Interval [4/?]

04- Let’s not Fall in Love

Luhan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk berjalan mengitari kamar Kyungsoo. Ia berputar mengelilingi kasur, berhenti agak lama di depan meja belajar lalu jalan lagi. Diam-diam penasaran kemana kacamata bulat itu menghilang. Dalam pikirannya mungkin memang Kyungsoo saja yang ceroboh, bukan karena Luhan membuat kamarnya berantakan seperti yang disimpulkan Kyungsoo. Sambil mengintip kolong kasur ia memicingkan matanya, berpikir keras kemana kacamata itu pergi karena siapa tahu kalau Luhan menemukannya ia bisa menuntut balas budi pada Kyungsoo. Lalu menit kelima ia mengitari kamar Luhan langsung menemukan kacamata itu.

Terselip dalam saku coat yang Kyungsoo pakai kemarin malam. Semudah itu ditemukannya tanpa rasa frustasi yang Kyungsoo alami sejak dua jam terakhir.

“Astaga.” Ia mengambil kacamata itu, memakainya tapi langsung dilepasnya lagi karena pusing luar biasa. “Ternyata Kyungsoo memang jadi bodoh.”

Luhan buru-buru menyembunyikan kacamata itu dalam tasnya. Ia akan mengatakan pada Kyungsoo kalau kacamatanya turun dari langit dan Kyungsoo akan marah lalu Luhan menawarkan. “Bagaimana kalau kau memberiku sesuatu dan aku akan mengatakan yang sebenarnya.”

Jadi sementara Kyungsoo sedang keluar menjemput Chaeri di bandara Luhan yang tadi disuruh merapikan rumah sekarang menulis daftar hal  yang bisa ia minta dari Kyungsoo. Ada sampai sepuluh baris tapi dibaca ulang lagi dan akhirnya ia punya tiga pilihan.

  1. Kyungsoo menari hotline bling di tengah kerumunan.
  2. Kyungsoo membeli kepiting untuk makan malam.
  3. Kyungsoo berkata jujur siapa yang memberikannya kacamata.

Sejujurnya yang paling penting adalah nomor 1 karena itu bersifat jangka panjang yang jika direkam bisa menjadi bahan ancaman yang bertahan setidaknya dua tahun. Nomor 2 benar-benar menggoda, tapi itu hanya berlaku sekali, dan nomor 3 itu tidak penting, hanya iseng soal memenuhi rasa penasarannya.

Belakangan ini selain menyadari Kyungsoo hampir membalap tinggi badannya Luhan sadar Kyungsoo sedang kasmaran. Laki-laki cuek macam Kyungsoo itu kalau sedang peduli dengan seseorang kelihatan sekali. Awalnya Luhan berpikir mungkin Kyungsoo punya hewan peliharaan, mungkin anjing atau hamster karena katanya dengan memelihara binatang sikapmu akan berubah. Tapi di rumah Kyungsoo hanya memelihara kecoa Madagaskar, itu pun katanya hadiah dari Baekhyun yang ia ingin sekali dibuangnya tapi tidak  sempat. Dugaan soal Kyungsoo punya wanita dipikirannya semakin kuat ketika ia menemukan boneka panda di atas meja belajar Kyungsoo. Jelas sekali itu hadiah dari seseorang yang bukan laki-laki karena tidak mungkin Kyungsoo akan menggunakan uangnya untuk membeli boneka untuk dirinya sendiri apalagi. Tapi ada apa dengan panda? Kenapa harus panda? Kenapa bukan babi atau kelinci kenapa panda?

Setelah beberapa menit berpikir dan menyadari lebih baik membereskan rumah sebelum Kyungsoo akan benar-benar mengusirnya, Luhan pun menggulung lengan bajunya. Ia jadi memikirkan Sena tiba-tiba. Karena meskipun kata Luhan ia sudah move on ia punya prinsip bukan artinya ia tidak boleh memikirkan Sena. Tentu saja boleh, Sena dan dirinya dulu punya sejarah penting jadi itu wajar untuk memikirkan apa kabar Sena sekarang. Sena mungkin sedang bermain dengan teman laki-laki barunya. Atau mungkin Sena sedang—

“LUHAN”

Ada yang berteriak. Dan mendengar namanya dipanggil ia langsung berlari keluar dari kamar dan menemukan Kyungsoo sedang berdiri memandang dengan tatapan yang berkata sudah-kuduga-kau-tidak-akan-beres-beres, satu tangannya memegang koper oranye satunya lagi mengangkat kardus kecil. Di belakangnya ada seorang perempuan, ia melongo memandang Luhan dari bawah ke atas.

“Kenapa harus pink warna rambutnya?” Itu kalimat pertama yang Chaeri katakan setelah sekian lamanya tidak bertemu Luhan.

***

“Kau tahu Chen.” Ucap Baekhyun membuka percakapan di tengah harinya yang berjalan membosankan. “Aku baru menyadari aku tidak bisa melihat sebuah kata tanpa membacanya.”

Chen hanya menggumam, menurutnya apapun yang Baekhyun katakan saat ini tidak akan penting. Otak laki-laki ini lagi kurang beres, mungkin karena salah satu mata kuliahnya mendapat nilai D dan alasan satunya lagi karena putus hubungan meskipun kata Baekhyun “Siapa yang putus? Kami masih berteman.”

 “Wow benarkah?. “ Chen membalik buku tahunan SMA yang dibacanya. Sibuk bernostalgia memperhatikan foto lama mereka di kelas ketika Baekhyun masih berusaha keras untuk berdiri di samping Nami setiap difoto.

