Interval [2/?]

 

 

Chapter 2- Yes, of Course it Hurts

 

Chaeri dulu berpikir kalau perpisahannya dengan si adik nanti mungkin bisa agak emosional, siapa tahu karena sebelumnya ia memang tidak pernah berpisah dengan Daeha selain soal Chaeri kena cacar dan harus jaga jarak selama seminggu. Di hari terakhirnya sebelum keberangkatan ia bahkan sempat membeli satu pack tisu, berjaga kemungkinan dirinya menitikkan air mata bukan karena menguap terlalu lebar. Tapi kenyataannya sampai Chaeri berada di bandara untuk kepergiannya ke London hal terakhir yang Daeha bicarakan masih soal Pokemon Ash’s Final Quest. Tidak ada kalimat soal kakak jaga kesehatan atau harus sering pulang, yang ada hanya Daeha yang mengingatkan Chaeri jangan menggunakan hack untuk menamatkan gamenya. Karena sepertinya di kepala Daeha perihal Pokemon sama pentingnya dengan pemilihan presiden Chaeri berpikir mungkin Daeha memang orang seperti itu, mungkin Daeha tidak akan menangis meskipun kakaknya pergi karena toh yang penting bukan Nintendonya yang pergi. Dan pagi ini kesimpulan Chaeri harus berubah. 

 “Katanya Pokemo—“

Apa warna Peach Caramel cocok untukku?”

“Sori?” Mata Chaeri menyipit, ia sampai menghentikan sendok yang sudah hampir masuk ke mulutnya.

“Warna ini.” Daeha menunjukkan lipbalm yang sedang dipegangnya. “Cocok untukku?”

“Kurang.” Chaeri menjawab singkat lebih terganggu dengan fakta Daeha menyelanya (soal Pokeomon) dari pada melihat apa warna lipbalmnya. “Sejak kapan kamu pakai benda itu?”

“Sejak bibirku kering. Hari ini aku harus pergi. ” Daeha mengoleskan lipbalm pada bibirnya, Chaeri sampai harus menggosok mata untuk meyakinkan kalau yang dipegang Daeha memang lipbalm bukan permen.”Dan ibu tadi menitipkan pesan jangan lupa bilang pada kakakmu minggu ini dia harus ke Jeju untuk menjenguk kakek.” Lanjut Daeha sambil beranjak dari kursi makan.

“Kakek?” Chaeri menaikkan alisnya lebih kaget lagi soal Daeha yang ternyata hari ini memakai rok dari pada perintah dia harus ke Jeju.

Duh sekarang setiap dua minggu sekali keluarga kita selalu mengunjungi kakek. Setelah nenek meninggal kakek tidak ingin meninggalkan rumah tidak ada yang mengurusnya selain tetangga sebelah.”

“Aku sendirian? Bagaimana denganmu?” 

Daeha yang sejak tadi mengikat tali sepatunya menengok pada Moon Chaeri, kakak perempuannya yang di rumah memakai baju dimasukkan ke dalam celana training panjang dengan ujung celana dimasukkan ke kaos kaki sebetis. Katanya adalah si kakak kebanggaan yang berhasil kuliah di Oxford. “Aku tidak peduli kakak sendirian, tapi kakek jangan sampai sendirian. Minggu lalu ibu sampai ke Jeju telat dan kakek sudah tiduran di kursi teras menunggu ibu.”

Chaeri menatap Daeha lekat-lekat. Dari kaki sampai kepalanya, adiknya benar-benar membuat kejutan hari ini. “Daeha sebenarnya kamu sudah menstruasi ya?”

“Hah?”

Tanpa menunggu jawabannya Chaeri langsung beranjak dari kursi, meninggalkan mangkok sereal yang setengahnya masih terisi. Tiba-tiba ia tidak berselera padahal serealnya sudah diberi potongan pisang kesukaan. “Bilang ke ibu aku berangkat hari ini dan akan berada seminggu di sana.” 

“Tiga hari saja sudah cukup sebenarnya.” Daeha mengerutkan keningnya melihat Chaeri yang sudah berjanji merapikan meja makan pagi ini justru kembali ke kamarnya. “Hei siapa yang mengelap meja sekarang? Aku harus pergi!”

“Aku juga harus pergi kan. Kamu yang merapikan.” 

Sambil membuang napas Daeha kembali melepas ikatan sepatunya. Si kakak selalu seperti ini, mengambil keputusan sesukanya. “Karena kau seperti ini makanya Mr. B meninggalkanmu.”

“DAEHA.”

 

 ***

 

Ada quotes yang Chaeri tempel di dinding kamarnya di London. Karena terlalu setuju dengan kalimat itu ia sampai membawa pulangnya ke Korea dan sekarang sudah dipajang tepat di atas meja belajar. Seseorang pernah mengirimkan kata-kata ini ketika Chaeri cerita kalau rutinitasnya terlalu merepotkan tanpa bisa dinikmati. 

Lives moves pretty fast. If you don’t stop and look around once in a while. You could miss it.

“Dan mungkin karena terlalu lama berhenti aku sampai lupa hal yang seharusnya kukerjakan.” Chaeri nyaris berbisik pada dirinya sendiri. Tiga bulan terakhir sebelum liburan semua agak berantakan, karena seseorang berinisial B ia sempat menjadi mahasiswi labil yang lupa mengerjakan PR. Minggu pertama ia habiskan dengan mengutuk, minggu kedua ia menangis menyalahi diri sendiri, dan minggu ketiga Chaeri sadar tidak ada yang salah, memang ceritanya seperti ini yang bisa dilakukan hanya mengikuti plot.

Chaeri sampai memberitahu Jongdae soal masalahnya dengan seseorang itu. Kenapa harus Jongdae karena di antara semua orang yang mengaku objektif hanya Kim Jongdae yang memegang kata-katanya, karena laki-laki seperti Jongdae terlalu asyik dengan kesibukannya sampai tidak punya waktu untuk memihak, persis seperti yang Chaeri butuhkan pada seorang pendengar.

 

***

 

Luhan pada akhirnya membatalkan kepulangannya ke Seoul karena menemukan Kyungsoo di Jeju membuat seluruh pertanyaannya selama ini langsung terjawab. Untuk apa dia khawatir soal biaya inap kalau ternyata ia bisa tidur di studio Kyungsoo dan yang terpenting untuk apa ia memikirkan uang makan kalau ternyata ia punya Kyungsoo yang akan memasakkannya sarapan sampai makan malam.  

Luhan masih mengaduk strawberry yoghurt yang sudah dipesan sejak setengah jam lalu tapi belum terminum sedikit pun, semua karena novel yang dibacanya dari kemarin malam berhasil menyita perhatiannya. Denyut nadinya terasa cepat dan dia merasakan matanya mulai memanas. Begitu selesai membaca halaman terakhir mulutnya yang dari tadi setengah menganga akhirnya menutup kembali.

