitu juga rasanya seneng. Tapi kalo dia bener2 suka sarang, lalu patah hati karna sarang sama kyungsoo….. kan sedih juga😦
    Next chapternya ditunggu terus nih. Kyungsoo nya pengen dibanyakin lagi kaaaakk :3 hehe

    • Selalu ada pengorbanan yah sekali ocnya jadian sama cowo😦 enggak apa2 cerita kita belum selese kok aku juga sedih untuk baozi tp gimanapun juga kyungsoo sarang balik rasanyaaaa gimanaa gituu iyaa kyungsoonya dibanyakinnn pasti😉

  8. Eonii .. Aku ngerasa dipermainkan oleh eon .. Kali ini jangan salahkan aku klau aku lebih ngeship Sarang Minseok karena aku ngerasa mereka lebih real untuk kehidupan sehari hari tapi aku merasakan sedikit kesamaan antara Kyungsoo dan Minseok .. Mereka sama” gk bisa diharapkan untuk peka .. So the resul Sarang harus bkin pergerakan terlebih dulu .. Kali ini walaupun D.O hiaslu aku ttep gk rela Sarang diambil sama D.O .. Saat udah ada kode antara Sarang Minseok ternyata Sarang dan kyungsoo officially dating walaupun tak terduga .. Jadi, apa maksud sarang yg mengatakan Jongin adalah tipe cowok yg harus dikenalkan kepada mantan pacar lalu D.O skrng apa ? Minseok dikemanain ? Aaa maafkan aku yg terlalu menggebu gebu di chapter ini krna aku u

  9. omg kak akhirnya yg ditunggu2 selama sebulan sekali haha😄
    aku bener2 gak kepikiran klo yg nulis suratnya itu kyungsoo
    kyungsoo sarang balikan? yah padahal minseok sarang udh mulai deket ya, aku ngeship mereka bgt.
    aku penasaran gimana reaksinya minseok waktu tau mereka berdua balikan ya? hmm
    pokoknya ceritanya manis banget deh, gasia2 aku nunggu sebulan buat baca ff kak❤❤

  10. aaaaaaakk aku baru baca~~~~
    awal baca chaptee ini aku seneeeeeeeng, well perubahan minseok yg di sadarin luhan buat aku senyum-senyum kupikir sudah ada awal yg cerah untuk hubungang minseok-sarang. taunya di akhir chapter sarang malah ngajak kyungsoo balikan huhuhuhu😦

    sebagai shippernya minseok-sarang kucemburuuuuuuu~

  11. Sarang balikan ??
    Meraka balikan ??
    Terus minseoknya gimana thor ??
    Aaaaaa jerit” sendiri baca adegan kyungsoo-sarang, sumpah so sweatnya minta ampun thor, manis banget tapi si D.Onya kelewat gk peka
    astaga aku suka adegan mereka, buat minseok yg sabar yah ^^
    ini end-nya nanti gimana thor ? Aduuh pengen sarang ama kyungsoo tapi minseoknya gimana ?
    But I love sarang-soo couple😀

  12. Kaaakkk ya ampun seneng banget. biasanya sebulan sekali update tapi ini dua bulan aaakkk!!!! suka banget sama gaya tulisan kakak. sekarang aku lagi belajar nulis pake sudut pandang pertama tapi lumayan aneh kak huhuhu
    Tapi tapi seneng sih mereka balikan. tapi Min Soek gimana?? kak buat Minsoek bahagia donggg

  13. Ya ampuuuun aku sampek nyubit adek aku sangking gemesnya sma ff ini
    Ff kamu tu benar2 masuk list “must read”
    Aku udh promosiin ke temen2 adek aku tetangga aku yg suka baca ff jgaa biar ada kawan ngebahas hehehehe. Walaupn gk ada sehunnya tpi kyungsoo aja dh paket lengkap d tmbah luhan jongin udh deh udaaaah, as always selalu suka sma kata2 kamu kyak jongin hrus d kenalin ke mantan pacar, klau kyungsoo harus d knalin kemana?😄
    Sorry aku lupa yg kyungsoo nanyak episode tujuh tu d chapter berapa yaa? :”’ soalnya jarak aku ngebaca ff ni jauh jdi sekayak lupa prev nya tu gmna, ntar aku coba ulang dri yg prtama xD
    And please let me know gmna caranya nge share ff ini ke fb atau twitter selain dengan harus copas url nya, ada gk?

    • Aaaaah makasih sehunaaaa aku terharuu :–)

      Sehun si dedek kesayangan bakal ada kok even cuma cameo #spoileralert

      Kyungsoo nanya di chapter sebelum ini 9 kalau ga salah

      Oia aku ga tau cara sharenya ._.

  14. wahaha~ selamat berbaper-ria~

    Kok aku semakin lama kaya semakin mengerti karakternya si Jongin yak? Dia itu semacam diriku kalau aja aku bisa masuk ke dalam ceritanya. LOL.

    dan Ungchu, menurutku kamu terlalu ajaib. Sarang juga.

    Good Job Author-nim! montly update, pengalaman nunggu cerita sampai janggutan dan setelah post wawawa as good as the expectation. Makasih udah update kak! ceritanya bagus, punya sarang kak!

    *SERiUSface* “Gak nyoba ngirim naskah ke penerbit, kak?” *Kedip* *LirikHarudanGrasindo*

    • *Blushface* wahaha makasih atas komennya kamu lovely bgt /wink wonk

      Hehe omaigad aku tersanjung nih kadang kepikiran lho tp semakin dipikirin semakin kayaknya enggak mungkin haha

  15. Makasih kaka udah bikin sarang dan kyungsoo kembali bersama😘😘 benar2 tipikal sarang, penyampaian karakternya udah kena banget kaa, keren!
    Soal Kyungsoo, aahhh~ dia gak bisa lebih keren lagi dari ini, tolong, aku bisa gila senyum2 sendiri tiap baca ini FF. Aku tunggu lanjutannya ka, semangat!

  16. Hai kk,salam kenal.
    Aku udh suka sm tulisan kk dari pastel loh, tulisan kk itu beda jadi pas bacanya juga enak banget..
    Gara2 baca ff ini jdi suka karakternya kyungsoo.
    Aku udh baca tulisn kk dari lama cuma baru bisa komen di sini.. maaf ya klo selama ini jadi silent readers.
    Selalu semangat kk tulisnya dan juga tungguin kisahnya sini-sehun-tao..
    Ditunggu update tan selanjutnya..
    Sekali lagi salam kenal kk 😊

  17. wah… gak sabar nunggu updatenya huhu… tiap hari bolak-balik buat mantenginnya hee…

    aku fans minseok tapi mau endingnya bagaimana aku yakin minseok orang yang kuat… ahahaha😀 kalau gak ntar biar aku yang pukpuk dia kekekeke~~~

  18. Ya Allah emak bapak enyak babeh mpok abang ternyata yang nulis surat si Kyungsoo toh😂 soal clue di episode sebelumnya sih agak kurang ngeh juga sih aku😂😂 terus kalo Kyungsoo-Sarang CLBK si Minseok gimandos?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s