“Dan kau harus tahu Chen.” Baekhyun juga sedang membaca buku. Mungkin karena kehabisan komik ia memutuskan membaca Milk and Honey, di tengah kumpulan puisi itu akhirnya ada satu puisi yang membuatnya diam dan berpikir sampai harus memandang jendela agak lama.

i want to apologize to all the women

i have called pretty

before i’ve called them intelligent or brave

i am sorry i made it sound as though

something as simple as what you’re born with

is the most you have to be proud of when your

spirit has crushed mountains

from now on i will say things like

you are resilient or you are extraordinary

not because i don’t think you’re pretty

but because you are so much more than that

“Tahu soal apa?” Chen tertawa. Kali ini foto yang dilihatnya hanya ada Sehun dan Kyungsoo, keduanya berfoto bersama memegang medali olimpiade Fisika yang ironisnya tidak satu pun di antara mereka tersenyum.

“Aku tidak pernah memuji Chaeri kalau dia cantik.”

“Tapi dia memang tidak cantik.” Chen masih tengah mentertawakan foto lalu ketika sadar mungkin ia salah bicara ia menutup buku dan menatap Baekhyun hati-hati. “Maksudku—“

“Tapi sudahlah. Apa Chaeri pernah mengatakan aku tampan? Kapan dia memujiku?” Baekhyun pun menutup bukunya. Memang dari pada membaca puisi dan teringat perempuan lebih baik ia memikirkan hal penting, misalnya soal kenapa NASA mencabut status planet dari Pluto karena sampai sekarang ia masih merasa hal itu jahat sekali.

Chen terdiam, lalu ketika pesawat terbang tepat melintas di atas apartemen mereka ia menjetikkan jarinya.”Tapi kalau diingat Chaeri pernah kok. “ Ujarnya berbarengan dengan suara pesawat terbang yang terdengar jelas. Sambil memandang sisa asap pesawat dari jendela besar apartemen ia kembali berkata. “Waktu itu ketika mengantar Luhan ke bandara kau kan memakai kemeja putih setelah wawancara untuk beasiswa, Chaeri berbisik pada Sena ‘hari ini tokoh utamanya Luhan tapi kenapa justru Baekhyun yang terlihat seperti pangeran?’“ Chen memiringkan kepalanya, “Dan setelah itu Chaeri tertawa lalu menghampirimu.”

“Aku ingat.” Baekhyun menggaruk pipinya. Itu adalah saat untuk pertama kalinya Chaeri melakukan hal yang ganjil. Ia meniup telinga Baekhyun, seperti meminta perhatian tapi saat itu Baekhyun malah mendorong Chaeri lembut karena masih sibuk meyakinkan Luhan kalau ia tidak akan melupakan persahabatan mereka sampai membuat Kyungsoo memutar bola mata.

Chen menghela napas. Di matanya Baekhyun terlihat menyedihkan, rasanya kondisi antara Baekhyun dari dirinya seperti tertukar, sampai minggu lalu Chen masih melamun soal Seukri dan Baekhyun dengan profesionalnya mengatakan “Chen, banyak perempuan di dunia ini.”

“Baek, banyak perempuan di dunia ini.”

“Aku tahu, jumlah perbandingan dengan laki-laki sampai 4:1 kan?”

“Jadi, meskipun kamu merasa putus dengan Chaeri adalah akhir dari segalanya kau harus ingat, Byun Baekhyun itu masih muda, banyak yang bisa dilakukan selain meratapi—“

Tiba-tiba Baekhyun berdiri dari sofa. Ia menatap Chen antara jengkel dan capek. “Aku harus meyakinkanmu berapa kali kalau kami selesai dengan cara yang damai? Aku tidak meratapi Chaeri. Aku hanya mengingat kalau aku tidak pernah memujinya cantik.”

“Kalau begitu.” Chen memijat keningnya. “Coba telpon Chaeri dan katakan, aku baru sadar kamu cantik.”

“Ew.” Baekhyun menggelengkan kepalanya sambil merapikan komik-komik yang berserakan di atas lantai. “Ngomong-ngomong siang ini aku pergi, Sehun punya bisnis denganku.”

“Hanya denganmu? Tanpa aku Kim Jongdae?” Chen bertanya tidak percaya.

“Ini bukan soal cupcakes ini jauh lebih penting.” Dan dengan itu Baekhyun menjulurkan lidahnya lalu berjalan memasuki kamarnya meninggalkan komik bercecer yang tiba-tiba malas untuk dirapikannya, Chen hanya menggerutu tapi dalam hati ikutan lega, kalau di dunia ini masih ada sesuatu yang lebih penting dari cupcakes selain Chaeri artinya Baekhyun memang tidak secengeng itu.

***

“JADI. Laki-laki yang namanya Byun Baekhyun itu benar-benar sudah— menyelesaikan—“ Luhan nyaris ingin menggebrak meja kalau Kyungsoo tidak dengan sigap menahan tangannya.

Chaeri mengangguk hanya sekali, hal terakhir yang ingin diperbicangkannya adalah soal orang bermarga Byun dan sejak setengah jam terakhir Luhan malah tidak berhenti menginterogasi soal Baekhyun ini dan Baekhyun itu.

Chaeri berusaha meneguk tehnya dengan tenang. Sebenarnya ia merasa terharu Luhan cukup peduli dengan hubungannya, meskipun dalam hati ia mulai menyesal kenapa juga ia harus menceritakan soal Baekhyun. “Dari pada bicara soal Byun Baekhyun, bukannya lebih baik kita bicara soal perempuan yang namanya Park Sena itu?” Kyungsoo yang duduk disampingnya hanya mendengus. Selama perjalanan tadi ia memang bercerita pada Chaeri soal Luhan dan Sena yang putus ketika Luhan mengkritik warna lipstik Sena.