Kyungsoo yang duduk di depannya menggeleng-geleng. “Terlalu emosional. Aku punya teman perempuan yang bahkan ketika membaca The Fault in our Star hanya menguap terlalu lebar sampai air matanya keluar.” Sambil mencodongkan badannya Kyungsoo mengamati Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe, novel yang sejak kemarin selalu berada di tangan temannya. Novel yang Luhan beli karena ia mengira ini soal pemecahan misteri luar angkasa.

“Parah!” Seru Luhan, menarik perhatian hampir seluru pengunjung café yang langsung disusul senyum maklum Kyungsoo plus tatapan aku-tahu-dia-memang-sinting-maklumi-saja. “Aku sampai berpikir kita bisa membuat jurnal. Judulnya ‘Luhan and Kyungsoo Discovers the Secrets of the Universe.’ “

Kyungsoo sudah ingin memutar bola matanya tapi batal begitu mengingat Luhan baru saja menyelesaikan hubungannya dengan Sena. Sekarang laki-laki ini butuh teman jadi Kyungsoo berpikir mungkin ia bisa menjadi Dante bagi Luhan.

“Sejak kapan kamu membaca buku? Maksudku sejak kapan kamu membaca buku selain Captain Underpants?” Tanya Kyungsoo tanpa rasa antusiasnya.

Sambil menyeruput minumannya Luhan terdiam. Sejak kapan dia membaca buku? Ah gara-gara orang itu. “Mungkin gara-gara Chaeri? Ia pernah mengirimkanku novel di hari ulang tahun.” 

Jawaban kasual Luhan membuat si nonantusias Kyungsoo jadi terperangah, sejak kemarin ia sama sekali tidak kaget soal gosip-gosip yang dibawa Luhan, baik itu soal Chen dan model fotonya sampai Seukri katanya menyukai ahjussi, tapi berita soal Chaeri mengirim hadiah untuk Luhan, itu mengagetkan. “Chaeri mengirim hadiah ke Beijing untukmu?”

Sambil menaikkan bahunya Luhan tertawa. Memang agak konyol kalau diingat, hanya paket dari Chaeri yang diterimanya di hari ulang tahunnya ketika bahkan Baekhyun dan Sena tidak memberinya ucapan selamat. “Chaeri hanya mengirimkan Diary of Wimpy Kid.

“Hah.”

“Ia mengatakan Wimpy Kid mirip sepertiku dan mengirimnya tanpa pikir panjang yang kebetulan sampai di hari ulang tahunku. Lalu setelah itu aku merasa terhina dan mencari novel lain, sampai berakhir membaca—“

“Bukunya Roald Dahl?” Kyungsoo sumpah hanya setengah bercanda tapi jawabannya dibalas dengan tatapan kaget Luhan yang justru membuat Kyungsoo kaget dengan candaannya sendiri. “Bagaimana bisa tahu? Setelah itu aku membaca Charlie and the Chocolate Factory.”

“Jadi akhirnya sekarang kamu gemar membaca?”

Well tidak bisa dikatakan gemar. Setidaknya sekarang aku mengerti perasaan Baek. Sekarang dia juga sudah berubah pernah saat aku main ke apartemennya aku melihat buku setebal bantal dan dia mengatakan itu adalah bacaan ringan!”  

Untuk sesaat Kyungsoo terdiam, membayangkan Baekhyun dengan kacamatanya membaca buku sulit mungkin Corporate Finance sebelum tidur sambil mendengar musik klasik, poster SNSD yang biasanya dipandangi sebelum tidur sudah dirobek dan diganti dengan quotes Carpe Diem. “Mungkin dia stress. Kau tahu kan, masalahnya dengan Chaeri.”

“Aku tidak tahu.” Sekarang giliran Luhan yang berubah lugu memasang wajah kaget. Ia membawa banyak gosip dari Seoul, tapi hanya berita soal Chaeri dan Baekhyun yang menurutnya agak membosankan. Selama ini hal yang diketahuinya hanya soal si laki-laki itu bermain curang dan  perempuannya tidak tahu apapun dan semuanya aman. Dan karena gosip itu tidak ada buktinya Luhan melupakannya.

“Sebenarnya lebih baik tidak tahu.” Kyungsoo mengangkat bahunya. “Ayo kita membuat jurnal itu, Luhan and Kyungsoo Discovers the Secrets of Universe.” 

Dan dengan kalimat itu Kyungsoo berhasil mengalihkan perhatian Luhan, bicara dengan Luhan akan berujung dengan gosip dan membicarakan orang, Kyungsoo tidak suka khususnya jika membicarakan dua orang itu.

 

***

 

Jongdae mengamatinya temannya yang masih tiduran di atas sofa dengan seluruh tubuhnya ditutupi selimut sampai tidak bisa dibedakan mana yang kaki mana yang kepala. Ini sudah jam ke-10 sejak orang itu akhirnya bisa tidur. Setelah beberapa jam sebelumnya perang habis-habisan dengan deadline yang selalu beranak.

“Hei Chaeri. Majikanmu sudah seperti ini sejak minggu lalu.” Tangan Jongdae meraih Cheetos yang baru dibuka tanpa disentuh isinya, si pemilik Cheetos bilang ia boleh makan kalau semua masalah ini selesai tapi kenyataannya begitu semua selesai yang ia lakukan hanya tidur. 

Kucing hitam yang Jongdae senggol perutnya tidak menggubris apapun. Sibuk mencari posisi tidur terbaik diantara belasan cushion yang majikannya beli karena ia bilang lebih sulit memilih motif bantal daripada corak dasi.

Jongdae membuka ponsel yang bukan miliknya, mengecek puluhan pesan yang sengaja tidak dibuka oleh pemiliknya. “Pesan dari Seukri, ‘aku mau cuci foto yang bagus dan cepat dimana.”

“Ada di Chungmuro, seberang Ediya Coffee, jalan kaki 100 meter dari halte bus lalu—“

Jawaban yang keluar dari orang yang dikiranya masih tidur itu membuat Chen mengerjapkan matanya. “Sudah bangun dari tadi? Lalu kenapa tidak bangun? Kau tidak bisa bangun? Sakit punggungnya belum hilang? Chaeri belum makan apapun dari tadi dan kau menyembunyikan makanan kucingnya.” 

 “Pelan-pelan Chen.” 

Suara parau yang keluar membuat Chen langsung mencari air putih sementara Baekhyun yang membuka selimutnya perlahan-lahan duduk dengan susah payah dan merasa punggungnya pegal luar biasa. Rambutnya menjuntai kemana-mana, masih memakai baju terbalik dan boxer yang belum diganti tiga hari. “Aku mimpi Chaeri obesitas, ia membesar sebesar balon dan terbang ke atas sampai aku tidak bisa meraihnya.” Baekhyun memang sudah bangun sejak setengah jam lalu, tapi ia memilih bermalasan di sofa karena belum bisa memutuskan apa sarapannya hari ini.