“Masalah kami jauh lebih kompleks.” Luhan berkata tapi Chaeri  yang tidak tahan dengan ekspresi serius wajah laki-laki itu segera memotong. “Jangan katakan padaku kalau warna lipstick itu masalah kompleks.”

“Bagaimana kau tahu?” Salah satu alis Luhan naik. Kyungsoo mengusap wajahnya dan mengangkat tangan. “Aku menceritakannya.” Ucapnya datar tanpa perasaan bersalah sekalipun ia melanggar janji aku-tidak-akan-bercerita-pada-siapapun, tapi kita bicara soal janji dengan Luhan yang biasanya 80% laki-laki itu yang akan mengingkarinya duluan.

“Tapi itu rahasia dan aku sudah bilang— astaga baiklah. Oke. begini caramu maka aku akan mengikuti aturan mainmu.” Tanpa menunggu permintaan maaf dari Kyungsoo yang rasanya mustahil terdengar Luhan menggebrak pelan meja, kali ini tidak dihalangi Kyungsoo.

“Jadi— mau menceritakan rahasia Kyungsoo?” Chaeri membulatkan matanya penasaran. Apa rahasia  Do Kyungsoo adalah misteri, ia tidak tahu, benar-benar tidak tahu.

“Katakan saja. Menurutku itu bukan rahasia.” Kyungsoo menaikkan bahunya.

“Apa kau tahu rahasia yang kumaksud? “ Luhan menyunggingkan bibirnya. Ia mengaduk kopinya perlahan sengaja untuk menimbulkan efek dramatis yang sayangnya tidak berhasil karena Kyungsoo mengabaikannya dan memilih beranjak meninggalkan ruangan.

“Sudahlah, persetan dengan Kyungsoo aku akan tetap memberitahumu.”  Luhan menyilangkan kakinya, setelah memastikan Kyungsoo benar-benar pergi ia menarik napas. “Mungkin Kyungsoo berpikir aku akan menceritakan rahasia A, tapi ia tidak tahu aku juga tahu rahasia B nya.”

“Berapa banyak rahasia Kyungsoo yang kau tahu?” Chaeri entah kenapa tidak sabar. Akhirnya ia punya satu kunci rahasia kehidupan si tuan perfeksionis Kyungsoo.

“Rahasia kalau Kyungsoo pernah—“

“Pernah?”

“Pernah makan—“

“Hah?”

“Ia pernah makan di rumah Seukri! Ia pernah makan di rumah Seukri!” Luhan tersenyum berbanding terbalik dengan Chaeri yang sejak tadi sudah memajukan tubuhnya penuh antisipasi kembali menyandarkan tubuh pada punggung kursi, jelas kecewa.

“Aku juga pernah makan di rumah Seukri. Baekhyun pernah, Sungjong pernah, bahkan kamu pernah, karena rumah Seukri memang restoran.”

Sambil mendecak Luhan menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mengerti maksudku?”

“Aku mengerti, Kyungsoo makan di rumah Seukri tapi aku tidak tahu apa yang spesial di balik semua itu.”

“Astaga.” Si laki-laki menepuk jidatnya. “Apa yang kau pelajari di Oxford sampai hal seperti ini saja tidak mengerti?”

Kali ini Chaeri memiringkan kepalanya, “Sori? Apa hubungannya menganalis hubungan orang yang makan di restoran dengan kuliahku?”

“Kyungsoo diundang orang tua Seukri untuk datang oke? Mereka berdua, dua orang licik itu, Kang Seukri dan Do Kyungsoo, diam-diam menjalin hubungan sampai akhirnya ketahuan dan Kyungsoo harus makan di meja makan keluarga Kang!”

“Seukri— dengan Kyungsoo— bukankah—“

“Bukannya Seukri dengan Chen? Bukan. Sedikit yang kamu tahu Chaeri. Tapi Seukri selalu menolak Chen. Sekarang Chen bersama si trainee itu sih jadi aku tidak kasihan lagi padanya. Sekarang aku kasihan dengan Kyungsoo.”

“Kenapa?” Chaeri memajukan badannya, bertanya-tanya bagaimana klimaks hubungan asmara Kyungsoo.

“Karena ia yang diputuskan karena orang tuanya tidak suka Kyungsoo.” Luhan membidik bersiap melempar sampah tisu pada tempat sampah di sudut ruangan dengan lemparan yang berakhir meleset.

“Kenapa tidak suka?”

“Karena pekerjaannya. Mereka tidak suka seniman keramik.”

Chaeri tertegun sesaat. Do Kyungsoo menurut Chaeri tipe yang akan menikah dengan wanita yang tidak sengaja ditemuinya di pameran lukisan bukan macam Seukri yang selalu bolos di pelajaran seni. “Tapi apa Kyungsoo masih menyukai Seukri?”

“Kurasa tidak. “ Luhan menjawab pertanyaan itu dengan sangat yakin sampai Chaeri hampir ingin bertanya kenapa dia yakin sekali. Chaeri kembali menyandarkan punggungnya, kepalanya mendongak ke atas menatap langit-langit kayu memikirkan bagaimana bisa semua itu terjadi.

“Pasti kamu kaget kan?”

“Tentu saja kaget.” Chaeri kembali menegakkan punggungnya. Ia menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Dan kembali ke topik pertama ia jadi ingat sesuatu yang penting. “Memang warna lipstik seperti apa yang Sena pakai sampai membuat kalian bertengkar?”

***

Kepala Byun Baekhyun tidak bisa berhenti menengok kanan-kiri, masih terpana dengan interior kafe yang dimasukinya. Semua hal yang ia suka ada, dinding bata putih, lantai parket, sofa kulit hitam bahkan rupanya ada piano di ujung sana. Beberapa detik sebelumnya Sehun baru mengatakan kalau ia ingin Baekhyun menjaga kafe ini. “Ini bukan punyaku Baek, ini punya pamanku yang suka sekali dengan kopi tapi tidak punya waktu untuk membuat kopi.” Sehun meniup poninya, dengan tangan terlipat di depan dada ia ikutan menengok memandang seisi ruangan. “Dia ingin aku sebagai keponakannya yang tersayang memiliki kafe ini karena ia tidak punya anak.”

“Lalu? Hubungannya dengan aku?”

“Aku sama sekali tidak tertarik memiliki kafe ini. “ jawab Sehun datar. “Tapi aku ingat  Byun Baekhyun tiba-tiba saat melihat piano di ujung sana.” Sehun menujuk upright piano kayu yang berdiri di tengah-tengah kumpulan pot bunga. “Lalu aku berpikir mungkin kau bisa menjadi pemain piano di sini.”

Baekhyun membuang napas lega dan melorot dari kursinya, “Kukira kau akan memberikan kafe ini untukku.” Sejak tadi ia sudah takut Sehun akan menyuruhnya memiliki kafe ini, seperti dalam sebuah drama ketika si teman memberikan aset dengan mudahnya pada temannya yang sedang melarat secara finansial.

“Aku bilang aku ingin kamu yang menjaga bukan memiliki Baek.”

“Baiklah, katakan aku bisa menjadi pemain pianonya, lalu akan dikemanakan kafe ini, kau bilang tidak tertarik memilikinya.”

“Memang.” Sehun menjawab cepat. “Tapi perempuan bernama Moon Chaeri tertarik sekali dengan kafe ini. Si Chaeri itu mengambil komunikasi kan? Dia bilang bekerja di sini bisa menjadi internship yang menarik.”

Tangan Baekhyun yang sudah ingin meraih parfait nya sampai berhenti, bukannya merasa risih mendengar nama Chaeri tapi kenapa bahkan dengan Oh Sehun yang ‘itu’ saja nama Chaeri masih harus tersebut? “Berarti baguskan kau punya orang yang dipercaya untuk mengatur kafe ini.”

Sehun mengangguk-angguk, ia tersenyum sampai mata sipitnya hampir menghilang. “Tentu saja bagus.” Dan setelah jeda beberapa saat, setelah meneguk jus jeruk kesukaannya Sehun membuang napas. “Tapi Luhan tahu aku dipercayakan memiliki kafe ini, dan dia bilang ‘percayakan saja padaku’. “

“Kau tidak bisa percaya Luhan.”

“Memang. Tapi aku kasihan dengannya, setelah diputuskan Sena hidupnya hanya menumpang pada Kyungsoo kan.” Sehun menunduk, ia memperhatikan sepatunya dan teringat kalau itu hadiah dari Kyungsoo.

“Jadi?” Baekhyun menyendok es krimnya sampai diam sebentar untuk menghargai rasa vanilla yang meleleh di mulut. “Es krim ini luar biasa.”

Sehun pun mengangkat wajahnya masih dengan mimik cuek khas dirinya.“Jadi aku berpikir membuat Luhan bekerja di sini sebagai kasir.”

“Ide yang bagus.” Baekhyun tidak bisa berhenti menyendok parfaitnya. “Berarti masalahmu selesai kan?”

“Sudah, masalahku selesai. Yah sebenarnya aku merasa Luhan cocoknya jadi cleaning service tapi ia bisa marah. Sekarang adalah masalahmu, tidak apa-apa kau dan Chaeri bekerja di tempat yang sama? Kalian baru sudahan kan?”

Laki-laki itu sampai terbatuk-batuk, setelah Sehun membawakannya air putih yang langsung ditegak habis ia pun mengelap mulutnya yang belepotan. “Kenapa beritanya menyebar cepat sekali? Kau tahu dari mana?”

“Dari Chaeri.“ Jawab Sehun singkat.

Baekhyun diam sesaat, menatap Sehun sambil mengernyit. “Ia cerita apa padamu?”

“Chaeri mengirim pesan, ia batal membeli jam tangan dariku, katanya untuk apa membelikan hadiah untukmu.”

Penyampaian tanpa beban oleh Sehun sebenarnya membuat Baekhyun kaget. Diliriknya jam tangan di tangan kanannya, hadiah dari ibunya ketika Baekhyun diterima masuk kampus impiannya. Tiba-tiba teringat dulu sekali, ketika ada kewajiban minimal saling menelpon tiga hari sekali Chaeri mengkritik soal kenapa Baekhyun selalu terlambat menelponnya dan Baekhyun beralasan jam tangannya rusak.

“Apa kau pernah memuji Chaeri cantik?”

“Rasanya pernah, kalau tidak salah waktu ia memakai lipstick warna merah ketika kami bertemu di London.”

“Menurutmu kenapa Chaeri tidak menyukaimu? Kenapa ia harus menyukaiku? Apa yang membuat Byun Baekhyun lebih baik dibanding Oh Sehun?”

Pertanyaan itu membuat Sehun yang sejak tadi pikirannya berkutat soal lebih baik Luhan jadi kasir atau pelayan hampir tersedak dengan minumannya. “Baek? Kau baik-baik saja kan?”

“Aku hanya memikirkan kenapa selama ini ia mau bersamaku ketika aku sama sekali tidak pernah memujinya.”

“Duh. Pertanyaan macam apa itu. Memangnya dia anak kecil yang butuh pujian?”