“Persis seperti yang terjadi sekarang.” Chen meletakkan segelas air putih di depan meja tapi dibalas dengan lemparan bantal dari Baekhyun. 

“Maksudku persis seperti yang terjadi sekarang karena si majikan tidak bisa merawat Chaeri sampai kucing ini ingin kabur dan majikannya tidak bisa meraihnya.” Chen menahan tawa, mengamati kucing hitam bernama Chaeri yang tahu-tahu sudah berada di atas perut Baekhyun. 

“Persetan dengan Chaeri. Ngomong-ngomong aku baru tahu kemarin dari Luhan, Kyungsoo ternyata masih di Jeju makanya kemarin ia tidak ikut reuni kita.”

“Oh ya aku baru tahu dari Kyungsoo, Luhan ternyata ada di Jeju jadi kemarin ia tidak datang ke pembukaan toko kita Baek.”

Baekhyun memutar bola matanya. “Jadi dua orang itu lagi berada di Jeju.”  

“Semua orang liburan kurasa harusnya kita juga liburan Baek.“ Ujar Chen sambil menaikkan bahunya.

“Liburan?“ Baekhyun akhirnya beranjak dari sofa, Chaeri langsung meloncat dan lari ke bawah sofa tapi tiba-tiba langsung keluar membawa kaos kaki biru tua yang sudah diselimuti debu. “Dari pada liburan aku harus beli kaos kaki. Coba lihat seluruh pasangan kaos kakiku tidak ada yang lengkap, terima kasih Chaeri aku sudah mencari pasangan kaos kaki ini dari bulan lalu.” Tangan Baekhyun mengelus tengkuk kepala Chaeri dan si kucing balas mengeong, Chen selalu bilang ada semacam telepati antara Baekhyun dan kucingnya tapi Baekhyun mengelak dan mengatakan, tidak ada telepati di dunia ini.

Mata Jongdae mengamati kaki temannya, satu memakai kaos kaki garis abu satunya lagi polkadot pink. Ironis untuk Byun Baekhyun yang setiap hari menerima hadiah dari penggemarnya tapi tidak satupun dari mereka yang menyadari kalau setiap hari Baekhyun memakai kaos kaki yang belang. “Kalau begitu aku mau nitip. Satu yang warna kuning.”

“Kenapa harus kuning? “ Puas mengelus Chaeri Baekhyun langsung berdiri, melakukan stretching karena pada akhirnya setelah tiga hari penuh berada di apartemen dia bisa keluar santai, untuk membeli kaos kaki, karena kaos kaki bagi tuan Byun sama pentingnya dengan celana dalam. 

“Karena besok hari ulang tahun Chaeri dan tahun ini ia mengirimiku hadiah jadi aku harus membalasnya.” Jongdae berkata tenang saking santainya ia malah memasang earphone pada  telinganya sampai tidak mendengar kalimat Baekhyun selanjutnya. 

“Aku tidak mau Chen.”

Baekhyun sepertinya merasa keberatan tapi Jongdae tidak memberinya kesempatan untuk protes. Jongdae selalu bertahan menjadi orang yang sok tidak tahu apa-apa. Dia membeli kucing hitam lalu menamainya Chaeri dan memberinya untuk Baekhyun sebagai hadiah ulang tahun. Dia melakukan banyak hal absurd tanpa berpikir kalau bagi orang lain tindakannya agak menyebalkan, itu menurut Baekhyun. 

 

***

 

“Ada laki-laki yang kusuka, tapi dia sudah punya kekasih, apa aku harus menyerah atau tetap mencoba?”  

Itu pertanyaan yang Chaeri dapat tahun lalu dari teman sekelasnya. Saat itu Chaeri sedang fokus mengetik esainya sehingga tidak menyadari yang bertanya sebenarnya sedang menangis.

“Jangan pernah ikut campur dalam hubungan mereka, yang ada hanya membuatmu sakit kepala.” Chaeri menjawab singkat sambil menutup laptopnya lalu berjalan pergi mengambil gelas kedua kopinya.

Kalau tidak salah antara malam itu atau besoknya lagi Chaeri tidak terlalu ingat karena hari itu ia baru saja ditunjuk menjadi ketua kelompok yang membuat tanggal kapan Baekhyun menelpon tidak pernah dicatatnya lagi. Seminggu sekali mereka melakukan video call, Chaeri dan Baekhyun mereka berdua sama-sama berbaring di kasur. Baekhyun yang rambut basahnya ditutupi handuk dengan bangga mengakui kalau akhirnya setelah tiga hari ia bisa mandi sementara Chaeri di ujung sana dengan messy hair bun tiga hari tidak pernah dilepas membuat Baekhyun masih bisa mengatakan ‘aku suka gaya rambutmu’ . 

Malam itu jadi malam saling bercerita karena baik itu Chaeri dan Baekhyun sama-sama baru mengalami hal yang berat, Chaeri baru saja memecahkan piring di cafeteria dan membuat uang jajannya terpotong sedangkan Baekhyun baru saja menabrakkan mobil yang dipinjamnya sampai setengah tabungannya harus habis. Mereka saling bercerita dan semua berjalan dengan baik sampai kalimat ini keluar.  

“Temanku cerita soal orang yang disukainya sudah punya kekasih dan hal paling konyol ia masih bertanya apa lebih baik ia menyerah atau tetap mencoba?”

Baekhyun menggaruk pipinya, mengernyit memandang Chaeri tapi setelah itu tersenyum. “Ia tetap mencoba kan?”

Mungkin sampai tiga detik mereka hanya diam berpandangan. “Hah? Coba ulang Baek?” Sekarang giliran Chaeri yang menggaruk pipinya, mengernyit memandang Baekhyun tapi tidak tersenyum setelahnya.

“Kita kan tidak akan tahu hasilnya sampai mencoba melakukan sesuatu. Jadi kurasa temanmu itu harusnya tetap mencoba.” Baekhyun yang sedang memakan ramyun terlalu fokus dengan kuahnya sampai tidak menyadari tatapan aneh Chaeri.

“Tapi dia akan menjadi pihak ketiga, dan itu bukan hal yang bagus Baek.”

“Yah hal itu lah yang membuat cinta itu tidak terduga dan menakutkan.”

Chaeri membenarkan posisinya yang setengah tertidur, sambil memeluk bantalnya ia duduk tegak dan memandang serius Baekhyun yang masih meneguk kuah ramyunnya. “Benar Baek, karena tidak terduga dan menakutkan kenapa masih harus coba-coba? Kalau sudah tahu laki-laki itu sudah punya perempuan kenapa masih harus dikejar?”

“Hmm. Tapi yang kupikir justru karena itu tidak terduga sesuatu bisa berjalan lebih baik dari yang kita bayangkan kan?”