“Makanya aku bertanya kenapa Chaeri menyukaiku?”

“Jangan tanya aku. Tanya saja si Chaeri.” Sehun menghela napas. “Lagi pula kenapa jadi konsultasi denganku sih? “

“Jurusanmu kan psikologi. Harusnya kau bisa memberiku gambaran kan.”

Sehun cemberut. Membicarakan kuliah membuatnya ingat soal nilai C yang membuat ibunya menyita dompet serta mobilnya. “Oke.”

“Katakan saja opinimu Sehun, aku tidak peduli soal benar salahnya.”

“Chaeri menyukaimu karena ia nyaman denganmu. Membuka diri itu termasuk hal yang susah, dan karena pada akhirnya ia bisa menemukan orang yang bisa membuatnya nyaman makanya ia memilihmu. “

Melihat Baekhyun masih bungkam, Sehun melanjutkan. “Hubungan seseorang itu seperti dua jalan yang ternyata bersilangan, kalian bertemu dan memang begitu saja, tidak perlu dipikirkan alasan kenapa ini kan bukan sains Baek.”

“Kenapa aku harus memilih Chaeri? Aku berteman banyak dengan perempuan dan merasa nyaman dengan mereka tapi kenapa aku harus memilih Chaeri?”

Sehun tahu sejak tadi temannya itu mencermati setiap kalimatnya mungkin itu tetap tidak berefek pada Baekhyun yang keras kepala tetap mengeluarkan kata ‘kenapa’.

“Karena Chaeri orang yang paling bisa membuatmu merasa spesial? Menurutku laki-laki suka dianggap spesial dan Chaeri tahu bagaimana caranya membuatmu merasa seperti itu.”

Sekarang Baekhyn benar-benar sudah melupakan parfaitnya. Ia duduk tegak, matanya memandang pola kayu parket tidak tahu apa lagi yang harus diamatinya. “Lebih baik aku berhenti berpikir kan? Memang hal seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan logika.”

“Yah, untuk sekarang lebih baik kamu berhenti jatuh cinta dulu Baek.” Ucap Sehun.

“Kenapa?”

“Hanya saran, berdasarkan pengalaman.” Sehun menjawab enteng, ia memainkan ponselnya sementara Baekhyun si penanya masih menunggu penjelasan selanjutnya.

“Pengalaman? Pengalaman apa yang kau punya?”

“Menurutmu?” Sehun membetulkan posisi duduknya sementara Baekhyun tetap memandang aneh teman laki-laki di depannya ini. “Tidak, Kau tidak mungkin punya pacar. Aku tahu Oh Sehun, dia laki-laki yang duduk tenang menunggu dijodohkan ibunya.”

“Sialan.” Sehun malah tersenyum. “Aku tidak bilang karena aku sudah pernah merasakannya maka dibilang pengalaman, tapi kau melihatku single and free dan itu produktif, jadi nikmati saja dan fokus bekerja.”

“Apapun itu. Ngomong-ngomong aku menerima tawaran jadi pianis disini.” Kembali dengan makanannya, Baekhyun langsung menghabiskan parfait sampai bersih bahkan tangkai Cherinya juga.

“Aku tetap undang Chaeri tidak apa-apa?”

Baekhyun mengibaskan tangannya sekali.“Tentu saja tidak masalah. Kami profesional. “

“Baiklah.” Sehun menekan nomor telpon dan menunggu untuk beberapa saat. Menurutnya hidup memang terasa mudah tanpa perempuan di sekitarmu. Sehun sempat berpikir mungkin ia punya masalah dengan perempuan karena tidak seperti Chen atau Luhan hanya ia lah yang bertahan single, dan tepat ketika ia tahu bahkan Kyungsoo sudah tidak lagi sama dengan dirinya ia sampai mempertimbangkan tawaran untuk ikut kencan buta, tapi— setelah melihat satu persatu temannya tumbang dengan alasan yang sama yaitu perempuan, Sehun mengerti apa yang terjadi pada dirinya bukan kesalahan, itu keberuntungan. “Agar lebih pasti kita telpon sekarang.” Sehun menekan tombol speaker dan nada sambung telpon langsung terdengar jelas di telinga Baekhyun.

***

Tiga bulan yang lalu Kyungsoo didiagnosis kencing batu. Setelah itu ia tidak pernah pergi kemana pun tanpa membawa botol minum satu liternya. Saat itu pertama kalinya ia menelpon ayahnya, mengatakan dengan singkat kalau ia punya masalah pada ginjalnya yang langsung membuat ayahnya berjanji, minggu itu ia akan pulang mengunjungi anaknya.

Tidak ada yang pernah bertemu dengan ayah Kyungsoo kecuali Jongin dan Seukri. Karena rasanya apapun mengenai ayah Kyungsoo masih merupakan tanda tanya maka saat Chaeri melihat foto keluarga Kyungsoo dengan ayahnya terpajang di ruang makan, ia baru sadar ia tidak benar-benar mengenal Kyungsoo.

“Aku pernah melihat foto ibumu di ponsel Baekhyun tapi ini pertama kalinya aku melihat foto ayahmu.” Chaeri berkata

“Ayahku terlalu sering mengambil foto, jadi ia sendiri jarang mempunyai fotonya sendiri.”

Chaeri mengangguk-ngangguk, setelah mengetahui rahasia Kyungsoo soal Seukri ia jadi bertanya-tanya jika menurut Luhan itu rahasia B lalu apa rahasia A nya? Yah meskipun sebenarnya menurut Chaeri apa yang Luhan ceritakan itu bukan rahasia. Kyungsoo dan Seukri pernah bersama itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

“Apa memang pekerjaannya yang membuatnya sering mengambil foto atau itu hanya hobi?”