Chaeri memiringkan kepalanya, menatap Baekhyun dengan tanda tanya jelas. “Kalau semua orang berpikir sepertimu bahaya sekali dunia.”

Baekhyun yang sudah selesai makan ramyun dari tadi sudah ingin mengomentari t-shirt putih yang hari ini mereka pakai bersamaan tidak sengaja tapi kalimat Chaeri membuatnya berpikir memakai baju kembar tiba-tiba tidak penting lagi. “Dan kalau semua orang berpikir sepertimu Chaeri dunia akan membosankan sekali.”

“Wah Baek jadi menurutmu orang yang tahu batasan artinya membosankan?”

“Dan menurutmu orang yang berani mengambil kesempatan itu membahayakan dunia?”

Keduanya saling berpandangan dalam keheningan. Tidak, ini bukan pertama kalinya mereka beda pendapat, Chaeri dan Baekhyun terlalu sering beda pendapat sampai mereka merasa mungkin Yin Yang adalah konotasi dari Baekhyun dan Chaeri. Tapi malam ini mungkin karena Chaeri capek dan Baekhyun jenuh tiba-tiba Baekhyun seperti tidak kenal lagi siapa wanita di layar laptopnya dan Chaeri tidak tahu apakah laki-laki yang masih menatapnya ini masih orang yang sama.

“Kau tahu, malam ini aku capek sekali.”

“Oh Aku lupa disana malam. Kalau begitu selamat istirahat.”

Bye Baek.”

Malam itu Chaeri yang biasanya tidak peka berubah jadi sensitif sampai dia menyadari kalau Baekhyun setelah kejadian itu tidak pernah mengirimkan pesan memalukan lagi, tidak ada voice notes yang ada suara Baekhyun mengatakan I love you karena mungkin Baekhyun tiba-tiba takut Chaeri merasa jijik mendengar pengakuannya. Saat itu Chaeri benar-benar berharap Baekhyun hanya merasa takut. Tapi beberapa lama kemudian dia berharap Baekhyun sebenarnya hanya lupa, mengerikan memikirkan kemungkinan Baekhyun takut dengannya.

 

***

 

Kesibukan yang Do Kyungsoo lakukan belakangan ini memang bukan pekerjaan impiannya tapi selama dia masih menikmatinya hal itu bukan masalah. Ia punya tempat tinggal sendiri, ada tanaman di dalamnya dan rak bukunya penuh. Studionya tidak terlalu besar tapi punya bukaan yang cukup untuk matahari musim dingin masuk dan udara musim panas keluar. Sekalipun sibuk dengan rutinitas ia masih bisa membaca buku memikirkan banyak hal penting seperti kerusakan alam dan perdamaian dunia, semuanya baik-baik saja itu yang Kyungsoo pikirkan sampai Luhan datang.

 “Demi tuhan seharian aku melihat kerjaanmu hanya mewarnai buku gambar dengan pensil warna sambil minum smoothies.”

Kyungsoo meletakkan pensil warna yang dipegangnya, memandang Luhan yang tiduran di sofanya sejak tadi hanya makan pocky sambil mengganti channel TV lima menit sekali dengan jari kaki. ”Agak tidak pantas orang sepertimu mengomentariku. Dan malam ini aku mau pergi sebentar.”

“Silahkan.” Luhan menjawab singkat. Terlalu singkat menurut Kyungsoo untuk orang yang sedang menumpang tempat tinggal.

Seharian ini Kyungsoo sudah berusaha tidak mengomentari tingkah temannya. Ia berusaha tidak marah ketika Luhan menghabiskan sereal kesukaannya dan menahan tangannya untuk tidak merebut Kinfolk yang dibaca Luhan dengan tangan berminyak bekas kentang goreng. Sejak tadi hal yang bisa ia lakukan untuk tidak membuat hari damainya rusak adalah meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lakukan ini benar, bahwa membiarkan Luhan menganggap rumahnya seakan rumah sendiri adalah kegiatan amal yang terpuji. Luhan memang sempat mogok bicara ketika Kyungsoo mengatakan ia masih sibuk sehingga tidak bisa memulai proyek jurnal persahabatan mereka.

“Kacamataku di mana?” Tanya Kyungsoo sambil merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja kopi sementara Luhan yang tiba-tiba fokus dengan acara masak yang sedang ditontonnya sampai tidak mendengar Kyungsoo bertanya padanya. 

“Lihat kacamataku di mana? Rasanya tadi ada di atas buku.” Kyungsoo membungkukkan badannya mencari di bawah meja kopi tapi yang dia temukan justru tumpukan baju kotor Luhan. 

“Kacamataku di mana ya?” Kyungsoo mulai panik. Sambil beranjak ia segera menuju credenza membuka laci-lacinya untuk mencari kacamata yang ia yakin sekali sampai makan siang tadi masih dipakainya. “Luhan kamu lihat kacamataku?”

Luhan yang ternyata sedang mencatat resep acara masak yang sedang ditontonnya hanya menggumam ‘tidak’ yang tidak terdengar oleh Kyungsoo yang mulai pusing dengan suara TV yang terlalu besar. 

“Kalau tidak ada kacamata itu aku benar-benar—“

“Aku harus coba resep ini! Kyung—HEI.” Tahu-tahu TV dimatikan. Luhan yang langsung beranjak dari TV menoleh dan menemukan Kyungsoo sudah berdiri dengan remote ditangannya. “Ya ampun kenapa dimatikan sih?”

“Aku tanya dari tadi kacamataku di mana? “ 

“Aku tidak tahu aku harus nonton TV!”  Sambil memijit tulang hidungnya Luhan menyalakan televisi yang langsung kembali dimatikan oleh Kyungsoo yang memilih pura-pura tidak mendengar Luhan sambil berjalan menuju kamarnya masih dengan remote di tangan.  

“Aku tidak tahu kacamatamu di mana!” 

 

***

 

Ada satu kaos kaki yang menarik perhatian Baekhyun, warnanya kuning dan bergaris seperti buku tulis, ada tulisan author, title, date due. Ini kaos kaki yang sesuai untuk seseorang ia kenal tapi Baekhyun tidak bisa membelinya, uangnya sudah habis untuk kaos kakinya sendiri dan sarapannya tadi (ia makan daging sapi untuk menghadiahi dirinya sendiri). 

Setelah bolak-balik di depan rak berpikir panjang  ia mengambil keputusan yang paling berpotensi berhasil. “Halo Kyungsoo? Ini aku Baek ini nomorku yang baru.” Menelpon Kyungsoo. Tindakan yang paling tepat ketika kamu kehabisan uang.

“Kenapa kamu selalu mengganti nomormu sih?” Kyungsoo terdengar uring-uringan, Baekhyun sampai harus menelan ludahnya tiba-tiba takut ingin meminjam uang lagi. Ia baru ingat utangnya bulan lalu belum juga dibayar.

“Ada stalker yang selalu berhasil menemukan nomor teleponku. Ngomong-ngomong aku tahu aku masih ada uta—“ 

“Aku tidak akan menyalakan TV sampai kacamataku ketemu!” Tahu-tahu Kyungsoo berteriak. Baekhyun hampir ingin meloncat, ia tahu belakangan Kyungsoo super sibuk, jadi mungkin temannya ini stress.

“Aku tidak memintamu menyalakan TV—“

“Sori Baek tadi buat Luhan. Tadi kenapa? Kenapa menelpon—“ 

Lalu ada jeda beberapa detik, teriakan, bantingan pintu lalu teriak lagi dan begitu telpon kembali tapi kali ini malah suara orang lain yang terdengar “Halo ini dengan tuan Byun Baekhyun?”

“Iya—“ Tuan Byun Baekhyun? Siapa lagi yang memanggilku kalau bukan orang itu. Baekhyun meniup poninya, bukan Luhan orang yang didengarnya sekarang. Bukan si Luhan yang biasanya menelpon untuk meminjam uang.

“Ini Luhan. Hei Baek kau ada di Seoul kan? Dengar ini sangat penting. Aku harus membeli sesuatu di Seoul tapi karena tidak punya uang aku tidak bisa pulang.” Luhan berkata serius, terdengar sangat penting tapi Baekhyun tahu apa yang ia dengar tidak akan sepenting itu, standar serius untuk Baekhyun dan Luhan berbeda.

Ya ya aku dengar.” 

“Kau tahu toko taos kaki langgananku di Apgujeong kan? Aku titip kaos kaki kuning please.” 

Tiba-tiba Baekhyun ingin membuang napas panjang, untuk beberapa alasan ia capek. “Kenapa harus kuning sih?”

“Karena besok hari ulang tahun Chaeri dan tahun ini ia mengirimiku hadiah jadi aku harus membalasnya.” Luhan berkata terburu-buru, Kyungsoo mungkin sudah berhasil membuka pintunya dan tanpa sadar Baekhyun langsung memutuskan sambungan telpon.

Semua menjadi lucu menurut Baekhyun. Ia sampai ingin tertawa karena rasanya tiba-tiba semua orang terlalu peduli dengan perempuan bernama Moon Chaeri adalah hal yang lucu. Jujur kalau Chen tidak mengatakannya tadi pagi ia akan lupa siapa yang ulang tahun besok dan kalau Luhan tidak merebut telpon dari Kyungsoo Baekhyun akan lupa soal hadiah untuk Chaeri. 

“Sudah kubilang aku tidak mau membelinya.” Lalu Baekhyun beranjak pergi meninggalkan kaos kaki yang tadi nyaris ingin dibelinya.

 

***

Tahun lalu.

“Mungkin kamu terlalu tidak peka.” Itu yang Kyungsoo katakan ketika Chaeri bertanya soal kenapa Baekhyun tiba-tiba berubah. Saat itu Chaeri sedang menunggu kelas selanjutnya sambil melakukan video call dengan Kyungsoo yang sedang membutuhkan saran untuk warna tea set yang sedang di desainnya.

“Kenapa aku tidak peka? Aku bahkan selalu menyadari ketika Baekhyun sudah mandi atau belum.”

“Karena itu aku bilang tidak peka. Tunggu, lebih baik bunganya warna violet atau merah?” Kyungsoo menunjukkan gambarnya. Chaeri membuang napas dan menjawab violet meskipun menurutnya merah lebih bagus. 

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya semuanya. Ini memang bukan pertengkaran pertamaku dengan Baekhyun, minggu lalu ia marah saat aku bilang bantal yang ia kirim padaku warnanya jelek.”

“Seleramu biasanya memang kebalikan. Tadi kau mengatakan violet tapi sebenarnya lebih suka merah kan?”

Chaeri mendecak. “Iya Tuan Do. Seperti yang diperintahkan, aku menjawab apa yang bukan seleraku. Dan menurutku model kacamatamu jelek sekali.”

“Benarkah? Hari ini sudah tiga orang memuji kacamataku yang baru.” Kyungsoo tersenyum tapi Chaeri tidak membalas senyumnya.

“Aku terlalu lama memikirkan Baekhyun sampai lupa sebenarnya aku ini orang seperti apa. Sejak kapan aku memprioritaskan laki-laki? Kenapa aku menghabiskan waktu memikirkan Baek yang belum tentu sedang memikirkanku?” Chaeri menggaruk kepalanya, ia belum mencuci rambut dari kemarin lusa padahal musim panas selalu membuatnya berkeringat.

“Baekhyun sedang memikirkanmu, kemarin ia bertanya padaku Chaeri lebih suka rasa coklat atau pisang.”

“Baekhyun bahkan tidak tahu aku lebih suka pisang? Mungkin harusnya aku tidak menyukai Baekhyun. Mungkin harusnya aku tetap bermain Pokemon lalu sekarang aku akan memakai kaos kaki kuning karena aku benar-benar suka dengan Pikachu.”

“Lalu kaos kaki apa yang kau pakai sekarang?”

“Aku tidak memakai kaos kaki, aku lupa mencuci kaos kaki. Dan semua kaos kakiku warnanya putih karena aku orang yang membosankan.”

Kyungsoo mengangkat kepalanya dari buku sketsa memandang Chaeri yang terlihat kusut hari ini. Chaeri memang selalu kusut di mata Kyungsoo, lupa sisiran dan bibirnya pucat, tidak memakai foundation dan cardigan yang dipakainya hampir selalu sama. “Chaeri mungkin kamu harus tidur siang. Aku tidak tahu apa yang membuatmu stress tapi masalah ini tidak sebesar yang kamu kira.”

Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan dosen datang lalu Chaeri menguap lebar. Sekarang ia sadar ia benar-benar mengantuk dan kemarin malam hanya sempat tidur 4 jam. Mungkin Kyungsoo benar kalau masalah ini tidak sebesar yang ia kira tapi tetap saja itu tidak menyelesaikan apapun, sekecil apa pun masalah menurut Chaeri tetap saja itu namanya masalah. 

Itu videocall terakhirnya dengan Kyungsoo karena setelah itu Chaeri tidak ingin bertemu dengan siapapun yang berhubungan dengan Baekhyun, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya Baekhyun sedang apa dengan siapa melakukan apa. Tapi sialnya besok malamnya  ia malah mendapat telpon dari Baekhyun yang mengatakan kalau belakangan ia sibuk dan mungkin Chaeri juga sibuk jadi tidak ada lagi yang saling mengabari.Tentu saja rasanya menyakitkan karena setelah itu Chaeri mendapat berita dari Daeha kalau ia bertemu dengan Baekhyun di supermarket, sedang mencari bahan untuk membuat muffin coklat bukan pisang. 