Kyungsoo menengok memandang Chaeri yang ternyata sedang membuka album foto film ayahnya. “Dia fotografer, juga kolumnis di majalah travel.”

“Wah. “ Chaeri tercengang matanya berkilat semangat. “Apa karena itu makanya saat kelulusan SMA ayahmu tidak datang karena pekerjaannya?”

“Benar. “ Kyungsoo berkata setelah menyeruput segelas jus apel. Apel segar yang baru Chaeri bawa sebagai oleh-oleh dari Seoul yang sebenarnya kurang korelasinya antara Seoul dan apel. “Kupikir semua orang sudah tahu jadi saat itu tidak ada yang bertanya padaku?”

“Tidak.” Chaeri menggigit bibirnya. “Saat itu ada isu yang mengatakan orang tuamu bercerai dan kami sepakat untuk tidak menanyakan hal itu padamu.”

Mendengar itu laki-laki itu memiringkan kepalanya memandang Chaeri aneh, tentu saja ia lumayan terkejut. “Astaga, pasti Baekhyun yang mengatakannya.”

Dan yang membuat Chaeri heran adalah bagaimana Kyungsoo tahu kalau Baekhyun yang memulai isu itu? “Saat itu Baekhyun mengatakan kamu punya masalah dengan orang tuamu.”

“Semua anak pasti punya masalah dengan orang tua nya kan? Tentu saja aku punya, saat itu ibuku masih di rumah sakit dan ayahku tidak bisa pulang lalu aku marah. Aku klarifikasi, mereka tidak bercerai, kedua orang tuaku bisa menjalin hubungan jarak jauh dengan baik.” Baru beberapa detik ia kembali meminum jusnya Kyungsoo langsung terbatuk dan melirik sopan Chaeri “Sori— aku tidak bermaksud menyinggung soal hubungan jarak jauh.”

“Aku bahkan tidak mengerti kenapa harus tersinggung.” Chaeri menaikkan bahunya, ia menarik kursi makan dan duduk di atasnya.

“Rencananya minggu ini aku akan pulang Seoul.” Kyungsoo berkata. “Ayahku akan mengadakan charity shop siapa tahu kau mau ikut. Kau bilang dosenmu suka dengan kegiatan semacam itu?”

“Benar. Tapi kalau aku melakukannya dengan tujuan itu bukankah aku akan terlihat munafik?”

“Tergantung?” Kyungsoo mengangkat bahunya. Ketika menyadari matahari sore ini lebih terik dari biasanya, ia pun berjalan menghampiri jendela dan menarik gorden hingga menutupi setengah jendela.

Chaeri hanya memperhatikan Kyungsoo yang tidak pernah berhenti sibuk bergerak, mengelap pajangan bottleship, merapikan taplak meja bahkan menyusun tumpukan majalan berdasarkan ukuran. Di antara mereka hanya ada obrolan basa-basi yang menariknya basa-basi dengan Kyungsoo sebenarnya menyenangkan, ia menjawab pertanyaan standar soal apa kesibukanmu menjadi sama menariknya dengan berita buzzfeed. Di satu sisi sesi tanya jawab ini membuat Chaeri merasa Kyungsoo berubah, benar kata Luhan, Kyungsoo sedang kasmaran.

Tiba-tiba pintu berderit ada Luhan memasuki ruangan dengan kacamata tertempel di atas kepalanya.

“Dari mana kau temukan kacamata itu?” Kyungsoo melupakan mangkok yang sedang dilapnya dan langsung berjalan cepat menghampiri Luhan yang dengan gesitnya menyembunyikan kacamata di balik punggungnya.

“Jatuh dari langit.”

Kyungsoo menggeram. Ia tahu apa yang Luhan inginkan, tanpa berusaha merebut kacamata itu ia memilih duduk di atas meja makan, matanya memandang bosan Luhan yang terlihat sekali menginginkan sebuah permainan. “Katakan apa keinginanmu?”

“Kau tahu. “ Luhan menghela napas. “Ini agak membosankan karena kukira kau akan memohon dulu padaku sebelum kita langsung pada intinya.”

“Aku mohon.” Kyungsoo berkata.

“Setuju.” Ia menjentikkan jarinya. “Aku anggap kau akan melakukan hal yang kuminta ini sebagai balas budi padaku.” Luhan tersenyum lebar. Ia membayangkan kepiting lada hitam sebagai makan malamnya hari ini tapi ketika ingat tangannya memegang kacamata itu ia jadi ingin bertanya siapa pemberi kacamata kesayangan Kyungsoo.

“Silakan katakan apa permintaanmu.”

“Aku ingin tahu siapa orang yang memberimu kacamata ini. Siapa perempuan yang membuatmu tidak ingin kehilangan kacamata pemberiannya?”

Kyungsoo mengangkat alis, ia memandang Luhan heran. “Yakin itu permintaanmu?”

Yes.”

“Ibuku yang memberikannya, hadiah ulang tahun.”

Sekarang giliran sebelah alis Luhan terangkat mendengar ini. “Oh ya?”

“Benar. Kau bisa bertanya pada ibuku di mana ia membelinya kalau kau sebegitu sukanya dengan model kacamataku.”  Tanpa menunggu lebih lanjut tangan Kyungsoo merebut mudah kacamata yang dipegang Luhan dengan senyum kemenangannya ia berjalan keluar menghindari drama lebih lanjut dari temannya itu.

Unbelievable—!” Luhan hanya bisa berteriak.