 

***

 

Selama ini Baekhyun selalu menulis surat untuk Chaeri. Menulis surat dengan tinta di atas kertas yang dikirim menggunakan perangko. Kata ibunya perempuan suka menerima hal semacam itu, dibanding mengirim lewat surat elektronik Baekhyun memutuskan untuk bertahan mengirim lewat pos meskipun tetap saja Chaeri membalas lewat e-mail karena katanya dia tidak punya waktu untuk membeli kertas surat.

Suatu hari ketika menurut Baekhyun dia juga sibuk dan mengerti perasaan Chaeri yang tidak punya punya untuk membeli kertas surat Baekhyun memutuskan untuk menunda menulis surat. Toh Chaeri akan mengerti, perempuan seperti Chaeri bukan tipe orang yang setiap hari menunggu kabar dari prianya, dia terlalu sibuk dengan urusan pribadi sehingga Baekhyun mengerti kalau dirinya tidak pernah menjadi prioritas Chaeri.  

Luhan pernah mengatakan kalau itu tidak adil, ketika Baekhyun selalu menomor satukan Chaeri tapi perempuan itu bahkan tidak menomordua kan Baekhyun. Kata Luhan nomor satu bagi Chaeri adalah nilai lalu nomor duanya dirinya sendiri, Baekhyun mungkin antara nomor empat atau lima. 

“Halo Chaeri, sori belakangan ini aku sibuk.” Baekhyun berkata sambil mencuci ubi yang dibelinya sekarung. Hari ini ia akan berjualan ubi bakar bersama Chen tapi temannya malah kena demam jadi seluruh pekerjaan dilimpahkan ke Baekhyun.

“Aku juga sibuk jadi aku mengerti Baek. Jadi mmm— apa kabar?”

“Kabar? Tentu aku baik-baik saja selain soal tadi jari kena pisau. Bagaimana denganmu?”

“Baik, tapi tadi aku kepeleset di jalan.”

Baekhyun tersenyum. “Haha. Apa ada yang membantumu berdiri?”

“Ada, aku punya teman laki-laki dari Jepang. Dia yang membantuku berdiri.”

“Rasanya tidak adil karena saat jariku kena pisau aku tidak punya teman perempuan yang bisa membantuku membalut luka.”

Keduanya hening. Lagi. Sudah beberapa hari ini tiba-tiba keheningan menjadi bagian dari percakapan mereka. Kadang di satu sisi Chaeri terlalu fokus mengetik laporan sampai lupa ia masih menelpon dan di satu sisinya lagi Baekhyun terlalu capek untuk mengingatkan Chaeri. “Halo Chaeri? Aku masih disini.”

“Oh iya. Aku lupa sori Baek. Jadi sampai dimana kita tadi?”

“Kurasa aku akan menelponmu besok pagi saja.”

“Oke Baek. Bye.”

Tapi Baekhyun tidak menelpon Chaeri besok paginya dan si perempuan juga tidak menunggu telpon darinya.

___________________

Author’s note. 

Ngebikin chapter ini super lama kayak aku udh bikin dari dua bulan lalu tapi baru kelar sekarang? Aku memutuskan untuk bikin chapter super panjang karena aku update lama banget kan. Tapi kalau kepanjangan bikin mata capek aku bakal perpendek lagi untuk chapter berikutnya Give me comment entah kalian kecewa soal konflik mereka atau kangen momen Kyungchae (loh?) pokoknya komen apa aja yang bisa bikin aku ngerasa enggak dilupain kayak Chaeri ke Baekhyun (atau baek ke chaeri?)

xx. pikrachu.

 

 

 

32 thoughts on “Interval [2/?]

  1. bingung. kenapa harus begini banget si chae ri sm baek.
    update lama tapi greget aku suka.
    tapi tetep aja gak puas.
    karena mereka lagi konflik sih
    kapan nih baikkan nya kak.
    kalo bisa tetep kayak gini aja.🙂
    lanjut kak

  2. Biasanya aku gak terlalu suka alur maju-mundur. Tapi aku suka banget sama ini, nungguin terus. Baru banget tadi siang sempet ngecek kesini setelah sekian lama gk pernah ngecek ngecek lagi. Eh tau tau update, alhamdulillah hehe.

    Gemes gitu bawaannya kalo udh bagian chaeri sama baek debat. Semacama yang “uggggghhhh” dan aku bingung gemesnya itu kaya gimana. Hm…kyungchae? Gaterlalu kangen sih malah engga;-; aku baekchae shipper sih haha;-;. Jujurnya, aku nungguin mereka ketemu terus……….gatau deh gamau terlalu berharap.. hehe

    Keren kak, dua kata pas td cek email nemu judul ini “Akhirnya update!” Hehehe… ditunggu next nya ya kak! Semangatt

  3. Kamu tuh selalu tau cara untuk buat orang lain kangen dan nunggu kamu, sejujurnya belakangan ini aku juga super sibuk (padahal gada yg nanya) tapi aku selalu menyempatkan diri untuk cek wp ini dan akhirnya kemaren kamu update jugaaaa huaaaaaa dan aku ga terlalu telat bacanya kan?

    Aku ngerti kelelahan hubungan baekchaer karna kesibukan masing2 tp ini terlalu ironi huhuhuhu aku tidak sabar menunggu saat2 baekchaer ketemu… Dan kyungsoo aku juga kangen kyungchaer.. Omong2 kyungsoo msh jomblo?
    Ada perasaan yg beda saat aku baca detour dan interval, saat baca detour ada perasaan mengebu2 masa2 remaja, sementara interval perasaan kelelahan menjadi seorang dewasa wkwkwk (mungkin ini juga pengaruh kesibukan yg sekarang)
    Tapi aku selalu suka cara kamu nulis dan menggambarkan sesuatu, terasa ringan dan tidak membosankan 😘

    Oh iya fyi aku sekarang sudah tidak pernah baca fanfic tp aku tetap setia baca menantimu, jd jangan lupakan pembaca setiamu. Tidak apa update lama yg penting serial ini tetap berlanjut..

    Pikrachu fighting!!! 😂😂😂😂😂

    • Tbh aku ga tau gimana cara bikin orang mau nungguin ceritaku tapiiii komenmu selalu kutungguin i appreciate its a loot c:
      HAHA kyungsoo jomblo atau enggak? itu juga pertanyaan untukku, yey ternyata masih ada yang mikirin kyungsoo.
      Iyaa mungkin feel beda karena aku yg ngetik juga ikutan beda? kayak detour beneran waktu abg sma meanwhile interval ketika jenuh kuliah

      Aku juga hampir ga pernah baca fanfic lagi selain hangukffindo itupun hanya dgn cast exo wakakak
      xoxo

  4. gemes sama mereka berduaaaa
    kapan mereka baikkan ? kalo cepet cepet nanti cepet udahan ya ? hahahahahaha
    oke deh ditunggu next chapternya

  5. bacanya kesel sendiri. LDR it emang kemungkinan buat salah pahamnya besar bgt. cheri merasa dilupakan baekhyun merasa diacuhkan. padahal sama2 kangen.
    dear author next chapny tolong jgn lama2 ya🙂 baca chap ini rasany ak kok terluka gitu #yaelah. Kasih obat lukanny jgn kelamaan ya (moment baek-che) doang obatnya.
    fighting!!!!