Chaeri yang sejak tadi menjadi penonton tidak melakukan banyak hal selain bertepuk tangan pelan untuk kemenangan Kyungsoo. Kacamata yang diperebutkan itu kacamata yang pernah Kyungsoo banggakan padanya, kacamata seperti tuan Potter yang membuat Kyungsoo kelihatan lebih intelek dari yang seharusnya.

Tiba-tiba kantong jaket Chaeri bergetar, Chaeri pikir itu alarmnya yang berbunyi mengingatkan sudah waktunya ia pulang tapi begitu ia mengambil telpon justru ada nama rekan bisnis yang dikecewakannya kemarin muncul.

“Halo Sehun?”

***

“Hai, Chaeri.”

Baekhyun kembali bersandar pada kursinya, duduknya melorot sampai hanya setengah wajahnya yang terlihat. Pertanyaan kenapa Sehun harus memasang loud speaker mengganggu pikirannya, ia sempat ingin beranjak dari kursi memberikan privasi pada Sehun tapi untuk apa ia melakukan itu? Ini tempat duduknya dan Sehun sendiri yang memilih agar percakapannya dengan Chaeri terdengar.

“Penting sekali sampai menelpon?” Suara perempuan itu terdengar. Baekhyun memilih memainkan musik dengan sendok dan gelas kosongnya.

“Terakhir aku mengirim pesan kau menjawab delapan jam kemudian dan ini urgen jadi aku menelponmu.” Sehun meletakkan telunjuk di depan bibirnya, meminta Baekhyun menghentikkan kebisingan yang ia buat yang tumben sekali Baekhyun langsung patuh dan duduk tenang.

“Oke karena urgen langsung saja.”

Sehun mengambil dompetnya yang tergeletak di atas meja, ia mengambil kartu nama warna putih dan meliriknya sekilas lalu memberikannya pada Baekhyun. “Kau ingat Park Woojin? Paman yang kuceritakan.”

“Aku ingat. Paman yang bilang dia ingin mewariskan kafenya padamu? Lalu kau tidak tertarik dan memintaku untuk magang di sana selama liburan musim panas?”

“Iya. Aku sudah bicara dengannya dan ketika aku bilang ada temanku kuliah di public relations ia langsung meminta kontak.”  Sehun mengamati tindak tanduk Baekhyun yang sedang meneliti kartu nama yang sedang dipegangnya. “Baek, itu kartu nama pamanku, kau harus menghubunginya.”

Baekhyun mengangguk sekali, belum sempat Sehun melanjutkan penjelasannya pada Chaeri si perempuan sudah berkata duluan.

“Heii—“ Chaeri sampai diam beberapa detik sebelum menyelesaikan pertanyaannya. “Ada Baekhyun di sana?”

“Oh, iya ada, aku juga mengajak Baekhyun magang, ia yang jadi pianis.” Sehun menjawab tanpa melirik pada Baekhyun yang langsung menyembunyikan wajah antusiasnya ketika namanya tersebut.

“Oh.” Lagi-lagi hening, tiba-tiba berbicara soal Baekhyun jadi membutuhkan waktu lebih lama bagi Chaeri. “Memang dia masih bisa main piano?”

Sehun hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan itu, antara Chaeri meremehkan si ex-boyfriend atau dia tidak tahu saja Baekhyun memang lumayan bersahabat dengan piano. “Baek, coba kau bicara sendiri, dia bertanya apa kau bisa main piano?”

Baekhyun mengusap wajahnya, jelas jengkel sekaligus gemas melihat Oh Sehun benar-benar sedang menikmati permainannya. Baekhyun sudah ingin izin ke toilet tapi ketika sadar ia tidak ingin Chaeri berpikir ia menghindarinya ia pun berdehem. “Ya Chaeri, Kau tidak tahu piano adalah bakat terpendamku?”

Chaeri di ujung sana membisu beberapa saat yang sukses membuat Baekhyun merasa ia salah bicara, harusnya ia menjawab lebih serius, dan ketika tawa renyah Chaeri terdengar mau tidak mau ia membuang napas lega.

“Aku tidak tahu. Nanti kau bisa menunjukkannya padaku.”

“Mozart, Beethoven, Bach, kau bisa pilih yang mana saja.”

“Ah. Aku pikir kau hanya bisa bermain pop Baek tapi ternyata pilihanmu jatuh pada klasik.”

“Ck, kau tidak tahu dulu julukanku setan piano—“

“Itu mengerikan.”

Baekhyun tertawa  dengan semangatnya Baekhyun sudah ingin berkata, tapi melihat Sehun yang duduk di depannya kelihatan mendengarkan baik-baik semuanya, ia terbatuk dan menggeser ponselnya menjauh, “Sori Chaeri, aku harus ke toilet dulu.”

“Oke, mana si Sehun—“

“Iya, ini aku Sehun.” Sehun berkata kalem. “Jadi kembali lagi, aku akan mengirimkan kontak pamanku padamu lalu kau bisa menghubunginya sendiri.”

“Benarkah? Jadi aku benar-benar bisa magang di tempat pamanmu?”

Well, tergantung hasil wawancara. Kapan kau kembali ke Seoul?”

“Minggu depan. Eh? Ini Sehun— Jangan—“ Suara Chaeri menghilang diganti samar-samar suara laki-laki dan perempuan saling mengumpat hingga beberapa detik kemudian telpon kembali tersambung dengan suara yang berbeda. “Hei Sehun, kau mengajak Chaeri magang di kafemu?”

Sehun mendecak dan menggaruk leher belakangnya. “Aku baru ingin mengajakmu ikut bergabung Luhan.”

Baekhyun yang rupanya tidak pergi ke toilet sejak tadi hanya memandang waffle yang baru saja diletakkan pelayan di atas meja mereka dan seketika minatnya langung berubah mendengar suara Luhan. “Biarkan aku bicara dengan Luhan!”