  6. Akhirnya update juga… aku seneng banget pas liat interval update hahaha. Spot dulu komen panjang nya nanti dulu ya

  7. Alhamdulillah update setelah penantian panjang:” btw kak aku suka kok kalau panjang, kayaknya chap selanjutnya ga usah dipendekin gapapa deh._.
    Sedikit ga ngerti sama chaebaek ini. apa cuma aku yg ngerasa chaeri sedikit tsundere dan baekhyun terlalu pesimis? Tapi plis lah aduh aku hard shipper mereka😦 sedih baca hubungannya jadi kayak gini /cri
    Kalau chaeri ke jeju kemungkinan bakal ketemu kyungsoo luhan ya? Padahal pinginnya chaeri ketemu baekhyun dulu wkwk.
    ditunggu chap 3 kak~ sebenernya bacain ff kak pikrachu itu serasa mompa semangat nulis, aku suka banget sama gaya penulisannya jadi tiap baca aku kayak dapet inspirasi biar makin semangat h e h e. Fighting kak~ nda usah terburu2 karena kita bakal setia nunggu❤

    • bikin hubungan yang menyedihkan itu emang kayak bikin dua orangnya serba salah yah. malah menurutku baek yang tsundere chaeri yang pesimis haha

      Ini lagi pengerjaan chap 3 dan aku bener-benar seneng interval bisa jadi inspirasi kamu! Semangat!

  8. Akhirnya update juga setelah berbulan-bulan.
    aslinya gk sedang nungguin ini, kangen catching feeling pake bgt sbnarny. cuma yg update ini yaudaahh, makasihh kak pikrachu. kupikir dirimu sudah kembali. welcome baackkk

  9. Maaf sekali baru sempat kembali dan menyelesaikan membaca yang tertunda kemarin (tiga hari yang lalu)
    Aku juga nyempetin komentar lain yang masuk dan aku setuju sama mereka semua.
    Baek – Chaeri memang selalu menjadi pasangan gemas dengan ciri khas mereka sendiri. Mungkin kalo kamu ganti nama tokohnya, aku masih tau kalo itu couple buatan kamu. Iya, mereka seunik itu.
    Aku juga setuju kalo Detour menceritakan masa-masa remaja yang menggebu sedangkan Interval lebih ke konflik orang dewasa. Yang bikin ini keren adalah tulisan kamu itu ringan, enaaaak banget dibaca, tapi ngena banget ‘kelelahan jadi dewasa’nya.
    Dan terakhir, setiap kali aku baca tulisan kamu, aku juga jadi tergerak buat nulis lagi. Sambil baca tulisan kamu aku pasti ngebayangin scenenya yang indie gemes, kalo lagu pun jadinya yang acoustic imut-imut gitu.
    Aku baca banyak tulisan author-author bagus selama ini tapi yang kayak punya kamu. Cuma kamu yang punya. Seneng bisa baca tulisan kamu walaupun aku nemuin Detour telat (dan itu alasan kenapa aku nggak ninggalin komentar di Detour. Semoga kamu nggak masalah dengan hal itu ya.)
    Tetep nulis ya. Tetep menginspirasi kalau suatu saat kamu bikin buku, tolong kabari aku karena aku pasti bakal beli.
    O, iya. Aku nggak masalah sama panjang cerita yang segini kok, asal aku tetep bisa baca tulisan kamu ❤
    I’m not sugarcoating anything. Ini salah satu komentar terjujur yang pernah aku tulis.
    Semangat ya! 🙆

    • setiap baca komen kamu aku selalu ngerasa super termotivasi terima kasih selalu meluangkan waktunya untuk memberi feedback di interval!

      omaigad such a biig honour interval bisa bikin kamu tergerak nulis c: yes aku bakal tetep baca dan nulis sebanyak yg kubisa same goes to you!

      sekarang aku lagi coba bikin cerita original daan ituuu susah bgt semoga beneran kesampean selesai :’)
      xoxo

      • Aw, I’m waiting for your orific. Aku aslinya berasal dari pembaca orific tapi setelah masuk dalam lubang hitam bernama kpop ini jadi geser ke fanfic, tapi aku masih doyan baca orific kok. Aku jadi penasaran sama orific kamu! Kiwkiw. Semoga kamu mau berbagi denganku dan reader yg lain tapi untuk sementara waktu mungkin aku bakal nunggu buat interval dulu aja deh.
        Semangat terus ya! 🙌

  10. Haii eon … Sorry lama gk comment ._. Tapi aku ngikutin terus kok karya”mu eon .. Btw aku gk ngerti alur cerita dari interval sendiri krna alur yg maju mundur atau apa ._. Jarak antara Chaeri sama Baek tapi tiba” flashback gitu jadinya agak binggung, a little bit sad about Baek yg dibilang sama Luge, kyknya enggak bner jg de apa yg Luge blng .. Yaa aku kangen moment KyungChae tapi kok aku ngerasa merekNgk se sweet dulu ya (?) tapi Kyungsoo kyknya lebih kenal Chaeri dari pada Baek sendiri yg notebate pacar ..
    Sorry eon lama gk koment trus sekali komen malah ngeluh sendiri, semangat lanjutnya. What about pastel ? Kasian Tao digantung selama ini

  11. Wow ini udah update seminggu lalu dan aku baru tau ini update ㅠㅠㅠㅠ
    Kesel kesel keseeeeeeeel. Huft rasanya pengan ngunyah chaeri si kucing hitam. Kenapa sih namanya mesti chaeri. Kenapa konfliknya jadi ribet gini, well gak terlalu ribet sih, tapi rasanya lebih puas kalo sekalian aja dibikin dramatis biar mau sedih; sedih sekalian, mau nangis nangis sekalian. Tapi karena konflik yg sebenarnya besar tapi disepelekan malah bikin asdffghjlklzzzzz ㅠㅠㅠㅠ
    Sahabatku persis banget sifatnya kaya chaeri dan aku tau rasanya jadi baekhyun dan sebelnya gara2 itu sekarang baca interval malah jadi agak sentimental (tiba2 kepikiran muter sentimental nya winner duh). Judul chapter ini pas, yes of course it hurts. Huhu iyalah sebenernya ini nyesek tapi couple ini selalu meminimize masalah jadinya gregetan.. Cepet pertemukan chaeri dan baekhyun kaaaakkk biar bapernya bisa pol 100%. Karna baca detour dan interval, sekalipun menyedihkan gak bisa ditangisi, yg ada cuma nyesek yg ngeganjel kaya dahak di tenggorokan. Dan satu lagi, gapapa kalo mau bikin chapter panjang karna makin panjang makin seru dan memuaskan. Aku siap nunggu lagi, yah walau pasti abis lebaran kan next chapternya ;;;-;;; seeyou~

    • kenapa nama kucingnya chaeri salahin chen aja. yesh aku ngerti perasaanmu kalau mau sedih, kita bikin drama aja sekalian haha tapi itu susah kayak aku ga tegaan tapi di satu sisi aku harus coba semoga aja standar dramatis kita sama yah wakakak.