“Tunggu Baek— aku ingin bicara dengan Sehun.” Suara Luhan terdengar serius. “Tapi posisi yang kau tawarkan pada Chaeri bukan PR kan?”

“Itu yang kutawarkan. Aku sudah memikirkan posisi yang lain untukmu.”

“AAAH! KAN SUDAH KUBILANG aku butuh posisi itu untuk memperbaiki CV ku!”

Sehun menutup telponnya. Ia membuang napas dan memandang Baekhyun, dan untuk seperkian detik Sehun yang sejak tadi selalu bertahan dengan mimik tenangnya sekarang terlihat jengkel. “Kau tahu? Aku tidak pernah bisa menelpon Luhan.”


Author’s Note

Hai. Apa kabar teman2 teman gimana hari kalian.

Semoga membaca chapter ini bisa membuat hari kalian senang terlepas dari bagaimana kalian mengharapkan cerita ini berjalan c;

Soal apa Chaeri dan Baek putus dan lainnya, kalau pun mereka putus itu kan bukan akhir dunia seperti yang dikatakan Chen.

xx, pikrachu

8 thoughts on “Interval [4/?]

  1. Terima kasih kak pikrachu habis baca ini pening di kepalaku ilang xD
    Yha…rasa2nya chaeri sama baekhyun masih ada manis2nya gitu/?
    Aku juga ngakak asli pas baca tiga pilihan permintaan luhan ke kyungsoo sama pas sehun bilang luhan cocoknya jadi cleaning service wkwk
    Suka deh pokoknya❤️❤️❤️ Tadi berasa pingin lompat2 girang habis lihat notif email/// ditunggu kelanjutannya kak~ fighting!

  2. omg, ini ga ada sesuatu yg romantis bgt di chapter ini tp kok aku ngerasanya chapter ini manis bangettttt. baekhyun ama chaeri mah gitu, sok2an putus baik2 tp masih kyk nyesel hahahha. part kesukaan itu pas chaeri muji baekhyun kyk pangeran. awwwww.
    terbayar banget penantian untuk chapter ini.

  3. Baek bilang aja deh lo masih suka chaeri, gak usah sok manis kek anak gadis. Pake acara malu2 menyembunyikan wajah gitu! Bilang aja kangen chaeri, gak usah sok sok bilang gak pernah muji. Dasar abege labil. *lah lah jadi aku yg emosi*
    Balikan lagi kek. Ih. Bukan akhir dunia sih, tapi akhir cerita. Dan karena ceritanya masih berlanjut jadi masih ada kemungkinan buat balikan lagi. Karna menurut aku cerita ini berlanjut karna baek dan chaeri masih saling ada rasa, yaiyalah meraka kan peran utamanya *aku sotoy bgt, maapin*

    Btw sehun kok cocok bgt sih perannya 😍😍😍😍😍😍😍 suka deh. Omong2 sehun jadi kangen pastel eheheheheeeee

  4. Byunbaek binggung, mencoba berpikir rasional, atau masih ad rasa sama Chare coba ? Astaga mereka sweet pas telponan kyk gitu aku bisa bayangin Sehun gmana ekspresinya liatin mrk ber2 ngoceh lewat tlpn Sehun.

    Kok kyknya aku gk bisa bayangin Kyungsoo yg kaku tiba” beruabah gini walau aku tau waktu dpt mengubah segalanya tapi agak aneh si penderita sedikit ocd tiba” gini dan pacaran sama Seukri !! Gk terima krna apa kok bisa dan bagaimana ? Seukri yg aku bayangin dia sama Chen tapi malah sma Kyungsoo ? Aaaa aku punya 1000 pertanyaan buat chapter ini dan aku ketawa pas baca Luhan blng si Kyungsoo jadi bodoh. Bodoh krna cinta itu wajar Luge, lu jg gitu pas sama Sena.

    Ngmng” mereka putus dengan alasan yg sangat rumit. Lipstik. Aku gk habis pikir gmana eonni bisa kepikiran kalau mrk putus krna wrna lipstik? Itu antara aneh binggung sama kagum pas bacanya mrk putus krna itu. Kirain kra selingkuh atau ngelirik dikit” atau mungkin cemburu gitu.. Tapi mLah krna wrna lipstik ._.

  5. Aahhh kangen banget sama interval haduhhh :3
    Betul betul betul. Betul kata chen, baekri putus bukan berarti dunia kiamat. Di chapter kemarin terlalu sentimental dan shock jd terkesan drama padahal nyatanya sekarang malah gak kerasa kalo baekri putus… Jadi inget kalimat di detour, sekarang perbedaan mereka masih bersama dan setelah putus cukup tipis, setipis perbedaan antara margarin dan mentega.. Mungkin karna dua orang itu yg gak baper jadi yg baca gak ikutan baper kkkk
    Dan agak shock sama kyungsoo dan seukri. Kirain, kyungsoo bakal ngejomblo terus, ngebayangin kyungsoo dan seukri bersama sebenernya agak aneh sih. Lalu sehun…. tiba2 teringat Sina… gimana hubungan mereka berdua yg gaada kelanjutan di pastel, jd sehun sekarang gaada hubungan apapun sama Sina?
    Makasih udah update kak, ini cukup mengobati rindu dan ngilangin dahak yg ngeganjel di tenggorokan. Lebih melegakan, rasanya malah gaada beban di chapter ini

  6. seneng interval update…..aku belum baca tapi mau komen dulu…
    jangan bilang di chapter ini dan chapter selanjutnya author bakal nyatuin kyungsoo sama chaeri?????????????????????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s