      HAhaa iya kok tau abis lebaran? ini mau secepatnya semoga chapter 3 bikin dahak yang ngeganjel segera dibuang ya ga sehat nyangkut terus c:

  12. Yhaaa…. Aku telat, tapi gak telat telat amat kan ya? Hehe…

    Pas inget Interval langsung buka blog sweet ff dan ternyata udah update, seneng banget wawww….

    Gapernah bosen sama ceritanya, ceritanya itu bikin kangen (apaini?), bahasanya juga ringan aku sukaa.

    Kangen sama Baekchae

    Semangat pikrachu

  13. Akhirnya update juga ………
    Aku seneng banget ……. Udah kangen banget sama moment baekche meskipun di chapter ini hubungan mereka lagi gak baik tapi aku berharap di chapt selanjutnya ada momen mereka hehe buat author aku suka banget chapter ini dan berharap bakal lebih panjang lagi kalo bisa hehe…

  14. entah knapa aku slalu menunggu baekhyun dan chaeri kembali dan bertemu, baekhyun berubah walaupun kebiasaan dan pola fikirnya ttp sma,, baekhyun kyaknya cma kecewa dengan segala sesuatu ttg chaeri,, nggak ada yg dpt aku fikirkan mengenai chaeri saat ini,, kyaknya aku baper sma baekhyun di interval.. kkkk.. ditunggu next part nya,, aku penggemar tulisanmu kak,. Fighting!!!

  15. Sukaaaaa bangeert, aduuh emes deh sma author ini satu, walaupn berbulan2 nunggu nya tpi feelnya gk pernah hilang, lovee youu :* hahahaha

    Chaeri gk bisa disalahin spnuhnya, tpi dinomorduakan saat kita menomorsatukan org trsbt ituu sakiiit bangeettt :”’
    Smoga chaeri cpat peka

    Btw kyungsoo apa kabar? Hatinya gmna?

  16. yaaa jadi baekhyun sama Chaeri putus karena konflik yang seperti itu? padahal aku saja menanti ff ini selama 10 abad saja nggak berpaling karena ceritanya selalu bikin penasaran semoga Baekhyun sama Chaeri ketemu lagi~ semangat ya author Pikrachuuu!!!!!!

  17. HALLO KAK/?
    SALAM KENAL.

    Maaf ya kak baru komen setelah baca betapa panjangnya FF DETOUR MU YANG MENGAGUMKAN SEKALIGUS MEMBAPERKAN INI ㅠㅠ (Aku baru tau gimana caranya komen) huhuhu.

    KAK SERIUSAN AKU SUKAAAAAA BANGET SAMA KAKAK/? EH TULISAN KAKAK MAKSUDNYA. SOALNYA KAYAK ADA MANIS-MANIS KEREN GIMANAAA GITU. SEMANGAT TERUS KAK!!

    KOMEN UNTUK PART INI SUMPAH HATI AKU KELIMPUNGAN MERASAKAN BETAPA RUMITNYA HUBUNGAN BAEK DAN CHAERI YANG SEBENERNYA GAK RUMIT/?

    PENGEN DUKUNG CHAERI, TAPI PAS BAEK GALAU IKUTAN GALAU. ㅠㅜㅜ

    PENGEN DUKUNG BAEK, TAPI PAS CHAERI GALAU IKUTAN GALAU. ㅠㅠ

    ALHASIL AKU MEMUTUSKAN UNTUK MENDUKUNG KEDUANYA BERTEMU ATAS IJIN KAK PIKRACHUU.

    AYODONG KAK TEMUIN MEREKA KAK /MELAS FACE/ JANGAN LAMA2 BIKIN MUSUHANNYA YA KAK T T AKU GAK BISA MELIHAT MEREKA KAYAK GINI HUHUHU.

    YAUDAH GITU AJA KAK, MAAF YAA KOMENKU PENDEK/? DAN KEPSLOKNYA KEINJEK GAJAH/? KUHARAP AKAN ADA SEGERA KELAHIRAN DARI FF INI/? (KELANJUTAN) THANKSS KAK.

    • SEMANGAT SEKALI KAMU

      aku jadi ikutan emosional mereka pasti ketemu kok pasti secepatnya kalau aku bisa dan semoga sesuai harapanmu YA SEMOGA

  18. Memang LDR itu menakutkan, kadang cuma masalah kecil aja jadi diem dieman berbulan bulan. btw, kenapa Baekhyun-Chaeri harus kaya gitu? harusnya baekhyun udah tau dong kalo Chaeri itu manusia yang seperti itu, dan harusnya Chaeri juga tau kalo Baekhyun manusia yang seperti itu juga. Dulu pas SMA kayaknya mereka fine-fine aja. Apa mungkin tugas pas jadi mahasiswa bikin stres ya

  19. aw semuanya aja nyariin kado buat chaeri, dan chaeri versi kucing bener-bener sesuatu banget wkwk daaan aku makin gereget sama baekhyun-chaeri. serius deh kenapaaasi mereka jadi ga saling ngertiin masing-masing gitu, karna udah pada cape kaliya, akhirnya aku ngerti seberapa nyereminnya ldr wkwk terus terus di sini aku malah jadi suka liat chaeri-kyungso, padahal dulu ga pengen banget kyungsoo buat chaeri, tapi tetep sih ngarep chaeri baikan sama si baekhyun eheh
    semangat terus nulisnya kak^^

  20. aw semuanya aja nyariin kado buat chaeri, dan chaeri versi kucing bener-bener sesuatu banget wkwk daaan aku makin gereget sama baekhyun-chaeri. serius deh kenapaaasi mereka jadi ga saling ngertiin masing-masing gitu, karna udah pada cape kaliya, akhirnya aku ngerti seberapa nyereminnya ldr wkwk terus terus di sini aku malah jadi suka liat chaeri-kyungso, padahal dulu ga pengen banget kyungsoo buat chaeri, tapi tetep sih ngarep chaeri baikan sama si baekhyun eheh
    semangat terus nulisnya kak^^

  21. sebenarnya udah baca berabad yg lalu tp eh malah lupa komen dan ternyata chapter 3nya udh keluar jd sebelum baca chapter 3 sempetin dulu komen disini.
    bener2 gemes sama dua org ini, pas baca aku sempet ngomong gini ‘kenapa kalian harus gitu konflik gini sih, aku kan gamau kalian putus’ hahahha. semoga kalian kembali bersama yah chaeri dan baekhyun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s